Modul AjarBab 1Fase DSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 7 Bab 1: Manusia Sebagai Citra Allah

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti kelas 7 untuk Bab 1 "Manusia Sebagai Citra Allah", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 7 Bab 1: Manusia Sebagai Citra Allah

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti - Kelas 7

Bab 1

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Bab 1 — Manusia Sebagai Citra Allah

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase D / Kelas 7
TopikBab 1 — Manusia Sebagai Citra Allah
Alokasi Waktu12 JP (12 x 40 menit = 480 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 7.1.1 Mengidentifikasi makna manusia sebagai citra Allah yang unik berdasarkan teks Kitab Suci
  2. TP 7.1.2 Mendeskripsikan keunikan diri sebagai citra Allah dalam keberadaannya sebagai laki-laki atau perempuan
  3. TP 7.1.3 Menganalisis kesetaraan martabat manusia sebagai laki-laki dan perempuan seturut citra Allah dalam pergaulan hidup
  4. TP 7.1.4 Menyusun rencana tindakan nyata penghayatan iman atas keluhuran manusia sebagai citra Allah yang unik

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Apa arti pernyataan bahwa manusia diciptakan seturut 'gambar dan rupa Allah' dalam Kitab Kejadian?
  2. Mengapa manusia disebut ciptaan yang unik dan berbeda kedudukannya dibandingkan ciptaan Allah lainnya?
  3. Mengapa dalam ajaran Gereja Katolik setiap manusia dikatakan unik dan tidak ada duanya?
  4. Apa artinya manusia diciptakan sebagai citra Allah (Imago Dei) secara rohani dan berakal budi, bukan secara fisik jasmani?
  5. Apa hal paling khas pada dirimu sebagai laki-laki atau perempuan yang patut kamu syukuri sebagai anugerah Allah?
  6. Bagaimana keunikan fisik, psikis, dan peran yang dianugerahkan Allah kepadamu membantumu menjadi pribadi citra Allah yang membanggakan?
  7. Mengapa dalam pergaulan sehari-hari kadang laki-laki dan perempuan diperlakukan secara tidak seimbang atau diskriminatif?
  8. Bagaimana pandangan iman Kristiani bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan setara sebagai citra Allah memengaruhi cara kita berteman?
  9. Bagaimana kita membuktikan rasa syukur atas keunikan diri sebagai ciptaan Allah dalam kehidupan sehari-hari?
  10. Tindakan nyata apa yang dapat kita lakukan untuk menghargai sesama sebagai sesama citra Allah?
  11. Bagaimana pemahaman bahwa dirimu diciptakan sebagai citra Allah yang unik memengaruhi caramu memandang martabat diri dan sesama?
  12. Tindakan nyata konkret apa yang membuktikan bahwa kamu menghormati kesetaraan martabat laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengidentifikasi Makna Manusia sebagai Citra Allah Berdasarkan Teks Kitab Suci Kejadian 1:26-28 — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.1 Mengidentifikasi makna manusia sebagai citra Allah yang unik berdasarkan teks Kitab Suci

Pendahuluan:

  • Guru membuka pertemuan dengan doa pembuka dan menyapa murid untuk menciptakan suasana belajar yang hening dan terbuka (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan 1: mengidentifikasi makna manusia sebagai citra Allah yang unik berdasarkan teks Kitab Kejadian 1:26-28 (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan terarah untuk mengecek pemahaman awal: (1) 'Siapa yang menciptakan manusia dan menurut apa manusia diciptakan menurut Kejadian 1:26-27?' (acuan: diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupa Allah / citra Allah); (2) 'Sebutkan satu tugas pokok manusia terhadap ciptaan lain dalam Kejadian 1:28!' (acuan: menguasai, menaklukkan, atau memelihara ciptaan lain) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membaca teks Kitab Suci Kejadian 1:26-28 secara hening dan berkesadaran untuk mengenali teks penciptaan manusia (5 menit).
  • Guru memberikan penjelasan konseptual mengenai istilah 'gambar dan rupa' (citra/imago Dei): bahwa keserupaan manusia dengan Allah bukan pada aspek fisik-jasmaniah karena Allah adalah Roh, melainkan pada martabat rohani (akal budi, kehendak bebas, hati nurani, kemampuan mengasihi), serta kedudukan unik manusia sebagai rekan sekerja Allah yang berbeda dari ciptaan lain (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan kuis tantangan berpasangan 'Tebak Benar-Salah Makna Citra' untuk menguji pemahaman teks Kejadian 1:26-28 secara menyenangkan dengan saling mencocokkan respon cepat atas 3 pernyataan guru: (1) Manusia serupa dengan Allah secara bentuk tubuh jasmani (Salah); (2) Laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan menurut gambar Allah (Benar); (3) Tugas menguasai bumi berarti manusia bebas merusaknya (Salah) (10 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Kerja Identifikasi Teks Kejadian 1:26-28 yang memuat 4 butir pertanyaan identifikasi makna: (1) Berdasarkan ayat 26-27, apa arti manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah? (acuan: manusia mencerminkan sifat Allah seperti akal budi, kasih, dan kehendak bebas, bukan rupa jasmani); (2) Berdasarkan ayat 27, siapa saja yang diciptakan menurut gambar Allah? (acuan: laki-laki dan perempuan); (3) Berdasarkan ayat 28, apa tugas dan kuasa yang diberikan Allah kepada manusia? (acuan: beranakcucu/memenuhi bumi serta menaklukkan/berkuasa atas ciptaan lain secara bertanggung jawab); (4) Apa yang membedakan kedudukan manusia dari ciptaan lain berdasarkan teks tersebut? (acuan: manusia berkedudukan luhur/bermartabat tinggi sebagai rekan sekerja Allah yang diberkati dan diberi kuasa memelihara ciptaan, sedangkan ciptaan lain tidak diciptakan seturut gambar dan rupa Allah) (22 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru bersama murid membahas kunci jawaban keempat butir identifikasi teks, dan murid memverifikasi hasil pekerjaannya secara teliti (10 menit).
  • Murid menuliskan 1 kalimat refleksi personal di buku catatan mengenai kesadaran dirinya yang diciptakan unik dan berharga di mata Allah seturut Kejadian 1:26-28 (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan 3 poin inti makna manusia sebagai citra Allah berdasarkan Kejadian 1:26-28: manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (martabat rohani), laki-laki dan perempuan setara sebagai citra-Nya, serta manusia mengemban amanat memelihara ciptaan lain (3 menit).
  • Guru menyampaikan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan penutup dan memberikan umpan balik langsung (40 detik per pertanyaan): 'Apakah citra Allah berkaitan dengan rupa wajah kita?' (acuan: Tidak, berkaitan dengan sifat rohani/akal budi/kasih Allah) (2 menit).
  • Guru menginformasikan topik pertemuan berikutnya (Makna keunikan manusia sebagai citra Allah menurut ajaran Gereja Katolik) dan menutup pembelajaran dengan doa syukur singkat (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks Kejadian 1:26-28 dengan cetak tebal pada frasa kunci ('gambar dan rupa Kita', 'laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya', 'berkuasalah'), sedangkan murid yang cepat mencermati teks lengkap tanpa penanda.
  • Proses: Murid yang memerlukan scaffolding dibimbing guru dengan petunjuk langsung menemukan nomor ayat yang menjawab pertanyaan lembar kerja, sementara murid yang lebih mandiri menganalisis teks secara langsung.
  • Produk: Murid yang memerlukan bimbingan menjawab butir identifikasi dengan memilih kata kunci yang tersedia pada kotak bantuan teks, sedangkan murid yang cepat merumuskan identifikasi makna dengan kalimat utuh mandiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan di pendahuluan dengan 2 butir pertanyaan: (1) Siapa yang menciptakan manusia dan menurut apa manusia diciptakan menurut Kejadian 1:26-27? (acuan: Allah; menurut gambar dan rupa Allah / citra Allah); (2) Sebutkan satu tugas manusia terhadap ciptaan lain dalam Kejadian 1:28! (acuan: menguasai, menaklukkan, atau memelihara ciptaan lain).

Proses:

  • Observasi partisipasi dalam kuis tantangan berpasangan 'Tebak Benar-Salah' (3 pernyataan acuan: tubuh jasmani serupa Allah = Salah; laki-laki & perempuan citra Allah = Benar; bebas merusak bumi = Salah).
  • Pemeriksaan ketepatan Lembar Kerja Identifikasi Teks Kejadian 1:26-28 (4 butir dengan acuan: arti gambar dan rupa Allah, subjek laki-laki dan perempuan, tugas beranakcucu dan menguasai ciptaan, serta kedudukan luhur manusia dibanding ciptaan lain).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: 'Apakah manusia sebagai citra Allah berarti wajah fisik kita mirip wajah Allah?' (acuan: Bukan fisik/jasmani, melainkan rohani karena memiliki akal budi, kehendak bebas, hati nurani, dan cinta kasih seturut Allah).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal teks Kejadian 1:26-28
  • Kuis tantangan berpasangan 'Tebak Benar-Salah Makna Citra'
  • Lembar Kerja Tertulis Identifikasi Teks Kejadian 1:26-28 (4 butir)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Makna Manusia sebagai Citra Allah Berdasarkan Teks Kitab Suci (Kejadian 1:26-28)Mengidentifikasi dengan tepat 1 dari 4 butir acuan makna citra Allah pada teks Kejadian 1:26-28 dengan bantuan penuh guru (daftar acuan: [1] arti gambar dan rupa secara rohani/bukan fisik; [2] laki-laki dan perempuan diciptakan sebagai citra Allah; [3] tugas beranakcucu dan memelihara/menguasai ciptaan; [4] kedudukan luhur manusia sebagai rekan kerja Allah dibanding ciptaan lain).Mengidentifikasi dengan tepat 2 dari 4 butir acuan makna citra Allah pada teks Kejadian 1:26-28 secara mandiri atau dengan sedikit arahan.Mengidentifikasi dengan tepat 3 dari 4 butir acuan makna citra Allah pada teks Kejadian 1:26-28 secara mandiri.Mengidentifikasi dengan tepat seluruh 4 butir acuan makna citra Allah pada teks Kejadian 1:26-28 secara lengkap dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah penggalian teks Kitab Suci Kejadian 1:26-28 efektif membantu seluruh murid memahami bahwa citra Allah bersifat rohani dan bukan kemiripan fisik?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas kuis berpasangan, dan apakah scaffolding yang disiapkan mencukupi bagi murid yang membutuhkan bantuan?

Murid:

  • Apa hal terpenting yang saya pahami hari ini tentang alasan Allah menciptakan saya menurut gambar dan rupa-Nya?
  • Bagaimana perasaan saya setelah menyadari bahwa diri saya begitu luhur dan berharga di hadapan Allah?

Pertemuan 2 — Mengidentifikasi Makna Keunikan Manusia sebagai Citra Allah Menurut Ajaran Gereja Katolik — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.1 Mengidentifikasi makna manusia sebagai citra Allah yang unik berdasarkan teks Kitab Suci

Pendahuluan:

  • Guru membuka pertemuan dengan salam, mengajak murid berdoa singkat memohon bimbingan Roh Kudus, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan 2, yaitu mengidentifikasi makna keunikan manusia sebagai citra Allah menurut ajaran Gereja Katolik (Katekismus Gereja Katolik / KGK) serta keterkaitannya dengan teks Kitab Suci Kejadian 1:26-28 (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat mengenai pemahaman dasar istilah Imago Dei dan keunikan manusia: (1) Apa arti kata 'Imago Dei'?; (2) Apakah keserupaan manusia dengan Allah terletak pada bentuk fisik tubuh jasmani atau pada martabat rohani/akal budi? (Acuan jawaban: 1. Gambar/rupa Allah atau citra Allah; 2. Terletak pada martabat rohani, akal budi, kehendak bebas, bukan fisik jasmani) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak paparan ringkas kutipan Katekismus Gereja Katolik (KGK No. 356-357) dan dokumen Konsili Vatikan II (Gaudium et Spes art. 12) yang menegaskan bahwa 'manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya, serta menjadi satu-satunya makhluk di bumi yang dikehendaki Allah demi dirinya sendiri' (10 menit).
  • Guru memandu murid membedah 3 makna pokok keunikan manusia sebagai citra Allah menurut ajaran Gereja Katolik: (a) Martabat luhur rohani (memiliki akal budi, hati nurani, kehendak bebas); (b) Hubungan personal dengan Allah (mampu mengenal dan mencintai Allah); (c) Rekan sekerja Allah (mandat memelihara ciptaan lain secara bertanggung jawab) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan berpasangan menggembirakan 'Detektif Ajaran Gereja': setiap pasangan menerima Lembar Kerja Berpasangan yang memuat 4 pernyataan situasi/kasus dan diminta mengidentifikasi mana yang mencerminkan makna manusia sebagai citra Allah menurut ajaran Gereja Katolik (pernyataan A dan C) dan mana yang keliru/bukan (pernyataan B dan D). Daftar 4 pernyataan: A. 'Seseorang dihormati martabatnya karena ia memiliki akal budi dan kehendak bebas dari Allah, bukan karena kekayaan fisiknya'; B. 'Manusia segambar dengan Allah karena Allah memiliki wajah, tangan, dan tubuh yang sama persis dengan manusia'; C. 'Setiap pribadi itu unik dan tak tergantikan karena dipanggil secara pribadi untuk mengasihi Tuhan dan sesama'; D. 'Manusia berkuasa mutlak atas alam sehingga boleh mengeksploitasi dan merusak alam sesuka hati'. Pasangan tercepat dan tepat memasang tanda centang mendapat apresiasi tepuk salut (10 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Kerja Identifikasi Makna Citra Allah berisi 4 butir soal isian untuk mengidentifikasi makna manusia sebagai citra Allah menurut ajaran Gereja Katolik: (1) Sebutkan 2 anugerah rohani yang membuktikan manusia serupa dengan Allah menurut KGK! (Acuan: akal budi, kehendak bebas, atau hati nurani); (2) Jelaskan makna 'manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah' menurut ajaran Gereja Katolik! (Acuan: bukan keserupaan fisik jasmani, melainkan keserupaan rohani, keluhuran martabat, kemampuan mengenal dan mencintai Allah); (3) Mengapa setiap manusia unik di hadapan Allah? (Acuan: karena diciptakan istimewa, dipanggil secara personal, memiliki bakat dan martabat tak tergantikan); (4) Apa tugas manusia sebagai citra Allah terhadap alam ciptaan? (Acuan: menjadi partner/rekan sekerja Allah untuk merawat dan memelihara ciptaan secara bertanggung jawab, bukan merusak) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengheningkan cipta secara berkesadaran (mindful), merenungkan rahmat keluhuran martabat dirinya yang begitu dikasihi dan dihargai oleh Allah secara unik melalui panduan doa hening terbimbing dari guru (5 menit).
  • Murid menuliskan 1 kalimat refleksi personal di buku catatan tentang rasa syukur menjadi pribadi yang unik dan bermartabat luhur sebagai citra Allah (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan 3 poin inti pembelajaran hari ini: manusia sebagai citra Allah memiliki martabat rohani luhur, hubungan personal yang unik dengan Allah, dan perutusan memelihara ciptaan (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas hasil kerja identifikasi murid, menyampaikan topik pertemuan berikutnya (keunikan diri sebagai laki-laki atau perempuan), dan menutup kelas dengan doa penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks kutipan intisari KGK No. 356-357 dengan poin-poin kata kunci yang sudah distabilo; murid dengan pemahaman cepat diberikan teks kutipan Gaudium et Spes art. 12 lengkap untuk diidentifikasi.
  • Proses: Pada latihan mandiri, murid yang memerlukan pendampingan dibantu guru melalui pertanyaan penuntun terarah, sedangkan murid yang cepat menyelesaikan 4 butir secara mandiri dan dapat mengidentifikasi 1 contoh penerapan ajaran tersebut dalam menghargai teman yang memiliki kekurangan.
  • Produk: Semua murid menghasilkan lembar kerja identifikasi yang sama; murid yang membutuhkan bimbingan diperkenankan menjawab dengan poin-poin kunci terarah sesuai daftar acuan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pelajaran untuk memetakan kesiapan murid terkait kompetensi TP 7.1.1: (1) Apa arti 'Imago Dei'? (Acuan: citra Allah atau gambar dan rupa Allah); (2) Apakah manusia serupa dengan Allah dalam bentuk fisik tubuh jasmani atau dalam martabat rohani dan akal budi? (Acuan: martabat rohani, akal budi, dan kehendak bebas, bukan fisik jasmani).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan hasil kerja permainan berpasangan 'Detektif Ajaran Gereja' (mengidentifikasi pernyataan A dan C sebagai cerminan ajaran Gereja, serta B dan D sebagai kekeliruan).
  • Pemeriksaan Lembar Kerja Mandiri Identifikasi Makna Citra Allah menurut Ajaran Gereja Katolik berisi 4 butir: Butir 1 (Acuan: akal budi, kehendak bebas/hati nurani), Butir 2 (Acuan: keserupaan rohani/kemampuan mengenal dan mencintai Allah, bukan fisik jasmani), Butir 3 (Acuan: diciptakan istimewa, dipanggil personal, martabat tak tergantikan), Butir 4 (Acuan: rekan sekerja Allah untuk merawat/memelihara ciptaan secara bertanggung jawab).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir melalui 2 pertanyaan lisan singkat penutup: (1) Sebutkan satu alasan mengapa manusia bukan segambar secara fisik jasmani dengan Allah! (Acuan: karena Allah adalah Roh); (2) Mengapa keunikan manusia wajib dihargai? (Acuan: karena setiap manusia memiliki martabat luhur yang dikasihi Allah secara personal).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran untuk mengecek pemahaman awal istilah Imago Dei dan keserupaan rohani.
  • Observasi unjuk kerja saat permainan berpasangan 'Detektif Ajaran Gereja'.
  • Penilaian Lembar Kerja Mandiri Identifikasi Makna Citra Allah menurut Ajaran Gereja Katolik (4 butir isian terstruktur).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi makna keunikan manusia sebagai citra Allah menurut ajaran Gereja KatolikMampu mengidentifikasi makna manusia sebagai citra Allah dengan benar pada 1 dari 4 butir soal pada Lembar Kerja Mandiri (Butir 1, 2, 3, atau 4) dengan bantuan penuh dari guru.Mampu mengidentifikasi makna manusia sebagai citra Allah dengan benar pada 2 dari 4 butir soal pada Lembar Kerja Mandiri (sesuai daftar acuan butir 1 sampai 4) dengan sedikit arahan guru.Mampu mengidentifikasi makna manusia sebagai citra Allah dengan benar pada 3 dari 4 butir soal pada Lembar Kerja Mandiri (sesuai daftar acuan butir 1 sampai 4) secara mandiri.Mampu mengidentifikasi makna manusia sebagai citra Allah dengan tepat pada seluruh 4 butir soal pada Lembar Kerja Mandiri (sesuai daftar acuan butir 1 sampai 4) secara tepat, lengkap, dan mandiri tanpa kekeliruan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah permainan berpasangan 'Detektif Ajaran Gereja' efektif membantu murid membedakan keserupaan rohani dan fisik dalam ajaran citra Allah?
  • Apakah alokasi waktu untuk pengerjaan lembar kerja mandiri 4 butir mencukupi bagi seluruh murid?
  • Bagian mana dari konsep ajaran Gereja Katolik (KGK) yang masih dirasa sulit dipahami oleh murid?

Murid:

  • Hal baru apa yang saya pahami hari ini tentang arti manusia sebagai gambar dan rupa Allah?
  • Mengapa saya patut bersyukur diciptakan unik dan memiliki martabat luhur di mata Tuhan?

Pertemuan 3 — Mendeskripsikan Keunikan Diri sebagai Citra Allah dalam Keberadaannya sebagai Laki-laki atau Perempuan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.2 Mendeskripsikan keunikan diri sebagai citra Allah dalam keberadaannya sebagai laki-laki atau perempuan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa syukur atas martabat sebagai laki-laki dan perempuan seturut teks KGK 358 dan Kejadian 1:27, serta mengecek kehadiran (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berupa 2 pertanyaan: (1) Sebutkan 1 ciri fisik kodrati pembeda laki-laki dan perempuan! (kriteria jawaban: laki-laki memiliki jakun/suara berat/organ reproduksi pria; perempuan mengalami menstruasi/mengandung/menyusui); (2) Sebutkan 1 alasan keberadaan laki-laki atau perempuan disebut luhur menurut ajaran iman Katolik! (kriteria jawaban: diciptakan sengaja oleh Allah menurut citra-Nya dan saling melengkapi) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yakni mendeskripsikan keunikan diri sebagai citra Allah dalam keberadaannya sebagai laki-laki atau perempuan, serta mengaitkannya secara bermakna dengan masa pubertas murid kelas VII (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak ulasan guru dan teks panduan (Buku Siswa Bab 1 Subbab B) mengenai keunikan manusia sebagai laki-laki atau perempuan yang mencakup 3 aspek keunikan anugerah Allah: fisik/biologis (kodrati), psikis/kejiwaan (sifat khas yang dapat berkembang), dan sosial-rohani (peran memancarkan kasih Allah) (10 menit).
  • Murid secara individu membaca kutipan katekese/KGK 358 dan mencermati pembeda antara keunikan yang murni anugerah kodrati Allah dengan kebiasaan/konstruksi lingkungan (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan kuis tantangan kartu interaktif 'Aku Citra Unik': murid mengelompokkan 6 kartu pernyataan ke dalam 2 kategori: 'Keunikan Fisik/Kodrati Laki-laki/Perempuan' atau 'Keunikan Psikis/Peran Rohani'. Teks kartu: (1) 'Kemampuan biologis perempuan untuk mengandung dan menyusui', (2) 'Karakter pelindung dan ketegasan dalam membimbing', (3) 'Bentuk suara yang membesar pada remaja laki-laki', (4) 'Kelembutan hati dan kepekaan rasa dalam merawat', (5) 'Ciri khas jakun dan struktur tulang maskulin', (6) 'Panggilan menjadi partner kerja Allah memelihara kehidupan' [Kunci: Kartu 1, 3, 5 = Keunikan Fisik/Kodrati; Kartu 2, 4, 6 = Keunikan Psikis/Peran Rohani] (10 menit).
  • Murid mengisi Lembar Kerja Deskripsi Diri 'Keunikanku sebagai Citra Allah', dengan menuliskan deskripsi konkret dirinya dalam keberadaannya sebagai laki-laki atau perempuan, mencakup: (a) 2 keunikan fisik yang disyukuri, (b) 2 keunikan sifat/bakat diri, dan (c) 1 makna keunikan tersebut sebagai pancaran citra Allah [Kriteria ketepatan: mendeskripsikan data diri nyata sesuai jenis kelamin masing-masing dan mengaitkannya dengan rahmat Allah] (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid duduk hening, membaca ulang deskripsi diri yang telah dibuat, lalu menyadari dengan penuh kesadaran (mindful) bahwa tubuh dan kepribadiannya sebagai laki-laki atau perempuan adalah mahakarya Allah yang baik adanya (10 menit).
  • Guru memberikan umpan balik formatif terhadap deskripsi yang dibuat murid dan mengajak murid menegaskan rasa bangga yang sehat atas identitas dirinya di hadapan Allah (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa keunikan diri sebagai laki-laki atau perempuan adalah anugerah luhur dari Allah yang saling melengkapi dan patut disyukuri dengan perilaku yang terhormat (5 menit).
  • Guru memberikan cek pemahaman akhir 1 pertanyaan lisan terarah: 'Mengapa kita harus bangga terhadap keunikan diri kita sebagai laki-laki atau perempuan seturut citra Allah?' [Kriteria jawaban benar: karena diri kita diciptakan sengaja oleh Allah secara luhur dan dipanggil memancarkan kebaikan Allah] serta menutup pertemuan dengan doa penutup syukur (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa daftar kata kunci ciri fisik dan sifat khas laki-laki/perempuan; murid yang cepat diberikan teks pengayaan KGK 358 untuk memperdalam aspek rohani citra Allah.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan mendeskripsikan diri dibimbing langsung oleh guru melalui pertanyaan penuntun terfokus pada kelebihan diri, sementara murid mandiri langsung menuangkan refleksi deskriptifnya secara mandiri.
  • Produk: Murid dapat menyajikan deskripsi keunikan dirinya dalam bentuk tabel deskriptif naratif sederhana atau peta pikiran (mind map) personal yang memuat seluruh indikator wajib.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan di pendahuluan mengenai ciri kodrati laki-laki dan perempuan serta alasan keluhuran martabat manusia menurut iman Katolik. Acuan jawaban benar: (1) Ciri fisik kodrati laki-laki: suara membesar/jakun/organ reproduksi pria; perempuan: menstruasi/rahim untuk mengandung/payudara untuk menyusui. (2) Alasan keluhuran: manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah (citra Allah) serta memiliki martabat luhur yang dikasihi Allah.

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pengelompokan 6 kartu pada aktivitas kuis tantangan 'Aku Citra Unik'. Kunci jawaban kartu: Kartu 1, 3, dan 5 masuk kategori Keunikan Fisik/Kodrati; Kartu 2, 4, dan 6 masuk kategori Keunikan Psikis/Peran Rohani.
  • Pemeriksaan Lembar Kerja Deskripsi Diri: Kriteria penerimaan operasional: (1) Memuat minimal 2 keunikan fisik nyata yang dimiliki murid sesuai jenis kelaminnya, (2) Memuat minimal 2 keunikan sifat/bakat khas dirinya, (3) Memuat minimal 1 kalimat reflektif yang mengaitkan keunikan dirinya sebagai rahmat/citra Allah yang patut disyukuri.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir di penutup: 'Mengapa kita harus bangga terhadap keunikan diri kita sebagai laki-laki atau perempuan seturut citra Allah?'. Kriteria penerimaan: Jawaban murid menyatakan pengakuan bahwa keberadaan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan merupakan anugerah terencana dari Allah, bermartabat luhur, dan dipanggil menjadi pancaran kasih/kebaikan Allah bagi sesama.

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan kartu tantangan 'Aku Citra Unik' dan Lembar Kerja Deskripsi Diri
  • Observasi partisipasi dan keterlibatan aktif saat hening refleksi diri

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mendeskripsikan keunikan diri sebagai citra Allah dalam keberadaannya sebagai laki-laki atau perempuanHanya mendeskripsikan 1 keunikan fisik atau sifat diri tanpa mengaitkannya dengan keberadaan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan dan tanpa menyebut aspek citra Allah.Mendeskripsikan 2 keunikan diri (fisik dan sifat) sesuai keberadaannya sebagai laki-laki atau perempuan, namun belum mengaitkannya dengan makna citra Allah.Mendeskripsikan secara tepat 2 keunikan fisik, 2 sifat/bakat diri sesuai keberadaannya sebagai laki-laki atau perempuan, serta memuat 1 makna keterkaitannya sebagai anugerah citra Allah.Mendeskripsikan secara rinci, mendalam, dan mandiri seluruh aspek keunikan fisik, psikis/sifat, dan peran sosial-rohani diri sebagai laki-laki atau perempuan serta maknanya yang luhur sebagai pancaran citra Allah.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 80 menit memfasilitasi setiap murid mengenali keunikan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan tanpa rasa canggung atau rendah diri?
  • Bagaimana respons dan kedalaman murid saat diajak melihat tubuh dan kepribadiannya sebagai anugerah suci citra Allah?

Murid:

  • Hal apa yang paling membuatmu bersyukur dan bangga diciptakan Allah sebagai laki-laki atau perempuan?
  • Apakah kamu sudah memperlakukan dirimu sendiri secara terhormat dan pantas sebagai citra Allah yang berharga?

Pertemuan 4 — Menganalisis Kesetaraan Martabat Manusia sebagai Laki-laki dan Perempuan Seturut Citra Allah dalam Pergaulan Hidup — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.3 Menganalisis kesetaraan martabat manusia sebagai laki-laki dan perempuan seturut citra Allah dalam pergaulan hidup

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan doa pembuka syukur atas martabat luhur manusia, mengecek kehadiran, dan membangun suasana siap belajar yang hening dan tenang (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: menganalisis kesetaraan martabat manusia sebagai laki-laki dan perempuan seturut citra Allah dalam pergaulan hidup (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan tertulis singkat di papan tulis: (1) 'Apakah perempuan dan laki-laki memiliki derajat martabat yang sama di hadapan Allah? Sebutkan alasannya!', (2) 'Sebutkan 1 contoh perlakuan tidak adil berbasis jenis kelamin dalam pergaulan sekolah!'. Murid menulis jawaban singkat di selembar kertas untuk pemetaan kesiapan berpikir kritis (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan guru mengenai kutipan Kitab Suci Kejadian 1:27 dan KGK 358 tentang penciptaan laki-laki dan perempuan yang sederajat, sepadan, dan saling melengkapi (komplementer) sebagai citra Allah tanpa ada yang lebih tinggi atau lebih rendah (10 menit).
  • Guru membagikan Lembar Kasus Pergaulan yang memuat 3 studi kasus nyata di lingkungan remaja untuk dianalisis: Kasus 1 (Pemilihan ketua OSIS yang menganggap perempuan tidak mampu memimpin tegas); Kasus 2 (Pemberian tugas piket kelas di mana anak laki-laki hanya disuruh angkat meja dan perempuan menyapu/membersihkan kaca); Kasus 3 (Ejekan bahwa laki-laki tidak boleh menangis atau menunjukkan kerapuhan). Murid mencermati unsur ketidaksetaraan martabat pada setiap kasus (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan kuis tantangan analisis berpasangan 'Detektif Kesetaraan Citra Allah' yang menyenangkan: setiap pasangan memilih 2 kartu situasi pergaulan dari 4 kartu yang disediakan, lalu menganalisis akar masalah ketidaksetaraan dan merumuskan cara bersikap yang sesuai dengan martabat citra Allah (10 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Analisis Kesetaraan Martabat dengan membedah 3 kasus pergaulan (Kasus 1, Kasus 2, dan Kasus 3) dengan menjawab 3 pertanyaan analisis per kasus: (a) Apa bentuk perlakuan tidak setara dalam kasus?, (b) Mengapa perlakuan itu bertentangan dengan martabat manusia sebagai citra Allah?, dan (c) Bagaimana sikap pergaulan yang benar seturut ajaran iman Katolik? (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan hening reflektif untuk memeriksa sikap pergaulan pribadinya selama ini terhadap lawan jenis, menyadari apakah pernah meremehkan atau membatasi teman karena jenis kelaminnya, lalu menuliskan satu komitmen batin perbaikan sikap pergaulan yang menghargai kesetaraan citra Allah (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menarik kesimpulan pembelajaran bahwa laki-laki dan perempuan memiliki martabat yang luhur dan setara di hadapan Allah, sehingga dalam pergaulan hidup wajib saling menghormati, tidak mendiskriminasi, dan saling melengkapi (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas lembar analisis yang dikerjakan murid serta mengingatkan materi pertemuan berikutnya tentang menyusun rencana tindakan nyata penghayatan iman (4 menit).
  • Guru dan murid mengakhiri pembelajaran dengan doa penutup mohon rahmat persaudaraan sejati (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan petunjuk kata kunci teks Kitab Suci (Kej 1:27 dan KGK 358) pada lembar analisis, sedangkan murid yang mahir diberikan studi kasus pergaulan tambahan mengenai stereotip gender di media sosial.
  • Proses: Murid dengan kesiapan belajar awal rendah didampingi guru secara berkala saat mengurai akar masalah perlakuan tidak setara, sementara murid berkemampuan tinggi bekerja mandiri menguraikan analisis sebab-akibat secara mendalam.
  • Produk: Kedalaman analisis pada lembar kerja: murid yang sedang berkembang cukup menganalisis minimal 2 kasus secara tepat, sedangkan murid mahir menganalisis seluruh 3 kasus disertai rujukan ajaran citra Allah secara utuh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik tertulis singkat: (1) 'Apakah perempuan dan laki-laki memiliki derajat martabat yang sama di hadapan Allah? Sebutkan alasannya!' (Acuan jawaban: Ya, sama/setara, karena keduanya diciptakan menurut gambar dan rupa Allah/citra Allah); (2) 'Sebutkan 1 contoh perlakuan tidak adil berbasis jenis kelamin dalam pergaulan sekolah!' (Acuan jawaban yang diterima: anggapan perempuan lemah/tidak boleh memimpin, pembagian tugas piket yang timpang, ejekan bahwa laki-laki tidak boleh sedih/menangis, atau pembatasan kesempatan bermain/belajar).

Proses:

  • Penilaian penugasan analisis mandiri pada Lembar Analisis Kesetaraan Martabat berdasarkan 3 kasus pergaulan (Kasus 1: Kepemimpinan OSIS; Kasus 2: Pembagian tugas kelas/piket; Kasus 3: Stereotip emosi laki-laki). Kunci acuan analisis: (Kasus 1) Bentuk tidak setara: meragukan kapasitas pemimpin hanya karena ia perempuan; Bertentangan citra Allah: Allah menganugerahkan akal budi dan kepemimpinan setara kepada perempuan dan laki-laki; Sikap benar: memilih pemimpin berdasarkan integritas dan kemampuan tanpa membedakan jenis kelamin. (Kasus 2) Bentuk tidak setara: pembagian kerja kaku berbasis gender fisik tanpa kerja sama seimbang; Bertentangan citra Allah: laki-laki dan perempuan dipanggil untuk saling melengkapi dan bekerja sama merawat lingkungan; Sikap benar: berbagi tugas secara adil dan tolong-menolong. (Kasus 3) Bentuk tidak setara: pembatasan ekspresi emosi manusiawi pada laki-laki; Bertentangan citra Allah: manusia diciptakan utuh dengan rasa dan hati yang patut dihargai martabatnya; Sikap benar: menerima dan mendengarkan teman laki-laki maupun perempuan yang membutuhkan dukungan emosional tanpa mencemooh.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat lisan/tertulis di akhir tahap merefleksi: Murid menuliskan rumusan simpulan satu kalimat tentang makna kesetaraan martabat laki-laki dan perempuan dalam pergaulan (Kriteria penerimaan: rumusan memuat konsep dasar bahwa laki-laki dan perempuan berderajat setara sebagai citra Allah dan wajib saling menghormati dalam relasi pergaulan hidup).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik tertulis di awal pertemuan mengenai pemahaman kesetaraan martabat dan contoh ketidaksetaraan dalam pergaulan
  • Asesmen proses formatif melalui penugasan individu Lembar Analisis Kesetaraan Martabat Manusia sebagai Laki-laki dan Perempuan dalam Pergaulan Hidup

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis kesetaraan martabat manusia sebagai laki-laki dan perempuan seturut citra Allah dalam pergaulan hidupMurid belum mampu mengidentifikasi bentuk ketidaksetaraan dalam kasus pergaulan dan belum mampu menghubungkannya dengan martabat manusia sebagai citra Allah (menganalisis 0 kasus dengan tepat).Murid mampu mengidentifikasi bentuk ketidaksetaraan dalam 1 kasus pergaulan, namun penjelasan keterhubungannya dengan ajaran citra Allah dan sikap pergaulan yang benar masih belum tepat atau memerlukan bantuan penuh guru.Murid mampu menganalisis minimal 2 dari 3 kasus pergaulan secara tepat meliputi bentuk perlakuan tidak setara, alasan pertentangannya dengan martabat citra Allah, dan sikap pergaulan yang benar sesuai ajaran iman Katolik secara mandiri.Murid mampu menganalisis seluruh 3 kasus pergaulan secara tepat, mendalam, dan runtut meliputi bentuk perlakuan tidak setara, alasan pertentangannya dengan martabat citra Allah, dan sikap pergaulan yang benar sesuai ajaran iman Katolik secara mandiri tanpa keraguan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah skenario studi kasus pergaulan yang disajikan relevan dan memantik nalar kritis murid dalam membedah isu kesetaraan martabat?
  • Bagaimana keterlibatan murid laki-laki dan perempuan selama proses analisis berlangsung, apakah tercipta suasana dialog yang saling menghargai?

Murid:

  • Sikap pergaulan apa yang selama ini saya lakukan yang ternyata meremehkan atau membatasi teman karena jenis kelaminnya?
  • Langkah konkret apa yang akan saya ubah mulai hari ini agar pergaulan saya mencerminkan penghormatan terhadap martabat sesama sebagai citra Allah yang setara?

Pertemuan 5 — Menyusun Rencana Tindakan Nyata Penghayatan Iman atas Keluhuran Manusia sebagai Citra Allah yang Unik — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.4 Menyusun rencana tindakan nyata penghayatan iman atas keluhuran manusia sebagai citra Allah yang unik

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan tanda salib, salam, dan mengajak murid berdoa pembuka mohon bimbingan Roh Kudus agar dapat merencanakan perbuatan baik (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu menyusun rencana tindakan nyata penghayatan iman atas keluhuran manusia sebagai citra Allah yang unik (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan meminta murid memilih 1 dari 3 contoh pernyataan komitmen tindakan yang paling konkret dan dapat diukur pelaksanaannya: (A) Berusaha menjadi anak yang baik selalu, (B) Mendoakan teman yang sakit setiap malam sebelum tidur selama 1 pekan, (C) Mengasihi semua makhluk ciptaan Tuhan tanpa batas. Kunci jawaban: pilihan B adalah contoh rencana tindakan yang konkret dan terukur (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai komponen penyusunan tabel rencana aksi nyata penghayatan iman sebagai citra Allah yang mencakup 4 aspek: (1) bentuk tindakan konkret, (2) sasaran/pihak yang dituju, (3) waktu/jadwal pelaksanaan spesifik, dan (4) alasan penghayatan iman sebagai citra Allah (10 menit).
  • Murid secara berpasangan diajak mengikuti kuis tantangan ceria 'Tebak Aksi Nyata' untuk memilah kartu contoh tindakan yang operasional versus abstrak: Kartu 1: 'Menyapa dan tersenyum ramah kepada teman sebangku setiap pagi' (operasional), Kartu 2: 'Menjadi orang suci' (abstrak), Kartu 3: 'Membantu adik merapikan buku pelajaran setiap pukul 19.00' (operasional), Kartu 4: 'Mencintai kebaikan' (abstrak). Kunci: Kartu 1 dan 3 adalah tindakan operasional (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Perencanaan Aksi Nyata Iman dan mulai menyusun secara mandiri 2 butir rencana tindakan konkret penghayatan iman atas keluhuran martabat diri dan sesama sebagai citra Allah yang unik (20 menit).
  • Murid melengkapi rincian tabel perencanaannya dengan menuliskan target sasaran (diri sendiri, teman, atau keluarga), waktu pelaksanaan yang terukur (misalnya: setiap pagi, tanggal tertentu), serta alasan iman penghayatan citra Allah (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Dalam suasana hening dan tenang, murid merenungkan komitmen rencana yang telah ditulis seraya membaca kembali pertanyaan reflektif: 'Bila Allah telah menciptakanku serupa dan segambar dengan-Nya, apakah rencanaku ini sungguh memancarkan kebaikan Allah bagi orang lain?' (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya mewujudkan iman bukan sekadar kata-kata melainkan lewat perbuatan nyata sehari-hari (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik singkat atas lembar rencana tindakan yang telah disusun murid, mengingatkan murid untuk meminta tanda tangan orang tua di rumah sebagai dukungan pelaksanaan komitmen, serta menutup pembelajaran dengan doa penutup mendaraskan Mazmur 8:1-9 secara bergantian (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Guru menyediakan panduan format tabel berstruktur dengan kalimat pemantik rumpang bagi murid yang membutuhkan perancah belajar.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan pendampingan dalam menentukan batasan waktu pelaksanaan tindakan yang realistis, sedangkan murid yang mandiri langsung merinci 3 tindakan nyata.
  • Produk: Format rencana tindakan dapat berupa tabel tertulis formal maupun kartu komitmen pribadi terstruktur dengan kriteria isi yang tetap sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman rencana tindakan terukur: Memilih pernyataan komitmen tindakan yang konkret dan terukur di antara 3 pilihan: (A) Berusaha menjadi anak yang baik selalu, (B) Mendoakan teman yang sakit setiap malam sebelum tidur selama 1 pekan, (C) Mengasihi semua makhluk ciptaan Tuhan tanpa batas. Acuan kunci jawaban: Pilihan (B) merupakan pernyataan operasional dengan tindakan, objek, dan waktu yang terukur.

Proses:

  • Pemeriksaan draf rencana tindakan nyata murid saat kegiatan aplikasi mandiri untuk memastikan terpenuhinya 4 komponen: tindakan konkret, sasaran, waktu pelaksanaan, dan alasan penghayatan iman citra Allah.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan kelengkapan lembar rencana aksi nyata: Memeriksa lembar kerja murid yang memuat minimal 2 rencana tindakan nyata. Kriteria penerimaan operasional: setiap butir rencana wajib menyebutkan (1) tindakan nyata bukan konsep abstrak, (2) sasaran yang jelas (diri/teman/keluarga), (3) waktu pelaksanaan spesifik, dan (4) alasan iman keterkaitannya dengan keluhuran citra Allah.

Formatif:

  • Penilaian Lembar Perencanaan Aksi Nyata Iman menggunakan rubrik unjuk kerja penyusunan rencana tindakan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan dan Kekonkretan Rencana Tindakan NyataRencana tindakan masih bersifat abstrak tanpa kejelasan sasaran maupun waktu pelaksanaan.Menyusun 1 rencana tindakan konkret namun belum memuat jadwal waktu pelaksanaan yang spesifik atau alasan iman.Menyusun 2 rencana tindakan nyata secara mandiri yang memuat tindakan konkret, sasaran jelas, waktu pelaksanaan spesifik, dan alasan iman sebagai citra Allah.Menyusun lebih dari 2 rencana tindakan nyata secara mandiri dan sangat terperinci mencakup tindakan konkret, sasaran terarah, jadwal berkala yang terukur, serta landasan iman sebagai citra Allah yang mendalam.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu penyusunan rencana tindakan mandiri cukup bagi seluruh murid?
  • Apakah langkah perancah (scaffolding) efektif membantu murid merumuskan tindakan yang terukur dan realistis?

Murid:

  • Apakah rencana tindakan yang aku susun hari ini sungguh realistis dan mampu aku laksanakan dalam sepekan ke depan?
  • Bagaimana perasaanku ketika merencanakan tindakan baik untuk menghormati sesama sebagai citra Allah?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.1 Mengidentifikasi makna manusia sebagai citra Allah yang unik berdasarkan teks Kitab Suci
  • TP 7.1.2 Mendeskripsikan keunikan diri sebagai citra Allah dalam keberadaannya sebagai laki-laki atau perempuan
  • TP 7.1.3 Menganalisis kesetaraan martabat manusia sebagai laki-laki dan perempuan seturut citra Allah dalam pergaulan hidup
  • TP 7.1.4 Menyusun rencana tindakan nyata penghayatan iman atas keluhuran manusia sebagai citra Allah yang unik

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen dengan doa pembuka, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan mengkondisikan ruang kelas agar tenang dan tertib untuk pelaksanaan asesmen sumatif mandiri (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif Bab 1, yakni mengukur pemahaman teks Kitab Suci, kemampuan menganalisis kasus kesetaraan, mendeskripsikan keunikan diri, serta menyusun rencana tindakan nyata penghayatan iman sebagai citra Allah yang unik (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan naskah Tes Tertulis Terpadu (Tugas 1) dan Lembar Kerja Reflektif Mandiri (Tugas 2) serentak kepada setiap murid, lalu menjelaskan tata cara pengerjaan, batas waktu, dan kriteria penilaian yang diharapkan secara hening dan mandiri (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid mengerjakan Tugas 1: Tes Tertulis Uraian secara individual selama 35 menit. Soal 1 memuat teks Kejadian 1:26-28 di mana murid mengidentifikasi 3 makna manusia citra Allah (acuan jawaban: 1. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah/Imago Dei sehingga mencerminkan sifat-sifat ilahi seperti kasih dan akal budi; 2. Manusia memiliki martabat luhur melebihi ciptaan lainnya; 3. Manusia diberi kuasa untuk memelihara serta mengelola alam ciptaan secara bertanggung jawab). Soal 2 menyajikan narasi kasus ketidaksetaraan dalam pemilihan ketua regu karya ilmiah remaja di mana seorang murid perempuan ditolak hanya karena stereotipe gender bahwa pemimpin harus laki-laki; murid menganalisis akar ketidakadilan kasus tersebut dan menuliskan 2 solusi pemecahan berdasar prinsip kesetaraan martabat citra Allah (acuan jawaban: akar masalah adalah diskriminasi berbasis stereotipe peran gender yang merendahkan martabat setara ciptaan Allah; solusi 1: memberikan kesempatan pemilihan berbasis kompetensi dan visi kepemimpinan tanpa membedakan jenis kelamin; solusi 2: mengedukasi anggota regu tentang ajaran bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan sepadan dan sederajat di hadapan Allah) (35 menit).
  • Murid mengerjakan Tugas 2: Penugasan Lembar Kerja Reflektif Mandiri secara individual selama 30 menit. Murid menuliskan deskripsi keunikan diri sebagai laki-laki atau perempuan ciptaan Allah mencakup 1 bakat/talenta khusus serta 1 keterbatasan diri yang disyukuri (acuan kelayakan: bakat/ciri diri diidentifikasi secara nyata dan keterbatasan dimaknai positif sebagai ruang berkembang dalam bimbingan Allah), lalu merumuskan 2 butir rencana tindakan konkret mingguan yang realistis (acuan kelayakan tindakan: Butir 1 memuat aksi nyata merawat diri jasmani/rohani secara teratur; Butir 2 memuat aksi nyata menghargai teman lawan jenis atau sesama dalam pergaulan sekolah tanpa diskriminasi) (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi murid memeriksa kembali kelengkapan lembar jawaban masing-masing, mengheningkan diri sejenak untuk mensyukuri proses belajar Bab 1, dan mengumpulkan lembar jawaban serta lembar kerja secara tertib di meja guru (3 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi atas kejujuran, ketenangan, dan kesungguhan murid dalam menuntaskan asesmen sumatif Bab 1, merangkum perjalanan bab tentang keluhuran citra Allah, dan menutup kegiatan dengan doa penutup syukur (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Naskah soal dan lembar refleksi disediakan dengan ukuran huruf yang jelas dan terbaca untuk semua murid tanpa mengubah kompetensi yang diuji.
  • Proses: Pemberian pendampingan berupa pembacaan ulang instruksi soal secara netral bagi murid dengan hambatan membaca, tanpa memberi petunjuk substansi jawaban.
  • Produk: Format penulisan lembar jawaban dan refleksi tetap seragam sesuai rubrik penilaian yang ditetapkan.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • tes tertulis terpadu dan lembar kerja reflektif mandiri: lembar jawaban tertulis serentak yang memuat pemahaman teks Kitab Suci, analisis studi kasus kesetaraan martabat, deskripsi keunikan diri, serta rumusan rencana tindakan nyata
  • tes tertulis uraian serentak: lembar jawaban murid yang memuat identifikasi makna manusia citra Allah berdasarkan teks Kejadian 1:26-28 dan analisis pemecahan satu kasus ketidaksetaraan perlakuan laki-laki/perempuan di lingkungan pergaulan (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian pemahaman teks Kitab Suci dan analisis kasus)
  • penugasan lembar kerja reflektif mandiri serentak: lembar inventarisasi pribadi berisi deskripsi keunikan diri sebagai laki-laki/perempuan citra Allah dan 2 butir rencana tindakan konkret mingguan yang realistis untuk merawat diri serta menghargai sesama (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian deskripsi diri dan kelayakan rencana tindakan)

Sumatif:

  • tes tertulis terpadu dan lembar kerja reflektif mandiri: lembar jawaban tertulis serentak yang memuat pemahaman teks Kitab Suci, analisis studi kasus kesetaraan martabat, deskripsi keunikan diri, serta rumusan rencana tindakan nyata
  • tes tertulis uraian serentak: lembar jawaban murid yang memuat identifikasi makna manusia citra Allah berdasarkan teks Kejadian 1:26-28 dan analisis pemecahan satu kasus ketidaksetaraan perlakuan laki-laki/perempuan di lingkungan pergaulan (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian pemahaman teks Kitab Suci dan analisis kasus)
  • penugasan lembar kerja reflektif mandiri serentak: lembar inventarisasi pribadi berisi deskripsi keunikan diri sebagai laki-laki/perempuan citra Allah dan 2 butir rencana tindakan konkret mingguan yang realistis untuk merawat diri serta menghargai sesama (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian deskripsi diri dan kelayakan rencana tindakan)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Makna Manusia Citra Allah (Kejadian 1:26-28)Mengidentifikasi 0-1 makna manusia sebagai citra Allah dari 3 daftar acuan (1. Mencerminkan sifat ilahi/gambar Allah; 2. Bermartabat luhur melebihi ciptaan lain; 3. Mengemban kuasa memelihara alam secara bertanggung jawab).Mengidentifikasi 2 dari 3 makna manusia sebagai citra Allah sesuai daftar acuan.Mengidentifikasi seluruh 3 makna manusia sebagai citra Allah sesuai daftar acuan dengan tepat.Mengidentifikasi seluruh 3 makna manusia sebagai citra Allah sesuai daftar acuan secara lengkap, tepat, dan mendalam dengan kalimat runtut mandiri.
Analisis Kasus Kesetaraan Martabat Laki-laki dan PerempuanMenyebutkan akar masalah atau solusi tanpa mengaitkan dengan prinsip kesetaraan martabat citra Allah.Menganalisis akar masalah diskriminasi gender namun hanya memberikan 1 solusi pemecahan yang sesuai prinsip kesetaraan martabat.Menganalisis akar masalah diskriminasi gender dan memberikan 2 solusi pemecahan yang tepat sesuai prinsip kesetaraan martabat citra Allah (solusi berbasis kompetensi adil dan edukasi kesetaraan ciptaan Allah).Menganalisis akar masalah diskriminasi gender dan memberikan 2 solusi pemecahan secara logis, mendalam, tepat, serta menunjukkan penalaran kritis yang utuh.
Deskripsi Keunikan Diri sebagai Citra AllahMendeskripsikan bakat atau keterbatasan diri tanpa penghayatan sebagai anugerah citra Allah.Mendeskripsikan 1 bakat/talenta diri namun belum menyertakan pemaknaan syukur atas keterbatasan diri sebagai citra Allah.Mendeskripsikan 1 bakat diri secara nyata dan 1 keterbatasan diri secara positif sebagai wujud syukur atas keunikan ciptaan Allah.Mendeskripsikan 1 bakat diri dan 1 keterbatasan diri secara mendalam, jujur, serta sarat kesadaran iman akan martabat luhur dirinya sebagai citra Allah.
Kelayakan Rencana Tindakan Nyata Penghayatan ImanMenyusun rencana tindakan yang masih bersifat abstrak atau belum memuat tindakan nyata merawat diri maupun menghargai sesama.Menyusun hanya 1 butir rencana tindakan konkret mingguan yang realistis (antara merawat diri atau menghargai sesama).Menyusun 2 butir rencana tindakan konkret mingguan yang realistis dan dapat diukur (Butir 1: aksi merawat diri jasmani/rohani; Butir 2: aksi menghargai sesama/lawan jenis tanpa diskriminasi).Menyusun 2 butir rencana tindakan konkret mingguan yang sangat realistis, operasional, berbatas waktu jelas, dan mencerminkan komitmen iman yang mendalam.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Sejauh mana instrumen tes uraian dan lembar kerja reflektif mampu mengukur secara autentik ketercapaian 4 TP Bab 1 oleh seluruh murid?
  • Bagaimana variasi respon murid dalam rencana tindakan nyata menggambarkan internalisasi nilai manusia sebagai citra Allah?

Murid:

  • Bagian mana dari asesmen sumatif ini yang paling membantuku menyadari keluhuran martabat diriku dan sesama sebagai citra Allah?
  • Apakah rencana tindakan nyata yang kutuliskan sungguh-sungguh dapat kulaksanakan dengan setia dalam kehidupanku sehari-hari?

SUMBER BELAJAR

  1. Alkitab / Kitab Suci Katolik (Kejadian 1:26-28)
  2. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 2021. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Kemendikbudristek.
  3. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 2021. Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Kemendikbudristek.
  4. Lembar Kerja Siswa Pertemuan 1: Mengidentifikasi Kejadian 1:26-28
  5. Alkitab Deuterokanonika (Kejadian 1:26-28)
  6. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek, 2021
  7. Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek, 2021
  8. Katekismus Gereja Katolik (KGK No. 356-357), Dokumen Konsili Vatikan II (Gaudium et Spes art. 12)
  9. Lembar Kerja Siswa: 'Detektif Ajaran Gereja' dan 'Lembar Kerja Mandiri Identifikasi Makna Citra Allah'
  10. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
  11. Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
  12. Alkitab Deuterokanonika (Kejadian 1:26-28; Kejadian 2:18-25)
  13. Katekismus Gereja Katolik (KGK No. 358)
  14. Alkitab (Kitab Kejadian 1:26-28; 2:18-25)
  15. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021
  16. Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021
  17. Lembar Kasus Pergaulan Hidup Remaja dan Kartu Analisis Detektif Kesetaraan Citra Allah
  18. Buku Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2017/2021
  19. Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2017/2021
  20. Alkitab Deuterokanonika (Kejadian 1:26-28; Mazmur 8:1-9)
  21. Lembar Kerja Rencana Aksi Nyata Iman Citra Allah
  22. Alkitab (Kitab Suci Perjanjian Lama: Kejadian 1:26-28)
  23. Buku Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021
  24. Naskah Soal Tes Tertulis Terpadu dan Lembar Kerja Reflektif Mandiri Bab 1

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.