Modul AjarPertemuan 2Bab 4Fase BSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 3: Rukun, Sunnah, dan Hal yang Membatalkan Puasa serta Hafalan Niat dan Doa Berbuka

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas 3 dengan topik "Rukun, Sunnah, dan Hal yang Membatalkan Puasa serta Hafalan Niat dan Doa Berbuka". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 3: Rukun, Sunnah, dan Hal yang Membatalkan Puasa serta Hafalan Niat dan Doa Berbuka

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti - Kelas 3

Bab 4 - Pertemuan 2

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti — Kelas 3 (Fase B)

Topik: Rukun, Sunnah, dan Hal yang Membatalkan Puasa serta Hafalan Niat dan Doa Berbuka

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase B / Kelas 3
TopikRukun, Sunnah, dan Hal yang Membatalkan Puasa serta Hafalan Niat dan Doa Berbuka
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Melalui latihan hafalan, murid dapat menunjukkan hafalan niat puasa Ramadan dan doa berbuka puasa dengan lancar.
  2. Melalui kegiatan bercerita, murid dapat menceritakan pengalaman pelaksanaan puasa Ramadan dalam keluarga masing-masing dengan baik.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Siapa di antara kalian yang sudah pernah berpuasa Ramadan? Apa yang paling kalian ingat dari pengalaman puasa bersama keluarga?
  2. Kalau kalian sedang berpuasa, lalu tanpa sengaja minum seteguk air — apakah puasanya batal? Mengapa?
  3. Sebelum mulai berpuasa, kita membaca niat. Masih ingat niat puasa Ramadan? Ayo coba lafalkan dalam hati dulu!

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan mengajak murid berdoa bersama.
  • Guru mengecek kehadiran dan mengondisikan suasana kelas agar siap belajar.
  • Guru menyampaikan topik hari ini: 'Hari ini kita akan melatih hafalan niat puasa dan doa berbuka, lalu saling berbagi cerita pengalaman puasa di rumah.'
  • Asesmen Awal (diagnostik): Guru mengajukan pertanyaan lisan — 'Siapa yang masih ingat niat puasa Ramadan? Siapa yang sudah tahu doa berbuka?' Murid mengangkat tangan; guru mencatat gambaran awal kemampuan hafalan kelas.
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik untuk memancing rasa ingin tahu murid.
  • Guru menjelaskan alur kegiatan: hafalan bersama → latihan kelompok → bercerita → refleksi.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menampilkan tulisan Arab dan Latin niat puasa Ramadan di papan tulis atau kartu besar: 'Nawaitu shauma ghadin 'an adā'i fardhi syahri Ramaḍāna hāżihis-sanati lillāhi ta'ālā.' Guru membacakannya dengan tartil sambil menunjuk kata per kata.
  • Guru menjelaskan arti dan makna niat secara sederhana: 'Niat ini artinya kita berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadan tahun ini karena Allah.' Guru menekankan bahwa niat dilakukan dalam hati pada malam hari sebelum fajar.
  • Guru menampilkan doa berbuka puasa: 'Allāhumma laka shumtu wa bika āmantu wa 'alā rizqika aftartu, birrahmatika yā arhamar-rāhimīn.' Guru membacakannya dan menjelaskan artinya: 'Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Penyayang.'
  • Guru mengajak murid membaca kedua teks bersama-sama tiga kali secara klasikal, perlahan dan jelas. (Prinsip Berkesadaran: murid diminta memperhatikan makna setiap kata, bukan sekadar menghafal bunyi.)
  • Guru memberikan waktu 2 menit untuk murid membaca sendiri dalam hati dan mencoba mengingat-ingat lafal serta artinya. (Prinsip Bermakna: menghubungkan hafalan dengan praktik nyata saat Ramadan di rumah.)

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi kelas menjadi kelompok kecil 4–5 orang. Setiap kelompok mendapat satu kartu lafal (teks niat dan doa berbuka) dan satu kartu petunjuk giliran.
  • Kegiatan Hafalan Bergiliran: dalam kelompok, setiap anggota melafal niat puasa dan doa berbuka secara bergantian tanpa melihat teks. Anggota lain menyimak dan memberi tanda centang di kartu pantau kelompok jika temannya hafal lancar.
  • Jika ada anggota yang masih terbata-bata, anggota kelompok lain boleh membisikkan kata pertama sebagai clue, lalu mencoba lagi. (Prinsip Menggembirakan: suasana saling mendukung, bukan saling menghakimi.)
  • Guru berkeliling, mendengarkan, dan memberikan umpan balik langsung kepada kelompok — mengoreksi makhraj atau urutan kata yang keliru dengan cara yang menyenangkan, misalnya 'Hampir sempurna! Kata ketiganya apa ya? Ayo coba sekali lagi!'
  • Kegiatan Bercerita (TP 3.4.2.2): Setelah hafalan, guru meminta setiap murid memikirkan satu cerita singkat tentang pengalaman puasa di keluarganya — boleh tentang sahur, buka bersama, tarawih, atau momen spesial lainnya.
  • Setiap murid bercerita kepada teman satu kelompok (1–2 menit per anak). Teman yang mendengarkan diajak menyimak dengan penuh hormat dan boleh bertanya satu pertanyaan setelah giliran bercerita selesai. (Prinsip Bermakna: cerita nyata dari keluarga membuat materi puasa terasa hidup dan relevan.)
  • Guru memilih 2–3 murid sukarela untuk berbagi ceritanya kepada seluruh kelas.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid duduk tenang sejenak (1 menit) dan merenungkan: 'Tadi kita sudah berlatih hafalan niat dan doa berbuka. Kalau nanti Ramadan tiba, kapan dan bagaimana kalian akan menggunakannya?'
  • Murid menuliskan atau menggambar di buku catatannya: (a) satu hal yang sudah mereka hafal hari ini, dan (b) satu cerita puasa keluarga yang paling berkesan.
  • Guru memandu diskusi singkat kelas: 'Apa yang membuat kalian semangat berpuasa? Bagaimana niat yang kita ucapkan membantu kita kuat berpuasa seharian?' (Prinsip Berkesadaran: mengaitkan hafalan dengan motivasi dan nilai ibadah.)
  • Murid mengisi kartu refleksi diri singkat (dapat lisan atau tertulis): 'Aku sudah bisa hafal niat puasa: Ya/Belum. Aku sudah bisa hafal doa berbuka: Ya/Belum. Aku sudah bercerita pengalaman puasaku: Ya/Belum.' Kartu ini dikumpulkan sebagai bahan asesmen proses guru.

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran: niat puasa diucapkan dalam hati malam hari, doa berbuka dibaca saat waktu buka tiba, dan keduanya adalah bagian penting dari ibadah puasa yang benar.
  • Guru melakukan asesmen akhir lisan: menunjuk 3–4 murid secara acak untuk melafalkan niat puasa atau doa berbuka tanpa melihat teks.
  • Guru memberikan apresiasi kepada seluruh kelas atas semangat berlatih dan bercerita hari ini.
  • Guru menyampaikan pesan moral: 'Hafalan yang kita latih hari ini adalah bekal nyata untuk Ramadan. Latih lagi di rumah bersama ayah, ibu, atau kakak ya!'
  • Guru memberikan tugas rumah ringan: lafalkan niat puasa dan doa berbuka kepada satu anggota keluarga di rumah, lalu minta anggota keluarga itu menandatangani buku penghubung sebagai bukti.
  • Pembelajaran ditutup dengan membaca hamdalah bersama dan salam.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang sudah hafal lancar diberikan tantangan tambahan: menghafalkan doa berbuka versi lengkap atau mencari tahu satu sunnah puasa tambahan dari orang tua/buku untuk diceritakan di pertemuan berikutnya.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan menghafal diberi kartu kecil bertulisan niat dan doa berbuka (dengan tanda baca harakat lengkap) yang boleh dipegang selama latihan kelompok, dan mendapat giliran terakhir dalam kelompok agar punya lebih banyak waktu menyimak sebelum mencoba sendiri.
  • Produk: Murid yang sudah mahir boleh merekam hafalan mereka (video pendek) untuk dibawa pulang dan ditunjukkan kepada keluarga. Murid yang belum lancar cukup menunjukkan hafalan di depan kelompok kecilnya, tidak diwajibkan di depan kelas.

ASESMEN

Awal:

  • Guru mengajukan pertanyaan lisan di pendahuluan: 'Siapa yang masih ingat niat puasa Ramadan? Siapa yang sudah tahu doa berbuka?' Murid mengangkat tangan; guru mencatat gambaran awal kemampuan hafalan kelas secara cepat (siapa sudah hafal, siapa belum) tanpa memberi nilai — hanya sebagai dasar pengelompokan dan penyesuaian pembelajaran.

Proses:

  • Observasi langsung saat latihan hafalan bergiliran dalam kelompok — guru berkeliling dan mencatat kelancaran hafalan tiap murid pada lembar pantau.
  • Kartu pantau kelompok yang diisi oleh murid sebagai asesmen sejawat (peer assessment) selama kegiatan kelompok.
  • Pengamatan saat kegiatan bercerita: guru menilai kemampuan murid menceritakan pengalaman puasa (isi cerita, kepercayaan diri, dan kemampuan menjawab pertanyaan teman).
  • Kartu refleksi diri yang diisi murid di akhir tahap Merefleksi — digunakan guru sebagai umpan balik untuk tindak lanjut.

Akhir:

  • Unjuk kerja hafalan individual: guru menunjuk 3–4 murid secara acak untuk melafalkan niat puasa Ramadan dan/atau doa berbuka tanpa teks di depan kelas — dinilai menggunakan rubrik hafalan.
  • Tugas rumah sebagai bukti unjuk kerja lanjutan: murid melafalkan hafalan kepada anggota keluarga dan membawa buku penghubung bertanda tangan sebagai konfirmasi pada pertemuan berikutnya.

Formatif:

  • Observasi guru saat murid berlatih hafalan dalam kelompok — guru mencatat nama murid yang sudah lancar dan yang masih perlu bimbingan.
  • Kartu pantau kelompok: setiap anggota kelompok memberi tanda pada kartu apakah temannya hafal niat dan doa berbuka (centang = lancar, tanda tanya = perlu latihan lagi).
  • Kartu refleksi diri murid (Ya/Belum) yang dikumpulkan di akhir kegiatan inti.

Sumatif:

  • Unjuk kerja lisan: murid melafalkan niat puasa Ramadan dan doa berbuka puasa secara individual tanpa teks — dinilai dengan rubrik 4 level.
  • Penilaian bercerita: murid menceritakan pengalaman puasa Ramadan di keluarganya — dinilai dari kelancaran, isi cerita, dan kepercayaan diri berdasarkan rubrik 4 level.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Hafalan Niat Puasa RamadanMurid belum dapat melafalkan niat puasa meskipun dengan bantuan teks atau clue dari guru/teman.Murid dapat melafalkan niat puasa dengan banyak bantuan (melihat teks atau dibantu kata demi kata oleh teman/guru), lafal belum tepat.Murid dapat melafalkan niat puasa tanpa teks dengan sedikit kesalahan atau jeda panjang, makna dasar dipahami.Murid dapat melafalkan niat puasa Ramadan dengan lancar, tartil, dan tepat tanpa teks, serta mampu menyebutkan artinya.
Hafalan Doa Berbuka PuasaMurid belum dapat melafalkan doa berbuka meskipun dengan bantuan teks atau clue.Murid dapat melafalkan doa berbuka dengan banyak bantuan (melihat teks atau diingatkan kata demi kata), lafal belum tepat.Murid dapat melafalkan doa berbuka tanpa teks dengan sedikit kesalahan atau jeda, makna dasar dipahami.Murid dapat melafalkan doa berbuka dengan lancar, tartil, dan tepat tanpa teks, serta mampu menyebutkan artinya.
Kemampuan Bercerita Pengalaman Puasa RamadanMurid tidak dapat menceritakan pengalaman puasa meskipun dengan pertanyaan pancingan dari guru.Murid dapat menceritakan pengalaman puasa dengan sangat singkat (1–2 kalimat) dan memerlukan banyak pertanyaan pancingan dari guru.Murid dapat menceritakan pengalaman puasa Ramadan dalam keluarganya dengan cukup jelas (3–4 kalimat) dan cukup runtut meski sesekali perlu dorongan.Murid dapat menceritakan pengalaman puasa Ramadan dalam keluarganya dengan lancar, runtut, dan detail (5 kalimat atau lebih), serta merespons pertanyaan teman dengan baik.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid mendapat kesempatan berlatih hafalan secara aktif hari ini? Jika tidak, apa yang perlu disesuaikan?
  • Murid mana yang terlihat kesulitan menghafal? Dukungan apa yang akan saya berikan pada pertemuan berikutnya?
  • Apakah suasana belajar hari ini menggembirakan dan membuat murid merasa aman untuk mencoba meski belum hafal?
  • Apakah kegiatan bercerita berhasil menghubungkan materi puasa dengan pengalaman nyata murid di keluarga?

Refleksi Murid:

  • Hari ini aku sudah bisa hafal niat puasa dan doa berbuka: sudah lancar / masih perlu latihan lagi.
  • Satu hal yang paling aku ingat dari pelajaran hari ini adalah ...
  • Cerita puasa dari temanku yang paling menarik adalah cerita tentang ...
  • Di rumah nanti, aku akan melafalkan hafalan ini kepada ... (sebutkan nama anggota keluarga).

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek 2022), Bab IV 'Aku Bangga Mampu Berpuasa' — karya Moh. Ghozali & Erwin Wasti, ISBN 978-602-244-670-5.
  2. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek 2022) — karya Moh. Ghozali & Erwin Wasti, ISBN 978-602-244-673-6.
  3. Kartu lafal niat puasa Ramadan (tulisan Arab + Latin + arti) — dibuat oleh guru, dicetak ukuran A5.
  4. Kartu lafal doa berbuka puasa (tulisan Arab + Latin + arti) — dibuat oleh guru, dicetak ukuran A5.
  5. Kartu pantau kelompok (lembar asesmen sejawat hafalan) — dibuat oleh guru.
  6. Kartu refleksi diri murid (isian Ya/Belum) — dibuat oleh guru.
  7. Papan tulis atau media tayang (proyektor/layar) untuk menampilkan teks niat dan doa berbuka.
  8. Buku penghubung murid (untuk konfirmasi tugas hafalan bersama keluarga di rumah).

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.