MODUL AJAR Pendidikan Pancasila — Kelas 11 (Fase F) Topik: Bab 3 — Harmoni dalam Keberagaman INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Pancasila |
|---|
| Fase / Kelas | Fase F / Kelas 11 |
|---|
| Topik | Bab 3 — Harmoni dalam Keberagaman |
|---|
| Alokasi Waktu | 18 JP (18 x 45 menit = 810 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 9 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 11.3.1 Menganalisis potensi konflik terhadap permasalahan keberagaman di masyarakat
- TP 11.3.2 Memberi solusi yang berkeadilan terhadap permasalahan keberagaman di masyarakat
- TP 11.3.3 Merancang kegiatan bersama dengan prinsip gotong royong dalam praktik hidup sehari-hari untuk merawat keberagaman di masyarakat
- TP 11.3.4 Membiasakan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sebagai identitas nasional dalam kehidupan sehari-hari guna memelihara harmoni keberagaman
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Apa faktor penyebab yang paling sering memicu perselisihan di lingkungan sekolah yang memiliki latar belakang murid beragam?
- Bagaimana sebuah perbedaan kebiasaan atau cara pandang antarsiswa dapat berkembang menjadi potensi konflik antarkelompok jika diabaikan?
- Mengapa perbedaan identitas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di masyarakat luas rentan dimanfaatkan menjadi pemicu perseteruan atau konflik terbuka?
- Bagaimana kita mengenali faktor pemicu laten dan manifestasi potensi konflik keberagaman sebelum berkembang menjadi gesekan antarkelompok?
- Apa yang membuat suatu penyelesaian masalah perbedaan antarwarga dapat dianggap adil bagi semua pihak?
- Bagaimana memastikan solusi atas perselisihan antarwarga tidak merugikan kelompok minoritas atau kelompok yang lebih rentan?
- Mengapa cara musyawarah dan keterlibatan pihak ketiga (mediator) dipandang lebih adil dalam menyelesaikan perselisihan keberagaman dibanding saling memaksakan kehendak?
- Bagaimana merumuskan kesepakatan damai yang memperlakukan hak semua kelompok secara seimbang saat terjadi sengketa antarwarga yang berbeda latar belakang?
- Bagaimana sebuah kegiatan gotong royong di lingkungan sekitar dapat mempertemukan warga yang berbeda latar belakang suku atau agama?
- Komponen apa saja yang perlu dirancang agar sebuah kegiatan bersama benar-benar melibatkan peran setara warga tanpa diskriminasi?
- Mengapa sebuah rancangan kegiatan bersama untuk merawat keberagaman memerlukan rincian pembagian tugas gotong royong dan linimasa yang jelas?
- Bagaimana memastikan setiap unsur keberagaman di lingkungan sekitar dapat terlibat aktif secara berkeadilan dalam kegiatan gotong royong sehari-hari?
- Bagaimana wujud nyata perilaku toleransi dan penghormatan keberagaman yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam pergaulan kalian sehari-hari?
- Mengapa pembiasaan perilaku sesuai nilai-nilai Pancasila penting sebagai identitas nasional untuk merawat keharmonisan hidup bersama?
- Bagaimana wujud nyata perilaku adil dan rukun tanpa membeda-bedakan latar belakang dalam kehidupan kita sehari-hari?
- Mengapa pembiasaan perilaku adil dan rukun menjadi cerminan identitas nasional kita sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila?
- Bagaimana ketajaman analisis kita dalam menemukan akar konflik membantu menghasilkan solusi keberagaman yang adil?
- Mengapa rancangan kegiatan gotong royong dan pembiasaan nilai Pancasila menjadi kunci utama memelihara harmoni di masyarakat?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menganalisis Faktor Penyebab dan Potensi Konflik Keberagaman di Lingkungan Sekolah — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.3.1 Menganalisis potensi konflik terhadap permasalahan keberagaman di masyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan mengondisikan suasana belajar yang tertib (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan hari ini, yaitu menganalisis faktor penyebab dan potensi konflik keberagaman di lingkungan sekolah (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat melalui lembar cek kesiapan berisi 2 kasus singkat keberagaman sekolah untuk mengidentifikasi kemampuan awal murid dalam membedakan faktor penyebab pemicu konflik (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak paparan singkat guru dan membaca teks studi kasus faktual tentang dinamika pergaulan di sekolah multikultural, mencakup faktor pendorong dan faktor penghambat seperti stereotip antarkelompok, eksklusivisme tongkrongan, dan kesenjangan komunikasi (10 menit).
- Murid berpasangan memainkan kuis cepat interaktif 'Detektif Faktor Konflik': murid mencocokkan 4 kartu situasi sekolah dengan kategori faktor penyebabnya (kartu situasi 1: mengejek logat daerah teman saat presentasi -> kategori stereotip/etnosentrisme; kartu situasi 2: hanya mau sekelompok dengan teman satu suku -> kategori eksklusivisme; kartu situasi 3: menyebarkan rumor tidak benar tentang ritual ibadah teman -> kategori prasangka/misinformasi; kartu situasi 4: pembagian jadwal piket yang membedakan perlakuan murid lokal dan pindahan -> kategori diskriminasi perlakuan; acuan: pasangan 1-stereotip, 2-eksklusivisme, 3-prasangka, 4-diskriminasi) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):- Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (4-5 orang) dan menerima Lembar Kerja Analisis Kasus Konflik Sekolah yang memuat studi kasus narasi: 'Ketegangan antarsiswa saat pemilihan ketua OSIS yang dipicu oleh isu kedaerahan dan pengelompokan pertemanan eksklusif di kantin' (10 menit).
- Setiap kelompok berdiskusi menganalisis studi kasus tersebut untuk mengurai 3 aspek: (1) akar faktor penyebab konflik, (2) bentuk potensi konflik terbuka yang mungkin meletus jika dibiarkan, dan (3) dampak eskalasi konflik terhadap kerukunan warga sekolah (acuan analisis kasus: akar penyebab = sentimen kedaerahan/primordialisme dan eksklusivisme pertemanan; bentuk potensi konflik = perselisihan fisik/verbal antarpendukung kandidat dan boikot kegiatan OSIS; dampak eskalasi = polarisasi antarkelas, rusaknya rasa aman belajar, dan pudarnya integrasi sosial di sekolah) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Perwakilan kelompok menempelkan lembar hasil analisis pada papan pajang kelas dan saling mencermati ketajaman analisis kelompok lain melalui metode gallery walk hening (10 menit).
- Murid secara individu menuliskan refleksi kesadaran diri pada secarik kertas tentang potensi prasangka atau perilaku eksklusif yang pernah mereka amati atau rasakan sendiri di lingkungan sekolah serta mengapa hal itu berisiko memicu konflik (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran mengenai faktor penyebab konflik (seperti stereotip, etnosentrisme, dan eksklusivisme) dan pentingnya kepekaan mendeteksi potensi konflik sejak dini di sekolah (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil analisis murid serta menyampaikan gambaran topik pertemuan berikutnya, yaitu menganalisis potensi konflik keberagaman SARA pada masyarakat luas, lalu menutup pembelajaran dengan doa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar kasus dengan infografik peta alur konflik untuk murid yang membutuhkan visualisasi terstruktur, serta kasus naratif kompleks multitafsir bagi murid yang memerlukan tantangan telaah analitis mendalam.
- Proses: Memberikan bimbingan terfokus dan panduan pertanyaan pancingan bagi kelompok yang kesulitan mengurai akar masalah, sementara kelompok mandiri diberikan keleluasaan mengkaji keterkaitan antar-faktor penyebab secara komparatif.
- Produk: Hasil analisis kasus dituangkan dalam bentuk diagram pohon masalah atau tabel analisis matriks faktor-konflik-dampak sesuai kenyamanan kelompok.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Murid mengidentifikasi faktor pemicu konflik dari 2 kutipan kasus mikro sekolah: Kasus A: 'Dua siswa bertengkar karena salah satu menirukan dan mengolok-olok dialek daerah temannya' (acuan jawaban: faktor etnosentrisme / stereotip budaya); Kasus B: 'Sekelompok murid menolak satu meja makan di kantin dengan murid baru dari luar pulau karena merasa berbeda kebiasaan' (acuan jawaban: faktor eksklusivisme / prasangka sosial). Kriteria kesiapan: mampu mengenali minimal 1 dari 2 faktor dengan tepat.
Proses:- Penilaian lembar kerja kelompok analisis studi kasus ketegangan pemilihan ketua OSIS berbasis 3 indikator: (1) ketepatan mengidentifikasi akar faktor penyebab (acuan: sentimen primordialisme/kedaerahan dan eksklusivisme), (2) kedalaman analisis bentuk potensi eskalasi konflik (acuan: perselisihan verbal/fisik antarpendukung dan boikot OSIS), dan (3) kelengkapan analisis dampak disintegrasi sosial di sekolah (acuan: polarisasi warga sekolah dan hilangnya iklim belajar aman).
Akhir Pertemuan:- Murid mengerjakan cek pemahaman 2 butir singkat: (1) Sebutkan 2 faktor internal/sikap individu yang berpotensi memicu konflik keberagaman di lingkungan sekolah! (acuan jawaban: egoisme, etnosentrisme, stereotip, prasangka, atau eksklusivisme; minimal 2 benar); (2) Jelaskan alur bagaimana prasangka antarkelompok dapat berujung menjadi potensi konflik terbuka di sekolah! (kriteria penerimaan: penjelasan memuat alur logis dari prasangka tak berdasar -> penolakan/eksklusivisme interaksi -> miskomunikasi/gesekan langsung -> konflik terbuka).
Formatif:- Asesmen awal berupa tes tertulis diagnostik singkat (2 butir identifikasi faktor penyebab konflik sekolah).
- Asesmen proses berupa pengamatan lembar kerja kelompok analisis potensi konflik keberagaman di sekolah dan aktivitas kuis pencocokan faktor.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis faktor penyebab konflik keberagaman di lingkungan sekolah | Belum mampu mengidentifikasi faktor penyebab konflik dalam studi kasus keberagaman sekolah secara tepat. | Mampu menyebutkan faktor penyebab konflik keberagaman sekolah, namun belum menguraikan keterkaitannya dengan situasi kasus secara logis. | Mampu menganalisis faktor penyebab konflik keberagaman sekolah (seperti stereotip, eksklusivisme, atau prasangka) secara tepat dan logis sesuai studi kasus. | Mampu menganalisis secara komprehensif akar faktor penyebab konflik keberagaman sekolah primer maupun sekunder serta mengaitkannya secara mendalam dengan dinamika interaksi sosial di sekolah. | | Menganalisis potensi konflik keberagaman di lingkungan sekolah | Belum mampu menguraikan bentuk potensi konflik yang dapat berkembang dari permasalahan keberagaman sekolah. | Mampu mengidentifikasi bentuk potensi konflik keberagaman sekolah secara umum tanpa menjelaskan potensi eskalasi dampaknya. | Mampu menganalisis bentuk potensi konflik keberagaman sekolah serta memproyeksikan dampak eskalasi konfliknya secara tepat sesuai kasus. | Mampu menganalisis secara kritis hierarki potensi konflik (dari gesekan laten hingga konflik terbuka) beserta dampak sistemiknya terhadap keharmonisan lingkungan sekolah secara terperinci. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah desain studi kasus yang diberikan kontekstual dan mampu memicu penalaran kritis murid dalam membedakan faktor penyebab konflik keberagaman di sekolah?
- Apakah seluruh murid berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok menganalisis potensi konflik, atau terdapat murid yang masih mendominasi/pasif?
Murid:- Faktor penyebab konflik keberagaman mana yang menurut saya paling sering muncul secara tidak disadari di lingkungan sekolah?
- Bagaimana kesadaran saya tentang potensi konflik ini mengubah cara saya berinteraksi dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda?
Pertemuan 2 — Menganalisis Potensi Konflik Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan di Masyarakat Luas — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.3.1 Menganalisis potensi konflik terhadap permasalahan keberagaman di masyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menciptakan suasana belajar yang aman serta terbuka (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-2, yaitu menganalisis potensi konflik keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di masyarakat luas (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berupa 2 studi kasus mikro untuk mengukur kemampuan awal murid dalam membedakan faktor pemicu (trigger) dan akar masalah laten konflik SARA (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak pemaparan guru dan infografik kasus sosial mengenai 3 tipologi potensi konflik keberagaman di masyarakat luas: konflik antarsuku berbasis primordialisme sempit, konflik antarumat beragama berbasis prasangka/intoleransi, dan konflik antargolongan berbasis kesenjangan ekonomi-politik (10 menit).
- Murid mencermati panduan tabel analisis potensi konflik yang mencakup komponen: (1) Entitas/kelompok yang terlibat, (2) Akar permasalahan laten (stereotip, prasangka, atau ketimpangan), dan (3) Pemicu langsung (provokasi, hoaks, atau gesekan fisik) secara berkesadaran dan penuh perhatian (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (beranggotakan 4 orang) untuk mengikuti aktivitas interaktif dan menggembirakan 'Detektif Sosiologis': setiap kelompok memilih salah satu dari 4 amplop skenario kasus nyata dinamika masyarakat Indonesia (5 menit).
- Kelompok bekerja sama menganalisis skenario kasus pada lembar kerja analisis potensi konflik SARA untuk mengidentifikasi pihak yang berkonflik, kategori keberagaman yang disasar, akar masalah laten, dan faktor pemicunya secara mendalam dan kritis (25 menit).
- Tiap kelompok menempelkan lembar hasil analisisnya pada papan pajang kelas dalam sesi 'Galeri Temuan', di mana antarkelompok saling mengunjungi dan memeriksa ketepatan analisis potensi konflik kelompok lain menggunakan rubrik pembanding (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memfasilitasi diskusi refleksi bersama mengenai dinamika analisis yang telah dilakukan, menegaskan kembali pola-pola utama penyebab munculnya potensi konflik keberagaman di masyarakat luas (10 menit).
- Murid secara individu menuliskan satu kesadaran kritis pada selembar catatan reflektif mengenai mengapa penting bagi seorang warga negara untuk bersikap peka dan mampu menganalisis potensi konflik di tengah masyarakat yang majemuk sebelum konflik meluas (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian analisis murid hari ini dan menegaskan bahwa kemampuan membaca potensi konflik adalah kunci merawat persatuan bangsa (3 menit).
- Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 3) yang akan berfokus pada pemberian solusi berkeadilan dalam lingkup hubungan antarwarga, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar kasus dengan tingkat kompleksitas bertingkat: kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan teks narasi dengan poin-poin peristiwa kronologis yang terstruktur; kelompok mandiri diberikan artikel liputan kasus yang memuat dinamika sosial yang lebih kompleks dan beragam kepentingan.
- Proses: Memberikan bimbingan langsung (scaffolding) bagi kelompok yang masih kesulitan membedakan akar masalah laten dengan pemicu insidental; memberikan tantangan telaah lebih mendalam mengenai keterkaitan antarfaktor bagi kelompok yang selesai lebih awal.
- Produk: Hasil analisis potensi konflik dituangkan dalam format tabel analisis standar lembar kerja atau dapat dilengkapi dengan diagram sebab-akibat (fishbone diagram) bagi kelompok pengayaan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Guru mengajukan 2 pertanyaan diagnostik lisan: (1) 'Jika terjadi perkelahian pemuda antarwarga dari suku berbeda yang dipicu senggolan sepeda motor lalu berkembang menjadi isu antarsuku, manakah yang merupakan faktor pemicu langsung dan manakah yang merupakan akar masalah laten?' (Acuan jawaban: Pemicu langsung = kecelakaan/senggolan sepeda motor; Akar masalah laten = sentimen/stereotip antarsuku atau prasangka kelompok yang sudah lama terpendam); (2) 'Mengapa perbedaan keyakinan atau golongan di masyarakat luas tidak otomatis selalu menghasilkan kekerasan fisik?' (Acuan jawaban: Perbedaan adalah kondisi alami keberagaman, konflik kekerasan hanya muncul jika ada faktor penghasut seperti prasangka, diskriminasi, politisasi identitas, atau ketidakadilan sosial).
Proses:- Penilaian formatif pada pengerjaan Lembar Kerja Analisis Kasus (LKPD) kelompok yang mengkaji salah satu dari 4 teks skenario kasus: (1) Skenario A: Ketegangan pendirian rumah ibadah di Desa Makmur (Acuan: Kategori Agama; Pihak: Panitia pembangunan vs Warga penolak; Akar: Kurangnya komunikasi lintas iman dan kecurigaan demografis; Pemicu: Masalah kelengkapan izin administratif yang disalahpahami); (2) Skenario B: Gesekan antarpedagang pendatang suku X dan pedagang lokal suku Y di Pasar Induk Raya (Acuan: Kategori Suku dan Antargolongan; Pihak: Paguyuban pedagang suku X vs Asosiasi pedagang lokal Y; Akar: Kecemburuan penguasaan lapak ekonomi dan prasangka kesukuan; Pemicu: Pertengkaran tarif sewa lapak antarindividu pedagang); (3) Skenario C: Penyebaran ujaran kebencian rasial di media sosial terkait kompetisi pemilu daerah (Acuan: Kategori Ras dan Antargolongan; Pihak: Simpatisan politik kubu A vs Kubu B; Akar: Politisasi identitas rasial demi kekuasaan; Pemicu: Beredarnya video hoaks berisi hinaan fisik bernuansa ras); (4) Skenario D: Penolakan penyelenggaraan tradisi adat leluhur oleh kelompok pendatang baru (Acuan: Kategori Suku/Budaya dan Agama; Pihak: Komunitas adat lokal vs Kelompok warga baru; Akar: Etnosentrisme dan penolakan terhadap kearifan lokal; Pemicu: Suara alat musik ritual adat yang dianggap mengganggu ketertiban umum).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman individu di akhir kegiatan inti melalui 1 butir soal analisis singkat: 'Sebutkan 3 komponen utama yang harus dianalisis untuk membedah potensi konflik keberagaman di masyarakat luas beserta contoh singkatnya!' (Acuan kriteria ketepatan: Murid tepat menyebutkan dan menguraikan: 1. Pihak/kelompok identitas yang berselisih; 2. Akar masalah/faktor penyebab laten seperti prasangka, kesenjangan, diskriminasi; 3. Faktor pemicu/insiden langsung seperti hoaks, provokasi, atau perkelahian personal).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan pada pendahuluan untuk memetakan kesiapan analisis potensi konflik
- Observasi unjuk kerja diskusi kelompok 'Detektif Sosiologis' menggunakan lembar observasi analisis
- Pemeriksaan lembar kerja analisis potensi konflik keberagaman SARA (tabel analisis kasus)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Entitas dan Kategori Keberagaman dalam Konflik | Belum mampu mengidentifikasi kelompok yang berkonflik dan keliru mengelompokkan kategori keberagaman (SARA) yang terlibat. | Mampu menyebutkan kelompok yang berkonflik, namun kurang tepat dalam mengelompokkan kategori keberagaman SARA yang menjadi muatan isu. | Tepat mengidentifikasi pihak/kelompok yang berselisih dan tepat menentukan kategori keberagaman (suku, agama, ras, atau antargolongan) yang terlibat sesuai skenario. | Sangat tepat mengidentifikasi pihak yang berselisih, tepat menentukan kategori keberagaman, serta mampu menguraikan keterkaitan posisi sosial masing-masing kelompok dalam dinamika masyarakat. | | Menganalisis Akar Masalah Laten dan Faktor Pemicu Konflik | Belum mampu membedakan antara akar masalah laten (struktural/kultural) dan pemicu langsung (insidental) pada kasus keberagaman. | Mampu menyebutkan pemicu langsung, tetapi belum mampu menganalisis akar masalah laten yang mendasari perseteruan. | Tepat menganalisis dan memisahkan secara jelas antara pemicu langsung insidental dan akar masalah laten (seperti prasangka, kesenjangan sosial, atau stereotip) sesuai skenario. | Tepat menganalisis pemicu langsung dan akar masalah laten secara komprehensif, serta mampu memaparkan secara runut bagaimana pemicu kecil dapat mengekskalasi potensi konflik laten menjadi perseteruan terbuka. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah desain skenario kasus konkret membantu murid memahami secara tajam perbedaan antara akar laten konflik dan pemicu langsung insidental?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas 'Detektif Sosiologis', apakah seluruh anggota kelompok berpartisipasi aktif dalam melakukan analisis kritis?
Murid:- Bagian mana dari kegiatan analisis kasus konflik keberagaman yang paling membuka wawasan saya tentang bahaya prasangka sosial?
- Setelah belajar hari ini, langkah apa yang dapat saya ambil jika melihat potensi gesekan berbau SARA di lingkungan media sosial atau masyarakat luas?
Pertemuan 3 — Memberi Solusi yang Berkeadilan terhadap Permasalahan Keberagaman dalam Lingkup Hubungan Antarwarga — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.3.2 Memberi solusi yang berkeadilan terhadap permasalahan keberagaman di masyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merumuskan solusi yang berkeadilan terhadap permasalahan keberagaman dalam lingkup hubungan antarwarga (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan interaktif berupa studi kasus singkat: 'Warga A merasa terganggu oleh kegiatan ibadah/adat warga B di lingkungan perumahan padat. Manakah solusi yang berkeadilan: (1) Melarang total kegiatan warga B demi ketenangan bersama, (2) Membiarkan tanpa aturan, atau (3) Menyepakati jadwal dan tingkat kebisingan melalui kesepakatan bersama yang menghormati hak ibadah dan hak istirahat?' Murid merespons secara serentak dan guru memetakan pemahaman awal (acuan: opsi 3 memenuhi prinsip keadilan proporsional dan non-diskriminatif) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pemaparan konsep tentang empat pilar solusi berkeadilan dalam hubungan antarwarga yang beragam: (1) Non-diskriminatif/kesetaraan perlakuan, (2) Keseimbangan hak individu dan kepentingan publik, (3) Musyawarah mufakat, serta (4) Perlindungan hak asasi pihak yang rentan (15 menit).
- Dalam aktivitas cepat 'Teka-Teki Keadilan', guru membacakan dua tawaran tindakan warga dan murid mengidentifikasi apakah tindakan tersebut adil atau bias diskriminatif: (Kasus 1: Iuran ronda malam dibebankan dua kali lipat kepada warga pendatang; acuan: Tidak adil/diskriminatif; Kasus 2: Penjadwalan pemakaian balai warga bergantian secara transparan tanpa membedakan latar belakang suku/agama; acuan: Adil dan setara) (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menerima Lembar Kerja Studi Kasus Hubungan Antarwarga berisi skenario konflik konkret: 'Di Kompleks Perumahan Melati, terjadi gesekan antarwarga terkait pemanfaatan jalan gang sempit untuk parkir kendaraan saat perayaan hari besar keagamaan warga pendatang, yang sempat menghambat akses keluar masuk warga asli setempat' (10 menit).
- Murid secara mandiri menuliskan rumusan solusi yang berkeadilan atas skenario tersebut dengan mencakup minimal 3 indikator keadilan: (a) pemenuhan hak beribadah/tradisi warga pendatang, (b) pemenuhan hak akses jalan warga setempat tanpa diskriminasi, dan (c) mekanisme aturan bersama/kesepakatan operasional yang adil (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Dua orang murid secara sukarela membacakan rumusan solusinya, lalu murid lain memeriksa kesesuaian solusi tersebut dengan prinsip keadilan tanpa memihak salah satu kelompok (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran bahwa solusi berkeadilan bukanlah meniadakan hak salah satu pihak, melainkan menjamin kesetaraan dan proporsionalitas hak dalam keberagaman warga (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja murid, mengumpulkan lembar solusi, dan menyampaikan rencana pertemuan berikutnya mengenai teknik mediasi formal pada kasus keberagaman (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar kasus dengan pertanyaan panduan terstruktur bagi murid yang memerlukan bimbingan bertahap.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu kata kunci prinsip keadilan (hak setara, aturan bersama, musyawarah), sedangkan murid yang cepat diarahkan merumuskan mekanisme resolusi preventif jangka panjang pada kasus yang sama.
- Produk: Murid dapat menyajikan solusi dalam format poin-poin terstruktur atau bagan langkah penyelesaian berkeadilan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Warga A merasa terganggu oleh kegiatan ibadah/adat warga B di lingkungan perumahan padat. Manakah solusi yang berkeadilan: (1) Melarang total kegiatan warga B demi ketenangan bersama, (2) Membiarkan tanpa aturan, atau (3) Menyepakati jadwal dan tingkat kebisingan melalui kesepakatan bersama yang menghormati hak ibadah dan hak istirahat?' (Kunci/acuan: Opsi 3, karena menjamin pemenuhan hak dasar kedua belah pihak secara berimbang dan proporsional).
Proses:- Penilaian lembar kerja mandiri pemberian solusi atas studi kasus Kompleks Perumahan Melati. Kriteria penilaian: (1) Kesetaraan perlakuan/tidak diskriminatif terhadap kelompok suku/agama tertentu, (2) Keseimbangan antara hak individu/kelompok dan ketertiban umum, (3) Kejelasan usulan aturan bersama yang operasional. Acuan jawaban yang diterima: solusi memuat pembagian slot parkir/kantong parkir alternatif di luar gang selama acara, pemberitahuan dan izin rukun warga (RT/RW) sebelumnya, serta pengaturan durasi waktu acara tanpa melarang hak warga pendatang merayakan hari besarnya.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (1 soal terbuka): 'Tuliskan satu syarat mutlak agar sebuah solusi sengketa fasilitas bersama antarwarga yang berbeda latar belakang dapat dikatakan berkeadilan!' (Kriteria penerimaan: Jawaban memuat prinsip non-diskriminatif/kesetaraan hak antarpihak atau adanya kesepakatan mufakat yang melindungi kepentingan kedua belah pihak secara seimbang).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran mengenai pemilihan opsi solusi adil vs timpang.
- Asesmen unjuk kerja tertulis: penilaian lembar kerja perumusan solusi berkeadilan atas kasus hubungan antarwarga.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pemberian Solusi yang Berkeadilan terhadap Permasalahan Keberagaman Antarwarga | Belum mampu memberikan solusi, atau solusi yang diajukan bersifat sepihak dan diskriminatif (hanya membela satu kelompok dan merugikan kelompok lain). | Memberikan usulan solusi namun hanya memenuhi 1 dari 3 indikator keadilan (misal hanya mengatur ketertiban umum tetapi melanggar hak beribadah/tradisi warga, atau sebaliknya). | Memberikan solusi yang berkeadilan dengan memenuhi 2 sampai 3 indikator keadilan (memperhatikan hak kedua pihak serta mengusulkan aturan bersama secara jelas dan non-diskriminatif). | Memberikan solusi yang berkeadilan secara utuh memenuhi 3 indikator keadilan (menjamin kesetaraan hak, keseimbangan kepentingan publik, dan aturan bersama yang operasional) serta menyertakan langkah mitigasi pencegahan konflik berulang secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah skenario konflik antarwarga yang disajikan cukup relevan dan mudah dipahami oleh murid?
- Bagaimana ketercapaian murid dalam membedakan antara solusi yang sekadar 'cepat selesai' dengan solusi yang benar-benar 'berkeadilan'?
Murid:- Apakah saya sudah mampu bersikap objektif dan tidak memihak suku/kelompok tertentu ketika merumuskan solusi permasalahan antarwarga?
- Bagian mana dari perumusan solusi berkeadilan yang paling menantang bagi saya?
Pertemuan 4 — Memberi Solusi yang Berkeadilan Melalui Mediasi dan Penerapan Prinsip Musyawarah pada Kasus Keberagaman — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.3.2 Memberi solusi yang berkeadilan terhadap permasalahan keberagaman di masyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak murid memusatkan perhatian pada topik musyawarah dan mediasi keberagaman (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu merumuskan solusi berkeadilan terhadap sengketa keberagaman melalui tahapan mediasi dan musyawarah mufakat (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid membaca satu studi kasus sengketa jam pemakaian balai warga lalu memilih solusi paling berkeadilan dari 3 opsi tertulis (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru dan infografis mengenai 3 prinsip mediasi dan musyawarah yang berkeadilan: ketidakberpihakan mediator (imparsialitas), pemberian hak bicara setara bagi semua pihak yang berselisih, serta hasil kesepakatan yang tidak merugikan hak dasar kelompok mana pun (12 menit).
- Murid secara berpasangan menganalisis contoh kasus: 'Perselisihan jadwal pemanfaatan lapangan umum antara perayaan hari besar keagamaan kelompok A dan kompetisi seni tradisi kelompok B' untuk menemukan inti tuntutan masing-masing kelompok (13 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan peran simulasi mediasi berpasangan yang menggembirakan 'Meja Perundingan Damai', di mana satu murid menjadi mediator dan murid lain menguji tawaran solusi dari dua sudut pandang kelompok yang berbeda (15 menit).
- Setiap murid secara tertulis pada Lembar Kerja Mediasi menyusun butir-butir 'Solusi Berkeadilan Kasus Lapangan Umum' yang memuat: (1) pembagian jadwal kompromis yang seimbang, (2) aturan ketertiban bersama yang mengikat kedua pihak tanpa diskriminasi, dan (3) mekanisme evaluasi bersama bila timbul kendala (22 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa draf solusinya menggunakan lembar cek mandiri berkeadilan (memastikan tidak ada kelompok yang dikorbankan haknya) serta menuliskan satu pembelajaran moral tentang pentingnya mendengar sudut pandang pihak lain sebelum menetapkan jalan keluar (8 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap prinsip perumusan solusi damai yang adil dan merangkum konsep kunci mediasi berbasis musyawarah mufakat (5 menit).
- Guru dan murid menutup pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan kartu panduan alur mediasi 3 tahap, sedangkan murid yang mahir diberikan tantangan kasus tambahan berupa konflik penggunaan area parkir bersama lintas RT dengan klausul kepentingan yang lebih kompleks.
- Proses: Guru memberikan pendampingan langsung dalam merinci poin pembagian jadwal bagi kelompok yang kesulitan, sementara kelompok mandiri menyusun klausul draf solusi secara independen.
- Produk: Format rumusan solusi dapat disajikan dalam bentuk matriks kesepakatan tertulis 3 kolom atau naskah deklarasi damai poin-per-poin.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Soal diagnostik pilihan ganda: 'Warga RT 01 berselisih mengenai penggunaan balai warga pada hari Minggu antara ibadah doa komunitas A dan latihan gamelan sanggar B. Manakah opsi mediasi yang paling berkeadilan?' Pilihan: A. Melarang kedua kegiatan agar adil sama-sama tidak memakai; B. Memberikan balai seutuhnya kepada kelompok yang mengajukan izin paling awal; C. Membagi waktu pemakaian pagi untuk doa dan sore untuk gamelan dengan jeda istirahat serta batas volume suara yang disepakati bersama. (Kriteria penerimaan: Jawaban benar adalah C, karena mengakomodasi hak kedua pihak secara seimbang tanpa membatalkan kepentingan salah satunya).
Proses:- Penilaian lembar kerja perumusan solusi berkeadilan pada kasus lapangan umum. Kriteria ketercapaian: (1) Memuat pembagian jadwal kompromis yang seimbang (misal: hari Sabtu untuk kelompok A, Minggu untuk kelompok B, atau pembagian sesi pagi-sore); (2) Memuat aturan ketertiban bersama tanpa memojokkan salah satu pihak; (3) Memuat mekanisme penyelesaian damai bila terjadi perubahan jadwal.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman singkat (tiket keluar): Murid menuliskan 2 prinsip utama agar hasil musyawarah dalam keberagaman dirasakan adil oleh semua kelompok yang bertikai. (Acuan jawaban yang diterima: memuat prinsip ketidakberpihakan/kesetaraan perlakuan dan prinsip perlindungan hak/keseimbangan kepentingan semua pihak tanpa diskriminasi).
Formatif:- Asesmen awal berupa tes diagnostik pilihan respons berkeadilan dalam kasus balai warga
- Penilaian proses lembar kerja rumusan solusi berkeadilan kasus lapangan umum berbasis musyawarah-mediasi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Perumusan Solusi yang Berkeadilan | Hanya mengusulkan solusi sepihak yang memenangkan salah satu kelompok atau melarang semua pihak tanpa mempertimbangkan pemenuhan hak yang adil. | Mengusulkan solusi kompromi namun pembagian hak/jadwal masih timpang dan belum memuat aturan bersama yang mengikat kedua belah pihak. | Merumuskan solusi berkeadilan yang membagi jadwal secara seimbang dan menyertakan aturan ketertiban bersama yang disepakati kedua belah pihak. | Merumuskan solusi berkeadilan yang seimbang, dilengkapi aturan ketertiban bersama, serta mekanisme antisipasi kendala mediasi secara terperinci dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah simulasi mediasi berpasangan efektif memicu empati murid dalam memahami tuntutan kedua pihak yang berselisih?
- Bagian mana dari rumusan solusi berkeadilan yang masih sulit diseimbangkan oleh murid (pembagian waktu, aturan ketertiban, atau mekanisme evaluasi)?
Murid:- Apa tantangan terberat yang kamu rasakan saat harus bersikap netral dan memberi solusi yang tidak merugikan pihak mana pun?
- Bagaimana prinsip musyawarah hari ini dapat kamu terapkan jika terjadi perbedaan pendapat dengan teman di sekolah?
Pertemuan 5 — Merancang Gagasan Kegiatan Bersama dengan Prinsip Gotong Royong untuk Merawat Keberagaman di Lingkungan Terdekat — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.3.3 Merancang kegiatan bersama dengan prinsip gotong royong dalam praktik hidup sehari-hari untuk merawat keberagaman di masyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merancang gagasan kegiatan bersama dengan prinsip gotong royong untuk merawat keberagaman di lingkungan terdekat (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik kesiapan merancang kegiatan gotong royong dengan memberikan lembar cek kesiapan berisi 3 pertanyaan singkat mengenai unsur rancangan gotong royong (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid mencermati stimulus berupa 3 contoh studi kasus kegiatan bersama di masyarakat majemuk: Kasus A (Kerja bakti pembersihan selokan antarwarga lintas agama), Kasus B (Festival kuliner tradisional nusantara tingkat RT), dan Kasus C (Pos ronda bersama warga beda suku) yang disajikan guru pada lembar kerja (10 menit).
- Murid secara berpasangan menganalisis 3 unsur pokok rancangan kegiatan gotong royong pemersatu keberagaman: nama/tujuan kegiatan, sasaran keberagaman yang dilibatkan, dan pembagian peran berkeadilan tanpa membeda-bedakan latar belakang (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan permainan kelompok interaktif 'Tantangan Kartu Rancang Cepat', di mana tiap kelompok mengambil 1 dari 4 'Kartu Situasi Lingkungan': Situasi 1 (Kompleks perumahan baru dengan warga pendatang lintas suku), Situasi 2 (Lingkungan sekolah dengan latar belakang agama beragam), Situasi 3 (Kampung tepi sungai dengan keberagaman status sosial ekonomi), atau Situasi 4 (Desa agraris dengan generasi muda yang renggang akibat perbedaan kelompok pemuda) (10 menit).
- Setiap kelompok berkolaborasi merancang draf gagasan kegiatan bersama berprinsip gotong royong pada Matriks Rancangan Kegiatan yang mencakup: (1) Nama kegiatan, (2) Tujuan perawatan keberagaman, (3) Bentuk aksi gotong royong bersama, dan (4) Mekanisme pelibatan setara warga beragam (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setiap kelompok saling menukarkan lembar matriks rancangan dengan kelompok pasangan untuk memberikan masukan tertulis pada lembar umpan balik sejawat berfokus pada ketepatan prinsip gotong royong dalam merawat harmoni (10 menit).
- Murid menyimpulkan esensi penting merancang kegiatan gotong royong sebagai wahana nyata memelihara harmoni keberagaman di lingkungan sekitar (5 menit).
Penutup:- Guru dan murid melakukan reviu singkat terhadap indikator rancangan gotong royong yang telah disusun (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja rancangan tiap kelompok dan menyampaikan bahwa rincian operasional rancangan kegiatan ini akan diperdalam pada pertemuan berikutnya (3 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan template Matriks Rancangan Kegiatan dengan panduan pertanyaan penuntun terstruktur bagi kelompok yang membutuhkan bimbingan, serta lembar matriks mandiri terbuka bagi kelompok yang sudah mahir.
- Proses: Memberikan pendampingan berfokus bagi kelompok yang mengalami kesulitan merumuskan aksi nyata gotong royong, sementara kelompok mandiri diberikan tantangan merancang kegiatan dengan cakupan kelompok sasaran keberagaman yang lebih kompleks.
- Produk: Format penulisan rancangan gagasan kegiatan gotong royong dapat disajikan dalam bentuk matriks tabel terstruktur, diagram alur rancangan, atau draf poster bagan konsep kegiatan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Murid menjawab 3 pertanyaan tertulis singkat pada lembar kesiapan: (1) 'Sebutkan 1 contoh kegiatan bersama yang mencerminkan gotong royong di lingkunganmu!' (Acuan kriteria: menyebutkan kegiatan kolektif sukarela seperti kerja bakti, pos ronda, renovasi tempat ibadah/fasilitas umum); (2) 'Apa tujuan utama gotong royong dalam masyarakat majemuk?' (Acuan kriteria: menyebutkan tujuan persatuan, mempererat hubungan antarwarga yang berbeda latar belakang, atau menciptakan harmoni/kerukunan); (3) 'Sebutkan 2 unsur penting yang harus ada saat merencanakan kegiatan gotong royong!' (Acuan kriteria: menyebutkan minimal 2 unsur dari: jenis kegiatan, tujuan, pembagian tugas/peran, sasaran warga, atau waktu pelaksanaan).
Proses:- Penilaian kinerja pengerjaan Matriks Rancangan Gagasan Kegiatan Bersama pada tahap Mengaplikasi dengan acuan 4 kriteria operasional: (1) Ketepatan nama dan tujuan kegiatan yang berorientasi merawat keberagaman; (2) Kesesuaian bentuk aksi gotong royong yang melibatkan kerja sama fisik/gagasan secara bersama; (3) Kejelasan pembagian peran berkeadilan tanpa diskriminasi latar belakang suku/agama/ras/golongan; (4) Kelayakan penerapan di lingkungan terdekat.
Akhir Pertemuan:- Pengecekan akhir draf dokumen rancangan kegiatan bersama: murid memastikan draf matriks telah terisi lengkap 4 komponen (Nama kegiatan, Tujuan, Aksi gotong royong, dan Pembagian peran berkeadilan) dengan acuan keterisian lengkap dan memenuhi prinsip gotong royong sebagai dasar pendalaman rincian kegiatan pada pertemuan berikutnya.
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: lembar cek kesiapan pemahaman unsur rancangan gotong royong.
- Asesmen proses: lembar observasi partisipasi kelompok dan penilaian kinerja Matriks Rancangan Kegiatan Bersama.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Merancang gagasan kegiatan bersama berprinsip gotong royong | Rancangan kegiatan belum memuat aksi gotong royong yang jelas dan belum menunjukkan pelibatan warga yang beragam latar belakang secara berkeadilan. | Rancangan kegiatan memuat aksi gotong royong sederhana, namun tujuan dan pembagian perannya belum secara spesifik menyasar perawatan keberagaman warga secara setara. | Rancangan kegiatan memuat seluruh 4 komponen pokok (nama, tujuan merawat keberagaman, aksi gotong royong nyata, dan pembagian peran berkeadilan) secara tepat dan aplikatif di lingkungan terdekat. | Rancangan kegiatan memuat seluruh 4 komponen pokok secara mandiri, runtut, sangat mendalam dalam merangkul keberagaman antarwarga, serta dilengkapi mekanisme antisipasi hambatan gotong royong secara berkeadilan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan 'Tantangan Kartu Rancang Cepat' berhasil membangkitkan antusiasme dan memandu murid merumuskan rancangan gotong royong dengan tepat?
- Apakah diferensiasi proses yang disiapkan cukup efektif mendampingi kelompok yang kesulitan menyusun pembagian peran yang berkeadilan?
Murid:- Bagian mana dari perancangan kegiatan gotong royong tadi yang paling menantang untuk disesuaikan dengan kondisi keberagaman masyarakat?
- Bagaimana rancangan kegiatan yang kelompokmu buat dapat mencegah perpecahan antartetangga atau teman di lingkungan terdekat?
Pertemuan 6 — Menyusun Rincian Rancangan Kegiatan Bersama dengan Prinsip Gotong Royong dalam Praktik Hidup Sehari-hari — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.3.3 Merancang kegiatan bersama dengan prinsip gotong royong dalam praktik hidup sehari-hari untuk merawat keberagaman di masyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memfasilitasi doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6, yaitu menyusun rincian operasional rancangan kegiatan bersama berbasis gotong royong untuk merawat keberagaman yang telah digagas pada pertemuan sebelumnya (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan dengan menanyakan 3 komponen utama rincian kegiatan gotong royong: (1) sasaran keragaman warga, (2) pembagian tugas berkeadilan, dan (3) linimasa pelaksanaan (acuan: murid menyebutkan ketiga komponen operasional tersebut secara runtut) (6 menit).
- Guru mengaitkan hasil asesmen awal dengan langkah operasionalisasi gagasan kegiatan bersama ke dalam matriks rincian rencana kerja gotong royong (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati model matriks rincian kegiatan bersama yang memuat 4 elemen operasional gotong royong: nama program keberagaman, deskripsi pembagian peran inklusif lintas kelompok, alokasi kebutuhan sumber daya/alat bersama, dan tahapan linimasa (sebelum-hari H-setelah) (8 menit).
- Murid dalam kelompok menganalisis lembar panduan operasionalisasi dengan mengidentifikasi bagaimana prinsip gotong royong (sukarela, tolong-menolong, dan kerja sama setara) diterjemahkan ke dalam tugas-tugas konkret tanpa membedakan latar belakang suku/agama/golongan (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Dalam kelompok kerja beranggotakan 4-5 orang, murid menyusun lembar matriks rincian rancangan kegiatan bersama untuk merawat keberagaman di lingkungan sehari-hari berdasarkan gagasan yang telah ditentukan sebelumnya (misalnya: 'Festival Masakan Tradisional Rukun Warga' atau 'Bakti Bersih Lingkungan Rumah Ibadah Bersama') (17 menit).
- Murid memainkan aktivitas interaktif 'Tukar Peran Matriks': tiap kelompok bertukar draf matriks dengan kelompok sebelah selama 10 menit untuk melakukan simulasi cek silang peran; kelompok pemeriksa memberi stiker bintang dan catatan masukan praktis terkait kejelasan pembagian tugas gotong royong (10 menit).
- Murid menyempurnakan dokumen rincian rancangan kegiatan kelompok masing-masing berdasarkan masukan simulasi peran yang diterima (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara individu mengisi lembar refleksi diri untuk memeriksa apakah rincian peran gotong royong yang disusun telah adil dan membuka ruang pelibatan setara bagi seluruh lapisan warga tanpa prasangka (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya merancang rincian gotong royong yang operasional dan terukur guna memelihara kerukunan hidup bermasyarakat (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas kelengkapan dokumen matriks rincian kegiatan yang disusun setiap kelompok serta menyampaikan rencana pertemuan ke-7 mengenai pembiasaan perilaku toleransi (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan templat matriks berstruktur dengan panduan pertanyaan pemandu pada setiap kolom peran; murid yang mahir diberikan matriks dengan tantangan memetakan mitigasi risiko sosial dalam kerja gotong royong.
- Proses: Kelompok yang membutuhkan pendampingan mendapat fasilitasi langsung dari guru saat membagi tugas, sedangkan kelompok yang mandiri membagi penugasan dan menyusun linimasa secara mandiri.
- Produk: Format penyusunan rincian kegiatan dapat disajikan dalam bentuk matriks tabel kerja cetak, lembar infografik alur kerja, atau kanvas bagan linimasa.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran mengenai 3 elemen operasional kegiatan gotong royong (acuan: (1) sasaran keragaman warga yang dilibatkan, (2) pembagian peran kerja yang adil/inklusif, (3) linimasa pelaksanaan kegiatan).
Proses:- Observasi keterlibatan kelompok dan penilaian dokumen draf matriks rincian kegiatan bersama gotong royong menggunakan rubrik unjuk kerja perancangan (kriteria: memuat nama kegiatan, pembagian peran lintas keragaman, kebutuhan alat gotong royong, dan linimasa kerja).
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan kelengkapan dokumen final matriks rincian rancangan kegiatan bersama (kriteria keterterimaan: dokumen memuat minimal 4 rincian operasional gotong royong yang lengkap, yaitu sasaran keberagaman, pembagian tugas setara, alokasi kebutuhan bersama, dan jadwal pelaksanaan).
Formatif:- Penilaian kinerja perancangan melalui lembar ceklis matriks rincian kegiatan bersama gotong royong
- Asesmen sejawat melalui aktivitas 'Tukar Peran Matriks'
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan Elemen Rincian Rancangan Kegiatan Bersama | Rancangan hanya memuat 1 dari 4 elemen operasional (hanya memuat nama kegiatan tanpa peran kerja gotong royong, kebutuhan alat, dan linimasa). | Rancangan memuat 2 dari 4 elemen operasional kegiatan gotong royong dengan rincian yang masih sangat umum. | Rancangan memuat 3 dari 4 elemen operasional kegiatan gotong royong dengan pembagian tugas dan tahapan kerja yang jelas. | Rancangan memuat lengkap seluruh 4 elemen operasional kegiatan gotong royong (sasaran keberagaman, pembagian tugas gotong royong inklusif, kebutuhan sumber daya bersama, dan linimasa terstruktur) secara mandiri. | | Penerapan Prinsip Gotong Royong dalam Pembagian Peran | Pembagian peran kegiatan belum mencerminkan prinsip gotong royong dan terpusat pada satu individu/golongan tertentu. | Pembagian peran mulai melibatkan kerja bersama namun peran untuk kelompok yang beragam masih timpang atau belum proporsional. | Pembagian peran menerapkan prinsip gotong royong dengan membagi tugas secara sukarela, saling melengkapi, dan merangkul unsur keragaman warga secara adil. | Pembagian peran secara konsisten dan mendalam menerapkan gotong royong yang membuka partisipasi aktif setara bagi seluruh lapisan keragaman tanpa diskriminasi. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu untuk tahap perancangan rincian matriks gotong royong mencukupi bagi murid dalam menuangkan langkah operasional secara nyata?
- Bagaimana respons murid terhadap aktivitas tukar peran antar-kelompok dalam mengidentifikasi kejelasan rancangan kegiatan keberagaman?
Murid:- Bagian mana dari penyusunan rincian kegiatan gotong royong yang paling menantang untuk dibuat adil bagi semua orang?
- Apa hal terpenting yang saya pelajari tentang kerja sama lintas keberagaman saat menyusun rincian rencana ini?
Pertemuan 7 — Membiasakan Perilaku Toleransi dan Penghormatan Keberagaman Sesuai Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.3.4 Membiasakan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sebagai identitas nasional dalam kehidupan sehari-hari guna memelihara harmoni keberagaman
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak berdoa bersama dengan khidmat (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yakni membiasakan perilaku toleransi dan penghormatan keberagaman sesuai nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari (5 menit).
- Murid mengerjakan asesmen awal diagnostik cepat secara tertulis mengenai 3 indikator perilaku toleransi berbasis sila Pancasila: (1) Sila ke-1: Menghormati teman yang sedang beribadah atau merayakan hari besar keagamaan; (2) Sila ke-2: Bersikap adil dan tidak merendahkan martabat sesama manusia terlepas dari latar belakang suku/agama; (3) Sila ke-3: Menjaga kerukunan dan persatuan di atas perbedaan primordial. Guru memverifikasi kesiapan awal murid (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membaca dan menelaah lembar telaah nilai Pancasila yang memuat prinsip toleransi dan penghormatan keberagaman: Sila ke-1 (kebebasan memeluk keyakinan dan saling menghormati antarumat beragama), Sila ke-2 (pengakuan kesetaraan derajat tanpa diskriminasi ras/suku), dan Sila ke-3 (mengutamakan persatuan bangsa di atas sentimen kedaerahan) (10 menit).
- Murid secara berpasangan mencocokkan 4 studi kasus mikro pergaulan dengan tindakan pembiasaan toleransi yang sesuai nilai Pancasila: Kasus 1: Teman sekelas yang berbeda keyakinan meminta izin untuk beribadah saat kerja kelompok -> Tindakan: Memberikan jeda waktu istirahat dan menghormati hak ibadah teman (Sila 1); Kasus 2: Adanya candaan berbau stereotip suku tertentu di ruang kelas -> Tindakan: Menolak ikut menertawakan dan menegur secara sopan demi menghormati harkat martabat manusia (Sila 2); Kasus 3: Pemilihan pengurus kelas yang mengelompok berdasarkan kesamaan daerah asal -> Tindakan: Memilih berdasarkan kepemimpinan dan kapabilitas tanpa memandang latar belakang kesukuan demi persatuan (Sila 3); Kasus 4: Sikap terhadap tetangga beda agama yang mengadakan perayaan hari besar keagamaan di sekitar rumah -> Tindakan: Ikut menjaga ketenangan lingkungan dan menghormati kelancaran ibadah tetangga (Sila 1) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mengikuti permainan tantangan berpasangan 'Komitmen Harmoni Pancasila': tiap pasangan mengambil 1 amplop tantangan yang berisi 1 skenario situasi keberagaman sehari-hari dan bertugas menuliskan 1 tindakan konkret pembiasaan perilaku Pancasila yang dapat mereka terapkan secara langsung (15 menit).
- Murid secara mandiri menyusun 'Jurnal Komitmen Pembiasaan Toleransi Pancasila' berdurasi mingguan yang memuat minimal 3 rencana tindakan pembiasaan konkret dalam relasi pergaulan di sekolah atau rumah: (1) Tindakan toleransi berbasis Sila ke-1 (misal: memberikan kesempatan beribadah kepada teman); (2) Tindakan penghormatan keberagaman berbasis Sila ke-2 (misal: tidak mengejek dialek atau asal suku teman); (3) Tindakan menjaga persatuan berbasis Sila ke-3 (misal: bersedia berteman dan bekerja sama tanpa membeda-bedakan latar belakang) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan refleksi berkesadaran secara tertulis mengenai hambatan batin atau prasangka pribadi yang kerap menghalangi pembiasaan perilaku toleransi, serta menetapkan langkah mental untuk mengatasinya sesuai identitas nasional Pancasila (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai pentingnya membiasakan perilaku toleransi dan penghormatan keberagaman sebagai wujud pengamalan nilai Pancasila (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap jurnal komitmen yang disusun murid dan menutup pertemuan dengan doa bersama serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan contoh konkret tindakan pembiasaan berbasis sila 1, 2, dan 3 secara terperinci; murid yang cepat diberikan tantangan menganalisis situasi dilematis pembiasaan toleransi di lingkungan sosial media.
- Proses: Penyusunan komitmen dilakukan mandiri dengan scaffolding bertahap bagi murid yang masih kesulitan menentukan wujud tindakan konkret.
- Produk: Jurnal komitmen pembiasaan toleransi dapat berfokus pada 3 tindakan inti terstruktur untuk kelompok umum, atau diperluas dengan indikator pemantauan mingguan mandiri bagi murid yang mahir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Murid menuliskan 3 wujud perilaku toleransi dan penghormatan keberagaman yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Kriteria acuan ketepatan: (1) Sila ke-1: Menghormati peribadatan/hari besar orang lain; (2) Sila ke-2: Menghargai hak dan martabat orang lain tanpa diskriminasi suku/ras; (3) Sila ke-3: Membangun kerukunan dan persatuan tanpa membeda-bedakan kelompok asal.
Proses:- Observasi keterlibatan dan ketepatan murid dalam memasangkan tindakan pembiasaan pada 4 skenario kasus keberagaman (acuan: Kasus 1 -> Sila 1 menghormati ibadah; Kasus 2 -> Sila 2 menolak stereotip; Kasus 3 -> Sila 3 memilih tanpa primordialisme; Kasus 4 -> Sila 1 menjaga ketenangan perayaan ibadah tetangga).
- Penilaian lembar Jurnal Komitmen Pembiasaan Toleransi Pancasila berdasarkan kriteria pemenuhan minimal 3 rencana perilaku nyata sesuai sila 1, 2, dan 3.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (exit slip): Murid menuliskan 2 wujud pembiasaan perilaku toleransi sesuai nilai Pancasila yang akan langsung diterapkan dalam 24 jam ke depan di sekolah atau keluarga (Kriteria penerimaan: Tindakan bersifat dapat diobservasi, mencerminkan nilai penghormatan keberagaman berbasis sila Pancasila, dan relevan dengan rutinitas harian).
Formatif:- Penilaian proses pemecahan skenario kasus keberagaman dan ketepatan tindakan toleransi sesuai nilai Pancasila
- Pemeriksaan kelengkapan dan ketepatan 'Jurnal Komitmen Pembiasaan Toleransi Pancasila' murid
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pembiasaan Perilaku Toleransi dan Penghormatan Keberagaman Sesuai Nilai-Nilai Pancasila | Belum mampu merumuskan wujud pembiasaan perilaku toleransi yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. | Mampu merumuskan 1 tindakan pembiasaan perilaku toleransi yang sesuai dengan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan panduan guru. | Mampu merumuskan 2 hingga 3 tindakan pembiasaan perilaku toleransi dan penghormatan keberagaman yang sesuai dengan nilai Pancasila secara mandiri. | Mampu merumuskan lebih dari 3 tindakan pembiasaan perilaku toleransi dan penghormatan keberagaman secara komprehensif mencakup sila 1, 2, dan 3 Pancasila beserta indikator penerapannya sehari-hari secara mandiri dan konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran berhasil memotivasi murid untuk menginternalisasi dan membiasakan perilaku toleransi sesuai Pancasila?
- Bagaimana ketercapaian murid dalam merumuskan tindakan pembiasaan yang realistis dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Murid:- Apa tindakan toleransi berbasis nilai Pancasila yang paling mudah dan paling menantang untuk saya biasakan setiap hari?
- Bagaimana perasaan saya setelah berkomitmen mempraktikkan toleransi demi menjaga harmoni keberagaman di lingkungan sekitar?
Pertemuan 8 — Membiasakan Perilaku Kerukunan dan Keadilan Sosial Sesuai Identitas Nasional Pancasila Guna Memelihara Harmoni Keberagaman — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.3.4 Membiasakan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sebagai identitas nasional dalam kehidupan sehari-hari guna memelihara harmoni keberagaman
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak murid berdoa sejenak untuk menumbuhkan suasana belajar yang tenang dan berkesadaran (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-8, yaitu membiasakan perilaku kerukunan dan keadilan sosial sesuai nilai-nilai Pancasila sebagai identitas nasional guna merawat harmoni keberagaman (4 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis respons cepat 'Pilah Perilaku Kerukunan dan Keadilan' untuk memeriksa kesiapan murid mengenali wujud pembiasaan perilaku Pancasila (8 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pemaparan konsep tentang pembiasaan perilaku kerukunan (Sila Ketiga) dan keadilan sosial (Sila Kelima) sebagai identitas kepribadian bangsa Indonesia dalam merawat harmoni keberagaman (12 menit).
- Murid mengikuti tantangan ceria 'Kuis Cepat Pasang Nilai': murid secara berpasangan mencocokkan 4 kartu skenario situasi kehidupan sehari-hari dengan pembiasaan nilai Pancasila yang tepat. Skenario 1: 'Membagi jadwal piket kelas secara merata tanpa membedakan suku' -> Nilai Keadilan Sosial (Sila ke-5); Skenario 2: 'Menyapa dan bergaul akrab dengan teman pindahan dari daerah lain' -> Nilai Kerukunan/Persatuan (Sila ke-3); Skenario 3: 'Memberikan giliran berbicara yang sama dalam musyawarah pemilihan ketua ekskul' -> Nilai Keadilan Sosial (Sila ke-5); Skenario 4: 'Mendamaikan teman kelas yang berselisih paham karena perbedaan logat bicara' -> Nilai Kerukunan/Persatuan (Sila ke-3) (acuan: pasangan skenario di atas) (13 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara mandiri menyusun 'Buku Jurnal Pembiasaan Diri 7 Hari' yang berisi target pembiasaan perilaku nyata terkait kerukunan dan keadilan sosial dalam konteks pergaulan di sekolah dan lingkungan tempat tinggal (20 menit).
- Murid mengidentifikasi serta menetapkan minimal 4 komitmen tindakan konkret pembiasaan perilaku Pancasila yang akan dijalankan secara konsisten (misal: berteman tanpa memandang latar belakang, bersikap adil saat kerja kelompok, mengutamakan musyawarah damai, dan berbagi fasilitas belajar secara proporsional) lengkap dengan indikator pemantauan harian diri sendiri (17 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan hening sejenak (mindful reflection) untuk merefleksikan sejauh mana perilaku pribadinya selama ini telah mencerminkan nilai kerukunan dan keadilan sosial Pancasila dalam merawat harmoni keberagaman di sekitarnya (8 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap komitmen pembiasaan perilaku yang telah dirancang murid dalam lembar jurnal diri (3 menit).
- Guru bersama murid menutup kegiatan pembelajaran dengan doa penutup dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan daftar contoh tindakan konkret pembiasaan Sila 3 dan Sila 5 dalam konteks kelas, sedangkan murid yang mandiri merancang pembiasaan hingga lingkup masyarakat dan media sosial.
- Proses: Pemberian scaffolding bertahap berupa lembar perancangan jurnal berstruktur bagi murid yang memerlukan dukungan.
- Produk: Format jurnal pembiasaan dapat berupa tabel ceklis cetak mandiri atau kartu komitmen pembiasaan diri.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Kuis lisan/respons cepat 'Pilah Perilaku': Murid mengidentifikasi apakah 3 tindakan berikut mencerminkan pembiasaan perilaku Pancasila dalam keberagaman: (1) Hanya mau satu kelompok dengan teman satu daerah asal; (2) Membagi porsi tugas piket secara setara kepada semua anggota tanpa memandang suku; (3) Mengejek logat bahasa teman saat berbicara di depan kelas. (Acuan jawaban benar: (1) Bukan cerminan; (2) Cerminan perilaku adil dan rukun; (3) Bukan cerminan).
Proses:- Pemeriksaan 'Buku Jurnal Pembiasaan Diri 7 Hari' yang dirancang murid selama tahap Mengaplikasi, dinilai berdasarkan kelengkapan 4 komitmen tindakan konkret perilaku kerukunan dan keadilan sosial yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila (Sila ke-3 dan Sila ke-5).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup pada lembar komitmen: Murid menuliskan 1 alasan personal mengapa perilaku adil dan rukun mencerminkan identitas nasional bangsa Indonesia. (Kriteria penerimaan: jawaban mengaitkan secara logis bahwa Pancasila adalah pedoman hidup bangsa yang menjunjung tinggi persatuan di atas keberagaman dan keadilan bagi seluruh rakyat).
Formatif:- Penilaian proses lembar jurnal komitmen pembiasaan perilaku kerukunan dan keadilan sosial Pancasila
- Observasi diagnostik awal melalui kuis pilah perilaku
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pembiasaan Perilaku Kerukunan dan Keadilan Sosial Sesuai Nilai-Nilai Pancasila | Menyusun kurang dari 2 komitmen perilaku yang mencerminkan kerukunan dan keadilan sosial sesuai nilai-nilai Pancasila. | Menyusun 2 hingga 3 komitmen perilaku nyata kerukunan dan keadilan sosial sesuai nilai-nilai Pancasila, namun indikator pembiasaannya belum spesifik. | Menyusun minimal 4 komitmen tindakan konkret pembiasaan perilaku kerukunan dan keadilan sosial sesuai nilai-nilai Pancasila secara jelas dan operasional. | Menyusun lebih dari 4 komitmen tindakan konkret pembiasaan perilaku kerukunan dan keadilan sosial sesuai nilai-nilai Pancasila secara mendalam, lengkap dengan mekanisme pemantauan diri mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur aktivitas pembiasaan diri mampu membangkitkan kesadaran murid untuk mempraktikkan nilai kerukunan dan keadilan sosial?
- Bagaimana respons dan antusiasme murid saat menyusun komitmen pembiasaan perilaku dalam kehidupan sehari-hari?
Murid:- Perilaku rukun dan adil apa yang selama ini sudah terbiasa aku lakukan di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal?
- Tantangan apa yang mungkin aku hadapi saat berusaha membiasakan perilaku Pancasila secara konsisten setiap hari?
Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.3.1 Menganalisis potensi konflik terhadap permasalahan keberagaman di masyarakat
- TP 11.3.2 Memberi solusi yang berkeadilan terhadap permasalahan keberagaman di masyarakat
- TP 11.3.3 Merancang kegiatan bersama dengan prinsip gotong royong dalam praktik hidup sehari-hari untuk merawat keberagaman di masyarakat
- TP 11.3.4 Membiasakan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sebagai identitas nasional dalam kehidupan sehari-hari guna memelihara harmoni keberagaman
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan mengecek kesiapan meja murid untuk pengerjaan mandiri (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan dan alur pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 3 yang mencakup tiga bagian portofolio terpadu serta jurnal refleksi diri secara hening dan mandiri (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid mencermati petunjuk teknis pada Lembar Portofolio Sumatif yang memuat: Bagian I Analisis Kasus dan Solusi Berkeadilan (studi kasus perselisihan pemanfaatan balai warga antara kelompok pemuda dan panitia perayaan keagamaan lokal), Bagian II Lembar Format Proposal Rancangan Gotong Royong (tujuan, bentuk kolaborasi, sasaran warga, mekanisme pelaksanaan), dan Bagian III Format Jurnal Refleksi Pembiasaan Nilai Pancasila (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):- Tugas 1: Seluruh murid secara serentak dan mandiri mengerjakan telaah studi kasus keberagaman pada Lembar Analisis Kasus dan Solusi Berkeadilan dengan menguraikan: (a) faktor penyebab/pemicu konflik (perbedaan kepentingan jadwal dan minimnya komunikasi lintas kelompok), (b) potensi eskalasi konflik jika dibiarkan, dan (c) rekomendasi dua solusi berkeadilan berbasis musyawarah mufakat yang mengakomodasi hak kedua pihak secara seimbang (38 menit).
- Tugas 2: Seluruh murid secara mandiri menyusun draf proposal rancangan kegiatan bersama berbasis gotong royong untuk merawat keberagaman di lingkungan sekitar yang mencakup rincian operasional: nama kegiatan, tujuan integrasi sosial, bentuk kolaborasi lintas latar belakang warga, sasaran warga penerima/peserta, dan pembagian peran kerja bersama (28 menit).
- Tugas 3: Seluruh murid secara mandiri mengisi instrumen penilaian diri dan menulis lembar jurnal refleksi terstruktur mengenai pembiasaan perilaku rukun, adil, toleran yang mencerminkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari serta komitmen rencana tindak lanjut pemeliharaan harmoni di lingkungannya (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kelengkapan seluruh dokumen portofolio sumatif (analisis kasus, proposal gotong royong, dan jurnal refleksi diri) sebelum dikumpulkan secara serentak ke meja pengawas/guru (2 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan berkas lembar portofolio terpadu dan jurnal refleksi dari seluruh murid serta mengonfirmasi kelengkapan berkas sumatif (1 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas komitmen belajar dan kejujuran murid selama menuntaskan bab 'Harmoni dalam Keberagaman', merangkum intisari bab, serta menutup sesi pembelajaran dengan doa penutup (1 menit).
Diferensiasi:- Proses: Akomodasi akses: penyediaan lembar soal dengan ukuran huruf lebih besar atau pendampingan pembacaan instruksi umum bagi murid yang membutuhkan tanpa mengubah kompetensi, format penugasan, durasi pengerjaan, dan rubrik penilaian.
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- Portofolio terpadu pemecahan masalah keberagaman (studi kasus komprehensif) dan jurnal refleksi pembiasaan diri yang dikerjakan secara serentak di kelas: Lembar kerja analisis potensi konflik beserta rumusan solusi berkeadilan, draf proposal kegiatan bersama berbasis gotong royong, serta lembar jurnal refleksi pembiasaan perilaku Pancasila dalam merawat harmoni
- Tes tertulis penugasan telaah kasus dan perumusan gagasan solutif serentak: Lembar analisis tertulis yang menguraikan akar penyebab dan faktor pemicu konflik keberagaman serta dokumen rekomendasi solusi berkeadilan yang dikerjakan mandiri oleh seluruh murid secara serentak (40 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian analisis kasus dan solusi berkeadilan)
- Penugasan perancangan proyek tertulis serentak: Proposal rancangan kegiatan bersama berbasis gotong royong (memuat tujuan, bentuk kolaborasi, sasaran warga, dan mekanisme pelaksanaan gotong royong) untuk merawat harmoni di lingkungan sekitar yang disusun secara serentak (30 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian proposal rancangan kegiatan gotong royong)
- Penilaian diri dan penulisan jurnal refleksi terstruktur serentak: Catatan jurnal refleksi diri terstruktur yang mendokumentasikan pembiasaan perilaku rukun, toleran, dan selaras dengan nilai Pancasila yang telah diterapkan murid dalam pergaulan sehari-hari beserta rencana tindak lanjut pemeliharaannya (20 menit; individual; instrumen: Lembar penilaian diri dan rubrik evaluasi jurnal refleksi Pancasila)
Sumatif:- Portofolio terpadu pemecahan masalah keberagaman (studi kasus komprehensif) dan jurnal refleksi pembiasaan diri yang dikerjakan secara serentak di kelas: Lembar kerja analisis potensi konflik beserta rumusan solusi berkeadilan, draf proposal kegiatan bersama berbasis gotong royong, serta lembar jurnal refleksi pembiasaan perilaku Pancasila dalam merawat harmoni
- Tes tertulis penugasan telaah kasus dan perumusan gagasan solutif serentak: Lembar analisis tertulis yang menguraikan akar penyebab dan faktor pemicu konflik keberagaman serta dokumen rekomendasi solusi berkeadilan yang dikerjakan mandiri oleh seluruh murid secara serentak (40 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian analisis kasus dan solusi berkeadilan)
- Penugasan perancangan proyek tertulis serentak: Proposal rancangan kegiatan bersama berbasis gotong royong (memuat tujuan, bentuk kolaborasi, sasaran warga, dan mekanisme pelaksanaan gotong royong) untuk merawat harmoni di lingkungan sekitar yang disusun secara serentak (30 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian proposal rancangan kegiatan gotong royong)
- Penilaian diri dan penulisan jurnal refleksi terstruktur serentak: Catatan jurnal refleksi diri terstruktur yang mendokumentasikan pembiasaan perilaku rukun, toleran, dan selaras dengan nilai Pancasila yang telah diterapkan murid dalam pergaulan sehari-hari beserta rencana tindak lanjut pemeliharaannya (20 menit; individual; instrumen: Lembar penilaian diri dan rubrik evaluasi jurnal refleksi Pancasila)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Potensi Konflik Keberagaman (TP 11.3.1) | Belum mampu menguraikan faktor penyebab dan potensi konflik keberagaman secara logis pada kasus yang diujikan. | Mampu mengidentifikasi faktor penyebab konflik tetapi belum menguraikan potensi dampaknya terhadap kerukunan warga. | Menganalisis faktor penyebab (perbedaan kepentingan dan miskomunikasi) serta potensi eskalasi konflik secara tepat dan logis sesuai studi kasus. | Menganalisis secara mendalam dan komprehensif faktor penyebab struktural maupun kultural serta memetakan eskalasi potensi konflik secara tepat dan terperinci. | | Memberi Solusi yang Berkeadilan (TP 11.3.2) | Rekomendasi solusi yang diberikan bersifat sepihak dan tidak mencerminkan prinsip keadilan bagi pihak yang berselisih. | Memberikan satu usulan solusi damai namun belum mempertimbangkan prinsip keseimbangan dan keadilan bagi semua pihak. | Memberi minimal dua rekomendasi solusi berbasis musyawarah mufakat yang proporsional dan adil bagi pihak-pihak dalam kasus. | Memberi solusi yang berkeadilan secara utuh, logis, aplikatif, serta merinci mekanisme musyawarah pemulihan relasi warga yang berkelanjutan. | | Merancang Kegiatan Gotong Royong Merawat Keberagaman (TP 11.3.3) | Proposal rancangan belum memuat komponen pokok kegiatan atau belum berorientasi pada prinsip gotong royong. | Menyusun draf rancangan kegiatan gotong royong tetapi rincian sasaran warga dan bentuk kolaborasi belum terperinci. | Merancang kegiatan bersama dengan memuat secara lengkap tujuan, bentuk kolaborasi warga beragam, sasaran, dan pembagian tugas gotong royong yang realistis. | Merancang kegiatan bersama secara sistematis, operasional, berprinsip gotong royong inklusif, dan mencakup mekanisme pemantauan kerja bersama secara rinci. | | Membiasakan Perilaku Sesuai Nilai Pancasila untuk Harmoni (TP 11.3.4) | Jurnal refleksi belum menunjukkan bukti konkret pembiasaan perilaku Pancasila dalam merawat kerukunan hidup sehari-hari. | Menuliskan tindakan perilaku toleransi secara umum namun belum merefleksikan nilai-nilai Pancasila secara kontekstual. | Mendokumentasikan pembiasaan perilaku toleransi, kerukunan, dan keadilan sosial sesuai nilai Pancasila disertai rencana tindak lanjut pemeliharaan harmoni secara konkret. | Menyajikan refleksi pembiasaan diri yang mendalam, konsisten, selaras dengan identitas nasional Pancasila, serta memiliki rencana aksi pembiasaan personal yang terukur. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 90 menit mencukupi bagi seluruh murid untuk menyelesaikan ketiga bagian portofolio dan refleksi diri secara optimal dan mandiri?
- Bagaimana capaian murid pada asesmen sumatif ini menggambarkan efektivitas proses pembelajaran Bab Harmoni dalam Keberagaman secara keseluruhan?
Murid:- Sejauh mana saya mampu menuangkan gagasan solutif yang berkeadilan saat menganalisis konflik keberagaman pada tugas hari ini?
- Apa komitmen nyata yang paling mendesak untuk terus saya biasakan dalam memelihara harmoni keberagaman di lingkungan sekitar saya?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek 2023), Bab 3: Harmoni dalam Keberagaman.
- Buku Teks Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek 2023), Bab 3 Subbab Identifikasi Potensi Konflik dalam Masyarakat yang Beragam.
- Lembar Kerja Murid (LKPD) 'Analisis Potensi Konflik Keberagaman di Lingkungan Sekolah' dan kartu situasi 'Detektif Faktor Konflik'.
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023), Bab 3: Harmoni dalam Keberagaman, Halaman 82-90
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023), Halaman 90-95
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial
- Lembar Kerja Murid (LKPD) 'Detektif Sosiologis' berisi 4 Skenario Dinamika Sosial Masyarakat
- Bahan ajar tayang infografik tipologi konflik sosial kemasyarakatan
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023)
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023, Bab 3: Harmoni dalam Keberagaman)
- Lembar Kerja Kasus Hubungan Antarwarga Beragam
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023, Halaman 90-98)
- Buku Teks Utama Siswa Pendidikan Pancasila SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023, Bab 3: Harmoni dalam Keberagaman, Halaman 70-98)
- Lembar Kerja Siswa: Kasus Simulasi Mediasi Lapangan Umum
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022 (Bab 3: Harmoni dalam Keberagaman, hlm. 90-95).
- Buku Teks Utama Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022 (Bab 3: Harmoni dalam Keberagaman, hlm. 70-85).
- Lembar Kerja Murid (LKPD): Matriks Rancangan Gagasan Kegiatan Bersama Gotong Royong.
- Set Kartu Situasi Lingkungan (4 situasi keberagaman warga).
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek 2023, Bab 3: Harmoni dalam Keberagaman)
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek 2023, Bab 3)
- Lembar Kerja Matriks Rancangan Kegiatan Gotong Royong Berkelanjutan
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023)
- Buku Teks Murid Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek 2023)
- Lembar telaah studi kasus mikro keberagaman pergaulan remaja
- Format Jurnal Komitmen Pembiasaan Toleransi Pancasila
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023)
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023)
- Lembar Kerja 'Buku Jurnal Pembiasaan Diri 7 Hari'
- Set Kartu Kuis Skenario Perilaku Kerukunan dan Keadilan
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023)
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Kemendikbudristek, 2023)
- Lembar Portofolio Asesmen Sumatif Terpadu dan Format Jurnal Refleksi Bab 3
|