MODUL AJAR Pendidikan Pancasila — Kelas 7 (Fase D) Topik: Bab 4 — Keberagaman Bangsa Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Pancasila |
|---|
| Fase / Kelas | Fase D / Kelas 7 |
|---|
| Topik | Bab 4 — Keberagaman Bangsa Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika |
|---|
| Alokasi Waktu | 18 JP (18 x 40 menit = 720 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 9 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 7.4.1 Mengidentifikasi keberagaman suku bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
- TP 7.4.2 Mengidentifikasi keberagaman agama dan kepercayaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
- TP 7.4.3 Mengidentifikasi keberagaman ras dan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
- TP 7.4.4 Menunjukkan sikap menerima keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Apakah suku bangsa di Indonesia hanya ada di satu pulau saja?
- Bagaimana kita mengenali asal daerah dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia?
- Apa saja bentuk kekhasan budaya yang membedakan satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya di Indonesia?
- Bagaimana keberagaman rumah adat, pakaian adat, upacara adat, dan makanan khas memperkaya persatuan bangsa Indonesia?
- Agama dan kepercayaan apa sajakah yang diakui dan hidup berdampingan di Indonesia?
- Apa saja unsur pengenal (kitab suci, tempat ibadah, dan hari besar keagamaan) dari masing-masing agama yang diakui di Indonesia?
- Apa contoh tindakan nyata di lingkungan sekitar yang menunjukkan kerukunan antarumat beragama dan penganut kepercayaan?
- Mengapa saling menghormati saat pemeluk agama lain beribadah menjadi wujud pengamalan Bhinneka Tunggal Ika?
- Mengapa masyarakat di berbagai daerah di Indonesia memiliki ciri fisik rambut, warna kulit, dan bentuk wajah yang beragam?
- Bagaimana semboyan Bhinneka Tunggal Ika memandang keberagaman ras yang ada di Indonesia?
- Selain suku, agama, dan ras, perbedaan apa lagi yang dapat kita temukan di antara orang-orang dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari?
- Mengapa dalam masyarakat ada perbedaan profesi, tingkat pendidikan, atau kelompok organisasi sosial, dan bagaimana semboyan Bhinneka Tunggal Ika memandang perbedaan tersebut?
- Apa yang biasanya kamu lakukan jika melihat teman sekelas yang memiliki latar belakang suku atau dialek bahasa yang berbeda sedang kesulitan berbaur saat istirahat?
- Mengapa kita perlu bersikap menerima dan mau bekerja sama dengan siapa saja di sekolah tanpa memandang perbedaan latar belakang mereka?
- Apa yang akan kamu lakukan jika tetangga dekatmu yang berbeda agama atau suku sedang membutuhkan bantuan saat mengadakan hajatan atau tertimpa musibah?
- Bagaimana caramu menunjukkan sikap menghargai ketika ada warga di lingkungan tempat tinggalmu yang merayakan hari besar keagamaan atau tradisi adat mereka?
- Bagaimana pemahaman kita tentang keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan membantu menjaga keutuhan bangsa?
- Bagaimana wujud tindakan nyata kita dalam menerima keberagaman ketika bermusyawarah bersama teman yang berbeda latar belakang?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengidentifikasi Keragaman Suku Bangsa dan Asal Daerahnya di Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.1 Mengidentifikasi keberagaman suku bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi keberagaman suku bangsa dan asal daerahnya di Indonesia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berupa 3 pertanyaan pemetaan: (1) Suku Asmat berasal dari pulau mana? [Acuan: Papua]; (2) Suku Sunda berasal dari provinsi mana? [Acuan: Jawa Barat]; (3) Suku Dayak berasal dari pulau mana? [Acuan: Kalimantan] untuk memetakan kesiapan awal murid (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak tayangan infografik/peta persebaran suku bangsa Indonesia yang memuat 6 suku bangsa utama dan daerah asalnya: Suku Aceh (Aceh), Suku Batak (Sumatera Utara), Suku Baduy/Sunda (Banten/Jawa Barat), Suku Dayak (Kalimantan Tengah/Barat), Suku Bugis (Sulawesi Selatan), dan Suku Asmat (Papua) (10 menit).
- Murid mencatat daftar nama suku bangsa dan daerah asal persebarannya ke dalam tabel identifikasi di buku catatan masing-masing secara saksama (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok berpasangan untuk memainkan aktivitas permainan kartu edukatif 'Jodoh Suku & Daerah' (Make a Match). Setiap pasangan menerima 6 kartu nama suku dan 6 kartu daerah asal: (1) Suku Minangkabau -> Sumatera Barat; (2) Suku Jawa -> Jawa Tengah/Jawa Timur/DIY; (3) Suku Sasak -> Nusa Tenggara Barat; (4) Suku Toraja -> Sulawesi Selatan; (5) Suku Ambon/Alifuru -> Maluku; (6) Suku Dani -> Papua (15 menit).
- Setiap pasangan berkolaborasi mencocokkan kartu nama suku bangsa dengan kartu daerah asalnya, lalu mencatat hasil pemasangan 6 pasang suku dan daerah asal tersebut pada lembar kerja klasifikasi keberagaman suku bangsa (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid bersama guru memeriksa ketepatan hasil pemasangan kartu suku bangsa dan daerah asal sesuai kunci acuan bersama, menyadari betapa luas dan kayanya keberagaman suku bangsa yang dipersatukan oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan konfirmasi dan apresiasi atas ketepatan kerja murid dalam mengidentifikasi nama suku bangsa dan daerah asalnya (5 menit).
- Guru memandu murid menyimpulkan pembelajaran hari ini bahwa setiap suku bangsa memiliki identitas dan daerah asal masing-masing di Nusantara yang saling melengkapi dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, lalu menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu yang dilengkapi petunjuk peta pulau asal suku; murid berkemampuan cepat diberikan kartu tambahan berisi 4 suku lainnya (Suku Banjar -> Kalimantan Selatan, Suku Madura -> Jawa Timur, Suku Bali -> Bali, Suku Minahasa -> Sulawesi Utara).
- Proses: Murid yang masih kesulitan memasangkan suku dan daerah asal dipandu dengan teknik eliminasi pulau besar; murid yang mahir mencocokkan secara mandiri tanpa bantuan peta petunjuk.
- Produk: Tidak ada diferensiasi produk karena seluruh murid menyusun tabel pemetaan identifikasi suku bangsa dan asal daerahnya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan singkat 3 butir: (1) Sebutkan pulau asal suku Asmat! (Acuan: Papua); (2) Sebutkan provinsi asal suku Sunda! (Acuan: Jawa Barat); (3) Sebutkan pulau asal suku Dayak! (Acuan: Kalimantan).
Proses:- Observasi formatif saat pengerjaan tugas berpasangan: ketepatan murid mengidentifikasi dan mencocokkan 6 pasangan suku bangsa dan daerah asalnya pada permainan kartu edukatif.
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan lembar kerja pemasangan 6 kartu suku bangsa dan daerah asalnya dengan acuan: (1) Minangkabau = Sumatera Barat; (2) Jawa = Jawa Tengah/Jawa Timur/DIY; (3) Sasak = Nusa Tenggara Barat; (4) Toraja = Sulawesi Selatan; (5) Ambon/Alifuru = Maluku; (6) Dani = Papua. Kriteria tuntas: minimal 5 dari 6 pasangan dijodohkan secara tepat.
Formatif:- Pemeriksaan ketepatan lembar kerja penjodohan nama suku bangsa dan daerah asal (6 butir pasangan suku dan daerah asal).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Identifikasi Suku Bangsa dan Asal Daerahnya | Mampu mengidentifikasi 1 sampai 2 pasangan suku bangsa dan daerah asalnya secara tepat dari 6 target acuan. | Mampu mengidentifikasi 3 sampai 4 pasangan suku bangsa dan daerah asalnya secara tepat dari 6 target acuan. | Mampu mengidentifikasi 5 pasangan suku bangsa dan daerah asalnya secara tepat dari 6 target acuan. | Mampu mengidentifikasi seluruh (6) pasangan suku bangsa dan daerah asalnya secara tepat dan mandiri dari 6 target acuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan permainan kartu bantu 'Jodoh Suku & Daerah' efektif memfasilitasi murid mengidentifikasi persebaran suku bangsa di Indonesia?
- Bagaimana keterlibatan aktif dan antusiasme murid selama proses pencocokan kartu keberagaman suku bangsa berlangsung?
Murid:- Suku bangsa dan daerah asal mana saja yang baru saya kenali pada kegiatan hari ini?
- Mengapa penting bagi kita untuk mengenali keberagaman suku bangsa yang ada di Indonesia?
Pertemuan 2 — Mengidentifikasi Bentuk Kekhasan Budaya Suku Bangsa di Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.1 Mengidentifikasi keberagaman suku bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi bentuk-bentuk kekhasan budaya suku bangsa di Indonesia (rumah adat, pakaian adat, upacara adat, dan makanan khas) dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan dengan mengajukan 2 pertanyaan: (1) 'Sebutkan rumah adat dari suku Minangkabau (Sumatra Barat)!' (acuan jawaban benar: Rumah Gadang); (2) 'Sebutkan upacara adat pembakaran jenazah dari suku Bali!' (acuan jawaban benar: Ngaben) untuk memetakan kesiapan awal murid (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak tayangan gambar atau tabel kekhasan budaya suku bangsa nusantara yang mencakup 4 aspek kekhasan: rumah adat, pakaian daerah, upacara adat, dan makanan khas (10 menit).
- Guru memberikan penguatan materi dengan membedah 4 contoh suku bangsa dan kekhasan budayanya: (1) Suku Batak (Sumatra Utara: Rumah Bolon, Ulos, Manggokal Holi, Natinombur); (2) Suku Minangkabau (Sumatra Barat: Rumah Gadang, Limpapeh Rumah Nan Gadang, Tabuik, Rendang); (3) Suku Sunda (Jawa Barat: Rumah Badak Heuay, Kebaya Sunda/Iket Sunda, Seren Taun, Colenak); (4) Suku Bali (Bali: Bale Gede, Payas Agung, Ngaben, Ayam Betutu) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok berpasangan untuk memainkan permainan pencocokan kartu 'Make a Match Kekhasan Budaya' yang menyenangkan, di mana setiap pasangan menerima 4 set kartu berisi nama suku dan kartu kekhasan budayanya: (1) Suku Aceh -> Rumah Adat: Rumoh Aceh, Pakaian: Ulee Balang, Upacara: Uroe Tulak Bala, Makanan: Sie Reuboh; (2) Suku Jawa Timur -> Rumah Adat: Joglo, Pakaian: Jebeng dan Thulik, Upacara: Ruwatan, Makanan: Rawon; (3) Suku Minangkabau -> Rumah Adat: Rumah Gadang, Pakaian: Limpapeh, Upacara: Tabuik, Makanan: Rendang; (4) Suku Sunda -> Rumah Adat: Badak Heuay, Pakaian: Kebaya Sunda, Upacara: Seren Taun, Makanan: Colenak (10 menit).
- Secara mandiri, setiap murid mengerjakan Lembar Kerja Identifikasi Kekhasan Budaya berisi tabel untuk mengidentifikasi 4 aspek kekhasan budaya (rumah adat, pakaian daerah, upacara adat, makanan khas) pada 3 suku bangsa target: Suku Batak, Suku Bali, dan Suku Aceh (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru bersama murid memeriksa hasil isian tabel identifikasi kekhasan budaya, mengklarifikasi jika ada pasangan unsur budaya yang keliru, dan mengaitkan kekayaan budaya ini sebagai kekayaan bersama bangsa Indonesia dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika (10 menit).
- Murid secara berkesadaran merenungkan keberagaman kekhasan budaya di Indonesia dan menyampaikan satu hal penting tentang bagaimana menghargai kekhasan budaya daerah lain saat berada di lingkungan pergaulan (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini mengenai 4 aspek kekhasan budaya suku bangsa di Indonesia (rumah adat, pakaian adat, upacara adat, dan makanan khas) (5 menit).
- Guru melakukan asesmen akhir singkat melalui 2 butir kuis pengecekan pemahaman mandiri tertulis/lisan (acuan: Ulos berasal dari Sumatra Utara/Batak; Ayam Betutu berasal dari Bali) dan menginformasikan topik pertemuan berikutnya yaitu mengidentifikasi keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia, lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu petunjuk berupa gambar visual kekhasan daerah, sedangkan murid yang cepat diberikan daftar nama suku yang lebih beragam untuk dicocokkan.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dipasangkan dengan rekan sejawat atau dibimbing langsung oleh guru pada saat latihan mencocokkan kartu, sedangkan murid mahir mengidentifikasi secara mandiri tanpa kartu petunjuk.
- Produk: Murid yang memerlukan bimbingan cukup mengisi 2 dari 4 aspek kekhasan budaya per suku bangsa, sedangkan murid mahir melengkapi seluruh 4 aspek untuk ketiga suku bangsa target secara lengkap.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat di awal pelajaran dengan 2 pertanyaan pengukur kesiapan: (1) 'Apakah nama rumah adat Minangkabau?' (acuan: Rumah Gadang); (2) 'Apakah nama upacara adat pembakaran jenazah di Bali?' (acuan: Ngaben).
Proses:- Pengamatan keterlibatan dan ketepatan murid dalam mencocokkan 4 set kartu 'Make a Match Kekhasan Budaya' dengan acuan pasangan: (1) Aceh: Rumoh Aceh, Ulee Balang, Uroe Tulak Bala, Sie Reuboh; (2) Jawa Timur: Joglo, Jebeng dan Thulik, Ruwatan, Rawon; (3) Minangkabau: Rumah Gadang, Limpapeh, Tabuik, Rendang; (4) Sunda: Badak Heuay, Kebaya Sunda, Seren Taun, Colenak.
- Pemeriksaan Lembar Kerja Identifikasi Kekhasan Budaya untuk 3 suku bangsa target dengan acuan jawaban: (1) Suku Batak: Rumah Bolon, Ulos, Manggokal Holi, Natinombur; (2) Suku Bali: Bale Gede, Payas Agung, Ngaben, Ayam Betutu; (3) Suku Aceh: Rumoh Aceh, Ulee Balang, Uroe Tulak Bala, Sie Reuboh.
Akhir Pertemuan:- Kuis singkat pengecekan pemahaman di akhir sesi berupa 2 butir pertanyaan identifikasi cepat: (1) 'Pakaian daerah Ulos dan makanan khas Natinombur merupakan kekhasan budaya dari suku mana?' (acuan: Suku Batak / Sumatra Utara); (2) 'Sebutkan rumah adat dan makanan khas dari suku Bali!' (acuan: Bale Gede dan Ayam Betutu).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di pendahuluan untuk memetakan kesiapan murid mengenai nama rumah adat dan upacara adat daerah.
- Observasi unjuk kerja saat permainan memasangkan kartu 'Make a Match Kekhasan Budaya'.
- Penilaian Lembar Kerja Identifikasi Kekhasan Budaya (tabel rumah adat, pakaian daerah, upacara adat, makanan khas).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengidentifikasi bentuk kekhasan budaya suku bangsa (rumah adat, pakaian adat, upacara adat, makanan khas) | Hanya mampu mengidentifikasi 1 sampai 3 unsur kekhasan budaya dengan tepat dari total 12 unsur pada 3 suku bangsa target (Suku Batak, Bali, dan Aceh) dengan bantuan guru secara penuh. | Mampu mengidentifikasi 4 sampai 7 unsur kekhasan budaya dengan tepat dari total 12 unsur pada 3 suku bangsa target (Suku Batak, Bali, dan Aceh) dengan sedikit bantuan guru. | Mampu mengidentifikasi 8 sampai 11 unsur kekhasan budaya dengan tepat dari total 12 unsur pada 3 suku bangsa target (Suku Batak: Rumah Bolon, Ulos, Manggokal Holi, Natinombur; Suku Bali: Bale Gede, Payas Agung, Ngaben, Ayam Betutu; Suku Aceh: Rumoh Aceh, Ulee Balang, Uroe Tulak Bala, Sie Reuboh) secara mandiri. | Mampu mengidentifikasi seluruh 12 unsur kekhasan budaya dengan tepat dan lengkap pada ketiga suku bangsa target (Suku Batak, Bali, dan Aceh) secara mandiri tanpa kesalahan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan memasangkan kartu efektif membantu murid mengidentifikasi kekhasan budaya suku bangsa?
- Apakah alokasi waktu 80 menit cukup bagi seluruh murid untuk menyelesaikan tabel identifikasi kekhasan budaya?
- Bagian materi kekhasan budaya mana yang masih sering tertukar oleh murid?
Murid:- Bentuk kekhasan budaya suku bangsa mana yang paling menarik dan baru kamu ketahui hari ini?
- Apakah kamu dapat membedakan antara rumah adat, pakaian daerah, upacara adat, dan makanan khas dengan mudah?
- Mengapa kita harus bangga terhadap keberagaman kekhasan budaya suku bangsa di Indonesia?
Pertemuan 3 — Mengidentifikasi Keberagaman Agama dan Kepercayaan yang Diakui di Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.2 Mengidentifikasi keberagaman agama dan kepercayaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar dan kebersihan ruang kelas, serta mengajak murid berdoa sesuai keyakinan masing-masing (5 menit).
- Guru memberikan apersepsi dan pertanyaan pemantik mengenai keragaman tempat ibadah yang biasa dijumpai murid di lingkungan sekitar (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini yaitu mengidentifikasi keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia beserta unsur tempat ibadah, kitab suci, dan hari besarnya, lalu melakukan diagnostik awal singkat (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid mencermati bagan informasi mengenai 6 agama resmi di Indonesia (Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu) dan keberadaan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa beserta unsur identitasnya masing-masing: nama kitab suci, rumah ibadah, dan hari raya keagamaan (15 menit).
- Secara berpasangan, murid memainkan tantangan kuis cepat 'Tebak Identitas Agama' secara bergantian dengan mencocokkan kartu nama agama dan kartu unsur yang dibagikan guru (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid bekerja dalam kelompok kecil untuk melengkapi Tabel Analisis Identifikasi Keberagaman Agama di Lembar Kerja dengan mengidentifikasi 6 agama resmi dan penghayat kepercayaan beserta 3 unsur utama (tempat ibadah, kitab suci, hari besar). Acuan kunci jawaban: (1) Islam: Masjid, Al-Qur'an, Idulfitri/Iduladha; (2) Kristen Protestan: Gereja, Alkitab, Natal/Paskah; (3) Kristen Katolik: Gereja, Alkitab, Natal/Paskah; (4) Hindu: Pura, Weda, Nyepi; (5) Buddha: Vihara, Tripitaka, Waisak; (6) Khonghucu: Klenteng/Litang, Shishu Wujing, Tahun Baru Imlek; serta (7) Kepercayaan terhadap Tuhan YME: Sanggar Candi Busana/Sasana Sarasehan, buku pedoman ajaran/buku himpunan ajaran budi pekerti, peringatan hari besar paguyuban (15 menit).
- Perwakilan kelompok menempelkan lembar hasil identifikasi di papan pajang kelas untuk saling diperiksa kesesuaian isinya dengan panduan acuan guru (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara mandiri memeriksa kembali kelengkapan hasil identifikasinya dan mencatat satu hal baru yang paling berkesan tentang kekayaan keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali poin-poin identifikasi 6 agama resmi dan penghayat kepercayaan di Indonesia beserta kelengkapan tempat ibadah, kitab suci, dan hari besarnya (5 menit).
- Guru memberikan penguatan materi, menginformasikan topik pertemuan berikutnya mengenai wujud kerukunan antarumat beragama, dan menutup pembelajaran dengan doa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan visual berisi pasangan gambar rumah ibadah dan nama agama, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan kartu studi kasus variasi sebutan hari besar keagamaan.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu langsung oleh guru dalam kelompok terfokus untuk memasangkan unsur agama secara bertahap.
- Produk: Murid dapat melengkapi tabel menggunakan format tabel terstruktur atau peta konsep visual bergambar.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat: Guru menyebutkan 3 nama hari raya keagamaan (Idulfitri, Natal, Nyepi), murid diminta mengidentifikasi agama yang merayakannya. Acuan jawaban benar: Idulfitri = Islam; Natal = Kristen Protestan/Katolik; Nyepi = Hindu.
Proses:- Cek ketepatan pengerjaan Tabel Analisis Identifikasi Keberagaman Agama dan Kepercayaan saat kegiatan inti. Acuan jawaban benar: (1) Islam: Masjid, Al-Qur'an, Idulfitri/Iduladha; (2) Kristen Protestan: Gereja, Alkitab, Natal/Paskah; (3) Kristen Katolik: Gereja, Alkitab, Natal/Paskah; (4) Hindu: Pura, Weda, Nyepi; (5) Buddha: Vihara, Tripitaka, Waisak; (6) Khonghucu: Klenteng/Litang, Shishu Wujing, Tahun Baru Imlek; (7) Penghayat Kepercayaan: Sanggar Candi Busana/Sasana Sarasehan, buku pedoman himpunan ajaran budi pekerti, peringatan hari besar paguyuban.
Akhir Pertemuan:- Kuis cek pemahaman tertulis singkat (3 butir): (1) Sebutkan kitab suci dan tempat ibadah agama Buddha! (Acuan: Tripitaka dan Vihara); (2) Sebutkan hari besar dan kitab suci agama Khonghucu! (Acuan: Tahun Baru Imlek dan Shishu Wujing); (3) Sebutkan sebutan tempat peribadatan/sarasehan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME! (Acuan: Sanggar Candi Busana atau Sasana Sarasehan).
Formatif:- Penilaian kinerja pengerjaan Tabel Analisis Identifikasi Keberagaman Agama dan Kepercayaan (observasi dan cek kebenaran isian tabel identifikasi)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Mengidentifikasi Unsur Agama dan Kepercayaan (Tempat Ibadah, Kitab Suci, Hari Besar) | Mengidentifikasi dengan tepat kurang dari 3 pasang identitas agama/kepercayaan beserta unsur-unsurnya sesuai acuan kunci jawaban. | Mengidentifikasi dengan tepat 3 sampai 4 pasang identitas agama/kepercayaan beserta unsur-unsurnya sesuai acuan kunci jawaban. | Mengidentifikasi dengan tepat 5 sampai 6 pasang identitas agama/kepercayaan beserta unsur-unsurnya sesuai acuan kunci jawaban. | Mengidentifikasi dengan tepat seluruh (7 pasang) identitas agama (6 agama resmi) dan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME beserta seluruh unsurnya secara lengkap dan mandiri sesuai acuan kunci jawaban. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid dapat mengidentifikasi 6 agama resmi dan penghayat kepercayaan beserta unsur-unsurnya secara tepat?
- Bagian mana dari aktivitas permainan tebak identitas yang paling efektif membantu murid memahami materi?
Murid:- Apakah kamu dapat mengenali nama tempat ibadah, kitab suci, dan hari raya dari masing-masing agama di Indonesia?
- Hal baru apa yang paling menarik yang kamu pelajari tentang keberagaman agama dan kepercayaan hari ini?
Pertemuan 4 — Mengidentifikasi Wujud Kerukunan Antarumat Beragama dan Kepercayaan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.2 Mengidentifikasi keberagaman agama dan kepercayaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memfasilitasi doa bersama, memeriksa presensi, serta kesiapan fisik dan psikis murid (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat: murid menyimak 2 pernyataan singkat guru lalu mengidentifikasi mana yang mencerminkan kerukunan: (1) 'Menjaga ketenangan saat tetangga sedang melaksanakan ibadah di rumahnya', (2) 'Memaksa teman mengikuti cara berdoa agama kita' (acuan jawaban: pernyataan 1 = wujud kerukunan; pernyataan 2 = bukan wujud kerukunan) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, materi pokok mengenai wujud kerukunan antarumat beragama dan penghayat kepercayaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, serta alur kegiatan yang akan dilakukan (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membaca teks studi kasus singkat pada lembar materi mengenai 4 wujud nyata kerukunan: (1) Menjaga keamanan dan ketertiban area parkir bersama saat perayaan hari besar keagamaan, (2) Memberikan ucapan selamat hari raya secara santun kepada tetangga yang merayakan, (3) Gotong royong membersihkan selokan kampung bersama warga lintas agama dan penghayat kepercayaan, (4) Menghormati teman yang sedang menjalankan ibadah puasa dengan tidak makan/minum sengaja di depannya (10 menit).
- Murid mengidentifikasi 4 bentuk tindakan kerukunan tersebut dengan menandai kategori lingkupnya (lingkungan sekolah atau masyarakat) berdasarkan teks acuan (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan tantangan kuis 'Cek Fakta Kerukunan' secara mandiri dan berpasangan: murid menerima 4 kartu situasi berikut: Kartu A: 'Warga lintas agama membantu mengatur lalu lintas di depan tempat ibadah yang sedang menggelar hari raya'; Kartu B: 'Menolak kerja bakti desa karena ketua RT berbeda kepercayaan'; Kartu C: 'Siswa mempersilakan teman berbeda agama menunaikan salat/doa tepat waktu sebelum belajar kelompok'; Kartu D: 'Mengejek tata cara upacara ritual pemeluk agama lain di media sosial' (15 menit).
- Murid mengidentifikasi dan mengelompokkan keempat kartu tersebut ke dalam dua kolom: 'Wujud Kerukunan' dan 'Bukan Wujud Kerukunan' pada lembar kerja (acuan: Kartu A dan C = Wujud Kerukunan; Kartu B dan D = Bukan Wujud Kerukunan) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa ketepatan hasil pengelompokan bersama guru serta mencocokkan alasannya sesuai nilai Bhinneka Tunggal Ika (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid merangkum 4 wujud kerukunan antarumat beragama dan kepercayaan yang telah diidentifikasi (5 menit).
- Guru memberikan cek pemahaman akhir dan menutup sesi dengan doa bersama serta salam tanpa menutup keseluruhan bab karena materi bab berlanjut ke pertemuan berikutnya (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan teks situasi bergambar konkret, sedangkan murid mahir diberikan kartu situasi dengan konteks dinamika sosial masyarakat yang lebih luas.
- Proses: Murid yang membutuhkan perancah dipandu langsung dengan contoh tindakan sederhana, sementara murid mahir mengidentifikasi kartu situasi secara mandiri.
- Produk: Semua murid mengisi lembar kerja identifikasi wujud kerukunan; murid mahir menambahkan identifikasi dampak positif dari tiap tindakan rukun tersebut.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Guru mengajukan 2 pernyataan diagnostik: (1) 'Menjaga ketenangan saat tetangga sedang melaksanakan ibadah di rumahnya', (2) 'Memaksa teman mengikuti cara berdoa agama kita'. Murid mengidentifikasi wujud kerukunan (acuan benar: butir 1 adalah wujud kerukunan, butir 2 bukan wujud kerukunan).
Proses:- Pengamatan dan penilaian lembar kerja pengelompokan 4 kartu situasi: Kartu A: 'Warga lintas agama membantu mengatur lalu lintas di depan tempat ibadah yang menggelar hari raya'; Kartu B: 'Menolak kerja bakti desa karena ketua RT berbeda kepercayaan'; Kartu C: 'Siswa mempersilakan teman berbeda agama menunaikan salat/doa tepat waktu sebelum belajar kelompok'; Kartu D: 'Mengejek tata cara upacara ritual pemeluk agama lain di media sosial' (acuan kunci: Kartu A dan C = Wujud Kerukunan; Kartu B dan D = Bukan Wujud Kerukunan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: murid menjawab secara tertulis 1 contoh tindakan rukun di sekolah terhadap teman berbeda agama/kepercayaan (kriteria penerimaan operasional: tindakan memuat sikap menghormati hak beribadah, berteman tanpa membeda-bedakan keyakinan, atau menjaga ketenangan saat ibadah berlangsung).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan pada pendahuluan
- Penilaian lembar kerja kuis 'Cek Fakta Kerukunan' (mengelompokkan 4 kartu situasi)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengidentifikasi wujud kerukunan antarumat beragama dan kepercayaan (dari 4 kartu situasi: Kartu A, B, C, D) | Mengidentifikasi dengan tepat maksimal 1 dari 4 kartu situasi sesuai acuan. | Mengidentifikasi dengan tepat 2 dari 4 kartu situasi sesuai acuan. | Mengidentifikasi dengan tepat 3 dari 4 kartu situasi sesuai acuan. | Mengidentifikasi dengan tepat seluruhnya (4 dari 4) kartu situasi sesuai acuan (A dan C = Wujud Kerukunan; B dan D = Bukan Wujud Kerukunan) secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan kartu situasi efektif membantu murid mengidentifikasi wujud nyata kerukunan beragama?
- Bagaimana keterlibatan murid selama proses pengelompokan situasi dan pemaknaan Bhinneka Tunggal Ika?
Murid:- Contoh wujud kerukunan mana yang paling mudah kamu terapkan di sekolah sehari-hari?
- Mengapa penting bagi kita untuk tetap rukun meskipun memiliki teman yang berbeda agama atau kepercayaan?
Pertemuan 5 — Mengidentifikasi Keberagaman Ras dan Persebarannya di Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.3 Mengidentifikasi keberagaman ras dan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kesiapan belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi jenis-jenis ras dan wilayah persebarannya di Indonesia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan singkat untuk memetakan pemahaman dasar mengenai ras di Indonesia: (1) 'Apa kelompok ras utama yang banyak tinggal di wilayah timur Indonesia seperti Papua dan Maluku?' (acuan: ras Melanesoid), dan (2) 'Apa kelompok ras utama yang banyak mendiami wilayah Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan?' (acuan: ras Malayan-Mongoloid) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak ulasan pengantar dan membaca teks ringkas tentang 4 kelompok ras di Indonesia: Malayan-Mongoloid, Melanesoid, Asiatic Mongoloid, dan Kaukasoid/keturunan lain, beserta wilayah persebarannya (10 menit).
- Guru memberikan penegasan konsep esensial berkesadaran bahwa keberagaman ciri fisik adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa dan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika seluruh ras memiliki kedudukan setara tanpa perbedaan kualitas martabat (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid secara berpasangan memainkan aktivitas tantangan menggembirakan 'Tebak Kartu Cepat Keberagaman Ras', yaitu mencocokkan 4 kartu nama ras dengan ciri fisik dan kartu wilayah persebaran utamanya (12 menit).
- Murid secara mandiri menyelesaikan Lembar Kerja 'Pemetaan Ras Nusantara' yang berisi tugas mengidentifikasi 4 kelompok ras berdasarkan ciri fisik dan persebaran wilayahnya sesuai acuan materi: (1) Kulit sawo matang/kuning langsat, rambut lurus/bergelombang, wilayah Sumatra, Jawa, Bali, NTB, Kalimantan, Sulawesi -> Malayan-Mongoloid; (2) Rambut keriting/ikal tebal, kulit gelap/hitam, bibir relatif tebal, wilayah Papua, Maluku, NTT -> Melanesoid; (3) Kulit kuning/terang, mata sipit, rambut lurus, keturunan Tionghoa/Jepang/Korea yang tersebar di perkotaan -> Asiatic Mongoloid; (4) Hidung mancung, tubuh relatif tinggi, keturunan Arab/India/Eropa yang menetap di Nusantara -> Kaukasoid/campuran Timur Tengah dan Eropa (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru memeriksa hasil lembar kerja dengan mengonfirmasi ketepatan pasangan 4 jenis ras dan wilayah persebarannya sesuai kunci acuan (10 menit).
- Murid mengidentifikasi kembali makna persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika terhadap fakta keberagaman fisik bahwa tidak ada satu ras yang lebih unggul dibandingkan ras lainnya (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid merumuskan simpulan pembelajaran tentang 4 kelompok ras dan wilayah persebarannya di Indonesia (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen akhir berupa cek pemahaman tertulis singkat (2 soal cepat) untuk mengonfirmasi ketercapaian identifikasi ras (5 menit).
- Guru memberikan tindak lanjut pembelajaran pertemuan berikutnya mengenai keberagaman antargolongan dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan bergambar ciri fisik dan peta pulau Indonesia, sedangkan murid cepat langsung mengerjakan lembar identifikasi berbasis deskripsi teks murni.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibantu guru melalui penandaan kata kunci pulau pada peta, sedangkan murid mahir mengidentifikasi persebaran ras secara mandiri penuh.
- Produk: Semua murid menghasilkan lembar kerja pemetaan 4 ras yang sama, dengan variasi tingkat kemandirian dalam pengerjaan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: (1) Sebutkan kelompok ras dominan di wilayah timur Indonesia (Papua/Maluku)? (Acuan jawaban benar: Melanesoid); (2) Sebutkan kelompok ras dominan di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali? (Acuan jawaban benar: Malayan-Mongoloid).
Proses:- Pemeriksaan Lembar Kerja 'Pemetaan Ras Nusantara' yang menilai ketepatan identifikasi 4 ras dan persebarannya. Acuan kunci: (1) Ciri kulit sawo matang, rambut lurus/bergelombang, wilayah Sumatra/Jawa/Bali/Kalimantan/Sulawesi/NTB = Malayan-Mongoloid; (2) Ciri rambut keriting/ikal, kulit hitam/gelap, wilayah Papua/Maluku/NTT = Melanesoid; (3) Ciri kulit terang/kuning, mata sipit, keturunan Asia Timur = Asiatic Mongoloid; (4) Ciri hidung mancung, perawakan tinggi, keturunan Timur Tengah/India/Eropa = Kaukasoid.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman 2 butir soal pada penutup: (1) 'Penduduk asli di wilayah Papua dan Kepulauan Maluku dominan tergolong ke dalam ras apa?' (Acuan: Melanesoid); (2) 'Sebutkan 2 wilayah di Indonesia yang mayoritas penduduk aslinya tergolong ras Malayan-Mongoloid!' (Acuan: dua dari Sumatra, Jawa, Bali, NTB, Kalimantan, Sulawesi).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal lisan tentang kelompok ras dominan di Indonesia barat dan timur.
- Observasi unjuk kerja dan ketepatan penyelesaian Lembar Kerja 'Pemetaan Ras Nusantara' selama tahap aplikasi.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Identifikasi Jenis Ras dan Ciri Fisiknya di Indonesia | Tepat mengidentifikasi kurang dari 2 dari 4 jenis ras beserta ciri fisiknya sesuai acuan materi. | Tepat mengidentifikasi 2 dari 4 jenis ras beserta ciri fisiknya sesuai acuan materi (Malayan-Mongoloid, Melanesoid, Asiatic Mongoloid, Kaukasoid) dengan bimbingan. | Tepat mengidentifikasi 3 dari 4 jenis ras beserta ciri fisiknya sesuai acuan materi secara mandiri. | Tepat mengidentifikasi seluruh 4 jenis ras beserta ciri fisiknya (Malayan-Mongoloid, Melanesoid, Asiatic Mongoloid, Kaukasoid) secara lengkap dan mandiri. | | Identifikasi Wilayah Persebaran Ras di Indonesia | Tepat memetakan persebaran wilayah untuk kurang dari 2 kelompok ras di Indonesia sesuai acuan materi. | Tepat memetakan persebaran wilayah untuk 2 kelompok ras di Indonesia (Melanesoid di timur; Malayan-Mongoloid di barat/tengah) dengan bimbingan guru. | Tepat memetakan persebaran wilayah untuk 3 kelompok ras di Indonesia secara mandiri sesuai acuan materi. | Tepat memetakan persebaran wilayah untuk seluruh 4 kelompok ras di Indonesia (Malayan-Mongoloid, Melanesoid, Asiatic Mongoloid, Kaukasoid) secara lengkap dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan kartu ciri fisik dan persebaran ras berhasil memotivasi murid memahami materi secara bermakna dan menggembirakan?
- Bagaimana ketercapaian murid dalam membedakan ras Malayan-Mongoloid dan Melanesoid secara objektif tanpa memunculkan stereotip diskriminatif?
Murid:- Informasi baru apa yang kamu dapatkan tentang ragam ras penduduk di berbagai pulau di Indonesia?
- Mengapa semboyan Bhinneka Tunggal Ika sangat penting dalam memandang perbedaan fisik antar-ras di sekitar kita?
Pertemuan 6 — Mengidentifikasi Keberagaman Antargolongan dalam Kehidupan Bermasyarakat dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.3 Mengidentifikasi keberagaman ras dan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam pembuka, menyapa murid, memeriksa kehadiran, serta memastikan kesiapan ruang belajar yang tertib (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yakni mengidentifikasi bentuk-bentuk keberagaman antargolongan dalam kehidupan bermasyarakat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 1 pertanyaan pemetaan: 'Sebutkan 2 contoh kelompok atau perkumpulan orang di masyarakat berdasarkan bidang kegiatan atau profesinya!' (acuan jawaban benar: menyebutkan profesi seperti kelompok petani, asosiasi guru/PGRI, ikatan dokter/IDI, kelompok buruh, perhimpunan pedagang pasar, atau karang taruna) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membaca teks narasi singkat pada buku siswa mengenai kondisi sosial masyarakat yang memuat 4 bentuk keberagaman antargolongan, yaitu: (1) antargolongan profesi/mata pencaharian (misal: nelayan, perajin, dokter), (2) antargolongan tingkat pendidikan (misal: lulusan SD, SMP, SMA, perguruan tinggi), (3) antargolongan ekonomi (misal: kelompok pendapatan bawah, menengah, atas), dan (4) antargolongan organisasi kemasyarakatan/sosial (misal: perkumpulan pemuda karang taruna, yayasan sosial) (10 menit).
- Guru memandu tanya jawab terarah berkesadaran untuk menegaskan bahwa perbedaan antargolongan bukanlah pembatas hak warga negara, melainkan kenyataan sosial yang saling melengkapi dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid secara berpasangan mengikuti aktivitas kuis tantangan menjodohkan 4 kartu skenario profil warga ke dalam kategori keberagaman antargolongan yang tepat pada lembar kerja (15 menit). Rincian 4 kartu skenario: (1) 'Pak Joko tergabung dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia untuk memajukan hasil panen padi' -> kategori Antargolongan Profesi/Pekerjaan; (2) 'Bu Rina menjadi pengurus Yayasan Peduli Anak Yatim di desanya' -> kategori Antargolongan Organisasi Sosial; (3) 'Keluarga Pak Herman membuka usaha toko kelontong di lingkungan perumahan' -> kategori Antargolongan Ekonomi/Usaha; (4) 'Ibu Santi mengajar program keaksaraan bagi warga yang belum sempat menamatkan sekolah dasar' -> kategori Antargolongan Pendidikan (acuan: pasangan 1-profesi, 2-organisasi sosial, 3-ekonomi, 4-pendidikan).
- Murid secara mandiri menyelesaikan latihan mengidentifikasi bentuk keberagaman antargolongan dengan mengisi tabel klasifikasi berisi 4 contoh kelompok warga di sekitar lingkungan tempat tinggal: (1) Koperasi Nelayan Mandiri, (2) Komunitas Relawan Donor Darah, (3) Ikatan Sarjana Pendidikan, (4) Pedagang Kaki Lima, ke dalam kolom dimensi antargolongan yang sesuai (acuan kunci: 1 = profesi/ekonomi, 2 = organisasi sosial/kemasyarakatan, 3 = pendidikan/profesi, 4 = ekonomi/profesi) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan hasil klasifikasi lembar kerja dengan acuan kunci, kemudian murid menandai sendiri berapa kategori yang berhasil diidentifikasi secara tepat (10 menit).
- Murid menuliskan refleksi satu kalimat tentang alasan mengapa antargolongan yang berbeda-beda justru saling membutuhkan di masyarakat (acuan penerimaan: memuat gagasan saling melengkapi peran, saling membutuhkan barang/jasa, atau menjaga kebersamaan) (5 menit).
Penutup:- Guru memandu murid merumuskan simpulan bahwa keberagaman antargolongan (pekerjaan, pendidikan, ekonomi, dan organisasi sosial) merupakan keragaman horizontal dan vertikal yang dipersatukan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas ketepatan klasifikasi murid, menyampaikan informasi topik pertemuan berikutnya (menunjukkan sikap menerima keberagaman di sekolah), serta menutup sesi dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja dengan petunjuk kata kunci (misal: kata 'nelayan/tani' mengarah ke profesi, kata 'sarjana/sekolah' mengarah ke pendidikan), sedangkan murid yang cepat diberikan 2 skenario studi kasus antargolongan tambahan (asosiasi perawat dan dewan kelurahan).
- Proses: Murid dengan kesiapan belajar awal rendah didampingi guru dengan bimbingan bertahap saat mengelompokkan kartu, sedangkan murid siap dapat bekerja mandiri dalam menuntaskan identifikasi tabel.
- Produk: Semua murid mengisi lembar identifikasi klasifikasi antargolongan dengan kriteria ketercapaian yang sama.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan singkat: 'Sebutkan 2 contoh kelompok atau perkumpulan warga di masyarakat berdasarkan profesi atau kegiatannya!' (acuan jawaban: kelompok tani, koperasi pedagang, persatuan guru/dokter, buruh pabrik, atau karang taruna).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengerjaan LKPD menjodohkan 4 kartu skenario antargolongan: (1) Pak Joko (tani) -> profesi; (2) Bu Rina (yayasan sosial) -> organisasi sosial; (3) Pak Herman (toko kelontong) -> ekonomi; (4) Ibu Santi (keaksaraan dasar) -> pendidikan.
- Pemeriksaan ketepatan pengisian tabel klasifikasi 4 kelompok warga: (1) Koperasi Nelayan Mandiri -> profesi/ekonomi; (2) Komunitas Relawan Donor Darah -> organisasi sosial; (3) Ikatan Sarjana Pendidikan -> pendidikan/profesi; (4) Pedagang Kaki Lima -> ekonomi/profesi.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman singkat tertulis 2 butir: (1) Tuliskan 3 dimensi/bentuk keberagaman antargolongan yang ada dalam masyarakat (acuan kunci: profesi/pekerjaan, pendidikan, status ekonomi, organisasi kemasyarakatan); (2) Tentukan kategori antargolongan dari 'Perkumpulan Pengemudi Angkutan Kota' (acuan kunci: antargolongan profesi/mata pencaharian atau ekonomi).
Formatif:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran tentang contoh kelompok/perkumpulan di masyarakat.
- Penilaian kinerja klasifikasi pada pengerjaan LKPD menjodohkan 4 kartu skenario profil dan pengisian tabel 4 contoh kelompok masyarakat ke dalam kategori antargolongan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengidentifikasi keberagaman antargolongan dalam kehidupan bermasyarakat | Mampu mengidentifikasi keberagaman antargolongan paling banyak 1 dari 4 skenario kelompok masyarakat dengan tepat. | Mampu mengidentifikasi keberagaman antargolongan sebanyak 2 dari 4 skenario kelompok masyarakat dengan tepat. | Mampu mengidentifikasi keberagaman antargolongan sebanyak 3 dari 4 skenario kelompok masyarakat dengan tepat. | Mampu mengidentifikasi keberagaman antargolongan pada seluruh 4 skenario kelompok masyarakat dengan tepat secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran menjodohkan skenario profil membantu murid memahami konsep keberagaman antargolongan secara konkret?
- Bagian mana dari klasifikasi antargolongan (profesi, pendidikan, ekonomi, atau organisasi) yang masih membingungkan bagi murid?
Murid:- Bentuk keberagaman antargolongan apa saja yang berhasil saya kenali dan temukan di lingkungan sekitar saya hari ini?
- Mengapa perbedaan profesi dan peran sosial di antara orang-orang di sekitar kita penting untuk saling melengkapi?
Pertemuan 7 — Menunjukkan Sikap Menerima Keberagaman di Lingkungan Sekolah — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.4 Menunjukkan sikap menerima keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan berdoa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan sikap menerima keberagaman di lingkungan sekolah (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan 3 pernyataan sikap: (1) Menolak teman yang berbeda logat masuk kelompok belajar; (2) Mempersilakan teman berbeda agama menjalankan ibadahnya saat kerja kelompok; (3) Mau berteman akrab dengan siapa saja tanpa membedakan suku asal. Murid mengangkat kartu jempol hijau (sikap menerima) atau merah (bukan sikap menerima) (acuan ketepatan: pernyataan 1 = bukan sikap menerima; pernyataan 2 = sikap menerima; pernyataan 3 = sikap menerima) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membaca teks studi kasus singkat pada LKPD tentang dinamika keberagaman siswa di SMP Nusantara (keberagaman suku Jawa, Minang, Papua, dan Sunda serta keberagaman agama di sekolah) dan menyimak penjelasan guru mengenai bentuk konkret sikap menerima keberagaman di sekolah (menghormati teman yang sedang beribadah, tidak mengejek logat atau ciri fisik, dan adil dalam pembagian kelompok belajar) (10 menit).
- Murid secara berpasangan menandai dan menyebutkan 3 wujud nyata sikap menerima keberagaman dari contoh kasus yang dibaca (acuan: menghargai perbedaan logat bahasa daerah, mengajak teman dari latar belakang berbeda duduk bersama, dan bertoleransi saat jam ibadah) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid membentuk kelompok beranggotakan 4 orang untuk menyelesaikan tantangan kartu simulasi respons: 'Tantangan Sikap Inklusif di Sekolah' yang menyenangkan (5 menit).
- Setiap kelompok menerima 4 skenario situasi sekolah dan menentukan sikap menerima yang tepat untuk setiap situasi: Skenario 1: Seorang murid baru dari daerah lain diejek logat bicaranya oleh teman lain (acuan tindakan: menegur pengejek atau mengajak murid baru berbicara dengan ramah); Skenario 2: Pembagian kelompok tugas piket kelas, ada teman yang berbeda suku yang dihindari (acuan tindakan: mengajak teman tersebut masuk ke kelompok piket secara terbuka); Skenario 3: Teman sekelas sedang berpuasa saat jam istirahat makan siang (acuan tindakan: tidak makan/minum di depan wajahnya dan menghormati ibadahnya); Skenario 4: Pemilihan ketua kelas, ada calon yang berasal dari kelompok minoritas agama (acuan tindakan: memilih berdasarkan kemampuan dan integritas, bukan latar belakang agamanya) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Perwakilan kelompok membacakan pilihan sikap menerima yang telah diputuskan untuk masing-masing skenario, dan guru memberikan konfirmasi penguatan terhadap ketepatan pilihan sikap tersebut (10 menit).
- Murid secara mandiri menuliskan 1 komitmen tindakan nyata sikap menerima keberagaman yang akan langsung ia praktikkan di lingkungan sekolah pada selembar kertas memo (acuan kelayakan: memuat tindakan positif yang inklusif/menghargai teman berbeda latar belakang di sekolah) (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran tentang pentingnya menunjukkan sikap menerima keberagaman di lingkungan sekolah demi terciptanya harmoni Bhinneka Tunggal Ika (3 menit).
- Guru memberikan tindak lanjut singkat untuk pertemuan berikutnya (menerima keberagaman di masyarakat sekitar) serta menutup sesi dengan salam dan doa (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu skenario kasus bergambar untuk kelompok yang membutuhkan bantuan visual dan teks skenario naratif lengkap untuk kelompok yang sudah mandiri.
- Proses: Guru memberikan bimbingan bertahap (scaffolding) bagi kelompok yang kesulitan mengidentifikasi tindakan pada skenario, sementara kelompok yang cepat diminta menambahkan alternatif tindakan penerimaan kedua pada setiap skenario yang sama.
- Produk: Pilihan sikap pada kartu skenario dapat disajikan dalam bentuk poin tindakan ringkas maupun narasi kalimat utuh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik respons kartu cepat terhadap 3 butir pernyataan sikap: (1) Menolak teman yang berbeda logat masuk kelompok belajar (acuan: Bukan Sikap Menerima); (2) Mempersilakan teman berbeda agama menjalankan ibadah saat belajar bersama (acuan: Sikap Menerima); (3) Mau berteman akrab dengan siapa saja tanpa membedakan suku asal (acuan: Sikap Menerima). Murid dinilai siap apabila menjawab minimal 2 dari 3 pernyataan dengan tepat sesuai acuan.
Proses:- Pengamatan dan penilaian lembar penugasan kelompok 'Tantangan Sikap Inklusif di Sekolah' yang mencakup ketepatan penentuan sikap menerima keberagaman pada 4 skenario situasi sekolah: (1) Kasus ejekan logat bicara (acuan: membela/merangkul murid baru dan menolak perundungan); (2) Kasus pembagian piket (acuan: menerima tanpa membeda-bedakan suku); (3) Kasus teman berpuasa (acuan: menghormati dan menjaga etika toleransi ibadah); (4) Kasus pemilihan ketua kelas (acuan: bersikap objektif dan tidak diskriminatif terhadap minoritas agama).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman individu melalui kartu komitmen sikap: Murid menuliskan minimal 1 tindakan nyata sikap menerima keberagaman di sekolah (kriteria penerimaan: memuat tindakan menghargai, menolong, atau berteman tanpa diskriminasi SARA di lingkungan sekolah; misalnya 'Saya akan mengajak teman yang berbeda suku duduk semeja saat makan di kantin').
Formatif:- Penilaian kinerja kelompok dalam menentukan sikap menerima keberagaman pada 4 kartu skenario situasi sekolah menggunakan lembar observasi dan rubrik penilaian.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan sikap menerima keberagaman di lingkungan sekolah pada skenario situasi | Belum mampu menentukan sikap menerima keberagaman secara tepat pada keempat skenario yang diberikan (0 skenario tepat). | Mampu menentukan sikap menerima keberagaman secara tepat pada 1 hingga 2 skenario dari 4 skenario yang diberikan dengan bimbingan guru. | Mampu menentukan sikap menerima keberagaman secara tepat pada 3 dari 4 skenario yang diberikan secara mandiri sesuai acuan tindakan. | Mampu menentukan sikap menerima keberagaman secara tepat dan konsisten pada seluruh (4 dari 4) skenario yang diberikan secara mandiri sesuai acuan tindakan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid aktif terlibat dalam diskusi kelompok menentukan sikap menerima keberagaman?
- Apakah skenario situasi yang disajikan cukup relevan dan mudah dipahami oleh murid dalam merefleksikan kehidupan sekolah sehari-hari?
- Langkah perbaikan apa yang perlu dilakukan untuk memfasilitasi murid yang masih ragu dalam mengambil sikap inklusif terhadap perbedaan?
Murid:- Sikap menerima keberagaman mana yang paling mudah dan paling menantang untuk saya terapkan di kelas?
- Apa yang akan saya lakukan mulai besok jika melihat teman sekelas diperlakukan tidak adil karena latar belakang suku atau agamanya?
Pertemuan 8 — Menunjukkan Sikap Menerima Keberagaman dalam Kehidupan Masyarakat Sekitar — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.4 Menunjukkan sikap menerima keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, memeriksa presensi kehadiran, serta memastikan kesiapan fisik dan ruang belajar murid (3 menit).
- Guru memberikan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan dengan membacakan 2 situasi: (1) 'Tetangga baru pindah dari daerah lain dan logat bicaranya berbeda, tindakanmu: menyapa ramah atau mengejeknya?' (acuan: menyapa ramah); (2) 'Warga sedang kerja bakti membersihkan selokan di hari Minggu, tindakanmu: ikut serta membantu warga tanpa membeda-bedakan atau berdiam di kamar?' (acuan: ikut serta membantu warga tanpa membeda-bedakan) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-8 yaitu menunjukkan sikap menerima keberagaman dalam kehidupan masyarakat sekitar, serta mengaitkannya secara bermakna dengan keharmonisan lingkungan tempat tinggal (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid menyimak ulasan pengantar guru mengenai bentuk-bentuk tindakan nyata menerima keberagaman suku, agama, ras, dan golongan di lingkungan masyarakat sekitar (misalnya toleransi beribadah tetangga, gotong royong warga rukun tetangga, dan tolong-menolong tanpa memandang latar belakang) (8 menit).
- Secara berpasangan, murid membaca 4 lembar kartu kasus keberagaman masyarakat berikut: (1) Kasus A: Tetangga sebelah rumah sedang merayakan hari raya agamanya dan membutuhkan tempat parkir kendaraan tamu; (2) Kasus B: Ada kegiatan kerja bakti perbaikan jalan kampung bersama warga yang berbeda suku; (3) Kasus C: Seorang pedagang keliling lansia dari suku pendatang mengalami musibah gerobak rusak di depan balai warga; (4) Kasus D: Musyawarah RT untuk menentukan jadwal ronda malam yang melibatkan warga dari berbagai tingkat ekonomi (12 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Sebagai aktivitas tantangan berpasangan yang menggembirakan, murid memainkan peran mini (role-play singkat 2 menit per pasang) atau memilih kartu respon cepat untuk menentukan tindakan tepat dalam menunjukkan sikap menerima keberagaman terhadap 4 kasus yang dibagikan (12 menit).
- Murid menuliskan respon tindakan nyata pada lembar analisis sikap keberagaman masyarakat untuk keempat kasus tersebut dengan acuan tindakan penerimaan: Kasus A -> mengizinkan halaman rumah dijadikan tempat parkir atau menjaga ketenangan lingkungan; Kasus B -> hadir berpartisipasi membersihkan lingkungan bersama seluruh warga tanpa memilih-milih teman; Kasus C -> membantu menepikan gerobak atau membantu memanggil bantuan warga tanpa memedulikan asal suku; Kasus D -> menghargai pendapat seluruh peserta musyawarah dan menerima pembagian jadwal ronda secara adil (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setiap pasangan saling bertukar lembar respon dengan pasangan lain untuk memeriksa kesesuaian tindakan penerimaan keberagaman berdasarkan acuan kasus bersama bimbingan guru (8 menit).
- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya tindakan konkret menerima keberagaman demi terwujudnya kerukunan, persatuan, dan kedamaian hidup bermasyarakat di lingkungan sekitar (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan cek pemahaman akhir secara lisan dengan menanyakan: 'Sebutkan 1 tindakan konkret yang dapat kamu lakukan minggu ini untuk menunjukkan penerimaan terhadap keberagaman tetangga di sekitar rumahmu!' (acuan kriteria: menyebutkan tindakan ramah menyapa, menolong tetangga beda latar belakang, atau menjaga toleransi/ketenangan saat tetangga beribadah) (5 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas keterlibatan aktif seluruh murid, mengingatkan murid untuk tetap konsisten mempraktikkan sikap toleransi di rumah masing-masing, serta menutup sesi pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa kartu pilihan opsi tindakan langsung pada kasus, sedangkan murid yang mandiri langsung merumuskan tindakan konkret dari lembar deskripsi narasi.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dalam kelompok kecil saat merespon kasus, sementara murid yang lebih mahir bekerja secara mandiri bersama pasangannya.
- Produk: Murid dapat menuangkan wujud sikap menerima keberagaman dalam bentuk poin-poin ceklis tindakan atau uraian narasi singkat pada lembar tugas.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan kesiapan sikap pada 2 situasi keberagaman: (1) Sikap saat tetangga baru pindah dengan logat berbeda (acuan: menyapa ramah/tidak mengejek); (2) Sikap saat ada kerja bakti warga di hari Minggu (acuan: ikut berpartisipasi membantu warga tanpa membeda-bedakan).
Proses:- Pengamatan formatif saat murid menentukan sikap pada 4 kasus keberagaman masyarakat: Kasus A (parkir tetangga beda agama), Kasus B (kerja bakti warga beda suku), Kasus C (tolong menolong warga pendatang), dan Kasus D (musyawarah RT warga antargolongan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Menunjukkan 1 contoh komitmen tindakan nyata menerima keberagaman tetangga/masyarakat sekitar tempat tinggal yang dapat segera dipraktikkan (acuan kriteria: tindakan realistis di lingkungan tempat tinggal berupa sapaan ramah, gotong royong, menjaga ketenangan ibadah tetangga, atau tolong-menolong tanpa diskriminasi).
Formatif:- Observasi unjuk kerja respon simulasi/berpasangan terhadap kasus keberagaman masyarakat
- Penilaian lembar respon tindakan menerima keberagaman dalam masyarakat pada 4 skenario kasus
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan sikap menerima keberagaman dalam kehidupan masyarakat | Belum mampu menunjukkan tindakan yang mencerminkan penerimaan keberagaman pada 4 skenario kasus masyarakat sekitar walau telah dibimbing. | Menunjukkan tindakan menerima keberagaman secara tepat pada 1-2 dari 4 skenario kasus masyarakat sekitar dengan bimbingan guru. | Menunjukkan tindakan menerima keberagaman secara tepat pada 3 dari 4 skenario kasus masyarakat sekitar secara mandiri sesuai acuan respon. | Menunjukkan tindakan menerima keberagaman secara tepat pada seluruh (4 dari 4) skenario kasus masyarakat sekitar secara mandiri, konsisten, dan lengkap sesuai acuan respon. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah skenario kasus keberagaman masyarakat yang disajikan relevan dan mudah dipahami oleh murid sesuai realitas lingkungan mereka?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam menunjukkan sikap penerimaan dan empati saat berdiskusi dan berpasangan?
Murid:- Tindakan menerima keberagaman apa yang menurutmu paling mudah dan paling menantang untuk dipraktikkan di lingkungan rumahmu?
- Bagaimana perasaanmu setelah belajar menentukan sikap yang tepat saat berinteraksi dengan warga sekitar yang berbeda latar belakang?
Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.1 Mengidentifikasi keberagaman suku bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
- TP 7.4.2 Mengidentifikasi keberagaman agama dan kepercayaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
- TP 7.4.3 Mengidentifikasi keberagaman ras dan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
- TP 7.4.4 Menunjukkan sikap menerima keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, memimpin doa bersama, dan menyampaikan tujuan pertemuan ke-9 yaitu pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 4 yang mencakup tes tertulis pemetaan keberagaman SARA secara mandiri serta unjuk kerja simulasi sikap menerima keberagaman dalam kelompok (3 menit).
- Guru membacakan tata tertib asesmen sumatif, membagikan lembar tes tertulis pemetaan keberagaman SARA kepada seluruh murid, dan memastikan seluruh murid siap mengerjakan secara jujur dan mandiri (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak penjelasan petunjuk teknis pengerjaan tes tertulis pemetaan SARA (4 butir soal) dan rubrik unjuk kerja simulasi musyawarah kelompok dengan cermat dan berkesadaran penuh (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- TUGAS 1 (Tes Tertulis Mandiri - 40 menit): Murid mengerjakan lembar tes tertulis serentak berisi 4 butir soal identifikasi keberagaman SARA secara individual dan mandiri. Butir 1: Identifikasi 4 suku bangsa dan asal provinsinya di Indonesia (Acuan kunci: Jawa dari D.I. Yogyakarta/Jawa Tengah/Jawa Timur, Batak dari Sumatera Utara, Dayak dari Kalimantan Barat/Tengah/Timur, Bugis dari Sulawesi Selatan). Butir 2: Identifikasi 6 agama resmi di Indonesia beserta tempat ibadahnya dan 1 wujud kerukunannya (Acuan kunci: Islam - Masjid, Kristen Protestan - Gereja, Katolik - Gereja, Hindu - Pura, Buddha - Vihara, Khonghucu - Klenteng/Litang; wujud kerukunan: tidak mengganggu teman saat beribadah, saling memberi ucapan hari raya). Butir 3: Identifikasi 3 kelompok ras di Indonesia beserta wilayah persebarannya (Acuan kunci: Malayan-Mongoloid tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, NTB, Kalimantan, Sulawesi; Melanesoid tersebar di Papua, Maluku, NTT; Asiatic-Mongoloid/Kaukasoid tersebar di berbagai wilayah perkotaan/penduduk keturunan). Butir 4: Identifikasi 2 bentuk keberagaman antargolongan dalam masyarakat (Acuan kunci: perbedaan profesi/mata pencaharian ekonomi dan perbedaan keanggotaan organisasi kemasyarakatan/sosial) (40 menit).
- TUGAS 2 (Unjuk Kerja Simulasi Kelompok - 25 menit): Murid berkumpul dalam 6 kelompok (masing-masing 5-6 murid) untuk melaksanakan simulasi musyawarah penyelesaian studi kasus keberagaman: 'Penyusunan jadwal pentas seni dan pembagian tugas festival budaya kelas yang melibatkan teman dari beragam suku dan agama'. Murid secara serentak menunjukkan sikap menerima keberagaman (menghargai perbedaan pendapat teman, tidak mengejek latar belakang teman, dan bekerja sama secara inklusif melibatkan semua anggota), sementara guru berkeliling mengobservasi dan mengisi lembar observasi analitis unjuk kerja ketercapaian sikap seluruh kelompok (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan refleksi diri singkat secara tertulis pada kolom refleksi lembar sumatif mengenai kejujuran saat tes tertulis serta kesungguhan sikap menerima perbedaan yang telah ditunjukkan selama dinamika musyawarah kelompok (2 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar jawaban tes tertulis dan lembar unjuk kerja, memberikan apresiasi atas sportivitas serta kerja sama seluruh murid, merangkum pencapaian pembelajaran Bab 4, dan menutup kelas dengan doa bersama (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses: teks soal tes tertulis dicetak dengan huruf yang jelas dan ukuran terbaca bagi murid dengan hambatan penglihatan ringan tanpa mengubah isi soal dan standar penilaian.
- Proses: Akomodasi akses: pemberian waktu tambahan membaca petunjuk secara individual bagi murid yang memerlukan penyesuaian membaca tanpa mengubah batas waktu pengerjaan tugas inti.
- Produk: Format lembar jawaban tertulis menyediakan ruang tulis yang memadai atau opsi jawaban terstruktur untuk memudahkan keterbacaan tulisan murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan asesmen sumatif melalui konfirmasi kelengkapan alat tulis dan pemahaman aturan pengerjaan tes tertulis mandiri dan unjuk kerja simulasi (acuan kesiapan: seluruh murid siap di tempat duduk dengan alat tulis dan memahami larangan menyontek).
Proses:- Observasi keterlibatan dan sikap kerja sama inklusif murid selama simulasi musyawarah kelompok menggunakan lembar observasi analitis.
Sumatif Bab:- kombinasi tes tertulis pemetaan keberagaman dan unjuk kerja simulasi musyawarah pemecahan masalah keberagaman: lembar tes tertulis berisi identifikasi suku, agama, ras, dan antargolongan serta lembar observasi unjuk kerja sikap menerima keberagaman dalam diskusi kelompok
- tes tertulis serentak: lembar tes tertulis yang diselesaikan secara serentak oleh seluruh murid berisi identifikasi persebaran suku bangsa, agama/kepercayaan beserta wujud kerukunannya, serta pemetaan ciri ras dan pengelompokan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (45 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penskoran objektif-uraian)
- penilaian unjuk kerja kelompok serentak: tindakan nyata dan ekspresi sikap menerima keberagaman (menghargai perbedaan pendapat, tidak merendahkan latar belakang teman, dan bekerja sama secara inklusif) saat simulasi musyawarah kelompok memecahkan studi kasus keberagaman yang dinilai guru berkeliling serentak ke 6 kelompok (35 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi ketercapaian sikap dengan skala penilaian analitis)
Sumatif:- kombinasi tes tertulis pemetaan keberagaman dan unjuk kerja simulasi musyawarah pemecahan masalah keberagaman: lembar tes tertulis berisi identifikasi suku, agama, ras, dan antargolongan serta lembar observasi unjuk kerja sikap menerima keberagaman dalam diskusi kelompok
- tes tertulis serentak: lembar tes tertulis yang diselesaikan secara serentak oleh seluruh murid berisi identifikasi persebaran suku bangsa, agama/kepercayaan beserta wujud kerukunannya, serta pemetaan ciri ras dan pengelompokan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (45 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penskoran objektif-uraian)
- penilaian unjuk kerja kelompok serentak: tindakan nyata dan ekspresi sikap menerima keberagaman (menghargai perbedaan pendapat, tidak merendahkan latar belakang teman, dan bekerja sama secara inklusif) saat simulasi musyawarah kelompok memecahkan studi kasus keberagaman yang dinilai guru berkeliling serentak ke 6 kelompok (35 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi ketercapaian sikap dengan skala penilaian analitis)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Identifikasi Keberagaman Suku Bangsa (TP 7.4.1) | Mengidentifikasi 1 suku bangsa beserta daerah asalnya secara tepat dari 4 acuan suku bangsa (Jawa, Batak, Dayak, Bugis). | Mengidentifikasi 2 suku bangsa beserta daerah asalnya secara tepat dari 4 acuan suku bangsa (Jawa, Batak, Dayak, Bugis). | Mengidentifikasi 3 suku bangsa beserta daerah asalnya secara tepat dari 4 acuan suku bangsa (Jawa, Batak, Dayak, Bugis). | Mengidentifikasi 4 suku bangsa beserta daerah asalnya secara tepat dari 4 acuan suku bangsa (Jawa, Batak, Dayak, Bugis). | | Identifikasi Keberagaman Agama dan Kepercayaan (TP 7.4.2) | Mengidentifikasi 1-2 agama resmi beserta tempat ibadahnya secara tepat dari 6 acuan (Islam - Masjid, Kristen - Gereja, Katolik - Gereja, Hindu - Pura, Buddha - Vihara, Khonghucu - Klenteng/Litang) serta belum menyebutkan wujud kerukunan. | Mengidentifikasi 3-4 agama resmi beserta tempat ibadahnya secara tepat dari 6 acuan dan menyebutkan 1 wujud kerukunan kurang lengkap. | Mengidentifikasi 5-6 agama resmi beserta tempat ibadahnya secara tepat dari 6 acuan dan menyebutkan 1 wujud kerukunan secara tepat. | Mengidentifikasi seluruh 6 agama resmi beserta tempat ibadahnya secara tepat dari 6 acuan serta menyebutkan lebih dari 1 wujud kerukunan beragama secara tepat dan lengkap. | | Identifikasi Keberagaman Ras dan Antargolongan (TP 7.4.3) | Mengidentifikasi 1 kelompok ras beserta persebarannya secara tepat dan belum mampu mengidentifikasi keberagaman antargolongan. | Mengidentifikasi 2 kelompok ras beserta persebarannya secara tepat dan mengidentifikasi 1 bentuk antargolongan (profesi atau organisasi sosial) secara tepat. | Mengidentifikasi 3 kelompok ras (Malayan-Mongoloid, Melanesoid, Asiatic-Mongoloid/Kaukasoid) beserta wilayahnya dan 2 bentuk antargolongan (ekonomi dan sosial) secara tepat. | Mengidentifikasi 3 kelompok ras beserta wilayah persebarannya secara mendalam dan tepat serta mengidentifikasi 2 bentuk antargolongan beserta contoh konkretnya di masyarakat secara tepat. | | Sikap Menerima Keberagaman dalam Bermusyawarah (TP 7.4.4) | Belum menunjukkan tindakan menerima perbedaan (masih memotong pembicaraan teman, enggan bekerja sama dengan teman berbeda latar belakang). | Mulai menunjukkan tindakan menerima perbedaan pendapat namun sesekali masih pasif dan perlu diingatkan guru untuk berkolaborasi inklusif. | Konsisten menunjukkan sikap menerima keberagaman: menghargai perbedaan pendapat teman, tidak merendahkan latar belakang, dan bekerja sama secara inklusif selama musyawarah. | Sangat konsisten menunjukkan sikap menerima keberagaman: aktif mendengarkan semua pendapat, memperlakukan semua teman setara tanpa membedakan latar belakang, serta proaktif menciptakan kerja sama kelompok yang inklusif. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 40 menit untuk tes tertulis mandiri dan 25 menit untuk unjuk kerja simulasi kelompok sudah memadai bagi seluruh murid?
- Bagaimana ketercapaian murid pada TP 1, TP 2, TP 3 melalui tes tertulis dan TP 4 melalui observasi sikap menerima keberagaman?
- Langkah tindak lanjut remedial atau pengayaan apa yang diperlukan berdasarkan hasil asesmen sumatif bab ini?
Murid:- Apakah saya telah mengerjakan tes tertulis dengan jujur, teliti, dan mandiri?
- Bagaimana saya menunjukkan sikap menghargai teman yang berbeda pendapat dan berbeda suku/agama saat musyawarah tadi?
- Sikap menerima keberagaman apa yang paling penting akan terus saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah dan masyarakat?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek, 2023)
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek, 2023)
- Peta persebaran suku bangsa Indonesia
- Set kartu edukatif 'Jodoh Suku & Daerah'
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VII, Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek 2021.
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VII, Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek 2021 (Bab 4, Tabel 4.1).
- Set Kartu Make a Match Unsur Budaya (Rumah Adat, Pakaian Adat, Upacara Adat, Makanan Khas).
- Lembar Kerja Murid (LKPD) Tabel Kekhasan Budaya Suku Bangsa.
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek, 2023) Bab 4
- Kartu informasi bergambar tempat ibadah, kitab suci, dan perayaan hari besar keagamaan di Indonesia
- Lembar Kerja Murid (Tabel Analisis Identifikasi Keberagaman Agama)
- Buku Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek 2023)
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek 2023) Bab 4
- Set kartu kasus 'Cek Fakta Kerukunan' (Kartu A, B, C, D)
- Lembar Kerja Pengelompokan Wujud Kerukunan
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek 2023, Bab 4 Keberagaman Bangsa Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika, halaman 120-128.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek 2023, Pertemuan Keberagaman Ras, halaman 150-155.
- Kartu Aktivitas 'Tebak Kartu Cepat Keberagaman Ras' (kartu ciri fisik, nama ras, dan wilayah).
- Lembar Kerja 'Pemetaan Ras Nusantara' dan peta sebaran pulau di Indonesia.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek 2023, Halaman 152
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek 2023, Bab 4 Subbab Keberagaman Antargolongan
- Kartu skenario profil warga dan Lembar Kerja Siswa Klasifikasi Antargolongan
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek 2023
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek 2023 (Bab 4: Keberagaman Bangsa Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika)
- Lembar Kerja Murid (LKPD) 'Tantangan Sikap Inklusif di Sekolah' dan Kartu Skenario Situasi Keberagaman
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek 2023
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek 2023 (Bab 4 Subbab E)
- Lembar 4 Kartu Kasus Keberagaman Masyarakat (Kasus A, B, C, dan D)
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek, 2023
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek, 2023
- Lembar Soal Asesmen Sumatif Pemetaan Keberagaman SARA Bab 4
- Lembar Instrumen Observasi Unjuk Kerja Sikap Menerima Keberagaman
|