MODUL AJAR PJOK — Kelas 10 (Fase E) Topik: Partisipasi yang Setara dan Inklusivitas dalam Olahraga INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | PJOK |
|---|
| Fase / Kelas | Fase E / Kelas 10 |
|---|
| Topik | Partisipasi yang Setara dan Inklusivitas dalam Olahraga |
|---|
| Alokasi Waktu | 2x45 menit |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- Murid mampu memahami pentingnya kesetaraan partisipasi dalam olahraga dengan menganalisis faktor-faktor kesetaraan menggunakan kerangka Figueroa dan mengidentifikasi hambatan partisipasi yang ada.
- Murid mampu mendukung terciptanya lingkungan olahraga yang inklusif dan bebas diskriminasi melalui diskusi studi kasus serta perancangan aktivitas yang mendorong partisipasi merata dan adil.
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Pernahkah kamu melihat atau merasakan seseorang tidak bisa ikut berolahraga karena faktor tertentu seperti jenis kelamin, kondisi fisik, atau status ekonomi? Ceritakan pengalamanmu!
- Apa yang dapat kita lakukan sebagai individu, sekolah, atau masyarakat untuk mendorong partisipasi yang setara dalam olahraga di semua tingkatan?
- Menurutmu, apakah olahraga di Indonesia sudah benar-benar inklusif dan terbuka untuk semua orang? Apa bukti atau alasanmu?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, mengecek kehadiran, dan mengkondisikan murid agar siap belajar (5 menit).
- Asesmen Awal — Guru meminta murid menuliskan secara singkat di selembar kertas: satu pengalaman nyata yang mereka pernah alami atau saksikan terkait ketidaksetaraan partisipasi dalam olahraga, lalu kertas dikumpulkan untuk dipindai guru secara cepat sebagai peta pengetahuan awal (5 menit).
- Guru mempersilakan 2–3 murid berbagi cerita singkat dari pengalaman yang mereka tuliskan, kemudian mengaitkannya dengan topik hari ini: Partisipasi yang Setara dan Inklusivitas dalam Olahraga (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: (1) memahami kerangka Figueroa sebagai alat analisis kesetaraan, dan (2) merancang solusi inklusif melalui diskusi studi kasus (2 menit).
- Guru melontarkan pertanyaan pemantik pertama untuk membangun rasa ingin tahu: 'Pernahkah kamu melihat seseorang tidak bisa ikut berolahraga karena faktor tertentu?' dan memberi waktu sejenak bagi murid untuk merespons lisan (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menampilkan Gambar 5.3 (perlombaan inklusif) dan Gambar 5.4 (kerangka Figueroa) dari Buku Siswa di layar proyektor. Murid diminta mengamati selama 2 menit secara seksama sebelum ada penjelasan verbal — ini melatih kesadaran visual (Berkesadaran).
- Guru menjelaskan secara interaktif 5 tingkatan kerangka Figueroa: (1) Individu, (2) Interpersonal, (3) Kelembagaan, (4) Struktural, dan (5) Budaya — dengan menggunakan contoh kontekstual dari olahraga di Indonesia seperti sepak bola, voli, dan renang (Bermakna).
- Murid diminta mengisi 'Tabel Pemetaan Hambatan' secara mandiri di buku catatan: pada setiap tingkat Figueroa, tuliskan satu contoh hambatan partisipasi yang mereka kenal dari kehidupan nyata (10 menit).
- Guru memfasilitasi diskusi kelas singkat: beberapa murid membacakan hasil tabelnya, guru memberikan umpan balik dan memperkuat pemahaman konsep (5 menit).
- Guru juga menampilkan Gambar 5.5 tentang permainan yang dimodifikasi untuk olahraga inklusif sebagai contoh konkret penerapan kesetaraan (Bermakna).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Guru membagi murid ke dalam kelompok 5–6 orang secara heterogen (campuran gender, kemampuan, latar belakang) untuk mencerminkan nilai inklusivitas itu sendiri (Menggembirakan).
- Setiap kelompok menerima satu Kartu Studi Kasus yang berbeda. Contoh kasus: (A) Seorang siswi ingin bergabung tim basket putra karena tidak ada tim putri; (B) Murid berkebutuhan khusus ingin ikut lomba lari sekolah; (C) Siswa dari keluarga kurang mampu tidak bisa ikut ekstrakurikuler renang karena biaya; (D) Siswi berjilbab tidak diperbolehkan ikut kompetisi renang karena aturan seragam.
- Kelompok mendiskusikan kasus menggunakan kerangka Figueroa: identifikasi pada tingkat mana hambatan terjadi, siapa yang terdampak, dan mengapa hambatan ini perlu diatasi (15 menit). Murid menuliskan hasil analisis di lembar kerja kelompok.
- Setelah menganalisis, setiap kelompok merancang minimal satu solusi konkret berupa 'Rancangan Aktivitas Inklusif' — misalnya modifikasi aturan permainan, kebijakan baru, atau program kegiatan — yang secara langsung menjawab hambatan dalam kasus mereka (10 menit) (Bermakna).
- Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis dan rancangan solusinya dalam 2–3 menit. Kelompok lain dipersilakan memberikan pertanyaan atau komentar untuk memperdalam diskusi (Menggembirakan).
- Guru memberikan umpan balik konstruktif pada setiap presentasi, menekankan keterkaitan solusi dengan nilai inklusivitas dan fair play dalam CP PJOK Fase E.
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Guru mengajak murid kembali ke tempat duduk masing-masing dan memimpin refleksi terstruktur dengan metode '3-2-1': setiap murid menuliskan di buku catatan — 3 hal yang mereka pelajari hari ini, 2 hal yang mengubah cara pandang mereka, dan 1 pertanyaan yang masih ingin mereka gali lebih dalam (Berkesadaran).
- Guru melontarkan pertanyaan refleksi lisan: 'Bagaimana kerangka Figueroa mengubah cara kamu melihat hambatan partisipasi olahraga yang selama ini kamu anggap wajar?' Beberapa murid diminta merespons lisan (5 menit).
- Guru menghubungkan hasil refleksi dengan nilai-nilai yang lebih luas: 'Sikap inklusif dalam olahraga adalah cerminan dari siapa kita sebagai warga negara dan anggota masyarakat. Ini bukan hanya soal olahraga, tapi soal keadilan sosial.' (Bermakna).
- Murid diminta menuliskan satu komitmen pribadi: satu tindakan konkret yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat untuk mendukung inklusivitas di lingkungan olahraga sekitar mereka (sekolah, komunitas, atau keluarga) (Berkesadaran).
Penutup:- Guru merangkum poin-poin utama pembelajaran: 5 tingkat kerangka Figueroa, hambatan partisipasi, dan pentingnya lingkungan olahraga yang inklusif (3 menit).
- Asesmen Akhir — Guru membagikan lembar 'Exit Ticket': murid menjawab dua pertanyaan tertulis secara individual: (1) Sebutkan dua hambatan partisipasi olahraga pada tingkat berbeda dalam kerangka Figueroa dan cara mengatasinya; (2) Jelaskan satu karakteristik lingkungan olahraga yang inklusif beserta alasannya. Dikumpulkan sebelum keluar kelas (7 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif semua kelompok dan mengingatkan nilai sportivitas serta inklusivitas sebagai bagian dari karakter murid, bukan hanya di lapangan olahraga.
- Guru menyampaikan tugas tindak lanjut (opsional/pengayaan): murid mengamati satu kegiatan olahraga di lingkungan sekitar mereka dalam satu minggu ke depan dan menganalisisnya menggunakan kerangka Figueroa secara tertulis.
- Guru menutup pembelajaran dengan salam dan motivasi singkat (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Untuk murid yang belum memahami konsep kerangka Figueroa, guru menyediakan kartu ringkasan satu halaman bergambar yang menjelaskan 5 tingkat Figueroa dengan bahasa sederhana dan contoh sehari-hari. Untuk murid yang sudah cepat memahami, guru menyediakan artikel atau video pendek tentang kebijakan olahraga inklusif di tingkat internasional (misalnya program IOC atau Paralympic) sebagai bahan pengayaan.
- Proses: Murid yang membutuhkan dukungan lebih dapat mengerjakan Tabel Pemetaan Hambatan berpasangan dengan teman sebaya atau dengan panduan pertanyaan scaffolding dari guru. Kelompok yang lebih cepat selesai diminta menganalisis kasus dari sudut pandang lebih dari satu tingkatan Figueroa sekaligus dan membuat diagram sebab-akibat hambatan partisipasi.
- Produk: Murid dapat memilih cara menyajikan rancangan aktivitas inklusif: tulisan narasi, poster/infografis sederhana, atau presentasi lisan. Bagi murid dengan hambatan menulis, diperbolehkan menyampaikan rancangan secara lisan kepada guru atau merekamnya dalam video singkat.
ASESMENAwal:- Sebelum pembelajaran dimulai, murid menuliskan satu pengalaman nyata terkait ketidaksetaraan partisipasi olahraga yang pernah mereka alami atau saksikan di selembar kertas (anonim atau bernama). Guru memindai hasil tulisan untuk memetakan pengetahuan awal dan pengalaman hidup murid sebagai titik masuk pembelajaran yang bermakna.
- Guru mengajukan pertanyaan lisan: 'Siapa yang pernah dengar istilah inklusif dalam olahraga? Apa artinya menurut kamu?' — jawaban lisan murid menjadi petunjuk tingkat pemahaman awal yang perlu disesuaikan dalam penjelasan.
Proses:- Guru berkeliling dan mengamati pengisian Tabel Pemetaan Hambatan individu pada tahap Memahami. Murid yang kesulitan mendapat pertanyaan pancingan dari guru untuk membantu berpikir lebih dalam.
- Selama diskusi kelompok tahap Mengaplikasi, guru menggunakan lembar observasi singkat untuk mencatat kualitas keterlibatan tiap anggota kelompok: apakah aktif menyumbang ide, apakah analisis menggunakan kerangka Figueroa dengan benar, dan apakah solusi yang dirancang relevan dan realistis.
- Guru memperhatikan kualitas pertanyaan dan komentar antar kelompok saat sesi presentasi sebagai bukti pemahaman kritis murid.
Akhir:- Exit Ticket berisi dua pertanyaan tertulis individual yang dikerjakan mandiri selama 7 menit di akhir pembelajaran: (1) Sebutkan dua hambatan partisipasi olahraga pada tingkat kerangka Figueroa yang berbeda dan jelaskan cara mengatasinya; (2) Jelaskan satu karakteristik utama lingkungan olahraga yang inklusif beserta alasanmu. Hasil digunakan guru untuk menilai ketercapaian TP 10.5.3.1 dan 10.5.3.2 secara individual.
- Lembar Kerja Kelompok berisi analisis studi kasus dan rancangan aktivitas inklusif dikumpulkan sebagai portofolio kelompok yang dinilai menggunakan rubrik 4 level.
Formatif:- Pengamatan guru selama diskusi kelompok: partisipasi aktif, kualitas analisis menggunakan kerangka Figueroa, dan kemampuan berargumen.
- Tabel Pemetaan Hambatan individu yang dikerjakan pada tahap Memahami: diperiksa guru untuk mengecek pemahaman awal konsep Figueroa.
- Observasi presentasi kelompok: kejelasan analisis kasus, relevansi solusi yang dirancang, dan kemampuan merespons pertanyaan dari kelompok lain.
Sumatif:- Exit Ticket: dua pertanyaan tertulis individual tentang hambatan partisipasi berdasarkan kerangka Figueroa dan karakteristik lingkungan olahraga inklusif — dikumpulkan di akhir pertemuan.
- Lembar Kerja Kelompok: hasil analisis studi kasus dan rancangan aktivitas inklusif yang dikumpulkan sebagai bukti capaian TP 10.5.3.2.
RUBRIK PENILAIAN| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pemahaman Kerangka Figueroa (TP 10.5.3.1) | Murid belum dapat menyebutkan tingkatan kerangka Figueroa atau memberikan contoh yang tidak relevan dengan kesetaraan partisipasi olahraga. | Murid dapat menyebutkan sebagian tingkatan kerangka Figueroa (minimal 2 dari 5) dan memberikan contoh hambatan yang kurang tepat atau hanya pada satu konteks. | Murid dapat menjelaskan minimal 4 tingkatan kerangka Figueroa dengan contoh hambatan partisipasi yang tepat dan relevan dari konteks olahraga nyata. | Murid dapat menjelaskan kelima tingkatan kerangka Figueroa secara akurat, mengidentifikasi hambatan spesifik di tiap tingkatan, dan mengaitkannya dengan konteks olahraga di lingkungan sekitar mereka secara kritis dan mendalam. | | Analisis Studi Kasus (TP 10.5.3.1 & 10.5.3.2) | Murid tidak dapat mengidentifikasi hambatan dalam kasus yang diberikan atau analisisnya tidak menggunakan konsep kerangka Figueroa sama sekali. | Murid dapat mengidentifikasi hambatan dalam kasus secara umum namun penggunaan kerangka Figueroa kurang tepat atau hanya menyentuh permukaan masalah. | Murid mengidentifikasi hambatan dengan benar menggunakan kerangka Figueroa, menjelaskan pihak yang terdampak, dan memberikan alasan yang cukup kuat mengapa hambatan tersebut perlu diatasi. | Murid menganalisis hambatan secara mendalam dari lebih dari satu tingkatan Figueroa, mengidentifikasi akar masalah dan dampaknya, serta menghubungkan analisis dengan nilai keadilan dan hak berpartisipasi dalam olahraga secara kritis. | | Perancangan Solusi Inklusif (TP 10.5.3.2) | Murid tidak mampu merancang solusi atau solusi yang diusulkan tidak relevan dengan hambatan yang dianalisis. | Murid merancang solusi yang relevan namun masih bersifat umum, kurang konkret, atau tidak menjelaskan bagaimana solusi tersebut mendorong partisipasi yang merata. | Murid merancang solusi konkret dan relevan yang secara langsung menjawab hambatan, disertai penjelasan mekanisme pelaksanaannya dan dampak inklusif yang diharapkan. | Murid merancang solusi yang inovatif, konkret, dan realistis, mempertimbangkan berbagai kelompok yang terdampak, serta mampu menjelaskan secara persuasif bagaimana solusi mendorong partisipasi yang setara, adil, dan bebas diskriminasi. | | Kolaborasi dan Komunikasi dalam Diskusi | Murid tidak aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan tidak menyumbangkan ide atau pendapat apapun. | Murid berpartisipasi namun pasif, hanya merespons jika diminta dan kontribusi idenya sangat minim. | Murid aktif berkontribusi dalam diskusi, mendengarkan pendapat teman dengan baik, dan mampu menyampaikan pendapatnya dengan jelas dan sopan. | Murid aktif memimpin atau mendorong diskusi kelompok, memberikan argumen yang berbobot, merespons pertanyaan dari kelompok lain dengan percaya diri, dan mendorong semua anggota kelompok untuk berkontribusi. |
REFLEKSIRefleksi Guru:- Apakah semua murid dapat memahami 5 tingkatan kerangka Figueroa dengan contoh yang relevan? Bagian mana yang perlu diperjelas di pertemuan berikutnya?
- Apakah diskusi kelompok studi kasus berjalan cukup mendalam, atau ada kelompok yang hanya menyentuh permukaan masalah? Apa yang perlu saya ubah dalam fasilitasi?
- Apakah pertanyaan pemantik yang saya pilih berhasil memancing rasa ingin tahu dan keterlibatan emosional murid dengan topik ini?
- Apakah strategi diferensiasi yang saya terapkan sudah cukup menjangkau murid yang membutuhkan dukungan maupun yang lebih cepat belajar?
- Dari hasil Exit Ticket, berapa persen murid yang sudah mencapai level Berkembang atau Sangat Berkembang? Apa tindak lanjut yang perlu saya ambil?
Refleksi Murid:- Dari kelima tingkatan kerangka Figueroa, tingkatan mana yang menurutmu paling sering menjadi hambatan partisipasi olahraga di lingkunganmu? Mengapa?
- Apakah solusi yang kelompokmu rancang tadi benar-benar bisa diterapkan di sekolah atau komunitasmu? Apa langkah pertama yang perlu dilakukan?
- Adakah pandangan atau asumsimu tentang kesetaraan dalam olahraga yang berubah setelah pembelajaran hari ini? Ceritakan perubahan itu.
- Satu tindakan konkret apa yang akan kamu lakukan dalam waktu dekat untuk mendukung inklusivitas di lingkungan olahragamu?
SUMBER BELAJAR- Buku Siswa PJOK Kelas X (Kurikulum Merdeka) — Bab 5: Perilaku Etis dalam Olahraga, hlm. 148–155 (termasuk Gambar 5.3, 5.4, 5.5).
- Buku Guru PJOK Kelas X (Kurikulum Merdeka) — Panduan Kegiatan 2, Bab 5, hlm. 212–214.
- Kartu Studi Kasus buatan guru (4 skenario berbeda tentang hambatan partisipasi olahraga — disiapkan guru sebelum pembelajaran).
- Lembar Kerja Kelompok: Tabel Analisis Studi Kasus menggunakan Kerangka Figueroa (disiapkan guru).
- Lembar Tabel Pemetaan Hambatan Individu (disiapkan guru atau cukup menggunakan buku catatan murid).
- Lembar Exit Ticket (disiapkan guru — dua pertanyaan tertulis individual).
- Proyektor dan layar untuk menampilkan gambar Figueroa dan contoh olahraga inklusif.
- Video pendek (opsional/pengayaan): dokumentasi program olahraga inklusif dari YouTube atau sumber resmi seperti IOC atau Kemenpora RI.
- Panduan Pembelajaran dan Asesmen (PPA) Kurikulum Merdeka versi Deep Learning sebagai acuan prinsip pedagogis.
|