Modul AjarPertemuan 6Bab 2Fase BSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 3: Kisah Musa: Meneladani Musa dalam Menolong Sesama yang Menderita

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti kelas 3 dengan topik "Kisah Musa: Meneladani Musa dalam Menolong Sesama yang Menderita". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 3: Kisah Musa: Meneladani Musa dalam Menolong Sesama yang Menderita

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti - Kelas 3

Bab 2 - Pertemuan 6

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti — Kelas 3 (Fase B)

Topik: Kisah Musa: Meneladani Musa dalam Menolong Sesama yang Menderita

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase B / Kelas 3
TopikKisah Musa: Meneladani Musa dalam Menolong Sesama yang Menderita
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid mampu mengidentifikasi berbagai bentuk penderitaan yang dialami orang-orang di sekitarnya (akibat bencana alam maupun ketidakadilan sesama manusia) dan menjelaskan pentingnya sikap berani menolong.
  2. Murid mampu menuliskan bentuk-bentuk pertolongan konkret yang dapat dilakukan untuk sesama yang menderita di sekitarnya sebagai wujud meneladani Musa.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian melihat orang yang sedang kesusahan atau menderita di sekitar kalian? Apa yang kalian rasakan saat itu?
  2. Menurut kalian, mengapa ada orang yang berani menolong orang lain, meskipun itu tidak mudah?
  3. Apa yang membuat Musa mau berjuang membebaskan bangsanya dari perbudakan di Mesir, padahal itu sangat berbahaya?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru memberi salam dan mengajak murid untuk berdoa bersama menggunakan doa pembuka: 'Ya Tuhan Yang Mahakuasa, bangkitkanlah di hati kami keberanian untuk menolong sesama yang menderita, seperti Musa yang membebaskan bangsanya dari penderitaan akibat perbudakan. Amin.'
  • Guru mengajak murid menyanyikan lagu 'Tuhan Gunung Batuku' bersama-sama untuk membangkitkan semangat dan suasana yang menyenangkan.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini secara singkat: 'Hari ini kita akan belajar mengenal berbagai penderitaan yang ada di sekitar kita dan belajar meneladani Musa dengan cara menolong sesama yang membutuhkan bantuan.'
  • Asesmen awal (diagnostik): Guru mengajukan pertanyaan lisan kepada murid, 'Siapa di antara kalian yang sudah pernah mendengar kisah Musa? Apa yang paling kalian ingat dari cerita Musa?' Guru mencatat jawaban murid sebagai pemetaan pengetahuan awal.
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik secara berurutan untuk memancing rasa ingin tahu murid dan menghubungkan pengalaman sehari-hari mereka dengan topik pembelajaran.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menampilkan atau membagikan gambar-gambar situasi penderitaan (banjir, gempa bumi, penindasan, kelaparan) dari Buku Siswa halaman 35.
  • Murid diminta mengamati gambar-gambar tersebut selama 2 menit dengan tenang dan penuh perhatian, lalu menjawab pertanyaan lisan: (1) Kejadian apa yang ditunjukkan oleh gambar? (2) Pertolongan apa sajakah yang dibutuhkan para korban? (3) Apa yang terjadi bila tidak ada yang menolong para korban? (4) Apa yang mengesankan dari perbuatan para penolong?
  • Guru memfasilitasi diskusi kelas singkat berdasarkan jawaban murid, meneguhkan bahwa penderitaan bisa disebabkan oleh bencana alam maupun ketidakadilan manusia.
  • Guru membacakan atau menceritakan secara naratif kisah Musa: bagaimana bangsa Israel menderita karena perbudakan di Mesir, bagaimana Musa dipanggil Allah untuk membebaskan mereka, dan bagaimana Musa dengan berani menghadapi Firaun demi membela bangsanya.
  • Guru menampilkan teks peneguhan dari Buku Siswa: 'Ada orang yang menderita karena bencana alam, misalnya banjir. Ada juga orang yang menderita karena kejahatan manusia, seperti penindasan atau perbuatan tidak adil. Banyak orang menderita membutuhkan pertolongan. Mereka berharap mendapatkan bantuan para penolong yang berani dan rela berkorban.' Guru membaca bersama murid.
  • Guru mengajukan pertanyaan pemahaman: 'Apa persamaan antara orang-orang yang menderita dalam gambar tadi dengan bangsa Israel di zaman Musa?' dan 'Sikap apa yang membuat Musa berani menolong bangsanya?'

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru membagikan lembar kerja 'Mari Menulis Penderitaan Manusia dan Bantuan yang Diperlukan' (sesuai Buku Siswa halaman 37) kepada setiap murid.
  • Murid diminta bekerja secara mandiri untuk mengisi tabel: menuliskan minimal 3 bentuk penderitaan yang ada di sekitar mereka (bencana alam atau ketidakadilan), bentuk pertolongan konkret yang dibutuhkan korban, dan bentuk pertolongan konkret yang bisa mereka lakukan sebagai wujud meneladani Musa.
  • Guru berkeliling kelas memberikan bimbingan dan umpan balik langsung kepada murid yang mengalami kesulitan, serta memberikan pujian konkret kepada murid yang memberikan contoh-contoh pertolongan yang tepat.
  • Setelah selesai, beberapa murid (2–3 orang) diminta secara sukarela membacakan hasil tulisan mereka di depan kelas. Kelas diminta memberikan tepuk tangan atau komentar positif sebagai bentuk apresiasi.
  • Guru meneguhkan jawaban murid dengan mengaitkan tindakan-tindakan pertolongan konkret yang disebutkan dengan semangat Musa: 'Ketika kalian membantu teman yang jatuh, berbagi makanan dengan tetangga yang kekurangan, atau berani melapor saat ada teman yang diperlakukan tidak adil—itu adalah cara kalian meneladani Musa hari ini.'
  • Murid diminta melengkapi bagian Doa di lembar kerja: menulis doa permohonan agar Tuhan memberkati dan melindungi mereka saat mereka berani menolong sesama.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid untuk hening sejenak (1 menit) dan merenungkan pertanyaan refleksi yang dibacakan guru perlahan: 'Dari semua yang sudah kita pelajari hari ini, pertolongan apa yang paling ingin aku lakukan untuk sesama yang menderita di sekitarku?'
  • Murid diminta menuliskan satu kalimat tekad pribadi di bagian bawah lembar kerja mereka, misalnya: 'Aku, [nama], berjanji akan menolong sesama yang menderita dengan cara...'
  • Guru membacakan kutipan peneguhan: 'Aku ingin menjadi penolong yang diberkati Tuhan, berani dan rela berkorban.' dan mengajak murid mengucapkannya bersama-sama sebagai afirmasi.
  • Guru memberi pertanyaan refleksi lisan: 'Apa yang baru kalian pelajari hari ini tentang diri kalian sendiri sebagai calon penolong?' dan mempersilakan 2–3 murid berbagi secara singkat.
  • Guru memberikan penguatan akhir: setiap tindakan menolong sesama, sekecil apapun, adalah cara kita bekerja sama dengan Allah yang menyelamatkan—sama seperti Musa menjadi alat Allah bagi bangsanya.

Penutup:

  • Guru bersama murid membuat rangkuman singkat: menyebutkan dua jenis penderitaan (bencana alam dan ketidakadilan manusia) dan contoh pertolongan konkret yang sudah dituliskan.
  • Asesmen akhir: Guru mengumpulkan lembar kerja murid yang berisi tabel penderitaan dan bentuk pertolongan sebagai bukti penilaian keterampilan (sumatif).
  • Guru menyampaikan pesan moral penutup: 'Musa mengajarkan kita bahwa keberanian menolong sesama adalah tanda iman kita kepada Allah. Mulailah dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kalian.'
  • Guru menyampaikan tindak lanjut: murid yang sudah sangat memahami diminta mencari contoh seorang pemimpin di lingkungan sekitar yang berani melindungi masyarakat (pengayaan). Murid yang masih kesulitan akan mendapatkan bimbingan tambahan dari guru.
  • Pembelajaran ditutup dengan doa syukur bersama, dipimpin oleh salah satu murid secara sukarela.

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang belum lancar membaca, guru menyediakan gambar-gambar berlabel (pictorial) yang menggambarkan situasi penderitaan dan bentuk pertolongan sebagai alternatif referensi saat mengisi lembar kerja.
  • Proses: Murid yang cepat menyelesaikan tugas diberi tantangan tambahan: menuliskan minimal 5 baris tabel dan menambahkan alasan mengapa pertolongan tersebut penting. Murid yang lambat dapat bekerja berpasangan dengan teman sebangku di bawah arahan guru.
  • Produk: Murid dapat menyampaikan hasil refleksi mereka dalam bentuk tulisan (lembar kerja), gambar ilustrasi, atau secara lisan kepada guru—disesuaikan dengan kemampuan ekspresi masing-masing.

ASESMEN

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Siapa yang sudah pernah mendengar kisah Musa? Apa yang paling kalian ingat?' untuk memetakan pengetahuan awal murid tentang tokoh Musa.
  • Pertanyaan lisan: 'Pernahkah kalian melihat atau merasakan situasi di mana seseorang membutuhkan pertolongan?' untuk mengaktifkan pengalaman konkret murid sebelum masuk ke materi.

Proses:

  • Observasi partisipasi: guru mencatat murid yang aktif menjawab pertanyaan saat diskusi pengamatan gambar (tahap Memahami).
  • Pemantauan lembar kerja: guru berkeliling dan mengecek apakah tabel yang diisi murid sudah mencakup penderitaan akibat bencana alam dan ketidakadilan manusia (tahap Mengaplikasi).
  • Umpan balik lisan: guru memberikan konfirmasi atau koreksi langsung saat murid membacakan hasil tulisannya di depan kelas.

Akhir:

  • Pengumpulan lembar kerja: penilaian tertulis berdasarkan kelengkapan dan ketepatan isian tabel penderitaan, bentuk pertolongan yang dibutuhkan, dan pertolongan konkret yang bisa dilakukan murid.
  • Penilaian kalimat tekad pribadi: guru menilai kekonkretan dan relevansi tekad yang dituliskan murid sebagai cerminan pemahaman dan internalisasi nilai meneladani Musa.

Formatif:

  • Observasi keaktifan murid dalam diskusi kelas saat mengamati gambar dan menjawab pertanyaan lisan.
  • Umpan balik lisan guru saat murid membacakan hasil tulisan tabel penderitaan dan pertolongan di depan kelas.
  • Pemantauan guru saat berkeliling kelas selama pengerjaan lembar kerja (kualitas isian tabel dan relevansi contoh yang diberikan).

Sumatif:

  • Penilaian keterampilan: menuliskan minimal 3 bentuk penderitaan dan pertolongan konkret yang dapat dilakukan sebagai wujud meneladani Musa pada lembar kerja (skor maksimal 100 sesuai pedoman buku guru).
  • Penilaian kalimat tekad pribadi: kelengkapan dan kekonkretan tekad tindakan yang ditulis murid sebagai refleksi akhir pembelajaran.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi bentuk penderitaan (TP 3.2.6.1)Murid tidak dapat menyebutkan bentuk penderitaan apa pun, atau jawaban tidak relevan dengan topik.Murid menyebutkan 1 bentuk penderitaan, hanya dari satu jenis (bencana alam saja atau ketidakadilan saja).Murid menyebutkan 2–3 bentuk penderitaan dari dua jenis yang berbeda (bencana alam dan ketidakadilan) dengan penjelasan singkat.Murid menyebutkan lebih dari 3 bentuk penderitaan dari berbagai jenis dengan penjelasan yang jelas dan mengaitkannya dengan pengalaman nyata di sekitarnya.
Menjelaskan pentingnya sikap berani menolong (TP 3.2.6.1)Murid tidak dapat menjelaskan pentingnya menolong, atau hanya menjawab 'karena harus'.Murid menyebutkan satu alasan sederhana mengapa menolong itu penting, tanpa kaitan dengan nilai iman atau keteladanan Musa.Murid menjelaskan pentingnya menolong dengan alasan yang relevan dan mengaitkannya dengan sikap Musa atau nilai iman Katolik.Murid menjelaskan pentingnya menolong dengan alasan yang kuat, mengaitkannya dengan keteladanan Musa dan dampak nyata bagi korban yang ditolong.
Menuliskan pertolongan konkret yang dapat dilakukan (TP 3.2.6.2)Murid tidak menulis bentuk pertolongan apa pun, atau hanya menulis ulang penderitaan tanpa menjelaskan tindakan pertolongan.Murid menuliskan 1 bentuk pertolongan yang masih bersifat umum (misalnya: 'membantu') tanpa penjelasan konkret.Murid menuliskan 2–3 bentuk pertolongan konkret yang sesuai dengan situasi penderitaan yang disebutkan.Murid menuliskan lebih dari 3 bentuk pertolongan konkret yang variatif, sesuai situasi, dan disertai kalimat tekad pribadi yang tulus dan spesifik.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid berhasil mengidentifikasi minimal dua jenis penderitaan yang berbeda? Murid mana yang masih perlu bimbingan tambahan?
  • Apakah kegiatan mengamati gambar dan berdiskusi berhasil menghubungkan pengalaman nyata murid dengan kisah Musa secara bermakna?
  • Apakah lembar kerja cukup membantu murid mengartikulasikan bentuk pertolongan konkret yang bisa mereka lakukan? Apakah perlu dimodifikasi untuk pertemuan serupa ke depannya?
  • Apakah diferensiasi yang diterapkan (gambar berlabel dan pendampingan berpasangan) cukup efektif membantu murid yang mengalami kesulitan?

Refleksi Murid:

  • Dari pembelajaran hari ini, bentuk penderitaan apa yang paling membuatmu tergerak untuk ingin membantu? Mengapa?
  • Satu hal konkret apa yang akan kamu lakukan minggu ini untuk menolong sesama yang menderita di sekitarmu?
  • Apa yang kamu pelajari tentang Musa hari ini yang ingin kamu tiru dalam hidupmu?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas III (halaman 34–37, Bab II: Kisah Musa)
  2. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas III (halaman 46, bagian B: Kisah Musa)
  3. Gambar-gambar situasi penderitaan (banjir, gempa bumi, penindasan) dari Buku Siswa halaman 35 atau cetakan/tampilan guru
  4. Lagu 'Tuhan Gunung Batuku' (sumber: Special Songs For Kids, Yusak I. Suryana, No. 206)
  5. Lembar kerja 'Mari Menulis Penderitaan Manusia dan Bantuan yang Diperlukan' (dicetak atau disalin dari Buku Siswa halaman 37)
  6. Kutipan Kitab Suci terkait kisah Musa (Keluaran 3–14) sebagai referensi guru untuk memperkaya narasi

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.