Modul AjarPertemuan 3Bab 6Fase BSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas 4: Hidup Rukun dalam Keberagaman dan Masyarakat

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti kelas 4 dengan topik "Hidup Rukun dalam Keberagaman dan Masyarakat". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas 4: Hidup Rukun dalam Keberagaman dan Masyarakat

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti - Kelas 4

Bab 6 - Pertemuan 3

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Hidup Rukun dalam Keberagaman dan Masyarakat

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikHidup Rukun dalam Keberagaman dan Masyarakat
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat menjelaskan pentingnya menjaga kerukunan dengan teman yang berbeda suku, budaya, dan agama sebagai wujud syukur atas anugerah Allah.
  2. Murid dapat membuat karya kreatif sederhana (poster, puisi, atau slogan) yang berisi tekad untuk memelihara hidup rukun di lingkungan masyarakat.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian berteman dengan seseorang yang berbeda suku, budaya, atau agama? Bagaimana perasaan kalian?
  2. Mengapa menurut kalian Allah menciptakan manusia dengan suku, budaya, dan agama yang berbeda-beda?
  3. Apa yang akan terjadi jika semua orang di sekitar kita tidak mau hidup rukun satu sama lain?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru mengucapkan salam dan mengajak murid berdoa bersama sebagai pembuka pembelajaran.
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik: murid diminta menyebutkan satu kata yang terlintas saat mendengar kata 'rukun' (teknik word association lisan, ± 3 menit).
  • Guru menampilkan gambar atau foto keberagaman suku dan budaya di Indonesia, lalu mengajukan pertanyaan pemantik secara lisan untuk memancing rasa ingin tahu murid.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini secara singkat: murid akan belajar mengapa hidup rukun dalam keberagaman itu penting dan akan membuat karya kreatif sebagai wujud tekad mereka.
  • Guru mengaitkan pelajaran ini dengan pelajaran sebelumnya tentang mengasihi: 'Hidup rukun adalah salah satu cara kita mengasihi Tuhan dan sesama.'

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membacakan Mazmur 133:1 bersama murid: 'Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.' Murid diminta menutup mata sejenak dan membayangkan suasana rukun yang pernah mereka rasakan (berkesadaran).
  • Guru menjelaskan secara singkat bahwa keberagaman suku, budaya, dan agama di Indonesia adalah anugerah Allah yang patut disyukuri, bukan sumber perpecahan.
  • Murid secara berpasangan mendiskusikan pertanyaan: 'Sebutkan 2 contoh tindakan hidup rukun dengan teman yang berbeda suku, budaya, atau agama yang pernah kamu lakukan atau lihat.' Setiap pasangan berbagi ke kelas (bermakna).
  • Guru merangkum hasil diskusi di papan tulis dalam bentuk peta pikiran sederhana: di tengah ditulis 'HIDUP RUKUN', lalu cabang-cabangnya diisi dengan ide-ide dari murid (di rumah, di sekolah, di masyarakat).
  • Guru menegaskan bahwa menjaga kerukunan dengan sesama yang berbeda adalah bentuk syukur kepada Allah atas anugerah keberagaman yang Ia berikan.

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru menjelaskan tugas membuat karya kreatif: setiap murid bebas memilih bentuk karya — poster sederhana, puisi pendek (4–6 baris), atau slogan (1–2 kalimat) yang berisi tekad mereka untuk memelihara hidup rukun di lingkungan masyarakat (menggembirakan).
  • Guru menampilkan contoh masing-masing karya (poster mini, puisi, dan slogan) sebagai referensi agar murid mendapat gambaran yang jelas sebelum mulai berkarya.
  • Murid diberikan waktu ± 15 menit untuk membuat karya kreatif secara mandiri menggunakan kertas dan alat warna yang telah disiapkan. Guru berkeliling memberi semangat dan bimbingan ringan.
  • Setelah selesai, murid diminta menuliskan satu kalimat di balik karyanya: 'Saya membuat karya ini karena...' untuk memaknai pilihan mereka (bermakna).
  • Beberapa murid (3–4 orang sukarela) mempresentasikan karyanya di depan kelas dengan menyebutkan judul dan makna karya mereka secara singkat.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memandu refleksi singkat dengan teknik 'Dua Bintang Satu Harapan': murid menuliskan di selembar kertas kecil dua hal yang mereka pelajari hari ini (bintang) dan satu hal yang ingin mereka lakukan nyata di rumah atau sekolah untuk hidup rukun (harapan).
  • Murid diminta membaca ulang karyanya dan bertanya pada diri sendiri: 'Apakah tekad yang aku tulis ini bisa benar-benar aku lakukan mulai hari ini?' Guru memberi waktu hening ± 1 menit untuk murid merenung (berkesadaran).
  • Guru mengajak murid untuk berdoa bersama: mengucap syukur atas keberagaman yang Allah berikan dan memohon kekuatan untuk hidup rukun di tengah perbedaan.
  • Kertas refleksi dikumpulkan oleh guru sebagai bahan asesmen proses dan umpan balik.

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pelajaran: keberagaman adalah anugerah Allah, dan hidup rukun adalah wujud syukur kita kepada-Nya.
  • Guru memberikan asesmen akhir singkat: murid menjawab 2 pertanyaan tertulis di lembar kerja — (1) Mengapa kita perlu menjaga kerukunan dengan teman yang berbeda suku, budaya, dan agama? (2) Tuliskan satu tekad nyata yang akan kamu lakukan untuk memelihara hidup rukun di lingkunganmu.
  • Karya kreatif murid dikumpulkan untuk dipajang di dinding kelas sebagai pengingat komitmen bersama.
  • Guru menyampaikan pesan penutup yang menyemangati: 'Kalian sudah luar biasa hari ini! Ingat, setiap kali kalian memilih rukun di tengah perbedaan, kalian sedang bersyukur kepada Allah.'
  • Pembelajaran ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu murid.

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang belum memahami konsep keberagaman, guru menyediakan gambar-gambar visual (foto suku, pakaian adat, rumah ibadah) sebagai konkretisasi. Untuk murid yang sudah memahami, guru memberikan pertanyaan lanjutan: 'Apa tantangan terbesar dalam menjaga kerukunan dan bagaimana cara mengatasinya?'
  • Proses: Murid yang membutuhkan lebih banyak dukungan diperbolehkan mendiskusikan ide karyanya terlebih dahulu dengan teman atau guru sebelum mulai berkarya. Murid yang lebih cepat menyelesaikan karya dapat menambahkan gambar dekorasi atau membuat versi kedua dengan bentuk karya berbeda.
  • Produk: Murid bebas memilih bentuk karya kreatif (poster, puisi, atau slogan) sesuai minat dan kemampuannya. Murid yang kesulitan menulis dapat menyampaikan tekadnya secara lisan kepada guru, lalu guru membantu menuliskannya.

ASESMEN

Awal:

  • Teknik word association lisan di awal pendahuluan: murid menyebutkan satu kata yang terlintas saat mendengar kata 'rukun' — guru mencatat respons untuk mengetahui pemahaman awal murid tentang konsep kerukunan.
  • Pertanyaan pemantik lisan: guru mengamati sejauh mana murid sudah memiliki pengalaman nyata berinteraksi dengan teman yang berbeda latar belakang.

Proses:

  • Observasi diskusi berpasangan (tahap Memahami): guru berkeliling mengamati dan mencatat murid yang aktif memberikan contoh serta murid yang membutuhkan bimbingan.
  • Pengamatan selama proses pembuatan karya (tahap Mengaplikasi): guru menilai kesesuaian isi karya dengan tema hidup rukun dan kreativitas murid.
  • Kertas refleksi 'Dua Bintang Satu Harapan' (tahap Merefleksi): guru membaca dan memberikan umpan balik tertulis untuk mendorong perkembangan lebih lanjut.

Akhir:

  • Lembar kerja tertulis (2 pertanyaan): murid menjelaskan alasan pentingnya kerukunan dan menuliskan satu tekad nyata — dinilai berdasarkan kelengkapan dan kedalaman jawaban.
  • Karya kreatif (poster, puisi, atau slogan): dinilai menggunakan rubrik 4 level berdasarkan aspek kesesuaian isi, kreativitas, dan kejelasan pesan.

Formatif:

  • Observasi diskusi berpasangan: guru mengamati keterlibatan murid dalam berbagi contoh hidup rukun.
  • Kertas refleksi 'Dua Bintang Satu Harapan': guru membaca dan memberikan umpan balik tertulis singkat.
  • Presentasi karya kreatif: guru menilai kemampuan murid menjelaskan makna karyanya secara lisan.

Sumatif:

  • Lembar kerja akhir dengan 2 pertanyaan tertulis tentang pentingnya kerukunan dan tekad nyata murid.
  • Karya kreatif (poster, puisi, atau slogan) dinilai menggunakan rubrik 4 level.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan pentingnya kerukunan dalam keberagaman (TP 4.6.3.1)Murid belum dapat menjelaskan pentingnya kerukunan, atau jawaban tidak berkaitan dengan keberagaman suku, budaya, dan agama.Murid dapat menyebutkan pentingnya kerukunan secara umum, namun belum mengaitkannya dengan keberagaman atau anugerah Allah.Murid dapat menjelaskan pentingnya menjaga kerukunan dengan teman yang berbeda suku, budaya, atau agama, dan menyebutkan bahwa keberagaman adalah anugerah Allah.Murid dapat menjelaskan secara rinci pentingnya kerukunan dalam keberagaman, mengaitkannya dengan anugerah Allah, dan memberikan contoh konkret tindakan nyata yang dapat dilakukan.
Kesesuaian isi karya kreatif dengan tema hidup rukun (TP 4.6.3.2)Karya tidak berkaitan dengan tema hidup rukun atau tidak mengandung pesan tekad untuk memelihara kerukunan.Karya memuat kata-kata yang berhubungan dengan kerukunan, namun pesan tekad belum jelas atau kurang spesifik.Karya memuat pesan yang jelas tentang tekad memelihara hidup rukun di lingkungan masyarakat.Karya memuat pesan tekad yang kuat, spesifik, dan inspiratif tentang memelihara hidup rukun dalam keberagaman, disertai ungkapan syukur kepada Allah.
Kreativitas dan ekspresi dalam karya (TP 4.6.3.2)Karya terlihat dikerjakan asal-asalan, tidak ada usaha untuk memperindah atau mengekspresikan ide secara personal.Karya menunjukkan usaha minimal dalam kreativitas; ide dan tampilan masih sangat sederhana.Karya menunjukkan kreativitas yang cukup, dengan pilihan kata atau visual yang menarik dan sesuai usia.Karya sangat kreatif dan orisinal, menunjukkan ekspresi personal yang kuat, pilihan kata atau visual yang menarik, dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Partisipasi dan kolaborasi selama pembelajaranMurid tidak aktif dalam diskusi dan tidak menunjukkan keterlibatan selama kegiatan pembelajaran.Murid sesekali terlibat dalam diskusi atau kegiatan, namun kontribusinya masih sangat terbatas.Murid aktif berpartisipasi dalam diskusi berpasangan dan kegiatan kelas, serta menghargai pendapat teman.Murid sangat aktif, memberikan kontribusi bermakna dalam diskusi, menghargai pendapat teman, dan mendorong teman lain untuk turut berpartisipasi.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid berhasil memahami pentingnya kerukunan dalam keberagaman? Murid mana yang masih membutuhkan pendampingan lebih?
  • Apakah pertanyaan pemantik yang saya gunakan berhasil memancing rasa ingin tahu dan keterlibatan murid?
  • Apakah waktu yang dialokasikan untuk pembuatan karya kreatif sudah cukup? Apa yang perlu saya sesuaikan untuk pertemuan berikutnya?
  • Apakah strategi diferensiasi yang saya terapkan sudah menjangkau murid dengan kebutuhan yang berbeda-beda?
  • Nilai dan pesan apa yang paling menonjol muncul dari karya-karya murid, dan bagaimana saya bisa menindaklanjutinya?

Refleksi Murid:

  • Apa hal paling penting yang aku pelajari hari ini tentang hidup rukun dalam keberagaman?
  • Mengapa Allah menciptakan kita berbeda-beda suku, budaya, dan agama? Apa artinya itu bagiku?
  • Apa satu tindakan nyata yang akan aku lakukan mulai besok untuk memelihara hidup rukun di sekitarku?
  • Bagaimana perasaanku saat membuat karya kreatif tadi? Apa makna karya itu untukku secara pribadi?

SUMBER BELAJAR

  1. Alkitab: Mazmur 133 dan Kejadian 26:12–35
  2. Buku Siswa Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas IV (Penulis: Norita Yudiet Tompah dan Novy Amelia Elisabeth Sine, Kemendikbudristek 2021, ISBN 978-602-244-442-8)
  3. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas IV (Penulis: Norita Yudiet Tompah dan Novy Amelia Elisabeth Sine, Kemendikbudristek 2021, ISBN 978-602-244-444-2)
  4. Gambar atau foto keberagaman suku, budaya, dan agama di Indonesia (dapat diambil dari internet atau majalah)
  5. Contoh poster, puisi, dan slogan bertema kerukunan (dibuat atau dicetak oleh guru sebagai referensi murid)
  6. Kertas HVS atau karton ukuran A4 untuk membuat karya kreatif
  7. Alat warna (pensil warna, krayon, atau spidol)
  8. Papan tulis dan spidol/kapur untuk membuat peta pikiran bersama
  9. Kertas kecil (sticky note atau potongan kertas) untuk kegiatan refleksi 'Dua Bintang Satu Harapan'
  10. Lembar kerja asesmen akhir (disiapkan oleh guru)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.