MODUL AJAR Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti — Kelas 7 (Fase D) Topik: Bab 3 — Tri Hita Karana INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti |
|---|
| Fase / Kelas | Fase D / Kelas 7 |
|---|
| Topik | Bab 3 — Tri Hita Karana |
|---|
| Alokasi Waktu | 12 JP (12 x 40 menit = 480 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 6 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 7.3.1 Menjelaskan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari
- TP 7.3.2 Menguraikan bagian-bagian dari nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana
- TP 7.3.3 Menganalisis keterkaitan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam menciptakan keharmonisan sosial
- TP 7.3.4 Menerapkan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Pernahkah kalian mendengar istilah Tri Hita Karana, dan menurut kalian apa yang membuat hidup manusia menjadi bahagia dan harmonis?
- Mengapa untuk mencapai kebahagiaan sejati kita perlu menjaga hubungan yang selaras dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan sekitar?
- Apa saja 3 bagian utama dari ajaran Tri Hita Karana yang menjaga keharmonisan hidup manusia?
- Mengapa hubungan harmonis kepada Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan tidak bisa dipisahkan satu sama lain?
- Mengapa konflik antarmanusia atau perusakan lingkungan dapat merusak ketenteraman dan keharmonisan hidup bersama?
- Bagaimana keterkaitan antara menjaga hubungan dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam (Palemahan) dalam menciptakan ketertiban serta keharmonisan sosial?
- Tindakan nyata apa saja yang biasa kamu lakukan di rumah bersama keluarga untuk menjaga keharmonisan dan kebersihan lingkungan?
- Bagaimana caramu menerapkan rasa bakti kepada Tuhan, rasa hormat kepada guru dan teman, serta kepedulian terhadap lingkungan di sekolah?
- Bagaimana wujud nyata bakti kita kepada Tuhan saat berada di tengah kegiatan masyarakat?
- Apa yang dapat kita lakukan bersama warga sekitar untuk menjaga kebersihan dan kerukunan lingkungan tempat tinggal kita?
- Bagaimana pemahaman kita terhadap ajaran Tri Hita Karana dapat diukur secara utuh melalui pemecahan masalah nyata di masyarakat?
- Bukti tindakan konkret apa saja yang menunjukkan bahwa kita telah sungguh-sungguh menerapkan Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan dalam kehidupan sehari-hari?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menjelaskan Pengertian dan Nilai-Nilai Ajaran Tri Hita Karana dalam Kehidupan Sehari-hari — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.1 Menjelaskan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan memimpin doa bersama (Dainika Upasana) secara khidmat (3 menit).
- Guru memeriksa kehadiran murid dan mengondisikan kelas agar nyaman dan kondusif untuk belajar (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan dengan menanyakan arti kata 'Tri', 'Hita', dan 'Karana' serta makna kebahagiaan hidup untuk memetakan pemahaman awal murid (acuan: Tri = tiga, Hita = kebahagiaan/sejahtera, Karana = penyebab/sumber) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati teks materi mengenai pengertian etimologis Tri Hita Karana (Tri = tiga, Hita = kebahagiaan/kesejahteraan/kemakmuran, Karana = sebab/unsur/penyebab) sehingga Tri Hita Karana bermakna tiga unsur atau penyebab terciptanya kebahagiaan dan keharmonisan hidup (10 menit).
- Murid mencermati pemaparan guru tentang nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana yang bersumber dari susila Hindu, yaitu nilai keselarasan hubungan manusia dengan Hyang Widhi Wasa/Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam sekitarnya demi mencapai moksartham jagadhitaya ca iti dharma (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan edukatif berpasangan 'Tebak Makna & Nilai Harmoni': setiap pasangan menerima lembar aktivitas berisi 3 butir pernyataan terkait pengertian dan nilai ajaran Tri Hita Karana untuk dianalisis dan dijelaskan secara tertulis dengan tepat (butir 1: Menjelaskan arti harfiah kata Tri, Hita, dan Karana; butir 2: Menjelaskan mengapa kebahagiaan hidup manusia bergantung pada keselarasan tiga hubungan; butir 3: Menjelaskan 1 contoh wujud nilai keharmonisan terhadap Tuhan, sesama, dan alam dalam kehidupan sehari-hari) (18 menit).
- Setiap pasangan secara bergantian memverifikasi ketepatan penjelasannya berdasarkan panduan verifikasi guru di papan tulis (acuan: butir 1 = Tri: tiga, Hita: kebahagiaan/kesejahteraan, Karana: penyebab; butir 2 = karena manusia makhluk ciptaan Tuhan yang hidup berdampingan dengan sesama dan bertumpu pada kelestarian alam; butir 3 = sembahyang/doa, saling tolong-menolong/toleransi, merawat kebersihan lingkungan) (12 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara individu menuliskan refleksi kesadaran diri di lembar catatan tentang pentingnya memegang teguh nilai Tri Hita Karana sebagai panduan susila agar tidak terjadi disharmoni dalam kehidupan sehari-hari (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pengertian etimologis dan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana yang telah dipelajari (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian belajar hari ini, menyampaikan rencana kegiatan pertemuan berikutnya (menguraikan bagian-bagian Tri Hita Karana), dan menutup pelajaran dengan doa Parama Santih: 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci etimologis (Tri, Hita, Karana), sedangkan murid yang mandiri mengkaji uraian hubungan nilai Tri Hita Karana dengan tujuan hidup Hindu (Moksartham Jagadhitaya).
- Proses: Pada tugas analisis lembar aktivitas, murid dengan pemahaman awal bertahap mendapatkan permodelan kalimat penjelasan dari guru, sedangkan murid yang cepat langsung menyusun penjelasan mandiri secara komprehensif.
- Produk: Penjelasan nilai-nilai Tri Hita Karana disajikan secara tertulis pada lembar kerja, baik dalam bentuk uraian poin-poin terstruktur maupun paragraf penjelasan terperinci.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan di awal pembelajaran: 'Sebutkan arti kata Tri, Hita, dan Karana secara bahasa, serta jelaskan apa arti kebahagiaan menurut kalian!' (Daftar acuan jawaban tepat: Tri = tiga; Hita = kebahagiaan, kesejahteraan, atau keselamatan; Karana = penyebab, unsur, atau sumber. Jawaban diterima jika murid mampu menyebutkan makna ketiga kata tersebut secara tepat).
Proses:- Pemeriksaan lembar kerja pemahaman 'Tebak Makna & Nilai Harmoni' yang memuat 3 butir soal uraian: (1) Arti etimologis kata Tri, Hita, dan Karana (acuan: Tri = tiga, Hita = bahagia/sejahtera, Karana = penyebab); (2) Makna Tri Hita Karana sebagai tiga penyebab terciptanya kebahagiaan/kesejahteraan hidup (acuan: konsep ajaran yang mengajarkan tiga penyebab terciptanya hubungan harmonis demi kebahagiaan hidup lahir batin); (3) Tiga dimensi nilai hubungan harmonis dalam Tri Hita Karana (acuan: hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan lingkungan alam sekitar).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (exit ticket) di akhir sesi: 'Jelaskan dengan kalimatmu sendiri apa yang dimaksud dengan ajaran Tri Hita Karana dan sebutkan 3 nilai hubungan keharmonisan yang terkandung di dalamnya!' (Kriteria penerimaan: penjelasan memuat makna 3 penyebab kebahagiaan serta menyebutkan dengan tepat 3 nilai keselarasan hubungan yaitu dengan Hyang Widhi/Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan sekitar).
Formatif:- Penilaian tes tertulis pada lembar aktivitas 'Tebak Makna & Nilai Harmoni' terkait ketepatan menjelaskan pengertian etimologis dan nilai ajaran Tri Hita Karana.
- Observasi lembar refleksi mandiri murid tentang kesadaran nilai-nilai keharmonisan hidup.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan pengertian etimologis Tri Hita Karana | Belum mampu menjelaskan arti etimologis kata Tri, Hita, dan Karana secara tepat. | Mampu menjelaskan arti 1 kata dari 3 unsur kata Tri, Hita, Karana secara tepat (acuan: Tri = tiga, Hita = bahagia/sejahtera, Karana = sebab/unsur). | Mampu menjelaskan arti 2 kata dari 3 unsur kata Tri, Hita, Karana secara tepat sesuai acuan. | Mampu menjelaskan arti seluruh 3 kata (Tri, Hita, dan Karana) secara utuh, runtut, dan tepat sesuai acuan. | | Penjelasan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari | Belum mampu menjelaskan nilai hubungan keharmonisan dalam Tri Hita Karana. | Mampu menjelaskan 1 dari 3 nilai hubungan keharmonisan ajaran Tri Hita Karana (hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, atau alam lingkungan) secara tepat. | Mampu menjelaskan 2 dari 3 nilai hubungan keharmonisan ajaran Tri Hita Karana secara tepat. | Mampu menjelaskan seluruh 3 nilai hubungan keharmonisan ajaran Tri Hita Karana (hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan) secara lengkap, jelas, dan tepat. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan 'Tebak Makna & Nilai Harmoni' efektif membantu seluruh murid memahami konsep dasar dan nilai-nilai Tri Hita Karana?
- Bagian mana dari penjelasan materi nilai Tri Hita Karana yang masih memerlukan bimbingan tambahan bagi murid berkemampuan awal rendah?
Murid:- Apa makna ajaran Tri Hita Karana yang paling membekas bagi pemahaman saya tentang hidup bahagia?
- Nilai keharmonisan apa yang paling sering saya rasakan dalam keseharian saya, baik di rumah maupun di sekolah?
Pertemuan 2 — Menguraikan Bagian-Bagian Tri Hita Karana: Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.2 Menguraikan bagian-bagian dari nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan memimpin doa belajar Gayatri Mantram bersama murid (3 menit).
- Guru mengecek kehadiran murid dan mengondisikan kesiapan ruang kelas (2 menit).
- Guru memberikan apersepsi diagnostik awal secara lisan dengan menanyakan 3 bagian ajaran Tri Hita Karana beserta pengertian harfiahnya: (1) Parahyangan (hubungan harmonis manusia dengan Hyang Widhi Wasa/Tuhan); (2) Pawongan (hubungan harmonis manusia dengan sesama manusia); dan (3) Palemahan (hubungan harmonis manusia dengan alam lingkungan sekitarnya) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menguraikan 3 bagian dari nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana (Parahyangan, Pawongan, Palemahan) (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak paparan materi esensial mengenai makna dan rincian 3 bagian Tri Hita Karana: Parahyangan (akar kata 'hyang' = memuliakan Hyang Widhi Wasa beserta ciptaan-Nya secara spiritual), Pawongan (akar kata 'wong' = memelihara keselarasan antar-manusia dengan prinsip Tat Twam Asi), dan Palemahan (akar kata 'lemah' = menjaga kelestarian bhuana agung/tanah dan lingkungan alam) (13 menit).
- Murid membentuk kelompok berpasangan untuk memainkan tantangan cepat kartu pemahaman 'Tri Kahitayan' yang menyenangkan: memasangkan 3 kartu nama bagian THK dengan 3 kartu definisi inti yang disediakan guru (acuan: Kartu 1 Parahyangan berpasangan dengan definisi hubungan harmonis manusia dengan Hyang Widhi Wasa; Kartu 2 Pawongan berpasangan dengan definisi hubungan harmonis manusia dengan sesama manusia; Kartu 3 Palemahan berpasangan dengan definisi hubungan harmonis manusia dengan alam sekitar) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid dalam kelompok berpasangan menerima Lembar Kerja Klasifikasi Bagian Tri Hita Karana yang memuat 6 butir pernyataan kegiatan nyata untuk diklasifikasikan dan diuraikan ke dalam unsur Parahyangan, Pawongan, atau Palemahan: (1) Melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya dan Puja Trisandhya setiap hari; (2) Melaksanakan upacara Tumpek Wariga/Uduh untuk memuliakan tumbuhan penyuplai oksigen; (3) Gotong royong membersihkan parit dan pekarangan pemukiman bersama tetangga; (4) Melakukan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan perselisihan antarwarga sekolah; (5) Melaksanakan persembahyangan Hari Suci Purnama dan Tilem di pura; (6) Menanam bibit pohon dan tidak membuang sampah ke aliran sungai (acuan kunci klasifikasi: Parahyangan = butir 1 dan 5; Pawongan = butir 3 dan 4; Palemahan = butir 2 dan 6) (15 menit).
- Murid menguraikan alasan konseptual mengapa masing-masing kegiatan tersebut masuk ke dalam bagian Parahyangan, Pawongan, atau Palemahan berdasarkan relasi subjek dan objek hubungannya (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Perwakilan pasangan murid membacakan hasil uraian klasifikasinya, sementara pasangan lain saling memverifikasi ketepatan uraian dengan panduan konfirmasi dari guru (8 menit).
- Murid dengan bimbingan guru menyimpulkan inti materi bahwa ketiga bagian Tri Hita Karana (Parahyangan, Pawongan, Palemahan) merupakan satu kesatuan utuh yang saling menopang untuk mencapai moksartham jagadhitaya (4 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap hasil uraian murid mengenai Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan (3 menit).
- Guru meminta murid mengisi lembar cek pemahaman singkat berisi 3 butir soal uraian bagian Tri Hita Karana (3 menit).
- Guru menginformasikan materi pertemuan berikutnya, yaitu keterkaitan nilai ajaran Tri Hita Karana dalam menciptakan keharmonisan sosial, lalu menutup pembelajaran dengan doa Parama Santih: 'Om Santih, Santih, Santih Om' (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja dengan panduan kata kunci relasi (Tuhan/Manusia/Alam), sedangkan murid yang cepat diberikan 2 skenario studi kasus tambahan tentang tradisi lokal untuk diuraikan bagian-bagiannya.
- Proses: Murid berkesiapan sedang didampingi intensif melalui penguatan konsep akar kata (Hyang, Wong, Lemah), sedangkan murid mandiri langsung menguraikan alasan pengelompokan secara tertulis.
- Produk: Uraian hasil analisis bagian Tri Hita Karana disajikan dalam bentuk tabel matriks pengelompokan berpenjelasan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: 'Sebutkan 3 bagian ajaran Tri Hita Karana beserta sasaran hubungannya masing-masing!' (Acuan jawaban benar: 1. Parahyangan = hubungan harmonis manusia dengan Hyang Widhi/Tuhan; 2. Pawongan = hubungan harmonis manusia dengan sesama manusia; 3. Palemahan = hubungan harmonis manusia dengan alam/lingkungan sekitar).
Proses:- Observasi keterlibatan dan ketepatan murid dalam menguraikan 6 butir kegiatan pada Lembar Kerja: (1) Tri Sandhya -> Parahyangan; (2) Tumpek Wariga -> Palemahan; (3) Gotong royong bersihkan parit -> Pawongan; (4) Musyawarah mufakat -> Pawongan; (5) Hari Suci Purnama-Tilem -> Parahyangan; (6) Menanam bibit pohon -> Palemahan (kunci: Parahyangan = 1, 5; Pawongan = 3, 4; Palemahan = 2, 6).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat di akhir pertemuan dengan menjawab 3 butir: (1) Jelaskan fokus hubungan ajaran Parahyangan (acuan: hubungan harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa melalui doa, yadnya, dan bhakti); (2) Jelaskan fokus hubungan ajaran Pawongan (acuan: hubungan harmonis antarsesama manusia berlandaskan saling menghormati dan Tat Twam Asi); (3) Jelaskan fokus hubungan ajaran Palemahan (acuan: hubungan harmonis manusia dengan alam lingkungan hidup dengan menjaga kelestariannya).
Formatif:- Tes lisan diagnostik awal mengenai nama dan arti 3 bagian Tri Hita Karana
- Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Kerja penguraian 6 pernyataan ke dalam Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menguraikan bagian-bagian Tri Hita Karana (Parahyangan, Pawongan, Palemahan) | Belum mampu menguraikan bagian-bagian Tri Hita Karana; hanya mampu mengidentifikasi kurang dari 3 dari 6 butir klasifikasi kegiatan dengan benar serta belum mampu memberikan penjelasan alasan relasinya. | Mampu menguraikan sebagian bagian Tri Hita Karana dengan mengklasifikasikan 3 sampai 4 dari 6 butir kegiatan dengan tepat sesuai acuan (Parahyangan: butir 1, 5; Pawongan: butir 3, 4; Palemahan: butir 2, 6) namun uraian alasannya belum lengkap. | Mampu menguraikan bagian-bagian Tri Hita Karana dengan mengklasifikasikan 5 dari 6 butir kegiatan dengan tepat sesuai acuan serta menguraikan alasan relasi hubungannya (manusia-Tuhan, manusia-manusia, manusia-alam) secara runtut. | Mampu menguraikan seluruh 6 butir kegiatan ke dalam bagian-bagian Tri Hita Karana (Parahyangan, Pawongan, Palemahan) secara tepat tanpa kesalahan sesuai acuan serta menguraikan alasan relasi hubungan konsepnya secara mandiri, lengkap, dan mendalam. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah permainan kartu 'Tri Kahitayan' efektif dalam membangun pemahaman mendalam murid terkait konsep Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan?
- Bagian mana dari penguraian 3 aspek Tri Hita Karana yang masih sering tertukar oleh murid, dan bagaimana penguatan yang perlu disiapkan pada pertemuan selanjutnya?
Murid:- Apakah kamu sudah dapat membedakan antara kegiatan yang tergolong Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan?
- Bagian ajaran Tri Hita Karana mana yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu uraikan alasannya hari ini?
Pertemuan 3 — Menganalisis Keterkaitan Nilai Ajaran Tri Hita Karana dalam Menciptakan Keharmonisan Sosial — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.3 Menganalisis keterkaitan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam menciptakan keharmonisan sosial
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', doa bersama Gayatri Mantram, dan presensi murid (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan terarah untuk mengecek kesiapan menganalisis keterkaitan nilai ajaran Tri Hita Karana dengan keharmonisan sosial (acuan: murid menyebutkan bahwa ketidakseimbangan perlakuan pada alam atau sesama memicu perselisihan dan merusak keharmonisan) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, cakupan kompetensi menganalisis keterkaitan ajaran Tri Hita Karana dalam menciptakan keharmonisan sosial, dan alur kegiatan belajar (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak ulasan guru mengenai keterkaitan terpadu antara nilai Parahyangan (bakti spiritual), Pawongan (tata krama dan toleransi antarmanusia), dan Palemahan (keselarasan lingkungan) dalam memelihara keseimbangan hidup bersama (10 menit).
- Murid mencermati bagan sebab-akibat keterkaitan nilai Tri Hita Karana terhadap keharmonisan sosial serta mengidentifikasi faktor penyebab disharmoni bila salah satu unsur diabaikan (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Guru mengadakan tantangan analisis cepat interaktif 'Tebak Tautan Harmoni' di mana murid menganalisis keterkaitan dari 2 skenario studi kasus singkat yang ditampilkan (skenario A: pembuangan limbah upakara sembarangan yang memicu konflik warga; skenario B: perselisihan antarwarga yang mengganggu ketenangan ibadah di pura) dengan menghubungkan unsur Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan terhadap dampak keharmonisan sosialnya (15 menit).
- Murid secara berpasangan mengerjakan lembar analisis kasus sosial yang memuat 3 studi kasus nyata: (1) Kasus perebutan sumber mata air desa akibat penebangan hutan sepihak; (2) Kasus konflik warga akibat suara bising saat persembahyangan; (3) Kasus gotong royong pembersihan tempat suci dan saluran air desa. Murid menganalisis unsur Tri Hita Karana yang terkait, akar penyebab gangguan keharmonisan/pemicu keharmonisan, serta keterkaitan solusinya terhadap keharmonisan sosial (kunci acuan analisis: Kasus 1 mengaitkan Palemahan dan Pawongan di mana perusakan alam memicu konflik warga sehingga solusinya pembagian air adil dan reboisasi; Kasus 2 mengaitkan Pawongan dan Parahyangan di mana pengabaian tenggang rasa mengganggu kesucian ibadah sehingga solusinya toleransi dan kesepakatan jam ketenangan; Kasus 3 mengaitkan ketiga unsur Parahyangan-Pawongan-Palemahan yang bersinergi melahirkan kerukunan warga dan kebersihan lingkungan) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid membandingkan hasil analisis keterkaitan kasus mereka dengan kunci solusi keharmonisan sosial yang ditegaskan guru untuk menarik benang merah pentingnya keseimbangan tiga unsur ajaran Tri Hita Karana (5 menit).
Penutup:- Guru dan murid menyimpulkan intisari analisis bahwa keharmonisan sosial tidak dapat tercapai secara parsial melainkan membutuhkan keterpaduan pengamalan Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan secara utuh (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik pencapaian kompetensi analisis, menyampaikan sekilas topik penerapan Tri Hita Karana di lingkungan keluarga dan sekolah untuk pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan doa Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar studi kasus bergambar dengan alur panduan sebab-akibat untuk murid yang membutuhkan scaffolding analisis, serta teks skenario sosiologis yang lebih kompleks bagi murid yang telah mahir.
- Proses: Memberikan pendampingan terarah pada murid yang masih kesulitan mengaitkan relasi sebab-akibat antar-unsur Tri Hita Karana, sedangkan murid yang berpikiran kritis mandiri diberikan tantangan menganalisis kasus multisektoral.
- Produk: Hasil analisis dituangkan dalam lembar kerja tabel keterkaitan sebab-dampak-solusi keharmonisan sosial sesuai format terstruktur yang disediakan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan lisan diagnostik: 'Jika sebuah desa rajin melaksanakan upacara persembahyangan (Parahyangan), tetapi warganya kerap berselisih paham dan membuang sampah sembarangan (Pawongan & Palemahan), apakah desa tersebut dapat disebut harmonis? Jelaskan alasannya!' (Acuan jawaban benar: Belum harmonis, karena keharmonisan sosial menuntut keterpaduan dan keseimbangan ketiga unsur; jika hubungan antarmanusia dan alam rusak, nilai spiritual tidak terwujud sempurna dalam kehidupan sosial nyata).
Proses:- Observasi dan pemeriksaan hasil pengerjaan lembar analisis kasus sosial terhadap 3 studi kasus (kriteria: ketepatan mengidentifikasi unsur Tri Hita Karana yang terlibat, ketepatan menguraikan hubungan sebab-akibat gangguan/terciptanya keharmonisan, serta ketepatan merumuskan keterkaitan solusi keharmonisan berdasarkan nilai Tri Hita Karana sesuai kunci acuan lembar kerja).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman singkat tertulis (2 butir): (1) Uraikan keterkaitan antara nilai Palemahan dan Pawongan dalam menjaga perdamaian warga di sekitar bantaran sungai! (Acuan: Menjaga kebersihan sungai/Palemahan mencegah banjir dan bau yang menjadi pemicu perselisihan antarwarga/Pawongan, sehingga tercipta keharmonisan sosial); (2) Mengapa pengabaian nilai Pawongan dapat merusak keharmonisan dalam kegiatan Parahyangan? (Acuan: Ketidakharmonisan antarwarga/Pawongan memicu kebencian dan konflik batin yang merusak kesucian pikiran dan ketenangan dalam beribadah kepada Hyang Widhi Wasa/Parahyangan).
Formatif:- Tes lisan diagnostik kesiapan analisis sebab-akibat keharmonisan sosial pada awal pembelajaran
- Penilaian kinerja analisis keterkaitan nilai Tri Hita Karana dalam studi kasus keharmonisan sosial menggunakan lembar kerja berpasangan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis keterkaitan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam menciptakan keharmonisan sosial | Menganalisis keterkaitan nilai Tri Hita Karana terhadap keharmonisan sosial hanya pada 1 kasus dengan bantuan penuh guru, serta belum mampu merumuskan hubungan sebab-akibat antar-unsurnya secara tepat. | Menganalisis keterkaitan nilai Tri Hita Karana terhadap keharmonisan sosial pada 2 dari 3 kasus yang diberikan secara tepat sesuai kunci acuan, namun rumusan hubungan sebab-akibat masih belum runtut. | Menganalisis keterkaitan nilai Tri Hita Karana terhadap keharmonisan sosial pada seluruh (3) kasus studi yang diberikan secara tepat sesuai kunci acuan (mengaitkan unsur yang terlibat, penyebab, dan dampak keterkaitannya terhadap keharmonisan). | Menganalisis keterkaitan nilai Tri Hita Karana terhadap keharmonisan sosial pada seluruh (3) kasus studi secara mandiri dan komprehensif (menguraikan hubungan timbal balik antarunsur Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan serta solusinya secara mendalam sesuai kunci acuan). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah skenario studi kasus yang disajikan mampu memicu daya nalar kritis murid dalam menganalisis keterkaitan nilai Tri Hita Karana dengan realitas sosial?
- Bagian analisis mana yang paling sulit dipahami murid saat mengaitkan relasi timbal balik antara Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan?
Murid:- Mengapa ketiga unsur Tri Hita Karana harus dipraktikkan secara seimbang agar lingkungan tempat tinggalku menjadi damai dan harmonis?
- Kasus mana dalam pembelajaran hari ini yang paling membuka kesadaranku tentang pentingnya menjaga keharmonisan bersama sesama dan alam?
Pertemuan 4 — Menerapkan Nilai Ajaran Tri Hita Karana di Lingkungan Keluarga dan Sekolah — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.4 Menerapkan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa Gayatri bersama untuk memusatkan pikiran (3 menit).
- Guru mengecek kehadiran murid dan mengondisikan kesiapan belajar di dalam kelas (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menerapkan nilai-nilai Tri Hita Karana (Parahyangan, Pawongan, Palemahan) secara konkret di lingkungan keluarga dan sekolah (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid diminta mengangkat tangan dan menyebutkan 1 contoh tindakan nyata menjaga kebersihan pura/pelangkiran atau halaman di rumah (acuan: membersihkan pelangkiran/merajan masuk Parahyangan/Palemahan; menyapu halaman rumah masuk Palemahan) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak ulasan pengantar guru mengenai bentuk-bentuk penerapan 3 unsur Tri Hita Karana di lingkungan keluarga (Parahyangan: persembahyangan bersama/mebanten; Pawongan: berbakti pada orang tua/menghormati saudara; Palemahan: membersihkan pekarangan rumah) dan sekolah (Parahyangan: doa bersama sebelum belajar/piket padmasana; Pawongan: menghormati bapak/ibu guru dan rukun dengan teman; Palemahan: piket kelas dan membuang sampah pada tempatnya) (10 menit).
- Murid secara berpasangan diajak memainkan kuis cepat 'Tebak Ranah THK' yang menggembirakan: guru membacakan 4 pernyataan tindakan, pasangan murid mengangkat papan/kartu bertuliskan 'Keluarga' atau 'Sekolah' beserta unsurnya. Pernyataan: (1) 'Melaksanakan doa Tri Sandhya bersama orang tua di merajan' (acuan: Parahyangan di Keluarga); (2) 'Melaksanakan piket menyiram tanaman di taman sekolah' (acuan: Palemahan di Sekolah); (3) 'Membantu adik mengerjakan pekerjaan rumah dengan sabar' (acuan: Pawongan di Keluarga); (4) 'Menyapa guru dan bertutur kata sopan saat berpapasan di lorong' (acuan: Pawongan di Sekolah) (8 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (3-4 orang) untuk menyusun 'Tabel Rencana Aksi Nyata Tri Hita Karana' di lingkungan keluarga dan sekolah pada Lembar Kerja yang disediakan (12 menit).
- Setiap kelompok merumuskan dan menuliskan masing-masing 1 tindakan nyata yang konkret dan dapat dipraktikkan langsung untuk 6 kategori lengkap: (1) Parahyangan di Keluarga, (2) Pawongan di Keluarga, (3) Palemahan di Keluarga, (4) Parahyangan di Sekolah, (5) Pawongan di Sekolah, dan (6) Palemahan di Sekolah (acuan kriteria: tindakan operasional sehari-hari, bukan konsep teoritis) (18 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Perwakilan kelompok menempelkan lembar tabel aksi nyatanya di dinding kelas, lalu murid saling berkunjung membaca karya kelompok lain dan memberikan tanda bintang pada tindakan yang paling nyata dan dapat segera ditiru di rumah dan kelas (8 menit).
- Murid dengan hening merenungkan satu komitmen pribadi yang akan diterapkan mulai hari ini di rumah dan di sekolah demi terciptanya keharmonisan hidup (4 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap rencana aksi nyata yang telah disusun murid serta memberikan apresiasi atas kerja sama murid dalam kelompok (4 menit).
- Guru menginformasikan materi pertemuan berikutnya, yaitu melanjutkan penerapan nilai Tri Hita Karana di ranah lingkungan masyarakat (2 menit).
- Pembelajaran ditutup dengan doa penutup Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' secara khidmat bersama-sama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan contoh kata kerja tindakan konkret (misalnya: 'menyapu', 'berdoa', 'membantu', 'merawat'), sedangkan murid yang mahir diberikan tantangan merumuskan tindakan preventif menjaga keharmonisan saat terjadi perselisihan kecil di rumah atau sekolah.
- Proses: Pada tahap mengaplikasi, kelompok dengan pemahaman dasar didampingi guru secara berkala untuk memvalidasi ketepatan pemilahan unsur THK, sedangkan kelompok mandiri langsung menyusun dan merinci waktu pelaksanaan aksi nyatanya.
- Produk: Rencana aksi nyata dapat dituangkan dalam bentuk tabel visual berhias sketsa atau daftar ceklis aksi praktis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan lisan diagnostik: 'Sebutkan 1 contoh tindakan nyata menjaga kebersihan pura/pelangkiran atau halaman di rumah!' (Acuan jawaban: Membersihkan pelangkiran/merajan masuk ranah Parahyangan/Palemahan; menyapu halaman pekarangan masuk ranah Palemahan di keluarga. Murid yang menyebutkan tindakan nyata dinyatakan siap mengikuti tahap aplikasi).
Proses:- Formatif kinerja kelompok: Memeriksa isi 'Tabel Rencana Aksi Nyata Tri Hita Karana' pada Lembar Kerja. Kriteria: memuat 6 tindakan nyata konkret untuk 6 ranah: (1) Parahyangan Keluarga, (2) Pawongan Keluarga, (3) Palemahan Keluarga, (4) Parahyangan Sekolah, (5) Pawongan Sekolah, (6) Palemahan Sekolah. Acuan contoh benar: (1) Bersembahyang Surya Sewana/Tri Sandhya di sanggah; (2) Membantu ibu menyiapkan makanan/menghormati orang tua; (3) Menyapu pekarangan rumah; (4) Berdoa sebelum belajar di kelas/piket merajan sekolah; (5) Bertutur kata santun kepada guru dan menolong teman; (6) Membuang sampah pada tempat sampah di sekolah.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman individu di akhir kegiatan: Murid menuliskan 1 komitmen tindakan penerapan nilai THK yang paling mendesak akan ia lakukan di rumah dan 1 di sekolah pada secarik kertas refleksi (Kriteria penerimaan operasional: mencantumkan tindakan perilaku spesifik yang dapat diamati dan relevan dengan unsur THK di ranah keluarga serta sekolah).
Formatif:- Penilaian proses unjuk kerja penyusunan Tabel Rencana Aksi Nyata Tri Hita Karana di Lingkungan Keluarga dan Sekolah
- Observasi partisipasi dan ketepatan respons saat kuis cepat 'Tebak Ranah THK'
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penerapan Nilai Tri Hita Karana di Lingkungan Keluarga dan Sekolah | Menyusun kurang dari 3 tindakan nyata yang tepat dari 6 kategori ranah penerapan Tri Hita Karana di keluarga dan sekolah, atau tindakan yang ditulis masih bersifat konsep umum teoritis. | Menyusun 3 sampai 4 tindakan nyata yang tepat dari 6 kategori ranah penerapan Tri Hita Karana di lingkungan keluarga dan sekolah secara operasional. | Menyusun 5 tindakan nyata yang tepat dan konkret dari 6 kategori ranah penerapan Tri Hita Karana di lingkungan keluarga dan sekolah secara operasional. | Menyusun seluruh 6 tindakan nyata dengan tepat, jelas, dan konkret untuk seluruh kategori ranah (Parahyangan, Pawongan, Palemahan di lingkungan keluarga dan sekolah) secara mandiri dan operasional. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid mampu merumuskan tindakan konkret operasional penerapan Tri Hita Karana tanpa mencampurkan ranah keluarga dan sekolah?
- Apakah kegiatan kuis tebak ranah berhasil memotivasi murid secara menggembirakan sebelum masuk ke tugas kelompok?
Murid:- Tindakan nyata apa dari nilai Tri Hita Karana yang sudah terbiasa kamu lakukan di rumah dan di sekolah?
- Tindakan baru apa yang paling ingin segera kamu biasakan setelah menyusun rencana aksi hari ini?
Pertemuan 5 — Menerapkan Nilai Ajaran Tri Hita Karana di Lingkungan Masyarakat — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.4 Menerapkan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam panganjali 'Om Swastyastu', doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat: murid diminta mengidentifikasi ranah dari 3 contoh tindakan di masyarakat: (1) Ikut gotong royong membersihkan selokan desa, (2) Menghadiri persembahyangan bersama piodalan di Pura Desa, (3) Menjenguk tetangga yang sedang sakit (acuan: 1=Palemahan, 2=Parahyangan, 3=Pawongan) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merencanakan dan menerapkan aksi nyata nilai ajaran Tri Hita Karana di lingkungan masyarakat (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati 3 gambar situasi penerapan Tri Hita Karana di masyarakat yang disajikan guru: Gambar A (Kerja bakti warga membersihkan balai banjar/desa), Gambar B (Persembahyangan bersama di Pura Desa/Kahnyangan Tiga), dan Gambar C (Musyawarah warga/saling menyapa antarwarga lintas latar belakang) (acuan: Gambar A = Palemahan, Gambar B = Parahyangan, Gambar C = Pawongan) (10 menit).
- Murid bersama teman sebangku saling mencocokkan tindakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat sesuai 3 bagian Tri Hita Karana menggunakan kartu situasi (acuan kartu: Kartu 1 'Ngayah membersihkan pelataran pura desa' = Parahyangan; Kartu 2 'Menjaga toleransi dan kerukunan dengan tetangga' = Pawongan; Kartu 3 'Penanaman pohon peneduh di tepi jalan desa' = Palemahan) (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan tantangan kelompok 'Misi Aksi Harmoni': setiap kelompok memilih amplop berisi 3 skenario tantangan sosial di masyarakat dan menyusun 1 rencana tindakan nyata penerapan nilai Tri Hita Karana untuk tiap skenario pada Lembar Aksi Masyarakat (skenario: Skenario 1 'Pura desa menyambut hari suci piodalan' -> aksi: ngayah merangkai penjor/kebersihan pura; Skenario 2 'Perselisihan batas tanah antarwarga' -> aksi: musyawarah kekeluargaan dengan semangat asih, asah, asuh; Skenario 3 'Penumpukan sampah liar di bantaran sungai desa' -> aksi: kerja bakti warga memilah dan membersihkan sampah) (15 menit).
- Perwakilan kelompok mempraktikkan simulasi peran singkat (role play) selama 2 menit mengenai salah satu tindakan nyata penerapan nilai Tri Hita Karana di masyarakat sesuai skenario yang dipilih (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan nilai-nilai keharmonisan yang telah dipelajari dan menentukan komitmen 1 tindakan nyata pribadi yang akan diterapkan di lingkungan rukun tetangga/banjar/desa minggu ini (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap rencana penerapan ajaran Tri Hita Karana di masyarakat yang telah disusun murid (5 menit).
- Guru menyampaikan bahwa pertemuan berikutnya adalah asesmen sumatif bab, lalu menutup pelajaran dengan doa Parama Santih: 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu skenario visual bergambar bagi murid yang membutuhkan bantuan visual, dan teks narasi studi kasus kompleks bagi murid yang berpencapaian tinggi.
- Proses: Memberikan bimbingan terstruktur dan contoh kalimat aksi bagi murid yang membutuhkan scaffolding, serta memberikan keleluasaan merancang aksi kolaboratif mandiri bagi kelompok yang cepat memahami.
- Produk: Format Lembar Aksi Masyarakat dapat berupa tabel rencana tindakan berpoin sederhana maupun bagan skema aksi berbasis komunitas.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik klasikal memasangkan 3 contoh kegiatan warga dengan unsur Tri Hita Karana. Soal: (1) Gotong royong selokan desa, (2) Sembahyang piodalan pura desa, (3) Menjenguk tetangga sakit. (Kunci acuan: 1 = Palemahan, 2 = Parahyangan, 3 = Pawongan).
Proses:- Observasi keterlibatan murid dalam simulasi peran aksi penerapan Tri Hita Karana di masyarakat dan pemeriksaan ketepatan rencana aksi pada Lembar Aksi Masyarakat (acuan: memuat minimal 1 aksi nyata Parahyangan [misal: ngayah/sembahyang di tempat ibadah masyarakat], 1 aksi nyata Pawongan [misal: gotong royong/menjaga kerukunan antarwarga], dan 1 aksi nyata Palemahan [misal: membersihkan lingkungan umum/menanam pohon di fasilitas desa]).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman individu di akhir sesi melalui penulisan 1 komitmen tindakan nyata penerapan Tri Hita Karana di lingkungan masyarakat tempat tinggal (Kriteria penerimaan operasional: tindakan dinyatakan secara konkret, mencakup salah satu unsur Parahyangan/Pawongan/Palemahan, dan dapat diterapkan di lingkungan warga/masyarakat).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja simulasi peran dan Lembar Aksi Penerapan Tri Hita Karana di Lingkungan Masyarakat
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penerapan Nilai Ajaran Tri Hita Karana di Lingkungan Masyarakat | Belum mampu merumuskan tindakan nyata penerapan nilai Tri Hita Karana di lingkungan masyarakat yang sesuai dengan ketiga unsur (Parahyangan, Pawongan, Palemahan). | Mampu merumuskan tindakan nyata penerapan nilai Tri Hita Karana di lingkungan masyarakat yang tepat untuk 1 dari 3 unsur (Parahyangan/Pawongan/Palemahan). | Mampu merumuskan tindakan nyata penerapan nilai Tri Hita Karana di lingkungan masyarakat yang tepat untuk 2 dari 3 unsur (Parahyangan/Pawongan/Palemahan). | Mampu merumuskan tindakan nyata penerapan nilai Tri Hita Karana di lingkungan masyarakat secara lengkap dan tepat untuk ketiga unsur (Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan) secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas bermain peran kontekstual efektif membantu murid memahami cara menerapkan ajaran Tri Hita Karana di lingkungan masyarakat?
- Bagaimana keterlibatan setiap murid dalam merumuskan rencana aksi sosial kemasyarakatan berbasis Tri Hita Karana?
Murid:- Aksi nyata apa yang paling mudah dan paling menantang untuk saya terapkan bersama warga di sekitar rumah saya?
- Bagaimana perasaan saya setelah belajar merencanakan tindakan yang menjaga keharmonisan di lingkungan masyarakat?
Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.1 Menjelaskan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari
- TP 7.3.2 Menguraikan bagian-bagian dari nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana
- TP 7.3.3 Menganalisis keterkaitan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam menciptakan keharmonisan sosial
- TP 7.3.4 Menerapkan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam panganjali 'Om Swastyastu', doa bersama Tri Sandhya, dan memeriksa kehadiran murid secara hening dan tertib (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pertemuan ke-6 sebagai pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 3 Tri Hita Karana, menjelaskan tata tertib asesmen, serta membagikan Lembar Kerja Asesmen Tertulis dan memverifikasi kesiapan portofolio jurnal refleksi murid (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid mencermati petunjuk teknis pengerjaan tes tertulis studi kasus dan tata cara pengumpulan portofolio jurnal refleksi tindakan nyata secara mandiri (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas 1 (Tes Tertulis Uraian dan Studi Kasus): Murid secara individual mengerjakan lembar tes tertulis selama 45 menit yang mencakup 3 butir soal berikut: (1) Soal 1: Menjelaskan arti harfiah Tri Hita Karana serta nilai filosofisnya dalam kehidupan sehari-hari [Kunci/Acuan: Tri = tiga, Hita = kebahagiaan/kesejahteraan, Karana = penyebab/unsur; maknanya tiga hubungan harmonis penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia lahir dan batin]; (2) Soal 2: Mengisi tabel klasifikasi 3 bagian Tri Hita Karana beserta definisi dan masing-masing 2 contoh perilakunya [Kunci/Acuan: a. Parahyangan = hubungan harmonis manusia dengan Hyang Widhi Wasa/Tuhan, contoh: sembahyang Tri Sandhya rutin, merawat tempat suci/pelinggih; b. Pawongan = hubungan harmonis manusia dengan sesama manusia, contoh: saling menghormati antarteman/keluarga, tolong-menolong/gotong royong; c. Palemahan = hubungan harmonis manusia dengan alam lingkungan, contoh: membuang sampah pada tempatnya, merawat tanaman/penghijauan]; (3) Soal 3: Menganalisis studi kasus keharmonisan sosial: 'Di suatu desa terjadi ketegangan antarwarga akibat pembuangan limbah sampah sembarangan di dekat tempat ibadah bersama. Analisislah keterkaitan kasus ini dengan pengabaian nilai Tri Hita Karana dan rumuskan 3 solusi konkret berbasis Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan!' [Kunci/Acuan: Analisis: terjadi pelanggaran Palemahan (merusak kebersihan lingkungan), memicu rusaknya Pawongan (konflik/ketegangan sosial antarwarga), serta menodai kesucian Parahyangan (pencemaran area dekat tempat suci). Solusi: Solusi Parahyangan = pembersihan dan penyucian kembali area suci; Solusi Pawongan = musyawarah desa dengan kepala dingin untuk rekonsiliasi dan kesepakatan bersama; Solusi Palemahan = pembuatan tempat penampungan sampah terpadu dan kerja bakti rutin] (45 menit).
- Tugas 2 (Pengumpulan dan Verifikasi Portofolio Jurnal Refleksi Tindakan Nyata): Murid secara individual menyerahkan buku jurnal refleksi tindakan nyata penerapan Tri Hita Karana di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (yang telah memuat dokumentasi/catatan tindakan nyata Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan serta validasi tanda tangan orang tua dan guru) untuk diverifikasi dan dinilai oleh guru (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengisi lembar refleksi proses asesmen sumatif mengenai tingkat pemahaman dan komitmen kelanjutan penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari secara jujur dan sadar (3 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar jawaban tes tertulis dan instrumen refleksi murid secara teratur (1 menit).
- Guru memberikan penguatan menyeluruh atas pembelajaran Bab 3 Tri Hita Karana, menyampaikan agenda materi bab berikutnya, serta menutup sesi dengan parama santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses: teks soal disediakan dalam cetakan huruf yang jelas dan ukuran terbaca bagi murid dengan hambatan penglihatan ringan tanpa mengubah isi butir soal.
- Proses: Pemberian penegasan petunjuk pembacaan soal secara lisan bagi murid yang membutuhkan klarifikasi instruksi pengerjaan tanpa membocorkan substansi jawaban.
- Produk: Format penulisan jawaban uraian dapat ditulis tangan rapi pada lembar kerja bergaris yang disediakan sesuai standar instrumen yang sama.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan teknis asesmen dan kelengkapan dokumen portofolio jurnal refleksi tindakan nyata murid sebelum tes dimulai.
Proses:- Pemantauan kemandirian, kepatuhan integritas, dan ketertiban pengerjaan tes tertulis secara individual di ruang kelas.
Sumatif Bab:- Asesmen kombinasi tes tertulis studi kasus dan penilaian portofolio jurnal refleksi penerapan nyata: Lembar kerja analisis komprehensif tertulis berisi penjelasan, klasifikasi, dan pemecahan kasus keharmonisan sosial Tri Hita Karana, serta buku jurnal refleksi tindakan nyata penerapan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat beserta bukti verifikasi pendukung
- Tes tertulis serentak (uraian dan studi kasus): Lembar jawaban murid yang memuat penjelasan nilai ajaran Tri Hita Karana, tabel klasifikasi bagian-bagian beserta karakteristiknya (Parahyangan, Pawongan, Palemahan), serta hasil analisis kasus tertulis mengenai peran ajaran tersebut dalam memelihara kerukunan dan keharmonisan sosial (50 menit; individual; instrumen: Pedoman penskoran dan rubrik asesmen tertulis)
- Penilaian portofolio jurnal refleksi tindakan nyata: Buku jurnal refleksi berisi dokumentasi dan catatan penerapan nyata ajaran Tri Hita Karana (sembahyang/Parahyangan, gotong royong/Pawongan, menjaga kebersihan lingkungan/Palemahan) di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang telah divalidasi tanda tangan orang tua dan guru (30 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian portofolio jurnal refleksi tindakan nyata)
Sumatif:- Asesmen kombinasi tes tertulis studi kasus dan penilaian portofolio jurnal refleksi penerapan nyata: Lembar kerja analisis komprehensif tertulis berisi penjelasan, klasifikasi, dan pemecahan kasus keharmonisan sosial Tri Hita Karana, serta buku jurnal refleksi tindakan nyata penerapan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat beserta bukti verifikasi pendukung
- Tes tertulis serentak (uraian dan studi kasus): Lembar jawaban murid yang memuat penjelasan nilai ajaran Tri Hita Karana, tabel klasifikasi bagian-bagian beserta karakteristiknya (Parahyangan, Pawongan, Palemahan), serta hasil analisis kasus tertulis mengenai peran ajaran tersebut dalam memelihara kerukunan dan keharmonisan sosial (50 menit; individual; instrumen: Pedoman penskoran dan rubrik asesmen tertulis)
- Penilaian portofolio jurnal refleksi tindakan nyata: Buku jurnal refleksi berisi dokumentasi dan catatan penerapan nyata ajaran Tri Hita Karana (sembahyang/Parahyangan, gotong royong/Pawongan, menjaga kebersihan lingkungan/Palemahan) di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang telah divalidasi tanda tangan orang tua dan guru (30 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian portofolio jurnal refleksi tindakan nyata)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana (TP 7.3.1) | Belum mampu menjelaskan arti harfiah (Tri, Hita, Karana) maupun nilai filosofis kebahagiaan hidup sesuai acuan kunci. | Menjelaskan arti harfiah Tri Hita Karana secara tepat (Tri = tiga, Hita = bahagia, Karana = sebab), namun belum mampu menguraikan nilai filosofis pencapaian kebahagiaannya. | Menjelaskan arti harfiah dan nilai filosofis ajaran Tri Hita Karana secara tepat sesuai acuan kunci (tiga hubungan harmonis penyebab terciptanya kebahagiaan lahir dan batin), namun rumusan bahasa masih terbatas. | Menjelaskan secara lengkap dan tepat arti harfiah serta nilai filosofis ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari dengan uraian mendalam, runtut, dan mandiri sesuai acuan kunci. | | Penguraian bagian-bagian Tri Hita Karana (TP 7.3.2) | Hanya menguraikan 1 dari 3 bagian Tri Hita Karana atau keliru dalam mendefinisikan dan memberikan contoh perilakunya. | Menguraikan 2 dari 3 bagian Tri Hita Karana (Parahyangan, Pawongan, Palemahan) beserta definisinya, namun contoh perilakunya belum lengkap sesuai acuan kunci. | Menguraikan seluruh 3 bagian Tri Hita Karana (Parahyangan = hubungan dengan Hyang Widhi; Pawongan = hubungan dengan sesama manusia; Palemahan = hubungan dengan alam) dengan tepat, disertai masing-masing minimal 1 contoh perilaku sesuai acuan kunci. | Menguraikan seluruh 3 bagian Tri Hita Karana (Parahyangan, Pawongan, Palemahan) secara lengkap dan tepat beserta definisinya dan masing-masing 2 contoh perilaku konkret sesuai acuan kunci secara mandiri. | | Analisis keterkaitan nilai Tri Hita Karana dalam keharmonisan sosial (TP 7.3.3) | Belum mampu mengaitkan kasus pencemaran sampah dekat tempat ibadah dengan unsur Tri Hita Karana maupun memberikan solusi yang relevan. | Mampu mengidentifikasi 1 unsur yang terganggu dalam kasus, namun solusi pemecahan keharmonisan sosial belum menyentuh ketiga unsur Tri Hita Karana. | Menganalisis keterkaitan kasus dengan pengabaian unsur Palemahan dan Pawongan secara tepat, serta merumuskan 2 solusi konkret keharmonisan sosial sesuai acuan kunci. | Menganalisis keterkaitan kasus secara utuh terhadap pengabaian ketiga unsur (Parahyangan, Pawongan, Palemahan) serta merumuskan seluruh 3 solusi konkret terpadu pemulihan keharmonisan sosial secara kritis dan tepat sesuai acuan kunci. | | Penerapan nilai Tri Hita Karana di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (TP 7.3.4) | Jurnal refleksi hanya memuat catatan penerapan pada 1 lingkungan dan belum divalidasi tanda tangan orang tua/guru. | Jurnal refleksi memuat catatan penerapan pada 2 lingkungan (misalnya keluarga dan sekolah) dengan bukti catatan terbatas dan telah divalidasi. | Jurnal refleksi memuat dokumentasi catatan penerapan nyata ajaran Tri Hita Karana secara lengkap di 3 lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat: sembahyang/Parahyangan, gotong royong/Pawongan, menjaga kebersihan/Palemahan) serta tervalidasi tanda tangan orang tua dan guru. | Jurnal refleksi memuat dokumentasi lengkap, rinci, reflektif, dan konsisten dari seluruh penerapan Tri Hita Karana (Parahyangan, Pawongan, Palemahan) di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat disertai bukti verifikasi penuh tanda tangan orang tua dan guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instrumen asesmen tertulis dan portofolio jurnal refleksi telah sahih mengukur ketercapaian keempat Tujuan Pembelajaran Bab 3 Tri Hita Karana?
- Bagaimana tingkat ketuntasan murid dalam memahami dan menginternalisasi nilai keharmonisan Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan berdasarkan hasil asesmen sumatif ini?
Murid:- Bagian mana dari ajaran Tri Hita Karana yang paling mudah dan paling menantang untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari?
- Langkah nyata apa yang akan terus saya rawat untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan Hyang Widhi Wasa, sesama teman, dan lingkungan alam sekitar?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021
- Lembar Aktivitas 'Tebak Makna & Nilai Harmoni'
- Papan tulis dan spidol kelas
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek, 2021)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek, 2021)
- Kartu Pasangan Istilah 'Tri Kahitayan'
- Lembar Kerja Klasifikasi Bagian Tri Hita Karana
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
- Lembar studi kasus kontekstual keterkaitan Tri Hita Karana dalam keharmonisan masyarakat
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek, 2021) Bab 3
- Kartu Kuis Tebak Ranah THK
- Lembar Kerja Rencana Aksi Nyata Tri Hita Karana
- Kartu situasi dan skenario tantangan sosial kemasyarakatan
- Lembar Kerja Aksi Harmoni Tri Hita Karana di Masyarakat
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021 (Bab 3: Tri Hita Karana)
- Lembar Kerja Asesmen Sumatif Bab 3 (Soal uraian dan studi kasus)
- Buku Jurnal Portofolio Refleksi Penerapan Tri Hita Karana Murid
|