Modul AjarBab 6Fase ESemester 2

Modul Ajar PJOK Kelas 10 Bab 6: Kesehatan Pribadi dan Sosial

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian PJOK kelas 10 untuk Bab 6 "Kesehatan Pribadi dan Sosial", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar PJOK Kelas 10 Bab 6: Kesehatan Pribadi dan Sosial

PJOK - Kelas 10

Bab 6

MODUL AJAR

PJOK — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Bab 6 — Kesehatan Pribadi dan Sosial

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK)
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikBab 6 — Kesehatan Pribadi dan Sosial
Alokasi Waktu12 JP (12 x 45 menit = 540 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 10.6.1 Mengevaluasi risiko kesehatan akibat gaya hidup dan tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani
  2. TP 10.6.2 Mempromosikan tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani menggunakan berbagai media
  3. TP 10.6.3 Mengevaluasi pola makan sehat berdasarkan analisis kandungan gizi sesuai kebutuhan aktivitas jasmani
  4. TP 10.6.4 Mempraktikkan pertolongan pertama pada situasi darurat yang mengancam keselamatan

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana perilaku duduk terus-menerus selama berjam-jam dapat memicu gangguan metabolik dan penyakit tidak menular?
  2. Aktivitas jasmani seperti apa yang paling efektif dan rasional untuk memutus risiko kesehatan akibat gaya hidup kurang gerak dalam keseharian seorang pelajar?
  3. Bagaimana sebuah pesan visual atau poster dapat meyakinkan orang lain untuk mulai rutin beraktivitas jasmani?
  4. Pesan ajakan seperti apa yang paling efektif mendorong remaja agar tidak menghabiskan waktu dengan duduk seharian?
  5. Bagaimana cara kita mengetahui apakah makanan yang kita konsumsi sehari-hari sudah mencukupi kebutuhan energi saat melakukan aktivitas olahraga berat?
  6. Apa risiko kesehatan yang terjadi jika seorang atlet atau orang yang aktif berolahraga mengonsumsi gula, garam, dan lemak melebihi batas anjuran harian?
  7. Apa tindakan pertama yang harus segera kamu lakukan jika ada teman yang tiba-tiba pingsan di lapangan saat upacara atau berolahraga?
  8. Mengapa posisi pemulihan (recovery position) dan meninggikan tungkai kaki penting dilakukan pada korban yang mengalami penurunan kesadaran?
  9. Apa yang harus segera kamu lakukan jika mendapati seseorang tiba-tiba kolaps, tidak merespons, dan tidak bernapas saat beraktivitas fisik?
  10. Mengapa penekanan dada (kompresi) pada Resusitasi Jantung Paru (RJP) harus dilakukan dengan kedalaman dan kecepatan yang tepat?
  11. Bagaimana keterpaduan antara aktivitas jasmani teratur dan pola makan bergizi seimbang mampu melindungi tubuh kita dari risiko penyakit degeneratif?
  12. Mengapa dalam situasi darurat penurunan kesadaran atau henti napas, setiap detik tindakan pertolongan pertama yang sesuai prosedur sangat menentukan kelangsungan hidup korban?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengevaluasi Risiko Kesehatan Akibat Gaya Hidup Kurang Gerak dan Penentuan Tindakan Pencegahan melalui Aktivitas Jasmani — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.6.1 Mengevaluasi risiko kesehatan akibat gaya hidup dan tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengkondisikan ruang kelas yang tertib (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu mengevaluasi risiko kesehatan akibat gaya hidup kurang gerak serta menentukan tindakan pencegahan yang tepat melalui aktivitas jasmani (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan membagikan lembar kuis 3 butir untuk memetakan pemahaman dasar murid mengenai perilaku sedenter dan penyakit tidak menular (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati data fakta riset perilaku sedenter (33,8% anak Indonesia kurang aktif secara fisik) dan membaca teks singkat mengenai 3 studi kasus gaya hidup: Kasus A (duduk 9 jam main gim tanpa jeda gerak), Kasus B (belajar terus-menerus tanpa olahraga), Kasus C (rebahan dan scrolling gawai lebih dari 6 jam sehari) (10 menit).
  • Murid mengidentifikasi keterkaitan antara durasi perilaku tidak aktif pada ketiga kasus tersebut dengan kemunculan risiko penyakit tidak menular (seperti resistensi insulin, obesitas, dan hipertensi) secara terbimbing (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid bermain tantangan berpasangan 'Detektif Risiko': tiap pasangan memilih 1 dari 3 kartu profil kasus gaya hidup, lalu menganalisis rantai sebab-akibat risiko kesehatannya (15 menit).
  • Setiap murid secara mandiri mengerjakan Lembar Evaluasi Kasus untuk mengevaluasi derajat keparahan risiko kesehatan serta menentukan 2 tindakan pencegahan berbasis aktivitas jasmani yang terukur (frekuensi, durasi, jenis gerak) sesuai kasus yang dipilih (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali ketepatan hasil analisis risikonya dan kesesuaian tindakan pencegahan aktivitas jasmani yang telah dirumuskan pada lembar kerja (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan prinsip evaluasi risiko kesehatan akibat kurang gerak dan pentingnya tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani teratur (5 menit).
  • Murid mengumpulkan lembar evaluasi kasus sebagai bukti belajar, dan guru memberikan umpan balik singkat mengenai ketercapaian kriteria evaluasi sebelum kelas diakhiri dengan salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu profil kasus sederhana dengan petunjuk indikator risiko yang eksplisit; murid yang cepat diberikan kartu profil kasus dengan variabel risiko ganda (kurang gerak disertai riwayat keturunan metabolik).
  • Proses: Bagi murid yang kesulitan merumuskan tindakan, disediakan daftar pilihan frekuensi dan jenis aktivitas jasmani (jalan cepat, senam aerobik, peregangan aktif) untuk dipilih dan disesuaikan; bagi murid yang mahir, diminta merumuskan tindakan mandiri dengan rincian durasi dan intensitas yang presisi.
  • Produk: Semua murid menghasilkan lembar evaluasi yang memuat penilaian risiko dan tindakan pencegahan; kedalaman uraian argumentasi rasionalitas aktivitas jasmani disesuaikan dengan tingkat kesiapan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis diagnostik tertulis 3 butir di awal pembelajaran. Soal 1: Perilaku menetap/sedenter didefinisikan sebagai aktivitas dengan pengeluaran energi sangat rendah, contohnya adalah... (Acuan: duduk atau berbaring lama saat terjaga, seperti bermain gim berjam-jam). Soal 2: Penyakit tidak menular yang paling cepat dipicu oleh kurangnya aktivitas jasmani kronis adalah... (Acuan: obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi). Soal 3: Berapa rekomendasi minimal durasi aktivitas jasmani intensitas sedang harian untuk remaja menurut WHO/kesehatan? (Acuan: 60 menit per hari).

Proses:

  • Observasi pengerjaan Lembar Evaluasi Kasus pada tahap Inti Mengaplikasi: Murid menganalisis satu profil dari 3 kartu skenario kasus: Kasus 1 (Duduk 8 jam nonton streaming tanpa jeda), Kasus 2 (Belajar daring 7 jam berturut-turut tanpa stretching), atau Kasus 3 (Main game 6 jam sambil ngemil tanpa gerak fisik). Tugas murid: (1) Menyebutkan minimal 2 risiko kesehatan spesifik (Acuan: penurunan sensitivitas insulin/kardiovaskular melemah/kekakuan otot/obesitas); (2) Menentukan tindakan pencegahan aktivitas jasmani (Acuan: minimal memuat jenis aktivitas jasmani seperti jalan cepat/peregangan dinamis/bersepeda, frekuensi minimal 3-5 kali seminggu, dan durasi minimal 30-60 menit).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi berupa pemeriksaan ketepatan Lembar Evaluasi Kasus: Kriteria penerimaan operasional: (1) Menilai secara logis risiko biologis akibat gaya hidup kurang gerak sesuai profil kasus yang dianalisis; (2) Tindakan pencegahan aktivitas jasmani yang ditetapkan realistis, menyebutkan jenis aktivitas fisik dan takaran durasi/frekuensi yang sejalan dengan anjuran kesehatan remaja.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal tertulis berupa 3 butir pertanyaan pilihan ganda terkait gaya hidup sedenter dan risiko kesehatan.
  • Penilaian proses unjuk kerja evaluasi risiko kesehatan dan perumusan tindakan pencegahan aktivitas jasmani melalui Lembar Kerja Evaluasi Kasus.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi Risiko Kesehatan Akibat Kurang GerakBelum mampu mengidentifikasi risiko kesehatan yang timbul dari profil gaya hidup kurang gerak yang dianalisis.Menyebutkan 1 risiko kesehatan akibat gaya hidup kurang gerak, namun evaluasi hubungan sebab-akibatnya belum tepat.Mengevaluasi minimal 2 risiko kesehatan akibat gaya hidup kurang gerak secara tepat sesuai profil kasus.Mengevaluasi lebih dari 2 risiko kesehatan akibat gaya hidup kurang gerak secara tepat, mendalam, dan logis sesuai profil kasus.
Menentukan Tindakan Pencegahan melalui Aktivitas JasmaniBelum mampu menentukan bentuk aktivitas jasmani sebagai tindakan pencegahan risiko kesehatan.Menentukan tindakan pencegahan aktivitas jasmani tetapi tidak mencantumkan parameter durasi atau frekuensi yang terukur.Menentukan tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani dengan tepat, mencakup jenis aktivitas, frekuensi (minimal 3-5 kali seminggu), dan durasi (minimal 30-60 menit).Menentukan tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani secara sangat tepat dan komprehensif, mencakup jenis aktivitas yang variatif, frekuensi, durasi terukur, serta intensitas yang sesuai untuk mengatasi risiko kasus tersebut.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pada tahap menganalisis skenario kasus dan mengevaluasi risiko kesehatan berjalan efektif sesuai alokasi 90 menit?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam mengevaluasi risiko kesehatan dan menentukan tindakan aktivitas jasmani secara mandiri?
  • Bagian mana dari langkah pembelajaran yang perlu ditingkatkan untuk pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Apakah saya sudah mampu mengevaluasi risiko penyakit yang dapat terjadi bila saya menjalani gaya hidup kurang gerak?
  • Aktivitas jasmani konkret apa yang paling realistis dapat saya terapkan mulai hari ini untuk mencegah risiko kesehatan akibat terlalu lama duduk?

Pertemuan 2 — Mempromosikan Tindakan Pencegahan melalui Aktivitas Jasmani Menggunakan Berbagai Media Visual — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.6.2 Mempromosikan tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani menggunakan berbagai media

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu merancang serta membuat media visual untuk mempromosikan tindakan pencegahan penyakit melalui aktivitas jasmani (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid mencermati 2 contoh slogan promosi di papan tulis: Slogan A ('Ayo Berolahraga demi Masa Depan') dan Slogan B ('Jalan Kaki 30 Menit Sehari Turunkan Risiko Diabetes dan Obesitas'), lalu meminta murid mengidentifikasi slogan mana yang memuat tindakan pencegahan dan risiko spesifik (acuan benar: Slogan B, karena menyebutkan tindakan jelas 'jalan kaki 30 menit sehari' dan risiko kesehatan yang dicegah 'diabetes dan obesitas') (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan menganalisis 3 contoh draf poster promosi kesehatan untuk mengidentifikasi 3 elemen wajib pesan promosi: (1) jenis risiko gaya hidup kurang gerak (misal: penyakit jantung, obesitas, diabetes melitus), (2) bentuk tindakan pencegahan jasmani konkret (misal: latihan aerobik 150 menit/minggu, jalan 10.000 langkah), dan (3) kalimat ajakan persuasif yang mengajak audiens bertindak (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti tantangan interaktif 'Pilah Pesan Promosi' dengan memasangkan 3 kartu risiko kesehatan dengan 3 kartu tindakan pencegahan aktivitas jasmani yang tepat: Kartu Risiko 1 'Kelebihan berat badan ekstrem' dipasangkan dengan Kartu Tindakan A 'Jalan cepat minimal 45 menit 5 kali seminggu'; Kartu Risiko 2 'Kekakuan sendi dan penurunan massa otot' dipasangkan dengan Kartu Tindakan B 'Latihan beban tubuh dan peregangan dinamis 3 kali seminggu'; Kartu Risiko 3 'Hipertensi dini' dipasangkan dengan Kartu Tindakan C 'Aktivitas bersepeda santai 30 menit setiap sore' (acuan pasangan benar: 1-A, 2-B, 3-C) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri memilih salah satu media visual promosi (poster manual kertas A3 atau poster digital) untuk mempromosikan pencegahan risiko kesehatan gaya hidup sedenter melalui aktivitas jasmani (10 menit).
  • Murid membuat karya media promosi visual yang wajib memuat 3 komponen utama secara utuh: (1) identifikasi 1 risiko kesehatan spesifik akibat kurang gerak, (2) rekomendasi 1 tindakan aktivitas jasmani terukur sebagai pencegahannya, dan (3) satu kalimat ajakan/slogan persuasif (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memajang karya media promosi visual di meja masing-masing atau dinding kelas dalam sesi pameran karya mini (gallery walk) dan saling mengamati ketepatan pesan promosi pencegahan pada karya teman (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan kriteria media promosi kesehatan yang efektif dan berdaya bujuk kuat untuk mencegah risiko kesehatan melalui aktivitas jasmani (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi terhadap karya promosi murid, menyampaikan umpan balik konstruktif, serta menutup sesi pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan scaffolding disediakan panduan template struktur teks poster (judul ajakan, risiko, tindakan pencegahan, target waktu aktivitas); murid yang mahir diarahkan memilih kombinasi risiko multi-faktor dengan anjuran intensitas aktivitas fisik (FITT: frekuensi, intensitas, waktu, jenis).
  • Proses: Murid dapat memilih menggunakan media konvensional kertas gambar/spidol warna atau aplikasi desain digital grafis di ponsel/gawai sesuai kenyamanan belajarnya.
  • Produk: Produk promosi dapat berwujud poster infografis grafika digital, poster gambar manual berilustrasi, atau selebaran (flyer) visual satu halaman.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan/tulisan: Diberikan 2 contoh slogan: Slogan A ('Ayo Berolahraga demi Masa Depan') dan Slogan B ('Jalan Kaki 30 Menit Sehari Turunkan Risiko Diabetes dan Obesitas'). Murid diminta menentukan slogan yang memuat informasi pencegahan dan risiko spesifik. (Acuan benar: Murid memilih Slogan B dengan alasan memuat tindakan jelas 'jalan kaki 30 menit sehari' dan menyebut risiko penyakit 'diabetes dan obesitas', sedangkan Slogan A terlalu umum tanpa menyebut risiko maupun tindakan spesifik).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja penyusunan media promosi visual: Guru memeriksa rancangan karya murid menggunakan lembar amatan dengan 3 indikator keberhasilan: (1) Menyebutkan risiko penyakit akibat kurang gerak secara tepat (pilihan risiko yang diterima: obesitas, penyakit jantung koroner, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, stroke), (2) Menyebutkan tindakan pencegahan berupa aktivitas jasmani terukur (pilihan yang diterima: jalan kaki minimal 30 menit/hari, bersepeda 150 menit/minggu, senam aerobik rutin, latihan kekuatan otot teratur), (3) Memuat pesan ajakan bertindak (call to action/slogan persuasif).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan satu kalimat reflektif yang menjelaskan pesan inti dari media visual yang telah dibuatnya. (Kriteria penerimaan: Kalimat memuat keterkaitan langsung antara aktivitas fisik yang dipromosikan dengan penurunan salah satu risiko kesehatan).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi kelengkapan elemen pesan pencegahan pada 2 opsi slogan promosi kesehatan.
  • Asesmen proses (unjuk karya): pemeriksaan draf dan hasil akhir media promosi visual berdasarkan keselarasan risiko kesehatan, ketepatan tindakan pencegahan jasmani, dan daya ajak pesan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Elemen Promosi Pencegahan melalui Aktivitas Jasmani pada Media VisualMedia visual hanya memuat slogan umum tanpa menyebutkan risiko kesehatan akibat kurang gerak maupun tindakan aktivitas jasmani konkret.Media visual memuat 1 dari 2 elemen materi (hanya memuat risiko kesehatan tanpa tindakan jasmani konkret, atau hanya memuat aktivitas jasmani tanpa mengaitkannya dengan risiko kesehatan).Media visual memuat secara lengkap kedua elemen: 1 risiko kesehatan akibat kurang gerak dan 1 tindakan aktivitas jasmani konkret sebagai pencegahan, serta dilengkapi kalimat ajakan persuasif.Media visual memuat secara lengkap kedua elemen dengan rincian tindakan aktivitas jasmani terukur (disertai durasi/frekuensi yang jelas) dan pesan ajakan persuasif yang sangat jelas serta terstruktur rapi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 25 menit untuk pembuatan media visual mencukupi bagi murid menyelesaikan pesannya?
  • Apakah pemilihan media (digital vs manual) membantu seluruh murid mengekspresikan pesan promosi secara optimal tanpa kendala teknis?

Murid:

  • Apakah media visual yang saya buat sudah dapat dipahami orang lain sebagai ajakan untuk aktif bergerak?
  • Bagian mana dari pesan promosi saya yang menurut saya paling meyakinkan bagi orang yang malas bergerak?

Pertemuan 3 — Mengevaluasi Pola Makan Sehat Berdasarkan Analisis Kandungan Gizi Sesuai Kebutuhan Aktivitas Jasmani — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.6.3 Mengevaluasi pola makan sehat berdasarkan analisis kandungan gizi sesuai kebutuhan aktivitas jasmani

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengevaluasi pola makan sehat berdasarkan analisis kandungan gizi sesuai kebutuhan aktivitas jasmani (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid menjawab 3 pertanyaan tertulis singkat pada lembar asesmen awal mengenai batas anjuran konsumsi harian GGL (Gula, Garam, Lemak) menurut Kemenkes RI: (1) Berapa batas maksimal konsumsi gula per orang/hari? (acuan: 50 gram atau 4 sendok makan), (2) Berapa batas maksimal natrium/garam per orang/hari? (acuan: 2.000 mg natrium atau 1 sendok teh / 5 gram garam), (3) Berapa batas maksimal lemak per orang/hari? (acuan: 67 gram atau 5 sendok makan) (9 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati tabel pedoman gizi seimbang serta informasi nilai gizi (Permenkes No. 30/2013) terkait anjuran konsumsi GGL (gula maksimal 50 g/hari, garam/natrium 2000 mg/hari, lemak 67 g/hari) serta kebutuhan kalori dan makronutrisi (karbohidrat, protein, lemak) untuk intensitas aktivitas jasmani ringan (1800-2000 kkal), sedang (2100-2400 kkal), dan berat (2500-3000 kkal) (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti aktivitas kuis interaktif 'Cek Label Nutrisi': setiap pasangan menerima 3 contoh label kemasan makanan/minuman (Label A: Mi Instan [Karbohidrat 45g, Natrium 1.100mg, Lemak 16g]; Label B: Minuman Soda [Gula 38g, Lemak 0g, Natrium 30mg]; Label C: Susu Kedelai [Protein 8g, Gula 6g, Lemak 3g, Natrium 90mg]) dan secara cepat menandai kandungan gizi yang mendekati atau melampaui batas harian Kemenkes (acuan: Label A tinggi natrium >50% batas harian; Label B tinggi gula >75% batas harian; Label C gizi seimbang rendah GGL) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Evaluasi Menu yang memuat 2 studi kasus profil aktivitas jasmani dan menu harian: Kasus 1 (Rian, atlet lari jarak menengah dengan aktivitas jasmani intensitas berat [kebutuhan ~2600 kkal], menu harian: sarapan bubur ayam tanpa suwiran dan teh manis pekat [gula 35g], makan siang mi instan dobel [natrium 2.200mg] dan gorengan 3 biji [lemak 30g], makan malam nasi putih dan kerupuk [total kalori ~1.700 kkal, minim protein & defisit kalori, natrium berlebih]); Kasus 2 (Dina, pelajar dengan aktivitas jasmani intensitas sedang [ekskul basket 3x seminggu, kebutuhan ~2100 kkal], menu harian: sarapan oatmeal dengan telur rebus dan pisang, makan siang nasi merah, dada ayam panggang, tumis buncis, jus jeruk tanpa gula, camilan sore yogurt tawar dan kacang almond [total kalori ~2.150 kkal, makronutrisi seimbang, GGL dalam ambang batas Kemenkes]) (15 menit).
  • Murid bekerja secara mandiri menganalisis dan mengevaluasi kedua menu kasus tersebut dengan mengisi tabel: menghitung kesesuaian estimasi kalori dan makronutrisi terhadap intensitas aktivitas, mengidentifikasi kelebihan/kekurangan zat gizi serta risiko kesehatannya, dan menyusun evaluasi kesesuaian menu (acuan: Kasus 1 dievaluasi tidak sehat/tidak sesuai karena defisit kalori berat, defisit protein untuk pemulihan otot, kelebihan natrium memicu dehidrasi/hipertensi; Kasus 2 dievaluasi sehat dan sesuai karena proporsi makronutrisi lengkap serta GGL sesuai batas anjuran Kemenkes) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil evaluasi menu mereka menggunakan lembar cek mandiri berisi 4 kriteria evaluasi (kesesuaian kalori aktivitas, kelengkapan makronutrisi, kepatuhan batas GGL Kemenkes, dan ketepatan simpulan kelayakan menu) (5 menit).
  • Murid menuliskan refleksi personal berkesadaran tentang evaluasi pola makan pribadinya selama 3 hari terakhir dibandingkan dengan intensitas aktivitas jasmani harian yang biasa dilakukan di sekolah dan rumah (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan prinsip utama mengevaluasi pola makan sehat, yakni mempertimbangkan keseimbangan energi sesuai intensitas aktivitas jasmani serta membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap hasil kerja murid pada analisis menu studi kasus dan mengingatkan pentingnya menerapkan pertimbangan gizi saat berolahraga (1 menit).
  • Guru menyampaikan topik pembelajaran berikutnya (Pertemuan 4 mengenai Pertolongan Pertama pada Situasi Darurat Penurunan Kesadaran dan Pingsan) serta menutup kelas dengan doa bersama (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa kartu rumus ambang batas kebutuhan kalori dan batasan GGL Kemenkes; murid dengan penguasaan cepat diberikan data variasi menu ketiga dengan komposisi zat gizi mikro (vitamin dan elektrolit) untuk dievaluasi lebih mendalam.
  • Proses: Murid yang memerlukan scaffolding dibimbing secara bertahap dalam membaca dan membandingkan angka gramatur zat gizi pada lembar kasus, sedangkan murid mandiri langsung menganalisis dan mengevaluasi rasio kecukupan gizi tanpa pendampingan intensif.
  • Produk: Seluruh murid menyelesaikan tabel evaluasi pola makan dengan standar kompetensi sama, namun murid berkemampuan lanjut dapat menambahkan perincian koreksi gramatur zat gizi spesifik pada menu yang dievaluasi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis tertulis singkat 3 butir soal pemetaan pemahaman acuan batas konsumsi harian Kemenkes RI (Permenkes No. 30/2013): Butir 1: Batas konsumsi gula harian maksimal (acuan: 50 gram / 4 sendok makan); Butir 2: Batas konsumsi garam/natrium harian maksimal (acuan: 2.000 mg natrium / 5 gram garam); Butir 3: Batas konsumsi lemak harian maksimal (acuan: 67 gram / 5 sendok makan). Kriteria kesiapan: Menjawab tepat 3 butir = Mahir; 2 butir = Siap; 0-1 butir = Perlu Bimbingan.

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Kerja Evaluasi Menu Studi Kasus: Menilai kemampuan murid dalam: (1) Menganalisis kandungan gizi (karbohidrat, protein, lemak, natrium, gula) pada Kasus 1 dan Kasus 2; (2) Mengevaluasi keselarasan kandungan gizi dengan kebutuhan intensitas aktivitas jasmani (berat pada Kasus 1 dan sedang pada Kasus 2); (3) Merumuskan evaluasi kelayakan pola makan (Kasus 1: Tidak Sesuai/Berisiko; Kasus 2: Sesuai/Sehat) berdasarkan kepatuhan standar gizi dan pedoman Kemenkes RI.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri dan refleksi tertulis singkat di akhir sesi: Murid menentukan status kelayakan 1 skenario cepat: Seseorang yang berlatih lari maraton mengonsumsi makanan cepat saji tinggi natrium (2.400 mg natrium) dan rendah karbohidrat kompleks. (Acuan: Pola makan dievaluasi tidak tepat/tidak sehat karena natrium melebihi batas 2.000 mg memicu dehidrasi dan kram, serta kurang karbohidrat kompleks sebagai sumber energi utama lari ketahanan).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal melalui kuis tertulis batas anjuran harian GGL Kemenkes RI
  • Penilaian proses selama aktivitas pengerjaan Lembar Evaluasi Pola Makan Berdasarkan Kebutuhan Aktivitas Jasmani (Kasus 1 dan Kasus 2)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Kandungan Gizi MakananBelum mampu mengidentifikasi kandungan zat gizi makro dan batas GGL pada label atau menu makanan yang dianalisis.Mampu mengidentifikasi zat gizi makro pada menu makanan namun keliru dalam membandingkan dengan batas anjuran harian GGL Kemenkes RI.Mampu mengidentifikasi dan membedah kandungan zat gizi makro serta batas anjuran GGL Kemenkes RI pada kedua kasus menu makanan secara tepat.Mampu mengidentifikasi, menghitung akumulasi zat gizi makro dan mikro, serta membandingkannya secara sangat rinci dan presisi terhadap batas anjuran harian Kemenkes RI pada kedua kasus.
Evaluasi Kesesuaian Pola Makan dengan Kebutuhan Aktivitas JasmaniBelum mampu menilai apakah menu makanan yang dikonsumsi sesuai atau tidak sesuai dengan kebutuhan intensitas aktivitas jasmani.Mampu menentukan status kesesuaian menu namun belum menyertakan alasan berbasis analisis kecukupan kalori dan zat gizi aktivitas jasmani terkait.Mampu mengevaluasi kesesuaian pola makan secara tepat berdasarkan analisis kecukupan energi dan zat gizi sesuai intensitas aktivitas jasmani pada kedua kasus studi.Mampu mengevaluasi kesesuaian pola makan secara komprehensif, mengidentifikasi dampak fisiologis spesifik dari ketidaksesuaian nutrisi terhadap performa gerak dan kesehatan jasmani secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat menghubungkan analisis label kandungan gizi dengan kebutuhan energi saat beraktivitas jasmani secara kritis?
  • Bagian mana dari analisis pola makan sehat (penghitungan kalori vs pembatasan GGL) yang paling membutuhkan bimbingan tambahan bagi murid?

Murid:

  • Apakah pola makan dan minum yang saya konsumsi selama ini sudah mendukung intensitas aktivitas jasmani harian saya?
  • Perubahan konkret apa pada pemilihan menu makanan yang akan saya lakukan setelah memahami anjuran batas konsumsi gula, garam, dan lemak?

Pertemuan 4 — Mempraktikkan Prosedur Pertolongan Pertama pada Situasi Darurat Penurunan Kesadaran dan Pingsan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.6.4 Mempraktikkan pertolongan pertama pada situasi darurat yang mengancam keselamatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4, yaitu mempraktikkan prosedur operasional standar (POS) pertolongan pertama pada korban penurunan kesadaran atau pingsan (sinkop) (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang urutan tindakan saat menemukan orang pingsan: (1) Amankan lingkungan, (2) Cek respon/kesadaran korban, (3) Cek pernapasan, (4) Posisikan korban/elevasi kaki. Murid menjawab dengan menunjukkan urutan yang tepat (acuan: urutan 1-2-3-4) (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak demonstrasi guru tentang 4 langkah baku pertolongan pertama pingsan: (1) Cek respon dengan memanggil dan menepuk bahu, (2) Periksa kepatenan jalan napas dan embusan napas selama 5-10 detik, (3) Membaringkan korban telentang di tempat teduh/aman dan meninggikan tungkai kaki 20-30 cm (tungkai lebih tinggi dari jantung) serta melonggarkan pakaian ketat, (4) Memosisikan miring mantap (recovery position) jika korban bernapas normal namun belum sepenuhnya sadar (15 menit).
  • Murid berdiskusi dalam kelompok kecil (masing-masing 3 orang) mencermati panduan POS tindakan pertolongan pertama pingsan dan mengidentifikasi hal-hal yang dilarang (misalnya: tidak langsung memberi minum/makan pada korban tidak sadar dan tidak mengerumuni korban) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Dalam kelompok bertiga (bergantian peran: 1 korban, 1 penolong utama, 1 pengamat checklist), murid mempraktikkan secara langsung 4 langkah tindakan pertolongan pertama: (1) Menepuk pundak dan memanggil 'Bangun kak/dek', (2) Mendekatkan pipi ke hidung korban sambil melihat naik-turun dada, (3) Mengangkat kedua tungkai korban setinggi 20-30 cm dengan tumpuan matras/kursi dan melonggarkan kerah/sabuk, (4) Membalikkan badan korban ke posisi miring mantap (recovery position) dengan tangan menyangga pipi dan lutut atas ditekuk stabil (20 menit).
  • Tantangan Berpasangan 'Respons Cepat Siaga': Guru memberikan aba-aba simulasi darurat di mana penolong harus mempraktikkan 4 langkah tersebut dengan tenang dan urut dalam waktu kurang dari 3 menit per korban (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Pengamat dalam tiap kelompok menyampaikan umpan balik praktis menggunakan lembar amatan mengenai ketepatan posisi tubuh korban dan ketenangan penolong selama praktik (5 menit).
  • Perwakilan murid memperagakan kembali satu siklus utuh posisi miring mantap (recovery position) yang dievaluasi bersama oleh seluruh kelas (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap prosedur keselamatan dan memastikan semua murid memahami alasan fisiologis elevasi tungkai kaki untuk mengembalikan aliran darah ke otak (3 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran hari ini, menyampaikan bahwa pertemuan ke-5 akan melanjutkan pada tindakan darurat henti napas/henti jantung (Resusitasi Jantung Paru), serta menutup kegiatan dengan doa dan salam penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan poster alur tindakan visual bergambar dan lembar instruksi bertahap untuk kelompok yang memerlukan panduan langkah demi langkah.
  • Proses: Murid yang telah menguasai teknik posisi miring mantap secara mandiri mempraktikkan variasi posisi pemulihan pada area matras yang lebih terbatas, sedangkan murid yang masih ragu mendapatkan bimbingan peragaan ulang dari guru.
  • Produk: Kelompok menunjukkan unjuk kerja praktik 4 prosedur pertolongan pertama secara langsung sesuai lembar pengamatan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: 'Sebutkan secara urut 4 tindakan awal saat mendapati seseorang pingsan!' (Acuan jawaban benar: 1. Amankan area sekitar; 2. Cek respon/panggil korban; 3. Cek pernapasan; 4. Baringkan dan tinggikan tungkai kaki 20-30 cm/longgarkan pakaian)

Proses:

  • Penilaian unjuk kerja praktik kelompok menggunakan lembar ceklis 4 kriteria: (1) Ketepatan memeriksa respon korban (tepukan pundak & panggilan), (2) Ketepatan memeriksa jalan napas dan pernapasan dada korban, (3) Ketepatan tindakan elevasi tungkai kaki (20-30 cm) dan melonggarkan pakaian, (4) Ketepatan membentuk posisi miring mantap (recovery position) dengan tangan dan kaki terkunci stabil

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman praktik singkat di akhir sesi: Setiap murid menunjukkan satu posisi tangan dan kaki yang benar pada posisi miring mantap (acuan: tangan bawah ditekuk tegak lurus, tangan atas menyangga pipi, tungkai atas ditekuk 90 derajat membentuk penopang stabil)

Formatif:

  • Unjuk kerja praktik simulasi pertolongan pertama pada korban penurunan kesadaran/pingsan
  • Observasi lembar ceklis prosedur (4 langkah utama: cek respon, cek napas, elevasi kaki/longgarkan pakaian, posisi miring mantap)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mempraktikkan prosedur respon dan pemeriksaan jalan napas korban pingsanBelum mampu mempraktikkan pengecekan respon dan pemeriksaan napas, atau langkah tertukar tanpa memeriksa dada dan hidung korban.Mampu mempraktikkan pengecekan respon (memanggil) tetapi belum tepat memeriksa embusan napas dan gerakan dada secara simultan.Mampu mempraktikkan pengecekan respon (menepuk pundak dan memanggil) serta memeriksa pernapasan dada secara tepat sesuai prosedur.Mampu mempraktikkan seluruh pemeriksaan respon dan jalan napas dengan cepat, tenang, teliti, dan mandiri tanpa keraguan.
Mempraktikkan tindakan elevasi kaki dan posisi miring mantap (recovery position)Belum mampu mengatur posisi kaki korban dan salah membalikkan badan korban ke posisi pemulihan.Mampu meninggikan tungkai kaki tetapi ketinggian belum sesuai (kurang dari 20 cm) atau posisi pemulihan belum terkunci dengan stabil.Mampu meninggikan tungkai kaki setinggi 20-30 cm, melonggarkan pakaian, dan membentuk posisi miring mantap secara runtut dan stabil.Mampu mempraktikkan elevasi kaki dan membentuk posisi miring mantap secara sempurna, sangat stabil, aman, serta mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 90 menit mencukupi bagi setiap murid untuk bergantian mempraktikkan peran penolong dan korban?
  • Apakah murid dapat melakukan posisi miring mantap (recovery position) dengan teknik yang aman tanpa mencederai sendi temannya?

Murid:

  • Langkah mana dari prosedur pertolongan orang pingsan yang paling menantang untuk kamu lakukan?
  • Bagaimana kesiapan dan rasa percaya dirimu jika sewaktu-waktu harus menolong teman yang pingsan saat kegiatan di sekolah?

Pertemuan 5 — Mempraktikkan Langkah Resusitasi Jantung Paru dan Penanganan Darurat yang Mengancam Keselamatan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.6.4 Mempraktikkan pertolongan pertama pada situasi darurat yang mengancam keselamatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan memastikan kesiapan fisik serta ruang belajar yang aman (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu mempraktikkan langkah-langkah Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) dan penanganan darurat yang mengancam keselamatan (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan meminta 2 murid mendemonstrasikan secara cepat urutan rantai keselamatan darurat (acuan kunci rantai keselamatan: 1. Cek respon/lingkungan aman; 2. Panggil bantuan darurat 119; 3. Kompresi dada RJP 30 kali; 4. Bantuan napas 2 kali atau kompresi berkelanjutan; 5. Gunakan AED/tunggu tim medis) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati bagan langkah-langkah RJP efektif dari Kemenkes RI yang ditayangkan guru, mencakup prinsip 3A (Aman diri, Aman korban, Aman lingkungan), pemeriksaan kesadaran (tepuk bahu), pengecekan napas dan nadi karotis (maksimal 10 detik), panggilan darurat (119), serta teknik kompresi dada (letak tumit tangan di tengah dada/setengah bawah tulang dada, kedalaman 5-6 cm, kecepatan 100-120 kali/menit, dan recoil dada penuh) (12 menit).
  • Murid berpasangan mengamati peragaan guru mengenai posisi tubuh penolong: lengan lurus tegak lurus 90 derajat di atas dada korban dan tumpuan dorongan berasal dari berat tubuh bagian atas (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpasangan melakukan tantangan ritme 'CPR Beat Challenge' menggunakan media bantal/manekin dengan irama lagu 100-120 bpm (lagu bertempo sesuai seperti 'Stayin Alive') untuk melatih konsistensi kecepatan kompresi dada selama 1 menit penuh secara bergembira dan bersemangat (15 menit).
  • Secara bergantian berpasangan, murid mempraktikkan simulasi utuh prosedur pertolongan pertama henti jantung: (1) memastikan 3A aman, (2) mengecek respons korban, (3) meminta rekan menghubungi nomor darurat 119, (4) memeriksa napas, (5) melakukan kompresi dada 30 kali dengan posisi siku lurus, kedalaman 5-6 cm, dan recoil penuh, serta (6) posisi pemulihan jika korban mulai bernapas kembali (20 menit).
  • Pasangannya bertindak sebagai penilai sejawat menggunakan lembar ceklis observasi teknik RJP untuk memverifikasi ketepatan posisi tangan, kedalaman kompresi, dan kecepatan kompresi (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya mendiskusikan umpan balik hasil simulasi: bagian teknik yang sudah tepat dan bagian yang masih mengalami kendala teknis (seperti kelelahan, posisi siku membengkok, atau ketukan ritme terlalu cepat/lambat) (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan teknis atas praktik RJP yang telah dilakukan seluruh murid serta mengklarifikasi kesalahan umum seperti siku yang menekuk dan tumpuan dada yang bergeser (3 menit).
  • Guru melakukan cek pemahaman akhir melalui tanya jawab singkat tentang parameter baku kompresi RJP dewasa (acuan: kedalaman 5-6 cm, rasio 30 kompresi : 2 ventilasi, kecepatan 100-120 kali/menit) (1 menit).
  • Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya yaitu asesmen sumatif akhir bab, kemudian menutup pembelajaran dengan doa bersama (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan visual diberikan kartu urutan bergambar langkah RJP di dekat media praktiknya, sedangkan murid yang siap dapat langsung mempraktikkan tanpa kartu panduan.
  • Proses: Murid yang belum stabil ritme kompresinya dipandu menggunakan metronom manual berkecepatan 110 bpm, sedangkan murid yang sudah mahir diberikan tantangan simulasi siklus kompresi 2 menit tanpa jeda.
  • Produk: Seluruh murid mendemonstrasikan unjuk kerja praktik RJP; murid yang telah lancar diminta mempraktikkan simulasi kondisi korban tidak merespons hingga bantuan AED/ambulans datang secara mandiri penuh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Demonstrasi singkat dan identifikasi urutan rantai keselamatan darurat henti jantung. Acuan jawaban benar: 1. Cek respon korban dan amankan lokasi; 2. Panggil bantuan darurat (119); 3. Lakukan kompresi dada (30 kompresi); 4. Berikan napas bantuan (2 kali napas) atau kompresi kontinu; 5. Evaluasi dan gunakan AED bila tersedia.

Proses:

  • Pengamatan performa unjuk kerja RJP selama tahap Mengaplikasi dengan daftar ceklis: (1) Posisi tumit tangan di pertengahan dada, (2) Lengan tegak lurus vertikal (posisi siku terkunci lurus), (3) Kecepatan kompresi berkisar 100-120 kali per menit, (4) Kedalaman kompresi berkisar 5-6 cm dengan recoil dada penuh sebelum tekanan berikutnya.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman teknis lisan di akhir sesi. Soal: 'Sebutkan 3 standar teknis kompresi dada pada RJP dewasa menurut pedoman darurat kesehatan!' Acuan jawaban benar: (1) Kedalaman kompresi antara 5 hingga 6 cm, (2) Kecepatan kompresi 100-120 kali per menit, (3) Memberikan kesempatan dada kembali ke posisi semula secara penuh (full chest recoil) di setiap kompresi.

Formatif:

  • Unjuk kerja praktik langsung simulasi langkah-langkah Resusitasi Jantung Paru (RJP)
  • Observasi lembar ceklis penilaian antarteman saat simulasi penanganan korban henti jantung

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Prosedur Awal Kedaruratan (3A, Cek Respon, Panggilan Bantuan)Mempraktikkan kurang dari 2 langkah awal kedaruratan (dari 3 langkah acuan: memastikan aman diri/korban/lingkungan, menepuk bahu untuk cek respon, dan meminta panggilan 119) serta membutuhkan panduan penuh guru.Mempraktikkan 2 dari 3 langkah awal kedaruratan dengan tepat namun urutannya masih terbalik atau membutuhkan arahan pengingat.Mempraktikkan seluruh 3 langkah awal kedaruratan secara tepat dan runtut (aman diri/korban/lingkungan, cek respon korban, panggil bantuan 119) secara mandiri.Mempraktikkan seluruh 3 langkah awal kedaruratan secara cepat, tepat, tenang, dan runtut tanpa jeda ragu secara mandiri penuh.
Praktik Teknik Kompresi Dada Resusitasi Jantung Paru (RJP)Mempraktikkan teknik kompresi dada dengan posisi tangan salah, siku menekuk, serta kedalaman dan kecepatan kompresi tidak konsisten.Mempraktikkan teknik kompresi dada dengan posisi tangan benar di tengah dada, namun lengan belum sepenuhnya tegak lurus atau kecepatan kompresi masih di luar rentang 100-120 kali/menit.Mempraktikkan teknik kompresi dada dengan posisi tumit tangan tepat, lengan tegak lurus, kedalaman 5-6 cm, recoil penuh, dan kecepatan sesuai rentang 100-120 kali/menit.Mempraktikkan teknik kompresi dada secara konsisten sempurna selama minimal 2 menit siklus dengan irama stabil 100-120 kali/menit, kedalaman 5-6 cm konstan, dan lengan tegak lurus tanpa mengalami pergeseran posisi tangan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu praktik simulasi berpasangan cukup memberikan kesempatan bagi setiap murid untuk merasakan teknik kompresi dada yang benar?
  • Bagaimana respons dan keaktifan murid saat melakukan latihan ritme kompresi dengan irama musik 100-120 bpm?
  • Apakah ada murid yang masih mengalami kesulitan fisik dalam mempertahankan posisi lengan tegak lurus saat melakukan kompresi?

Murid:

  • Bagian mana dari langkah pertolongan pertama RJP yang paling menantang bagi saya untuk dipraktikkan?
  • Apakah saya sudah mampu menjaga ritme kompresi dada secara stabil antara 100-120 kali per menit?
  • Bagaimana perasaan saya setelah mengetahui cara menyelamatkan nyawa seseorang dalam kondisi henti jantung darurat?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.6.1 Mengevaluasi risiko kesehatan akibat gaya hidup dan tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani
  • TP 10.6.2 Mempromosikan tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani menggunakan berbagai media
  • TP 10.6.3 Mengevaluasi pola makan sehat berdasarkan analisis kandungan gizi sesuai kebutuhan aktivitas jasmani
  • TP 10.6.4 Mempraktikkan pertolongan pertama pada situasi darurat yang mengancam keselamatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, memimpin doa bersama, mengecek kehadiran, dan mengondisikan ruang kelas serta area simulasi pertolongan pertama agar tertib dan siap digunakan (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pertemuan ke-6 sebagai pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 6 yang mencakup dua sesi utama: verifikasi dan pengumpulan portofolio karya visual analisis gaya hidup dan gizi, dilanjutkan unjuk kerja simulasi stasiun pertolongan pertama secara bergantian (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai petunjuk teknis pengumpulan artefak portofolio dan tata tertib rotasi unjuk kerja simulasi stasiun pertolongan pertama pada manekin/korban simulasi (3 menit).
  • Guru membacakan skenario darurat resmi untuk simulasi stasiun: 'Korban mengalami pingsan/penurunan kesadaran mendadak di lapangan setelah berolahraga berat, tidak merespons panggilan, dan membutuhkan penanganan jalan napas serta prosedur RJP/posisi pemulihan' beserta 5 komponen operasional yang dinilai (acuan: (1) Cek respon tepuk bahu dan teriak 'Bangun Pak/Bu'; (2) Hubungi bantuan/call for help; (3) Pengecekan napas dan pembebasan jalan napas dengan teknik head-tilt chin-lift selama maksimal 10 detik; (4) Kompresi dada/RJP kedalaman 5-6 cm kecepatan 100-120 x/menit rasio 30 kompresi berbanding 2 napas buatan; (5) Pengaturan posisi pemulihan/recovery position miring mantap saat respon napas kembali) (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Sesi Tugas 1: Secara serentak dan mandiri, seluruh murid mengumpulkan serta menyelesaikan penataan lembar portofolio karya visual/infografik masing-masing yang memuat 3 komponen wajib: (1) Evaluasi risiko penyakit hipokinetik/kurang gerak (acuan: obesitas, hipertensi, jantung koroner); (2) Rekomendasi tindakan aktivitas jasmani terencana (acuan: frekuensi minimal 3-5 kali seminggu, durasi 30-60 menit, intensitas sedang-berat); (3) Telaah menu makanan sehat seimbang (acuan: karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serat vitamin, dan hidrasi air putih sesuai kebutuhan kalori latihan), dan guru memeriksa kelengkapan artefak (35 menit).
  • Sesi Tugas 2: Murid secara berkelompok (beranggotakan 4-5 murid per kelompok, total 6 kelompok bergantian 7 menit per kelompok) melaksanakan unjuk kerja simulasi di stasiun pertolongan pertama mempraktikkan secara langsung 5 prosedur darurat: cek respon, panggil bantuan medis, cek napas & pembebasan jalan napas (head-tilt chin-lift), kompresi dada RJP ritme 30:2, dan pemosisian tubuh pemulihan (recovery position), sementara kelompok lain tertib menunggu giliran di stasiun persiapan (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara mandiri mengisi lembar refleksi proses belajar mengenai pemahaman diri terkait gaya hidup aktif, pola makan sehat, dan kesiapan mental serta keterampilan dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan/kedaruratan di kehidupan nyata (3 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan keberhasilan penyelesaian seluruh rangkaian pembelajaran Bab 6 'Kesehatan Pribadi dan Sosial', memberikan umpan balik umum terhadap ketertiban dan kemandirian selama asesmen sumatif, serta menutup pembelajaran dengan doa penutup dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi format dokumen portofolio (cetak kertas gambar/poster fisik bagi yang terkendala akses digital, atau format digital PDF/JPG) dengan standar isi komponen yang tetap sama persis.
  • Proses: Pemberian instruksi tertulis dan visual di stasiun simulasi guna memfasilitasi murid dengan kebutuhan penjelasan berulang tanpa mengurangi standar prosedur teknis yang diuji.
  • Produk: Standar bukti belajar tetap seragam sesuai rubrik; bagi murid dengan kendala fisik tertentu diberikan peran aktif peragaan prosedur komando darurat dan pembukaan jalan napas secara presisi dalam kelompok simulasinya.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Asesmen kombinasi portofolio proyek terpadu (karya analisis visual) dan unjuk kerja simulasi stasiun berkelompok: Dokumen infografik telaah gaya hidup sehat dan gizi aktivitas jasmani serta performa peragaan prosedur pertolongan pertama pada simulasi kondisi darurat
  • Penilaian portofolio produk analisis dan media: Infografik digital atau lembar karya visual murid yang memuat evaluasi risiko penyakit akibat gaya hidup kurang gerak, rekomendasi tindakan pencegahan jasmani, serta telaah menu makanan seimbang sesuai kebutuhan kalori aktivitas fisik yang dikerjakan dan dikumpulkan serentak seluruh kelas (45 menit; individual; instrumen: Rubrik analitik telaah gizi, analisis risiko gaya hidup, dan efektivitas pesan visual)
  • Unjuk kerja simulasi stasiun pertolongan pertama: Demonstrasi langkah-langkah pertolongan pertama darurat (pengecekan respon, pembebasan jalan napas, resusitasi jantung paru/penanganan pingsan dan posisi pemulihan) secara beregu/kelompok beranggotakan 4-5 murid per kelompok (6 kelompok dinilai paralel dan bergantian dengan alokasi 7 menit per kelompok untuk 28 murid) (45 menit; kelompok; instrumen: Lembar cek unjuk kerja prosedur keselamatan dan pertolongan pertama)

Sumatif:

  • Asesmen kombinasi portofolio proyek terpadu (karya analisis visual) dan unjuk kerja simulasi stasiun berkelompok: Dokumen infografik telaah gaya hidup sehat dan gizi aktivitas jasmani serta performa peragaan prosedur pertolongan pertama pada simulasi kondisi darurat
  • Penilaian portofolio produk analisis dan media: Infografik digital atau lembar karya visual murid yang memuat evaluasi risiko penyakit akibat gaya hidup kurang gerak, rekomendasi tindakan pencegahan jasmani, serta telaah menu makanan seimbang sesuai kebutuhan kalori aktivitas fisik yang dikerjakan dan dikumpulkan serentak seluruh kelas (45 menit; individual; instrumen: Rubrik analitik telaah gizi, analisis risiko gaya hidup, dan efektivitas pesan visual)
  • Unjuk kerja simulasi stasiun pertolongan pertama: Demonstrasi langkah-langkah pertolongan pertama darurat (pengecekan respon, pembebasan jalan napas, resusitasi jantung paru/penanganan pingsan dan posisi pemulihan) secara beregu/kelompok beranggotakan 4-5 murid per kelompok (6 kelompok dinilai paralel dan bergantian dengan alokasi 7 menit per kelompok untuk 28 murid) (45 menit; kelompok; instrumen: Lembar cek unjuk kerja prosedur keselamatan dan pertolongan pertama)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Evaluasi Risiko Kurang Gerak & Pencegahan Jasmani (TP 10.6.1 & TP 10.6.2)Hanya memuat 1 dari 3 acuan risiko hipokinetik (acuan: obesitas, hipertensi, jantung koroner) dan rekomendasi pencegahan jasmani tidak menyertakan frekuensi maupun durasi.Memuat tepat 2 dari 3 acuan risiko hipokinetik (acuan: obesitas, hipertensi, jantung koroner) serta menyertakan anjuran aktivitas jasmani namun hanya mencantumkan salah satu antara frekuensi (3-5 kali/minggu) atau durasi (30-60 menit).Mengevaluasi tepat seluruh 3 acuan risiko hipokinetik (obesitas, hipertensi, jantung koroner) dan menyertakan rekomendasi aktivitas jasmani pencegahan secara lengkap (frekuensi 3-5 kali/minggu, durasi 30-60 menit) dalam media visual yang jelas.Mengevaluasi tepat seluruh 3 acuan risiko hipokinetik (obesitas, hipertensi, jantung koroner) disertai analisis mekanisme dampak fisiologisnya, rekomendasi aktivitas jasmani terstruktur (frekuensi, durasi, intensitas sedang-berat), serta visualisasi pesan promosi yang sangat persuasif dan aplikatif.
Evaluasi Pola Makan Sehat & Analisis Gizi Aktivitas Jasmani (TP 10.6.3)Hanya memuat 1-2 dari 5 zat gizi acuan (acuan: karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serat vitamin, hidrasi air putih) tanpa mengaitkan dengan kebutuhan aktivitas jasmani.Memuat 3-4 dari 5 zat gizi acuan (acuan: karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serat vitamin, hidrasi air putih) namun analisis porsi makan belum disesuaikan dengan intensitas gerak tubuh.Mengevaluasi menu makanan sehat dengan menganalisis secara tepat seluruh 5 zat gizi acuan (karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serat vitamin, hidrasi air putih) yang disesuaikan dengan kebutuhan energi aktivitas jasmani.Mengevaluasi menu makanan sehat secara komprehensif mencakup seluruh 5 zat gizi acuan disertai perhitungan takaran kalori harian yang tepat berdasarkan variasi intensitas latihan fisik (ringan, sedang, berat).
Praktik Pertolongan Pertama Situasi Darurat (TP 10.6.4)Mempraktikkan hanya 1-2 dari 5 langkah prosedur operasional standar (acuan langkah: (1) cek respon verbal/nyeri; (2) panggil bantuan medis; (3) cek napas dan pembebasan jalan napas head-tilt chin-lift; (4) kompresi dada RJP 30:2; (5) posisi pemulihan/recovery position) dengan urutan yang keliru.Mempraktikkan 3-4 dari 5 langkah prosedur operasional standar (acuan langkah: (1) cek respon verbal/nyeri; (2) panggil bantuan medis; (3) cek napas dan pembebasan jalan napas head-tilt chin-lift; (4) kompresi dada RJP 30:2; (5) posisi pemulihan/recovery position) secara berurutan namun teknik kompresi atau jalan napas masih ragu/kurang tepat.Mempraktikkan secara mandiri dan tepat seluruh 5 langkah prosedur operasional standar darurat (cek respon, panggil bantuan medis, cek napas/jalan napas head-tilt chin-lift, RJP 30:2, dan posisi pemulihan) secara runtut dan tenang.Mempraktikkan seluruh 5 langkah prosedur operasional standar darurat dengan sangat presisi, ritme kompresi stabil (100-120 x/menit, kedalaman 5-6 cm), teknik jalan napas sempurna, serta menunjukkan komunikasi komando penyelamatan yang lugas dan efektif.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 45 menit untuk verifikasi portofolio dan 45 menit untuk simulasi unjuk kerja 6 kelompok berjalan efektif dan tepat waktu?
  • Bagaimana tingkat penguasaan murid pada keterampilan penyelamatan jiwa (RJP dan posisi pemulihan), apakah seluruh murid sudah mampu melakukannya sesuai standar keselamatan?

Murid:

  • Bagian mana dari evaluasi gaya hidup sehat dan analisis gizi yang paling memberikan dampak nyata bagi kebiasaan hidup sehari-hariku?
  • Apakah saya merasa percaya diri dan siap melakukan pertolongan pertama yang benar jika menghadapi orang yang pingsan atau henti napas di sekitar saya?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru PJOK Kelas X SMA/SMK Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, 2023.
  2. Buku Siswa PJOK Kelas X SMA/SMK Edisi Revisi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, 2023 (Bab 6).
  3. Lembar Kerja Murid (LKPD) Profil Skenario Risiko Gaya Hidup Sedenter.
  4. Buku Panduan Guru PJOK Kelas X SMA/SMK (Kemendikbudristek RI, 2023)
  5. Buku Siswa PJOK Kelas X SMA/SMK (Kemendikbudristek RI, 2023), Bab 6: Kesehatan Pribadi dan Sosial
  6. Materi visual edukasi P2PTM Kementerian Kesehatan RI (Tingkatkan Aktivitas Fisik)
  7. Kertas gambar A3, spidol warna, atau aplikasi desain grafis digital (Canva/alat serupa)
  8. Buku Siswa PJOK Kelas X SMA/SMK (Kemendikbudristek RI, 2023) Bab 6
  9. Permenkes RI Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan pada Pangan Olahan dan Siap Saji
  10. Contoh label Informasi Nilai Gizi kemasan makanan/minuman dan Lembar Kerja Studi Kasus Analisis Menu Atlet & Remaja Aktif
  11. Buku Panduan Guru PJOK Kelas X SMA/MA/SMK Kemendikbudristek 2023
  12. Buku Teks Siswa PJOK Kelas X SMA/MA/SMK Kemendikbudristek 2023 Bab 6
  13. Matras senam / matras busa untuk praktik posisi lantai
  14. Pedoman Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) Kemenkes RI
  15. Buku Panduan Guru PJOK SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Puskurbuk, Kemendikbudristek RI)
  16. Buku Panduan Siswa Aktivitas Jasmani dan Olahraga Kelas X (Kemendikbudristek RI)
  17. Pedoman Bantuan Hidup Dasar dan Resusitasi Jantung Paru, Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI
  18. Bantal/matras/manekin simulasi RJP dan pengukur ritme/lagu penanda tempo 100-120 bpm
  19. Buku Panduan Guru PJOK SMA/SMK Kelas X, Kemendikbudristek RI, 2023
  20. Buku Siswa PJOK SMA/SMK Kelas X, Kemendikbudristek RI, 2023 (Bab 6: Kesehatan Pribadi dan Sosial)
  21. Matras senam / Manekin RJP / Phantom CPR untuk simulasi pertolongan pertama
  22. Lembar Instrumen Rubrik Penilaian Portofolio dan Lembar Cek Unjuk Kerja Prosedur Darurat

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.