Modul AjarBab 1Fase ESemester 1

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 10 Bab 1: Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Pancasila kelas 10 untuk Bab 1 "Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 10 Bab 1: Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa

Pendidikan Pancasila - Kelas 10

Bab 1

MODUL AJAR

Pendidikan Pancasila — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Bab 1 — Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Pancasila
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikBab 1 — Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa
Alokasi Waktu16 JP (16 x 45 menit = 720 menit)
Jumlah Pertemuan8
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 10.1.1 Menganalisis cara pandang para perumus Pancasila tentang dasar negara dalam sidang perumusan
  2. TP 10.1.2 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara
  3. TP 10.1.3 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
  4. TP 10.1.4 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana Mohammad Yamin dan Soepomo memandang fondasi utama yang harus menopang berdirinya negara Indonesia merdeka dalam sidang BPUPK?
  2. Apa perbedaan mendasar antara gagasan negara kebangsaan Mohammad Yamin dengan konsep negara integralistik yang diajukan oleh Soepomo?
  3. Bagaimana Sukarno memaknai dasar negara sebagai filosofische grondslag dan weltanschauung dalam pidatonya pada 1 Juni 1945?
  4. Apa persamaan dan perbedaan mendasar antara gagasan Sukarno dengan pokok pikiran Mohammad Yamin dan Soepomo dalam sidang perumusan dasar negara?
  5. Mengapa sebuah negara hukum memerlukan norma dasar tertinggi (grundnorm) dalam menyusun seluruh peraturannya?
  6. Apa konsekuensi hukum ketatanegaraan jika suatu undang-undang bertentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara?
  7. Mengapa setiap kebijakan dan tindakan lembaga negara di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan Pancasila?
  8. Bagaimana wujud nyata kedudukan Pancasila sebagai dasar negara ketika pemerintah merancang kebijakan publik?
  9. Mengapa masyarakat Indonesia memerlukan Pancasila sebagai pedoman hidup bersama di tengah keberagaman suku dan agama?
  10. Apa yang terjadi pada keteraturan sosial kemasyarakatan jika warga negara tidak memiliki pandangan hidup yang sama?
  11. Mengapa suatu negara merdeka memerlukan ideologi sebagai sistem kehidupan nasional?
  12. Bagaimana kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara bekerja mengarahkan bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan?
  13. Bagaimana Pancasila sebagai ideologi terbuka dapat menjawab tantangan globalisasi tanpa kehilangan jati diri bangsa?
  14. Mengapa keterbukaan ideologi Pancasila tetap memerlukan batas-batas nilai instrumental dan praksis dalam menghadapi era digital?
  15. Bagaimana keterkaitan antara gagasan para pendiri bangsa saat merumuskan dasar negara dengan kedudukan Pancasila saat ini?
  16. Mengapa Pancasila harus dipahami secara utuh baik sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, maupun ideologi negara?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menganalisis Pokok Pikiran dan Cara Pandang Mohammad Yamin serta Soepomo tentang Dasar Negara — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.1 Menganalisis cara pandang para perumus Pancasila tentang dasar negara dalam sidang perumusan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, serta memfasilitasi murid mengheningkan cipta sejenak untuk menumbuhkan kesadaran diri dan penghormatan atas perjuangan para perumus dasar negara (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan 1 yaitu menganalisis pokok pikiran dan cara pandang Mohammad Yamin serta Soepomo mengenai dasar negara dalam sidang BPUPK pertama (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik awal lisan dengan menampilkan kutipan gagasan dari dua tokoh perumus dasar negara untuk memetakan pemahaman awal murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati teks sumber sejarah pidato 29 Mei 1945 oleh Mohammad Yamin (mencakup peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat) serta pidato 31 Mei 1945 oleh Soepomo (mencakup persatuan, kekeluargaan, keseimbangan lahir batin, musyawarah, dan keadilan rakyat serta teori negara integralistik) (15 menit).
  • Murid secara mandiri mencatat dan mengidentifikasi kata kunci pokok pikiran dari masing-masing tokoh mengenai fondasi dasar negara berdasarkan teks sumber (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru memandu aktivitas tantangan berpasangan 'Kartu Analisis Tokoh' yang menggembirakan: setiap pasangan menerima 4 kartu kutipan konsep dasar negara dan bertanding cepat serta tepat untuk menganalisis dan memasangkan kutipan tersebut ke tokoh perumusnya: Kartu 1 'Negara tidak mempersatukan diri dengan golongan terbesar atau golongan ekonomi terkuat, melainkan mengatasi segala golongan' -> Soepomo; Kartu 2 'Membentuk peradaban kebangsaan Indonesia yang bertumpu pada kedaulatan rakyat dan tradisi luhur' -> Mohammad Yamin; Kartu 3 'Hubungan antarwarga negara dan pemimpin bersifat organis dan berjiwa kekeluargaan' -> Soepomo; Kartu 4 'Kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial sebagai penopang kemerdekaan' -> Mohammad Yamin (15 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Kerja Analisis Perbandingan untuk membedah titik temu (keduanya sepakat negara merdeka harus berakar pada karakteristik kepribadian bangsa Indonesia dan menolak individualisme Barat) dan perbedaan mendasar (Yamin menekankan asas kebangsaan dan hak rakyat/kesejahteraan; Soepomo menekankan teori integralistik/kekeluargaan total di mana rakyat dan penguasa menyatu tanpa pertentangan) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menganalisis secara kritis dalam lembar kerja mengenai relevansi dan hikmah dari cara pandang Mohammad Yamin dan Soepomo bagi persatuan bangsa Indonesia saat ini (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pokok pikiran dan cara pandang Mohammad Yamin serta Soepomo tentang dasar negara (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas hasil analisis lembar kerja dan menginformasikan bahwa materi sidang perumusan berikutnya akan menganalisis cara pandang Sukarno (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks kutipan pidato yang telah diberi sorotan kata kunci pokok pikiran, sedangkan murid yang siap diberikan teks transkrip pidato yang lebih utuh.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan menganalisis dibimbing secara terarah dengan tabel panduan komparasi dua kolom, sedangkan murid yang mahir menganalisis secara mandiri kaitan ideologis antara kedua pandangan.
  • Produk: Analisis dituangkan dalam lembar kerja terstruktur; murid dengan kemampuan tinggi menambahkan analisis komparasi implikasi kenegaraan dari konsep integralistik versus kebangsaan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Sebutkan 1 pokok pikiran Mohammad Yamin dan 1 konsep utama dari Soepomo tentang dasar negara dalam sidang BPUPK!' (Acuan jawaban: Mohammad Yamin = peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, atau kesejahteraan rakyat; Soepomo = paham negara integralistik/persatuan, kekeluargaan, keseimbangan lahir dan batin, musyawarah, atau keadilan rakyat).

Proses:

  • Observasi ketepatan analisis pasangan kartu konsep perumus dasar negara pada aktivitas tantangan berpasangan (Acuan kunci: Kartu 1 = Soepomo; Kartu 2 = Mohammad Yamin; Kartu 3 = Soepomo; Kartu 4 = Mohammad Yamin).
  • Pemeriksaan ketepatan analisis komparasi cara pandang pada Lembar Kerja Analisis (Acuan kunci: Pokok pikiran Yamin berpusat pada asas kebangsaan, kemanusiaan, ketuhanan, kerakyatan, dan kesejahteraan; pokok pikiran Soepomo berpusat pada integralistik, kekeluargaan, dan keseimbangan; persamaan: keduanya menginginkan dasar negara digali dari tradisi/jiwa bangsa sendiri; perbedaan: Yamin berorientasi pada perlindungan hak dan kesejahteraan rakyat, Soepomo berorientasi pada penyatuan total individu dalam wadah negara tanpa pemisahan golongan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat tertulis 2 butir soal: Butir 1 'Jelaskan cara pandang Soepomo mengenai konsep negara integralistik sebagai dasar negara!' (Acuan: negara integralistik memandang negara sebagai satu kesatuan organik di mana pemimpin dan rakyat bersatu padu berjiwa kekeluargaan, mengatasi segala golongan dan kepentingan individu); Butir 2 'Jelaskan cara pandang Mohammad Yamin mengenai peri kebangsaan dan kesejahteraan rakyat!' (Acuan: negara yang dibentuk harus berdasar pada kesatuan kebangsaan Indonesia yang berdaulat dan mewujudkan keadilan sosial/kesejahteraan bagi seluruh rakyat).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal pemahaman pokok pikiran perumus dasar negara
  • Tantangan berpasangan menjodohkan kartu analisis kutipan konsep tokoh perumus
  • Lembar Kerja Analisis perbandingan cara pandang Mohammad Yamin dan Soepomo tentang dasar negara

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Pokok Pikiran Dasar Negara Mohammad Yamin dan SoepomoBelum mampu mengidentifikasi pokok pikiran Mohammad Yamin dan Soepomo tentang dasar negara secara tepat.Mampu mengidentifikasi pokok pikiran Mohammad Yamin dan Soepomo tentang dasar negara tetapi belum mampu menganalisis keterkaitan antarkonsepnya sesuai acuan materi.Mampu menganalisis pokok pikiran dan cara pandang Mohammad Yamin serta Soepomo tentang dasar negara secara tepat dan lengkap sesuai acuan materi.Mampu menganalisis pokok pikiran dan cara pandang Mohammad Yamin serta Soepomo secara mendalam, tepat, lengkap, serta membandingkan titik temu dan titik beda cara pandang kedua tokoh secara kritis dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur kegiatan Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi memfasilitasi murid memahami kedalaman cara pandang Mohammad Yamin dan Soepomo secara terstruktur?
  • Bagian mana dari aktivitas analisis yang membutuhkan waktu scaffolding lebih intensif bagi murid?

Murid:

  • Apa hal paling bermakna yang saya pelajari dari cara pandang Mohammad Yamin dan Soepomo tentang dasar negara?
  • Bagaimana cara pandang persatuan dan kekeluargaan yang dirumuskan para pendiri bangsa tersebut relevan dengan kehidupan saya sehari-hari?

Pertemuan 2 — Menganalisis Cara Pandang Sukarno tentang Dasar Negara dan Perbandingannya dalam Sidang Perumusan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.1 Menganalisis cara pandang para perumus Pancasila tentang dasar negara dalam sidang perumusan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam pembuka, menyapa murid, dan memfasilitasi doa bersama untuk menciptakan kesiapan belajar (3 menit).
  • Guru mengaitkan materi pertemuan sebelumnya tentang pokok pikiran Mohammad Yamin dan Soepomo dengan topik pidato Sukarno pada 1 Juni 1945 (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan untuk memetakan pemahaman murid mengenai gagasan Sukarno pada sidang BPUPK: (1) Apa istilah yang digunakan Sukarno untuk dasar negara? (acuan: filosofische grondslag atau weltanschauung); (2) Sebutkan 5 prinsip dasar negara menurut pidato 1 Juni 1945! (acuan: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri-Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, Ketuhanan yang Berkebudayaan) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, cakupan materi analisis perbandingan cara pandang tiga tokoh (Yamin, Soepomo, Sukarno), dan alur kegiatan pembelajaran (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara hening dan berkesadaran membaca petikan pidato Sukarno 1 Juni 1945 yang memuat konsep filosofische grondslag (fundamen/filsafat dasar) serta weltanschauung (pandangan hidup dunia) dari lembar bahan ajar untuk memahami logika dasar usulan Sukarno (10 menit).
  • Guru memberikan penjelasan konseptual mengenai cara pandang Sukarno dan menampilkan tabel perbandingan tiga tokoh perumus (Mohammad Yamin, Soepomo, Sukarno) dengan fokus pada dimensi kebangsaan, bentuk persatuan, dan prinsip ketuhanan (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Sebagai aktivitas menggembirakan, murid secara berpasangan mengikuti tantangan cepat 'Kuis Kartu Pemikiran Tokoh' dengan menjodohkan 3 kutipan pernyataan ke tokoh yang tepat: (1) 'Negara integralistik yang mengatasi segala golongan' -> Soepomo; (2) 'Kebangsaan Indonesia dan Ketuhanan yang berkebudayaan' -> Sukarno; (3) 'Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, Kesejahteraan Rakyat' -> Mohammad Yamin (acuan: pasangan tepat tersebut) (10 menit).
  • Murid bekerja dalam kelompok beranggotakan 4 orang untuk menganalisis dan mengisi LKPD Analisis Perbandingan Cara Pandang Tiga Pendiri Bangsa dengan 3 aspek utama: (a) Dasar kebangsaan/negara nasional vs negara integralistik; (b) Konsep ketuhanan dalam dasar negara; (c) Hubungan antar-bangsa/internasionalisme (acuan analisis: Yamin menekankan historis kebangsaan nusantara dan moral ketuhanan; Soepomo menekankan persatuan integralistik tanpa pemisahan individu-negara dan menolak negara keagamaan; Sukarno menekankan kebangsaan inklusif geopolitik satu kesatuan tanah air, internasionalisme kemanusiaan, serta ketuhanan yang saling menghormati) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Perwakilan 2 kelompok memaparkan temuan perbandingannya, dan guru memfasilitasi konfirmasi kelas mengenai benang merah titik temu (kesepakatan negara persatuan yang merdeka) serta titik beda (rumusan relasi agama-negara dan struktur integralistik vs demokratis) di antara ketiga tokoh (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran mengenai cara pandang Sukarno dan perbandingannya dengan Yamin serta Soepomo dalam sidang perumusan dasar negara (5 menit).
  • Murid mengerjakan cek pemahaman asesmen akhir mandiri tertulis singkat dan menuliskan refleksi satu kalimat tentang hikmah sikap para tokoh perumus (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kutipan pidato Sukarno versi ringkas beranotasi kata kunci bagi murid yang membutuhkan bantuan, dan dokumen teks pidato otentik 1 Juni 1945 yang lebih mendalam bagi murid cepat.
  • Proses: Memberikan scaffolding bertahap melalui panduan pertanyaan penuntun pada tabel LKPD untuk kelompok yang mengalami kesulitan, serta memberikan tantangan penelusuran sintesis Trisila dan Ekasila bagi murid yang cepat menyelesaikan analisis.
  • Produk: Hasil analisis disajikan dalam bentuk matriks tabel perbandingan terstruktur atau peta konsep visual perbandingan cara pandang tiga tokoh sesuai preferensi kelompok tanpa mengurangi bobot indikator analisis.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran: (1) Apa arti istilah filosofische grondslag yang dikemukakan Sukarno? (acuan: fundamen filsafat/dasar falsafah tempat berdirinya gedung Indonesia merdeka); (2) Sebutkan urutan 5 prinsip dasar negara dalam pidato Sukarno 1 Juni 1945! (acuan lengkap: 1. Kebangsaan Indonesia, 2. Internasionalisme atau Peri-Kemanusiaan, 3. Mufakat atau Demokrasi, 4. Kesejahteraan Sosial, 5. Ketuhanan yang Berkebudayaan).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan diskusi kelompok dan pemeriksaan pengisian LKPD Analisis Perbandingan Tiga Tokoh (Yamin, Soepomo, Sukarno) dengan kriteria: ketepatan identifikasi konsep dasar negara masing-masing tokoh, ketepatan analisis persamaan gagasan, dan ketepatan analisis perbedaan gagasan (acuan: aspek kebangsaan, ketuhanan, dan relasi warga-negara).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (2 soal uraian): (1) Jelaskan cara pandang Sukarno mengenai dasar negara 'filosofische grondslag' dan 'weltanschauung'! (acuan: filosofische grondslag adalah dasar falsafah/fundamen pemikiran sedalam-dalamnya di atas mana negara didirikan, sedangkan weltanschauung adalah pandangan hidup dunia yang menjiwai seluruh bangsa); (2) Analisis 1 perbedaan mendasar antara konsep negara integralistik Soepomo dengan paham kebangsaan Sukarno dalam sidang BPUPK! (acuan: Soepomo memandang negara menyatu total dengan seluruh rakyat melampaui golongan dan individu tanpa jaminan hak khusus, sedangkan Sukarno memandang kebangsaan Indonesia sebagai persatuan geopolitik seluruh kepulauan yang dipadukan dengan demokrasi musyawarah/mufakat dan perikemanusiaan internasional).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal pemahaman usulan Sukarno (lisan)
  • Observasi unjuk kerja pencocokan kartu kuis cepat tokoh perumus (kinerja)
  • Penilaian analisis lembar kerja komparasi pemikiran Yamin, Soepomo, dan Sukarno (tertulis)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Cara Pandang Sukarno tentang Dasar NegaraBelum mampu menguraikan konsep filosofische grondslag dan 5 prinsip usulan Sukarno 1 Juni 1945.Mampu menyebutkan istilah filosofische grondslag dan sebagian dari 5 prinsip usulan Sukarno, namun belum mampu menganalisis maknanya.Mampu menganalisis konsep filosofische grondslag, weltanschauung, dan kelima prinsip usulan Sukarno 1 Juni 1945 secara tepat.Mampu menganalisis konsep filosofische grondslag, weltanschauung, kelima prinsip usulan Sukarno, serta keterkaitannya dengan sintesis Trisila dan Ekasila secara mendalam dan komprehensif.
Analisis Perbandingan Gagasan Tokoh (Yamin, Soepomo, Sukarno)Belum mampu membandingkan persamaan maupun perbedaan gagasan dasar negara antara Sukarno, Mohammad Yamin, dan Soepomo.Mampu mengidentifikasi persamaan umum (keinginan merdeka bersama), namun belum mampu menganalisis perbedaan spesifik cara pandang ketiga tokoh.Mampu menganalisis persamaan dan perbedaan cara pandang Mohammad Yamin, Soepomo, dan Sukarno pada aspek kebangsaan, ketuhanan, dan bentuk persatuan secara tepat.Mampu menganalisis persamaan dan perbedaan cara pandang ketiga tokoh secara kritis, mendalam, dan terstruktur pada seluruh aspek (kebangsaan, relasi negara-agama, struktur kekuasaan/demokrasi, dan hubungan antarbangsa).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah perbandingan pemikiran tiga tokoh berhasil memfasilitasi penalaran kritis murid secara mendalam?
  • Apakah alokasi waktu pada tahap pengerjaan LKPD perbandingan dan kuis berpasangan mencukupi untuk semua kelompok?
  • Bagian materi mana dari pidato Sukarno yang paling membutuhkan bimbingan intensif bagi murid?

Murid:

  • Apa perbedaan cara pandang yang paling jelas saya pahami antara Sukarno, Soepomo, dan Mohammad Yamin tentang dasar negara?
  • Hikmah apa yang dapat saya teladani dari dialektika pemikiran para pendiri bangsa dalam mencapai mufakat dasar negara Indonesia?

Pertemuan 3 — Menganalisis Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Norma Fundamental Ketatanegaraan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.2 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi murid melakukan hening sejenak untuk menumbuhkan fokus belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-3, yaitu menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan norma fundamental ketatanegaraan (grundnorm/staatsfundamentalnorm) (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal melalui kuis diagnostik singkat tertulis berupa 2 pertanyaan: (1) Apa arti kedudukan Pancasila sebagai dasar negara? (acuan: fondasi yuridis-ketatanegaraan dan landasan penyelenggaraan negara); (2) Dalam hierarki hukum Indonesia, apa posisi Pancasila terhadap undang-undang? (acuan: Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum/norma dasar tertinggi di atas seluruh peraturan perundang-undangan) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid mencermati materi ajar tentang kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, norma fundamental ketatanegaraan (staatsfundamentalnorm), dan sumber dari segala sumber hukum yang menjiwai seluruh tatanan hukum Indonesia (15 menit).
  • Murid berpasangan mengikuti kuis cepat 'Tepat Logika Hukum' untuk mencocokkan 3 konsep ketatanegaraan berikut: (1) Grundnorm -> norma dasar tertinggi penguji norma di bawahnya; (2) Staatsfundamentalnorm -> pokok kaidah fundamental negara berkedudukan tetap dan kuat; (3) Sumber hukum formal -> bentuk perwujudan hukum seperti UUD NRI 1945 dan undang-undang (acuan: pasangan konsep 1, 2, dan 3 tepat sesuai definisi tersebut) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Kerja Analisis Kasus Ketatanegaraan yang menyajikan 2 kasus pengujian peraturan: Kasus A: RUU tentang diskriminasi hak pilih warga negara yang diuji keterkaitannya dengan Sila Kedua; Kasus B: Peraturan Daerah yang melarang ibadah kelompok tertentu yang diuji dengan Sila Pertama (10 menit).
  • Murid secara mandiri menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara pada kedua kasus tersebut dengan menuliskan: (a) status hierarkis norma yang dilanggar, (b) argumen hukum mengapa peraturan tersebut tidak boleh bertentangan dengan Pancasila, dan (c) konsekuensi pembatalan norma peraturan yang inkonstitusional terhadap dasar negara (acuan: Kasus A melanggar prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab sehingga norma UU harus dibatalkan oleh MK; Kasus B melanggar kebebasan beragama pada sila pertama sehingga Perda batal demi hukum karena bertentangan dengan norma fundamental negara) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru menelaah hasil analisis kasus untuk menyimpulkan bahwa seluruh regulasi di Indonesia mutlak bersumber dan tunduk pada Pancasila sebagai dasar negara (10 menit).

Penutup:

  • Murid menuliskan satu kalimat reflektif tentang pentingnya mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara yang kokoh dalam lembar umpan balik (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian belajar hari ini dan menginformasikan bahwa materi pertemuan berikutnya (pertemuan 4) adalah analisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dalam praktik penyelenggaraan negara, kemudian menutup sesi dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan bagan alur hierarki norma hukum (Pancasila -> UUD NRI 1945 -> UU/Perppu -> Perda); murid mahir menelaah teks kutipan pertimbangan putusan Mahkamah Konstitusi terkait kedudukan Pancasila.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan dipandu dengan pertanyaan penuntun per langkah analisis; murid mahir menganalisis langsung kedua kasus secara mandiri tanpa scaffolding.
  • Produk: Seluruh murid menyusun hasil analisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara pada lembar kerja kasus dengan kriteria ketepatan analisis yang setara.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis tertulis diagnostik singkat 2 butir: (1) Jelaskan arti kedudukan Pancasila sebagai dasar negara (acuan: Pancasila sebagai fondasi yuridis-ketatanegaraan dan landasan utama penyelenggaraan negara); (2) Bagaimana posisi Pancasila terhadap undang-undang dalam tata hukum Indonesia? (acuan: Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau norma dasar tertinggi/grundnorm yang menjiwai seluruh undang-undang dan peraturan di bawahnya).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja analisis kasus ketatanegaraan (Kasus A dan Kasus B) dengan kriteria penilaian: (1) ketepatan mengidentifikasi kedudukan Pancasila sebagai norma dasar tertinggi/grundnorm, (2) ketepatan analisis pertentangan norma undang-undang/peraturan daerah terhadap sila Pancasila, dan (3) ketepatan merumuskan konsekuensi yuridis ketatanegaraan (pembatalan peraturan yang bertentangan dengan Pancasila) (acuan: Kasus A bertentangan dengan Sila ke-2 dan batal lewat pengujian di MK; Kasus B bertentangan dengan Sila ke-1 dan batal demi hukum).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup berupa 1 butir pertanyaan esai singkat: Mengapa norma perundang-undangan di Indonesia yang bertentangan dengan Pancasila tidak sah dan tidak mengikat? (acuan jawaban: karena Pancasila berkedudukan sebagai norma fundamental negara/staatsfundamentalnorm dan sumber dari segala sumber hukum, sehingga norma hukum di bawahnya yang bertentangan secara hierarkis kehilangan landasan validitas hukumnya).

Formatif:

  • Kuis diagnostik singkat 2 butir soal pada awal pembelajaran
  • Kuis cepat konsep berpasangan 'Tepat Logika Hukum' pada tahap Memahami
  • Penilaian analisis tertulis pada Lembar Kerja Kasus Ketatanegaraan menggunakan rubrik analitik

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Norma FundamentalBelum mampu menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara; belum dapat mengaitkan pertentangan norma hukum dalam kasus dengan kedudukan Pancasila sebagai norma tertinggi.Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara pada 1 dari 2 kasus secara tepat, namun belum runtut menjelaskan statusnya sebagai norma fundamental penguji peraturan di bawahnya.Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan norma fundamental ketatanegaraan pada kedua kasus (Kasus A dan Kasus B) secara tepat dan mandiri sesuai acuan materi ketatanegaraan.Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan norma fundamental ketatanegaraan pada kedua kasus secara mendalam, tepat, sistematis, serta disertai argumentasi komparatif keterkaitan hierarki norma hukum secara komprehensif.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah pembelajaran membantu murid memahami konsep grundnorm dan staatsfundamentalnorm secara konkret tanpa verbalisme?
  • Bagaimana respons murid saat menganalisis studi kasus pengujian peraturan perundang-undangan terhadap nilai dasar Pancasila?

Murid:

  • Bagian mana dari konsep Pancasila sebagai dasar negara dan norma tertinggi yang paling menantang untuk dipahami?
  • Mengapa penting bagi saya sebagai warga negara memahami bahwa semua hukum di Indonesia wajib berlandaskan Pancasila?

Pertemuan 4 — Menganalisis Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam Penyelenggaraan Negara — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.2 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak murid memusatkan perhatian secara hening sejenak untuk menumbuhkan kesadaran diri (mindfulness) sebelum memulai pembelajaran (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dalam penyelenggaraan negara, serta menjelaskan alur aktivitas yang akan dilakukan (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 2 pertanyaan lisan: (1) 'Apa arti kedudukan Pancasila sebagai dasar negara?' (acuan: Pancasila menjadi landasan fundamental, pedoman pokok, dan sumber dari segala sumber hukum dalam mengatur jalannya pemerintahan serta kehidupan bernegara); (2) 'Sebutkan 1 contoh penyelenggaraan negara yang berlandaskan Pancasila!' (acuan: pembentukan undang-undang yang adil/tidak diskriminatif, kebijakan bansos untuk keadilan sosial, pemilihan umum yang demokratis, atau penegakan hukum tanpa pandang bulu). Murid menuliskan jawaban singkat pada lembar memo (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid mencermati bagan/paparan materi mengenai 3 dimensi operasional kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dalam penyelenggaraan negara: (1) Landasan Konstitusional & Yuridis (sumber pembentukan seluruh regulasi/peraturan perundang-undangan); (2) Pedoman Etika & Kebijakan Pemerintahan (arah orientasi program pembangunan dan pelayanan publik demi kesejahteraan rakyat); (3) Batas Kekuasaan & Kontrol Lembaga Negara (pengecekan agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dan pelanggaran hak asasi) (15 menit).
  • Guru mengadakan kuis cepat interaktif 'Tebak Aspek Penyelenggaraan Negara' untuk menguji pemahaman konsep secara seru. Guru membacakan 3 pernyataan kebijakan berikut: (a) 'Mahkamah Konstitusi membatalkan pasal UU yang bertentangan dengan prinsip keadilan sosial' (acuan jawaban: Batas Kekuasaan & Kontrol Lembaga Negara); (b) 'Pemerintah menyusun UU Pelayanan Publik untuk menjamin kesetaraan warga negara' (acuan jawaban: Landasan Konstitusional & Yuridis); (c) 'Penyaluran bantuan pangan tepat sasaran bagi masyarakat prasejahtera di daerah 3T' (acuan jawaban: Pedoman Etika & Kebijakan Pemerintahan). Murid serempak mengangkat kartu kode A, B, atau C dengan antusias (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid bekerja secara mandiri menganalisis 2 studi kasus penyelenggaraan negara menggunakan Lembar Analisis Dasar Negara. Kasus 1: 'Pemerintah dan DPR mengesahkan regulasi yang mewajibkan seluruh fasilitas publik ramah bagi penyandang disabilitas'; Kasus 2: 'Sebuah rancangan peraturan daerah ditolak oleh kementerian terkait karena memuat pasal diskriminatif yang mengistimewakan kelompok tertentu atas dasar suku'. Murid menganalisis keterkaitan kasus dengan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan telaah reflektif atas hasil analisis mereka dengan memeriksa kesesuaian argumen terhadap acuan analisis yang dipaparkan guru: pada Kasus 1 murid memastikan telah mengidentifikasi implementasi sila ke-2 dan ke-5 sebagai landasan pembuatan regulasi non-diskriminatif; pada Kasus 2 murid memastikan telah mengidentifikasi fungsi Pancasila sebagai norma penguji/dasar negara yang membatalkan regulasi intoleran demi menjaga persatuan (sila ke-3) dan keadilan (sila ke-5) (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara berfungsi mutlak sebagai pengarah, pembatas, dan landasan utama seluruh tindakan serta regulasi penyelenggara negara (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas lembar analisis yang dikumpulkan, menjelaskan bahwa pertemuan berikutnya akan membahas Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa, serta menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar bantu rujukan sila-sila Pancasila dan pasal UUD NRI 1945 bagi murid yang membutuhkan scaffolding analisis regulasi.
  • Proses: Memberikan panduan pertanyaan terstruktur bagi murid yang memerlukan bimbingan bertahap dalam menganalisis kasus, sedangkan murid yang cepat diarahkan langsung menganalisis implikasi yuridis dan etis tanpa panduan perantara.
  • Produk: Murid cepat menganalisis 2 kasus dengan menguraikan implikasi yuridis serta etika penyelenggara negara secara mendalam, sedangkan murid yang memerlukan bimbingan cukup menganalisis 2 kasus dengan mengaitkannya langsung pada sila yang dilandasi beserta alasannya secara tepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik tertulis di awal sesi: (1) Jelaskan arti Pancasila sebagai dasar negara! (Acuan: dasar negara adalah fondasi, pedoman pokok, dan sumber dari segala sumber hukum dalam mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan ketatanegaraan); (2) Tuliskan 1 contoh nyata penyelenggaraan negara yang mencerminkan Pancasila! (Acuan kriteria: menyebutkan tindakan aparatur/kebijakan pemerintah/pembentukan undang-undang/putusan hukum yang berlandaskan salah satu atau keseluruhan sila Pancasila).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan jawaban kuis interaktif 3 butir skenario kebijakan penyelenggaraan negara (Acuan: butir a = Batas Kekuasaan & Kontrol Lembaga Negara; butir b = Landasan Konstitusional & Yuridis; butir c = Pedoman Etika & Kebijakan Pemerintahan).
  • Analisis tertulis 2 studi kasus penyelenggaraan negara pada Lembar Analisis Dasar Negara (Acuan Kasus 1: regulasi fasilitas disabilitas mencerminkan Pancasila sebagai dasar hukum pemenuhan hak kemanusiaan yang adil dan beradab [sila 2] serta keadilan sosial [sila 5]; Acuan Kasus 2: pembatalan perda diskriminatif mencerminkan kedudukan Pancasila sebagai norma fundamental penguji regulasi di bawahnya agar tidak bertentangan dengan persatuan [sila 3] dan keadilan [sila 5]).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi tertulis: Murid menuliskan rangkuman 1 kalimat tentang apa konsekuensi hukum dan etis jika penyelenggara negara mengabaikan Pancasila sebagai dasar negara (Acuan kriteria penerimaan: jawaban memuat bahwa produk hukum/kebijakan menjadi cacat hukum/batal demi hukum dan menimbulkan ketidakadilan/kesewenang-wenangan terhadap rakyat).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik tertulis singkat di pendahuluan mengenai konsep dasar negara dan contohnya.
  • Kuis cepat interaktif 'Tebak Aspek Penyelenggaraan Negara' di tahap inti.
  • Penilaian Lembar Analisis Dasar Negara pada 2 studi kasus penyelenggaraan negara menggunakan rubrik analitik.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kemampuan Menganalisis Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam Penyelenggaraan NegaraBelum mampu menganalisis keterkaitan 2 kasus kebijakan penyelenggaraan negara dengan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara; penjelasan belum memuat kaitan sila maupun fungsinya sebagai landasan negara.Mampu menganalisis 1 dari 2 kasus secara tepat sesuai acuan (mengaitkan dengan sila yang relevan dan fungsi Pancasila sebagai landasan/penguji regulasi), sedangkan 1 kasus lainnya belum tepat.Mampu menganalisis kedua kasus (Kasus 1: regulasi disabilitas sebagai wujud sila 2 dan 5; Kasus 2: pembatalan perda diskriminatif sebagai fungsi penguji norma sesuai sila 3 dan 5) secara tepat sesuai acuan analisis.Mampu menganalisis kedua kasus secara tepat sesuai acuan, disertai penjelasan mendalam mengenai keterpaduan aspek yuridis (norma hukum) dan aspek etis kebijakan penyelenggara negara secara mandiri dan runtut.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 30 menit untuk analisis 2 kasus penyelenggaraan negara mencukupi bagi murid untuk berpikir kritis dan mandiri?
  • Apakah murid telah memahami secara jelas perbedaan fungsi Pancasila sebagai dasar negara (aspek ketatanegaraan/hukum) dibandingkan fungsi lainnya?

Murid:

  • Bagian mana dari analisis kasus kebijakan negara tadi yang paling menantang bagimu?
  • Mengapa penting bagi setiap pejabat atau pembuat undang-undang untuk selalu berlandaskan pada Pancasila?

Pertemuan 5 — Menganalisis Kedudukan Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa dalam Menuntun Kehidupan Bermasyarakat — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.3 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan memeriksa kesiapan belajar murid dengan menyapa serta memeriksa kehadiran (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu menganalisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (weltanschauung) dalam menuntun kehidupan bermasyarakat (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan tertulis singkat: (1) Apa perbedaan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dengan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa? (acuan jawaban: dasar negara adalah fondasi/sumber hukum penyelenggaraan negara, sedangkan pandangan hidup bangsa adalah pedoman/penuntun nilai moral dan perilaku sehari-hari warga masyarakat); (2) Sebutkan 1 contoh praktik sila ke-3 dalam kehidupan masyarakat majemuk! (acuan jawaban: gotong royong antarwarga yang berbeda suku/agama atau menjaga kerukunan tanpa diskriminasi) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati pemaparan konsep tentang kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (pedoman moral, penuntun interaksi sosial, serta penyelesai persoalan masyarakat berlandaskan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial) (15 menit).
  • Guru memfasilitasi sesi tanya jawab terarah untuk membedah makna sila-sila Pancasila sebagai pedoman penuntun laku hidup bermasyarakat (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam aktivitas permainan analisis kasus 'Detektif Nilai' yang menantang, murid secara berpasangan menganalisis 3 lembar studi kasus sosial kemasyarakatan berikut: Kasus A: Warga perumahan berbeda agama bergotong royong membersihkan saluran air menjelang musim hujan; Kasus B: Sekelompok pemuda menolak pembangunan fasilitas umum karena perbedaan latar belakang kedaerahan; Kasus C: Rapat RT memutuskan pembagian jadwal ronda malam melalui musyawarah mufakat tanpa memaksakan kehendak (acuan analisis: Kasus A mencerminkan perwujudan sila ke-1, ke-2, dan ke-3 sebagai pandangan hidup yang menjaga kerukunan; Kasus B merupakan penyimpangan dari kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup sila ke-2 dan ke-3; Kasus C mencerminkan pengamalan sila ke-4 sebagai pedoman penyelesaian masalah bersama) (25 menit).
  • Setiap murid menuliskan hasil analisis secara mandiri pada lembar analisis: menentukan kedudukan nilai sila Pancasila yang menjadi pedoman serta dampak keberadaan/ketidakhadiran nilai tersebut bagi tatanan masyarakat pada ketiga kasus (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali ketepatan dan kedalaman analisisnya terhadap ketiga kasus berdasarkan verifikasi acuan bersama yang dipandu guru (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai fungsi vital kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dalam memandu kehidupan sosial (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketercapaian analisis murid dan menyampaikan pengantar topik pertemuan berikutnya tanpa menutup bab (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci makna tiap sila sebagai pedoman hidup; murid yang mahir diberikan studi kasus dengan konflik sosial kemasyarakatan yang lebih kompleks.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan menganalisis dibimbing secara terfokus pada Kasus A dan Kasus C terlebih dahulu, sedangkan murid mandiri menganalisis ketiga kasus secara penuh.
  • Produk: Analisis dituliskan pada lembar kerja terstruktur dengan tingkat kerincian argumen yang disesuaikan kesiapan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman awal melalui 2 soal: (1) Perbedaan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa (acuan: dasar negara = sumber hukum ketatanegaraan; pandangan hidup = pedoman perilaku/etika bermasyarakat); (2) Contoh pengamalan sila ke-3 dalam masyarakat majemuk (acuan: gotong royong/kerja bakti lintas suku dan agama).

Proses:

  • Penilaian lembar kerja analisis 3 studi kasus: Murid menganalisis keterkaitan Kasus A, Kasus B, dan Kasus C dengan kedudukan sila-sila Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa beserta dampaknya terhadap kehidupan bermasyarakat (acuan: Kasus A = pengamalan sila 1, 2, 3; Kasus B = pelanggaran sila 2, 3; Kasus C = pengamalan sila 4).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan satu simpulan analisis tertulis mengenai kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dalam menyelesaikan perselisihan di lingkungan tempat tinggal (kriteria penerimaan: jawaban mengaitkan fungsi Pancasila sebagai pedoman musyawarah/keadilan/toleransi dalam menjaga kerukunan sosial).

Formatif:

  • Asesmen Awal diagnostik 2 butir pertanyaan di awal sesi
  • Asesmen Proses melalui lembar analisis 3 studi kasus penerapan kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Kedudukan Pancasila sebagai Pandangan Hidup BangsaBelum mampu mengaitkan kasus dengan kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa atau hanya menyebutkan sila tanpa memberikan analisis kaitan perilaku (tepat kurang dari 1 kasus sesuai acuan).Mampu menganalisis kaitan nilai Pancasila sebagai pedoman hidup pada minimal 1 dari 3 kasus secara tepat sesuai acuan Kasus A, B, atau C.Mampu menganalisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa beserta dampaknya pada 2 dari 3 kasus secara tepat sesuai acuan Kasus A, B, dan C.Mampu menganalisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa beserta dampak keberadaan/ketidakhadirannya secara lengkap dan tepat pada seluruh (3) kasus (Kasus A, B, dan C) sesuai acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas analisis kasus 'Detektif Nilai' berhasil memfasilitasi murid dalam menganalisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa secara kritis dan mendalam?
  • Apakah diferensiasi proses dan bimbingan scaffolding sudah membantu murid yang mengalami kesulitan memahami konsep pandangan hidup bangsa?

Murid:

  • Mengapa Pancasila mutlak diperlukan sebagai pandangan hidup dalam mengarahkan tindakan saya sehari-hari di tengah masyarakat yang majemuk?
  • Bagian analisis kasus mana yang paling menantang dan bagaimana saya mengatasinya?

Pertemuan 6 — Menganalisis Kedudukan Pancasila sebagai Ideologi Negara dan Sistem Kehidupan Nasional — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.4 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, memeriksa kesiapan belajar, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6 yaitu menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara dan sistem kehidupan nasional (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui pertanyaan lisan singkat untuk memetakan kesiapan memahami konsep ideologi negara: 'Sebutkan pengertian ideologi secara etimologis dan kedudukannya bagi suatu negara!' (acuan: berasal dari kata ideos/gagasan dan logos/ilmu pengetahuan; berkedudukan sebagai sistem pemikiran/keyakinan penuntun kehidupan bernegara) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati teks materi tentang kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara yang berfungsi sebagai bintang penuntun serta sistem kehidupan nasional mencakup dimensi politik, ekonomi, sosio-kultural, dan pertahanan-keamanan (15 menit).
  • Murid berpasangan mengikuti tantangan interaktif 'Tebak Dimensi Ideologi' dengan mengidentifikasi keterkaitan antara 4 pernyataan kebijakan negara ke dalam 4 dimensi sistem kehidupan nasional: (1) Pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil -> dimensi politik; (2) Penerapan sistem ekonomi gotong royong dan keadilan distribusi kekayaan -> dimensi ekonomi; (3) Pemajuan kebudayaan daerah berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika -> dimensi sosio-kultural; (4) Sistem pertahanan keamanan rakyat semesta -> dimensi pertahanan-keamanan (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar analisis yang memuat 4 kasus kebijakan negara dan menganalisis keselarasan kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara: Kasus 1 (Rancangan UU bidang ketatanegaraan yang harus bebas dari monopoli kekuasaan; acuan analisis: Pancasila memandu dimensi politik agar kekuasaan berorientasi pada kedaulatan rakyat dan keadilan); Kasus 2 (Program bantuan modal UMKM untuk mencegah monopoli pasar; acuan analisis: Pancasila menuntun dimensi ekonomi berasaskan kekeluargaan); Kasus 3 (Pelestarian toleransi tradisi lokal di tengah arus globalisasi; acuan analisis: Pancasila mengarahkan dimensi sosio-kultural menjaga jati diri bangsa); Kasus 4 (Sinergi warga dan aparat menjaga keutuhan wilayah perbatasan; acuan analisis: Pancasila menuntun dimensi pertahanan-keamanan berdasar kesadaran bela negara) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan periksa diri secara hening dan berkesadaran terhadap hasil analisisnya, memastikan setiap argumen yang ditulis mampu menguraikan peran Pancasila sebagai sistem penuntun dalam kehidupan bernegara (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap temuan hasil analisis murid, mempertegas kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara pemandu sistem kehidupan nasional, serta melaksanakan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan singkat (7 menit).
  • Guru menyampaikan topik yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya (kedudukan Pancasila sebagai ideologi dalam menjawab tantangan zaman) dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar panduan kata kunci yang menghubungkan 4 sila utama dengan dimensi ideologi nasional, sedangkan murid yang mahir diberikan kasus kebijakan publik kontemporer dengan variabel analisis yang lebih kompleks.
  • Proses: Bagi murid yang masih berkembang diberikan scaffolding berupa pertanyaan penuntun bertahap dalam menganalisis kasus, sedangkan murid yang telah mahir menyelesaikan analisis secara mandiri tanpa bantuan.
  • Produk: Semua murid menghasilkan lembar kerja analisis kedudukan ideologi negara yang terukur dari kedalaman uraian analisis hubungan kasus dengan dimensi ideologi Pancasila.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik pemahaman awal: 'Jelaskan apa yang dimaksud dengan ideologi dan mengapa Pancasila berkedudukan sebagai ideologi negara?' (acuan jawaban: ideologi adalah kumpulan ide/gagasan penuntun kehidupan; Pancasila berkedudukan sebagai ideologi negara karena menjadi sistem pemikiran dan arah penuntun penyelenggaraan seluruh sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara).

Proses:

  • Penilaian lembar analisis mandiri murid terhadap 4 kasus kebijakan negara pada dimensi politik, ekonomi, sosio-kultural, dan pertahanan-keamanan berdasarkan kesesuaian uraian kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir pembelajaran dengan pertanyaan: 'Mengapa Pancasila disebut sebagai sistem kehidupan nasional dalam perannya sebagai ideologi negara?' (acuan kriteria jawaban tepat: murid mampu menguraikan bahwa Pancasila memandu keterpaduan dimensi politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan menuju tercapainya tujuan bernegara).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal mengenai pengertian ideologi negara
  • Pemeriksaan lembar kerja analisis keterkaitan kasus kebijakan publik dengan 4 dimensi sistem kehidupan nasional Pancasila

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara dan sistem kehidupan nasionalMenganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara pada kurang dari 2 dimensi sistem kehidupan nasional secara tepat dengan bantuan guru.Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara pada 2 dari 4 dimensi sistem kehidupan nasional (politik, ekonomi, sosio-kultural, pertahanan-keamanan) secara tepat.Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara pada 3 dari 4 dimensi sistem kehidupan nasional (politik, ekonomi, sosio-kultural, pertahanan-keamanan) secara tepat dan mandiri.Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara pada seluruh (4) dimensi sistem kehidupan nasional (politik, ekonomi, sosio-kultural, pertahanan-keamanan) secara tepat, komprehensif, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur kegiatan Memahami-Mengaplikasi-Merefleksi membantu murid menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara secara kritis?
  • Apakah pembagian waktu 90 menit efektif untuk melatih keterampilan analisis murid secara mendalam?

Murid:

  • Apa pemahaman baru yang saya peroleh tentang fungsi Pancasila sebagai ideologi dan sistem kehidupan nasional?
  • Bagaimana saya memandang pentingnya Pancasila dalam mengarahkan kebijakan politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan negara kita?

Pertemuan 7 — Menganalisis Kedudukan Pancasila sebagai Ideologi Negara dalam Menjawab Tantangan Zaman — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.4 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kesiapan belajar kelas (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan membagikan 2 pertanyaan tertulis: (1) Sebutkan 3 dimensi Pancasila sebagai ideologi terbuka! (2) Jelaskan makna keterbukaan ideologi Pancasila dalam merespons perkembangan teknologi! (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati materi esensial mengenai kedudukan Pancasila sebagai ideologi terbuka yang adaptif terhadap tantangan zaman melalui telaah 3 dimensi ideologi: realitas, idealisme, dan fleksibilitas (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti kuis kilat interaktif 'Tantangan vs Dimensi Ideologi' dengan memasangkan 3 kartu kasus tantangan zaman ke dimensi ideologi Pancasila yang relevan: Kasus A (maraknya hoaks digital) dipasangkan ke Dimensi Realitas; Kasus B (aspirasi kemajuan IPTEK generasi muda) dipasangkan ke Dimensi Idealisme; Kasus C (penyesuaian regulasi transaksi digital tanpa melanggar keadilan sosial) dipasangkan ke Dimensi Fleksibilitas (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara mandiri menganalisis 3 lembar kasus tantangan zaman kontemporer: (1) Arus individualisme ekstrem akibat media sosial; (2) Ancaman polarisasi dan intoleransi berbasis algoritma daring; (3) Desakan pasar bebas global terhadap kedaulatan ekonomi rakyat; dengan menguraikan bagaimana kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara memecahkan dan membentengi bangsa dari ketiga tantangan tersebut pada lembar analisis (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil analisisnya secara hening dan berkesadaran untuk mengenali kekuatan argumen analisis kedudukan ideologi Pancasila terhadap ancaman nyata di sekitar kehidupannya (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan poin penting bahwa kedudukan Pancasila sebagai ideologi terbuka menjadi filter dan pedoman navigasi bangsa menghadapi dinamika zaman (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap capaian analisis murid dan menyampaikan gambaran persiapan sesi berikutnya tanpa menutup bab secara keseluruhan (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar kasus dengan teks narasi terstruktur bagi murid yang membutuhkan bimbingan serta artikel isu aktual komprehensif bagi murid yang mahir.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan alur telaah 3 dimensi, sedangkan murid mahir menganalisis keterkaitan dimensi realitas, idealisme, dan fleksibilitas secara terpadu.
  • Produk: Format penyajian analisis berupa tabel uraian dimensi bagi murid reguler atau telaah esai analitis bagi murid yang bergerak lebih cepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Soal diagnostik awal tertulis: (1) Sebutkan 3 dimensi Pancasila sebagai ideologi terbuka! (Acuan: dimensi realitas, dimensi idealisme, dimensi fleksibilitas). (2) Jelaskan makna keterbukaan ideologi Pancasila dalam merespons perkembangan teknologi! (Acuan: Pancasila mampu menyerap nilai-nilai kemajuan IPTEK secara kritis tanpa mengubah nilai dasar ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan).

Proses:

  • Observasi pengerjaan kuis kilat interaktif mencocokkan 3 kasus: Kasus A (hoaks digital) -> Dimensi Realitas; Kasus B (aspirasi IPTEK) -> Dimensi Idealisme; Kasus C (regulasi transaksi digital) -> Dimensi Fleksibilitas.
  • Pemeriksaan lembar analisis mandiri terhadap 3 kasus tantangan zaman: (1) Arus individualisme ekstrem; (2) Polarisasi daring; (3) Desakan pasar bebas. Kriteria: ketepatan menghubungkan tantangan dengan fungsi Pancasila sebagai penyaring dan penuntun ideologis nasional.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis pada akhir sesi: Murid menuliskan ringkasan analitis 1 paragraf mengenai mengapa Pancasila tidak boleh menjadi ideologi tertutup maupun ideologi bebas-nilai saat menghadapi globalisasi (Kriteria penerimaan operasional: jawaban memuat kedudukan Pancasila sebagai ideologi terbuka yang dinamis sekaligus memiliki batas nilai dasar mutlak).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal tertulis 2 butir pemetaan pemahaman dimensi ideologi Pancasila.
  • Kuis kilat berpasangan mencocokkan 3 kasus tantangan zaman dengan 3 dimensi ideologi terbuka.
  • Lembar analisis mandiri pemecahan 3 tantangan zaman berbasis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Kedudukan Pancasila sebagai Ideologi Terbuka dalam Menjawab Tantangan ZamanBelum mampu mengaitkan kasus tantangan zaman dengan kedudukan dan dimensi ideologi Pancasila secara tepat.Menganalisis keterkaitan antara 1 dari 3 kasus tantangan zaman dengan kedudukan dan dimensi ideologi Pancasila secara tepat.Menganalisis keterkaitan antara 2 dari 3 kasus tantangan zaman dengan kedudukan dan dimensi ideologi Pancasila secara tepat.Menganalisis keterkaitan seluruh (3 dari 3) kasus tantangan zaman dengan kedudukan dan dimensi ideologi Pancasila (realitas, idealisme, fleksibilitas) secara lengkap dan tepat mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu analisis mandiri mencukupi murid untuk membedah ketiga kasus tantangan zaman?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam kuis interaktif mencerminkan pemahaman dimensi ideologi terbuka?

Murid:

  • Bagian mana dari analisis tantangan zaman era digital yang paling membuka wawasan saya tentang pentingnya Pancasila?
  • Apakah saya sudah mampu membedakan peran dimensi realitas, idealisme, dan fleksibilitas dalam mempertahankan nilai Pancasila?

Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.1 Menganalisis cara pandang para perumus Pancasila tentang dasar negara dalam sidang perumusan
  • TP 10.1.2 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara
  • TP 10.1.3 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
  • TP 10.1.4 Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan fisik serta psikis murid, dan menegaskan suasana tertib untuk asesmen sumatif (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif akhir bab serta membacakan tata tertib pengerjaan tes tertulis esai serentak dan mekanisme pemanggilan giliran unjuk kerja lisan di meja guru (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan Lembar Soal Esai Analitis yang memuat 3 butir soal berikut: (Soal 1) Analisislah perbandingan cara pandang Mohammad Yamin, Soepomo, dan Sukarno tentang dasar negara dalam sidang BPUPK; (Soal 2) Analisislah kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan norma fundamental hukum tertinggi (staatsfundamentalnorm) dalam penyelenggaraan negara; (Soal 3) Analisislah fungsi dan kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara yang terbuka dalam menjawab tantangan keterbukaan global (acuan jawaban: Soal 1 membandingkan fokus Yamin pada perikebangsaan/perikemanusiaan/periketuhanan/perikerakyatan/kesejahteraan rakyat, Soepomo pada negara integralistik/persatuan yang mengatasi golongan, Sukarno pada kebangsaan/internasionalisme/mufakat/kesejahteraan/ketuhanan berkebudayaan; Soal 2 menguraikan kedudukan sebagai sumber segala sumber hukum, norma fundamental tertulis dalam Pembukaan UUD 1945, dan landasan konstitusional penyelenggaraan tata kelola negara; Soal 3 menguraikan ideologi terbuka yang menyaring budaya luar, mempertahankan nilai dasar, dan memandu arah kehidupan nasional) (3 menit).
  • Guru memberikan penjelasan teknis mengenai rubrik dan waktu 45 menit untuk pengerjaan esai tertulis serta mekanisme unjuk kerja presentasi lisan analisis fungsi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa berdurasi 1,5 menit per murid di meja guru (acuan lisan: menyebutkan fungsi Pancasila sebagai pedoman moral individu, penuntun interaksi sosial bermasyarakat, dan penyelesai konflik berlandaskan nilai kekeluargaan/gotong royong) (5 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Seluruh murid secara individual dan mandiri mengerjakan tes tertulis esai analitis serentak pada lembar jawaban yang telah disediakan (40 menit).
  • Secara simultan selama 42 menit pengerjaan esai berlangsung, guru memanggil murid secara bergiliran ke meja guru untuk melaksanakan unjuk kerja paparan lisan analisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dengan durasi maksimal 1,5 menit per murid (total 28 murid x 1,5 menit = 42 menit) (22 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru menginstruksikan seluruh murid menghentikan pengerjaan, memeriksa kelengkapan identitas lembar esai, dan mengumpulkan seluruh lembar jawaban tertulis ke meja pengawas (4 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan konfirmasi bahwa seluruh rangkaian penilaian Bab 1 telah selesai serta memberikan apresiasi atas kejujuran dan kemandirian murid (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan sumatif dengan doa bersama dan salam penutup (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Tidak ada modifikasi kompetensi; lembar soal esai dan kriteria unjuk kerja lisan sama untuk seluruh murid.
  • Proses: Akomodasi teknis tata letak meja untuk murid berkebutuhan khusus agar mudah maju ke meja guru tanpa mengganggu konsentrasi murid lain.
  • Produk: Format bukti seragam berupa lembar jawaban esai analitis dan catatan performa presentasi lisan sesuai acuan sumatif.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan teknis dan pemahaman tata tertib asesmen sumatif (memastikan alat tulis lengkap, meja bersih dari buku/catatan, dan memahami urutan giliran lisan).

Proses:

  • Observasi kepatuhan terhadap integritas akademik (mengerjakan mandiri tanpa berdiskusi atau membuka catatan selama tes tertulis berlangsung).
  • Pencatatan langsung ketercapaian poin analisis pada lembar observasi saat murid memaparkan analisis pandangan hidup bangsa secara lisan di meja guru.

Sumatif Bab:

  • Tes tertulis esai analitis dan unjuk kerja presentasi lisan singkat: Lembar jawaban tertulis hasil analisis cara pandang perumus, kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, serta rekaman/catatan performa paparan lisan analisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
  • tes tertulis esai serentak: Lembar jawaban esai analisis tertulis yang membandingkan pokok pikiran perumus dasar negara, menelaah kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, serta menguraikan kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian esai analitis dan pedoman penskoran)
  • unjuk kerja presentasi lisan: Paparan lisan analisis fungsi dan peran Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang dinilai bergiliran selama 1,5 menit per murid di meja guru sementara murid lain menyelesaikan/memeriksa lembar tertulis (45 menit / 1,5 menit = 30 murid, muat satu kelas 28 murid) (45 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi lisan)

Sumatif:

  • Tes tertulis esai analitis dan unjuk kerja presentasi lisan singkat: Lembar jawaban tertulis hasil analisis cara pandang perumus, kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, serta rekaman/catatan performa paparan lisan analisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
  • tes tertulis esai serentak: Lembar jawaban esai analisis tertulis yang membandingkan pokok pikiran perumus dasar negara, menelaah kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, serta menguraikan kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian esai analitis dan pedoman penskoran)
  • unjuk kerja presentasi lisan: Paparan lisan analisis fungsi dan peran Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang dinilai bergiliran selama 1,5 menit per murid di meja guru sementara murid lain menyelesaikan/memeriksa lembar tertulis (45 menit / 1,5 menit = 30 murid, muat satu kelas 28 murid) (45 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi lisan)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Cara Pandang Perumus Dasar Negara (TP 10.1.1)Belum mampu membandingkan cara pandang perumus, hanya menyebut nama tokoh tanpa substansi usulan dasar negara.Menganalisis cara pandang 1 tokoh secara tepat dari 3 tokoh perumus (acuan: Mohammad Yamin, Soepomo, atau Sukarno).Menganalisis dan membandingkan cara pandang 2 tokoh secara tepat dari 3 tokoh perumus (acuan: Mohammad Yamin, Soepomo, Sukarno).Menganalisis dan membandingkan secara mendalam serta tepat cara pandang ketiga tokoh perumus (Mohammad Yamin, Soepomo, dan Sukarno) mengenai dasar negara.
Analisis Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara (TP 10.1.2)Belum mampu menguraikan makna Pancasila sebagai dasar negara dalam penyelenggaraan ketatanegaraan.Menganalisis makna Pancasila sebagai dasar negara hanya sebatas pengertian harfiah tanpa mengaitkan dengan norma hukum.Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan sumber dari segala sumber hukum negara secara tepat.Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, norma fundamental ketatanegaraan (staatsfundamentalnorm), dan landasan seluruh penyelenggaraan negara secara tepat dan komprehensif.
Analisis Kedudukan Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa (TP 10.1.3 - Unjuk Kerja Lisan)Paparan lisan belum memuat analisis kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dalam kehidupan bermasyarakat.Paparan lisan memuat 1 fungsi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (acuan: pedoman moral individu, penuntun interaksi sosial, atau penyelesai konflik kemasyarakatan).Paparan lisan memuat 2 fungsi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa secara tepat dan runut.Paparan lisan memuat 3 fungsi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (pedoman moral individu, penuntun interaksi sosial bermasyarakat, dan penyelesai konflik berbasis musyawarah/gotong royong) secara tepat dan mandiri.
Analisis Kedudukan Pancasila sebagai Ideologi Negara (TP 10.1.4)Belum mampu menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara.Menganalisis ideologi negara sebatas definisi umum tanpa mengaitkan dengan karakteristik nilai Pancasila.Menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi terbuka yang memandu kehidupan nasional namun belum menguraikan respons terhadap tantangan global secara utuh.Menganalisis secara utuh kedudukan Pancasila sebagai ideologi terbuka yang mampu menyaring pengaruh eksternal dan menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pengelolaan waktu gabungan antara tes tertulis serentak (40 menit) dan unjuk kerja lisan bergantian (42 menit) berjalan tertib tanpa kendala kebisingan?
  • Apakah rubrik penilaian yang digunakan mampu membedakan tingkat penguasaan murid pada keempat TP Bab 1 secara objektif?

Murid:

  • Bagian mana dari pemahaman mengenai Pancasila (dasar negara, pandangan hidup, atau ideologi) yang paling saya kuasai dan paling menantang saat asesmen tadi?
  • Bagaimana kesiapan dan kemandirian saya dalam mengerjakan tes esai serta menyampaikan analisis secara lisan hari ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2023)
  2. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMA/SMK/MA/MAK Kelas X (Pusat Perbukuan, 2023)
  3. Teks Risalah Sidang BPUPK (Kutipan Pidato Mohammad Yamin 29 Mei 1945 dan Pidato Soepomo 31 Mei 1945)
  4. Kartu Aktivitas Kutipan Analisis Tokoh
  5. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023)
  6. Buku Teks Siswa Pendidikan Pancasila Kelas X (Kemendikbudristek 2023, Bab 1)
  7. Risalah Sidang BPUPK (Naskah Otentik Pidato Sukarno 1 Juni 1945)
  8. Lembar Kerja Murid (LKPD) Analisis Komparasi Pemikiran Pendiri Bangsa
  9. Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Kemendikbudristek RI, 2023, Bab 1)
  10. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Kemendikbudristek RI, 2023)
  11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 13 Tahun 2022 (Pasal 2 tentang Pancasila sebagai Sumber Segala Sumber Hukum Negara)
  12. Lembar Kerja Kasus Pengujian Peraturan Perundang-undangan
  13. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Kemendikbudristek, 2023).
  14. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMA/SMK/MA/MAK Kelas X (Kemendikbudristek, 2023) Bab 1.
  15. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Pembukaan dan Pasal-Pasal terkait Penyelenggaraan Negara).
  16. Lembar Analisis Dasar Negara (2 studi kasus kebijakan publik).
  17. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMA/SMK/MA/MAK Kelas X (Penerbit Kemendikbudristek 2023)
  18. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila Kelas X (Kemendikbudristek 2023)
  19. Lembar Kerja Studi Kasus Analisis Pandangan Hidup Bangsa
  20. Buku Guru Pendidikan Pancasila SMA/SMK Kelas X (Kemendikbudristek, 2023)
  21. Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMA/SMK Kelas X Bab 1 (Kemendikbudristek, 2023)
  22. Lembar Kerja Analisis Dimensi Ideologi Pancasila
  23. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMA/SMK/MA/MAK Kelas X (Penerbit Kemendikbudristek 2023)
  24. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMA/SMK/MA/MAK Kelas X Bab 1 (Penerbit Kemendikbudristek 2023)
  25. Lembar Kerja Analisis Kasus Ideologi dan Tantangan Zaman
  26. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Kemendikbudristek, 2023)
  27. Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Kemendikbudristek, 2023)
  28. Lembar Soal Asesmen Sumatif Esai Tertulis
  29. Lembar Observasi/Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Lisan

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.