Modul AjarBab 1Fase CSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 5 Bab 1: Pancasila dalam Kehidupanku

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Pancasila kelas 5 untuk Bab 1 "Pancasila dalam Kehidupanku", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 5 Bab 1: Pancasila dalam Kehidupanku

Pendidikan Pancasila - Kelas 5

Bab 1

MODUL AJAR

Pendidikan Pancasila — Kelas 5 (Fase C)

Topik: Bab 1 — Pancasila dalam Kehidupanku

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Pancasila
Fase / KelasFase C / Kelas 5
TopikBab 1 — Pancasila dalam Kehidupanku
Alokasi Waktu36 JP (36 x 35 menit = 1260 menit)
Jumlah Pertemuan18
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 5.1.1 Menjelaskan kronologi sejarah kelahiran Pancasila
  2. TP 5.1.2 Meneladani sikap para perumus Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
  3. TP 5.1.3 Menerapkan sikap para perumus Pancasila di lingkungan masyarakat
  4. TP 5.1.4 Menghubungkan sila-sila dalam Pancasila sebagai suatu kesatuan yang utuh
  5. TP 5.1.5 Menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara
  6. TP 5.1.6 Menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Mengapa bangsa Indonesia membutuhkan dasar negara sebelum memproklamasikan kemerdekaan?
  2. Apa peristiwa penting yang melatarbelakangi dibentuknya BPUPK oleh pemerintah Jepang?
  3. Siapa sajakah tokoh bangsa yang menyampaikan gagasan dasar negara pada sidang pertama BPUPK?
  4. Apa saja usulan pokok yang disampaikan oleh Mr. Mohammad Yamin, Prof. Dr. Soepomo, dan Ir. Sukarno?
  5. Apa yang terjadi setelah usulan dasar negara disampaikan pada sidang pertama BPUPK hingga disepakati Piagam Jakarta?
  6. Mengapa rumusan sila pertama dalam Piagam Jakarta diubah pada tanggal 18 Agustus 1945 saat penetapan dasar negara?
  7. Bagaimana para perumus Pancasila tetap menunjukkan ketaatan beragama dan sopan santun saat merumuskan dasar negara?
  8. Sikap baik apa dari para perumus Pancasila yang dapat kita tiru ketika berbicara dan bergaul dengan orang lain setiap hari?
  9. Bagaimana para pendiri bangsa membuktikan rasa cinta tanah air dan nasionalisme saat merumuskan dasar negara?
  10. Apa contoh tindakan nyata yang bisa kita lakukan setiap hari di rumah dan di sekolah sebagai wujud meneladani rasa cinta tanah air para perumus Pancasila?
  11. Bagaimana para pendiri bangsa bersikap ketika pendapat mereka berbeda saat merumuskan Pancasila?
  12. Apa contoh tindakan yang menunjukkan sikap menghargai perbedaan pendapat dan musyawarah yang dapat kita tiru di sekolah?
  13. Apa yang biasanya dilakukan warga di lingkungan tempat tinggalmu jika ingin memutuskan suatu kegiatan bersama?
  14. Bagaimana cara kita meniru sikap musyawarah para perumus Pancasila saat menyelesaikan perbedaan pendapat di lingkungan sekitar?
  15. Bagaimana para perumus Pancasila dahulu bekerja sama dan tolong-menolong meskipun memiliki latar belakang suku dan pandangan yang berbeda?
  16. Apa contoh tindakan gotong royong dan tolong-menolong yang dapat kita terapkan secara nyata di lingkungan masyarakat tempat tinggal kita?
  17. Apa yang kamu lakukan jika sedang asyik bermain gim bersama teman, lalu warga di sekitar lingkunganmu membutuhkan bantuan untuk membersihkan selokan yang tersumbat?
  18. Mengapa para perumus Pancasila rela mengorbankan waktu dan tenaga pribadi demi kepentingan bersama seluruh rakyat Indonesia?
  19. Bagaimana ketaatan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sila ke-1) dapat menggerakkan kita untuk menyayangi sesama manusia (Sila ke-2)?
  20. Apakah seseorang bisa dikatakan sungguh-sungguh menjalankan Sila Pertama jika ia masih menyakiti orang lain?
  21. Mengapa musyawarah untuk mufakat (Sila 4) membutuhkan semangat menjaga persatuan (Sila 3)?
  22. Bagaimana keputusan bersama yang diambil dalam musyawarah (Sila 4) dapat menghasilkan keadilan bagi semua orang (Sila 5)?
  23. Apa yang terjadi pada susunan menara balok kayu jika satu balok di bagian bawah dicabut?
  24. Mengapa lima sila dalam Pancasila disebut sebagai satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain?
  25. Mengapa sebuah negara memerlukan dasar negara dalam membuat aturan hukum?
  26. Bagaimana nilai ketuhanan dan kemanusiaan melandasi penyelenggaraan negara Indonesia?
  27. Mengapa negara Indonesia membutuhkan aturan dasar yang menjaga persatuan seluruh suku bangsa?
  28. Bagaimana nilai kerakyatan dan keadilan menjadi landasan dalam pembuatan hukum dan aturan negara kita?
  29. Mengapa setiap aturan hukum dan kebijakan pemerintah di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan Pancasila?
  30. Apa arti kedudukan Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara Republik Indonesia?
  31. Apa artinya menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup atau pedoman dalam bersikap sehari-hari?
  32. Bagaimana nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan membimbing kita saat berinteraksi dengan teman yang berbeda agama atau suku?
  33. Bagaimana sikap kita saat teman-teman memiliki pendapat yang berbeda dalam menentukan kegiatan bermain?
  34. Mengapa kita harus bersikap adil dan tidak membeda-bedakan teman saat bergaul di sekolah maupun di rumah?
  35. Bagaimana urutan peristiwa penting sejak pembentukan BPUPK hingga penetapan Pancasila pada 18 Agustus 1945?
  36. Mengapa lima sila dalam Pancasila tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan bagaimana kita menguraikan perannya sebagai dasar negara serta pandangan hidup bangsa?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menjelaskan Latar Belakang dan Pembentukan BPUPK dalam Sejarah Kelahiran Pancasila — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.1 Menjelaskan kronologi sejarah kelahiran Pancasila

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan topik pembelajaran yaitu latar belakang dan pembentukan BPUPK dalam sejarah kelahiran Pancasila serta tujuan pembelajaran yang ingin dicapai (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan terarah: (1) 'Siapa pihak penjajah yang membentuk BPUPK?' (acuan: Pemerintah Jepang/bala tentara Dai Nippon); (2) 'Kira-kira apa alasan badan tersebut didirikan?' (acuan: menyelidiki dan mempersiapkan hal-hal penting untuk kemerdekaan Indonesia/menarik simpati rakyat Indonesia karena posisi Jepang terdesak perang) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai latar belakang kekalahan beruntun tentara Jepang dalam Perang Asia Pasifik pada awal 1945, janji Perdana Menteri Koiso, serta maklumat pembentukan Dokuritsu Junbi Cosakai (BPUPK) pada tanggal 1 Maret 1945 dan peresmiannya pada 29 April 1945 (10 menit).
  • Murid membaca teks ringkas tentang tujuan dan susunan kepengurusan BPUPK (Ketua: dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat) sebagai langkah awal perumusan dasar negara (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) mengikuti permainan tantangan 'Urut Fakta BPUPK' dengan menyusun dan memasangkan 4 kartu peristiwa ke papan urutan: Kartu A: 'Jepang terdesak dalam Perang Pasifik dan menjanjikan kemerdekaan' -> Urutan 1; Kartu B: 'Pengumuman pembentukan BPUPK pada 1 Maret 1945' -> Urutan 2; Kartu C: 'Pelantikan pengurus BPUPK yang diketuai dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat pada 28 Mei 1945' -> Urutan 3; Kartu D: 'Tugas utama BPUPK menyelidiki rancangan dasar negara dan pemerintahan' -> Urutan 4 (10 menit).
  • Murid secara mandiri melengkapi Lembar Kerja Penjelasan: menuliskan penjelasan latar belakang dan tujuan pembentukan BPUPK berdasarkan 4 kartu fakta yang telah diurutkan (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil urutan fakta dan mengonfirmasi pemahaman mengenai makna strategis pembentukan BPUPK dalam kronologi kelahiran Pancasila (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran mengenai alasan pembentukan dan fungsi BPUPK dalam sejarah kelahiran Pancasila (5 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir singkat lisan sebagai umpan balik dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks bacaan yang memuat kata kunci bergaris bawah (mis. 1 Maret 1945, Radjiman Wedyodiningrat, menyelidiki dasar negara); murid yang mahir diberikan kutipan teks sejarah yang memuat konteks situasi Perang Asia Pasifik secara lebih rinci.
  • Proses: Murid yang membutuhkan pendampingan dipandu guru dalam menata urutan kronologis kartu fakta, sedangkan murid mahir mengurutkan secara mandiri dan menjelaskan keterkaitan sebab-akibat antar-kartu.
  • Produk: Murid menuliskan penjelasan kronologi pembentukan BPUPK: murid berkembang menuliskan minimal 2 kalimat kunci kronologis, murid mahir menjelaskan runtutan 4 fakta secara lengkap dengan hubungan sebab-akibat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan di awal pertemuan: (1) 'Siapa penjajah yang membentuk BPUPK?' (acuan: Pemerintah militer Jepang); (2) 'Apa tujuan dibentuknya BPUPK?' (acuan: menyelidiki dan mempersiapkan usaha-usaha kemerdekaan Indonesia/merumuskan dasar negara).

Proses:

  • Penilaian pengerjaan tugas 'Urut Fakta BPUPK' dan lembar kerja: memastikan murid mampu mengurutkan dan menjelaskan 4 fakta kronologis pembentukan BPUPK dengan acuan: (1) Jepang terdesak Perang Pasifik; (2) Pengumuman pembentukan BPUPK 1 Maret 1945; (3) Pelantikan pengurus 28 Mei 1945 dengan ketua dr. Radjiman Wedyodiningrat; (4) Tugas BPUPK menyelidiki dasar negara dan tata kelola kemerdekaan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir lisan: Murid diminta menjelaskan secara singkat dalam 1-2 kalimat: 'Mengapa pembentukan BPUPK menjadi tonggak awal kelahiran Pancasila?' (acuan: Karena BPUPK adalah lembaga resmi yang bertugas pertama kali menyelidiki dan merumuskan dasar negara Indonesia).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja permainan 'Urut Fakta BPUPK' dan penilaian lembar kerja penjelasan tertulis kronologi pembentukan BPUPK.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan Latar Belakang dan Pembentukan BPUPKMenjelaskan kurang dari 2 fakta kronologis pembentukan BPUPK dengan tepat dan membutuhkan bimbingan penuh guru (acuan: 4 fakta urutan BPUPK).Menjelaskan 2 dari 4 fakta kronologis pembentukan BPUPK dengan tepat secara mandiri (acuan: 4 fakta urutan BPUPK).Menjelaskan 3 dari 4 fakta kronologis pembentukan BPUPK dengan tepat dan runtut secara mandiri (acuan: 4 fakta urutan BPUPK).Menjelaskan seluruh 4 fakta kronologis pembentukan BPUPK secara tepat, runtut, dan lengkap dengan hubungan sebab-akibat secara mandiri (acuan: 4 fakta urutan BPUPK).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat memahami alur sebab-akibat pembentukan BPUPK dalam sejarah kelahiran Pancasila secara utuh?
  • Bagian langkah pembelajaran mana yang paling efektif memfasilitasi keterlibatan aktif murid dalam memahami materi?

Murid:

  • Apa hal terpenting yang saya pahami tentang pembentukan BPUPK hari ini?
  • Peristiwa apa dalam pembentukan BPUPK yang menurut saya paling menarik untuk dipelajari?

Pertemuan 2 — Menjelaskan Usulan Dasar Negara oleh Tokoh Perumus pada Sidang Pertama BPUPK — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.1 Menjelaskan kronologi sejarah kelahiran Pancasila

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru mengaitkan materi pertemuan sebelumnya tentang pembentukan BPUPK dengan agenda sidang pertama BPUPK (29 Mei–1 Juni 1945) yang membahas rumusan dasar negara (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan: 'Sebutkan 3 tokoh utama yang menyampaikan gagasan dasar negara pada sidang pertama BPUPK!' (acuan jawaban benar: Mr. Mohammad Yamin, Prof. Dr. Soepomo, dan Ir. Sukarno) untuk memetakan kesiapan awal murid (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati bagan perbandingan usulan 3 tokoh perumus pada sidang pertama BPUPK: (1) Mohammad Yamin (29 Mei 1945: Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, Kesejahteraan Rakyat); (2) Soepomo (31 Mei 1945: Persatuan, Kekeluargaan, Keseimbangan Lahir dan Batin, Musyawarah, Keadilan Rakyat); (3) Sukarno (1 Juni 1945: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, Ketuhanan yang Berkebudayaan) (15 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) berdiskusi mengidentifikasi tanggal penyampaian dan 5 butir usulan dari masing-masing ketiga tokoh tersebut berdasarkan bahan bacaan yang dibagikan (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid memainkan permainan kartu tantangan berpasangan 'Pasang Tepat Usulan Tokoh', di mana setiap kelompok menerima 3 kartu nama tokoh (Mohammad Yamin, Soepomo, Sukarno) dan 3 kartu set usulan dasar negara berikut: Set A memuat 'Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, Kesejahteraan Rakyat' (acuan pasangan: Mohammad Yamin, 29 Mei 1945); Set B memuat 'Persatuan, Kekeluargaan, Keseimbangan Lahir dan Batin, Musyawarah, Keadilan Rakyat' (acuan pasangan: Soepomo, 31 Mei 1945); Set C memuat 'Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, Ketuhanan yang Berkebudayaan' (acuan pasangan: Sukarno, 1 Juni 1945) (15 menit).
  • Setiap perwakilan kelompok menempelkan pasangan kartu di papan kerja dan menjelaskan secara lisan kecocokan antara nama tokoh, tanggal penyampaian pidato, dan 5 pokok usulan dasar negara di depan kelas (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara individu mengisi lembar refleksi singkat yang memuat bagan alur kronologi usulan: menuliskan urutan tanggal sidang pertama BPUPK (29 Mei, 31 Mei, 1 Juni 1945) beserta nama tokoh pengusulnya secara tepat (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran tentang 3 tokoh perumus dan urutan kronologi penyampaian usulan dasar negara pada sidang pertama BPUPK (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap hasil kerja kelompok dan mengingatkan materi pertemuan berikutnya mengenai perumusan Piagam Jakarta, lalu menutup pelajaran dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan bergambar tokoh yang memuat kata kunci tanggal dan butir pertama usulan; murid yang sudah mahir diberikan bahan teks sumber pidato tokoh yang memuat variasi istilah asli.
  • Proses: Pada aktivitas kelompok, murid dengan kesiapan belajar awal rendah didampingi guru secara berkala untuk mencocokkan usulan; murid cepat bekerja mandiri memverifikasi ketepatan urutan kronologi antar-tokoh.
  • Produk: Semua murid menjelaskan usulan 3 tokoh; murid yang memerlukan bimbingan menjelaskan dengan melengkapi tabel rumpang berisi nama tokoh dan tanggal, sedangkan murid mahir menjelaskan seluruh rincian lima asas tiap tokoh secara mandiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Sebutkan 3 tokoh pendiri bangsa yang mengusulkan rumusan dasar negara dalam sidang pertama BPUPK!' (Acuan jawaban benar: Mr. Mohammad Yamin, Prof. Dr. Soepomo, dan Ir. Sukarno).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan kelompok dan ketepatan memasangkan 3 set kartu usulan dengan nama tokoh dan tanggal pidatonya pada aktivitas permainan (Acuan: Set A = Mohammad Yamin [29 Mei 1945], Set B = Soepomo [31 Mei 1945], Set C = Sukarno [1 Juni 1945]).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan lembar kerja refleksi individu: Melengkapi urutan kronologis 3 tokoh perumus dan tanggal pidato pada sidang pertama BPUPK. Butir soal: (1) Tanggal 29 Mei 1945 diusulkan oleh ...; (2) Tanggal 31 Mei 1945 diusulkan oleh ...; (3) Tanggal 1 Juni 1945 diusulkan oleh ... (Acuan jawaban: [1] Mr. Mohammad Yamin, [2] Prof. Dr. Soepomo, [3] Ir. Sukarno).

Formatif:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran mengenai 3 nama tokoh perumus dasar negara
  • Observasi unjuk kerja permainan kartu 'Pasang Tepat Usulan Tokoh' dan penjelasan lisan kelompok pada tahap Mengaplikasi
  • Lembar cek pemahaman tertulis singkat pada lembar refleksi akhir sesi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan usulan dasar negara oleh tokoh perumus pada sidang pertama BPUPKBelum mampu memasangkan dan menjelaskan usulan dasar negara dari ketiga tokoh perumus secara tepat meskipun dengan bimbingan guru.Mampu menjelaskan usulan dasar negara dari 1 tokoh perumus beserta tanggalnya secara tepat (acuan: Mohammad Yamin [29 Mei 1945], Soepomo [31 Mei 1945], atau Sukarno [1 Juni 1945]) dengan bantuan guru.Mampu menjelaskan usulan dasar negara dari 2-3 tokoh perumus beserta tanggal pidatonya secara tepat (acuan: Yamin 29 Mei, Soepomo 31 Mei, Sukarno 1 Juni) secara mandiri.Mampu menjelaskan secara lengkap dan runtut usulan dasar negara dari ketiga tokoh perumus (Mohammad Yamin, Soepomo, dan Sukarno) beserta seluruh 5 butir gagasan masing-masing secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah media kartu usulan tokoh efektif membantu murid memahami perbedaan gagasan ketiga tokoh perumus?
  • Bagaimana pembagian peran murid dalam kerja kelompok selama permainan berlangsung?

Murid:

  • Apa hal baru yang kamu pelajari mengenai usulan dasar negara yang disampaikan oleh Ir. Sukarno, Mr. Mohammad Yamin, dan Prof. Dr. Soepomo?
  • Bagian mana dari kegiatan belajar hari ini yang paling kamu sukai?

Pertemuan 3 — Menjelaskan Kronologi Perumusan Piagam Jakarta hingga Penetapan Pancasila 18 Agustus 1945 — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.1 Menjelaskan kronologi sejarah kelahiran Pancasila

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menjelaskan kronologi perumusan Piagam Jakarta (22 Juni 1945) hingga penetapan Pancasila dalam sidang PPKI (18 Agustus 1945) (2 menit).
  • Guru memberikan asesmen diagnostik singkat: murid diminta menjawab secara lisan tanggal perumusan Piagam Jakarta dan tanggal penetapan Pancasila oleh PPKI (acuan jawaban: Piagam Jakarta disahkan Panitia Sembilan pada 22 Juni 1945; Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara oleh PPKI pada 18 Agustus 1945) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membagikan lembar bacaan ringkas dan menayangkan bagan garis waktu yang memuat 3 tonggak peristiwa: (1) Pembentukan Panitia Sembilan dan pengesahan naskah Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945; (2) Sidang kedua BPUPK (10-17 Juli 1945) yang menyetujui rancangan hukum dasar berdasarkan Piagam Jakarta; (3) Sidang PPKI 18 Agustus 1945 yang mengubah rumusan sila pertama 'Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' menjadi 'Ketuhanan Yang Maha Esa' demi persatuan bangsa, serta menetapkan Pancasila secara resmi dalam Pembukaan UUD 1945 (15 menit).
  • Murid mencermati bagan tersebut dan mengajukan pertanyaan terkait urutan peristiwa perumusan dari 22 Juni 1945 hingga 18 Agustus 1945 (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru menggelar permainan tantangan 'Urut dan Jelaskan Peristiwa' secara berpasangan; setiap pasangan menerima 4 potongan kartu peristiwa acak: Kartu A (Panitia Sembilan menyepakati rumusan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945), Kartu B (Sidang kedua BPUPK membahas rancangan UUD berdasarkan Piagam Jakarta pada 10-17 Juli 1945), Kartu C (Usulan perubahan rumusan kalimat sila pertama oleh perwakilan wilayah Indonesia Timur demi persatuan pada 17-18 Agustus 1945 pagi), dan Kartu D (Sidang PPKI mengesahkan Pancasila dengan sila pertama 'Ketuhanan Yang Maha Esa' pada 18 Agustus 1945) (acuan urutan kronologis tepat: Kartu A -> Kartu B -> Kartu C -> Kartu D) (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja penjelas kronologi berisi 3 pertanyaan terstruktur: (1) Jelaskan peristiwa utama tanggal 22 Juni 1945 (acuan: Panitia Sembilan merumuskan Piagam Jakarta yang memuat rancangan lima sila Pancasila); (2) Jelaskan alasan terjadinya perubahan kalimat sila pertama Piagam Jakarta menjelang sidang PPKI (acuan: adanya aspirasi demi menjaga keutuhan dan persatuan seluruh bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke); (3) Jelaskan keputusan resmi sidang PPKI 18 Agustus 1945 terkait Pancasila (acuan: mengesahkan Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar negara Indonesia yang sah) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memandu murid membandingkan hasil pekerjaannya dengan kunci kronologi sejarah di papan tulis serta menyadari pentingnya keruntutan waktu dalam memahami peristiwa sejarah bangsa (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan 3 inti kronologi perumusan dan penetapan Pancasila: Piagam Jakarta (22 Juni 1945), kesepakatan perubahan sila pertama demi persatuan, dan penetapan resmi oleh PPKI (18 Agustus 1945) (5 menit).
  • Guru memberikan tindak lanjut dan menutup pembelajaran dengan ucapan syukur serta salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan lembar kerja dengan petunjuk tahun dan tanggal panduan (scaffolding), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan lembar kerja tanpa petunjuk tanggal bantuan.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan mengurutkan kronologi didampingi guru membaca ulang bagan garis waktu pada tahap aplikasi, sedangkan murid mahir langsung menuliskan penjelasan rinci tiap peristiwa secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menjelaskan 3 butir pertanyaan kronologi yang sama, namun murid yang telah berkembang sangat baik menjelaskan latar belakang perubahan rumusan dengan kalimat yang lebih analitis.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Murid diminta menyebutkan tanggal penetapan Piagam Jakarta dan sidang penetapan dasar negara PPKI (acuan jawaban: Piagam Jakarta = 22 Juni 1945; Sidang PPKI penetapan dasar negara = 18 Agustus 1945).

Proses:

  • Observasi ketepatan kerja berpasangan mengurutkan 4 kartu kronologis: Kartu A (22 Juni 1945) -> Kartu B (10-17 Juli 1945) -> Kartu C (17-18 Agustus 1945 pagi) -> Kartu D (18 Agustus 1945 sidang PPKI) (acuan: urutan tepat A-B-C-D).
  • Pemeriksaan lembar kerja tertulis 3 butir soal penjelasan kronologi (acuan: (1) Piagam Jakarta dirumuskan Panitia Sembilan 22 Juni 1945; (2) Perubahan sila pertama untuk menjaga persatuan nasional; (3) Penetapan resmi dasar negara Pancasila dalam UUD 1945 oleh PPKI 18 Agustus 1945).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat di akhir sesi: Murid secara lisan atau tulisan singkat menjelaskan perubahan rumusan sila pertama dari naskah Piagam Jakarta hingga rumusan akhir 18 Agustus 1945 (acuan: rumusan semula 'Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' diubah menjadi 'Ketuhanan Yang Maha Esa' demi keutuhan bangsa).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di pendahuluan mengenai tanggal Piagam Jakarta dan sidang PPKI.
  • Asesmen formatif tertulis berupa pengerjaan lembar kerja penjelas kronologi perumusan dan penetapan Pancasila (22 Juni 1945 s.d. 18 Agustus 1945).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan Kronologi Perumusan Piagam Jakarta hingga Penetapan PancasilaBelum mampu menjelaskan urutan peristiwa sejarah kelahiran Pancasila dari 22 Juni 1945 hingga 18 Agustus 1945 secara tepat walau diberi bimbingan (jawaban benar kurang dari 2 butir dari 3 butir acuan).Mampu menjelaskan sebagian urutan peristiwa sejarah (2 dari 3 butir acuan benar: 22 Juni 1945, latar perubahan sila pertama, atau sidang 18 Agustus 1945) namun masih membutuhkan panduan guru.Mampu menjelaskan seluruh urutan peristiwa sejarah secara tepat dan runtut (seluruh 3 butir acuan benar: perumusan Piagam Jakarta 22 Juni 1945, perubahan sila pertama demi persatuan, dan penetapan dasar negara oleh PPKI 18 Agustus 1945) secara mandiri.Mampu menjelaskan seluruh urutan peristiwa sejarah secara tepat, lengkap, dan runtut (seluruh 3 butir acuan benar) secara mandiri serta menguraikan keterkaitan logis sebab-akibat perubahan sila pertama terhadap pengesahan dasar negara secara terperinci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan kartu kronologis dan bagan garis waktu efektif membantu murid memahami alur sejarah 22 Juni 1945 hingga 18 Agustus 1945?
  • Bagian kronologi mana yang masih sering tertukar oleh murid, dan bagaimana pendampingan perbaikannya pada pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Peristiwa penting apa yang paling kamu ingat dari proses perumusan Piagam Jakarta hingga penetapan Pancasila 18 Agustus 1945?
  • Mengapa para pendiri bangsa rela mengubah kalimat sila pertama Piagam Jakarta saat penetapan 18 Agustus 1945?

Pertemuan 4 — Meneladani Sikap Religius dan Berakhlak Mulia Para Perumus Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.2 Meneladani sikap para perumus Pancasila dalam kehidupan sehari-hari

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa bersama secara khidmat (2 menit).
  • Guru memeriksa kehadiran murid serta mengondisikan kelas agar siap memulai pembelajaran (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan: 'Sebutkan 1 contoh sikap religius dan 1 contoh sikap berakhlak mulia para perumus Pancasila!' (acuan: sikap religius = berdoa sebelum sidang/menjalankan ibadah; sikap berakhlak mulia = berbicara santun/menghormati orang lain) (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu meneladani sikap religius dan berakhlak mulia para perumus Pancasila dalam kehidupan sehari-hari (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru tentang keteladanan sikap religius (selalu berdoa, taat beribadah, mensyukuri nikmat kemerdekaan) dan berakhlak mulia (jujur, santun bertutur kata, rendah hati, menghormati sesama) yang dicontohkan para perumus Pancasila seperti K.H. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, dan Mohammad Hatta (10 menit).
  • Murid membaca teks narasi pendek berisi kisah keteladanan para tokoh perumus yang tetap menjaga ibadah dan saling menghormati meski memiliki perbedaan pandangan dalam perumusan dasar negara (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan tantangan 'Tebak Kartu Keteladanan', di mana murid berpasangan mencocokkan 4 kartu situasi berikut dengan kategori sikap yang tepat: Kartu 1: 'Berdoa khusyuk sebelum mulai belajar' -> Kategori Sikap Religius; Kartu 2: 'Menyapa guru dan mencium tangan dengan sopan' -> Kategori Sikap Berakhlak Mulia; Kartu 3: 'Mengingatkan teman saat tiba waktu salat/ibadah' -> Kategori Sikap Religius; Kartu 4: 'Mengakui kesalahan dan berkata jujur saat meminjam pensil' -> Kategori Sikap Berakhlak Mulia (acuan: pasangan sesuai kategori tersebut) (12 menit).
  • Murid secara mandiri melengkapi Lembar Kerja Meneladani Sikap dengan menuliskan 2 contoh tindakan konkret meneladani sikap religius di rumah/sekolah (acuan: berdoa, beribadah tepat waktu, mengucap syukur) dan 2 contoh tindakan konkret meneladani sikap berakhlak mulia di rumah/sekolah (acuan: bertutur kata sopan, menghormati orang tua/guru, meminta maaf bila keliru, bersikap jujur) (16 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali daftar tindakan keteladanan yang telah ditulis dan menandai 1 tindakan religius serta 1 tindakan berakhlak mulia yang berkomitmen mereka lakukan hari ini (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran tentang pentingnya meneladani sikap religius dan berakhlak mulia para perumus Pancasila dalam keseharian (5 menit).
  • Guru melaksanakan cek pemahaman lisan singkat (asesmen akhir) dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (7 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan bergambar berisi contoh perilaku religius dan santun, sedangkan murid cepat diberikan narasi kutipan biografi tokoh perumus.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan dipandu mengisi LKPD secara terarah dengan templat rumpang; murid mandiri menuliskan contoh tindakan secara mandiri.
  • Produk: Murid dapat menuliskan tindakan keteladanan dalam bentuk poin kalimat sederhana atau tabel matriks tindakan harian.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan di awal pembelajaran: Murid menyebutkan 1 contoh sikap religius dan 1 contoh sikap berakhlak mulia para perumus Pancasila (acuan jawaban: sikap religius = tekun berdoa, menjalankan ibadah, pasrah kepada Tuhan; sikap berakhlak mulia = berbicara sopan, tidak mencela pendapat orang lain, bersikap jujur).

Proses:

  • Penilaian unjuk kerja saat memasangkan 4 kartu situasi keteladanan (acuan: Kartu 1 & 3 = Sikap Religius; Kartu 2 & 4 = Sikap Berakhlak Mulia).
  • Pemeriksaan ketepatan Lembar Kerja: Murid menuliskan minimal 2 contoh tindakan meneladani sikap religius (acuan: berdoa, beribadah, bersyukur) dan 2 contoh tindakan meneladani sikap berakhlak mulia (acuan: berkata jujur, santun kepada guru/orang tua, menghargai sesama) dalam kehidupan sehari-hari.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Guru menunjuk murid secara acak untuk menyebutkan kembali 1 tindakan meneladani sikap religius dan 1 tindakan meneladani sikap berakhlak mulia yang akan diterapkan hari ini (kriteria penerimaan: tindakan realistis, teramati dalam keseharian, dan sesuai definisi sikap religius serta berakhlak mulia).

Formatif:

  • Observasi partisipasi dan keaktifan murid saat permainan kartu keteladanan
  • Pemeriksaan Lembar Kerja Meneladani Sikap (kesesuaian 2 contoh tindakan sikap religius dan 2 contoh tindakan sikap berakhlak mulia)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Meneladani Sikap Religius para PerumusBelum mampu menuliskan contoh tindakan meneladani sikap religius para perumus dalam kehidupan sehari-hari.Mampu menuliskan 1 contoh tindakan meneladani sikap religius para perumus dalam kehidupan sehari-hari dengan bantuan panduan guru.Mampu menuliskan 2 contoh tindakan meneladani sikap religius para perumus dalam kehidupan sehari-hari secara tepat dan mandiri (acuan: berdoa, beribadah tepat waktu, bersyukur).Mampu menuliskan lebih dari 2 contoh tindakan meneladani sikap religius para perumus dalam kehidupan sehari-hari secara tepat, rinci, dan mandiri.
Ketepatan Meneladani Sikap Berakhlak Mulia para PerumusBelum mampu menuliskan contoh tindakan meneladani sikap berakhlak mulia para perumus dalam kehidupan sehari-hari.Mampu menuliskan 1 contoh tindakan meneladani sikap berakhlak mulia para perumus dalam kehidupan sehari-hari dengan bantuan panduan guru.Mampu menuliskan 2 contoh tindakan meneladani sikap berakhlak mulia para perumus dalam kehidupan sehari-hari secara tepat dan mandiri (acuan: bertutur kata sopan, jujur, menghormati yang lebih tua, meminta maaf saat keliru).Mampu menuliskan lebih dari 2 contoh tindakan meneladani sikap berakhlak mulia para perumus dalam kehidupan sehari-hari secara tepat, rinci, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan dan merumuskan contoh konkret sikap religius dan berakhlak mulia para perumus secara tepat?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama permainan memasangkan kartu keteladanan berlangsung?

Murid:

  • Sikap teladan apa dari para perumus Pancasila yang paling berkesan bagiku hari ini?
  • Apa tindakan religius atau berakhlak mulia yang akan langsung aku biasakan mulai hari ini di rumah atau sekolah?

Pertemuan 5 — Meneladani Sikap Cinta Tanah Air dan Nasionalisme Para Perumus Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.2 Meneladani sikap para perumus Pancasila dalam kehidupan sehari-hari

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu meneladani sikap cinta tanah air dan nasionalisme para perumus Pancasila dalam kehidupan sehari-hari (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan mengenai sikap tokoh perumus: 'Sebutkan 1 contoh perjuangan tokoh perumus Pancasila yang menunjukkan rasa cinta tanah air!' (acuan jawaban: rela mengorbankan waktu/tenaga demi kemerdekaan bangsa, mengutamakan persatuan Indonesia di atas golongan pribadi, tekun merumuskan dasar negara untuk masa depan Indonesia) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan membaca teks singkat pada Buku Siswa tentang keteladanan cinta tanah air dan nasionalisme para perumus Pancasila seperti Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta yang mendahulukan kepentingan bangsa serta mencintai produk dalam negeri (7 menit).
  • Murid secara mandiri mencermati 4 kartu situasi keteladanan cinta tanah air: (1) Mengikuti upacara bendera dengan khidmat, (2) Bangga menggunakan tas buatan perajin lokal, (3) Menjaga kelestarian lingkungan sekolah, (4) Gemar membaca buku sejarah perjuangan bangsa (acuan: ke-4 kartu mencerminkan keteladanan cinta tanah air dalam keseharian) (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan kuis tantangan berpasangan 'Pilah Tindakan Teladan': setiap pasangan murid memilah 4 lembar kartu pernyataan berikut ke dalam kategori 'Teladan Cinta Tanah Air' atau 'Bukan Teladan': Kartu A 'Lebih memilih membeli pensil buatan dalam negeri' (Teladan), Kartu B 'Mengejek lagu daerah lain saat pentas seni' (Bukan Teladan), Kartu C 'Hormat saat bendera Merah Putih dinaikkan' (Teladan), Kartu D 'Mencoret-coret fasilitas umum sekolah' (Bukan Teladan) (acuan ketepatan: Kartu A dan C = Teladan; Kartu B dan D = Bukan Teladan) (15 menit).
  • Murid mengisi lembar kerja mandiri 'Teladan Hidupku: Cinta Tanah Air' dengan menentukan 3 rencana tindakan konkret sehari-hari di sekolah/rumah yang meneladani sikap nasionalisme para perumus Pancasila (acuan kriteria: tindakan realistis, mencerminkan rasa bangga atau pengorbanan untuk kepentingan bersama/tanah air, misal: memakai batik sekolah dengan rapi, menghafal lagu nasional, merawat taman sekolah) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca kembali 3 rencana tindakan cinta tanah air yang telah ditulisnya pada lembar kerja dan memilih 1 tindakan yang paling siap dibiasakan mulai hari ini (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap keselarasan antara sikap perumus bangsa yang gigih mencintai Indonesia dengan kebiasaan baik murid di sekolah dan di rumah (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai sikap cinta tanah air dan nasionalisme para perumus Pancasila yang wajib diteladani dalam tindakan nyata sehari-hari (3 menit).
  • Guru memberikan tindak lanjut dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan teks cerita keteladanan tokoh nasionalisme dengan variasi panjang kalimat dan ilustrasi visual pendukung bagi murid yang memerlukan dukungan membaca.
  • Proses: Memberikan panduan contoh konkret pilihan tindakan bagi murid yang memerlukan bimbingan, serta memberikan tantangan penulisan alasan tindakan bagi murid yang cepat selesai.
  • Produk: Murid dapat menuliskan rencana teladan dalam bentuk daftar kalimat terstruktur atau peta gagasan sederhana pada lembar kerja yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: 'Sebutkan 1 contoh perjuangan tokoh perumus Pancasila yang menunjukkan rasa cinta tanah air!' (acuan: rela mengorbankan waktu/tenaga demi kemerdekaan bangsa, mengutamakan persatuan Indonesia di atas golongan pribadi, tekun merumuskan dasar negara untuk masa depan Indonesia).

Proses:

  • Observasi kinerja pemilahan 4 kartu pernyataan keteladanan: Kartu A 'Lebih memilih membeli pensil buatan dalam negeri' (Teladan), Kartu B 'Mengejek lagu daerah lain saat pentas seni' (Bukan Teladan), Kartu C 'Hormat saat bendera Merah Putih dinaikkan' (Teladan), Kartu D 'Mencoret-coret fasilitas umum sekolah' (Bukan Teladan). Kunci acuan: Teladan = A dan C; Bukan Teladan = B dan D.
  • Pemeriksaan lembar kerja rencana 3 tindakan meneladani sikap cinta tanah air sehari-hari (kriteria acuan penerimaan: tindakan nyata di lingkungan rumah/sekolah yang mencerminkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia, merawat lingkungan bersama, atau mengutamakan kepentingan bersama).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan 1 tindakan cinta tanah air terpilih yang akan langsung dipraktikkan pada lembar refleksi keluar kelas (tiket keluar) (kriteria acuan: berupa perilaku konkret yang mencerminkan rasa bangga/cinta Indonesia).

Formatif:

  • Penilaian ketepatan pemilahan kartu keteladanan cinta tanah air pada kuis tantangan berpasangan
  • Penilaian lembar kerja mandiri rencana tindakan meneladani sikap cinta tanah air dan nasionalisme

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Meneladani sikap cinta tanah air dan nasionalisme para perumus Pancasila dalam kehidupan sehari-hariBelum mampu menentukan contoh tindakan nyata sehari-hari yang meneladani sikap cinta tanah air para perumus Pancasila meski telah dibimbing.Mampu menentukan 1 contoh tindakan nyata sehari-hari yang meneladani sikap cinta tanah air para perumus Pancasila secara tepat dengan bimbingan guru.Mampu menentukan 2 hingga 3 contoh tindakan nyata sehari-hari yang meneladani sikap cinta tanah air para perumus Pancasila secara tepat dan mandiri.Mampu menentukan lebih dari 3 contoh tindakan nyata sehari-hari yang meneladani sikap cinta tanah air para perumus Pancasila secara konsisten, tepat, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas pemilahan kartu membantu murid memahami wujud nyata sikap cinta tanah air para perumus Pancasila?
  • Apakah rencana tindakan yang disusun murid sudah realistis untuk dijalankan dalam keseharian mereka di sekolah dan di rumah?

Murid:

  • Sikap teladan cinta tanah air apa yang paling berkesan bagiku dari tokoh perumus Pancasila?
  • Tindakan apa yang akan aku lakukan besok di sekolah sebagai bukti cintaku kepada tanah air Indonesia?

Pertemuan 6 — Meneladani Sikap Menghargai Perbedaan Pendapat dan Musyawarah Para Perumus Pancasila dalam Keseharian — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.2 Meneladani sikap para perumus Pancasila dalam kehidupan sehari-hari

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak murid memusatkan perhatian pada keteladanan sikap tokoh pendiri bangsa (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan mengenai sikap perumus Pancasila saat menghadapi perbedaan pandangan (acuan: para tokoh tetap saling menghormati, tidak memaksakan kehendak, dan mengutamakan musyawarah mufakat demi persatuan) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6, yaitu meneladani sikap menghargai perbedaan pendapat dan bermusyawarah para perumus Pancasila dalam keseharian (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan singkat guru tentang keteladanan tokoh perumus Pancasila (seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan para anggota panitia perumus) yang saling mendengarkan argumen secara bijak dan berjiwa besar demi keutuhan bangsa (7 menit).
  • Murid membaca cuplikan dialog sejarah perumusan Pancasila pada Buku Siswa halaman 20 dan mencatat sikap pokok yang ditunjukkan tokoh: menghargai perbedaan pendapat dan menjunjung tinggi musyawarah (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid bermain peran mini 'Tantangan Musyawarah Menyenangkan' secara berpasangan, di mana tiap pasangan memilih satu dari dua topik sederhana (menentukan jadwal regu piket atau memilih lokasi pojok baca kelas) dengan aturan wajib saling mendengarkan tanpa menyela lawan bicara dan menyepakati jalan tengah (12 menit).
  • Murid secara mandiri menyelesaikan Lembar Kerja 'Teladan Hidupku: Menghargai Pendapat dan Musyawarah' dengan menentukan contoh tindakan meneladani sikap perumus Pancasila pada 3 situasi keseharian berikut: (1) Situasi A: Teman mengusulkan jenis permainan yang berbeda saat istirahat (acuan tindakan: mendengarkan usulan teman dengan tenang dan bermusyawarah untuk bermain bergantian); (2) Situasi B: Terjadi silang pendapat saat kerja kelompok menentukan ketua (acuan tindakan: melakukan musyawarah atau pemungutan suara secara tertib tanpa memaksakan kehendak); (3) Situasi C: Pendapat pribadi tidak terpilih sebagai keputusan bersama kelas (acuan tindakan: menerima hasil musyawarah dengan lapang dada dan melaksanakannya dengan bertanggung jawab) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan tindakan teladan yang telah dirumuskan pada 3 situasi tersebut berdasarkan acuan sikap para pendiri bangsa (5 menit).
  • Murid melakukan refleksi dengan mengidentifikasi satu tindakan nyata menghargai perbedaan pendapat yang berkomitmen akan mereka terapkan langsung di kelas hari ini (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa sikap saling menghargai perbedaan dan musyawarah adalah wujud keteladanan nyata dari para perumus Pancasila yang wajib dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari (4 menit).
  • Guru memberikan penguatan positif atas komitmen murid, menyampaikan topik pertemuan berikutnya (menerapkan sikap musyawarah di masyarakat), dan menutup sesi dengan salam (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu bantu bertuliskan opsi kata kunci tindakan teladan (misal: 'mendengarkan tanpa menyela', 'menerima mufakat', 'menghargai usulan') bagi murid yang membutuhkan panduan.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang kesulitan merumuskan tindakan teladan, serta memberikan situasi keempat (situasi perbedaan selera makanan untuk acara kelas) bagi murid yang telah selesai lebih cepat.
  • Produk: Murid dapat menuliskan tindakan teladan dalam bentuk poin kalimat terstruktur atau kalimat narasi singkat pada lembar kerja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Apa yang dilakukan para tokoh bangsa ketika terjadi perbedaan rumusan kalimat dasar negara pada masa persiapan kemerdekaan?' (Acuan jawaban: para tokoh duduk bersama bermusyawarah, mendengarkan argumen satu sama lain, dan menyepakati rumusan terbaik demi persatuan bangsa).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pengisian 3 situasi tindakan keteladanan pada lembar kerja murid (acuan: situasi A dijawab mendengarkan usulan teman dan bergantian bermain; situasi B dijawab bermusyawarah menentukan ketua tanpa memaksakan kehendak; situasi C dijawab menerima keputusan kelompok dengan lapang dada).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat lisan di penutup: Murid menyebutkan 1 sikap utama perumus Pancasila saat bermusyawarah dan 1 contoh penerapannya di kelas (acuan jawaban: sikap menghargai pendapat orang lain atau berjiwa besar menerima hasil mufakat, diterapkan dengan mendengarkan teman saat berbicara atau mematuhi kesepakatan piket bersama).

Formatif:

  • Penilaian proses unjuk kerja pada Lembar Kerja 'Teladan Hidupku: Menghargai Pendapat dan Musyawarah' dan observasi penerapan sikap saling mendengarkan pada simulasi berpasangan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Meneladani sikap menghargai perbedaan pendapat dan musyawarah para perumus Pancasila dalam kehidupan sehari-hariBelum mampu menentukan contoh tindakan meneladani sikap menghargai perbedaan pendapat dan musyawarah pada 3 situasi keseharian yang diberikan secara tepat.Mampu menentukan 1 dari 3 contoh tindakan meneladani sikap menghargai perbedaan pendapat dan musyawarah pada situasi keseharian sesuai acuan.Mampu menentukan 2 dari 3 contoh tindakan meneladani sikap menghargai perbedaan pendapat dan musyawarah pada situasi keseharian sesuai acuan secara mandiri.Mampu menentukan seluruh 3 contoh tindakan meneladani sikap menghargai perbedaan pendapat dan musyawarah pada situasi keseharian sesuai acuan secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid aktif mengekspresikan sikap saling mendengarkan selama aktivitas berpasangan?
  • Apakah instruksi perumusan tindakan teladan pada lembar kerja situasi mudah dipahami oleh murid?

Murid:

  • Sikap apa dari perumus Pancasila yang paling ingin kamu tiru saat berdiskusi dengan teman?
  • Apa yang akan kamu lakukan jika pendapatmu berbeda dengan pendapat teman sebangkumu?

Pertemuan 7 — Menerapkan Sikap Musyawarah Mufakat Para Perumus Pancasila di Lingkungan Masyarakat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.3 Menerapkan sikap para perumus Pancasila di lingkungan masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menerapkan sikap musyawarah mufakat para perumus Pancasila di lingkungan masyarakat (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berisi 2 pertanyaan: (1) Apa arti musyawarah? (Acuan: Pembahasan bersama untuk mencapai keputusan bersama); (2) Sebutkan 1 contoh musyawarah di masyarakat! (Acuan: Pemilihan ketua RT, rapat kerja bakti, atau musyawarah ronda malam) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menyajikan teks narasi singkat tentang musyawarah perumusan dasar negara dan mengaitkannya dengan musyawarah tingkat RT/lingkungan warga sekitar (7 menit).
  • Murid mencermati 3 prinsip utama musyawarah mufakat yang diwariskan perumus Pancasila: saling mendengarkan usulan warga, tidak memaksakan kehendak pribadi, dan menerima kesepakatan bersama dengan tanggung jawab (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi menjadi kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang untuk memainkan simulasi mini 'Musyawarah Warga Kampung Damai' yang seru dan dinamis guna menentukan rencana kerja bakti lingkungan (10 menit).
  • Dalam kelompok, murid menerapkan peran musyawarah: menyampaikan usulan perbaikan lingkungan, mendengarkan pendapat warga lain tanpa memotong, dan menyepakati satu jadwal kegiatan bersama berdasarkan 3 skenario masalah: Skenario 1 (Jalan becek butuh pasir), Skenario 2 (Saluran air mampet banyak nyamuk), Skenario 3 (Taman pos ronda kotor) (acuan penerapan: setiap kelompok mencatat 1 usulan yang diterima bersama secara adil) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap kelompok menuliskan 1 tindakan konkret penerapan musyawarah yang baru saja mereka lakukan pada selembar kertas catatan kelompok (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap tindakan murid yang berhasil menerapkan kesepakatan bersama secara santun tanpa memaksakan kehendak (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali cara menerapkan musyawarah mufakat dalam kehidupan bermasyarakat (5 menit).
  • Guru memberikan lembar cek pemahaman mandiri berupa 2 butir soal penerapan sikap musyawarah, memberikan umpan balik singkat, lalu menutup pembelajaran dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu skenario situasi masyarakat dengan tingkat kompleksitas masalah yang berbeda (masalah penentuan jadwal ronda yang sederhana vs masalah pembagian anggaran kerja bakti yang membutuhkan kompromi bertingkat).
  • Proses: Memberikan panduan kalimat rintisan bagi kelompok yang membutuhkan bantuan dalam menyampaikan pendapat secara santun saat musyawarah simulasi.
  • Produk: Murid dapat menuliskan rumusan kesepakatan musyawarah dalam bentuk poin ringkas atau bagan alur keputusan bersama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Guru menanyakan (1) 'Apa arti musyawarah?' (Acuan: Proses pembahasan bersama untuk mencapai keputusan/kesepakatan bersama); (2) 'Sebutkan 1 contoh kegiatan musyawarah yang ada di lingkungan RT atau desa!' (Acuan: Pemilihan ketua RT, rapat penentuan jadwal ronda malam, musyawarah perbaikan jalan, atau rapat panitia peringatan 17 Agustus).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan kelompok selama simulasi musyawarah warga: Guru memeriksa apakah murid (1) menyampaikan pendapat secara santun, (2) tidak memaksakan kehendak, dan (3) bersedia menerima keputusan mufakat bersama berdasarkan 3 skenario yang diselesaikan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (2 soal): (1) Tuliskan 2 contoh tindakan menerapkan sikap musyawarah saat ada perbedaan pendapat dalam rapat warga RT! (Acuan: mendengarkan pendapat tetangga dengan tenang, tidak memotong pembicaraan, mencari titik temu yang adil); (2) Apa yang harus dilakukan warga jika keputusan musyawarah sudah disepakati bersama? (Acuan: melaksanakan keputusan tersebut dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas meskipun usulan pribadinya tidak terpilih).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja simulasi musyawarah mufakat di lingkungan masyarakat menggunakan lembar amatan keterlibatan dan sikap menghargai pendapat
  • Cek pemahaman mandiri di akhir sesi pembelajaran mengenai tindakan musyawarah mufakat

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan sikap musyawarah mufakat di lingkungan masyarakatBelum mampu menerapkan sikap musyawarah mufakat; masih memaksakan pendapat pribadi dan enggan mendengarkan usulan orang lain saat berdiskusi menyelesaikan masalah lingkungan.Mampu menerapkan 1 sikap musyawarah mufakat di lingkungan masyarakat (misalnya mau mendengarkan usulan warga), tetapi masih kesulitan menerima keputusan bersama jika berbeda dengan keinginannya.Mampu menerapkan 2 sikap musyawarah mufakat di lingkungan masyarakat secara konsisten (menyampaikan usulan santun dan menerima hasil keputusan mufakat bersama) dengan sedikit bimbingan guru.Mampu menerapkan seluruh sikap musyawarah mufakat di lingkungan masyarakat secara mandiri dan konsisten (mendengarkan usulan, tidak memaksakan kehendak, serta mendukung dan melaksanakan hasil mufakat bersama).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur simulasi musyawarah berhasil membantu murid memahami cara pengambilan keputusan bersama di masyarakat secara nyata?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang pemalu saat kegiatan simulasi musyawarah warga berlangsung?

Murid:

  • Apa hal paling menantang bagimu ketika pendapatmu berbeda dengan teman dalam musyawarah tadi?
  • Sikap musyawarah apa yang akan kamu praktikkan saat melihat pertemuan warga di sekitar rumahmu?

Pertemuan 8 — Menerapkan Sikap Gotong Royong dan Tolong-Menolong Para Perumus Pancasila di Lingkungan Masyarakat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.3 Menerapkan sikap para perumus Pancasila di lingkungan masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru mengkondisikan kelas, mengajak murid berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid secara tertib (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-8 yaitu menerapkan sikap gotong royong dan tolong-menolong para perumus Pancasila di lingkungan masyarakat (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan pemetaan: 'Manakah tindakan berikut yang mencerminkan sikap gotong royong di masyarakat: (A) Membersihkan saluran air bersama warga saat kerja bakti, atau (B) Menonton warga yang sedang memperbaiki jembatan dari kejauhan?' (acuan: jawaban tepat adalah A karena melibatkan partisipasi kerja sama secara langsung) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan pengantar guru mengenai keteladanan perumus Pancasila yang bersatu padu, mengesampingkan kepentingan pribadi/golongan, dan saling menolong saat merumuskan dasar negara (7 menit).
  • Murid secara berpasangan mencermati 4 skenario situasi kemasyarakatan berikut: Skenario 1: 'Warga RT mengadakan kerja bakti membersihkan selokan yang tersumbat sampah menjelang musim hujan'; Skenario 2: 'Seorang tetangga lansia sedang kesulitan membawa barang belanjaan yang berat dari warung'; Skenario 3: 'Warga menyiapkan tenda dan kursi bersama-sama untuk acara peringatan hari kemerdekaan di balai RW'; Skenario 4: 'Keluarga tetangga sedang isolasi mandiri karena sakit dan memerlukan bantuan pengantaran makanan' (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan tantangan berpasangan 'Aksi Gotong Royong Tanggap Warga', di mana tiap pasangan memilih 2 dari 4 kartu masalah nyata di lingkungan masyarakat berikut: Kartu A: 'Sampah menumpuk di lapangan serbaguna kampung setelah acara festival warga'; Kartu B: 'Tanaman di taman lingkungan layu dan fasilitas pos ronda kotor terbengkalai'; Kartu C: 'Seorang anak tetangga terjatuh dari sepeda dan rantai sepedanya lepas di jalan gang'; Kartu D: 'Tetangga baru yang pindah rumah kesulitan menurunkan perabotan dari mobil bak terbuka' (10 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan rancangan penerapan tindakan gotong royong dan tolong-menolong pada Lembar Kerja untuk 2 masalah yang dipilih (acuan: Kartu A -> ikut kerja bakti menyapu, memilah, dan mengangkut sampah bersama warga; Kartu B -> membawa ember/alat siram bersama anak-anak lain untuk menyiram tanaman serta mengepel pos ronda; Kartu C -> menolong anak berdiri, menenangkan, serta membantu membetulkan rantai atau memanggil orang tuanya; Kartu D -> menawarkan bantuan mengangkat barang-barang ringan perabotan rumah secara bersama-sama) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid meninjau kembali tindakan gotong royong dan tolong-menolong yang telah dirumuskannya dengan mengecek apakah tindakan tersebut dapat benar-benar diterapkan saat menghadapi kejadian serupa di lingkungan tempat tinggal (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil penerapan murid serta menegaskan bahwa gotong royong dan tolong-menolong menghidupkan warisan luhur para pendiri bangsa dalam kehidupan bertetangga (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan bentuk-bentuk nyata penerapan sikap gotong royong dan tolong-menolong warisan perumus Pancasila di lingkungan warga (5 menit).
  • Guru melaksanakan cek pemahaman akhir melalui 1 soal cepat: sebutkan 1 contoh tindakan tolong-menolong kepada tetangga yang sedang tertimpa musibah (acuan: membantu menyumbangkan makanan/pakaian, membersihkan rumah terdampak, atau menghibur/mendampingi) lalu menutup sesi dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu masalah dengan ilustrasi visual bagi murid yang memerlukan dukungan pemahaman visual, serta teks narasi masalah yang lebih kontekstual bagi murid yang siap belajar mandiri.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan contoh tindakan nyata gotong royong di lingkungan RT/RW; murid yang berkemampuan cepat merumuskan tindakan penerapan untuk keempat skenario masalah secara menyeluruh.
  • Produk: Rancangan penerapan sikap dapat disajikan dalam bentuk daftar poin aksi gotong royong atau peta tindakan tolong-menolong terperinci.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Manakah tindakan berikut yang mencerminkan sikap gotong royong di masyarakat: (A) Membersihkan saluran air bersama warga saat kerja bakti, atau (B) Menonton warga yang sedang memperbaiki jembatan dari kejauhan?' (acuan: pilihan A benar karena menunjukkan keterlibatan langsung dalam kerja sama membersihkan fasilitas umum masyarakat).

Proses:

  • Observasi formatif saat murid menentukan bentuk penerapan sikap gotong royong dan tolong-menolong pada lembar kerja berdasarkan 2 kartu masalah yang dipilih (acuan kartu: Kartu A = ikut membersihkan sampah lapangan bersama warga; Kartu B = menyiram tanaman dan membersihkan pos ronda bersama-sama; Kartu C = menolong anak yang jatuh dari sepeda dan membantu rantai/memanggil orang tua; Kartu D = membantu tetangga baru menurunkan barang perabotan ringan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan/tertulis singkat akhir sesi: Sebutkan 1 contoh tindakan tolong-menolong kepada tetangga yang sedang tertimpa musibah (acuan: membantu menyumbangkan makanan/pakaian, membantu membersihkan rumah terdampak bencana/musibah, atau mendampingi dan meringankan beban keluarga tetangga).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja perumusan tindakan penerapan sikap gotong royong dan tolong-menolong melalui Lembar Kerja Murid

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan Sikap Gotong Royong dan Tolong-Menolong Para Perumus Pancasila di Lingkungan MasyarakatBelum mampu menentukan bentuk penerapan sikap gotong royong dan tolong-menolong di lingkungan masyarakat yang sesuai dengan kartu skenario masalah yang diberikan.Mampu menentukan 1 bentuk penerapan sikap gotong royong atau tolong-menolong di lingkungan masyarakat sesuai acuan kartu masalah dengan bantuan arahan guru.Mampu menentukan 2 bentuk penerapan sikap gotong royong dan tolong-menolong di lingkungan masyarakat sesuai acuan kartu masalah secara mandiri dan tepat.Mampu menentukan 3 sampai 4 bentuk penerapan sikap gotong royong dan tolong-menolong di lingkungan masyarakat mencakup seluruh variasi kartu masalah secara mandiri, tepat, dan terperinci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah skenario dan kartu tantangan yang disajikan mempermudah murid mengaitkan sikap perumus Pancasila dengan lingkungan masyarakatnya?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama perumusan aksi gotong royong dan tolong-menolong secara mandiri?

Murid:

  • Sikap gotong royong apa yang sudah pernah kamu lakukan bersama tetangga atau warga di sekitar tempat tinggalmu?
  • Tindakan tolong-menolong apa yang akan segera kamu terapkan jika melihat orang lain kesulitan di lingkungan sekitarmu?

Pertemuan 9 — Menerapkan Sikap Patriotisme dan Menomorsatukan Kepentingan Bersama di Lingkungan Masyarakat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.3 Menerapkan sikap para perumus Pancasila di lingkungan masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menerapkan sikap patriotisme dan menomorsatukan kepentingan bersama di lingkungan masyarakat sebagaimana dicontohkan para perumus Pancasila (2 menit).
  • Asesmen Awal: Guru memberikan pertanyaan diagnostik singkat dengan menyajikan 2 situasi: (1) Menonton televisi di rumah saat kerja bakti RT berlangsung; (2) Ikut membagikan konsumsi kerja bakti lingkungan meski sedang ingin menonton televisi. Murid mengacungkan tangan untuk memilih tindakan yang mendahulukan kepentingan bersama (acuan diagnostik: pilihan 2 adalah tindakan patriotisme/menomorsatukan kepentingan bersama) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak ulasan guru tentang nilai keteladanan patriotisme perumus Pancasila yang mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi/golongan, dikaitkan dengan konteks masyarakat sekitar (7 menit).
  • Permainan Cepat 'Pribadi atau Bersama': Guru membacakan 4 pernyataan tindakan nyata di masyarakat, murid berdiri jika tindakan tersebut menomorsatukan kepentingan bersama dan duduk jika mementingkan diri sendiri. Pernyataan: (1) Memarkir sepeda di tengah jalan sempit karena terburu-buru (duduk); (2) Rela berhenti bermain bola demi membantu warga menyingkirkan ranting pohon tumbang di jalan kampung (berdiri); (3) Merapikan kembali kursi balai warga setelah dipakai rapat bersama walau ingin lekas pulang (berdiri); (4) Menolak ikut ronda malam lingkungan karena udara dingin (duduk) (8 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid dibagi berpasangan untuk mengerjakan Lembar Studi Penerapan Sikap Patriotisme yang memuat 4 skenario dilema kepentingan di lingkungan masyarakat: Skenario 1 (Jalan kampung becek sementara murid ingin main layang-layang), Skenario 2 (Antrean pembagian air bersih lingkungan ramai dan ada warga lansia membawa ember), Skenario 3 (Jadwal membersihkan pos kamling bentrok dengan acara menonton film kesukaan), Skenario 4 (Kerja bakti memperbaiki jembatan penyeberangan anak sekolah saat murid ingin bersantai di rumah) (10 menit).
  • Setiap pasangan menuliskan tindakan penerapan konkret yang mendahulukan kepentingan bersama untuk keempat skenario tersebut pada lembar kerja (acuan tindakan: Skenario 1 = menunda main layangan dan ikut membantu menimbun jalan becek bersama warga; Skenario 2 = mendahulukan lansia mendapat giliran air bersih; Skenario 3 = mendahulukan membersihkan pos kamling baru kemudian menonton film; Skenario 4 = ikut serta membantu pekerjaan ringan kerja bakti jembatan) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Beberapa perwakilan pasangan membacakan solusi tindakannya, kemudian guru bersama murid mengonfirmasi ketepatan pilihan sikap yang menomorsatukan kepentingan bersama (10 menit).
  • Murid menuliskan satu komitmen pribadi penerapan sikap patriotisme yang akan dipraktikkan langsung di lingkungan RT/RW tempat tinggalnya pada kartu tindakan (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap prinsip menomorsatukan kepentingan bersama sebagai bukti penerapan nilai para perumus Pancasila di lingkungan masyarakat (3 menit).
  • Guru menyampaikan rencana pembelajaran berikutnya dan menutup pertemuan dengan doa bersama serta salam penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu skenario bergambar visual bagi murid yang memerlukan dukungan pemahaman situasi teks.
  • Proses: Pasangan yang butuh bimbingan didampingi guru dengan panduan pertanyaan arahan; pasangan mandiri menyelesaikan analisis 4 skenario secara langsung.
  • Produk: Murid dapat menuliskan tindakan penerapan dalam bentuk poin ringkas atau uraian kalimat terstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman awal melalui respon murid memilih antara 2 situasi: (1) Menonton televisi di rumah saat kerja bakti RT; (2) Membantu membagikan konsumsi kerja bakti walau ingin menonton televisi. (Acuan: pilihan 2 mencerminkan sikap menomorsatukan kepentingan bersama).

Proses:

  • Penilaian unjuk kerja penentuan tindakan penerapan sikap patriotisme pada 4 skenario: (1) Skenario jalan becek (acuan: menunda bermain, ikut membantu menimbun jalan); (2) Skenario antrean air bersih (acuan: mempersilakan warga lansia lebih dahulu); (3) Skenario pos kamling (acuan: membersihkan pos kamling terlebih dahulu); (4) Skenario jembatan penyeberangan (acuan: ikut membantu kerja bakti sebelum bersantai).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman kartu komitmen tindakan: Murid menuliskan minimal 1 contoh tindakan nyata menomorsatukan kepentingan bersama di lingkungan tempat tinggalnya (kriteria penerimaan: memuat pengorbanan kepentingan/kenyamanan pribadi demi manfaat orang banyak di lingkungan sekitar, misal: membantu memungut sampah di selokan RT daripada terus bermain sepeda).

Formatif:

  • Observasi partisipasi pada permainan cepat 'Pribadi atau Bersama'
  • Penilaian lembar kerja penerapan sikap patriotisme pada 4 skenario dilema di lingkungan masyarakat

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan Sikap Patriotisme dan Menomorsatukan Kepentingan Bersama pada Skenario MasyarakatBelum mampu menentukan tindakan yang menomorsatukan kepentingan bersama pada 4 skenario masyarakat yang disajikan (0 skenario tepat).Mampu menentukan tindakan penerapan yang menomorsatukan kepentingan bersama pada 1-2 dari 4 skenario masyarakat dengan tepat.Mampu menentukan tindakan penerapan yang menomorsatukan kepentingan bersama pada 3 dari 4 skenario masyarakat dengan tepat.Mampu menentukan tindakan penerapan yang menomorsatukan kepentingan bersama pada seluruh (4 dari 4) skenario masyarakat dengan tepat secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah skenario dilema masyarakat yang disajikan cukup kontekstual dan mudah dipahami oleh murid kelas 5?
  • Bagaimana keterlibatan aktif murid saat diajak membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama?

Murid:

  • Perasaan apa yang muncul saat kamu harus menunda keinginan pribadimu demi menolong warga di lingkungan sekitarmu?
  • Tindakan apa yang paling mudah kamu lakukan minggu ini untuk membantu warga di lingkungan RT/RW tempat tinggalmu?

Pertemuan 10 — Menghubungkan Keterkaitan Makna Sila Pertama dan Sila Kedua sebagai Kesatuan yang Utuh — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.4 Menghubungkan sila-sila dalam Pancasila sebagai suatu kesatuan yang utuh

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas, mengajak murid berdoa, mengecek kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu menghubungkan Sila Pertama dan Sila Kedua sebagai satu kesatuan utuh (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal lisan dengan menanyakan 2 pertanyaan diagnostik kesiapan: (1) 'Apa makna pokok sila Ketuhanan Yang Maha Esa?' (acuan: keyakinan kepada Tuhan dan ketaatan menjalankan perintah-Nya); (2) 'Apa makna pokok sila Kemanusiaan yang adil dan beradab?' (acuan: memperlakukan sesama manusia dengan kasih sayang, adil, dan hormat) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak ulasan bahwa Sila Pertama menjadi landasan moral dan spiritual bagi Sila Kedua: cinta kepada Tuhan diwujudkan melalui kasih sayang kepada sesama ciptaan-Nya (10 menit).
  • Secara berpasangan, murid mengikuti kuis interaktif 'Tali Kaitan Sila' untuk menjodohkan nilai ketuhanan dengan wujud kemanusiaannya menggunakan 3 pernyataan kartu: Kartu A 'Menjalankan ajaran agama tentang welas asih' berpasangan dengan 'Menolong teman yang terjatuh tanpa membeda-bedakan'; Kartu B 'Mengakui semua manusia adalah ciptaan Tuhan' berpasangan dengan 'Menghargai martabat setiap orang secara adil'; Kartu C 'Bersyukur atas rezeki dari Tuhan' berpasangan dengan 'Berbagi makanan dengan orang yang membutuhkan' (acuan: pasangan A-menolong sesama, B-menghargai martabat, C-berbagi rezeki) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid mengerjakan Lembar Kerja menghubungkan keterkaitan Sila Pertama dan Sila Kedua pada 3 studi kasus nyata: (1) Skenario 'Edo merawat temannya yang sakit saat jam istirahat sekolah' -> dihubungkan dengan keterkaitan: ketaatan beragama mewajibkan peduli pada penderitaan sesama; (2) Skenario 'Siti tidak mengejek teman yang memiliki kekurangan fisik' -> dihubungkan dengan keterkaitan: menghormati ciptaan Tuhan dengan menjaga adab dan martabat manusia; (3) Skenario 'Budi mengumpulkan sumbangan untuk korban bencana alam' -> dihubungkan dengan keterkaitan: ibadah kepada Tuhan nyata dalam aksi solidaritas kemanusiaan (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menyimpulkan keterikatan mutlak antara Sila 1 dan Sila 2: perbuatan kemanusiaan tanpa landasan ketuhanan kehilangan arah moral, sedangkan pengakuan ketuhanan tanpa cinta kemanusiaan adalah kepalsuan (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran bahwa Sila Pertama dan Kedua saling menjiwai dan tidak dapat dipisahkan (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap hasil lembar kerja serta menyampaikan rencana topik pertemuan berikutnya mengenai keterkaitan Sila Ketiga, Keempat, dan Kelima (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu penghubung bergambar visual keterkaitan nilai untuk murid yang memerlukan panduan konkret.
  • Proses: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru memberikan pertanyaan pemandu penghubung sebab-akibat; bagi murid yang cepat selesai, diberikan 1 skenario tambahan untuk dianalisis keterkaitan dua silanya secara mandiri.
  • Produk: Hubungan keterkaitan dapat dituangkan dalam bentuk peta bagan alur hubungan atau uraian kalimat tertulis.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan kesiapan materi dasar: (1) 'Apa inti nilai Sila Pertama?' (acuan: keyakinan kepada Tuhan dan ketaatan atas ajaran-Nya); (2) 'Apa inti nilai Sila Kedua?' (acuan: pengakuan harkat, martabat, dan kasih sayang antarmanusia).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan murid dalam memasangkan 3 kartu nilai kuis 'Tali Kaitan Sila' (acuan pasangan: A-menolong sesama karena ajaran agama, B-menghormati martabat sesama ciptaan Tuhan, C-berbagi rezeki sebagai wujud syukur).
  • Pemeriksaan ketepatan analisis lembar kerja murid dalam menghubungkan 3 skenario nyata keterkaitan Sila 1 dan Sila 2.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis 1 butir reflektif singkat: 'Mengapa orang yang taat beragama (Sila 1) wajib bersikap adil dan beradab kepada sesama manusia (Sila 2)?' (kriteria penerimaan: jawaban memuat gagasan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan sehingga memperlakukan sesama dengan baik merupakan bukti nyata keimanan kepada Tuhan).

Formatif:

  • Penilaian kinerja Lembar Kerja Analisis Hubungan Keterkaitan Sila Pertama dan Sila Kedua (3 skenario).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menghubungkan keterkaitan makna Sila Pertama dan Sila KeduaBelum mampu menghubungkan keterkaitan Sila Pertama dan Sila Kedua (0 skenario tepat dari 3 skenario yang diberikan).Mampu menghubungkan keterkaitan Sila Pertama dan Sila Kedua pada 1 dari 3 skenario secara tepat sesuai acuan hubungan sebab-akibat nilai.Mampu menghubungkan keterkaitan Sila Pertama dan Sila Kedua pada 2 dari 3 skenario secara tepat sesuai acuan hubungan sebab-akibat nilai.Mampu menghubungkan keterkaitan Sila Pertama dan Sila Kedua pada seluruh 3 skenario secara tepat dan mandiri sesuai acuan hubungan sebab-akibat nilai.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur pembelajaran berhasil membantu murid melihat bahwa Sila 1 dan Sila 2 bukan dua hal terpisah melainkan satu kesatuan?
  • Bagian kegiatan mana yang paling efektif memantik pemikiran mendalam murid tentang perwujudan iman dalam adab kemanusiaan?

Murid:

  • Apa hubungan paling penting yang kamu temukan antara menyayangi Tuhan dan menyayangi teman di sekolah?
  • Sikap apa yang ingin kamu ubah setelah memahami bahwa beriman kepada Tuhan berarti harus memperlakukan orang lain secara beradab?

Pertemuan 11 — Menghubungkan Keterkaitan Sila Ketiga, Keempat, dan Kelima sebagai Kesatuan yang Utuh — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.4 Menghubungkan sila-sila dalam Pancasila sebagai suatu kesatuan yang utuh

Pendahuluan:

  • Guru mengkondisikan kelas, menyapa murid, berdoa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menghubungkan keterkaitan antara Sila Ketiga, Keempat, dan Kelima sebagai kesatuan yang utuh (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat tentang inti sila: Sila 3 (persatuan/kebersamaan), Sila 4 (musyawarah/kerakyatan), dan Sila 5 (keadilan sosial/kesejahteraan bersama) untuk mengecek pemahaman dasar keterhubungan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati bagan alur 'Segitiga Sila 3-4-5' di papan tulis yang memperlihatkan hubungan: Persatuan (Sila 3) menjadi modal dasar bermusyawarah; Musyawarah mufakat (Sila 4) menghargai semua suara; Keputusan mufakat bermuara pada Keadilan Sosial (Sila 5) agar seluruh warga sejahtera tanpa diskriminasi (10 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) berdiskusi untuk menelaah skenario: 'Warga desa bergotong royong menjaga kerukunan (Sila 3), berkumpul mengadakan rapat rembug desa untuk menentukan jadwal giliran air irigasi (Sila 4), sehingga semua petani sawah mendapatkan bagian air secara adil dan merata (Sila 5)' (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan tantangan kelompok 'Jembatan Rantai 3-4-5': Setiap kelompok menerima LKPD yang memuat 3 studi kasus rumpang untuk dihubungkan keterkaitan Sila 3, 4, dan 5 secara berurutan. Kasus 1: Pemilihan ketua kelas demi persatuan dan pembagian piket yang adil; Kasus 2: Penentuan pembagian tugas kerja bakti lingkungan RT; Kasus 3: Musyawarah perbaikan jembatan desa agar semua warga bisa lewat dengan aman (15 menit).
  • Murid menghubungkan keterkaitan ketiga sila tersebut pada LKPD dengan menuliskan kalimat penghubung logis antara dasar persatuan, proses musyawarah, dan hasil keadilan sosial (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Perwakilan murid menyampaikan hasil hubungan Sila 3-4-5 dari lembar kerjanya, dan kelompok lain memberikan konfirmasi kesesuaian alur keterhubungannya (5 menit).
  • Murid secara sadar menyimpulkan bahwa Sila 4 tidak akan berjalan damai tanpa persatuan (Sila 3), dan tanpa tujuan keadilan sosial (Sila 5) musyawarah hanya akan menguntungkan sebagian pihak saja (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik dan penguatan konsep bahwa Sila Ketiga, Keempat, dan Kelima saling menopang dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat (3 menit).
  • Guru bersama murid menutup pelajaran dengan doa dan salam penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan diagram alur panah keterhubungan bergambar bagi kelompok yang membutuhkan dukungan pemahaman visual konkret.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi kelompok yang masih kesulitan menyusun kalimat penghubung sebab-akibat antar-sila, sementara kelompok yang mandiri langsung menganalisis ketiga kasus secara utuh.
  • Produk: Kelompok dapat menyajikan keterhubungan dalam bentuk diagram alur rantai atau narasi uraian hubungan sebab-akibat pada LKPD.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Apa yang terjadi jika suatu kelompok ingin bermusyawarah (Sila 4), tetapi anggotanya saling bermusuhan dan tidak ada persatuan (Sila 3)?' (Acuan jawaban: Musyawarah akan gagal, terjadi pertengkaran/perpecahan, dan tidak mencapai mufakat).
  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Mengapa hasil musyawarah (Sila 4) harus adil bagi semua anggota (Sila 5)?' (Acuan jawaban: Agar tidak ada anggota yang dirugikan atau dianaktirikan, serta tercipta kesejahteraan bersama).

Proses:

  • Observasi diskusi dan pengerjaan tugas menghubungkan keterkaitan Sila 3, 4, dan 5 pada 3 kasus LKPD: Kasus 1 (Pemilihan ketua kelas & jadwal piket), Kasus 2 (Kerja bakti RT), Kasus 3 (Perbaikan jembatan desa). Acuan hubungan: Sila 3 (landasan persatuan/rukun) -> Sila 4 (cara musyawarah/mufakat bersama) -> Sila 5 (tujuan perlakuan adil/merata bagi seluruh pihak).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman 1 butir tertulis pada akhir sesi: 'Jelaskan hubungan keterkaitan antara Sila Ketiga, Keempat, dan Kelima dalam satu kalimat kesatuan yang utuh!' (Acuan jawaban yang diterima: Persatuan Indonesia/Sila 3 menjadi landasan untuk bermusyawarah mufakat/Sila 4 demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat/Sila 5).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal melalui tanya jawab keterkaitan makna dasar Sila 3, Sila 4, dan Sila 5
  • Penilaian kinerja pengerjaan LKPD menghubungkan keterkaitan Sila Ketiga, Keempat, dan Kelima pada studi kasus

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kemampuan Menghubungkan Sila Ketiga, Keempat, dan Kelima sebagai Kesatuan UtuhBelum mampu menghubungkan keterkaitan ketiga sila (hanya menyebutkan sila secara terpisah tanpa alur hubungan keterkaitan).Mampu menghubungkan keterkaitan antara dua sila saja (misalnya hanya Sila 3 dengan Sila 4, atau Sila 4 dengan Sila 5) dengan bantuan guru.Mampu menghubungkan keterkaitan Sila Ketiga, Keempat, dan Kelima secara berurutan dan tepat pada minimal 2 dari 3 kasus yang diberikan (acuan: Sila 3 sebagai dasar kerukunan -> Sila 4 sebagai jalan musyawarah -> Sila 5 sebagai tujuan keadilan).Mampu menghubungkan keterkaitan Sila Ketiga, Keempat, dan Kelima secara utuh, runtut, logis, dan mandiri pada seluruh (3 dari 3) kasus yang diberikan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur bagan dan studi kasus nyata berhasil memfasilitasi murid dalam menghubungkan logika keterkaitan Sila 3, 4, dan 5?
  • Apakah metode tantangan kelompok 'Jembatan Rantai 3-4-5' cukup memotivasi dan menggembirakan murid?

Murid:

  • Bagian mana dari hubungan Sila 3, 4, dan 5 yang paling mudah dan paling sulit kamu pahami?
  • Mengapa kita tidak boleh memisahkan musyawarah (Sila 4) dari rasa persatuan (Sila 3) dan keadilan (Sila 5)?

Pertemuan 12 — Menghubungkan Keseluruhan Lima Sila Pancasila sebagai Satu Kesatuan yang Utuh dan Tidak Terpisahkan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.4 Menghubungkan sila-sila dalam Pancasila sebagai suatu kesatuan yang utuh

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa bersama secara tertib (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menghubungkan kelima sila Pancasila sebagai satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui pertanyaan lisan: 'Jika seseorang mengaku beriman kepada Tuhan (Sila 1) tetapi suka berbuat tidak adil dan menyakiti sesama (melanggar Sila 2), apakah pengamalan Pancasilanya sudah utuh?' (Acuan diagnostik: Belum utuh, karena sila pertama melandasi sila kedua; keimanan kepada Tuhan harus diwujudkan dalam perlakuan memanusiakan sesama) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru mendemonstrasikan media susunan lima balok kayu bertingkat berlabel Sila 1 (paling bawah/fondasi) hingga Sila 5 (puncak), lalu meminta seorang murid mencabut salah satu balok di bagian tengah/bawah hingga susunan roboh, untuk mengamati keterkaitan antar-sila (7 menit).
  • Murid menyimak penjelasan guru tentang hierarki piramidal dan keutuhan Pancasila: Sila 1 menjiwai Sila 2, 3, 4, 5; Sila 2 dijiwai Sila 1 dan menjiwai Sila 3, 4, 5; hingga Sila 5 sebagai muara keadilan yang dijiwai oleh keempat sila sebelumnya (8 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok berpasangan untuk memainkan tantangan interaktif 'Rantai 5 Sila', di mana tiap pasangan menerima Lembar Alur Keterhubungan yang memuat studi kasus keutuhan Pancasila (5 menit).
  • Setiap pasangan menganalisis dan menghubungkan bagaimana kelima sila bekerja bersama dalam menyelesaikan 1 studi kasus bersama: 'Warga desa menyelenggarakan bakti sosial bedah rumah warga prasejahtera.' Murid melengkapi 5 titik alur keterhubungan: (1) Sila 1: Menjalankan perintah Tuhan untuk peduli sesama; (2) Sila 2: Menghargai hak hidup layak sesama manusia; (3) Sila 3: Menjaga kerukunan dan persatuan warga tanpa membeda-bedakan; (4) Sila 4: Musyawarah mufakat menentukan jadwal dan pembagian tugas; (5) Sila 5: Terwujudnya keadilan sosial membantu meringankan beban warga yang membutuhkan (acuan: alur keterhubungan kelima sila sesuai rincian tersebut) (10 menit).
  • Guru berkeliling mengobservasi pengerjaan murid, memeriksa ketepatan analisis keterhubungan antarsila, serta memberi bimbingan langsung bagi pasangan yang mengalami kesulitan (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Perwakilan dua pasangan murid membacakan rantai alur keterhubungan kelima sila yang telah mereka susun, lalu pasangan lain bersama guru memverifikasi kesesuaian logis antarsila (5 menit).
  • Murid menyimpulkan bahwa sila-sila dalam Pancasila adalah satu kesatuan organis yang bulat dan utuh, tidak dapat dipisahkan atau dipilih sebagian saja (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik penguatan atas hasil identifikasi rantai keterhubungan yang dikerjakan murid (5 menit).
  • Guru memandu refleksi singkat mengenai pentingnya menerapkan seluruh nilai Pancasila secara utuh dalam kehidupan sehari-hari, kemudian menutup pelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Disediakan kartu bantuan bertuliskan kata kunci peran tiap sila (Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, Keadilan) bagi kelompok yang membutuhkan scaffolding.
  • Proses: Pasangan yang siap mandiri menyusun rantai keterhubungan secara langsung, sedangkan pasangan yang memerlukan bimbingan mendapatkan panduan bertahap dari guru mulai dari Sila 1 ke Sila 2.
  • Produk: Pasangan murid dapat menyajikan rantai keterhubungan dalam bentuk bagan alur panah tertulis atau tabel hierarki hubungan lima sila.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik: Murid merespons pertanyaan guru: 'Jika seseorang mengaku beriman kepada Tuhan (Sila 1) tetapi suka berbuat tidak adil dan menyakiti sesama (melanggar Sila 2), apakah pengamalan Pancasilanya sudah utuh?' Kriteria ketercapaian awal: Murid menjawab 'belum utuh' disertai alasan bahwa Sila 1 harus sejalan dengan perlakuan baik kepada manusia (Sila 2) (Acuan jawaban: Pengamalan belum utuh karena sila-sila Pancasila saling terkait; keimanan kepada Tuhan mewajibkan sikap saling menyayangi dan menghargai sesama manusia).

Proses:

  • Observasi pengerjaan Lembar Alur Keterhubungan 'Rantai 5 Sila' pada studi kasus 'Bakti sosial bedah rumah'. Kriteria penilaian: Ketepatan menghubungkan fungsi kelima sila secara berurutan dan terpadu (Acuan jawaban: Sila 1 = bentuk ibadah/ketaatan pada Tuhan dengan menolong sesama; Sila 2 = memanusiakan dan membantu sesama yang kesulitan; Sila 3 = gotong royong warga tanpa memandang perbedaan suku/agama; Sila 4 = musyawarah pembagian tugas warga; Sila 5 = terwujudnya keadilan dan kepedulian bagi warga prasejahtera).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir (lisan/tulis singkat): 'Sebutkan 1 alasan logis mengapa kelima sila Pancasila tidak boleh diamalkan secara terpisah-pisah!' (Acuan kriteria: Jawaban memuat konsep keutuhan sistematis, yaitu jika satu sila diabaikan maka pengamalan sila lainnya menjadi cacat/tidak sempurna, seperti susunan balok kayu yang runtuh bila satu bagian dicabut).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran (analisis kasus ketimpangan pengamalan Sila 1 dan Sila 2)
  • Penilaian kinerja Lembar Alur Keterhubungan 'Rantai 5 Sila' saat murid menghubungkan kelima sila dalam satu peristiwa kontekstual

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menghubungkan kelima sila Pancasila sebagai satu kesatuan utuhBelum mampu menghubungkan kelima sila Pancasila atau hanya menghubungkan 1-2 sila dengan tepat pada alur kasus.Mampu menghubungkan 3 sila Pancasila secara tepat pada alur kasus, namun keterkaitan antar-sila belum sepenuhnya utuh.Mampu menghubungkan 4 sila Pancasila secara tepat dan runtut pada alur kasus sesuai acuan.Mampu menghubungkan keseluruhan 5 sila Pancasila secara tepat, runtut, dan terpadu sebagai satu kesatuan yang utuh pada alur kasus sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah simulasi peraga balok kayu efektif memvisualisasikan keutuhan sila-sila Pancasila bagi murid?
  • Bagian keterhubungan sila mana yang paling sering membuat murid bingung saat menyusun alur rantai kasus?

Murid:

  • Apa yang terjadi jika kita hanya melaksanakan satu sila Pancasila dan mengabaikan sila yang lain?
  • Kegiatan apa dalam pembelajaran hari ini yang paling membantumu memahami bahwa lima sila Pancasila tidak dapat dipisahkan?

Pertemuan 13 — Menguraikan Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.5 Menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran bahwa hari ini murid akan menguraikan makna nilai ketuhanan dan kemanusiaan dalam kedudukan Pancasila sebagai dasar negara (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan: 'Apa arti Pancasila sebagai dasar negara?' Murid menjawab lisan. Acuan jawaban benar: Pancasila menjadi fondasi/pedoman utama dalam pembuatan peraturan perundang-undangan dan penyelenggaraan negara (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru melalui teks ringkas tentang makna nilai ketuhanan (negara menjamin kebebasan memeluk agama dan melandasi hukum dengan moral keagamaan) serta nilai kemanusiaan (hukum negara wajib memperlakukan warga secara adil dan menjamin hak asasi manusia tanpa diskriminasi) dalam kedudukan Pancasila sebagai dasar negara (10 menit).
  • Guru memberikan game cepat 'Tebak Nilai Dasar': guru membacakan 2 contoh kebijakan negara, yaitu (1) 'Pemerintah menetapkan hari libur resmi untuk perayaan hari besar berbagai agama' dan (2) 'Pemberian bantuan hukum gratis bagi warga miskin yang menghadapi proses peradilan'. Murid secara serentak menyebutkan nilai yang melandasinya (acuan: nomor 1 adalah nilai ketuhanan, nomor 2 adalah nilai kemanusiaan) (5 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Aktivitas berisi 4 contoh aturan/tindakan negara: (1) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing; (2) Negara melarang segala bentuk penyiksaan terhadap tahanan; (3) Pembangunan rumah ibadah dilindungi undang-undang; (4) Pemerintah menyediakan fasilitas umum yang ramah bagi penyandang disabilitas (5 menit).
  • Murid secara mandiri menguraikan makna nilai dasar negara dari ke-4 contoh aturan tersebut ke dalam lembar kerja dengan acuan: aturan 1 dan 3 menguraikan nilai ketuhanan (negara menempatkan ketaatan pada Tuhan dan perlindungan beragama sebagai fondasi aturan), sedangkan aturan 2 dan 4 menguraikan nilai kemanusiaan (negara menjamin penghormatan terhadap harkat martabat dan hak asasi manusia) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru memeriksa hasil uraian lembar kerja dan mengidentifikasi bagaimana nilai ketuhanan dan kemanusiaan menjadi pedoman mutlak pembentukan hukum negara (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran bahwa nilai ketuhanan dan kemanusiaan sebagai dasar negara memastikan aturan negara bermoral religius dan menghargai martabat manusia (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa kata kunci pemantik ('perlindungan agama' untuk nilai ketuhanan, 'penghormatan martabat manusia' untuk nilai kemanusiaan).
  • Proses: Murid yang mahir menguraikan makna nilai ketuhanan dan kemanusiaan secara mandiri dengan elaborasi yang lebih rinci, sedangkan murid yang membutuhkan bimbingan mendapat perancah pertanyaan terarah dari guru.
  • Produk: Seluruh murid menyelesaikan lembar kerja penguraian makna 4 contoh aturan negara yang sama sesuai acuan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: 'Apa arti Pancasila sebagai dasar negara?' (Acuan jawaban: Pancasila adalah fondasi/pedoman utama dalam pembuatan peraturan perundang-undangan dan tata penyelenggaraan negara).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri penguraian makna nilai ketuhanan dan kemanusiaan pada 4 contoh aturan negara: (1) Kemerdekaan beragama (Ketuhanan), (2) Larangan penyiksaan tahanan (Kemanusiaan), (3) Perlindungan rumah ibadah (Ketuhanan), (4) Fasilitas ramah disabilitas (Kemanusiaan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: murid menyebutkan makna utama nilai kemanusiaan sebagai dasar negara (Acuan jawaban: negara wajib menjamin perlindungan harkat, martabat, dan hak asasi setiap warga negara dalam setiap hukum dan kebijakan).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan lembar kerja penguraian makna nilai ketuhanan dan kemanusiaan sebagai dasar negara pada 4 contoh aturan/tindakan negara.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menguraikan nilai ketuhanan dan kemanusiaan dalam kedudukan Pancasila sebagai dasar negaraBelum mampu menguraikan makna nilai ketuhanan maupun kemanusiaan pada ke-4 contoh aturan negara yang disajikan.Mampu menguraikan makna nilai ketuhanan atau kemanusiaan secara tepat pada 1–2 dari 4 contoh aturan negara yang disajikan.Mampu menguraikan makna nilai ketuhanan dan kemanusiaan secara tepat pada 3 dari 4 contoh aturan negara yang disajikan.Mampu menguraikan makna nilai ketuhanan dan kemanusiaan secara tepat dan lengkap pada seluruh (4) contoh aturan negara yang disajikan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan dengan jelas penerapan nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan dalam konteks Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara?
  • Bagian penjelasan mana yang memerlukan analogi lebih konkret agar murid lebih mudah memahami fungsi Pancasila sebagai dasar hukum negara?

Murid:

  • Apa yang kamu pahami tentang pentingnya nilai ketuhanan dan kemanusiaan sebagai dasar negara kita?
  • Bagian mana dari kegiatan hari ini yang paling membantumu memahami makna dasar negara?

Pertemuan 14 — Menguraikan Nilai Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan dalam Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.5 Menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (2 menit).
  • Guru mengecek kehadiran dan kesiapan belajar murid untuk mengikuti materi (1 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menguraikan makna nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan dalam kedudukan Pancasila sebagai dasar negara (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 3 pertanyaan lisan untuk mengidentifikasi sila yang memuat nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan: (1) Sila ke berapakah yang memuat nilai persatuan? (acuan: Sila ke-3); (2) Sila ke berapakah yang memuat nilai kerakyatan? (acuan: Sila ke-4); (3) Sila ke berapakah yang memuat nilai keadilan? (acuan: Sila ke-5) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru melalui bagan tentang kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan makna tiga nilai pokok: Nilai Persatuan (landasan menjaga keutuhan bangsa dari perpecahan dan menyatukan keberagaman suku/budaya dalam hukum negara), Nilai Kerakyatan (landasan bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat dan keputusan kenegaraan diambil melalui permusyawaratan perwakilan), serta Nilai Keadilan (landasan pemerataan hak, kesempatan, perlindungan hukum, dan kesejahteraan sosial bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi) (10 menit).
  • Murid berpartisipasi dalam kuis interaktif cepat 'Tebak Makna Nilai Dasar Negara' di mana guru membacakan 3 pernyataan fungsi hukum/aturan negara: (1) 'Peraturan pembangunan jalan dan fasilitas kesehatan dibuat merata hingga daerah terpencil' (acuan: nilai keadilan); (2) 'Kebijakan pertahanan dibuat untuk melindungi seluruh kepulauan Indonesia dari ancaman perpecahan' (acuan: nilai persatuan); (3) 'Undang-undang dirumuskan dan disepakati oleh wakil rakyat di dewan perwakilan' (acuan: nilai kerakyatan) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Aktivitas yang memuat 3 deskripsi aturan/kebijakan negara untuk diuraikan makna nilai Pancasila yang mendasarinya: (1) Aturan wajib menjaga kerukunan antardaerah dalam bingkai NKRI; (2) Proses perumusan peraturan desa/daerah melalui musyawarah dewan rakyat; (3) Program jaminan perlindungan sosial bagi warga kurang mampu (15 menit).
  • Murid menguraikan secara tertulis makna ketiga nilai Pancasila sebagai dasar negara pada lembar kerja: Nilai Persatuan pada butir 1 (acuan uraian: aturan negara berfungsi mengikat keberagaman masyarakat agar tetap bersatu dan tidak terpecah belah), Nilai Kerakyatan pada butir 2 (acuan uraian: kebijakan negara bersumber dari aspirasi rakyat dan disepakati secara musyawarah), serta Nilai Keadilan pada butir 3 (acuan uraian: negara menjamin hak setiap warga negara untuk hidup layak dan sejahtera secara merata) (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil uraian makna nilai Pancasila sebagai dasar negara dengan acuan materi untuk memeriksa pemahaman diri secara sadar (5 menit).
  • Murid menyimpulkan bahwa nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan adalah fondasi penting yang memastikan negara berjalan adil, rukun, dan demokratis (3 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik umum dan penguatan terhadap hasil uraian murid terkait nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan sebagai dasar negara (4 menit).
  • Guru menyampaikan informasi pokok bahasan pertemuan berikutnya mengenai makna nilai Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara Indonesia serta menutup pembelajaran dengan doa (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci (kata kunci persatuan: utuh/rukun; kerakyatan: musyawarah/aspirasi; keadilan: merata/sejahtera), sedangkan murid berpencapaian tinggi menguraikan dengan mengaitkan 2 contoh kebijakan negara nyata.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing langsung saat mengisi lembar kerja, sementara murid yang mahir menyelesaikan secara mandiri penuh.
  • Produk: Uraian makna dapat disajikan dalam bentuk tabel analisis terstruktur atau paragraf uraian penjelasan konseptual.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: Murid menyebutkan sila yang memuat nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan pada Pancasila. Butir soal: (1) Sila apa yang memuat nilai persatuan? (acuan: Sila ke-3 / Persatuan Indonesia); (2) Sila apa yang memuat nilai kerakyatan? (acuan: Sila ke-4 / Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan); (3) Sila apa yang memuat nilai keadilan? (acuan: Sila ke-5 / Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia).

Proses:

  • Formatif penugasan tertulis lembar aktivitas penguraian makna nilai dasar negara dengan 3 indikator: (1) Menguraikan makna nilai persatuan sebagai dasar negara (acuan: aturan negara mengikat keberagaman bangsa agar tetap utuh, rukun, dan mencegah perpecahan wilayah/masyarakat); (2) Menguraikan makna nilai kerakyatan sebagai dasar negara (acuan: aturan negara bersumber dari kedaulatan rakyat dan dirumuskan melalui mekanisme permusyawaratan perwakilan); (3) Menguraikan makna nilai keadilan sebagai dasar negara (acuan: kebijakan negara mengupayakan pemerataan kesejahteraan, pemenuhan hak dasar, dan perlindungan hukum bagi seluruh rakyat tanpa pembedaan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (1 butir periksa): Murid menuliskan makna inti dari kedudukan nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan sebagai dasar negara. Kriteria penerimaan operasional: Jawaban murid memuat konsep bahwa ketiga nilai tersebut menjadi landasan hukum dan pembentukan aturan agar Indonesia tetap utuh bersatu, mengutamakan musyawarah rakyat, serta mewujudkan kesejahteraan/hak yang merata bagi seluruh rakyat.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan penentuan sila dan nilai (persatuan, kerakyatan, keadilan)
  • Penilaian proses lembar kerja tertulis penguraian makna nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan sebagai dasar negara

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menguraikan makna nilai persatuan sebagai dasar negaraBelum mampu menguraikan makna nilai persatuan sebagai dasar negara (uraian tidak relevan dengan keutuhan bangsa atau hukum/aturan negara).Menguraikan makna nilai persatuan sebagai dasar negara secara parsial (hanya menyebutkan kata bersatu tanpa menjelaskan kaitannya dengan fungsi dasar negara/aturan).Menguraikan makna nilai persatuan sebagai dasar negara dengan tepat sesuai acuan (aturan/kebijakan negara menjaga keutuhan bangsa dan mencegah perpecahan).Menguraikan makna nilai persatuan sebagai dasar negara secara mendalam, tepat, dan mandiri dengan menguraikan fungsi hukum dalam melindungi keberagaman bangsa.
Menguraikan makna nilai kerakyatan sebagai dasar negaraBelum mampu menguraikan makna nilai kerakyatan sebagai dasar negara (uraian tidak memuat konsep musyawarah atau kedaulatan rakyat).Menguraikan makna nilai kerakyatan sebagai dasar negara secara parsial (hanya menyebutkan musyawarah tanpa mengaitkannya dengan pembuatan keputusan/hukum negara).Menguraikan makna nilai kerakyatan sebagai dasar negara dengan tepat sesuai acuan (kekuasaan/aturan bersumber dari rakyat dan diputuskan melalui musyawarah perwakilan).Menguraikan makna nilai kerakyatan sebagai dasar negara secara komprehensif, tepat, dan mandiri dengan menguraikan prinsip perwakilan dan kesepakatan bersama dalam hukum negara.
Menguraikan makna nilai keadilan sebagai dasar negaraBelum mampu menguraikan makna nilai keadilan sebagai dasar negara (uraian keliru atau tidak menyebut pemerataan/hak rakyat).Menguraikan makna nilai keadilan sebagai dasar negara secara parsial (hanya menyebut tidak pilih kasih tanpa menjelaskan aspek kesejahteraan atau hak warga negara).Menguraikan makna nilai keadilan sebagai dasar negara dengan tepat sesuai acuan (kebijakan negara menjamin pemerataan hak, kesempatan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat).Menguraikan makna nilai keadilan sebagai dasar negara secara mendalam, tepat, dan mandiri dengan menguraikan pemenuhan hak sosial dan perlindungan hukum yang merata tanpa diskriminasi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur pembelajaran tahap Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi efektif memfasilitasi murid menguraikan makna nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan sebagai dasar negara?
  • Bagian mana dari penjelasan makna nilai dasar negara yang masih memerlukan scaffolding tambahan bagi murid?

Murid:

  • Apa makna nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan dalam aturan negara yang paling mudah saya pahami hari ini?
  • Apakah saya sudah mampu menguraikan secara jelas fungsi ketiga nilai tersebut sebagai fondasi hukum bagi bangsa Indonesia?

Pertemuan 15 — Menguraikan Makna Nilai Pancasila sebagai Dasar Penyelenggaraan Negara Indonesia — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.5 Menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengajak murid berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-15, yaitu menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara Indonesia (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan: 'Sebutkan apa arti Pancasila sebagai dasar negara bagi pemerintah dan pembuat hukum!' (acuan jawaban: Pancasila menjadi landasan utama, pedoman pokok, atau sumber dari segala sumber hukum dalam membuat peraturan dan mengatur jalannya pemerintahan negara) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan membaca ringkasan materi mengenai kedudukan Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara, yaitu bahwa seluruh pembentukan undang-undang, pelayanan masyarakat, dan kebijakan pemerintah harus bersumber serta berlandaskan pada 5 nilai dasar Pancasila (7 menit).
  • Guru mengadakan kuis cepat tebak fungsi 'Pilar Penyelenggara Negara' untuk menghidupkan suasana kelas, di mana murid mencocokkan 3 contoh kebijakan negara dengan sila yang mendasarinya: (1) Penyediaan fasilitas ibadah di tempat umum oleh dinas tata kota berlandaskan sila ke-1; (2) Pemberian bantuan penanganan bencana tanpa membeda-bedakan latar belakang warga berlandaskan sila ke-2; (3) Pemilihan kepala desa melalui pemungutan suara tertib berlandaskan sila ke-4 (8 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menerima Lembar Kerja 'Menguraikan Makna Pancasila sebagai Dasar Penyelenggaraan Negara' yang berisi 5 butir sila untuk diuraikan maknanya dalam konteks tata kelola pemerintahan (5 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan uraian makna nilai kelima sila Pancasila dalam penyelenggaraan negara pada lembar kerja: (1) Sila 1: Negara menjamin kebebasan beragama dan memfasilitasi kehidupan beriman; (2) Sila 2: Penyelenggara negara wajib melindungi hak asasi manusia dan memperlakukan setiap warga negara secara adil dan bermartabat; (3) Sila 3: Pemerintah bertugas menjaga keutuhan wilayah, kedaulatan bangsa, serta mencegah perpecahan; (4) Sila 4: Kebijakan dan undang-undang ditetapkan melalui proses musyawarah atau perwakilan rakyat yang demokratis; (5) Sila 5: Penyelenggaraan negara bertujuan menciptakan kesejahteraan umum dan distribusi keadilan sosial bagi seluruh rakyat (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali ketepatan uraian yang ditulisnya dengan membandingkan terhadap panduan konsep dasar negara yang ditegaskan guru di papan tulis (5 menit).
  • Murid merenungkan secara berkesadaran pentingnya pejabat dan aparatur negara memegang teguh nilai Pancasila agar negara berjalan dengan adil, jujur, dan menyejahterakan rakyat (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali makna nilai Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara bahwa Pancasila adalah sumber dari segala hukum dan asas utama kerja pemerintahan (5 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman singkat, memberikan umpan balik langsung, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci (Ketuhanan = perlindungan ibadah; Kemanusiaan = perlindungan HAM; Persatuan = menjaga kedaulatan; Kerakyatan = musyawarah/demokrasi; Keadilan = kesejahteraan umum). Murid berpencapaian tinggi menguraikan makna dengan mengaitkan contoh bidang tugas lembaga negara (pembuat undang-undang, pelayan publik).
  • Proses: Guru mendampingi secara intensif murid yang masih kesulitan merangkai uraian tertulis melalui bimbingan terbimbing, sedangkan murid yang sudah mahir langsung bekerja secara mandiri.
  • Produk: Uraian makna dapat disajikan dalam bentuk tabel isian terstruktur maupun diagram alur penyelenggaraan negara.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan di awal pembelajaran: 'Apa arti kedudukan Pancasila sebagai dasar negara bagi para pemimpin dan pembuat hukum di Indonesia?' (Acuan jawaban: Pancasila menjadi pedoman utama, fondasi pembuatan seluruh peraturan perundang-undangan, dan arahan dalam menyelenggarakan pemerintahan agar sesuai nilai luhur bangsa).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri murid: Menguraikan makna kelima sila Pancasila dalam kedudukannya sebagai dasar penyelenggaraan negara Indonesia dengan 5 target acuan: (1) Sila 1: Penyelenggaraan negara menjamin kemerdekaan beribadah dan memfasilitasi kehidupan beragama; (2) Sila 2: Penyelenggara negara melindungi hak asasi manusia serta memperlakukan rakyat secara adil tanpa diskriminasi; (3) Sila 3: Negara mengutamakan persatuan, pertahanan, dan keutuhan wilayah NKRI di atas kepentingan golongan; (4) Sila 4: Pengambilan keputusan dan hukum berlandaskan asas musyawarah perwakilan dan kedaulatan rakyat; (5) Sila 5: Seluruh kebijakan negara ditujukan untuk mewujudkan keadilan sosial dan kemakmuran bagi seluruh rakyat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (2 butir soal): (1) 'Mengapa penyelenggaraan negara Indonesia harus berlandaskan sila Persatuan Indonesia?' (Acuan: Agar pemerintah senantiasa menjaga keutuhan wilayah NKRI, memelihara kerukunan bangsa yang majemuk, dan mencegah perpecahan); (2) 'Apa makna sila Keadilan Sosial bagi penyelenggaraan negara?' (Acuan: Negara wajib mengalokasikan anggaran dan kebijakan demi mewujudkan kemakmuran, pemerataan kesejahteraan, dan perlakuan adil bagi seluruh rakyat).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan lembar kerja menguraikan makna 5 nilai sila Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara dengan rubrik analitis.
  • Observasi partisipasi dan ketepatan menjawab kuis tebak pilar penyelenggara negara pada tahap memahami.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kemampuan menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negaraMurid menguraikan 1 dari 5 makna sila Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara secara tepat sesuai acuan materi.Murid menguraikan 2 hingga 3 dari 5 makna sila Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara secara tepat sesuai acuan materi.Murid menguraikan 4 dari 5 makna sila Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara secara tepat sesuai acuan materi.Murid menguraikan seluruh (5 dari 5) makna sila Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan negara secara tepat dan lengkap sesuai acuan materi secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan dengan jelas makna Pancasila sebagai dasar negara/penyelenggaraan pemerintahan dengan makna Pancasila dalam pergaulan sehari-hari?
  • Apakah alokasi waktu pada tahap pengerjaan lembar kerja mandiri mencukupi bagi seluruh murid untuk menguraikan kelima sila?

Murid:

  • Apa hal terpenting yang saya pahami tentang alasan pemerintah harus berlandaskan pada Pancasila?
  • Bagian mana dari uraian makna 5 sila dalam penyelenggaraan negara yang paling mudah atau paling menantang untuk saya jelaskan?

Pertemuan 16 — Menguraikan Makna Nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan sebagai Pandangan Hidup Bangsa — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.6 Menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-16, yaitu menguraikan makna nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan sebagai pandangan hidup bangsa dalam membimbing sikap sehari-hari (2 menit).
  • Asesmen Awal: Guru memberikan kuis diagnostik lisan cepat berupa 3 studi kasus singkat untuk mengecek kesiapan murid mengaitkan tindakan dengan nilai pandangan hidup: (1) Menghormati teman yang sedang beribadah saat jam istirahat; (2) Membantu teman yang terjatuh tanpa membeda-bedakan; (3) Bersama-sama membersihkan kelas dengan rukun tanpa memandang asal daerah. Murid menjawab sila yang menjadi pedoman perilaku tersebut (acuan jawaban: 1 = Ketuhanan/Sila 1; 2 = Kemanusiaan/Sila 2; 3 = Persatuan/Sila 3) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru memberikan penjelasan terarah mengenai konsep Pancasila sebagai 'pandangan hidup bangsa' (pedoman/petunjuk arah bertingkah laku bagi seluruh warga negara) dan menguraikan makna 3 nilai utama: Nilai Ketuhanan (sikap hidup berlandaskan iman, taat ibadah, toleransi beragama), Nilai Kemanusiaan (mengakui persamaan derajat, tenggang rasa, saling menyayangi sesama), dan Nilai Persatuan (mengutamakan kebersamaan, cinta tanah air, tidak terpecah-belah oleh perbedaan) (10 menit).
  • Aktivitas Menyenangkan 'Tebak Kompas Pandangan Hidup': Murid berpasangan memainkan kuis cepat mencocokkan 3 kartu kutipan perilaku pandangan hidup berikut ke papan klasifikasi nilai: Kartu A: 'Memberi ruang bagi teman menjalankan ibadah agamanya' -> Nilai Ketuhanan; Kartu B: 'Menjenguk dan menghibur teman yang sedang sakit tanpa melihat latar belakangnya' -> Nilai Kemanusiaan; Kartu C: 'Bekerja sama dalam piket kelas dengan kompak tanpa memilih-milih kawan' -> Nilai Persatuan (acuan: A=Ketuhanan, B=Kemanusiaan, C=Persatuan) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja 'Menguraikan Tiga Pandangan Hidup' untuk menguraikan makna nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan berdasarkan 3 narasi situasi konkret kehidupan: Narasi 1 (Ahmad mengingatkan Yohanes dengan santun waktu beribadahnya telah tiba); Narasi 2 (Siti membagikan bekal makanannya kepada Lani yang tertinggal uang sakunya); Narasi 3 (Made dan Dodi tetap rukun bermain sepak bola bersama murid-murid baru pindahan dari daerah lain) (18 menit).
  • Guru berkeliling melakukan asesmen proses observasi terhadap uraian murid pada lembar kerja, mengecek ketepatan murid dalam menguraikan hubungan antara situasi dengan makna nilai yang menjadi pedoman hidupnya (acuan uraian: Narasi 1 menguraikan makna nilai Ketuhanan sebagai pedoman hidup saling menghormati kebebasan beribadah; Narasi 2 menguraikan makna nilai Kemanusiaan sebagai pedoman memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan adil; Narasi 3 menguraikan makna nilai Persatuan sebagai pedoman hidup menjaga kerukunan dan keutuhan di atas keberagaman) (7 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca kembali hasil uraian mereka dan merenungkan satu contoh tindakan nyata yang sudah atau belum mereka lakukan di sekolah yang mencerminkan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, atau Persatuan sebagai pandangan hidupnya (5 menit).

Penutup:

  • Asesmen Akhir: Guru memberikan cek pemahaman cepat berupa lembar tiket keluar dengan 3 pertanyaan isian singkat: (1) 'Apa makna nilai Ketuhanan sebagai pedoman hidup saat melihat teman merayakan hari rayanya?'; (2) 'Apa makna nilai Kemanusiaan sebagai pedoman hidup jika melihat teman diejek di kantin?'; (3) 'Apa makna nilai Persatuan sebagai pedoman hidup saat pembagian kelompok belajar?' (acuan jawaban: 1 = bersikap toleran dan menghormati; 2 = membela/menolong serta memperlakukan teman secara manusiawi dan bermartabat; 3 = menerima anggota kelompok siapapun tanpa membeda-bedakan suku/latar belakang) (7 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran bahwa nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan berfungsi sebagai kompas penuntun perilaku sehari-hari bangsa Indonesia, lalu menutup pembelajaran dengan doa (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar kerja dengan pertanyaan pemandu (scaffolding uraian makna) bagi murid yang membutuhkan bimbingan, serta lembar narasi kontekstual lanjutan bagi murid berpencapaian tinggi.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru dengan membedah kata kunci tiap nilai, sedangkan murid cepat diminta menguraikan dampak jika salah satu nilai pandangan hidup tersebut diabaikan dalam situasi yang diberikan.
  • Produk: Murid menyajikan uraian makna secara tertulis dalam tabel lembar kerja dengan kedalaman analisis sesuai tingkat kemandirian.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis diagnostik lisan 3 kasus: (1) Menghormati teman yang sedang beribadah saat jam istirahat; (2) Membantu teman yang terjatuh tanpa membeda-bedakan; (3) Bersama-sama membersihkan kelas dengan rukun tanpa memandang asal daerah. Kriteria: Murid menyebutkan nilai sila yang sesuai (acuan jawaban: 1 = Nilai Ketuhanan/Sila 1; 2 = Nilai Kemanusiaan/Sila 2; 3 = Nilai Persatuan/Sila 3).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Kerja 'Menguraikan Tiga Pandangan Hidup' pada 3 situasi: (1) Narasi 1 Ahmad dan Yohanes (acuan: menguraikan makna nilai Ketuhanan sebagai pedoman hidup saling menghormati dan menjamin kebebasan ibadah); (2) Narasi 2 Siti dan Lani (acuan: menguraikan makna nilai Kemanusiaan sebagai pedoman memperlakukan sesama dengan empati, adil, dan beradab); (3) Narasi 3 Made dan Dodi (acuan: menguraikan makna nilai Persatuan sebagai pedoman hidup menjaga kebersamaan dan kerukunan di tengah keberagaman).

Akhir Pertemuan:

  • Tiket keluar 3 butir pertanyaan uraian singkat: (1) Makna nilai Ketuhanan saat teman merayakan hari raya (acuan: bersikap toleran dan menghormati tanpa mengganggu); (2) Makna nilai Kemanusiaan saat melihat teman diejek (acuan: membela/menolong teman serta memperlakukan sesama secara adil dan bermartabat); (3) Makna nilai Persatuan saat pembagian kelompok (acuan: bersedia bekerja sama dengan siapa saja tanpa diskriminasi suku/asal).

Formatif:

  • Kuis diagnostik lisan identifikasi nilai pandangan hidup pada tahap pendahuluan
  • Observasi lembar kerja uraian makna nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan sebagai pandangan hidup bangsa
  • Tiket keluar cek pemahaman uraian makna nilai pada penutup

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menguraikan makna nilai Ketuhanan sebagai pandangan hidup bangsaBelum mampu menguraikan makna nilai Ketuhanan sebagai pandangan hidup, hanya menyebutkan bunyi sila.Menguraikan makna nilai Ketuhanan sebatas contoh perilaku ibadah pribadi dengan bimbingan guru penuh.Menguraikan makna nilai Ketuhanan sebagai pandangan hidup pembimbing toleransi dan penghormatan antarumat beragama secara tepat pada lembar kerja.Menguraikan makna nilai Ketuhanan sebagai pandangan hidup secara mendalam, tepat, dan mandiri beserta alasan pentingnya nilai tersebut dalam membimbing kerukunan beragama.
Menguraikan makna nilai Kemanusiaan sebagai pandangan hidup bangsaBelum mampu menguraikan makna nilai Kemanusiaan sebagai pandangan hidup dalam situasi yang diberikan.Menguraikan makna nilai Kemanusiaan sebatas tindakan tolong-menolong sederhana dengan bantuan arahan guru.Menguraikan makna nilai Kemanusiaan sebagai pandangan hidup yang memandu sikap adil, empati, dan menghargai martabat sesama secara tepat pada lembar kerja.Menguraikan makna nilai Kemanusiaan sebagai pandangan hidup secara komprehensif, tepat, dan mandiri serta menghubungkannya dengan prinsip persamaan derajat manusia.
Menguraikan makna nilai Persatuan sebagai pandangan hidup bangsaBelum mampu menguraikan makna nilai Persatuan sebagai pandangan hidup bangsa.Menguraikan makna nilai Persatuan sebatas ajakan tidak bertengkar dengan bantuan guru.Menguraikan makna nilai Persatuan sebagai pandangan hidup yang memandu kerukunan, gotong royong, dan keutuhan di atas perbedaan secara tepat pada lembar kerja.Menguraikan makna nilai Persatuan sebagai pandangan hidup secara mendalam, runtut, dan mandiri serta menguraikan dampaknya bagi terpeliharanya keutuhan bangsa.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid telah mampu membedakan dan menguraikan makna nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan sebagai pedoman hidup bertingkah laku?
  • Bagian uraian situasi mana yang paling memerlukan bimbingan tambahan bagi murid?

Murid:

  • Nilai manakah di antara Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan yang paling sering memandu sikapmu saat bersama teman di sekolah?
  • Mengapa penting bagi kita untuk selalu memakai nilai-nilai Pancasila sebagai petunjuk arah dalam bergaul sehari-hari?

Pertemuan 17 — Menguraikan Makna Nilai Kerakyatan dan Keadilan Sosial sebagai Pandangan Hidup Bangsa dalam Pergaulan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.6 Menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa pembuka secara khidmat (3 menit).
  • Guru memeriksa kehadiran murid dan mengondisikan kesiapan belajar di dalam ruang kelas (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan terarah: (1) 'Apa makna nilai kerakyatan saat ada perbedaan pilihan permainan?' (acuan: mengutamakan musyawarah dan menghargai keputusan bersama) dan (2) 'Apa makna nilai keadilan sosial saat membagi tugas piket?' (acuan: bersikap adil tanpa membeda-bedakan dan tidak egois) (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menguraikan makna nilai kerakyatan dan nilai keadilan sosial sebagai pandangan hidup bangsa dalam pergaulan sehari-hari (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mencermati 2 teks studi kasus pergaulan yang disajikan guru pada papan tulis: Kasus A (Doni memaksakan permainan sepak bola tanpa musyawarah) dan Kasus B (Rani membagi jajan dan giliran bermain hanya kepada teman dekatnya secara pilih kasih) (6 menit).
  • Murid menyimak penjelasan guru yang menguraikan makna nilai kerakyatan (menghargai pendapat orang lain, mengutamakan musyawarah, dan lapang dada menerima mufakat) serta nilai keadilan sosial (tidak pilih kasih, menghormati hak teman, dan suka menolong tanpa pamrih) sebagai pedoman hidup dalam bergaul (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti tantangan berpasangan gembira 'Urai Situasi Pergaulan', di mana setiap pasangan mengambil 1 kartu tantangan dari 4 kartu yang disiapkan: Kartu 1 (memilih ketua regu belajar), Kartu 2 (menentukan tempat bermain bersama), Kartu 3 (pembagian alat mewarnai di kelas), Kartu 4 (antre giliran mencuci tangan) (10 menit).
  • Murid secara berpasangan mengerjakan Lembar Kerja untuk menguraikan makna nilai kerakyatan dan keadilan sosial berdasarkan kartu situasi masing-masing (acuan LK: Kartu 1 = musyawarah memilih pemimpin & adil memberi hak suara; Kartu 2 = menghargai usulan teman & tidak memaksakan tempat sendiri; Kartu 3 = membagi giliran alat secara adil & tidak serakah; Kartu 4 = tertib giliran sesuai hak teman & tidak mendahului secara sepihak) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Dua perwakilan pasangan membacakan hasil uraian makna nilai kerakyatan dan keadilan sosial dari situasi yang dikerjakan, sementara murid lain menyimak kecocokan uraian dengan panduan nilai (6 menit).
  • Guru memberikan konfirmasi penguatan terhadap ketepatan uraian murid bahwa nilai kerakyatan dan keadilan sosial berfungsi sebagai penuntun moral agar pergaulan rukun dan tidak menindas hak sesama (4 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai makna nilai kerakyatan dan nilai keadilan sosial dalam pergaulan (3 menit).
  • Murid mengerjakan cek pemahaman singkat tertulis (2 butir soal uraian singkat) pada lembar refleksi akhir (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas partisipasi murid, menyampaikan informasi kegiatan pertemuan berikutnya (Asesmen Sumatif Bab 1), dan menutup pelajaran dengan doa bersama (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu situasi dengan teks cerita bergambar sederhana, sedangkan murid yang mahir diberikan kartu situasi dilema pergaulan yang lebih kompleks.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan panduan langsung dari guru berupa daftar kata kunci nilai, sedangkan murid yang mahir menguraikan makna situasi secara mandiri.
  • Produk: Murid menuangkan hasil uraian makna nilai dalam bentuk tabel terstruktur sederhana atau paragraf deskripsi sesuai tingkat kesiapannya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: (1) 'Apa makna nilai kerakyatan dalam pergaulan sehari-hari saat ada perbedaan pilihan?' (acuan: mengutamakan musyawarah dan menghargai keputusan bersama); (2) 'Apa makna nilai keadilan sosial dalam pergaulan saat berbagi tugas atau giliran bermain?' (acuan: bersikap adil tanpa pilih kasih dan menghormati hak sesama).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Kerja 'Urai Situasi Pergaulan' berpasangan: Menguraikan makna nilai kerakyatan dan keadilan sosial pada 4 situasi pergaulan (acuan: Kartu 1 = musyawarah memilih pemimpin & adil memberi hak suara; Kartu 2 = menghargai usulan teman & tidak memaksakan tempat sendiri; Kartu 3 = membagi giliran alat secara adil & tidak serakah; Kartu 4 = tertib giliran sesuai hak teman & tidak mendahului secara sepihak).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis 2 butir: (1) Uraikan makna nilai kerakyatan sebagai pandangan hidup saat teman berbeda usulan permainan! (acuan: mendengarkan usulan teman, bermusyawarah, dan menerima keputusan mufakat tanpa memaksakan kehendak); (2) Uraikan makna nilai keadilan sosial sebagai pandangan hidup saat meminjamkan barang kelas! (acuan: memberikan kesempatan yang setara/adil kepada semua teman tanpa membeda-bedakan suku/agama atau hubungan pertemanan dekat).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal kesiapan pemahaman makna nilai
  • Observasi unjuk kerja lembar kerja pasangan 'Urai Situasi Pergaulan'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menguraikan Makna Nilai Kerakyatan sebagai Pandangan Hidup BangsaBelum mampu menguraikan makna nilai kerakyatan dalam pergaulan atau uraian keliru.Mampu menguraikan makna nilai kerakyatan dalam pergaulan secara parsial (hanya menyebutkan musyawarah tanpa menjelaskan maknanya) dengan bimbingan guru.Mampu menguraikan makna nilai kerakyatan dalam pergaulan secara tepat (mencakup musyawarah mufakat dan menghargai perbedaan usulan) secara mandiri.Mampu menguraikan makna nilai kerakyatan dalam pergaulan secara tepat, mendalam, dan terperinci pada berbagai situasi pergaulan tanpa bimbingan.
Menguraikan Makna Nilai Keadilan Sosial sebagai Pandangan Hidup BangsaBelum mampu menguraikan makna nilai keadilan sosial dalam pergaulan atau uraian keliru.Mampu menguraikan makna nilai keadilan sosial dalam pergaulan secara parsial (hanya menyebut kata adil tanpa menjelaskan maknanya) dengan bimbingan guru.Mampu menguraikan makna nilai keadilan sosial dalam pergaulan secara tepat (mencakup tidak membeda-bedakan teman, menghormati hak orang lain, dan berbagi secara seimbang) secara mandiri.Mampu menguraikan makna nilai keadilan sosial dalam pergaulan secara tepat, mendalam, dan terperinci pada berbagai situasi pergaulan tanpa bimbingan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah konteks studi kasus pergaulan yang disajikan relevan dan mudah dipahami oleh murid kelas 5?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama aktivitas tantangan berpasangan 'Urai Situasi Pergaulan'?
  • Apakah seluruh murid telah mampu membedakan dan menguraikan makna nilai kerakyatan dan keadilan sosial secara tepat?

Murid:

  • Apa hal penting yang kamu pelajari tentang cara bersikap saat ada perbedaan pendapat di antara teman?
  • Bagaimana kamu akan menerapkan nilai keadilan sosial saat bermain bersama teman-temanmu di sekolah?

Pertemuan 18 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.1.1 Menjelaskan kronologi sejarah kelahiran Pancasila
  • TP 5.1.2 Meneladani sikap para perumus Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
  • TP 5.1.3 Menerapkan sikap para perumus Pancasila di lingkungan masyarakat
  • TP 5.1.4 Menghubungkan sila-sila dalam Pancasila sebagai suatu kesatuan yang utuh
  • TP 5.1.5 Menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara
  • TP 5.1.6 Menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, memimpin doa bersama, dan menyampaikan agenda sesi Asesmen Sumatif Bab 1 (2 menit).
  • Guru membacakan tata tertib asesmen sumatif kombinasi: pengerjaan lembar kerja tertulis-bagan secara mandiri (36 menit) dilanjutkan presentasi kelompok terstruktur (28 menit) (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan Lembar Kerja Asesmen Sumatif Mandiri dan menjelaskan petunjuk pengisian 3 bagian tugas: Bagian I Kronologi Sejarah (mengurutkan dan menjelaskan 4 peristiwa sejarah: pembentukan BPUPK 1 Maret/29 Mei 1945, usulan dasar negara oleh Muh. Yamin/Soepomo/Soekarno 29 Mei-1 Juni 1945, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan pengesahan Pancasila PPKI 18 Agustus 1945); Bagian II Jurnal Refleksi Sikap (menuliskan 2 sikap perumus yang diteladani diri sendiri: religius dan toleransi musyawarah, serta 2 penerapan nyata di masyarakat: gotong royong warga dan mufakat RT); Bagian III Bagan Hubungan Sila (menggambarkan keterkaitan sila 1 menjiwai sila 2, 3, 4, 5 sebagai kesatuan utuh) (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara individual mengerjakan Lembar Kerja Asesmen Sumatif Mandiri yang mencakup: Bagian I mengurutkan 4 tonggak sejarah kelahiran Pancasila secara runtut; Bagian II mengisi refleksi peneladanan sikap perumus (sikap religius, cinta tanah air, musyawarah) dan catatan penerapannya di lingkungan sekitar (tolong-menolong warga, mufakat pemilihan ketua RT); Bagian III melengkapi bagan keterhubungan hierarkis-piramidal sila-sila Pancasila sebagai satu kesatuan utuh tanpa contekan (36 menit).
  • Murid secara berkelompok (terdiri dari 7 kelompok, masing-masing tampil 4 menit) melakukan unjuk kerja presentasi menguraikan secara lisan: (1) makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara (sumber dari segala sumber hukum penyelenggaraan negara) dan (2) makna nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (pedoman moral, etika, dan perilaku pergaulan warga negara sehari-hari) di hadapan guru dan teman (24 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan jalannya pengerjaan asesmen sumatif tertulis dan unjuk kerja presentasi kelompok, mengecek ketuntasan lembar kerja yang telah diserahkan (2 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar kerja tertulis-bagan siswa dan lembar penilaian presentasi kelompok (1 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas integritas dan usaha seluruh murid dalam menyelesaikan rangkaian asesmen Bab 1, merangkum pencapaian belajar satu bab, lalu menutup sesi dengan doa penutup (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan lembar kerja dengan format teks terbaca jelas (font besar) atau bantuan pembacaan instruksi bagi murid dengan hambatan visual/membaca tanpa mengubah isi butir yang diuji.
  • Proses: Menyediakan ruang berdiri/duduk yang nyaman saat giliran unjuk kerja presentasi kelompok dan pengaturan meja asesmen tertulis yang bebas distraksi.
  • Produk: Format bukti sumatif tetap standar mengacu instrumen ATP: lembar tertulis-bagan individual dan presentasi kelompok lisan terstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Guru memeriksa kesiapan alat tulis dan pemahaman murid terhadap tata tertib pengerjaan asesmen sumatif secara mandiri dan jujur (acuan kesiapan: murid memahami bahwa asesmen dikerjakan mandiri tanpa membuka catatan).

Proses:

  • Observasi kepatuhan pengerjaan mandiri selama 36 menit tes tertulis dan pencatatan rubrik unjuk kerja presentasi lisan selama 24 menit penampilan kelompok.

Sumatif Bab:

  • Asesmen kombinasi portofolio tertulis-bagan mandiri dan unjuk kerja presentasi kelompok: Lembar kerja berisi urutan kronologi sejarah kelahiran Pancasila, jurnal refleksi keteladanan dan keterlaksanaan sikap perumus, bagan kesatuan utuh sila-sila Pancasila, serta rekaman rubrik presentasi kelompok yang menguraikan makna nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa
  • tes tertulis dan penugasan lembar refleksi-bagan serentak: Lembar kerja tertulis individual berisi: uraian urutan kronologi kelahiran Pancasila, isian refleksi peneladanan sikap perumus oleh diri sendiri beserta catatan observasi keterlaksanaannya di lingkungan sekitar, dan bagan keterkaitan antarsila Pancasila sebagai satu kesatuan utuh yang dikerjakan serentak seluruh kelas (40 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran uraian dan rubrik penilaian bagan-refleksi)
  • unjuk kerja presentasi kelompok: Penyampaian lisan dalam kelompok kecil (terdiri dari 6-7 kelompok yang masing-masing tampil 4 menit) yang menguraikan secara lugas makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa secara terstruktur (30 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian unjuk kerja presentasi lisan (kriteria: ketepatan makna dasar negara, ketepatan makna pandangan hidup, dan kelancaran penjelasan))

Sumatif:

  • Asesmen kombinasi portofolio tertulis-bagan mandiri dan unjuk kerja presentasi kelompok: Lembar kerja berisi urutan kronologi sejarah kelahiran Pancasila, jurnal refleksi keteladanan dan keterlaksanaan sikap perumus, bagan kesatuan utuh sila-sila Pancasila, serta rekaman rubrik presentasi kelompok yang menguraikan makna nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa
  • tes tertulis dan penugasan lembar refleksi-bagan serentak: Lembar kerja tertulis individual berisi: uraian urutan kronologi kelahiran Pancasila, isian refleksi peneladanan sikap perumus oleh diri sendiri beserta catatan observasi keterlaksanaannya di lingkungan sekitar, dan bagan keterkaitan antarsila Pancasila sebagai satu kesatuan utuh yang dikerjakan serentak seluruh kelas (40 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran uraian dan rubrik penilaian bagan-refleksi)
  • unjuk kerja presentasi kelompok: Penyampaian lisan dalam kelompok kecil (terdiri dari 6-7 kelompok yang masing-masing tampil 4 menit) yang menguraikan secara lugas makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa secara terstruktur (30 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian unjuk kerja presentasi lisan (kriteria: ketepatan makna dasar negara, ketepatan makna pandangan hidup, dan kelancaran penjelasan))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kronologi Sejarah Kelahiran Pancasila (TP 5.1.1)Hanya mengurutkan 1 peristiwa sejarah atau urutan kronologis keliru secara keseluruhan.Mengurutkan dan menjelaskan 2 dari 4 tonggak sejarah kelahiran Pancasila secara tepat (acuan: Sidang BPUPK, Usulan Tokoh, Piagam Jakarta, Pengesahan PPKI 18 Agustus 1945).Mengurutkan dan menjelaskan 3 dari 4 tonggak sejarah kelahiran Pancasila secara tepat sesuai urutan waktu.Mengurutkan dan menjelaskan seluruh 4 tonggak sejarah kelahiran Pancasila (Sidang BPUPK, Usulan Tokoh, Piagam Jakarta, Pengesahan PPKI 18 Agustus 1945) secara runtut dan tepat.
Meneladani dan Menerapkan Sikap Perumus Pancasila (TP 5.1.2 & TP 5.1.3)Hanya menyebutkan 1 contoh sikap tanpa menunjukkan bentuk peneladanan diri maupun penerapannya di masyarakat.Menuliskan 1 sikap teladan perumus bagi diri dan 1 contoh penerapan di masyarakat dengan tepat.Menuliskan 2 sikap teladan perumus bagi diri (acuan: religius, cinta tanah air, atau musyawarah) dan 1 contoh penerapannya di masyarakat (acuan: gotong royong atau mufakat) secara tepat.Menuliskan secara lengkap dan tepat minimal 2 sikap teladan perumus bagi diri (religius, musyawarah) serta 2 bukti konkret penerapannya di lingkungan masyarakat (gotong royong, mufakat bersama warga).
Menghubungkan Sila-Sila Pancasila sebagai Kesatuan Utuh (TP 5.1.4)Bagan hanya memuat nama sila tanpa garis/panah penghubung keterkaitan makna kesatuan.Bagan menghubungkan keterkaitan antara 2 sila saja sebagai kesatuan utuh.Bagan menghubungkan keterkaitan antara 3 sampai 4 sila dengan penjelasan keterpaduan yang cukup tepat.Bagan menghubungkan keseluruhan lima sila Pancasila secara utuh dan terpadu (sila 1 melandasi sila 2, 3, 4, dan 5; tidak terpisahkan satu sama lain).
Menguraikan Makna Pancasila sebagai Dasar Negara (TP 5.1.5)Belum mampu menguraikan makna Pancasila sebagai dasar negara atau penjelasan keliru.Menguraikan makna dasar negara secara umum tanpa mengaitkannya dengan hukum/penyelenggaraan negara.Menguraikan makna nilai Pancasila sebagai dasar negara (fondasi/sumber hukum negara) secara tepat dengan 1 contoh aturan/penyelenggaraan negara.Menguraikan secara lugas dan komprehensif makna nilai Pancasila sebagai fondasi hukum dan pedoman pokok penyelenggaraan seluruh tata negara Indonesia.
Menguraikan Makna Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa (TP 5.1.6)Belum mampu menguraikan makna Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.Menguraikan makna pandangan hidup sebatas kebiasaan perorangan tanpa mengaitkannya dengan etika bangsa.Menguraikan makna nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (petunjuk arah moral dan pedoman perilaku masyarakat Indonesia) secara tepat.Menguraikan secara lugas, terstruktur, dan mendalam makna nilai Pancasila sebagai pedoman moral, kepribadian, dan filter budaya pergaulan hidup bangsa Indonesia.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 36 menit untuk tes mandiri dan 24 menit untuk presentasi 7 kelompok berjalan efektif dan tertib?
  • Bagian asesmen mana (kronologi, refleksi sikap, bagan kesatuan sila, atau presentasi makna) yang paling banyak membutuhkan penguatan pasca-sumatif bagi murid?

Murid:

  • Bagian mana dari asesmen sumatif hari ini yang paling menantang bagiku (kronologi, peneladanan sikap, bagan sila, atau presentasi)?
  • Bagaimana pemahamanku tentang nilai-nilai Pancasila setelah menyelesaikan seluruh pembelajaran pada Bab 1 ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek, 2023)
  2. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek, 2023)
  3. Set kartu kronologi 'Urut Fakta BPUPK' dan lembar kerja murid.
  4. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek)
  5. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek)
  6. Kartu nama tokoh dan kartu teks 5 usulan dasar negara BPUPK
  7. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek, 2023).
  8. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek, 2023) Bab 1.
  9. Bagan alur kronologis Sejarah Kelahiran Pancasila dan 4 Kartu Peristiwa Perumusan-Penetapan.
  10. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek 2023)
  11. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek 2023, Bab 1)
  12. Set kartu situasi 'Tebak Kartu Keteladanan'
  13. Lembar Kerja Murid: Meneladani Sikap Religius dan Berakhlak Mulia
  14. Set kartu pernyataan tindakan keteladanan cinta tanah air
  15. Lembar Kerja Murid 'Teladan Hidupku: Cinta Tanah Air'
  16. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek 2023)
  17. Lembar Kerja Murid 'Teladan Hidupku: Menghargai Pendapat dan Musyawarah'
  18. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek RI, 2023)
  19. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek RI, 2023)
  20. Kartu skenario simulasi 'Musyawarah Warga Kampung Damai'
  21. Lembar pengamatan simulasi musyawarah
  22. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek, 2023, Bab 1)
  23. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek, 2023, Bab 1)
  24. Set 4 Kartu Skenario Masalah Gotong Royong dan Lembar Kerja Aksi Tanggap Warga
  25. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek 2023, Halaman 46-47)
  26. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek 2023, Halaman 19-20)
  27. Lembar Kerja Studi Kasus 4 Skenario Penerapan Nilai Patriotisme
  28. Kartu Komitmen Tindakan Berpancasila
  29. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila Kelas V SD (Kemendikbudristek, 2023)
  30. Buku Siswa Pendidikan Pancasila Kelas V SD (Kemendikbudristek, 2023)
  31. Kartu Aktivitas 'Tali Kaitan Sila' dan Lembar Kerja Analisis Skenario Hubungan Sila 1 dan 2
  32. Bagan alur 'Segitiga Sila 3-4-5'
  33. Lembar Kerja Murid (LKPD) 'Jembatan Rantai 3-4-5' berisi 3 studi kasus kontekstual
  34. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V, Kemendikbudristek 2023
  35. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V, Kemendikbudristek 2023 (Halaman 30-33)
  36. Media 5 susunan balok kayu berperekat/bertumpuk dengan label Sila 1 sampai Sila 5
  37. Lembar Kerja Pasangan: Bagan Alur 'Rantai 5 Sila'
  38. Naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Pasal 28 dan Pasal 29)
  39. Lembar Kerja Siswa: Penguraian Makna Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Kebijakan Negara
  40. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek 2023, Bab 1)
  41. Bagan konsep nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara
  42. Lembar aktivitas murid tentang analisis nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan
  43. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek 2023).
  44. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek 2023).
  45. Lembar Kerja Murid: Menguraikan Makna Nilai Pancasila sebagai Dasar Penyelenggaraan Negara.
  46. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V
  47. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V Bab 1
  48. Lembar Kerja Murid 'Menguraikan Tiga Pandangan Hidup'
  49. Kartu Tebak Kompas Pandangan Hidup
  50. Kartu Studi Kasus Tantangan Berpasangan 'Urai Situasi Pergaulan'
  51. Lembar Kerja Siswa Pertemuan 17
  52. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023)
  53. Buku Teks Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023)
  54. Lembar Kerja Asesmen Sumatif Bab 1 (Format Portofolio Tertulis, Lembar Bagan Sila, dan Jurnal Refleksi)
  55. Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Presentasi Kelompok

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.