MODUL AJAR Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti — Kelas 6 (Fase C) Topik: Bab 2 — Allah Swt Maha Segalanya INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti |
|---|
| Fase / Kelas | Fase C / Kelas 6 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Allah Swt Maha Segalanya |
|---|
| Alokasi Waktu | 9 JP (9 x 35 menit = 315 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 3 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 6.2.1 Menjelaskan arti asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw
- TP 6.2.2 Meyakini asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw melalui sikap memohon ampunan kepada Allah Swt.
- TP 6.2.3 Menjelaskan arti asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad
- TP 6.2.4 Meyakini asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad dalam ketauhidan dan bersandar hanya kepada Allah Swt.
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Apa yang kalian lakukan ketika berbuat salah kepada teman atau melanggar perintah Allah Swt.?
- Mengapa kita tidak boleh berputus asa dari ampunan Allah Swt. saat melakukan kesalahan?
- Mengapa kita tidak boleh menyembah atau memohon pertolongan utama kepada selain Allah Swt.?
- Apa arti dari nama Allah al-Wāḥid dan al-Ṣamad yang sering kita baca dalam Surah al-Ikhlāṣ?
- Bagaimana membuktikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa kita hanya bersandar kepada Allah Swt.?
- Bagaimana keyakinan kita terhadap asma Allah al-Gaffār, al-‘Afuw, al-Wāḥid, dan al-Ṣamad membimbing perilaku memohon ampun dan bersandar hanya kepada-Nya?
- Mengapa penting bagi kita untuk memahami arti dari asmaulhusna yang kita imani dalam kehidupan sehari-hari?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menjelaskan Arti dan Meyakini Asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw melalui Sikap Memohon Ampunan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.2.1 Menjelaskan arti asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw
- TP 6.2.2 Meyakini asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw melalui sikap memohon ampunan kepada Allah Swt.
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan memeriksa kesiapan belajar murid (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan terarah: 'Apa arti kata gafara dan 'afwu yang kalian ketahui?' (acuan: gafara = menutup aib/dosa; 'afwu = menghapus/memaafkan kesalahan) untuk memetakan kesiapan pemahaman dasar murid (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati teks materi tentang arti kata dasar dan makna asmaulhusna: al-Gaffār berasal dari akar kata 'gafara' yang artinya Maha Pengampun dengan menutup aib/dosa hamba-Nya di dunia dan akhirat; al-‘Afuw berasal dari akar kata ''afwu' yang artinya Maha Pemaaf dengan menghapus dosa dan kesalahan secara tuntas hingga tak berbekas (15 menit).
- Murid secara berpasangan mengikuti permainan kartu cepat 'Pasangan Tepat Asmaulhusna' (Joyful) untuk mencocokkan kartu nama asmaulhusna dengan kartu maknanya menggunakan 4 pasang kartu yang dibagikan guru: Kartu 1 'al-Gaffār' berpasangan dengan 'Maha Pengampun yang menutup aib dan dosa hamba-Nya', Kartu 2 'al-‘Afuw' berpasangan dengan 'Maha Pemaaf yang menghapus dosa sampai bersih tak bersisa', Kartu 3 'Akar kata gafara' berpasangan dengan 'Menutup', Kartu 4 'Akar kata 'afwu' berpasangan dengan 'Menghapus/menghilangkan' (acuan kunci pasangan: 1-Maha Pengampun menutup aib; 2-Maha Pemaaf menghapus dosa; 3-Menutup; 4-Menghapus) (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara mandiri menyelesaikan Lembar Kerja Analisis Sikap Memohon Ampunan yang berisi 2 situasi: Situasi 1 'Rudi tidak sengaja merusak buku perpustakaan sekolah dan merasa sangat takut dimarahi' dan Situasi 2 'Salma terlambat bangun sehingga tertinggal salat Subuh tepat waktu dan merasa bersalah'. Murid menuliskan bentuk keyakinan kepada al-Gaffār dan al-‘Afuw melalui sikap memohon ampunan (acuan respon benar: Situasi 1 -> mengakui kesalahan kepada petugas perpustakaan, meminta maaf, mengganti/memperbaiki buku, serta memohon ampun kepada Allah karena al-Gaffār Maha Menutup aib hamba yang mau bertobat; Situasi 2 -> segera beristigfar memohon ampun kepada Allah, menunaikan salat Subuh, dan bertekad tidak mengulangi kelalaian karena al-‘Afuw Maha Menghapus dosa hamba yang tulus memohon ampunan) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengevaluasi pemahaman diri dengan menuliskan satu kalimat refleksi mendalam berkesadaran di buku catatan mengenai pentingnya membiasakan istigfar (sikap memohon ampunan) setiap hari sebagai bukti keyakinan bahwa Allah Swt. adalah al-Gaffār dan al-‘Afuw (15 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai perbedaan makna al-Gaffār (menutup aib/dosa) dan al-‘Afuw (menghapus dosa) serta kewajiban senantiasa memohon ampunan kepada Allah Swt. (10 menit).
- Guru memberikan cek pemahaman akhir secara lisan kepada murid mengenai arti asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw, lalu menutup sesi dengan doa kafaratul majelis dan salam (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu bantu visual berisi kata kunci penjelas makna bagi murid yang membutuhkan penguatan bacaan.
- Proses: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru memberikan pertanyaan penuntun pada lembar kerja analisis situasi. Bagi murid yang berkemampuan cepat, murid menganalisis alasan mendalam mengapa manusia harus selalu memohon ampunan kepada Allah Swt.
- Produk: Format penyampaian penjelasan arti dan wujud keyakinan pada lembar kerja dapat berupa poin-poin terstruktur maupun uraian naratif sesuai kesiapan murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan di awal pertemuan: 'Apa arti kata dasar gafara dan 'afwu yang kalian ketahui?' (acuan jawaban: gafara artinya menutup; 'afwu artinya menghapus/memaafkan).
Proses:- Observasi ketepatan murid saat mencocokkan 4 pasangan kartu materi: (1) al-Gaffār = Maha Pengampun yang menutup aib dan dosa, (2) al-‘Afuw = Maha Pemaaf yang menghapus dosa sampai tuntas, (3) gafara = menutup, (4) 'afwu = menghapus.
- Pemeriksaan ketepatan analisis lembar kerja murid pada Situasi 1 (Rudi merusak buku) dan Situasi 2 (Salma terlambat salat Subuh) terkait wujud keyakinan memohon ampunan kepada Allah Swt. al-Gaffār dan al-‘Afuw.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru mengajukan pertanyaan: 'Sebutkan arti al-Gaffār dan al-‘Afuw!' (acuan jawaban: al-Gaffār artinya Allah Maha Pengampun yang menutup aib dan dosa hamba-Nya; al-‘Afuw artinya Allah Maha Pemaaf yang menghapus kesalahan dan dosa hamba-Nya).
Formatif:- Penilaian kinerja pencocokan kartu 'Pasangan Tepat Asmaulhusna' (ketepatan 4 pasangan)
- Pemeriksaan lembar kerja analisis wujud keyakinan memohon ampunan pada 2 situasi konkret
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menjelaskan arti asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw | Belum mampu menjelaskan arti al-Gaffār dan al-‘Afuw dengan tepat walau diberi bimbingan guru. | Menjelaskan arti salah satu asmaulhusna (al-Gaffār saja atau al-‘Afuw saja) dengan tepat secara mandiri (acuan: al-Gaffār = Maha Pengampun/menutup dosa; al-‘Afuw = Maha Pemaaf/menghapus dosa). | Menjelaskan arti kedua asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw dengan tepat sesuai acuan makna dasar secara mandiri. | Menjelaskan arti kedua asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw beserta pembeda makna keduanya (menutup aib/dosa vs menghapus dosa secara tuntas) secara tepat dan mandiri. | | Meyakini asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw melalui sikap memohon ampunan | Belum mampu menunjukkan bentuk sikap memohon ampunan kepada Allah Swt. pada situasi yang diberikan. | Menunjukkan bentuk sikap memohon ampunan (beristigfar/bertobat) hanya pada 1 dari 2 situasi yang diberikan secara tepat. | Menunjukkan bentuk sikap memohon ampunan kepada Allah Swt. (beristigfar dan mengakui kesalahan) pada kedua situasi yang diberikan secara tepat. | Menunjukkan bentuk sikap memohon ampunan kepada Allah Swt. pada kedua situasi secara tepat serta menghubungkan alasan keyakinan bahwa Allah pasti mengampuni dan menghapus dosa hamba-Nya secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah strategi permainan kartu berpasangan efektif memfasilitasi pemahaman murid terhadap perbedaan makna al-Gaffār dan al-‘Afuw?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam merefleksikan pembiasaan memohon ampunan (istigfar) dalam kehidupan nyata?
Murid:- Apakah kamu sudah memahami perbedaan arti dari asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw?
- Sikap apa yang akan kamu lakukan mulai hari ini jika melakukan kesalahan kepada Allah atau sesama teman?
Pertemuan 2 — Menjelaskan Arti dan Meyakini Asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad dalam Ketauhidan dan Bersandar kepada Allah Swt. — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.2.3 Menjelaskan arti asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad
- TP 6.2.4 Meyakini asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad dalam ketauhidan dan bersandar hanya kepada Allah Swt.
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan pembacaan Surah al-Ikhlāṣ secara tartil untuk mengondisikan kesiapan batin murid (5 menit).
- Guru melakukan apersepsi dan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab lisan tentang arti dasar al-Wāḥid dan al-Ṣamad: Guru menanyakan (1) 'Apa arti al-Wāḥid?' (acuan jawaban benar: Maha Tunggal/Esa/Satu, tiada sekutu bagi-Nya), dan (2) 'Apa arti al-Ṣamad?' (acuan jawaban benar: Maha Dibutuhkan/Maha Tempat Bergantung/Tempat Meminta segala sesuatu) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru dan membaca buku teks mengenai arti asmaulhusna al-Wāḥid (Maha Esa/Tunggal) serta al-Ṣamad (Maha Tempat Meminta/Maha Tempat Bergantung segala makhluk) secara berkesadaran (15 menit).
- Murid secara berpasangan memainkan permainan kartu kata 'Cocok Cepat Asmaulhusna': mencocokkan 4 kartu nama/istilah dengan 4 kartu makna yang tepat. Kartu 1: 'al-Wāḥid' -> Pasangan 1: 'Allah Maha Esa, tiada tuhan selain Dia'; Kartu 2: 'al-Ṣamad' -> Pasangan 2: 'Allah Maha Tempat Bergantung seluruh makhluk'; Kartu 3: 'Ketauhidan kepada al-Wāḥid' -> Pasangan 3: 'Tidak menyekutukan Allah dengan sesembahan apa pun'; Kartu 4: 'Bersandar kepada al-Ṣamad' -> Pasangan 4: 'Hanya memohon dan menggantungkan harapan utama kepada Allah Swt.' (acuan kunci: pasangan 1-1, 2-2, 3-3, 4-4) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid berdiskusi dalam kelompok kecil menganalisis 4 lembar studi kasus sikap hidup untuk memilah mana yang mencerminkan keyakinan terhadap al-Wāḥid dan al-Ṣamad. Kasus 1: 'Farhan rajin belajar dan selalu berdoa hanya kepada Allah sebelum ujian tanpa meminta bantuan jimat/dukun' (acuan: meyakini al-Wāḥid dan al-Ṣamad); Kasus 2: 'Roni percaya ada kekuatan gaib di pohon besar yang bisa melindunginya dari bahaya' (acuan: bertentangan dengan al-Wāḥid/menyekutukan Allah); Kasus 3: 'Aisyah mengadu dan memohon kesembuhan ibunya hanya kepada Allah saat ikhtiar berobat' (acuan: meyakini al-Ṣamad/bersandar hanya kepada Allah); Kasus 4: 'Budi bergantung sepenuhnya pada uang saku teman dan lupa berdoa kepada Allah' (acuan: melalaikan keyakinan bersandar pada al-Ṣamad) (25 menit).
- Setiap perwakilan kelompok menyampaikan hasil analisis studi kasus di depan kelas, lalu kelompok lain mencocokkan dengan kriteria ketauhidan (meyakini keesaan Allah) dan tawakal/bersandar hanya kepada Allah Swt. (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara mandiri menuliskan refleksi singkat dalam buku catatan tentang 2 wujud nyata keyakinan kepada al-Wāḥid (tidak menyekutukan Allah) dan bersandar kepada al-Ṣamad (berdoa dan berharap hanya kepada Allah saat menghadapi kesulitan belajar atau masalah sehari-hari) (15 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali arti asmaulhusna al-Wāḥid (Maha Esa) dan al-Ṣamad (Maha Tempat Bergantung) serta penerapannya dalam memurnikan tauhid dan senantiasa bersandar hanya kepada Allah Swt. (5 minit).
- Guru memberikan tindak lanjut pesan moral untuk selalu mengawali doa dengan menyebut nama Allah, menginformasikan agenda pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan hamdalah serta doa penutup majelis (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Untuk murid yang membutuhkan bimbingan, disediakan kartu panduan bertuliskan arti kata dasar al-Wāḥid dan al-Ṣamad serta contoh perilaku konkret. Untuk murid berpencapaian tinggi, disediakan studi kasus tambahan dengan kompleksitas situasi sehari-hari yang lebih menantang.
- Proses: Murid yang belum lancar memahami konsep dibimbing langsung oleh guru dalam kelompok terarah saat analisis kasus. Murid yang cepat dapat mendiskusikan alasan mendalam mengapa manusia dilarang bersandar mutlak kepada makhluk.
- Produk: Refleksi mandiri dapat ditulis dalam bentuk 2 poin pernyataan komitmen ketauhidan sederhana atau paragraf uraian penjelasan personal.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: (1) 'Apa arti dari asmaulhusna al-Wāḥid?' (Acuan jawaban benar: Allah Maha Esa / Maha Tunggal / tidak ada sekutu bagi-Nya); (2) 'Apa arti dari asmaulhusna al-Ṣamad?' (Acuan jawaban benar: Allah Maha Dibutuhkan / Tempat Bergantung segala makhluk / Tempat Meminta segala kebutuhan).
Proses:- Formatif 1 (Mencocokkan Kartu): Ketepatan memasangkan 4 kartu istilah dan arti asmaulhusna (Kunci acuan: Kartu 1 al-Wāḥid berpasangan dengan arti Allah Maha Esa; Kartu 2 al-Ṣamad berpasangan dengan arti Allah Maha Tempat Bergantung seluruh makhluk; Kartu 3 Ketauhidan kepada al-Wāḥid berpasangan dengan sikap tidak menyekutukan Allah; Kartu 4 Bersandar kepada al-Ṣamad berpasangan dengan sikap hanya memohon dan menggantungkan harapan utama kepada Allah Swt.).
- Formatif 2 (Analisis Kasus): Ketepatan mengidentifikasi 4 skenario perilaku apakah mencerminkan keyakinan pada al-Wāḥid dan al-Ṣamad (Kunci acuan: Kasus 1 Farhan = Mencerminkan al-Wāḥid & al-Ṣamad; Kasus 2 Roni = Bertentangan dengan al-Wāḥid; Kasus 3 Aisyah = Mencerminkan al-Ṣamad; Kasus 4 Budi = Bertentangan dengan sikap bersandar pada al-Ṣamad).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman mandiri tertulis: Murid menuliskan arti al-Wāḥid dan al-Ṣamad serta masing-masing 1 contoh perilaku meyakininya dalam kehidupan sehari-hari (Kriteria penerimaan operasional: Jawaban memuat arti al-Wāḥid adalah Maha Esa/Tunggal dan contoh tidak menyekutukan Allah/hanya beribadah kepada Allah; serta arti al-Ṣamad adalah Maha Tempat Bergantung/Meminta dan contoh berdoa/bersandar hanya kepada Allah saat membutuhkan pertolongan).
Formatif:- Penilaian lisan pada diagnostik awal pertemuan
- Observasi unjuk kerja permainan pencocokan kartu istilah dan arti asmaulhusna
- Penilaian lembar analisis 4 kasus pengamalan al-Wāḥid dan al-Ṣamad
- Penilaian tulisan lembar refleksi keyakinan diri
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menjelaskan arti asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad | Belum mampu menjelaskan arti al-Wāḥid dan al-Ṣamad secara tepat walaupun telah dibimbing guru. | Menjelaskan arti 1 dari 2 asmaulhusna (al-Wāḥid atau al-Ṣamad) dengan tepat sesuai acuan (al-Wāḥid: Maha Esa/Tunggal; al-Ṣamad: Maha Dibutuhkan/Tempat Bergantung). | Menjelaskan arti kedua asmaulhusna (al-Wāḥid dan al-Ṣamad) dengan tepat sesuai acuan namun masih memerlukan arahan singkat. | Menjelaskan arti kedua asmaulhusna (al-Wāḥid dan al-Ṣamad) secara tepat, lengkap, dan mandiri tanpa keraguan. | | Meyakini asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad dalam ketauhidan dan bersandar hanya kepada Allah Swt. | Belum mampu membedakan perilaku ketauhidan dan bersandar kepada Allah dari kasus yang disajikan (0-1 kasus tepat). | Mampu mengidentifikasi keyakinan pada al-Wāḥid dan al-Ṣamad pada 2 dari 4 kasus perilaku yang disajikan secara tepat sesuai acuan. | Mampu mengidentifikasi keyakinan pada al-Wāḥid dan al-Ṣamad pada 3 dari 4 kasus perilaku yang disajikan secara tepat sesuai acuan. | Mampu mengidentifikasi keyakinan pada al-Wāḥid dan al-Ṣamad pada seluruh 4 kasus perilaku yang disajikan secara tepat dan memberikan alasan ketauhidan dengan benar. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 105 menit cukup efektif untuk memfasilitasi pemahaman makna mendalam al-Wāḥid dan al-Ṣamad?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas pencocokan kartu dan analisis kasus perilaku?
- Apakah murid menunjukkan perubahan kesadaran untuk senantiasa berdoa dan bersandar hanya kepada Allah Swt.?
Murid:- Apa hal terpenting yang aku pelajari hari ini tentang keesaan Allah (al-Wāḥid) dan sifat Allah Maha Dibutuhkan (al-Ṣamad)?
- Dalam situasi apa saja aku harus membuktikan bahwa aku hanya bersandar dan memohon kepada Allah Swt.?
- Aktivitas belajar mana yang paling membantuku memahami materi hari ini?
Pertemuan 3 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.2.1 Menjelaskan arti asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw
- TP 6.2.2 Meyakini asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw melalui sikap memohon ampunan kepada Allah Swt.
- TP 6.2.3 Menjelaskan arti asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad
- TP 6.2.4 Meyakini asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad dalam ketauhidan dan bersandar hanya kepada Allah Swt.
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid dengan tertib (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif Bab 2 untuk mengukur pemahaman arti dan keyakinan terhadap asmaulhusna al-Gaffār, al-‘Afuw, al-Wāḥid, dan al-Ṣamad, serta menjelaskan alur tiga bentuk asesmen yang akan dilaksanakan secara mandiri (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membacakan petunjuk teknis pelaksanaan tiga bagian asesmen sumatif: (1) tes lisan bergiliran di meja guru untuk al-Gaffār dan al-‘Afuw; (2) tes tertulis mandiri untuk al-Wāḥid dan al-Ṣamad; serta (3) lembar refleksi penilaian diri dan penilaian antarteman (3 menit).
- Guru membagikan lembar tes tertulis berisi 2 butir soal: Soal 1: 'Jelaskan arti asmaulhusna al-Wāḥid!' (Kunci: Allah Maha Tunggal/Esa, tiada sekutu bagi-Nya); Soal 2: 'Jelaskan arti asmaulhusna al-Ṣamad!' (Kunci: Allah Maha Dibutuhkan/Maha Tempat Bergantung segala makhluk) (2 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Seluruh murid serentak mengerjakan lembar jawaban tes tertulis yang menjelaskan arti dan makna asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad secara tenang dan mandiri di meja masing-masing (30 menit).
- Secara paralel dengan pengerjaan tugas mandiri tertulis di kelas, guru memanggil murid satu per satu ke meja guru untuk melaksanakan tes lisan bergiliran berdurasi 1,5 menit per murid (total 45 menit untuk mencakup seluruh murid sekelas hingga 30 murid) dengan pertanyaan: 'Jelaskan arti asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw!' (Acuan lisan: al-Gaffār artinya Allah Maha Pengampun yang menutup aib/dosa hamba-Nya; al-‘Afuw artinya Allah Maha Pemaaf yang menghapus dosa dan memaafkan kesalahan hamba-Nya) (45 menit).
- Guru membagikan dan menginstruksikan pengisian lembar refleksi penilaian diri keyakinan memohon ampunan (al-Gaffār dan al-‘Afuw) dengan butir: 'Saya membiasakan beristigfar dan memohon ampun kepada Allah Swt. setiap kali berbuat salah' (skala: Selalu / Sering / Jarang / Tidak Pernah) serta lembar pengamatan antarteman sikap bertawakal dan mengesakan Allah (al-Wāḥid dan al-Ṣamad) dengan butir: 'Teman saya menunjukkan sikap hanya berdoa dan bersandar memohon pertolongan kepada Allah Swt.' (skala: Selalu / Sering / Jarang / Tidak Pernah) yang diisi murid secara serentak (12 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali kelengkapan lembar jawaban tes tertulis dan lembar penilaian diri/antarteman sebelum dikumpulkan secara tertib ke meja guru (3 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar instrumen sumatif (lembar tes tertulis, lembar penilaian diri, dan lembar penilaian antarteman) dari seluruh murid secara tertib (3 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan intisari Bab 2 bahwa meyakini Allah Maha Pengampun (al-Gaffār), Maha Pemaaf (al-‘Afuw), Maha Esa (al-Wāḥid), dan Maha Tempat Bergantung (al-Ṣamad) harus diwujudkan dalam sikap gemar memohon ampunan dan hanya bersandar kepada Allah Swt., lalu menutup pembelajaran dengan doa kafaratul majelis dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Tidak ada diferensiasi konten materi karena asesmen sumatif bab menggunakan instrumen dan standar capaian yang seragam untuk seluruh murid.
- Proses: Pemberian akomodasi akses berupa pembacaan ulang petunjuk soal secara perlahan bagi murid yang memerlukan dukungan pemahaman instruksi tanpa mengubah substansi soal atau kriteria penilaian.
- Produk: Format bukti sumatif tetap sama bagi seluruh murid sesuai acuan ATP: respons lisan al-Gaffār dan al-‘Afuw, lembar tertulis al-Wāḥid dan al-Ṣamad, serta lembar instrumen sikap.
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- kombinasi tes lisan bergiliran dan asesmen tertulis/penilaian diri-antarteman terpadu: rekaman respons lisan penjelasan arti al-Gaffār dan al-‘Afuw, lembar tes tertulis al-Wāḥid dan al-Ṣamad, serta lembar instrumen keyakinan/sikap (penilaian diri dan antarteman)
- tes lisan bergiliran: penjelasan lisan arti asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw secara bergantian ke meja guru berdurasi 1,5 menit per murid (45 menit / 1,5 menit = 30 murid, mencakup 28 murid satu kelas) (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lisan)
- tes tertulis serentak: lembar jawaban tertulis murid yang menjelaskan arti dan makna asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (35 menit; kelompok; instrumen: kunci jawaban dan pedoman penskoran)
- penilaian diri dan penilaian antarteman serentak: lembar refleksi penilaian diri memohon ampunan kepada Allah Swt. (al-Gaffār dan al-‘Afuw) serta lembar pengamatan antarteman mengenai sikap bertawakal dan mengesakan Allah Swt. (al-Wāḥid dan al-Ṣamad) yang diisi murid secara serentak (25 menit; kelompok; instrumen: lembar cek penilaian diri dan lembar skala penilaian antarteman)
Sumatif:- kombinasi tes lisan bergiliran dan asesmen tertulis/penilaian diri-antarteman terpadu: rekaman respons lisan penjelasan arti al-Gaffār dan al-‘Afuw, lembar tes tertulis al-Wāḥid dan al-Ṣamad, serta lembar instrumen keyakinan/sikap (penilaian diri dan antarteman)
- tes lisan bergiliran: penjelasan lisan arti asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw secara bergantian ke meja guru berdurasi 1,5 menit per murid (45 menit / 1,5 menit = 30 murid, mencakup 28 murid satu kelas) (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lisan)
- tes tertulis serentak: lembar jawaban tertulis murid yang menjelaskan arti dan makna asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (35 menit; kelompok; instrumen: kunci jawaban dan pedoman penskoran)
- penilaian diri dan penilaian antarteman serentak: lembar refleksi penilaian diri memohon ampunan kepada Allah Swt. (al-Gaffār dan al-‘Afuw) serta lembar pengamatan antarteman mengenai sikap bertawakal dan mengesakan Allah Swt. (al-Wāḥid dan al-Ṣamad) yang diisi murid secara serentak (25 menit; kelompok; instrumen: lembar cek penilaian diri dan lembar skala penilaian antarteman)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menjelaskan arti asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw (Tes Lisan) | Belum mampu menjelaskan arti al-Gaffār maupun al-‘Afuw secara tepat sesuai acuan (Acuan: al-Gaffār = Maha Pengampun/menutup dosa; al-‘Afuw = Maha Pemaaf/menghapus dosa). | Mampu menjelaskan arti salah satu asmaulhusna dengan tepat (hanya al-Gaffār atau hanya al-‘Afuw) sesuai acuan. | Mampu menjelaskan arti kedua asmaulhusna (al-Gaffār dan al-‘Afuw) secara tepat sesuai acuan dengan sedikit bimbingan pengulangan pertanyaan. | Mampu menjelaskan arti kedua asmaulhusna (al-Gaffār dan al-‘Afuw) secara lengkap, tepat, dan lancar tanpa keraguan sesuai acuan. | | Menjelaskan arti asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad (Tes Tertulis) | Jawaban tertulis belum tepat untuk kedua soal arti al-Wāḥid dan al-Ṣamad (Acuan: al-Wāḥid = Maha Esa/Tunggal tiada sekutu; al-Ṣamad = Maha Tempat Bergantung/Dibutuhkan). | Mampu menjelaskan arti 1 dari 2 asmaulhusna secara tepat sesuai kunci jawaban (hanya al-Wāḥid atau hanya al-Ṣamad). | Mampu menjelaskan arti kedua asmaulhusna (al-Wāḥid dan al-Ṣamad) secara tepat sesuai kunci jawaban. | Mampu menjelaskan arti kedua asmaulhusna (al-Wāḥid dan al-Ṣamad) secara tepat, lengkap beserta maknanya sesuai kunci jawaban. | | Meyakini asmaulhusna al-Gaffār dan al-‘Afuw melalui sikap memohon ampunan (Penilaian Diri) | Lembar penilaian diri menunjukkan kecenderungan 'Tidak Pernah' dalam membiasakan istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Swt. saat berbuat salah. | Lembar penilaian diri menunjukkan kecenderungan 'Jarang' dalam membiasakan istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Swt. saat berbuat salah. | Lembar penilaian diri menunjukkan kecenderungan 'Sering' dalam membiasakan istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Swt. saat berbuat salah. | Lembar penilaian diri menunjukkan kecenderungan 'Selalu' dalam membiasakan istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Swt. saat berbuat salah secara konsisten. | | Meyakini asmaulhusna al-Wāḥid dan al-Ṣamad dalam ketauhidan dan bersandar kepada Allah (Penilaian Antarteman) | Lembar penilaian antarteman mencatat murid 'Tidak Pernah' menunjukkan perilaku bersandar dan berdoa hanya kepada Allah Swt. | Lembar penilaian antarteman mencatat murid 'Jarang' menunjukkan perilaku bersandar dan berdoa hanya kepada Allah Swt. | Lembar penilaian antarteman mencatat murid 'Sering' menunjukkan perilaku bersandar dan berdoa hanya kepada Allah Swt. | Lembar penilaian antarteman mencatat murid 'Selalu' menunjukkan perilaku bersandar dan berdoa hanya kepada Allah Swt. dalam ketauhidan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu tes lisan bergiliran (1,5 menit per murid) terlaksana efektif untuk menjangkau seluruh murid di kelas?
- Bagaimana ketercapaian murid secara keseluruhan pada pemahaman arti dan penghayatan sikap terkait empat asmaulhusna di Bab 2 ini?
- Langkah tindak lanjut apa yang diperlukan untuk mendampingi murid yang belum mencapai ketuntasan pada tujuan pembelajaran bab ini?
Murid:- Bagian mana dari asesmen sumatif hari ini yang menurutmu paling mudah atau paling menantang untuk diselesaikan?
- Bagaimana pemahaman tentang al-Gaffār, al-‘Afuw, al-Wāḥid, dan al-Ṣamad membantumu untuk menjadi anak yang pemaaf dan selalu bersandar hanya kepada Allah Swt.?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek 2022)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek 2022)
- Kartu pembelajaran Asmaulhusna dan artinya (al-Gaffār dan al-‘Afuw)
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SD/MI Kelas VI, Kemendikbudristek RI 2022.
- Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SD/MI Kelas VI, Kemendikbudristek RI 2022.
- Al-Qur'an dan Terjemah Kementerian Agama RI (khususnya Surah al-Ikhlāṣ).
- Kartu pencocokan Asmaulhusna (al-Wāḥid dan al-Ṣamad beserta maknanya).
- Lembar studi kasus pengamalan ketauhidan dan tawakal.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek RI, 2022).
- Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek RI, 2022).
- Lembar instrumen tes lisan guru.
- Lembar tes tertulis murid.
- Lembar instrumen penilaian diri dan penilaian antarteman.
|