MODUL AJAR Pendidikan Pancasila — Kelas 10 (Fase E) Topik: Bab 3 — Mengelola Kebinekaan sebagai Modal Sosial Pembangunan Nasional INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Pancasila |
|---|
| Fase / Kelas | Fase E / Kelas 10 |
|---|
| Topik | Bab 3 — Mengelola Kebinekaan sebagai Modal Sosial Pembangunan Nasional |
|---|
| Alokasi Waktu | 16 JP (16 x 45 menit = 720 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 8 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 10.3.1 Mengidentifikasi makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial
- TP 10.3.2 Menyajikan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial
- TP 10.3.3 Menjelaskan prinsip gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan
- TP 10.3.4 Menganalisis prinsip gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Mengapa semboyan Bhinneka Tunggal Ika tidak sekadar dimaknai sebagai fakta keberagaman, melainkan sebagai modal sosial bagi bangsa Indonesia?
- Bagaimana rasa saling percaya dan kerja sama di tengah perbedaan suku atau agama dapat memperkuat kehidupan bermasyarakat?
- Bagaimana keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia dapat disajikan secara visual sebagai kekuatan penggerak pembangunan, bukan pemecah belah?
- Informasi penting apa saja yang harus tercantum dalam sebuah bagan agar orang lain memahami bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah modal sosial?
- Bagaimana bagan visual membantu orang lain memahami makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial?
- Unsur penting apa saja yang harus tampak agar penyajian makna kebinekaan kita jelas dan mudah dimengerti?
- Bagaimana prinsip gotong royong membedakan sistem ekonomi Pancasila dari sistem ekonomi liberal dan sosialis?
- Mengapa kegiatan ekonomi yang berasaskan gotong royong disebut inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat?
- Mengapa keadilan ekonomi dalam masyarakat yang beragam tidak dapat tercapai jika kita hanya mengandalkan persaingan bebas individu?
- Bagaimana prinsip gotong royong dapat memastikan bahwa hasil pembangunan dan kegiatan ekonomi dinikmati oleh seluruh lapisan rakyat secara adil?
- Mengapa usaha bersama seperti koperasi dan UMKM berbasis komunitas dipandang lebih mencerminkan asas kekeluargaan dibandingkan usaha yang bertumpu pada pemilik modal tunggal?
- Bagaimana prinsip gotong royong dapat membuka kesempatan yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial dan ekonomi?
- Bagaimana prinsip gotong royong mencegah praktik monopoli dan ketimpangan dalam tata kelola ekonomi nasional?
- Mengapa keadilan distributif menjadi indikator utama keberhasilan sistem ekonomi Pancasila?
- Bagaimana pengamalan Bhinneka Tunggal Ika dan prinsip gotong royong mampu memperkokoh pembangunan ekonomi nasional yang adil?
- Mengapa kemandirian ekonomi yang berkeadilan membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengidentifikasi Makna Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Modal Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.3.1 Mengidentifikasi makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai identifikasi makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial (5 menit).
- Murid mengerjakan asesmen diagnostik singkat dengan menjawab secara tertulis pada selembar kertas: 'Sebutkan 2 unsur penting mengapa persatuan dalam keberagaman disebut sebagai modal sosial!' (Acuan jawaban: adanya rasa saling percaya/trust, norma timbal balik/resiprositas, toleransi, atau jaringan kerja sama antarwarga) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati teks kutipan Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular dan ulasan mengenai konsep Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial (perekat sosial, modal kepercayaan, dan norma kerja sama dalam keragaman) (15 menit).
- Guru memberikan tantangan berpasangan 'Tebak Tiga Unsur Modal Sosial': setiap pasangan mencocokkan 3 contoh kasus nyata dalam masyarakat dengan 3 dimensi modal sosial Bhinneka Tunggal Ika (Kasus 1: Warga lintas agama saling menjaga rumah ibadah saat perayaan hari raya -> Dimensi: Toleransi dan saling percaya; Kasus 2: Berbagai etnis bersatu mendirikan posko tanggap bencana -> Dimensi: Jaringan kerja sama kebinekaan; Kasus 3: Kesepakatan adat menjaga ketertiban bersama -> Dimensi: Norma sosial bersama) (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Identifikasi Makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai Modal Sosial yang memuat 4 butir analisis studi kasus singkat untuk mengidentifikasi wujud modal sosial di dalamnya: (1) Tradisi Pela Gandong di Maluku merekatkan komunitas Muslim dan Kristen (acuan wujud modal sosial: rasa saling percaya dan persaudaraan lintas agama); (2) Paguyuban perantau dari berbagai daerah menggalang beasiswa pendidikan untuk anak kurang mampu (acuan wujud modal sosial: jaringan sosial inklusif dan gotong royong); (3) Forum kerukunan warga menyusun jadwal ronda bersama tanpa memandang latar belakang suku (acuan wujud modal sosial: norma kepatuhan bersama dan kesetaraan hak); (4) Festival budaya daerah yang dikelola pemuda lintas etnis untuk memajukan pariwisata lokal (acuan wujud modal sosial: kolaborasi kebinekaan untuk kemajuan bersama) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru menelaah kembali hasil identifikasi makna modal sosial dalam keberagaman serta menghubungkannya dengan kenyataan hidup bermasyarakat sehari-hari (10 menit).
Penutup:- Murid menyimpulkan makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial di bawah bimbingan guru (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik ketercapaian kegiatan identifikasi dan menginformasikan fokus pertemuan berikutnya tanpa rangkuman penutup bab (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks bantu berisi definisi konsep modal sosial (kepercayaan, norma, jaringan), sedangkan murid yang telah mahir diberikan studi kasus bermasyarakat dengan konteks konflik horizontal masa lalu yang berhasil diselesaikan melalui modal sosial kebinekaan.
- Proses: Murid yang memerlukan scaffolding dipandu guru dalam mengenali kata kunci dimensi modal sosial pada lembar studi kasus, sedangkan murid mandiri langsung menelaah teks studi kasus secara mandiri.
- Produk: Seluruh murid mengerjakan lembar identifikasi yang sama dengan kriteria acuan identifikasi wujud modal sosial.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik tertulis di awal pembelajaran: 'Sebutkan 2 unsur penting mengapa persatuan dalam keberagaman disebut sebagai modal sosial!' (Acuan jawaban: minimal 2 dari unsur berikut: rasa saling percaya antarwarga, norma sosial yang disepakati bersama, toleransi/penghargaan perbedaan, atau jaringan kerja sama sosial lintas kelompok).
Proses:- Pengamatan dan penilaian pengisian lembar identifikasi 4 studi kasus makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial (Acuan: Kasus 1 memuat wujud rasa saling percaya/persaudaraan lintas agama; Kasus 2 memuat wujud jaringan sosial inklusif/gotong royong; Kasus 3 memuat wujud norma kesepakatan bersama/kesetaraan; Kasus 4 memuat wujud kerja sama kebinekaan untuk kepentingan bersama).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid mengidentifikasi 1 contoh nyata di lingkungan sekolah atau tempat tinggal yang membuktikan Bhinneka Tunggal Ika berfungsi sebagai modal sosial, dengan kriteria penerimaan: jawaban memuat adanya perbedaan latar belakang (suku/agama/budaya) dan adanya ikatan kepercayaan atau kerja sama yang menghasilkan manfaat bersama.
Formatif:- Asesmen diagnostik awal tertulis berupa identifikasi 2 unsur modal sosial.
- Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Identifikasi 4 studi kasus makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kemampuan mengidentifikasi makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial | Mampu mengidentifikasi 1 dari 4 studi kasus wujud modal sosial kebinekaan sesuai acuan kunci. | Mampu mengidentifikasi 2 dari 4 studi kasus wujud modal sosial kebinekaan sesuai acuan kunci. | Mampu mengidentifikasi 3 dari 4 studi kasus wujud modal sosial kebinekaan sesuai acuan kunci secara tepat. | Mampu mengidentifikasi seluruh 4 studi kasus wujud modal sosial kebinekaan sesuai acuan kunci secara tepat dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid mampu membedakan makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai fakta keragaman semata dengan fungsinya sebagai modal sosial?
- Bagian mana dari studi kasus yang paling menantang bagi murid dalam menemukan wujud modal sosial?
Murid:- Apa hal baru yang saya pahami tentang arti semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial bangsa?
- Manakah unsur modal sosial (kepercayaan, norma, atau jaringan kerja sama) yang paling sering saya temui di lingkungan sekitar saya?
Pertemuan 2 — Menyajikan Makna Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Modal Sosial Melalui Perancangan Bagan Informasi Sederhana — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.3.2 Menyajikan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merancang bagan informasi sederhana untuk menyajikan makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial pembangunan (4 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan dengan menanyakan: 'Sebutkan 3 unsur penting dari konsep modal sosial dalam bingkai kebinekaan!' (acuan jawaban: rasa saling percaya/trust, norma sosial/toleransi, dan jaringan kerja sama/kolaborasi) (8 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati contoh bagan alur konsep di papan tulis mengenai keterkaitan 3 elemen modal sosial (kepercayaan, norma resiprositas/toleransi, dan jaringan kerja sama) dengan keragaman bangsa (10 menit).
- Dalam format permainan cepat 'Tebak Peran Konsep', murid secara berpasangan mencocokkan kartu kasus kebinekaan ke dalam kategori elemen modal sosial yang tepat untuk membangun suasana belajar yang menyenangkan (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid berkumpul dalam kelompok (3-4 orang) untuk menyusun draf bagan informasi sederhana pada kertas plano/karton yang menyajikan hubungan logis antara keragaman identitas, nilai Bhinneka Tunggal Ika, 3 unsur modal sosial (kepercayaan, toleransi, kerja sama), dan tujuan pembangunan bersama (25 menit).
- Setiap kelompok menyelesaikan tata letak visual draf bagan informasi, memastikan ketepatan hubungan panah/alur antar-konsep serta kejelasan teks keterangan singkat (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setiap kelompok meletakkan draf bagan di meja masing-masing, lalu melakukan 'Gallery Walk' hening selama 5 menit untuk saling membaca rancangan bagan kelompok lain dan memberikan catatan stiker berperekat tentang kelengkapan penyajian alur konsep modal sosial (5 menit).
- Murid kembali ke kelompoknya untuk meninjau catatan masukan yang diterima dan menyimpulkan perbaikan yang diperlukan pada draf bagan mereka (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja perancangan bagan konsep seluruh kelompok dan mengapresiasi kerja sama murid (3 menit).
- Murid dan guru menyimpulkan keterkaitan logis makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial dalam bentuk representasi bagan informasi (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan templat bagan berstruktur (kotak input-proses-output); murid yang mahir diberikan keleluasaan merancang bentuk visual bagan (bagan jaring laba-laba, pohon konsep, atau matriks alur hubungan).
- Proses: Guru memberikan scaffolding intensif pada kelompok yang kesulitan menghubungkan konsep 'keragaman' menjadi 'modal sosial', sementara kelompok mahir didorong menambahkan contoh kasus kontekstual pada alur bagannya.
- Produk: Format visual bagan disesuaikan dengan kesepakatan kelompok: bagan grafis manual berbasis kertas plano/karton atau sketsa digital terstruktur.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan lisan diagnostik: 'Sebutkan 3 komponen pembentuk modal sosial dalam keberagaman masyarakat!' (acuan jawaban: 1. Kepercayaan/saling percaya antarwarga; 2. Norma sosial/nilai toleransi; 3. Jaringan kerja sama/asosiasi sosial)
Proses:- Pemeriksaan draf bagan informasi kelompok selama pengerjaan: guru memverifikasi keterpaduan 4 komponen wajib dalam bagan, yaitu: (1) realitas keragaman identitas, (2) semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai nilai pemersatu, (3) fungsi modal sosial (kepercayaan, toleransi, gotong royong), dan (4) dampaknya terhadap stabilitas/keberhasilan pembangunan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi melalui lembar refleksi perorangan: Murid menuliskan ringkasan 1 kalimat yang menjelaskan bagaimana bagan kelompoknya membuktikan bahwa perbedaan adalah modal sosial, bukan hambatan (kriteria penerimaan: kalimat secara eksplisit memuat hubungan sebab-akibat antara penerimaan keragaman, terbangunnya rasa saling percaya/kerja sama, dan tercapainya tujuan bersama).
Formatif:- Tanya jawab diagnostik awal pemahaman elemen modal sosial
- Observasi unjuk kerja dan lembar ceklis perancangan bagan informasi sederhana
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan Penyajian Konsep Modal Sosial dalam Bagan | Bagan hanya memuat keragaman identitas tanpa menyajikan konsep modal sosial (kepercayaan, norma, jaringan kerja sama). | Bagan memuat keragaman identitas dan 1 elemen modal sosial (misal: kerja sama saja) secara terpisah tanpa alur keterkaitan yang jelas. | Bagan menyajikan hubungan antara keragaman identitas, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, serta memuat minimal 2 elemen modal sosial (kepercayaan/toleransi/kerja sama) dengan alur penghubung yang runtut. | Bagan menyajikan secara utuh dan terpadu hubungan antara keragaman identitas, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, seluruh 3 elemen modal sosial (kepercayaan, norma toleransi, jaringan kerja sama), hingga dampaknya pada tujuan bersama secara sistematis dan mandiri. | | Keterbacaan dan Keruntutan Alur Bagan Informasi | Alur penyajian bagan membingungkan, tanda hubung/panah tidak menunjukkan hierarki atau relasi antar-informasi makna semboyan. | Alur penyajian bagan memiliki tanda hubung namun sebagian hubungan antar-informasi makna Bhinneka Tunggal Ika belum menunjukkan hubungan sebab-akibat yang logis. | Alur penyajian bagan runtut, tanda panah/penghubung menghubungkan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi modal sosial secara logis dan mudah dipahami pembaca. | Alur penyajian bagan sangat terstruktur, tanda penghubung dan keterangan singkat memperjelas dinamika semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial secara lugas, estetis, dan tanpa kerancuan makna. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu perancangan bagan informasi mencukupi bagi seluruh kelompok untuk mengeksplorasi hubungan antar-konsep modal sosial?
- Apakah aktivitas interaktif Gallery Walk efektif memberikan umpan balik perbaikan bagi penyajian bagan murid sebelum sesi pemaparan?
Murid:- Bagian alur mana pada bagan kelompok kami yang paling jelas menunjukkan bahwa kebinekaan adalah kekuatan (modal sosial)?
- Apa masukan dari kelompok lain yang paling membantu kami memperjelas draf bagan informasi ini?
Pertemuan 3 — Menyajikan Makna Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Modal Sosial Melalui Pemaparan Bagan Kelompok — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.3.2 Menyajikan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-3, yaitu menyajikan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial melalui bagan informasi yang telah dirancang kelompok pada pertemuan sebelumnya (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal berupa pemeriksaan kesiapan penyajian bagan: meminta tiap kelompok mengecek kelengkapan 3 elemen utama pada bagan mereka, yaitu (1) konsep semboyan Bhinneka Tunggal Ika, (2) bentuk modal sosial (kepercayaan, norma, jaringan), dan (3) contoh nyata dalam pembangunan (acuan: bagan siap saji jika memuat minimal 2 dari 3 unsur tersebut) (9 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid dalam kelompok masing-masing menyimak panduan teknis pameran galeri (gallery walk) yang dijelaskan oleh guru, yaitu pembagian peran di mana sebagian anggota bertugas menyajikan isi bagan di stan dan anggota lain berkeliling menyimak penyajian kelompok lain (8 menit).
- Murid mencermati rubrik kelengkapan penyajian yang disiapkan guru pada lembar kendali, yang berfokus pada ketepatan penyajian makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan peranannya sebagai modal sosial (7 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid menempelkan bagan informasi kelompok di dinding kelas yang telah ditentukan dan mengatur tata letak stan penyajian agar nyaman dikunjungi (10 menit).
- Murid melaksanakan kegiatan simulasi 'Pasar Gagasan Kebinekaan': secara bergantian antar-putaran, penjaga stan menyajikan isi bagan mengenai makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial kepada pengunjung kelompok lain, sementara anggota kelompok yang berkeliling memberikan stiker bintang apresiasi pada bagan yang menyajikan unsur secara lengkap (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid kembali ke kelompok asal untuk menghitung apresiasi dan mengidentifikasi bagian bagan yang paling banyak menarik perhatian serta dipahami dengan baik oleh pengunjung (10 menit).
- Perwakilan murid menyampaikan temuan mengenai bagaimana penyajian bagan visual mempermudah pemahaman bahwa kebinekaan bukan pemecah belah melainkan modal sosial perekat masyarakat (5 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan poin-poin utama penyajian makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial yang berhasil disajikan oleh seluruh kelompok (5 menit).
- Guru memberikan konfirmasi apresiatif atas penyajian bagan seluruh kelompok dan memberikan pengantar materi gotong royong untuk pertemuan ke-4 tanpa menutup pembelajaran bab (3 menit).
- Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa penutup dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan panduan diberikan daftar periksa rincian unsur bagan (semboyan, jenis modal sosial, contoh aksi), sedangkan kelompok yang sudah mahir menyajikan hubungan langsung bagan dengan studi kasus nyata di lingkungan sekitar.
- Proses: Kelompok yang memerlukan dukungan didampingi langsung oleh guru saat menyajikan isi bagan pada putaran awal galeri.
- Produk: Format penyajian visual bagan dapat berupa kertas plano manual bergambar maupun tampilan digital (tablet/laptop) sesuai kesiapan rancangan kelompok pada pertemuan sebelumnya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pemeriksaan kesiapan sajian: murid dalam kelompok menunjukkan draf bagan dan menandai keberadaan 3 elemen isi: (1) Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, (2) Modal sosial (jaringan/kerja sama, kepercayaan, norma), dan (3) Manfaat bagi pembangunan masyarakat (acuan: bagan dinyatakan siap bila memuat minimal 2 elemen).
Proses:- Lembar observasi penyajian bagan saat kegiatan galeri berjalan, mengamati ketepatan dan kelengkapan penyajian makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial sesuai isi bagan yang dipamerkan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman individu melalui 1 pertanyaan reflektif tertulis: 'Berdasarkan bagan yang kamu sajikan, sebutkan 2 bukti bahwa Bhinneka Tunggal Ika berfungsi sebagai modal sosial dalam masyarakat!' (acuan jawaban: menyebutkan minimal 2 dari bukti berikut: membangun rasa saling percaya antarkelompok berbeda, mendorong kerja sama lintas suku/agama, mematuhi norma toleransi bersama, atau mencegah timbulnya prasangka sosial).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja penyajian bagan informasi menggunakan rubrik ketercapaian penyajian makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan Penyajian Makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai Modal Sosial | Menyajikan bagan tanpa memuat keterkaitan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika dengan konsep modal sosial (kepercayaan, norma bersama, atau jaringan kerja sama). | Menyajikan bagan yang memuat makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika namun hanya memuat 1 unsur modal sosial secara terbatas. | Menyajikan bagan yang memuat makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika secara tepat dan memuat 2 unsur modal sosial beserta contoh penerapannya dalam kehidupan masyarakat. | Menyajikan bagan yang memuat makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika secara lengkap, mencakup seluruh unsur modal sosial (kepercayaan, norma, dan jaringan/kerja sama) serta contoh nyata kontribusinya dalam masyarakat secara terstruktur. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu untuk pameran galeri (gallery walk) mencukupi bagi setiap kelompok untuk menyajikan bagannya?
- Bagian mana dari isi penyajian murid yang paling menunjukkan pemahaman mereka tentang makna modal sosial?
Murid:- Hal baru apa yang kamu pahami tentang Bhinneka Tunggal Ika setelah melihat dan menyimak bagan kelompok lain?
- Apakah bagan yang kelompokmu sajikan sudah cukup jelas menjelaskan hubungan kebinekaan dengan modal sosial?
Pertemuan 4 — Menjelaskan Prinsip Gotong Royong sebagai Asas Sistem Ekonomi Pancasila yang Inklusif — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.3.3 Menjelaskan prinsip gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi suasana kelas yang nyaman serta berkesadaran penuh sebelum memulai pembelajaran (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4, yakni menjelaskan prinsip gotong royong sebagai asas sistem ekonomi Pancasila yang inklusif (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan membagikan lembar kuis cepat berisi 3 butir pernyataan konsep ekonomi untuk mengecek pemahaman awal murid (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak paparan singkat guru dan infografis mengenai Pasal 33 Ayat 1 UUD NRI Tahun 1945 serta pemikiran Bung Hatta tentang asas kekeluargaan dan gotong royong dalam ekonomi Pancasila (15 menit).
- Murid secara berpasangan mengkaji teks bacaan ringkas yang membandingkan sistem ekonomi kapitalis (berbasis akumulasi modal perseorangan), sosialis (sentralisasi negara murni), dan Pancasila (usaha bersama berasas kekeluargaan/gotong royong yang inklusif) untuk merumuskan karakteristik dasar gotong royong dalam sistem ekonomi Pancasila (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid berpasangan memainkan tantangan tebak kartu cepat 'Gotong Royong Ekonomi' untuk mengklasifikasikan 4 skenario praktik usaha ke dalam kategori 'Asas Gotong Royong/Inklusif' atau 'Bukan Asas Gotong Royong' (permainan menggembirakan) (15 menit).
- Setiap murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja penjelasan tertulis untuk menjelaskan 3 prinsip gotong royong dalam sistem ekonomi Pancasila yang inklusif berdasarkan studi kasus koperasi/usaha bersama (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menukar lembar kerja dengan teman sebangku untuk memeriksa kesesuaian penjelasan berdasarkan panduan acuan kunci yang ditampilkan di papan tulis, lalu memberikan masukan konstruktif (5 menit).
- Murid melakukan refleksi terbimbing mengenai bagaimana pemahaman prinsip gotong royong mengubah pandangannya terhadap keterlibatan warga dalam kegiatan ekonomi di sekitarnya (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari penjelasan prinsip gotong royong sebagai asas utama sistem ekonomi Pancasila yang inklusif (5 menit).
- Guru memberikan tindak lanjut dan arahan topik pertemuan ke-5 mengenai perwujudan kesejahteraan yang berkeadilan, kemudian menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks perbandingan dengan kata kunci bertanda tebal dan glosarium istilah ekonomi Pancasila, sedangkan murid cepat diberikan kutipan narasi analisis sejarah perumusan Pasal 33 UUD NRI 1945.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan mengerjakan lembar kerja penjelasan dengan bantuan diagram pemandu pemikiran (scaffolding bertahap), sedangkan murid cepat menjelaskan secara mandiri dengan elaborasi contoh konkret.
- Produk: Format penyampaian penjelasan tertulis murid tetap fokus pada penjelasan prinsip gotong royong inklusif, dapat dilengkapi diagram alur sederhana bagi murid visual atau uraian paragraf terstruktur.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik pemahaman awal melalui 3 butir pernyataan benar/salah pada lembar tes cepat di awal pembelajaran: (1) Semboyan gotong royong hanya berlaku untuk kerja bakti sosial dan tidak berkaitan dengan tata kelola ekonomi nasional [Salah]; (2) Sistem ekonomi Pancasila berlandaskan pada asas kekeluargaan dan kebersamaan sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 UUD 1945 [Benar]; (3) Ekonomi inklusif berarti sistem perekonomian yang membuka ruang partisipasi dan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi [Benar]. Kunci: (1) Salah; (2) Benar; (3) Benar.
Proses:- Observasi ketepatan klasifikasi 4 skenario praktik usaha dalam permainan tebak kartu gotong royong ekonomi: Skenario 1: 'Usaha penggilingan padi desa dikelola bersama oleh para petani, di mana pembagian sisa hasil usaha didasarkan pada partisipasi jasa masing-masing anggota' -> Kategori: Asas Gotong Royong/Inklusif; Skenario 2: 'Perusahaan swasta yang seluruh keputusan operasional dan keuntungan mutlak dikuasai oleh satu pemodal tunggal tanpa melibatkan pekerja' -> Kategori: Bukan Asas Gotong Royong; Skenario 3: 'Kelompok usaha mikro warga yang membuka keanggotaan bagi pelaku usaha kecil dan penyandang disabilitas setempat untuk memperoleh akses permodalan bergulir bersama' -> Kategori: Asas Gotong Royong/Inklusif; Skenario 4: 'Monopoli tata niaga pupuk oleh pedagang perantara yang menutup akses distribusi bagi kelompok tani mandiri' -> Kategori: Bukan Asas Gotong Royong. Acuan ketepatan: Skenario 1 = Gotong Royong; Skenario 2 = Bukan; Skenario 3 = Gotong Royong; Skenario 4 = Bukan.
- Pemeriksaan lembar kerja penjelasan tertulis murid mengenai 3 prinsip gotong royong dalam sistem ekonomi Pancasila yang inklusif: (1) Asas kekeluargaan/usaha bersama (ekonomi dibangun atas kerja sama, bukan persaingan bebas yang mematikan); (2) Keterbukaan/akses partisipatif (seluruh lapisan masyarakat termasuk kelompok rentan memiliki kesempatan berusaha dan berserikat ekonomi); (3) Distribusi manfaat berkeadilan (hasil usaha ditujukan untuk kemakmuran bersama seluruh anggota, bukan pemupukan modal individu). Acuan: penjelasan memuat ketiga unsur prinsip ini secara tepat.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir (exit ticket) berupa penjelasan ringkas satu paragraf oleh murid atas pertanyaan: 'Mengapa koperasi dan usaha bersama yang berasaskan gotong royong mampu mewujudkan perekonomian yang inklusif?'. Kriteria penerimaan operasional: jawaban memuat penjelasan bahwa asas gotong royong menjamin kepemilikan bersama, kesetaraan hak suara/partisipasi anggota tanpa membedakan besaran modal, dan pembagian hasil yang merata bagi seluruh anggota.
Formatif:- Kuis diagnostik awal berupa 3 butir benar/salah mengenai konsep dasar ekonomi gotong royong
- Penilaian proses unjuk kerja klasifikasi skenario ekonomi berpasangan (permainan tebak kartu)
- Lembar kerja penjelasan tertulis prinsip gotong royong sebagai asas sistem ekonomi Pancasila yang inklusif
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Prinsip Gotong Royong dalam Sistem Ekonomi Pancasila yang Inklusif | Belum mampu menjelaskan prinsip gotong royong dalam sistem ekonomi Pancasila yang inklusif (kurang dari 1 prinsip dijelaskan secara tepat sesuai acuan materi asas kekeluargaan, keterbukaan akses, dan distribusi manfaat berkeadilan). | Mampu menjelaskan 1 dari 3 prinsip gotong royong dalam sistem ekonomi Pancasila yang inklusif secara tepat sesuai acuan materi dengan bimbingan guru. | Mampu menjelaskan 2 dari 3 prinsip gotong royong dalam sistem ekonomi Pancasila yang inklusif secara tepat dan runtut sesuai acuan materi secara mandiri. | Mampu menjelaskan seluruh 3 prinsip gotong royong dalam sistem ekonomi Pancasila yang inklusif (asas kekeluargaan, keterbukaan akses partisipatif, dan distribusi manfaat berkeadilan) secara komprehensif, tepat, dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran aktif dan permainan klasifikasi kartu membantu seluruh murid memahami hakikat asas gotong royong dalam ekonomi Pancasila secara jelas?
- Bagian mana dari penjelasan murid yang masih membutuhkan penguatan konsep mengenai sifat inklusif dari ekonomi Pancasila?
Murid:- Apa arti penting prinsip gotong royong dalam kegiatan perekonomian sehari-hari yang baru saya pahami hari ini?
- Bagian penjelasan mana yang sudah saya kuasai dengan baik dan bagian mana yang masih ingin saya pelajari lebih lanjut?
Pertemuan 5 — Menjelaskan Prinsip Gotong Royong dalam Mewujudkan Kesejahteraan yang Berkeadilan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.3.3 Menjelaskan prinsip gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak berdoa bersama untuk menumbuhkan suasana belajar yang tenang dan berkesadaran (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu menjelaskan prinsip gotong royong dalam mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat melalui kuis lisan dengan 2 pertanyaan pemantik konsep keadilan ekonomi: (1) 'Apa arti kesejahteraan yang berkeadilan dalam sistem ekonomi Pancasila?' (acuan: kemakmuran yang merata dinikmati seluruh rakyat, bukan segelintir orang), dan (2) 'Mengapa gotong royong penting untuk mencegah ketimpangan ekonomi?' (acuan: menekankan solidaritas sosial, kerja sama, dan pemenuhan hak bersama di atas kepentingan pribadi) (9 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati teks paparan mengenai hubungan prinsip gotong royong dengan kesejahteraan yang berkeadilan dalam sistem ekonomi Pancasila (pasal 33 UUD NRI 1945, redistribusi hasil usaha, dan perlindungan terhadap kelompok rentan) secara saksama (15 menit).
- Guru memberikan permainan interaktif 'Tebak Asas Keadilan' di mana murid secara berpasangan mencocokkan 3 contoh praktik ekonomi nyata dengan 3 dampak keadilannya: (1) 'Pembagian sisa hasil usaha koperasi secara proporsional sesuai jasa anggota' -> 'mencegah pemusatan keuntungan pada pemilik modal terbesar'; (2) 'Penyediaan akses modal bergulir bagi pedagang kecil di pasar tradisional' -> 'membuka kesempatan setara bagi usaha lemah'; (3) 'Pembangunan fasilitas pengeringan gabah milik bersama kelompok tani' -> 'meningkatkan nilai tawar dan kesejahteraan seluruh petani kecil' (acuan pasangan: 1-mencegah pemusatan keuntungan; 2-membuka kesempatan setara; 3-meningkatkan kesejahteraan bersama) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid berpasangan mengkaji Lembar Kerja 'Gotong Royong & Kesejahteraan Berkeadilan' yang berisi studi kasus tentang Lumbung Pangan Bersama di Desa Makmur dan menjawab 2 pertanyaan penjelasan: (1) Jelaskan bagaimana prinsip gotong royong diterapkan dalam pengelolaan lumbung tersebut, dan (2) Jelaskan bagaimana praktik tersebut mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan bagi warga yang mengalami gagal panen (25 menit).
- Beberapa perwakilan pasangan murid secara bergantian menjelaskan hasil telaah tertulisnya di hadapan kelas untuk ditanggapi klarifikasi dan penguatan pemahaman konsepnya oleh guru (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara mandiri menuliskan refleksi pemahaman 1 paragraf pada buku catatan mengenai bagaimana prinsip gotong royong di lingkungan sekitar murid (seperti arisan warga, iuran rukun kematian, atau kerja bakti saluran irigasi) dapat mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid merumuskan simpulan bersama bahwa prinsip gotong royong bukan sekadar kerja fisik, melainkan landasan moral ekonomi Pancasila untuk memastikan distribusi kemakmuran yang adil dan inklusif (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas pemaparan murid dan mengingatkan materi pertemuan ke-6 tentang analisis penguatan usaha bersama yang inklusif (koperasi dan UMKM), lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar kasus dengan glosarium istilah ekonomi Pancasila bagi murid yang membutuhkan bimbingan, serta menyediakan lembar kasus kompleks tentang rantai pasok komoditas pertanian bagi murid yang cepat paham.
- Proses: Memberikan pendampingan terbimbing (scaffolding) bagi pasangan yang kesulitan merumuskan penjelasan, serta memberikan kesempatan mandiri penuh bagi pasangan yang telah memahami konsep dengan baik.
- Produk: Format penjelasan jawaban lembar kerja dapat berupa uraian teks sistematis 2 paragraf atau diagram alur penjelasan prinsip keadilan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan lisan diagnostik: (1) 'Apa makna kesejahteraan yang berkeadilan dalam sistem ekonomi Pancasila?' (Acuan jawaban: Kondisi kemakmuran yang merata, dirasakan oleh seluruh rakyat tanpa diskriminasi, dan tidak menumpuk pada segelintir kelompok/pemilik modal semata); (2) 'Bagaimana gotong royong mencegah kesenjangan sosial?' (Acuan jawaban: Gotong royong mengedepankan asas kekeluargaan, saling membantu, tolong-menolong, dan kerja sama kolektif untuk menopang pihak yang lemah sehingga tercipta keadilan).
Proses:- Penilaian tugas tertulis Lembar Kerja Berpasangan: Menjelaskan 2 poin kunci: (1) Penjelasan prinsip gotong royong pada studi kasus lumbung bersama (acuan: pengumpulan iuran gabah saat panen raya atas dasar sukarela dan kebersamaan untuk modal kolektif), dan (2) Penjelasan perwujudan kesejahteraan berkeadilan (acuan: penyaluran gabah/bantuan saat musim paceklik kepada warga yang gagal panen tanpa bunga/eksploitasi, sehingga menjaga daya tahan hidup dan mencegah kemiskinan ekstrem).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman 1 paragraf pada tahap refleksi akhir: Murid menuliskan penjelasan bagaimana 1 contoh praktik tolong-menolong ekonomi di sekitarnya mewujudkan kesejahteraan berkeadilan (Kriteria penerimaan: teks memuat nama kegiatan kolektif, cara kerja kerja samanya, serta penjelasan konkret manfaat pemerataan ekonomi bagi anggota yang kurang mampu/terdampak musibah).
Formatif:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran tentang konsep keadilan ekonomi dan gotong royong
- Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Kerja 'Gotong Royong & Kesejahteraan Berkeadilan' melalui rubrik analitik penjelasan konsep
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Prinsip Gotong Royong dalam Sistem Ekonomi Pancasila | Belum mampu menjelaskan prinsip gotong royong dalam ekonomi Pancasila atau hanya menyebutkan istilah tanpa kaitan dengan sistem ekonomi. | Mampu menjelaskan prinsip gotong royong dalam ekonomi sebatas kerja bakti atau tolong-menolong biasa, belum mengaitkannya dengan asas kekeluargaan dan kebersamaan sistem ekonomi Pancasila. | Mampu menjelaskan prinsip gotong royong sebagai asas sistem ekonomi Pancasila (kerja sama, usaha bersama, asas kekeluargaan) secara tepat sesuai konteks kasus. | Mampu menjelaskan prinsip gotong royong sebagai asas sistem ekonomi Pancasila secara mendalam, komprehensif, dan runtut disertai landasan nilai pemerataan ekonomi kolektif. | | Penjelasan Perwujudan Kesejahteraan yang Berkeadilan | Belum mampu menjelaskan keterkaitan prinsip gotong royong dengan terwujudnya kesejahteraan yang berkeadilan. | Menjelaskan kesejahteraan hanya sebagai bertambahnya pendapatan individu tanpa menguraikan aspek keadilan dan pemerataan bagi masyarakat rentan. | Mampu menjelaskan bagaimana gotong royong mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan (distribusi hasil yang adil, perlindungan pihak lemah, pencegahan kesenjangan) secara tepat. | Mampu menjelaskan perwujudan kesejahteraan yang berkeadilan secara rinci, analitis, dan tepat menghubungkan proteksi sosial ekonomi bersama bagi seluruh warga tanpa diskriminasi. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah permainan 'Tebak Asas Keadilan' berhasil membangun antusiasme sekaligus memperjelas konsep keadilan distributif pada murid?
- Apakah alokasi waktu 25 menit untuk pengerjaan lembar studi kasus berpasangan cukup memadai bagi murid dengan ritme belajar lambat?
Murid:- Bagian mana dari konsep 'kesejahteraan yang berkeadilan' yang paling mudah atau paling menantang untuk dipahami?
- Bagaimana pemahaman tentang gotong royong ini mengubah pandanganku mengenai pentingnya saling membantu dalam kegiatan ekonomi sehari-hari?
Pertemuan 6 — Menganalisis Prinsip Gotong Royong dalam Penguatan Usaha Bersama yang Inklusif — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.3.4 Menganalisis prinsip gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menganalisis prinsip gotong royong dalam penguatan usaha bersama yang inklusif sebagai perwujudan ekonomi Pancasila (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat dengan 2 pertanyaan pemantik konsep usaha bersama dan prinsip gotong royong (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati tayangan data infografis perbandingan 2 model tata kelola usaha: Model A (Usaha Berbasis Pemodal Tunggal/Kapitalis: keputusan ditentukan kepemilikan saham terbesar, laba dinikmati pemodal, pekerja berstatus upahan) dan Model B (Usaha Bersama/Koperasi: keputusan satu orang satu suara, kepemilikan kolektif, sisa hasil usaha dibagi proporsional dengan kontribusi anggota) (10 menit).
- Murid bersama guru mendiskusikan 3 indikator inklusivitas usaha bersama: keterbukaan keanggotaan, partisipasi pengambilan keputusan, dan distribusi manfaat secara adil (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan aktivitas interaktif 'Tantangan Detektif Ekonomi Inklusif' di mana murid bekerja berpasangan untuk membedah studi kasus nyata: Kasus Koperasi Tani Makmur Mandiri yang beranggotakan 50 petani kecil dan buruh tani dengan aturan simpanan sukarela, hak suara setara, serta pembagian sisa hasil usaha (SHU) berdasarkan transaksi kerja bersama (15 menit).
- Setiap pasangan mengisi Lembar Kerja Analisis Usaha Bersama dengan menjawab 3 aspek analisis terstruktur: (1) bukti penerapan gotong royong dalam kepemilikan dan permodalan, (2) bentuk keterbukaan/inklusivitas bagi kalangan ekonomi rentan, dan (3) perbandingannya dengan praktik ekonomi monopoli/individualis (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Tiga perwakilan pasangan memaparkan poin kunci hasil analisisnya, lalu ditanggapi secara terfokus oleh kelas berdasarkan indikator kesesuaian prinsip ekonomi Pancasila (10 menit).
- Murid bersama guru menyimpulkan bagaimana prinsip gotong royong dalam usaha bersama mampu mengatasi ketimpangan ekonomi dan memberdayakan warga yang termarginalkan (5 menit).
Penutup:- Murid mengerjakan asesmen akhir berupa 2 butir soal analisis cek pemahaman tertulis singkat (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik langsung, mengaitkan topik hari ini dengan tata kelola makro ekonomi berkeadilan di pertemuan 7, dan menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan lembar panduan analisis yang memuat kata kunci pembeda (misalnya: kepemilikan kolektif, satu orang satu suara, SHU). Murid berkemampuan cepat diberikan bahan studi kasus tambahan mengenai koperasi simpan pinjam inklusif bagi penyandang disabilitas.
- Proses: Pada tahap Mengaplikasi, murid dengan kemampuan sedang dibimbing guru secara terarah dalam pasangan sejawat, sedangkan murid mahir menganalisis mandiri dan mengidentifikasi potensi tantangan keberlanjutan usaha bersama tersebut.
- Produk: Seluruh murid menghasilkan analisis pada format lembar kerja yang sama; murid cepat menambahkan usulan strategi konkret penguatan gotong royong pada aspek pemasaran usaha bersama.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: (1) 'Apa ciri mendasar dari koperasi atau usaha bersama jika dibandingkan dengan perusahaan milik perorangan?' (Acuan jawaban: Koperasi dimiliki bersama oleh para anggota, asas kekeluargaan, keputusan didasarkan satu orang satu suara bukan besarnya modal). (2) 'Mengapa gotong royong diperlukan dalam menjalankan usaha bersama?' (Acuan jawaban: Agar terjadi saling tolong-menolong, beban ditanggung bersama, tidak ada dominasi satu pemodal, dan keuntungan dinikmati secara merata/inklusif).
Proses:- Lembar Kerja Analisis Usaha Bersama (Studi Kasus Koperasi Tani Makmur Mandiri). Indikator penilaian: (1) Ketepatan menganalisis bukti prinsip gotong royong dalam kepemilikan/modal (Acuan: simpanan sukarela terjangkau, modal dihimpun dari anggota secara swadaya tanpa ketergantungan pemodal besar tunggal); (2) Ketepatan menganalisis aspek inklusivitas (Acuan: petani kecil dan buruh tani berkedudukan sama, memiliki hak suara setara 1 orang 1 suara tanpa memandang besar modal); (3) Ketepatan perbandingan dengan sistem ekonomi monopoli (Acuan: pada sistem ekonomi Pancasila keuntungan dibagi adil via SHU proporsional kontribusi, sedangkan monopoli/kapitalis menumpuk laba pada pemilik modal terbesar).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis (2 butir soal): (1) Jelaskan mengapa prinsip satu orang satu suara dalam koperasi mencerminkan gotong royong yang inklusif! (Acuan kriteria: Menjelaskan bahwa aturan tersebut menjamin kesetaraan derajat, menghargai martabat tiap anggota, dan mencegah penindasan oleh pemodal besar). (2) Analisislah bagaimana sisa hasil usaha (SHU) mencerminkan keadilan ekonomi Pancasila! (Acuan kriteria: Menjelaskan bahwa pembagian SHU tidak hanya berbasis besaran modal saham, melainkan berbasis keaktifan dan kontribusi jasa usaha nyata masing-masing anggota dalam usaha bersama).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran untuk mengidentifikasi pengetahuan awal tentang usaha bersama
- Penilaian proses lembar kerja analisis berpasangan mengenai prinsip gotong royong dalam studi kasus Koperasi Tani Makmur Mandiri
- Cek pemahaman tertulis singkat pada penutup pertemuan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Analisis Prinsip Gotong Royong dalam Usaha Bersama | Belum mampu mengidentifikasi kaitan gotong royong dengan pengelolaan usaha bersama secara tepat sesuai data studi kasus. | Mampu mengidentifikasi prinsip gotong royong dalam usaha bersama, namun belum mampu menguraikan mekanismenya (permodalan dan tata kelola) secara mendalam. | Mampu menganalisis prinsip gotong royong dalam kepemilikan bersama dan partisipasi usaha secara logis dan tepat sesuai studi kasus. | Mampu menganalisis secara mendalam dan komprehensif prinsip gotong royong dalam permodalan, tata kelola, dan pembagian hasil, serta membandingkannya secara kritis dengan sistem individualis-kapitalis. | | Analisis Inklusivitas dan Keadilan Ekonomi Usaha Bersama | Belum mampu menjelaskan bagaimana usaha bersama melibatkan kelompok rentan dan mendistribusikan keadilan ekonomi. | Mampu menyebutkan aspek keterlibatan anggota rentan, tetapi belum mampu menganalisis keterhubungannya dengan sistem distribusi manfaat yang adil. | Mampu menganalisis aspek keterbukaan anggota rentan dan distribusi manfaat (SHU) yang adil dan proporsional dalam usaha bersama. | Mampu menganalisis secara runtut dan kritis kesetaraan hak suara serta distribusi manfaat yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat sebagai wujud konkret ekonomi Pancasila. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas 'Tantangan Detektif Ekonomi Inklusif' berpasangan berjalan efektif dalam memantik daya nalar kritis murid?
- Apakah murid dapat membedakan secara tegas antara logika usaha gotong royong Pancasila dengan logika usaha berbasis akumulasi modal semata?
Murid:- Bagian mana dari tata kelola usaha bersama (koperasi) yang paling jelas menunjukkan nilai keadilan dan gotong royong bagimu?
- Setelah menganalisis studi kasus ini, tindakan nyata apa yang dapat kamu lakukan untuk mendukung usaha bersama atau koperasi di lingkungan sekitarmu?
Pertemuan 7 — Menganalisis Prinsip Gotong Royong dalam Tata Kelola Perekonomian yang Berkeadilan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.3.4 Menganalisis prinsip gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi murid menyadari kesiapan fisik dan mental sebelum belajar (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan: 'Sebutkan 1 contoh kebijakan ekonomi negara yang mencerminkan pemerataan atau gotong royong!' (acuan: subsidi tepat sasaran, pajak progresif, dana desa, atau pembangunan fasilitas publik gratis) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7 yaitu menganalisis prinsip gotong royong dalam tata kelola perekonomian yang berkeadilan, serta menyampaikan kaitan materi dengan pasal 33 UUD 1945 (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pemaparan singkat guru mengenai 3 pilar tata kelola ekonomi berkeadilan: (1) Asas kekeluargaan dan kebersamaan, (2) Penguasaan cabang produksi penting oleh negara untuk kemakmuran rakyat (Pasal 33 UUD 1945), dan (3) Redistribusi pendapatan guna meniadakan kesenjangan sosial (15 menit).
- Murid secara berpasangan memainkan kuis cepat 'Tepat Asas' berupa klasifikasi 3 studi kasus tata kelola ekonomi: Kasus A (Penguasaan sumber air oleh swasta tanpa batas), Kasus B (Pengelolaan listrik dan rel kereta api oleh BUMN untuk tarif terjangkau rakyat), Kasus C (Program Dana Desa untuk infrastruktur bersama dan padat karya tunai); murid mengidentifikasi kasus mana yang sesuai prinsip gotong royong berkeadilan beserta alasan singkatnya (acuan tepat: Kasus B dan C sesuai asas pasal 33 UUD 1945 dan redistribusi gotong royong; Kasus A bertentangan karena monopoli privat yang membebani rakyat) (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid bekerja dalam kelompok menganalisis Lembar Analisis Tata Kelola Ekonomi Berkeadilan yang memuat skenario: 'Kesenjangan pasokan dan harga pangan antarwilayah pulau terluar dengan kota besar di Indonesia'. Kelompok menganalisis masalah ketidakadilan distribusi tersebut dan menguraikan penerapan prinsip gotong royong dalam tata kelola solusi negara (acuan analisis tepat memuat: identifikasi faktor ketimpangan logistik/spekulasi pasar, mekanisme gotong royong melalui intervensi logistik bersubsidi pemerintah/Tol Laut atau keterlibatan BUMN Pangan, serta dampak tercapainya keadilan harga bagi masyarakat) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setiap perwakilan kelompok saling menukarkan lembar kerja untuk verifikasi silang analisis prinsip gotong royong dan tata kelola berkeadilan berdasarkan rubrik kriteria (10 menit).
- Murid menyimpulkan esensi analisis bahwa tata kelola ekonomi berkeadilan menuntut gotong royong antara negara, dunia usaha, dan masyarakat guna mencegah akumulasi modal yang menindas kaum rentan (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini mengenai perwujudan prinsip gotong royong dalam tata kelola perekonomian berkeadilan (5 menit).
- Guru memberikan penguatan hasil analisis serta mengingatkan murid untuk mempersiapkan diri menghadapi asesmen sumatif bab pada pertemuan berikutnya (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar analisis dengan pemandu pertanyaan rincian pasal 33 UUD 1945; murid yang telah mahir diberikan skenario analisis tambahan terkait tata kelola subsidi energi tepat sasaran.
- Proses: Scaffolding bertahap bagi kelompok yang kesulitan mengurai keterkaitan antara prinsip gotong royong dengan kebijakan fiskal/distribusi negara.
- Produk: Analisis dituangkan dalam matriks telaah kasus tertulis terstruktur dengan minimal 3 argumen berbasis data skenario.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan lisan diagnostik: 'Sebutkan 1 contoh kebijakan ekonomi negara yang mencerminkan pemerataan atau gotong royong!' (kriteria penerimaan: jawaban mencakup salah satu dari: subsidi barang pokok, pajak progresif, bantuan sosial tunai/sembako, dana desa, atau penyediaan sekolah/faskes gratis oleh negara).
Proses:- Penilaian lembar analisis kelompok mengenai penyelesaian masalah ketimpangan pangan/harga melalui prinsip gotong royong ekonomi Pancasila. Aspek yang dinilai: ketepatan identifikasi ketimpangan tata kelola dan ketepatan merumuskan solusi berbasis prinsip gotong royong (intervensi negara/kebersamaan) sesuai asas keadilan Pancasila.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis mandiri: Murid menjawab 1 soal analisis: 'Jelaskan mengapa tata kelola ekonomi yang menyerahkan seluruh kebutuhan pokok masyarakat pada mekanisme pasar bebas bertentangan dengan prinsip gotong royong dalam ekonomi Pancasila!' (acuan jawaban benar: karena mekanisme pasar bebas murni mengutamakan akumulasi modal dan daya beli tertinggi pemilik modal, mengabaikan kelompok rentan, serta bertentangan dengan asas kekeluargaan dan keadilan sosial yang mewajibkan negara menjamin kesejahteraan bersama secara inklusif).
Formatif:- Kuis diagnostik lisan klasifikasi kebijakan ekonomi di awal pembelajaran
- Observasi unjuk kerja analisis tata kelola ekonomi berkeadilan pada lembar kerja kelompok
- Cek pemahaman tertulis singkat di akhir pembelajaran
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Analisis Prinsip Gotong Royong dalam Tata Kelola Ekonomi Berkeadilan | Belum mampu mengidentifikasi ketimpangan tata kelola ekonomi maupun mengaitkannya dengan prinsip gotong royong ekonomi Pancasila. | Mampu mengidentifikasi ketimpangan tata kelola ekonomi namun analisis penerapan prinsip gotong royong masih bersifat umum dan belum menyentuh aspek keadilan distributif. | Mampu menganalisis masalah ketimpangan tata kelola ekonomi dan merumuskan penerapan prinsip gotong royong dalam mewujudkan perekonomian yang berkeadilan secara tepat dan logis. | Mampu menganalisis masalah ketimpangan tata kelola ekonomi secara komprehensif, mengaitkan prinsip gotong royong dengan instrumen kebijakan negara (pasal 33 UUD 1945), serta memberikan analisis dampak keadilan secara mendalam dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu analisis studi kasus 25 menit mencukupi bagi seluruh kelompok untuk mengelaborasi prinsip gotong royong?
- Bagian mana dari konsep tata kelola ekonomi berkeadilan yang masih sulit dipahami murid?
Murid:- Apa makna penting prinsip gotong royong dalam kebijakan ekonomi negara yang baru saya pahami hari ini?
- Bagaimana saya memandang perbedaan antara sistem ekonomi pasar bebas dengan sistem ekonomi Pancasila setelah melakukan analisis tadi?
Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 10.3.1 Mengidentifikasi makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial
- TP 10.3.2 Menyajikan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial
- TP 10.3.3 Menjelaskan prinsip gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan
- TP 10.3.4 Menganalisis prinsip gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan memeriksa kesiapan ruang ujian serta perlengkapan murid (2 menit).
- Guru menyampaikan tata tertib, tujuan asesmen sumatif Bab 3, serta mekanisme pelaksanaan yang terdiri atas tes tertulis uraian-analisis secara mandiri dan unjuk kerja pemaparan bagan kelompok (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan lembar soal tes tertulis uraian-analisis kepada setiap murid dan menjelaskan petunjuk teknis pengerjaan 3 butir soal berikut: Soal 1 (TP 1): Jelaskan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial pembangunan (Acuan jawaban: Kebinekaan bukan pemecah belah melainkan energi perekat persatuan, trust/kepercayaan publik, dan sumber daya kebersamaan untuk mencapai tujuan bersama). Soal 2 (TP 3): Jelaskan prinsip gotong royong sebagai asas sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan (Acuan jawaban: Perekonomian disusun berdasar asas kekeluargaan sesuai Pasal 33 UUD NRI 1945, berpihak pada kesejahteraan rakyat banyak, anti-monopoli, dan memberi ruang partisipasi adil bagi semua kelompok masyarakat). Soal 3 (TP 4): Analisislah sebuah kasus ketimpangan akses modal usaha di masyarakat dan berikan solusi berdasarkan prinsip gotong royong ekonomi Pancasila (Acuan jawaban: Menganalisis keterbatasan akses bagi usaha mikro/kelompok rentan, memberikan solusi berbasis kemitraan usaha bersama/koperasi yang berasas keadilan, transparansi, serta pembagian nilai tambah secara proporsional) (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid secara individual dan mandiri mengerjakan tes tertulis uraian-analisis pada lembar jawaban yang telah disediakan secara tertib dan berintegritas sesuai 3 butir soal yang diujikan (41 menit).
- Guru mengumpulkan lembar jawaban tes tertulis murid, kemudian 7 kelompok (masing-masing 4 murid) secara bergantian menyajikan pemaparan lisan berbantu bagan informasi yang telah dirancang mengenai makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial pembangunan; setiap kelompok tampil selama 5 menit yang terdiri atas 3 menit pemaparan dan 2 menit konfirmasi/tanggapan dari guru, dengan urutan kelompok 1 sampai kelompok 7 (total 35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan hening sejenak untuk meninjau kembali pengalaman menyelesaikan seluruh rangkaian asesmen bab dan menyadari sejauh mana pemahaman serta keterampilan mereka terbangun selama satu bab ini (3 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi atas integritas dan kerja keras murid selama mengikuti asesmen sumatif Bab 3 serta merangkum ketercapaian bab secara singkat (2 menit).
- Guru menutup kegiatan pembelajaran Bab 3 dengan doa bersama dan salam penutup (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Tidak ada modifikasi materi/konten sumatif; lembar soal diberikan dengan format teks yang jelas dan keterbacaan tinggi.
- Proses: Akomodasi akses penataan tempat duduk yang tenang dan penerangan cukup untuk mendukung kemandirian murid tanpa mengubah durasi pengerjaan.
- Produk: Format penyajian dan kriteria bukti jawaban tertulis serta paparan bagan tetap seragam sesuai rubrik penilaian.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan teknis asesmen dan pemahaman murid terhadap tata tertib serta alur pengerjaan tes sumatif (acuan: murid mengonfirmasi pemahaman aturan ujian mandiri dan pembagian giliran presentasi).
Proses:- Observasi ketertiban, kejujuran, dan kemandirian murid saat menyelesaikan tes uraian-analisis secara serentak di kelas.
Sumatif Bab:- kombinasi tes tertulis uraian-analisis dan unjuk kerja presentasi kelompok: lembar jawaban tes uraian analisis konsep gotong royong dan kebinekaan serta rekaman performa presentasi bagan modal sosial
- tes tertulis serentak: lembar jawaban tertulis yang memuat identifikasi makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial, penjelasan konsep gotong royong dalam ekonomi Pancasila, serta telaah tertulis analisis penerapan prinsip gotong royong yang inklusif dan berkeadilan (50 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penilaian uraian-analisis)
- unjuk kerja presentasi kelompok: paparan lisan berbantu bagan informasi yang menyajikan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial oleh 7 kelompok (masing-masing 4 murid, alokasi 5 menit per kelompok: 3 menit paparan + 2 menit tanggapan guru; total 35 menit) (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi)
Sumatif:- kombinasi tes tertulis uraian-analisis dan unjuk kerja presentasi kelompok: lembar jawaban tes uraian analisis konsep gotong royong dan kebinekaan serta rekaman performa presentasi bagan modal sosial
- tes tertulis serentak: lembar jawaban tertulis yang memuat identifikasi makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial, penjelasan konsep gotong royong dalam ekonomi Pancasila, serta telaah tertulis analisis penerapan prinsip gotong royong yang inklusif dan berkeadilan (50 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penilaian uraian-analisis)
- unjuk kerja presentasi kelompok: paparan lisan berbantu bagan informasi yang menyajikan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial oleh 7 kelompok (masing-masing 4 murid, alokasi 5 menit per kelompok: 3 menit paparan + 2 menit tanggapan guru; total 35 menit) (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Identifikasi Makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai Modal Sosial (TP 10.3.1 - Tes Tertulis Soal 1) | Belum mampu mengidentifikasi makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial; jawaban tidak memuat unsur persatuan, kepercayaan sosial, maupun tujuan bersama (Acuan: kebinekaan sebagai perekat persatuan, trust/kepercayaan publik, dan kebersamaan). | Mengidentifikasi 1 dari 3 unsur makna modal sosial secara tepat (Acuan: menyebutkan salah satu dari kebinekaan sebagai perekat persatuan, trust, atau kebersamaan). | Mengidentifikasi 2 dari 3 unsur makna modal sosial secara tepat (Acuan: menyebutkan dua dari perekat persatuan, trust publik, atau kebersamaan mencapai tujuan bersama). | Mengidentifikasi seluruh (3 dari 3) unsur makna modal sosial secara lengkap dan tepat (Acuan: kebinekaan sebagai modal sosial perekat persatuan, pembangun trust/kepercayaan publik, dan kerja sama mencapai tujuan pembangunan bersama). | | Penyajian Makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai Modal Sosial (TP 10.3.2 - Unjuk Kerja Bagan) | Penyajian lisan kelompok belum memuat penjelasan isi bagan mengenai makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial secara relevan (Acuan materi: keterkaitan keberagaman dengan modal sosial kemasyarakatan). | Menyajikan isi bagan lisan namun baru mencakup makna kebinekaan secara harfiah tanpa mengaitkannya dengan fungsi modal sosial kemasyarakatan. | Menyajikan makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial berbantu bagan informasi dengan runtut dan sesuai isi visual yang ditampilkan. | Menyajikan makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial berbantu bagan informasi secara sangat runtut, lugas, dan menguraikan keterkaitan visual bagan dengan modal sosial secara utuh. | | Penjelasan Prinsip Gotong Royong dalam Ekonomi Pancasila (TP 10.3.3 - Tes Tertulis Soal 2) | Belum mampu menjelaskan prinsip gotong royong dalam ekonomi Pancasila; jawaban menyimpang dari asas kekeluargaan dan keadilan (Acuan: asas kekeluargaan Pasal 33 UUD 1945, inklusivitas/keterlibatan bersama, dan pemerataan). | Menjelaskan prinsip ekonomi Pancasila hanya sebatas sebutan umum tanpa menghubungkannya dengan asas gotong royong/kekeluargaan. | Menjelaskan prinsip gotong royong dalam ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan memuat minimal 2 unsur acuan (asas kekeluargaan dan pemerataan/keterlibatan bersama). | Menjelaskan prinsip gotong royong dalam ekonomi Pancasila secara utuh mencakup seluruh unsur acuan: asas kekeluargaan berdasar Pasal 33 UUD 1945, partisipasi inklusif, dan perwujudan keadilan sosial. | | Analisis Prinsip Gotong Royong dalam Perekonomian Inklusif dan Berkeadilan (TP 10.3.4 - Tes Tertulis Soal 3) | Belum mampu menganalisis kasus ketimpangan dan tidak memberikan solusi berbasis gotong royong ekonomi Pancasila (Acuan: identifikasi masalah ketimpangan modal/usaha dan solusi berbasis kemitraan/koperasi inklusif). | Mampu mengidentifikasi masalah ketimpangan ekonomi namun belum memberikan analisis solusi yang berbasis prinsip gotong royong. | Menganalisis faktor penyebab masalah ketimpangan dan merumuskan solusi berbasis prinsip gotong royong ekonomi Pancasila (koperasi/usaha bersama) secara logis. | Menganalisis secara mendalam faktor struktural ketimpangan ekonomi serta merumuskan solusi komprehensif berbasis kemitraan gotong royong, keadilan distributif, dan penguatan usaha bersama yang inklusif. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu tes tertulis (50 menit) dan presentasi kelompok (35 menit) berjalan tepat waktu dan efektif?
- Bagaimana tingkat ketercapaian murid secara keseluruhan pada empat Tujuan Pembelajaran di Bab 3 ini?
- Apakah instrumen soal uraian dan rubrik presentasi bagan mampu memotret kompetensi penalaran kritis dan kewargaan murid secara autentik?
Murid:- Bagian mana dari asesmen sumatif hari ini yang paling menantang bagimu untuk dijawab atau dipaparkan?
- Bagaimana pemahamanmu tentang Bhinneka Tunggal Ika dan gotong royong ekonomi mempengaruhi caramu memandang keberagaman dan keadilan di lingkungan sekitarmu?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023 Bab 3)
- Buku Panduan Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023 Bab 3 Subbab A)
- Lembar Kerja Murid: Studi Kasus Modal Sosial Kebinekaan
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X, Kemendikbudristek 2023
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X, Kemendikbudristek 2023, Bab 3 Halaman 128-135
- Kertas plano/karton, spidol warna, stiker catatan berperekat (sticky notes)
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023)
- Buku Panduan Siswa Pendidikan Pancasila Kelas X (Kemendikbudristek 2023)
- Bagan informasi kelompok yang telah dirancang pada Pertemuan 2
- Lembar stiker bintang apresiasi pameran
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023, Bab 3 Subbab B)
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023, Halaman 136-138)
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Khususnya Pasal 33 Ayat (1)
- Set kartu skenario praktik ekonomi Pancasila dan Lembar Kerja Penjelasan Mandiri
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023, Halaman 154-165)
- Buku Panduan Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023, Bab 3 Halaman 136-140)
- Lembar Kerja Studi Kasus Lumbung Pangan Bersama Desa Makmur
- Set kartu pasangan permainan 'Tebak Asas Keadilan'
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek 2023, Bab 3 Subbab B)
- Buku Teks Siswa Pendidikan Pancasila Kelas X (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023, Hal. 136-150)
- Lembar Kasus 'Koperasi Tani Makmur Mandiri' dan Lembar Kerja Analisis Usaha Bersama
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMA/MA Kelas X (Kemendikbudristek, 2023, Halaman 152-164)
- Buku Teks Siswa Pendidikan Pancasila SMA/MA Kelas X (Kemendikbudristek, 2023, Halaman 136-140)
- UUD NRI Tahun 1945 Khususnya Pasal 33
- Lembar Kerja Analisis Skenario Ketimpangan Distribusi Pangan
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila Kelas X (Kemendikbudristek, 2023, Hlm. 152-168)
- Buku Teks Utama Siswa Pendidikan Pancasila Kelas X (Kemendikbudristek, 2023, Hlm. 128-164)
- UUD NRI Tahun 1945 Pasal 33
- Lembar Soal dan Lembar Jawaban Asesmen Sumatif Uraian Bab 3
- Bagan Informasi Hasil Kerja Kelompok Sesi Sebelumnya
|