Modul AjarPertemuan 1Bab 5Fase BSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas 4: Makna Mengasihi Sesama Seperti Diri Sendiri

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti kelas 4 dengan topik "Makna Mengasihi Sesama Seperti Diri Sendiri". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Kelas 4: Makna Mengasihi Sesama Seperti Diri Sendiri

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti - Kelas 4

Bab 5 - Pertemuan 1

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Makna Mengasihi Sesama Seperti Diri Sendiri

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikMakna Mengasihi Sesama Seperti Diri Sendiri
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Melalui lagu 'Kasih Pasti Lemah Lembut' dan tanya jawab, murid dapat menjelaskan arti mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri berdasarkan perintah Yesus dalam Matius 22:39 dengan kalimat sendiri.
  2. Melalui diskusi kelas, murid dapat membedakan tindakan kasih yang tulus dengan tindakan kasih yang pura-pura dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di sekolah.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kamu merasa tidak diperlakukan dengan baik oleh teman? Bagaimana perasaanmu saat itu?
  2. Jika kamu ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain, apa yang seharusnya kamu lakukan terlebih dahulu?
  3. Menurutmu, apa bedanya antara orang yang mengasihi dengan tulus dan orang yang berpura-pura mengasihi?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan doa pembuka dan salam. Guru mengajak murid berdoa singkat: 'Tuhan, buka hati kami agar kami dapat belajar tentang kasih hari ini.'
  • Guru melakukan presensi dan memastikan murid siap belajar.
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik: murid diminta menjawab pertanyaan lisan singkat, 'Siapa itu sesama kita? Sebutkan satu contoh tindakan mengasihi yang pernah kamu lakukan!' Guru mencatat respons untuk memetakan pemahaman awal.
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik pertama dan kedua untuk memancing rasa ingin tahu murid.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini secara singkat dan jelas: 'Hari ini kita akan belajar apa artinya mengasihi sesama seperti diri sendiri berdasarkan Matius 22:39, dan kita akan belajar membedakan kasih yang tulus dengan kasih yang pura-pura.'

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Guru mengajak seluruh kelas menyanyikan lagu 'Kasih Pasti Lemah Lembut' bersama-sama. Murid diajak menyanyikan dengan penuh penghayatan dan merenungkan setiap kata dalam lagu. (Menggembirakan)
  • Setelah menyanyi, guru memimpin kegiatan tanya jawab: 'Pesan apa yang kalian tangkap dari lagu tadi? Kata-kata mana yang paling berkesan bagimu dan mengapa?' Guru memberi waktu bagi beberapa murid untuk menjawab secara sukarela. (Berkesadaran)
  • Guru membacakan teks Matius 22:39 dengan lantang, lalu meminta satu murid untuk membacakannya kembali. Guru bertanya: 'Apa perintah Yesus dalam ayat ini?' dan mencatat jawaban murid di papan tulis.
  • Guru menjelaskan secara singkat dan ramah arti 'mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri': bahwa ini bukan hukum balas, tetapi perintah untuk tidak membenci, tidak dendam, mau memaafkan, dan mau memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. Guru menggunakan contoh konkret dari kehidupan sehari-hari siswa kelas 4. (Bermakna)
  • Guru mengajak murid membuat catatan kunci di buku tulis: 'Tuliskan dengan kalimatmu sendiri — apa artinya mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri?' Beri waktu 3–4 menit.

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memperkenalkan kegiatan diskusi kelas. Guru menyajikan 4 skenario singkat (dituliskan di papan tulis atau kartu cerita) yang menggambarkan situasi nyata di rumah dan di sekolah, contoh: (a) Rina meminjamkan pensil kepada Dina karena ingin dipuji guru; (b) Budi membantu teman yang jatuh dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan; (c) Sari mengajak bermain teman barunya meskipun terasa canggung; (d) Doni berpura-pura peduli kepada temannya agar dilihat orang. (Bermakna)
  • Murid secara berkelompok kecil (3–4 orang) mendiskusikan: 'Manakah contoh kasih yang tulus dan mana yang pura-pura? Apa ciri-ciri yang membedakannya?' Guru berkeliling memantau jalannya diskusi dan memberi umpan balik singkat ke tiap kelompok. (Berkesadaran)
  • Setelah diskusi kelompok (5–7 menit), perwakilan tiap kelompok menyampaikan hasilnya kepada kelas. Guru memfasilitasi agar ada perbandingan pendapat antar kelompok.
  • Guru memandu murid menyimpulkan bersama: ciri-ciri kasih yang tulus (ikhlas, tidak mengharapkan balasan, dilakukan karena perintah Yesus) vs. kasih yang pura-pura (ada maksud tersembunyi, berubah-ubah, bergantung siapa yang melihat). Guru mengaitkan kembali dengan Matius 22:39.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid kembali ke lagu 'Kasih Pasti Lemah Lembut' — guru bertanya: 'Setelah kita berdiskusi tadi, apakah makna lagu itu terasa lebih dalam bagimu sekarang? Mengapa?' Beberapa murid berbagi secara sukarela. (Berkesadaran)
  • Guru meminta murid menulis refleksi pribadi singkat di buku tulis (3–4 kalimat): 'Satu tindakan kasih tulus apa yang sudah pernah aku lakukan? Satu tindakan kasih tulus apa yang ingin aku lakukan minggu ini — di rumah atau di sekolah?' (Bermakna)
  • Guru menutup tahap inti dengan mengajak 2–3 murid membacakan refleksinya secara sukarela. Guru merespons dengan apresiasi yang tulus dan memotivasi seluruh kelas untuk mempraktikkan kasih yang tulus.

Penutup:

  • Guru bersama murid membuat rangkuman pembelajaran: 'Hari ini kita belajar bahwa mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah perintah Yesus (Matius 22:39), artinya memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan — dengan tulus, tanpa pamrih.'
  • Guru memberikan asesmen akhir: murid mengerjakan 2 soal tertulis singkat di buku tulis — (1) Tuliskan dengan kalimatmu sendiri arti mengasihi sesama seperti diri sendiri; (2) Tuliskan satu perbedaan antara kasih yang tulus dan kasih yang pura-pura, lalu berikan contohnya.
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap proses diskusi yang tadi berlangsung.
  • Guru menyampaikan pesan penutup yang menggembirakan dan menguatkan: 'Kalian semua sudah menunjukkan kasih hari ini dengan berdiskusi dengan baik. Teruslah praktikkan kasih yang tulus setiap hari!'
  • Kelas ditutup dengan doa syukur yang dipimpin oleh seorang murid secara sukarela.

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang membutuhkan dukungan lebih, guru menyediakan kartu bergambar yang mengilustrasikan skenario kasih tulus vs. pura-pura sehingga lebih mudah dipahami secara visual. Untuk murid yang lebih cepat, guru menyediakan ayat Alkitab tambahan (Yohanes 15:12 atau 1 Yohanes 3:14) untuk dibaca dan dihubungkan dengan materi.
  • Proses: Saat diskusi kelompok, guru mendampingi kelompok yang memerlukan bantuan dengan pertanyaan scaffolding seperti 'Bagaimana perasaanmu jika teman membantumu karena terpaksa? Bagaimana jika ia membantumu dengan ikhlas?' Murid yang lebih cepat dapat diminta menjadi pemimpin diskusi kelompoknya.
  • Produk: Murid yang membutuhkan dukungan lebih dapat menuliskan refleksi dalam 2 kalimat saja. Murid yang lebih cepat dapat diminta menuliskan refleksi lebih panjang disertai satu ayat Alkitab yang mendukungnya.

ASESMEN

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik di awal pendahuluan: 'Siapa itu sesama kita? Sebutkan satu contoh tindakan mengasihi yang pernah kamu lakukan!' Guru mencatat respons untuk memetakan pemahaman awal murid tentang konsep kasih dan sesama, sebagai dasar menentukan tingkat scaffolding yang dibutuhkan.

Proses:

  • Observasi guru saat tanya jawab setelah menyanyikan lagu: apakah murid mampu mengaitkan pesan lagu dengan makna kasih.
  • Pengamatan diskusi kelompok kecil: guru menilai kualitas argumen murid dalam membedakan kasih tulus dan kasih pura-pura menggunakan lembar observasi sederhana (checklist: terlibat aktif, argumen relevan, memberikan contoh konkret).
  • Pengecekan catatan kunci di buku tulis: guru berkeliling dan membaca tulisan murid sebagai umpan balik formatif real-time.

Akhir:

  • Soal tertulis dua butir yang dikerjakan secara mandiri di buku tulis pada kegiatan penutup: (1) Tuliskan dengan kalimatmu sendiri apa arti mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri berdasarkan Matius 22:39; (2) Tuliskan satu perbedaan antara kasih yang tulus dan kasih yang pura-pura, dan berikan satu contoh nyata dari kehidupan di rumah atau di sekolah. Hasil tulisan dinilai menggunakan rubrik 4 level.

Formatif:

  • Tanya jawab lisan setelah menyanyikan lagu 'Kasih Pasti Lemah Lembut': guru menilai kemampuan murid menangkap pesan lagu dan menghubungkannya dengan arti kasih.
  • Observasi diskusi kelompok: guru mengamati keterlibatan aktif, kemampuan membedakan kasih tulus dan pura-pura, serta kualitas argumen murid.
  • Catatan kunci di buku tulis: guru menilai apakah murid mampu menuliskan arti mengasihi sesama dengan kalimat sendiri yang tepat dan bermakna.

Sumatif:

  • Soal tertulis di akhir pertemuan: (1) Menjelaskan arti mengasihi sesama seperti diri sendiri berdasarkan Matius 22:39 dengan kalimat sendiri; (2) Menuliskan satu perbedaan kasih tulus dan kasih pura-pura beserta contoh konkretnya dari kehidupan sehari-hari.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan arti mengasihi sesama seperti diri sendiri (TP 4.5.1.1)Murid tidak dapat menjelaskan arti mengasihi sesama, atau jawabannya tidak relevan dengan Matius 22:39.Murid menjelaskan arti mengasihi sesama dengan kalimat yang masih meniru persis teks Alkitab atau penjelasan guru, belum menggunakan kalimat sendiri.Murid menjelaskan arti mengasihi sesama dengan kalimat sendiri secara tepat, meskipun penjelasan masih singkat dan belum disertai contoh.Murid menjelaskan arti mengasihi sesama dengan kalimat sendiri secara tepat, jelas, dan disertai contoh nyata dari kehidupan sehari-hari yang relevan.
Membedakan kasih tulus dan kasih pura-pura (TP 4.5.1.2)Murid tidak dapat membedakan kasih tulus dan kasih pura-pura, atau jawabannya tidak menunjukkan pemahaman perbedaan keduanya.Murid dapat menyebutkan salah satu dari dua jenis kasih tersebut tetapi belum mampu membedakannya secara eksplisit.Murid dapat membedakan kasih tulus dan kasih pura-pura dengan tepat, meskipun contoh yang diberikan kurang spesifik atau masih umum.Murid dapat membedakan kasih tulus dan kasih pura-pura dengan tepat dan memberikan contoh konkret yang spesifik dari kehidupan di rumah atau di sekolah.
Partisipasi dalam diskusi kelasMurid tidak terlibat dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas.Murid hadir dalam diskusi tetapi hanya mendengarkan, tidak menyampaikan pendapat atau merespons teman.Murid aktif menyampaikan pendapat dalam diskusi kelompok atau kelas minimal satu kali dengan argumen yang relevan.Murid aktif menyampaikan pendapat dengan argumen yang relevan lebih dari satu kali, mendengarkan pendapat teman, dan memberikan respons yang membangun.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat memahami arti mengasihi sesama seperti diri sendiri setelah kegiatan hari ini? Kelompok mana yang masih membutuhkan penguatan?
  • Apakah kegiatan diskusi kelompok berjalan dengan efektif? Apakah skenario yang disajikan cukup dekat dengan kehidupan nyata murid?
  • Apakah waktu yang tersedia cukup untuk ketiga tahap pembelajaran (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi)? Bagian mana yang perlu disesuaikan di pertemuan berikutnya?
  • Apakah diferensiasi yang diberikan sudah cukup membantu murid yang membutuhkan dukungan lebih dan yang lebih cepat dalam belajar?

Refleksi Murid:

  • Apa arti mengasihi sesama seperti diri sendiri bagimu sekarang, setelah belajar hari ini?
  • Satu tindakan kasih tulus apa yang ingin kamu lakukan minggu ini — di rumah atau di sekolah?
  • Apakah ada hal yang masih membuatmu bingung tentang pelajaran hari ini? Apa itu?

SUMBER BELAJAR

  1. Alkitab: Matius 22:34–40 dan Matius 7:12
  2. Buku Siswa Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Norita Yudiet Tompah dan Novy Amelia Elisabeth Sine, Kemendikbudristek 2021, ISBN 978-602-244-442-8)
  3. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Norita Yudiet Tompah dan Novy Amelia Elisabeth Sine, Kemendikbudristek 2021, ISBN 978-602-244-444-2)
  4. Lagu 'Kasih Pasti Lemah Lembut' (teks dan audio/partitur bila tersedia)
  5. Kartu skenario cerita (dibuat guru) untuk kegiatan diskusi kelompok
  6. Papan tulis dan spidol/kapur untuk mencatat poin-poin diskusi kelas
  7. Buku tulis murid untuk catatan kunci dan asesmen tertulis

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.