MODUL AJAR Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti — Kelas 2 (Fase A) Topik: Bab 4 — Beriman dan Berdoa kepada Allah INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti |
|---|
| Fase / Kelas | Fase A / Kelas 2 |
|---|
| Topik | Bab 4 — Beriman dan Berdoa kepada Allah |
|---|
| Alokasi Waktu | 29 JP (29 x 35 menit = 1015 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 10 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 2.4.1 Menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap meneladani tokoh iman Abraham
- TP 2.4.2 Menceritakan kisah tokoh iman Abraham dalam melaksanakan perintah Allah
- TP 2.4.3 Mempraktikkan doa pujian dan syukur kepada Allah dengan sikap rendah hati
- TP 2.4.4 Mempraktikkan doa permohonan kepada Allah dengan sikap rendah hati
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Apa yang biasanya kalian lakukan ketika ibu atau bapak guru meminta kalian merapikan buku di kelas?
- Mengapa kita perlu patuh dan taat pada nasihat orang tua serta guru di rumah dan di sekolah?
- Mengapa Bapa Abraham mau rela berkorban menuruti perintah Allah?
- Bagaimana kita menunjukkan ketaatan kepada Allah dengan rela berkorban dalam kehidupan sehari-hari?
- Siapakah tokoh iman dalam Kitab Suci yang selalu taat saat Allah memanggil dan memberi perintah?
- Apa yang dilakukan Bapa Abraham ketika Allah memintanya melakukan perjalanan ke tanah Moria bersama Ishak?
- Apa yang dilihat Abraham tersangkut di semak-semak ketika ia taat kepada Allah di Gunung Moria?
- Mengapa Allah menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti Ishak untuk dikurbankan?
- Bagaimana sikap tubuh dan hati kita saat memuji kebesaran Tuhan bersama teman-teman?
- Mengapa kita perlu memuji Tuhan Allah yang Mahabaik dengan sikap rendah hati?
- Kebaikan apa saja yang sudah Tuhan berikan kepada kita hari ini?
- Bagaimana sikap tubuh kita saat mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dalam doa syukur?
- Mengapa kita perlu memuji dan mengucap syukur kepada Allah dalam doa pribadi kita?
- Bagaimanakah sikap tubuh dan hati yang rendah hati ketika kita berdoa sendiri kepada Tuhan?
- Apa yang biasanya kamu katakan kepada Tuhan Yesus saat sedang membutuhkan pertolongan atau bimbingan?
- Bagaimana sikap tubuh dan hati kita saat memohon pertolongan kepada Allah agar berkenan di hadapan-Nya?
- Bagaimana sikap tubuh dan tangan kita saat menyampaikan permohonan kepada Tuhan?
- Apa yang ingin kamu mohon kepada Tuhan dalam doamu sendiri hari ini?
- Bagaimana kita menunjukkan ketaatan kepada Allah melalui perbuatan sehari-hari di rumah seperti Bapa Abraham?
- Bagaimana sikap tubuh dan perkataan kita saat memanjatkan doa pujian, syukur, dan permohonan kepada Tuhan dengan rendah hati?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menunjukkan Ketaatan Melaksanakan Perintah Allah melalui Sikap Patuh pada Nasihat Guru dan Orang Tua — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.4.1 Menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap meneladani tokoh iman Abraham
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan tanda salib, doa pembuka bersama, dan menyapa murid dengan penuh kasih (4 menit).
- Guru bersama murid menyanyikan lagu bertema ketaatan, lalu guru menyampaikan tujuan belajar bahwa hari ini kita belajar menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap patuh pada nasihat guru dan orang tua (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 kartu situasi bergambar dan meminta murid mengacungkan jempol ke atas jika merupakan sikap taat dan jempol ke bawah jika tidak taat: Situasi A (anak langsung belajar saat diminta ibu) dan Situasi B (anak cemberut dan menolak saat diminta merapikan mainan) (acuan: Situasi A = taat, Situasi B = tidak taat) (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mengamati lembar gambar dan menyimak penjelasan guru bahwa perintah Allah untuk taat kepada-Nya diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui ketaatan mematuhi nasihat orang tua di rumah dan bapak/ibu guru di sekolah (10 menit).
- Guru membacakan 4 contoh situasi konkret kehidupan sehari-hari, lalu murid secara interaktif menentukan apakah situasi tersebut menunjukkan sikap taat atau tidak taat: (1) Diminta ibu mencuci tangan sebelum makan, anak langsung melaksanakannya (acuan: taat); (2) Bel masuk berbunyi dan guru mengajak masuk kelas, anak tetap asyik berlarian di lapangan (acuan: tidak taat); (3) Ayah menasihati agar tidur tepat waktu, anak segera mematikan televisi dan tidur (acuan: taat); (4) Guru meminta membaca buku dengan tertib, anak mematuhi tanpa membantah (acuan: taat) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan ketaatan 'Guru Berkata': murid hanya boleh mengikuti instruksi gerakan jika guru mengawalinya dengan kata kunci 'Guru Berkata' (misalnya 'Guru berkata, letakkan tangan di atas meja' -> murid patuh; jika tanpa kata kunci -> murid tetap diam tenang) untuk melatih kepekaan mendengar dan mematuhi instruksi guru dengan penuh sukacita (10 menit).
- Murid mengerjakan Lembar Kerja Ketaatan berisi 4 butir pernyataan sikap ketaatan dengan memberi tanda centang (V) pada kolom 'Taat' atau tanda silang (X) pada kolom 'Tidak Taat': Butir 1: 'Segera merapikan alat tulis ketika guru memberi aba-aba' (acuan: V / Taat); Butir 2: 'Menunda-nunda tugas saat dipanggil ayah untuk makan bersama' (acuan: X / Tidak Taat); Butir 3: 'Mendengarkan dengan tenang ketika orang tua memberi nasihat' (acuan: V / Taat); Butir 4: 'Meninggalkan sampah di laci meja padahal guru menasihati agar membuangnya ke tempat sampah' (acuan: X / Tidak Taat) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid dalam suasana hening dan tenang diajak menyadari perbuatannya di rumah dan sekolah: mengingat kembali apakah selama ini sudah setia dan rela mematuhi nasihat orang tua dan guru sebagai wujud ketaatan kepada Allah (8 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa mematuhi nasihat orang tua dan bapak/ibu guru adalah bentuk nyata ketaatan kita dalam melaksanakan perintah Allah (4 menit).
- Guru memberikan umpan balik dan penguatan atas hasil pengerjaan lembar kerja ketaatan, lalu menutup pembelajaran dengan doa syukur dan tanda salib (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi dengan gambar ilustrasi konkret pada setiap butir soal; murid yang cepat diberikan 2 skenario tambahan tentang ketaatan di rumah dan sekolah.
- Proses: Pada murid yang belum lancar membaca, butir lembar kerja dibacakan secara lisan oleh guru satu per satu.
- Produk: Murid dapat menunjukkan pilihan ketaatan dengan memberi tanda centang/silang pada lembar kerja atau dengan menunjuk kartu simbol jempol.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik cepat menggunakan 2 kartu situasi: Situasi A (anak langsung belajar saat diminta ibu; acuan: taat/jempol atas) dan Situasi B (anak membantah dan menolak merapikan mainan; acuan: tidak taat/jempol bawah).
Proses:- Pemeriksaan Lembar Kerja Ketaatan berisi 4 butir pernyataan: Butir 1 (merapikan alat tulis saat guru meminta; acuan: Taat), Butir 2 (menunda makan saat dipanggil ayah; acuan: Tidak Taat), Butir 3 (mendengarkan tenang nasihat orang tua; acuan: Taat), Butir 4 (meninggalkan sampah di laci melanggar nasihat guru; acuan: Tidak Taat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: guru menyebutkan 1 situasi 'Saat ibu meminta bantuan membawakan piring ke dapur, apa yang dilakukan anak yang taat kepada Allah?' (kriteria penerimaan: murid menjawab segera membantu/melaksanakannya tanpa membantah).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi sikap taat dan tidak taat melalui kartu gambar Situasi A dan B dengan acuan jempol ke atas/bawah.
- Asesmen proses pengerjaan Lembar Kerja Ketaatan: memberi tanda pada 4 butir pernyataan sikap ketaatan terhadap perintah Allah melalui nasihat orang tua dan guru sesuai acuan kunci.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap patuh pada nasihat guru dan orang tua pada Lembar Kerja | Tepat mengidentifikasi 0-1 dari 4 butir pernyataan sikap ketaatan sesuai kunci acuan. | Tepat mengidentifikasi 2 dari 4 butir pernyataan sikap ketaatan sesuai kunci acuan. | Tepat mengidentifikasi 3 dari 4 butir pernyataan sikap ketaatan sesuai kunci acuan. | Tepat mengidentifikasi seluruh (4 dari 4) butir pernyataan sikap ketaatan sesuai kunci acuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid aktif dan mampu menunjukkan pemahaman tentang ketaatan kepada Allah melalui kepatuhan pada nasihat orang tua dan guru?
- Bagian kegiatan mana yang paling efektif membantu murid memahami pentingnya bersikap taat tanpa membantah?
Murid:- Nasihat apa dari bapak/ibu guru atau orang tua yang paling sering kalian patuhi dengan senang hati?
- Bagaimana perasaanmu ketika dapat bersikap taat melaksanakan perintah Allah setiap hari?
Pertemuan 2 — Menunjukkan Ketaatan Melaksanakan Perintah Allah Meneladani Sikap Rela Berkorban Tokoh Iman Abraham — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.4.1 Menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap meneladani tokoh iman Abraham
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan tanda salib dan memimpin doa pembuka: 'Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin. Tuhan Yesus yang baik, bimbinglah kami belajar meneladani ketaatan Bapa Abraham. Amin.' (5 menit).
- Guru mengajak murid menyanyikan bersama lagu 'Bapa Abraham' dengan ekspresi gembira di kelas (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 2 pertanyaan terkait ketaatan dan kerelaan berkorban Abraham: (1) Siapakah anak Abraham yang diminta Allah untuk dipersembahkan? (acuan jawaban: Ishak); (2) Ketika Allah menguji iman Abraham, apakah Abraham patuh atau menolak? (acuan jawaban: patuh/taat) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Guru membimbing murid menyimak pengantar kisah ketaatan Abraham (berdasarkan Kejadian 22:1-19) bahwa Abraham sangat setia dan rela mengorbankan yang paling disayanginya demi menaati perintah Allah (10 menit).
- Guru menjelaskan makna rela berkorban dalam melaksanakan perintah Allah bagi anak kelas 2, yaitu bersedia mengesampingkan keinginan diri (seperti menunda bermain sejenak atau membagi mainan) demi menjalankan perintah kebaikan dari Allah (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru menyajikan permainan kartu tantangan ketaatan 'Pilihan Rela Berkorban'. Murid secara bergantian menunjukkan sikap taat pada 3 kartu situasi konkret: Kartu 1: 'Saat asyik bermain gim, ibu meminta tolong membelikan garam di warung' -> murid memilih sikap: Segera berangkat membantu ibu; Kartu 2: 'Saat menonton film kesukaan, terdengar lonceng gereja/waktu doa keluarga' -> murid memilih sikap: Mematikan TV dan ikut berdoa; Kartu 3: 'Memiliki 2 pensil, ada teman yang pensilnya patah dan belum punya pensil cadangan' -> murid memilih sikap: Meminjamkan satu pensil kepada teman (25 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Ketaatan 'Meneladani Abraham' dengan memberi tanda centang (V) pada 4 pernyataan yang menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah dengan rela berkorban, dari 4 butir berikut: (1) Rela menghentikan permainan saat orang tua meminta bantuan; (2) Membagi bekal kepada teman yang kelaparan; (3) Menolak merapikan mainan karena merasa lelah; (4) Bersedia bangun pagi tepat waktu untuk beribadah ke gereja (acuan centang benar: butir 1, 2, dan 4; butir 3 tidak dicentang) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memfasilitasi murid duduk tenang dalam suasana hening (berkesadaran) untuk merenungkan satu pengorbanan kecil yang akan mereka lakukan hari ini demi menaati perintah Allah (10 menit).
- Murid menyebutkan komitmen satu tindakan rela berkorban yang dipilihnya di hadapan teman sebangku (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid membuat rangkuman singkat bahwa beriman kepada Allah berarti siap taat melaksanakan perintah-Nya dengan sikap rela berkorban seperti teladan Bapa Abraham (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik penguatan atas unjuk kerja lembar pilihan sikap murid dan menutup pelajaran dengan doa penutup serta tanda salib (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu situasi bergambar bagi murid yang membutuhkan bantuan visual dan teks bacaan kartu terarah bagi murid yang sudah lancar membaca.
- Proses: Memberikan bimbingan langsung dalam membacakan pernyataan bagi murid yang memerlukan scaffolding, serta memberikan kesempatan kepada murid yang cepat selesai untuk memilih 1 contoh sikap rela berkorban tambahan di lingkungan rumah.
- Produk: Murid dapat menunjukkan pilihan ketaatan melalui pemberian tanda centang pada lembar kerja atau menunjukkan kartu pilihan sikap.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik lisan kesiapan pemahaman teladan Abraham: (1) Siapakah anak yang diminta Allah untuk dipersembahkan Abraham? (acuan: Ishak); (2) Apakah Abraham menaati perintah Allah tersebut? (acuan: ya/taat/patuh).
Proses:- Penilaian lembar kerja ketaatan meneladani sikap rela berkorban Abraham pada 4 butir pernyataan: (1) Rela menghentikan permainan saat orang tua meminta bantuan [acuan: ya/centang]; (2) Membagi bekal kepada teman yang kelaparan [acuan: ya/centang]; (3) Menolak merapikan mainan karena merasa lelah [acuan: tidak dicentang]; (4) Bersedia bangun pagi tepat waktu untuk beribadah ke gereja [acuan: ya/centang].
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta murid menyebutkan 1 contoh tindakan rela berkorban demi menaati perintah Allah di rumah (kriteria penerimaan: menyebutkan tindakan nyata mengutamakan kewajiban/membantu sesama dibandingkan keinginan bermain sendiri, seperti membagi makanan, menunda main untuk belajar/berdoa, atau membantu orang tua).
Formatif:- Observasi unjuk kerja pemilihan kartu sikap rela berkorban
- Pemeriksaan lembar kerja ketaatan meneladani ketaatan Abraham
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap rela berkorban meneladani Abraham | Belum mampu menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap rela berkorban (hanya tepat 0-1 butir pada lembar kerja acuan). | Mulai mampu menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap rela berkorban dengan bimbingan guru (tepat 2 butir pada lembar kerja acuan). | Mampu menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap rela berkorban secara tepat dan mandiri (tepat 3 butir pada lembar kerja acuan). | Sangat mampu menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap rela berkorban secara tepat, lengkap, dan konsisten (tepat seluruh 4 butir pada lembar kerja acuan). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan kartu pilihan sikap berhasil membantu murid memahami arti rela berkorban dalam ketaatan kepada Allah?
- Bagaimana keterlibatan dan respon murid selama proses refleksi hening berkesadaran?
Murid:- Apa hal tersulit yang pernah kamu korbankan saat harus menaati perintah orang tua atau guru?
- Apakah kamu merasa senang dapat meneladani sikap ketaatan Bapa Abraham hari ini?
Pertemuan 3 — Menceritakan Kisah Tokoh Iman Abraham Mendengarkan dan Mematuhi Perintah Allah Pergi ke Moria — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.4.2 Menceritakan kisah tokoh iman Abraham dalam melaksanakan perintah Allah
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan menyapa murid, mengajak membuat tanda salib, dan melantunkan doa pembuka bersama (5 menit).
- Guru mengajak murid menyanyikan lagu 'Bapa Abraham Mempunyai Banyak Sekali Anak-Anak' disertai gerakan tepuk tangan gembira untuk memusatkan perhatian (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menceritakan kembali kisah tokoh iman Abraham yang mendengarkan dan mematuhi perintah Allah untuk pergi ke tanah Moria (5 menit).
- Asesmen Awal: Guru mengajukan 2 pertanyaan diagnostik lisan untuk mengecek kesiapan murid mengenai tokoh Abraham dan kepatuhannya: (1) 'Siapakah nama anak yang sangat disayangi oleh Abraham?' (acuan jawaban benar: Ishak); (2) 'Ketika Allah memanggil Abraham untuk pergi, apakah Abraham menolak atau patuh melaksanakan perintah Allah?' (acuan jawaban benar: patuh/taat melaksanakannya) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak pendidik menceritakan kisah Kitab Suci berdasarkan Kejadian 22:1-5 dengan bantuan 3 gambar berseri berurutan: Gambar 1 (Allah memanggil Abraham dan memberi perintah untuk membawa Ishak ke tanah Moria), Gambar 2 (Abraham bangun pagi-pagi, membelah kayu, dan membebani keledainya), Gambar 3 (Abraham berjalan bersama Ishak dan dua bujangnya menuju Moria dengan patuh) (15 menit).
- Murid menjawab 3 pertanyaan panduan alur cerita yang diajukan guru: (1) 'Siapa yang memanggil dan memerintahkan Abraham?' (acuan: Allah/Tuhan); (2) 'Ke mana Allah menyuruh Abraham pergi membawa anaknya?' (acuan: ke tanah Moria / gunung yang ditunjukkan Allah); (3) 'Kapan Abraham bersiap berangkat melaksanakan perintah itu?' (acuan: pagi-pagi hari / segera tanpa menunda) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid melakukan aktivitas menggembirakan 'Estafet Gambar Kisah Abraham': secara berpasangan, murid menyusun 3 kartu gambar alur perjalanan Abraham ke Moria yang diacak di mejanya agar runtut (Kartu A: Allah memanggil Abraham; Kartu B: Abraham menyiapkan bekal dan keledai di pagi hari; Kartu C: Abraham dan Ishak berjalan menuju tanah Moria), dengan acuan urutan benar: Kartu A -> Kartu B -> Kartu C (15 menit).
- Murid secara bergiliran dalam kelompok kecil menceritakan kisah Abraham mendengarkan dan mematuhi perintah Allah pergi ke Moria berdasarkan 3 kartu yang telah disusun, memuat 3 unsur peristiwa: (1) Allah memanggil dan memerintah Abraham membawa Ishak ke Moria, (2) Abraham taat dan segera bangun pagi menyiapkan kayu serta keledai, (3) Abraham dan Ishak berangkat berjalan menuju tanah Moria (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan nilai ketaatan iman Abraham dengan hening sejenak menyadari bagaimana Abraham mendengarkan Allah tanpa membantah (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung dan apresiasi terhadap cerita lisan yang disampaikan murid mengenai ketaatan Abraham (5 menit).
- Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran bahwa Abraham adalah tokoh iman yang patuh mendengarkan perintah Allah untuk berangkat ke Moria tanpa ragu (5 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan doa penutup dan tanda salib bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan dibantu dengan kartu bergambar berseri yang dilengkapi kata kunci alur (Panggilan Allah, Bangun Pagi, Berjalan ke Moria), sedangkan murid yang cepat dapat menceritakan langsung berdasarkan gambar tanpa kata kunci.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan berlatih menceritakan kisah per gambar secara terbimbing oleh guru, sementara murid yang mahir menceritakan ketiga alur kisah secara mandiri.
- Produk: Semua murid menceritakan kisah secara lisan; murid yang belum lancar boleh menceritakan 2 unsur alur utama, sedangkan murid mahir menceritakan lengkap 3 unsur alur kisah ketaatan Abraham ke Moria.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik lisan kesiapan materi sebelum inti: (1) 'Siapakah nama anak yang sangat disayangi oleh Abraham?' (acuan: Ishak); (2) 'Ketika Allah memanggil Abraham untuk pergi, apakah Abraham menolak atau patuh melaksanakan perintah Allah?' (acuan: patuh/taat melaksanakannya). Pemetaan: murid yang menjawab benar kedua butir siap bercerita mandiri; murid yang belum tepat diberi bimbingan kartu alur.
Proses:- Pengamatan unjuk kerja menceritakan kisah Abraham saat kegiatan inti Mengaplikasi: guru menyimak penceritaan murid berdasarkan 3 unsur alur acuan: (1) Pemanggilan dan perintah Allah kepada Abraham membawa Ishak ke Moria; (2) Ketaatan Abraham bangun pagi-pagi menyiapkan perbekalan; (3) Perjalanan Abraham dan Ishak menuju Moria.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta 2 orang perwakilan murid menyebutkan 1 tindakan ketaatan Abraham saat disuruh Allah ke Moria (acuan jawaban: bangun pagi-pagi / membelah kayu persembahan / langsung berangkat bersama Ishak tanpa menolak).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja lisan: menceritakan kisah tokoh iman Abraham mendengarkan dan mematuhi perintah Allah pergi ke Moria menggunakan rubrik pengamatan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan kisah ketaatan Abraham pergi ke Moria | Belum mampu menceritakan kisah ketaatan Abraham atau hanya menyebutkan nama tokoh tanpa memuat unsur alur perjalanan ke Moria. | Mampu menceritakan kisah ketaatan Abraham dengan memuat 1 unsur alur (misalnya hanya menyebutkan Allah menyuruh Abraham pergi) dengan bimbingan penuh guru. | Mampu menceritakan kisah ketaatan Abraham dengan memuat 2 dari 3 unsur alur secara tepat (acuan unsur: [1] Allah memanggil dan memerintah Abraham ke Moria, [2] Abraham bangun pagi menyiapkan bekal, [3] Abraham berjalan bersama Ishak ke Moria). | Mampu menceritakan kisah ketaatan Abraham secara runtut dan lengkap mencakup ketiga unsur alur (pemanggilan Allah, persiapan taat di pagi hari, dan perjalanan ke tanah Moria) secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah media gambar berseri efektif membantu murid kelas 2 menceritakan kembali ketaatan tokoh Abraham ke tanah Moria?
- Apakah seluruh murid mendapatkan giliran dan kesempatan aktif menceritakan kisah dalam kelompoknya?
Murid:- Bagian mana dari kisah Bapa Abraham yang paling kamu ingat saat ia mematuhi perintah Allah?
- Apakah kamu merasa senang menceritakan kisah perjalanan Abraham dan Ishak kepada temanmu?
Pertemuan 4 — Menceritakan Kisah Tokoh Iman Abraham Mempersembahkan Korban Domba Pengganti Ishak — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.4.2 Menceritakan kisah tokoh iman Abraham dalam melaksanakan perintah Allah
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, mengajak membuat tanda salib, dan memimpin doa pembuka memohon bimbingan Roh Kudus agar dapat memahami dan menceritakan kisah Kitab Suci dengan baik (5 menit).
- Guru mengajak murid menyanyikan lagu 'Bapa Abraham' bersama dengan gerakan riang untuk membangun suasana belajar yang menyenangkan (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 2 pertanyaan terkait kelanjutan kisah Abraham: (1) 'Siapakah anak Abraham yang diajak ke Gunung Moria?' (acuan: Ishak); (2) 'Hewan apakah yang kemudian disiapkan Allah sebagai pengganti persembahan?' (acuan: domba jantan) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menceritakan kembali peristiwa puncak ketaatan Abraham ketika mempersembahkan korban domba pengganti Ishak berdasarkan Kitab Kejadian 22:9-14 (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Guru membacakan perikop Kitab Suci Kejadian 22:9-14 dengan menunjukkan 4 gambar berurutan: Gambar 1 (Abraham mendirikan mezbah dan menaruh kayu di atasnya); Gambar 2 (Malaikat Tuhan berseru mencegah Abraham melukai Ishak karena melihat ketaatannya); Gambar 3 (Abraham melihat seekor domba jantan tanduknya tersangkut dalam belukar); Gambar 4 (Abraham mempersembahkan domba jantan tersebut sebagai kurban bakaran pengganti Ishak) (15 menit).
- Murid menyimak dan mencermati 4 urutan peristiwa utama kisah domba pengganti Ishak yang dipaparkan guru: (1) Abraham menata kayu di mezbah; (2) Malaikat Tuhan melarang Abraham menyakiti Ishak; (3) Abraham menemukan domba jantan tersangkut di belukar; (4) Abraham mempersembahkan domba itu kepada Allah (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan permainan edukatif menggembirakan 'Estafet Kartu Kisah': dalam kelompok kecil berisi 4 murid, setiap meja menerima 4 kartu gambar acak berisi adegan (A) Abraham menata kayu di mezbah, (B) Malaikat berseru melarang menyakiti anak, (C) Abraham melihat domba di belukar, dan (D) Abraham membakar domba sebagai kurban; kelompok berlomba menyusun kartu sesuai urutan waktu yang benar: A -> B -> C -> D (acuan urutan: A-B-C-D) (15 menit).
- Secara berpasangan, murid berlatih menceritakan kembali kisah 'Abraham Mempersembahkan Domba Pengganti Ishak' kepada teman sebangku dengan panduan 4 kartu gambar berurutan yang sudah tersusun rapi di meja masing-masing (10 menit).
- Secara bergantian, beberapa perwakilan murid maju ke depan kelas untuk menceritakan kembali kisah tersebut menggunakan bahasa sendiri dengan menyebutkan 4 peristiwa kunci: (1) penataan mezbah, (2) seruan malaikat, (3) penemuan domba di semak, dan (4) persembahan domba pengganti Ishak (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memandu murid hening sejenak untuk menyadari pesan kisah bahwa Allah selalu setia dan menyediakan pertolongan bagi orang yang taat melaksanakan perintah-Nya (5 menit).
- Murid menyampaikan kesan perasaannya saat mendengar dan menceritakan bagaimana Abraham taat dan bagaimana Allah menyelamatkan Ishak dengan menggantinya memakai seekor domba (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap cerita yang disampaikan murid dan menegaskan 4 inti peristiwa ketaatan Abraham mempersembahkan domba pengganti Ishak (5 menit).
- Guru bersama murid menutup kegiatan pembelajaran dengan mendaraskan doa syukur atas teladan iman Abraham, membuat tanda salib, dan saling memberi salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Untuk murid yang membutuhkan bimbingan, guru menyediakan kartu gambar dengan nomor urut pembantu (1 sampai 4) dan kata kunci teks; bagi murid yang cepat menangkap, kartu gambar disajikan tanpa nomor urut.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih menceritakan dengan bantuan pertanyaan penuntun langsung dari guru (misal: 'Apa yang dilihat Abraham di semak?'), sedangkan murid yang mahir langsung menceritakan seluruh alur secara mandiri.
- Produk: Murid yang memerlukan bimbingan menceritakan minimal 2 peristiwa kunci secara berurutan, sedangkan murid yang mahir menceritakan lengkap ke-4 peristiwa kunci secara runtut dan utuh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik lisan 2 butir di awal pembelajaran: (1) 'Siapakah anak Abraham yang diajak ke Gunung Moria?' (kunci: Ishak); (2) 'Hewan apakah yang kemudian disiapkan Allah sebagai persembahan pengganti?' (kunci: domba jantan/kambing domba). Murid yang menjawab tepat keduanya dikelompokkan siap belajar mandiri.
Proses:- Pengamatan formatif unjuk kerja lisan saat murid menceritakan kisah dengan 4 peristiwa acuan: (1) Abraham mendirikan mezbah dan menata kayu; (2) Malaikat melarang menyakiti Ishak; (3) Abraham melihat domba jantan tanduknya tersangkut semak; (4) Abraham mengurbankan domba sebagai kurban pengganti Ishak (kriteria: murid memuat peristiwa tersebut secara runtut).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup dengan menyebutkan urutan 4 peristiwa kisah domba pengganti Ishak (acuan: 1. Penataan kayu di mezbah; 2. Larangan malaikat melukai Ishak; 3. Penemuan domba di belukar; 4. Penyerahan kurban domba pengganti Ishak). Kriteria ketercapaian: murid mampu menyebutkan minimal 3 peristiwa dengan urutan yang benar.
Formatif:- Unjuk kerja menceritakan kembali secara lisan kisah Abraham mempersembahkan domba pengganti Ishak di depan kelas atau berpasangan dengan panduan 4 gambar berseri.
- Observasi ketepatan mengurutkan 4 kartu alur cerita pada permainan kelompok.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan kisah Abraham mempersembahkan domba pengganti Ishak | Menceritakan kisah hanya memuat 1 dari 4 peristiwa acuan dan masih memerlukan bimbingan penuh guru. | Menceritakan kisah dengan memuat 2 dari 4 peristiwa acuan secara berurutan dengan sedikit dorongan guru. | Menceritakan kisah dengan memuat 3 dari 4 peristiwa acuan secara runtut dan mandiri. | Menceritakan kisah dengan memuat lengkap seluruh 4 peristiwa acuan (mezbah, larangan malaikat, domba di belukar, kurban pengganti) secara runtut dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah media 4 gambar berseri efektif membantu murid kelas 2 SD menceritakan kembali kisah ketaatan Abraham?
- Apakah alokasi waktu untuk latihan berpasangan dan unjuk kerja bercerita di depan kelas sudah mencukupi bagi seluruh murid?
Murid:- Bagian cerita manakah yang paling kamu ingat dari kisah Abraham dan domba pengganti Ishak?
- Apakah kamu merasa senang saat berlatih menceritakan kisah ini bersama teman sebangkumu?
Pertemuan 5 — Mempraktikkan Doa Pujian kepada Allah dengan Sikap Rendah Hati secara Bersama — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.4.3 Mempraktikkan doa pujian dan syukur kepada Allah dengan sikap rendah hati
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid, memimpin tanda salib dan doa pembuka singkat bersama-sama (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mempraktikkan doa pujian kepada Allah dengan sikap rendah hati secara bersama-sama di kelas (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan: 'Sebutkan 1 contoh ungkapan memuji kebesaran Allah dan bagaimana sikap tangan yang benar saat berdoa?' (acuan jawaban: ungkapan seperti 'Tuhan Mahabesar/Mahabaik/Terpujilah Allah', dan sikap tangan terkatup di depan dada dengan tenang) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru membacakan teks Kitab Suci (Matius 6:6) dan menjelaskan bahwa doa pujian adalah doa yang memuliakan kebesaran dan kebaikan Allah, yang dilakukan dari dalam hati dengan sikap rendah hati, bukan untuk pamer atau menyombongkan diri (10 menit).
- Guru memperagakan sikap tubuh doa yang rendah hati (berdiri tegak atau berlutut tenang, kepala tertunduk hormat, kedua tangan terkatup di depan dada) serta melafalkan 1 teks doa pujian: 'Tuhan Allah Mahabesar, Engkau menciptakan langit, bumi, dan segala isinya dengan indah. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.' (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Melalui permainan menggembirakan 'Tirukan Sikap Doa', guru mengajak seluruh murid berlatih bersama mengambil sikap rendah hati secara serempak (tangan terkatup, mata terpejam/tenang, kepala tertunduk) saat mendengar aba-aba lonceng kecil berbunyi (15 menit).
- Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (4-5 murid) untuk berlatih bersama melafalkan teks doa pujian yang telah disiapkan guru di kartu doa: 'Terpujilah Engkau, ya Tuhan Allah kami. Engkau Mahabaik dan Mahakuasa. Kami memuliakan nama-Mu yang kudus. Amin.' dengan sikap tangan terkatup dan khidmat (15 menit).
- Setiap kelompok secara bergiliran mempraktikkan doa pujian bersama di depan kelas dengan sikap rendah hati, tangan terkatup, dan pelafalan doa pujian yang serempak serta khidmat (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid diajak duduk hening sejenak untuk menyadari perasaan di dalam hati ketika berdoa memuji Tuhan bersama teman-teman dengan sikap rendah hati (5 menit).
- Guru memfasilitasi murid menyebutkan makna berdoa dengan rendah hati, yaitu tidak merasa sombong di hadapan Allah karena Allah yang Mahabesar (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa doa pujian diucapkan untuk memuliakan kebesaran Allah dengan sikap tubuh yang tertib, tangan terkatup, dan hati yang rendah hati (5 menit).
- Pembelajaran diakhiri dengan doa penutup dan tanda salib bersama secara khidmat (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu teks doa pujian berhuruf besar disertai ilustrasi sikap tangan terkatup untuk murid yang memerlukan panduan visual.
- Proses: Bagi murid yang masih canggung, guru mendampingi dan menuntun pelafalan kalimat per kalimat; bagi murid yang sudah lancar, diberikan kesempatan memimpin baris doa pujian dalam kelompoknya.
- Produk: Praktik doa pujian dinilai secara kelompok/bersama dengan fokus pada kekhidmatan sikap rendah hati dan kelancaran pelafalan doa pujian.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: 'Sebutkan 1 contoh kalimat memuji kebesaran Allah dan tunjukkan bagaimana posisi tangan saat berdoa dengan rendah hati!' (Acuan jawaban: contoh kalimat 'Tuhan Allah Mahabesar / Mahabaik / Terpujilah Tuhan' dan posisi tangan terkatup di depan dada).
Proses:- Pengamatan langsung saat murid mempraktikkan doa pujian bersama dalam kelompok, mencakup kesesuaian sikap tubuh rendah hati (tangan terkatup di depan dada, kepala tunduk tenang) dan ketepatan melafalkan teks doa pujian: 'Terpujilah Engkau, ya Tuhan Allah kami. Engkau Mahabaik dan Mahakuasa. Kami memuliakan nama-Mu yang kudus. Amin.'
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan refleksi singkat lisan: 'Saat memuji Tuhan, bagaimana sikap hati dan tangan kita?' (Acuan jawaban: hati rendah hati/tidak sombong, dan kedua tangan terkatup tenang).
Formatif:- Observasi unjuk kerja praktik doa pujian bersama (mengamati sikap rendah hati: tangan terkatup, tubuh tenang, pelafalan doa pujian memuliakan Allah)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Praktik Sikap Rendah Hati saat Berdoa Bersama | Belum menunjukkan sikap doa rendah hati; posisi tangan belum terkatup dan tubuh masih gelisah/bercanda saat berdoa bersama. | Mulai menunjukkan sikap doa rendah hati dengan tangan terkatup, namun masih memerlukan pengingat guru agar tetap tenang dan khidmat. | Menunjukkan sikap doa rendah hati secara konsisten (tangan terkatup rapi di depan dada, kepala tertunduk tenang dan khidmat) selama berdoa bersama. | Menunjukkan sikap doa rendah hati secara sempurna dan khidmat (tangan terkatup, hening, tenang) serta mampu menjadi teladan ketenangan bagi teman sekelompok. | | Pelafalan Doa Pujian kepada Allah | Belum dapat melafalkan teks doa pujian bersama kelompok meskipun telah dibimbing. | Mampu melafalkan sebagian kalimat doa pujian bersama kelompok dengan bantuan bimbingan guru. | Mampu melafalkan seluruh teks doa pujian memuliakan kebesaran Allah bersama kelompok secara runtut dan jelas. | Mampu melafalkan seluruh teks doa pujian bersama kelompok dengan sangat lancar, serempak, jelas, dan penuh penghayatan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid telah mampu mempraktikkan sikap rendah hati (tangan terkatup dan tenang) saat memanjatkan doa pujian bersama?
- Bagaimana suasana keterlibatan murid dalam aktivitas praktik doa bersama kelompok?
Murid:- Bagaimana perasaanmu saat memuji Tuhan bersama teman-teman dengan sikap tangan terkatup?
- Apakah kamu bersedia membiasakan diri berdoa dengan rendah hati setiap hari?
Pertemuan 6 — Mempraktikkan Doa Syukur kepada Allah dengan Sikap Rendah Hati atas Kebaikan Tuhan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.4.3 Mempraktikkan doa pujian dan syukur kepada Allah dengan sikap rendah hati
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, mengajak membuat tanda salib, dan menyanyikan lagu 'Terima Kasih Tuhan' (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal lisan dengan menanyakan: 'Apa yang kita ucapkan kepada Tuhan ketika kita bersyukur?' (acuan jawaban: terima kasih Tuhan / memuji dan bersyukur atas rezeki, napas hidup, atau kesehatan) serta meminta 1-2 murid menunjukkan sikap tangan saat berdoa yang rendah hati (acuan: tangan terkatup di dada, kepala tertunduk hormat) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mempraktikkan doa syukur kepada Allah dengan sikap rendah hati atas kebaikan Tuhan yang dialami sehari-hari (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menjelaskan makna doa syukur berdasarkan pengajaran Yesus: berdoa adalah berbicara dengan Tuhan dengan rendah hati dari dalam hati, mengucap syukur karena Tuhan memelihara hidup, memberi kesehatan, keluarga, dan rezeki (10 menit).
- Guru memperagakan sikap doa yang rendah hati: duduk atau berdiri tegak tenang, kedua telapak tangan terkatup di depan dada, kepala sedikit tertunduk khidmat, dan hati terarah penuh kepada Allah tanpa memamerkan diri (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memodelkan pelafalan teks doa syukur singkat: 'Tuhan Yesus yang mahabaik, kami mengucap syukur atas berkat, kesehatan, dan keluarga yang Engkau berikan. Terpujilah nama-Mu kini dan sepanjang masa. Amin.' (10 menit).
- Permainan Menggembirakan 'Estafet Syukur': Dalam lingkaran kelas, guru memainkan irama tepukan riang; saat tepukan berhenti pada seorang murid, murid tersebut menyebutkan 1 kebaikan Tuhan (contoh acuan: 'nafas hidup', 'ibu bapak yang menyayangi', 'makanan yang enak', 'teman bermain'), lalu seluruh kelas bersama-sama menyerukan: 'Syukur kepada Allah!' (15 menit).
- Secara bergantian atau kelompok kecil (3-4 orang), murid mempraktikkan doa syukur bersama di depan altar kelas atau di tempat duduk masing-masing dengan sikap doa rendah hati (tangan terkatup di depan dada, kepala menunduk hormat, mengucap syukur dengan sungguh-sungguh) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru mengajak murid hening sejenak dalam hati, menyadari bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan patut kita syukuri tanpa bersikap sombong (10 menit).
- Murid mengungkapkan perasaan mereka setelah mempraktikkan doa syukur dengan sikap rendah hati kepada Allah (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa doa syukur diucapkan untuk berterima kasih atas segala kebaikan Tuhan dengan sikap rendah hati (5 menit).
- Guru melakukan cek pemahaman akhir singkat (asesmen akhir) terhadap sikap doa syukur dan menutup pembelajaran dengan tanda salib dan doa penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan teks doa syukur bertulisan besar disertai gambar anak berdoa terkatup untuk murid yang membutuhkan bantuan visual.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru membimbing pelafalan doa baris demi baris; bagi murid yang sudah lancar, murid diberi kesempatan melafalkan doa syukur dengan menambahkan satu ucapan syukur atas kebaikan Tuhan secara mandiri.
- Produk: Praktik doa syukur dapat dilakukan secara berpasangan atau mandiri di hadapan guru sesuai kesiapan murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: 'Apa arti doa syukur dan bagaimana posisi tangan saat berdoa yang rendah hati?' (Acuan jawaban benar: doa syukur adalah doa berterima kasih kepada Tuhan atas kebaikan-Nya; posisi tangan terkatup di depan dada dan kepala menunduk).
Proses:- Pengamatan langsung saat murid mempraktikkan doa syukur: menilai ketepatan pelafalan ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan dan konsistensi sikap tubuh rendah hati (tangan terkatup di depan dada, kepala tertunduk khidmat tanpa bercanda/bermain-main).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid secara serentak memperagakan sikap tubuh doa yang rendah hati dan bersama-sama melafalkan kalimat penutup syukur: 'Syukur kepada Allah atas segala kebaikan-Mu. Amin.' (Acuan ketepatan: sikap tangan terkatup di depan dada, kepala menunduk hormat, lafal syukur terucap khidmat).
Formatif:- Observasi unjuk kerja praktik doa syukur kepada Allah dan pengamatan sikap tubuh rendah hati (tangan terkatup di dada, kepala tertunduk khidmat).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Praktik Sikap Tubuh Rendah Hati saat Berdoa | Belum menunjukkan sikap doa yang rendah hati; tangan masih digerak-gerakkan atau menengok ke kanan-kiri dan tidak terkatup. | Menunjukkan sikap tangan terkatup di depan dada namun masih perlu diingatkan guru untuk menundukkan kepala dan bersikap tenang. | Mempraktikkan sikap doa rendah hati dengan tangan terkatup di depan dada dan kepala tertunduk khidmat selama berdoa secara konsisten. | Mempraktikkan sikap doa rendah hati dengan tangan terkatup di depan dada, kepala tertunduk khidmat secara mandiri, tenang, dan bersungguh-sungguh dari awal hingga akhir. | | Praktik Doa Syukur atas Kebaikan Tuhan | Belum dapat melafalkan doa syukur atas kebaikan Tuhan meski telah dibimbing kata per kata oleh guru. | Mampu melafalkan doa syukur atas kebaikan Tuhan dengan bimbingan penuh dari guru baris demi baris. | Mampu melafalkan doa syukur atas kebaikan Tuhan (kesehatan, keluarga, atau rezeki) secara runtut dengan sedikit bimbingan guru. | Mampu mempraktikkan doa syukur atas kebaikan Tuhan secara lancar dan mandiri dengan ungkapan syukur yang tulus. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid telah mampu mempraktikkan sikap rendah hati (tangan terkatup dan kepala tertunduk) saat berdoa syukur?
- Bagaimana respons dan kegembiraan murid dalam permainan 'Estafet Syukur' saat menyebutkan kebaikan Tuhan?
Murid:- Bagaimana perasaanmu setelah berdoa mengucap terima kasih kepada Tuhan dengan sikap rendah hati?
- Kebaikan apa dari Tuhan yang paling ingin kamu syukuri hari ini?
Pertemuan 7 — Mempraktikkan Doa Pujian dan Doa Syukur secara Pribadi dengan Sikap Rendah Hati — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.4.3 Mempraktikkan doa pujian dan syukur kepada Allah dengan sikap rendah hati
Pendahuluan:- Guru menyapa murid dengan ramah, mengajak membuat Tanda Salib bersama, serta menyanyikan lagu pujian rohani anak secara riang gembira (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid membedakan 2 kartu kalimat doa: Kartu 1 'Tuhan, Engkau sungguh agung dan mahabaik' dan Kartu 2 'Terima kasih Tuhan atas tubuh yang sehat' (acuan jawaban: Kartu 1 adalah jenis doa pujian karena mengagungkan sifat Allah, Kartu 2 adalah jenis doa syukur karena berterima kasih atas anugerah kebaikan Tuhan) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yaitu mempraktikkan doa pujian dan doa syukur secara pribadi dengan sikap rendah hati di hadapan Allah (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mendengarkan penegasan guru tentang ajaran Yesus dalam Injil Matius 6:6 mengenai berdoa di tempat tersembunyi/di dalam hati dengan sikap rendah hati di hadapan Allah, bukan untuk menyombongkan diri (10 menit).
- Murid mencermati dan mengenali 2 contoh doa singkat pada papan pajang: Teks Doa Pujian ('Tuhan Allah Yang Mahakudus, nama-Mu sungguh mulia dan agung di seluruh bumi') dan Teks Doa Syukur ('Tuhan Yesus Yang Mahabaik, terima kasih atas berkat hidup dan orang tua yang mengasihiku') (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid berpartisipasi dalam permainan seru 'Tepuk Pujian dan Rangkul Syukur': jika guru mengangkat kartu sifat Allah (misal: 'Mahaagung'), murid melakukan gerakan tangan terkatup sambil melafalkan 1 seruan doa pujian; jika guru mengangkat kartu kebaikan (misal: 'Keluarga yang rukun'), murid menaruh tangan di dada sambil melafalkan 1 seruan doa syukur secara serempak dan riang (15 menit).
- Murid secara mandiri memilih 1 dari 2 kartu teks doa yang disediakan guru (Pilihan A: Kartu Doa Pujian Pribadi berbunyi 'Tuhan Allah Mahabesar, aku memuji keagungan ciptaan-Mu di langit dan bumi'; Pilihan B: Kartu Doa Syukur Pribadi berbunyi 'Tuhan Yang Mahakasih, aku bersyukur atas anugerah kesehatan dan napas hidup hari ini') (10 menit).
- Setiap murid satu per satu mempraktikkan mendoakan doa pilihannya secara pribadi di sudut doa kelas dengan sikap rendah hati: sikap tubuh tenang, tangan terkatup di depan dada, dan kepala menunduk khidmat (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid dalam suasana hening merenungkan perasaan batin mereka saat mempraktikkan doa pujian dan syukur secara pribadi di hadapan Tuhan (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa doa pujian dan doa syukur secara pribadi hendaknya diucapkan dengan tulus dan sikap rendah hati di hadapan Allah (5 menit).
- Guru memberikan penguatan dan menutup pembelajaran dengan membuat Tanda Salib secara hening (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu doa bergambar dengan kalimat doa yang lebih ringkas, sedangkan murid yang lebih mahir disediakan teks doa pujian dan syukur lengkap 2 bait.
- Proses: Murid yang belum percaya diri melafalkan doa secara pribadi mendapat pendampingan permodelan sikap tubuh dari guru; murid mahir langsung mempraktikkan doa secara mandiri penuh.
- Produk: Praktik doa pribadi disesuaikan dengan pilihan murid: melafalkan doa pujian saja atau melafalkan doa syukur saja dengan sikap rendah hati.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik membedakan ungkapan doa melalui 2 kartu: Kartu 1 'Tuhan, Engkau sungguh agung dan mahabaik' dan Kartu 2 'Terima kasih Tuhan atas tubuh yang sehat' (acuan jawaban benar: Kartu 1 adalah doa pujian; Kartu 2 adalah doa syukur).
Proses:- Observasi unjuk kerja praktik doa pribadi: mengamati kesesuaian lafal doa pujian atau doa syukur pilihan murid (menggunakan teks Kartu A: 'Tuhan Allah Mahabesar, aku memuji keagungan ciptaan-Mu di langit dan bumi' atau Kartu B: 'Tuhan Yang Mahakasih, aku bersyukur atas anugerah kesehatan dan napas hidup hari ini') serta keterpenuhan sikap rendah hati (tangan terkatup di depan dada dan kepala menunduk).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan satu ciri sikap tubuh yang mencerminkan kerendahan hati saat berdoa pribadi (acuan jawaban: tangan terkatup di dada atau kepala menunduk khidmat).
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja praktik doa pujian dan doa syukur secara pribadi dengan lembar observasi sikap rendah hati (tangan terkatup dan kepala tertunduk).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Praktik Doa Pujian dan Syukur secara Pribadi | Belum mampu melafalkan doa pujian maupun doa syukur secara pribadi walau telah dibimbing guru. | Mampu melafalkan doa pujian atau doa syukur secara pribadi dengan bimbingan penuh guru. | Mampu melafalkan doa pujian atau doa syukur secara pribadi secara mandiri sesuai teks doa pilihan. | Mampu melafalkan doa pujian dan doa syukur secara pribadi secara mandiri, lancar, dan tepat sesuai teks doa. | | Sikap Rendah Hati saat Berdoa | Belum menunjukkan sikap tenang, tangan belum terkatup, dan masih banyak bergerak saat berdoa pribadi. | Menunjukkan sikap tangan terkatup saat berdoa pribadi namun masih perlu diingatkan untuk menundukkan kepala dan bersikap tenang. | Menunjukkan sikap rendah hati (tangan terkatup di depan dada, kepala menunduk, dan tenang) secara mandiri selama berdoa pribadi. | Menunjukkan sikap rendah hati (tangan terkatup di depan dada, kepala menunduk, dan khidmat) secara konsisten dan tenang sejak awal hingga akhir doa pribadi. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid telah mampu mempraktikkan doa pujian atau doa syukur secara pribadi dengan sikap rendah hati?
- Bagian kegiatan mana yang paling membantu murid menumbuhkan suasana doa hening dan khidmat?
Murid:- Bagaimana perasaan hatiku saat berbicara dan berdoa sendiri kepada Tuhan dengan tangan terkatup?
- Apakah aku sudah bersikap rendah hati dan tidak bercanda ketika berdoa kepada Tuhan?
Pertemuan 8 — Mempraktikkan Doa Permohonan Terbimbing kepada Allah dengan Sikap Rendah Hati — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.4.4 Mempraktikkan doa permohonan kepada Allah dengan sikap rendah hati
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid, mengajak membuat tanda salib, dan berdoa pembuka bersama (5 menit).
- Guru mengaitkan materi sebelumnya tentang doa syukur dengan materi hari ini, yaitu mempraktikkan doa permohonan kepada Allah dengan bimbingan (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan: 'Sebutkan 1 hal yang baik yang boleh kita mohonkan kepada Tuhan dalam doa permohonan!' (acuan jawaban benar: memohon kesehatan, kepintaran/kebijaksanaan, perlindungan, kesembuhan orang tua/teman, atau damai/kebaikan hati) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru tentang arti doa permohonan sebagai wujud meminta pertolongan atau hal-hal baik kepada Allah yang dilakukan dengan sikap rendah hati (tidak sombong, sadar membutuhkan Tuhan, tenang, dan tangan terkatup di dada) berdasarkan Injil Matius 6:6 (15 menit).
- Guru memperagakan sikap tubuh doa yang rendah hati (duduk atau berlutut tegak, kepala sedikit menunduk khidmat, kedua tangan terkatup rapat di depan dada) dan melafalkan contoh kalimat doa permohonan terbimbing kalimat per kalimat (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan peragaan 'Gema Doa Rendah Hati': guru memandu lafal doa permohonan secara berurutan dan murid menirukannya dengan sikap tubuh rendah hati (tangan terkatup di dada, hening, dan khidmat): Teks doa permohonan terbimbing yang dilatihkan memuat 3 permohonan konkret: (1) 'Tuhan Yesus yang baik, kami mohon berkatilah orang tua kami agar selalu sehat dan bahagia', (2) 'Tuhan Yesus, bimbinglah kami agar menjadi anak yang rajin belajar dan berhati baik', (3) 'Tuhan Yesus, lindungilah kami dan teman-teman sepanjang hari ini. Amin' (15 menit).
- Secara berpasangan di bangku masing-masing, murid saling bergantian mempraktikkan pengucapan 3 permohonan terbimbing tersebut dengan mempertahankan sikap tubuh rendah hati tangan terkatup di bawah bimbingan dan umpan balik langsung dari guru (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk hening dengan sikap tangan terkatup, merefleksikan bagaimana rasanya menyampaikan permohonan kepada Tuhan secara sungguh-sungguh dan rendah hati (10 menit).
- Dua perwakilan murid menceritakan secara singkat perasaan hatinya saat mempraktikkan doa permohonan terbimbing di hadapan Tuhan (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan bahwa Tuhan selalu mendengarkan doa permohonan dari anak yang rendah hati dan tidak sombong (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan dan demonstrasi singkat sikap doa permohonan rendah hati (5 menit).
- Pembelajaran ditutup dengan doa penutup terbimbing dan membuat tanda salib bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan teks doa permohonan berhuruf besar disertai gambar peraga sikap tangan terkatup bagi murid yang membutuhkan panduan visual.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru membimbing pelafalan doa baris demi baris; bagi murid yang sudah lancar, diberikan kesempatan memimpin pelafalan 3 butir doa permohonan tersebut secara mandiri di hadapan kelompok kecilnya.
- Produk: Seluruh murid mencapai bukti yang sama, yaitu mempraktikkan pelafalan 3 butir doa permohonan terbimbing dengan sikap rendah hati (tangan terkatup dan khidmat).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: 'Sebutkan 1 hal baik yang boleh kita mohonkan kepada Tuhan dalam doa permohonan!' (acuan jawaban: murid menyebutkan minimal 1 kebutuhan rohani/jasmani yang baik, seperti memohon kesehatan, kepintaran/kebijaksanaan, perlindungan, kesembuhan, atau bimbingan menjadi anak baik; bila murid menjawab meminta hal buruk/mencelakakan orang lain, guru memberikan intervensi pelurusan konsep doa permohonan).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja selama tahap Mengaplikasi saat murid melafalkan 3 doa permohonan terbimbing: (1) Berkat untuk orang tua agar selalu sehat, (2) Bimbingan menjadi anak rajin dan baik, (3) Perlindungan sepanjang hari (acuan penilaian: ketepatan menirukan 3 butir doa permohonan dengan sikap tubuh rendah hati: tangan terkatup di dada, posisi tegak/tenang, tidak bercanda/gaduh).
Akhir Pertemuan:- Cek unjuk kerja singkat di penutup: Murid memperagakan sikap doa rendah hati (tangan terkatup, kepala tertunduk hormat) dan mengucapkan 1 kalimat penutup doa permohonan terbimbing: 'Tuhan Yesus, dengarkanlah doa permohonan kami, amin' secara serentak dengan hening dan tertib (acuan: sikap tubuh terkatup sempurna dan suasana hening tanpa bermain-main).
Formatif:- Observasi unjuk kerja praktik doa permohonan terbimbing dengan lembar amatan sikap tubuh rendah hati (tangan terkatup khidmat) dan kelancaran pelafalan 3 kalimat doa permohonan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Praktik Pelafalan Doa Permohonan Terbimbing | Belum mampu melafalkan 3 kalimat doa permohonan terbimbing meskipun telah dibimbing guru. | Mampu melafalkan 1 dari 3 kalimat doa permohonan terbimbing dengan bimbingan penuh guru. | Mampu melafalkan 2 sampai 3 kalimat doa permohonan terbimbing dengan bimbingan guru secara runtut. | Mampu melafalkan seluruh (3) kalimat doa permohonan terbimbing secara lancar dan mandiri tanpa jeda keraguan. | | Sikap Rendah Hati saat Berdoa | Belum menunjukkan sikap rendah hati (posisi tubuh tidak tenang, tangan tidak terkatup, dan masih bercanda/bergurau). | Menunjukkan sikap rendah hati (tangan terkatup dan tenang) hanya jika diingatkan berulang kali oleh guru. | Menunjukkan sikap rendah hati (posisi tenang, kepala tertunduk hormat, kedua tangan terkatup di dada) sepanjang doa berlangsung. | Menunjukkan sikap rendah hati (tenang, hening, khidmat, kedua tangan terkatup sempurna di dada) secara konsisten dari awal hingga akhir doa secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid sudah dapat mempraktikkan pelafalan doa permohonan dengan bimbingan guru secara khidmat?
- Bagaimana respons murid terhadap pembiasaan sikap tubuh rendah hati (tangan terkatup dan tenang) saat menyampaikan doa permohonan?
Murid:- Bagaimana perasaanmu ketika menyampaikan doa permohonan kepada Tuhan Yesus dengan tangan terkatup?
- Apakah kamu merasa tenang dan rendah hati saat berdoa memohon bantuan Tuhan?
Pertemuan 9 — Mempraktikkan Doa Permohonan Pribadi kepada Allah dengan Sikap Tangan Terkatup dan Rendah Hati — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.4.4 Mempraktikkan doa permohonan kepada Allah dengan sikap rendah hati
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid dan memimpin doa pembuka singkat bertanda salib (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mempraktikkan doa permohonan pribadi kepada Allah dengan sikap tangan terkatup dan rendah hati (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid memperagakan sikap tangan terkatup dan menjawab 1 pertanyaan lisan tentang isi doa permohonan (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mendengarkan penegasan guru tentang ajaran Yesus dalam Injil Matius 6:6 mengenai berdoa dengan rendah hati di hadapan Allah, bukan untuk pamer melainkan berbicara dari hati dengan sikap tubuh tenang dan tangan terkatup di dada (10 menit).
- Murid mengamati peragaan guru mengenai sikap doa yang benar (duduk/berlutut tegak, kepala sedikit tertunduk khidmat, kedua telapak tangan terkatup rapat di depan dada) dan mengenali 3 unsur doa permohonan pribadi yang baik: sapaan kepada Tuhan, isi permohonan yang tulus/baik, dan penutup permohonan (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan hening menggembirakan 'Pohon Hening Berdoa': murid berlatih mengatupkan kedua tangan di dada, memejamkan mata dalam ketenangan selama hitungan mundur 1 sampai 10 tanpa bergerak atau tertawa, melatih sikap khidmat dan rendah hati di hadapan Allah (10 menit).
- Secara mandiri di mejanya masing-masing, setiap murid menyiapkan satu doa permohonan pribadi secara lisan berdasarkan panduan sederhana: (1) Menyapa Tuhan ('Tuhan Yesus yang baik'), (2) Memohon kebaikan/bantuan ('mohon berkatilah aku agar menjadi anak yang rajin dan berbakti kepada orang tua'), (3) Menutup doa ('Demi Kristus Tuhan kami, Amin') (20 menit).
- Secara bergiliran atau dalam kelompok kecil terbimbing, setiap murid mempraktikkan doa permohonan pribadi tersebut dengan sikap tangan terkatup rapat di dada, kepala tertunduk khidmat, dan hati yang rendah di hadapan Tuhan (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan refleksi batin terpandu: memeriksa apakah saat berdoa tadi tangannya benar-benar terkatup rapi dan hatinya sungguh-sungguh memohon kepada Tuhan dengan rendah hati (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali pentingnya membiasakan berdoa permohonan pribadi dengan tangan terkatup dan hati rendah setiap hari (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik apresiatif atas kesungguhan sikap doa seluruh murid, lalu menutup kegiatan dengan doa penutup dan tanda salib (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang masih terbata-bata, guru menyediakan kartu panduan visual berisi 3 ikon berurutan: ikon sapaan Tuhan, ikon isi permohonan kebaikan hati/keluarga, dan ikon Amin. Bagi murid yang cepat, mereka dapat menyampaikan permohonan pribadi secara spontan yang lebih spesifik bagi orang tua atau guru.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan fisik didampingi guru merapatkan telapak tangan terkatup di dada sebelum melafalkan doa; murid mandiri langsung mempraktikkan doa di tempatnya.
- Produk: Semua murid mempraktikkan doa permohonan pribadi lisan secara langsung dengan sikap tangan terkatup di dada.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Cek diagnostik lisan dan peragaan: Murid diminta menunjukkan posisi tangan terkatup di dada dan menjawab pertanyaan: 'Sebutkan 1 hal baik yang boleh kita mohonkan kepada Tuhan dalam doa permohonan!' (Kriteria penerimaan: tangan dirapatkan di depan dada; jawaban permohonan mencakup hal baik/positif seperti memohon kepandaian, kesehatan orang tua, atau pengampunan).
Proses:- Observasi unjuk kerja praktik doa permohonan pribadi menggunakan rubrik pengamatan 4 level dengan 2 aspek utama: (1) Sikap tangan terkatup dan ketenangan tubuh saat berdoa, (2) Pengucapan doa permohonan pribadi kepada Allah dengan sikap rendah hati.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan refleksi singkat di akhir sesi: Guru mengonfirmasi ketercapaian dengan memeriksa apakah murid mampu mempraktikkan kembali posisi tangan terkatup rapat di dada secara mandiri saat doa penutup berlangsung.
Formatif:- Unjuk kerja praktik doa permohonan pribadi dengan lembar observasi sikap tubuh (tangan terkatup) dan kerendahan hati saat berdoa
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Sikap Tangan Terkatup dan Ketenangan Tubuh | Belum mampu mengatupkan tangan di depan dada dan masih banyak bergerak atau bergurau saat berdoa. | Mengatupkan tangan di depan dada namun posisi tangan sering terlepas atau tubuh masih kurang tenang saat berdoa. | Mengatupkan kedua telapak tangan dengan rapat di depan dada serta bersikap tenang dan tertib selama mempraktikkan doa permohonan. | Mengatupkan kedua telapak tangan dengan sangat rapi dan khidmat di depan dada, menjaga ketenangan tubuh sepenuhnya dari awal hingga akhir doa secara mandiri. | | Praktik Doa Permohonan Pribadi dengan Rendah Hati | Belum mampu mengucapkan kalimat doa permohonan pribadi kepada Allah dan belum menunjukkan sikap rendah hati. | Mengucapkan doa permohonan pribadi kepada Allah namun masih membutuhkan banyak tuntunan kata demi kata dari guru. | Mempraktikkan doa permohonan pribadi kepada Allah secara runtut (memuat sapaan, permohonan yang baik, dan penutup) dengan sikap rendah hati. | Mempraktikkan doa permohonan pribadi kepada Allah secara runtut dan penuh penghayatan dengan sikap rendah hati yang tulus secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid telah mampu mempraktikkan sikap tangan terkatup rapat di dada saat memanjatkan doa permohonan?
- Bagaimana respons murid saat diajak membangun suasana hening dan rendah hati di hadapan Tuhan melalui latihan 'Pohon Hening Berdoa'?
Murid:- Apakah tanganku sudah terkatup rapat dan rapi di dada saat aku berdoa kepada Tuhan hari ini?
- Bagaimana perasaanku saat berbicara dan memohon kepada Tuhan dengan hati yang rendah?
Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.4.1 Menunjukkan ketaatan melaksanakan perintah Allah melalui sikap meneladani tokoh iman Abraham
- TP 2.4.2 Menceritakan kisah tokoh iman Abraham dalam melaksanakan perintah Allah
- TP 2.4.3 Mempraktikkan doa pujian dan syukur kepada Allah dengan sikap rendah hati
- TP 2.4.4 Mempraktikkan doa permohonan kepada Allah dengan sikap rendah hati
Pendahuluan:- Guru membuka sesi dengan salam, tanda salib bersama, dan doa pembuka singkat meminta bimbingan Roh Kudus (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab 4 yaitu mengumpulkan bukti portofolio pembiasaan ketaatan harian di rumah serta unjuk kerja lisan menceritakan kisah Abraham dan mempraktikkan doa (3 menit).
- Guru menjelaskan tata tertib dan prosedur asesmen sumatif: murid maju bergiliran ke meja guru selama 3 menit untuk unjuk kerja lisan, sementara murid lain yang menunggu giliran duduk tenang mewarnai lembar ilustrasi kisah Abraham di mejanya masing-masing (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan lembar gambar kisah ketaatan Abraham (gambar Abraham dan Ishak di Gunung Moria beserta domba pengganti) kepada seluruh murid untuk diwarnai secara mandiri di meja masing-masing selama antrean unjuk kerja berlangsung (3 menit).
- Guru mengumpulkan dan memverifikasi lembar ceklis pembiasaan ketaatan harian di rumah yang memuat 3 tindakan ketaatan: menolong orang tua, berdoa tepat waktu, dan merapikan perlengkapan sendiri yang telah ditandatangani orang tua murid (12 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Setiap murid secara bergantian maju ke meja guru secara individual selama 3 menit (total 28 murid x 3 menit = 75 menit) untuk melaksanakan unjuk kerja terpadu: menceritakan secara singkat kisah ketaatan Abraham selama 1 menit (acuan inti kisah: 1. Abraham taat saat diperintahkan Allah membawa Ishak ke Gunung Moria; 2. Abraham rela mempersembahkan yang terbaik demi mematuhi perintah Allah; 3. Allah menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti Ishak karena melihat ketaatan Abraham), dilanjutkan mempraktikkan doa pujian/syukur (acuan doa pujian/syukur: melafalkan ungkapan memuji keagungan Allah atau bersyukur atas berkat dan perlindungan Tuhan) dan doa permohonan sederhana (acuan doa permohonan: meminta pertolongan, kesehatan, atau bimbingan Tuhan) selama 2 menit dengan sikap rendah hati dan tangan terkatup secara khidmat, sementara murid lain tetap tenang mewarnai di mejanya (72 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setelah seluruh murid selesai unjuk kerja, guru mengajak semua murid hening sejenak menyadari pengalaman menceritakan iman dan berdoa dengan rendah hati di hadapan Tuhan (3 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi atas ketertiban, kejujuran portofolio, dan keberanian seluruh murid dalam menceritakan kisah Abraham serta mempraktikkan doa (3 menit).
- Guru merangkum keseluruhan Bab 4 mengenai ketaatan meneladani Abraham dan kebiasaan berdoa dengan sikap rendah hati, lalu menutup pertemuan dengan doa penutup dan tanda salib (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Tidak ada diferensiasi materi karena merupakan sesi asesmen sumatif terstandar untuk mengukur ketercapaian TP 1, 2, 3, dan 4.
- Proses: Akomodasi akses berupa pemberian panduan visual ilustrasi gambar Abraham bagi murid yang memerlukan dukungan fokus saat berbicara di meja guru tanpa mengubah kriteria penilaian.
- Produk: Standar bukti unjuk kerja dan portofolio tetap sama untuk seluruh murid sesuai acuan sumatif ATP.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kelengkapan lembar ceklis pembiasaan ketaatan harian di rumah yang dibawa murid dan telah ditandatangani orang tua sebelum sesi unjuk kerja lisan dimulai.
Proses:- Pengamatan ketertiban dan kemandirian murid yang sedang mewarnai lembar ilustrasi kisah Abraham di meja masing-masing saat menunggu giliran asesmen unjuk kerja lisan.
Sumatif Bab:- penilaian portofolio pembiasaan rumah dan unjuk kerja terpadu (bercerita dan berdoa lisan): lembar ceklis pembiasaan ketaatan harian di rumah yang diverifikasi orang tua, serta rekaman observasi penuturan lisan kisah Abraham dan pelafalan doa (pujian/syukur dan permohonan) dengan sikap khidmat
- penilaian diri dan pembiasaan terpandu: lembar ceklis bergambar berisi 3 tindakan nyata ketaatan melaksanakan perintah Allah di rumah (menolong orang tua, berdoa tepat waktu, merapikan perlengkapan sendiri) yang ditandatangani orang tua dan dikumpulkan ke guru (15 menit; individual; instrumen: lembar ceklis pembiasaan ketaatan harian dan catatan orang tua)
- unjuk kerja lisan bergiliran: setiap murid secara bergantian maju ke meja guru selama 3 menit (90 menit / 3 menit = 30 murid, muat 28 murid) untuk menceritakan secara singkat kisah ketaatan Abraham (1 menit) dilanjutkan mempraktikkan doa pujian/syukur dan doa permohonan sederhana dengan sikap tangan terkatup dan khidmat (2 menit), sementara murid lain mewarnai lembar gambar kisah Abraham di meja masing-masing (90 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja lisan dan sikap doa (skala 1-4))
Sumatif:- penilaian portofolio pembiasaan rumah dan unjuk kerja terpadu (bercerita dan berdoa lisan): lembar ceklis pembiasaan ketaatan harian di rumah yang diverifikasi orang tua, serta rekaman observasi penuturan lisan kisah Abraham dan pelafalan doa (pujian/syukur dan permohonan) dengan sikap khidmat
- penilaian diri dan pembiasaan terpandu: lembar ceklis bergambar berisi 3 tindakan nyata ketaatan melaksanakan perintah Allah di rumah (menolong orang tua, berdoa tepat waktu, merapikan perlengkapan sendiri) yang ditandatangani orang tua dan dikumpulkan ke guru (15 menit; individual; instrumen: lembar ceklis pembiasaan ketaatan harian dan catatan orang tua)
- unjuk kerja lisan bergiliran: setiap murid secara bergantian maju ke meja guru selama 3 menit (90 menit / 3 menit = 30 murid, muat 28 murid) untuk menceritakan secara singkat kisah ketaatan Abraham (1 menit) dilanjutkan mempraktikkan doa pujian/syukur dan doa permohonan sederhana dengan sikap tangan terkatup dan khidmat (2 menit), sementara murid lain mewarnai lembar gambar kisah Abraham di meja masing-masing (90 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja lisan dan sikap doa (skala 1-4))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketaatan Melaksanakan Perintah Allah di Rumah (TP 2.4.1 - Portofolio) | Lembar ceklis memuat bukti pelaksanaan kurang dari 2 tindakan ketaatan di rumah atau belum ditandatangani orang tua (dari 3 tindakan acuan: 1. Menolong orang tua, 2. Berdoa tepat waktu, 3. Merapikan perlengkapan sendiri). | Lembar ceklis memuat bukti pelaksanaan tepat 2 dari 3 tindakan ketaatan di rumah dan telah diverifikasi serta ditandatangani orang tua. | Lembar ceklis memuat bukti pelaksanaan lengkap seluruh 3 tindakan ketaatan di rumah (menolong orang tua, berdoa tepat waktu, merapikan perlengkapan sendiri) serta diverifikasi dan ditandatangani orang tua. | Lembar ceklis memuat bukti pelaksanaan lengkap seluruh 3 tindakan ketaatan di rumah secara konsisten setiap hari disertai catatan apresiasi positif dari orang tua. | | Menceritakan Kisah Ketaatan Abraham (TP 2.4.2 - Unjuk Kerja Lisan) | Menuturkan kisah Abraham tetapi belum memuat alur ketaatan perintah Allah (acuan alur kisah: 1. Abraham taat membawa Ishak ke Gunung Moria, 2. Abraham rela mempersembahkan yang terbaik bagi Allah, 3. Allah menyediakan domba pengganti Ishak). | Menceritakan kisah Abraham dengan memuat 1-2 alur ketaatan sesuai acuan secara tepat. | Menceritakan kisah Abraham secara lengkap memuat seluruh 3 alur ketaatan (pergi ke Moria, kerelaan berkorban mematuhi Allah, dan penyediaan domba pengganti Ishak) secara runtut. | Menceritakan kisah Abraham memuat seluruh 3 alur ketaatan secara runtut, lancar, dan mandiri tanpa perlu diberikan petunjuk pemantik oleh guru. | | Mempraktikkan Doa Pujian dan Syukur (TP 2.4.3 - Praktik Doa) | Melafalkan doa tetapi isi kalimat belum mencerminkan ungkapan pujian maupun syukur kepada Allah, atau sikap tubuh belum khidmat. | Melafalkan kalimat doa pujian atau syukur kepada Allah dengan sikap tangan terkatup namun sesekali masih menoleh atau belum fokus. | Mempraktikkan pelafalan doa pujian dan syukur kepada Allah (mengagungkan nama Tuhan dan bersyukur atas berkat-Nya) dengan sikap rendah hati dan tangan terkatup khidmat. | Mempraktikkan pelafalan doa pujian dan syukur kepada Allah dengan kalimat yang sangat khidmat, lancar, serta sikap tubuh rendah hati (tangan terkatup dan kepala tertunduk tenang) secara konsisten. | | Mempraktikkan Doa Permohonan (TP 2.4.4 - Praktik Doa) | Melafalkan doa permohonan yang belum terarah pada permintaan yang baik atau sikap tangan belum terkatup. | Melafalkan doa permohonan sederhana (meminta perlindungan, kesehatan, atau bimbingan) dengan sikap tangan terkatup namun masih terbata-bata. | Mempraktikkan pelafalan doa permohonan yang santun kepada Allah secara mandiri dengan sikap rendah hati dan tangan terkatup khidmat. | Mempraktikkan pelafalan doa permohonan yang tulus dan mendalam kepada Allah dengan sikap tubuh sempurna (tangan terkatup, tenang, dan rendah hati) tanpa ragu-ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 3 menit per murid berjalan efektif untuk menilai unjuk kerja lisan kisah Abraham dan praktik doa secara menyeluruh?
- Bagaimana ketercapaian pembiasaan ketaatan harian murid di rumah berdasarkan portofolio dan catatan orang tua?
Murid:- Bagaimana perasaanku saat menceritakan ketaatan Bapa Abraham dan memanjatkan doa kepada Tuhan di depan guru?
- Tindakan ketaatan apa yang ingin terus kulakukan di rumah untuk membahagiakan orang tua dan memuliakan Tuhan?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II, Kemendikbudristek 2021
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II, Kemendikbudristek 2021
- Kartu gambar situasi ketaatan dan Lembar Kerja Ketaatan
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II
- Buku Teks Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II
- Kitab Suci (Kejadian 22:1-19)
- Set kartu tantangan ketaatan 'Pilihan Rela Berkorban'
- Alkitab: Kitab Kejadian 22:1-5
- Set kartu gambar berseri kisah Abraham dipanggil ke tanah Moria
- Kitab Suci Kejadian 22:1-19 (fokus ayat 9-14)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas II SD, Kemendikbudristek
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas II SD, Kemendikbudristek
- Set kartu gambar berseri kisah ketaatan Abraham di Gunung Moria
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek, 2021)
- Kitab Suci (Matius 6:6)
- Kartu teks doa pujian anak
- Lonceng kecil/instrumen pembina hening
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek 2021, Bab 4)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas II
- Salib dan lilin untuk sudut doa/altar kelas
- Kartu bergambar/teks doa syukur sederhana
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Puskurbuk, 2021)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II
- Alkitab (Kutipan teks Matius 6:6)
- Kartu teks doa pujian dan kartu teks doa syukur
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemendikbudristek 2021), Bab 4 Subbab C: Doa Pujian, Syukur, dan Permohonan (halaman 125-132)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas II, Bab 4
- Teks Kitab Suci Injil Matius 6:6 tentang Pengajaran Berdoa dengan Rendah Hati
- Gambar peraga sikap doa Katolik yang rendah hati (tangan terkatup di depan dada)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas II SD, Kemendikbudristek 2021
- Alkitab: Injil Matius 6:6
- Kartu visual panduan urutan doa (sapaan, permohonan, amin)
- Kitab Suci Perjanjian Lama (Kitab Kejadian 22:1-19)
- Lembar Ceklis Pembiasaan Ketaatan Harian di Rumah
- Lembar Aktivitas Bergambar Kisah Abraham dan Ishak di Gunung Moria
- Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Asesmen Sumatif Bab 4
|