Modul AjarBab 4Fase DSemester 2

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 7 Bab 4: Upakara

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas 7 untuk Bab 4 "Upakara", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 7 Bab 4: Upakara

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti - Kelas 7

Bab 4

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Bab 4 — Upakara

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase D / Kelas 7
TopikBab 4 — Upakara
Alokasi Waktu16 JP (16 x 40 menit = 640 menit)
Jumlah Pertemuan8
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 7.4.1 Mempraktikkan penyiapan sarana dasar dalam Upakara
  2. TP 7.4.2 Mempraktikkan perangkaian bentuk Upakara sederhana
  3. TP 7.4.3 Mempraktikkan penataan unsur perlengkapan Upakara sesuai fungsinya
  4. TP 7.4.4 Mempraktikkan persembahan Upakara dalam peribadatan

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas✓
Kolaborasi
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Mengapa dalam membuat sarana upakara kita harus memilih daun atau janur yang masih segar dan utuh?
  2. Bagaimana cara menyiapkan dan membersihkan daun atau janur agar siap dirangkai menjadi sarana upakara?
  3. Mengapa dalam setiap upakara sederhana selalu terdapat unsur porosan yang berisi daun sirih, pinang, dan kapur?
  4. Bagaimana cara memilih dan menyiapkan bunga yang segar, utuh, serta bersih untuk sarana persembahan?
  5. Bagaimana cara merangkai selembar daun pisang atau janur menjadi wadah celemek yang rapi dan kokoh?
  6. Apa perbedaan teknik merangkai antara wadah celemek berbentuk bujur sangkar dengan ituk-ituk yang berbentuk mangkuk kecil?
  7. Mengapa sampian canang sari membutuhkan kerapian irisan janur dan ikatan semat yang kokoh saat dirangkai?
  8. Bagaimana bentuk lengkungan janur memengaruhi keutuhan sampian canang sari ketika diletakkan di atas wadah ceper?
  9. Mengapa penataan bunga dalam wadah canang diatur berdasarkan arah mata angin dan warnanya?
  10. Di bagian mana unsur porosan harus diletakkan dalam ceper canang agar memenuhi fungsinya sebagai inti upakara?
  11. Mengapa dalam persembahyangan upakara selalu didampingi oleh dupa yang menyala dan tirtha?
  12. Di mana posisi yang tepat meletakkan tempat dupa dan wadah tirtha agar aman dan sesuai fungsinya saat upakara dipersembahkan?
  13. Bagaimana urutan sikap tangan dan sarana bunga saat kita mempersembahkan Upakara dalam Kramaning Sembah?
  14. Mengapa persembahan Upakara dalam peribadatan harus dilakukan dengan sikap tubuh yang hening dan tertib?
  15. Bagaimana kita membuktikan ketulusan bakti (lascarya) melalui kerapian rangkaian sarana upakara yang kita buat secara mandiri?
  16. Mengapa penataan unsur perlengkapan dan sikap kramaning sembah yang tertib menjadi wujud kesungguhan persembahan kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mempraktikkan Pemilihan dan Penyiapan Sarana Dasar Daun atau Janur dalam Upakara — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.1 Mempraktikkan penyiapan sarana dasar dalam Upakara

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', memimpin doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mempraktikkan pemilihan serta penyiapan sarana dasar berupa daun pisang atau janur untuk upakara (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik unjuk kerja singkat: guru menyediakan 3 helai bahan di meja demonstrasi, yaitu: (1) daun pisang segar dan bersih, (2) daun pisang kering/robek berlubang, dan (3) janur segar berwarna kuning muda utuh. Murid secara bergantian diminta menunjuk langsung 2 bahan yang layak digunakan untuk sarana upakara (acuan jawaban tepat: bahan 1 dan bahan 3 adalah bahan layak; bahan 2 adalah bahan tidak layak/pengalih) (9 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mendemonstrasikan kriteria pemilihan bahan sarana upakara yang layak (daun pisang/janur: segar, tidak layu, tidak berulat, tidak robek) dan teknik pembersihan (mengelap permukaan dengan kain bersih dari pangkal ke ujung) serta teknik memotong/menyerut lidi janur dengan pisau secara aman (10 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil mengamati secara langsung 2 sampel bahan yang dibagikan ke meja: satu set bahan layak (janur segar utuh dan daun pisang utuh) dan satu set bahan cacat (daun layu/sobek dan janur berjamur/kering) untuk mencocokkan ciri-ciri fisik bahan dasar upakara yang memenuhi syarat kesucian dan kelayakan (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Guru mengadakan tantangan berpasangan 'Tangkas Pilah dan Bersih Janur/Daun': setiap pasangan murid menerima wadah berisi 4 helai bahan campuran (Bahan A: janur segar utuh; Bahan B: daun pisang segar utuh; Bahan C: janur robek dan kecokelatan; Bahan D: daun pisang layu berulat). Pasangan murid berlomba memisahkan 2 bahan yang layak (A dan B) dari 2 bahan tidak layak/pengalih (C dan D) dengan cepat dan tepat (acuan kelayakan: Bahan A dan B terpilih, Bahan C dan D disisihkan) (10 menit).
  • Setiap murid secara mandiri mempraktikkan penyiapan sarana dasar upakara: (1) mengambil 1 pelepah janur dan 1 lembar daun pisang yang layak, (2) membersihkan permukaan daun dan janur dengan lap bersih hingga bebas debu dan kotoran, (3) memisahkan lidi dari helai janur secara rapi menggunakan pisau peraut dengan memperhatikan keselamatan kerja, serta (4) memotong daun pisang menjadi lembaran berukuran seragam (panjang 15 cm, lebar 10 cm) sebanyak 3 lembar rapi siap pakai (20 menit).

Merefleksi (Bermakna):

  • Murid meletakkan hasil penyiapan daun dan janur di atas meja masing-masing, lalu saling memeriksa hasil kerja teman sebangku menggunakan panduan cek fisik: kebersihan permukaan, kerapian pemotongan lidi, dan keutuhan lembaran daun (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap keterampilan teknis murid dalam menyerut lidi dan memotong daun, serta mengonfirmasi bahwa seluruh daun dan janur yang telah disiapkan telah memenuhi standar kesucian sarana dasar upakara (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan langkah-langkah penyiapan sarana dasar daun atau janur yang benar dalam upakara (pemilihan bahan segar, pembersihan, dan pemotongan rapi) (5 menit).
  • Guru memberikan informasi bahwa bahan daun dan janur yang telah disiapkan hari ini akan dilanjutkan dengan penyiapan porosan dan bunga pada pertemuan berikutnya, lalu menutup sesi dengan doa penutup dan parama santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan daun pisang yang sudah ditandai garis potong dan janur yang serat lidinya mudah dilepas, sedangkan murid mahir diberikan pelepah janur utuh yang lebih tebal dan daun pisang lebar tanpa pola.
  • Proses: Murid yang belum terampil memegang pisau mendapat pendampingan permodelan bertahap dari guru saat memisahkan lidi janur; murid yang sudah mahir dapat menyiapkan potongan daun tambahan secara mandiri.
  • Produk: Kerapian potongan daun dan hasil serutan lidi dinilai berdasarkan ketepatan ukuran dan kebersihan bahan sesuai tingkat kesiapan motorik murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji petik identifikasi kelayakan bahan dasar: Guru menyajikan 3 sampel bahan di depan kelas: (1) daun pisang segar dan utuh, (2) daun pisang kering/robek berlubang, dan (3) janur segar kuning muda utuh. Murid diminta menunjuk 2 bahan yang memenuhi syarat sarana dasar upakara. (Kunci/acuan: bahan 1 dan 3 adalah bahan layak; bahan 2 adalah bahan tidak layak/pengalih).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja praktik mandiri penyiapan sarana dasar dengan kriteria ketercapaian: (1) Memilah bahan layak (janur segar utuh dan daun pisang segar tanpa cacat, mengabaikan bahan robek/layu), (2) Membersihkan permukaan daun dan janur dari debu/kotoran dengan lap bersih, (3) Memisahkan lidi dari helai janur secara utuh dan rapi, (4) Memotong 3 lembar daun pisang ukuran 15 cm x 10 cm dengan rapi tanpa sobek (acuan: terpenuhinya seluruh 4 langkah penyiapan fisik sarana dasar secara berurutan dan higienis).

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan produk akhir sarana dasar: Guru memeriksa 3 lembar potongan daun pisang (panjang 15 cm, lebar 10 cm) dan 2 helai janur yang telah dipisahkan dari lidinya per murid. (Kriteria keberhasilan: permukaan daun/janur bersih dari noda/debu, serat janur tidak sobek di bagian tengah, dan tepi potongan daun rata).

Formatif:

  • Unjuk kerja diagnostik awal pemilahan bahan daun/janur layak upakara
  • Lembar observasi unjuk kerja praktik pemilahan, pembersihan, dan pemotongan sarana dasar daun/janur saat kegiatan inti

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pemilihan Sarana Dasar Daun dan JanurKeliru memilih bahan layak, masih mencampur bahan daun/janur yang robek, layu, atau kotor dengan bahan layak.Memilih 1 jenis bahan layak (daun pisang atau janur saja) secara tepat, namun masih menyertakan 1 bahan rusak/pengalih.Tepat memilah 2 jenis bahan layak (daun pisang segar utuh dan janur segar utuh) serta menyisihkan seluruh bahan rusak/pengalih dengan sedikit arahan.Tepat memilah 2 jenis bahan layak (daun pisang segar utuh dan janur segar utuh) serta menyisihkan seluruh bahan rusak/pengalih secara cepat dan mandiri.
Pembersihan dan Pemisahan Lidi JanurBelum mampu membersihkan permukaan bahan dan janur sobek saat mencoba memisahkan lidi.Mampu mengelap permukaan bahan hingga bersih namun helai janur masih sering sobek/rusak saat lidi dipisahkan.Mampu mengelap permukaan bahan hingga bersih dan memisahkan lidi dari janur dengan rapi meski masih terdapat sedikit serat yang tersisa.Mampu membersihkan permukaan bahan secara higienis dan memisahkan lidi janur secara utuh, rapi, dan licin tanpa merusak helai janur secara mandiri.
Pemotongan Lembaran Daun PisangBelum mampu memotong daun pisang sesuai ukuran atau lembaran daun robek di bagian tengah.Mampu memotong 1-2 lembar daun pisang tetapi tepi potongan tidak rata dan ukuran belum seragam (15 cm x 10 cm).Mampu memotong 3 lembar daun pisang ukuran 15 cm x 10 cm dengan tepi potongan cukup rapi.Mampu memotong 3 lembar daun pisang ukuran 15 cm x 10 cm secara presisi, rapi, utuh, dan seragam tanpa bantuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 20 menit pada praktik mandiri memotong daun dan menyerut lidi janur mencukupi bagi seluruh murid kelas 7?
  • Bagaimana kesadaran murid terhadap aspek kesucian dan kebersihan sarana upakara terpupuk selama kegiatan praktik?

Murid:

  • Bagian mana yang paling menantang bagimu saat memisahkan lidi dari janur atau memotong daun pisang?
  • Apa yang akan kamu lakukan agar bahan daun atau janur yang kamu siapkan tetap bersih dan rapi untuk upakara?

Pertemuan 2 — Mempraktikkan Penyiapan Sarana Dasar Porosan dan Bunga dalam Upakara — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.1 Mempraktikkan penyiapan sarana dasar dalam Upakara

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama sebelum memulai kegiatan praktik (3 menit).
  • Guru mengecek kehadiran murid serta memeriksa kesiapan alat dan bahan praktik berupa daun sirih, buah pinang, pamor/kapur sirih, tali pengikat/semat, dan aneka bunga persembahan (4 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis tebak sarana: murid memilih dan menunjukkan 4 unsur sarana dasar di meja demonstrasi dari baki bahan yang disediakan (daun sirih, pinang, kapur sirih, bunga segar; acuan: daun sirih hijau utuh, irisan pinang cokelat/segar, kapur sirih putih, kuntum bunga segar nir-layu; pengalih: daun singkong, kerikil, arang) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu melatih keterampilan mempraktikkan penyiapan sarana dasar porosan dan bunga dalam upakara secara mandiri dan cermat (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak peragaan guru tentang teknik memotong dan melipat daun sirih secara rapi, menyisipkan takaran pamor (kapur) dan irisan jambe (pinang) yang tepat, serta mengikat/menyemat lipatan porosan hingga kokoh (7 menit).
  • Murid mengamati penjelasan guru mengenai kriteria pemilihan bunga yang patut untuk upakara: bunga harum, utuh, tidak layu, dan bersih dari serangga atau kotoran, serta teknik membersihkan tangkai bunga tanpa merusak mahkotanya (6 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid memainkan 'Tantangan Cepat Tangkas Sarana': secara berpasangan murid berlomba memilah 5 bunga yang layak dan menyisihkan 3 bunga pengalih (bunga layu, berulat, dan rontok) dalam wadah kerja mereka dengan riang dan bersemangat (9 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid mempraktikkan pembuatan 2 unit porosan silih asih/porosan giling dengan melipat daun sirih yang telah diisi seujung kapur sirih dan seiris buah pinang, lalu menyematnya hingga rapat dan tidak berhamburan (13 menit).
  • Setiap murid menyiapkan 5 kuntum bunga segar persembahan dengan memotong tangkai berlebih secara rapi, membersihkan kotoran/debu pada kelopak, dan mengelompokkannya di atas nampan kerja masing-masing (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid meletakkan hasil penyiapan 2 porosan dan 5 bunga di atas meja masing-masing untuk saling mengamati dan melakukan penilaian diri menggunakan lembar ceklis kerapian dan kelengkapan (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung kepada murid mengenai ketepatan lipatan sirih, proporsi kapur dan pinang, serta kebersihan kelopak bunga yang telah disiapkan (4 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan inti keterampilan menyiapkan porosan dan bunga sebagai sarana dasar upakara yang melambangkan ketulusan dan kesucian (3 menit).
  • Murid melakukan cek pemahaman akhir melalui unjuk hasil kerja dan merapikan sisa bahan praktik secara mandiri (4 menit).
  • Guru menyampaikan materi pertemuan berikutnya yaitu mempraktikkan perangkaian wadah celemek dan ituk-ituk upakara sederhana, lalu menutup kelas dengan doa parama santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar panduan visual berurutan tentang tahapan melipat porosan bagi murid yang memerlukan panduan langkah per langkah.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung pada teknik menjepit dan menyemat sirih bagi murid yang belum terbiasa, serta memberikan tantangan mandiri menyiapkan 3 variasi kuntum bunga berbeda tekstur bagi murid yang sudah mahir.
  • Produk: Murid yang membutuhkan bimbingan cukup menghasilkan 1 porosan utuh dan 3 kuntum bunga bersih; murid yang mahir menghasilkan 2 porosan kokoh dan 5 kuntum bunga tertata bersih.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tebak dan tunjuk langsung 4 bahan sarana dasar upakara di meja demonstrasi guru (Acuan jawaban benar: daun sirih hijau segar, irisan biji pinang, kapur sirih putih, kuntum bunga segar nir-layu; pengalih: daun singkong, kerikil, arang).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid melipat daun sirih berisi kapur dan pinang serta menguncinya dengan semat (kriteria: daun sirih tidak sobek, takaran kapur tidak meluber, sematan rapat/tidak buyar).
  • Observasi praktik membersihkan dan merapikan 5 kuntum bunga (kriteria: mahkota bunga tidak hancur, bebas ulat/kotoran, tangkai dipotong seragam 1-2 cm).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan produk hasil praktik di akhir sesi: verifikasi fisik 2 buah porosan jadi (memuat sirih, pinang, kapur sirih secara lengkap dan terikat kokoh) dan 5 kuntum bunga upakara yang bersih dan rapi.

Formatif:

  • Unjuk kerja praktik pembuatan porosan (kelengkapan 3 bahan: sirih, pinang, kapur; kerapian dan kekokohan sematan).
  • Unjuk kerja pemilahan dan penyiapan kuntum bunga upakara (kebersihan, ketiadaan cacat/ulat, kerapian tangkai).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keterampilan Penyiapan Porosan (Bahan & Kerapian)Belum mampu memadukan ketiga bahan porosan (sirih, pinang, kapur) dan lipatan terbuka/buyar.Menyiapkan porosan dengan 3 bahan lengkap (sirih, pinang, kapur), namun lipatan masih longgar dan sematan belum mengunci dengan rapat.Menyiapkan 1-2 porosan dengan 3 bahan lengkap (sirih, pinang, kapur) secara tepat, lipatan rapi, dan terkunci kokoh dengan semat/tali.Menyiapkan 2 porosan secara mandiri, presisi, sangat rapi, takaran kapur dan pinang sangat pas, serta sematan sangat kokoh tanpa robekan daun sirih.
Keterampilan Penyiapan Bunga Upakara (Kelayakan & Kebersihan)Memilih bunga yang layu atau berulat, tangkai belum dipotong, dan kelopak kotor.Memilih 2-3 bunga layak dari target 5 bunga, namun tangkai belum dipotong rapi atau masih terdapat kotoran pada kelopak.Memilih dan membersihkan 4-5 kuntum bunga segar utuh tanpa cacat/ulat dengan potongan tangkai rapi sesuai acuan.Memilih dan menyiapkan seluruh 5 kuntum bunga segar, bersih sempurna dari serangga/debu, tangkai terpotong rapi seragam, secara mandiri dan cepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu praktik melipat porosan dan membersihkan bunga mencukupi bagi seluruh murid?
  • Bagian teknik mana yang paling banyak membutuhkan bimbingan individual (melipat sirih atau menyemat)?
  • Bagaimana keterlibatan dan kegembiraan murid saat mengikuti tantangan pemilahan bunga berpasangan?

Murid:

  • Langkah mana yang paling mudah dan paling menantang saat membuat porosan?
  • Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menyiapkan sarana dasar bunga dan porosan dengan tangan sendiri secara mandiri?

Pertemuan 3 — Mempraktikkan Perangkaian Wadah Celemek dan Ituk-Ituk Upakara Sederhana — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.2 Mempraktikkan perangkaian bentuk Upakara sederhana

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam panganjali 'Om Swastyastu', doa bersama, mengecek kehadiran, serta memastikan kesiapan bahan praktik berupa potongan daun pisang/janur dan semat/lidi (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik unjuk kerja singkat: meminta murid melipat satu lembar daun pisang selebar 10 cm dan menyematkan satu lidi untuk melihat kesiapan motorik dasar merangkai (acuan: lipatan terlipat rapi dan semat terkunci rapat tanpa sobek) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mempraktikkan teknik perangkaian wadah Upakara sederhana berupa celemek dan ituk-ituk secara rapi dan kokoh (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru mendemonstrasikan secara perlahan langkah teknis merangkai wadah celemek (memotong daun berbentuk bujur sangkar ukuran 12x12 cm, melipat keempat sudutnya membentuk lekukan, dan menguncinya dengan semat lidi) serta ituk-ituk (melipat daun persegi panjang ukuran 15x8 cm menjadi bentuk mangkuk perahu kecil dengan sematan di kedua ujung) (10 menit).
  • Murid mengamati dan mencermati alur lipatan, kerapian sudut, serta teknik penguncian semat pada contoh fisik celemek dan ituk-ituk yang telah disiapkan guru (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan tantangan mandiri 'Tangkas Merangkai': setiap murid secara mandiri mempraktikkan perangkaian 1 buah celemek dan 1 buah ituk-ituk menggunakan bahan daun pisang dan semat yang telah disiapkan di mejanya masing-masing (20 menit).
  • Murid melanjutkan latihan perangkaian untuk menghasilkan 1 buah celemek tambahan dan 1 buah ituk-ituk tambahan dengan memperhatikan kekokohan sambungan semat dan kerapian lipatan wadah (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa hasil rangkaian celemek dan ituk-ituk karyanya sendiri menggunakan panduan cek fisik mandiri: sambungan terkunci kokoh (tidak lepas saat diangkat) dan bentuk simetris sesuai acuan wadah Upakara sederhana (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap hasil karya perangkaian celemek dan ituk-ituk murid, mengapresiasi kerapian dan kekokohan sematan yang dibuat (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari teknik perangkaian wadah dasar Upakara sederhana, merapikan sisa bahan daun/semat di kelas, dan menutup pembelajaran dengan Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan daun yang sudah memiliki garis lipatan panduan, sedangkan murid mahir menggunakan daun polos tanpa pola garis.
  • Proses: Guru memberikan bimbingan langsung langkah demi langkah pada murid yang kesulitan menyematkan lidi, sementara murid yang sudah terampil merangkai secara mandiri.
  • Produk: Murid yang memerlukan pendampingan minimal menyelesaikan 1 celemek dan 1 ituk-ituk yang terkunci kokoh, sedangkan murid yang lebih cepat merangkai menyelesaikan hingga 3 pasang celemek dan ituk-ituk dengan kerapian tinggi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pemeriksaan kesiapan motorik awal: Murid diminta melipat selembar potongan daun pisang dan menyematkan satu batang lidi semat. Acuan kriteria kesiapan: lipatan daun tidak robek dan semat menembus kedua bilah daun hingga terkunci rapat.

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat tahap Mengaplikasi: Guru memeriksa teknik perangkaian 2 jenis wadah Upakara (celemek dan ituk-ituk). Acuan penilaian: (1) Celemek: berbentuk bujur sangkar rata dengan lekukan di keempat sudut yang disemat rapi; (2) Ituk-ituk: berbentuk cekungan mangkuk/perahu kecil dengan kedua ujung terkunci semat kokoh dan tidak mudah terlepas.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan verifikasi hasil karya akhir: Murid mengumpulkan 1 celemek dan 1 ituk-ituk terbaik. Guru memeriksa kelayakan fisik dengan mengangkat wadah: sematan tidak lepas, daun tidak sobek parah, dan bentuk celemek serta ituk-ituk stabil sebagai wadah Upakara sederhana.

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja perangkaian wadah celemek dan ituk-ituk menggunakan lembar observasi proses dan rubrik keterampilan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keterampilan Merangkai Wadah CelemekBelum mampu melipat daun menjadi bentuk bujur sangkar dan sematan lidi belum mengunci wadah sehingga bentuk celemek lepas.Mampu merangkai celemek bujur sangkar dengan sematan lidi, namun lipatan sudut belum rapi dan bentuk celemek masih longgar atau mudah lepas saat diangkat.Mampu merangkai celemek bujur sangkar dengan lipatan rapi dan sematan lidi yang mengunci kokoh pada seluruh sudutnya secara terbimbing.Mampu merangkai celemek bujur sangkar secara mandiri dengan lipatan sangat simetris, rapi, rata, dan sematan terkunci sangat kuat serta kokoh.
Keterampilan Merangkai Wadah Ituk-ItukBelum mampu membentuk lekukan mangkuk perahu daun dan kedua ujung belum berhasil disemat.Mampu membentuk cekungan mangkuk ituk-ituk, namun sematan hanya terkunci di satu sisi atau daun mengalami sobek pada lipatan tengah.Mampu merangkai ituk-ituk berbentuk cekungan mangkuk perahu dengan sematan terkunci kokoh di kedua ujungnya secara terbimbing.Mampu merangkai ituk-ituk secara mandiri dengan bentuk cekungan mangkuk perahu yang seimbang, rapi tanpa sobek, dan kedua ujung terkunci sangat kokoh.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 80 menit mencukupi bagi seluruh murid untuk menyelesaikan perangkaian celemek dan ituk-ituk secara mandiri?
  • Bagian mana dari teknik merangkai (melipat sudut celemek atau menyemat kedua ujung ituk-ituk) yang paling banyak membutuhkan bimbingan guru?

Murid:

  • Apakah saya sudah dapat merangkai celemek dan ituk-ituk sendiri sampai kokoh dan tidak lepas?
  • Langkah perangkaian mana yang menurut saya paling menantang saat menyematkan lidi pada daun?

Pertemuan 4 — Mempraktikkan Perangkaian Sampian Canang Sari dalam Upakara Sederhana — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.2 Mempraktikkan perangkaian bentuk Upakara sederhana

Pendahuluan:

  • Guru mengawali pembelajaran dengan salam panganjali 'Om Swastyastu' dan memimpin doa bersama untuk kesiapan batin dalam belajar (3 menit).
  • Guru memeriksa kesiapan fisik murid, kerapian meja kerja, serta kebersihan bahan janur dan semat (lidi penyemat) yang telah disiapkan (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik keterampilan merangkai dengan meminta setiap murid memperagakan cara membuat 1 lipatan janur dan menyematkan 1 lidi semat secara aman dan kokoh (acuan kesiapan: lipatan tidak sobek, semat menusuk tepat menembus dua lapisan daun tanpa longgar) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mendemonstrasikan secara perlahan tahapan perangkaian sampian canang sari: (1) mengukur dan memotong 2 helai janur seimbang, (2) membuat irisan/jejaitan lengkungan ornamen sampian pada kedua sisi tanpa memutus tulang janur, (3) menangkupkan kedua ujung janur membentuk lingkaran/mahkota sampian, dan (4) mengunci persilangan ujung janur dengan semat hingga terangkai kokoh (5 menit).
  • Murid secara berkesadaran mengamati model fisik sampian canang sari utuh yang ditunjukkan guru, membedakan sambungan janur yang kokoh dengan yang longgar, serta mencermati teknik keselamatan kerja saat memotong janur dan menancapkan semat (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam suasana yang menggembirakan, guru membuka sesi 'Tantangan Mahkota Canang': murid berlomba berpasangan saling mengamati ketepatan dan kerapian dalam merangkai 1 buah sampian canang sari awal dengan iringan musik gamelan Bali bertempo ceria (10 menit).
  • Murid secara mandiri mempraktikkan perangkaian bentuk Upakara sederhana yaitu membuat 2 buah sampian canang sari dari janur dengan menerapkan 4 langkah teknik: memotong janur, membuat jejaitan lengkungan sampian, melipat tangkup membentuk lingkaran, dan mengunci dengan semat (acuan: sampian memiliki bentuk simetris, sambungan terkunci rapat dengan semat, janur tidak robek di luar pola jejaitan) (25 menit).
  • Guru berkeliling mengobservasi unjuk kerja perangkaian setiap murid menggunakan lembar cek pengamatan, memberikan bimbingan langsung bagi murid yang sematnya masih longgar atau irisan janurnya terputus (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid meletakkan hasil rangkaian sampian canang sari di atas celemek masing-masing, memeriksa kekokohan perangkaian secara berkesadaran (menguji apakah semat terlepas saat diangkat perlahan), dan menandai bagian irisan atau sematan yang sudah rapi maupun yang perlu diperbaiki (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari teknik perangkaian sampian canang sari yang kokoh, rapi, dan seimbang sebagai salah satu wujud perangkaian bentuk upakara sederhana (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap hasil praktik perangkaian murid serta mengingatkan untuk menyimpan hasil karya dengan baik guna kelanjutan pertemuan berikutnya (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa parama santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' dan mengajak murid membersihkan sisa rautan janur di kelas (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan contoh pola fisik sampian canang sari dengan pola lengkungan sederhana (irisan lurus-lengkung dasar) bagi murid yang baru memulai, serta pola jejaitan bersudut ornamen ganda bagi murid yang lebih terampil.
  • Proses: Memberikan panduan langkah demi langkah secara individual bagi murid yang kesulitan mengunci semat, sementara murid yang sudah mahir langsung merangkai secara mandiri 2 sampian canang sari berturut-turut.
  • Produk: Variasi kerumitan irisan ornamen janur pada sampian canang sari, dengan standar minimal perangkaian kokoh dan simetris tetap terpenuhi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji petik peragaan awal di pendahuluan: Setiap murid diminta membuat 1 lipatan janur dan menancapkan 1 tusukan semat (acuan kesiapan: lipatan janur tidak sobek di bagian tengah, semat mengunci dua bilah janur tanpa lepas saat digoyangkan perlahan).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja langkah perangkaian sampian canang sari: Guru mencatat ketepatan murid dalam 4 langkah kerja: (1) pemotongan janur seimbang, (2) pembuatan jejaitan/irisan lengkungan, (3) penangkupan ujung janur membentuk lingkaran mahkota, dan (4) penguncian semat hingga sambungan kokoh tidak goyah.

Akhir Pertemuan:

  • Cek hasil perangkaian mandiri di penutup: Pemeriksaan 2 buah sampian canang sari hasil karya murid berdasarkan 3 kriteria fisik: (1) bentuk simetris melingkar, (2) irisan ornamen utuh tidak robek lepas, (3) sematan terkunci kuat saat diangkat.

Formatif:

  • Unjuk kerja praktik perangkaian sampian canang sari menggunakan lembar observasi proses dan hasil perangkaian bentuk upakara sederhana.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keterampilan Merangkai Bentuk Sampian Canang SariBelum mampu merangkai janur menjadi bentuk sampian canang sari; semat tidak mengunci atau janur sobek/terputus sehingga bentuk lingkaran mahkota sampian tidak terbentuk.Mampu merangkai janur menjadi sampian canang sari dengan bantuan guru; bentuk lingkaran terbentuk tetapi sambungan semat masih longgar atau irisan ornamen janur tidak simetris.Mampu merangkai secara mandiri 2 buah sampian canang sari dengan bentuk melingkar utuh, irisan jejaitan rapi tanpa terputus, dan terkunci kokoh oleh semat sesuai acuan teknik.Mampu merangkai secara mandiri dan presisi 2 buah sampian canang sari dengan bentuk melingkar sangat simetris, irisan jejaitan ornamen sangat rapi dan rapat, serta sambungan semat terkunci sempurna tanpa cela.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 25 menit untuk praktik mandiri mencukupi seluruh murid dalam merangkai 2 buah sampian canang sari secara tuntas?
  • Bagian mana dari langkah perangkaian sampian (mengiris ornamen janur atau menyematkan lidi) yang paling banyak membutuhkan bimbingan guru?

Murid:

  • Langkah mana dalam merangkai sampian canang sari yang terasa paling mudah dan paling menantang bagimu?
  • Bagaimana kamu memastikan semat yang kamu pasang cukup kuat menahan bentuk lingkaran sampian agar tidak terlepas?

Pertemuan 5 — Mempraktikkan Penataan Unsur Porosan dan Bunga pada Upakara Sesuai Fungsinya — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.3 Mempraktikkan penataan unsur perlengkapan Upakara sesuai fungsinya

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan mengucapkan salam panganjali 'Om Swastyastu' dan mengajak murid melafalkan doa Gayatri secara khidmat (3 menit).
  • Guru memeriksa kehadiran, kesiapan fisik murid, serta mengecek ketersediaan bahan praktik berupa ceper/ituk-ituk, porosan, dan 4 jenis bunga (putih, merah, kuning, hitam/ungu/biru) (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat mengenai posisi dasar unsur porosan dan 4 warna bunga pada wadah upakara (acuan: porosan di dasar tengah wadah; bunga putih di Timur, bunga merah di Selatan, bunga kuning di Barat, bunga biru/ungu/hitam di Utara) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mempraktikkan penataan unsur perlengkapan upakara (khususnya porosan dan penempatan 4 warna bunga sesuai arah/fungsinya pada canang sari) (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati demonstrasi guru tentang urutan meletakkan unsur porosan di dasar wadah ceper sebagai landasan pemujaan, diikuti penataan bunga berdasarkan arah catur loka pala (10 menit).
  • Murid bersama guru mengonfirmasi 4 aturan posisi bunga: bunga putih di bagian Timur/Purwa, bunga merah di bagian Selatan/Daksina, bunga kuning di bagian Barat/Pascima, dan bunga biru/ungu/hitam di bagian Utara/Uttara (acuan: 4 arah tepat sesuai urutan dewa penguasa pengider-ider) (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru menyelenggarakan 'Tantangan Tata Warna Canang': murid dalam format tantangan berpasangan berlatih menempatkan unsur porosan dan menyusun 4 kelompok bunga warna sesuai kuadran arah secara cepat dan tepat (12 menit).
  • Setiap murid secara mandiri mempraktikkan penataan unsur perlengkapan upakara pada wadah ceper masing-masing: diawali meletakkan porosan di bagian dasar tengah, kemudian menata secara rapi bunga putih di sisi Timur, merah di sisi Selatan, kuning di sisi Barat, dan biru/ungu/hitam di sisi Utara (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan pemeriksaan mandiri terhadap hasil penataan canang miliknya menggunakan lembar ceklis panduan tata letak porosan dan bunga (acuan ceklis: (1) porosan berada di dasar tengah, (2) bunga putih di Timur, (3) bunga merah di Selatan, (4) bunga kuning di Barat, (5) bunga hitam/ungu di Utara) (8 menit).
  • Murid memaknai kembali bahwa kerapian dan ketepatan penataan bunga serta porosan merupakan wujud ketulusan serta penghormatan kepada keagungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid melakukan cek pemahaman singkat terhadap ketepatan posisi penataan 4 warna bunga dan letak porosan (4 menit).
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap praktik penataan hari ini dan mengumumkan bahwa pada pertemuan berikutnya (Pertemuan 6) pembelajaran akan berlanjut ke penataan perlengkapan dupa dan tirtha pendukung upakara (4 menit).
  • Pembelajaran ditutup dengan doa Parama Santhi 'Om Santih, Santih, Santih, Om' bersama-sama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan visual arah mata angin bunga bagi murid yang memerlukan bantuan orientasi ruang; murid yang mahir diberikan tantangan menata canang dengan penambahan kembang rampe di bagian tengah atas.
  • Proses: Murid yang masih ragu dibimbing langkah demi langkah mulai dari porosan lalu satu per satu warna bunga; murid mahir langsung menata secara mandiri tanpa kartu bantuan.
  • Produk: Semua murid menghasilkan satu rangkaian penataan porosan dan 4 warna bunga pada ceper; murid mahir melengkapi dengan taburan kembang rampe di titik pusat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik kesiapan menata sarana upakara: 'Di mana posisi meletakkan porosan, dan di sisi mana saja letak bunga putih, merah, kuning, dan hitam/ungu pada canang?' (Acuan jawaban benar: porosan di bagian dasar tengah wadah; bunga putih di sisi Timur, merah di sisi Selatan, kuning di sisi Barat, dan hitam/ungu/biru di sisi Utara).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid mempraktikkan penataan sarana: ketepatan posisi porosan di dasar tengah wadah, serta ketepatan meletakkan 4 kelompok bunga (putih di Timur, merah di Selatan, kuning di Barat, ungu/hitam di Utara) sesuai acuan fungsi dan arah.

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan hasil karya penataan mandiri murid menggunakan lembar periksa ketepatan: seluruh 5 unsur (1 porosan + 4 posisi warna bunga) terpasang tepat sesuai fungsi arahnya (Acuan: porosan di dasar; bunga putih-Timur, merah-Selatan, kuning-Barat, ungu/hitam-Utara).

Formatif:

  • Unjuk kerja penataan porosan dan bunga pada wadah upakara dengan rubrik observasi proses
  • Ceklis penilaian diri (self-assessment) tata letak porosan dan 4 warna bunga

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Penataan Porosan pada UpakaraBelum meletakkan porosan pada wadah upakara atau salah meletakkannya di luar wadah meski telah dibimbing.Meletakkan porosan di dalam wadah upakara namun posisinya tidak di bagian dasar tengah (misal: bertumpuk sembarangan di atas bunga) dengan arahan guru.Mempraktikkan penataan porosan tepat di dasar tengah wadah upakara sesuai fungsinya dengan sedikit pengingat.Mempraktikkan penataan porosan tepat di dasar tengah wadah upakara secara mandiri, rapi, dan kokoh tanpa pengingat.
Ketepatan Penataan Bunga Sesuai Arah dan FungsinyaBelum menempatkan 4 warna bunga sesuai kuadran arah (hanya 0-1 posisi tepat dari 4 acuan: putih-Timur, merah-Selatan, kuning-Barat, hitam/ungu-Utara).Menempatkan 2 dari 4 warna bunga pada posisi arah yang tepat (dari acuan: putih-Timur, merah-Selatan, kuning-Barat, hitam/ungu-Utara).Menempatkan 3 sampai 4 warna bunga pada posisi arah yang tepat (dari acuan: putih-Timur, merah-Selatan, kuning-Barat, hitam/ungu-Utara) dengan rapi.Mempraktikkan penataan seluruh 4 warna bunga tepat pada arah fungsinya secara mandiri, sangat rapi, dan seimbang (seluruhnya tepat: putih-Timur, merah-Selatan, kuning-Barat, hitam/ungu-Utara).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu praktik mandiri penataan bunga dan porosan (18 menit) mencukupi bagi seluruh murid?
  • Bagaimana efektivitas tantangan berpasangan dalam membantu murid mengingat 4 arah penempatan warna bunga?

Murid:

  • Bagian mana dari penataan bunga dan porosan yang menurut saya paling mudah dan paling menantang untuk ditata rapi?
  • Apakah saya sudah menempatkan seluruh warna bunga pada arah yang tepat sesuai fungsinya?

Pertemuan 6 — Mempraktikkan Penataan Perlengkapan Dupa dan Tirtha Pendukung Upakara Sesuai Fungsinya — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.3 Mempraktikkan penataan unsur perlengkapan Upakara sesuai fungsinya

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid melantunkan doa Gayatri mantram bersama (3 menit).
  • Guru memeriksa kehadiran murid serta memastikan kesiapan fisik dan kebersihan area meja praktik (3 menit).
  • Guru memberikan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 perlengkapan pendukung upakara (dupa dalam wadahnya dan tirtha dalam sangku/gelas beserta sekar/daun pemercik) untuk mengetahui pengetahuan awal penataannya (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati demonstrasi guru tentang tata letak perlengkapan pendukung upakara: wadah tirtha diletakkan di sisi kanan/depan yang aman dan stabil, serta tempat dupa diletakkan di sisi yang aman dari tiupan angin dan tidak membakar sarana lain dengan posisi tegak/stabil (10 menit).
  • Murid mengidentifikasi fungsi penataan 2 perlengkapan tersebut berdasarkan demonstrasi: fungsi dupa sebagai saksi Agni/penghantar doa dan fungsi tirtha sebagai sarana penyucian (penyirat) upakara (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid bermain simulasi tantangan 'Tata Presisi Perlengkapan Upakara' secara berpasangan, saling bergantian menata wadah dupa dan tempat tirtha pada miniatur meja persembahan secara cepat dan tepat sesuai fungsinya (15 menit).
  • Secara mandiri, murid mempraktikkan penataan unsur perlengkapan upakara secara nyata: menempatkan sangku/wadah tirtha dengan pemerciknya di posisi siap pakai yang tidak mudah tumpah, serta menata dupa pada asbak/dupatra secara kokoh dan aman mendampingi canang sari (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memeriksa kembali hasil tata letak dupa dan tirtha masing-masing dengan menguji kestabilan wadah dan jarak aman dupa terhadap sarana upakara (8 menit).
  • Murid menyimpulkan makna sikap hati-hati dan kesucian saat menata perlengkapan suci pendukung upakara (7 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan prinsip penataan dupa (tegak, aman, penghantar persembahan) dan tirtha (bersih, stabil, mudah dijangkau untuk penyucian) (5 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa cek unjuk kerja singkat dan menutup pembelajaran dengan Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan contoh wadah dupa (dupatra keramik, tatakan pasir) dan wadah tirtha (sangku mini, mangkuk kaca kecil bertutup) agar murid mengenali ragam sarana fisik.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu meletakkan posisi dupa dan tirtha diberikan panduan garis penanda di meja; bagi yang cepat diberi tantangan menata kombinasi posisi untuk persembahan di pelinggih meja altar.
  • Produk: Tingkat kerapian dan kestabilan tata letak perlengkapan dinilai sesuai rubrik penataan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: 'Di antara dupa dan tirtha, manakah yang berfungsi sebagai penyuciraga/sarana dan manakah yang berfungsi sebagai penghantar doa ke hadapan Hyang Widhi?' (Acuan jawaban benar: tirtha berfungsi sebagai penyucian/sarana pembersih; dupa berfungsi sebagai penyaksi Agni/penghantar doa).

Proses:

  • Lembar pengamatan unjuk kerja praktik penataan dupa dan tirtha. Kriteria yang diamati: (1) Wadah tirtha diletakkan di area datar dan stabil dengan pemercik diletakkan rapi di dalamnya/sampingnya; (2) Dupa diletakkan pada wadah penopang dalam posisi tegak dan berjarak aman dari bahan yang mudah terbakar.

Akhir Pertemuan:

  • Cek unjuk kerja penataan: Murid menunjukkan hasil akhir penataan 2 perlengkapan pendukung (dupa dan tirtha) di sisi upakara. Kriteria penerimaan: kedua sarana tertata di posisinya masing-masing dengan posisi dupa tegak stabil dan wadah tirtha tidak miring/tumpah.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja praktik penataan wadah dupa dan tirtha sesuai fungsi dan keamanan peletakan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penataan Dupa Sesuai FungsinyaBelum mampu menata dupa pada wadahnya, dupa diletakkan sembarangan atau miring membahayakan sarana lain.Mampu menata dupa pada wadah penopang tetapi posisi dupa masih miring atau terlalu dekat menyentuh sarana canang.Mampu mempraktikkan penataan dupa pada tempatnya dengan tegak, stabil, dan berjarak aman sebagai sarana pendukung persembahan.Mampu mempraktikkan penataan dupa secara mandiri, sangat kokoh, estetis, dan memperhitungkan arah abu dupa agar tidak mengotori upakara.
Penataan Tirtha Sesuai FungsinyaBelum mampu menata wadah tirtha, diletakkan miring atau tanpa alat pemercik sehingga tidak siap difungsikan.Mampu menata wadah tirtha tetapi posisi alat pemercik belum tepat atau diletakkan di tempat yang rawan tersenggol.Mampu mempraktikkan penataan wadah tirtha dan kelengkapan pemerciknya secara stabil, bersih, dan mudah dijangkau untuk proses penyucian upakara.Mampu mempraktikkan penataan wadah tirtha secara mandiri, sangat stabil, rapi, bersih, dan higienis sesuai fungsinya dalam persembahyangan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 80 menit mencukupi bagi setiap murid untuk mempraktikkan penataan dupa dan tirtha secara mandiri?
  • Bagaimana kesadaran murid tentang aspek keselamatan kerja saat menata sarana dupa api/asap?

Murid:

  • Bagian mana dari penataan perlengkapan dupa dan tirtha yang paling mudah atau paling menantang bagiku?
  • Mengapa aku harus sangat hati-hati dan menjaga kesucian saat menata tirtha dan dupa?

Pertemuan 7 — Mempraktikkan Persembahan Upakara Melalui Sikap Kramaning Sembah dalam Peribadatan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.4 Mempraktikkan persembahan Upakara dalam peribadatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam panganjali 'Om Swastyastu', doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yaitu mempraktikkan persembahan Upakara dalam peribadatan melalui tahapan Kramaning Sembah (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik unjuk kerja singkat: meminta murid menunjukkan sikap asana (duduk bersila/padmasana untuk laki-laki, bajrasana untuk perempuan) dan sikap pranayama dengan acuan posisi tubuh tegak, tangan di atas paha/pangkuan, serta napas tenang (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid mengamati peragaan guru mengenai urutan persembahan Upakara dengan sarana bunga/kwangen dalam 5 tahapan Kramaning Sembah (acuan urutan: Sembah 1 peningkesan tanpa bunga; Sembah 2 bunga putih kepada Siwaditya; Sembah 3 kwangen/bunga warna-warni kepada Ista Dewata; Sembah 4 kwangen/bunga mawa sari permohonan anugrah; Sembah 5 tangan kosong panyuksuk/penutup) (10 menit).
  • Murid mencocokkan kartu tahapan sembah dengan sarana yang tepat melalui kuis cepat di papan flanel (acuan pasangan: Sembah 1 = tanpa bunga, Sembah 2 = bunga putih, Sembah 3 = kwangen/bunga warna, Sembah 4 = kwangen/bunga kawangen/mawa sari, Sembah 5 = tanpa bunga) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Secara berpasangan, murid bergantian mempraktikkan tahapan persembahan Upakara melalui gerakan Kramaning Sembah lengkap dengan memegang dan menempatkan sarana bunga/kwangen di ujung jari di depan ubun-ubun/hulu hati sesuai urutan sembah ke-1 hingga ke-5 di bawah bimbingan guru (acuan: posisi tangan anjali tepat setinggi ubun-ubun/kening saat memegang sarana) (20 menit).
  • Setiap murid secara mandiri melakukan simulasi utuh persembahan Upakara dalam peribadatan mencakup: menata Canang di depannya, mengambil sarana bunga sesuai urutan sembah ke-1 sampai ke-5, dan mengayunkan/menempatkan bunga ke dalam wadah canang/sampian setelah masing-masing sembah selesai (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling mengecek apakah ada urutan sarana bunga atau posisi tangan yang terbalik saat praktik persembahan Kramaning Sembah tadi (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali 5 urutan persembahan Upakara dalam Kramaning Sembah beserta sarana yang digunakan (acuan: sembah tanpa bunga, bunga putih, bunga warna-warni, kwangen/mawa sari, tangan kosong) (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan dan arahan persiapan untuk asesmen sumatif unjuk kerja menyeluruh pada Pertemuan 8 mendatang (tidak membahas materi baru) (5 menit).
  • Pembelajaran ditutup dengan doa Parama Santhi 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan visual bergambar urutan 5 sembah Kramaning Sembah bagi murid yang memerlukan dukungan urutan sarana.
  • Proses: Murid yang sudah mahir dapat mempraktikkan persembahan secara mandiri penuh dengan ritme hening, sedangkan murid yang masih ragu dipandu dalam kelompok kecil dengan hitungan ketukan langkah.
  • Produk: Unjuk kerja praktik persembahan Kramaning Sembah dengan sarana canang dinilai berdasarkan kelengkapan dan ketepatan 5 tahapan sembah.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Unjuk kerja singkat kesiapan sikap duduk persembahyangan (padmasana/bajrasana) dan sikap tangan anjali (acuan: punggung tegak lurus, kedua telapak tangan mencakup rapat di depan dada).

Proses:

  • Lembar observasi keteraturan urutan sarana bunga dan ketepatan sikap Kramaning Sembah ke-1 sampai ke-5 saat murid melakukan praktik berpasangan dan mandiri (acuan: Sembah 1 tanpa bunga, Sembah 2 bunga putih, Sembah 3 bunga berwarna, Sembah 4 bunga mawa sari/kwangen, Sembah 5 tangan kosong).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan unjuk kerja akhir: murid mempraktikkan 1 rangkaian utuh persembahan Upakara 5 tahapan sembah dengan sarana yang tersedia (acuan ketepatan: seluruh 5 tahap sembah menggunakan sarana yang benar secara berurutan tanpa tertukar).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja praktik persembahan Upakara melalui 5 urutan Kramaning Sembah dengan daftar centang kriteria.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Urutan dan Penggunaan Sarana dalam Kramaning SembahMempraktikkan persembahan Upakara dengan kurang dari 3 urutan sembah yang benar dan sarana bunga tertukar.Mempraktikkan persembahan Upakara dengan tepat pada 3 dari 5 urutan Kramaning Sembah beserta sarana bunganya (acuan: sembah 1 tanpa bunga, sembah 2 bunga putih, sembah 3 bunga warna, sembah 4 kwangen/mawa sari, sembah 5 tanpa bunga).Mempraktikkan persembahan Upakara dengan tepat pada 4 dari 5 urutan Kramaning Sembah beserta sarana bunganya secara runtut.Mempraktikkan persembahan Upakara dengan tepat pada seluruh 5 urutan Kramaning Sembah beserta sarana bunganya secara runtut, tertib, dan mandiri tanpa bimbingan.
Praktik Penempatan Sikap Tangan dan Upakara Saat PersembahyanganPosisi cakupan tangan anjali tidak stabil dan tidak menempatkan bunga pada wadah canang usai sembah.Mempraktikkan sikap cakupan tangan anjali dengan posisi tepat pada 3 tahapan sembah dan meletakkan sarana kembali pada wadah.Mempraktikkan sikap cakupan tangan anjali dengan posisi tepat (setinggi ubun-ubun/kening) pada 4 tahapan sembah dan menempatkan sarana kembali dengan tertib.Mempraktikkan sikap cakupan tangan anjali dengan posisi tepat (setinggi ubun-ubun/kening) pada seluruh 5 tahapan sembah serta menata dan menempatkan sarana bunga kembali ke wadah secara tertib dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu praktik mandiri persembahan Kramaning Sembah cukup memberi kesempatan kepada semua murid untuk mencoba?
  • Bagian tahapan sembah mana yang paling sering membuat murid tertukar dalam pemilihan sarana bunganya?

Murid:

  • Apakah saya sudah dapat mengingat dan mempraktikkan urutan sarana bunga pada sembah ke-1 hingga ke-5 tanpa melihat contekan?
  • Bagaimana perasaan ketenangan batin saya setelah mempraktikkan persembahan Upakara dengan tertib?

Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.1 Mempraktikkan penyiapan sarana dasar dalam Upakara
  • TP 7.4.2 Mempraktikkan perangkaian bentuk Upakara sederhana
  • TP 7.4.3 Mempraktikkan penataan unsur perlengkapan Upakara sesuai fungsinya
  • TP 7.4.4 Mempraktikkan persembahan Upakara dalam peribadatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam panganjali 'Om Swastyastu', memimpin doa Dainika Upasana bersama secara khidmat, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif unjuk kerja bab Upakara dan menjelaskan teknis dua sesi unjuk kerja: Tugas 1 (pembuatan karya upakara individu) dan Tugas 2 (demonstrasi penataan dan persembahan kelompok kecil) (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membacakan petunjuk teknis unjuk kerja dan lembar kriteria rubrik Tugas 1 (pembuatan karya canang sari/upakara sederhana: pemilihan 3 bahan dasar daun/janur, porosan, dan bunga; perangkaian celemek/ituk-ituk dan sampian; penataan unsur) dan Tugas 2 (penataan di meja altar dan sikap sembah kramaning sembah), serta memastikan seluruh murid menempati meja kerja masing-masing dengan bahan yang telah siap (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1: Murid secara mandiri dan serentak di meja masing-masing mempraktikkan penyiapan sarana dasar (memilih daun pisang/janur bersih, sirih/porosan, dan bunga segar) serta merangkai karya canang sari/upakara sederhana lengkap dengan celemek/ituk-ituk dan sampian secara rapi dan utuh; guru berkeliling melakukan penilaian artefak fisik produk upakara murid sesuai rubrik (43 menit).
  • Tugas 2: Murid secara bergantian dalam 7 kelompok kecil (@ 4 murid, alokasi 4 menit per kelompok termasuk transisi) maju ke area pelinggih/meja altar kelas untuk mendemonstrasikan penataan perlengkapan upakara (menata porosan di dasar, canang sari di tengah, dupa menyala di sebelah kanan, dan cawan tirtha beserta sekar/sarana pemercikan di sebelah kiri) serta mempraktikkan kramaning sembah persembahan upakara (Asana, Pranayama, Karasodhana, Tri Sandhya, dan Panca Sembah) secara hening dan tertib sesuai lembar observasi guru (28 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid merapikan kembali meja kerja serta sisa bahan upakara dan melakukan refleksi singkat secara mandiri mengenai ketepatan penataan serta ketenangan sikap persembahan yang telah dilakukan (1 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan artefak canang sari dan hasil lembar observasi demonstrasi, memberikan apresiasi atas kedisiplinan dan kemandirian seluruh murid, lalu menutup pertemuan dengan Paramasanti 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Tidak ada diferensiasi kompetensi materi; murid dengan hambatan motorik halus disediakan janur yang telah terpotong lurus sesuai ukuran standar tanpa mengubah kriteria ketepatan perangkaian.
  • Proses: Akomodasi akses penataan dan posisi duduk bersila/bersimpuh pada kramaning sembah bagi murid yang memiliki kendala fisik tanpa mengubah urutan persembahan.
  • Produk: Seluruh murid menghasilkan produk canang sari/upakara sederhana serta peragaan persembahan dengan kriteria rubrik yang setara.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • unjuk kerja praktik penyiapan, perangkaian, penataan, dan persembahan upakara sederhana: artefak produk rangkaian canang sari/upakara sederhana serta demonstrasi penataan dan persembahan upakara terpadu yang dinilai berdasarkan rubrik analitik
  • unjuk kerja pembuatan karya upakara sederhana: produk fisik rangkaian canang sari atau upakara sederhana per murid yang dibuat serentak di meja masing-masing, memuat ketepatan pemilihan sarana dasar (daun/janur, bunga, porosan) serta kerapian teknik perangkaian (celemek/ituk-ituk/sampian) (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk upakara (kriteria: kelengkapan bahan dasar, teknik perangkaian, dan kerapian susunan))
  • unjuk kerja peragaan penataan dan persembahan upakara: demonstrasi penataan unsur perlengkapan (porosan, canang, dupa, tirtha) pada meja altar/pelinggih kelas dan peragaan sikap sembahyang/kramaning sembah persembahan upakara secara bersamaan dalam kelompok kecil (7 kelompok @ 4 murid, masing-masing 4 menit termasuk transisi = 28 menit) (30 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi unjuk kerja berkriteria individual (kesesuaian posisi tata letak unsur dan ketertiban tata cara persembahan/Tri Sandhya-Panca Sembah))

Sumatif:

  • unjuk kerja praktik penyiapan, perangkaian, penataan, dan persembahan upakara sederhana: artefak produk rangkaian canang sari/upakara sederhana serta demonstrasi penataan dan persembahan upakara terpadu yang dinilai berdasarkan rubrik analitik
  • unjuk kerja pembuatan karya upakara sederhana: produk fisik rangkaian canang sari atau upakara sederhana per murid yang dibuat serentak di meja masing-masing, memuat ketepatan pemilihan sarana dasar (daun/janur, bunga, porosan) serta kerapian teknik perangkaian (celemek/ituk-ituk/sampian) (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk upakara (kriteria: kelengkapan bahan dasar, teknik perangkaian, dan kerapian susunan))
  • unjuk kerja peragaan penataan dan persembahan upakara: demonstrasi penataan unsur perlengkapan (porosan, canang, dupa, tirtha) pada meja altar/pelinggih kelas dan peragaan sikap sembahyang/kramaning sembah persembahan upakara secara bersamaan dalam kelompok kecil (7 kelompok @ 4 murid, masing-masing 4 menit termasuk transisi = 28 menit) (30 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi unjuk kerja berkriteria individual (kesesuaian posisi tata letak unsur dan ketertiban tata cara persembahan/Tri Sandhya-Panca Sembah))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penyiapan Sarana Dasar Upakara (TP 7.4.1) [Acuan: Daun/janur bersih, sirih/porosan lengkap, dan bunga segar; pengalih: daun layu/kotor, sirih tanpa kapur/pinang, bunga layu/busuk]Menyiapkan hanya 1 sarana dasar dengan tepat serta masih mencampurkan bahan pengalih/rusak.Menyiapkan 2 dari 3 sarana dasar dengan tepat dan bebas dari bahan pengalih.Menyiapkan seluruh 3 sarana dasar (daun/janur bersih, sirih/porosan lengkap, bunga segar) secara tepat dan bebas dari bahan pengalih.Menyiapkan seluruh 3 sarana dasar secara mandiri, tepat, higienis, terpilah rapi, serta sepenuhnya bebas dari bahan pengalih.
Perangkaian Bentuk Upakara Sederhana (TP 7.4.2) [Acuan: Wadah celemek/ituk-ituk terlipat kokoh, sampian terangkai rapi dengan semat lidi, kesatuan bentuk canang simetris dan tidak lepas]Rangkaian belum berbentuk utuh; semat terlepas dan celemek/sampian tidak terangkai.Merangkai celemek/ituk-ituk atau sampian namun sematan kurang kokoh dan bentuk belum simetris.Merangkai celemek/ituk-ituk dan sampian menjadi canang sari sederhana yang utuh, semat terpasang kokoh, dan bentuk simetris.Merangkai celemek/ituk-ituk dan sampian canang sari secara mandiri, sangat kokoh, simetris, rapi, dan presisi.
Penataan Unsur Perlengkapan Upakara (TP 7.4.3) [Acuan posisi: Porosan di dasar/tengah wadah, canang sari di tengah altar, dupa di sisi kanan pemuja, tirtha di sisi kiri pemuja; pengalih: posisi dupa dan tirtha tertukar, dupa padam/tidak tersedia, porosan ditaruh di luar wadah]Menata perlengkapan dengan posisi yang seluruhnya keliru (seperti posisi dupa dan tirtha tertukar serta porosan di luar wadah).Menata 2 dari 4 unsur perlengkapan pada posisi yang tepat (misal: canang dan porosan tepat, tetapi dupa/tirtha keliru atau tertukar).Menata seluruh 4 unsur perlengkapan (porosan, canang sari, dupa di kanan, tirtha di kiri) secara tepat sesuai fungsinya tanpa tertukar.Menata seluruh 4 unsur perlengkapan secara mandiri, cepat, tepat presisi sesuai posisi fungsinya, serta menjaga kebersihan area altar.
Persembahan Upakara Melalui Sikap Kramaning Sembah (TP 7.4.4) [Acuan: Asana tegak tenang, Pranayama, Karasodhana, Tri Sandhya runtut, Panca Sembah 5 tahapan lengkap]Sikap sembahyang belum tertib, gelisah, dan hanya melakukan 1-2 tahapan sembah tanpa urutan kramaning sembah yang benar.Melakukan sikap asana dan sembahyang namun melewatkan 1-2 tahapan (misal: melewati karasodhana atau panca sembah hanya 3 kali sembah).Mempraktikkan persembahan upakara dengan sikap asana yang tenang serta melaksanakan seluruh urutan kramaning sembah (Tri Sandhya dan 5 tahapan Panca Sembah) secara lengkap dan tertib.Mempraktikkan persembahan upakara dengan sikap asana sempurna, tenang, khidmat, menghayati mantram, serta menjalankan seluruh tahapan kramaning sembah secara mandiri dan runtut tanpa ragu.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 45 menit untuk Tugas 1 dan 30 menit (7 rotasi kelompok) untuk Tugas 2 berjalan efektif dan kondusif?
  • Bagaimana tingkat kemandirian murid dalam menyiapkan, merangkai, menata, dan mempersembahkan upakara secara keseluruhan bab ini?
  • Langkah tindak lanjut apa yang diperlukan bagi murid yang masih terkendala pada keterampilan motorik perangkaian atau ketertiban kramaning sembah?

Murid:

  • Apakah saya telah mampu membuat rangkaian canang sari secara rapi dan mandiri?
  • Apakah saya sudah menata dupa, tirtha, dan canang pada posisi yang benar serta melaksanakan sembahyang dengan sikap tenang dan tulus ikhlas (lascarya)?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
  2. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Bab 4 Upakara, Kemendikbudristek 2021
  3. Pelepah janur kelapa segar, daun pisang segar, pisau kecil/cutter, lap kain bersih, penggaris
  4. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (Bab 4 Upakara, halaman 89-98)
  5. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
  6. Bahan alam nyata: daun sirih segar, buah pinang, kapur sirih (pamor), semat/lidi kecil, aneka kuntum bunga segar (kamboja, pacar air, mawar, gumitir), baki/nampan kerja, pisau kecil/gunting ramah anak.
  7. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021 (Bab 4: Upakara)
  8. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021
  9. Bahan alam: Daun pisang segar atau janur yang sudah dibersihkan
  10. Peralatan: Pisau/gunting kecil dan semat lidi bambu
  11. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021.
  12. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021.
  13. Bahan alam nyata: janur kelapa segar, lidi kelapa (semat), dan pisau peraut/gunting kecil.
  14. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
  15. Bahan ajar konkret: wadah ceper/ituk-ituk, porosan, bunga 4 warna (putih, merah, kuning, ungu/hitam), dan kembang rampe
  16. Perlengkapan praktik nyata: dupatra/tempat dupa, dupa harum, sangku mini/wadah tirtha, daun/bunga pemercik tirtha, meja persembahan altar
  17. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII SMP, Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek 2021.
  18. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII SMP, Kemendikbudristek 2021.
  19. Upakara Canang Sari dan perlengkapan sembahyang (bunga putih, bunga warna-warni, kwangen/dupa/tirtha peraga).
  20. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (Bab 4 Upakara)
  21. Bahan alam sarana upakara: daun pisang/janur, semat/lidi, bunga aneka warna, daun sirih, kapur, pinang
  22. Perlengkapan persembahan: dupa, tempat dupa/kaki dupa, cawan tirtha suci, bunga pemercik tirtha, meja altar/pelinggih persembahyangan kelas

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.