MODUL AJAR Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti — Kelas 6 (Fase C) Topik: Bab 3 — Gereja Melanjutkan Karya Sang Juruselamat INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti |
|---|
| Fase / Kelas | Fase C / Kelas 6 |
|---|
| Topik | Bab 3 — Gereja Melanjutkan Karya Sang Juruselamat |
|---|
| Alokasi Waktu | 24 JP (24 x 35 menit = 840 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 8 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 6.3.1 Menjelaskan arti gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik
- TP 6.3.2 Mewujudkan sifat gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik melalui keterlibatan dalam kehidupan menggereja
- TP 6.3.3 Menjelaskan makna persekutuan para kudus dalam tradisi Gereja
- TP 6.3.4 Mewujudkan iman akan persekutuan para kudus dalam kehidupan sehari-hari
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Mengapa dalam doa Syahadat kita menyatakan percaya akan Gereja yang satu?
- Apa yang membuat Gereja disebut kudus meskipun anggota jemaatnya manusia yang berdosa?
- Mengapa Gereja Katolik tersebar di seluruh dunia dan merangkul orang dari berbagai suku bangsa dan bahasa?
- Apa hubungan antara ajaran Gereja Katolik saat ini dengan ajaran para rasul Yesus zaman dahulu?
- Bagaimana kita dapat menunjukkan kesatuan bersama teman seiman di lingkungan gereja?
- Apa kegiatan konkret di gereja yang membantu kita menguduskan hidup setiap hari?
- Bagaimana kita menunjukkan bahwa Gereja kita terbuka bagi semua orang tanpa membeda-bedakan suku dan latar belakang?
- Kegiatan menggereja apa saja yang dapat kita ikuti untuk meneruskan ajaran dan perutusan para Rasul Kristus?
- Mengapa dalam doa Syahadat kita mengucapkan kalimat 'Aku percaya akan persekutuan para kudus'?
- Siapakah saja yang termasuk ke dalam tiga tingkatan persekutuan umat beriman dalam tradisi Gereja Katolik?
- Bagaimana hubungan rohani antara kita yang masih hidup di dunia dengan mereka yang telah berbahagia di surga?
- Siapakah santo atau santa pelindung yang kamu kagumi, dan keteladanan apa yang telah kamu tiru dalam hidup sehari-hari?
- Bagaimana kita mewujudkan iman akan persekutuan para kudus melalui tindakan kasih yang sederhana di rumah dan sekolah?
- Mengapa dalam doa Katolik kita sering memohon bantuan doa (syafaat) dari orang kudus?
- Bagaimana cara kita mendoakan anggota keluarga atau orang beriman yang sudah meninggal dunia?
- Bagaimana pengakuan iman akan sifat-sifat Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik kalian wujudkan secara nyata dalam hidup menggereja?
- Apa makna persekutuan para kudus bagi kehidupan beriman kita dan bagaimana kita mendoakan serta meneladani mereka setiap hari?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menjelaskan Arti Gereja yang Satu dan Kudus — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.1 Menjelaskan arti gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan tanda salib, salam, dan doa pembuka bersama (3 menit).
- Guru memeriksa kehadiran murid dan menciptakan suasana belajar yang hening serta siap menyimak (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan 1, yaitu menjelaskan arti sifat Gereja yang satu dan Gereja yang kudus (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan terarah: 'Apa arti kata satu dalam ungkapan Gereja yang satu?' dan 'Siapakah sumber kekudusan Gereja?' untuk memetakan kesiapan awal murid (acuan: Gereja satu berarti satu iman, satu baptisan, satu pimpinan di bawah Kristus; sumber kekudusan adalah Allah/Kristus/Roh Kudus) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara hening dan berkesadaran menyimak pembacaan teks Kitab Suci Efesus 4:3-6 tentang kesatuan jemaat dan 1 Petrus 1:15-16 tentang panggilan kekudusan (10 menit).
- Guru memberikan penjelasan konsep mengenai makna Gereja yang Satu (kesatuan iman, sakramen, dan kepemimpinan hierarkis dengan Kristus sebagai kepala) serta Gereja yang Kudus (didirikan oleh Kristus yang kudus, dijiwai Roh Kudus, dan membimbing jemaat menuju keselamatan kekal meskipun warganya manusia yang rapuh) (15 menit).
- Murid berpasangan mendiskusikan lembar telaah konsep untuk merumuskan kembali dengan bahasa sendiri apa dasar kesatuan dan sumber kekudusan Gereja (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid berpartisipasi dalam permainan edukatif berpasangan 'Tangkas Kartu Ciri Gereja' untuk memilah 6 kartu pernyataan ke dalam kategori 'Arti Gereja yang Satu' atau 'Arti Gereja yang Kudus'. Daftar 6 kartu pernyataan: (1) Jemaat disatukan dalam satu pengakuan iman yang sama; (2) Memiliki tujuan akhir persekutuan keselamatan kekal bersama Allah; (3) Memiliki satu sakramen baptis yang mempersatukan seluruh umat beriman; (4) Bersumber dari Allah Tritunggal Mahakudus yang memanggil jemaat-Nya; (5) Dipersatukan di bawah satu gembala tertinggi penerus Petrus (Paus); (6) Dijiwai oleh Roh Kudus yang menguduskan dan menuntun perbuatan jemaat. Kunci jawaban: Kategori 'Arti Gereja yang Satu' = kartu (1), (3), (5); Kategori 'Arti Gereja yang Kudus' = kartu (2), (4), (6) (15 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja penjelasan tertulis berisi 2 tugas uraian: (1) Menjelaskan 2 alasan mengapa Gereja disebut satu; (2) Menjelaskan 2 alasan mengapa Gereja disebut kudus (acuan tugas 1: umat dipersatukan oleh satu iman/syahadat, satu perayaan sakramen/baptisan, atau satu kepemimpinan Paus dan Uskup; acuan tugas 2: didirikan oleh Kristus yang kudus, dijiwai Roh Kudus, tujuan Gereja membawa manusia kepada kekudusan hidup bersama Allah) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak umpan balik klasikal dari guru mengenai ketepatan pengelompokan kartu dan penjelasan arti Gereja satu dan kudus (10 menit).
- Murid melakukan refleksi pribadi secara tertulis dalam 2-3 kalimat mengenai pemahaman baru yang diperoleh tentang arti Gereja yang satu dan kudus bagi panggilannya sebagai orang Katolik (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan inti pemahaman materi bahwa Gereja yang satu berarti berakar pada satu iman, baptisan, dan kepemimpinan Kristus, sedangkan Gereja yang kudus berarti bersumber dari Allah yang mahakudus serta dibimbing Roh Kudus (3 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir lisan berupa 2 pertanyaan cek pemahaman singkat: 'Sebutkan 1 dasar mengapa Gereja dikatakan satu!' (acuan: satu iman/satu baptisan/satu pemimpin) dan 'Sebutkan 1 alasan mengapa Gereja disebut kudus!' (acuan: Kristus pendirinya kudus/dijiwai Roh Kudus/tujuannya keselamatan kekal) (4 menit).
- Guru menyampaikan topik pertemuan berikutnya yaitu menjelaskan arti Gereja yang katolik dan apostolik (1 menit).
- Pembelajaran diakhiri dengan doa penutup dan berkat perutusan (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks ringkasan berisi kata kunci (iman, baptis, Kristus, Roh Kudus); murid yang cepat diarahkan menelaah teks Katekismus Gereja Katolik (KGK 813-829) secara mandiri.
- Proses: Murid yang membutuhkan scaffolding berdiskusi dengan panduan pertanyaan bertahap dari guru; murid cepat langsung memilah kartu dan menguraikan keterkaitan konsep tanpa pendampingan langsung.
- Produk: Murid menyajikan penjelasan secara tertulis; bagi yang belum lancar menulis dapat menyampaikan penjelasannya secara lisan terstruktur sesuai acuan konsep.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran: (1) 'Apa arti kata satu dalam Gereja yang satu?' (acuan: satu iman/satu baptisan/satu tubuh Kristus); (2) 'Siapakah yang menjadi sumber kekudusan Gereja?' (acuan: Allah/Kristus/Roh Kudus).
Proses:- Penilaian unjuk kerja pemilahan 6 kartu ciri Gereja dalam kategori Satu dan Kudus (daftar kartu: 1=pengakuan iman sama, 2=tujuan keselamatan kekal, 3=satu sakramen baptis, 4=bersumber Allah Tritunggal, 5=satu gembala Paus, 6=dijiwai Roh Kudus; kunci Satu: 1, 3, 5; kunci Kudus: 2, 4, 6).
- Pemeriksaan lembar kerja penjelasan mandiri murid mengenai 2 alasan Gereja disebut satu dan 2 alasan Gereja disebut kudus.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: (1) Sebutkan 1 dasar mengapa Gereja disebut satu (acuan: satu iman/satu baptis/satu kepemimpinan Kristus); (2) Sebutkan 1 alasan Gereja disebut kudus (acuan: didirikan Kristus/dijiwai Roh Kudus/tujuan hidup kekal).
Formatif:- Observasi ketepatan pemilahan 6 kartu ciri Gereja pada permainan Tangkas Kartu Ciri Gereja (kunci: kartu 1, 3, 5 untuk Satu; kartu 2, 4, 6 untuk Kudus)
- Penilaian lembar kerja penjelasan tertulis arti Gereja yang satu dan kudus
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menjelaskan arti Gereja yang Satu | Belum mampu menjelaskan alasan Gereja disebut satu sesuai acuan kesatuan iman, baptisan, atau kepemimpinan. | Mampu menjelaskan 1 alasan Gereja disebut satu (misalnya: memiliki satu iman atau satu baptisan) dengan bantuan panduan guru. | Mampu menjelaskan 2 alasan Gereja disebut satu (kesatuan iman, perayaan sakramen/baptisan, atau persekutuan hierarkis di bawah kepemimpinan Paus) secara mandiri. | Mampu menjelaskan 3 alasan Gereja disebut satu (kesatuan iman, sakramen, dan kepemimpinan pengganti Petrus) secara runtut, tepat, dan mandiri. | | Menjelaskan arti Gereja yang Kudus | Belum mampu menjelaskan alasan Gereja disebut kudus sesuai acuan sumber dan tujuan kekudusan. | Mampu menjelaskan 1 alasan Gereja disebut kudus (misalnya: karena Kristus adalah kudus) dengan bimbingan guru. | Mampu menjelaskan 2 alasan Gereja disebut kudus (karena Kristus pendirinya mahakudus, dijiwai Roh Kudus, atau bertujuan menghantar umat pada keselamatan kekal) secara mandiri. | Mampu menjelaskan seluruh 3 alasan Gereja disebut kudus (asal/pendiri Kristus, jiwa/Roh Kudus, dan tujuan keselamatan kekal) secara komprehensif, tepat, dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan permainan kartu berhasil membantu murid memahami perbedaan makna sifat Gereja yang satu dan kudus?
- Bagian penjelasan mana yang masih sulit dipahami murid saat menguraikan sifat kekudusan Gereja di tengah kerapuhan manusia berdosa?
Murid:- Apa arti penting Gereja yang satu dan kudus yang paling kamu pahami hari ini?
- Apakah kamu dapat membedakan dengan jelas alasan Gereja disebut satu dan alasan Gereja disebut kudus?
Pertemuan 2 — Menjelaskan Arti Gereja yang Katolik dan Apostolik — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.1 Menjelaskan arti gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan tanda salib, doa pembuka bersama, dan menyapa kehadiran murid (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 2 pertanyaan: (1) 'Apa arti kata katolik secara harfiah?' (acuan: universal/umum/terbuka untuk semua bangsa); (2) 'Mengapa Gereja disebut apostolik?' (acuan: berakar pada pengajaran dan tradisi para rasul). Guru mencatat kesiapan awal murid (7 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan arti sifat Gereja yang Katolik dan Apostolik (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid membaca ringkasan materi di buku siswa tentang sifat Gereja: 'Katolik' (universal, terbuka untuk semua budaya, bangsa, dan bahasa demi mewartakan keselamatan Kristus) dan 'Apostolik' (berdiri atas dasar iman dan pengajaran para rasul yang dipelihara oleh Roh Kudus dan dilanjutkan oleh para pengganti rasul) (10 menit).
- Guru memberikan penjelasan konseptual mengenai 2 sifat tersebut, mengaitkan istilah Katolik (katholikos = umum/semesta) dan Apostolik (apostolos = utusan/rasul), serta membuka kesempatan tanya jawab untuk memperdalam pemahaman (3 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagikan Lembar Tantangan 'Ciri Katolik & Apostolik' berisi 4 pernyataan untuk dianalisis dan diklasifikasikan ke dalam kolom sifat yang tepat beserta alasannya: (1) Pernyataan A: 'Gereja menghormati dan menggunakan bahasa serta alat musik daerah dalam perayaan Ekaristi' -> Sifat: Katolik (Universal); (2) Pernyataan B: 'Uskup dan Paus memimpin umat berdasarkan warisan ajaran yang diteruskan sejak Santo Petrus dan para rasul' -> Sifat: Apostolik; (3) Pernyataan C: 'Pewartaan Injil ditujukan kepada segala bangsa tanpa membeda-bedakan warna kulit atau status sosial' -> Sifat: Katolik (Universal); (4) Pernyataan D: 'Gereja setia menjaga kemurnian Kitab Suci dan Tradisi Suci yang diajarkan oleh para murid Yesus perdana' -> Sifat: Apostolik (12 menit).
- Secara berpasangan, murid mengerjakan kuis cepat tantangan kartu 'Tebak Sifat Gereja' di mana satu murid membacakan pernyataan dari lembar kerja dan pasangannya menyebutkan sifatnya serta menjelaskan alasannya secara bergantian dengan ceria dan tangkas (15 menit).
- Murid secara mandiri menuliskan penjelasan lengkap mengenai arti sifat Gereja yang Katolik dan Gereja yang Apostolik pada lembar kerja masing-masing berdasarkan pemahaman yang telah dibangun (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid diajak hening sejenak merenungkan makna menjadi anggota Gereja yang terbuka kepada sesama tanpa membeda-bedakan (Katolik) serta setia pada ajaran Yesus yang diwariskan para rasul (Apostolik) (10 menit).
- Dua orang perwakilan murid secara sukarela membacakan hasil penjelasan yang ditulisnya, lalu guru memberikan penegasan (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali poin penting: sifat Katolik berarti universal/terbuka bagi seluruh umat manusia dan budaya, sedangkan Apostolik berarti berakar kuat pada dasar iman dan ajaran para rasul (10 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas lembar kerja murid, menyampaikan agenda pertemuan berikutnya (Mewujudkan Sifat Gereja yang Satu dan Kudus), lalu menutup pembelajaran dengan doa penutup dan berkat (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci ('universal', 'terbuka', 'para rasul', 'warisan iman'), sedangkan murid yang cepat diberikan teks pengayaan tentang inkulturasi budaya dalam liturgi Gereja.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu guru dalam mengidentifikasi kata kunci pada 4 pernyataan, sedangkan murid yang mandiri langsung menjelaskan kaitan sebab-akibat sifat Katolik dan Apostolik.
- Produk: Murid dapat menjelaskan secara tertulis dalam bentuk uraian terstruktur atau membuat bagan peta konsep pemikiran yang memuat definisi dan ciri-ciri sifat Katolik dan Apostolik.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di pendahuluan dengan 2 pertanyaan: (1) 'Apa arti kata katolik secara harfiah?' (acuan jawaban: universal/umum/terbuka untuk seluruh bangsa dan budaya); (2) 'Mengapa Gereja disebut apostolik?' (acuan jawaban: karena berakar pada ajaran, iman, dan perutusan para rasul Yesus).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan klasifikasi 4 pernyataan pada lembar tantangan: (1) Pernyataan A -> Katolik; (2) Pernyataan B -> Apostolik; (3) Pernyataan C -> Katolik; (4) Pernyataan D -> Apostolik (acuan ketepatan: minimal 3 dari 4 diklasifikasikan dengan tepat beserta alasan penjelasannya).
Akhir Pertemuan:- Tugas uraian tertulis mandiri: 'Jelaskan arti sifat Gereja yang Katolik dan sifat Gereja yang Apostolik!' (Kriteria penerimaan: penjelasan sifat Katolik memuat unsur universal/terbuka bagi segala bangsa/budaya untuk karya keselamatan Kristus; penjelasan sifat Apostolik memuat unsur berakar pada ajaran iman para rasul, dipelihara oleh Roh Kudus, dan diteruskan oleh penerus para rasul).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di awal pelajaran untuk memetakan pengetahuan tentang arti katolik dan apostolik
- Observasi unjuk kerja dan lembar analisis klasifikasi 4 pernyataan sifat Gereja
- Penilaian tugas tertulis penjelasan arti Gereja yang Katolik dan Apostolik
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Arti Gereja yang Katolik | Belum mampu menjelaskan arti Gereja yang Katolik atau penjelasan keliru tanpa memuat konsep universal/terbuka bagi bangsa dan budaya. | Menjelaskan arti Gereja yang Katolik secara terbatas hanya dengan menyebut kata 'universal' atau 'umum' tanpa menjelaskan maknanya bagi semua bangsa dan budaya. | Menjelaskan arti Gereja yang Katolik dengan tepat, memuat makna universal dan terbuka bagi segala bangsa, bahasa, dan kebudayaan sesuai ajaran keselamatan Kristus. | Menjelaskan arti Gereja yang Katolik dengan sangat tepat, lengkap, dan rinci mencakup keterbukaan terhadap segala bangsa dan budaya lokal (inkulturasi) demi keselamatan seluruh dunia. | | Penjelasan Arti Gereja yang Apostolik | Belum mampu menjelaskan arti Gereja yang Apostolik atau hanya menyebut kata rasul tanpa memahami hubungannya dengan ajaran Gereja. | Menjelaskan arti Gereja yang Apostolik sebatas 'berhubungan dengan rasul' tanpa menjelaskan unsur pewarisan ajaran atau dasar iman para rasul. | Menjelaskan arti Gereja yang Apostolik dengan tepat, mencakup Gereja yang berdiri di atas dasar iman dan pengajaran para rasul serta menjaga warisan ajaran tersebut. | Menjelaskan arti Gereja yang Apostolik dengan sangat tepat dan lengkap, mencakup dasar pengajaran para rasul, pemeliharaan ajaran oleh Roh Kudus, dan kelanjutannya melalui penerus rasul (Paus dan Uskup). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah metode kuis berpasangan dan analisis pernyataan efektif membantu murid memahami perbedaan serta kekhasan sifat Katolik dan Apostolik?
- Bagian penjelasan mana yang masih membuat murid ragu atau tertukar antara sifat Katolik dan Apostolik?
Murid:- Apakah aku sudah memahami mengapa Gereja kita disebut berciri Katolik dan berciri Apostolik?
- Bagaimana pemahamanku tentang keterbukaan Gereja Katolik mengubah caraku memandang teman yang berbeda latar belakang?
Pertemuan 3 — Mewujudkan Sifat Gereja yang Satu dan Kudus melalui Keterlibatan dalam Kehidupan Menggereja — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.2 Mewujudkan sifat gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik melalui keterlibatan dalam kehidupan menggereja
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan tanda salib, salam, dan doa pembuka bersama murid (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat dengan membagikan lembar cek awal berisi 2 pertanyaan untuk memetakan kesiapan murid dalam mewujudkan sifat Gereja: (1) 'Sebutkan 1 contoh tindakan nyata di paroki/stasi yang menunjukkan Gereja yang Satu!' dan (2) 'Sebutkan 1 contoh tindakan nyata dalam kehidupan menggereja yang menunjukkan sifat Kudus!' (acuan jawaban: 1 = ikut doa lingkungan bersama/tidak membeda-bedakan umat; 2 = mengikuti perayaan Ekaristi/berdoa sebelum dan sesudah kegiatan) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid membaca teks Kitab Suci Kisah Para Rasul 2:41-47 secara bergantian untuk menyimak wujud nyata keterlibatan jemaat perdana yang hidup bersatu dan kudus (15 menit).
- Guru dan murid melakukan tanya jawab terarah tentang hubungan teks Kisah Para Rasul dengan keterlibatan hidup menggereja masa kini dalam menghayati sifat satu dan kudus (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid bermain kuis tantangan kelompok ceria 'Kartu Aksi Menggereja', memasangkan 4 kartu pernyataan tindakan ke papan kategori 'Sifat Satu' atau 'Sifat Kudus': (1) 'Mengikuti misa hari Minggu bersama keluarga' -> Sifat Kudus; (2) 'Mengumpulkan derma dan membagikannya kepada sesama jemaat yang membutuhkan' -> Sifat Satu; (3) 'Menghadiri doa Rosario bersama umat di lingkungan' -> Sifat Kudus; (4) 'Menyambut teman baru di Sekolah Minggu tanpa membeda-bedakan asal sekolah' -> Sifat Satu (15 menit).
- Secara berpasangan, murid menyusun 'Rencana Keterlibatan Nyata' berisi 2 tindakan nyata yang akan mereka wujudkan di lingkungan/paroki: 1 wujud sifat satu (contoh: aktif dalam kegiatan Bina Iman Anak/Sekolah Minggu, kerja bakti membersihkan gereja) dan 1 wujud sifat kudus (contoh: bertugas menjadi misdinar/putra altar, berdoa dengan khidmat saat konsekrasi di gereja) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengheningkan cipta sejenak dan memeriksa batin tentang komitmen keterlibatannya dalam kehidupan jemaat/lingkungan gereja selama ini (15 menit).
- Perwakilan murid membacakan rencana keterlibatan yang telah disusun di hadapan teman-temannya sebagai wujud niat iman pribadi (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap rencana aksi yang disusun dan mengaitkannya dengan panggilan hidup sebagai anggota Gereja yang satu dan kudus (5 menit).
- Guru bersama murid menutup pertemuan dengan doa penutup dan tanda salib (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan daftar pilihan peran di gereja (misdinar, koor, lektor anak, peserta BIA), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan situasi konkret paroki yang lebih variatif.
- Proses: Penyusunan rencana aksi dilakukan berpasangan untuk saling melengkapi ide keterlibatan di lingkungan paroki/stasi.
- Produk: Rencana keterlibatan dapat disajikan dalam bentuk daftar periksa mingguan sederhana atau kartu janji keterlibatan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik singkat tertulis di lembar apersepsi dengan 2 butir: (1) Sebutkan 1 contoh tindakan nyata di paroki/stasi yang mewujudkan sifat Satu (acuan: doa bersama lingkungan/gotong royong umat/menghargai keberagaman sesama umat); (2) Sebutkan 1 contoh tindakan nyata di gereja yang mewujudkan sifat Kudus (acuan: merayakan Ekaristi/menerima sakramen/menjadi petugas liturgi/berdoa hening).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pemilahan 4 kartu aksi pada kuis: Kartu 1 (Misa Minggu -> Kudus), Kartu 2 (Derma umat -> Satu), Kartu 3 (Doa Rosario lingkungan -> Kudus), Kartu 4 (Menyambut teman baru di BIA -> Satu).
- Pemeriksaan lembar 'Rencana Keterlibatan Nyata' berpasangan: memastikan memuat minimal 1 rencana konkret sifat Satu dan 1 rencana konkret sifat Kudus yang realistis dilakukan anak usia kelas 6 dalam hidup menggereja.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta murid menyebutkan kembali komitmen pribadinya dalam mewujudkan salah satu sifat Gereja (Satu atau Kudus) di lingkungan paroki/stasi pada pekan ini (kriteria penerimaan: menyebutkan aksi keterlibatan konkret di gereja yang sesuai dengan sifat yang dipilih).
Formatif:- Penilaian kinerja berpasangan pada lembar 'Rencana Keterlibatan Nyata' (memeriksa ketepatan rencana aksi keterlibatan dalam mewujudkan sifat satu dan kudus)
- Observasi partisipasi dalam permainan kuis 'Kartu Aksi Menggereja'
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mewujudkan sifat Gereja yang Satu melalui keterlibatan menggereja | Belum mampu merumuskan tindakan keterlibatan menggereja yang mencerminkan sifat Satu. | Merumuskan tindakan keterlibatan yang mencerminkan sifat Satu namun masih bersifat umum di luar kehidupan menggereja. | Merumuskan 1 tindakan keterlibatan nyata yang tepat dan dapat dilaksanakan di paroki/lingkungan untuk mewujudkan sifat Satu sesuai acuan. | Merumuskan lebih dari 1 tindakan keterlibatan nyata yang terinci dan aplikatif di paroki/lingkungan untuk mewujudkan sifat Satu secara mandiri. | | Mewujudkan sifat Gereja yang Kudus melalui keterlibatan menggereja | Belum mampu merumuskan tindakan keterlibatan menggereja yang mencerminkan sifat Kudus. | Merumuskan tindakan keterlibatan yang mencerminkan sifat Kudus namun belum spesifik pada peribadatan/kehidupan doa menggereja. | Merumuskan 1 tindakan keterlibatan nyata yang tepat dalam peribadatan/kehidupan doa di gereja untuk mewujudkan sifat Kudus sesuai acuan. | Merumuskan lebih dari 1 tindakan keterlibatan nyata yang terinci dan aplikatif dalam peribadatan/kehidupan doa di gereja untuk mewujudkan sifat Kudus secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat menghubungkan sifat Satu dan Kudus dengan tindakan nyata dalam persekutuan umat?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam merumuskan rencana aksi menggereja secara kolaboratif?
Murid:- Apakah aku sudah siap melibatkan diri secara nyata dalam kegiatan di gereja atau lingkunganku?
- Tindakan nyata apa yang paling mudah untuk segera aku lakukan demi mewujudkan Gereja yang satu dan kudus?
Pertemuan 4 — Mewujudkan Sifat Gereja yang Katolik dan Apostolik melalui Keterlibatan dalam Kehidupan Menggereja — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.2 Mewujudkan sifat gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik melalui keterlibatan dalam kehidupan menggereja
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan tanda salib, salam, dan mengajak seorang murid memimpin doa pembuka memohon bimbingan Roh Kudus dalam menggereja (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan untuk mengidentifikasi kesiapan awal murid mengenai perwujudan sifat katolik dan apostolik dalam kehidupan menggereja: 'Sebutkan 1 contoh kegiatan di lingkungan/paroki yang terbuka bagi semua orang, dan 1 contoh kegiatan yang meneruskan ajaran para Rasul!' (acuan jawaban: terbuka bagi siapa saja/terbuka untuk semua orang/menerima teman berbeda latar belakang untuk sifat katolik; ikut sekolah minggu/membaca Kitab Suci/mendengarkan ajaran Pastor/Bia-Bir untuk sifat apostolik) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati teks kisah keterlibatan jemaat perdana (Kis 2:41-47) serta tayangan/gambar keterlibatan umat masa kini dalam kegiatan Gereja yang bersifat katolik (merangkul semua bangsa dan suku, aksi sosial tanpa diskriminasi) dan apostolik (meneruskan ajaran para rasul melalui katekese, liturgi, dan kesaksian hidup) secara khidmat (15 menit).
- Dalam kelompok beranggotakan 4 orang, murid memainkan permainan tebak cepat 'Kartu Misi Menggereja': setiap kelompok menerima 4 kartu situasi keterlibatan konkret dan secara bergantian mengklasifikasikan kartu tersebut ke dalam kelompok 'Sifat Katolik' atau 'Sifat Apostolik'. Daftar 4 kartu: (1) Mengajak teman dari suku dan daerah mana pun bergabung di Bina Iman Anak (acuan: Sifat Katolik); (2) Mengumpulkan dana dan sembako bagi korban bencana alam tanpa membedakan latar belakang warga (acuan: Sifat Katolik); (3) Mengikuti pembinaan misdinar/putra altar untuk mempelajari tata perayaan ekaristi sesuai tradisi para rasul (acuan: Sifat Apostolik); (4) Menghafalkan Syahadat Para Rasul dan tekun membaca Kitab Suci bersama keluarga di lingkungan (acuan: Sifat Apostolik). Kelompok mencocokkan hasil klasifikasi dengan kunci acuan (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Secara berpasangan, murid menyusun rencana aksi keterlibatan nyata dalam kehidupan menggereja di lingkungan/paroki yang mewujudkan sifat Katolik dan Apostolik pada lembar rencana aksi yang memuat minimal 2 aksi konkret keterlibatan: (1) aksi wujud sifat Katolik (kriteria penerimaan: mencakup tindakan konkret merangkul semua orang/terbuka/tanpa membeda-bedakan latar belakang dalam kegiatan gereja/lingkungan, misal: menyapa teman baru di gereja tanpa membedakan asal daerah, ikut bakti sosial lingkungan untuk kaum miskin); (2) aksi wujud sifat Apostolik (kriteria penerimaan: mencakup tindakan konkret meneruskan ajaran iman rasuli dalam kegiatan menggereja, misal: aktif hadir dalam pembinaan iman anak/misdinar, tekun mendengarkan khotbah romo saat misa hari Minggu) (30 menit).
- Murid mempraktikkan simulasi perwujudan keterlibatan menggereja secara bergiliran dalam kelompok: sepasang murid memeragakan peran mengajak umat baru dari berbagai suku mengikuti kegiatan doa lingkungan bersama tanpa diskriminasi (wujud katolik) dan membimbing teman membaca teks bacaan Kitab Suci sesuai tradisi Gereja (wujud apostolik), sementara pasangan lain mengamati kesesuaian tindakan dengan sifat Gereja tersebut (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid dalam suasana hening pribadi menuliskan komitmen batin pada buku catatan: 'Aku mau mewujudkan sifat Gereja yang Katolik dan Apostolik dengan terlibat aktif dalam...' disertai tekad kesiapan melaksanakannya di paroki/lingkungan masing-masing (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai perwujudan sifat Gereja Katolik (terbuka dan merangkul semua) dan Apostolik (setia meneruskan ajaran para rasul) melalui tindakan keterlibatan nyata di Gereja (5 min).
- Guru memberikan umpan balik dan mengonfirmasi pemahaman akhir murid terkait rencana aksi keterlibatan menggereja yang telah disusun, kemudian menutup pembelajaran dengan doa penutup dan berkat (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan contoh pilihan kegiatan menggereja konkret (misal: misdinar, koor anak, bina iman, kerja bakti gereja), sedangkan murid yang cepat dapat merancang keterlibatan pada 3-4 ragam kegiatan pelayanan paroki/lingkungan sekaligus.
- Proses: Pada tahap mengaplikasi, murid yang membutuhkan pendampingan dibantu guru melalui pemodelan cara merumuskan aksi nyata, sedangkan murid yang mandiri langsung berdiskusi dan menyusun rencana aksi secara otonom bersama pasangannya.
- Produk: Rencana aksi keterlibatan menggereja dapat dituliskan dalam bentuk tabel komitmen mingguan sederhana atau bagan pohon komitmen perutusan iman.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik lisan di awal pelajaran: Murid diminta menyebutkan 1 contoh kegiatan menggereja yang terbuka bagi semua orang dan 1 contoh kegiatan yang meneruskan ajaran para rasul. Acuan jawaban: sifat katolik = kegiatan bakti sosial paroki, menyambut teman baru dari suku mana pun di gereja; sifat apostolik = ikut bina iman anak/sekolah minggu mendengarkan ajaran rasul, menjadi misdinar melayani altar.
Proses:- Pengamatan keterlibatan dan ketepatan murid saat mengklasifikasikan 4 kartu situasi 'Kartu Misi Menggereja' (Kunci acuan: Kartu 1 = Katolik, Kartu 2 = Katolik, Kartu 3 = Apostolik, Kartu 4 = Apostolik).
- Pemeriksaan draf lembar rencana aksi keterlibatan menggereja: memastikan memuat minimal 1 aksi wujud sifat katolik dan 1 aksi wujud sifat apostolik yang operasional dalam kehidupan lingkungan/paroki.
Akhir Pertemuan:- Pengecekan lembar rencana aksi keterlibatan menggereja murid di akhir sesi. Kriteria penerimaan operasional: Rencana aksi mencakup minimal 2 tindakan nyata keterlibatan dalam kehidupan menggereja, yaitu (1) aksi wujud katolik yang mencerminkan keterbukaan/inklusivitas bagi sesama tanpa membeda-bedakan suku/latar belakang dalam kegiatan gereja/lingkungan, dan (2) aksi wujud apostolik yang mencerminkan kesetiaan mempelajari atau meneruskan ajaran iman rasuli (seperti bina iman anak, misdinar, atau doa lingkungan).
Formatif:- Penilaian kinerja kelompok dalam mengklasifikasikan 4 kartu situasi keterlibatan menggereja (katolik vs apostolik).
- Pemeriksaan lembar rencana aksi keterlibatan menggereja (minimal 2 aksi: 1 aksi wujud katolik dan 1 aksi wujud apostolik).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mewujudkan sifat gereja katolik melalui keterlibatan dalam kehidupan menggereja | Belum mampu merumuskan maupun mempraktikkan tindakan keterlibatan menggereja yang mewujudkan sifat katolik walau telah dibimbing guru. | Mampu merumuskan 1 tindakan keterlibatan menggereja yang mewujudkan sifat katolik namun masih butuh arahan dan bimbingan guru agar sesuai kriteria keterbukaan. | Mampu merumuskan dan mempraktikkan minimal 1 tindakan keterlibatan menggereja yang mewujudkan sifat katolik (terbuka merangkul sesama tanpa membeda-bedakan) secara tepat dan mandiri. | Mampu merumuskan dan mempraktikkan lebih dari 1 tindakan keterlibatan menggereja yang mewujudkan sifat katolik (terbuka merangkul sesama tanpa membeda-bedakan) secara tepat, konsisten, dan mandiri. | | Mewujudkan sifat gereja apostolik melalui keterlibatan dalam kehidupan menggereja | Belum mampu merumuskan maupun mempraktikkan tindakan keterlibatan menggereja yang mewujudkan sifat apostolik walau telah dibimbing guru. | Mampu merumuskan 1 tindakan keterlibatan menggereja yang mewujudkan sifat apostolik namun masih butuh arahan guru agar selaras dengan tradisi ajaran rasul. | Mampu merumuskan dan mempraktikkan minimal 1 tindakan keterlibatan menggereja yang mewujudkan sifat apostolik (meneruskan ajaran iman para rasul) secara tepat dan mandiri. | Mampu merumuskan dan mempraktikkan lebih dari 1 tindakan keterlibatan menggereja yang mewujudkan sifat apostolik (meneruskan ajaran iman para rasul) secara tepat, konsisten, dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah permainan kartu situasi dan penyusunan rencana aksi telah efektif memampukan murid mewujudkan sifat katolik dan apostolik dalam kehidupan menggereja?
- Bagaimana keterlibatan aktif dan antusiasme murid selama proses simulasi kegiatan menggereja di kelas?
Murid:- Apa tindakan keterlibatan nyata yang paling ingin segera saya lakukan di gereja atau lingkungan untuk mewujudkan sifat katolik dan apostolik?
- Apakah saya sudah bersikap terbuka kepada semua teman tanpa membedakan saat beraktivitas di gereja dan sekolah?
Pertemuan 5 — Menjelaskan Makna Persekutuan Para Kudus dalam Tradisi Gereja — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.3 Menjelaskan makna persekutuan para kudus dalam tradisi Gereja
Pendahuluan:- Guru mengawali pelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa pembuka bersama, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan mengenai arti persekutuan para kudus untuk memetakan pemahaman awal murid (acuan jawaban: persekutuan rohani antara umat beriman yang masih berziarah di dunia, disucikan di api penyucian, dan berbahagia di surga) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, materi pokok, langkah pembelajaran yang akan dilalui, serta pentingnya memahami makna persekutuan para kudus dalam tradisi iman Gereja Katolik (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membaca teks Kitab Suci dari Injil Yohanes 6:53-58 dan teks ajaran Tradisi Gereja tentang 'communion sanctorum' (persekutuan para kudus) yang menegaskan ikatan kasih umat beriman di dalam Kristus (15 menit).
- Guru memberikan penjelasan mendalam dan membimbing murid mencermati 3 tingkatan persekutuan para kudus: (1) Gereja peziarah (umat yang masih hidup di dunia), (2) Gereja yang sedang disucikan (jiwa-jiwa di api penyucian), dan (3) Gereja yang mulia/berjaya (para kudus yang telah bersatu dengan Allah di surga) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Dalam suasana yang menggembirakan, murid mengikuti permainan kuis tebak kartu makna 'Keluarga Allah': murid secara berpasangan mencocokkan 3 kartu kategori Gereja dengan 3 kartu deskripsi makna persekutuan (Kartu Kategori A: Gereja Berziarah, Kartu Kategori B: Gereja yang Disucikan, Kartu Kategori C: Gereja Mulia; Kartu Deskripsi 1: Umat beriman yang masih hidup di bumi berjuang melawan dosa, Kartu Deskripsi 2: Kaum beriman yang wafat dan dalam tahap pemurnian rohani, Kartu Deskripsi 3: Para santo, santa, dan martir yang telah hidup abadi bersama Allah di surga) (kunci: A-1, B-2, C-3) (15 menit).
- Secara mandiri, murid mengerjakan lembar kerja penjelasan makna persekutuan para kudus yang memuat 3 butir pertanyaan uraian: (1) Menjelaskan pengertian persekutuan para kudus (communion sanctorum); (2) Menjelaskan 3 tingkatan umat yang terhimpun dalam persekutuan para kudus; (3) Menjelaskan dasar persekutuan para kudus menurut Sabda Yesus dalam Yohanes 6:54 (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid diajak mengheningkan diri, merenungkan bahwa dirinya tidak berjuang sendirian dalam beriman melainkan didukung oleh doa seluruh persekutuan para kudus, lalu menuliskan satu kalimat pokok pemahaman tentang makna persekutuan para kudus di buku catatan (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid membuat rangkuman intisari pembelajaran tentang persekutuan para kudus yang mencakup Gereja di bumi, api penyucian, dan surga (8 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas lembar kerja yang dikerjakan murid, menyampaikan gambaran pertemuan berikutnya mengenai meneladani hidup orang kudus, dan menutup pelajaran dengan doa syukur bersama (7 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan bagan visual skema 3 tingkatan Gereja (dunia, api penyucian, surga) beserta rujukan ayat Yohanes 6:54 untuk murid yang memerlukan dukungan pemahaman konkret.
- Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang kesulitan menguraikan konsep teologis, sementara murid yang cepat diminta menguraikan secara lebih rinci kaitan sakramen Ekaristi dengan persatuan para kudus.
- Produk: Murid menuangkan penjelasan makna persekutuan para kudus dalam bentuk uraian paragraf runtut atau peta konsep berpenjelasan lengkap.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Ketika kita mendoakan orang yang sudah meninggal atau memohon doa syafaat para santo/santa, mengapa doa itu sampai kepada Allah dan apa arti persekutuan para kudus?' (Acuan jawaban yang benar: Persekutuan para kudus adalah persekutuan rohani antara semua orang beriman di dalam Kristus, baik yang masih hidup di dunia, yang berada di api penyucian, maupun yang sudah bahagia bersama Allah di surga).
Proses:- Tugas mandiri tertulis berupa 3 butir soal uraian: (1) Jelaskan pengertian persekutuan para kudus (communion sanctorum)! (Acuan jawaban: Persekutuan rohani dalam Roh Kudus antara seluruh umat beriman yang bersatu dalam Kristus); (2) Jelaskan 3 kelompok umat beriman yang termasuk dalam persekutuan para kudus! (Acuan jawaban: Gereja berziarah di dunia yang masih berjuang, Gereja yang disucikan/api penyucian yang membutuhkan doa pemurnian, dan Gereja mulia di surga yaitu para santo/santa yang menikmati kebahagiaan abadi); (3) Jelaskan dasar persekutuan umat beriman menurut Yohanes 6:54! (Acuan jawaban: Kristus sendiri yang bersabda bahwa barangsiapa makan daging-Nya dan minum darah-Nya mempunyai hidup yang kekal dan dibangkitkan pada akhir zaman, sehingga Ekaristi menjadi dasar ikatan hidup kekal persekutuan umat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup lisan/tulisan singkat: 'Sebutkan 3 bagian anggota persekutuan para kudus dalam Tradisi Gereja!' (Acuan jawaban benar: 1. Umat beriman yang masih mengembara di dunia / Gereja berziarah; 2. Umat beriman yang sedang disucikan di api penyucian; 3. Umat beriman yang telah bahagia di surga / Gereja mulia).
Formatif:- Tanya jawab diagnostik di pendahuluan mengenai pengertian persekutuan para kudus
- Observasi ketepatan saat aktivitas kuis mencocokkan 3 kartu kategori dan deskripsi persekutuan para kudus
- Penilaian lembar kerja mandiri uraian penjelasan makna persekutuan para kudus dalam tradisi Gereja
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Pengertian Persekutuan Para Kudus (Communion Sanctorum) | Belum mampu menjelaskan pengertian persekutuan para kudus sama sekali atau penjelasan tidak sesuai dengan ajaran Gereja. | Menjelaskan pengertian persekutuan para kudus hanya sebagai kumpulan orang yang sudah meninggal tanpa menyebutkan ikatan iman di dalam Kristus. | Mampu menjelaskan persekutuan para kudus sebagai ikatan rohani umat beriman dalam Kristus namun penjelasannya belum mencakup aspek karya Roh Kudus. | Mampu menjelaskan secara utuh dan tepat bahwa persekutuan para kudus adalah ikatan persekutuan rohani seluruh orang beriman di dalam Kristus dan Roh Kudus. | | Penjelasan Tiga Tingkatan Anggota Persekutuan Para Kudus | Hanya mampu menyebutkan 1 tingkatan secara tepat dari 3 tingkatan (Gereja di dunia, api penyucian, surga). | Mampu menyebutkan dan menjelaskan 2 dari 3 tingkatan anggota persekutuan para kudus secara tepat. | Mampu menyebutkan dan menjelaskan seluruh 3 tingkatan anggota persekutuan para kudus (Gereja berziarah di dunia, Gereja yang disucikan di api penyucian, Gereja mulia di surga) dengan tepat. | Mampu menguraikan secara rinci dan tepat seluruh 3 tingkatan anggota persekutuan para kudus beserta keadaan rohani masing-masing secara mandiri dan runtut. | | Penjelasan Dasar Persekutuan Para Kudus dalam Sabda Yesus (Yohanes 6:54) | Belum mampu menjelaskan kaitan sabda Yesus tentang Tubuh dan Darah-Nya dengan kehidupan kekal dan persekutuan para kudus. | Menyebutkan sabda Yesus tentang makan daging dan minum darah-Nya namun belum mampu menghubungkannya dengan jaminan hidup kekal. | Mampu menjelaskan bahwa sabda Yesus dalam Yohanes 6:54 menjadi dasar persekutuan para kudus karena memberi jaminan kehidupan kekal bagi orang yang bersatu dengan Kristus. | Mampu menguraikan secara mendalam kaitan Sabda Yesus dalam Yohanes 6:54 dengan jaminan hidup kekal serta persatuan tak terputuskan antara umat di dunia dan para kudus di surga. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran aktif dan kuis kartu konsep berhasil membantu murid memahami konsep teologis abstrak tentang persekutuan para kudus?
- Bagian penjelasan mana yang masih sulit dipahami murid, terutama mengenai perbedaan antara Gereja yang berziarah, disucikan, dan jemaat mulia di surga?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam merefleksikan kehadiran para kudus sebagai penyokong perjalanan iman mereka?
Murid:- Apa hal baru yang aku pelajari hari ini tentang makna 'persekutuan para kudus' dalam doa Syahadat?
- Bagian mana dari 3 kelompok persekutuan para kudus (dunia, api penyucian, surga) yang paling menarik untuk kupahami?
- Bagaimana perasaanku setelah mengetahui bahwa seluruh orang beriman di surga dan di bumi selalu saling mendukung dan mendoakan di hadapan Tuhan?
Pertemuan 6 — Mewujudkan Iman akan Persekutuan Para Kudus melalui Keteladanan Orang Kudus dalam Hidup Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.4 Mewujudkan iman akan persekutuan para kudus dalam kehidupan sehari-hari
Pendahuluan:- Guru menyapa murid dengan salam kristiani, mengajak berdoa pembuka, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan: 'Sebutkan 1 tindakan konkret meneladani Santo Fransiskus Assisi dalam menyayangi ciptaan dan 1 tindakan meneladani Santa Teresa dari Kalkuta dalam melayani sesama' (acuan: Fransiskus = merawat hewan/tanaman atau tidak menyakiti hewan; Teresa = menolong teman yang kesusahan/berbagi makan dengan yang lapar) (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mewujudkan iman akan persekutuan para kudus melalui perbuatan nyata sehari-hari meneladani cara hidup para orang kudus (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru tentang panggilan kekudusan menurut Paus Fransiskus, yaitu kesucian 'pintu sebelah' yang dapat diraih lewat tindakan kecil berlandaskan kasih yang tulus dalam hidup sehari-hari (15 menit).
- Murid membaca tabel 3 keteladanan orang kudus: (1) Santo Carolus Borromeus (rela berbagi dan memperhatikan orang sakit), (2) Santo Fransiskus dari Assisi (hidup sederhana dan mencintai seluruh ciptaan), (3) Santa Teresa dari Kalkuta (melayani kaum miskin dan terlantar dengan senyuman) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid bermain tantangan berpasangan 'Tebak Kartu Keteladanan Kudus' secara menggembirakan: murid mencocokkan kartu nama orang kudus dengan kartu tindakan nyata sehari-hari yang sesuai, yaitu: Kartu 1 St. Fransiskus Assisi dipasangkan dengan 'Memberi makan kucing telantar dan menyiram tanaman kelas'; Kartu 2 St. Teresa Kalkuta dipasangkan dengan 'Menghibur dan meminjamkan alat tulis kepada teman yang menangis'; Kartu 3 St. Tarsisius dipasangkan dengan 'Menjaga sikap hening dan hormat saat menerima komuni di gereja' (15 menit).
- Murid secara mandiri menyusun Lembar Rencana Aksi Nyata Keteladanan Para Kudus yang berisi 3 tindakan konkret perwujudan iman akan persekutuan para kudus dalam kehidupan sehari-hari (misal: di rumah, di sekolah, dan di lingkungan teman) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Dalam suasana hening berkesadaran, murid merenungkan sejauh mana tindakan mereka telah mencerminkan teladan hidup para kudus dan menandatangani komitmen aksi nyata yang telah mereka tulis (15 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap lembar rencana aksi nyata keteladanan yang telah dibuat murid (10 menit).
- Guru memandu doa penutup mohon bantuan doa para kudus agar dimampukan setia mewujudkan teladan suci dalam keseharian, lalu menyudahi pembelajaran (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan berisi pilihan contoh tindakan harian untuk murid yang membutuhkan bantuan; murid yang lebih cepat diberikan ragam teladan santo-santa pelindung lainnya.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru secara bertahap saat menyusun rencana aksi; murid yang mandiri merumuskan tindakannya secara langsung.
- Produk: Rencana aksi nyata dapat ditulis dalam bentuk daftar poin ringkas atau kartu komitmen bergambar.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Sebutkan 1 tindakan konkret meneladani Santo Fransiskus Assisi dalam menyayangi ciptaan dan 1 tindakan meneladani Santa Teresa dari Kalkuta dalam melayani sesama' (Kriteria acuan jawaban: Santo Fransiskus = merawat tanaman/tidak mengganggu hewan; Santa Teresa = menolong teman sakit/berbagi makanan dengan orang yang lapar).
Proses:- Pengamatan keterlibatan dan ketepatan murid saat permainan mencocokkan kartu keteladanan orang kudus (acuan: Kartu 1 St. Fransiskus Assisi berpasangan dengan kartu 'Memberi makan kucing telantar dan menyiram tanaman kelas'; Kartu 2 St. Teresa Kalkuta berpasangan dengan kartu 'Menghibur dan meminjamkan alat tulis kepada teman yang menangis'; Kartu 3 St. Tarsisius berpasangan dengan kartu 'Menjaga sikap hening dan hormat saat menerima komuni di gereja').
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan Lembar Rencana Aksi Nyata Keteladanan Para Kudus. Kriteria penerimaan operasional: murid menuliskan 3 butir rencana tindakan konkret perwujudan iman akan persekutuan para kudus yang dapat dipraktikkan langsung dalam keseharian (memuat tindakan kasih, kerendahan hati, atau pelayanan sesama/lingkungan sesuai teladan orang kudus, misal: membantu pekerjaan orang tua tanpa bersungut-sungut, merawat tanaman, menghibur kawan berduka).
Formatif:- Penilaian kinerja unjuk kerja penyusunan lembar rencana aksi nyata keteladanan orang kudus dalam kehidupan sehari-hari
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mewujudkan iman akan persekutuan para kudus melalui keteladanan orang kudus dalam hidup sehari-hari | Menyusun kurang dari 2 rencana tindakan konkret, atau tindakan yang ditulis belum mencerminkan keteladanan orang kudus dalam kehidupan sehari-hari. | Menyusun 2 rencana tindakan konkret yang mencerminkan keteladanan orang kudus dalam kehidupan sehari-hari dengan bantuan/bimbingan guru. | Menyusun 3 rencana tindakan konkret yang mencerminkan keteladanan orang kudus dalam kehidupan sehari-hari secara mandiri dan realistis untuk dipraktikkan. | Menyusun lebih dari 3 rencana tindakan konkret yang mencerminkan keteladanan orang kudus dalam berbagai lingkungan (rumah, sekolah, masyarakat) secara mandiri, terperinci, dan realistis untuk dipraktikkan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran telah memfasilitasi murid memahami dan merancang tindakan nyata meneladani orang kudus?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam mengekspresikan komitmen hidup suci lewat tindakan sederhana?
Murid:- Keteladanan orang kudus mana yang paling menyentuh hatiku untuk kutiru hari ini?
- Tindakan kasih sederhana apa yang siap aku lakukan di rumah atau sekolah mulai hari ini?
Pertemuan 7 — Mewujudkan Iman akan Persekutuan Para Kudus melalui Doa Syafaat dan Peringatan Arwah dalam Hidup Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.4 Mewujudkan iman akan persekutuan para kudus dalam kehidupan sehari-hari
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid, mengajak berdoa pembuka bersama, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yaitu mewujudkan iman akan persekutuan para kudus melalui doa syafaat dan peringatan arwah dalam kehidupan sehari-hari (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal lisan dengan mengajukan 2 pertanyaan diagnostik: (1) Sebutkan 1 contoh doa dalam tradisi Gereja Katolik yang memohon perantaraan para kudus! (acuan jawaban: Litani Para Kudus / doa Salam Maria / doa mohon doa Santo/Santa pelindung); (2) Pada tanggal berapa Gereja Katolik memperingati arwah semua orang beriman? (acuan jawaban: 2 November) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru melalui paparan teks dan gambar mengenai tradisi doa syafaat (memohon doa para kudus sebagai pendoa bagi umat beriman) serta tradisi peringatan arwah semua orang beriman setiap tanggal 2 November dalam Gereja Katolik (15 menit).
- Murid secara berpasangan mengikuti kuis mencocokkan kartu 'Praktik Devosi' yang menggembirakan untuk memasangkan 3 kartu tindakan dengan 3 kartu bentuk wujud iman: Kartu A 'Menyanyikan/mendoakan Litani Para Kudus' -> Pasangan 1 'Doa Syafaat Para Kudus'; Kartu B 'Berziarah ke makam dan menabur bunga pada 2 November' -> Pasangan 2 'Peringatan Arwah Semua Orang Beriman'; Kartu C 'Meminta Santo Pelindung mendoakan ujud pribadi' -> Pasangan 3 'Doa Syafaat Para Kudus' (acuan kunci pasangan: A-1, B-2, C-3) (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Dalam suasana hening dan berkesadaran penuh, murid secara mandiri menyusun draf 2 wujud doa nyata pada Lembar Wujud Iman: (1) satu rumusan teks doa syafaat pribadi kepada Santo/Santa pelindung (memuat nama orang kudus yang dimintai doa dan ujud doa yang dimohonkan); (2) satu rumusan teks doa peringatan arwah bagi jiwa-jiwa anggota keluarga/kerabat yang telah meninggal dunia (memuat permohonan istirahat kekal/pengampunan dosa) (20 menit).
- Murid saling menukar lembar draf secara berpasangan untuk saling memeriksa kelengkapan isi rumusan kedua doa sesuai kriteria panduan (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mendoakan bersama salah satu wujud doa yang telah disusun dalam suasana hening di kelas (10 menit).
- Murid menuliskan satu komitmen konkret pada buku tugas untuk mempraktikkan doa arwah bersama keluarga di rumah pada malam hari bagi kerabat yang sudah meninggal (5 menit).
Penutup:- Guru memandu murid menarik simpulan bersama mengenai makna dan praktik doa syafaat serta doa peringatan arwah sebagai wujud nyata iman akan persekutuan para kudus (5 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman singkat dan menutup pembelajaran dengan doa penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan contoh templat teks doa berstruktur bagi murid yang memerlukan panduan, dan memberikan lembar doa terbuka tanpa templat bagi murid yang telah lancar menyusun doa.
- Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang kesulitan menyusun kalimat doa, serta memberikan kesempatan kepada murid yang cepat selesai untuk menyusun ujud doa arwah khusus bagi jiwa-jiwa di api penyucian.
- Produk: Murid dapat menuliskan wujud doa dalam bentuk narasi doa pribadi tertulis atau kartu doa berpola hiasan sederhana.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan di pendahuluan: (1) Sebutkan 1 contoh doa dalam tradisi Katolik yang memohon perantaraan para kudus! (acuan jawaban: Litani Para Kudus / doa Salam Maria / doa kepada Santo Pelindung); (2) Kapan Gereja Katolik secara khusus memperingati arwah semua orang beriman? (acuan jawaban: 2 November / Hari Peringatan Arwah).
Proses:- Observasi keterlibatan murid dalam kuis mencocokkan kartu praktik devosi (acuan pasangan benar: A-1, B-2, C-3) dan penilaian draf teks doa pada Lembar Wujud Iman (kriteria: teks memuat doa syafaat kepada santo/santa pelindung dan doa arwah bagi orang meninggal secara tepat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat: (1) Tuliskan kepada siapa doa syafaat dalam Gereja Katolik ditujukan untuk memohon doa bagi kita! (acuan jawaban: Para Kudus / Santo / Santa / Beata / Beato / Bunda Maria); (2) Sebutkan tujuan umat Katolik mendoakan orang yang telah meninggal dunia! (acuan jawaban: memohonkan pengampunan dosa / istirahat kekal / kedamaian surgawi / pemurnian jiwa).
Formatif:- Penilaian kinerja unjuk kerja penyusunan lembar doa syafaat dan doa arwah melalui rubrik observasi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mewujudkan iman melalui doa syafaat kepada orang kudus | Belum mampu menyusun rumusan doa syafaat kepada orang kudus (rumusan tidak memuat nama orang kudus maupun ujud permohonan doa syafaat). | Mampu menyusun rumusan doa syafaat dengan bimbingan penuh guru, namun hanya memuat nama orang kudus tanpa ujud permohonan yang jelas. | Mampu menyusun rumusan doa syafaat secara mandiri yang memuat nama orang kudus pelindung dan ujud permohonan doa dengan tepat. | Mampu menyusun rumusan doa syafaat secara mandiri dan lengkap, memuat nama orang kudus, keteladanan yang dimohonkan, serta ujud permohonan doa yang mendalam bagi kehidupan sehari-hari. | | Mewujudkan iman melalui doa peringatan arwah | Belum mampu menyusun rumusan doa peringatan arwah (rumusan tidak memuat ujud bagi orang yang meninggal dunia). | Mampu menyusun rumusan doa peringatan arwah dengan bimbingan guru, namun ujud doa arwah belum jelas atau belum memuat permohonan istirahat kekal. | Mampu menyusun rumusan doa peringatan arwah secara mandiri yang memuat nama kerabat/jiwa orang beriman dan permohonan istirahat kekal dengan tepat. | Mampu menyusun rumusan doa peringatan arwah secara mandiri dan lengkap, mencakup permohonan pengampunan dosa, istirahat kekal di surga, serta penguatan iman bagi keluarga yang ditinggalkan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran hening saat menyusun doa telah membantu murid menghayati iman akan persekutuan para kudus secara mendalam?
- Apakah alokasi waktu untuk menyusun dua jenis doa mencukupi bagi seluruh murid?
Murid:- Bagaimana perasaanku saat mendoakan kerabat atau orang terdekat yang sudah meninggal dunia?
- Apa niat yang ingin kulakukan bersama keluarga di rumah untuk mewujudkan iman persekutuan para kudus?
Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.1 Menjelaskan arti gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik
- TP 6.3.2 Mewujudkan sifat gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik melalui keterlibatan dalam kehidupan menggereja
- TP 6.3.3 Menjelaskan makna persekutuan para kudus dalam tradisi Gereja
- TP 6.3.4 Mewujudkan iman akan persekutuan para kudus dalam kehidupan sehari-hari
Pendahuluan:- Guru membuka sesi dengan salam, mengajak berdoa pembuka, memeriksa kehadiran murid, serta menyampaikan alur pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 3 yang meliputi tes tertulis serentak, lembar kerja unjuk kerja/produk doa, dan tes lisan bergantian secara tertib dan mandiri (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Asesmen Sumatif Tertulis dan Lembar Kerja Mandiri, lalu menjelaskan petunjuk teknis: 30 menit pertama untuk pengerjaan soal uraian persekutuan para kudus, 30 menit berikutnya untuk laporan refleksi dan teks doa syafaat, serta rotasi tes lisan 1,5 menit per murid di meja guru yang berlangsung paralel tanpa mengganggu ketenangan kelas (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Seluruh murid serentak secara mandiri mengerjakan Tugas 2 (Tes Tertulis) selama 30 menit berisi 3 soal uraian terstruktur: Soal 1: Jelaskan makna persekutuan para kudus dalam tradisi iman Gereja Katolik! (Acuan: persekutuan rohani antara tiga anggota Gereja: Gereja peziarah di dunia, Gereja yang disucikan di api penyucian, dan Gereja yang berbahagia di surga yang dipersatukan dalam Kristus); Soal 2: Jelaskan 2 alasan Gereja Katolik mendoakan orang yang telah meninggal! (Acuan: mendoakan pengampunan dosa agar lekas bersatu dengan Allah dan wujud kasih persaudaraan sejati dalam iman); Soal 3: Jelaskan makna penghormatan kepada orang kudus (santo/santa)! (Acuan: menghormati teladan kesucian hidupnya dan memohon doa syafaat/perantaraan mereka di hadapan Allah) (20 menit).
- Seluruh murid serentak secara mandiri mengerjakan Tugas 3 (Unjuk Kerja & Produk Doa) selama 30 menit pada lembar kerja: Bagian A berisi laporan refleksi tindakan nyata keterlibatan dalam hidup menggereja (Acuan: menyebutkan 1 bentuk keterlibatan nyata misal misdinar, lektor, koor anak, atau doa lingkungan, beserta alasan keterlibatan berakar pada sifat satu/kudus/katolik/apostolik); Bagian B menuliskan teks doa syafaat pribadi memohon perantaraan orang kudus (Acuan: memuat sapaan kepada Allah, menyebut perantaraan salah satu santo/santa pelindung, permohonan yang jelas untuk Gereja peziarah atau jiwa arwah, dan penutup demi Kristus) (30 menit).
- Secara beriringan/paralel dengan Tugas 2 dan 3, guru memanggil murid secara individual ke meja guru (1 slot = 1,5 menit per murid, 20 slot = 30 menit) untuk Tugas 1 (Tes Lisan 4 Sifat Gereja) dengan menanyakan 4 butir: (1) Arti Gereja yang Satu (Acuan: bersatu dalam satu iman, satu baptisan, satu perayaan sakramen/ekaristi, dan satu gembala yaitu Paus); (2) Arti Gereja yang Kudus (Acuan: dikuduskan oleh Kristus sebagai kepalanya dan Roh Kudus yang menjiwai para warganya menuju kesucian); (3) Arti Gereja yang Katolik (Acuan: bersifat umum/universal, terbuka bagi segala bangsa dan budaya, mewartakan keselamatan utuh); (4) Arti Gereja yang Apostolik (Acuan: didirikan atas dasar para rasul dan ajarannya diteruskan oleh para penerus rasul yaitu Paus dan para uskup) (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Seluruh murid mengumpulkan lembar jawaban tugas tertulis dan produk doa ke meja guru, lalu mengheningkan cipta sejenak merefleksikan proses penyelesaian seluruh rangkaian pembelajaran Bab 3 dengan jujur dan penuh syukur (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi atas kemandirian dan kejujuran murid selama asesmen, menyampaikan kesimpulan umum penguasaan Bab 3 bahwa setiap orang Katolik dipanggil menghayati sifat-sifat Gereja dan hidup dalam persekutuan para kudus, serta menutup pertemuan dengan doa syukur penutup bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Proses: Akomodasi tata letak dan giliran tes lisan bagi murid yang memerlukan ketenangan lebih tanpa mengubah butir pertanyaan lisan, durasi, maupun kriteria penskoran yang diujikan.
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- kombinasi tes lisan bergilir beriringan dengan tes tertulis dan penilaian produk: penjelasan lisan sifat Gereja, lembar jawaban tertulis makna persekutuan para kudus, lembar laporan refleksi keterlibatan menggereja, serta teks doa syafaat persekutuan para kudus
- tes lisan bergantian: penjelasan lisan ringkas mengenai arti dan makna gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik selama 1,5 menit per murid di meja guru secara rotasi saat murid lain mengerjakan tugas tertulis (45 menit / 1,5 menit = 30 slot, muat 28 murid) (45 menit; individual; instrumen: pedoman pertanyaan lisan dan rubrik penilaian kelancaran konsep)
- tes tertulis serentak: lembar jawaban tertulis berisi uraian penjelasan makna persekutuan para kudus dalam tradisi iman Gereja Katolik yang dikerjakan seluruh murid secara serentak (30 menit; individual; instrumen: soal uraian terstruktur dan kunci jawaban serta rubrik penskoran)
- penilaian unjuk kerja tertulis dan produk doa: lembar kerja mandiri berisi laporan refleksi tertulis tindakan nyata melibatkan diri dalam kegiatan persekutuan menggereja (seperti misdinar, koor, atau doa lingkungan) serta naskah doa permohonan/syafaat pribadi yang memohon perantaraan para kudus (30 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian refleksi keterlibatan hidup menggereja dan rubrik penulisan doa liturgis/syafaat)
Sumatif:- kombinasi tes lisan bergilir beriringan dengan tes tertulis dan penilaian produk: penjelasan lisan sifat Gereja, lembar jawaban tertulis makna persekutuan para kudus, lembar laporan refleksi keterlibatan menggereja, serta teks doa syafaat persekutuan para kudus
- tes lisan bergantian: penjelasan lisan ringkas mengenai arti dan makna gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik selama 1,5 menit per murid di meja guru secara rotasi saat murid lain mengerjakan tugas tertulis (45 menit / 1,5 menit = 30 slot, muat 28 murid) (45 menit; individual; instrumen: pedoman pertanyaan lisan dan rubrik penilaian kelancaran konsep)
- tes tertulis serentak: lembar jawaban tertulis berisi uraian penjelasan makna persekutuan para kudus dalam tradisi iman Gereja Katolik yang dikerjakan seluruh murid secara serentak (30 menit; individual; instrumen: soal uraian terstruktur dan kunci jawaban serta rubrik penskoran)
- penilaian unjuk kerja tertulis dan produk doa: lembar kerja mandiri berisi laporan refleksi tertulis tindakan nyata melibatkan diri dalam kegiatan persekutuan menggereja (seperti misdinar, koor, atau doa lingkungan) serta naskah doa permohonan/syafaat pribadi yang memohon perantaraan para kudus (30 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian refleksi keterlibatan hidup menggereja dan rubrik penulisan doa liturgis/syafaat)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Lisan Sifat-Sifat Gereja (TP 6.3.1) | Menjelaskan secara tepat kurang dari 2 sifat Gereja dari 4 sifat acuan (Satu, Kudus, Katolik, Apostolik). | Menjelaskan secara tepat 2 dari 4 sifat Gereja sesuai daftar acuan jawaban. | Menjelaskan secara tepat 3 dari 4 sifat Gereja sesuai daftar acuan jawaban. | Menjelaskan secara tepat seluruh 4 sifat Gereja (Satu, Kudus, Katolik, Apostolik) secara runtut sesuai daftar acuan jawaban. | | Refleksi Perwujudan Sifat Gereja dalam Kehidupan Menggereja (TP 6.3.2) | Laporan refleksi belum menyebutkan bentuk nyata keterlibatan dalam kegiatan menggereja. | Menyebutkan 1 bentuk keterlibatan menggereja (mis. misdinar, lektor, koor, doa lingkungan) namun belum mengaitkannya dengan sifat Gereja. | Menyebutkan 1 bentuk keterlibatan menggereja serta mengaitkannya secara tepat dengan 1 sifat Gereja (Satu, Kudus, Katolik, atau Apostolik). | Menyebutkan 1 bentuk keterlibatan menggereja serta mengaitkannya secara mendalam dan tepat dengan relevansi sifat Gereja dalam kehidupan jemaat. | | Penjelasan Makna Persekutuan Para Kudus secara Tertulis (TP 6.3.3) | Menjawab tepat kurang dari 2 butir uraian tertulis sesuai daftar acuan kunci jawaban. | Menjawab tepat 2 butir uraian tertulis mengenai makna persekutuan para kudus sesuai daftar acuan kunci jawaban. | Menjawab tepat seluruh 3 butir uraian tertulis (makna persekutuan 3 kelompok Gereja, alasan doa arwah, makna penghormatan santo/santa) dengan penjelasan yang cukup. | Menjawab tepat dan lengkap seluruh 3 butir uraian tertulis (makna persekutuan 3 kelompok Gereja, alasan doa arwah, makna penghormatan santo/santa) sesuai daftar acuan kunci jawaban. | | Penyusunan Teks Doa Syafaat Persekutuan Para Kudus (TP 6.3.4) | Naskah doa belum memuat permohonan syafaat melalui perantaraan orang kudus. | Naskah doa memuat sapaan dan menyebut nama orang kudus tetapi belum memuat pokok permohonan syafaat yang jelas bagi sesama/Gereja/arwah. | Naskah doa tersusun dengan memuat 3 unsur: sapaan kepada Allah, perantaraan santo/santa, dan isi permohonan syafaat bagi Gereja peziarah atau jiwa arwah. | Naskah doa tersusun lengkap dan utuh memuat 4 unsur: sapaan kepada Allah, perantaraan santo/santa, pokok ujud doa syafaat yang konkret, serta penutup demi Kristus. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu tes tertulis, unjuk kerja penulisan doa, dan tes lisan secara rotasi berjalan tertib dan mencukupi bagi setiap murid?
- Bagaimana capaian ketuntasan murid pada keempat TP Bab 3 ini untuk menjadi pijakan tindak lanjut pengayaan atau remedial?
Murid:- Bagian mana dari asesmen hari ini (lisan sifat Gereja, uraian tertulis, atau menulis doa) yang paling saya kuasai?
- Tindakan konkret apa yang akan saya lakukan di lingkungan gereja dan keluarga sebagai wujud iman akan sifat Gereja dan persekutuan para kudus?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek RI, 2021, Bab III)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek RI, 2021, Bab III)
- Alkitab Perjanjian Baru: Surat Efesus 4:3-6 dan 1 Petrus 1:15-16
- Set kartu pernyataan ciri Gereja (6 kartu edukatif)
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek 2022
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek 2022
- Kitab Suci Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul dan Injil)
- Lembar Aktivitas Siswa: Analisis Pernyataan Ciri Katolik & Apostolik
- Alkitab (Kisah Para Rasul 2:41-47)
- Buku Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti SD Kelas VI
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti SD Kelas VI
- Kartu Aksi Menggereja dan Lembar Kerja Rencana Keterlibatan
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas VI, FX. Dapiyanta & Marianus Didi Kasmudi, Kemendikbudristek RI 2021 (Bab III Hal. 108-115).
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas VI, Kemendikbudristek RI 2021 (Bab III Hal. 147-163).
- Alkitab Perjanjian Baru: Kisah Para Rasul 2:41-47.
- Set Kartu Misi Menggereja (4 kartu situasi keterlibatan jemaat).
- Alkitab: Injil Yohanes 6:35, 48, 51, 53-58
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek 2021, Bab III)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek 2021, Bab III)
- Katekismus Gereja Katolik (KGK) artikel 946-962 tentang Persekutuan Para Kudus
- Kartu permainan konsep persekutuan para kudus
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek, 2022)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek, 2022)
- Kartu Permainan Keteladanan Orang Kudus
- Lembar Refleksi dan Rencana Aksi Nyata Murid
- Buku Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek RI, 2022
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek RI, 2022
- Kartu Aktivitas 'Praktik Devosi'
- Lembar Kerja Wujud Iman (templat draf doa syafaat dan doa arwah)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas VI, FX. Dapiyanta & Marianus Didi Kasmudi, Kemendikbudristek 2021
- Buku Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas VI, FX. Dapiyanta & Marianus Didi Kasmudi, Kemendikbudristek 2021
- Lembar Asesmen Sumatif Tertulis, Lembar Kerja Refleksi dan Penulisan Doa Syafaat, Pedoman Pertanyaan Tes Lisan
|