Modul AjarBab 3Fase BSemester 2

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 4 Bab 3: Kerja Sama di Lingkunganku

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Pancasila kelas 4 untuk Bab 3 "Kerja Sama di Lingkunganku", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 4 Bab 3: Kerja Sama di Lingkunganku

Pendidikan Pancasila - Kelas 4

Bab 3

MODUL AJAR

Pendidikan Pancasila — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Bab 3 — Kerja Sama di Lingkunganku

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Pancasila
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikBab 3 — Kerja Sama di Lingkunganku
Alokasi Waktu34 JP (34 x 35 menit = 1190 menit)
Jumlah Pertemuan17
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 4.3.1 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman suku bangsa di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan
  2. TP 4.3.2 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman sosial di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan
  3. TP 4.3.3 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman budaya di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan
  4. TP 4.3.4 Menunjukkan sikap bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan sekitar

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana perasaanmu ketika membersihkan ruang kelas bersama teman yang berbeda suku asal?
  2. Mengapa kita harus tetap kompak dan saling membantu saat piket kelas tanpa membeda-bedakan asal suku teman?
  3. Apa yang terjadi jika kita hanya mau belajar bersama teman yang satu suku saja?
  4. Bagaimana cara kita bekerja sama menyelesaikan tugas kelompok saat anggota kelompok kita berasal dari suku bangsa yang berbeda?
  5. Apa yang terjadi jika warga yang berbeda suku bangsa saling menolak membantu saat kerja bakti membersihkan selokan lingkungan RT?
  6. Bagaimana caramu menunjukkan sikap bekerja sama dengan tetangga yang berbeda suku bangsa agar lingkungan tempat tinggal kita menjadi bersih dan rukun?
  7. Mengapa kita harus tetap kompak dan rukun dengan tetangga yang berbeda suku bangsa?
  8. Apa contoh tindakan nyata bekerja sama dengan teman berbeda suku agar lingkungan kita selalu damai?
  9. Apakah tugas piket kelas membeda-bedakan kondisi kemampuan ekonomi keluarga kita?
  10. Bagaimana cara kita bekerja sama membersihkan kelas dengan rukun tanpa memandang perbedaan latar belakang ekonomi teman?
  11. Apakah pekerjaan atau profesi orang tua setiap teman di kelas kita semuanya sama?
  12. Bagaimana cara kita tetap kompak bekerja sama saat merapikan perlengkapan sekolah bersama teman yang latar belakang profesi orang tuanya berbeda-beda?
  13. Apa yang harus kita lakukan jika melihat warga di sekitar kita mengalami musibah atau kesulitan tanpa membeda-bedakan latar belakang sosialnya?
  14. Mengapa kita perlu saling menolong dan bekerja sama dengan semua warga agar lingkungan kita tetap bersatu dan rukun?
  15. Apa saja perbedaan latar belakang pekerjaan dan kondisi warga yang ada di lingkungan rukun warga (RW) tempat tinggalmu?
  16. Bagaimana warga yang memiliki berbagai perbedaan tersebut dapat tetap bersatu dan bekerja sama saat ada kegiatan bersama di lingkungan RW?
  17. Apa yang akan kamu lakukan jika teman sekelompokmu mengenakan pakaian adat atau membawa atribut tradisi daerah yang berbeda saat perayaan hari besar nasional di sekolah?
  18. Mengapa kita harus saling membantu merapikan atribut pakaian adat teman tanpa membeda-bedakan asalnya?
  19. Bagaimana caramu dan teman-teman bekerja sama ketika harus menyiapkan pertunjukan kesenian daerah yang berbeda-beda?
  20. Mengapa kita perlu saling membantu saat menampilkan tarian atau lagu dari daerah teman kita?
  21. Apa yang biasanya dilakukan warga di kelurahan ketika ada tetangga yang menyelenggarakan upacara atau tradisi adat?
  22. Bagaimana cara kita ikut membantu kegiatan sosial warga kelurahan meskipun tradisi adat mereka berbeda dengan kita?
  23. Apa contoh kegiatan kerja sama yang melibatkan perbedaan budaya warga di lingkungan sekitar kita?
  24. Bagaimana kita menunjukkan perilaku bekerja sama saat warga berbeda budaya mengadakan kegiatan bersama demi menjaga persatuan?
  25. Bahasa apa yang kamu gunakan ketika menyapa teman baru di kelas yang memiliki bahasa daerah berbeda?
  26. Mengapa menggunakan bahasa Indonesia saat menyapa teman dari suku lain membuat kita merasa bersatu dan bangga?
  27. Bahasa apa yang sebaiknya kita gunakan ketika bermusyawarah di kelas bersama teman-teman yang berasal dari berbagai suku bangsa?
  28. Mengapa menggunakan bahasa Indonesia membuat semua teman merasa dihargai dan dipersatukan saat menyampaikan usulan?
  29. Bahasa apa yang paling tepat kita gunakan ketika teman satu kelompok kita berasal dari suku dan daerah yang berbeda?
  30. Mengapa kita merasa bangga dan bersatu saat menggunakan bahasa Indonesia saat membagi tugas bersama teman di kelas?
  31. Mengapa kita merasa bangga dan bersatu saat berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengan teman yang berbeda latar belakang?
  32. Bagaimana bahasa Indonesia membantu kita bergaul secara rukun dengan semua teman di lingkungan sekitar?
  33. Bagaimana cara kita bekerja sama dengan kompak saat merapikan kelas bersama teman yang berbeda latar belakang suku, sosial, dan budaya?
  34. Mengapa penggunaan bahasa Indonesia membantu kita bersatu dan rukun saat menyelesaikan tugas kelompok?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa dalam kegiatan membersihkan ruang kelas — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.1 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman suku bangsa di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 3 gambar situasi dan meminta murid memilih 2 gambar yang menunjukkan perilaku kerja sama membersihkan kelas tanpa membedakan suku: Situasi A (dua murid beda suku bersama-sama mengangkat meja), Situasi B (seorang murid menolak menyapu dengan teman beda suku), Situasi C (tiga murid beragam suku berbagi tugas membersihkan papan tulis dan jendela) (acuan benar: Situasi A dan Situasi C) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa dalam kegiatan membersihkan ruang kelas demi menjaga persatuan (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mengamati ilustrasi cerita bergambar di papan tulis mengenai kelompok piket kelas yang beranggotakan Made (Bali), Dewi (Jawa), Dani (Kaili), dan Hemalia (Dayak) yang membagi tugas membersihkan kelas secara rukun (7 menit).
  • Murid bersama guru mengidentifikasi bentuk-bentuk konkret perilaku kerja sama antarsuku dalam membersihkan kelas: menyapu lantai bersama tanpa memilih kawan, membagi alat kebersihan secara adil, dan saling membantu mengangkat bangku (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Guru membagi murid ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang dengan latar belakang suku yang beragam untuk memainkan permainan tantangan gerak cepat 'Estafet Kelas Bersih' yang menggembirakan (10 menit).
  • Murid secara berkelompok mempraktikkan langsung pembagian tugas dan unjuk kerja sama membersihkan sudut-sudut ruang kelas: menyapu lantai, merapikan meja belajar, dan membersihkan papan tulis secara serentak bersama teman berbeda suku tanpa membedakan (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama kelompoknya memeriksa kerapian area yang telah dibersihkan dan menyadari manfaat saling membantu antarsuku demi kenyamanan bersama (8 menit).
  • Murid mengisi lembar ceklis refleksi diri berisi 3 butir perilaku: (1) Mau bekerja sama dengan teman berbeda suku saat membersihkan kelas, (2) Berbagi alat kebersihan secara adil, (3) Membantu teman yang kesulitan tanpa memandang asal sukunya (7 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap keterlibatan dan kekompakan kerja sama seluruh kelompok saat kegiatan piket bersama (3 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya persatuan antarsuku dalam menjaga kebersihan kelas, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan bergambar kartu tugas kebersihan bagi murid yang membutuhkan bantuan visual alur kerja.
  • Proses: Memberikan pendampingan langsung oleh guru bagi kelompok yang masih canggung berinteraksi antaranggota beda suku, serta memberikan keleluasaan pembagian area tugas yang lebih luas bagi kelompok yang mandiri.
  • Produk: Unjuk kerja sama membersihkan kelas dinilai melalui keterlibatan langsung pada area tugas masing-masing sesuai kesepakatan kelompok.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik visual memilih 2 dari 3 gambar situasi kerja sama membersihkan kelas: Situasi A (dua murid beda suku bersama-sama mengangkat meja), Situasi B (seorang murid menolak menyapu dengan teman beda suku), dan Situasi C (tiga murid beragam suku berbagi tugas membersihkan papan dan jendela) (acuan jawaban tepat: Situasi A dan Situasi C).

Proses:

  • Lembar observasi keterlibatan murid dalam bekerja sama membersihkan kelas antarsuku bangsa yang mencakup 3 indikator: (1) bersedia berbagi tugas kebersihan dengan teman beda suku, (2) menggunakan alat kebersihan bersama secara bergantian/rukun, dan (3) membantu menyelesaikan pembersihan area kelompok hingga rapi (acuan ketepatan: terpenuhinya ketiga indikator perilaku teramati).

Akhir Pertemuan:

  • Ceklis perilaku diri akhir sesi: murid menandai 3 pernyataan sikap kerja sama: (1) Saya bersedia bekerja sama membersihkan kelas bersama teman dari suku mana pun, (2) Saya berbagi alat kebersihan dengan adil, (3) Saya membantu teman kelompok yang memerlukan bantuan saat piket (acuan ketercapaian: murid menyetujui dan menunjukkan kesesuaian pada minimal 2 dari 3 pernyataan perilaku).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja perilaku bekerja sama antarsuku bangsa saat praktik membersihkan ruang kelas menggunakan lembar amatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Perilaku bekerja sama antarsuku bangsa dalam membersihkan ruang kelasMenolak atau pasif saat diminta bekerja sama membersihkan ruang kelas dengan teman yang berbeda suku bangsa.Menunjukkan perilaku bekerja sama membersihkan ruang kelas dengan teman berbeda suku bangsa hanya jika terus diarahkan dan diingatkan guru.Menunjukkan perilaku bekerja sama membersihkan ruang kelas bersama teman yang berbeda suku bangsa secara aktif dan tertib dalam kelompoknya.Menunjukkan perilaku bekerja sama membersihkan ruang kelas bersama teman yang berbeda suku bangsa secara konsisten, mandiri, serta berinisiatif membantu kawan kelompok yang membutuhkan bantuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah mau membaur dan bekerja sama dengan teman yang berbeda latar belakang suku saat membersihkan ruang kelas?
  • Langkah apa yang perlu diperbaiki untuk membantu murid yang masih canggung bekerja sama dalam keberagaman suku?

Murid:

  • Apa tugas kebersihan yang kamu selesaikan bersama teman beda suku hari ini?
  • Bagaimana perasaanmu setelah berhasil membuat ruang kelas bersih dan rapi bersama teman-temanmu?

Pertemuan 2 — Menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa dalam menyelesaikan tugas kelompok belajar di kelas — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.1 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman suku bangsa di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengondisikan kesiapan belajar di kelas (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa dalam menyelesaikan tugas kelompok belajar di kelas (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal lisan dengan menanyakan 2 pertanyaan diagnostik kesiapan: (1) 'Jika dalam kelompokmu ada teman dari suku Minang, Jawa, dan Papua, bagaimana caramu membagi tugas kelompok?' (acuan: membagi secara adil tanpa membeda-bedakan asal suku); (2) 'Mengapa kita tidak boleh memilih-milih teman berdasarkan suku saat kerja kelompok?' (acuan: agar tugas cepat selesai dan terjaga persatuan di kelas) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mengamati lembar ilustrasi komik mini yang dibagikan guru, berisi cerita interaksi Hemalia (Dayak), Dani (Kaili), dan Made (Bali) yang sedang bekerja sama menyelesaikan teka-teki materi kelas (5 menit).
  • Murid menandai 3 perilaku kerja sama antarsuku bangsa dalam teks bacaan singkat: (1) membagi tugas sama rata; (2) saling membantu saat ada yang kesulitan; (3) menghargai saran teman tanpa mencela latar belakang sukunya (acuan: ketiga perilaku tersebut tercantum tepat pada teks) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Guru membagi murid ke dalam kelompok beranggotakan 4 orang secara heterogen antarsuku bangsa/latar belakang daerah, kemudian memainkan permainan tantangan kelompok 'Estafet Teka-Teki Keberagaman' di mana setiap anggota harus bekerja sama menyusun potongan fakta suku bangsa (Jawa, Dayak, Bali, Toraja) menjadi satu buklet utuh (10 menit).
  • Setiap kelompok menyelesaikan lembar tugas kelompok berisi pengelompokan 4 kartu perilaku ke dalam dua kolom: 'Perilaku Kerja Sama Antarsuku Bangsa' dan 'Bukan Perilaku Kerja Sama Antarsuku Bangsa'. Rincian kartu: (1) 'Membantu teman kelompok yang berbeda suku memahami tugas' -> Kerja Sama; (2) 'Hanya mau satu kelompok dengan teman satu daerah asal' -> Bukan Kerja Sama; (3) 'Mendengarkan usulan teman dari suku mana pun dengan tertib' -> Kerja Sama; (4) 'Menolak giliran menulis karena merasa tugas tersebut milik teman lain' -> Bukan Kerja Sama (acuan: kunci pengelompokan sesuai kartu 1-4) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompok memeriksa keterlibatan masing-masing anggota selama penugasan berlangsung, mencocokkan apakah semua anggota sudah ikut menunjukkan perilaku bekerja sama tanpa membeda-bedakan asal suku (5 menit).
  • Murid menyimpulkan bahwa persatuan dalam kelompok belajar tercapai apabila seluruh anggota saling bekerja sama tanpa memandang suku bangsa asal (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik dan penegasan terhadap pengamatan unjuk kerja sama antarsuku bangsa yang telah ditunjukkan murid selama tugas kelompok (5 menit).
  • Guru bersama murid menutup pertemuan dengan doa dan pesan persatuan untuk selalu rukun di kelas (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks bacaan yang dilengkapi penanda visual warna pada contoh-contoh perilaku kerja sama.
  • Proses: Murid yang cepat selesai diarahkan untuk membantu memastikan keterlibatan anggota kelompok lain secara merata dalam penyelesaian kartu perilaku.
  • Produk: Kelompok dapat menempelkan hasil pemilahan kartu dalam bentuk tabel tempel dua kolom sederhana atau bagan pohon klasifikasi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan kesiapan bekerja sama antarsuku: (1) 'Jika dalam kelompokmu ada teman dari suku Minang, Jawa, dan Papua, bagaimana caramu membagi tugas kelompok?' (acuan: membagi tugas secara adil tanpa membedakan asal daerah/suku); (2) 'Mengapa kita tidak boleh memilih-milih teman berdasarkan suku saat kerja kelompok?' (acuan: agar tugas selesai bersama dan tercipta kerukunan/persatuan).

Proses:

  • Observasi tindakan nyata murid selama menyelesaikan tugas kelompok: menunjukkan pembagian tugas tanpa membeda-bedakan suku, saling membantu dalam tugas, dan menerima masukan teman kelompok yang berbeda latar belakang suku.
  • Pemeriksaan hasil kerja kelompok pada lembar pemilahan 4 kartu: (1) 'Membantu teman kelompok yang berbeda suku memahami tugas' -> Kerja Sama; (2) 'Hanya mau satu kelompok dengan teman satu daerah asal' -> Bukan Kerja Sama; (3) 'Mendengarkan usulan teman dari suku mana pun dengan tertib' -> Kerja Sama; (4) 'Menolak giliran menulis karena merasa tugas tersebut milik teman lain' -> Bukan Kerja Sama (acuan: minimal 3 dari 4 kartu terkelompokkan dengan tepat).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat (lembar refleksi mandiri 2 butir centang): (1) 'Saya mau bekerja sama menyelesaikan tugas dengan siapa saja tanpa membedakan suku asal teman' (acuan centang: Ya); (2) 'Saya mendengarkan usul teman kelompok meski berasal dari suku yang berbeda' (acuan centang: Ya).

Formatif:

  • Lembar observasi perilaku bekerja sama antarsuku bangsa saat kerja kelompok
  • Penilaian kinerja pemilahan 4 kartu perilaku kerja sama antarsuku bangsa

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa dalam tugas kelompokBelum bersedia berbagi tugas atau masih memilih-milih anggota kelompok berdasarkan suku bangsa asal walau telah diarahkan guru.Menunjukkan perilaku bekerja sama dengan teman berbeda suku bangsa hanya jika terus diingatkan dan dibimbing guru.Menunjukkan perilaku bekerja sama (berbagi tugas secara adil dan saling membantu) dengan teman kelompok yang berbeda suku bangsa atas kesadaran sendiri.Menunjukkan perilaku bekerja sama dengan konsisten secara mandiri serta berinisiatif memastikan seluruh anggota kelompok lintas suku bangsa terlibat aktif dalam tugas.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah komposisi kelompok yang dibentuk sudah heterogen dan memberi ruang bagi seluruh murid dari berbagai latar belakang suku untuk berinteraksi?
  • Bagaimana keterlibatan aktif setiap murid dalam menunjukkan sikap kerja sama tanpa membeda-bedakan suku selama kegiatan berlangsung?

Murid:

  • Apa yang saya lakukan saat ada teman kelompok yang berbeda suku mengalami kesulitan dalam tugas?
  • Bagaimana perasaan saya setelah berhasil menyelesaikan tugas bersama-sama dengan teman yang berbeda suku asal?

Pertemuan 3 — Menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa melalui simulasi kerja bakti di lingkungan rukun tetangga — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.1 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman suku bangsa di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa bersama (3 menit).
  • Guru mengecek kehadiran serta mengondisikan kelas agar nyaman dan siap belajar (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 3 gambar tindakan kerja bakti di lingkungan RT: (1) Menyapu jalan bersama tetangga berbeda suku; (2) Memilih hanya mau mengangkut sampah bersama warga sesuku; (3) Membantu mengangkat dahan pohon tumbang bersama tetangga tanpa membeda-bedakan asal daerah. Murid diminta mengangkat kartu jempol ke atas jika gambar menunjukkan kerja sama dan jempol ke bawah jika bukan (acuan benar: gambar 1 jempol ke atas, gambar 2 jempol ke bawah, gambar 3 jempol ke atas) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa melalui simulasi kerja bakti membersihkan lingkungan rukun tetangga (RT) (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menyajikan teks narasi singkat tentang 'Kerja Bakti Minggu Pagi di RT 04': Pak Made (suku Bali), Pak Joko (suku Jawa), Pak Ucok (suku Batak), dan Bu Siti (suku Sunda) berbagi tugas membersihkan saluran air dan pos ronda. Murid menyimak contoh perilaku kerja sama yang saling membantu tanpa mempermasalahkan perbedaan suku bangsa (5 menit).
  • Murid secara berpasangan mencermati 4 tindakan dalam teks: (1) Pak Joko dan Pak Made bahu-membahu mengangkat batu penyumbat parit; (2) Pak Ucok meminjamkan sekop kepada tetangga dari suku lain; (3) Bu Siti menyiapkan minuman bagi seluruh warga tanpa membeda-bedakan; (4) Menolak membersihkan selokan karena tetangga samping rumah berasal dari suku berbeda. Pasangan murid menunjukkan 3 perilaku yang mencerminkan kerja sama antarsuku bangsa (acuan benar: tindakan 1, 2, dan 3) (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok simulasi beranggotakan 4-5 murid dengan peran latar suku bangsa yang beragam (misalnya peran warga suku Jawa, Sunda, Minang, Dayak, Bugis) untuk menjalankan skenario 'Simulasi Kerja Bakti Lingkungan RT' (6 menit).
  • Dalam permainan simulasi bergembira 'Estafet Alat dan Sampah RT', setiap kelompok menerima replika alat/bahan kerja bakti (sapu lidi, keranjang sampah, sekop mainan, dahan kertas) dan menjalankan tugas membersihkan 3 pos simulasi (Pos Saluran Air, Pos Lapangan Warga, Pos Pos Ronda) di ruang kelas dengan aturan wajib saling berbagi alat dan membantu rekan yang memerankan suku berbeda (13 menit).
  • Guru mengamati dan mengambil penilaian unjuk kerja saat murid menunjukkan perilaku berbagi peran, saling membantu mengangkat beban bersama teman lintas peran suku, dan tidak memilih-milih kawan kerja bakti (7 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid kembali ke tempat duduk dan bersama kelompoknya mengisi lembar cek lis perilaku kerja sama: murid memberi tanda centang pada tindakan yang berhasil mereka tunjukkan selama simulasi (membantu teman peran suku lain, berbagi alat, menyelesaikan tugas kebersihan bersama) (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan bermakna bahwa persatuan dan kesatuan di lingkungan RT terwujud nyata ketika warga antarsuku bangsa saling bekerja sama dan tolong-menolong (3 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai pentingnya menunjukkan kerja sama antarsuku bangsa saat kerja bakti di lingkungan RT (5 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir singkat berupa pertanyaan respon cepat: menyebutkan 1 perilaku kerja sama konkret yang akan dilakukan murid jika di lingkungan RT tempat tinggalnya diadakan kerja bakti antarsuku bangsa (kriteria: menyebutkan tindakan membantu membersihkan/menata lingkungan bersama tetangga tanpa membeda-bedakan suku) (5 menit).
  • Guru menginformasikan fokus pertemuan berikutnya tentang menjaga kerukunan antarsuku bangsa di lingkungan sekitar, lalu menutup kegiatan dengan doa bersama dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Guru menyediakan kartu petunjuk peran bergambar alur kerja bakti bagi murid yang memerlukan dukungan visual, dan kartu skenario penanganan kendala simulasi bagi murid yang memerlukan tantangan lebih.
  • Proses: Untuk murid yang memerlukan bimbingan, guru mendampingi langsung pembagian peran kerja bakti; bagi murid yang tanggap, mereka mempraktikkan simulasi secara mandiri dalam kelompok penuh.
  • Produk: Semua murid menunjukkan perilaku kerja sama dalam simulasi; murid yang memerlukan scaffolding menunjukkan minimal 2 tindakan kerja sama, sedangkan murid yang mahir menunjukkan seluruh 3 tindakan kerja sama terikat persatuan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Respon gestur kartu jempol pada 3 gambar situasi kerja bakti RT: (1) Menyapu jalan bersama tetangga berbeda suku (acuan: jempol atas/kerja sama); (2) Memilih hanya mau mengangkut sampah bersama warga sesuku (acuan: jempol bawah/bukan kerja sama); (3) Membantu mengangkat dahan pohon tumbang bersama tetangga tanpa membeda-bedakan asal daerah (acuan: jempol atas/kerja sama).

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja simulasi kerja bakti lingkungan RT dengan 3 indikator perilaku kerja sama antarsuku: (1) Bersedia berbagi perlengkapan kerja bakti dengan kawan peran suku lain; (2) Saling tolong-menolong menyelesaikan tugas membersihkan pos simulasi bersama kawan peran suku lain; (3) Menyelesaikan pembersihan pos tanpa memisahkan diri atau menolak berbaur dengan suku lain.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman respon lisan/tulis singkat di akhir sesi: Murid menyebutkan 1 contoh tindakan nyata bekerja sama antarsuku bangsa pada kerja bakti RT (kriteria penerimaan: menyebutkan tindakan konkret seperti ikut menyapu, mengumpulkan sampah, atau menyediakan air bersama warga berbeda suku demi persatuan lingkungan RT).

Formatif:

  • Asesmen awal diagnostik respon gestur (kartu jempol) terhadap 3 gambar situasi kerja sama antarsuku di RT.
  • Observasi unjuk kerja perilaku bekerja sama antarsuku bangsa selama simulasi kerja bakti lingkungan RT.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa dalam simulasi kerja bakti di RTBelum menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa dalam simulasi kerja bakti di lingkungan RT meskipun telah diarahkan guru.Menunjukkan 1 dari 3 perilaku bekerja sama antarsuku bangsa (berbagi perlengkapan, tolong-menolong membersihkan pos, atau berbaur tanpa membedakan) dalam simulasi kerja bakti di lingkungan RT dengan bimbingan intensif.Menunjukkan 2 dari 3 perilaku bekerja sama antarsuku bangsa (berbagi perlengkapan, tolong-menolong membersihkan pos, dan berbaur tanpa membedakan) dalam simulasi kerja bakti di lingkungan RT secara mandiri.Menunjukkan seluruh 3 perilaku bekerja sama antarsuku bangsa (berbagi perlengkapan, tolong-menolong membersihkan pos, dan berbaur tanpa membedakan) dalam simulasi kerja bakti di lingkungan RT secara konsisten dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur simulasi kerja bakti lingkungan RT efektif membuat seluruh murid menunjukkan perilaku kerja sama nyata antarsuku bangsa?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam memainkan peran keberagaman suku bangsa untuk menumbuhkan persatuan dan kesatuan?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu saat bekerja sama membersihkan pos lingkungan RT bersama teman yang berbeda peran suku bangsa?
  • Tindakan kerja sama apa yang paling kamu sukai saat simulasi kerja bakti tadi?

Pertemuan 4 — Menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa dalam menjaga kerukunan dan persatuan di lingkungan sekitar — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.1 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman suku bangsa di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru mengaitkan materi pertemuan sebelumnya tentang simulasi kerja bakti dengan pentingnya menjaga kerukunan dan persatuan di lingkungan yang beraneka suku bangsa (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat mengenai contoh tindakan menjaga kerukunan antarwarga yang berbeda suku bangsa (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak ulasan guru dan teks bacaan narasi situasi tentang peribahasa 'bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh' serta pentingnya kerja sama antarsuku (misal suku Jawa, Sunda, Dayak, Bugis, dan Minang) untuk menjaga persatuan lingkungan (8 menit).
  • Murid mengidentifikasi 4 kartu skenario perilaku menjaga persatuan yang dibacakan guru: (1) Menegur teman dari suku lain yang sedang berselisih agar berdamai, (2) Bersama-sama warga berbeda suku ikut ronda malam menjaga keamanan, (3) Menolak berteman dengan tetangga baru karena asal sukunya berbeda, (4) Mengajak anak pindahan dari luar pulau ikut bermain bersama di lapangan (acuan: perilaku menjaga persatuan adalah nomor 1, 2, dan 4; nomor 3 bukan) (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi berpasangan untuk memainkan permainan tantangan peran 'Misi Penjaga Kerukunan', di mana setiap pasangan memilih tindakan kerja sama nyata untuk menyelesaikan 3 situasi kerukunan di lembar misi: Situasi A (dua tetangga beda suku berebut giliran memarkir gerobak), Situasi B (lapangan bermain kotor setelah perayaan hari kemerdekaan bersama warga aneka suku), dan Situasi C (sekelompok anak mengejek dialek anak suku lain saat bermain kelereng) (10 menit).
  • Setiap murid menuliskan dan menunjukkan perilaku kerja sama yang tepat untuk menjaga persatuan pada lembar aktivitas berpasangan sesuai kriteria: Situasi A diselesaikan dengan kerja sama bermusyawarah dan membagi ruang antre bersama; Situasi B diselesaikan dengan kerja sama membersihkan lapangan secara gotong royong; Situasi C diselesaikan dengan kerja sama mengingatkan teman yang mengejek dan mengajak semua bermain bersama secara rukun (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling memeriksa kecocokan tindakan kerja sama yang mereka pilih dan menyebutkan satu manfaat menjaga kerukunan antarsuku bagi persatuan kelas dan lingkungan sekitar (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan bahwa perbedaan suku bangsa adalah kekayaan bangsa yang harus diikat dengan kerja sama nyata demi tegaknya persatuan Indonesia (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan bersama perilaku kerja sama antarsuku bangsa yang dapat menjaga kerukunan lingkungan (5 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman 2 butir pernyataan singkat dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu situasi bergambar bagi murid yang membutuhkan bantuan visual dan teks skenario situasi tertulis bagi murid yang siap membaca mandiri.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi pasangan yang kesulitan menentukan tindakan kerja sama rukun, serta memberikan tantangan tambahan berupa 1 situasi tambahan bagi pasangan yang selesai lebih cepat.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan pilihan perilaku kerja sama melalui centang tabel pilihan tindakan atau menuliskan kalimat tindakan singkat pada lembar misi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Jika ada dua teman dari suku yang berbeda sedang berselisih saat bermain, apa perilaku kerja sama yang harus kita tunjukkan demi menjaga kerukunan?' (Kriteria penerimaan: murid menjawab dengan tindakan mendamaikan, melerai, mengajak musyawarah, atau mengingatkan agar saling menghargai).

Proses:

  • Penilaian formatif ketepatan murid dalam menentukan perilaku kerja sama menjaga persatuan pada 3 situasi 'Misi Penjaga Kerukunan' (acuan jawaban: Situasi A = musyawarah pembagian tempat/antre bersama; Situasi B = kerja bakti gotong royong membersihkan lapangan bersama warga aneka suku; Situasi C = melerai/mengingatkan anak yang mengejek serta merangkul anak tersebut untuk bermain rukun bersama).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir melalui 2 pernyataan pilihan (Benar/Salah): (1) Ikut serta menjaga ketertiban dan kedamaian saat kegiatan bersama tetangga yang berbeda suku bangsa adalah bukti kerja sama menjaga persatuan (Kunci: Benar); (2) Menjaga kerukunan lingkungan hanya tugas warga dari suku asli setempat, bukan pendatang (Kunci: Salah).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat murid menunjukkan tindakan kerja sama pemecahan masalah pada tantangan 'Misi Penjaga Kerukunan'
  • Cek lembar aktivitas berpasangan mengenai ketepatan pilihan perilaku kerja sama antarsuku bangsa

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa dalam menjaga kerukunan dan persatuanBelum mampu menunjukkan perilaku bekerja sama antarsuku bangsa yang menjaga kerukunan dan persatuan (0 dari 3 situasi tepat) meski telah dibimbing guru.Mampu menunjukkan 1 dari 3 perilaku bekerja sama antarsuku bangsa yang menjaga kerukunan dan persatuan sesuai acuan situasi dengan bimbingan guru.Mampu menunjukkan 2 sampai 3 perilaku bekerja sama antarsuku bangsa yang menjaga kerukunan dan persatuan sesuai acuan situasi secara mandiri.Mampu menunjukkan seluruh (3 dari 3) perilaku bekerja sama antarsuku bangsa yang menjaga kerukunan dan persatuan sesuai acuan situasi secara tepat, mandiri, dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas tantangan peran berpasangan efektif membantu murid memahami pentingnya kerja sama antarsuku bangsa demi persatuan?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang pasif selama kegiatan penentuan perilaku kerukunan berlangsung?

Murid:

  • Apa tindakan nyata yang akan kamu lakukan jika melihat teman berbeda suku membutuhkan bantuan di sekitar rumahmu?
  • Perasaan apa yang kamu rasakan saat bisa bekerja sama secara rukun tanpa membeda-bedakan suku asal teman?

Pertemuan 5 — Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman tingkat ekonomi keluarga saat kegiatan piket bersama — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.2 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman sosial di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan perilaku bekerja sama membersihkan kelas tanpa membedakan kondisi ekonomi teman (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang 2 situasi piket kelas: 'Situasi A: Mau menyapu bersama teman yang membawa bekal sederhana. Situasi B: Hanya mau piket bersama teman yang punya barang-barang mewah.' Murid mengangkat jempol ke atas untuk tindakan yang menunjukkan kerja sama tanpa membeda-bedakan (acuan: Situasi A = benar/bekerja sama, Situasi B = salah/membeda-bedakan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan guru tentang makna persatuan dalam piket kelas: keberagaman tingkat ekonomi keluarga (misalnya perbedaan jenis perlengkapan atau uang saku) tidak boleh menghalangi kerja sama menjaga kebersihan kelas (5 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil (4-5 orang) mengamati lembar aktivitas berisi 3 kartu situasi piket dan menentukan kartu mana yang menunjukkan perilaku kerja sama: Kartu 1: 'Edo bersama teman dari keluarga mampu dan sederhana saling bergantian mengepel lantai', Kartu 2: 'Siti menolak membersihkan papan tulis karena temannya memakai sepatu lama', Kartu 3: 'Budi dan Doni berbagi tugas membuang sampah tanpa membandingkan uang jajan' (acuan kunci: Kartu 1 dan Kartu 3 adalah perilaku kerja sama yang tepat, Kartu 2 bukan) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Guru mengadakan permainan simulasi ceria 'Misi Piket Kompak': tiap kelompok menerima tantangan membagi 4 peran piket (menyapu lantai, merapikan meja, membersihkan papan tulis, membuang sampah ke tempatnya) secara adil dan bekerja bersama-sama merapikan area kelas masing-masing tanpa membeda-bedakan latar belakang ekonomi kawan (10 menit).
  • Murid secara nyata melakukan praktik kerja sama piket bersama di kelas sesuai pembagian tugas kelompoknya sambil dipantau oleh guru dengan lembar observasi kerja sama (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama kelompoknya duduk melingkar dan memeriksa apakah seluruh anggota sudah terlibat aktif bekerja sama tanpa membeda-bedakan teman selama kegiatan piket (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan bahwa kelas menjadi bersih dan nyaman karena semua murid bersatu dan bekerja sama tanpa terhalang perbedaan tingkat ekonomi (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan bersama bahwa piket kelas adalah wujud nyata persatuan dan kerja sama dalam keberagaman sosial ekonomi di sekolah (5 menit).
  • Guru menginformasikan topik pertemuan berikutnya (kerja sama dalam keberagaman profesi orang tua) dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu situasi dengan ilustrasi visual bagi kelompok yang membutuhkan bantuan pemahaman teks.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung kepada kelompok yang masih ragu membagi peran piket secara adil, sementara kelompok yang sudah mandiri langsung menjalankan tugas piketnya.
  • Produk: Kelompok menunjukkan bukti kerja sama melalui keterlaksanaan pembagian peran piket kelas secara nyata.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis respon cepat lisan 2 situasi piket: Situasi A (bekerja sama dengan teman yang membawa bekal sederhana) dan Situasi B (hanya memilih teman berpakaian mewah). Kriteria penerimaan: Murid memilih situasi A sebagai wujud perilaku kerja sama yang benar (acuan: Situasi A = benar, Situasi B = salah).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat praktik piket bersama menggunakan lembar observasi dengan 3 indikator: (1) bersedia berbagi tugas dengan semua teman kelompok, (2) aktif menjalankan tugas piket bersama teman tanpa mengejek atau membeda-bedakan kondisi ekonomi, (3) saling tolong-menolong hingga area kelas bersih.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir kegiatan mengenai 1 tindakan nyata kerja sama saat piket kelas bersama teman yang berbeda kondisi ekonomi (kriteria penerimaan: murid menyebutkan tindakan konkret seperti berbagi alat kebersihan, menyapu bersama, atau membantu teman tanpa membeda-bedakan status ekonomi).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja perilaku bekerja sama selama simulasi dan praktik piket bersama di kelas

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Perilaku bekerja sama dalam keberagaman tingkat ekonomi saat piket bersamaBelum bersedia bekerja sama dalam piket kelas dan masih memilih-milih teman berdasarkan kondisi ekonomi.Bersedia bekerja sama dalam piket kelas tetapi masih memerlukan dorongan atau pengingat dari guru agar tidak membeda-bedakan teman.Menunjukkan perilaku bekerja sama dengan baik dalam berbagi dan menuntaskan tugas piket bersama teman tanpa membeda-bedakan kondisi ekonomi secara mandiri.Menunjukkan perilaku bekerja sama secara konsisten, aktif membantu teman menuntaskan tugas piket, serta senantiasa menjaga kerukunan tanpa membedakan latar belakang ekonomi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat bekerja sama dengan rukun saat kegiatan piket tanpa membeda-bedakan kondisi ekonomi teman?
  • Bagaimana pengelolaan peran dalam kelompok piket agar semua anggota terlibat aktif?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu saat bisa bekerja sama merapikan kelas bersama seluruh teman?
  • Apa tindakan kerja sama yang sudah kamu lakukan bersama temanmu dalam piket tadi?

Pertemuan 6 — Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman profesi orang tua saat merapikan perlengkapan sekolah — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.2 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman sosial di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru mengaitkan materi dengan menanyakan: 'Apakah perbedaan profesi orang tua membuat kita memilih-milih teman saat merapikan perlengkapan sekolah?' (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen diagnostik singkat: murid diminta memilih sikap bekerja sama yang tepat pada situasi keberagaman profesi orang tua yang dibacakan guru (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mengamati kartu cerita tentang 4 murid dengan latar belakang profesi orang tua berbeda (anak petani, anak pedagang, anak guru, dan anak buruh) yang saling membantu merapikan rak buku dan pojok baca tanpa membeda-bedakan (8 menit).
  • Murid bersama guru mengidentifikasi wujud nyata perilaku bekerja sama dalam keberagaman profesi orang tua, yaitu tidak mengejek, membagi tugas merapikan secara adil, dan saling membantu menyelesaikan penataan perlengkapan sekolah (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi murid ke dalam kelompok beranggotakan 4 orang dan memberikan tantangan permainan kerja sama 'Estafet Rapikan Alat Belajar' di mana setiap anggota memegang peran berbagi alat dan menata rak bersama secara kompak (12 menit).
  • Murid dalam kelompok mengerjakan Lembar Aktivitas Kerja Sama: menandai 4 butir tindakan bekerja sama dalam keberagaman sosial profesi orang tua saat merapikan perlengkapan kelas (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompok memeriksa kesesuaian tindakan kerja sama yang telah mereka tunjukkan selama kegiatan merapikan perlengkapan kelas (8 menit).
  • Murid menyimpulkan bahwa apa pun profesi orang tua teman, semuanya harus saling bekerja sama dalam menjaga kerapian perlengkapan sekolah demi persatuan di kelas (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik dan penguatan terhadap unjuk kerja sama murid selama praktik merapikan perlengkapan kelas (5 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran hari ini serta menutup dengan doa dan salam (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan bergambar pembagian tugas merapikan perlengkapan bagi murid yang memerlukan bantuan visual.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi langsung oleh guru dalam pembagian peran merapikan perlengkapan; murid yang cepat diarahkan membantu memastikan kerapian seluruh sudut rak bersama teman sekelompok.
  • Produk: Semua murid menunjukkan perilaku bekerja sama; murid yang mandiri mengidentifikasi dan mencentang 4 tindakan tepat pada lembar kerja, sedangkan murid dengan pendampingan menyelesaikan 2-3 tindakan tepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan (1 soal): Guru membacakan situasi: 'Ayah Rudi seorang buruh bangunan, sedangkan ayah Bayu seorang dokter. Saat merapikan buku di rak kelas, apa yang harus dilakukan Bayu?' Acuan jawaban benar: Bayu tetap bekerja sama merapikan buku bersama Rudi tanpa membeda-bedakan atau meremehkan profesi orang tua Rudi.

Proses:

  • Observasi keterlibatan dan perilaku bekerja sama murid selama praktik 'Estafet Rapikan Alat Belajar' menggunakan lembar observasi guru (kriteria: aktif berbagi tugas, tidak membeda-bedakan teman, dan saling membantu merapikan perlengkapan kelas hingga tuntas).
  • Pemeriksaan Lembar Aktivitas Kerja Sama berisi 4 butir tindakan. Butir: (1) Menolak satu kelompok merapikan buku dengan anak petani; (2) Membantu teman merapikan spidol dan penggaris tanpa memandang pekerjaan orang tuanya; (3) Membagi tugas menata meja secara adil kepada seluruh teman; (4) Mengejek teman saat membersihkan loker. Kunci jawaban: Tindakan kerja sama yang tepat adalah nomor (2) dan (3); nomor (1) dan (4) adalah tindakan salah.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir (2 butir pilihan benar/salah): Butir 1: 'Kita hanya mau bekerja sama merapikan perlengkapan kelas dengan teman yang orang tuanya berprofesi sama dengan orang tua kita.' (Kunci: Salah). Butir 2: 'Saling membantu mengangkat kotak pensil dan merapikan rak buku bersama teman dari berbagai profesi orang tua mencerminkan persatuan.' (Kunci: Benar).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja perilaku bekerja sama saat merapikan perlengkapan sekolah dalam kelompok yang heterogen latar belakang profesi orang tuanya
  • Lembar ceklis perilaku kerja sama dalam keberagaman sosial profesi orang tua

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial (profesi orang tua) saat merapikan perlengkapan sekolahBelum menunjukkan perilaku bekerja sama, memilih-milih teman berdasarkan latar belakang profesi orang tua saat merapikan perlengkapan sekolah, dan enggan berbagi tugas meski dibimbing.Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam merapikan perlengkapan sekolah dengan teman yang berbeda profesi orang tua hanya jika diarahkan dan diingatkan guru secara berkala.Menunjukkan perilaku bekerja sama secara konsisten dengan teman tanpa membeda-bedakan latar belakang profesi orang tua saat merapikan perlengkapan sekolah.Menunjukkan perilaku bekerja sama secara mandiri dan konsisten, membagi peran secara adil serta tanggap membantu teman merapikan perlengkapan sekolah tanpa membedakan profesi orang tua.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat bekerja sama dengan baik tanpa mempermasalahkan perbedaan profesi orang tua saat kegiatan merapikan kelas?
  • Bagian mana dari aktivitas 'Estafet Rapikan Alat Belajar' yang paling efektif membangun kerja sama antarpeserta didik?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu saat bekerja sama merapikan alat belajar bersama teman yang pekerjaan orang tuanya berbeda dengan orang tuamu?
  • Apakah kamu sudah membagi tugas dengan adil dan saling membantu saat merapikan perlengkapan kelas tadi?

Pertemuan 7 — Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial masyarakat melalui simulasi tolong-menolong antarwarga — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.2 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman sosial di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar kelas (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial masyarakat melalui simulasi tolong-menolong antarwarga (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid menyimak 2 pernyataan situasi sosial warga lalu mengangkat kartu 'Setuju Bekerja Sama' atau 'Tidak Bekerja Sama'. Pernyataan 1: 'Membantu mengumpulkan bantuan untuk tetangga yang terkena banjir tanpa memandang status sosialnya' (acuan: Setuju Bekerja Sama). Pernyataan 2: 'Hanya mau menolong warga yang kaya dan satu profesi dengan keluarga kita' (acuan: Tidak Bekerja Sama) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mengamati lembar situasi cerita bergambar 'Warga Rukun Peduli Sesama' yang menampilkan aksi tolong-menolong antarwarga dari latar belakang sosial beragam (pedagang, buruh, pegawai, lansia) saat tertimpa musibah (5 menit).
  • Murid bersama guru mencermati 3 bentuk tindakan nyata kerja sama tolong-menolong dalam keberagaman sosial: (1) saling membagikan makanan/kebutuhan darurat bagi warga yang terdampak tanpa membeda-bedakan, (2) bersama-sama membersihkan rumah warga lansia/kurang mampu, dan (3) bergotong royong mengumpulkan perlengkapan warga yang membutuhkan demi menjaga persatuan (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang untuk menerima kartu skenario simulasi tolong-menolong antarwarga. Kelompok memilih atau membagi peran warga dengan latar belakang profesi dan kondisi sosial berbeda (petani, pedagang, pekerja harian, ibu rumah tangga) untuk menyelesaikan masalah warga bersama-sama (5 menit).
  • Permainan Tantangan Simulasi 'Aksi Peduli Warga': Setiap kelompok mempraktikkan simulasi kerja sama tolong-menolong berdasarkan 1 dari 2 skenario yang disiapkan. Skenario A: 'Warga bekerja sama mendirikan posko dan mendistribusikan bantuan logistik untuk warga yang rumahnya terdampak luapan air'. Skenario B: 'Warga bergotong royong membantu mengumpulkan sumbangan pakaian dan bahan makanan untuk warga yang tertimpa musibah kebakaran'. Setiap murid aktif menunjukkan tindakan konkret kerja sama (mengangkat barang bersama, memilah bantuan, mencatat kebutuhan warga) tanpa membeda-bedakan status sosial (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap murid memeriksa keterlibatan dirinya selama simulasi menggunakan lembar ceklis refleksi diri: apakah dirinya telah aktif terlibat bekerja sama dan tidak membeda-bedakan status sosial warga yang ditolong (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan pentingnya perilaku bekerja sama dan tolong-menolong dalam keberagaman sosial demi menjaga persatuan dan kesatuan di lingkungan masyarakat (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu skenario simulasi dengan teks narasi ringkas disertai ikon visual bagi murid yang memerlukan dukungan bacaan, serta kartu skenario dengan variasi peran profesi warga yang lebih beragam bagi murid yang siap belajar cepat.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung dan contoh tindakan fisik (scaffolding) saat simulasi bagi murid yang ragu mengambil peran, serta memberikan kesempatan memimpin pembagian tugas aksi bantuan kepada murid yang telah terbiasa bekerja sama secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menunjukkan perilaku bekerja sama dalam simulasi tolong-menolong; murid yang butuh bimbingan menunjukkan minimal 1 tindakan kerja sama nyata, sedangkan murid yang cepat menunjukkan minimal 2 tindakan kerja sama nyata secara terpadu.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik respon cepat dengan kartu pilihan pernyataan sikap kerja sama tolong-menolong. Butir 1: 'Membantu mengumpulkan bantuan untuk tetangga yang terkena banjir tanpa memandang status sosialnya' (acuan kunci: Setuju Bekerja Sama). Butir 2: 'Hanya mau menolong warga yang kaya dan satu profesi dengan keluarga kita' (acuan kunci: Tidak Bekerja Sama). Murid dinilai siap jika menjawab kedua butir dengan tepat.

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan perilaku bekerja sama saat simulasi aksi tolong-menolong antarwarga (skenario posko banjir atau bantuan kebakaran). Indikator amatan: (1) aktif mengambil peran bantuan bersama anggota kelompok, (2) tidak membeda-bedakan perlakuan tolong-menolong berdasarkan latar belakang sosial warga. Acuan tindakan: murid secara nyata melakukan tindakan membagi barang/merapikan posko/mengangkat perlengkapan bersama rekan kelompok.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan/tulis singkat pada akhir pembelajaran: Murid memilih tindakan kerja sama tolong-menolong yang tepat pada lembar ceklist berisi 2 situasi: (1) 'Pak RT mengumumkan penggalangan sembako untuk keluarga buruh yang sakit keras' -> tindakan tepat: 'Ikut mengumpulkan bantuan semampunya bersama warga lain' (acuan kunci: Ikut mengumpulkan bantuan semampunya bersama warga lain); (2) 'Ada tetangga pedagang kecil yang gerobaknya rusak tertimpa pohon' -> tindakan tepat: 'Bekerja sama dengan tetangga lain membantu memindahkan dahan pohon dan merapikannya' (acuan kunci: Bekerja sama dengan tetangga lain membantu memindahkan dahan pohon dan merapikannya).

Formatif:

  • Lembar observasi unjuk kerja simulasi tolong-menolong antarwarga dalam keberagaman sosial

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial masyarakat melalui simulasi tolong-menolongBelum menunjukkan tindakan bekerja sama dalam simulasi tolong-menolong antarwarga dan masih pasif meskipun telah diarahkan oleh guru.Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam simulasi tolong-menolong antarwarga dengan bantuan dan pengingatan berkala dari guru.Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam simulasi tolong-menolong antarwarga secara mandiri sesuai pembagian tugas kelompok tanpa membeda-bedakan status sosial.Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam simulasi tolong-menolong antarwarga secara konsisten, mandiri, serta berinisiatif membantu tugas rekan kelompok demi menjaga kerukunan dan persatuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah desain skenario simulasi tolong-menolong antarwarga mampu memfasilitasi seluruh murid mempraktikkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial secara nyata?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang awalnya pasif dalam berkolaborasi dengan teman kelompok saat simulasi berlangsung?

Murid:

  • Apa tindakan tolong-menolong yang saya lakukan bersama teman-teman dalam simulasi tadi?
  • Bagaimana perasaan saya ketika berhasil bekerja sama menolong warga yang membutuhkan tanpa membedakan keadaan mereka?

Pertemuan 8 — Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial yang terikat persatuan dan kesatuan di lingkungan rukun warga — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.2 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman sosial di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial yang terikat persatuan dan kesatuan di lingkungan rukun warga (RW) (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menanyakan secara lisan: 'Sebutkan 1 contoh tindakan warga yang menunjukkan kerja sama tanpa membeda-bedakan pekerjaan atau status sosial di tingkat RW!' (acuan jawaban: gotong royong membersihkan selokan RW, kerja bakti membangun pos ronda RW, atau iuran bersama membantu warga RW yang tertimpa musibah) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mengamati lembar situasi cerita pendek tentang kegiatan gotong royong warga RW 05 yang berlatar belakang profesi dan kondisi ekonomi beragam (ada buruh, pedagang, dokter, pengusaha, lansia, dan pemuda) bersatu padu memperbaiki jembatan penghubung antargang (10 menit).
  • Murid bersama guru mencermati tindakan-tindakan nyata di dalam cerita yang mencerminkan persatuan dan kesatuan tanpa membeda-bedakan status sosial (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok berpasangan untuk memainkan tantangan 'Kartu Pilihan Sikap RW': setiap pasangan menerima 4 kartu pernyataan situasi warga RW dan memilih kartu mana yang menunjukkan perilaku kerja sama yang terikat persatuan serta mana yang memecah belah: (1) 'Pak RT mengabaikan usulan warga yang bekerja sebagai buruh harian' -> Tidak Bekerja Sama / Memecah belah; (2) 'Semua warga RW, baik pengusaha maupun pedagang kecil, bergantian mengecat pos ronda' -> Menunjukkan Kerja Sama Terikat Persatuan; (3) 'Warga mampu dan warga kurang mampu bersama-sama menyiapkan posko banjir RW' -> Menunjukkan Kerja Sama Terikat Persatuan; (4) 'Hanya warga kaya yang diajak merencanakan perbaikan jalan RW' -> Tidak Bekerja Sama / Memecah belah (15 menit).
  • Setiap murid secara individu mengerjakan Lembar Kerja Pemilihan Perilaku berisi 4 situasi nyata di lingkungan RW berikut dan menandai centang (V) untuk perilaku yang menunjukkan kerja sama dalam persatuan atau silang (X) untuk yang bukan: Butir 1: 'Ikut membagikan makanan sumbangan untuk kerja bakti RW tanpa membeda-bedakan siapa yang menyumbang' (Kunci: V); Butir 2: 'Menolak menyapa tetangga beda profesi saat kerja bakti RW' (Kunci: X); Butir 3: 'Bersama-sama warga lain dari berbagai latar belakang membersihkan lapangan RW' (Kunci: V); Butir 4: 'Hanya mau bekerja bakti jika ditemani tetangga yang setingkat ekonominya' (Kunci: X) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali pilihan perilakunya dan menyadari bahwa persatuan dan kesatuan di lingkungan RW hanya dapat terwujud jika seluruh warga saling bekerja sama tanpa memandang perbedaan kondisi sosial (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid bersama-sama menyimpulkan inti pembelajaran mengenai perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial di lingkungan RW yang mengikat persatuan dan kesatuan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen akhir berupa pengecekan lisan singkat terhadap 1 butir simpulan perilaku kerja sama di tingkat RW, memberikan umpan balik penguatan, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks situasi dengan kalimat pendukung yang lebih sederhana serta gambar pendukung aktivitas warga RW, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan situasi warga RW dengan dinamika perbedaan peran sosial yang lebih beragam.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru saat mengelompokkan kartu perilaku, sementara murid yang telah mahir menyelesaikan pencocokan kartu secara mandiri berpasangan.
  • Produk: Murid menunjukkan pemahaman perilaku bekerja sama melalui penandaan centang/silang pada lembar kerja pilihan perilaku dengan jumlah butir yang disesuaikan tingkat kesiapan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: 'Sebutkan 1 contoh tindakan warga yang menunjukkan kerja sama tanpa membeda-bedakan pekerjaan atau status sosial di tingkat RW!' (kriteria penerimaan/acuan: menyebutkan kegiatan bersama tingkat RW seperti kerja bakti gotong royong membersihkan selokan/pos ronda, iuran bersama membantu warga sakit/musibah tanpa membedakan status).

Proses:

  • Penilaian ketepatan pengerjaan Lembar Kerja Pemilihan Perilaku Bekerja Sama (4 butir pernyataan): Butir 1: 'Ikut membagikan makanan sumbangan untuk kerja bakti RW tanpa membeda-bedakan siapa yang menyumbang' (kunci: V); Butir 2: 'Menolak menyapa tetangga beda profesi saat kerja bakti RW' (kunci: X); Butir 3: 'Bersama-sama warga lain dari berbagai latar belakang membersihkan lapangan RW' (kunci: V); Butir 4: 'Hanya mau bekerja bakti jika ditemani tetangga yang setingkat ekonominya' (kunci: X). Skor: 4/4 tepat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir kegiatan: Murid diminta menentukan apakah tindakan 'Membeda-bedakan tugas ronda malam di RW berdasarkan tingkat kekayaan warga' menunjukkan kerja sama dalam persatuan atau tidak (acuan jawaban benar: Tidak, karena tindakan tersebut merusak persatuan dan membeda-bedakan warga berdasarkan status ekonomi).

Formatif:

  • Observasi unjuk pemahaman saat memasangkan Kartu Pilihan Sikap RW
  • Pemeriksaan Lembar Kerja Pemilihan Perilaku Bekerja Sama di Lingkungan RW

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial di lingkungan rukun warga (RW)Belum mampu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial di lingkungan RW (tepat 0-1 dari 4 butir situasi pada Lembar Kerja).Mulai mampu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial di lingkungan RW dengan bimbingan (tepat 2 dari 4 butir situasi pada Lembar Kerja).Mampu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial di lingkungan RW secara mandiri (tepat 3 dari 4 butir situasi pada Lembar Kerja).Sangat mampu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman sosial di lingkungan RW secara konsisten dan tepat (tepat seluruh 4 butir situasi pada Lembar Kerja).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas pemilihan skenario kartu dan lembar kerja efektif membantu murid mengenali perilaku kerja sama dalam keberagaman sosial RW?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam memahami pentingnya persatuan dan kesatuan antarwarga yang berbeda latar belakang sosial?

Murid:

  • Apa contoh kerja sama di lingkungan RW yang paling ingin kamu ikuti bersama tetangga yang berbeda pekerjaan?
  • Mengapa kita tidak boleh membeda-bedakan tetangga saat melakukan kerja bakti bersama di lingkungan RW?

Pertemuan 9 — Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman pakaian dan tradisi daerah saat perayaan hari besar nasional di sekolah — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.3 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman budaya di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta mengondisikan kesiapan belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman pakaian dan tradisi daerah saat perayaan hari besar nasional di sekolah (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid memilih kartu tindakan yang menunjukkan kerja sama saat perayaan hari besar nasional: (1) Menertawakan topi adat teman yang unik, atau (2) Membantu memasangkan hiasan kepala adat teman yang terlepas. Murid mengacungkan jari 1 atau 2 (acuan jawaban benar: pilihan 2) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mengamati gambar situasi persiapan karnaval hari besar nasional di sekolah yang menampilkan 4 situasi interaksi antarmurid dengan pakaian dan perlengkapan tradisi daerah berbeda: Situasi A (dua anak saling merapikan selendang adat tapis Lampung dan ulos Batak), Situasi B (seorang anak mengejek mahkota bulu Papua temannya), Situasi C (anak-anak bersama-sama menata ornamen kipas tari pendet dan payung tradisi), Situasi D (anak menolak sekelompok karena temannya mengenakan beskap Jawa). Guru meminta murid menandai situasi yang menunjukkan perilaku kerja sama (acuan: Situasi A dan C adalah kerja sama; Situasi B dan D bukan kerja sama) (10 menit).
  • Murid bersama guru membahas ciri konkret perilaku bekerja sama dalam keberagaman pakaian dan tradisi daerah: saling membantu mengenakan atribut daerah, menjaga properti tradisi milik teman, dan tidak mengolok-olok keunikan tradisi budaya lain demi menjaga persatuan (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi murid ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4 orang dan memberikan permainan simulasi peran tantangan 'Pos Karnaval Budaya' di mana setiap kelompok menerima paket 4 kartu skenario persiapan perayaan hari besar nasional: (1) Skenario A: Edo kesulitan mengikat ikat kepala udeng Bali saat kelompok harus berbaris rapi; (2) Skenario B: Selendang songket Siti terjatuh dan kotor sebelum parade dimulai; (3) Skenario C: Wayang kulit mini properti kelompok terlepas gagangnya; (4) Skenario D: Aksesori kalung manik Dayak milik Dayu tersangkut di baju temannya (10 menit).
  • Dalam kelompok, murid memainkan peran dan memperagakan langsung tindakan bekerja sama untuk menyelesaikan 4 skenario tersebut: membantu mengikat udeng bersama, membersihkan dan memegang selendang bersama, merekatkan gagang wayang bersama, serta membantu melepaskan kalung yang tersangkut secara hati-hati tanpa mengeluh (acuan tindakan: semua murid terlibat aktif saling membantu merapikan pakaian/tradisi teman) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap murid menuliskan 1 tindakan kerja sama konkret yang telah mereka tunjukkan kepada teman yang berbeda pakaian dan tradisi daerah selama simulasi di lembar 'Bintang Kerja Sama' (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan pentingnya bekerja sama merawat perlengkapan tradisi dan saling membantu mengenakan pakaian daerah dalam menjaga persatuan di sekolah (5 menit).
  • Guru menyampaikan umpan balik proses dan menutup pertemuan dengan doa bersama serta salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu skenario bergambar visual bagi murid yang memerlukan dukungan membaca, dan skenario tertulis dengan detail tantangan perlengkapan budaya yang lebih variatif bagi murid mahir.
  • Proses: Guru memberikan bimbingan langsung kepada kelompok yang ragu dalam melakukan pembagian peran bantuan atribut budaya, sementara kelompok yang mandiri langsung melakukan simulasi peragaan.
  • Produk: Semua murid menunjukkan tindakan kerja sama dalam simulasi peran; murid cepat dapat menyelesaikan peragaan untuk keempat skenario secara runtut dan mandiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan/pilihan kartu tindakan saat persiapan karnaval: memilih antara (1) Menertawakan topi adat teman yang unik, atau (2) Membantu memasangkan hiasan kepala adat teman yang terlepas. Kriteria: Murid siap jika memilih opsi 2 (acuan jawaban benar: opsi 2).

Proses:

  • Lembar observasi perilaku bekerja sama saat simulasi peran 4 skenario perayaan hari besar nasional (membantu memasang/merapikan pakaian adat, merawat alat tradisi kelompok bersama teman tanpa membeda-bedakan budaya).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan lembar 'Bintang Kerja Sama': Murid menuliskan 1 contoh tindakan nyata kerja sama membantu merapikan atau menjaga atribut budaya teman yang berbeda daerah dalam kegiatan simulasi kelas (kriteria keterterimaan: tindakan memuat perilaku saling membantu terkait perlengkapan budaya/pakaian daerah).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja simulasi peran kerja sama dalam keberagaman pakaian dan tradisi daerah
  • Cek lembar 'Bintang Kerja Sama' mengenai tindakan kerja sama yang ditunjukkan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman pakaian dan tradisi daerahBelum menunjukkan perilaku bekerja sama; menolak membantu teman yang mengalami kesulitan perlengkapan pakaian atau tradisi daerah saat simulasi.Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam merapikan pakaian atau menjaga perlengkapan tradisi daerah teman hanya jika diminta atau diarahkan langsung oleh guru.Menunjukkan perilaku bekerja sama secara aktif dalam membantu merapikan pakaian adat atau merawat perlengkapan tradisi daerah teman pada sebagian besar skenario simulasi.Menunjukkan perilaku bekerja sama secara konsisten, sigap, dan mandiri dalam membantu teman pada seluruh 4 skenario keberagaman pakaian dan tradisi daerah demi menjaga persatuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid aktif terlibat dalam simulasi saling membantu saat menangani keberagaman atribut tradisi daerah?
  • Bagaimana respons murid saat berkolaborasi dengan teman yang memperagakan tradisi daerah yang berbeda?

Murid:

  • Apa hal paling menyenangkan saat bekerja sama membantu teman mengenakan perlengkapan pakaian daerah?
  • Tindakan kerja sama apa yang akan kamu lakukan jika ada teman yang kesulitan merapikan pakaian adatnya saat upacara hari besar nasional?

Pertemuan 10 — Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman kesenian daerah saat mempersiapkan penampilan kelompok di kelas — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.3 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman budaya di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman kesenian daerah saat mempersiapkan penampilan kelompok (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: meminta murid memilih 'Tepat' atau 'Tidak Tepat' untuk 2 situasi kerja sama kesenian: (1) Menolak latihan karena tariannya berasal dari suku lain; (2) Membantu merapikan selendang teman saat gladi tari daerah (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati lembar skenario berisi 3 contoh sikap saat latihan kesenian kelas: Skenario A (membagi tugas latihan lagu daerah secara adil), Skenario B (hanya mau berlatih dengan teman sesuku), Skenario C (bergantian memegang alat musik pukul tradisi bersama teman) (10 menit).
  • Murid bersama guru mencocokkan skenario yang menunjukkan perilaku kerja sama yang terikat persatuan: Skenario A = perilaku kerja sama tepat, Skenario B = bukan kerja sama tepat, Skenario C = perilaku kerja sama tepat (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berkumpul dalam kelompok kecil berisi 4-5 orang untuk melakukan permainan tantangan peran 'Simulasi Persiapan Panggung Kesenian Nusantara', yaitu menyusun dan mempraktikkan pembagian tugas bersama (membawa perlengkapan properti tari kertas, mengatur barisan gerak dasar bersama, dan menjaga kekompakan kelompok tanpa membeda-bedakan asal kesenian daerah yang dipilih) (20 menit).
  • Setiap kelompok mempraktikkan kerja sama persiapan penampilan di depan kelas selama 2 menit per kelompok sambil dinilai perilaku saling membantu dan kekompakannya oleh guru menggunakan lembar observasi (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengisi lembar cek perilaku mandiri sederhana berupa 2 pernyataan: apakah saya telah membantu teman saat persiapan dan apakah saya menghargai kesenian daerah yang dimainkan kelompok (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap keterlaksanaan kerja sama kelompok dalam latihan kesenian daerah tanpa membeda-bedakan asal daerah (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya persatuan saat berlatih kesenian bersama dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan pembagian tugas bergambar untuk kelompok yang memerlukan scaffolding dan teks skenario ringkas untuk kelompok mandiri.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung pada kelompok yang masih kesulitan membagi peran properti dan memberi keleluasaan bagi kelompok yang sudah mandiri untuk langsung berlatih pembagian peran gerak bersama.
  • Produk: Unjuk kerja kerja sama dalam simulasi persiapan penampilan dinilai berdasarkan perilaku saling membantu dan keterlibatan aktif anggota kelompok.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid menentukan pilihan 'Tepat' atau 'Tidak Tepat' pada 2 butir pernyataan diagnostik sikap: (1) 'Menolak ikut latihan gerak tari daerah karena tarian itu bukan berasal dari daerah asalku sendiri' (Acuan kunci: Tidak Tepat); (2) 'Membantu memegang dan merapikan selendang teman kelompok saat berlatih gerak tari daerah bersama' (Acuan kunci: Tepat).

Proses:

  • Observasi guru selama simulasi persiapan kelompok menggunakan lembar amatan perilaku kerja sama: (1) Terlibat aktif memegang/menyiapkan properti atau barisan kelompok; (2) Membantu teman satu kelompok tanpa membeda-bedakan kesenian asal; (3) Menjaga kekompakan barisan latihan bersama (Kriteria ketercapaian: murid teramati menunjukkan minimal 2 dari 3 perilaku tersebut).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir melalui lembar refleksi 2 butir: (1) Menyebutkan 1 tindakan konkret saling membantu yang dilakukan saat simulasi persiapan kesenian tadi (Kriteria penerimaan: tindakan mencakup membantu properti, barisan, atau menyemangati teman kelompok); (2) Menjawab 'Sudah/Belum' terhadap kesediaan bekerja sama dengan teman yang membawakan seni dari daerah lain (Acuan kunci: Sudah).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja perilaku bekerja sama saat simulasi persiapan penampilan kesenian daerah
  • Cek pemahaman diagnostik awal sikap kerja sama dalam keberagaman budaya
  • Lembar refleksi diri perilaku kerja sama

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Perilaku bekerja sama dalam keberagaman kesenian daerahBelum menunjukkan perilaku bekerja sama dan enggan terlibat dalam persiapan penampilan kelompok.Mulai menunjukkan perilaku bekerja sama dalam persiapan kelompok setelah mendapatkan arahan berulang dari guru.Menunjukkan perilaku bekerja sama secara konsisten dengan membantu teman dan aktif dalam persiapan kelompok secara mandiri.Menunjukkan perilaku bekerja sama secara konsisten dan tanggap membantu teman yang kesulitan dalam persiapan kelompok tanpa perlu diingatkan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid aktif terlibat dan saling membantu saat simulasi persiapan penampilan kesenian daerah?
  • Bagian kegiatan mana yang paling efektif memunculkan perilaku kerja sama tanpa membedakan latar belakang kesenian daerah?

Murid:

  • Bantuan apa yang sudah kamu berikan kepada teman kelompokmu saat mempersiapkan penampilan tadi?
  • Bagaimana perasaanmu ketika dapat menyelesaikan persiapan latihan kesenian bersama seluruh teman kelompok?

Pertemuan 11 — Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman adat istiadat warga pada kegiatan sosial di lingkungan kelurahan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.3 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman budaya di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman adat istiadat warga pada kegiatan sosial di lingkungan kelurahan demi menjaga persatuan (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat dengan menyajikan 2 situasi: (1) Warga suku Jawa sedang menyiapkan tradisi selamatan kenduri di balai RW kelurahan, sikap kerja sama yang tepat adalah... (acuan: ikut membantu menata tikar/kursi atau membagikan makanan bersama warga lain); (2) Tetangga berdarah Minang mengadakan tradisi batagak gala di kelurahan, sikap kerja sama yang tepat adalah... (acuan: ikut menjaga ketertiban lingkungan atau membantu menyiapkan tempat acara) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati 3 gambar situasi kegiatan sosial di kelurahan yang disiapkan guru: Gambar 1: Warga bergotong royong memasang tenda untuk upacara adat perkawinan salah satu keluarga warga; Gambar 2: Warga kelurahan bersama-sama memasak dan menyiapkan hidangan selamatan tradisi bersih desa; Gambar 3: Para pemuda kelurahan mengatur ketertiban tempat parkir saat acara arak-arakan budaya adat warga (7 menit).
  • Murid bersama guru mengidentifikasi bentuk kerja sama dalam keberagaman adat istiadat pada ketiga gambar tersebut yang menunjukkan sikap persatuan dan kesatuan antarwarga (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (3-4 orang) untuk memainkan tantangan berpasangan kartu aksi 'Sahabat Kelurahan' yang menggembirakan, di mana tiap kelompok menerima 4 lembar kartu kasus kegiatan sosial adat di kelurahan: Kasus 1: Warga menggelar tradisi syukuran panen/sedekah bumi di kelurahan; Kasus 2: Tetangga berbeda suku mengadakan upacara adat kelahiran bayi (seperti tedak siten/aqiqah/turun tanah); Kasus 3: Warga kelurahan menggelar kerja bakti massal membersihkan makam leluhur menjelang tradisi adat tahunan; Kasus 4: Paguyuban warga menyiapkan panggung festival tradisi seni adat kelurahan (10 menit).
  • Setiap kelompok berdiskusi memilih dan menuliskan 1 bentuk tindakan perilaku bekerja sama yang konkret untuk masing-masing dari ke-4 kasus tersebut pada lembar kerja (acuan tindakan benar: Kasus 1: ikut membantu menata konsumsi/membersihkan lokasi; Kasus 2: berkunjung mengantarkan bantuan tenaga atau membantu menyajikan hidangan; Kasus 3: membawa peralatan kebersihan dan bersama-sama mencabuti rumput/membersihkan area makam; Kasus 4: bersama-sama mengangkat perlengkapan panggung/menata kursi penonton) (15 menit).
  • Tiap kelompok secara bergantian menunjukkan hasil pilihan tindakan bekerja sama kelompoknya di hadapan kelas dan guru memberikan konfirmasi langsung atas ketepatan bentuk kerja sama yang dipilih (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara mandiri memaknai pengalaman belajarnya dengan menandai lembar refleksi diri mengenai kemauan dan kesiapan diri menunjukkan kerja sama ketika ada tetangga atau warga kelurahan yang mengadakan kegiatan tradisi adat yang berbeda (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru membuat simpulan bahwa kerja sama dalam kegiatan sosial adat istiadat warga kelurahan merupakan wujud nyata persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia (3 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas partisipasi seluruh murid, menyampaikan topik pertemuan berikutnya, dan menutup kelas dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu kasus dengan teks berhuruf besar disertai ilustrasi visual untuk kelompok yang membutuhkan scaffolding visual, serta teks narasi situasi kontekstual lengkap bagi kelompok cepat.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi kelompok yang belum lancar menentukan bentuk tindakan kerja sama konkret; sementara kelompok yang cepat diarahkan menentukan lebih dari 1 opsi tindakan kerja sama nyata.
  • Produk: Kelompok dapat menuliskan tindakan kerja sama dalam bentuk kalimat singkat atau daftar poin tindakan pada lembar kerja sesuai kesepakatan kelompok.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis lisan diagnostik di awal pembelajaran tentang tindakan kerja sama dalam 2 situasi kegiatan sosial adat di lingkungan warga kelurahan (acuan jawaban: (1) Warga suku Jawa menyiapkan selamatan kenduri -> ikut menata tikar/kursi atau membagikan hidangan; (2) Tetangga Minang mengadakan batagak gala -> ikut menjaga ketertiban lingkungan atau membantu menyiapkan tempat).

Proses:

  • Pengamatan formatif menggunakan lembar observasi kerja sama kelompok saat menganalisis 4 studi kasus adat istiadat warga kelurahan dan ketepatan perilaku kerja sama yang ditentukan (acuan kasus 1 s.d. 4 pada tahap Mengaplikasi).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (1 butir): Murid menuliskan 1 tindakan kerja sama yang akan dilakukan jika warga kelurahan tempat tinggalnya mengadakan gotong royong menjelang upacara adat warga setempat (kriteria penerimaan: jawaban memuat tindakan fisik/tenaga nyata yang membantu kelancaran acara tanpa membeda-bedakan adat, seperti ikut menyapu, mengangkut barang, menata meja, atau membagikan air minum).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja kelompok saat memilih dan menunjukkan tindakan bekerja sama dalam 4 kasus adat istiadat di kelurahan melalui lembar kerja dan konfirmasi lisan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman adat istiadat wargaBelum mampu menunjukkan tindakan bekerja sama dalam keberagaman adat istiadat warga kelurahan pada ke-4 kasus yang disajikan meski telah dibimbing guru.Mampu menunjukkan perilaku bekerja sama secara tepat pada 1-2 dari 4 kasus keberagaman adat istiadat warga kelurahan dengan bimbingan guru.Mampu menunjukkan perilaku bekerja sama secara tepat pada 3-4 dari 4 kasus keberagaman adat istiadat warga kelurahan secara mandiri.Mampu menunjukkan lebih dari satu ragam perilaku bekerja sama yang tepat dan relevan pada seluruh (4) kasus keberagaman adat istiadat warga kelurahan secara mandiri dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah konteks keberagaman adat istiadat warga kelurahan yang disajikan sudah mudah dipahami dan relevan dengan lingkungan murid?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama permainan kartu aksi 'Sahabat Kelurahan' dalam menunjukkan perilaku kerja sama?

Murid:

  • Apa tindakan kerja sama baru yang kamu pelajari hari ini untuk membantu tetangga yang berbeda tradisi adat di kelurahan?
  • Apakah kamu merasa senang saat berdiskusi menentukan cara membantu warga kelurahan dalam kegiatan adat mereka?

Pertemuan 12 — Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya yang terikat persatuan dan kesatuan di lingkungan sekitar — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.3 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman budaya di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman budaya di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menanyakan contoh perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya melalui 3 pertanyaan cepat kepada murid: (1) Apa yang dilakukan saat tetangga mengadakan festival budaya daerah lain? (acuan: ikut membantu persiapan panggung/kebersihan tempat tanpa membeda-bedakan); (2) Bagaimana bekerja sama saat pentas seni kampung yang menampilkan tarian beda daerah? (acuan: ikut menata perlengkapan pentas bersama warga lain); (3) Apa yang dilakukan jika warga berbeda tradisi mengadakan syukuran bersama? (acuan: bersama-sama menyiapkan tenda dan tempat acara demi kerukunan warga) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mengamati lembar situasi visual bergambar tentang 3 bentuk kegiatan masyarakat di lingkungan sekitar yang melibatkan keberagaman budaya: Gambar A (Warga bersama-sama mendirikan panggung pentas seni budaya tahunan), Gambar B (Pemuda dari berbagai latar budaya bergotong royong membersihkan balai warga pascaacara festival kuliner daerah), dan Gambar C (Warga bergotong royong memasang umbul-umbul menyambut karnaval budaya kelurahan) (7 menit).
  • Murid secara berpasangan mengidentifikasi bentuk perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya yang mempererat persatuan pada ketiga gambar tersebut (acuan: Gambar A = saling bantu mengikat bambu panggung tanpa membedakan latar tradisi seni; Gambar B = bersama-sama menyapu dan memilah sampah sisa festival agar balai bersih kembali; Gambar C = berbagi tugas memegang tiang dan mengikat umbul-umbul agar lingkungan tampak semarak dan rukun) (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan kelompok berpasangan 'Tantangan Kartu Aksi Kerja Sama Budaya' di mana setiap kelompok menerima 4 kartu skenario situasi keberagaman budaya di lingkungan sekitar dan memilih kartu tindakan kerja sama yang menunjukkan persatuan dan kesatuan (12 menit).
  • Setiap kelompok memasangkan dan menunjukkan pilihan perilaku bekerja sama yang tepat untuk 4 skenario berikut: Skenario 1: 'Warga RT merencanakan bazar kuliner nusantara untuk memperingati hari kemerdekaan.' (acuan pasangan: bersama-sama menyiapkan tenda stan dan meja bazar bagi seluruh penjual makanan khas daerah); Skenario 2: 'Sanggar tari daerah tetangga kekurangan orang untuk menata dekorasi panggung pergelaran seni.' (acuan pasangan: sukarela membantu mengangkut properti panggung bersama warga lain); Skenario 3: 'Lingkungan kelurahan mengadakan pawai pakaian adat dan membutuhkan regu pembersih rute pawai.' (acuan pasangan: bergabung dalam tim kerja bakti memungut sampah di sepanjang jalan pawai); Skenario 4: 'Warga lintas budaya mengadakan kerja bakti merapikan gapura kampung bernuansa motif nusantara.' (acuan pasangan: ikut mengecat dan membersihkan area sekitar gapura secara gotong royong) (13 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara mandiri memilih dan menandai 3 komitmen perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya yang dapat mereka lakukan di lingkungan sekitar pada lembar refleksi tindakan (acuan pilihan: ikut membantu persiapan acara tradisi warga, ikut kerja bakti membersihkan lingkungan setelah acara budaya selesai, bersedia berbagi tugas saat kegiatan seni bersama tanpa membedakan latar belakang) (12 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja kelompok dan menegaskan pentingnya bekerja sama dalam keberagaman budaya demi persatuan dan kesatuan lingkungan sekitar (5 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran hari ini, lalu menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar situasi dengan kombinasi gambar konkret dan teks sederhana bagi murid yang memerlukan dukungan visual, serta teks narasi situasi yang lebih detail bagi murid yang sudah lancar membaca.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan pendampingan terfokus dari guru saat memasangkan skenario tindakan kerja sama budaya, sedangkan kelompok yang mandiri langsung memverifikasi pilihannya secara mandiri.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan perilaku bekerja sama melalui pencocokan kartu aksi atau melingkari pilihan tindakan kerja sama pada lembar kerja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan singkat 3 butir pertanyaan di awal pelajaran untuk memetakan kesiapan murid menunjukkan contoh perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya: (1) Ikut membantu persiapan festival budaya tetangga (acuan: membantu persiapan/kebersihan tanpa membeda-bedakan); (2) Perilaku saat pentas seni berbeda daerah (acuan: membantu menata perlengkapan bersama); (3) Perilaku saat syukuran tradisi berbeda (acuan: membantu memasang tenda/tempat bersama demi kerukunan).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan murid dalam kelompok saat menyelesaikan permainan 'Tantangan Kartu Aksi Kerja Sama Budaya' dengan mencocokkan 4 skenario situasi keberagaman budaya ke dalam perilaku bekerja sama pemersatu secara tepat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman reflektif individu melalui lembar pilihan komitmen perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya di lingkungan sekitar (acuan ketercapaian: murid tepat memilih minimal 2 dari 3 komitmen tindakan kerja sama yang menjaga persatuan: membantu persiapan acara budaya warga, ikut kerja bakti usai acara budaya, dan berbagi tugas kegiatan bersama tanpa membedakan latar budaya).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja kelompok saat memasangkan skenario keberagaman budaya dengan perilaku bekerja sama pemersatu
  • Cek pemahaman individu pada lembar komitmen tindakan kerja sama dalam keberagaman budaya

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya yang terikat persatuan dan kesatuanBelum mampu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya di lingkungan sekitar, atau hanya tepat memasangkan 1 skenario tindakan kerja sama.Mampu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya di lingkungan sekitar dengan tepat memasangkan 2 dari 4 skenario tindakan kerja sama.Mampu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya di lingkungan sekitar dengan tepat memasangkan 3 dari 4 skenario tindakan kerja sama.Mampu menunjukkan perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya di lingkungan sekitar secara mandiri dan tepat pada seluruh (4 dari 4) skenario tindakan kerja sama.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah permainan kartu aksi efektif membantu murid memahami perilaku bekerja sama dalam keberagaman budaya?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama proses kerja sama berpasangan dalam mengidentifikasi tindakan pemersatu?

Murid:

  • Perilaku bekerja sama apa yang paling ingin kamu lakukan jika di lingkunganmu diadakan acara budaya bersama?
  • Bagaimana perasaanmu setelah belajar menunjukkan perilaku kerja sama dengan warga yang berbeda budaya?

Pertemuan 13 — Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia saat bertegur sapa dengan teman yang berbeda bahasa daerah — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.4 Menunjukkan sikap bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, serta memfasilitasi doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia saat bertegur sapa dengan teman yang berbeda bahasa daerah (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 2 situasi kartu sapaan di papan tulis: (1) Sapaan saat bertemu teman baru dari daerah Sunda di gerbang sekolah; (2) Sapaan saat berpapasan dengan teman asal Minang di lorong kelas. Murid diminta memilih secara lisan sapaan pemersatu yang tepat (acuan jawaban: memilih menyapa dengan bahasa Indonesia baku seperti 'Halo, selamat pagi, apa kabar?', bukan bahasa daerah masing-masing yang tidak saling dipahami) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati teks percakapan singkat bertema perkenalan antarmurid dari suku berbeda (Batak, Jawa, Bugis) yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai jembatan komunikasi di sekolah (7 menit).
  • Murid mengidentifikasi fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu saat bertegur sapa berdasarkan isi percakapan tersebut melalui tanya jawab terbimbing (acuan: bahasa Indonesia membuat semua teman saling paham, rukun, dan tidak merasa terasing) (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid dibagi berpasangan untuk memainkan simulasi bertegur sapa 'Jelajah Sahabat Nusantara' menggunakan 3 kartu skenario situasi: Skenario 1 (bertegur sapa dengan teman suku Jawa saat meminjam pensil), Skenario 2 (bertegur sapa dengan teman suku Bali saat istirahat di kantin), dan Skenario 3 (bertegur sapa dengan teman suku Sunda saat tiba di kelas). Setiap murid bergiliran melatih tegur sapa menggunakan kalimat sapaan bahasa Indonesia yang ramah dan percaya diri (acuan: kalimat sapaan Indonesia santun seperti 'Halo Made, bolehkah aku pinjam pensil?', 'Selamat siang Budi, mari ke kantin bersama', 'Hai Asep, selamat pagi!') (18 menit).
  • Setiap pasangan murid melakukan tantangan saling tebak kartu salam: satu murid memperagakan sapaan ramah dalam bahasa Indonesia sesuai skenario dan rekannya merespons balik dengan bahasa Indonesia, menunjukkan rasa bangga berbahasa persatuan secara ceria tanpa ragu (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru memaknai perasaan senang dan bangga ketika mampu saling menyapa dan berkomunikasi secara akrab menggunakan bahasa Indonesia meskipun memiliki latar belakang bahasa daerah yang berbeda (7 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya sikap bangga memakai bahasa Indonesia saat bertegur sapa dengan siapa pun sebagai wujud persatuan anak Indonesia (4 menit).
  • Guru melakukan cek pemahaman akhir dan memberikan penguatan tindak lanjut agar murid selalu membiasakan bertegur sapa menggunakan bahasa Indonesia di lingkungan pergaulan sehari-hari sebelum kelas ditutup dengan salam (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan kalimat sapaan bahasa Indonesia bertuliskan frasa siap pakai bagi murid yang membutuhkan bantuan kosakata, dan kartu tantangan situasi yang lebih beragam bagi murid yang cepat paham.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih sapaan berpasangan dengan pemodelan langsung oleh guru, sedangkan murid yang sudah mahir dapat berganti peran secara mandiri dengan berbagai skenario situasi percakapan.
  • Produk: Semua murid mendemonstrasikan sikap bangga bertegur sapa dengan bahasa Indonesia secara langsung berpasangan dengan tingkat kelancaran sesuai kemampuannya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan memilih sapaan yang tepat pada 2 situasi di papan tulis: Skenario A (bertemu murid baru dari Minahasa) dan Skenario B (bertemu teman dari Papua). Kriteria penerimaan: murid memilih sapaan bahasa Indonesia (acuan: 'Halo, selamat pagi, siapa namamu?' / 'Selamat siang, boleh kita berkenalan?'), bukan bahasa daerah yang tidak dipahami lawan bicara.

Proses:

  • Lembar pengamatan formatif unjuk kerja simulasi 'Jelajah Sahabat Nusantara' mencakup 3 indikator: (1) Menggunakan kalimat sapaan bahasa Indonesia saat bertegur sapa; (2) Menunjukkan ekspresi percaya diri dan ramah tanpa ragu; (3) Konsisten menggunakan bahasa Indonesia saat merespons teman dari daerah berbeda.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat lisan berupa refleksi tindakan: Murid menyebutkan 1 contoh kalimat sapaan dalam bahasa Indonesia yang akan digunakannya saat bertegur sapa dengan teman berbeda suku di lingkungan sekolah (kriteria penerimaan: kalimat sapaan santun dan baku bahasa Indonesia seperti 'Selamat pagi kawan, senang bisa belajar bersamamu').

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja simulasi bertegur sapa menggunakan lembar ceklis sikap bangga berbahasa Indonesia (ramah, percaya diri, konsisten memakai bahasa Indonesia pemersatu).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia saat bertegur sapa dengan teman berbeda bahasa daerahBelum menggunakan bahasa Indonesia saat bertegur sapa dan masih bergantung sepenuhnya pada bimbingan guru.Menggunakan bahasa Indonesia saat bertegur sapa pada 1 skenario situasi dengan arahan guru.Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia saat bertegur sapa secara santun pada minimal 2 skenario situasi secara mandiri.Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia saat bertegur sapa secara konsisten pada seluruh 3 skenario situasi secara mandiri dan percaya diri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas simulasi bertegur sapa berpasangan efektif menumbuhkan rasa bangga berbahasa Indonesia pada murid?
  • Bagaimana keterlibatan aktif murid saat mempraktikkan tegur sapa dengan latar belakang suku yang berbeda-beda?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu ketika menyapa teman yang berbeda suku menggunakan bahasa Indonesia?
  • Kapan saja kamu akan menggunakan bahasa Indonesia untuk bertegur sapa di sekolah?

Pertemuan 14 — Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu dalam musyawarah pemilihan ketua kelas — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.4 Menunjukkan sikap bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru mengaitkan materi dengan menanyakan pengalaman bermusyawarah serta menyampaikan tujuan pembelajaran tentang menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu dalam musyawarah pemilihan ketua kelas (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang peran bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saat musyawarah (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru tentang fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang menjembatani keberagaman bahasa daerah agar seluruh peserta musyawarah saling memahami tanpa ada yang merasa terasingkan (10 menit).
  • Murid mengamati dan membedakan 3 contoh kalimat sikap: Kalimat A ('Saya bangga mengusulkan calon ketua kelas menggunakan bahasa Indonesia agar kita semua paham'), Kalimat B ('Saya hanya mau memakai bahasa daerah saya sendiri saat rapat kelas'), Kalimat C ('Menggunakan bahasa Indonesia dalam musyawarah membuat kita bersatu'). Murid secara bersama menandai Kalimat A dan C sebagai cerminan sikap bangga berbahasa Indonesia pemersatu bangsa (acuan: Kalimat A dan C benar; Kalimat B tidak tepat) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi kelas menjadi kelompok simulasi beranggotakan 4-5 murid yang memiliki latar belakang suku/bahasa beragam untuk menyelenggarakan simulasi musyawarah pemilihan ketua kelas (5 menit).
  • Murid melaksanakan permainan peran simulasi musyawarah pemilihan ketua kelas dengan tantangan 'Pohon Bahasa Persatuan': setiap murid wajib menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia saat menyampaikan usul nama calon dan alasan pemilihannya tanpa beralih ke bahasa daerah (10 menit).
  • Setiap murid menuliskan 1 kalimat usulan musyawarah yang telah disampaikannya pada kartu kertas 'Suara Persatuanku' dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik sebagai bukti sikap bangga berbahasa persatuan (5 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid dan guru merefleksikan bagaimana penggunaan bahasa Indonesia dalam musyawarah pemilihan ketua kelas dapat menyatukan berbagai pendapat dan mempererat kerukunan antarteman (5 menit).
  • Murid memeriksa apakah seluruh proses musyawarah kelompoknya berhasil menggunakan bahasa Indonesia secara tertib dan bersatu (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan manfaat utama menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dalam kegiatan musyawarah di kelas (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan apresiatif atas sikap bangga yang ditunjukkan murid, menyampaikan rencana aktivitas pertemuan berikutnya, dan menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan frasa pemantik usulan musyawarah berbahasa Indonesia ('Menurut pendapat saya...', 'Saya mengusulkan...') bagi murid yang membutuhkan scaffolding.
  • Proses: Memberikan pendampingan terbimbing dalam kelompok bagi murid yang masih canggung berpendapat, sedangkan murid yang sudah lancar diberikan kesempatan menyampaikan 2 usulan alasan yang berbeda dengan tetap konsisten berbahasa Indonesia.
  • Produk: Format penulisan usulan pada kartu 'Suara Persatuanku' dapat berupa satu kalimat tunggal terstruktur bagi murid bertahap, atau kalimat majemuk disertai alasan pemersatu bagi murid cepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Jika teman-teman di kelas berasal dari suku Jawa, Sunda, Batak, dan Minang, bahasa apa yang harus kita pakai saat musyawarah pemilihan ketua kelas agar semua mengerti dan merasa bersatu?' (Acuan jawaban benar: Bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan).

Proses:

  • Pengamatan langsung selama simulasi musyawarah: mencatat keterlibatan murid dalam menggunakan bahasa Indonesia saat menyampaikan usulan calon ketua kelas tanpa meremehkan bahasa lain dan tanpa memaksakan bahasa daerah sendiri (kriteria: murid konsisten menggunakan bahasa Indonesia dengan penuh rasa bangga dan percaya diri).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan kartu usulan 'Suara Persatuanku': Murid menuliskan minimal 1 kalimat usulan musyawarah berbahasa Indonesia (kriteria penerimaan: kalimat memuat usulan atau dukungan calon ketua kelas yang dirumuskan menggunakan bahasa Indonesia yang santun dan jelas, misal: 'Saya mengusulkan Made menjadi ketua kelas karena ia adil dan bertanggung jawab').

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja simulasi musyawarah pemilihan ketua kelas menggunakan lembar amatan sikap bangga berbahasa Indonesia
  • Pemeriksaan kartu usulan 'Suara Persatuanku' yang ditulis murid

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu dalam musyawarah pemilihan ketua kelasBelum bersedia menggunakan bahasa Indonesia dalam musyawarah pemilihan ketua kelas dan masih sepenuhnya memakai bahasa daerah sendiri meskipun telah diingatkan.Mulai menunjukkan kesediaan menggunakan bahasa Indonesia dalam musyawarah pemilihan ketua kelas namun masih sering mencampuradukkan dengan bahasa daerah dan memerlukan bimbingan guru.Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu secara konsisten saat menyampaikan usulan dalam musyawarah pemilihan ketua kelas secara mandiri.Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu secara konsisten, percaya diri, dan menjadi teladan bagi teman lain sepanjang proses musyawarah pemilihan ketua kelas.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid menunjukkan keterlibatan aktif dan antusias menggunakan bahasa Indonesia saat simulasi musyawarah pemilihan ketua kelas?
  • Bagian mana dari simulasi yang paling efektif menumbuhkan rasa bangga memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu ketika menyampaikan usul menggunakan bahasa Indonesia di hadapan teman-teman yang berbeda suku?
  • Mengapa kamu merasa bangga memiliki bahasa Indonesia saat bermusyawarah di kelas?

Pertemuan 15 — Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia saat berdiskusi membagi tugas kelompok di kelas — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.4 Menunjukkan sikap bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, serta memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saat berdiskusi membagi tugas kelompok di kelas (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan 2 pertanyaan lisan: (1) Mengapa kita menggunakan bahasa Indonesia saat teman sekelompok berbeda suku? (acuan: agar saling memahami karena bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan); (2) Bagaimana perasaanmu saat menggunakan bahasa Indonesia bersama teman sekelas? (acuan: bangga/senang/bersatu) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan singkat guru mengenai peran bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu yang menjembatani keberagaman suku bangsa di kelas sehingga pembagian tugas dapat berjalan rukun (5 menit).
  • Murid memainkan permainan bahasa pemantik 'Tebak Makna Bahasa Persatuan', di mana perwakilan murid membaca kartu kata daerah 'nyong/kula/abdi' lalu bersama-sama mengucapkannya dalam bahasa persatuan yaitu 'saya' dengan penuh semangat dan rasa bangga (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (4-5 murid per kelompok) untuk membagi 4 peran tugas proyek kelas (pencatat, pengambil alat, penata meja, perapian) (5 menit).
  • Murid melaksanakan diskusi pembagian tugas kelompok dengan secara sadar dan konsisten menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tanpa membeda-bedakan latar belakang bahasa daerah teman (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompoknya memeriksa daftar cek pemakaian bahasa Indonesia dan mengidentifikasi bagaimana bahasa persatuan membantu mereka mencapai kesepakatan pembagian tugas secara adil dan rukun (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan pentingnya sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai perekat persatuan saat bermusyawarah di kelas (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap unjuk sikap murid selama diskusi, lalu menutup sesi dengan doa dan salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan kalimat pemantik diskusi dalam bahasa Indonesia yang santun bagi kelompok yang memerlukan bantuan kosakata.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung kepada kelompok yang masih ragu berbahasa Indonesia, serta memberi tantangan pembagian 4 tugas mandiri bagi kelompok yang sudah lancar.
  • Produk: Format kesepakatan pembagian tugas dapat berupa daftar tertulis sederhana atau centang nama peran tugas kelompok.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan: (1) Mengapa kita menggunakan bahasa Indonesia saat teman sekelompok berbeda suku? (acuan: agar saling mengerti/memahami karena bahasa Indonesia bahasa persatuan); (2) Bagaimana perasaanmu saat berbicara bahasa Indonesia dengan teman yang berbeda bahasa daerah? (acuan: bangga/senang/merasa bersatu)

Proses:

  • Lembar observasi pengamatan sikap bangga berbahasa Indonesia selama diskusi pembagian tugas (kriteria: konsistensi menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan kerelaan menerima kesepakatan tugas bersama tanpa sekat kedaerahan)

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta 2 murid menyebutkan 1 bukti mengapa bahasa Indonesia membuat pembagian tugas kelompok berhasil (acuan: semua anggota kelompok memahami pembagian tugas dengan jelas dan bersatu menyelesaikan tugas)

Formatif:

  • Observasi unjuk sikap penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saat diskusi pembagian tugas kelompok menggunakan lembar amatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saat diskusiBelum menunjukkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, masih sepenuhnya mengandalkan bahasa daerah sendiri dan enggan berdialog dengan teman berbeda latar belakang.Mulai menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saat berdiskusi membagi tugas kelompok, namun masih perlu dorongan dan pengingat dari guru.Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan secara konsisten dan mandiri saat berdiskusi membagi tugas kelompok.Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan secara konsisten, santun, dan aktif mengutamakan kebersamaan bahasa persatuan sepanjang diskusi kelompok.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid telah menunjukkan kebanggaan dan kenyamanan menggunakan bahasa Indonesia selama berdiskusi dalam kelompok?
  • Bagaimana respons murid yang memiliki latar belakang bahasa daerah dominan ketika diajak mengutamakan bahasa persatuan?

Murid:

  • Apakah kamu merasa bangga dan bersatu saat menggunakan bahasa Indonesia bersama teman-teman sekelompokmu?
  • Bagaimana bahasa Indonesia membantumu dan teman-teman menyepakati pembagian tugas hari ini?

Pertemuan 16 — Menunjukkan sikap bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan pergaulan sehari-hari — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.4 Menunjukkan sikap bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal lisan mengenai sikap bangga berbahasa Indonesia dengan menanyakan: 'Apa bahasa persatuan yang membuat seluruh anak dari berbagai suku di Indonesia dapat saling mengerti saat bergaul?' (acuan jawaban benar: bahasa Indonesia) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menunjukkan sikap bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan pergaulan sehari-hari (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati teks cerita pendek tentang 4 anak dari daerah berbeda (Budi dari Jawa, Wayan dari Bali, Ucok dari Batak, dan Siti dari Minang) yang bermain bersama di taman dengan menggunakan bahasa Indonesia sehingga tidak terjadi salah paham (7 menit).
  • Murid menunjukkan 3 contoh perilaku sikap bangga berbahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan berdasarkan teks: (1) Menyapa teman berbeda suku dengan bahasa Indonesia, (2) Mengajak bermain bersama menggunakan bahasa Indonesia yang santun, (3) Menghargai teman yang sedang belajar bahasa Indonesia tanpa mengejek (acuan: ketiga perilaku persatuan tersebut) (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid secara berpasangan mengikuti permainan tantangan peran gembira 'Sahabat Bahasa Persatuan': murid memilih satu dari 4 kartu situasi pergaulan sehari-hari lalu memeragakan percakapan singkat menggunakan bahasa Indonesia yang santun dan bangga (kartu 1: berkenalan dengan tetangga baru di lingkungan rumah; kartu 2: mengajak teman baru bermain bola di lapangan; kartu 3: meminjamkan alat tulis saat belajar bersama di teras rumah; kartu 4: mendamaikan teman yang salah paham saat bermain) (12 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Kerja Sikap berisi 4 pernyataan perilaku pergaulan sehari-hari dengan memberi tanda centang pada kolom 'Bangga Berbahasa Indonesia' atau 'Belum Menunjukkan': (1) Menggunakan bahasa Indonesia saat bermain dengan teman yang berbeda suku di lingkungan rumah, (2) Malu menggunakan bahasa Indonesia saat bertemu teman dari daerah lain, (3) Merasa bangga dan senang menggunakan bahasa Indonesia karena membuat semua anak saling mengerti, (4) Mengejek teman yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia (acuan kunci: nomor 1 dan 3 = Bangga Berbahasa Indonesia; nomor 2 dan 4 = Belum Menunjukkan) (13 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengidentifikasi perasaan bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu setelah menyelesaikan aktivitas simulasi dan lembar kerja (5 menit).
  • Murid menyatakan komitmen pribadi untuk selalu mengutamakan bahasa Indonesia saat bergaul dengan teman-teman di lingkungan sekitar agar persatuan tetap terjaga (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan pentingnya sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dalam pergaulan sehari-hari (4 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap unjuk sikap murid dan menutup pertemuan dengan doa serta salam penutup (6 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu situasi pergaulan bergambar untuk murid yang membutuhkan visualisasi konkret.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang ragu menentukan sikap, serta memberikan tantangan mandiri pada situasi kartu tambahan bagi murid yang cepat.
  • Produk: Pilihan menunjukkan sikap melalui kalimat dialog lisan berpasangan atau centang lembar kerja situasi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Apa bahasa persatuan yang membuat seluruh anak dari berbagai suku di Indonesia dapat saling mengerti saat bergaul?' (kriteria penerimaan/acuan benar: menyebut 'bahasa Indonesia').

Proses:

  • Observasi unjuk kerja simulasi berpasangan: murid menunjukkan sikap bangga berbahasa Indonesia dalam situasi pergaulan sehari-hari sesuai kartu tantangan (acuan: menggunakan bahasa Indonesia santun dan menunjukkan sikap ramah/bersahabat).
  • Pemeriksaan Lembar Kerja Sikap 4 pernyataan: (1) Menggunakan bahasa Indonesia saat bermain dengan teman yang berbeda suku di lingkungan rumah (kunci: Bangga); (2) Malu menggunakan bahasa Indonesia saat bertemu teman dari daerah lain (kunci: Belum Menunjukkan); (3) Merasa bangga dan senang menggunakan bahasa Indonesia karena membuat semua anak saling mengerti (kunci: Bangga); (4) Mengejek teman yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia (kunci: Belum Menunjukkan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir lisan: 'Sebutkan 2 contoh sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia saat bergaul dengan teman di sekitar rumahmu!' (kriteria acuan benar: menyebutkan 2 perilaku positif seperti menyapa teman dengan bahasa Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia saat bermain bersama, atau berbicara santun tanpa malu/mengejek).

Formatif:

  • Pengamatan unjuk sikap bangga berbahasa Indonesia pada simulasi kartu situasi pergaulan
  • Pemeriksaan lembar kerja sikap (4 butir pernyataan sikap)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan pergaulan sehari-hariBelum dapat menunjukkan sikap bangga berbahasa Indonesia (hanya 0-1 butir pernyataan pada lembar kerja dijawab tepat sesuai kunci dan ragu bersimulasi walau dibimbing).Mulai menunjukkan sikap bangga berbahasa Indonesia (2 butir pernyataan dijawab tepat sesuai kunci dan mampu bersimulasi dengan bimbingan guru).Menunjukkan sikap bangga berbahasa Indonesia secara tepat (3 butir pernyataan dijawab tepat sesuai kunci dan bersimulasi aktif secara mandiri).Sangat konsisten menunjukkan sikap bangga berbahasa Indonesia secara mandiri (keempat butir pernyataan dijawab tepat sesuai kunci dan bersimulasi dengan sangat lugas serta penuh keyakinan).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid telah mampu menunjukkan sikap bangga berbahasa Indonesia dalam kegiatan simulasi?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam merefleksikan perannya sebagai anak Indonesia yang menjunjung bahasa persatuan?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu ketika menggunakan bahasa Indonesia saat bermain bersama teman-teman?
  • Apa yang akan kamu lakukan jika ada teman baru yang berbeda bahasa daerah mengajakmu bermain?

Pertemuan 17 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.1 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman suku bangsa di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan
  • TP 4.3.2 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman sosial di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan
  • TP 4.3.3 Menunjukkan perilaku bekerja sama dalam berbagai bentuk keberagaman budaya di lingkungan sekitar yang terikat persatuan dan kesatuan
  • TP 4.3.4 Menunjukkan sikap bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pertemuan ke-17 sebagai puncak penilaian Bab 3, yaitu unjuk kerja simulasi proyek kerja sama membersihkan serta menata sudut kelas dan pengisian lembar penilaian antarteman (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru menjelaskan tata cara simulasi penataan sudut kelas: setiap kelompok heterogen (beranggotakan murid dengan latar belakang suku, tingkat ekonomi, dan budaya yang beragam) berbagi tugas praktis secara adil tanpa membeda-bedakan latar belakang, serta wajib konsisten berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara serentak dalam kelompok masing-masing melaksanakan simulasi proyek kerja sama: merapikan rak buku, menata meja belajar, menyapu lantai sudut kelas, dan memasang pajangan karya kelas secara gotong royong; guru berkeliling mengamati tindakan nyata kerja sama antarsuku bangsa, penerimaan keberagaman sosial, dan konsistensi penggunaan bahasa Indonesia menggunakan lembar observasi keterlibatan (45 menit).
  • Murid secara mandiri dan hening mengisi Lembar Cek Penilaian Antarteman berisi 3 pernyataan: (1) Teman saya aktif bekerja sama dan berbagi alat/tugas tanpa membeda-bedakan asal daerah atau budaya; (2) Teman saya menghargai kebiasaan atau logat budaya saya tanpa mengejek; (3) Teman saya menjaga kerukunan dan kekompakan kelompok hingga pekerjaan selesai (kriteria ketercapaian: memberi tanda centang 'Ya' secara jujur dan objektif berdasarkan fakta selama kerja sama) (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru menyimpulkan pentingnya sikap bersatu, toleransi, dan kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari setelah menyelesaikan tugas unjuk kerja (3 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar penilaian antarteman dan menutup rangkaian pembelajaran Bab 3 dengan apresiasi atas kerja sama seluruh murid serta doa penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Tidak ada modifikasi kompetensi; lembar penilaian antarteman disajikan dengan bahasa lugas dan ukuran teks yang jelas.
  • Proses: Akomodasi akses berupa pembacaan ulang butir pernyataan pada lembar penilaian antarteman bagi murid yang membutuhkan bantuan membaca tanpa mengubah standar penilaian unjuk kerja.
  • Produk: Seluruh murid menghasilkan bukti unjuk kerja tindakan nyata kerja sama dan lembar penilaian antarteman yang setara.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • unjuk kerja simulasi proyek kerja sama dan penilaian antarteman: tindakan nyata bekerja sama dalam keberagaman suku, sosial, dan budaya, penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu saat berdiskusi dan menyelesaikan tugas kelompok, serta lembar penilaian antarteman
  • unjuk kerja kelompok serentak: perilaku aktif bergotong royong, saling menghargai perbedaan latar belakang suku bangsa dan sosial, serta konsistensi menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saat menata dan membersihkan sudut kelas bersama kelompok (seluruh kelompok beraktivitas serentak diamati guru dengan teknik observasi keliling) (50 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi keterlibatan kerja sama dan penggunaan bahasa Indonesia)
  • penilaian antarteman serentak: lembar centang penilaian antarteman yang diisi secara jujur dan serentak oleh seluruh murid mengenai kekompakan, sikap saling menghargai, dan kerukunan saat bekerja sama di tengah keberagaman budaya (20 menit; individual; instrumen: lembar cek penilaian antarteman dengan rubrik sederhana)

Sumatif:

  • unjuk kerja simulasi proyek kerja sama dan penilaian antarteman: tindakan nyata bekerja sama dalam keberagaman suku, sosial, dan budaya, penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu saat berdiskusi dan menyelesaikan tugas kelompok, serta lembar penilaian antarteman
  • unjuk kerja kelompok serentak: perilaku aktif bergotong royong, saling menghargai perbedaan latar belakang suku bangsa dan sosial, serta konsistensi menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saat menata dan membersihkan sudut kelas bersama kelompok (seluruh kelompok beraktivitas serentak diamati guru dengan teknik observasi keliling) (50 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi keterlibatan kerja sama dan penggunaan bahasa Indonesia)
  • penilaian antarteman serentak: lembar centang penilaian antarteman yang diisi secara jujur dan serentak oleh seluruh murid mengenai kekompakan, sikap saling menghargai, dan kerukunan saat bekerja sama di tengah keberagaman budaya (20 menit; individual; instrumen: lembar cek penilaian antarteman dengan rubrik sederhana)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Bekerja sama dalam keberagaman suku bangsa (TP 1)Enggan terlibat atau menolak bekerja sama dengan teman yang berbeda latar belakang suku bangsa.Terlibat bekerja sama dengan teman yang berbeda suku bangsa hanya jika ditegur atau diarahkan berulang kali oleh guru.Menunjukkan perilaku aktif bekerja sama dan berbagi tugas secara adil dengan teman yang berbeda suku bangsa tanpa membeda-bedakan.Menunjukkan perilaku aktif bekerja sama secara konsisten dan spontan merangkul teman dari berbagai suku bangsa demi persatuan kelompok.
Bekerja sama dalam keberagaman sosial (TP 2)Memilih-milih teman berdasarkan tingkat ekonomi atau pekerjaan orang tua saat kegiatan kerja sama kelompok.Mau bekerja sama dengan teman dari tingkat ekonomi/latar belakang sosial berbeda namun masih ragu-ragu berbagi peralatan tugas.Menunjukkan perilaku gotong royong dan saling tolong-menolong tanpa membeda-bedakan kondisi sosial ekonomi keluarga teman.Menunjukkan perilaku tolong-menolong secara konsisten dan penuh kepedulian terhadap seluruh teman tanpa memandang latar belakang sosial.
Bekerja sama dan saling menghargai dalam keberagaman budaya (TP 3)Belum menunjukkan sikap menghargai perbedaan budaya teman (misal: mencela logat, adat, atau kebiasaan daerah teman).Menghargai keragaman budaya teman saat diingatkan guru, namun belum kompak dalam menjaga kerukunan kerja sama.Menunjukkan perilaku bekerja sama yang rukun, kompak, dan menghargai keragaman budaya teman berdasarkan hasil penilaian antarteman.Menunjukkan sikap sangat kompak, rukun, dan konsisten memuji serta mengapresiasi keragaman budaya teman selama kerja sama.
Sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai pemersatu (TP 4)Tidak mau menggunakan bahasa Indonesia dan memaksakan bahasa daerah tertentu sehingga menimbulkan sekat dalam kelompok.Menggunakan bahasa Indonesia saat diawasi guru, namun kembali menggunakan bahasa yang memisahkan kelompok saat berinteraksi.Konsisten menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu saat berkomunikasi, membagi tugas, dan berinteraksi dalam kelompok.Sangat bangga dan konsisten menggunakan bahasa Indonesia yang baik sebagai pemersatu serta menjadi teladan komunikasi rukun di kelas.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh instrumen asesmen unjuk kerja dan penilaian antarteman berhasil memotret capaian perilaku kerja sama murid secara objektif?
  • Bagaimana tingkat kerukunan dan kekompakan murid saat berinteraksi dengan teman yang beragam latar belakang suku, sosial, dan budaya selama simulasi?

Murid:

  • Apakah saya sudah bekerja sama dengan kompak dan menghargai semua teman tanpa membeda-bedakan suku, budaya, dan keadaan sosialnya?
  • Apakah saya merasa bangga dan terbantu saat menggunakan bahasa Indonesia untuk menyatukan pendapat dalam kelompok?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023)
  2. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023)
  3. Peralatan kebersihan kelas (sapu, kemoceng, kain lap, tempat sampah)
  4. Gambar ilustrasi situasi kerja sama antarsuku bangsa di sekolah
  5. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023, Bab 3)
  6. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023, Bab 3)
  7. Set kartu pernyataan perilaku kerja sama antarsuku bangsa
  8. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023, Bab 3: Kerja Sama di Lingkunganku)
  9. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023)
  10. Set replika alat kebersihan sederhana (sapu lidi mini, ember/keranjang kertas, kartu peran suku bangsa warga RT)
  11. Buku Guru Pendidikan Pancasila SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023, Bab 3: Kerja Sama di Lingkunganku)
  12. Buku Siswa Pendidikan Pancasila SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023, Bab 3: Kerja Sama di Lingkunganku, hlm. 64-71)
  13. Lembar aktivitas pasangan skenario 'Misi Penjaga Kerukunan'
  14. Kartu skenario perilaku persatuan
  15. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemdikbudristek, 2023)
  16. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemdikbudristek, 2023)
  17. Alat kebersihan kelas (sapu, kemoceng, pengki, kain lap, tempat sampah)
  18. Kartu situasi piket kelas
  19. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023) Bab 3
  20. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023) Bab 3 Halaman 64-70
  21. Perlengkapan kelas (rak buku, alat tulis, meja, loker)
  22. Lembar Aktivitas Kerja Sama Keberagaman Profesi
  23. Kartu skenario simulasi tolong-menolong antarwarga (Skenario A dan Skenario B)
  24. Perlengkapan peraga simulasi (kardus bantuan, paket sembako tiruan, label posko peduli warga)
  25. Set Kartu Pilihan Sikap RW dan Lembar Kerja Pemilihan Perilaku Bekerja Sama
  26. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023) Bab 3
  27. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023) Bab 3
  28. Set kartu skenario 'Pos Karnaval Budaya' dan lembar refleksi 'Bintang Kerja Sama'
  29. Kartu skenario kerja sama kesenian dan lembar cek pengamatan unjuk kerja
  30. Gambar visual kegiatan gotong royong dan tradisi sosial masyarakat di kelurahan
  31. Set kartu kasus kegiatan adat istiadat 'Sahabat Kelurahan'
  32. Set kartu skenario dan kartu aksi 'Tantangan Kartu Aksi Kerja Sama Budaya'
  33. Lembar gambar situasi kegiatan budaya masyarakat
  34. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023) Bab 3.
  35. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023) Bab 3.
  36. Kartu skenario situasi tegur sapa antarsuku 'Jelajah Sahabat Nusantara'.
  37. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023), Bab 3
  38. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023), Bab 3
  39. Kartu simulasi 'Suara Persatuanku' dan kotak suara miniatur kelas
  40. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV Bab 3 (Kemendikbudristek, 2023)
  41. Kartu kata daerah dan padanan kata bahasa Indonesia
  42. Lembar kerja pembagian tugas kelompok
  43. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek 2023)
  44. Kartu tantangan peran situasi pergaulan sehari-hari
  45. Lembar Kerja Sikap Murid
  46. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek, 2023)
  47. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas IV (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek, 2023)
  48. Lembar Observasi Unjuk Kerja Kerja Sama Guru
  49. Lembar Cek Penilaian Antarteman
  50. Peralatan kebersihan dan penataan kelas (sapu, kemoceng, buku bacaan, taplak meja)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.