MODUL AJAR Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti — Kelas 7 (Fase D) Topik: Bab 5 — Peninggalan Sejarah Agama Hindu di Indonesia INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti |
|---|
| Fase / Kelas | Fase D / Kelas 7 |
|---|
| Topik | Bab 5 — Peninggalan Sejarah Agama Hindu di Indonesia |
|---|
| Alokasi Waktu | 20 JP (20 x 40 menit = 800 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 10 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 7.5.1 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Kalimantan
- TP 7.5.2 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Barat
- TP 7.5.3 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Tengah
- TP 7.5.4 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Timur
- TP 7.5.5 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Bali
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa agama Hindu telah berkembang di Nusantara sejak abad ke-4 Masehi di Kalimantan?
- Pelajaran berharga apa dari prasasti Yupa Muarakaman masa Raja Mulawarman yang relevan bagi kehidupan beragama kita saat ini?
- Mengapa pada prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara dipahatkan telapak kaki Raja Purnawarman yang disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu?
- Nilai keteladanan kepemimpinan bernapaskan ajaran Hindu apa yang dapat kita refleksikan dari pembangunan Sungai Gomati dan Candrabhaga dalam Prasasti Tugu?
- Mengapa Candi Prambanan yang bercorak Hindu dibangun berdampingan dalam jarak dekat dengan Candi Sewu yang bercorak Buddha di wilayah Jawa Tengah?
- Pelajaran berharga apa mengenai kerukunan dan pemujaan yang dapat kita petik dari keberadaan Candi Prambanan dan Candi Sewu bagi kehidupan kita hari ini?
- Mengapa candi-candi Hindu seperti kompleks Candi Dieng dan Candi Gedongsongo banyak didirikan di daerah dataran tinggi atau pegunungan?
- Nilai spiritual dan sejarah apa yang dapat kita refleksikan dari keberadaan Candi Dieng dan Candi Gedongsongo bagi kehidupan umat Hindu saat ini?
- Mengapa simbol trisula, kendi, dan cakra pada Prasasti Tukmas membuktikan pemujaan Tri Murti di Jawa Tengah kuno?
- Apa makna candrasangkala 'Sruti Indra Rasa' pada Prasasti Canggal bagi pemahaman kita mengenai perkembangan agama Hindu di Nusantara?
- Bagaimana keberadaan Candi Penataran dan Candi Singasari di Jawa Timur membuktikan kesinambungan pemujaan keagamaan Hindu dari masa klasik hingga saat ini?
- Pelajaran berharga apa mengenai nilai-nilai keagamaan Hindu yang dapat kita refleksikan dari fungsi Candi Singasari dan Candi Penataran?
- Apa pesan spiritual yang dapat kita petik dari keberadaan Candi Kidal dan Candi Jago di Jawa Timur?
- Bagaimana Prasasti Dinoyo membuktikan bahwa ajaran Hindu telah berakar kuat dan menjiwai kepemimpinan raja di Jawa Timur?
- Mengapa Pura Besakih dijuluki sebagai 'Pura Ibu' (Mother Temple) dalam sejarah perkembangan agama Hindu di Bali?
- Pesan spiritual dan sejarah apa yang dapat kita refleksikan dari keberadaan Pura Besakih serta kompleks candi di Bali terhadap kelestarian ajaran Hindu saat ini?
- Mengapa penemuan Prasasti Blanjong di Sanur menjadi bukti tertulis paling awal dimulainya pengaruh peradaban Hindu dan wangsa Warmadewa di Bali?
- Nilai spiritual dan kearifan apa yang dapat kita refleksikan dari kesucian mata air Pura Tirta Empul serta kemegahan Candi Tebing Gunung Kawi peninggalan masa Raja Anak Wungsu?
- Bagaimana bukti sejarah berupa prasasti dan candi membuktikan bahwa ajaran Hindu telah mengakar dan berkembang harmonis di Nusantara dari Kalimantan hingga Bali?
- Pelajaran berharga dan nilai spiritual apa yang dapat kita refleksikan dalam kehidupan beragama saat ini dari peninggalan leluhur Hindu di berbagai wilayah Indonesia?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Merefleksikan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Asia melalui Peninggalan Yupa dan Prasasti Muarakaman di Kalimantan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.1 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Kalimantan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam panganjali 'Om Swastyastu', doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Nusantara/Asia melalui peninggalan Yupa dan Prasasti Muarakaman di Kalimantan Timur (2 menit).
- Asesmen Awal (Diagnostik): Guru mengajukan 2 pertanyaan diagnostik lisan untuk memetakan kesiapan murid tentang bukti sejarah Hindu di Kalimantan: (1) 'Batu bertulis peninggalan Kerajaan Kutai yang berfungsi sebagai tiang penambat hewan kurban dan peringatan persembahan disebut apa?' (acuan jawaban: Yupa); (2) 'Siapakah nama raja Kutai yang terkenal sangat dermawan mempersembahkan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana di lapangan suci Waprakeswara?' (acuan jawaban: Raja Mulawarman) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mengamati gambar replika prasasti Yupa Muarakaman dan menyimak teks ringkas mengenai isi Yupa Muarakaman (menyebut silsilah Kudungga-Aswawarman-Mulawarman, persembahan 20.000 ekor sapi, dan pemujaan di lapangan suci Waprakeswara untuk Dewa Siwa) (10 menit).
- Guru memandu murid menelaah 3 bukti sejarah utama dalam prasasti Yupa yang menunjukkan masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu dari India ke Kalimantan: aksara Pallawa, bahasa Sanskerta, dan sebutan Waprakeswara (aliran Siwa) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid bermain tantangan tebak kartu 'Detektif Yupa' secara berpasangan untuk mengidentifikasi 4 fakta sejarah Yupa: kartu 1 'Bentuk peninggalan' -> 'Tiang batu bertulis/tugu kurban'; kartu 2 'Wilayah penemuan' -> 'Muarakaman, Sungai Mahakam, Kalimantan Timur'; kartu 3 'Tokoh dermawan' -> 'Raja Mulawarman'; kartu 4 'Tempat suci pemujaan Siwa' -> 'Waprakeswara' (15 menit).
- Murid secara individu mengerjakan Lembar Kerja Reflektif dengan menuliskan analisis hubungan antara isi prasasti Yupa dengan nilai kemurahan hati/yadnya dalam ajaran Hindu (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid merumuskan refleksi tertulis pada buku tugas mengenai makna sejarah peninggalan Yupa Muarakaman bagi penguatan keyakinan (sradha) dan pengamalan nilai kedermawanan/yadnya (dana punya) dalam kehidupan beragama saat ini (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran bahwa peninggalan Yupa Muarakaman di Kalimantan membuktikan kejayaan sejarah Hindu di Nusantara yang mengajarkan nilai ketakwaan dan kedermawanan (5 menit).
- Guru memberikan penguatan cek pemahaman singkat dan menutup pelajaran dengan doa Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks ringkas dengan penanda visual (highlight kata kunci: Yupa, Kutai, Mulawarman, Waprakeswara), sedangkan murid cepat membaca teks kutipan terjemahan Prasasti Muarakaman secara utuh.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu dengan scaffolding berupa pertanyaan pemandu bertahap saat menyusun refleksi, sedangkan murid mahir langsung menuliskan refleksi kritis mandiri.
- Produk: Refleksi dituangkan dalam 1 paragraf terstruktur untuk murid berkembang, atau dilengkapi perbandingan nilai kedermawanan masa lalu dan masa kini untuk murid mahir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik 1: 'Batu bertulis peninggalan Kerajaan Kutai yang berfungsi sebagai tiang penambat hewan kurban dan peringatan persembahan disebut apa?' (acuan: Yupa).
- Pertanyaan diagnostik 2: 'Siapakah nama raja Kutai yang terkenal sangat dermawan mempersembahkan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana di lapangan suci Waprakeswara?' (acuan: Raja Mulawarman).
Proses:- Tantangan 4 kartu fakta sejarah peninggalan Kutai: (1) Bentuk fisik -> Tiang batu/Yupa, (2) Lokasi -> Muarakaman/Kalimantan Timur, (3) Nama Raja -> Mulawarman, (4) Tempat suci pemujaan Siwa -> Waprakeswara.
- Pemeriksaan lembar kerja telaah isi prasasti Yupa Muarakaman mengenai bukti perkembangan agama Hindu di Kalimantan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman reflektif (pertanyaan lisan/tulis singkat): 'Jelaskan 1 nilai luhur yang dapat kalian petik dari persembahan Raja Mulawarman pada prasasti Yupa untuk diterapkan dalam beragama saat ini!' (kriteria penerimaan: memuat nilai kedermawanan/keikhlasan/dana punya/yadnya yang dikaitkan dengan perilaku nyata menghormati sesama atau memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan 2 butir pada pendahuluan
- Aktivitas lembar kerja dan telaah kartu 'Detektif Yupa'
- Penilaian catatan refleksi tertulis sejarah peninggalan Hindu di Kalimantan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu melalui peninggalan Yupa di Kalimantan | Belum mampu mengaitkan peninggalan Yupa Muarakaman dengan bukti sejarah masuknya Hindu di Kalimantan dan belum menunjukkan refleksi nilai. | Mampu menyebutkan fakta peninggalan Yupa di Kalimantan (nama kerajaan/raja), namun belum mampu merefleksikan maknanya bagi perkembangan agama Hindu. | Mampu menjelaskan kaitan peninggalan prasasti Yupa dengan perkembangan agama Hindu di Kalimantan serta merefleksikan nilai yadnya/kedermawanan Raja Mulawarman secara tepat. | Mampu secara mandiri dan mendalam merefleksikan bukti historis Yupa di Kalimantan serta mengontekstualisasikan nilai-nilai luhur ajaran Hindu di dalamnya bagi kehidupan beragama saat ini secara komprehensif. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan gambar Yupa dan permainan kartu 'Detektif Yupa' efektif membangkitkan pemahaman murid tentang sejarah Hindu di Kalimantan?
- Apakah seluruh murid sudah mampu menuliskan refleksi nilai bermakna dari sejarah peninggalan Yupa Muarakaman?
Murid:- Hal baru apa yang paling menarik yang kamu pelajari tentang peninggalan sejarah prasasti Yupa di Kalimantan hari ini?
- Nilai keteladanan apa dari Raja Mulawarman yang ingin kamu teladani dalam kehidupan sehari-hari?
Pertemuan 2 — Merefleksikan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Asia melalui Prasasti Tarumanegara di Jawa Barat — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.2 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Barat
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', doa belajar, dan memeriksa kehadiran murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia/Indonesia melalui peninggalan prasasti Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan singkat untuk memetakan kesiapan murid terkait peninggalan Hindu di Jawa Barat (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mengamati gambar tayangan 4 prasasti Kerajaan Tarumanegara (Prasasti Ciaruteun, Kebonkopi I, Tugu, dan Jambu) serta membaca ringkasan transkripsinya pada Buku Siswa (10 menit).
- Murid menyimak penjelasan guru mengenai konteks sejarah pemujaan Dewa Wisnu (aliran Waisnawa) pada masa Raja Purnawarman di Jawa Barat sebagai bukti perkembangan agama Hindu di Nusantara dan Asia Tenggara (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid membentuk kelompok berpasangan untuk mengikuti 'Tantangan Detektif Prasasti' yang menggembirakan: mencocokkan 4 kartu kutipan isi/simbol prasasti dengan 4 kartu makna reflektif perkembangan agama Hindu yang disediakan guru (15 menit).
- Setiap pasangan menuliskan lembar telaah reflektif yang menguraikan keterkaitan antara bukti prasasti (penghormatan pada Dewa Wisnu dan persembahan 1.000 ekor sapi) dengan nilai dharma kepemimpinan Hindu masa kini (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara individu menuliskan satu butir perenungan reflektif pribadi di lembar refleksi: 'Makna apa yang saya petik dari kedermawanan dan perlindungan Raja Purnawarman berlandaskan ajaran Hindu untuk diterapkan dalam pergaulan sehari-hari?' (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai bukti historis dan corak Waisnawa perkembangan Hindu di Jawa Barat melalui peninggalan prasasti Tarumanegara (5 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir singkat (umpan balik reflektif 1 butir pertanyaan tertulis), menyampaikan gambaran topik pertemuan berikutnya tentang Candi Prambanan dan Sewu, lalu menutup dengan doa parama santih 'Om Santih Santih Santih Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan berisi kosakata kunci arti prasasti; murid yang cepat diberikan teks telaah komparasi antara Prasasti Tugu dan Prasasti Ciaruteun.
- Proses: Pada aktivitas memasangkan kartu reflektif, guru mendampingi kelompok yang membutuhkan perancah konseptual, sementara murid yang mahir merefleksikan makna simbolis tapak kaki gajah Airawata secara mandiri.
- Produk: Murid dapat menuangkan refleksi dalam bentuk catatan poin analitis atau paragraf uraian reflektif sesuai preferensi belajar.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan awal: (1) Sebutkan nama kerajaan Hindu tertua di wilayah Jawa Barat yang kalian ketahui! (acuan jawaban: Kerajaan Tarumanegara); (2) Sebutkan minimal 2 nama prasasti peninggalan Tarumanegara! (acuan jawaban: memilih 2 dari daftar: Prasasti Ciaruteun, Prasasti Tugu, Prasasti Kebonkopi, Prasasti Jambu, Prasasti Cidanghiang/Munjul, Prasasti Pasir Awi, Prasasti Muara Cianten).
Proses:- Formatif telaah 'Tantangan Detektif Prasasti' mencocokkan 4 kartu simbol/isi prasasti dengan maknanya. Daftar 4 kartu target dan pasangannya: (1) Kartu A: 'Tapak kaki menyerupai tapak kaki Wisnu pada Prasasti Ciaruteun' -> Pasangan 1: 'Refleksi corak keagamaan pemujaan Dewa Wisnu pelindung dunia'; (2) Kartu B: 'Penggalian Sungai Gomati sepanjang 6.122 busur dan sedekah 1.000 sapi pada Prasasti Tugu' -> Pasangan 2: 'Refleksi kepemimpinan berbasis dharma yajna dan kesejahteraan rakyat'; (3) Kartu C: 'Cetakan telapak kaki Airawata pada Prasasti Kebonkopi I' -> Pasangan 3: 'Refleksi kekuatan dan kejayaan wahana dewa dalam kosmologi Hindu'; (4) Kartu D: 'Pujian kegagahan Raja Purnawarman laksana baju zirah yang tak tertembus pada Prasasti Jambu' -> Pasangan 4: 'Refleksi ksatria dharma pembela kebenaran'.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis akhir: Murid menjawab 1 pertanyaan reflektif: 'Bagaimanakah isi Prasasti Ciaruteun dan Tugu membuktikan bahwa ajaran agama Hindu berkembang pesat dan diterapkan nyata dalam kehidupan sosial Kerajaan Tarumanegara?' (Kriteria penerimaan: jawaban tepat apabila memuat minimal dua fakta historis-reflektif: (1) bukti corak Waisnawa melalui pengagungan Dewa Wisnu/tapak kaki Wisnu pada Ciaruteun, dan (2) praktik yajna/dharma kepada kaum brahmana serta proyek penggalian sungai untuk kesejahteraan rakyat pada Prasasti Tugu).
Formatif:- Penilaian tanya jawab diagnostik awal kesiapan materi peninggalan Jawa Barat
- Penilaian unjuk kerja telaah pasangan kartu refleksi bukti sejarah Prasasti Tarumanegara
- Catatan refleksi perenungan pribadi nilai kepemimpinan Hindu Raja Purnawarman
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kemampuan merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu melalui prasasti Tarumanegara di Jawa Barat | Murid belum mampu mengaitkan fakta isi prasasti Tarumanegara dengan corak dan nilai perkembangan agama Hindu, memerlukan bimbingan penuh. | Murid mampu mengaitkan 1 sampai 2 bukti prasasti Tarumanegara (misalnya tapak kaki Wisnu pada Prasasti Ciaruteun) dengan perkembangan corak keagamaan Hindu dengan bantuan guru. | Murid mampu merefleksikan dengan tepat 3 sampai 4 bukti prasasti Tarumanegara (corak pemujaan Wisnu, pelaksanaan yajna, kepemimpinan dharma) dengan perkembangan sejarah agama Hindu di Jawa Barat secara runtut. | Murid mampu merefleksikan seluruh 4 bukti prasasti Tarumanegara secara mandiri, komprehensif, serta menghubungkan nilai kedermawanan dan perlindungan dharma tersebut ke dalam konteks kehidupan masa kini secara mendalam. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat menangkap esensi nilai ajaran Hindu di balik peninggalan prasasti batu tanpa sekadar menghafal namanya?
- Bagian langkah manakah pada tahap Mengaplikasi yang paling efektif membangkitkan keaktifan berpikir kritis murid?
Murid:- Hal baru apa yang saya pelajari tentang corak agama Hindu di Jawa Barat melalui prasasti peninggalan Raja Purnawarman?
- Nilai kebaikan apa dari prasasti Kerajaan Tarumanegara yang paling berkesan dan ingin saya tiru dalam bersikap kepada sesama?
Pertemuan 3 — Merefleksikan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Asia melalui Peninggalan Candi Prambanan dan Candi Sewu di Jawa Tengah — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.3 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Tengah
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', memimpin doa belajar, dan memeriksa kehadiran murid (4 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid menjawab 2 pertanyaan pemetaan mengenai corak dan letak Candi Prambanan dan Candi Sewu (acuan jawaban: Prambanan = Hindu pemujaan Siwa/Trimurti; Sewu = Buddha Mahayana; keduanya berada berdampingan di perbatasan Sleman-Klaten/Jawa Tengah) (6 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid secara berpasangan mengamati infografis dan teks narasi sejarah Dinasti Sanjaya dan Rakai Pikatan mengenai pembangunan Candi Prambanan (kompleks Trimurti/Siwa) serta relasinya dengan Candi Sewu (candi Buddha yang dibangun bersamaan secara damai) (10 menit).
- Murid memainkan kuis cepat 'Kartu Cocok Fakta Candi' untuk memilah 4 fakta sejarah Candi Prambanan dan Candi Sewu: (1) Candi Prambanan dibangun atas prakarsa Rakai Pikatan sebagai persembahan Trimurti khususnya Siwa; (2) Candi Sewu berlatar belakang agama Buddha Mahayana; (3) Letak Candi Prambanan dan Candi Sewu berdekatan membuktikan relasi harmonis dua tradisi keagamaan di Jawa Tengah; (4) Candi Prambanan memiliki relief Ramayana dan Krishnayana (acuan: butir 1, 3, 4 ciri/fakta Prambanan dan harmoni; butir 2 ciri Sewu) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid berkolaborasi dalam kelompok kecil (3-4 orang) mengisi Lembar Kerja Analisis Bukti Sejarah untuk menelaah 3 aspek historis Candi Prambanan dan Candi Sewu: (1) Latar belakang keagamaan pembangunan Candi Prambanan; (2) Bukti toleransi dan koeksistensi damai antara penganut Hindu dan Buddha melalui kedekatan fisik Prambanan-Sewu; (3) Perkembangan pemujaan Siwa di Jawa Tengah masa Dinasti Sanjaya (20 menit).
- Setiap kelompok mencocokkan hasil analisis historisnya dengan kelompok lain dipandu guru untuk memvalidasi ketepatan data peninggalan sejarah Jawa Tengah (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara hening dan berkesadaran penuh menuliskan 1 paragraf refleksi pribadi di lembar refleksi: memaknai nilai toleransi dan keteguhan iman yang diwariskan oleh peninggalan Candi Prambanan dan Candi Sewu dalam konteks kehidupan beragama di era sekarang (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran mengenai Candi Prambanan dan Candi Sewu sebagai tonggak sejarah perkembangan agama Hindu yang harmonis di Jawa Tengah (6 menit).
- Guru memberikan umpan balik, menyampaikan gambaran materi pertemuan berikutnya (Candi Dieng dan Candi Gedongsongo), dan menutup pembelajaran dengan Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (4 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja berpemandu tabel fakta terstruktur Candi Prambanan vs Candi Sewu; murid yang lebih cepat diberikan teks referensi tambahan mengenai peranan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani.
- Proses: Pada tahap analisis, murid yang membutuhkan bimbingan didampingi secara berkala oleh guru, sedangkan murid yang cepat diarahkan menggali refleksi nilai toleransi sejarah secara mandiri.
- Produk: Refleksi tertulis dapat berupa narasi reflektif terstruktur dengan panduan pertanyaan pemantik (untuk murid yang butuh bimbingan) atau uraian refleksi mendalam disertai analogi kehidupan nyata (untuk murid yang mahir).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan di awal pembelajaran: (1) 'Apa corak keagamaan dari Candi Prambanan dan Candi Sewu?' (acuan jawaban: Candi Prambanan bercorak Hindu, Candi Sewu bercorak Buddha); (2) 'Di manakah peninggalan kedua candi tersebut berada?' (acuan jawaban: di wilayah Jawa Tengah / perbatasan Sleman-Klaten).
Proses:- Observasi formatif saat pengerjaan kuis cepat 'Kartu Cocok Fakta Candi' dan pengisian Lembar Kerja Analisis Bukti Sejarah Candi Prambanan dan Candi Sewu (memeriksa ketepatan murid dalam mengidentifikasi latar belakang Dinasti Sanjaya/Rakai Pikatan, Trimurti, dan bukti toleransi).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir berupa penelaahan lembar refleksi: murid menuliskan refleksi perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah melalui peninggalan Candi Prambanan dan hubungannya dengan Candi Sewu (kriteria penerimaan: memuat minimal 1 bukti fakta sejarah candi dan 1 rumusan makna/nilai toleransi keagamaan yang relevan bagi kehidupan sehari-hari).
Formatif:- Penilaian kinerja diskusi dan pengerjaan Lembar Kerja Analisis Bukti Sejarah Candi Prambanan dan Candi Sewu
- Penilaian lembar refleksi pribadi mengenai nilai sejarah perkembangan Hindu dan toleransi peninggalan Jawa Tengah
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Merefleksikan perkembangan agama Hindu melalui Candi Prambanan dan Candi Sewu | Belum mampu mengaitkan fakta sejarah Candi Prambanan dan Candi Sewu dengan perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah serta belum memunculkan refleksi nilai toleransi. | Mampu menyebutkan fakta fisik Candi Prambanan dan Candi Sewu, namun belum mampu merefleksikan maknanya terhadap sejarah perkembangan keagamaan dan toleransi di Jawa Tengah. | Mampu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah dengan menguraikan latar belakang Candi Prambanan serta nilai harmoni bersama Candi Sewu secara tepat sesuai fakta sejarah. | Mampu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah secara mendalam, mengaitkan koeksistensi Candi Prambanan dan Candi Sewu dengan bukti historis yang runtut serta menarik kesimpulan nilai harmoni bagi kehidupan masa kini secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran kontekstual berhasil membantu murid memahami relasi harmonis antara Candi Prambanan dan Candi Sewu?
- Apakah alokasi waktu 80 menit cukup bagi seluruh murid untuk merumuskan refleksi nilai sejarah secara mendalam?
Murid:- Nilai keteladanan apa yang paling berkesan bagi saya setelah mengetahui bahwa Candi Prambanan dan Candi Sewu dibangun berdampingan secara damai?
- Bagaimana saya menerapkan nilai saling menghormati perbedaan agama di lingkungan sekolah seperti yang dicontohkan para leluhur di Jawa Tengah?
Pertemuan 4 — Merefleksikan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Asia melalui Peninggalan Candi Dieng dan Candi Gedongsongo di Jawa Tengah — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.3 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Tengah
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali 'Om Swastyastu', doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: (1) Di provinsi manakah letak Dataran Tinggi Dieng dan Gunung Ungaran tempat Candi Gedongsongo berada? (acuan: Jawa Tengah); (2) Berdasarkan corak keagamaannya, beraliran apakah Candi Dieng dan Candi Gedongsongo? (acuan: Hindu Siwa/aliran Siwa) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4, yaitu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan Candi Dieng dan Candi Gedongsongo di Jawa Tengah, serta mengaitkannya dengan kesadaran menjaga warisan spiritual leluhur (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid mengamati gambar Candi Arjuna di Dieng dan Candi Gedongsongo di lereng Gunung Ungaran yang ditampilkan guru, lalu menyimak penjelasan ringkas tentang latar belakang sejarah pembangunan candi Hindu abad ke-8 hingga ke-9 Masehi yang bercorak Siwaistis (10 menit).
- Murid secara berpasangan mengikuti kuis cepat 'Teka-Teki Candi Jawa Tengah' dengan mencocokkan 4 kartu fakta sejarah: (1) 'Kompleks candi di dataran tinggi Banjarnegara beraliran Siwa dengan nama tokoh pewayangan' -> dipasangkan ke 'Candi Dieng'; (2) 'Kelompok sembilan bangunan candi di lereng Gunung Ungaran Semarang' -> dipasangkan ke 'Candi Gedongsongo'; (3) 'Fungsi utama pendirian candi di tempat tinggi' -> dipasangkan ke 'Tempat pemujaan Dewa Siwa yang disucikan dan mendekatkan diri ke kahyangan'; (4) 'Dewa utama yang dipuja di Dieng dan Gedongsongo' -> dipasangkan ke 'Dewa Siwa' (acuan pasangan: 1-Candi Dieng, 2-Candi Gedongsongo, 3-Tempat pemujaan Dewa Siwa di tempat tinggi, 4-Dewa Siwa) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid secara mandiri membaca lembar studi kasus mengenai kondisi pelestarian Candi Dieng (batu rontok dan retakan) serta Candi Gedongsongo untuk menganalisis makna historis dan keagamaan candi-candi tersebut (15 menit).
- Murid menyusun telaah reflektif tertulis pada Lembar Refleksi Perkembangan Hindu Jawa Tengah yang memuat 3 aspek: (1) latar sejarah pendirian Candi Dieng dan Gedongsongo pada abad ke-8-9 M sebagai bukti pesatnya pemujaan Siwa di Jawa Tengah; (2) makna pemilihan lokasi pegunungan/dataran tinggi ditinjau dari konsep tempat suci Hindu (sthana para dewa); (3) refleksi sikap umat Hindu masa kini terhadap pelestarian warisan suci leluhur (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mengkaji kembali hasil tulisan refleksinya secara hening, menyadari bagaimana jejak kejayaan agama Hindu di Dieng dan Gedongsongo menginspirasi keteguhan sradha dan bhakti serta tanggung jawab moral dalam memuliakan tempat suci (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai refleksi perkembangan agama Hindu melalui Candi Dieng dan Candi Gedongsongo di Jawa Tengah (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap hasil refleksi murid, menyampaikan bahwa pertemuan berikutnya (Pertemuan 5) akan membahas peninggalan prasasti di Jawa Tengah (Prasasti Tukmas dan Canggal), serta menutup sesi dengan parama santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Guru menyediakan lembar ringkasan fakta visual (gambar arsitektur dan peta lokasi Dieng serta Gedongsongo) bagi murid yang membutuhkan bantuan visual konkrit.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan kalimat pemantik untuk menuliskan refleksi, sedangkan murid yang sudah mahir diarahkan menghubungkan makna pemujaan di dataran tinggi dengan teks suci atau konsep Mahameru.
- Produk: Tingkat kedalaman analisis reflektif disesuaikan dengan kesiapan belajar, baik dalam uraian poin pokok maupun esai reflektif terstruktur.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: (1) Di manakah letak Candi Dieng dan Candi Gedongsongo? (acuan: Jawa Tengah, Dieng di Banjarnegara/Wonosobo dan Gedongsongo di lereng Gunung Ungaran Semarang); (2) Beraliran apakah candi-candi tersebut? (acuan: Hindu Siwa/pemujaan Dewa Siwa).
Proses:- Pengamatan keterlibatan murid dalam kuis berpasangan pencocokan 4 kartu fakta sejarah Candi Dieng dan Gedongsongo (acuan: 1-Candi Dieng, 2-Candi Gedongsongo, 3-Tempat pemujaan Dewa Siwa di tempat tinggi, 4-Dewa Siwa).
- Pemeriksaan lembar kerja telaah reflektif murid dengan kriteria: memuat fakta historis candi, mengaitkan makna pemilihan lokasi sakral di dataran tinggi/gunung, dan merefleksikan nilai pelestarian warisan spiritual bagi kehidupan masa kini.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (2 butir): (1) Tuliskan corak keagamaan peninggalan Candi Dieng dan Candi Gedongsongo! (acuan: Hindu beraliran Siwa / pemujaan Dewa Siwa); (2) Apa makna penting pendirian candi Hindu di kawasan dataran tinggi Dieng dan lereng Gedongsongo bagi refleksi keagamaan kita? (kriteria penerimaan: jawaban memuat konsep bahwa gunung/tempat tinggi dipandang sakral sebagai sthana dewata/mendekatkan diri kepada Tuhan/Dewa Siwa serta mencerminkan keteguhan bhakti leluhur yang patut dijaga kelestariannya).
Formatif:- Kuis pencocokan 4 kartu fakta sejarah Candi Dieng dan Candi Gedongsongo pada tahap Memahami
- Penilaian lembar refleksi tertulis mengenai peninggalan Candi Dieng dan Candi Gedongsongo pada tahap Mengaplikasi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Refleksi Sejarah Peninggalan Candi Dieng dan Candi Gedongsongo di Jawa Tengah | Belum mampu merefleksikan peninggalan Candi Dieng dan Candi Gedongsongo; belum memuat keterkaitan corak Hindu Siwa maupun makna sakral lokasinya. | Mulai merefleksikan peninggalan Candi Dieng dan Gedongsongo dengan menyebutkan fakta corak Hindu Siwa, namun belum mengaitkan makna sakral pendirian di dataran tinggi dan sikap pelestarian warisan spiritual. | Mampu merefleksikan peninggalan Candi Dieng dan Gedongsongo secara tepat dengan memuat corak Hindu Siwa, makna filosofis pemilihan lokasi di dataran tinggi sebagai tempat suci, serta refleksi nilai pelestariannya bagi umat Hindu. | Sangat mendalam dalam merefleksikan peninggalan Candi Dieng dan Gedongsongo, mengaitkan corak Hindu Siwa, filosofi kesucian gunung, dan kesadaran spiritual diri dalam menjaga keagungan warisan Hindu secara mandiri dan komprehensif. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran aktif dan kuis pencocokan kartu berhasil memotivasi murid dalam memahami peninggalan candi di Jawa Tengah?
- Bagaimana ketercapaian murid dalam menuangkan refleksi makna spiritual peninggalan Candi Dieng dan Gedongsongo?
Murid:- Apa hal paling bermakna yang saya pelajari hari ini tentang peninggalan Candi Dieng dan Candi Gedongsongo di Jawa Tengah?
- Bagaimana saya memaknai peninggalan candi-candi suci leluhur ini dalam memperkuat rasa bhakti saya kepada Sang Hyang Widhi Wasa?
Pertemuan 5 — Merefleksikan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Asia melalui Prasasti Tukmas dan Prasasti Canggal di Jawa Tengah — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.3 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Tengah
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan memfasilitasi doa bersama sebelum belajar (3 menit).
- Guru memeriksa kehadiran murid dan mengondisikan kesiapan belajar di kelas (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik awal dengan meminta murid menjawab 2 pertanyaan pemantik terkait simbol Dewa dan candrasangkala pada lembar kendali singkat (acuan diagnostik: simbol trisula = Siwa, kendi = Brahma, cakra = Wisnu; candrasangkala 'Sruti Indra Rasa' = angka tahun 654 Saka / 732 M) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak paparan materi dan mengamati gambar relief atribut pada Prasasti Tukmas (atribut Tri Murti: trisula lambang Dewa Siwa, kendi lambang Dewa Brahma, cakra lambang Dewa Wisnu) serta teks terjemahan Prasasti Canggal tentang pendirian lingga oleh Raja Sanjaya dan candrasangkala 'Sruti Indra Rasa' (15 menit).
- Murid berpartisipasi dalam kuis interaktif cepat berpasangan 'Tebak Simbol & Makna Prasasti' untuk mencocokkan 4 kartu simbol/istilah dengan maknanya: Kartu 1: Trisula -> Lambang Dewa Siwa; Kartu 2: Cakra -> Lambang Dewa Wisnu; Kartu 3: Kendi -> Lambang Dewa Brahma; Kartu 4: Sruti Indra Rasa -> Candrasangkala tahun 654 Saka (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid secara mandiri mengerjakan lembar refleksi kritis berisi analisis 2 peninggalan prasasti di Jawa Tengah: (1) Menemukan bukti pemujaan Tri Murti pada Prasasti Tukmas berdasarkan atribut lambang dewata; (2) Menemukan kaitan antara pendirian lingga oleh Raja Sanjaya pada Prasasti Canggal dengan perkembangan aliran Siwa di Jawa Tengah (acuan: lembar refleksi memuat analisis atribut lambang dan makna pendirian lingga Siwa serta candrasangkala) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mengevaluasi pemahaman pribadinya mengenai bagaimana prasasti tertulis (Tukmas dan Canggal) menjadi bukti nyata dan otentik jejak sejarah perkembangan peradaban Hindu di Jawa Tengah (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan konfirmasi dan umpan balik langsung terhadap temuan refleksi murid pada lembar kerja Prasasti Tukmas dan Prasasti Canggal (6 menit).
- Guru memandu murid menyimpulkan pembelajaran hari ini bahwa peninggalan tertulis membuktikan adanya pemujaan Tri Murti dan pendirian lingga Siwa di Jawa Tengah, lalu menutup kelas dengan doa Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (4 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan visual berisi daftar gambar atribut Prasasti Tukmas dan glosarium arti kata candrasangkala; murid yang cepat diberikan teks kutipan bait Prasasti Canggal yang lebih lengkap.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing langkah demi langkah dalam menafsirkan arti atribut dewata, sedangkan murid berkemampuan tinggi mengerjakan analisis refleksi secara mandiri penuh.
- Produk: Kedalaman uraian refleksi: murid yang memerlukan bimbingan menuliskan poin-poin reflektif terstruktur sesuai acuan, sementara murid cepat menuliskan refleksi komparatif mendalam antara corak keagamaan pada Prasasti Tukmas dan Prasasti Canggal.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan/tulis di awal: (1) Sebutkan 3 dewa utama dalam konsep Tri Murti beserta senjatanya! (acuan: Brahma - kendi/gada, Wisnu - cakra, Siwa - trisula); (2) Apakah arti dari prasasti sebagai sumber sejarah? (acuan: piagam/dokumen tertulis pada batu/tembaga yang memuat peristiwa resmi kerajaan/keagamaan masa lampau).
Proses:- Pengamatan keterlibatan murid saat kuis pencocokan simbol prasasti dan pemeriksaan isian lembar refleksi peninggalan Jawa Tengah (Prasasti Tukmas dan Prasasti Canggal) dengan kriteria: ketepatan atribut dewata dan ketepatan uraian bukti corak Hindu Siwa/Tri Murti.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi melalui 2 butir pertanyaan reflektif: (1) Apa bukti konkret bahwa Prasasti Tukmas menganut pemujaan Tri Murti? (acuan: memuat gambar atribut Trisula lambang Siwa, Kendi lambang Brahma, dan Cakra lambang Wisnu); (2) Apa inti peristiwa keagamaan yang tercatat dalam Prasasti Canggal? (acuan: pendirian lingga pemujaan Siwa di desa Sthirangga oleh Raja Sanjaya berangka tahun 654 Saka / 732 M).
Formatif:- Penilaian proses selama pengerjaan kuis cepat pasangan simbol dan lembar refleksi analisis bukti Prasasti Tukmas dan Prasasti Canggal
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Refleksi Sejarah Perkembangan Hindu melalui Prasasti Tukmas dan Prasasti Canggal | Belum mampu merefleksikan peninggalan Prasasti Tukmas dan Prasasti Canggal; hanya mampu menyebutkan 1 atribut dewa tanpa ketepatan maknanya. | Mampu merefleksikan sebagian bukti sejarah; mampu mengaitkan 2 atribut dewa pada Prasasti Tukmas (trisula-Siwa, cakra-Wisnu) tetapi belum mengaitkan pendirian lingga pada Prasasti Canggal. | Mampu merefleksikan peninggalan sejarah secara tepat; mengaitkan ketiga atribut dewa pada Prasasti Tukmas (trisula-Siwa, kendi-Brahma, cakra-Wisnu) dan makna pendirian lingga Siwa serta candrasangkala 'Sruti Indra Rasa' pada Prasasti Canggal secara runtut. | Mampu merefleksikan peninggalan sejarah secara tepat, mendalam, dan mandiri; mengaitkan seluruh atribut dewata Tri Murti pada Prasasti Tukmas serta makna keagamaan Siwa dan angka tahun pada Prasasti Canggal disertai kesimpulan runtut tentang corak keberagamaan Hindu Jawa Tengah kuno. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu untuk tahap pemahaman prasasti dan tahap refleksi mandiri sudah terlaksana sesuai rancangan?
- Bagaimana respons dan partisipasi murid saat aktivitas permainan tebak simbol peninggalan sejarah?
Murid:- Apa hal terpenting yang saya pelajari tentang jejak keagamaan Hindu melalui Prasasti Tukmas dan Prasasti Canggal?
- Bagian mana dari penafsiran simbol dewata atau candrasangkala yang paling menarik bagi saya?
Pertemuan 6 — Merefleksikan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Asia melalui Peninggalan Candi Penataran dan Candi Singasari di Jawa Timur — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.4 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Timur
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali 'Om Swastyastu', doa bersama, dan presensi kehadiran murid (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan untuk memetakan kesiapan murid merefleksikan sejarah peninggalan Hindu di Jawa Timur melalui dua pertanyaan: (1) Di provinsi manakah Candi Penataran dan Candi Singasari berada? (acuan: Jawa Timur); (2) Candi Singasari diperkirakan berfungsi untuk kegiatan apa terkait letaknya yang menghadap Gunung Arjuna? (acuan: aktivitas pertapaan/ritual keagamaan Hindu) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid membaca teks materi tentang Candi Penataran (candi Hindu terbesar di Jawa Timur peninggalan era Kediri-Majapahit) dan Candi Singasari (candi peninggalan Raja Kertanegara abad ke-13 yang terkait aktivitas ritual pertapaan ke Gunung Arjuna) dari Buku Siswa hlm. 138-140 (15 menit).
- Murid secara berpasangan memainkan kuis tebak kartu peninggalan 'Cocok Sejarah' dengan mencocokkan 4 kartu peninggalan dengan 4 kartu fakta/karakteristiknya: Kartu 1: Candi Penataran -> Pasangan: Kompleks candi Hindu terluas di Jawa Timur pemujaan Dewa Siwa; Kartu 2: Candi Singasari -> Pasangan: Candi Hindu tempat penghormatan Raja Kertanegara dan aktivitas pertapaan lereng Arjuna; Kartu 3: Relief Ramayana Penataran -> Pasangan: Bukti pengaruh epik Hindu pada dinding candi Jawa Timur; Kartu 4: Arca Dwarapala Singasari -> Pasangan: Patung penjaga gerbang suci penanda tempat ibadah Hindu (acuan: pasangan di atas) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid secara berkelompok menganalisis keterkaitan antara Candi Penataran dan Candi Singasari dengan bukti perkembangan ajaran Hindu (terutama tradisi pemujaan Siwa dan pertapaan suci) di Jawa Timur dalam Lembar Kerja Refleksi Sejarah (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menuliskan refleksi pribadi pada jurnal belajar mengenai: (1) Bukti bahwa agama Hindu berkembang pesat di Jawa Timur berdasarkan Candi Penataran dan Candi Singasari; (2) Makna nilai spiritual (pemujaan/ketekunan pertapaan) bagi kehidupan diri sendiri saat ini (15 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai sejarah peninggalan Candi Penataran dan Candi Singasari sebagai bukti jejak peradaban Hindu di Jawa Timur (5 menit).
- Guru menyampaikan tindak lanjut untuk membaca peninggalan Candi Kidal, Candi Jago, dan Prasasti Dinoyo untuk pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks ringkasan bergambar yang memuat poin inti fungsi Candi Penataran dan Candi Singasari; murid yang cepat diberikan teks pengayaan mengenai korelasi arsitektur Candi Singasari dengan konsep kosmologi Hindu Meru.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru dalam menyusun kalimat refleksi; murid yang cepat bekerja secara mandiri menganalisis keterkaitan fungsi candi dengan nilai spiritual masa kini.
- Produk: Refleksi tertulis dapat berupa poin-poin terstruktur reflektif (minimal 2 poin refleksi nilai sejarah peninggalan Hindu Jawa Timur) atau esai reflektif mendalam.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: (1) Di provinsi manakah Candi Penataran dan Candi Singasari berada? (acuan: Jawa Timur); (2) Candi Singasari diperkirakan berfungsi untuk kegiatan apa terkait letaknya yang menghadap Gunung Arjuna? (acuan: aktivitas pertapaan/ritual keagamaan Hindu)
Proses:- Observasi diskusi kelompok dan pemeriksaan lembar kerja analisis keterkaitan Candi Penataran dan Candi Singasari dengan perkembangan agama Hindu di Jawa Timur (acuan lembar kerja: memuat Candi Penataran sebagai pusat pemujaan era Kediri-Majapahit dan Candi Singasari sebagai tempat pendarmaan/pertapaan era Singhasari)
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (2 butir): (1) Tuliskan 1 bukti peninggalan ajaran Hindu pada Candi Penataran! (kriteria penerimaan: menyebut relief cerita Hindu Ramayana/Krishnayana atau fungsi pemujaan Siwa Palah); (2) Jelaskan 1 refleksi nilai yang dipelajari dari peninggalan Candi Singasari! (kriteria penerimaan: mengaitkan fungsi pertapaan/keagamaan masa lalu dengan keteguhan hati/spiritualitas umat saat ini)
Formatif:- Penilaian kinerja unjuk kerja analisis berpasangan/kelompok lembar kerja keterkaitan Candi Penataran dan Candi Singasari
- Penilaian jurnal refleksi tertulis perkembangan peninggalan sejarah Hindu di Jawa Timur
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Refleksi Sejarah Perkembangan Agama Hindu melalui Candi Penataran dan Candi Singasari di Jawa Timur | Belum mampu mengaitkan Candi Penataran maupun Candi Singasari dengan bukti perkembangan sejarah agama Hindu di Jawa Timur. | Mampu merefleksikan bukti sejarah perkembangan agama Hindu di Jawa Timur hanya berdasarkan 1 candi (Candi Penataran saja atau Candi Singasari saja) dengan bimbingan guru. | Mampu merefleksikan bukti sejarah perkembangan agama Hindu di Jawa Timur melalui kedua candi (Candi Penataran dan Candi Singasari) secara tepat. | Mampu merefleksikan bukti sejarah perkembangan agama Hindu di Jawa Timur melalui kedua candi (Candi Penataran dan Candi Singasari) secara mendalam, tepat, serta mengaitkan maknanya dengan nilai spiritual kehidupan masa kini secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur pembelajaran deep learning (memahami, mengaplikasi, merefleksi) telah memfasilitasi murid merefleksikan nilai sejarah Candi Penataran dan Singasari secara bermakna?
- Bagian mana dari aktivitas kelompok yang memerlukan penguatan bimbingan guru pada pertemuan berikutnya?
Murid:- Pelajaran berharga apa tentang perjuangan dan keyakinan umat Hindu masa lampau di Jawa Timur yang saya dapatkan hari ini?
- Bagaimana saya dapat meneladani sikap spiritual para leluhur Hindu setelah mengenal peninggalan Candi Penataran dan Candi Singasari?
Pertemuan 7 — Merefleksikan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Asia melalui Peninggalan Candi Kidal, Candi Jago, dan Prasasti Dinoyo di Jawa Timur — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.4 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Timur
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali 'Om Swastyastu' dan mengajak murid melantunkan Gayatri Mantram dengan sikap hening dan penuh kesadaran (4 menit).
- Guru memeriksa kehadiran dan kesiapan belajar murid di kelas (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Pertemuan 7, yaitu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Jawa Timur melalui Candi Kidal, Candi Jago, dan Prasasti Dinoyo (3 menit).
- Guru memberikan asesmen awal diagnostik singkat berupa 3 pertanyaan tertulis: (1) Sebutkan kerajaan asal Prasasti Dinoyo (acuan: Kerajaan Kanjuruhan); (2) Untuk pendarmaan raja siapakah Candi Kidal dibangun? (acuan: Raja Anusapati dari Singasari); (3) Apa corak keagamaan perpaduan pada Candi Jago? (acuan: perpaduan Siwa-Buddha / Tantrayana masa Wisnuwardhana). Hasil langsung diperiksa singkat untuk memetakan kesiapan murid (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid mencermati paparan materi dan teks sumber mengenai Prasasti Dinoyo (760 M) peninggalan Kerajaan Kanjuruhan tentang pemujaan Dewa Siwa (Maharsi Agastya), latar belakang pendirian Candi Kidal untuk pendarmaan Raja Anusapati, serta Candi Jago sebagai tempat pendarmaan Raja Wisnuwardhana (12 menit).
- Dalam suasana menggembirakan, murid mengikuti kuis tantangan berpasangan 'Tebak Kartu Peninggalan Jawa Timur': guru membagikan 3 kartu deskripsi sejarah peninggalan dan murid mencocokkan secara cepat dengan nama peninggalannya: (1) 'Prasasti berhuruf Jawa Kuno dan bahasa Sanskerta abad ke-8 peninggalan Kerajaan Kanjuruhan pemuja Maharsi Agastya' -> Prasasti Dinoyo; (2) 'Candi makam pendarmaan Raja Anusapati dengan relief Garudeya' -> Candi Kidal; (3) 'Candi tempat pendarmaan Raja Wisnuwardhana bercorak sinkretisme Siwa-Buddha di Malang' -> Candi Jago (acuan: pasangan 1-Dinoyo, 2-Kidal, 3-Jago) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Analisis Reflektif yang memuat 3 peninggalan bersejarah di Jawa Timur: mengidentifikasi fakta sejarah dan menguraikan wujud perkembangan ajaran Hindu pada masa Singasari dan Kanjuruhan (15 menit).
- Murid menghubungkan nilai-nilai peninggalan tersebut dengan konteks kehidupan beragama Hindu masa kini, seperti pemuliaan orang tua/leluhur melalui konsep pendarmaan pada Candi Kidal dan toleransi keagamaan pada Candi Jago (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menuliskan refleksi pribadi pada jurnal refleksi: bagaimana pemahaman tentang Prasasti Dinoyo, Candi Kidal, dan Candi Jago menumbuhkan rasa bangga dan memandu sikap baktinya sebagai umat Hindu terhadap peninggalan leluhur (8 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran mengenai peran Candi Kidal, Candi Jago, dan Prasasti Dinoyo dalam perkembangan agama Hindu di Jawa Timur (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas lembar refleksi murid serta menginformasikan materi peninggalan sejarah di Bali untuk pertemuan berikutnya (3 menit).
- Pembelajaran ditutup dengan doa bersama dan Parama Santih: 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar panduan berisi rangkuman poin penting Prasasti Dinoyo, Candi Kidal, dan Candi Jago. Murid mahir diberikan kutipan narasi mendalam tentang relief Garudeya pada Candi Kidal.
- Proses: Murid berkembang dibimbing guru secara terfokus dalam mengisi lembar analisis reflektif, sedangkan murid mahir menganalisis keterkaitan relief moral peninggalan dengan penguatan sradha dan bhakti secara mandiri.
- Produk: Kedalaman uraian refleksi disesuaikan dengan kesiapan: murid berkembang menyusun refleksi pokok minimal 1 paragraf, sedangkan murid mahir menyusun refleksi komprehensif yang membandingkan nilai Candi Kidal dan Candi Jago.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik singkat tertulis 3 butir di awal pembelajaran: (1) Sebutkan nama kerajaan peninggal Prasasti Dinoyo? (acuan: Kerajaan Kanjuruhan); (2) Siapakah raja yang didarmakan di Candi Kidal? (acuan: Raja Anusapati); (3) Sebutkan corak perpaduan keagamaan pada Candi Jago? (acuan: Siwa-Buddha / Tantrayana masa Wisnuwardhana). Kriteria penerimaan: murid yang menjawab benar minimal 2 butir dikategorikan siap belajar mandiri, di bawah 2 butir diberikan bimbingan terfokus.
Proses:- Pemeriksaan Lembar Analisis Reflektif selama tahap Mengaplikasi dengan 3 butir analisis: (1) Nilai pemuliaan leluhur dan bakti anak pada Candi Kidal (acuan: kisah Garudeya/pendarmaan Raja Anusapati); (2) Nilai keharmonisan/sinkretisme pada Candi Jago (acuan: pendarmaan Raja Wisnuwardhana bercorak Siwa-Buddha); (3) Bukti perkembangan pemujaan Siwa pada Prasasti Dinoyo (acuan: pendirian tempat suci untuk Agastya/Kumbhayoni oleh Raja Gajayana). Kriteria penilaian: ketepatan mengaitkan fakta sejarah peninggalan dengan nilai perkembangan agama Hindu.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan refleksi tertulis pada penutup: murid menuliskan 1 pesan moral/spiritual dari peninggalan Candi Kidal, Candi Jago, atau Prasasti Dinoyo bagi generasi muda Hindu masa kini (kriteria penerimaan: memuat minimal satu kaitan relevan antara makna peninggalan, misal bakti pada orang tua dari kisah Garudeya Candi Kidal, toleransi dari Candi Jago, atau ketaatan beragama dari Raja Gajayana pada Prasasti Dinoyo, dengan pengamalan ajaran Hindu).
Formatif:- Penilaian proses melalui Lembar Analisis Reflektif Peninggalan Jawa Timur (Candi Kidal, Candi Jago, dan Prasasti Dinoyo)
- Observasi partisipasi refleksi individu dan kuis tebak kartu peninggalan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Refleksi Sejarah Perkembangan Agama Hindu melalui Prasasti Dinoyo | Belum mampu mengidentifikasi kaitan Prasasti Dinoyo dengan perkembangan agama Hindu di Jawa Timur walaupun dengan bantuan guru. | Mampu mengidentifikasi keberadaan Prasasti Dinoyo sebagai peninggalan Kerajaan Kanjuruhan namun belum tepat merefleksikan nilai perkembangannya bagi agama Hindu (terkait Agastya/Gajayana). | Mampu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu melalui Prasasti Dinoyo dengan tepat sesuai acuan (pemujaan Maharsi Agastya oleh Raja Gajayana di Kanjuruhan) secara mandiri. | Mampu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu melalui Prasasti Dinoyo secara mendalam, lengkap dengan analisis nilai kontinuitas pemujaan Agastya dalam tradisi Siwa di Jawa Timur secara mandiri dan runtut. | | Refleksi Sejarah Perkembangan Agama Hindu melalui Candi Kidal dan Candi Jago | Belum mampu mengidentifikasi fungsi dan nilai peninggalan Candi Kidal dan Candi Jago pada masa Singasari. | Mampu menyebutkan nama raja yang didarmakan (Anusapati di Candi Kidal dan Wisnuwardhana di Candi Jago) namun belum mampu merefleksikan nilai spiritual dan perkembangannya. | Mampu merefleksikan peninggalan Candi Kidal (bakti/Garudeya dan pendarmaan Anusapati) serta Candi Jago (sinkretisme Siwa-Buddha pendarmaan Wisnuwardhana) terhadap perkembangan agama Hindu di Jawa Timur secara tepat. | Mampu merefleksikan secara komprehensif keterkaitan nilai filosofis Candi Kidal dan Candi Jago terhadap ajaran sradha, bakti, dan keharmonisan keagamaan Hindu di Jawa Timur secara konsisten dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah pembelajaran berdiferensiasi dan kuis tebak kartu efektif membangkitkan minat murid dalam mempelajari sejarah Hindu Jawa Timur?
- Bagian refleksi mana yang masih memerlukan bimbingan lebih intensif bagi murid yang pemahamannya belum berkembang?
Murid:- Nilai moral dan spiritual apa yang paling berkesan bagi saya setelah mempelajari Candi Kidal, Candi Jago, dan Prasasti Dinoyo?
- Bagaimana saya dapat meneladani sikap bakti dan toleransi yang dicerminkan oleh peninggalan sejarah Hindu di Jawa Timur dalam kehidupan sehari-hari?
Pertemuan 8 — Merefleksikan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Asia melalui Peninggalan Pura Besakih dan Kompleks Candi di Bali — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.5 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Bali
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama (DPL-1) (3 menit).
- Guru memeriksa kehadiran dan kesiapan belajar murid di kelas (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-8 mengenai refleksi sejarah perkembangan Hindu di Asia melalui peninggalan Pura Besakih dan kompleks candi di Bali (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan: 'Sebutkan nama peninggalan sejarah tempat suci terbesar umat Hindu di lereng Gunung Agung Bali!' (acuan: Pura Besakih) dan 'Sebutkan pura pusat di kompleks Pura Besakih!' (acuan: Pura Penataran Agung Besakih) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak paparan guru dan mencermati gambar/infografis mengenai latar belakang sejarah berdirinya Pura Besakih (terkait perjalanan Rsi Markandeya) dan struktur kompleks pura/candi di Besakih yang melambangkan pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Padma Tiga (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa) (10 menit).
- Murid secara berpasangan mencocokkan 3 kartu fakta sejarah Pura Besakih berikut: Kartu 1 'Tokoh suci perintis perabuan panca datu di Besakih' -> Pasangan: 'Rsi Markandeya'; Kartu 2 'Pura pusat di kompleks Besakih yang memiliki pelinggih Padma Tiga' -> Pasangan: 'Pura Penataran Agung'; Kartu 3 'Konsep tata letak kompleks Besakih yang memuliakan arah mata angin' -> Pasangan: 'Catur Loka Pala / Mandala Sembilan Arah Mata Angin' (acuan pasangan sesuai uraian di atas) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid berpartisipasi dalam kuis interaktif 'Jelajah Besakih' yang menggembirakan secara berpasangan, menjawab 3 pertanyaan cepat pada kartu kuis: (1) Di lereng gunung manakah Pura Besakih didirikan? (acuan: Gunung Agung); (2) Manifestasi Tuhan apa yang dipuja pada linggih Padma Tiga di Pura Penataran Agung? (acuan: Sang Hyang Siwa Raditya / Tri Purusa: Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa); (3) Apa fungsi historis Pura Besakih bagi perkembangan Hindu di Bali? (acuan: Pusat pemujaan dan persatuan spiritual umat Hindu) (10 menit).
- Murid secara mandiri menuliskan telaah kaitan sejarah perkembangan agama Hindu dengan nilai kesucian kompleks candi dan Pura Besakih pada Lembar Kerja Analisis Sejarah (5 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyusun refleksi tertulis personal mengenai makna keberadaan Pura Besakih bagi penguatan sradha dan bhakti generasi muda Hindu saat ini, menjawab 2 fokus refleksi: (1) Makna spiritual keteguhan Rsi Markandeya saat mendirikan Besakih bagi kehidupan pribadi; (2) Komitmen menjaga kelestarian warisan suci peninggalan pura dan candi Hindu di Bali (acuan kriteria: refleksi memuat minimal 1 nilai keteladanan tokoh sejarah dan 1 komitmen nyata menjaga kesucian/kelestarian tempat suci) (10 menit).
- Beberapa perwakilan murid membacakan lembar refleksinya, dan guru memberikan penguatan atas makna mendalam refleksi sejarah tersebut (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai sejarah Pura Besakih dan kompleks candi di Bali sebagai tonggak penting perkembangan Hindu (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen akhir singkat (cek pemahaman) mengenai keterkaitan Pura Besakih dengan sejarah perkembangan Hindu (2 menit).
- Guru menyampaikan rencana kegiatan pembelajaran pertemuan berikutnya (Pertemuan 9 mengenai Pura Tirta Empul, Candi Tebing Gunung Kawi, dan Prasasti Blanjong) (5 menit).
- Pembelajaran diakhiri dengan doa bersama dan Parama Santih: 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar panduan visual struktur tata letak mandala Pura Besakih, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan teks sumber sejarah rontal mengenai riwayat penanaman panca datu oleh Rsi Markandeya.
- Proses: Bagi murid yang memerlukan pendampingan diberikan bimbingan terarah (scaffolding) saat menghubungkan fakta sejarah dengan nilai refleksi, sedangkan murid mandiri mengerjakan telaah reflektif secara langsung.
- Produk: Refleksi tertulis disesuaikan: murid reguler menuliskan 1 poin refleksi keteladanan dan 1 komitmen kelestarian; murid berkemampuan tinggi menuliskan refleksi komparatif mendalam mengenai pelestarian nilai kesucian pura di era modern.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Guru mengajukan 2 pertanyaan lisan diagnostik: (1) 'Sebutkan peninggalan sejarah berupa kompleks pura terbesar di Bali yang terletak di lereng Gunung Agung!' (acuan jawaban: Pura Besakih); (2) 'Sebutkan nama pura utama/pusat di kompleks Pura Besakih!' (acuan jawaban: Pura Penataran Agung Besakih). Murid yang menjawab tepat diarahkan ke pengayaan materi sejarah, murid yang belum tepat diberikan apersepsi pendahuluan.
Proses:- Formatif pencocokan 3 kartu fakta sejarah Pura Besakih: Kartu 1 'Tokoh suci perintis perabuan panca datu di Besakih' -> Pasangan: 'Rsi Markandeya'; Kartu 2 'Pura pusat di kompleks Besakih yang memiliki pelinggih Padma Tiga' -> Pasangan: 'Pura Penataran Agung'; Kartu 3 'Konsep tata letak kompleks Besakih yang memuliakan arah mata angin' -> Pasangan: 'Catur Loka Pala / Mandala Sembilan Arah Mata Angin'. Ketepatan dinilai dari kecocokan ketiga pasangan kartu.
- Formatif kuis interaktif 'Jelajah Besakih' 3 butir: (1) Letak Pura Besakih (acuan: lereng Gunung Agung); (2) Pemujaan di Padma Tiga Penataran Agung (acuan: Sang Hyang Siwa Raditya / Tri Purusa); (3) Peran sejarah Besakih (acuan: Pusat pemujaan dan pemersatu spiritual umat Hindu di Bali).
Akhir Pertemuan:- Pengecekan lembar refleksi tertulis: Murid merefleksikan makna peninggalan sejarah Pura Besakih. Kriteria penerimaan operasional: Refleksi memuat minimal 1 nilai keteladanan spiritual/sejarah dari berdirinya Besakih (seperti keteguhan, yadnya, atau kesucian pemujaan) dan 1 tindakan nyata menjaga kelestarian atau kesucian pura Hindu.
Formatif:- Tanya jawab diagnostik awal kesiapan pengetahuan sejarah peninggalan Hindu di Bali
- Observasi ketepatan kerja berpasangan mencocokkan kartu fakta sejarah peninggalan Pura Besakih
- Pemeriksaan lembar kerja refleksi tertulis mengenai makna sejarah Pura Besakih dan kompleks candi di Bali
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu melalui peninggalan Pura Besakih dan kompleks candi di Bali | Belum mampu mengaitkan fakta sejarah Pura Besakih dengan nilai perkembangan Hindu; refleksi belum memuat nilai keteladanan maupun tindakan nyata pelestarian. | Mampu mengaitkan 1 fakta sejarah Pura Besakih, namun rumusan refleksi hanya memuat nilai keteladanan secara umum tanpa komitmen tindakan nyata pelestarian. | Mampu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu melalui peninggalan Pura Besakih secara tepat, memuat minimal 1 nilai keteladanan sejarah dan 1 komitmen nyata pelestarian kesucian pura. | Mampu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu melalui peninggalan Pura Besakih secara mendalam dan komprehensif, memuat 2 atau lebih nilai keteladanan sejarah (pengorbanan Rsi Markandeya, konsep persatuan umat) serta komitmen nyata pelestarian kesucian pura secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan kartu fakta dan kuis interaktif efektif membangkitkan suasana menggembirakan serta pemahaman sejarah murid?
- Bagaimana kedalaman murid dalam merefleksikan nilai-nilai spiritual sejarah Pura Besakih ke dalam sikap hidup sehari-hari?
Murid:- Nilai keteladanan apa yang paling menyentuh hatimu dari kisah perjuangan sejarah pendirian Pura Besakih?
- Sikap apa yang akan kamu lakukan sebagai wujud menghormati dan melestarikan peninggalan pura suci agama Hindu?
Pertemuan 9 — Merefleksikan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Asia melalui Peninggalan Pura Tirta Empul, Candi Tebing Gunung Kawi, dan Prasasti Blanjong di Bali — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.5 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Bali
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', doa pembuka belajar bersama, dan presensi (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-9 yaitu merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu melalui peninggalan Pura Tirta Empul, Candi Tebing Gunung Kawi, dan Prasasti Blanjong di Bali (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang 3 peninggalan sejarah Hindu di Bali: (1) Di daerah mana Prasasti Blanjong ditemukan? (acuan: Sanur/Denpasar Selatan); (2) Siapa raja yang membangun Candi Tebing Gunung Kawi? (acuan: Raja Anak Wungsu/dinasti Warmadewa); (3) Apa fungsi utama Pura Tirta Empul sejak masa kuno hingga kini? (acuan: tempat penyucian diri/melukat/tirta amerta) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati tayangan gambar serta ulasan materi mengenai 3 peninggalan bersejarah Hindu di Bali: Prasasti Blanjong (tahun 835 Saka/913 M oleh Sri Kesari Warmadewa dengan huruf Pra-Nagari dan Kawi), Candi Tebing Gunung Kawi Tampaksiring (kompleks persemayaman dan pasraman abad ke-11 masa Raja Anak Wungsu), dan Pura Tirta Empul Tampaksiring (dibangun sekitar mata air suci masa Raja Sri Candrabhayasingha Warmadewa tahun 962 M untuk penyucian) (10 menit).
- Murid secara individu mengidentifikasi fakta historis dan nilai keagamaan dari ketiga peninggalan tersebut pada tabel pemahaman awal dengan bimbingan guru (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memandu aktivitas interaktif menggembirakan 'Tantangan Detektif Peninggalan Bali' berupa kuis cepat tebak fakta peninggalan sejarah; murid secara antusias menjawab dengan mengangkat kartu simbol A (Prasasti Blanjong), B (Candi Tebing Gunung Kawi), atau C (Pura Tirta Empul) terhadap 3 pertanyaan cepat guru: (1) Bukti tertulis berhuruf ganda era Sri Kesari? [kunci: A]; (2) Kompleks candi dipahat di dinding tebing batu Sungai Pakerisan era Anak Wungsu? [kunci: B]; (3) Tempat pemandian suci dengan sumber mata air alami untuk melukat? [kunci: C] (10 menit).
- Murid mengerjakan lembar kerja refleksi mandiri untuk menganalisis dan merefleksikan makna perkembangan agama Hindu melalui 3 peninggalan Bali: (1) Merefleksikan makna Prasasti Blanjong bagi masuknya aksara dan tatanan keagamaan Hindu; (2) Merefleksikan makna Candi Tebing Gunung Kawi terhadap keteguhan spiritual pemujaan leluhur dan toleransi zaman Anak Wungsu; (3) Merefleksikan makna Pura Tirta Empul terhadap tradisi penyucian diri (melukat) dan pelestarian alam hingga saat ini (18 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid meninjau kembali hasil refleksi tertulisnya dan merumuskan satu ikrar personal tentang sikap memuliakan situs suci peninggalan leluhur Hindu (7 menit).
- Dua orang perwakilan murid membacakan lembar refleksinya dan guru memberikan umpan balik langsung mengenai kedalaman refleksi historis-spiritual (5 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan butir refleksi penting bahwa peninggalan Prasasti Blanjong, Candi Tebing Gunung Kawi, dan Pura Tirta Empul membuktikan kokohnya peradaban dan spiritualitas Hindu di Bali yang berkelanjutan (5 menit).
- Guru memberikan tindak lanjut penguatan belajar serta menutup pembelajaran dengan doa penutup 'Parama Santhi': Om Santih Santih Santih Om (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar informasi ringkas dengan ilustrasi visual candi/prasasti bagi murid yang memerlukan dukungan visual konkret, serta bacaan teks sumber primer prasasti bagi murid yang membutuhkan tantangan lebih mendalam.
- Proses: Memberikan panduan kalimat pemantik refleksi bertahap bagi murid yang membutuhkan scaffolding dan memberikan kebebasan eksplorasi reflektif mandiri bagi murid yang telah mahir.
- Produk: Refleksi dituangkan dalam lembar kerja terstruktur dengan pilihan uraian naratif reflektif terperinci atau poin-poin refleksi analitis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: (1) Sebutkan letak ditemukannya Prasasti Blanjong! (Acuan: Sanur/Denpasar); (2) Siapakah raja yang dikaitkan dengan pembangunan percandian tebing Gunung Kawi? (Acuan: Raja Anak Wungsu); (3) Apa fungsi spiritual dari Pura Tirta Empul bagi umat Hindu? (Acuan: tempat penyucian/melukat/tirta amerta). Kriteria kesiapan: Menjawab minimal 2 dari 3 butir dengan tepat menandakan kesiapan tinggi; 1 butir menandakan butuh pendampingan.
Proses:- Observasi partisipasi aktif dan ketepatan pada permainan kuis tebak peninggalan 3 butir: (1) Bukti tertulis berhuruf ganda era Sri Kesari -> Prasasti Blanjong; (2) Candi dipahat di tebing batu era Anak Wungsu -> Candi Tebing Gunung Kawi; (3) Pemandian suci mata air alami -> Pura Tirta Empul.
- Penilaian lembar kerja refleksi mengenai makna ketiga peninggalan sejarah Hindu di Bali (Prasasti Blanjong, Candi Tebing Gunung Kawi, Pura Tirta Empul) menggunakan rubrik refleksi.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman reflektif di akhir sesi melalui 3 pertanyaan refleksi tertulis singkat: (1) Mengapa Prasasti Blanjong penting bagi sejarah peradaban Hindu di Bali? (Acuan: menjadi bukti tertulis tertua wangsa Warmadewa dan perkembangan aksara/ajaran Hindu); (2) Nilai luhur apa yang tercermin dari kepemimpinan Anak Wungsu di situs Gunung Kawi? (Acuan: kepemimpinan welas asih, kerukunan/toleransi beragama, dan penghormatan leluhur); (3) Bagaimana kita menerapkan nilai kesucian Tirta Empul saat ini? (Acuan: menjaga kesucian pikiran/raga melalui pembersihan diri dan melestarikan kelestarian mata air/lingkungan).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan tanya jawab di awal pertemuan
- Kuis interaktif 'Tantangan Detektif Peninggalan Bali' saat kegiatan inti
- Pemeriksaan lembar kerja refleksi tertulis peninggalan sejarah Hindu di Bali
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Merefleksikan peninggalan Prasasti Blanjong terhadap perkembangan Hindu di Bali | Belum mampu merefleksikan makna keberadaan Prasasti Blanjong bagi perkembangan agama Hindu di Bali (jawaban keliru atau tidak sesuai acuan sejarah Blanjong). | Mampu merefleksikan makna Prasasti Blanjong secara terbatas sebatas fakta fisik penemuan prasasti tanpa menghubungkannya dengan perkembangan agama Hindu di Bali. | Mampu merefleksikan makna Prasasti Blanjong dengan tepat sebagai bukti tertulis awal wangsa Warmadewa dan awal perkembangan tatanan keagamaan Hindu di Bali secara jelas. | Mampu merefleksikan makna Prasasti Blanjong secara mendalam dan komprehensif, mengaitkan akulturasi budaya bahasa/aksara dengan legitimasi kepemimpinan berlandaskan ajaran Hindu di Bali. | | Merefleksikan peninggalan Candi Tebing Gunung Kawi terhadap perkembangan Hindu di Bali | Belum mampu merefleksikan makna historis dan spiritual Candi Tebing Gunung Kawi dalam perkembangan Hindu di Bali. | Mampu merefleksikan Candi Tebing Gunung Kawi sebatas bangunan makam atau candi tebing tanpa mengaitkan nilai spiritual masa pemerintahan Raja Anak Wungsu. | Mampu merefleksikan Candi Tebing Gunung Kawi dengan tepat sebagai peninggalan era Raja Anak Wungsu yang mencerminkan pemujaan roh suci leluhur dan kerukunan hidup beragama. | Mampu merefleksikan Candi Tebing Gunung Kawi secara mendalam, mengaitkan nilai welas asih kepemimpinan Raja Anak Wungsu, keteguhan spiritual pasraman, serta harmoni keagamaan masa lampau dengan kehidupan masa kini. | | Merefleksikan peninggalan Pura Tirta Empul terhadap perkembangan Hindu di Bali | Belum mampu merefleksikan peninggalan Pura Tirta Empul dalam kaitannya dengan tradisi dan perkembangan Hindu di Bali. | Mampu menyebutkan fungsi pemandian Tirta Empul namun belum dapat merefleksikan makna filosofis penyucian spiritual dalam agama Hindu. | Mampu merefleksikan makna Pura Tirta Empul dengan tepat sebagai situs suci mata air peninggalan sejarah yang mendasari tradisi penyucian diri (melukat) dalam perkembangan Hindu hingga kini. | Mampu merefleksikan makna Pura Tirta Empul secara mendalam dan utuh, menghubungkan pelestarian sumber air amerta, nilai ritual penyucian lahir batin, serta tanggung jawab menjaga kesucian situs warisan leluhur saat ini. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 80 menit efektif dalam memfasilitasi murid merefleksikan ketiga peninggalan sejarah Hindu di Bali secara mendalam?
- Apakah aktivitas tantangan detektif berhasil meningkatkan kegembiraan dan motivasi belajar murid sebelum menulis lembar refleksi?
- Bagian refleksi mana yang paling menantang bagi murid dan membutuhkan bimbingan tambahan?
Murid:- Apa nilai keteladanan dan spiritual terpenting yang saya peroleh setelah mempelajari Prasasti Blanjong, Candi Tebing Gunung Kawi, dan Pura Tirta Empul?
- Bagaimana perasaan saya setelah memahami bahwa tradisi penyucian di Tirta Empul sudah berlangsung ribuan tahun sejak zaman kerajaan di Bali?
- Sikap nyata apa yang ingin saya lakukan untuk menghormati dan menjaga kesucian benda serta tempat peninggalan suci Hindu?
Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.5.1 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Kalimantan
- TP 7.5.2 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Barat
- TP 7.5.3 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Tengah
- TP 7.5.4 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Jawa Timur
- TP 7.5.5 Merefleksikan sejarah perkembangan agama Hindu di Asia melalui peninggalan sejarah di Bali
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen dengan salam panganjali 'Om Swastyastu', memandu doa pembuka, dan mengecek kesiapan fisik serta alat tulis murid untuk mengikuti asesmen sumatif bab (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif yaitu merefleksikan seluruh materi peninggalan sejarah Hindu di Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali secara individual dan mandiri (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Penugasan Tertulis Reflektif Bagian 1 dan Bagian 2, lalu membacakan instruksi pengerjaan: tugas bersifat individual, dilarang membuka buku/bekerja sama, dan waktu pengerjaan dibagi menjadi dua sesi masing-masing 35 menit (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid secara individual dan hening mengerjakan Lembar Refleksi Bagian 1 (Fokus TP 1 & TP 2: Kalimantan dan Jawa Barat) yang berisi 2 butir uraian reflektif: Butir (1) Analisis fakta sejarah Yupa Muarakaman Kutai dan pemaknaan nilai yadnya Raja Mulawarman (pemberian 20.000 ekor sapi di Waprakeswara) terhadap awal masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu di Nusantara; Butir (2) Analisis fakta sejarah prasasti Tarumanegara (Ciaruteun, Kebon Kopi, Tugu) dan refleksi makna kepemimpinan Raja Purnawarman yang memuliakan Dewa Wisnu serta tata kelola air demi kesejahteraan rakyat (35 menit).
- Murid secara individual dan hening melanjutkan pengerjaan Lembar Refleksi Bagian 2 (Fokus TP 3, TP 4, & TP 5: Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali) yang berisi 2 butir uraian reflektif komparatif: Butir (3) Analisis komparatif peninggalan Jawa Tengah (Candi Prambanan/Sewu, Dieng, Prasasti Canggal/Tukmas) dan Jawa Timur (Candi Penataran, Singasari, Kidal, Prasasti Dinoyo) mengenai kesinambungan pemujaan Siwa-Trimurti dan integrasi nilai keagamaan; Butir (4) Analisis kesinambungan peninggalan hidup di Bali (Pura Besakih, Candi Gunung Kawi, Prasasti Blanjong) serta refleksi keutuhan nilai spiritualitas Hindu yang lestari hingga masa kini (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali kelengkapan seluruh jawaban refleksi pada lembar kerja dan mengumpulkan hasil pekerjaannya secara tertib ke meja guru tepat waktu (3 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi atas kejujuran, ketertiban, dan kemandirian murid selama menyelesaikan asesmen sumatif bab (1 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan secara singkat perjalanan belajar Bab 5 tentang kekayaan peninggalan sejarah Hindu di Indonesia, menyampaikan rencana pengembalian hasil koreksi, dan menutup sesi pembelajaran dengan doa serta parama santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Tidak ada diferensiasi kompetensi atau materi; seluruh murid mengerjakan paket soal reflektif yang sama.
- Proses: Akomodasi akses tata letak dan pembacaan instruksi secara verbal bagi murid yang membutuhkan tanpa mengubah teks soal, tingkat kesulitan, atau kriteria penilaian.
- Produk: Format pengerjaan seragam berupa lembar kerja refleksi tertulis individual.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan alat tulis dan pemahaman murid terhadap 3 tata tertib asesmen mandiri di kelas (acuan: murid hadir tepat waktu, menata meja hanya dengan alat tulis, dan mematuhi larangan membuka catatan).
Proses:- Pemantauan kemandirian dan kepatuhan waktu pengerjaan tugas tertulis reflektif individual selama 70 menit waktu kerja.
Sumatif Bab:- penugasan tertulis reflektif komprehensif: lembar kerja refleksi tertulis individual yang memuat analisis keterkaitan dan pemaknaan nilai peninggalan sejarah Hindu di Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali terhadap perkembangan agama Hindu
- penugasan tertulis reflektif bagian 1: lembar analisis refleksi tertulis individual yang menguraikan makna sejarah peninggalan Hindu di Kalimantan (seperti Yupa Kutai) dan Jawa Barat (seperti prasasti Tarumanegara) dalam perkembangan agama Hindu di Indonesia (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian refleksi tertulis dengan kriteria akurasi fakta sejarah, kedalaman refleksi makna peninggalan, dan keterkaitan dengan perkembangan Hindu)
- penugasan tertulis reflektif bagian 2: lembar uraian refleksi komparatif tertulis individual mengenai nilai keagamaan dan kesinambungan peninggalan candi serta prasasti di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga tradisi hidup di Bali dalam perkembangan Hindu (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian refleksi tertulis dengan kriteria ketepatan analisis peninggalan antarwilayah, pemaknaan nilai spiritualitas, dan keutuhan simpulan reflektif)
Sumatif:- penugasan tertulis reflektif komprehensif: lembar kerja refleksi tertulis individual yang memuat analisis keterkaitan dan pemaknaan nilai peninggalan sejarah Hindu di Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali terhadap perkembangan agama Hindu
- penugasan tertulis reflektif bagian 1: lembar analisis refleksi tertulis individual yang menguraikan makna sejarah peninggalan Hindu di Kalimantan (seperti Yupa Kutai) dan Jawa Barat (seperti prasasti Tarumanegara) dalam perkembangan agama Hindu di Indonesia (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian refleksi tertulis dengan kriteria akurasi fakta sejarah, kedalaman refleksi makna peninggalan, dan keterkaitan dengan perkembangan Hindu)
- penugasan tertulis reflektif bagian 2: lembar uraian refleksi komparatif tertulis individual mengenai nilai keagamaan dan kesinambungan peninggalan candi serta prasasti di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga tradisi hidup di Bali dalam perkembangan Hindu (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian refleksi tertulis dengan kriteria ketepatan analisis peninggalan antarwilayah, pemaknaan nilai spiritualitas, dan keutuhan simpulan reflektif)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Akurasi Fakta Sejarah dan Refleksi Makna Peninggalan Kalimantan dan Jawa Barat (TP 1 & TP 2) | Menyebutkan kurang dari 2 fakta sejarah dari 4 fakta target (Yupa Kutai/Mulawarman/Waprakeswara, Prasasti Ciaruteun/Kebon Kopi/Tugu Tarumanegara) dan belum menyajikan refleksi makna nilai yadnya maupun nilai kepemimpinan Hindu. | Menyebutkan tepat 2 dari 4 fakta target peninggalan Kalimantan dan Jawa Barat, serta menyajikan refleksi makna nilai yadnya atau kepemimpinan namun uraian keterkaitannya masih dangkal/terpisah. | Menyebutkan tepat 3 dari 4 fakta target peninggalan Kalimantan dan Jawa Barat dengan akurat, serta menyajikan refleksi makna nilai yadnya Mulawarman dan pemuliaan Wisnu Purnawarman secara jelas dalam perkembangan Hindu. | Menyebutkan seluruh 4 fakta target peninggalan Kalimantan dan Jawa Barat secara lengkap dan tepat (Yupa Muarakaman Kutai, Waprakeswara, Prasasti Ciaruteun/Kebon Kopi, dan persembahan Tugu), serta menguraikan refleksi makna nilai yadnya suci dan nilai kepemimpinan pelindung rakyat secara mendalam dan utuh. | | Analisis Peninggalan Antarwilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kesinambungan di Bali (TP 3, TP 4, & TP 5) | Menyebutkan peninggalan dari 1 wilayah saja dari 3 wilayah target (Jawa Tengah: Prambanan/Dieng/Canggal; Jawa Timur: Penataran/Singasari/Dinoyo; Bali: Besakih/Gunung Kawi/Blanjong) tanpa analisis komparatif nilai keagamaan. | Menyebutkan peninggalan dari tepat 2 wilayah target, mulai membandingkan pemujaan Siwa-Trimurti atau tradisi di Bali, tetapi analisis komparatif kesinambungan sejarahnya belum lengkap. | Menyebutkan peninggalan dari seluruh 3 wilayah target (Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali) secara tepat, serta menganalisis kesinambungan nilai pemujaan keagamaan Trimurti dan tradisi pura dengan baik. | Menyebutkan peninggalan dari seluruh 3 wilayah target secara lengkap dan tepat, menganalisis secara runtut kesinambungan pemujaan Trimurti dari candi-candi Jawa hingga tradisi hidup di Bali, serta menguraikan pemaknaan nilai spiritualitas Hindu secara komprehensif. | | Keutuhan Simpulan Reflektif Perkembangan Hindu di Nusantara (TP 1 s.d. TP 5) | Belum menyajikan simpulan reflektif mengenai relevansi nilai sejarah peninggalan Hindu terhadap kehidupan beragama saat ini. | Menyajikan simpulan reflektif singkat yang memuat 1 nilai spiritualitas (misal: pelestarian warisan budaya), namun belum mengaitkan perjalanan sejarah perkembangan Hindu dari masa kerajaan kuno hingga masa kini. | Menyajikan simpulan reflektif yang runtut mencakup 2 nilai penting (nilai yadnya/spiritualitas dan nilai pelestarian peninggalan suci) dalam kaitannya dengan perkembangan agama Hindu di Indonesia. | Menyajikan simpulan reflektif yang utuh dan mendalam mencakup 3 nilai utama (yadnya tulus ikhlas, kepemimpinan berlandaskan dharma, dan kesinambungan sradha-bhakti masa kini) secara mandiri dan komprehensif. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 2 x 35 menit efektif dan memadai bagi murid dalam menuangkan refleksi tertulis secara mandiri dan mendalam?
- Bagian peninggalan wilayah manakah (Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, atau Bali) yang paling banyak dipahami murid secara akurat, dan bagian mana yang memerlukan penguatan kembali?
Murid:- Nilai luhur dan keteladanan apa dari para leluhur Hindu di masa kerajaan kuno yang paling berkesan dan ingin saya terapkan dalam kehidupan beragama sehari-hari?
- Bagaimana perasaan saya setelah menyelesaikan penugasan refleksi tertulis ini secara jujur dan mandiri?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021 (Bab 5)
- Gambar/foto peninggalan Prasasti Yupa Muarakaman, Kalimantan Timur
- Kartu fakta sejarah 'Detektif Yupa'
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021, Bab 5
- Foto/Gambar dokumentasi Prasasti Ciaruteun, Prasasti Tugu, Prasasti Kebonkopi, dan Prasasti Jambu (Koleksi Museum Nasional)
- Set kartu 'Detektif Prasasti' (kartu kutipan isi prasasti dan kartu makna reflektif)
- Buku Panduan Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (Halaman 112–115)
- Gambar/Infografis denah kompleks Candi Prambanan dan Candi Sewu
- Lembar Kerja Murid (LKS) Analisis Bukti Sejarah Candi Jawa Tengah
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
- Foto/gambar peninggalan Candi Arjuna (Kompleks Candi Dieng) dan Candi Gedongsongo
- Lembar Kerja Siswa: Refleksi Candi Dieng dan Gedongsongo
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2021), Bab 5
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek, 2021), Halaman 124-126
- Gambar relief Prasasti Tukmas dan teks terjemahan Prasasti Canggal
- Kartu permainan simbol dan candrasangkala prasasti
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021
- Foto/gambar dokumentasi Candi Penataran (Blitar) dan Candi Singasari (Malang)
- Kartu kegiatan tebak 'Cocok Sejarah' peninggalan Jawa Timur
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (Halaman 140-148)
- Gambar peninggalan Candi Kidal, Candi Jago, dan Prasasti Dinoyo
- Lembar Analisis Reflektif dan Kartu Kuis Pembelajaran
- Gambar/foto dokumentasi Pura Besakih dan Candi/Pura di Bali
- Lembar Kerja Siswa dan Kartu Informasi Sejarah Pura Besakih
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (Halaman 140-143)
- Gambar/foto dokumentasi Prasasti Blanjong, Candi Tebing Gunung Kawi Tampaksiring, dan Pura Tirta Empul
- Lembar Kerja Murid (LKPD) Refleksi Sejarah Hindu di Bali
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (Bab 5: Peninggalan Sejarah Agama Hindu di Indonesia)
- Lembar Kerja Penugasan Tertulis Reflektif Bagian 1 dan Bagian 2 Bab 5
|