Modul AjarPertemuan 2Bab 5Fase CSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas 6: Yesus Mengorbankan Diri untuk Menyelamatkan Manusia (Matius 27:32–56)

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti kelas 6 dengan topik "Yesus Mengorbankan Diri untuk Menyelamatkan Manusia (Matius 27:32–56)". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas 6: Yesus Mengorbankan Diri untuk Menyelamatkan Manusia (Matius 27:32–56)

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti - Kelas 6

Bab 5 - Pertemuan 2

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Yesus Mengorbankan Diri untuk Menyelamatkan Manusia (Matius 27:32–56)

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikYesus Mengorbankan Diri untuk Menyelamatkan Manusia (Matius 27:32–56)
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat menceritakan secara singkat kisah pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib berdasarkan Matius 27:32–56 sebagai wujud karya keselamatan Allah bagi manusia.
  2. Murid dapat menjelaskan peran tokoh-tokoh dalam kisah penyaliban Yesus (antara lain Simon dari Kirene, Maria Magdalena) dan maknanya bagi iman Kristen.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kamu melakukan sesuatu yang menyakitkan demi menolong orang lain? Apa yang kamu rasakan?
  2. Jika kamu ada di dekat Yesus saat Ia memikul salib menuju Golgota, apa yang kira-kira kamu lakukan?
  3. Mengapa seseorang rela berkorban sangat besar demi orang lain yang bahkan tidak mengenal atau bahkan menyakitinya?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan doa bersama, mengajak murid hening sejenak (dua tarikan napas dalam) untuk mempersiapkan hati dan pikiran menyambut pelajaran hari ini.
  • Guru melakukan asesmen awal secara lisan: mengajukan pertanyaan diagnostik singkat kepada beberapa murid — 'Apa yang kalian ketahui tentang penyaliban Yesus? Siapa saja yang hadir di sana?' — untuk memetakan pengetahuan awal murid.
  • Guru menayangkan atau menggambar sederhana di papan tulis: gambaran jalan salib menuju Golgota, lalu mengajukan pertanyaan pemantik satu per satu untuk memancing rasa ingin tahu murid.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini dengan bahasa yang ramah: 'Hari ini kita akan membaca kisah pengorbanan Yesus di Matius 27:32–56, mengenal siapa saja yang ada di sana, dan memahami apa artinya bagi kita sebagai orang percaya.'
  • Guru membagi murid ke dalam empat kelompok kecil (5–6 orang per kelompok) dan menjelaskan mekanisme kerja kelompok yang akan dilakukan pada kegiatan inti.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru meminta tiap kelompok membuka Alkitab dan membaca teks yang ditugaskan: Kelompok 1 dan 2 membaca Matius 27:32–44, Kelompok 3 dan 4 membaca Matius 27:45–56. Setiap murid membaca dalam hati terlebih dahulu selama ±3 menit.
  • Guru memandu murid dengan pertanyaan panduan tertulis di papan: (a) Apa yang terjadi dalam teks ini? (b) Siapa saja tokoh yang disebutkan dan apa perannya? (c) Kata atau kalimat mana yang paling membuatmu terkesan? Murid mendiskusikan pertanyaan ini dalam kelompok selama ±8 menit.
  • Guru berkeliling memantau diskusi kelompok, memberikan pertanyaan lanjutan jika kelompok tampak kesulitan, misalnya: 'Mengapa Simon dari Kirene diminta memikul salib Yesus? Apa artinya itu?' atau 'Siapa yang tetap setia berada di dekat Yesus saat Ia disalib?'
  • Setiap kelompok menuliskan poin-poin utama hasil diskusi (tokoh, peran, dan makna singkat) di selembar kertas atau di buku tulis masing-masing sebagai catatan belajar.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Setiap kelompok mendapat giliran mempresentasikan hasil diskusinya kepada kelas: menceritakan secara singkat isi teks Alkitab yang mereka baca dan menjelaskan peran tokoh-tokoh di dalamnya. Alokasi waktu per kelompok: ±3 menit.
  • Guru memfasilitasi sesi tanya-jawab singkat antar-kelompok setelah tiap presentasi, mendorong murid mengaitkan teks yang dibaca kelompok lain dengan teks yang mereka baca sendiri — sehingga terbentuk gambaran utuh kisah penyaliban Yesus dari ayat 32 hingga 56.
  • Guru memberikan penguatan naratif singkat (±3 menit): menjelaskan kondisi fisik Yesus yang sudah sangat lemah sebelum memikul salib, mengapa Simon dari Kirene diperintahkan membantu, siapa Maria Magdalena, dan apa makna teologis dari kegelapan, robek tirainya Bait Allah, serta kesaksian kepala pasukan di ayat 54.
  • Murid secara individu mengisi lembar kerja singkat: menuliskan nama minimal dua tokoh dari Matius 27:32–56, menjelaskan peran masing-masing dalam satu kalimat, dan menuliskan satu kalimat makna pengorbanan Yesus bagi diri mereka sendiri.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid kembali hening sejenak, lalu mengajukan pertanyaan refleksi lisan secara bergantian: 'Dari seluruh kisah yang kita pelajari hari ini, bagian mana yang paling menyentuh hatimu? Mengapa?'
  • Beberapa murid sukarela berbagi jawaban refleksinya kepada kelas; guru merespons dengan hangat tanpa menghakimi jawaban apapun.
  • Murid menuliskan satu kalimat doa atau ungkapan syukur pribadi di buku tulis mereka sebagai respons iman terhadap pengorbanan Yesus — ini bersifat pribadi dan tidak harus dibacakan.
  • Guru mengaitkan refleksi murid dengan makna iman Kristen: bahwa karya keselamatan Yesus di kayu salib adalah bukti kasih Allah yang nyata dan personal bagi setiap orang, termasuk murid-murid di kelas ini.

Penutup:

  • Guru mengajak murid menyimpulkan pembelajaran bersama: 'Apa yang kita pelajari hari ini tentang pengorbanan Yesus dan tokoh-tokoh dalam kisah penyaliban-Nya?'
  • Guru memberikan asesmen akhir lisan singkat: memanggil 2–3 murid secara acak untuk menceritakan ulang kisah Matius 27:32–56 dalam 3–4 kalimat dan menyebut satu peran tokoh yang diingat.
  • Guru menginformasikan tindak lanjut: murid diminta membaca kembali Matius 27:32–56 di rumah dan memikirkan satu cara sederhana mereka dapat 'berkorban' untuk menolong orang lain di sekitar mereka — akan dibahas pada pertemuan berikutnya.
  • Kelas ditutup dengan nyanyian syukur bersama (guru memilih lagu pujian yang sesuai tema keselamatan) dan doa penutup.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang kesulitan membaca teks Alkitab secara mandiri dapat menggunakan versi Alkitab anak atau ringkasan kisah penyaliban yang disiapkan guru dalam bahasa yang lebih sederhana. Murid yang sudah cepat memahami dapat membaca tambahan catatan konteks historis tentang hukuman salib di zaman Romawi yang disediakan guru.
  • Proses: Murid yang lambat memproses informasi dipasangkan dengan teman sebaya yang lebih cepat dalam kelompok (peer support), dan guru memberikan pertanyaan panduan yang lebih terstruktur. Murid yang cepat dapat ditantang untuk membandingkan sikap berbagai tokoh dalam kisah (misalnya: kepala pasukan vs. orang-orang yang mengejek) dan menganalisis apa yang membedakan respons mereka.
  • Produk: Murid yang lebih ekspresif secara visual dapat menggambar peta sederhana 'peta tokoh' yang menunjukkan posisi dan peran tiap tokoh dalam kisah penyaliban, sebagai alternatif lembar kerja tertulis. Murid yang lebih verbal dapat menceritakan ulang kisah secara lisan kepada guru atau kelompok kecil sebagai pengganti tulisan.

ASESMEN

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik di pendahuluan: 'Apa yang kalian sudah ketahui tentang penyaliban Yesus? Siapa saja yang ada di sana?' — guru mendengarkan jawaban murid untuk memetakan pengetahuan awal dan menyesuaikan kedalaman penjelasan selama pembelajaran.

Proses:

  • Observasi aktif saat diskusi kelompok: guru mencatat murid yang aktif, pasif, atau salah konsep untuk ditindaklanjuti saat penguatan.
  • Lembar kerja individu pada tahap Mengaplikasi: guru membaca sekilas lembar kerja murid sebelum sesi refleksi untuk memastikan pemahaman dasar sudah terbentuk.
  • Pertanyaan lanjutan saat presentasi kelompok: digunakan untuk mengecek apakah murid benar-benar memahami atau sekadar menghafal.

Akhir:

  • Asesmen lisan: 2–3 murid acak diminta menceritakan ulang kisah Matius 27:32–56 dalam 3–4 kalimat dan menjelaskan peran satu tokoh.
  • Pengumpulan lembar kerja individu sebagai dokumentasi pencapaian TP: guru menilai menggunakan rubrik 4 level berdasarkan kelengkapan dan ketepatan isi.

Formatif:

  • Observasi diskusi kelompok: guru memantau keaktifan, ketepatan pemahaman teks, dan kemampuan murid menjelaskan peran tokoh selama diskusi.
  • Lembar kerja individu (tahap Mengaplikasi): murid menuliskan nama tokoh, peran, dan makna pengorbanan Yesus — guru memeriksa kelengkapan dan ketepatan isi.
  • Pertanyaan lisan selama presentasi kelompok: guru mengajukan pertanyaan lanjutan untuk mengecek kedalaman pemahaman murid secara real-time.

Sumatif:

  • Asesmen lisan di penutup: murid secara acak diminta menceritakan ulang kisah Matius 27:32–56 secara singkat dan menyebut peran minimal satu tokoh.
  • Lembar kerja individu yang dikumpulkan sebagai bukti pencapaian TP [6.5.2.1] dan [6.5.2.2].

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan kisah pengorbanan Yesus (Matius 27:32–56) [TP 6.5.2.1]Murid tidak dapat menceritakan kisah pengorbanan Yesus, atau cerita yang disampaikan tidak berkaitan dengan Matius 27:32–56.Murid dapat menyebutkan satu atau dua fakta dari kisah penyaliban, namun cerita tidak runtut dan belum menunjukkan pemahaman bahwa ini adalah karya keselamatan Allah.Murid dapat menceritakan kisah pengorbanan Yesus secara singkat dan cukup runtut berdasarkan Matius 27:32–56, serta menyebutkan bahwa ini adalah karya keselamatan Allah bagi manusia.Murid dapat menceritakan kisah pengorbanan Yesus secara singkat, runtut, dan jelas berdasarkan Matius 27:32–56, menghubungkannya secara eksplisit sebagai karya keselamatan Allah, dan mampu menyampaikannya dengan kata-kata sendiri yang bermakna.
Menjelaskan peran tokoh-tokoh dalam kisah penyaliban [TP 6.5.2.2]Murid tidak dapat menyebut atau menjelaskan peran tokoh manapun dalam kisah penyaliban Yesus.Murid dapat menyebut nama satu tokoh (misalnya Simon dari Kirene atau Maria Magdalena) tetapi belum dapat menjelaskan perannya atau maknanya bagi iman Kristen.Murid dapat menyebut nama minimal dua tokoh dan menjelaskan peran masing-masing dengan cukup tepat, serta menyebutkan salah satu makna tokoh tersebut bagi iman Kristen.Murid dapat menyebut minimal dua tokoh, menjelaskan peran masing-masing dengan tepat dan detail, serta mengaitkan peran tokoh-tokoh itu dengan makna iman Kristen secara reflektif dan personal.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid mendapat kesempatan yang cukup untuk memahami dan mendiskusikan teks Matius 27:32–56? Adakah bagian yang perlu saya perjelas di pertemuan berikutnya?
  • Apakah pembagian kelompok dan mekanisme presentasi berjalan efektif? Adakah murid yang tampak tidak terlibat aktif, dan apa yang bisa saya lakukan berbeda?
  • Apakah pertanyaan pemantik berhasil memancing rasa ingin tahu murid? Pertanyaan mana yang paling memantik respons, dan mana yang perlu diperbaiki?
  • Apakah murid menunjukkan respons iman yang tulus (bukan sekadar kognitif) dalam sesi refleksi? Bagaimana saya dapat mendorong dimensi spiritual ini lebih dalam pada pertemuan berikutnya?

Refleksi Murid:

  • Apa satu hal baru yang kamu pelajari hari ini tentang kisah pengorbanan Yesus yang belum kamu ketahui sebelumnya?
  • Dari tokoh-tokoh yang ada dalam Matius 27:32–56, siapa yang paling berkesan bagimu dan mengapa?
  • Apa yang kamu rasakan ketika membaca atau mendengar kisah Yesus disalibkan hari ini?
  • Apa yang ingin kamu lakukan setelah mengetahui betapa besar pengorbanan Yesus untukmu?

SUMBER BELAJAR

  1. Alkitab (Matius 27:32–56) — setiap murid membawa Alkitab masing-masing atau disediakan sekolah
  2. Buku Siswa Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Penulis: Novy Amelia Elisabeth Sine, Kemdikbudristek 2022 (Pelajaran 5, hlm. 60–67)
  3. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemdikbudristek 2022 (Bab 5, hlm. 98–104)
  4. Lembar kerja individu buatan guru: tabel tokoh, peran, dan makna (disiapkan dan dicetak/ditulis sebelum kelas)
  5. Papan tulis dan spidol/kapur untuk mencatat poin diskusi dan pertanyaan panduan
  6. Lagu pujian bertema keselamatan/pengorbanan Kristus (misalnya: 'Sungguh Kasih-Mu Indah', 'Di Atas Bukit Golgota', atau lagu paduan suara anak yang sesuai)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.