Modul AjarBab 2Fase BSemester 1

Modul Ajar PJOK Kelas 3 Bab 2: Aktivitas Pola Gerak Dasar Nonlokomotor

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian PJOK kelas 3 untuk Bab 2 "Aktivitas Pola Gerak Dasar Nonlokomotor", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar PJOK Kelas 3 Bab 2: Aktivitas Pola Gerak Dasar Nonlokomotor

PJOK - Kelas 3

Bab 2

MODUL AJAR

PJOK — Kelas 3 (Fase B)

Topik: Bab 2 — Aktivitas Pola Gerak Dasar Nonlokomotor

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPJOK
Fase / KelasFase B / Kelas 3
TopikBab 2 — Aktivitas Pola Gerak Dasar Nonlokomotor
Alokasi Waktu13 JP (13 x 35 menit = 455 menit)
Jumlah Pertemuan5
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 3.2.1 Menghaluskan keterampilan gerak fundamental pola gerak dasar nonlokomotor memutar dan mengayun dalam situasi gerak yang baru
  2. TP 3.2.2 Menghaluskan keterampilan gerak fundamental pola gerak dasar nonlokomotor menekuk dan meliuk dalam situasi gerak yang baru
  3. TP 3.2.3 Memperagakan berbagai konsep gerak yang dapat diterapkan dalam rangkaian gerak nonlokomotor
  4. TP 3.2.4 Menerapkan peraturan untuk menumbuhkan fair play di dalam berbagai aktivitas jasmani pola gerak dasar nonlokomotor

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana caramu memutar lengan agar putarannya utuh melingkar tanpa badanmu ikut terhuyung-huyung?
  2. Apa perbedaan rasanya saat mengayunkan badan ke samping secara perlahan dibanding mengayun cepat dan terkontrol?
  3. Bagaimana posisi kaki dan tubuhmu saat menekuk lutut agar tidak mudah goyah atau jatuh?
  4. Ke arah mana saja tubuhmu bisa meliuk tanpa memindahkan telapak kaki dari tempatnya?
  5. Bagaimana gerakan tubuh kita saat meniru pohon tertiup angin sepoi-sepoi dibandingkan dengan angin badai yang sangat kencang?
  6. Dapatkah kalian melakukan gerakan memutar atau meliuk dalam posisi rendah di lantai hingga posisi berdiri tinggi tanpa berpindah tempat?
  7. Mengapa dalam setiap permainan atau aktivitas berkelompok kita harus mematuhi aturan?
  8. Apa yang kita lakukan jika kita tanpa sengaja melanggar aturan saat bermain bersama teman?
  9. Bagaimana kita memperagakan rangkaian gerakan memutar, mengayun, menekuk, dan meliuk secara terkontrol dan seimbang?
  10. Mengapa kita harus mematuhi giliran dan menghargai ruang gerak teman saat melakukan aktivitas jasmani bersama?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menghaluskan Keterampilan Gerak Fundamental Pola Gerak Dasar Nonlokomotor Memutar dan Mengayun Lengan serta Badan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.2.1 Menghaluskan keterampilan gerak fundamental pola gerak dasar nonlokomotor memutar dan mengayun dalam situasi gerak yang baru

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memandu doa bersama, memeriksa kesiapan fisik murid, dan memimpin pemanasan statis-dinamis berpusat pada persendian bahu serta pinggang (6 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik unjuk kerja singkat: meminta setiap murid memperagakan 2 gerak dasar di tempat, yaitu (1) memutar kedua lengan ke depan satu putaran penuh dan (2) mengayunkan badan ke kiri dan kanan satu kali untuk memetakan kesiapan penghalusan gerak (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru mendemonstrasikan teknik penghalusan gerak nonlokomotor: memutar lengan (lingkaran penuh, poros bahu stabil, siku lurus wajar) dan mengayun badan (gerakan berirama ritmis dari pinggang tanpa kaki berpindah tempat) lalu mengajak murid mengamati lintasan gerak yang mulus tanpa hentakan kaku (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mempraktikkan latihan penghalusan gerak memutar lengan dan mengayun badan secara bertahap mulai dari rentang kecil, sedang, hingga penuh dengan mempertahankan posisi kaki tetap menapak kokoh di tempat (15 menit).
  • Murid memainkan tantangan gerak menggembirakan 'Pohon Tertiup Angin dan Baling-Baling': murid merespons aba-aba visual guru dengan melakukan ayunan badan meliuk-ayun lembut saat angin sepoi-sepoi, ayunan kuat saat badai, serta putaran lengan menyerupai baling-baling helikopter dalam situasi gerak baru dengan variasi kecepatan yang terkontrol tanpa kehilangan keseimbangan (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mempraktikkan kembali kombinasi 4 putaran lengan penuh dilanjutkan 4 ayunan badan ritmis secara mandiri, kemudian merasakan apakah koordinasi geraknya sudah mengalir lancar dan seimbang (10 menit).

Penutup:

  • Guru memandu gerakan pendinginan untuk melemaskan otot lengan dan pinggang serta mengatur ritme napas (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan kunci penghalusan gerak memutar dan mengayun (poros stabil, rentang utuh, gerakan tidak kaku/terputus-putus), memberikan umpan balik capaian latihan, dan menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih memutar satu lengan terlebih dahulu sebelum dua lengan; murid yang mahir mempraktikkan putaran dua lengan berlawanan arah atau variasi tempo cepat-lambat.
  • Proses: Guru memberikan panduan sentuhan/tanda visual batas putaran bagi murid yang putarannya belum penuh; memberi keleluasaan eksplorasi variasi ukuran putaran bagi murid mahir.
  • Produk: Penguasaan penghalusan gerak memutar dan mengayun ditunjukkan dengan rentang gerak yang mulus sesuai kapasitas fleksibilitas masing-masing murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji peragaan singkat diagnostik 2 gerak dasar di awal pertemuan: (1) Memutar kedua lengan ke depan 1 putaran penuh (acuan: lengan berputar dari samping telinga hingga kembali ke posisi awal tanpa terhenti di tengah); (2) Mengayun badan ke samping kiri dan kanan 1 kali (acuan: poros ayunan di pinggang, kedua telapak kaki tidak berpindah tempat).

Proses:

  • Pengamatan formatif saat tantangan 'Pohon Tertiup Angin dan Baling-Baling': Guru mengamati kehalusan lintasan gerak memutar (poros bahu stabil, putaran simetris penuh) dan mengayun (gerak mengalir ritmis, keseimbangan terjaga tanpa melangkah).

Akhir Pertemuan:

  • Cek unjuk kerja akhir sesi: Murid memperagakan rangkaian mandiri berupa 4 kali putaran lengan utuh ke depan dan 4 kali ayunan badan ke kiri-kanan secara berkesinambungan (acuan: putaran mencapai lingkaran penuh tanpa gerakan menyentak kaku, ayunan badan seimbang dengan kedua telapak kaki tetap menapak di lantai).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja gerak nonlokomotor memutar lengan dan mengayun badan menggunakan lembar amatan ketercapaian gerak halus dan terkontrol.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penghalusan gerak nonlokomotor memutar lenganGerakan memutar lengan terputus-putus, siku ditekuk rapat, dan lintasan putaran belum membentuk lingkaran penuh.Gerakan memutar lengan membentuk lingkaran tetapi masih tampak kaku, ada hentakan, atau bahu goyah.Gerakan memutar lengan dilakukan dengan halus, membentuk lingkaran penuh secara teratur, poros bahu stabil, dan kedua kaki tetap di tempat.Gerakan memutar lengan sangat halus, mengalir konstan pada berbagai kecepatan (lambat/cepat), koordinasi tubuh sangat stabil tanpa kehilangan poros.
Penghalusan gerak nonlokomotor mengayun badanGerakan mengayun badan kaku, kehilangan keseimbangan, atau telapak kaki terangkat/berpindah tempat.Gerakan mengayun badan dapat dilakukan namun ritmenya tersendat-sendat dan rentang ayunan sangat terbatas.Gerakan mengayun badan mengalir ritmis, rentang ayunan terkontrol, poros pinggang lentur, dan telapak kaki kokoh menapak.Gerakan mengayun badan sangat luwes dan ritmis, mampu menyesuaikan ayunan lembut hingga dinamis dalam situasi gerak baru dengan keseimbangan sempurna.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi visual dan contoh gerakan yang diberikan efektif membantu murid memahami konsep menghaluskan gerak memutar dan mengayun?
  • Bagaimana respons dan keterlibatan murid saat permainan tantangan gerak berlangsung?

Murid:

  • Gerakan mana yang paling mudah kamu lakukan secara halus: memutar lengan atau mengayun badan?
  • Apa yang kamu rasakan pada tubuhmu agar gerakan memutar dan mengayun tidak membuatmu goyah?

Pertemuan 2 — Menghaluskan Keterampilan Gerak Fundamental Pola Gerak Dasar Nonlokomotor Menekuk Lutut dan Meliuk Tubuh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.2.2 Menghaluskan keterampilan gerak fundamental pola gerak dasar nonlokomotor menekuk dan meliuk dalam situasi gerak yang baru

Pendahuluan:

  • Guru memimpin doa pembuka, memeriksa kehadiran murid, dan memastikan kesiapan fisik murid untuk berolahraga (5 menit).
  • Guru memandu pemanasan statis dan dinamis yang berfokus pada peregangan sendi lutut, pinggang, dan punggung (7 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melatih dan menghaluskan gerak menekuk lutut serta meliuk tubuh dalam berbagai variasi posisi tanpa berpindah tempat (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik unjuk kerja singkat: guru meminta seluruh murid mempraktikkan 2 tugas gerak: (1) menekuk lutut setengah jongkok dan menahannya 3 detik; (2) meliuk ke samping kanan dan kiri tanpa mengangkat kaki (acuan ketercapaian: pada tekukan lutut, badan tetap seimbang tanpa melangkah; pada liukan tubuh, pinggang melengkung ke samping dengan kedua telapak kaki tetap menempel rata di lantai) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru mendemonstrasikan variasi gerak menekuk lutut (menekuk lutut ke depan/setengah jongkok, menekuk satu kaki ke belakang hingga tumit mendekati pantat) dan meliuk tubuh (meliuk ke kanan-kiri, meliuk melengkung ke belakang) dengan kontrol tubuh yang stabil (8 menit).
  • Murid mengamati dan secara berkesadaran merasakan titik tumpu berat badan saat lutut ditekuk serta kelenturan otot samping tubuh saat meliuk (7 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mempraktikkan pengulangan gerak nonlokomotor menekuk lutut secara mandiri: menekuk lutut penuh (jongkok seimbang) dan menekuk lutut setengah (squat) masing-masing 5 kali repetisi dengan menjaga keseimbangan tanpa berpindah tempat (15 menit).
  • Murid mempraktikkan pengulangan gerak meliuk tubuh secara mandiri: meliuk ke kanan 5 kali, meliuk ke kiri 5 kali, dan meliuk ke belakang 5 kali dengan posisi telapak kaki diam di tempat (15 menit).
  • Murid berpartisipasi dalam permainan tantangan menggembirakan 'Pohon Tertiup Angin di Atas Karang': murid berdiri di atas matras/tanda lingkaran kecil, ketika guru memberi aba-aba 'ombak datang' murid harus menekuk lutut setengah untuk menahan posisi seimbang selama 5 detik, dan saat aba-aba 'angin kencang' murid meliuk tubuh ke samping atau belakang sejauh mungkin tanpa keluar dari lingkaran dan tanpa menjatuhkan tubuh (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi dan merasakan kembali kehalusan serta kestabilan gerak yang dilakukannya, mengenali saat mana tubuh terasa oleng atau seimbang ketika lutut ditekuk dan pinggang meliuk (8 menit).
  • Guru memberikan umpan balik formatif langsung terhadap penghalusan gerak murid berdasarkan pengamatan selama latihan dan permainan (7 menit).

Penutup:

  • Guru memandu gerakan pendinginan (cooling down) untuk merelaksasi otot paha, lutut, dan pinggang murid (8 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran hari ini mengenai pentingnya menjaga keseimbangan kaki saat menekuk lutut dan kelenturan tubuh saat meliuk (4 menit).
  • Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama dan mengarahkan murid untuk mengganti pakaian serta mencuci tangan (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan variasi sudut tekukan (setengah jongkok bagi yang membutuhkan latihan penyeimbang awal, atau jongkok penuh bagi yang telah stabil) dan jangkauan liukan (sudut sedang hingga liukan maksimal).
  • Proses: Bagi murid yang masih kurang seimbang saat menekuk lutut diberikan bantuan memegang bilah tiang atau berdiri dengan tumpuan kaki lebih lebar; bagi murid yang sudah terampil diberikan tantangan menahan tekukan lutut satu kaki bergantian dengan liukan tubuh yang lebih dalam.
  • Produk: Menilai penguasaan kehalusan gerak menekuk dan meliuk berdasarkan kontrol stabilitas dan kelenturan tubuh yang ditunjukkan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Unjuk kerja diagnostik singkat di awal pembelajaran: murid mempraktikkan 2 tugas gerak: (1) menekuk lutut setengah jongkok dan menahan 3 detik; (2) meliuk ke samping kanan dan kiri tanpa mengangkat kaki (acuan ketercapaian: pada tekukan lutut, kedua kaki menapak stabil dan badan tegak seimbang; pada liukan tubuh, pinggang melengkung ke kanan/kiri tanpa memindahkan kedua telapak kaki).

Proses:

  • Penilaian formatif unjuk kerja saat permainan tantangan 'Pohon Tertiup Angin di Atas Karang' untuk mengamati kehalusan gerak: (1) kestabilan menekuk lutut (tidak jatuh/melangkah); (2) keleluasaan meliuk tubuh (kedua telapak kaki tetap menempel di lantai, liukan luwes dan terkontrol).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan peragaan ulang mandiri di akhir kegiatan: murid memperagakan 1 kali kombinasi gerak menekuk lutut setengah dilanjutkan meliuk tubuh ke samping kanan lalu kiri dengan mulus dan seimbang (acuan ketercapaian: gerakan dilakukan secara terkontrol, tidak kaku, dan tanpa kehilangan keseimbangan/tidak melangkah keluar dari tempat).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja gerak nonlokomotor menekuk lutut dan meliuk tubuh menggunakan lembar amatan rubrik kehalusan gerak

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menghaluskan Gerak Nonlokomotor Menekuk LututGerakan menekuk lutut belum stabil, badan sering jatuh atau kaki melangkah berpindah tempat untuk menjaga keseimbangan.Mampu menekuk lutut namun gerakan masih kaku, sudut tekukan sangat dangkal, dan terkadang masih oleng.Mampu menekuk lutut dengan seimbang dan mulus sesuai instruksi (setengah jongkok maupun penuh) tanpa berpindah tempat.Mampu menekuk lutut dengan sangat halus, kontrol keseimbangan tubuh sangat kokoh, transisi gerak terkontrol sempurna dalam berbagai variasi posisi.
Menghaluskan Gerak Nonlokomotor Meliuk TubuhGerakan meliuk kaku, jangkauan liukan sangat minim, atau telapak kaki ikut terangkat dan bergeser dari tempat asal.Mampu meliuk tubuh ke arah samping atau belakang tetapi gerakan terputus-putus dan telapak kaki kadang bergeser.Mampu meliuk tubuh ke samping dan belakang secara luwes dan terkoordinasi dengan kedua telapak kaki tetap menempel di lantai.Mampu meliuk tubuh dengan sangat halus, jangkauan liukan lentur maksimal, ritme terkontrol, serta telapak kaki menempel kokoh tanpa bergeser sedikit pun.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu dan instruksi latihan gerak menekuk dan meliuk cukup memberikan kesempatan bagi semua murid untuk menghaluskan keterampilannya?
  • Bagian gerak mana yang paling banyak membutuhkan bimbingan perbaikan (apakah keseimbangan saat menekuk atau kelenturan saat meliuk)?

Murid:

  • Apakah kamu merasa tubuhmu seimbang saat menekuk lutut dan tidak terjatuh?
  • Gerakan liukan ke arah mana yang terasa paling mudah dan paling menantang bagimu?

Pertemuan 3 — Memperagakan Berbagai Konsep Ruang dan Tingkatan Gerak dalam Rangkaian Gerak Nonlokomotor — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.2.3 Memperagakan berbagai konsep gerak yang dapat diterapkan dalam rangkaian gerak nonlokomotor

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, dan memeriksa kehadiran serta kesiapan fisik murid di lapangan/aula (5 menit).
  • Guru memandu pemanasan statis dan dinamis yang mengaktifkan persendian tubuh tanpa berpindah tempat (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu memperagakan konsep gerak (tingkatan tinggi-sedang-rendah serta ukuran gerak besar-sedang-kecil) dalam rangkaian gerak nonlokomotor (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal berupa tes diagnostik peragaan cepat: murid diminta memperagakan 2 instruksi langsung yaitu gerak memutar lengan ukuran besar di tingkat tinggi dan menekuk lutut di tingkat rendah untuk mengecek pemahaman awal konsep tingkatan dan ukuran gerak (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mendemonstrasikan konsep tingkatan gerak (level): tingkat rendah (posisi duduk/berlutut di matras), tingkat sedang (posisi berdiri setengah jongkok/lutut ditekuk), dan tingkat tinggi (posisi berdiri tegak menjinjit) pada pola gerak nonlokomotor memutar dan meliuk (8 menit).
  • Guru mendemonstrasikan konsep ukuran/ruang gerak: ukuran kecil (putaran pergelangan atau ayunan sempit), ukuran sedang (rentangan siku), dan ukuran besar (rentangan penuh lengan/badan meliuk maksimal) (7 menit).
  • Murid mencoba meniru secara terpandu setiap tingkatan dan ukuran gerak nonlokomotor di tempat masing-masing untuk memahami perbedaan ruang dan tingkatan secara kinestetik (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan tantangan gerak 'Pohon Ajaib Berubah Wujud': murid merespons 3 aba-aba situasi dari guru di tempat masing-masing tanpa berpindah: (1) 'Pohon Tunas' -> memperagakan gerak menekuk dan memutar di tingkat rendah ukuran kecil; (2) 'Pohon Rindang' -> memperagakan gerak mengayun dan meliuk di tingkat sedang ukuran sedang; (3) 'Pohon Raksasa Ditiup Badai' -> memperagakan gerak memutar dan meliuk di tingkat tinggi ukuran besar (10 menit).
  • Murid secara mandiri berlatih memperagakan rangkaian 3 gerakan nonlokomotor berkesinambungan yang memadukan 3 konsep tingkatan (rendah, sedang, tinggi) dan 2 variasi ukuran (kecil dan besar) tanpa berpindah tempat (15 menit).
  • Murid secara berpasangan saling memperagakan rangkaian gerak nonlokomotor masing-masing, sementara guru melakukan observasi formatif menggunakan lembar ceklis ketercapaian konsep tingkatan dan ukuran ruang gerak (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar dalam suasana tenang dan melakukan pendinginan ringan sembari mengatur napas (5 menit).
  • Murid mengevaluasi peragaan geraknya sendiri: gerakan mana yang paling stabil dilakukan saat berada di tingkatan rendah dibanding tingkatan tinggi (5 menit).
  • Murid menyimpulkan pengalaman geraknya tentang bagaimana merentangkan tubuh (ukuran besar) atau merapatkan tubuh (ukuran kecil) memengaruhi keseimbangan rangkaian gerak nonlokomotor (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap peragaan rangkaian konsep ruang dan tingkatan gerak yang telah dilakukan murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya mengenai penerapan aturan permainan berkelompok, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan gambar peraga/kartu visual contoh siluet tubuh pada tingkat rendah, sedang, dan tinggi untuk membantu murid yang membutuhkan visualisasi posisi tubuh.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih memadukan 2 tingkatan gerak terlebih dahulu dengan tempo perlahan; murid yang mahir memperagakan rangkaian gerak dengan transisi mulus dari tingkat rendah ke tinggi dengan kontras ukuran gerak yang sangat jelas.
  • Produk: Variasi rangkaian gerak nonlokomotor dapat disesuaikan dengan fleksibilitas gerak murid asalkan memenuhi komponen tingkatan (rendah, sedang, tinggi) dan ukuran gerak (besar dan kecil).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Cek peragaan diagnostik cepat pada 2 instruksi gerak: (1) Memutar lengan ukuran besar pada tingkat tinggi (acuan: lengan lurus berputar penuh melingkar di atas kepala/posisi berdiri); (2) Menekuk lutut pada tingkat rendah (acuan: posisi jongkok/lutut ditekuk rapat mendekati lantai). Kriteria: Murid siap jika mampu merespons kedua instruksi dengan posisi tubuh yang sesuai acuan.

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja rangkaian gerak nonlokomotor berpasangan berdasarkan 2 indikator: (1) Memperagakan minimal 3 tingkatan gerak (rendah = posisi bertumpu di lantai/jongkok, sedang = setengah jongkok/tegak biasa, tinggi = jinjit/lengan terangkat ke atas); (2) Memperagakan minimal 2 variasi ukuran gerak (kecil = gerakan persendian sempit/terbatas, besar = ayunan/putaran rentangan penuh tubuh). Acuan ketercapaian: kedua indikator muncul secara berkesinambungan tanpa berpindah tempat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman peragaan mandiri di akhir latihan inti: setiap murid memperagakan satu rangkaian pendek 3 gerak nonlokomotor berurutan (misalnya: memutar pergelangan tangan kecil di posisi rendah -> meliuk badan sedang di posisi setengah jongkok -> mengayun kedua lengan besar di posisi tinggi menjinjit). Acuan: gerakan mengalir berurutan tanpa jeda berhenti total dan seluruhnya nonlokomotor (tanpa langkah perpindahan kaki).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja peragaan konsep ruang (tingkatan dan ukuran gerak) dalam rangkaian gerak nonlokomotor menggunakan lembar ceklis amatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Peragaan Konsep Tingkatan Gerak (Level) dalam Rangkaian NonlokomotorHanya mampu memperagakan gerakan nonlokomotor pada 1 tingkatan gerak (hanya tingkat sedang/berdiri biasa) dan belum tampak perubahan level.Mampu memperagakan gerakan nonlokomotor pada 2 tingkatan gerak (misalnya tingkat sedang dan tinggi saja) dengan bimbingan guru.Mampu memperagakan gerakan nonlokomotor pada 3 tingkatan gerak lengkap (tingkat rendah, sedang, dan tinggi) dalam satu rangkaian secara mandiri.Mampu memperagakan gerakan nonlokomotor pada 3 tingkatan gerak lengkap secara mandiri dengan transisi perpindahan antar-tingkat yang mulus dan stabil.
Peragaan Konsep Ukuran Ruang Gerak dalam Rangkaian NonlokomotorBelum mampu membedakan ukuran gerak; seluruh gerakan diperagakan dengan ukuran wajar/sama tanpa variasi.Mampu memperagakan 1 variasi ukuran gerak (hanya ukuran besar atau kecil saja) saat diingatkan instruksinya.Mampu memperagakan 2 variasi ukuran gerak (ukuran kecil dan ukuran besar) secara jelas dalam gerakan memutar, mengayun, menekuk, atau meliuk.Mampu memperagakan kontras variasi ukuran gerak (dari sangat kecil hingga rentangan besar maksimal) secara konsisten dan terkontrol dalam rangkaian gerak.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi peragaan konsep tingkatan (rendah, sedang, tinggi) dan ukuran gerak (kecil, besar) dapat dipahami dan dipraktikkan dengan mudah oleh murid kelas 3?
  • Bagian mana dari rangkaian gerak nonlokomotor yang paling menantang bagi murid dalam mempertahankan keseimbangan tubuh tanpa berpindah tempat?

Murid:

  • Pada tingkatan gerak mana (rendah, sedang, atau tinggi) kamu merasa paling mudah menjaga keseimbangan tubuh?
  • Bagaimana perasaanmu saat mencoba mengubah ukuran gerakan dari sangat kecil menjadi sangat besar?

Pertemuan 4 — Menerapkan Peraturan untuk Menumbuhkan Fair Play di dalam Aktivitas Jasmani Nonlokomotor Berkelompok — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.2.4 Menerapkan peraturan untuk menumbuhkan fair play di dalam berbagai aktivitas jasmani pola gerak dasar nonlokomotor

Pendahuluan:

  • Guru mengumpulkan murid di lapangan, memimpin doa bersama, memeriksa presensi, dan memimpin pemanasan statis serta dinamis ringan yang mengutamakan peregangan nonlokomotor (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu menerapkan peraturan untuk menumbuhkan sikap fair play dalam aktivitas gerak nonlokomotor berkelompok (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat: menanyakan kepada murid tentang 2 aturan pokok fair play (acuan: 1. Bermain jujur mengakui kesalahan/pelanggaran sendiri; 2. Menghormati teman regu maupun lawan tanpa mencurangi giliran) dan mengamati kesiapan pemahaman murid (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menjelaskan dan mendemonstrasikan 3 aturan resmi permainan nonlokomotor estafet gerak 'Patung Berantai': (1) Kaki tidak boleh berpindah tempat dari batas simpai/tanda lingkaran saat melakukan gerak; (2) Gerak memutar badan atau mengayun lengan dilakukan penuh sebelum menyentuh bahu teman di sebelahnya; (3) Mengakui secara jujur dengan mengangkat tangan jika kaki sempat melangkah keluar lingkaran sebelum giliran selesai (8 menit).
  • Murid bersama kelompoknya mencermati contoh peragaan sikap fair play yang dicontohkan guru: tetap sportif, tidak menyalahkan teman yang lambat, dan mematuhi batas wilayah gerak nonlokomotor secara jujur (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok beranggotakan 4-5 anak dan mempraktikkan permainan nonlokomotor 'Patung Berantai', di mana setiap anggota secara bergantian melakukan pola gerak nonlokomotor (meliuk dan menekuk atau memutar dan mengayun) di dalam simpainya masing-masing sesuai 3 aturan permainan yang telah disepakati (10 menit).
  • Murid melanjutkan ronde kedua permainan dengan saling mengawasi dan secara mandiri menerapkan peraturan fair play: mengangkat tangan mengakui bila kaki bergeser keluar batas dan tidak memulai gerak sebelum tanda sentuhan giliran diterima (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap kelompok duduk melingkar dan murid saling memeriksa apakah seluruh anggota kelompok telah menerapkan aturan permainan secara adil dan jujur selama beraktivitas (5 menit).
  • Murid mengungkapkan tindakan fair play yang telah mereka lakukan di kelompoknya masing-masing berdasarkan aturan permainan yang ditetapkan (3 menit).

Penutup:

  • Guru memandu gerakan pendinginan bersama untuk melemaskan otot-otot tubuh murid (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik dan asesmen akhir berupa pengecekan langsung terhadap penerapan 3 aturan fair play selama permainan berlangsung, mengapresiasi kejujuran murid, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan visualisasi batas area gerak simpai yang lebih jelas dan pengingat aturan secara verbal.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan diingatkan secara berkala untuk mengecek posisi kaki saat bergerak; murid yang sudah mahir diberi tanggung jawab membantu regunya mengingatkan giliran gerak sesuai urutan tanpa melanggar batas aturan.
  • Produk: Semua murid menunjukkan penerapan peraturan fair play dalam permainan yang sama dengan intensitas kejujuran dan kepatuhan aturan yang diobservasi langsung.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Murid menyebutkan 2 contoh sikap mematuhi aturan demi terciptanya fair play saat bermain bersama teman (acuan jawaban: 1. Jujur mengakui kesalahan sendiri saat melanggar aturan; 2. Menghargai teman atau lawan dengan tidak menyerobot giliran).

Proses:

  • Pengamatan keterlaksanaan 3 aturan permainan 'Patung Berantai': (1) Kepatuhan menjaga kaki tetap diam di dalam batas simpai/tanda saat bergerak nonlokomotor; (2) Kepatuhan menunggu giliran sentuhan sebelum memulai gerakan; (3) Kejujuran mengakui bila melakukan kesalahan gerak/keluar batas tanda tanpa harus ditegur guru.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir dan verifikasi refleksi: Guru memanggil perwakilan murid secara acak untuk mengonfirmasi apakah regunya menerapkan 3 aturan fair play (tidak keluar lingkaran, tidak curi giliran, dan jujur mengakui bila kaki tergeser) secara konsisten selama permainan.

Formatif:

  • Observasi unjuk perilaku penerapan peraturan dan sikap fair play menggunakan lembar ceklis selama permainan kelompok nonlokomotor berlangsung.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menerapkan peraturan untuk menumbuhkan fair play dalam aktivitas nonlokomotorBelum mampu menerapkan ketiga peraturan permainan (masih sering berpindah tempat di luar batas simpai, menyerobot giliran gerak, dan tidak mau mengakui pelanggaran aturan)Mampu menerapkan 1 dari 3 peraturan permainan (misalnya hanya mematuhi urutan giliran gerak, namun masih melanggar batas tanda simpai dan belum mengakui pelanggaran secara mandiri)Mampu menerapkan 2 dari 3 peraturan permainan secara konsisten selama aktivitas berkelompok berlangsungMampu menerapkan seluruh (3 dari 3) peraturan permainan secara konsisten dan mandiri (menjaga kaki tetap di batas simpai, tertib menunggu giliran, serta jujur mengakui kesalahan) tanpa perlu diingatkan guru

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah desain permainan 'Patung Berantai' efektif melatih murid menerapkan peraturan fair play dalam aktivitas jasmani nonlokomotor?
  • Bagaimana respons murid dalam mengakui pelanggaran batas gerak secara jujur selama permainan berlangsung?

Murid:

  • Aturan mana dari permainan tadi yang paling mudah dan paling sulit kamu patuhi?
  • Apakah kamu merasa senang dan bangga ketika bermain secara jujur dan adil bersama teman regumu?

Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.2.1 Menghaluskan keterampilan gerak fundamental pola gerak dasar nonlokomotor memutar dan mengayun dalam situasi gerak yang baru
  • TP 3.2.2 Menghaluskan keterampilan gerak fundamental pola gerak dasar nonlokomotor menekuk dan meliuk dalam situasi gerak yang baru
  • TP 3.2.3 Memperagakan berbagai konsep gerak yang dapat diterapkan dalam rangkaian gerak nonlokomotor
  • TP 3.2.4 Menerapkan peraturan untuk menumbuhkan fair play di dalam berbagai aktivitas jasmani pola gerak dasar nonlokomotor

Pendahuluan:

  • Guru membariskan murid di lapangan, memimpin doa bersama, memeriksa kehadiran, dan memandu pemanasan statis serta dinamis berfokus pada peregangan lengan, pinggang, dan lutut (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pertemuan ke-5 sebagai sesi Asesmen Sumatif Bab 2 untuk menilai unjuk kerja rangkaian gerak nonlokomotor beregu dan pengamatan sikap fair play dalam aktivitas kelompok (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru menjelaskan tata tertib dan prosedur asesmen sumatif: pembagian kelas menjadi 7 kelompok (masing-masing 4 murid), alokasi unjuk kerja 8 menit per regu, serta 4 kriteria unjuk kerja yang dinilai yaitu: (1) kontrol putaran dan ayunan lengan/badan stabil tanpa kehilangan keseimbangan, (2) kelenturan tekukan lutut dan liukan badan terkoordinasi, (3) variasi ruang (arah depan/belakang/samping) dan tingkatan gerak (tinggi, sedang, rendah), dan (4) 4 indikator fair play (menunggu giliran tanpa memotong antrean, menjaga jarak ruang gerak minimal 1 meter dari teman, mematuhi batas area gerak regu, serta menerima giliran dan hasil unjuk kerja tanpa memprotes penguji) (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1: Murid secara berkelompok (4 murid per regu) secara bergantian tampil memperagakan unjuk kerja rangkaian gerak nonlokomotor berdurasi 8 menit per regu (7 kelompok x 8 menit = 56 menit), mencakup: gerakan memutar lengan dan badan, mengayun lengan berirama terkontrol, menekuk lutut pada posisi rendah, serta meliuk pinggang ke samping dan belakang dengan memadukan tingkatan gerak tinggi-sedang-rendah di dalam area berukuran 3x3 meter (56 menit).
  • Tugas 2: Bersamaan dengan jalannya unjuk kerja dan aktivitas permainan kelompok nonlokomotor pendukung di stasiun tunggu, guru mengobservasi penerapan 4 aturan fair play: mematuhi giliran tampil, menghormati ruang gerak regu lain, mematuhi instruksi pembatas tanpa melanggar garis marka, dan menunjukkan sportivitas tanpa mengeluh atau memprotes berlebihan (23 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar dalam kelompok masing-masing untuk melakukan penilaian diri singkat tentang sejauh mana mereka telah memperagakan kontrol gerakan tubuh dan menjaga sikap fair play selama giliran tampil maupun saat menunggu di stasiun (3 menit).

Penutup:

  • Guru memandu gerakan pendinginan untuk melemaskan otot tungkai dan lengan serta mengatur ritme pernapasan (3 menit).
  • Guru menyampaikan simpulan umum pencapaian Bab 2, mengapresiasi sportivitas seluruh murid, memberikan pengumuman tindak lanjut, dan menutup sesi dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Standar unjuk kerja gerak nonlokomotor dan kriteria fair play sama untuk seluruh murid sesuai acuan sumatif.
  • Proses: Akomodasi akses berupa penanda visual marka lantai yang lebih kontras dan aba-aba visual/tepukan tangan bagi murid yang memerlukan panduan ritme gerak tanpa mengurangi aspek penilaian.
  • Produk: Format unjuk kerja rangkaian gerak nonlokomotor beregu dan observasi kepatuhan aturan fair play seragam untuk semua kelompok.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • unjuk kerja rangkaian gerak dan observasi perilaku fair play: penampilan rangkaian pola gerak dasar nonlokomotor (memutar, mengayun, menekuk, meliuk) secara berkelompok kecil dan catatan kepatuhan aturan serta sportivitas
  • unjuk kerja kelompok: penampilan rangkaian kombinasi gerak nonlokomotor (memutar dan mengayun dengan kontrol stabil, menekuk dan meliuk secara runtut, serta penerapan konsep ruang dan tingkatan gerak) yang diperagakan secara beregu 4 murid per kelompok bergantian tampil 8 menit (7 kelompok x 8 menit = 56 menit) (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian unjuk kerja rangkaian gerak nonlokomotor)
  • pengamatan sikap dan perilaku dalam permainan beregu: catatan keterlibatan murid dalam mematuhi giliran, menghargai ruang teman, menerima hasil aktivitas tanpa protes berlebihan, dan menjaga sportivitas selama permainan aktivitas nonlokomotor berpasangan/kelompok (45 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi fair play dan sportivitas)

Sumatif:

  • unjuk kerja rangkaian gerak dan observasi perilaku fair play: penampilan rangkaian pola gerak dasar nonlokomotor (memutar, mengayun, menekuk, meliuk) secara berkelompok kecil dan catatan kepatuhan aturan serta sportivitas
  • unjuk kerja kelompok: penampilan rangkaian kombinasi gerak nonlokomotor (memutar dan mengayun dengan kontrol stabil, menekuk dan meliuk secara runtut, serta penerapan konsep ruang dan tingkatan gerak) yang diperagakan secara beregu 4 murid per kelompok bergantian tampil 8 menit (7 kelompok x 8 menit = 56 menit) (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian unjuk kerja rangkaian gerak nonlokomotor)
  • pengamatan sikap dan perilaku dalam permainan beregu: catatan keterlibatan murid dalam mematuhi giliran, menghargai ruang teman, menerima hasil aktivitas tanpa protes berlebihan, dan menjaga sportivitas selama permainan aktivitas nonlokomotor berpasangan/kelompok (45 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi fair play dan sportivitas)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keterampilan Gerak Nonlokomotor Memutar dan Mengayun (TP 3.2.1)Hanya memperagakan salah satu gerakan memutar atau mengayun dengan poros tubuh tidak stabil dan sering kehilangan keseimbangan.Memperagakan kedua gerakan memutar dan mengayun tetapi kontrol ayunan lengan atau putaran badan masih kaku dan sesekali goyah.Memperagakan gerakan memutar dan mengayun lengan serta badan dengan poros tubuh stabil, seimbang, dan terkontrol.Memperagakan gerakan memutar dan mengayun lengan serta badan dengan kontrol poros gerak sangat stabil, ritmis, dan luwes secara konsisten sepanjang rangkaian.
Keterampilan Gerak Nonlokomotor Menekuk dan Meliuk (TP 3.2.2)Hanya melakukan tekukan atau liukan secara terbatas tanpa menunjukkan perubahan posisi persendian yang jelas.Melakukan gerakan menekuk lutut dan meliuk badan namun rentang liukan sempit atau koordinasi posisi kaki belum seimbang.Memperagakan gerakan menekuk lutut secara stabil dan meliuk badan ke samping/belakang dengan rentang gerak yang tepat dan terkontrol.Memperagakan gerakan menekuk lutut dan meliuk badan dengan koordinasi sempurna, rentang gerak lentur, serta keseimbangan terjaga penuh.
Penerapan Konsep Ruang dan Tingkatan Gerak (TP 3.2.3)Rangkaian gerak hanya dilakukan pada satu tingkatan gerak (misal hanya berdiri tegak) tanpa perubahan ruang arah.Menerapkan 2 tingkatan gerak (misal tinggi dan sedang) dan satu arah ruang gerak dalam rangkaian nonlokomotor.Memperagakan rangkaian gerak nonlokomotor dengan memadukan lengkap 3 tingkatan gerak (tinggi, sedang, rendah) serta variasi arah ruang gerak.Memperagakan rangkaian gerak nonlokomotor yang memadukan secara harmonis seluruh tingkatan gerak (tinggi, sedang, rendah) dan variasi arah ruang secara runtut dan presisi.
Penerapan Peraturan untuk Fair Play (TP 3.2.4)Hanya memenuhi 1 dari 4 indikator fair play (memotong antrean giliran, mengganggu ruang gerak teman, atau tidak mematuhi batas marka). Acuan: (1) patuh giliran, (2) menjaga jarak ruang aman minimal 1 meter, (3) mematuhi batas marka area, (4) bersikap sportif.Memenuhi 2 dari 4 indikator fair play sesuai acuan yang ditetapkan selama aktivitas berkelompok.Memenuhi 3 dari 4 indikator fair play sesuai acuan dengan tertib selama aktivitas unjuk kerja dan di area stasiun.Memenuhi seluruh 4 indikator fair play (tertib antre giliran, menjaga jarak ruang aman minimal 1 meter, mematuhi batas marka area, dan menerima hasil/sportif tanpa protes berlebihan) secara konsisten dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 8 menit per regu efektif untuk mengamati seluruh indikator gerak nonlokomotor dan perilaku fair play murid?
  • Bagaimana kesiapan fisik dan konsistensi murid dalam mempertahankan keseimbangan saat memadukan tingkatan gerak rendah dan tinggi?

Murid:

  • Gerakan nonlokomotor mana (memutar, mengayun, menekuk, atau meliuk) yang paling mudah dan paling menantang untuk saya lakukan secara seimbang?
  • Apakah saya sudah menghargai ruang gerak teman dan tertib menunggu giliran tampil hari ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru PJOK SD Kelas III Kurikulum Merdeka
  2. Peluit dan stopwatch
  3. Tanda batas / cone penanda posisi berdiri
  4. Ruang terbuka / lapangan sekolah yang aman
  5. Buku Panduan Guru PJOK SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek, 2022)
  6. Matras senam / penanda lantai (cone/lingkaran kapur)
  7. Buku Panduan Guru PJOK SD/MI Kelas III, Pusat Perbukuan, Balitbangbuk, Kemendikbudristek
  8. Matras senam / lantai aula / lapangan terbuka yang aman
  9. Peluit dan stopwatch untuk penanda tantangan permainan
  10. Gambar visual siluet tingkatan dan ukuran gerak tubuh
  11. Buku Panduan Guru PJOK Kelas III Kemendikbudristek 2022
  12. Simpai (hula hoop) atau cone/kapur penanda batas lingkaran gerak nonlokomotor
  13. Muhajir & Umi Hariyani. 2022. Buku Panduan Guru PJOK SD/MI Kelas III. Jakarta: Kemendikbudristek.
  14. Peluit, stopwatch, kun/kerucut penanda area (3x3 meter), matras kecil, dan lembar rubrik observasi sumatif.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.