MODUL AJAR Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti — Kelas 7 (Fase D) Topik: Bab 5 — Aku Indonesia INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti |
|---|
| Fase / Kelas | Fase D / Kelas 7 |
|---|
| Topik | Bab 5 — Aku Indonesia |
|---|
| Alokasi Waktu | 10 JP (10 x 40 menit = 400 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 5 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 7.5.1 Menginterpretasikan perkembangan kehidupan beragama di Indonesia dalam konteks sejarah masuknya agama Khonghucu
- TP 7.5.2 Menginterpretasikan keteladanan orang-orang besar dalam perkembangan kehidupan bernegara di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan
- TP 7.5.3 Menginterpretasikan perkembangan kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia pada zaman reformasi
- TP 7.5.4 Menerapkan perilaku sesuai dengan predikat yang diembannya sebagai bagian dari bangsa dan negara melalui perwujudan sumbangsih pemikiran membangun negeri
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | | | Kemandirian | | | Kesehatan | | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimanakah awal mula ajaran agama Khonghucu hadir dan berakar di Nusantara?
- Mengapa kehadiran kelenteng atau tempat ibadah Khonghucu di berbagai kota pelabuhan Nusantara menjadi bukti nyata perkembangan kehidupan beragama yang harmonis?
- Siapakah tokoh-tokoh besar keturunan Tionghoa/beragama Khonghucu yang turut berjuang dalam pergerakan dan persiapan kemerdekaan Indonesia?
- Sikap atau nilai kebajikan apa yang dapat kita teladani dari keterlibatan tokoh-tokoh besar tersebut dalam mendirikan bangsa Indonesia?
- Bagaimana kehidupan umat beragama, khususnya umat Khonghucu, mengalami perubahan penting sejak bergulirnya era Reformasi di Indonesia?
- Apa makna terbitnya Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2000 bagi perkembangan kehidupan beragama dan bernegara kita?
- Sebagai pelajar SMP penganut Khonghucu, apa peran nyata yang dapat kamu lakukan untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia?
- Bagaimana ajaran kebajikan membimbing kita agar dapat memberikan sumbangsih pemikiran yang bermanfaat bagi kemajuan negeri?
- Bagaimana perjalanan sejarah masuknya agama Khonghucu dan keteladanan para tokohnya membentuk jati diri kita sebagai bangsa Indonesia?
- Mengapa pemenuhan hak sipil pada era reformasi penting dimaknai untuk mewujudkan sumbangsih pemikiran nyata sebagai seorang Junzi bagi kemajuan negeri?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menginterpretasikan Perkembangan Kehidupan Beragama di Indonesia dalam Sejarah Masuknya Agama Khonghucu — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.1 Menginterpretasikan perkembangan kehidupan beragama di Indonesia dalam konteks sejarah masuknya agama Khonghucu
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam kebajikan (Wei De Dong Tian - Xian You Yi De), memimpin doa bersama dengan khidmat, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, garis besar kegiatan, serta melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: (1) 'Kapankah diperkirakan ajaran Khonghucu masuk ke Nusantara?' (acuan: terbawa sejak gelombang perantauan peradaban Tionghoa berabad-abad silam/era kerajaan kuno); (2) 'Sebutkan salah satu bukti fisik awal keberadaan ajaran Khonghucu di Indonesia!' (acuan: berdirinya kelenteng/Lithang kuno di pesisir Nusantara, prasasti/catatan musafir) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid mencermati narasi dan peta sejarah masuknya agama Khonghucu ke Nusantara yang dibawa para perantau Tionghoa ke kota-kota pelabuhan dagang di Indonesia (15 menit).
- Guru memberikan penjelasan mendalam tentang fase-fase perkembangan kehidupan beragama umat Khonghucu di Indonesia, mulai dari masa kedatangan awal, pembentukan komunitas peribadahan (Lithang/Miao), hingga integrasi sosial dengan penduduk lokal (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan kuis tantangan berpasangan 'Jejak Waktu Sejarah Khonghucu Nusantara' dengan mencocokkan 4 kartu peristiwa sejarah dan maknanya bagi perkembangan beragama: (1) Kartu A: Migrasi pedagang Tionghoa abad pertengahan -> Kunci Pasangan: Membawa tradisi kebajikan Rujiao dan penghormatan leluhur; (2) Kartu B: Pendirian Kelenteng/Lithang tertua di kota pelabuhan -> Kunci Pasangan: Pusat pembinaan moral dan peribadahan umat Khonghucu; (3) Kartu C: Penerbitan kitab-kitab Sishu terjemahan Melayu awal abad ke-20 -> Kunci Pasangan: Menguatkan literasi keagamaan pribumi dan peranakan; (4) Kartu D: Berdirinya organisasi kelembagaan Khonghucu modern (seperti Khong Kauw Hwee) -> Kunci Pasangan: Penataan wadah resmi kehidupan beragama terstruktur di Indonesia (15 menit).
- Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Kerja Analisis Sejarah untuk menginterpretasikan makna perkembangan beragama berdasarkan alur masuknya agama Khonghucu ke Indonesia dengan menjawab 3 pertanyaan tertulis (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara hening dan berkesadaran merenungkan posisi diri sebagai generasi penerus bangsa yang mewarisi kerukunan beragama dari sejarah panjang masuknya agama Khonghucu di Indonesia (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran mengenai sejarah masuknya agama Khonghucu sebagai bagian tak terpisahkan dari perkembangan keragaman beragama di Indonesia (3 menit).
- Guru memberikan penguatan pesan moral, melaksanakan cek pemahaman akhir secara lisan, dan menutup sesi dengan doa penutup serta salam kebajikan (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks bacaan yang dilengkapi garis waktu visual sederhana berisi 4 poin penting, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan teks sumber sejarah kepustakaan yang lebih kaya detail periode waktu.
- Proses: Pada tugas analisis mandiri, murid yang belum lancar diberikan panduan pertanyaan terstruktur butir per butir, sedangkan murid mahir menginterpretasikan langsung signifikansi sejarah secara komprehensif.
- Produk: Murid dapat menuangkan hasil interpretasi dalam bentuk tabel kronologis berpenjelasan atau paragraf ulasan interpretatif sesuai tingkat kesiapan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan kesiapan materi: (1) 'Kapan ajaran Khonghucu mulai hadir di Nusantara?' (Acuan: Abad ke-4 hingga abad pertengahan melalui jalur pelayaran dan perdagangan perantau Tionghoa); (2) 'Apa bukti fisik peninggalan keberagamaan Khonghucu masa lampau di kepulauan Nusantara?' (Acuan: Bangunan kelenteng/Lithang tua di kota-kota pelabuhan seperti Semarang, Tuban, Banten, Palembang, atau Cirebon).
Proses:- Tugas kuis berpasangan mencocokkan 4 kartu Jejak Waktu: Kunci jawaban: (1) Kartu A berpasangan dengan membawa tradisi kebajikan Rujiao dan penghormatan leluhur; (2) Kartu B berpasangan dengan pusat pembinaan moral dan peribadahan umat Khonghucu; (3) Kartu C berpasangan dengan menguatkan literasi keagamaan pribumi dan peranakan; (4) Kartu D berpasangan dengan penataan wadah resmi kehidupan beragama terstruktur di Indonesia.
- Lembar Kerja Analisis Interpretasi Sejarah Masuknya Khonghucu (3 butir): Butir 1: 'Jelaskan bagaimana jalur perdagangan laut Nusantara memengaruhi penyebaran agama Khonghucu!' (Kriteria penerimaan: Menjelaskan interaksi niaga para perantau yang menetap di pelabuhan lalu mendirikan komunitas ibadah keluarga/kelenteng); Butir 2: 'Bagaimana peran tempat ibadah/kelenteng awal dalam perkembangan kehidupan beragama di Indonesia?' (Kriteria penerimaan: Berperan sebagai pusat pembinaan moral kebajikan, penghormatan leluhur, serta menjalin hubungan sosial harmonis dengan warga setempat); Butir 3: 'Interpretaskan makna dari hadirnya agama Khonghucu bagi kebhinekaan kehidupan beragama di Indonesia!' (Kriteria penerimaan: Menegaskan bahwa agama Khonghucu memperkaya khazanah spiritualitas bangsa dan memperkuat pondasi toleransi dalam sejarah Nusantara).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir pembelajaran secara lisan: 'Sebutkan 2 makna penting dari sejarah masuknya agama Khonghucu terhadap perkembangan kehidupan beragama di Indonesia masa kini!' (Kriteria penerimaan: Menyebutkan (1) membuktikan nilai toleransi dan akulturasi damai telah terjalin lama di Nusantara, serta (2) memperkuat kesadaran persatuan dalam keberagaman suku dan agama).
Formatif:- Tanya jawab lisan diagnostik awal kesiapan
- Pengamatan kinerja aktivitas pencocokan kartu Jejak Waktu
- Pemeriksaan Lembar Kerja Analisis Interpretasi Sejarah
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Interpretasi Perkembangan Kehidupan Beragama dalam Sejarah Masuknya Agama Khonghucu | Belum mampu menginterpretasikan alur masuknya agama Khonghucu serta belum mampu mengaitkannya dengan perkembangan kehidupan beragama di Indonesia (0 butir lembar kerja terjawab tepat sesuai kriteria). | Mampu menginterpretasikan sebagian kecil alur masuknya agama Khonghucu namun kaitan dengan perkembangan kehidupan beragama di Indonesia masih terbatas dengan bimbingan penuh guru (1 butir lembar kerja terjawab tepat sesuai kriteria). | Mampu menginterpretasikan sebagian besar alur masuknya agama Khonghucu dan signifikansinya terhadap perkembangan kehidupan beragama di Indonesia secara runtut (2 butir lembar kerja terjawab tepat sesuai kriteria). | Mampu menginterpretasikan seluruh alur sejarah masuknya agama Khonghucu serta maknanya bagi perkembangan kehidupan beragama di Indonesia secara komprehensif, tepat, dan mandiri (seluruh 3 butir lembar kerja terjawab tepat sesuai kriteria). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran kontekstual sejarah berhasil menumbuhkan kesadaran murid tentang kerukunan hidup beragama?
- Apakah permainan pencocokan kartu 'Jejak Waktu' efektif memfasilitasi keterlibatan murid yang aktif dan menggembirakan?
Murid:- Pelajaran berharga apa yang kamu dapatkan tentang kerukunan beragama dari sejarah masuknya agama Khonghucu ke Indonesia?
- Bagian mana dari kegiatan belajar hari ini yang paling membantumu memahami sejarah perkembangan agamamu?
Pertemuan 2 — Menginterpretasikan Keteladanan Orang-Orang Besar dalam Perkembangan Kehidupan Bernegara pada Masa Pra-Kemerdekaan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.2 Menginterpretasikan keteladanan orang-orang besar dalam perkembangan kehidupan bernegara di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam kebajikan (Wei De Dong Tian - Xian You Yi De), berdoa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang keterlibatan tokoh pra-kemerdekaan: murid diminta menyebutkan nama salah satu anggota BPUPKI atau perumus teks proklamasi dari kalangan pejuang/tokoh Tionghoa (acuan jawaban: Yap Tjwan Bing, Liem Koen Hian, Oei Tjong Hauw, Oei Tiang Tjoei, Mr. Tan Eng Hoa, atau Djiaw Kie Siong) (7 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menginterpretasikan keteladanan orang-orang besar dalam kehidupan bernegara masa pra-kemerdekaan, serta mengaitkannya dengan kesadaran berbangsa (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati lembar ringkasan sejarah tentang peranan tokoh-tokoh besar pada masa pra-kemerdekaan (anggota BPUPKI/PPKI dan tokoh rumah Rengasdengklok: Liem Koen Hian, Yap Tjwan Bing, dan Djiaw Kie Siong) yang dibagikan guru (10 menit).
- Murid mengidentifikasi fakta kiprah dan wujud pengorbanan masing-masing tokoh tersebut dalam memperjuangkan kesatuan tanah air Indonesia (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memandu permainan edukatif tantangan berpasangan 'Tebak Kartu Keteladanan Tokoh': secara berpasangan, tiap meja menerima 3 kartu tokoh dan 3 kartu keteladanan, lalu murid mencocokkan tindakan tokoh dengan nilai kebajikan keteladanan yang relevan secara antusias dan gembira (10 menit).
- Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Kerja Interpretasi yang memuat 3 tokoh: (1) Yap Tjwan Bing (anggota PPKI yang rela mengorbankan status demi persatuan bangsa Indonesia), (2) Liem Koen Hian (anggota BPUPKI yang menggaungkan kewarganegaraan Indonesia bagi peranakan), dan (3) Djiaw Kie Siong (pemilik rumah tempat Bung Karno dan Bung Hatta singgah di Rengasdengklok yang ikhlas mendukung persiapan kemerdekaan), dengan menafsirkan makna nilai kebajikan (Zhong/Satya terhadap negara, Yi/Kebenaran, dan Ren/Cinta Kasih) dari tiap tokoh tersebut (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimpulkan makna penting keteladanan orang-orang besar tersebut bagi kehidupan bernegara pada masa kini bahwa mencintai dan membela tanah air adalah wujud nyata laku bakti dan kebajikan seorang Junzi (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap hasil interpretasi murid atas nilai keteladanan tokoh-tokoh besar pra-kemerdekaan (6 menit).
- Guru menginformasikan topik pertemuan berikutnya (perkembangan kehidupan beragama dan bernegara pada zaman reformasi) dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam penutup (Shan Zai) (4 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar teks tokoh yang dilengkapi glosarium istilah sejarah pergerakan nasional bagi murid yang memerlukan bimbingan membaca.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan pertanyaan pemandu bertahap saat menafsirkan nilai kebajikan tokoh, sedangkan murid yang telah mahir menafsirkan keterkaitan nilai keteladanan tokoh dengan tantangan kehidupan bernegara secara lebih mendalam.
- Produk: Format penulisan interpretasi dapat dituangkan dalam bentuk tabel analisis nilai kebajikan atau peta pikiran interpretasi tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: 'Sebutkan minimal satu tokoh keturunan Tionghoa/Khonghucu yang berperan dalam peristiwa sekitar Proklamasi atau sidang BPUPKI/PPKI!' (Acuan jawaban benar: menyebutkan Yap Tjwan Bing, Liem Koen Hian, Oei Tjong Hauw, Oei Tiang Tjoei, Mr. Tan Eng Hoa, atau Djiaw Kie Siong).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengisian Lembar Kerja Interpretasi Nilai Keteladanan 3 Tokoh Pra-Kemerdekaan: (1) Yap Tjwan Bing -> acuan interpretasi: keteladanan berkorban demi persatuan bangsa dan kesetiaan (Zhong) pada tanah air; (2) Liem Koen Hian -> acuan interpretasi: keteladanan membela kebenaran/keadilan (Yi) dan menegaskan identitas putra Indonesia sejati; (3) Djiaw Kie Siong -> acuan interpretasi: keteladanan keikhlasan dan pengorbanan tanpa pamrih (Ren/Cinta Kasih) mendukung perjuangan para pemimpin bangsa.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman mandiri di akhir sesi (2 butir reflektif tertulis): (1) Tuliskan arti penting keteladanan tokoh pra-kemerdekaan bagi generasi muda Khonghucu hari ini (kriteria penerimaan: jawaban mengaitkan kecintaan tanah air sebagai perwujudan ajaran agama Khonghucu); (2) Sebutkan 1 nilai kebajikan utama yang diteladani dari tokoh Yap Tjwan Bing atau Liem Koen Hian (kriteria penerimaan: menyebut nilai kesetiaan pada negara/Zhong atau penegakan kebenaran/Yi).
Formatif:- Penilaian proses unjuk kerja interpretasi lembar kerja analisis keteladanan tokoh pra-kemerdekaan
- Pemeriksaan ketepatan pencocokan kartu dalam aktivitas tantangan berpasangan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menginterpretasikan Keteladanan Orang-Orang Besar Pra-Kemerdekaan | Belum mampu menginterpretasikan keteladanan tokoh pra-kemerdekaan (hanya menyebutkan nama tanpa menghubungkan tindakan tokoh dengan nilai keteladanan/kebajikan). | Mampu menginterpretasikan keteladanan 1 dari 3 tokoh pra-kemerdekaan secara tepat sesuai acuan tindakan dan nilai kebajikannya. | Mampu menginterpretasikan keteladanan 2 dari 3 tokoh pra-kemerdekaan secara tepat sesuai acuan tindakan dan nilai kebajikannya. | Mampu menginterpretasikan keteladanan seluruh 3 tokoh pra-kemerdekaan (Yap Tjwan Bing, Liem Koen Hian, dan Djiaw Kie Siong) secara tepat, runtut, dan mendalam sesuai acuan nilai kebajikannya. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid berhasil mengaitkan tindakan sejarah para tokoh pra-kemerdekaan dengan nilai kebajikan Khonghucu?
- Apakah permainan kartu berpasangan efektif memicu antusiasme belajar murid dalam mendalami materi sejarah pra-kemerdekaan?
Murid:- Keteladanan apa dari tokoh-tokoh pra-kemerdekaan yang paling menginspirasi saya untuk menjadi warga negara yang baik?
- Apakah saya merasa bangga atas kontribusi umat Khonghucu/tokoh Tionghoa dalam mendirikan Republik Indonesia?
Pertemuan 3 — Menginterpretasikan Perkembangan Kehidupan Beragama dan Bernegara di Indonesia pada Zaman Reformasi — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.3 Menginterpretasikan perkembangan kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia pada zaman reformasi
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam kebajikan (Wei De Dong Tian - Xian You Yi De), memimpin doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menginterpretasikan perkembangan kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia pada zaman reformasi (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat mengenai tonggak sejarah Reformasi dalam kehidupan beragama (acuan: era Reformasi membawa pemulihan hak sipil dan kebebasan beragama, ditandai pencabutan Inpres No. 14/1967 oleh Presiden Abdurrahman Wahid melalui Keppres No. 6/2000) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid membaca teks sejarah ringkas mengenai kebijakan pemerintah di era Reformasi: pencabutan Inpres No. 14 Tahun 1967 melalui Keppres No. 6 Tahun 2000 oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), penetapan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional (Keppres No. 19/2002 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri), dan pemulihan hak pencatatan pernikahan serta administrasi kependudukan umat Khonghucu (15 menit).
- Guru memandu pembedahan makna teks dengan mengajukan pertanyaan terarah untuk menginterpretasikan bagaimana perubahan payung hukum pada masa reformasi berdampak langsung pada kesetaraan kehidupan beragama dan penguatan persatuan bernegara (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Dalam aktivitas 'Tantangan Detektif Sejarah Reformasi' yang menggembirakan, murid secara berpasangan menerima lembar studi kasus berisi 3 peristiwa penting zaman reformasi untuk diinterpretasikan makna perkembangannya bagi kehidupan beragama dan bernegara: (1) Terbitnya Keppres No. 6 Tahun 2000 (kunci interpretasi: memulihkan hak asasi dan kebebasan merayakan hari besar serta ritual keagamaan Khonghucu secara terbuka); (2) Penetapan Imlek sebagai hari libur nasional resmi (kunci interpretasi: pengakuan kesetaraan budaya dan agama Khonghucu dalam kalender nasional negara); (3) Pelayanan hak sipil dan administrasi kependudukan seperti kolom agama di KTP dan pencatatan perkawinan di Catatan Sipil (kunci interpretasi: penegakan kesetaraan kedudukan setiap warga negara tanpa diskriminasi sesuai prinsip konstitusi bernegara) (17 menit).
- Setiap pasangan menuliskan interpretasi pada lembar kerja dan saling mencocokkan hasil analisisnya dengan pasangan lain untuk memverifikasi ketepatan penafsiran makna peristiwa tersebut (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara hening dan berkesadaran merenungkan makna terbukanya ruang kebebasan beragama pada era reformasi sebagai anugerah Tian yang harus dijaga dengan sikap saling menghargai dan menjunjung kebajikan dalam bernegara (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari interpretasi perkembangan kehidupan beragama dan bernegara di era Reformasi (5 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan singkat serta menutup pembelajaran dengan doa syukur dan salam kebajikan (Huang You Shi Ji) (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks ringkasan bergaris bawah dengan petunjuk kunci kata reformasi; murid yang mahir diberikan kutipan teks naskah Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2000 untuk ditelaah maknanya.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dalam menemukan kata kunci pada teks; murid mahir menganalisis keterkaitan antara pencabutan aturan diskriminatif dengan keharmonisan antarumat beragama.
- Produk: Format penyampaian interpretasi dapat berupa uraian kalimat poin-poin terstruktur atau tabel komparasi perkembangan kondisi beragama-bernegara masa reformasi.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Peristiwa besar apa pada era Reformasi (tahun 2000) yang memulihkan kebebasan pelaksanaan ibadah dan hari raya umat Khonghucu secara terbuka?' (Acuan jawaban benar: Diterbitkannya Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2000 oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid/Gus Dur yang mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967).
Proses:- Observasi keterlibatan dan ketepatan interpretasi murid saat menganalisis 3 peristiwa reformasi pada lembar kerja Tantangan Detektif Sejarah Reformasi (acuan kunci: Keppres 6/2000 memulihkan kebebasan beribadah; penetapan libur nasional Imlek menegaskan pengakuan kesetaraan negara; pemulihan layanan sipil KTP/nikah menjamin kesetaraan hak hukum warga negara).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman singkat di akhir pertemuan: 'Sebutkan 2 bukti nyata perkembangan positif dalam kehidupan bernegara bagi umat Khonghucu di Indonesia sejak masa Reformasi!' (Acuan jawaban benar: minimal menyebutkan 2 dari: perayaan Imlek diakui sebagai hari libur nasional, pencantuman agama Khonghucu pada dokumen kependudukan/KTP, pencatatan pernikahan di Catatan Sipil, atau terbitnya Keppres No. 6 Tahun 2000).
Formatif:- Penilaian proses melalui lembar kerja analisis interpretasi 3 peristiwa era reformasi bagi kehidupan beragama dan bernegara.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Interpretasi Perkembangan Kehidupan Beragama dan Bernegara pada Zaman Reformasi | Belum mampu menginterpretasikan makna dari ketiga peristiwa sejarah era reformasi (Keppres No. 6/2000, libur Imlek, layanan sipil/KTP) bagi kehidupan beragama dan bernegara sesuai acuan. | Mampu menginterpretasikan makna 1 dari 3 peristiwa sejarah era reformasi bagi kehidupan beragama dan bernegara sesuai acuan kunci. | Mampu menginterpretasikan makna 2 dari 3 peristiwa sejarah era reformasi bagi kehidupan beragama dan bernegara sesuai acuan kunci secara mandiri. | Mampu menginterpretasikan makna seluruh 3 peristiwa sejarah era reformasi (Keppres No. 6/2000, libur Imlek, dan layanan hak sipil/KTP) bagi kehidupan beragama dan bernegara secara tepat dan lengkap sesuai acuan kunci tanpa kekeliruan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran kontekstual dan tantangan studi kasus berhasil membantu murid memahami esensi perubahan kehidupan beragama pada zaman reformasi?
- Apakah diferensiasi bahan dan bimbingan guru sudah memfasilitasi murid yang memerlukan pendampingan dalam menafsirkan teks sejarah?
Murid:- Apa arti penting era Reformasi bagi kebebasan beragama yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari saat ini?
- Bagaimana perasaanmu setelah mempelajari perjuangan dan keterbukaan pemerintah dalam memulihkan hak-hak beragama umat Khonghucu di Indonesia?
Pertemuan 4 — Menerapkan Perilaku Sesuai Predikat Bagian dari Bangsa dan Negara melalui Perwujudan Sumbangsih Pemikiran Membangun Negeri — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.4 Menerapkan perilaku sesuai dengan predikat yang diembannya sebagai bagian dari bangsa dan negara melalui perwujudan sumbangsih pemikiran membangun negeri
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam kebajikan (Wei De Dong Tian - Xian You Yi De), memfasilitasi doa bersama, serta memeriksa kesiapan fisik dan psikis murid (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat: murid mengidentifikasi 2 tindakan nyata seorang pelajar yang mencerminkan bakti dan cinta tanah air (acuan: belajar dengan tekun, menaati aturan/tata tertib sekolah dan negara, menjaga kerukunan antarsesama) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4, yaitu menerapkan perilaku sesuai predikat sebagai bagian dari bangsa dan negara melalui sumbangsih pemikiran membangun negeri, serta mengaitkannya dengan kesadaran moral penganut Khonghucu (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati dan menelaah materi pada Buku Siswa halaman 160 mengenai kesadaran diri terlahir sebagai bangsa Indonesia serta kewajiban moral menjaga tumpah darah melalui perwujudan kebajikan (10 menit).
- Guru memfasilitasi telaah terpandu mengenai konsep peran seorang Junzi (insan berbudi luhur) dalam memposisikan diri di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, di mana murid mengaitkan kebajikan belajar tekun dan kejujuran sebagai bentuk sumbangsih dasar membangun negeri (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan permainan berpasangan interaktif 'Pilah Skenario Bakti Negeri': setiap pasangan menerima lembar berisi 4 skenario perilaku nyata di lingkungan sekolah/masyarakat, yaitu: (1) 'Mempelajari sains dan teknologi secara giat untuk menciptakan alat ramah lingkungan', (2) 'Mengabaikan kerja bakti lingkungan karena merasa bukan urusan pribadi', (3) 'Menuliskan gagasan solusi pengurangan sampah plastik di majalah dinding sekolah', (4) 'Menyebarkan informasi tanpa mengecek kebenarannya di media sosial'. Pasangan murid mengklasifikasikan skenario ke dalam kategori 'Penerapan Perilaku Membangun Negeri' (kunci: nomor 1 dan 3) atau 'Bukan Penerapan Perilaku Membangun Negeri' (kunci: nomor 2 dan 4) secara tepat (15 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan tugas penerapan pada Lembar Kerja Perilaku Bangsa: merumuskan 3 perilaku konkret beserta 1 sumbangsih pemikiran solutif sesuai perannya sebagai pelajar Khonghucu dalam menghadapi isu nyata di lingkungan sekitar (kriteria penerimaan: perilaku mencakup belajar tekun/mematuhi aturan sekolah/menjaga kerukunan; sumbangsih pemikiran berupa ide tertulis yang logis dan aplikatif bagi perbaikan lingkungan/sekolah) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengevaluasi diri dengan mengisi checklist 4 butir komitmen kebangsaan: (1) Bangga sebagai bangsa Indonesia, (2) Mematuhi tata tertib sebagai wujud cinta negeri, (3) Belajar tekun untuk kemajuan bersama, (4) Menjaga kerukunan sesama teman, lalu menuliskan satu komitmen perbaikan diri yang akan dijalankan minggu ini (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap lembar kerja dan checklist murid, menegaskan bahwa predikat pelajar dijalankan dengan sungguh-sungguh demi kemajuan negeri (3 menit).
- Guru menyampaikan informasi singkat mengenai agenda pertemuan berikutnya yaitu pelaksanaan asesmen sumatif bab, lalu menutup pelajaran dengan doa dan salam kebajikan (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan contoh perilaku sederhana di lingkungan sekolah; murid yang cepat diberikan studi kasus tantangan pemuda dalam kemajuan teknologi nasional.
- Proses: Pada tahap mengaplikasi, murid yang membutuhkan scaffolding bekerja dalam bimbingan terarah guru, sedangkan murid yang mandiri merumuskan gagasan sumbangsih pemikiran secara independen.
- Produk: Rumusan pemikiran solutif dapat dituliskan dalam bentuk daftar poin gagasan operasional ataupun uraian paragraf rencana tindakan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan di awal pembelajaran: 'Sebutkan 2 contoh tindakan nyata seorang pelajar yang mencerminkan bakti dan cinta tanah air!' (kriteria/acuan: menyebutkan minimal 2 tindakan yang relevan, seperti belajar tekun, mematuhi peraturan sekolah/hukum, menjaga kebersihan fasilitas umum, atau hidup rukun tanpa membeda-bedakan).
Proses:- Hasil lembar aktivitas permainan berpasangan klasifikasi 4 skenario: Skenario 1 (Belajar tekun cipta alat ramah lingkungan) = Penerapan; Skenario 2 (Mengabaikan kerja bakti) = Bukan Penerapan; Skenario 3 (Menulis ide pengurangan sampah di mading) = Penerapan; Skenario 4 (Menyebar hoax) = Bukan Penerapan.
- Lembar Kerja Perilaku Bangsa: Murid menuliskan 3 perilaku nyata sesuai predikat pelajar (acuan: kedisiplinan, kerukunan, ketekunan belajar) dan 1 sumbangsih pemikiran tertulis yang realistis untuk memajukan sekolah/lingkungan sekitar.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan refleksi penutup: Pengisian checklist komitmen kebangsaan (4 butir pernyataan) disertai 1 kalimat komitmen tindakan nyata perbaikan perilaku sebagai bagian bangsa Indonesia (kriteria penerimaan: memuat tindakan konkrit yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari murid).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran untuk mengecek kesiapan perilaku cinta tanah air.
- Kuis berpasangan klasifikasi 4 skenario perilaku membangun negeri.
- Penilaian kinerja mandiri pada Lembar Kerja Perilaku Bangsa (perumusan 3 perilaku nyata dan 1 sumbangsih pemikiran solutif).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menerapkan perilaku sesuai predikat sebagai bagian dari bangsa dan negara | Belum mampu merumuskan perilaku nyata sesuai predikat pelajar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. | Mampu merumuskan 1 perilaku nyata sesuai predikat pelajar yang mencerminkan cinta tanah air dan kebajikan. | Mampu merumuskan 2-3 perilaku nyata sesuai predikat pelajar yang mencerminkan cinta tanah air dan kebajikan secara tepat. | Mampu merumuskan lebih dari 3 perilaku nyata sesuai predikat pelajar yang mencerminkan cinta tanah air secara tepat, mandiri, dan konsisten. | | Perwujudan sumbangsih pemikiran membangun negeri | Belum mampu menyusun gagasan pemikiran untuk kemajuan lingkungan atau negeri. | Menyusun gagasan pemikiran namun belum realistis atau belum sesuai dengan perannya sebagai pelajar. | Menyusun 1 gagasan sumbangsih pemikiran yang logis, realistis, dan relevan dengan perannya sebagai pelajar dalam membangun lingkungan/negeri. | Menyusun lebih dari 1 gagasan sumbangsih pemikiran yang logis, terperinci, aplikatif, dan relevan dengan perannya sebagai pelajar dalam membangun negeri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid aktif terlibat dalam permainan klasifikasi skenario dan penyusunan ide sumbangsih pemikiran?
- Bagaimana efektivitas bimbingan dalam membantu murid mengaitkan ajaran kebajikan Khonghucu dengan tindakan nyata bernegara?
Murid:- Perilaku nyata apa yang paling mudah dan paling menantang untuk saya terapkan sebagai wujud cinta bangsa Indonesia?
- Apakah ide pemikiran yang saya tuliskan hari ini sudah benar-benar dapat saya mulai terapkan di lingkungan sekolah saya?
Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.1 Menginterpretasikan perkembangan kehidupan beragama di Indonesia dalam konteks sejarah masuknya agama Khonghucu
- TP 7.5.2 Menginterpretasikan keteladanan orang-orang besar dalam perkembangan kehidupan bernegara di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan
- TP 7.5.3 Menginterpretasikan perkembangan kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia pada zaman reformasi
- TP 7.5.4 Menerapkan perilaku sesuai dengan predikat yang diembannya sebagai bagian dari bangsa dan negara melalui perwujudan sumbangsih pemikiran membangun negeri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam kebajikan Wei De Dong Tian, mengajak murid bersikap hening berdoa, memeriksa kehadiran, serta menyampaikan tujuan pelaksanaan asesmen sumatif bab 5 (3 menit).
- Guru membagikan Lembar Kerja Terpadu dan menjelaskan petunjuk pengerjaan dua sesi asesmen: Bagian I penugasan tertulis dan karya gagasan serentak (40 menit), serta Bagian II wawancara lisan terstruktur di meja guru bergantian beriringan dengan perapian berkas (37 menit) (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid secara mandiri mencermati petunjuk teknis 3 butir tugas tertulis pada Lembar Kerja Terpadu yang mencakup: (1) Esai interpretasi masuknya agama Khonghucu; (2) Telaah keteladanan tokoh pra-kemerdekaan; dan (3) Rencana aksi gagasan Junzi bagi negeri (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid secara serentak mengerjakan Bagian I Lembar Kerja Terpadu selama 37 menit yang memuat 3 tugas terstruktur: [Tugas 1 - TP 7.5.1] Menulis esai interpretasi sejarah masuknya agama Khonghucu ke Indonesia (acuan: kedatangan perantau Tionghoa abad ke-3/ke-5 M, pendirian kelenteng tertua seperti Ban Hing Kiong Manado 1686, organisasi Tiong Hoa Hwee Koan/THHK 1900 di Batavia, hingga pembentukan MATAKIN); [Tugas 2 - TP 7.5.2] Mengisi tabel telaah keteladanan 4 tokoh Khonghucu/Tionghoa pra-kemerdekaan (acuan: Liem Koen Hian pelopor PTI, Yap Tjwan Bing anggota PPKI, Oei Tjong Hauw anggota BPUPKI, dan Oei Tjie Sien penyokong pergerakan nasional); [Tugas 3 - TP 7.5.4] Menyusun rencana aksi sumbangsih pemikiran Junzi membangun negeri (acuan: memuat 1 rumusan masalah bangsa di bidang sosial/pendidikan, 2 solusi konkret berbasis kebajikan Ren/Cinta Kasih dan Yi/Kebenaran, serta 1 komitmen tindakan nyata sebagai pelajar) (34 menit).
- Pelaksanaan Bagian II: Bersamaan saat murid dalam kelompok meja masing-masing merapikan dan menuntaskan lembar kerja tertulis, guru memanggil setiap murid secara individual bergiliran ke meja guru untuk wawancara lisan terstruktur singkat berdurasi 1,4 menit per murid (total 28 murid tuntas dalam 35 menit) guna menginterpretasikan dinamika era reformasi [TP 7.5.3] melalui 2 pertanyaan lisan: '1. Mengapa pencabutan Inpres No. 14/1967 melalui Keppres No. 6/2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid menjadi tonggak pemulihan hak sipil umat Khonghucu di Indonesia? (acuan: mencabut larangan perayaan keagamaan Khonghucu secara terbuka dan memulihkan kebebasan beribadah); 2. Bagaimana perkembangan pengakuan hak bernegara umat Khonghucu setelah era Gus Dur hingga sekarang? (acuan: penetapan Imlek hari libur nasional era Presiden Megawati, penerbitan administrasi kependudukan/KTP dan perkawinan Khonghucu, serta penguatan pelayanan pendidikan agama Khonghucu)' (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setelah seluruh wawancara lisan selesai dan berkas dikumpulkan, guru mengajak seluruh murid melakukan hening sejenak untuk memaknai keterkaitan sejarah perjuangan leluhur dan tokoh bangsa dengan komitmen kewargaan masing-masing (2 menit).
Penutup:- Guru memberikan konfirmasi bahwa seluruh rangkaian penilaian sumatif Bab 5 'Aku Indonesia' telah rampung, memberikan apresiasi atas ketertiban serta kesungguhan kerja murid, menyampaikan garis besar materi bab berikutnya, dan menutup sesi dengan doa penutup serta salam kebajikan (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Memberikan lembar instrumen dengan ukuran huruf lebih besar atau tata letak berjarak lega bagi murid yang membutuhkan akomodasi visual tanpa mengubah isi tugas dan daftar acuan.
- Proses: Menyediakan waktu hening 10 detik sebelum memulai pertanyaan lisan pertama bagi murid yang memerlukan penyesuaian kecemasan tanpa mengubah bobot pertanyaan maupun rubrik penilaian.
- Produk: Format lembar jawaban esai dan rencana aksi tetap seragam sesuai indikator ketercapaian asesmen sumatif.
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- Asesmen gabungan tertulis-portofolio gagasan serentak dan wawancara lisan terstruktur singkat: Lembar kerja terpadu berisi telaah sejarah dan rencana aksi gagasan Junzi, serta rekaman catatan lisan saat wawancara terstruktur singkat di meja guru
- penugasan tertulis dan karya gagasan serentak: lembar kerja tertulis yang memuat esai interpretasi masuknya agama Khonghucu ke Indonesia, telaah kontribusi tokoh pra-kemerdekaan, serta lembar rencana aksi sumbangsih pemikiran Junzi untuk kemajuan bangsa yang dikerjakan seluruh murid secara serentak (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik analitik penilaian esai, telaah tokoh, dan rencana aksi pemikiran Junzi)
- tanya jawab lisan terstruktur bergiliran: penjelasan lisan terstruktur berdurasi 1,4 menit per murid saat dipanggil bergantian ke meja guru mengenai dinamika pemenuhan hak sipil dan kehidupan beragama Khonghucu pada era reformasi, dilakukan beriringan saat murid lain merapikan lembar kerja tertulis (40 menit / 1,4 menit = 28 murid, tuntas satu kelas penuh) (40 menit; individual; instrumen: lembar observasi dan rubrik penilaian respons lisan)
Sumatif:- Asesmen gabungan tertulis-portofolio gagasan serentak dan wawancara lisan terstruktur singkat: Lembar kerja terpadu berisi telaah sejarah dan rencana aksi gagasan Junzi, serta rekaman catatan lisan saat wawancara terstruktur singkat di meja guru
- penugasan tertulis dan karya gagasan serentak: lembar kerja tertulis yang memuat esai interpretasi masuknya agama Khonghucu ke Indonesia, telaah kontribusi tokoh pra-kemerdekaan, serta lembar rencana aksi sumbangsih pemikiran Junzi untuk kemajuan bangsa yang dikerjakan seluruh murid secara serentak (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik analitik penilaian esai, telaah tokoh, dan rencana aksi pemikiran Junzi)
- tanya jawab lisan terstruktur bergiliran: penjelasan lisan terstruktur berdurasi 1,4 menit per murid saat dipanggil bergantian ke meja guru mengenai dinamika pemenuhan hak sipil dan kehidupan beragama Khonghucu pada era reformasi, dilakukan beriringan saat murid lain merapikan lembar kerja tertulis (40 menit / 1,4 menit = 28 murid, tuntas satu kelas penuh) (40 menit; individual; instrumen: lembar observasi dan rubrik penilaian respons lisan)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Interpretasi Masuknya Agama Khonghucu (TP 7.5.1) | Menjelaskan kurang dari 2 tonggak sejarah masuk dan berkembangnya agama Khonghucu di Indonesia sesuai acuan. | Menjelaskan 2 dari 4 tonggak sejarah (kedatangan migrasi perantau, kelenteng tertua Ban Hing Kiong, organisasi THHK, MATAKIN) secara tepat sesuai daftar acuan. | Menjelaskan 3 dari 4 tonggak sejarah (kedatangan migrasi perantau, kelenteng tertua Ban Hing Kiong, organisasi THHK, MATAKIN) secara tepat sesuai daftar acuan. | Menginterpretasikan secara utuh seluruh 4 tonggak sejarah masuk dan berkembangnya agama Khonghucu di Indonesia secara runut dan tepat sesuai daftar acuan. | | Interpretasi Keteladanan Tokoh Pra-Kemerdekaan (TP 7.5.2) | Menelaah kontribusi kurang dari 2 tokoh pra-kemerdekaan dari daftar acuan. | Menelaah peran dan keteladanan 2 dari 4 tokoh pra-kemerdekaan (Liem Koen Hian, Yap Tjwan Bing, Oei Tjong Hauw, Oei Tjie Sien) secara tepat sesuai daftar acuan. | Menelaah peran dan keteladanan 3 dari 4 tokoh pra-kemerdekaan (Liem Koen Hian, Yap Tjwan Bing, Oei Tjong Hauw, Oei Tjie Sien) secara tepat sesuai daftar acuan. | Menginterpretasikan peran dan keteladanan seluruh 4 tokoh pra-kemerdekaan (Liem Koen Hian, Yap Tjwan Bing, Oei Tjong Hauw, Oei Tjie Sien) secara lengkap dan tepat sesuai daftar acuan. | | Interpretasi Dinamika Agama Era Reformasi (TP 7.5.3) | Menjawab lisan tetapi belum memuat makna pencabutan Inpres No. 14/1967 oleh Keppres No. 6/2000 maupun perkembangan hak bernegara sesudahnya sesuai daftar acuan. | Menjawab lisan dengan menjelaskan salah satu: makna pencabutan Inpres No. 14/1967 oleh Gus Dur ATAU 1 fakta perkembangan hak bernegara sesudahnya sesuai daftar acuan. | Menjawab lisan dengan menjelaskan makna pencabutan Inpres No. 14/1967 oleh Gus Dur DAN menyebutkan minimal 2 fakta perkembangan hak bernegara sesudahnya (Imlek libur nasional, administrasi KTP/nikah, pendidikan agama) sesuai daftar acuan. | Menginterpretasikan secara lisan dengan runtut dan tepat mengenai makna pemulihan hak sipil oleh Gus Dur serta seluruh 3 fakta perkembangan hak bernegara pada era reformasi sesuai daftar acuan. | | Penerapan Perilaku Sumbangsih Pemikiran Junzi (TP 7.5.4) | Menyusun rencana aksi yang hanya memuat rumusan masalah tanpa mencantumkan solusi berbasis nilai kebajikan Khonghucu maupun tindakan nyata. | Menyusun rencana aksi yang memuat rumusan masalah bangsa dan 1 solusi berbasis kebajikan Ren atau Yi, namun belum memuat komitmen tindakan nyata. | Menyusun rencana aksi yang memuat 1 masalah bangsa, 2 solusi konkret berbasis kebajikan Ren dan Yi, serta 1 komitmen tindakan nyata sebagai pelajar sesuai kriteria penerimaan. | Menerapkan perilaku sumbangsih pemikiran Junzi secara komprehensif memuat masalah bangsa yang relevan, 2 solusi konkret berakar kuat pada nilai Ren dan Yi, serta langkah komitmen tindakan nyata yang terperinci dan dapat diimplementasikan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pengelolaan waktu gabungan antara pengerjaan tugas tertulis serentak dan wawancara lisan 1,4 menit per anak berjalan efektif sesuai alokasi 80 menit?
- Bagaimana ketercapaian murid kelas 7 pada kompetensi interpretasi sejarah dan perumusan aksi nyata gagasan Junzi bagi negeri?
Murid:- Bagian mana dari perjalanan sejarah agama Khonghucu dan keteladanan para tokoh yang paling menginspirasi rasa cintaku pada tanah air?
- Apakah rencana aksi pemikiran Junzi yang aku tuliskan hari ini sungguh-sungguh dapat kulaksanakan dalam kehidupanku di sekolah dan masyarakat?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemendikbudristek, 2021).
- Buku Siswa Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII Bab 5 'Aku Indonesia' (Kemendikbudristek, 2021).
- Peta alur sejarah masuknya agama Khonghucu di Nusantara dan set kartu 'Jejak Waktu'.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
- Buku Siswa Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Bab 5 'Aku Indonesia'), Kemendikbudristek 2021
- Lembar Kerja Murid dan Set Kartu Tokoh Sejarah Pra-Kemerdekaan (Liem Koen Hian, Yap Tjwan Bing, Djiaw Kie Siong)
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (Bab 5: Aku Indonesia).
- Buku Siswa Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (hlm. 152-155: Agama Khonghucu di zaman Reformasi).
- Salinan teks Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Inpres No. 14 Tahun 1967.
- Lembar Kerja Siswa: Kartu Kasus Peristiwa Sejarah Reformasi.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021.
- Buku Siswa Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (Bab 5).
- Lembar Kerja Siswa: Kartu Skenario Bakti Negeri dan Format Sumbangsih Pemikiran Pelajar.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek RI, 2021).
- Buku Teks Siswa Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek RI, 2021), Bab 5 'Aku Indonesia'.
- Lembar Kerja Terpadu Asesmen Sumatif Bab 5 dan Lembar Observasi Wawancara Lisan.
|