MODUL AJAR Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti — Kelas 6 (Fase C) Topik: Bab 4 — Bertindak Adil Menurut Hati Nurani INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti |
|---|
| Fase / Kelas | Fase C / Kelas 6 |
|---|
| Topik | Bab 4 — Bertindak Adil Menurut Hati Nurani |
|---|
| Alokasi Waktu | 24 JP (24 x 35 menit = 840 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 8 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 6.4.1 Menjelaskan arti dan peranan bertindak menurut hati nurani dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
- TP 6.4.2 Menampilkan sikap bertindak menurut hati nurani dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
- TP 6.4.3 Menguraikan makna menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
- TP 6.4.4 Menerapkan tindakan menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Apa yang kamu rasakan di dalam batin saat hendak berbuat salah atau setelah melakukan kebaikan?
- Mengapa Gereja Katolik menyebut hati nurani sebagai tempat manusia berduaan saja dengan Allah?
- Mengapa Simon Petrus menangis sedih tersedu-sedu setelah mendengar ayam berkokok dan bertatapan mata dengan Yesus?
- Bagaimana suara hati bekerja dalam diri kita saat kita melakukan kesalahan atau hendak berbuat curang?
- Apa yang dibisikkan oleh suara hatimu saat melihat kesempatan menyontek ketika pengawas sedang lengah?
- Mengapa menolak godaan berbuat curang merupakan wujud ketaatan kepada Allah dalam hidup sehari-hari?
- Apa yang dibisikkan oleh hati nuranimu saat kamu tidak sengaja merusak barang teman di sekolah?
- Mengapa mengakui kesalahan secara jujur membutuhkan keberanian moral sebagai anak beriman Kristiani?
- Apakah bersikap adil selalu berarti membagikan sesuatu dalam jumlah yang sama rata kepada semua orang?
- Mengapa tuan kebun anggur dalam Injil memberikan upah satu dinar kepada semua pekerja, baik yang bekerja seharian maupun yang hanya satu jam?
- Apa yang membedakan pemimpin yang adil dengan pemimpin yang hanya mementingkan kelompoknya sendiri?
- Mengapa setiap orang beriman Kristiani memiliki tanggung jawab untuk menegakkan keadilan di lingkungannya?
- Bagaimana perasaanmu jika dalam kelompok piket kelas hanya kamu yang menyapu sementara teman-teman lain asyik bermain?
- Mengapa menghargai giliran dan hak teman di sekolah merupakan wujud nyata tindakan menegakkan keadilan sebagai orang beriman Kristiani?
- Mengapa kita perlu mendengarkan suara hati saat dihadapkan pada pilihan bersikap adil atau curang?
- Bagaimana wujud nyata keadilan yang dapat kita terapkan kepada sesama teman di sekolah sesuai ajaran Kristiani?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menjelaskan Arti dan Peranan Suara Hati Menurut Dokumen Gereja Gaudium et Spes Art. 16 — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.4.1 Menjelaskan arti dan peranan bertindak menurut hati nurani dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, mengajak berdoa pembuka: 'Ya Yesus yang baik, kami bersyukur atas anugerah suara hati. Terangilah akal budi kami agar memahami arti dan peran hati nurani seturut kehendak-Mu. Amin', kemudian memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat dengan 2 pertanyaan: (1) 'Apakah arti suara hati menurut pemahamanmu?' dan (2) 'Siapa yang menaruh hukum moral dalam hati manusia?' (acuan jawaban diagnostik: (1) suara batin/kesadaran moral yang mengajak berbuat baik dan menolak yang jahat; (2) Allah sendiri) untuk memetakan kesiapan pemahaman konsep dasar (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan arti hati nurani dan peranan bertindak menurut suara hati dalam hidup sehari-hari berdasarkan Dokumen Konsili Vatikan II Gaudium et Spes Art. 16 (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak pembacaan teks kutipan Dokumen Konsili Vatikan II Gaudium et Spes Art. 16: 'Di lubuk hati nuraninya, manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan yang baik serta menghindari yang jahat... Sebab di dalam hatinya, manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah... Hati nurani adalah inti manusia yang paling rahasia, tempat sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang suara-Nya menggema dalam lubuk hatinya' (10 menit).
- Guru memfasilitasi penjelasan konsep dan tanya-jawab mengenai 3 pokok isi Gaudium et Spes Art. 16: (1) Hakikat/arti hati nurani (tempat suci terdalam pertemuan pribadi dengan Allah dan hukum moral Allah yang tertulis di batin), (2) Suara hati sebagai pedoman (menyerukan mencintai dan berbuat baik serta menolak yang jahat), dan (3) Efek batin (menghadirkan damai/tenang bila ditaati, cemas/bersalah bila diingkari) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagi murid dalam kelompok berpasangan untuk memainkan 'Tantangan Kartu Suara Hati' yang menggembirakan; setiap pasangan menerima 4 lembar kartu situasi konkret hidup sehari-hari dan bertugas menjelaskan peranan hati nurani pada setiap situasi: Situasi 1: Teman menjatuhkan uang jajan tanpa sadar di lorong kelas; Situasi 2: Melihat contekan ujian tergeletak di lantai saat guru lengah; Situasi 3: Memecahkan vas bunga di sekolah tanpa ada yang melihat; Situasi 4: Diajak teman memusuhi anak baru yang pendiam (15 menit).
- Setiap pasangan menuliskan penjelasan peranan hati nurani pada lembar kerja berdasarkan acuan: Situasi 1 -> peran suara hati: mengingatkan untuk jujur dan mengembalikan uang kepada teman pemiliknya; Situasi 2 -> peran suara hati: menegur batin agar menolak godaan menyontek demi kejujuran belajar; Situasi 3 -> peran suara hati: mendorong berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab meminta maaf/mengganti; Situasi 4 -> peran suara hati: melarang diskriminasi dan mengajak merangkul teman baru dengan kasih (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Perwakilan murid membacakan penjelasan peranan hati nurani yang telah disusun kelompoknya, lalu guru bersama murid menyamakan pemahaman serta menegaskan bahwa menaati hati nurani adalah wujud iman kepada Allah dalam hidup bermasyarakat (15 menit).
- Murid secara hening menuliskan 1 paragraf refleksi pribadi singkat: menjelaskan pengalaman pribadi ketika mendengarkan atau mengingkari suara hati dan merasakan kehadiran Allah di batinnya (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran: Hati nurani adalah tempat terdalam manusia berduaan bersama Allah (Gaudium et Spes Art. 16) yang berperan memanggil manusia melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat (5 menit).
- Guru melakukan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan/tertulis singkat tentang arti dan peranan hati nurani menurut Gaudium et Spes Art. 16 (3 menit).
- Pembelajaran ditutup dengan doa ketaatan bersama (Puji Syukur No. 152) memohon bimbingan Roh Kudus agar senantiasa peka mendengarkan suara hati (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan disiapkan lembar kutipan Gaudium et Spes Art. 16 dengan kata kunci yang ditebalkan ('hukum Allah', 'mencintai yang baik', 'menghindari yang jahat', 'tempat suci bersama Allah'). Bagi murid yang cepat disiapkan teks utuh Gaudium et Spes Art. 16 beserta rujukan biblis Roma 2:14-16.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru dengan panduan pertanyaan berjenjang saat menganalisis situasi. Murid yang mahir diarahkan merumuskan penjelasan peran hati nurani secara mandiri pada situasi sosial yang lebih kompleks.
- Produk: Penjelasan peran hati nurani pada lembar tantangan kartu dapat disajikan dalam bentuk poin uraian berstruktur (bagi yang membutuhkan scaffolding) atau bentuk paragraf argumentatif utuh (bagi yang mahir).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran dengan 2 butir pertanyaan: (1) 'Apa arti suara hati menurut pemahamanmu?' (acuan: suara batin/kesadaran moral manusia yang membimbing perbuatan baik dan menolak keburukan) dan (2) 'Siapakah yang menaruh hukum suara hati dalam batin manusia?' (acuan: Allah sendiri).
Proses:- Pengamatan keterlibatan diskusi dan penilaian hasil lembar kerja berpasangan: ketepatan menjelaskan arti hati nurani menurut Gaudium et Spes Art. 16 dan peranan hati nurani dalam 4 skenario situasi konkret (Situasi 1: uang teman jatuh; Situasi 2: contekan ujian; Situasi 3: memecahkan vas bunga; Situasi 4: ajakan memusuhi anak baru; kriteria: memuat tindakan yang baik yang harus dilakukan dan larangan terhadap tindakan buruk).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir dengan 2 butir soal uraian singkat: (1) Sebutkan arti hati nurani menurut Gaudium et Spes Art. 16! (acuan: tempat suci terdalam manusia seorang diri bersama Allah di mana hukum Allah tertulis); (2) Jelaskan peranan suara hati saat seseorang menghadapi pilihan berbuat curang! (acuan: suara hati berperan menegur, memperingatkan, dan melarang perbuatan curang serta mendorong untuk memilih kejujuran).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran
- Penilaian proses LKPD penjelasan peranan hati nurani pada 4 situasi kartu tantangan
- Cek pemahaman akhir sesi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menjelaskan arti hati nurani menurut Gaudium et Spes Art. 16 | Belum mampu menjelaskan arti hati nurani menurut Gaudium et Spes Art. 16 walaupun telah dibimbing guru. | Menjelaskan arti hati nurani hanya sebagai perasaan batin manusia tanpa mengaitkan dengan hukum Allah atau tempat suci bersama Allah. | Menjelaskan arti hati nurani secara tepat sesuai Gaudium et Spes Art. 16 sebagai tempat suci terdalam manusia bersama Allah tempat hukum Allah tertulis. | Menjelaskan arti hati nurani secara lengkap dan mendalam sesuai Gaudium et Spes Art. 16 (tempat suci terdalam bersama Allah, hukum Allah, dan kesadaran moral membedakan baik dan buruk) dengan bahasa sendiri yang runtut. | | Menjelaskan peranan hati nurani dalam hidup sehari-hari | Belum mampu menjelaskan peranan hati nurani pada 4 situasi yang diberikan. | Menjelaskan peranan hati nurani secara tepat hanya pada 1-2 dari 4 situasi yang diberikan (acuan: Situasi 1 uang jatuh -> mengembalikan; Situasi 2 contekan -> menolak curang; Situasi 3 vas pecah -> mengakui; Situasi 4 teman baru -> merangkul). | Menjelaskan peranan hati nurani secara tepat pada 3-4 situasi yang diberikan sesuai acuan tindakan moral Kristiani. | Menjelaskan peranan hati nurani secara tepat pada seluruh 4 situasi yang diberikan secara mandiri, disertai alasan moral mengapa tindakan tersebut mendatangkan damai sejahtera batin. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas tantangan kartu situasi efektif membantu murid mengaitkan ajaran Gaudium et Spes Art. 16 dengan tindakan konkret sehari-hari?
- Bagian mana dari penjelasan arti hati nurani yang masih sulit dipahami oleh murid?
Murid:- Apa hal terpenting yang saya pelajari hari ini tentang suara hati yang ditanamkan Allah di dalam diri saya?
- Apakah saya bersedia membiasakan diri mendengarkan suara hati ketika menghadapi godaan berbuat tidak jujur?
Pertemuan 2 — Menjelaskan Peranan Bertindak Menurut Hati Nurani Melalui Refleksi Kisah Penyesalan Petrus — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.4.1 Menjelaskan arti dan peranan bertindak menurut hati nurani dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan menyapa murid, mengajak berdoa bersama yang dipimpin salah seorang murid, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan 2 pertanyaan dasar kesiapan konsep hati nurani: (1) 'Apa arti hati nurani?' (acuan: suara kebenaran/kesadaran moral dari Allah dalam batin manusia yang menuntun berbuat baik dan menjauhi yang buruk); (2) 'Kapan suara hati berbicara kepada kita?' (acuan: sebelum, saat, dan sesudah melakukan tindakan) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yakni menjelaskan peranan hati nurani melalui kisah penyesalan Simon Petrus dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak pembacaan teks Kitab Suci kisah Penyangkalan dan Penyesalan Simon Petrus (Lukas 22:54-62) yang dibacakan oleh guru secara khidmat (10 menit).
- Murid berpasangan mendalami teks dan mencatat 3 fakta kunci: (1) Petrus menyangkal Yesus sebanyak 3 kali demi mencari keselamatan pribadi; (2) Bunyi kokok ayam dan tatapan Yesus menyadarkan Petrus; (3) Petrus menyadari telah mengingkari hati nuraninya lalu menangis dengan amat sedih menyesali perbuatannya (10 menit).
- Guru memberikan penegasan konsep mengenai 3 peranan suara hati berdasarkan kisah Petrus: (1) Sebelum bertindak: memperingatkan/menuntun mana yang benar; (2) Saat bertindak: memberi teguran atau dorongan batin; (3) Sesudah bertindak: menghakimi perbuatan dengan memunculkan penyesalan/gelisah jika salah dan damai/tenang jika benar (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid secara berpasangan mengikuti kuis tantangan kartu 'Lampu Hati Petrus': murid menerima 4 kartu kasus situasi hidup sehari-hari untuk ditentukan peranan hati nuraninya secara tepat: Kartu A: 'Menyontek saat ulangan matematika lalu merasa gelisah dan bersalah sepanjang hari'; Kartu B: 'Melihat uang teman jatuh dan muncul dorongan batin untuk segera mengembalikannya'; Kartu C: 'Berbohong kepada ibu tentang nilai ulangan dan teringat pesan kejujuran saat hendak tidur hingga tidak bisa tidur tenang'; Kartu D: 'Diejek teman tetapi batin membisikkan untuk tetap sabar dan tidak membalas memukul' (15 menit).
- Murid mengerjakan Lembar Kerja Mandiri 'Peranan Hati Nurani Petrus dan Aku': menuliskan penjelasan mengenai 3 peranan hati nurani (sebelum, saat, dan sesudah tindakan) serta mengaitkannya dengan kisah penyesalan Petrus dan contoh konkret hidup sehari-hari (acuan: sebelum = memperingatkan agar tidak menyangkal/berbuat salah; saat = menegur batin saat tergoda; sesudah = memunculkan rasa menyesal/sedih atas pengingkaran batin agar kembali bertobat) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Dalam suasana hening dan berkesadaran penuh (mindful), murid membaca kembali hasil penjelasannya dan mengingat satu pengalaman pribadi ketika merasakan teguran hati nurani saat melakukan kekeliruan (10 menit).
- Murid merumuskan satu kalimat komitmen batin pribadi untuk selalu mendengarkan dan menaati bisikan hati nurani dalam pergaulan sehari-hari (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan peranan hati nurani sebagai hakim moral batin yang menuntun manusia beriman Kristiani untuk berani bertobat dan setia pada kebenaran sebagaimana dicontohkan dalam penyesalan Petrus (5 menit).
- Guru menyampaikan kegiatan tindak lanjut untuk pertemuan ke-3 (menampilkan sikap menolak godaan berbuat curang) dan menutup kelas dengan doa penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu ringkasan alur kisah penyesalan Petrus dan panduan kata kunci peranan hati nurani; murid yang cepat diberikan pengayaan menganalisis dampak pengingkaran hati nurani terhadap relasi dengan sesama dan Tuhan pada kasus yang lebih kompleks.
- Proses: Pada aktivitas tantangan kartu, murid yang memerlukan bantuan bekerja dengan pendampingan langsung oleh guru, sedangkan murid yang mandiri langsung menganalisis kartu skenario bersama pasangan.
- Produk: Format penyampaian penjelasan peranan hati nurani dapat berupa tabel klasifikasi terstruktur atau uraian paragraf analisis lengkap sesuai lembar kerja.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: (1) Murid menjelaskan arti hati nurani (acuan jawaban: kesadaran moral/suara batin dari Allah yang menuntun berbuat baik dan menjauhi yang buruk); (2) Murid menjelaskan kapan suara hati berbicara (acuan jawaban: sebelum, saat, dan sesudah tindakan dilakukan).
Proses:- Formatif kinerja kuis kartu 'Lampu Hati Petrus' pada 4 kartu: Kartu A (acuan: peranan sesudah bertindak - gelisah/bersalah), Kartu B (acuan: peranan sebelum/saat bertindak - mendorong berbuat baik), Kartu C (acuan: peranan sesudah bertindak - penyesalan moral), Kartu D (acuan: peranan saat bertindak - melarang berbuat jahat).
- Pemeriksaan Lembar Kerja Mandiri: ketepatan murid menjelaskan 3 peranan hati nurani berdasarkan kisah penyesalan Petrus (acuan: memperingatkan sebelum bertindak, menegur saat bertindak, dan memunculkan penyesalan/pertobatan moral sesudah mengingkari kebenaran).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi berupa 2 pertanyaan reflektif-konseptual: (1) Mengapa Petrus menangis setelah menyangkal Yesus? (acuan: karena hati nuraninya menegur dan menyadarkannya bahwa ia telah berbuat salah dan mengingkari gurunya demi keselamatan diri); (2) Sebutkan fungsi hati nurani setelah seseorang berbuat salah! (acuan: menghakimi perbuatan dengan rasa bersalah/gelisah dan mendorong timbulnya penyesalan/pertobatan).
Formatif:- Penilaian lisan asesmen awal diagnostik pemahaman dasar hati nurani
- Observasi partisipasi dan lembar kerja mandiri penjelasan peranan hati nurani melalui kisah penyesalan Petrus
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menjelaskan peranan bertindak menurut hati nurani berdasarkan kisah penyesalan Petrus | Murid belum mampu menjelaskan peranan hati nurani sebelum, saat, dan sesudah tindakan, serta belum mampu menghubungkannya dengan kisah penyesalan Petrus (0-1 acuan tepat). | Murid mampu menjelaskan 1-2 peranan hati nurani (sebelum/saat/sesudah tindakan) atau menyebutkan kisah Petrus namun penjelasannya belum lengkap (2 acuan tepat dengan bimbingan guru). | Murid mampu menjelaskan 3 peranan hati nurani (memperingatkan sebelum bertindak, menegur saat bertindak, dan menghakimi/menyesali sesudah bertindak) secara tepat sesuai kisah penyesalan Petrus dan contoh hidup sehari-hari (seluruh 3 acuan tepat secara mandiri). | Murid mampu menjelaskan 3 peranan hati nurani secara mendalam, tepat, dan runtut, disertai analisis yang jelas mengenai keterkaitan antara suara hati nurani, penyesalan Petrus, dan penerapannya dalam situasi dilema moral hidup sehari-hari tanpa keraguan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan kisah penyesalan Petrus efektif membantu murid memahami bahwa rasa bersalah/gelisah merupakan wujud kerja hati nurani?
- Apakah alokasi waktu 105 menit cukup bagi murid untuk menyelesaikan kuis kartu dan lembar kerja reflektif secara mendalam?
Murid:- Apa yang aku pelajari hari ini tentang cara suara hati nurani menegurku saat aku melakukan kesalahan?
- Bagaimana perasaanku ketika mendengarkan dan menuruti bisikan suara hatiku untuk berbuat jujur?
Pertemuan 3 — Menampilkan Sikap Menolak Godaan Berbuat Curang Sebagai Pembiasaan Bertindak Menurut Hati Nurani — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.4.2 Menampilkan sikap bertindak menurut hati nurani dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan menyapa murid, mengajak berdoa bersama memohon bimbingan Roh Kudus agar setia pada suara hati nurani, dan mengecek presensi (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-3, yaitu menampilkan sikap menolak godaan berbuat curang sebagai pembiasaan bertindak menurut hati nurani dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan interaktif dengan membacakan 2 skenario godaan kecurangan harian, di mana murid merespons dengan mengangkat kartu sikap 'Ikut Curang' atau 'Tolak Curang'. Skenario 1: Menemukan kunci jawaban ulangan tercecer di lantai kelas tanpa ada guru (Acuan: Tolak Curang, serahkan ke guru). Skenario 2: Menggeser bidak pion 1 langkah ekstra saat bermain ular tangga bersama teman saat teman menoleh (Acuan: Tolak Curang, jalankan pion sesuai dadu) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak telaah kasus bergambar tentang godaan berbuat curang dalam pergaulan sekolah dan menyimak penegasan iman bahwa menaati suara hati nurani untuk menolak curang membawa damai batin serta memuliakan Allah (10 menit).
- Murid dalam kelompok kecil mengidentifikasi bisikan hati nurani dan bisikan godaan curang pada lembar kerja skenario harian untuk mengenali sikap benar yang harus ditampilkan (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memfasilitasi 'Tantangan Arena Suara Hati' yang menggembirakan: perwakilan murid memilih amplop tantangan berisi simulasi godaan curang lalu memperagakan langsung tindakan penolakan secara tegas dan jujur (15 menit).
- Secara berpasangan, setiap murid berlatih menampilkan sikap tegas menolak godaan berbuat curang pada 3 skenario konkret: (1) Ajakan teman menyontek PR di pagi hari; (2) Ajakan mengurangi timbangan/hitungan saat permainan kelompok; (3) Godaan mengambil sisa uang kembalian belanja kantin yang berlebih. Satu murid memberikan godaan dan pasangannya wajib menampilkan sikap penolakan sesuai hati nurani (20 menit).
- Murid secara mandiri menyelesaikan Lembar Komitmen Tindakan Nyata dengan menuliskan respons sikap penolakan atas 3 situasi godaan kecurangan spesifik di lingkungan sekolah (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengheningkan cipta dalam suasana doa pribadi berkesadaran (mindful reflection), merasakan kelegaan batin saat memilih setia pada suara hati, dan menuliskan doa mohon keteguhan hati menolak kecurangan (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa menampilkan sikap berani menolak godaan berbuat curang adalah pembiasaan luhur orang beriman Kristiani yang dipandu hati nurani (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik pembelajaran, menyampaikan tindak lanjut pembiasaan kejujuran di rumah dan sekolah, serta menutup pertemuan dengan doa penutup dan berkat (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan kata kunci sikap penolakan ('Maaf, saya mau jujur', 'Hati nuraniku melarang curang') bagi murid yang membutuhkan perancah dalam mengekspresikan sikap.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih menampilkan sikap penolakan dengan skenario sederhana terbimbing guru, sedangkan murid yang mandiri langsung menyimulasikan situasi dilematis kompleks dengan alasan iman Kristiani yang mantap.
- Produk: Murid dapat mengekspresikan komitmen penolakan godaan curang melalui tulisan komitmen tindakan personal atau kalimat deklarasi sikap jujur.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik respons cepat lisan: Guru membacakan 2 skenario godaan kecurangan harian. Murid memilih kartu 'Tolak Curang' atau 'Ikut Curang'. Skenario 1: Menemukan kertas contekan di bawah meja saat ulangan (Acuan: Murid memilih Tolak Curang dan menyerahkannya ke guru). Skenario 2: Teman dekat meminta melihat lembar jawaban latihan (Acuan: Murid memilih Tolak Curang dan menolak memperlihatkan jawaban).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja simulasi berpasangan: Guru mengamati kemampuan murid menampilkan sikap menolak godaan curang pada 3 situasi (ajakan menyontek PR, memanipulasi skor game/permainan, dan mengambil uang kembalian berlebih) dengan kriteria: tegas menolak ajakan curang, perkataan selaras dengan hati nurani, dan tidak berkompromi dengan kecurangan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman komitmen mandiri: Murid mengisi respon sikap pada lembar 3 situasi godaan curang di sekolah: (1) Situasi melihat teman memberi kode contekan saat kuis (Acuan: Menolak melihat kode dan fokus mengerjakan sendiri secara jujur); (2) Situasi diajak berbohong kepada guru piket tentang keterlambatan (Acuan: Menolak ajakan bohong dan jujur mengakui alasan sebenarnya); (3) Situasi menyenggol vas bunga sekolah hingga retak saat tidak ada orang (Acuan: Menolak godaan pura-pura tidak tahu dan segera melapor kepada guru).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal melalui kuis respon sikap atas 2 skenario godaan kecurangan.
- Observasi unjuk kerja simulasi peran berpasangan dalam menampilkan sikap menolak godaan berbuat curang.
- Pemeriksaan lembar komitmen tindakan mandiri menolak godaan berbuat curang pada 3 situasi sekolah.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menampilkan sikap menolak godaan berbuat curang sesuai hati nurani | Belum menampilkan sikap menolak kecurangan; masih berkompromi atau menerima tawaran berbuat curang pada simulasi situasi godaan. | Menampilkan sikap menolak godaan berbuat curang pada 1 dari 3 situasi simulasi godaan curang dengan dorongan atau bantuan arahan guru. | Menampilkan sikap menolak godaan berbuat curang secara konsisten pada seluruh 3 situasi simulasi godaan curang secara mandiri sesuai dorongan suara hati nurani. | Menampilkan sikap menolak godaan berbuat curang secara konsisten dan mantap pada seluruh 3 situasi simulasi godaan curang serta mampu mengajak rekan menjunjung tinggi kejujuran Kristiani tanpa ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid telah mampu menampilkan sikap tegas menolak kecurangan dalam aktivitas simulasi berpasangan?
- Bagaimana suasana kelas terbangun agar murid merasa aman, berani, dan tidak malu untuk bersikap jujur sesuai hati nurani?
Murid:- Bagaimana perasaanku saat berhasil menampilkan sikap berani menolak godaan curang?
- Tindakan nyata apa yang akan kulakukan hari ini bila melihat tawaran atau godaan untuk berbuat curang?
Pertemuan 4 — Menampilkan Sikap Jujur Mengakui Kesalahan Sesuai Suara Hati dalam Pergaulan Sekolah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.4.2 Menampilkan sikap bertindak menurut hati nurani dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, mengajak berdoa bersama memohon kejujuran hati, serta mengecek kehadiran (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menampilkan sikap jujur mengakui kesalahan sesuai suara hati dalam pergaulan di sekolah (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid diminta memilih sikap yang jujur menurut hati nurani dari 2 pilihan tindakan: (1) Menyembunyikan buku perpustakaan yang robek karena takut dimarahi, atau (2) Mengakui kepada pustakawan bahwa tidak sengaja merobek dan bersedia memperbaikinya (acuan jawaban tepat: tindakan nomor 2) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak dan membaca narasi studi kasus pergaulan sekolah 'Botol Minum Reno' tentang seorang murid yang tidak sengaja menjatuhkan botol minum temannya hingga retak, lalu merasakan pergulatan batin antara lari sembunyi atau jujur mengakui (15 menit).
- Guru memandu murid membedakan 2 dorongan batin: dorongan suara hati (mendorong mengakui kesalahan secara jujur dan meminta maaf) serta dorongan rasa takut/gengsi (mendorong menyangkal atau menyalahkan orang lain) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Dalam permainan simulasi peran berpasangan 'Langkah Ksatria Kejujuran' yang menyenangkan, setiap pasangan murid mengambil satu dari 3 skenario situasi pergaulan sekolah berikut dan memeragakan sikap jujur mengakui kesalahan sesuai suara hati: Skenario 1: Tidak sengaja menumpahkan air ke buku catatan teman; Skenario 2: Terlambat mengembalikan pensil warna pinjaman hingga hilang satu; Skenario 3: Menendang bola mengenai pot tanaman sekolah hingga pecah saat jam istirahat (20 menit).
- Murid secara mandiri menuliskan keputusan tindakan jujur pada Lembar Sikap Hati Nurani berdasarkan salah satu skenario yang dipilih, dengan mencantumkan: (a) kesalahan yang terjadi, (b) tindakan jujur mengakui kesalahan kepada pihak terkait, dan (c) wujud tanggung jawab konkret yang diambil (acuan kelayakan: memuat pengakuan langsung tanpa melempar kesalahan dan menyebut tindakan perbaikan nyata) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk hening melakukan pemeriksaan batin (examen conscientiae) singkat selama 2 menit untuk mengingat kembali apakah pernah takut mengakui kesalahan di sekolah, lalu menuliskan satu komitmen pembiasaan bersikap jujur mengakui kesalahan di masa depan (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa menampilkan sikap jujur mengakui kesalahan sesuai suara hati membebaskan batin dan menciptakan pergaulan sekolah yang damai (5 menit).
- Guru mengonfirmasi ketuntasan belajar, memberikan penguatan moral Kristiani, dan menutup pertemuan dengan doa penutup serta berkat (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks skenario bergambar dengan panduan kalimat pengakuan maaf, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan skenario situasi sosial yang lebih kompleks (misalnya melibatkan banyak teman).
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih peragaan sikap jujur dengan bimbingan langsung guru, sedangkan murid yang mandiri langsung melakukan simulasi mandiri bersama pasangannya.
- Produk: Murid menuangkan tindakan jujur mengakui kesalahan baik melalui peragaan langsung maupun tulisan komitmen pada lembar kerja sesuai kesiapan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik pemetaan sikap jujur: Murid memilih tindakan yang sesuai suara hati dari 2 pilihan situasi: (1) Menyembunyikan buku perpustakaan yang robek karena takut dimarahi, atau (2) Mengakui kepada pustakawan bahwa tidak sengaja merobek dan bersedia memperbaikinya (acuan tepat: pilihan 2).
Proses:- Observasi unjuk kerja simulasi peran: mengamati murid menampilkan sikap jujur mengakui kesalahan pada salah satu dari 3 skenario (Skenario 1: menumpahkan air ke buku teman; Skenario 2: menghilangkan satu pensil warna pinjaman; Skenario 3: memecahkan pot tanaman sekolah dengan bola) dengan kriteria: mengakui kesalahan tanpa dalih/menyalahkan teman lain dan menyatakan kesediaan bertanggung jawab.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman/refleksi penutup: Pemeriksaan isian Lembar Sikap Hati Nurani yang memuat 3 unsur: (1) pernyataan kesalahan yang diperbuat, (2) kalimat pengakuan jujur kepada pihak yang dirugikan, (3) tindakan tanggung jawab nyata (acuan: seluruh 3 unsur terisi jelas dan selaras dengan suara hati yang benar).
Formatif:- Penilaian kinerja simulasi peran menampilkan sikap jujur mengakui kesalahan dalam pergaulan sekolah
- Penilaian Lembar Sikap Hati Nurani (tindakan mengakui kesalahan dan wujud tanggung jawab)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menampilkan sikap jujur mengakui kesalahan sesuai suara hati dalam pergaulan sekolah | Belum menampilkan sikap jujur mengakui kesalahan; masih menyangkal kesalahan atau menyalahkan teman saat simulasi peran. | Menampilkan sikap jujur mengakui kesalahan dalam simulasi peran hanya jika diarahkan dan diingatkan guru secara berulang. | Menampilkan sikap jujur mengakui kesalahan secara lugas tanpa menyalahkan orang lain serta menyatakan tanggung jawab dalam simulasi peran secara mandiri. | Menampilkan sikap jujur mengakui kesalahan secara konsisten dan spontan, menyatakan tanggung jawab nyata, serta menuangkan komitmen perbaikan secara utuh pada Lembar Sikap Hati Nurani secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas simulasi peran berhasil membantu murid mengatasi rasa takut untuk bersikap jujur mengakui kesalahan?
- Apakah murid telah menunjukkan kesadaran bahwa suara hati membimbing mereka untuk bertanggung jawab dalam pergaulan sekolah?
Murid:- Bagaimana perasaanmu setelah berani bersikap jujur mengakui kesalahan dalam peragaan tadi?
- Apa tekadmu jika suatu saat melakukan kesalahan kepada teman atau guru di sekolah?
Pertemuan 5 — Menguraikan Makna Menegakkan Keadilan Melalui Perumpamaan Pekerja di Kebun Anggur — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.4.3 Menguraikan makna menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, doa pembuka bersama, dan menyapa murid (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: (1) 'Menurutmu, apa arti keadilan?' (acuan: perlakuan seimbang/memberikan hak orang lain/tidak berat sebelah); (2) 'Jika kamu bekerja 5 jam dan temanmu 1 jam, apakah adil jika mendapat upah sama?' (acuan: membedakan keadilan menurut hitungan manusiawi sama rasa/sama rata dengan keadilan berlandaskan kesepakatan dan kemurahan hati) (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menguraikan makna menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani berdasarkan perumpamaan pekerja di kebun anggur (Matius 20:1-16) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak pembacaan teks Kitab Suci Matius 20:1-16 tentang 'Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur' yang dibacakan secara bergantian (10 menit).
- Guru membagikan Lembar Telaah Teks dan murid menjawab 3 butir pemahaman: (1) Berapa kali dan jam berapa saja tuan mencari pekerja? (acuan: 5 kali, yaitu pagi-pagi benar pk 06.00, pk 09.00, pk 12.00, pk 15.00, dan pk 17.00); (2) Apa kesepakatan upah tuan dengan pekerja pertama? (acuan: satu dinar sehari); (3) Mengapa pekerja yang masuk pagi bersungut-sungut saat menerima upah? (acuan: mereka mengira akan menerima lebih banyak karena bekerja seharian, padahal mereka menerima satu dinar sesuai kesepakatan) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan kuis tantangan berpasangan 'Timbang Adil' yang menggembirakan: setiap pasangan membaca 3 kartu kasus pembagian hak dan mencocokkan mana yang mencerminkan makna keadilan Kristiani (berdasarkan kebutuhan/kesepakatan) versus bukan keadilan Kristiani (iri hati/menuntut hak tanpa kewajiban). Kartu 1: 'Adik yang sakit diberi bubur khusus oleh ibu, kakak yang sehat iri ingin bubur yang sama' -> Bukan keadilan (iri hati). Kartu 2: 'Ketua kelompok membagi tugas sesuai kesanggupan anggota dan semua menerima tugas dengan tulus' -> Makna keadilan Kristiani (kesungguhan kewajiban). Kartu 3: 'Pekerja menerima gaji tepat sesuai akad kerja yang disetujui bersama tanpa menuntut lebih' -> Makna keadilan Kristiani (kesepakatan yang ditepati) (15 menit).
- Murid secara mandiri menyusun uraian tertulis pada lembar kerja berisi 3 aspek makna menegakkan keadilan menurut iman Kristiani: (1) Keadilan bukan sekadar sama rata melainkan kesesuaian hak dan kesungguhan kewajiban; (2) Keadilan berakar pada kemurahan hati Allah; (3) Keadilan mendatangkan sukacita bersama tanpa rasa iri hati (acuan: ketiga aspek ini terurai secara utuh) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid diajak hening sejenak dalam suasana berkesadaran (mindful) untuk merenungkan pengalaman diri: apakah selama ini pernah merasa iri hati ketika melihat sesama mendapatkan kebaikan atau kemurahan hati orang lain (10 menit).
- Murid menuliskan satu refleksi pribadi di buku catatan mengenai makna keadilan Kristiani yang akan mereka pegang teguh ketika berbagi atau menerima tugas di lingkungan sekitar (10 menit).
Penutup:- Guru dan murid bersama-sama merumuskan simpulan bahwa menegakkan keadilan sebagai orang beriman Kristiani berarti menghargai kesepakatan, memenuhi kewajiban dengan tulus, dan bersyukur atas kemurahan hati Allah tanpa iri hati (5 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan singkat serta menutup pertemuan dengan doa syukur bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan, teks Kitab Suci dilengkapi penanda warna pada ayat pokok kesepakatan upah (Mat 20:2, 13-14). Bagi murid yang cepat, disediakan teks perbandingan dari Mazmur 9:8-9 tentang Allah yang menghakimi dunia dengan keadilan.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan dipandu menguraikan makna keadilan dengan kalimat pemandu rumpang. Murid cepat menguraikan makna keadilan secara mandiri dengan menghubungkannya langsung pada 2 contoh situasi hidup nyata.
- Produk: Uraian makna keadilan dapat disajikan dalam bentuk bagan konsep 3 pilar keadilan Kristiani atau paragraf uraian analitis tertulis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Menurutmu, apa perbedaan antara perbuatan adil dan perbuatan sama rata?' (Acuan jawaban: adil berarti memberikan hak sesuai kesepakatan dan kebutuhan yang wajar secara benar, sedangkan sama rata membagi dalam jumlah yang identik tanpa memandang kebutuhan atau kesepakatan).
- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Mengapa memberi upah sama kepada orang yang jam kerjanya berbeda bisa disebut adil oleh tuan kebun anggur?' (Acuan jawaban: karena tuan menepati kesepakatan upah satu dinar dengan pekerja pertama dan menunjukkan kemurahan hati kepada pekerja yang datang terakhir tanpa merugikan siapa pun).
Proses:- Pemeriksaan Lembar Telaah Teks Kitab Suci Mat 20:1-16 (Acuan 3 butir: [1] Tuan mencari pekerja 5 kali pada pk 06.00, 09.00, 12.00, 15.00, 17.00; [2] Kesepakatan upah adalah satu dinar sehari; [3] Pekerja pertama bersungut-sungut karena iri hati mengira akan mendapat lebih banyak padahal upahnya sudah tepat sesuai kesepakatan).
- Observasi ketepatan analisis pada kuis kartu kasus 'Timbang Adil' (Acuan: Kartu 1 tergolong bukan keadilan Kristiani/iri hati; Kartu 2 tergolong keadilan Kristiani/tanggung jawab tulus; Kartu 3 tergolong keadilan Kristiani/kesepakatan ditepati).
Akhir Pertemuan:- Tugas uraian tertulis mandiri mengenai 3 makna menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani (Acuan lengkap 3 aspek: [1] Keadilan didasarkan pada kesetiaan menepati kesepakatan dan kesungguhan menjalankan kewajiban, bukan sekadar hitungan sama rata; [2] Keadilan Kristiani bersumber dari kemurahan hati Allah yang memperhatikan keselamatan dan kebutuhan setiap orang; [3] Keadilan sejati mendatangkan sukacita bersama serta menjauhkan sikap iri hati atau mementingkan diri sendiri).
- Cek pemahaman lisan penutup: 'Sebutkan satu alasan mengapa orang beriman tidak boleh iri hati terhadap kemurahan hati yang diterima orang lain!' (Acuan: karena kemurahan hati Allah adalah anugerah bagi yang membutuhkan dan hak kita sendiri tidak dikurangi sama sekali).
Formatif:- Tanya jawab diagnostik awal pemahaman keadilan
- Lembar telaah teks Matius 20:1-16
- Kuis berpasangan 'Timbang Adil' kartu kasus
- Tugas tertulis mandiri menguraikan 3 makna menegakkan keadilan Kristiani
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menguraikan makna menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani | Menguraikan makna menegakkan keadilan secara keliru atau hanya mampu menyebutkan 1 aspek tanpa penjelasan yang sesuai dengan teks Mat 20:1-16 (acuan 3 aspek: kesetiaan kesepakatan/kewajiban, kemurahan hati Allah, dan sukacita tanpa iri hati). | Mampu menguraikan 1 dari 3 aspek makna menegakkan keadilan Kristiani sesuai acuan teks Mat 20:1-16 secara tepat. | Mampu menguraikan 2 dari 3 aspek makna menegakkan keadilan Kristiani sesuai acuan teks Mat 20:1-16 secara tepat dan runtut. | Mampu menguraikan seluruh 3 aspek makna menegakkan keadilan Kristiani (kesetiaan kesepakatan/kewajiban, kemurahan hati Allah, dan sukacita tanpa iri hati) secara lengkap, tepat, dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan perumpamaan pekerja di kebun anggur (Mat 20:1-16) berhasil membantu murid membedakan konsep adil menurut kacamata iman Kristiani dengan sekadar sama rata?
- Bagian langkah manakah yang paling efektif menumbuhkan penalaran kritis murid dalam menolak rasa iri hati saat melihat sesama diperlakukan murah hati?
Murid:- Apa hal baru yang saya pahami tentang arti keadilan setelah belajar kisah pekerja di kebun anggur hari ini?
- Bagaimana perasaan saya ketika melihat teman saya mendapat bantuan atau kebaikan lebih, dan apakah saya masih merasa iri?
Pertemuan 6 — Menguraikan Ciri Sikap Pemimpin Adil dan Tanggung Jawab Menegakkan Keadilan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.4.3 Menguraikan makna menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
Pendahuluan:- Guru mengawali pembelajaran dengan doa pembuka dan menyapa murid dengan hangat (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menguraikan ciri-ciri sikap pemimpin yang adil dan tanggung jawab menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan terarah: (1) Sebutkan 1 contoh perbuatan pemimpin kelas atau sekolah yang adil! (acuan: membagi tugas secara merata tanpa pilih kasih/mendengarkan keluhan semua teman); (2) Mengapa keadilan harus ditegakkan dalam masyarakat? (acuan: agar tercipta kedamaian, kerukunan, dan tidak ada yang dirugikan/tertindas) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak paparan materi dan membaca kutipan teks acuan tentang keteladanan kepemimpinan yang adil dan ajaran keadilan Kristiani (berdasarkan Mazmur 9:7-8 dan Injil Matius 20:1-16) serta penjelasan bahwa pemimpin adil tidak memihak, melindungi hak semua anggota, dan memperlakukan sesama dengan bermartabat (15 menit).
- Murid bersama guru membahas 4 ciri utama sikap pemimpin yang adil: (1) Tidak pilih kasih/tidak memihak berdasarkan kedekatan pribadi; (2) Mendengarkan dan membela hak pihak yang lemah atau tertindas; (3) Berani memperjuangkan kebenaran sesuai kehendak Allah; (4) Bertanggung jawab atas kesejahteraan bersama di atas kepentingan pribadi (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan aktivitas kuis tantangan berpasangan 'Tebak Sikap Pemimpin Adil': Setiap pasangan murid menerima 4 kartu kasus situasi kepemimpinan untuk diuraikan apakah mencerminkan ciri pemimpin adil atau tidak: Kasus 1: Ketua kelompok membagi giliran bicara merata kepada semua anggota; Kasus 2: Ketua regu piket membiarkan sahabatnya santai sementara teman lain bekerja berat; Kasus 3: Pemimpin menolak suap dan menegakkan aturan demi hak warga kecil; Kasus 4: Pemimpin hanya mendengarkan masukan teman dekatnya saja. Kunci jawaban: Kasus 1 = Adil (ciri tidak memihak); Kasus 2 = Tidak adil (pilih kasih); Kasus 3 = Adil (berani membela kebenaran dan hak sesama); Kasus 4 = Tidak adil (eksklusif dan mengabaikan hak warga) (15 menit).
- Murid secara individu mengerjakan Lembar Kerja 'Menguraikan Makna Keadilan dan Tanggung Jawab Pemimpin Beriman' yang berisi 3 tugas tertulis: (1) Menguraikan minimal 3 ciri sikap pemimpin yang adil; (2) Menguraikan 2 alasan mengapa orang beriman Kristiani bertanggung jawab menegakkan keadilan; (3) Menguraikan 2 dampak positif keadilan bagi kehidupan masyarakat (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali uraian tertulisnya dalam lembar kerja dengan membandingkannya terhadap butir-butir ciri pemimpin adil dan tanggung jawab menegakkan keadilan yang telah dipelajari bersama (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid membuat rangkuman materi tentang ciri-ciri sikap pemimpin adil dan wujud tanggung jawab menegakkan keadilan sebagai murid Kristus (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas hasil analisis dan uraian lembar kerja murid serta menutup pembelajaran dengan doa penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa kata kunci ciri pemimpin adil (adil, jujur, membela yang lemah), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan studi kasus pemimpin masyarakat yang lebih kompleks.
- Proses: Murid lambat didampingi guru dengan panduan pertanyaan berstruktur saat mengisi lembar kerja, sedangkan murid mandiri menganalisis secara langsung.
- Produk: Uraian makna keadilan dapat disajikan dalam bentuk poin terstruktur atau paragraf analitis sesuai lembar kerja yang disediakan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: (1) Sebutkan 1 contoh perbuatan pemimpin kelas/sekolah yang adil! (acuan: membagi tugas secara merata/mendengarkan keluhan semua teman tanpa membeda-bedakan); (2) Mengapa keadilan harus ditegakkan dalam masyarakat? (acuan: agar tercipta kedamaian, keharmonisan, serta mencegah perlakuan sewenang-wenang terhadap sesama).
Proses:- Observasi ketepatan murid saat mengerjakan aktivitas berpasangan kartu kasus kepemimpinan (acuan: Kasus 1 = Adil, Kasus 2 = Tidak Adil, Kasus 3 = Adil, Kasus 4 = Tidak Adil)
- Penilaian lembar kerja mandiri penguraian makna menegakkan keadilan: (1) Minimal 3 ciri pemimpin adil (acuan: tidak pilih kasih, mendengarkan/membela yang lemah, berani memperjuangkan kebenaran, mengutamakan kepentingan umum); (2) Minimal 2 alasan tanggung jawab menegakkan keadilan (acuan: perintah Allah/Yesus menghendaki keadilan, bukti cinta kasih nyata kepada sesama); (3) Minimal 2 dampak keadilan (acuan: tercipta kedamaian, hak sesama terlindungi).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat di lembar kerja dengan kriteria penerimaan: uraian memuat minimal 3 ciri pemimpin adil dan 2 alasan tanggung jawab orang beriman dalam menegakkan keadilan secara tepat sesuai ajaran Kristiani.
Formatif:- Tanya jawab diagnostik awal pembelajaran mengenai pengertian awal pemimpin yang adil
- Kuis tantangan berpasangan 'Tebak Sikap Pemimpin Adil' dengan lembar kartu kasus
- Lembar Kerja Siswa tertulis: Menguraikan ciri pemimpin adil dan tanggung jawab menegakkan keadilan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menguraikan Ciri Sikap Pemimpin yang Adil | Belum mampu menguraikan ciri sikap pemimpin yang adil atau hanya menyebutkan 1 ciri dengan bantuan penuh guru (acuan 4 ciri: tidak memihak/pilih kasih, membela hak yang lemah, berani memperjuangkan kebenaran, mengutamakan kepentingan bersama). | Mampu menguraikan 1-2 ciri sikap pemimpin yang adil secara tepat sesuai acuan materi. | Mampu menguraikan 3 ciri sikap pemimpin yang adil secara jelas dan tepat sesuai acuan materi. | Mampu menguraikan seluruh 4 ciri sikap pemimpin yang adil secara lengkap, mendalam, dan tepat sesuai acuan materi secara mandiri. | | Menguraikan Tanggung Jawab Menegakkan Keadilan sebagai Orang Beriman | Belum mampu menguraikan alasan tanggung jawab menegakkan keadilan sebagai orang beriman Kristiani (acuan: perintah Allah/kehendak Yesus, wujud nyata kasih kepada sesama, menciptakan masyarakat yang damai dan bermartabat). | Mampu menguraikan 1 alasan tanggung jawab menegakkan keadilan sebagai orang beriman Kristiani secara tepat. | Mampu menguraikan 2 alasan tanggung jawab menegakkan keadilan sebagai orang beriman Kristiani secara tepat. | Mampu menguraikan 3 alasan tanggung jawab menegakkan keadilan sebagai orang beriman Kristiani secara tepat, terperinci, dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran berhasil membantu murid memahami dan menguraikan ciri-ciri pemimpin yang adil secara mendalam?
- Apakah murid menunjukkan keaktifan dan kegembiraan dalam menyelesaikan tugas kuis berpasangan kasus kepemimpinan?
Murid:- Apa saja ciri pemimpin yang adil yang paling ingin saya teladani dalam kehidupan sehari-hari di sekolah?
- Mengapa saya terpanggil untuk ikut bertanggung jawab menegakkan keadilan bagi sesama teman?
Pertemuan 7 — Menerapkan Tindakan Berbagi Tugas Piket dan Menghargai Hak Sesama Teman secara Adil — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.4.4 Menerapkan tindakan menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan tanda salib, salam, dan doa bersama memohon rahmat Roh Kudus agar mampu mempraktikkan keadilan dalam pergaulan di sekolah (5 menit).
- Guru mengecek kehadiran murid dan mengondisikan kelas agar tertib serta siap belajar (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid memilih respons tindakan adil terhadap skenario kasus 'Tono melihat tugas piket menyapu lantai dan membuang sampah belum selesai, sementara dua temannya sedang duduk mengobrol' (acuan tindakan adil: mengajak membagi tugas secara merata atau ikut membersihkan sesuai bagian tanpa melimpahkan seluruh pekerjaan kepada satu orang) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menerapkan tindakan menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari di sekolah melalui pembagian tugas piket yang merata dan penghormatan terhadap hak sesama teman (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak ulasan guru tentang teks Yakobus 2:17 bahwa 'iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati', dikaitkan dengan perwujudan keadilan dalam pembagian beban kewajiban dan penghormatan hak sesama di sekolah (10 menit).
- Murid mencermati lembar studi 3 skenario ketidakadilan di lingkungan kelas: (1) Skenario A: Seorang murid membebankan seluruh tugas menyapu kepada teman yang pendiam; (2) Skenario B: Seorang murid menyerobot antrean cuci tangan tanpa menunggu giliran; (3) Skenario C: Seorang murid meminjam buku paket perpustakaan melebihi batas waktu sehingga teman lain tidak dapat belajar (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid secara berpasangan memainkan permainan interaktif 'Kartu Solusi Keadilan': murid menerima 3 kartu situasi masalah ketidakadilan dan memasangkan tindakan penerapan adil yang tepat: Skenario 1 'Piket Kebersihan Kelas' dipasangkan dengan tindakan 'Membagi tugas merata (A menyapu, B mengepel, C membuang sampah) tanpa meninggalkan kelas sebelum tuntas'; Skenario 2 'Antrean di Kantin/Kran Air' dipasangkan dengan tindakan 'Berdiri berbaris tertib di belakang teman tanpa memotong antrean'; Skenario 3 'Penggunaan Alat Olahraga Bersama' dipasangkan dengan tindakan 'Menggunakan bola bergantian sesuai alokasi waktu tanpa menguasainya sendirian' (acuan pasangan tepat: Skenario 1-Membagi tugas merata, Skenario 2-Berdiri berbaris tertib, Skenario 3-Menggunakan bola bergantian) (20 menit).
- Secara mandiri, setiap murid menyusun 'Rencana Aksi Penerapan Keadilan di Sekolah' pada lembar kerja terstruktur yang memuat penerapan nyata pada 2 bidang: (1) Tindakan pembagian tugas piket secara adil, dan (2) Tindakan menghargai hak teman di kelas/sekolah (acuan kriteria: menyebutkan tindakan konkret operasional yang seimbang antara hak dan kewajiban tanpa merugikan sesama) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan hening sejenak dalam suasana doa untuk memeriksa batin: apakah selama ini sudah memperlakukan teman secara adil dalam tugas bersama dan menghormati hak-hak mereka (10 menit).
- Dua orang perwakilan murid membacakan komitmen tindakan adil yang telah disusun di hadapan kelas sebagai wujud penghayatan iman Kristiani yang berbuah dalam tindakan nyata (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik dan penguatan bahwa menegakkan keadilan di sekolah dapat dimulai dari hal sederhana seperti tidak melarikan diri dari piket dan menghargai antrean teman (5 menit).
- Guru bersama murid menutup pertemuan dengan doa penyerahan diri dan bersyukur, diakhiri dengan berkat tanda salib (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan bergambar pilihan tindakan adil, sedangkan murid cepat diberikan situasi konflik nyata di kelas yang memerlukan perumusan solusi pembagian tugas.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru secara berpasangan dalam mengidentifikasi tindakan adil, sementara murid yang telah mahir menyusun rencana aksi secara mandiri.
- Produk: Rencana aksi keadilan dapat disusun dalam bentuk matriks checklist tindakan harian atau tabel komitmen tertulis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik pemetaan tindakan adil: Guru mengajukan 1 skenario 'Tono melihat tugas piket menyapu dan membuang sampah belum selesai, sementara dua teman duduk mengobrol'. Kriteria ketepatan: Murid memilih tindakan adil berupa membagi tugas secara seimbang dan mengajak bekerja bersama (acuan benar: membagi beban tugas secara seimbang tanpa melimpahkan kepada satu orang atau melarikan diri dari tanggung jawab).
Proses:- Formatif 1: Penjodohan Kartu Solusi Keadilan pada 3 skenario: (1) Skenario piket kelas -> tindakan pembagian peran merata menyapu/mengepel/membuang sampah; (2) Skenario antrean kran/kantin -> tindakan tertib antre di belakang; (3) Skenario giliran bola olahraga -> tindakan bergantian sesuai waktu yang disepakati (acuan: ketepatan memasangkan 3 dari 3 pasangan).
- Formatif 2: Penilaian lembar Rencana Aksi Penerapan Keadilan mencakup 2 bidang tindakan: penerapan pembagian tugas piket adil dan penerapan penghormatan hak teman (acuan: tindakan bersifat konkret, dapat diamati, dan mencerminkan perlakuan setara tanpa pilih kasih).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid mengisi 2 butir pernyataan komitmen tindakan adil: (1) Saat regu piketku bertugas, tindakan adil yang kulakukan adalah... (acuan: mengerjakan bagian tugas yang disepakati hingga selesai); (2) Saat teman lain sedang memakai fasilitas kelas/sekolah sesuai gilirannya, tindakan adil yang kulakukan adalah... (acuan: menunggu giliran dengan tertib dan tidak merebut haknya).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja penjodohan 'Kartu Solusi Keadilan' (3 pasang situasi dan tindakan adil)
- Penilaian lembar kerja mandiri 'Rencana Aksi Penerapan Keadilan di Sekolah' (piket merata dan menghargai hak teman)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menerapkan pembagian tugas piket secara adil | Belum mampu menentukan tindakan adil dalam pembagian tugas piket kelas walau dibimbing guru. | Mampu menentukan tindakan adil dalam pembagian tugas piket kelas, namun tindakan masih berfokus pada kepentingan diri sendiri atau butuh bimbingan penuh. | Mampu merumuskan dan menerapkan tindakan pembagian tugas piket secara adil dan merata (menyapu, merapikan meja, atau membuang sampah) secara mandiri. | Mampu merumuskan dan menerapkan tindakan pembagian tugas piket secara adil, merata, dan konsisten berinisiatif membantu teman yang tertinggal bebannya tanpa mengabaikan tugas pokok sendiri. | | Menerapkan tindakan menghargai hak sesama teman secara adil | Belum mampu menentukan tindakan menghargai hak teman dalam pergaulan di sekolah. | Mampu menentukan tindakan menghargai hak teman pada 1 situasi (antre atau pinjam-meminjam) dengan bantuan bimbingan guru. | Mampu merumuskan dan menerapkan tindakan menghargai hak sesama teman secara adil pada situasi nyata di sekolah (tertib antre, giliran bermain, dan pinjam-meminjam) secara mandiri. | Mampu merumuskan dan menerapkan tindakan menghargai hak sesama teman secara adil pada berbagai situasi sekolah secara konsisten serta mengajak teman lain menjaga ketertiban bersama. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan kartu solusi keadilan efektif membantu murid memahami cara menerapkan keadilan di sekolah?
- Bagaimana keterlibatan murid selama menyusun rencana aksi keadilan, apakah mereka mampu merumuskan tindakan konkret yang realistis?
Murid:- Tindakan adil apa yang paling mudah dan paling menantang untuk kupraktikkan saat piket kelas bersama teman?
- Mengapa aku harus menghormati hak dan antrean temanku di sekolah sebagai anak beriman Kristiani?
Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.4.1 Menjelaskan arti dan peranan bertindak menurut hati nurani dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
- TP 6.4.2 Menampilkan sikap bertindak menurut hati nurani dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
- TP 6.4.3 Menguraikan makna menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
- TP 6.4.4 Menerapkan tindakan menegakkan keadilan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman Kristiani
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan doa pembuka, memeriksa kehadiran murid, dan menciptakan suasana hening serta tertib di dalam kelas (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif Bab 4, prosedur dua sesi evaluasi (tes tertulis uraian dan refleksi serentak, dilanjutkan penilaian antarteman dan wawancara lisan bergiliran), serta menegaskan prinsip kejujuran akademis (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak pembacaan petunjuk teknis Tugas 1 dan menerima Lembar Soal Uraian Konseptual serta Lembar Cek Refleksi Diri (2 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara mandiri mengerjakan Tugas 1 (TP 6.4.1 dan TP 6.4.2) selama 50 menit: menjawab 2 butir soal uraian konseptual dan mengisi lembar cek refleksi diri (45 menit). Soal Uraian: (1) Jelaskan arti hati nurani menurut Gaudium et Spes Art. 16 dan peranannya dalam pengambilan keputusan moral seorang Kristiani! (Acuan jawaban: Hati nurani adalah inti manusia yang paling rahasia dan tempat kudus di mana manusia sendirian bersama Allah yang bersuara di lubuk hatinya; peranannya mengarahkan manusia mencintai kebaikan, menjauhi kejahatan, serta menilai tindakan moral konkret). (2) Uraikan peranan bertindak menurut hati nurani saat menghadapi godaan berbuat curang berdasarkan pembelajaran kisah penyesalan Santo Petrus! (Acuan jawaban: Menyadarkan manusia akan kesalahan/dosa, menggerakkan rasa sesal mendalam, mendorong pertobatan sejati, serta meneguhkan komitmen untuk berani menolak kecurangan dan setia pada kebenaran Kristus). Lembar Refleksi Diri memuat 4 pernyataan pembiasaan dengan pilihan Selalu/Sering/Jarang/Tidak Pernah: (a) Berani mengakui kesalahan di hadapan teman/guru saat bersalah; (b) Menolak menyontek walau ada kesempatan; (c) Merasa gelisah saat melanggar kebenaran dan segera berdamai; (d) Mendengarkan bisikan suara hati untuk berbuat baik.
- Murid mengisi serentak Lembar Penilaian Antarteman (TP 6.4.4) selama 5 menit untuk menilai penerapan sikap adil teman sebangku/kelompok (membagi tugas piket merata, tidak merampas giliran bermain, menghargai hak teman bicara) lalu mengumpulkannya ke meja guru bersama Lembar Tugas 1 (5 menit).
- Pelaksanaan Tugas 2 (TP 6.4.3 dan TP 6.4.4): Guru melaksanakan wawancara lisan singkat terstruktur bergiliran di meja guru dengan durasi rata-rata 1,5 menit per murid untuk 28 murid (total 42 menit), sementara murid lain membaca hening bahan pengayaan refleksi di bangku masing-masing (42 menit). Guru mengajukan 2 pertanyaan terstruktur: (1) Berdasarkan Perumpamaan Pekerja di Kebun Anggur (Mat 20:1-16), uraikan makna menegakkan keadilan menurut ajaran Yesus Kristus! (Acuan jawaban: Keadilan Allah tidak semata-mata diukur dari hitungan matematis/jasa manusia, melainkan didasari belas kasih, kemurahan hati, kepedulian memenuhi kebutuhan hidup martabat sesama, serta kesetiaan pada janji). (2) Sebutkan 2 ciri sikap pemimpin yang adil dan 1 tindakan konkretmu menghargai hak teman secara adil di sekolah! (Acuan jawaban: Ciri pemimpin adil memuat minimal dua dari: tidak memihak/pilih kasih, bijaksana, mendengarkan semua anggota, mengutamakan kepentingan bersama, menepati janji; tindakan konkret: membagi tugas kelompok/piket secara merata tanpa membeda-bedakan atau menghormati giliran memakai fasilitas kelas).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setelah seluruh wawancara selesai, murid diajak hening sejenak merenungkan ketepatan dan ketulusan sikap diri selama menyelesaikan asesmen sumatif bab (1 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi kepada seluruh murid atas ketertiban, kedisiplinan, dan kejujuran yang ditunjukkan selama pelaksanaan tes tertulis, refleksi diri, dan wawancara lisan (1 menit).
- Guru menutup sesi dengan rangkuman peneguhan iman Kristiani mengenai komitmen hidup adil berlandaskan hati nurani yang murni, dilanjutkan doa penutup syukur bersama (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Memberikan lembar instrumen dengan ukuran teks terbaca jelas dan format tata letak yang lapang bagi murid dengan hambatan visual ringan tanpa mengubah butir pertanyaan maupun acuan jawaban.
- Proses: Memberikan pembacaan ulang butir pertanyaan wawancara lisan secara perlahan bagi murid yang membutuhkan waktu pemrosesan auditori, dengan alokasi waktu dan substansi pertanyaan yang setara.
- Produk: Seluruh murid mengumpulkan produk asesmen sumatif yang seragam berupa lembar jawaban tertulis uraian dan rekaman lembar penilaian wawancara lisan sesuai kriteria rubrik.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan teknis asesmen dan pemahaman murid terhadap tata tertib serta alur pengerjaan asesmen sumatif kombinasi (tertulis, refleksi, lisan).
Proses:- Observasi ketertiban, kejujuran, dan kepatuhan murid selama mengerjakan tes tertulis secara mandiri di bangku masing-masing.
- Pencatatan langsung (scoring) respon jawaban murid pada format lembar wawancara lisan bergradasi di meja guru.
Sumatif Bab:- Asesmen kombinasi: tes tertulis uraian refleksi diri serentak dan wawancara lisan singkat terstruktur bergiliran dengan observasi sikap antarteman: Lembar jawaban uraian dan lembar refleksi diri mengenai suara hati, rekaman jawaban lisan terstruktur tentang penegakan keadilan, serta lembar rekapitulasi penilaian antarteman mengenai tindakan adil di kelas
- tes tertulis uraian dan lembar penilaian diri: Lembar jawaban tertulis serentak yang memuat penjelasan arti dan peranan hati nurani dalam pengambilan keputusan moral Kristiani serta lembar refleksi diri berkala tentang kesetiaan menaati suara hati dalam menghadapi situasi hidup sehari-hari (55 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian uraian konseptual dan lembar cek refleksi diri)
- tes lisan tanya jawab terstruktur bergiliran dan penilaian antarteman: Tanya jawab lisan singkat 1,5 menit per murid di meja guru mengenai makna keadilan dan contoh perwujudannya (45 menit / 1,5 menit = 30 slot, muat untuk 28 murid) didukung pengumpulan lembar penilaian antarteman tentang penerapan sikap adil dan menghargai hak sesama di kelas yang diisi serentak sebelum rotasi (50 menit; individual; instrumen: pedoman wawancara lisan bergradasi dan lembar penilaian antarteman)
Sumatif:- Asesmen kombinasi: tes tertulis uraian refleksi diri serentak dan wawancara lisan singkat terstruktur bergiliran dengan observasi sikap antarteman: Lembar jawaban uraian dan lembar refleksi diri mengenai suara hati, rekaman jawaban lisan terstruktur tentang penegakan keadilan, serta lembar rekapitulasi penilaian antarteman mengenai tindakan adil di kelas
- tes tertulis uraian dan lembar penilaian diri: Lembar jawaban tertulis serentak yang memuat penjelasan arti dan peranan hati nurani dalam pengambilan keputusan moral Kristiani serta lembar refleksi diri berkala tentang kesetiaan menaati suara hati dalam menghadapi situasi hidup sehari-hari (55 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian uraian konseptual dan lembar cek refleksi diri)
- tes lisan tanya jawab terstruktur bergiliran dan penilaian antarteman: Tanya jawab lisan singkat 1,5 menit per murid di meja guru mengenai makna keadilan dan contoh perwujudannya (45 menit / 1,5 menit = 30 slot, muat untuk 28 murid) didukung pengumpulan lembar penilaian antarteman tentang penerapan sikap adil dan menghargai hak sesama di kelas yang diisi serentak sebelum rotasi (50 menit; individual; instrumen: pedoman wawancara lisan bergradasi dan lembar penilaian antarteman)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menjelaskan arti dan peranan hati nurani dalam hidup sehari-hari (TP 6.4.1) [Acuan: GS Art. 16 dan Kisah Pertobatan Petrus] | Belum mampu menjelaskan arti hati nurani menurut GS Art. 16 maupun peranannya dalam refleksi kisah Petrus (jawaban salah atau kosong). | Menjelaskan arti hati nurani hanya sebagian tanpa menyebutkan tempat kudus Allah menurut GS Art. 16, dan belum mengaitkan peranan hati nurani dengan pertobatan pada kisah Petrus. | Menjelaskan arti hati nurani menurut GS Art. 16 (inti terdalam manusia/tempat Allah bersuara) dan menyebutkan peranan hati nurani dalam pertobatan Petrus saat menghadapi kecurangan/dosa. | Menjelaskan secara lengkap dan mendalam arti hati nurani menurut GS Art. 16 serta menguraikan seluruh peranan hati nurani (mengarahkan kebaikan, melarang kejahatan, menginsafkan dosa, memulihkan komitmen moral) dalam kehidupan sehari-hari. | | Menampilkan sikap bertindak menurut hati nurani (TP 6.4.2) [Acuan: 4 butir lembar refleksi pembiasaan diri] | Menampilkan komitmen sikap menaati hati nurani pada kurang dari 2 butir pernyataan refleksi pembiasaan diri. | Menampilkan komitmen sikap menaati hati nurani pada 2 butir pernyataan refleksi pembiasaan diri. | Menampilkan komitmen sikap menaati hati nurani pada 3 butir pernyataan refleksi pembiasaan diri (jujur mengakui salah, menolak curang/nyontek, peka bisikan kebaikan). | Menampilkan komitmen sikap menaati hati nurani secara konsisten pada seluruh (4) butir pernyataan refleksi pembiasaan diri disertai kejujuran evaluasi diri yang utuh. | | Menguraikan makna menegakkan keadilan (TP 6.4.3) [Acuan: Mat 20:1-16 dan ciri pemimpin adil] | Belum mampu menguraikan makna keadilan dalam perumpamaan pekerja kebun anggur dan tidak dapat menyebutkan ciri pemimpin adil saat wawancara. | Menguraikan makna keadilan perumpamaan hanya sebatas upah kerja yang sama, tetapi belum mampu menghubungkannya dengan kemurahan hati Allah atau hanya menyebut 1 ciri pemimpin adil. | Menguraikan makna keadilan Kristiani (kemurahan hati Allah dan pemenuhan kebutuhan martabat sesama sesuai Mat 20:1-16) serta menyebutkan tepat 2 ciri pemimpin adil. | Menguraikan secara komprehensif makna keadilan Kristiani yang melampaui hitungan matematis (kasih dan kebaikan Allah) serta menyebutkan lebih dari 2 ciri pemimpin adil dengan argumentasi yang jelas. | | Menerapkan tindakan menegakkan keadilan di sekolah (TP 6.4.4) [Acuan: Lembar penilaian antarteman dan contoh konkret wawancara] | Belum menerapkan tindakan adil di kelas (skor penilaian antarteman menunjukkan sering melalaikan tugas dan mendominasi hak teman) serta tidak dapat memberikan contoh tindakan adil dalam wawancara. | Menerapkan tindakan adil hanya pada pembagian tugas piket tetapi masih sering mengabaikan giliran teman lain berdasarkan penilaian antarteman, atau contoh tindakan dalam wawancara kurang realistis. | Menerapkan tindakan adil secara konsisten dalam membagi tugas piket serta menghormati giliran/hak teman berdasarkan konfirmasi penilaian antarteman dan memberikan 1 contoh konkret yang tepat dalam wawancara. | Menerapkan tindakan adil secara teladan dalam segala aktivitas kelas (pembagian tugas, menghargai pendapat, menjaga hak sesama) terbukti dari penilaian antarteman yang sangat positif serta mampu merumuskan komitmen tindakan penegakan keadilan yang solutif. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu wawancara lisan 1,5 menit per murid terlaksana secara efektif dan tidak mengurangi ketelitian penilaian?
- Bagaimana keselarasan antara hasil tes uraian, refleksi diri, penilaian antarteman, dan wawancara lisan dalam menggambarkan capaian utuh kompetensi murid pada Bab 4?
Murid:- Seberapa jujur saya menjawab soal uraian, lembar refleksi diri, serta lembar penilaian teman pada hari ini?
- Langkah konkret apa yang akan terus saya lakukan setelah asesmen ini agar suara hati saya semakin peka dan saya selalu bertindak adil kepada sesama?
SUMBER BELAJAR- Dokumen Konsili Vatikan II: Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini), Art. 16.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek RI, 2022, Bab 4.
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek RI, 2022, Bab 4.
- Lembar Kerja Kartu Situasi Peranan Suara Hati (4 skenario).
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek
- Alkitab Perjanjian Baru: Injil Lukas 22:54-62 (Kisah Penyangkalan dan Penyesalan Petrus)
- Set Kartu Kasus Moral 'Lampu Hati Petrus'
- Buku Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas VI, Kemendikbudristek 2021
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas VI, Kemendikbudristek 2021
- Kitab Suci (Injil Matius 5:37 'Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak')
- Kartu skenario godaan curang dan Lembar Komitmen Tindakan Nyata
- Buku Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI
- Kartu Skenario Simulasi Pergaulan Sekolah
- Lembar Sikap Hati Nurani
- Alkitab: Injil Matius 20:1-16 dan Mazmur 9:8-9
- Buku Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek 2021, Bab IV)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek 2021, Bab IV Hal. 163-166)
- Kartu Kasus 'Timbang Adil'
- Kitab Suci (Mazmur 9:7-8; Injil Matius 20:1-16)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek 2021, Bab IV)
- Lembar Kerja Siswa dan Kartu Kasus Sikap Pemimpin Adil
- Alkitab (Surat Yakobus 2:17)
- Buku Guru dan Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas VI, Kemendikbudristek 2021
- Kartu Skenario dan Solusi Keadilan di Sekolah buatan guru
- Lembar Kerja Rencana Aksi Penerapan Keadilan di Sekolah
- Alkitab: Dokumen Kitab Suci Perjanjian Baru (Matius 20:1-16)
- Dokumen Konsili Vatikan II: Gaudium et Spes Art. 16
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI Bab IV
- Lembar Soal Uraian Konseptual, Lembar Refleksi Diri, Pedoman Wawancara Lisan, dan Format Penilaian Antarteman
|