Modul AjarBab 3Fase ESemester 1

Modul Ajar PJOK Kelas 10 Bab 3: Keterampilan Taktis

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian PJOK kelas 10 untuk Bab 3 "Keterampilan Taktis", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar PJOK Kelas 10 Bab 3: Keterampilan Taktis

PJOK - Kelas 10

Bab 3

MODUL AJAR

PJOK — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Bab 3 — Keterampilan Taktis

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK)
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikBab 3 — Keterampilan Taktis
Alokasi Waktu12 JP (12 x 45 menit = 540 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 10.3.1 Menerapkan keterampilan gerak spesifik di dalam berbagai situasi gerak yang menantang pada simulasi permainan taktis
  2. TP 10.3.2 Mengembangkan strategi gerak untuk mendapatkan keberhasilan capaian keterampilan gerak melintasi berbagai situasi gerak yang menantang
  3. TP 10.3.3 Merefleksikan transfer strategi gerak yang telah dikuasai dalam situasi gerak yang berbeda
  4. TP 10.3.4 Menerapkan strategi pengambilan keputusan dalam kerja tim yang mempertunjukkan keterampilan kepemimpinan dan kolaborasi

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana caramu tetap dapat mengoper bola secara akurat ketika seorang pemain lawan berdiri tepat menghalangi arah lemparanmu?
  2. Mengapa pemain tanpa bola harus aktif bergerak mencari ruang kosong saat timnya sedang ditekan lawan?
  3. Bagaimana caramu mengenali dan memanfaatkan ruang kosong di area pertahanan lawan saat situasi permainan berlangsung cepat dan penuh tekanan?
  4. Penyesuaian strategi gerak apa yang perlu kamu lakukan ketika jalur serangan utamamu berhasil ditutup rapat oleh pemain bertahan?
  5. Bagaimana cara kita menyesuaikan posisi bertahan ketika lawan yang kita hadapi memiliki keunggulan jumlah pemain atau kecepatan gerak?
  6. Mengapa menaikkan tingkat kesulitan dalam latihan bertahan dapat membantu kita mengembangkan strategi gerak yang lebih efektif?
  7. Apakah taktik mencari ruang kosong saat bermain futsal dapat diterapkan ketika bermain bola tangan atau bola basket?
  8. Bagaimana cara kita mengenali kesamaan prinsip gerak ketika berpindah dari satu jenis permainan invasi ke permainan invasi lainnya?
  9. Bagaimana sebuah tim olahraga kecil dapat menentukan pilihan tindakan secara cepat ketika ruang gerak dijaga ketat oleh lawan?
  10. Mengapa peran kepemimpinan dan pembagian peran anggota tim menjadi penentu keberhasilan pengambilan keputusan dalam situasi permainan cepat?
  11. Bagaimana keputusan taktis yang cepat dan tepat saat menyerang maupun bertahan dapat menentukan keberhasilan tim dalam situasi permainan yang menantang?
  12. Bagaimana prinsip taktis seperti menciptakan ruang atau menutup ruang dapat kamu terapkan pada cabang olahraga permainan lain yang berbeda?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menerapkan Keterampilan Gerak Spesifik dalam Situasi Gerak Menantang pada Permainan Taktis 2 Lawan 2 — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.3.1 Menerapkan keterampilan gerak spesifik di dalam berbagai situasi gerak yang menantang pada simulasi permainan taktis

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, memeriksa presensi, serta memastikan kesiapan fisik dan seragam olahraga murid (5 menit).
  • Guru memfasilitasi pemanasan dinamis yang berfokus pada kelenturan sendi bahu, tungkai, serta reaksi gerak cepat (10 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik keterampilan gerak lempar-tangkap dasar berpasangan tanpa rintangan untuk memetakan kesiapan gerak spesifik murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan demonstrasi model mengenai konsep keterampilan taktis, yaitu kemampuan menerapkan keterampilan gerak spesifik (operan dada/chest pass, operan pantul/bounce pass, dan operan melambung/overhead pass) secara tepat saat menghadapi situasi menantang berupa hadangan pemain lawan (10 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil (4 orang) mengamati peragaan situasi gerak menantang: satu pengoper dihalangi satu lawan di depannya, lalu murid mengidentifikasi pilihan gerak operan yang paling tepat melintasi hadangan tersebut (acuan: bila lawan mengangkat kedua tangan tinggi, operan pantul adalah pilihan tepat; bila lawan merendahkan badan, operan melambung atau dada cepat ke samping adalah pilihan tepat) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok beranggotakan 4 orang untuk melakukan simulasi permainan taktis 2 lawan 2 dalam area 8x8 meter dengan aturan: tim penyerang berupaya melakukan lempar-tangkap bola sebanyak mungkin selama 2 menit tanpa boleh berlari saat memegang bola, sementara 2 pemain bertahan aktif membayangi dan menghalangi lintasan bola tanpa merebut secara kontak fisik (20 menit).
  • Setiap pasangan penyerang menerapkan keterampilan gerak spesifik (variasi operan dada, pantul, dan atas kepala serta gerak meloloskan diri ke ruang kosong) di bawah tekanan hadangan aktif pemain bertahan dalam durasi permainan 2 menit per rotasi peran secara bergantian (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan pendinginan gerak statis berpasangan sambil merefleksikan keberhasilan penerapan keterampilan gerak spesifik yang dilakukan selama simulasi permainan taktis 2 lawan 2 (5 menit).
  • Setiap pasangan mengevaluasi jenis keterampilan gerak operan apa yang paling efektif meloloskan bola dari hadangan lawan dan situasi rintangan mana yang masih sering menyebabkan bola gagal ditangkap rekan setim (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari penerapan keterampilan gerak spesifik dalam situasi gerak yang menantang pada permainan taktis 2 lawan 2 (2 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap performa penerapan gerak spesifik murid dan menyampaikan rencana pertemuan berikutnya mengenai pengembangan strategi penyerangan (2 menit).
  • Guru memimpin doa penutup dan membubarkan barisan secara tertib (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan menggunakan bola spons atau bola berukuran lebih ringan dengan jarak area gerak 6x6 meter; murid yang mahir menggunakan bola standar (bola basket ukuran 6/7) dengan batas waktu operan maksimal 3 detik per pemain.
  • Proses: Pada murid yang belum lancar, pemain bertahan hanya diperbolehkan menghadang secara pasif (posisi kaki diam); pada murid yang telah mahir, pemain bertahan diberikan kebebasan penuh bergerak membayangi dan melompat memblok arah operan.
  • Produk: Target jumlah operan berhasil selama 2 menit disesuaikan: minimal 6 operan berhasil untuk kelompok pemula, dan minimal 12 operan berhasil dengan variasi minimal 2 jenis operan untuk kelompok mahir.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes unjuk kerja diagnostik berpasangan: murid melakukan operan dada (chest pass) dan operan pantul (bounce pass) sejauh 4 meter tanpa hadangan sebanyak 5 kali pengulangan. Kriteria kesiapan: murid dikategorikan siap jika mampu melakukan minimal 4 dari 5 tangkapan dan lemparan bola secara akurat ke dada pasangan tanpa terjatuh.

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat simulasi 2 lawan 2 selama 2 menit. Kriteria pengamatan: (1) Ketepatan memilih dan mengeksekusi jenis gerak spesifik operan (dada, pantul, atau atas kepala) melewati hadangan lawan; (2) Ketepatan gerak menangkap bola dalam posisi terkontrol saat ditekan lawan; (3) Keberhasilan menciptakan minimal 8 operan sukses melintasi situasi hadangan aktif.

Akhir Pertemuan:

  • Cek unjuk kerja akhir di akhir simulasi: setiap pasangan murid mempraktikkan 3 situasi hadangan terstruktur (Situasi 1: lawan merentangkan tangan ke atas; Situasi 2: lawan merentangkan tangan ke bawah/merendahkan badan; Situasi 3: lawan menutup sisi kanan). Acuan ketercapaian: murid tepat menerapkan operan pantul pada Situasi 1, tepat menerapkan operan atas kepala/melambung pada Situasi 2, dan tepat menerapkan operan dada ke arah kiri/sisi terbuka pada Situasi 3.

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja penerapan keterampilan gerak spesifik (lempar-tangkap dan penyesuaian gerak) selama simulasi permainan taktis 2 lawan 2 menggunakan lembar observasi.
  • Cek pemahaman lisan singkat mengenai pemilihan jenis gerak operan spesifik menghadapi rintangan hadangan lawan pada saat jeda rotasi.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan Keterampilan Gerak Spesifik Operan Menghadapi Hadangan LawanBelum mampu menerapkan variasi gerak operan spesifik; operan selalu tertahan atau mudah dipotong pemain bertahan dalam situasi gerak menantang.Mampu menerapkan satu jenis gerak operan spesifik melintasi hadangan lawan, namun arah bola sering meleset atau tidak terjangkau rekan setim saat mendapat tekanan.Mampu menerapkan minimal dua variasi gerak operan spesifik (dada, pantul, atau atas kepala) secara tepat dan akurat melintasi hadangan lawan dalam simulasi permainan 2 lawan 2.Mampu menerapkan seluruh variasi gerak operan spesifik (dada, pantul, dan atas kepala) secara konsisten, cepat, dan akurat melewati berbagai posisi hadangan lawan dalam simulasi permainan 2 lawan 2.
Penerapan Keterampilan Gerak Menangkap Bola dalam Situasi MenantangBola selalu terlepas saat menerima operan di bawah tekanan bayang-bayang pemain bertahan.Mampu menangkap bola tetapi posisi tubuh tidak seimbang atau bola sempat membal lepas sebelum dikuasai saat dibayangi lawan.Mampu menangkap bola dengan kedua tangan secara mantap dan terkontrol dalam situasi dibayangi pemain bertahan.Mampu menangkap bola secara konsisten dalam berbagai sudut gerak dan posisi menantang dengan kontrol penuh tanpa kehilangan penguasaan bola.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah modifikasi aturan permainan 2 lawan 2 efektif memfasilitasi murid menerapkan keterampilan gerak spesifik dalam situasi yang menantang?
  • Bagaimana pembagian peran bertahan dan menyerang membantu murid mengenali kebutuhan pemilihan keterampilan gerak yang tepat?

Murid:

  • Gerak operan spesifik manakah yang paling mudah dan paling sulit kamu terapkan ketika dihadang oleh temanmu?
  • Apa yang kamu lakukan agar tetap dapat menerima bola dengan baik saat pemain bertahan berusaha menutup ruang gerakmu?

Pertemuan 2 — Mengembangkan Strategi Gerak Penyerangan dan Membaca Ruang Melintasi Situasi Gerak Menantang — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.3.2 Mengembangkan strategi gerak untuk mendapatkan keberhasilan capaian keterampilan gerak melintasi berbagai situasi gerak yang menantang

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid di lapangan (3 menit).
  • Guru memandu pemanasan dinamis yang mengintegrasikan lari perubahan arah, kelincahan gerak, dan peregangan aktif yang berfokus pada kesiapan fisik serta pencegahan cedera (7 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui demonstrasi singkat penyerangan 2 lawan 1 untuk memetakan kesiapan murid dalam membaca ruang kosong dan memilih strategi gerak penyerangan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mengamati peragaan situasi gerak penyerangan 3 lawan 2 pada area berpetak dan mengidentifikasi bagaimana pemain tanpa bola bergerak membuka ruang kosong serta menciptakan sudut operan yang aman (10 menit).
  • Guru memberikan tantangan penalaran taktis mengenai dua skenario penyerangan: (1) skenario saat pemain bertahan menutup jalur tengah, dan (2) skenario saat pemain bertahan menjaga ketat satu-lawan-satu di sayap; murid merumuskan konsep penyesuaian lintasan lari dan operan cepat untuk menembus pertahanan tersebut (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid mempraktikkan permainan taktis penyerangan 'Buru Ruang Kosong' secara menggembirakan dalam format 3 lawan 2 di lapangan berukuran 12 x 12 meter yang dibagi menjadi 4 kuadran, di mana tim penyerang harus mencetak skor dengan mengalirkan bola ke kuadran yang tidak terkawal pemain bertahan (15 menit).
  • Murid mengembangkan strategi gerak penyerangan dalam situasi menantang bergradasi: tingkat kesulitan dinaikkan menjadi 3 lawan 3 dengan pembatasan waktu serang maksimal 15 detik dan maksimal 3 sentuhan per pemain, menuntut penyerang mengambil inisiatif lari tanpa bola dan manipulasi gerak untuk mengecoh penjagaan (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid berhenti sejenak di tepi lapangan untuk mengatur napas dengan berkesadaran (mindful breathing) dan menganalisis keberhasilan pilihan strategi gerak penyerangan yang telah diterapkan selama situasi gerak menantang (10 menit).

Penutup:

  • Guru memandu aktivitas pendinginan statis untuk menurunkan detak jantung serta relaksasi otot tungkai dan lengan (7 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan prinsip utama pengembangan strategi gerak penyerangan (kecepatan membaca ruang, waktu bergerak tanpa bola, dan variasi arah serangan) serta menyampaikan rencana aktivitas taktis untuk pertemuan berikutnya, ditutup dengan doa bersama (8 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan variasi luas area bermain (area 15 x 15 meter untuk kelompok yang memerlukan ruang gerak lebih longgar, dan area 10 x 10 meter untuk kelompok yang siap dengan ruang gerak padat dan menantang).
  • Proses: Memberikan scaffolding berupa jeda instruksi taktis atau penambahan jumlah pemain penyerang (keunggulan jumlah 4 lawan 2) bagi kelompok yang masih kesulitan menemukan ruang, serta mengurangi waktu penguasaan bola (maksimal 2 sentuhan) bagi kelompok yang sudah mahir.
  • Produk: Variasi pembuktian keberhasilan strategi gerak penyerangan, baik melalui keberhasilan menyelesaikan 5 operan beruntun di ruang kosong maupun keberhasilan menembus garis akhir sasaran tanpa kehilangan penguasaan bola.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Guru menguji kesiapan murid melalui simulasi cepat 2 lawan 1 di area 6 x 6 meter. Murid A memegang bola dan Murid B bergerak mencari posisi tanpa bola melawan 1 pemain bertahan C. Kriteria penilaian diagnostik: (1) Murid B bergerak menjauh dari bayang-bayang bek C menuju ruang terbuka membentuk sudut segitiga operan (Acuan: Murid B berada minimal 2 meter di luar jangkauan hadangan Murid C pada garis lintasan operan); (2) Murid A memilih mengoper ke ruang terbuka saat Murid C mendekat (Acuan: operan dilepaskan tepat waktu sebelum Murid C berhasil menutup ruang). Murid dikelompokkan ke tingkat tantangan sesuai respons gerak ini.

Proses:

  • Observasi formatif saat latihan penyerangan 3 lawan 3 dengan 3 indikator ketercapaian: (1) Kemampuan membaca ruang kosong (bergerak ke kuadran/area yang tidak terjaga pemain bertahan); (2) Pengembangan variasi strategi serang (melakukan pergerakan tipuan atau lari memotong lintasan bertahan); (3) Efektivitas penyelesaian serangan (berhasil mengeksekusi operan atau penetrasi ke ruang target dalam batas waktu 15 detik). Acuan keberhasilan minimal: tim/murid mampu menciptakan minimal 3 peluang bersih pemanfaatan ruang kosong dalam 5 kali giliran penguasaan bola.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman taktis secara lisan di akhir sesi melalui 2 pertanyaan verifikasi: (1) 'Ketika pemain bertahan lawan menutup ruang tengah secara rapat, ke arah mana pergerakan tanpa bola harus diarahkan?' (Acuan jawaban: bergerak melebar ke sisi sayap atau membuat pergerakan silang/diagonal untuk menarik bek keluar dari posisinya); (2) 'Kapan waktu paling tepat bagi penyerang tanpa bola untuk melakukan sprint memotong?' (Acuan jawaban: saat pemain bertahan fokus melihat pergerakan pembawa bola atau ketika rekan satu tim telah siap melepaskan umpan ke ruang kosong).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik unjuk kerja membaca ruang pada situasi 2 lawan 1 saat pendahuluan
  • Lembar observasi unjuk kerja pengembangan strategi gerak penyerangan dan pemanfaatan ruang kosong pada simulasi permainan 3 lawan 2 dan 3 lawan 3

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengembangan Strategi Gerak Penyerangan dan Membaca RuangHanya berdiri menunggu bola atau bergerak searah dengan posisi pemain bertahan tanpa usaha mencari ruang kosong; kehilangan bola terjadi segera setelah mendapat tekanan lawan.Mulai bergerak mencari posisi terbuka tetapi sering terlambat membaca perpindahan pemain bertahan; sesekali berhasil memanfaatkan ruang kosong namun belum mampu mengembangkan variasi strategi saat jalur operan tertutup.Secara konsisten bergerak aktif membaca dan mengisi ruang kosong, mampu mengubah arah pergerakan lari untuk melepaskan diri dari penjagaan, serta berhasil menciptakan peluang penyerangan pada situasi 3 lawan 3.Secara mandiri dan adaptif mengembangkan berbagai variasi strategi gerak penyerangan (misalnya gerakan tipu tanpa bola, lari memotong diagonal, dan penyesuaian tempo) melintasi situasi gerak yang sangat menantang dan bertekanan tinggi secara konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah modifikasi ruang dan aturan waktu pada permainan 3 lawan 3 sudah cukup menantang murid untuk mengembangkan strategi gerak penyerangan?
  • Bagaimana efektivitas diferensiasi area bermain dalam membantu murid yang masih kesulitan membaca ruang gerak?

Murid:

  • Apakah saya sudah aktif bergerak mencari dan menempati ruang kosong sebelum bola dioperkan kepada saya?
  • Strategi gerak apa yang paling efektif saya gunakan hari ini untuk melewati situasi pertahanan lawan yang rapat?

Pertemuan 3 — Mengembangkan Strategi Gerak Pertahanan Melintasi Situasi Gerak Menantang dengan Modifikasi Tingkat Kesulitan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.3.2 Mengembangkan strategi gerak untuk mendapatkan keberhasilan capaian keterampilan gerak melintasi berbagai situasi gerak yang menantang

Pendahuluan:

  • Guru memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi pemanasan dinamis berorientasi kelincahan gerak bertahan (7 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengembangkan strategi gerak pertahanan dalam situasi gerak yang menantang melalui modifikasi tingkat kesulitan (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 diagram situasi pertahanan: Situasi A (1 pemain bertahan menjaga 1 penyerang di area 5x5 meter) dan Situasi B (1 pemain bertahan menjaga 2 penyerang di area 7x7 meter), lalu meminta murid mengidentifikasi penyesuaian posisi gerak bertahan yang tepat (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak demonstrasi dan penjelasan guru mengenai 2 bentuk modifikasi tingkat kesulitan dalam situasi gerak pertahanan: (1) modifikasi rasio pemain (latihan bertahan 2 lawan 2 dinaikkan menjadi tantangan bertahan 2 lawan 3); (2) modifikasi dimensi ruang/waktu (mempersempit waktu penutupan ruang gerak lawan dan memperluas zona penjagaan) (10 menit).
  • Murid mengamati 2 opsi pola strategi gerak pertahanan: Pola 1 (Penjagaan Satu Lawan Satu / Man-to-Man Marking ketat) dan Pola 2 (Penjagaan Zona / Zone Defense menutup jalur operan), lalu mengidentifikasi kapan masing-masing pola diterapkan secara sadar saat tingkat kesulitan bertambah (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid melakukan permainan tantangan bertingkat 'Benteng Tangguh' (Joyful Challenge): Level 1 dimulai dengan situasi bertahan berimbang 2 lawan 2 di area 8x8 meter; murid mempraktikkan penyesuaian posisi gerak untuk menutup ruang gerak penyerang (15 menit).
  • Murid menaikkan tingkat kesulitan ke Level 2: situasi gerak bertahan dibuat lebih menantang yaitu 2 pemain bertahan menghadapi 3 penyerang (underload defense); murid secara mandiri mengembangkan strategi gerak pertahanan berupa pergeseran zona cepat (shifting) dan komunikasi gerak menutup jalur tembakan/operan (18 menit).
  • Murid mencoba Level 3 (Tantangan Ekstra): waktu penguasaan bola tim penyerang dibatasi maksimal 5 detik per serangan dan area gerak diperluas menjadi 10x10 meter; pemain bertahan mengembangkan strategi penekanan terarah (pressing trap) pada ruang sempit untuk menggagalkan capaian penyerang (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid berhenti sejenak, mengatur napas secara sadar (mindful cooldown), dan mengevaluasi efektivitas penyesuaian strategi gerak bertahan yang telah dipilih saat tingkat kesulitan dinaikkan dari Level 1 ke Level 2 dan 3 (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan prinsip utama dalam mengembangkan strategi gerak pertahanan, yaitu mengantisipasi ruang kosong dan menyesuaikan posisi tubuh secara adaptif terhadap variasi tingkat kesulitan tantangan gerak (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap performa unjuk gerak pertahanan murid dan menutup pembelajaran dengan pendinginan serta doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan variasi tingkat kesulitan simulasi pertahanan mulai dari rasio seimbang (2v2) hingga rasio menantang (2v3 dengan pembatasan waktu sentuhan bola).
  • Proses: Bagi murid yang masih kesulitan mengantisipasi gerakan lawan, guru menyederhanakan tantangan dengan memperkecil lebar zona serang (6x6 meter); bagi murid yang sudah mahir, tantangan dinaikkan dengan memperluas zona gerak dan menambah kecepatan sirkulasi bola penyerang.
  • Produk: Unjuk kerja pengembangan strategi gerak pertahanan dinilai berdasarkan ketepatan reposisi tubuh dan penutupan ruang gerak lawan pada simulasi bertingkat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Guru mengajukan pertanyaan diagnostik berdasarkan 2 diagram situasi: 'Pada diagram Situasi A (bertahan 1 lawan 1 area 5x5 m) dan Situasi B (bertahan 1 lawan 2 area 7x7 m), manakah strategi gerak bertahan yang tepat untuk Situasi B?' Kunci acuan: Pada Situasi B, pemain bertahan tidak langsung menerjang salah satu lawan, melainkan mengambil posisi di antara kedua lawan (menjaga jarak/menutup jalur operan) sambil mengarahkan penyerang pembawa bola ke sisi luar lapangan.

Proses:

  • Observasi ketercapaian unjuk kerja murid saat sesi Mengaplikasi Level 2 dan Level 3 dengan kriteria: (1) Melakukan reposisi gerak menutup ruang tembak/oper lawan secara cepat; (2) Memilih pola gerak bertahan (marking atau zonasi) yang sesuai saat menghadapi keunggulan jumlah lawan; (3) Mempertahankan postur kuda-kuda bertahan rendah yang stabil untuk mengantisipasi perubahan arah lawan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi melalui pertanyaan lisan terbimbing: 'Sebutkan 2 penyesuaian strategi gerak bertahan yang paling berhasil kamu terapkan ketika jumlah penyerang bertambah dari 2 menjadi 3 orang!' Kriteria penerimaan operasional: Murid menyebutkan minimal 2 tindakan gerak konkret yang sesuai dengan konsep bertahan underload, yaitu (a) mundur mempersempit ruang di depan gawang/garis akhir (drop deep); (b) menjaga jarak agar bisa mengantisipasi dua jalur sekaligus (delaying); atau (c) memblokir jalur operan terdekat (cutting passing lane).

Formatif:

  • Tes diagnostik awal berupa identifikasi respon strategi gerak bertahan pada 2 diagram situasi gerak menantang.
  • Lembar observasi unjuk kerja pengembangan strategi gerak pertahanan saat menghadapi modifikasi tingkat kesulitan (Level 1, Level 2, Level 3).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengembangan Strategi Gerak Pertahanan pada Situasi Gerak MenantangBelum mampu menyesuaikan posisi gerak bertahan; cenderung hanya mengejar bola tanpa membaca penambahan tingkat kesulitan (jumlah lawan/ruang gerak).Mampu melakukan penyesuaian posisi gerak bertahan pada situasi berimbang (Level 1 rasio 2 lawan 2), namun belum konsisten mengembangkan strategi gerak saat tingkat kesulitan dinaikkan ke rasio 2 lawan 3.Mampu mengembangkan strategi gerak pertahanan secara tepat (menutup ruang gerak dan jalur operan) saat menghadapi situasi gerak menantang pada rasio 2 lawan 3 (Level 2).Mampu secara mandiri dan konsisten mengembangkan serta mengadaptasi strategi gerak pertahanan adaptif (delaying, cutting lane, pressing trap) melintasi situasi gerak menantang berkesulitan tinggi (Level 2 dan Level 3) dengan efektivitas penutupan ruang yang tinggi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah modifikasi tingkat kesulitan (rasio pemain dan ukuran area) efektif memicu murid untuk memikirkan dan mengembangkan strategi gerak bertahan?
  • Bagaimana keterlibatan aktif dan daya tahan fisik murid selama simulasi pertahanan berlangsung?

Murid:

  • Penyesuaian gerak apa yang paling menantang saat saya harus bertahan menghadapi jumlah lawan yang lebih banyak?
  • Bagaimana postur tubuh dan penempatan posisi saya membantu menggagalkan serangan lawan dalam ruang gerak yang luas?

Pertemuan 4 — Merefleksikan Transfer Strategi Gerak yang Dikuasai ke dalam Situasi Permainan Berbeda — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.3.3 Merefleksikan transfer strategi gerak yang telah dikuasai dalam situasi gerak yang berbeda

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merefleksikan transfer strategi gerak yang dikuasai antar-situasi permainan berbeda, serta menjelaskan alur kegiatan praktis hari ini (4 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat melalui tanya-jawab lisan mengenai konsep transfer strategi gerak: guru menanyakan persamaan taktik menciptakan ruang kosong pada permainan futsal dengan bola tangan (acuan jawaban: kedua permainan sama-sama membutuhkan pergerakan tanpa bola untuk menarik lawan dan membuka ruang tembak/umpan) (4 menit).
  • Guru memandu pemanasan dinamis berpasangan berbasis reaksi ruang dan operan cepat untuk menyiapkan kondisi fisik murid (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memberikan penjelasan konsep bahwa prinsip taktis dasar (menyerang dengan membuka ruang dan bertahan dengan menutup ruang) dapat ditransfer ke berbagai cabang olahraga invasi yang sejenis (5 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil (masing-masing 5 orang) mengamati lembar skema prinsip taktis yang menyandingkan diagram serangan permainan futsal (dimainkan dengan kaki) dan bola tangan (dimainkan dengan tangan) guna menemukan kesamaan pola pergerakan (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mempraktikkan simulasi permainan 1 berupa futsal mini 5 lawan 5 selama durasi tertentu dengan fokus taktis membuka ruang kosong dan penempatan posisi pemain tanpa bola (11 menit).
  • Murid beralih mempraktikkan simulasi permainan 2 berupa bola tangan mini 5 lawan 5 di area lapangan yang sama, menerapkan prinsip taktis yang sama (menjaga penguasaan bola dan bergerak mencari ruang kosong) namun dengan media tangan (15 menit).
  • Dalam format mini-game rotasi yang kompetitif dan menggembirakan, setiap tim bergantian bermain dan mengamati rekannya sembari mencatat keberhasilan transfer taktik pada kartu observasi lapangan (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid duduk melingkar dalam kelompok masing-masing dan berdiskusi mengisi 3 butir pertanyaan refleksi tertulis: (1) Kesamaan prinsip ruang antara futsal dan bola tangan, (2) Penyesuaian gerak yang dilakukan ketika beralih dari kaki ke tangan, dan (3) Hambatan yang dirasakan saat mentransfer strategi (10 menit).
  • Perwakilan kelompok mengutarakan hasil refleksinya di hadapan guru dan kelas, dan guru memberikan umpan balik langsung mengenai ketajaman analisis transfer taktis murid (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid merangkum benang merah pembelajaran mengenai pentingnya transfer strategi gerak dalam ragam aktivitas olahraga (2 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas partisipasi aktif murid dan memberikan arahan singkat tentang materi pertemuan berikutnya mengenai pengambilan keputusan dalam tim (1 menit).
  • Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa penutup dan salam (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan diagram taktis visual bergambar alur panah pergerakan ruang bagi murid yang memerlukan panduan konkret visual, serta skema tanpa panah bagi murid yang siap menganalisis mandiri.
  • Proses: Bagi murid yang masih kesulitan, simulasi dilakukan dengan pertahanan semi-aktif (lawan hanya membayangi tanpa merebut keras); bagi murid yang mahir, jumlah sentuhan bola dibatasi maksimal dua sentuhan agar transfer taktik membaca ruang berlangsung lebih cepat.
  • Produk: Refleksi transfer strategi gerak dapat dituangkan dalam bentuk lembar refleksi tulisan terstruktur atau poin-poin diagram alur taktis.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik di awal pembelajaran: 'Sebutkan 1 prinsip taktis saat timmu menguasai bola yang sama-sama berlaku di sepak bola/futsal dan basket/bola tangan!' (Kriteria/Acuan Jawaban: Murid tepat menjawab konsep 'menciptakan ruang/bergerak tanpa bola' atau 'memperlebar formasi serangan' untuk memudahkan operan).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja transfer strategi gerak saat berpindah dari permainan futsal ke bola tangan dengan fokus: penempatan posisi pemain di ruang kosong dan transisi taktik operan cepat.
  • Pemeriksaan draf lembar kerja refleksi kelompok saat tahap merefleksi.

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan lembar refleksi individu/kelompok yang memuat 3 aspek acuan: (1) Menyebutkan kesamaan prinsip taktis penyerangan kedua permainan (acuan: menciptakan dan memanfaatkan ruang kosong); (2) Menjelaskan penyesuaian gerak spesifik (acuan: penyesuaian tempo dan koordinasi operan tangan vs tendangan kaki); (3) Menemukan hambatan transfer taktis (acuan: kebiasaan refleks kontrol kaki saat bermain bola tangan atau sebaliknya).

Formatif:

  • Penilaian proses observasi pelaksanaan transfer taktis saat simulasi dua permainan berbeda
  • Penilaian lembar refleksi tertulis mengenai kesamaan dan penyesuaian strategi gerak antarpermainan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kemampuan Merefleksikan Transfer Strategi GerakBelum mampu mengidentifikasi kesamaan maupun perbedaan strategi gerak antarpermainan yang berbeda dalam lembar refleksi.Mampu mengidentifikasi 1 kesamaan prinsip strategi gerak antara futsal dan bola tangan, namun belum dapat menguraikan penyesuaian yang diperlukan secara mandiri.Mampu merefleksikan transfer strategi gerak dengan mengidentifikasi kesamaan prinsip taktis ruang dan penyesuaian gerak antara futsal dan bola tangan secara tepat sesuai 2 dari 3 aspek acuan refleksi.Mampu merefleksikan transfer strategi gerak secara mendalam dan mandiri, mencakup kesamaan prinsip taktis, penyesuaian gerak, serta evaluasi hambatan transfer strategi secara tepat memenuhi seluruh 3 aspek acuan refleksi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah desain dua permainan yang berbeda (futsal dan bola tangan) cukup efektif memfasilitasi murid memahami konsep transfer strategi gerak?
  • Bagaimana keterlibatan aktif murid saat melakukan refleksi komparasi taktik?

Murid:

  • Strategi gerak apa yang paling mudah kamu transfer dari permainan futsal ke permainan bola tangan hari ini?
  • Penyesuaian apa yang paling menantang bagimu saat harus mengubah kebiasaan gerak kaki menjadi tangan dalam skema taktik yang sama?

Pertemuan 5 — Menerapkan Strategi Pengambilan Keputusan dalam Kerja Tim yang Mempertunjukkan Kepemimpinan dan Kolaborasi — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.3.4 Menerapkan strategi pengambilan keputusan dalam kerja tim yang mempertunjukkan keterampilan kepemimpinan dan kolaborasi

Pendahuluan:

  • Guru memimpin doa pembuka, memeriksa kehadiran, dan memandu pemanasan dinamis berbasis koordinasi gerak kelompok di lapangan (10 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal berupa tes diagnostik singkat: murid merespons secara lisan 2 skenario pengambilan keputusan taktis tim (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak demonstrasi dan arahan guru mengenai 2 opsi strategi pengambilan keputusan tim dalam simulasi invasi 3 lawan 3: opsi passing cepat ke ruang kosong vs opsi menahan bola untuk rotasi posisi (10 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil (3 orang) mendiskusikan pembagian peran kepemimpinan taktis (pembuat keputusan/pengatur ritme) dan peran pendukung (pembuka ruang/pengalir bola) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid dalam tim beranggotakan 3 orang mempraktikkan simulasi tantangan taktis 'Game Cepat 3 lawan 3 Berbatas Waktu' (lapangan 10x15 meter), di mana tim harus menerapkan strategi pengambilan keputusan (mengoper ke pemain bebas atau penetrasi langsung) serta menunjukkan kolaborasi peran yang disepakati (25 menit).
  • Murid saling bertukar peran kepemimpinan taktis di dalam tim pada babak kedua tantangan untuk mempraktikkan pengambilan keputusan tim saat menghadapi tekanan penjagaan lawan (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap tim berkumpul untuk mereviu keberhasilan eksekusi keputusan tim: apakah opsi tindakan yang diambil saat bertanding efektif dan bagaimana kolaborasi peran kepemimpinan berjalan di lapangan (10 menit).

Penutup:

  • Guru memfasilitasi pendinginan fisik, memberikan umpan balik berbasis observasi terhadap pengambilan keputusan tim, serta mengulas kesiapan tim menghadapi asesmen unjuk kerja pada pertemuan berikutnya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Variasi jumlah opsi keputusan taktis: tim yang masih berkembang diberikan 2 pilihan taktis terstruktur (umpan terdekat vs tembak langsung), sedangkan tim yang mahir diberikan skenario bebas dengan 3 opsi pergerakan.
  • Proses: Pemberian scaffolding berupa batas waktu jeda (timeout 30 detik) bagi tim yang kesulitan berkoordinasi dalam menentukan keputusan.
  • Produk: Unjuk kerja aplikasi keputusan taktis dan kolaborasi diukur berdasarkan ketercapaian eksekusi keputusan tim selama simulasi permainan 3 lawan 3.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan di pendahuluan dengan 2 skenario konkret: (1) Skenario A: 'Jika temanmu membawa bola ditempel ketat 1 lawan, sedangkan rekan setim lain bergerak membuka ruang di sisi kiri tanpa kawalan, keputusan apa yang harus diserukan/diambil?' (Acuan jawaban tepat: Memerintahkan atau segera mengoper bola ke rekan di sisi kiri yang bebas kawalan). (2) Skenario B: 'Jika lawan menutup rapat jalur operan ke depan, keputusan apa yang diambil oleh pembawa bola dan rekan setim?' (Acuan jawaban tepat: Rekan setim turun/mendekat menjemput bola atau memutar aliran bola ke belakang untuk merotasi penguasaan bola).

Proses:

  • Observasi formatif selama simulasi 3 lawan 3 menggunakan lembar cek: (1) Ketepatan eksekusi keputusan tim (memilih mengoper ke pemain bebas atau menjaga penguasaan bola sesuai kondisi ruang), (2) Keberfungsian kepemimpinan tim (adanya instruksi verbal/isyarat gerak yang terarah dari pengatur permainan), (3) Kolaborasi tim (semua anggota bergerak aktif saling mendukung opsi keputusan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi singkat di akhir tahap penutup: Setiap kelompok menjawab 1 pertanyaan reflektif akhir: 'Sebutkan 1 bentuk keputusan tim yang paling berhasil mengecoh penjagaan lawan hari ini dan siapa yang mengoordinasikannya!' (Kriteria penerimaan: tim dapat menyebutkan keputusan gerak spesifik yang diambil, misal passing terobosan cepat saat rotasi, serta peran anggota yang memimpin instruksi tersebut).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan respons skenario pengambilan keputusan di awal pembelajaran
  • Lembar observasi unjuk kerja proses penerapan pengambilan keputusan, kepemimpinan taktis, dan kolaborasi tim selama simulasi 3 lawan 3

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengambilan Keputusan dalam TimBelum mampu menentukan keputusan taktis secara terkoordinasi; bola sering hilang karena keputusan terburu-buru atau tanpa memperhitungkan posisi rekan setim.Mampu menentukan keputusan taktis namun masih ragu-ragu dan baru tepat jika situasi tanpa tekanan lawan.Mampu menerapkan strategi pengambilan keputusan secara tepat bersama tim saat menghadapi situasi bertahan lawan dalam simulasi permainan 3 lawan 3.Secara konsisten dan cepat menerapkan strategi pengambilan keputusan yang tepat, adaptif terhadap perubahan taktik lawan, dan membuahkan peluang keberhasilan tim.
Kepemimpinan Taktis dan KolaborasiTidak menunjukkan komunikasi/arahan peran dalam tim; bermain secara individual tanpa koordinasi kepemimpinan.Mulai menunjukkan arahan atau komunikasi kepemimpinan namun pembagian peran dan kolaborasi antaranggota belum berjalan serentak.Menunjukkan pembagian peran yang jelas, kepemimpinan taktis yang terarah (memberi instruksi verbal/isyarat), dan kolaborasi aktif antaranggota tim.Menunjukkan kepemimpinan taktis yang efektif, mampu mengorganisasi tim secara harmonis, dan saling mengisi peran secara kolaboratif dalam situasi menantang.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 25 menit pada tantangan simulasi 3 lawan 3 cukup memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk menguji keputusan tim?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang pasif saat pergantian peran kepemimpinan di lapangan?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu ketika harus mengambil keputusan cepat saat ditekan oleh lawan?
  • Apakah arahan dari kapten/pemimpin taktis timmu terdengar jelas dan membantumu mengambil posisi yang tepat?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.3.1 Menerapkan keterampilan gerak spesifik di dalam berbagai situasi gerak yang menantang pada simulasi permainan taktis
  • TP 10.3.2 Mengembangkan strategi gerak untuk mendapatkan keberhasilan capaian keterampilan gerak melintasi berbagai situasi gerak yang menantang
  • TP 10.3.3 Merefleksikan transfer strategi gerak yang telah dikuasai dalam situasi gerak yang berbeda
  • TP 10.3.4 Menerapkan strategi pengambilan keputusan dalam kerja tim yang mempertunjukkan keterampilan kepemimpinan dan kolaborasi

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi dengan salam, memeriksa kesiapan fisik murid, dan memimpin doa bersama (3 menit).
  • Guru memandu pemanasan statis dan dinamis terarah yang mengaktifkan koordinasi tubuh dan mobilitas sendi untuk mencegah cedera saat asesmen unjuk kerja (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan sesi asesmen sumatif bab: unjuk kerja simulasi permainan taktis kelompok berdurasi 65 menit (meliputi persiapan teknis lapangan dan pelaksanaan 2 ronde) serta asesmen individual jurnal refleksi tertulis transfer strategi gerak selama 25 menit (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai petunjuk teknis simulasi permainan taktis di 2 lapangan paralel (Tim A vs Tim B di Lapangan 1, Tim C vs Tim D di Lapangan 2; ronde 1 berlangsung 12 menit, jeda rotasi dan adaptasi formasi 6 menit, lalu ronde 2 berganti lawan Tim A vs Tim C di Lapangan 1 dan Tim B vs Tim D di Lapangan 2 selama 12 menit) serta kriteria penilaian pada rubrik unjuk kerja taktis (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Setiap tim beranggotakan 4-5 murid melakukan koordinasi internal mandiri selama 5 menit untuk menetapkan peran bertahan/menyerang dan taktik pembagian ruang sesuai skenario permainan (5 menit).
  • Murid melaksanakan Ronde 1 simulasi permainan taktis selama 12 menit di 2 lapangan paralel, menerapkan keterampilan gerak spesifik (passing, dribbling/movement, intercept/posisioning), mengembangkan strategi penyerangan atau pertahanan saat menghadapi situasi gerak menantang, serta mengambil keputusan kolaboratif tim sementara guru melakukan observasi sumatif (12 menit).
  • Seluruh tim melakukan jeda rotasi lawan dan adaptasi formasi taktis selama 6 menit untuk mengevaluasi strategi babak pertama dan menyiapkan taktik menghadapi karakteristik tim lawan yang baru (6 menit).
  • Murid melaksanakan Ronde 2 simulasi permainan taktis selama 12 menit dengan susunan lawan baru (Tim A vs Tim C, Tim B vs Tim D), menerapkan adaptasi strategi tim dan kepemimpinan dalam mengambil keputusan taktis lapangan (12 menit).
  • Seluruh murid mengembalikan perlengkapan olahraga ke tempat semula, membersihkan diri secara ringkas, dan duduk tertib di area kelas/tribun untuk menerima lembar instrumen jurnal refleksi tertulis serentak (5 menit).
  • Murid secara individual dan mandiri mengerjakan jurnal refleksi tertulis mengenai transfer strategi gerak selama 20 menit tanpa berdiskusi, menjawab 3 butir acuan: (1) Prinsip strategi gerak yang dikuasai pada permainan simulasi (acuan: konsep memanfaatkan ruang kosong saat menyerang atau mempersempit ruang gerak saat bertahan); (2) Identifikasi 1 cabang olahraga permainan lain yang berbeda karakteristiknya namun memiliki kesamaan prinsip strategi tersebut beserta alasannya (acuan: transfer konsep ruang dari bola basket/futsal ke bola tangan/frisbee); (3) Analisis tantangan yang dihadapi saat mentransfer strategi ke situasi baru serta rumusan solusi adaptasi taktisnya (acuan: penyesuaian dimensi lapangan, aturan sentuhan/dribble, atau kecepatan lawan) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan hening sejenak (mindful cooling-down) sembari memeriksa kelengkapan jawaban pada lembar jurnal refleksi dan menyerahkan lembar jurnal langsung ke meja guru secara tertib (5 menit).

Penutup:

  • Guru memandu pendinginan fisik ringan (stretching statis) untuk menurunkan detak jantung dan melemaskan otot setelah simulasi fisik intensif (3 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas sportivitas, daya juang, dan kerja tim yang ditunjukkan seluruh murid selama pelaksanaan asesmen sumatif Bab 3 (1 menit).
  • Guru memberikan pengumuman tindak lanjut penilaian hasil belajar bab Keterampilan Taktis dan menutup pertemuan dengan doa bersama serta salam (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses penyediaan lembar jurnal refleksi tertulis dengan ukuran fon yang diperbesar bagi murid dengan hambatan visual tanpa mengubah butir pertanyaan maupun acuan kompetensi.
  • Proses: Akomodasi rotasi posisi bermain di lapangan (misal peran penjaga area atau pengumpan utama) yang disepakati internal tim agar setiap murid dapat menunjukkan keterampilan gerak spesifik dan kolaborasi taktis secara setara.
  • Produk: Format penulisan refleksi pada lembar jurnal dapat disajikan dalam bentuk poin-poin terstruktur atau paragraf naratif mengacu pada 3 indikator acuan transfer strategi yang sama persis.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Unjuk kerja simulasi permainan taktis dan jurnal refleksi tertulis: Performa gerak spesifik, perancangan dan demonstrasi strategi tim, pengambilan keputusan kolaboratif dalam permainan, serta lembar jurnal refleksi transfer strategi gerak
  • Unjuk kerja simulasi permainan taktis berkelompok: Demonstrasi penerapan keterampilan gerak spesifik menghadapi situasi menantang, pelaksanaan strategi penyerangan/pertahanan tim, serta kolaborasi dan pengambilan keputusan saat simulasi permainan taktis (4 tim bermain serentak di 2 lapangan kecil/paralel, 2 ronde @ 12 menit bergantian peran dan lawan) (65 menit; kelompok; instrumen: Rubrik observasi kinerja taktis (keterampilan gerak, penerapan strategi tim, pengambilan keputusan & kolaborasi))
  • Jurnal refleksi tertulis serentak: Catatan refleksi tertulis individual yang dikerjakan seluruh kelas serentak mengenai transfer konsep strategi gerak yang telah dikuasai pada permainan tadi ke situasi permainan cabang olahraga lain yang berbeda (25 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian jurnal refleksi transfer strategi gerak)

Sumatif:

  • Unjuk kerja simulasi permainan taktis dan jurnal refleksi tertulis: Performa gerak spesifik, perancangan dan demonstrasi strategi tim, pengambilan keputusan kolaboratif dalam permainan, serta lembar jurnal refleksi transfer strategi gerak
  • Unjuk kerja simulasi permainan taktis berkelompok: Demonstrasi penerapan keterampilan gerak spesifik menghadapi situasi menantang, pelaksanaan strategi penyerangan/pertahanan tim, serta kolaborasi dan pengambilan keputusan saat simulasi permainan taktis (4 tim bermain serentak di 2 lapangan kecil/paralel, 2 ronde @ 12 menit bergantian peran dan lawan) (65 menit; kelompok; instrumen: Rubrik observasi kinerja taktis (keterampilan gerak, penerapan strategi tim, pengambilan keputusan & kolaborasi))
  • Jurnal refleksi tertulis serentak: Catatan refleksi tertulis individual yang dikerjakan seluruh kelas serentak mengenai transfer konsep strategi gerak yang telah dikuasai pada permainan tadi ke situasi permainan cabang olahraga lain yang berbeda (25 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian jurnal refleksi transfer strategi gerak)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan Keterampilan Gerak Spesifik dalam Permainan Taktis Menantang (TP 10.3.1)Melakukan keterampilan gerak spesifik dengan kesalahan teknis mendasar ketika menghadapi tekanan lawan sehingga bola atau penguasaan hilang.Menerapkan keterampilan gerak spesifik dalam situasi menantang, namun efektivitas eksekusi masih ragu-ragu dan sering terganggu tekanan gerak lawan.Menerapkan keterampilan gerak spesifik (passing, mengontrol, dan membuka posisi) secara tepat dan konsisten melintasi situasi gerak menantang dari tim lawan.Menerapkan keterampilan gerak spesifik secara konsisten, presisi tinggi, adaptif, dan mampu mengalirkan bola dengan lancar melintasi berbagai tekanan situasi menantang.
Pengembangan Strategi Gerak Penyerangan dan Pertahanan (TP 10.3.2)Belum menunjukkan strategi penyerangan maupun pertahanan terencana; pergerakan gerak tanpa bola tidak terarah pada penguasaan ruang permainan.Menjalankan salah satu strategi gerak (menyerang atau bertahan) namun belum mampu mengadaptasi strategi saat situasi gerak lapangan berubah.Mengembangkan dan menerapkan strategi gerak penyerangan (menciptakan ruang) dan pertahanan (menutup ruang) secara terkoordinasi menghadapi perubahan situasi permainan.Mengembangkan strategi gerak penyerangan dan pertahanan tim yang sangat dinamis, fleksibel, serta berhasil membaca kelemahan formasi lawan secara taktis dan efektif.
Refleksi Transfer Strategi Gerak ke Situasi/Permainan Berbeda pada Jurnal (TP 10.3.3)Jurnal hanya memuat deskripsi aktivitas permainan tanpa mengidentifikasi prinsip strategi gerak yang dapat ditransfer ke cabang olahraga lain.Merefleksikan 1 dari 3 acuan refleksi (hanya menyebutkan prinsip strategi gerak atau menyebutkan cabor lain tanpa mengaitkan kesamaan konsep ruang).Merefleksikan 2-3 acuan refleksi secara runtut: mengidentifikasi prinsip strategi ruang yang dikuasai, mengaitkannya secara logis ke cabang olahraga permainan lain, serta mengidentifikasi tantangan adaptasinya.Merefleksikan seluruh 3 acuan secara mendalam: menguraikan prinsip strategi ruang, mengaitkan transfer konsep taktis ke cabor lain secara komprehensif, serta merumuskan solusi konkret adaptasi strategi.
Pengambilan Keputusan, Kepemimpinan, dan Kolaborasi Tim (TP 10.3.4)Bermain secara individual, jarang berkomunikasi, atau enggan mengambil keputusan yang mendukung kelancaran permainan tim.Mengambil keputusan dalam tim namun koordinasi dan pembagian peran kepemimpinan saat transisi bertahan/menyerang masih sering terlambat.Menerapkan pengambilan keputusan yang tepat dan tepat waktu dalam kerja tim, menunjukkan komunikasi aktif serta kolaborasi yang solid selama permainan.Menunjukkan inisiatif kepemimpinan taktis lapangan, mengorganisasi rekan tim secara proaktif dalam pengambilan keputusan cepat, dan berkolaborasi secara konsisten sepanjang pertandingan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Bagaimana ketercapaian seluruh murid kelas 10 dalam menerapkan keterampilan taktis dan kerja tim selama simulasi permainan berlangsung?
  • Apakah alokasi waktu unjuk kerja fisik (65 menit) dan pengisian jurnal refleksi individual (25 menit) terlaksana secara efektif dan kondusif?
  • Bagaimana kualitas kedalaman analisis murid dalam jurnal tertulis terkait kemampuan mereka mentransfer konsep strategi gerak ke konteks olahraga lain?

Murid:

  • Sejauh mana saya mampu menerapkan keterampilan gerak dan strategi tim secara konsisten saat berada di bawah tekanan tim lawan?
  • Bagaimana peran kepemimpinan dan kolaborasi yang saya tunjukkan dalam mendukung pengambilan keputusan tim di lapangan?
  • Prinsip taktis apa dari bab ini yang paling bermakna dan paling siap saya terapkan saat berpartisipasi dalam aktivitas olahraga rutin di luar sekolah?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa PJOK Kelas X SMA/MA/SMK/MAK, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
  2. Buku Panduan Guru PJOK Kelas X SMA/MA/SMK/MAK, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
  3. Bola basket, bola voli, atau bola sepak busa (disesuaikan dengan ketersediaan sarana).
  4. Cone/penanda batas area lapangan permainan (ukuran 8 x 8 meter).
  5. Peluit dan stopwatch.
  6. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMA/SMK Kelas X, Kemendikbudristek 2023 (Bab 3: Keterampilan Taktis)
  7. Buku Siswa Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMA/SMK Kelas X, Kemendikbudristek 2023 (Bab 3: Keterampilan Taktis)
  8. Peluit dan stopwatch
  9. Bola futsal/sepak bola/bola tangan (disesuaikan dengan fasilitas sekolah)
  10. Kerucut/cone pembatas penanda kuadran dan area permainan
  11. Rompi bertanda/bibs 3 warna berbeda
  12. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan SMA/SMK Kelas X, Kemendikbudristek 2023.
  13. Buku Siswa Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan SMA/SMK Kelas X, Kemendikbudristek 2023 (Bab 3: Keterampilan Taktis, sub-materi Mengembangkan Kesadaran Taktis dan Memilih Tingkat Kesulitan Pertahanan).
  14. Cone / marker batas area, bola (sepak bola/futsal/bola tangan), rompi bertanda beda warna, peluit, dan stopwatch.
  15. Buku Panduan Guru PJOK SMA/MA Kelas X, Kemendikbudristek, 2023.
  16. Buku Siswa PJOK SMA/MA Kelas X, Kemendikbudristek, 2023.
  17. Lapangan serbaguna/futsal sekolah, bola futsal, bola tangan (atau bola lunak sejenis), rompi bermain (dua warna berbeda), cone penanda, dan lembar refleksi murid.
  18. Buku Panduan Guru PJOK Kelas X SMA/SMK Kemendikbudristek
  19. Buku Siswa PJOK Kelas X SMA/SMK Bab 5
  20. Peluit, stopwatch, bola (basket/futsal), rompi tim (2 warna berbeda), dan cone penanda lapangan
  21. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMA/SMK Kelas X, Kemendikbudristek 2023.
  22. Buku Siswa Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMA/SMK Kelas X, Kemendikbudristek 2023 (Bab 3: Keterampilan Taktis).
  23. Peluit, stopwatch, bola (bola sepak/futsal/bola tangan sesuai kondisi sekolah), rompi tim 2 warna, dan cone/pembatas lapangan.
  24. Lembar instrumen rubrik observasi kinerja taktis guru dan lembar jurnal refleksi tertulis murid.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.