Modul AjarBab 4Fase DSemester 2

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 8 Bab 4: Melestarikan Budaya Bangsa

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Pancasila kelas 8 untuk Bab 4 "Melestarikan Budaya Bangsa", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 8 Bab 4: Melestarikan Budaya Bangsa

Pendidikan Pancasila - Kelas 8

Bab 4

MODUL AJAR

Pendidikan Pancasila — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Bab 4 — Melestarikan Budaya Bangsa

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Pancasila
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikBab 4 — Melestarikan Budaya Bangsa
Alokasi Waktu18 JP (18 x 40 menit = 720 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 8.4.1 Menjelaskan pentingnya pelestarian tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah sebagai identitas nasional dalam kehidupan masyarakat
  2. TP 8.4.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam melestarikan praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah di lingkungan sekitar
  3. TP 8.4.3 Berperan aktif melestarikan praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah melalui kegiatan nyata di sekolah atau lingkungan sekitar
  4. TP 8.4.4 Mempromosikan pelestarian praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah dalam masyarakat global melalui media informasi

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Apa kebiasaan khas atau tradisi keluarga turun-temurun di rumahmu yang membedakannya dari keluarga lain?
  2. Mengapa tradisi dan kearifan lokal yang diajarkan keluarga penting sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia?
  3. Mengapa budaya daerah dari berbagai suku di Indonesia dapat menjadi identitas nasional yang mempersatukan kita sebagai satu bangsa?
  4. Apa akibatnya bagi keutuhan bangsa Indonesia jika budaya daerah dan budaya nasional tidak dilestarikan oleh masyarakat?
  5. Praktik tradisi atau kearifan lokal apa saja yang pernah kalian jumpai atau jalankan di sekolah kita?
  6. Bagaimana bentuk sikap tanggung jawab nyata yang dapat kalian tunjukkan agar tradisi dan kearifan lokal tersebut tetap lestari dan dihormati di lingkungan sekolah?
  7. Mengapa sebagian kesenian atau tradisi daerah di sekitar kita mulai jarang dimainkan oleh generasi muda?
  8. Bagaimana bentuk sikap tanggung jawab nyata yang dapat kita tunjukkan agar praktik budaya daerah tidak punah?
  9. Permainan tradisional apa yang pernah kalian mainkan bersama teman di lingkungan rumah atau sekolah?
  10. Bagaimana kita dapat berperan aktif secara nyata agar permainan tradisional dan kearifan lokal tetap hidup di sekolah kita?
  11. Peran nyata apa yang dapat kita lakukan bersama di kelas untuk menghidupkan kembali tradisi dan budaya daerah?
  12. Bagaimana pembagian peran dalam kelompok agar persiapan gelar tradisi budaya di kelas dapat berjalan lancar?
  13. Bagaimana cara kita memperkenalkan keunikan tradisi dan budaya daerah Indonesia agar dikenal serta dihargai oleh masyarakat dunia?
  14. Pesan ajakan seperti apa yang efektif mempromosikan pelestarian kearifan lokal kita ke ranah global?
  15. Bagaimana kita mengenalkan tradisi dan kearifan lokal khas Indonesia kepada masyarakat di seluruh dunia melalui media informasi digital?
  16. Pesan apa yang paling penting disampaikan dalam media informasi agar warga dunia tertarik dan menghargai praktik budaya daerah kita?
  17. Bagaimana caramu membuktikan bahwa kamu memahami dan bertanggung jawab menjaga kelestarian budaya daerah sebagai identitas bangsa?
  18. Apa bukti nyata peran aktifmu bersama kelompok dalam melestarikan serta mempromosikan tradisi lokal agar dikenal dunia?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menjelaskan Arti dan Pentingnya Pelestarian Tradisi serta Kearifan Lokal di Lingkungan Keluarga sebagai Identitas Nasional — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.1 Menjelaskan pentingnya pelestarian tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah sebagai identitas nasional dalam kehidupan masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kesiapan belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan arti dan pentingnya pelestarian tradisi serta kearifan lokal di lingkungan keluarga sebagai identitas nasional (3 menit).
  • Murid mengerjakan asesmen awal diagnostik singkat berupa 2 pertanyaan tertulis: (1) 'Sebutkan 1 contoh tradisi atau kebiasaan luhur dalam keluarga!' (acuan: sungkeman saat hari raya, makan bersama keluarga besar, gotong royong membersihkan rumah keluarga, tutur sapa santun/unggah-ungguh kepada orang tua, musyawarah keluarga); (2) 'Mengapa tradisi keluarga tersebut perlu terus dijaga?' (kriteria penerimaan: jawaban mengaitkan perlunya menjaga tradisi dengan pembentukan nilai luhur budi pekerti atau pencegahan hilangnya ciri khas budaya keluarga/bangsa) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati pemaparan singkat mengenai pengertian tradisi, kearifan lokal, dan fungsinya sebagai fondasi identitas nasional yang berakar dari lingkungan keluarga (10 menit).
  • Murid membaca teks narasi studi kasus singkat mengenai keluarga Pak Joko yang melestarikan tradisi unggah-ungguh (tutur sapa santun) dan tradisi sungkeman hari raya di rumah, lalu mengidentifikasi nilai luhur di dalamnya (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpasangan memainkan kuis kartu tebak nilai 'Kartu Tradisi Keluargaku': setiap pasangan mencocokkan 4 kartu praktik tradisi keluarga dengan 4 kartu makna pentingnya bagi identitas nasional secara tangkas dan menyenangkan. Bahan 4 pasangan kartu: (1) Tradisi sungkeman saat hari raya -> Makna: Menanamkan rasa hormat dan bakti anak kepada orang tua sebagai karakter luhur bangsa; (2) Tradisi tutur bahasa krama/unggah-ungguh di rumah -> Makna: Melestarikan etika kesantunan berbahasa lokal yang memperkaya bahasa dan adab nasional; (3) Tradisi makan bersama keluarga besar bergiliran -> Makna: Menjaga kerukunan dan keguyuban antargenerasi sebagai fondasi persatuan masyarakat; (4) Tradisi memasak pangan lokal warisan leluhur di rumah -> Makna: Mempertahankan pengetahuan kearifan kuliner daerah sebagai kekayaan budaya nasional (15 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan penjelasan di Lembar Kerja mengenai: (a) arti tradisi dan kearifan lokal di keluarga, serta (b) 3 alasan mengapa tradisi keluarga penting dilestarikan demi menjaga identitas nasional bangsa (kriteria acuan jawaban: memuat alasan pembentukan karakter moral/etika, penjaga keaslian budaya dari kepunahan akibat pengaruh luar, dan perekat kohesi sosial kebangsaan) (17 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengheningkan cipta sejenak dan menelaah kesadaran diri tentang sejauh mana mereka telah memahami peran tradisi keluarga sebagai benteng identitas bangsa (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan konsep dan meluruskan miskonsepsi bahwa pelestarian budaya bangsa bukan hanya acara adat besar, melainkan berakar dari pembiasaan tradisi di keluarga (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai arti dan pentingnya melestarikan tradisi serta kearifan lokal keluarga sebagai identitas nasional (3 menit).
  • Murid menyelesaikan lembar cek pemahaman akhir pertemuan dan guru menyampaikan topik pertemuan berikutnya mengenai pelestarian budaya daerah dan budaya nasional (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan lembar panduan berisi kata kunci pemantik alasan pentingnya pelestarian; murid yang berpencapaian tinggi diberikan bahan analisis tradisi keluarga lintas suku yang lebih kompleks.
  • Proses: Murid yang masih ragu diberi pendampingan bertahap saat menyusun penjelasan, sedangkan murid yang cepat langsung menyusun penjelasan 3 alasan pentingnya tradisi keluarga secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menjelaskan arti dan pentingnya pelestarian tradisi keluarga; murid berkemampuan tinggi melengkapi penjelasan dengan analisis dampak nyata jika tradisi keluarga tersebut ditinggalkan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Dua pertanyaan diagnostik tertulis: (1) Sebutkan 1 contoh tradisi atau kebiasaan luhur dalam keluarga (acuan jawaban: sungkeman saat hari raya, makan bersama keluarga besar, gotong royong membersihkan rumah keluarga, tutur sapa santun/unggah-ungguh kepada orang tua, musyawarah keluarga); (2) Mengapa tradisi keluarga tersebut perlu terus dijaga? (kriteria penerimaan: jawaban mengaitkan perlunya menjaga tradisi dengan pembentukan nilai luhur budi pekerti atau pencegahan hilangnya ciri khas budaya keluarga/bangsa).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pencocokan 4 pasangan Kartu Tradisi Keluargaku (Kartu 1: Sungkeman -> Menanamkan rasa hormat dan bakti; Kartu 2: Bahasa krama/unggah-ungguh -> Melestarikan etika kesantunan adab bangsa; Kartu 3: Makan bersama keluarga besar -> Menjaga kerukunan dan keguyuban antargenerasi; Kartu 4: Memasak pangan lokal warisan -> Mempertahankan pengetahuan kearifan kuliner bangsa).
  • Penilaian lembar kerja mandiri: murid menjelaskan arti tradisi keluarga dan 3 alasan pentingnya pelestarian tradisi serta kearifan lokal di keluarga sebagai identitas nasional (acuan: alasan pembentukan karakter budi pekerti, pencegah kepunahan jati diri bangsa dari pengaruh luar, dan pemersatu/perekat keharmonisan masyarakat).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman 1 butir di akhir pertemuan: 'Jelaskan dalam 2-3 kalimat mengapa keluarga merupakan lingkungan paling penting dalam menjaga kelestarian tradisi sebagai identitas nasional bangsa!' (kriteria penerimaan: penjelasan tepat mengemukakan bahwa keluarga adalah wahana pertama dan utama sosialisasi nilai budaya luhur yang membentuk kepribadian individu sebelum terjun ke masyarakat luas).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal tertulis 2 pertanyaan kesiapan konsep di awal pembelajaran
  • Observasi ketepatan pemasangan 4 kartu tradisi dan maknanya pada kuis berpasangan
  • Penilaian Lembar Kerja penjelasan arti dan 3 alasan pentingnya pelestarian tradisi keluarga sebagai identitas nasional

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan arti dan pentingnya pelestarian tradisi serta kearifan lokal di lingkungan keluarga sebagai identitas nasionalBelum mampu menjelaskan arti tradisi keluarga dan belum mampu menyebutkan alasan pentingnya pelestarian tradisi keluarga sebagai identitas nasional secara tepat meski dengan bimbingan.Mampu menjelaskan arti tradisi keluarga, tetapi hanya menyebutkan 1 dari 3 alasan pentingnya pelestarian tradisi keluarga sebagai identitas nasional secara tepat sesuai acuan dengan bimbingan guru.Mampu menjelaskan arti tradisi keluarga dan menyebutkan minimal 2 dari 3 alasan pentingnya pelestarian tradisi keluarga sebagai identitas nasional secara tepat sesuai acuan (pembentukan karakter, pencegah kepunahan jati diri bangsa, pemersatu/perekat keharmonisan) secara mandiri.Mampu menjelaskan arti tradisi keluarga dan menjelaskan seluruh 3 alasan pentingnya pelestarian tradisi keluarga sebagai identitas nasional secara tepat, lengkap, dan runtut sesuai acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas kuis berpasangan 'Kartu Tradisi Keluargaku' berhasil menciptakan suasana belajar yang menggembirakan sekaligus mendalam?
  • Apakah murid telah mampu menghubungkan tradisi di tingkat keluarga dengan identitas nasional bangsa secara kritis?

Murid:

  • Tradisi keluarga apa yang paling berkesan bagimu dan kini kamu sadari sebagai bagian penting dari kekayaan bangsa?
  • Bagaimana perasaanmu setelah memahami bahwa kebiasaan baik di rumahmu ikut menjaga jati diri bangsa Indonesia?

Pertemuan 2 — Menjelaskan Pentingnya Pelestarian Budaya Daerah dan Budaya Nasional sebagai Identitas Bangsa Pemersatu — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.1 Menjelaskan pentingnya pelestarian tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah sebagai identitas nasional dalam kehidupan masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan suasana ruang belajar yang tertib dan siap belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan pentingnya pelestarian budaya daerah dan budaya nasional sebagai identitas bangsa dan pemersatu masyarakat (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan membagikan 1 lembar kartu tanya kepada setiap murid: 'Mengapa budaya daerah yang beragam penting dilestarikan sebagai identitas nasional pemersatu?' (acuan jawaban: karena budaya daerah merupakan akar pembentuk kebudayaan nasional yang menjadi ciri khas bersama bangsa Indonesia dan mempererat persatuan antardaerah) lalu mengelompokkan kesiapan murid berdasarkan respon singkatnya (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak ulasan guru dan teks bacaan materi esensial mengenai kedudukan budaya daerah sebagai pembentuk budaya nasional serta fungsinya sebagai identitas pemersatu bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (10 menit).
  • Guru mengadakan permainan kuis berpasangan interaktif 'Pilah Nilai Pemersatu': setiap pasangan murid menganalisis 3 kartu contoh praktik budaya berikut: (1) Tradisi Gotong Royong Rambu Solo/Sambat/Gugur Gunung, (2) Penggunaan Batik Nusantara dalam perhelatan kebangsaan, (3) Pertunjukan Kolosal Tari Saman/Kecak pada acara kenegaraan. Setiap pasangan menjelaskan makna persatuan di balik setiap contoh tersebut secara lisan dan bergantian (acuan kunci: (1) mengajarkan kebersamaan tanpa pamrih lintas kelompok; (2) melambangkan kebanggaan jati diri nasional bersama; (3) mencerminkan kekompakan dan keselarasan bangsa) (15 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja 'Penjelasan Budaya Pemersatu' yang memuat 2 butir tugas uraian penjelasan terarah: Butir 1: Menjelaskan alasan budaya daerah di Indonesia berfungsi sebagai pembentuk identitas nasional (acuan: budaya daerah merupakan fondasi dan kekayaan yang diakui bersama sebagai ciri pembeda bangsa Indonesia dari bangsa lain). Butir 2: Menjelaskan 2 fungsi penting pelestarian budaya nasional sebagai alat pemersatu bangsa (acuan kriteria: menyebutkan fungsi merajut solidaritas kebangsaan lintas suku dan mencegah konflik primordial/perpecahan antargolongan) (20 menit).
  • Guru melakukan pendampingan terarah berkeliling, memberikan konfirmasi logika penjelasan konsep murid, serta mencatat kemajuan kompetensi pada lembar observasi formatif proses (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama bimbingan guru meninjau kembali kesimpulan inti mengenai pentingnya pelestarian budaya daerah dan nasional sebagai benteng jati diri bangsa di tengah arus globalisasi (5 menit).
  • Murid menuliskan satu kalimat refleksi kesadaran diri di buku catatan masing-masing: 'Mengapa saya secara pribadi harus menghargai dan melestarikan budaya daerah lain sebagai sesama budaya nasional pemersatu bangsa?' (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik penegasan terkait ketepatan penjelasan yang telah disusun murid pada lembar kerja (3 menit).
  • Guru menyampaikan arahan topik untuk pertemuan berikutnya (Pertemuan 3) mengenai sikap tanggung jawab dalam menjaga tradisi di lingkungan sekolah, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan bacaan dengan ringkasan poin inti grafis bagi murid yang membutuhkan scaffolding pemahaman, serta teks analisis dampak lunturnya identitas nasional bagi murid berpenalaran cepat.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan pertanyaan pemandu berjenjang untuk menyusun kalimat penjelasan, sedangkan murid mahir langsung menuliskan elaborasi argumen secara mandiri.
  • Produk: Tingkat kedalaman penjelasan: murid pemula menjelaskan 1 keterkaitan langsung budaya daerah dengan identitas nasional, sedangkan murid mahir menjelaskan keterkaitan multi-segi (identitas, perekat sosial, dan pencegah disintegrasi).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik: 'Mengapa budaya daerah yang beragam penting dilestarikan sebagai identitas nasional pemersatu?' (Acuan jawaban benar: Karena budaya daerah adalah akar dan fondasi budaya nasional yang menciptakan rasa kepemilikan dan kebanggaan bersama sebagai satu bangsa Indonesia, serta mengikis jurang pemisah kedaerahan).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Kerja 'Penjelasan Budaya Pemersatu' yang terdiri atas 2 butir soal penjelasan: Butir 1 (Menjelaskan budaya daerah sebagai pembentuk identitas nasional; acuan: unsur-unsur luhur kedaerahan terintegrasi membentuk kepribadian khas bangsa Indonesia di mata dunia). Butir 2 (Menjelaskan 2 fungsi pelestarian budaya nasional sebagai pemersatu; acuan: (a) mempererat rasa senasib dan solidaritas kebangsaan, (b) meminimalisasi prasangka dan potensi konflik antarsuku/antargolongan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup berupa lembar cek keluar (exit ticket): 'Sebutkan 1 alasan utama mengapa pelestarian budaya nasional menjadi tanggung jawab seluruh warga negara untuk persatuan!' (Kriteria penerimaan: jawaban memuat konsep bahwa budaya nasional adalah perekat keberagaman dan simbol persatuan seluruh rakyat Indonesia).

Formatif:

  • Asesmen Awal: Tanya jawab diagnostik singkat di awal pertemuan tentang alasan pelestarian budaya daerah sebagai identitas nasional.
  • Asesmen Proses: Lembar observasi keterlibatan murid dalam menjelaskan makna kartu budaya pemersatu pada aktivitas berpasangan dan hasil kerja mandiri Lembar Kerja 'Penjelasan Budaya Pemersatu'.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan pentingnya pelestarian budaya daerah dan budaya nasional sebagai identitas bangsa pemersatuBelum mampu menjelaskan keterkaitan pelestarian budaya daerah maupun budaya nasional sebagai identitas pemersatu, atau penjelasan keliru tanpa memuat unsur identitas kebangsaan.Mampu menjelaskan pentingnya pelestarian budaya daerah sebagai identitas nasional secara sederhana, namun belum mampu menjelaskan fungsinya sebagai alat pemersatu bangsa dengan tepat.Mampu menjelaskan pentingnya pelestarian budaya daerah sebagai identitas nasional dan menjelaskan minimal 1 fungsi budaya nasional sebagai alat pemersatu bangsa secara tepat sesuai acuan materi.Mampu menjelaskan secara komprehensif, runtut, dan tepat mengenai keterkaitan budaya daerah sebagai akar identitas nasional serta menguraikan 2 fungsi pelestarian budaya nasional sebagai pemersatu bangsa secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah memahami keterkaitan logis antara pelestarian budaya daerah dengan kokohnya identitas nasional pemersatu?
  • Bagian penjelasan atau studi kasus manakah yang paling efektif membangkitkan kesadaran murid tentang persatuan bangsa?

Murid:

  • Apa hal paling berharga yang saya pahami hari ini tentang pentingnya budaya daerah dalam mempersatukan bangsa Indonesia?
  • Mengapa saya merasa bangga memiliki beragam budaya daerah yang bersatu menjadi budaya nasional?

Pertemuan 3 — Menunjukkan Sikap Tanggung Jawab dalam Menjaga Praktik Tradisi dan Kearifan Lokal di Lingkungan Sekolah — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam melestarikan praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah di lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-3, yaitu menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga praktik tradisi dan kearifan lokal di lingkungan sekolah (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis cepat 'Tunjuk Sikap': murid mendengarkan 3 pernyataan perilaku lalu mengangkat kartu Hijau (Sikap Bertanggung Jawab) atau kartu Merah (Sikap Tidak Bertanggung Jawab). Tiga butir pernyataan: (1) Menertawakan teman yang menggunakan bahasa daerah santun saat menyapa guru di jam istirahat; (2) Mengembalikan dan merapikan alat musik tradisional gamelan/angklung ke ruang karawitan setelah selesai ekstrakurikuler; (3) Mengabaikan pembiasaan tegur sapa dan sungkem adat saat acara peringatan hari besar di sekolah. (Acuan kunci respon tepat: 1 = Merah/Tidak Bertanggung Jawab; 2 = Hijau/Bertanggung Jawab; 3 = Merah/Tidak Bertanggung Jawab) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid menyimak pemaparan guru tentang bentuk-bentuk praktik tradisi dan kearifan lokal di lingkungan sekolah (seperti pembiasaan salam berbudaya 5S/tabik adat, kegiatan jumat literasi cerita rakyat/seni lokal, dan penggunaan busana/tutur santun adat lokal), serta pentingnya menunjukkan sikap tanggung jawab moral dan sosial untuk menjaganya agar tidak punah (10 menit).
  • Dalam kelompok berpasangan, murid memainkan permainan tebak cepat 'Pilah Kartu Tanggung Jawab Budaya Sekolah': setiap pasangan memilah 4 kartu situasi ke dalam kolom 'Bentuk Tanggung Jawab' atau 'Bukan Tanggung Jawab'. Kartu situasi: (A) Ikut menjaga kebersihan panggung dan merawat kostum tari tradisional seusai acara pentas seni sekolah; (B) Merusak properti wayang/topeng hiasan dinding di kelas; (C) Membantu mengingatkan teman agar tidak mengejek logat daerah kawan sekelas; (D) Menolak mengenakan pakaian adat yang telah disepakati sekolah saat peringatan hari budaya. (Kunci klasifikasi: A = Tanggung Jawab; B = Bukan; C = Tanggung Jawab; D = Bukan) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Guru membagikan Lembar Kerja 'Komitmen Tanggung Jawab Budaya Sekolah' yang memuat 4 studi kasus situasi di sekolah. Murid secara mandiri menuliskan wujud sikap tanggung jawab konkret yang akan diambil untuk tiap situasi: Kasus 1: Alat musik tradisional sekolah ditinggalkan berantakan dan basah di teras aula; Kasus 2: Ada usulan mengganti festival jajanan tradisional pasar sekolah dengan festival makanan cepat saji impor seutuhnya; Kasus 3: Teman sekelas merasa malu menyanyikan lagu daerah saat giliran apel pagi; Kasus 4: Jadwal piket merawat pojok kearifan lokal kelas terabaikan (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling bertukar lembar kerja dengan teman sebangku untuk memeriksa kesesuaian tindakan tanggung jawab berdasarkan pedoman kriteria bersama (10 menit).
  • Beberapa perwakilan murid membacakan sikap tanggung jawab pilihannya dan bersama guru merumuskan komitmen bersama menjaga kearifan lokal di sekolah (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap respon dan komitmen yang ditunjukkan murid terkait tanggung jawab menjaga tradisi di sekolah (5 menit).
  • Guru menutup sesi pembelajaran dengan mengingatkan materi pertemuan berikutnya (mencegah pudarnya budaya di lingkungan sekitar) serta doa penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan daftar panduan opsi tindakan tanggung jawab konkret sebagai rujukan pengisian studi kasus, sedangkan murid cepat diberikan lembar studi kasus terbuka tanpa opsi bantuan.
  • Proses: Pada murid yang belum lancar mengidentifikasi tindakan etis, guru memberikan bimbingan langsung (scaffolding) dengan mengajukan pertanyaan penuntun pada Kasus 1 dan Kasus 3.
  • Produk: Semua murid menghasilkan analisis tindakan tanggung jawab pada 4 kasus; murid cepat diminta menambahkan 1 alternatif tindakan pencegahan lanjutan pada masing-masing kasus.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis respon cepat 'Tunjuk Sikap' menggunakan 3 kartu pernyataan perilaku di sekolah: (1) Menertawakan teman yang menyapa dengan bahasa daerah; (2) Merapikan dan mengembalikan alat musik daerah ke ruang seni; (3) Mengabaikan tradisi sapaan santun sekolah. Kriteria kesiapan: Memilih tepat minimal 2 dari 3 respon (Acuan: butir 1 = Tidak Bertanggung Jawab, butir 2 = Bertanggung Jawab, butir 3 = Tidak Bertanggung Jawab).

Proses:

  • Formatif proses melalui Lembar Kerja 4 Kasus Situasi Sekolah. Indikator ketepatan tindakan tanggung jawab: Kasus 1 (tindakan bertanggung jawab: merapikan, mengeringkan, dan menyimpan alat musik ke tempat aman); Kasus 2 (tindakan bertanggung jawab: memberi masukan untuk tetap mempertahankan/mengolaborasikan jajanan tradisional pasar); Kasus 3 (tindakan bertanggung jawab: menyemangati/menemani teman berlatih tanpa merendahkan); Kasus 4 (tindakan bertanggung jawab: menjalankan piket membersihkan dan menata kembali pojok kearifan lokal). Murid dinilai dari ketepatan menunjukkan sikap tanggung jawab pada keempat kasus tersebut.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat di penutup: Murid menyebutkan 1 wujud sikap tanggung jawab pribadi yang akan dilakukan minggu ini dalam menjaga tradisi di sekolah (kriteria penerimaan: menyebutkan tindakan konkret pelestarian tradisi/kearifan lokal di sekolah yang dapat diamati secara perilaku nyata).

Formatif:

  • Kuis diagnostik 'Tunjuk Sikap' pada awal pembelajaran
  • Observasi unjuk kerja pilah kartu situasi tanggung jawab budaya
  • Penilaian kinerja pengerjaan studi kasus komitmen sikap tanggung jawab pada Lembar Kerja

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan sikap tanggung jawab menjaga praktik tradisi dan kearifan lokal di sekolah pada 4 studi kasusMenunjukkan sikap tanggung jawab yang tepat hanya pada 1 dari 4 studi kasus sesuai acuan indikator.Menunjukkan sikap tanggung jawab yang tepat pada 2 dari 4 studi kasus sesuai acuan indikator.Menunjukkan sikap tanggung jawab yang tepat pada 3 dari 4 studi kasus sesuai acuan indikator.Menunjukkan sikap tanggung jawab yang tepat pada seluruh (4 dari 4) studi kasus sesuai acuan indikator secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas studi kasus kontekstual sekolah efektif memfasilitasi murid menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga tradisi?
  • Bagian mana dari langkah pembelajaran yang paling menumbuhkan kesadaran murid terhadap kelestarian kearifan lokal di sekolah?

Murid:

  • Apa tindakan paling nyata yang sudah atau akan saya lakukan untuk merawat kearifan lokal di sekolah ini?
  • Mengapa saya harus bertanggung jawab apabila melihat praktik tradisi atau fasilitas kebudayaan di sekolah diabaikan atau dirusak?

Pertemuan 4 — Menunjukkan Sikap Tanggung Jawab dalam Mencegah Pudarnya Praktik Budaya Daerah di Lingkungan Sekitar — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam melestarikan praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah di lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan sikap tanggung jawab dalam mencegah pudarnya praktik budaya daerah di lingkungan sekitar (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang fenomena pudarnya budaya daerah di sekitar (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak ulasan kasus nyata tentang pertunjukan seni tradisional yang mulai jarang dimainkan (seperti Gambang Semarangan atau tembang dolanan daerah) yang memicu pudarnya budaya lokal (8 menit).
  • Murid secara berpasangan mengidentifikasi faktor pemicu pudarnya budaya daerah dan mendiskusikan bentuk-bentuk sikap tanggung jawab warga dalam mencegah kepunahan tersebut (12 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti aktivitas interaktif 'Tantangan Tanggung Jawab Budaya': murid dalam pasangan memilih dan memilah 4 kartu skenario situasi budaya yang terancam pudar lalu menentukan sikap tanggung jawab yang tepat untuk mencegah kepudarannya (15 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Analisis Sikap Tanggung Jawab Budaya secara mandiri untuk menunjukkan pilihan tindakan bertanggung jawab pada 4 kasus pelestarian budaya daerah (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kesesuaian sikap tanggung jawab yang dipilihnya terhadap kunci pedoman tindakan pelestarian budaya daerah secara sadar dan mandiri (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya memiliki sikap tanggung jawab personal dalam menjaga keberlangsungan praktik budaya daerah di lingkungan sekitar (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap komitmen sikap murid dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu skenario bertingkat: skenario konkret berbasis tradisi keseharian di lingkungan terdekat bagi murid yang membutuhkan panduan, dan skenario tantangan modernisasi/globalisasi bagi murid yang siap belajar mandiri.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa pilihan opsi tindakan tanggung jawab terarah, sedangkan murid yang mahir langsung merumuskan wujud tindakan tanggung jawabnya secara mandiri.
  • Produk: Format penyajian sikap tanggung jawab disesuaikan: mengisi tabel ceklis berpasangan terstruktur atau menuliskan narasi komitmen tindakan tanggung jawab secara terperinci.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Guru mengajukan pertanyaan diagnostik cepat: 'Sebutkan 1 contoh praktik kesenian atau tradisi daerah di sekitar kalian yang mulai jarang dilakukan generasi muda, dan sebutkan 1 contoh sikap tanggung jawab untuk mencegahnya!' (Acuan jawaban: contoh budaya: Gambang Semarangan/tembang dolanan/tari daerah/alat musik tradisional; bentuk tanggung jawab: mau mempelajari/menonton pertunjukan/mengikuti latihan/mengapresiasi kesenian daerah).

Proses:

  • Penilaian penugasan mandiri pada Lembar Analisis Sikap Tanggung Jawab Budaya yang memuat 4 kasus nyata: Kasus 1: 'Kesenian musik tradisional daerah di lingkungan RT mulai ditinggalkan remaja karena kalah populer dengan musik modern.' (Kunci sikap tanggung jawab: Berinisiatif mengikuti latihan musik tradisional di sanggar/lingkungan sekitar atau mengajak teman menyaksikan latihan). Kasus 2: 'Bahasa dan tembang daerah jarang dituturkan kembali oleh anak-anak muda di sekitar rumah.' (Kunci sikap tanggung jawab: Membiasakan diri menggunakan ungkapan santun bahasa daerah di lingkungan keluarga/tetangga atau ikut melantunkan tembang dolanan). Kasus 3: 'Upacara adat bersih desa/sedekah bumi kekurangan tenaga pemuda untuk persiapan perhelatan.' (Kunci sikap tanggung jawab: Ikut serta membantu secara sukarela dalam kepanitiaan atau gotong royong penyiapan perlengkapan upacara adat). Kasus 4: 'Permainan tradisional di lingkungan sekitar digantikan sepenuhnya oleh gawai sehingga tidak ada yang memainkannya.' (Kunci sikap tanggung jawab: Menghidupkan kembali permainan tradisional dengan bermain bersama teman sebaya di pekarangan atau lingkungan sekitar).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Murid menuliskan satu komitmen sikap tanggung jawab personal terhadap kelestarian budaya daerah di sekitar tempat tinggalnya pada kartu refleksi (Kriteria penerimaan: pernyataan memuat tindakan nyata menjaga/mempelajari/melibatkan diri pada salah satu praktik tradisi atau seni budaya daerah yang terancam pudar tanpa menyalahkan pihak lain).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran untuk mengecek kesiapan pemahaman mengenai gejala pudarnya budaya daerah.
  • Observasi unjuk kerja dan lembar analisis penentuan sikap tanggung jawab dalam mencegah pudarnya praktik budaya daerah pada 4 skenario kasus.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan Sikap Tanggung Jawab dalam Mencegah Pudarnya Praktik Budaya DaerahMenunjukkan sikap tanggung jawab yang tepat hanya pada 1 dari 4 kasus pencegahan pudarnya budaya daerah.Menunjukkan sikap tanggung jawab yang tepat pada 2 dari 4 kasus pencegahan pudarnya budaya daerah.Menunjukkan sikap tanggung jawab yang tepat pada 3 dari 4 kasus pencegahan pudarnya budaya daerah sesuai acuan.Menunjukkan sikap tanggung jawab yang tepat secara mandiri pada seluruh (4 dari 4) kasus pencegahan pudarnya budaya daerah sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah skenario kasus budaya yang disajikan sudah cukup kontekstual dan dekat dengan keseharian murid kelas 8?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam mengekspresikan sikap tanggung jawab moral dan sosial mereka terhadap pencegahan pudarnya budaya daerah?

Murid:

  • Apa tindakan paling nyata yang bisa saya lakukan mulai minggu ini agar seni atau tradisi daerah di sekitar saya tidak punah?
  • Mengapa penting bagi saya untuk memiliki rasa tanggung jawab pribadi terhadap kelangsungan budaya leluhur?

Pertemuan 5 — Berperan Aktif Melestarikan Permainan Tradisional dan Praktik Kearifan Lokal Melalui Kegiatan Nyata di Sekolah — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.3 Berperan aktif melestarikan praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah melalui kegiatan nyata di sekolah atau lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan kesiapan fisik serta psikis ruang belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu berperan aktif melestarikan permainan tradisional dan praktik kearifan lokal melalui kegiatan nyata di sekolah (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid menjawab kuis diagnostik lisan cepat mengenai 3 jenis permainan tradisional dan 3 kearifan lokal gotong royong di lingkungan sekolah (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati panduan kegiatan festival mini permainan tradisional dan praktik kearifan lokal di sekolah (pilihan permainan: gobak sodor, egrang batok kelapa, bekel, congklak; serta praktik kearifan lokal gotong royong/rereongan menyiapkan arena permainan) (10 menit).
  • Murid dalam kelompok merancang pembagian peran aktif setiap anggota dalam pelaksanaan praktik nyata permainan tradisional dan kearifan lokal gotong royong di area kelas/halaman sekolah (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid secara berkelompok mempraktikkan langsung peran aktif dalam gotong royong menyiapkan arena serta memainkan permainan tradisional pilihan (gobak sodor, egrang batok, bekel, atau congklak) sesuai aturan baku permainan dengan tertib dan sportif (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama kelompok mengisi Lembar Peran Nyata untuk mencatat kontribusi keterlibatan diri dalam permainan dan praktik kearifan lokal yang baru dijalankan (15 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan keterlaksanaan kegiatan peran aktif pelestarian budaya bangsa di lingkungan sekolah hari ini (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas peran aktif murid, menyampaikan gambaran kegiatan pertemuan berikutnya (menyiapkan simulasi gelar tradisi), dan menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan pilihan alat dan ragam permainan tradisional (gobak sodor yang berbasis gerak lapangan, atau bekel/congklak yang berbasis meja/lantai) sesuai preferensi murid.
  • Proses: Memberikan pendampingan langkah aturan permainan bagi kelompok yang membutuhkan bimbingan teknis, serta memberikan keleluasaan rotasi peran bagi kelompok yang sudah mandiri.
  • Produk: Lembar catatan peran nyata dapat disajikan berupa daftar ceklis peran terstruktur atau catatan narasi kontribusi individu.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Murid diminta menyebutkan contoh permainan tradisional dan kearifan lokal gotong royong di lingkungan sekolah. Acuan jawaban benar: Contoh permainan tradisional mencakup gobak sodor, egrang, congklak, bola bekel, bentengan, atau engklek; contoh kearifan lokal gotong royong mencakup gugur gunung, rereongan, kerja bakti membersihkan kelas bersama, atau tradisi sambatan.

Proses:

  • Lembar Observasi Peran Aktif: Guru mengamati keterlibatan murid dalam 2 aspek nyata: (1) Peran dalam pelaksanaan permainan tradisional (mengikuti giliran bermain, mematuhi aturan, menjaga sportivitas); (2) Peran dalam kearifan lokal gotong royong sekolah (menyiapkan alat permainan bersama, merapikan kembali arena bersama-sama).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan Lembar Catatan Peran Nyata: Murid menuliskan minimal 2 bukti kontribusi nyata yang dilakukannya hari ini: 1 bukti keikutsertaan dalam permainan tradisional (misal: menjadi pemain aktif gobak sodor/congklak) dan 1 bukti tindakan gotong royong (misal: menyusun arena/merapikan alat). Acuan penerimaan: Murid mencantumkan tindakan spesifik yang sesuai dengan pengamatan guru saat kegiatan berlangsung.

Formatif:

  • Observasi keterlibatan dan keaktifan murid dalam mempraktikkan permainan tradisional dan kerja sama gotong royong di sekolah
  • Pemeriksaan Lembar Catatan Peran Nyata Murid

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Peran Aktif Melestarikan Permainan Tradisional di SekolahHanya mengamati tanpa bersedia ikut serta memainkan permainan tradisional yang ditentukan.Ikut bermain permainan tradisional hanya jika diarahkan dan didampingi secara intensif oleh guru.Berperan aktif memainkan permainan tradisional sesuai giliran dan aturan yang disepakati secara mandiri.Berperan aktif secara konsisten memainkan permainan tradisional, mematuhi seluruh aturan secara mandiri, dan berinisiatif mengajak rekan bermain secara tertib.
Peran Aktif dalam Praktik Kearifan Lokal Gotong Royong di SekolahTidak mengambil bagian dalam gotong royong menyiapkan atau merapikan arena permainan.Mengambil bagian dalam kerja bersama menyiapkan/merapikan alat permainan setelah berulang kali diingatkan.Mengambil peran aktif bersama kelompok dalam menyiapkan dan merapikan arena permainan secara mandiri.Mengambil peran aktif secara konsisten dan tanggap membantu kebutuhan arena permainan kelompok lain setelah tugas kelompoknya selesai.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mendapatkan kesempatan yang merata untuk berperan aktif memainkan permainan tradisional?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam mempraktikkan nilai kearifan lokal gotong royong saat menyiapkan dan merapikan arena?

Murid:

  • Peran nyata apa yang paling bermakna yang sudah saya lakukan dalam melestarikan permainan tradisional hari ini?
  • Bagaimana perasaan saya setelah ikut serta bergotong royong bersama teman-teman menyiapkan kegiatan permainan tradisional?

Pertemuan 6 — Berperan Aktif Menyiapkan Simulasi Gelar Tradisi dan Budaya Daerah dalam Lingkup Komunitas Kelas — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.3 Berperan aktif melestarikan praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah melalui kegiatan nyata di sekolah atau lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar kelas (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik kesiapan peran aktif: murid merespons pertanyaan lisan guru mengenai peran yang siap diambil dalam simulasi gelar budaya (misalnya: penampil gerak tradisi, pembawa narasi adat, penata tata rupa/busana daerah, atau pengelola perlengkapan tradisi) untuk memetakan keterlibatan murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak arahan guru mengenai panduan kegiatan nyata simulasi gelar tradisi dan budaya daerah di lingkup kelas, mencakup 4 pilihan ragam tradisi: (1) Tradisi Upacara Penyambutan/Tutur Daerah, (2) Praktik Musik/Tembang Tradisional Daerah, (3) Praktik Tari Daerah Tradisional, dan (4) Simulasi Upacara Adat Singkat Seputar Gotong Royong (10 menit).
  • Murid bersama kelompoknya menelaah lembar rencana peran aktif pelestarian budaya yang memuat pembagian tugas nyata: penampil tradisi, penata kelengkapan adat, dan pemandu alur tradisi (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam suasana menggembirakan melalui tantangan peran kilat (permainan pemilihan peran tradisi berbasis undian kelompok gembira), setiap kelompok menyepakati satu praktik tradisi yang akan disimulasikan dan membagi peran nyata kepada setiap anggota kelompok (15 menit).
  • Setiap murid menjalankan peran aktifnya masing-masing secara nyata dalam kelompok: menyiapkan skrip urutan tradisi, berlatih gerakan/adegan tradisi, atau merancang atribut tradisi sederhana menggunakan bahan yang tersedia di kelas (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap kelompok melakukan gladi bersih singkat (uji coba kesiapan simulasi tradisi selama 2 menit per kelompok) di hadapan guru dan teman sekelas (10 menit).
  • Murid mengevaluasi keterlaksanaan peran aktif dirinya dan rekan sekelompok dalam lembar ceklis peran nyata pelestarian tradisi (acuan: terlaksananya peran yang diambil, kelengkapan atribut tradisi, dan kesiapan urutan simulasi) (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan pentingnya peran aktif setiap individu dalam menyiapkan kegiatan nyata pelestarian budaya di lingkungan sekolah (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik keterlibatan murid dalam persiapan simulasi, mengingatkan pelaksanaan simulasi penuh pada pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan contoh lembar panduan peran untuk tradisi seni gerak, tradisi lisan, dan tradisi upacara adat.
  • Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan didampingi guru dalam pembagian peran konkret; kelompok yang mandiri langsung menyusun dan melatih skenario simulasi secara mandiri.
  • Produk: Rancangan simulasi dapat berupa peragaan tradisi gerak, demonstrasi tradisi tutur, atau peragaan tata cara adat sederhana.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Sebutkan satu peran nyata yang ingin kamu ambil dalam tim untuk menyiapkan gelar tradisi daerah di kelas?' (Acuan penerimaan: murid memilih salah satu peran konkret yang relevan, yaitu: peraga tradisi/seni, penyusun naskah urutan adat, perancang perlengkapan/atribut tradisi, atau pemandu jalannya peragaan tradisi).

Proses:

  • Pengamatan formatif keterlibatan murid selama tahap Mengaplikasi dengan 3 indikator: (1) mengambil tanggung jawab peran dalam tim simulasi tradisi, (2) melakukan latihan/persiapan peran nyata secara aktif, (3) menuntaskan tugas perannya dalam gladi bersih persiapan (Acuan: terlaksananya ketiga indikator secara konsisten).

Akhir Pertemuan:

  • Cek ketercapaian peran melalui lembar ceklis peran nyata: Murid menandai dan menuliskan bukti kontribusinya dalam kelompok. Butir cek: (1) Menyebutkan nama peran yang dijalankan, (2) Menjelaskan tugas nyata yang diselesaikan dalam persiapan simulasi (Kriteria penerimaan: peran dan tugas nyata sesuai dengan salah satu dari 4 ragam tradisi yang disiapkan kelompok).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja keaktifan peran murid saat menyiapkan simulasi tradisi dan budaya daerah menggunakan lembar ceklis peran aktif

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Berperan aktif menyiapkan simulasi tradisi dan budaya daerah di kelasBelum mengambil peran nyata dalam kelompok dan pasif selama proses persiapan simulasi tradisi daerah.Mengambil peran dalam kelompok simulasi tradisi daerah namun masih pasif dan membutuhkan dorongan penuh dari guru atau teman untuk menjalankan persiapannya.Berperan aktif menjalankan tugas persiapannya (menyiapkan naskah, atribut, atau latihan peran tradisi) dalam kelompok simulasi secara mandiri sesuai kesepakatan.Berperan aktif secara konsisten menjalankan tugas persiapannya secara mandiri serta berinisiatif membantu kelancaran persiapan anggota kelompok lain dalam simulasi tradisi daerah.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid telah terfasilitasi untuk mengambil peran aktif nyata dalam persiapan simulasi tradisi daerah sesuai minatnya?
  • Bagaimana tingkat partisipasi murid dalam kerja sama tim saat menyiapkan kelengkapan tradisi budaya?

Murid:

  • Apa peran nyata yang telah saya laksanakan dalam mempersiapkan simulasi tradisi dan budaya daerah hari ini?
  • Bagaimana perasaan saya ketika bergotong royong bersama teman mempersiapkan tradisi budaya daerah di kelas?

Pertemuan 7 — Mempromosikan Pelestarian Budaya Daerah dalam Masyarakat Global Melalui Rancangan Pesan Informasi — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.4 Mempromosikan pelestarian praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah dalam masyarakat global melalui media informasi

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yaitu merancang pesan informasi untuk mempromosikan pelestarian budaya daerah dalam konteks masyarakat global (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat mengenai 3 komponen pesan promosi budaya ranah global (nama budaya, nilai kearifan, dan ajakan pelestarian dunia) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati 2 contoh draf pesan promosi budaya: Teks A (hanya berisi nama makanan tanpa ajakan pelestarian) dan Teks B (memuat identitas Tari Saman, nilai kebersamaan, dan ajakan pelestarian kepada warga dunia) untuk membedakan struktur pesan promosi budaya global yang utuh (10 menit).
  • Murid berpasangan membedah 3 elemen wajib dalam rancangan pesan promosi pelestarian budaya: identitas praktik budaya daerah, makna nilai luhur bagi peradaban, dan seruan pelestarian lintas bangsa (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan tantangan berpasangan 'Sambung Kata Promosi Budaya', di mana pasangan murid secara cepat dan bergantian menyusun draf slogan promosi pelestarian kearifan lokal berdaya jangkau global secara menyenangkan (10 menit).
  • Secara mandiri, murid menyusun lembar draf rancangan pesan promosi pelestarian satu budaya daerah pilihan (misal: Tenun Ikat, Tari Saman, Randai, atau Upacara Subak) yang memuat judul promosi, deskripsi keunikan, serta kalimat ajakan aksi pelestarian masyarakat global (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling menukarkan draf pesan promosi dengan teman sebangku untuk memeriksa keterpenuhan 3 unsur promosi budaya global (identitas budaya, nilai luhur, dan ajakan pelestarian global) menggunakan daftar ceklis panduan (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya merancang pesan promosi pelestarian budaya daerah yang berdaya pikat bagi masyarakat global (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap draf promosi yang telah disusun dan mengarahkan murid untuk menyimpannya sebagai dasar pembuatan media informasi digital pada pertemuan berikutnya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci promosi (identitas budaya, nilai luhur, ajakan global); murid yang siap mandiri merancang pesan dengan variasi kosakata bahasa internasional/dwibahasa.
  • Proses: Pemberian scaffolding bertahap bagi murid yang kesulitan merangkai kalimat ajakan pelestarian global melalui template kalimat rumpang.
  • Produk: Rancangan pesan promosi dapat berfokus pada seni pertunjukan, arsitektur lokal, sistem kearifan agraris, atau kerajinan tradisional daerah.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan di awal pembelajaran: 'Sebutkan 3 unsur penting yang harus ada dalam sebuah pesan promosi budaya daerah agar dipahami dan didukung oleh masyarakat dunia!' (Kriteria/Acuan jawaban: (1) Identitas/nama tradisi atau budaya daerah; (2) Nilai luhur/makna kearifan lokal budaya tersebut; (3) Kalimat seruan/ajakan aksi pelestarian untuk warga global).

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid dalam menyusun draf pesan promosi pelestarian budaya daerah pada tahap Mengaplikasi dengan panduan kriteria: mencantumkan nama budaya daerah spesifik, menguraikan makna/nilai kearifan, dan merumuskan ajakan pelestarian bagi masyarakat global.

Akhir Pertemuan:

  • Cek kelengkapan draf rancangan pesan promosi pelestarian budaya daerah murid sebelum dikumpulkan (Kriteria penerimaan: Draf memuat minimal 1 budaya daerah spesifik, minimal 1 nilai kearifan lokal/keunggulan budaya, dan minimal 1 rumusan kalimat ajakan pelestarian yang ditujukan kepada masyarakat dunia/global).

Formatif:

  • Penilaian proses rancangan pesan promosi pelestarian budaya daerah global pada lembar kerja murid
  • Umpan balik asesmen sejawat saat tahap refleksi menggunakan ceklis 3 elemen promosi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Unsur Promosi Pelestarian Budaya GlobalRancangan pesan hanya memuat 1 unsur (hanya nama budaya daerah, tanpa nilai kearifan dan tanpa ajakan pelestarian global) dengan bimbingan penuh guru.Rancangan pesan memuat 2 dari 3 unsur promosi (memuat nama budaya daerah dan nilai kearifan, namun belum memuat ajakan pelestarian masyarakat global) dengan arahan guru.Rancangan pesan memuat lengkap 3 unsur promosi (identitas budaya daerah, nilai kearifan lokal, dan kalimat ajakan pelestarian masyarakat global) secara tepat dan mandiri.Rancangan pesan memuat lengkap 3 unsur promosi (identitas budaya daerah, nilai kearifan lokal, dan kalimat ajakan pelestarian masyarakat global) dengan artikulasi pesan persuasif yang sangat mendalam dan kontekstual bagi audiens global secara mandiri.
Kesesuaian Muatan Ajakan Pelestarian untuk Masyarakat GlobalPesan ajakan pelestarian belum berorientasi pada pelestarian budaya dan belum menjangkau ranah masyarakat global.Pesan ajakan berfokus pada pelestarian budaya daerah namun konteks sasarannya masih terbatas pada lingkup lokal/pribadi, belum menyentuh ranah masyarakat global.Pesan ajakan memuat seruan konkret pelestarian budaya daerah yang ditujukan secara jelas kepada masyarakat global.Pesan ajakan memuat seruan konkret pelestarian budaya daerah yang ditujukan kepada masyarakat global serta menghubungkan relevansi kearifan lokal tersebut bagi nilai-nilai kemanusiaan universal secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur penyusunan rancangan pesan promosi budaya daerah ini memfasilitasi pemahaman murid tentang peran kearifan lokal di mata dunia?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas tantangan berpasangan menyusun pesan promosi budaya?

Murid:

  • Bagian mana dari draf pesan promosi budaya daerah yang paling menantang saat saya rancang untuk masyarakat global?
  • Apakah pesan promosi yang saya buat sudah dapat meyakinkan masyarakat dunia untuk ikut menghargai dan melestarikan budaya Indonesia?

Pertemuan 8 — Mempromosikan Pelestarian Praktik Tradisi dan Kearifan Lokal Melalui Media Informasi Digital untuk Ranah Global — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.4 Mempromosikan pelestarian praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah dalam masyarakat global melalui media informasi

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan fokus pertemuan yaitu mempromosikan tradisi dan kearifan lokal ke ranah global melalui media informasi digital (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan: 'Sebutkan 1 contoh praktik tradisi atau kearifan lokal Indonesia dan 1 alasan mengapa masyarakat dunia perlu mengetahuinya' (kriteria penerimaan: menyebutkan praktik tradisi nyata seperti Subak Bali, Lompat Batu Nias, atau Tana Toraja, serta alasan pelestarian bernilai universal seperti kelestarian lingkungan atau gotong royong) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemodelan 2 contoh poster promosi digital budaya Indonesia: (1) Poster 'Subak: Balinese Traditional Ecological Irrigation' dan (2) Poster 'Batik: Indonesia's Living World Heritage', lalu mengidentifikasi 3 unsur promosi global yang wajib termuat: (a) identitas praktik tradisi/kearifan lokal, (b) nilai kearifan yang relevan bagi masyarakat dunia, dan (c) pesan ajakan/promosi pelestarian dalam bahasa yang menjangkau ranah global (15 menit).
  • Guru memfasilitasi tantangan kuis cepat menggembirakan 'Jelajah Pesan Global': murid secara berpasangan menebak sasaran pesan promosi budaya dari 3 penggalan teks promosi singkat (acuan kunci: penggalan 1 'Harmoni Manusia dan Alam' -> kearifan Subak; penggalan 2 'Ketahanan Pangan Berkelanjutan' -> Lumbung Padi Baduy Leuit; penggalan 3 'Gotong Royong Kebersamaan' -> Rambu Solo) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri memilih 1 praktik tradisi/kearifan lokal Indonesia (pilihan: Tenun Ikat Flores, Karapan Sapi Madura, Upacara Kasada Bromo, atau Tradisi Sasi Maluku) dan menyusun rancangan konten media informasi digital (format grafis/poster digital/kapsul infografis) yang ditujukan untuk masyarakat global (25 menit).
  • Murid memuat 3 komponen wajib dalam produk promosinya: nama praktik tradisi/kearifan lokal, deskripsi nilai filosofis/keberlanjutan dalam konteks kehidupan global, serta slogan/pesan ajakan pelestarian (acuan kriteria: slogan bernada mempromosikan dan melestarikan, misal 'Preserving Local Wisdom, Sustaining Global Future') (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali konten media informasi digital yang dibuatnya menggunakan daftar periksa mandiri (apakah nama tradisi jelas, nilai kearifan terangkat, dan ajakan promosi global tersampaikan secara tepat) serta menuliskan 1 perbaikan kalimat promosi agar lebih meyakinkan khalayak dunia (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap daya jangkau media digital dalam mempromosikan praktik tradisi dan kearifan lokal nusantara kepada warga global (3 menit).
  • Guru membimbing murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan mengumumkan bahwa hasil rancangan promosi ini akan menjadi salah satu karya yang dipamerkan pada pertemuan berikutnya, lalu menutup sesi dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan templat kerangka promosi digital dengan kalimat rumpang (nama tradisi, makna bagi bumi, kalimat ajakan); murid yang lebih cepat diberikan pilihan mempromosikan tradisi yang lebih spesifik dengan menyertakan padanan pesan dwibahasa (Indonesia - Inggris).
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan mendapatkan contoh langsung pembuatan slogan promosi dari guru, sedangkan murid yang mandiri langsung mendesain konten promosinya.
  • Produk: Media promosi digital dapat berwujud poster infografis digital 1 halaman, microblog slide digital 3 halaman, atau selebaran digital promosi budaya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Sebutkan 1 contoh praktik tradisi atau kearifan lokal Indonesia dan 1 alasan mengapa masyarakat dunia perlu mengetahuinya' (kriteria penerimaan: menyebutkan praktik tradisi nyata seperti Subak Bali, Lompat Batu Nias, atau Tana Toraja, serta alasan pelestarian bernilai universal seperti kelestarian alam atau kerja sama kemanusiaan).

Proses:

  • Observasi pengerjaan konten media promosi digital selama tahap Mengaplikasi dengan daftar periksa: keterpenuhan 3 komponen promosi global (nama tradisi, nilai kearifan relevan global, kalimat ajakan promosi).

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan lembar produk media promosi digital murid berdasarkan pemenuhan pesan promosi: pesan jelas mempromosikan tradisi/kearifan lokal dan memuat ajakan pelestarian bagi masyarakat global (kriteria penerimaan: produk memuat identitas tradisi, relevansi nilai bagi dunia, dan ajakan pelestarian eksplisit).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja produk media informasi digital promosi budaya daerah/kearifan lokal untuk ranah global menggunakan rubrik kriteria promosi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Unsur Promosi Budaya ke Ranah GlobalMemuat kurang dari 2 unsur dari 3 unsur promosi (nama tradisi, nilai kearifan global, kalimat ajakan pelestarian).Memuat tepat 2 unsur dari 3 unsur promosi (nama tradisi, nilai kearifan global, kalimat ajakan pelestarian) secara tepat.Memuat seluruh 3 unsur promosi (nama tradisi, nilai kearifan global, kalimat ajakan pelestarian) secara lengkap dan tepat.Memuat seluruh 3 unsur promosi (nama tradisi, nilai kearifan global, kalimat ajakan pelestarian) secara lengkap, tepat, dan menyajikan argumen kontekstual tentang manfaat pelestarian kearifan lokal tersebut bagi masyarakat dunia secara mandiri.
Kesesuaian Pesan Media Informasi untuk Masyarakat GlobalPesan promosi belum menunjukkan ajakan pelestarian atau hanya berupa sebutan nama tradisi tanpa kalimat promosi.Pesan promosi memuat ajakan pelestarian namun lingkup sasarannya masih bersifat sangat lokal dan belum diarahkan pada pemahaman masyarakat luas/global.Pesan promosi memuat ajakan pelestarian tradisi/kearifan lokal yang secara jelas ditujukan dan relevan bagi masyarakat global.Pesan promosi memuat ajakan pelestarian tradisi/kearifan lokal yang ditujukan bagi masyarakat global secara konsisten, persuasif, dan komunikatif di seluruh bagian media informasi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas perancangan media promosi digital berhasil melatih murid menyusun pesan pelestarian tradisi dan kearifan lokal untuk khalayak global?
  • Bagian mana dari pendampingan teknis pesan promosi yang memerlukan penguatan tambahan pada pertemuan mendatang?

Murid:

  • Apa hal paling berkesan saat merancang pesan promosi budaya Indonesia untuk masyarakat dunia hari ini?
  • Bagaimana kamu memastikan pesan pelestarian kearifan lokal yang kamu buat mudah dipahami oleh orang dari luar daerah atau luar negeri?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.1 Menjelaskan pentingnya pelestarian tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah sebagai identitas nasional dalam kehidupan masyarakat
  • TP 8.4.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam melestarikan praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah di lingkungan sekitar
  • TP 8.4.3 Berperan aktif melestarikan praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah melalui kegiatan nyata di sekolah atau lingkungan sekitar
  • TP 8.4.4 Mempromosikan pelestarian praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah dalam masyarakat global melalui media informasi

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi sumatif dengan salam, doa, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kelas agar tertib, tenang, dan siap untuk asesmen (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab yang mencakup empat aspek ketercapaian TP (uraian penjelasan arti penting pelestarian budaya, refleksi sikap tanggung jawab, unjuk kerja simulasi gelar budaya kelas, dan gelar media promosi informasi) serta membagikan lembar kerja tertulis individual (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak instruksi pengerjaan Bagian 1: tes tertulis uraian (soal 1: jelaskan 2 arti penting pelestarian tradisi/kearifan lokal bagi identitas nasional; soal 2: jelaskan mengapa budaya daerah menjadi perekat persatuan nasional) dan lembar refleksi diri komitmen sikap tanggung jawab menjaga tradisi sekitar (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara mandiri dan serentak mengerjakan tes tertulis uraian dan mengisi instrumen refleksi diri komitmen sikap tanggung jawab di meja masing-masing selama durasi yang ditetapkan (30 menit).
  • Murid dalam kelompok menata stan simulasi tradisi kelas dan memajang produk media promosi (poster/infografis pelestarian tradisi untuk ranah global), lalu secara bergantian menampilkan simulasi praktik kearifan lokal/permainan tradisional serta menjelaskan pesan poster promosi mereka di hadapan guru dan teman (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru melakukan hening sejenak untuk merefleksikan seluruh proses pelaksanaan sumatif dan komitmen nyata yang akan diteruskan dalam kehidupan sehari-hari (3 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar jawaban uraian, lembar refleksi, serta lembar penilaian unjuk kerja stan simulasi dan gelar poster promosi (1 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kedisiplinan, kejujuran, dan partisipasi seluruh murid selama asesmen berlangsung, lalu menutup pertemuan dengan doa bersama (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan lembar tes dengan ukuran huruf yang disesuaikan atau pembacaan instruksi bagi murid dengan hambatan penglihatan/literasi tanpa mengubah isi soal atau kunci jawaban.
  • Proses: Menyediakan waktu tambahan terstruktur bagi murid berkebutuhan khusus untuk menyelesaikan lembar uraian secara mandiri tanpa mengurangi standar tuntutan kompetensi.
  • Produk: Format media informasi promosi budaya dapat berupa poster cetak manual atau infografis grafis sesuai karya yang telah dirancang kelompok tanpa mengubah kriteria pesan promosi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Cek kesiapan instrumen: Guru memeriksa kesiapan lembar soal tertulis, lembar refleksi, perlengkapan stan simulasi kelompok, dan media poster promosi yang telah disiapkan murid (Acuan kelengkapan: seluruh murid memegang lembar tes individu dan tiap kelompok siap di area stan masing-masing).

Proses:

  • Observasi ketertiban dan kemandirian pengerjaan tes tertulis individual serta kepatuhan waktu asesmen.
  • Observasi keterlibatan aktif setiap anggota kelompok dalam mengoperasikan stan simulasi gelar tradisi kelas.

Sumatif Bab:

  • Asesmen kombinasi terpadu berbasis tes tertulis, refleksi diri, unjuk kerja simulasi gelar budaya kelas, dan pembuatan produk media informasi: Lembar jawaban uraian analisis budaya, lembar refleksi sikap tanggung jawab, lembar observasi partisipasi aktif dalam stan simulasi budaya, serta infografis/poster promosi budaya lokal untuk ranah global
  • tes tertulis dan refleksi diri serentak: Lembar kerja berisi uraian penjelasan arti penting pelestarian budaya bagi identitas nasional serta instrumen refleksi diri komitmen sikap tanggung jawab menjaga tradisi sekitar yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid di kelas (35 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran uraian dan rubrik penilaian diri)
  • unjuk kerja simulasi gelar budaya dan penilaian produk media informasi serentak: Keterlibatan aktif kelompok dalam stan simulasi pelestarian tradisi di ruang kelas serta produk media informasi (poster/infografis) promosi budaya lokal untuk masyarakat global yang dipajang dan dinilai secara serentak (45 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja keterlibatan aksi dan rubrik penilaian produk media informasi)

Sumatif:

  • Asesmen kombinasi terpadu berbasis tes tertulis, refleksi diri, unjuk kerja simulasi gelar budaya kelas, dan pembuatan produk media informasi: Lembar jawaban uraian analisis budaya, lembar refleksi sikap tanggung jawab, lembar observasi partisipasi aktif dalam stan simulasi budaya, serta infografis/poster promosi budaya lokal untuk ranah global
  • tes tertulis dan refleksi diri serentak: Lembar kerja berisi uraian penjelasan arti penting pelestarian budaya bagi identitas nasional serta instrumen refleksi diri komitmen sikap tanggung jawab menjaga tradisi sekitar yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid di kelas (35 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran uraian dan rubrik penilaian diri)
  • unjuk kerja simulasi gelar budaya dan penilaian produk media informasi serentak: Keterlibatan aktif kelompok dalam stan simulasi pelestarian tradisi di ruang kelas serta produk media informasi (poster/infografis) promosi budaya lokal untuk masyarakat global yang dipajang dan dinilai secara serentak (45 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja keterlibatan aksi dan rubrik penilaian produk media informasi)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan arti penting pelestarian tradisi dan budaya daerah bagi identitas nasional (TP 8.4.1)Belum mampu menjelaskan arti penting pelestarian budaya bagi identitas nasional maupun fungsinya sebagai pemersatu bangsa sesuai kunci acuan.Menjelaskan hanya 1 dari 2 butir soal (baik arti penting identitas atau perekat pemersatu) sesuai kunci acuan secara tepat.Menjelaskan 2 butir soal (arti penting identitas nasional dan fungsi budaya pemersatu) sesuai kunci acuan dengan penjelasan cukup tepat.Menjelaskan kedua butir soal secara lengkap, mendalam, dan sangat tepat sesuai seluruh indikator kunci acuan (identitas khas pembeda, pewarisan nilai luhur, dan perekat Bhinneka Tunggal Ika).
Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga tradisi di lingkungan sekitar (TP 8.4.2)Lembar refleksi tidak memuat perilaku nyata komitmen tanggung jawab menjaga tradisi sekitar sesuai acuan.Menuliskan 1 perilaku nyata komitmen tanggung jawab menjaga tradisi sekitar sesuai acuan dalam lembar refleksi.Menuliskan 2 perilaku nyata komitmen tanggung jawab menjaga tradisi sekitar sesuai acuan dalam lembar refleksi secara jelas.Menuliskan lebih dari 2 perilaku nyata komitmen tanggung jawab menjaga tradisi sekitar secara rinci, realistis, dan disertai langkah penerapannya.
Berperan aktif melestarikan tradisi melalui kegiatan nyata simulasi gelar budaya (TP 8.4.3)Tidak mengambil peran atau pasif selama pelaksanaan stan simulasi gelar tradisi budaya di kelas.Mengambil peran namun pasif dan membutuhkan dorongan berulang dari guru/teman saat simulasi berlangsung.Mengambil peran konkret secara mandiri dan aktif dalam memeragakan simulasi tradisi/kearifan lokal di stannya.Sangat aktif menjalankan peran simulasi, berinisiatif memandu pengunjung stan, dan konsisten mempraktikkan kearifan lokal hingga sesi tuntas.
Mempromosikan pelestarian tradisi dan budaya daerah untuk masyarakat global melalui media informasi (TP 8.4.4)Media informasi (poster/infografis) tidak memuat pesan ajakan pelestarian tradisi untuk ranah global sesuai acuan.Media informasi memuat nama tradisi tetapi belum memuat pesan ajakan pelestarian atau deskripsi nilai luhur secara jelas sesuai acuan.Media informasi memuat lengkap nama tradisi, pesan ajakan pelestarian global, dan deskripsi keunggulan nilai luhur sesuai acuan.Media informasi memuat seluruh acuan (nama tradisi, ajakan global, keunikan nilai luhur) dengan visualisasi yang sangat komunikatif dan pesan promosi yang persuasif.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 35 menit untuk tes tertulis dan refleksi diri serta 45 menit untuk simulasi dan gelar media promosi terlaksana secara efektif dan tertib?
  • Apakah instrumen sumatif berhasil mengukur pencapaian TP 8.4.1 hingga TP 8.4.4 secara objektif dan autentik pada seluruh murid?

Murid:

  • Bagian mana dari asesmen sumatif hari ini yang paling menunjukkan pemahaman dan komitmenmu dalam melestarikan budaya bangsa?
  • Apa tindakan nyata yang akan terus kamu lakukan di lingkungan rumah dan sekolah untuk menjaga kearifan lokal warisan leluhur?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2023, Bab 4
  2. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2023, Bab 4
  3. Set 4 pasang 'Kartu Tradisi Keluargaku'
  4. Lembar Kerja Murid (LKM) Bab 4 Pertemuan 1
  5. Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2023, Bab 4: Melestarikan Budaya Bangsaku
  6. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2023
  7. Kartu Aktivitas 'Pilah Nilai Pemersatu' (Tradisi Sambat/Gotong Royong, Batik Nusantara, Tari Saman/Kecak)
  8. Lembar Kerja Murid (LKPD) Pertemuan 2
  9. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VIII, Penerbit Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  10. Buku Teks Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VIII, Bab 4: Melestarikan Budaya Bangsa.
  11. Kartu situasi dan studi kasus interaktif 'Pelestarian Budaya di Sekolah'.
  12. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2023.
  13. Buku Panduan Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2023.
  14. Lembar Kerja/Kartu Skenario Tantangan Budaya Lokal (Gambang Semarangan, tembang dolanan, tradisi daerah sekitar).
  15. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek)
  16. Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VIII Bab 4 (Kemendikbudristek)
  17. Peralatan permainan tradisional: kapur penanda/tali (gobak sodor), congklak beserta biji kerang, bola bekel beserta biji timbal, dan egrang batok kelapa
  18. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021, Bab IV)
  19. Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021, Bab IV)
  20. Lembar Perencanaan Peran Kelompok Simulasi Budaya
  21. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek, Bab 4)
  22. Buku Panduan Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek, Bab 4)
  23. Lembar Kerja Murid: Format Rancangan Pesan Promosi Budaya Daerah Ranah Global
  24. Contoh teks promosi budaya warisan dunia Indonesia (UNESCO/Kemenparekraf)
  25. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2021).
  26. Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2021, Bab 4).
  27. Contoh grafis/poster media promosi digital warisan budaya Indonesia (Subak Bali, Tenun Ikat, dsb.).
  28. Aplikasi pengolah grafis/desain digital sederhana atau gawai/kertas gambar format digital flyer.
  29. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021/2023 Bab 4)
  30. Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021/2023 Bab 4)
  31. Lembar Soal Uraian dan Lembar Refleksi Diri Sumatif Bab 4
  32. Produk karya poster/infografis promosi budaya lokal
  33. Perlengkapan peraga simulasi kearifan lokal dan permainan tradisional kelas

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.