Modul AjarBab 5Fase CSemester 2

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 5 Bab 5: Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas 5 untuk Bab 5 "Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 5 Bab 5: Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti - Kelas 5

Bab 5

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti — Kelas 5 (Fase C)

Topik: Bab 5 — Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase C / Kelas 5
TopikBab 5 — Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia
Alokasi Waktu27 JP (27 x 35 menit = 945 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 5.5.1 Menceritakan sejarah awal perkembangan agama Hindu di Indonesia secara runtut
  2. TP 5.5.2 Menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa kerajaan Hindu di Kalimantan Timur dan Jawa Barat
  3. TP 5.5.3 Menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa kerajaan Hindu di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali
  4. TP 5.5.4 Menceritakan bukti peninggalan dan upaya melestarikan sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimanakah ajaran agama Hindu yang berasal dari India pada awalnya dapat sampai dan berkembang di kepulauan Indonesia?
  2. Jalur apa sajakah yang ditempuh para penyebar agama Hindu saat berlayar menuju Nusantara pada zaman dahulu?
  3. Bagaimanakah urutan perjalanan waktu masuknya pengaruh agama Hindu hingga berkembang di kepulauan Nusantara?
  4. Mengapa peristiwa sejarah awal perkembangan agama Hindu perlu diceritakan secara runtut dari masa ke masa?
  5. Mengapa Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur disebut sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia?
  6. Peninggalan apakah yang membuktikan keberadaan upacara kurban 20.000 ekor sapi oleh Raja Mulawarman?
  7. Tahukah kalian kerajaan Hindu pertama yang pernah berkembang di wilayah Jawa Barat?
  8. Mengapa Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara diibaratkan laksana Dewa Wisnu oleh rakyatnya?
  9. Siapakah raja pendiri Dinasti Sanjaya yang memimpin Kerajaan Mataram Kuno bercorak Hindu?
  10. Candi megah apakah di Yogyakarta/Jawa Tengah yang menjadi bukti kejayaan agama Hindu pada masa Mataram Kuno?
  11. Tahukah kalian mengapa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur menjadi salah satu kerajaan Hindu terbesar di Nusantara?
  12. Bagaimanakah sejarah perkembangan agama Hindu di Bali yang peninggalan ajarannya masih lestari sampai hari ini?
  13. Benda atau bangunan kuno apa sajakah yang membuktikan bahwa agama Hindu pernah berkembang sangat pesat di Nusantara?
  14. Bagaimana kita bisa mengetahui kisah raja-raja masa lampau melalui peninggalan seperti prasasti dan candi?
  15. Mengapa peninggalan sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia seperti candi, prasasti, dan pura perlu kita lestarikan?
  16. Apa saja tindakan nyata yang dapat kita lakukan sebagai pelajar untuk menjaga dan melestarikan benda cagar budaya peninggalan sejarah Hindu?
  17. Bagaimanakah alur runtut perjalanan masuknya agama Hindu ke Kepulauan Nusantara hingga melahirkan kerajaan-kerajaan bercorak Hindu?
  18. Apa saja peninggalan sejarah kerajaan Hindu di Indonesia dan bagaimana cara nyata kita melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menceritakan Teori dan Jalur Masuk Awal Perkembangan Agama Hindu di Indonesia — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.5.1 Menceritakan sejarah awal perkembangan agama Hindu di Indonesia secara runtut

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', memimpin doa bersama, mengecek kehadiran, dan menyiapkan kelas dalam suasana tenang berkesadaran (5 menit).
  • Guru mengaitkan materi dengan menayangkan peta rute pelayaran Asia Tenggara dan memberikan pertanyaan diagnostik lisan untuk memetakan kesiapan awal murid mengenai teori dan jalur masuk Hindu ke Indonesia (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati bagan infografis dan teks ringkas mengenai 4 teori masuknya agama Hindu (Teori Brahmana dibawa kaum pendeta/Brahmana, Teori Ksatria dibawa para bangsawan/prajurit perang, Teori Waisya dibawa pedagang, Teori Arus Balik dibawa pemuda Indonesia yang belajar ke India) serta 2 jalur penyebarannya (jalur laut mengikuti angin muson dan jalur darat/Jalan Sutra) (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti tantangan mencocokkan 'Kartu Pasangan Teori' secara cepat dan tepat, di mana satu murid memegang nama teori dan pasangannya memegang golongan pembawanya, untuk menguji daya ingat pemahaman konsep (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mengerjakan LKPD berisi 4 alur runtut sejarah awal perkembangan agama Hindu: (1) Daerah asal ajaran di India, (2) Golongan pembawa berdasarkan teori (Brahmana, Ksatria, Waisya, Arus Balik), (3) Rute yang dilalui (jalur laut dan darat), dan (4) Daerah persinggahan awal di kepulauan Indonesia (25 menit).
  • Murid secara bergantian menceritakan kembali secara lisan alur runtut proses masuk dan berkembangnya agama Hindu di Indonesia kepada teman sebangku berdasarkan alur pada LKPD yang telah disusunnya (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan makna keterbukaan para leluhur Nusantara dalam menerima pengaruh ajaran kebajikan Hindu dari berbagai teori dan jalur masuk tersebut (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali 4 teori utama (Brahmana, Ksatria, Waisya, Arus Balik) serta 2 jalur masuk (laut dan darat) sejarah awal agama Hindu di Indonesia (5 menit).
  • Guru memberikan cek pemahaman akhir melalui kuis lisan singkat, menginformasikan materi pertemuan ke-2 mengenai kronologi sejarah awal, dan menutup pembelajaran dengan Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan bagan alur bergambar dengan peta navigasi warna untuk murid yang membutuhkan bantuan visual dan teks ulasan lebih mendalam bagi murid yang siap.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah (scaffolding) dengan kartu kata kunci bagi murid yang membutuhkan bantuan, sementara murid mahir langsung menceritakan alur runtut secara mandiri tanpa kartu panduan.
  • Produk: Murid dapat menceritakan sejarah awal masuknya Hindu secara lisan langsung atau menggunakan bantuan bagan alur runtut yang digambarkannya sendiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Sebutkan 2 teori dan 2 jalur perjalanan masuknya agama Hindu ke Indonesia!' (Acuan jawaban benar: Teori Brahmana/Ksatria/Waisya/Sudra/Arus Balik; Jalur laut melintasi selat/samudra dan Jalur darat/Jalan Sutra).

Proses:

  • Formatif kinerja saat murid menceritakan secara runtut 4 unsur sejarah awal: (1) Asal daerah/negeri India, (2) Nama teori dan golongan pembawa ajaran, (3) Rute jalur penyebaran (darat dan laut), dan (4) Penerimaan awal di kepulauan Nusantara (Acuan: memuat 4 unsur tersebut secara berurutan dan tepat tanpa tertukar).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: 'Sebutkan 4 teori masuknya agama Hindu ke Indonesia beserta golongan pembawanya!' (Acuan jawaban benar: 1. Teori Brahmana = pendeta/rohaniwan; 2. Teori Ksatria = prajurit/bangsawan; 3. Teori Waisya = pedagang; 4. Teori Arus Balik = pelajar/masyarakat Nusantara yang belajar ke India).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal pembelajaran
  • Observasi unjuk kerja saat murid menceritakan kembali runtutan teori dan jalur masuk Hindu pada LKPD

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan sejarah awal perkembangan agama Hindu di Indonesia (Teori dan Jalur Masuk)Hanya mampu menyebutkan 1 teori masuknya agama Hindu dan belum mampu menceritakan jalur masuknya secara runtut.Mampu menceritakan 2 teori masuknya agama Hindu beserta pembawanya dan menyebutkan 1 jalur masuk, namun urutan cerita belum runtut.Mampu menceritakan 3-4 teori masuknya agama Hindu (Brahmana, Ksatria, Waisya, Arus Balik) serta 2 jalur masuk (laut dan darat) secara runtut sesuai panduan bagan.Mampu menceritakan seluruh 4 teori masuknya agama Hindu (Brahmana, Ksatria, Waisya, Arus Balik) serta 2 jalur masuk secara lengkap, tepat, runtut, dan mandiri tanpa menggunakan kartu panduan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan peta navigasi dan permainan kartu pasangan teori efektif membantu murid menceritakan kembali jalur masuk agama Hindu?
  • Bagian manakah dari runtutan materi yang paling memerlukan pendampingan intensif bagi murid?

Murid:

  • Teori masuknya agama Hindu manakah yang menurutmu paling menarik dan mudah diingat?
  • Apakah kamu dapat menceritakan kembali jalur perjalanan yang ditempuh para penyebar agama Hindu ke Indonesia kepada temanmu?

Pertemuan 2 — Menceritakan Kronologi Runtut Sejarah Awal Perkembangan Agama Hindu di Kepulauan Nusantara — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.5.1 Menceritakan sejarah awal perkembangan agama Hindu di Indonesia secara runtut

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan kronologi runtut sejarah awal perkembangan agama Hindu di kepulauan Nusantara (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat tentang 4 tonggak kronologi awal masuknya agama Hindu di Nusantara: (1) Masa kontak niaga dan masuknya ajaran Sanatana Dharma awal masehi, (2) Masa kedatangan Rsi Agastya menyebarkan ajaran Hindu, (3) Masa berdirinya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur abad ke-4 Masehi, dan (4) Masa Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat abad ke-5 Masehi (acuan: urutan kronologis 1-2-3-4) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mengamati bagan alur waktu 'Linimasa Kronologi Awal Perkembangan Agama Hindu di Nusantara' yang memuat 4 peristiwa berurutan: Peristiwa 1 = Hubungan dagang India-Nusantara pada abad ke-1 Masehi membawa masuk nilai Sanatana Dharma; Peristiwa 2 = Perjalanan suci Rsi Agastya (Agastya Yatra) menyebarkan ajaran Weda di kepulauan Nusantara; Peristiwa 3 = Berdirinya Kerajaan Kutai pada abad ke-4 Masehi dengan bukti prasasti Yupa; Peristiwa 4 = Munculnya Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-5 Masehi di Jawa Barat dengan bukti prasasti Ciaruteun (15 menit).
  • Guru memberikan penjelasan konseptual mengenai pentingnya merangkai urutan peristiwa sejarah awal secara kronologis tanpa tertukar tahapan waktunya (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid dibagi berpasangan untuk memainkan 'Tantangan Susun & Cerita Linimasa': setiap pasangan menerima 4 kartu peristiwa acak yaitu Kartu A: Kerajaan Tarumanegara abad ke-5 Masehi di Jawa Barat; Kartu B: Hubungan dagang awal abad ke-1 Masehi membawa ajaran Sanatana Dharma; Kartu C: Perjalanan penyebaran ajaran oleh Rsi Agastya; Kartu D: Berdirinya Kerajaan Kutai abad ke-4 Masehi di Kalimantan Timur (kunci urutan benar: B - C - D - A), lalu menyusunnya secara runtut di meja (15 menit).
  • Setiap murid secara bergiliran menceritakan sejarah awal perkembangan agama Hindu di Indonesia secara runtut berdasarkan 4 peristiwa yang telah disusun (acuan penceritaan runtut: menceritakan kontak dagang awal abad ke-1 M, dilanjutkan peranan Rsi Agastya, diteruskan berdirinya Kerajaan Kutai abad ke-4 M, dan diakhiri perkembangan Kerajaan Tarumanegara abad ke-5 M) dengan diamati guru menggunakan lembar observasi (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan perenungan terbimbing mengenai manfaat memahami urutan sejarah masa lampau bagi penguatan pemahaman diri terhadap perkembangan agama Hindu di tanah air (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari urutan kronologi runtut sejarah awal perkembangan agama Hindu di kepulauan Nusantara (Peristiwa B -> C -> D -> A) (5 min).
  • Guru memberikan umpan balik pencapaian kemampuan bercerita runtut, menyampaikan topik kerajaan Kutai untuk pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu peristiwa berhias kode angka tahun/abad bagi murid yang memerlukan bantuan visual kronologis, serta kartu deskriptif murni tanpa angka tahun bagi murid yang sudah mahir.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih menceritakan urutan dibimbing bertahap kartu demi kartu, sedangkan murid mahir menceritakan alur secara mandiri dan utuh dari awal sampai akhir.
  • Produk: Penyampaian cerita runtut dilakukan secara lisan berpasangan atau di depan kelompok kecil dengan panduan kartu alur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: meminta murid mengurutkan 4 peristiwa acak perkembangan awal Hindu: (A) Kerajaan Kutai abad ke-4 M, (B) Hubungan dagang awal abad ke-1 M, (C) Kerajaan Tarumanegara abad ke-5 M, (D) Perjalanan Rsi Agastya. (Kunci urutan benar: B - D - A - C).

Proses:

  • Penilaian formatif praktik bercerita: Guru mengamati ketepatan urutan dan kelengkapan 4 peristiwa dalam penceritaan murid (Peristiwa 1: Hubungan niaga abad ke-1 M; Peristiwa 2: Perjalanan Rsi Agastya; Peristiwa 3: Kutai abad ke-4 M; Peristiwa 4: Tarumanegara abad ke-5 M).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir: Murid secara mandiri menyebutkan kembali 4 urutan kronologis awal perkembangan agama Hindu dari yang paling awal hingga munculnya kerajaan di Jawa Barat (acuan urutan benar: 1. Hubungan dagang pembawa Sanatana Dharma abad ke-1 M, 2. Rsi Agastya Yatra, 3. Kerajaan Kutai Kalimantan Timur abad ke-4 M, 4. Kerajaan Tarumanegara Jawa Barat abad ke-5 M).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja menceritakan kronologi runtut sejarah awal perkembangan agama Hindu berdasarkan 4 peristiwa linimasa

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keruntutan Menceritakan Sejarah Awal Perkembangan Agama HinduMenceritakan peristiwa sejarah awal perkembangan agama Hindu tanpa urutan kronologis yang tepat (0-1 dari 4 peristiwa ditempatkan berurutan sesuai acuan B-C-D-A).Menceritakan peristiwa sejarah awal perkembangan agama Hindu dengan urutan yang sebagian tepat (2 dari 4 peristiwa runtut sesuai acuan B-C-D-A) dengan bimbingan penuh guru.Menceritakan sejarah awal perkembangan agama Hindu secara runtut mencakup 3-4 peristiwa berurutan sesuai acuan (B: kontak niaga abad 1 M -> C: Rsi Agastya -> D: Kerajaan Kutai abad 4 M -> A: Tarumanegara abad 5 M) secara mandiri.Menceritakan sejarah awal perkembangan agama Hindu secara runtut mencakup seluruh 4 peristiwa kronologis (B -> C -> D -> A) secara lengkap, lancar, dan mandiri tanpa kesalahan alur waktu.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan media kartu linimasa efektif membantu murid menceritakan urutan sejarah secara runtut?
  • Bagian kronologi mana yang masih sering tertukar oleh murid saat menceritakan kembali?

Murid:

  • Bagian mana dari urutan sejarah awal masuknya agama Hindu yang paling mudah kamu ingat?
  • Apakah kamu dapat menceritakan urutan masuknya agama Hindu dari awal hingga masa Tarumanegara dengan runtut?

Pertemuan 3 — Menceritakan Sejarah Perkembangan Agama Hindu pada Masa Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.5.2 Menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa kerajaan Hindu di Kalimantan Timur dan Jawa Barat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama sebelum belajar (5 menit).
  • Guru mengecek kehadiran dan memberikan apersepsi mengenai kerajaan tertua di Nusantara yang menandai berakhirnya zaman prasejarah (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 2 pertanyaan: (1) 'Di pulau manakah letak Kerajaan Kutai?' (acuan: Kalimantan Timur / tepi Sungai Mahakam) dan (2) 'Benda peninggalan bertulis apakah yang menjadi bukti Kerajaan Kutai?' (acuan: Yupa / tugu batu bertulis) untuk memetakan kesiapan awal murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati gambar tugu batu Yupa dan membaca teks materi tentang sejarah berdirinya Kerajaan Kutai pada abad ke-4 Masehi di tepi Sungai Mahakam Kalimantan Timur (15 menit).
  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencatat 4 fakta utama sejarah Kerajaan Kutai: (1) Didirikan oleh Raja Kudungga lalu dilanjutkan putranya Aswawarman dan cucunya Mulawarman; (2) Bukti berupa 7 tugu batu Yupa berhuruf Pallawa dan bahasa Sanskerta; (3) Kehidupan keagamaan pemujaan Dewa Siwa di lapangan suci Waprakeswara; (4) Upacara kurban derma 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana oleh Raja Mulawarman (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan tantangan berpasangan 'Sambung Cerita Kutai' yang menggembirakan, di mana tiap pasangan murid mengambil 4 kartu alur sejarah Kutai (Kartu 1: Munculnya Kerajaan Kutai abad IV di Muarakaman tepi Mahakam; Kartu 2: Silsilah raja Kundungga, Aswawarman, hingga Mulawarman; Kartu 3: Penulisan 7 prasasti Yupa huruf Pallawa bahasa Sanskerta; Kartu 4: Pelaksanaan yadnya 20.000 sapi di Waprakeswara) dan menceritakan kembali urutan sejarah Kutai kepada pasangannya secara bergantian (15 menit).
  • Secara mandiri, murid menceritakan kembali sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Kutai dalam lembar kerja terstruktur berisi panduan 4 unsur peristiwa (lokasi & waktu, silsilah raja, bukti prasasti Yupa, dan yadnya Mulawarman di Waprakeswara) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama teman sebangku saling mencocokkan cerita sejarah Kutai yang ditulisnya dengan 4 kunci fakta peristiwa Kerajaan Kutai (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan poin-poin utama sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap kelengkapan dan keruntutan cerita sejarah murid, lalu menginformasikan topik berikutnya yaitu Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat, serta menutup pelajaran dengan parama santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan teks narasi ringkas dengan bantuan kata kunci penting bagi murid yang memerlukan bimbingan, serta menyediakan gambar ilustrasi Yupa bersurat lengkap bagi murid yang telah mahir.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan menceritakan sejarah dengan menggunakan panduan kalimat rumpang berisi kata kunci (Kalimantan Timur, Kudungga, Mulawarman, Yupa, Waprakeswara), sedangkan murid mahir menceritakan sejarah Kerajaan Kutai secara mandiri tanpa bantuan kata rumpang.
  • Produk: Format penceritaan dapat berupa tulisan narasi runtut 4 alur peristiwa atau penyampaian lisan langsung kepada guru sesuai panduan unsur sejarah Kutai.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran mengenai pengetahuan dasar Kerajaan Kutai: (1) Sebutkan wilayah provinsi tempat berkembangnya Kerajaan Kutai! (acuan jawaban: Kalimantan Timur); (2) Sebutkan nama tugu batu bertulis yang menjadi bukti sejarah Kerajaan Kutai! (acuan jawaban: Yupa).

Proses:

  • Penilaian penugasan lembar kerja menuliskan/menceritakan sejarah Kerajaan Kutai mencakup 4 unsur fakta: (1) Lokasi dan waktu (abad IV Masehi di Muarakaman tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur); (2) Silsilah raja (Raja Kundungga, putranya Aswawarman, dan cucunya Mulawarman); (3) Bukti prasasti (7 buah tugu batu Yupa berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta); (4) Peristiwa keagamaan (persembahan yadnya 20.000 ekor sapi oleh Raja Mulawarman kepada para Brahmana di tempat suci Waprakeswara).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat di akhir sesi: Murid menjawab 3 butir pertanyaan: (1) 'Di manakah tempat suci pemujaan Siwa tempat dilaksanakannya upacara kurban Mulawarman?' (acuan: Waprakeswara); (2) 'Berapakah jumlah tugu batu Yupa yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam?' (acuan: 7 buah); (3) 'Siapakah raja Kutai yang mendermakan 20.000 ekor sapi?' (acuan: Raja Mulawarman).

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar kerja menceritakan sejarah Kerajaan Kutai berdasarkan pemenuhan 4 unsur fakta sejarah.
  • Observasi unjuk kerja saat murid menceritakan alur sejarah Kutai dalam tantangan berpasangan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Unsur Fakta Sejarah Kerajaan Kutai (Acuan 4 fakta: [1] Lokasi Muarakaman Kaltim & abad IV M; [2] Silsilah raja Kundungga-Aswawarman-Mulawarman; [3] 7 Yupa huruf Pallawa Sanskerta; [4] Yadnya 20.000 sapi di Waprakeswara)Menceritakan sejarah Kerajaan Kutai hanya memuat 1 dari 4 unsur fakta secara tepat.Menceritakan sejarah Kerajaan Kutai dengan memuat 2 dari 4 unsur fakta secara tepat.Menceritakan sejarah Kerajaan Kutai dengan memuat 3 dari 4 unsur fakta secara tepat.Menceritakan sejarah Kerajaan Kutai dengan memuat seluruh 4 unsur fakta secara tepat dan lengkap.
Keruntutan Menceritakan Sejarah Kerajaan Kutai (Acuan alur runtut: awal berdirinya di Kalimantan Timur -> masa kejayaan & silsilah raja -> peninggalan Yupa dan upacara keagamaan di Waprakeswara)Menceritakan alur peristiwa sejarah Kerajaan Kutai secara acak atau terputus-putus dengan bantuan penuh dari guru.Menceritakan alur peristiwa sejarah Kerajaan Kutai dengan sebagian alur melompat tetapi dapat diperbaiki dengan sedikit bimbingan guru.Menceritakan alur peristiwa sejarah Kerajaan Kutai secara runtut dari awal berdirinya hingga bukti peninggalannya secara mandiri.Menceritakan seluruh alur peristiwa sejarah Kerajaan Kutai secara runtut, utuh, dan berkesinambungan tanpa keraguan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah strategi permainan berpasangan 'Sambung Cerita Kutai' efektif membantu murid mengingat 4 fakta sejarah Kutai?
  • Bagian materi sejarah Kutai manakah yang masih sering tertukar oleh murid (misalnya nama raja atau nama tempat suci)?

Murid:

  • Fakta sejarah apa yang paling menarik bagiku tentang kehidupan beragama Hindu di Kerajaan Kutai?
  • Apakah aku sudah dapat menceritakan sejarah Kerajaan Kutai dari awal sampai peninggalan Yupa dengan runtut?

Pertemuan 4 — Menceritakan Sejarah Perkembangan Agama Hindu pada Masa Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.5.2 Menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa kerajaan Hindu di Kalimantan Timur dan Jawa Barat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal berupa tes diagnostik lisan singkat dengan mengajukan 2 pertanyaan: (1) 'Di pulau manakah Kerajaan Tarumanegara berdiri?' (acuan jawaban benar: Pulau Jawa / Jawa Barat); (2) 'Siapakah nama raja terkenal dari Kerajaan Tarumanegara?' (acuan jawaban benar: Raja Purnawarman) untuk memetakan pengetahuan awal murid (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati gambar ilustrasi Raja Purnawarman dan peta persebaran prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang ditayangkan guru di papan tulis (8 menit).
  • Murid membaca teks materi Kerajaan Tarumanegara pada Buku Siswa halaman 113 secara seksama mengenai masa kemunculan abad V Masehi, kepemimpinan Raja Purnawarman yang memelihara rakyat layaknya manifestasi Dewa Wisnu, serta keberadaan tujuh Saila Prasasti (12 menit).
  • Guru membimbing murid mengidentifikasi 4 fakta esensial sejarah Kerajaan Tarumanegara: (1) Lokasi dan waktu: berkembang di Jawa Barat mulai abad V Masehi; (2) Tokoh raja: Raja Purnawarman yang bijaksana dan adil; (3) Corak keagamaan: pemujaan kepada Dewa Wisnu sebagai pelindung rakyat; (4) Sumber bukti sejarah: tujuh buah prasasti batu / Saila Prasasti seperti Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Tugu (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan tantangan berpasangan 'Sambung Cerita Tarumanegara': setiap pasangan menerima kartu panduan cerita rumpang yang harus dilengkapi dan diceritakan secara lisan bergantian bersama pasangannya (12 menit).
  • Murid secara berpasangan melengkapi dan menceritakan 4 alur fakta sejarah Tarumanegara: Butir 1 tentang letak wilayah dan abad kemunculan (acuan: Jawa Barat, abad V Masehi); Butir 2 tentang nama raja yang memimpin (acuan: Raja Purnawarman); Butir 3 tentang dewa pujaan raja dan rakyatnya (acuan: Dewa Wisnu sebagai pemelihara/pelindung); Butir 4 tentang bukti peninggalan tertulis (acuan: 7 Saila Prasasti, contohnya Prasasti Ciaruteun / Prasasti Tugu) (8 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid menceritakan kembali sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Tarumanegara melalui lembar asesmen unjuk kerja lisan/tulis terstruktur yang memuat 4 unsur pokok sejarah Tarumanegara tersebut (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan kembali kebenaran unsur cerita sejarah Tarumanegara yang telah diceritakan berdasarkan acuan materi sejarah (10 menit).
  • Murid mengidentifikasi bagian mana dari kisah Kerajaan Tarumanegara yang paling mudah diingat dan bagian yang masih membutuhkan pendalaman materi (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik dan penguatan langsung terhadap ketercapaian murid dalam menceritakan sejarah Kerajaan Tarumanegara (5 menit).
  • Guru memberikan informasi pengantar bahwa pertemuan berikutnya akan membahas kelanjutan sejarah kerajaan Hindu di Jawa Tengah (Kerajaan Mataram Kuno), lalu menutup pembelajaran dengan doa penutup Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar panduan bercerita dengan petunjuk kata kunci (Jawa Barat, Abad V, Purnawarman, Wisnu, Prasasti), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan teks sumber tambahan mengenai rincian nama-nama Saila Prasasti.
  • Proses: Pada latihan berpasangan, murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru dengan panduan pertanyaan berurutan, sedangkan murid yang mandiri berlatih menceritakan secara langsung tanpa teks bantuan.
  • Produk: Murid dapat menceritakan sejarah Kerajaan Tarumanegara secara lisan langsung kepada guru atau menuliskannya dalam bentuk paragraf runtut berisi 4 fakta pokok yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran: Pertanyaan 1: 'Di manakah pusat wilayah perkembangan Kerajaan Tarumanegara?' (Acuan jawaban benar: Jawa Barat / pulau Jawa). Pertanyaan 2: 'Siapakah nama raja besar Kerajaan Tarumanegara yang diibaratkan laksana Dewa Wisnu?' (Acuan jawaban benar: Raja Purnawarman). Kriteria penerimaan: Murid yang menjawab 2 pertanyaan tepat dikelompokkan siap mandiri; murid yang menjawab 0-1 tepat diberikan panduan kartu kata kunci pada kegiatan inti.

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja menceritakan 4 fakta esensial sejarah Kerajaan Tarumanegara pada tahap mengaplikasi: (1) Wilayah Jawa Barat dan abad ke-5 Masehi; (2) Raja Purnawarman; (3) Pemujaan Dewa Wisnu; (4) Bukti peninggalan 7 Saila Prasasti (seperti Ciaruteun/Tugu). Skor: 4 fakta tepat = Sangat Berkembang; 3 fakta tepat = Berkembang; 2 fakta tepat = Mulai Berkembang; <= 1 fakta tepat = Belum Berkembang.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman terstruktur di akhir kegiatan inti: Murid menceritakan 4 unsur pokok sejarah Kerajaan Tarumanegara. Acuan jawaban lengkap: (1) Tarumanegara terletak di Jawa Barat dan berkembang abad V Masehi; (2) Dipimpin oleh Raja Purnawarman yang adil dan gagah berani; (3) Bercorak Hindu dengan raja diibaratkan Dewa Wisnu sebagai pelindung rakyat; (4) Dibuktikan dengan penemuan 7 buah prasasti batu / Saila Prasasti (misalnya Prasasti Ciaruteun, Tugu, Kebon Kopi).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di pendahuluan mengenai pengetahuan awal kerajaan Hindu di Jawa Barat.
  • Observasi unjuk kerja menceritakan fakta sejarah Kerajaan Tarumanegara menggunakan rubrik penilaian.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan TarumanegaraHanya mampu menceritakan <= 1 fakta sejarah Kerajaan Tarumanegara secara tepat sesuai daftar acuan (Jawa Barat abad V, Raja Purnawarman, pemujaan Dewa Wisnu, 7 Saila Prasasti) dan memerlukan bantuan penuh guru.Mampu menceritakan 2 fakta sejarah Kerajaan Tarumanegara secara tepat sesuai daftar acuan (Jawa Barat abad V, Raja Purnawarman, pemujaan Dewa Wisnu, 7 Saila Prasasti) dengan arahan guru.Mampu menceritakan 3 fakta sejarah Kerajaan Tarumanegara secara tepat sesuai daftar acuan (Jawa Barat abad V, Raja Purnawarman, pemujaan Dewa Wisnu, 7 Saila Prasasti) secara mandiri.Mampu menceritakan seluruh 4 fakta sejarah Kerajaan Tarumanegara secara tepat dan lengkap sesuai daftar acuan (Jawa Barat abad V, Raja Purnawarman, pemujaan Dewa Wisnu, 7 Saila Prasasti) secara mandiri dan runtut.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu dan media gambar prasasti mempermudah murid dalam menceritakan kembali sejarah Kerajaan Tarumanegara?
  • Bagian mana dari langkah pembelajaran bercerita yang paling efektif membantu murid memahami kepemimpinan Raja Purnawarman dan Saila Prasasti?

Murid:

  • Fakta sejarah apa tentang Raja Purnawarman dan Kerajaan Tarumanegara yang paling menarik bagiku hari ini?
  • Apakah aku sudah dapat menceritakan bukti prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara dengan lancar?

Pertemuan 5 — Menceritakan Sejarah Perkembangan Agama Hindu pada Masa Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.5.3 Menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa kerajaan Hindu di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 2 pertanyaan terkait Kerajaan Mataram Kuno: (1) 'Kerajaan Hindu apa yang pernah berdiri megah di Jawa Tengah?' (acuan: Kerajaan Mataram Kuno/Medang), (2) 'Sebutkan salah satu peninggalan candi Hindu terkenal dari masa Mataram Kuno!' (acuan: Candi Prambanan atau Candi Dieng) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mengamati gambar Candi Prambanan dan bagan silsilah Dinasti Sanjaya yang disajikan guru di papan tulis atau lembar panduan (10 menit).
  • Murid membaca teks ringkas tentang sejarah Kerajaan Mataram Kuno (bukti Prasasti Canggal, Dinasti Sanjaya yang bercorak Hindu Siwa, Raja Sanjaya dan Rakai Pikatan, serta pembangunan Candi Prambanan) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid berpartisipasi dalam permainan kuis berpasangan 'Tebak Fakta Mataram Kuno' yang menggembirakan untuk menyusun potongan alur sejarah berdasarkan 4 kartu fakta: Kartu 1: 'Prasasti Canggal mencatat pendirian lingga oleh Raja Sanjaya'; Kartu 2: 'Dinasti Sanjaya memimpin Mataram Kuno dengan corak Hindu Siwa'; Kartu 3: 'Rakai Pikatan menginisiasi pembangunan mahakarya Candi Prambanan'; Kartu 4: 'Kehidupan masyarakat hidup berdampingan secara rukun dan harmonis'. Setiap pasangan mencocokkan urutan alur kartu secara runtut (15 menit).
  • Murid secara mandiri menyusun dan menceritakan kembali secara tertulis sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno di lembar kerja berdasarkan 4 unsur pokok: (1) Asal-usul/pendiri (Raja Sanjaya), (2) Bukti prasasti (Prasasti Canggal), (3) Corak keagamaan (Hindu Siwa), dan (4) Peninggalan candi agung (Candi Prambanan/Dieng) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan proses belajar dengan meninjau kelengkapan unsur cerita sejarah Mataram Kuno yang telah ditulis dan menceritakan secara lisan 1-2 fakta utama yang paling berkesan (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru membuat simpulan singkat mengenai intisari sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas hasil penceritaan tertulis murid serta menutup pembelajaran dengan doa Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci alur sejarah Mataram Kuno (Sanjaya - Prasasti Canggal - Candi Prambanan), sedangkan murid yang cepat diberikan teks sumber pengayaan tentang peran Rakai Pikatan.
  • Proses: Murid bimbingan menyusun alur cerita dengan melengkapi kalimat rumpang berpemandu, sedangkan murid mahir langsung menyusun narasi cerita lengkap secara mandiri.
  • Produk: Murid menyajikan cerita sejarah Mataram Kuno dalam bentuk narasi runtut sesuai tingkat kesiapan belajarnya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: (1) 'Kerajaan Hindu apa yang pernah berdiri megah di Jawa Tengah?' (acuan: Kerajaan Mataram Kuno/Medang); (2) 'Sebutkan salah satu peninggalan candi Hindu terkenal dari masa Mataram Kuno!' (acuan: Candi Prambanan atau Kompleks Candi Dieng)

Proses:

  • Observasi aktivitas menyusun alur 4 kartu fakta Mataram Kuno: Kartu 1: Prasasti Canggal; Kartu 2: Dinasti Sanjaya/Hindu Siwa; Kartu 3: Rakai Pikatan/Candi Prambanan; Kartu 4: Kerukunan hidup masyarakat.
  • Pemeriksaan lembar tugas menceritakan sejarah Mataram Kuno dengan memeriksa 4 unsur pokok: (1) Tokoh pendiri (Raja Sanjaya), (2) Bukti prasasti (Prasasti Canggal), (3) Corak keagamaan (Hindu Siwa), (4) Peninggalan candi (Candi Prambanan/Dieng).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi berupa pemeriksaan hasil lembar cerita murid (acuan kelengkapan: memuat Raja Sanjaya, Prasasti Canggal, pemujaan Siwa/Hindu, dan Candi Prambanan) serta pemberian umpan balik konstruktif.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran
  • Penilaian unjuk kerja menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu masa Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah menggunakan lembar tugas narasi dan rubrik penilaian

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan dan Ketepatan Menceritakan Sejarah Kerajaan Mataram KunoMenceritakan sejarah Kerajaan Mataram Kuno dengan memuat kurang dari 2 unsur pokok (acuan 4 unsur: pendiri Raja Sanjaya, bukti Prasasti Canggal, corak Hindu Siwa, peninggalan Candi Prambanan/Dieng) dan membutuhkan bimbingan penuh guru.Menceritakan sejarah Kerajaan Mataram Kuno dengan memuat tepat 2 dari 4 unsur pokok (acuan: pendiri Raja Sanjaya, bukti Prasasti Canggal, corak Hindu Siwa, peninggalan Candi Prambanan/Dieng) dengan arahan guru.Menceritakan sejarah Kerajaan Mataram Kuno secara runtut dengan memuat 3 dari 4 unsur pokok (acuan: pendiri Raja Sanjaya, bukti Prasasti Canggal, corak Hindu Siwa, peninggalan Candi Prambanan/Dieng) secara mandiri.Menceritakan sejarah Kerajaan Mataram Kuno secara lengkap dan runtut memuat seluruh 4 unsur pokok (acuan: pendiri Raja Sanjaya, bukti Prasasti Canggal, corak Hindu Siwa, peninggalan Candi Prambanan/Dieng) secara mandiri dan tepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah media gambar candi dan kartu alur fakta efektif membantu murid menceritakan sejarah Kerajaan Mataram Kuno?
  • Bagaimana ketercapaian murid dalam menghubungkan tokoh Raja Sanjaya dengan bukti peninggalan Candi Prambanan?

Murid:

  • Hal menarik apa yang baru kamu ketahui tentang sejarah Kerajaan Hindu Mataram Kuno di Jawa Tengah?
  • Bagian mana dari cerita sejarah Mataram Kuno yang paling mudah kamu ingat dan ceritakan kembali?

Pertemuan 6 — Menceritakan Sejarah Perkembangan Agama Hindu pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur dan Kerajaan-Kerajaan di Bali — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.5.3 Menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa kerajaan Hindu di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6, yaitu menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur dan kerajaan-kerajaan Hindu di Bali (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 2 pertanyaan: (1) 'Siapakah raja terbesar Kerajaan Majapahit yang didampingi Mahapatih Gajah Mada?' (acuan: Raja Hayam Wuruk); (2) 'Sebutkan salah satu dinasti atau kerajaan Hindu terkenal yang pernah berkuasa di Bali!' (acuan: Dinasti Warmadewa / Kerajaan Bedahulu / Gelgel) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati tayangan/bacaan ringkas mengenai sejarah Kerajaan Majapahit di Jawa Timur (pendiri Raden Wijaya, masa kejayaan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, karya sastra Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular dan Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca) serta kerajaan Hindu di Bali (Dinasti Warmadewa dengan tokoh Raja Udayana dan Gunapriya Dharmapatni, penyatuan sekte oleh Mpu Kuturan, dan peninggalan Candi Tebing Gunung Kawi) (20 menit).
  • Guru memberikan panduan alur cerita sejarah secara terstruktur mencakup 4 peristiwa pokok: (1) Berdirinya Majapahit oleh Raden Wijaya dan masa kejayaannya; (2) Nilai keharmonisan beragama di Majapahit dalam Kitab Sutasoma; (3) Perkembangan Hindu di Bali pada masa Dinasti Warmadewa; (4) Penataan desa adat dan pura di Bali oleh Mpu Kuturan (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid bermain tantangan berpasangan 'Estafet Cerita Sejarah': secara bergiliran dalam pasangan, murid menceritakan kembali 4 potongan alur sejarah Majapahit dan Bali menggunakan panduan kartu alur yang dibagikan guru (kartu 1: Kejayaan Majapahit; kartu 2: Kitab Sutasoma & toleransi; kartu 3: Dinasti Warmadewa & Raja Udayana di Bali; kartu 4: Peran Mpu Kuturan) (20 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid maju atau menceritakan secara lisan di depan meja guru mengenai sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur dan kerajaan Hindu di Bali berdasarkan 4 peristiwa pokok tersebut (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru menyimpulkan poin-poin cerita sejarah perkembangan Hindu di Jawa Timur (Majapahit) dan Bali yang telah diceritakan (5 menit).
  • Murid melakukan refleksi lisan mengenai kemudahan dan tantangan yang dirasakan saat menceritakan alur sejarah kerajaan Hindu tersebut (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap kemampuan murid menceritakan sejarah perkembangan Hindu pada masa Majapahit dan kerajaan di Bali (5 menit).
  • Guru menyampaikan topik pertemuan berikutnya (Pertemuan 7: Bukti-bukti Peninggalan Sejarah Agama Hindu di Indonesia) dan menutup pembelajaran dengan doa serta Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks panduan alur cerita dengan kalimat rintisan; murid yang mahir diberikan alur kronologis tanpa bantuan kata kunci rintisan.
  • Proses: Murid dengan kesiapan belajar awal rendah didampingi guru dengan panduan pertanyaan berurutan saat berlatih menceritakan; murid cepat berlatih mandiri secara bergantian.
  • Produk: Semua murid menceritakan alur sejarah yang sama; kedalaman rincian tokoh dan peristiwa disesuaikan dengan tingkat kesiapan belajar (minimal 2 peristiwa pokok untuk kelompok bimbingan, lengkap 4 peristiwa pokok untuk kelompok mahir).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: (1) Siapakah raja terbesar Majapahit yang didampingi Patih Gajah Mada? (acuan: Raja Hayam Wuruk); (2) Sebutkan salah satu dinasti atau kerajaan Hindu di Bali! (acuan: Dinasti Warmadewa / Kerajaan Bedahulu / Gelgel).

Proses:

  • Formatif kinerja menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Majapahit dan kerajaan di Bali dengan acuan 4 peristiwa pokok: (1) Kejayaan Majapahit di bawah Hayam Wuruk; (2) Kitab Sutasoma dan kerukunan agama di Majapahit; (3) Dinasti Warmadewa/Raja Udayana di Bali; (4) Penataan kehidupan keagamaan di Bali oleh Mpu Kuturan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir: Murid menyebutkan secara singkat 2 peninggalan/tokoh utama sejarah perkembangan Hindu di Jawa Timur dan Bali (acuan: Jawa Timur: Hayam Wuruk / Kitab Sutasoma / Raden Wijaya; Bali: Raja Udayana / Warmadewa / Mpu Kuturan).

Formatif:

  • Tes lisan diagnostik awal di pendahuluan
  • Pengamatan unjuk kerja menceritakan sejarah Majapahit dan kerajaan di Bali pada kegiatan inti

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur dan kerajaan Hindu di BaliMenceritakan kurang dari 2 dari 4 peristiwa pokok sejarah perkembangan Hindu di Majapahit dan Bali (acuan peristiwa: 1. Berdirinya/kejayaan Majapahit; 2. Nilai keharmonisan dalam Kitab Sutasoma; 3. Perkembangan Dinasti Warmadewa di Bali; 4. Peran Mpu Kuturan di Bali) dengan bantuan penuh guru.Menceritakan 2 dari 4 peristiwa pokok sejarah perkembangan Hindu di Majapahit dan Bali secara tepat sesuai acuan dengan sedikit bimbingan guru.Menceritakan 3 dari 4 peristiwa pokok sejarah perkembangan Hindu di Majapahit dan Bali secara tepat dan runtut sesuai acuan secara mandiri.Menceritakan seluruh 4 peristiwa pokok sejarah perkembangan Hindu di Majapahit dan Bali secara tepat, lengkap, dan runtut sesuai acuan secara mandiri tanpa bantuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas estafet cerita sejarah efektif membantu murid menghafal dan memahami alur sejarah perkembangan Hindu di Majapahit dan Bali?
  • Bagaimana keterlibatan aktif murid saat menceritakan kembali sejarah di depan teman atau guru?

Murid:

  • Bagian cerita manakah yang paling menarik menurutmu antara sejarah Kerajaan Majapahit atau kerajaan Hindu di Bali?
  • Apakah kamu dapat menceritakan kembali sejarah perkembangan agama Hindu di Majapahit dan Bali dengan runtut?

Pertemuan 7 — Menceritakan Bukti-Bukti Peninggalan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.5.4 Menceritakan bukti peninggalan dan upaya melestarikan sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', doa belajar bersama, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid menyebutkan 2 bentuk benda peninggalan sejarah Hindu yang mereka ketahui (acuan: candi, prasasti/yupa, arca/patung, kitab/karya sastra) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan bukti-bukti peninggalan sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia, serta mengaitkannya dengan materi pertemuan sebelumnya tentang kerajaan-kerajaan Hindu (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati tayangan gambar dan membaca teks ringkas tentang 4 bukti peninggalan sejarah Hindu di Indonesia: (1) Prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai (tiang batu tertulis huruf Pallawa), (2) Prasasti Ciaruteun peninggalan Kerajaan Tarumanegara (batu bertulis dengan cetak telapak kaki Raja Purnawarman), (3) Candi Prambanan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (kompleks candi megah pemujaan Trimurti di Jawa Tengah), dan (4) Candi Penataran peninggalan Kerajaan Kediri/Majapahit di Jawa Timur (20 menit).
  • Guru memberikan penjelasan mendalam tentang fungsi dan makna keberadaan bukti-bukti sejarah tersebut sebagai saksi perkembangan nilai keagamaan dan kebudayaan Hindu di Indonesia (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan pasangan kartu bergambar 'Jelajah Jejak Sejarah' secara berpasangan: setiap pasangan mencocokkan 4 kartu nama peninggalan dengan 4 kartu deskripsi/asal kerajaan (15 menit). [Rincian kartu: Kartu 1 'Prasasti Yupa' dipasangkan dengan 'Tiang batu persembahan kurban Kerajaan Kutai'; Kartu 2 'Prasasti Ciaruteun' dipasangkan dengan 'Prasasti bergambar telapak kaki Raja Purnawarman Kerajaan Tarumanegara'; Kartu 3 'Candi Prambanan' dipasangkan dengan 'Candi pemujaan Trimurti peninggalan Mataram Kuno'; Kartu 4 'Candi Penataran' dipasangkan dengan 'Kompleks candi Hindu terluas di Jawa Timur masa Majapahit'].
  • Secara bergiliran, murid menceritakan kembali secara lisan kepada pasangannya tentang 1 bukti peninggalan sejarah Hindu yang dipilih berdasarkan kartu yang berhasil dicocokkan (nama peninggalan, kerajaan asal, dan ciri khas bukti tersebut) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Tiga perwakilan murid menceritakan salah satu bukti peninggalan sejarah Hindu di depan kelas dan murid lain menyimak serta memberikan konfirmasi cerita (10 menit).
  • Murid dan guru menyimpulkan inti materi bahwa peninggalan sejarah berupa prasasti dan candi adalah bukti nyata peradaban agung Hindu yang kaya nilai luhur (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap cerita murid dan menyampaikan cek pemahaman singkat mengenai fungsi prasasti dan candi (5 menit).
  • Guru menginformasikan topik pertemuan berikutnya (Pertemuan 8) yaitu mengenai upaya-upaya melestarikan peninggalan sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia (3 menit).
  • Pembelajaran ditutup dengan doa parama santi 'Om Santih, Santih, Santih Om' (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Disediakan kartu bergambar dengan petunjuk warna bagi murid yang membutuhkan panduan visual, serta kartu teks deskripsi lengkap bagi murid yang telah lancar membaca cepat.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan menceritakan dengan panduan 3 pertanyaan pemandu (apa namanya, di mana asalnya, apa cirinya); murid mahir menceritakan bukti sejarah secara runtut tanpa kartu panduan.
  • Produk: Penyampaian cerita bukti peninggalan sejarah dapat dilakukan secara lisan berpasangan atau dengan menunjuk langsung gambar pada kartu.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: Sebutkan 2 bentuk bukti peninggalan sejarah Hindu di Indonesia yang kalian ketahui! (Acuan jawaban benar: candi, prasasti/yupa, arca/arca dewa, karya sastra/kitab kuno).

Proses:

  • Pengamatan saat permainan kartu dan unjuk kerja menceritakan bukti peninggalan sejarah Hindu: murid menceritakan minimal 2 bukti sejarah dengan menyebutkan nama peninggalan, kerajaan asal, dan ciri utamanya (Acuan: (1) Prasasti Yupa - Kutai - tiang batu bertulis Pallawa; (2) Prasasti Ciaruteun - Tarumanegara - ada cetak telapak kaki raja; (3) Candi Prambanan - Mataram Kuno - candi Trimurti di Jateng; (4) Candi Penataran - Majapahit/Kediri - candi Hindu di Jatim).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan 'Sebutkan 1 peninggalan sejarah Hindu berupa tiang batu dan kerajaan pembuatnya!' (Acuan jawaban tepat: Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja lisan menceritakan bukti peninggalan sejarah perkembangan agama Hindu melalui permainan kartu berpasangan
  • Catatan anekdot keaktifan dan ketepatan identifikasi bukti peninggalan sejarah

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan bukti-bukti peninggalan sejarah perkembangan agama Hindu di IndonesiaBelum mampu menceritakan bukti peninggalan sejarah Hindu atau hanya menyebutkan nama peninggalan tanpa menghubungkan dengan asal kerajaan dan cirinya sama sekali walau dibimbing guru.Mampu menceritakan 1 bukti peninggalan sejarah Hindu dengan menyebutkan nama dan kerajaan asalnya, namun ciri peninggalan belum tepat atau masih memerlukan bimbingan guru (Acuan pilihan: Prasasti Yupa/Kutai, Prasasti Ciaruteun/Tarumanegara, Candi Prambanan/Mataram Kuno, Candi Penataran/Majapahit).Mampu menceritakan dengan tepat minimal 2 bukti peninggalan sejarah Hindu mencakup nama peninggalan, kerajaan asal, dan ciri utamanya secara runtut dan mandiri sesuai daftar acuan.Mampu menceritakan dengan tepat seluruh 4 bukti peninggalan sejarah Hindu (Prasasti Yupa, Prasasti Ciaruteun, Candi Prambanan, Candi Penataran) mencakup nama, kerajaan asal, dan ciri khasnya secara runtut, jelas, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan kartu bergambar 'Jelajah Jejak Sejarah' efektif memfasilitasi murid dalam menceritakan bukti peninggalan Hindu?
  • Bagian mana dari kegiatan yang paling menarik minat murid dan bagaimana pengelolaan waktu secara keseluruhan?

Murid:

  • Peninggalan sejarah candi atau prasasti manakah yang ceritanya paling menarik bagi kalian hari ini?
  • Apa kesulitan yang kalian temukan saat menceritakan peninggalan sejarah Hindu kepada teman?

Pertemuan 8 — Menceritakan Upaya-Upaya Melestarikan Peninggalan Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.5.4 Menceritakan bukti peninggalan dan upaya melestarikan sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru mengaitkan materi pertemuan sebelumnya tentang bukti-bukti peninggalan sejarah dengan topik hari ini mengenai upaya pelestariannya (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan: 'Sebutkan 2 contoh tindakan yang merusak peninggalan sejarah dan mengapa tindakan itu salah?' Acuan jawaban: tindakan merusak seperti mencoret-coret dinding candi (vandalisme) atau mengambil/menjual batu prasasti; salah karena dapat merusak keaslian bukti sejarah warisan leluhur bangsa (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan membaca teks pada Buku Siswa halaman 136-137 mengenai 4 bentuk upaya melestarikan peninggalan sejarah Hindu: (1) Menetapkan sebagai cagar budaya dan merawatnya secara intensif, (2) Tidak mencoret-coret atau merusak (menjaga dari vandalisme/pencurian), (3) Mengadakan kunjungan belajar/wisata edukasi atau Tirta Yatra ke tempat peninggalan sejarah secara tertib, (4) Melakukan pemugaran/perbaikan secara hati-hati tanpa mengubah bentuk asli (15 menit).
  • Murid berpasangan memainkan kuis kartu kilat 'Tindakan Tepat vs Tidak Tepat' dalam melestarikan cagar budaya. Guru membagikan 4 kartu situasi: (1) Kartu A: 'Menempel stiker nama di dinding candi', (2) Kartu B: 'Melakukan persembahyangan Tirta Yatra dengan tertib menjaga kebersihan pura bersejarah', (3) Kartu C: 'Menjual serpihan batu prasasti kepada wisatawan', (4) Kartu D: 'Melaporkan kepada petugas jika melihat dinding candi retak'. Murid memilah kartu secara berpasangan (acuan: Kartu B dan D = Tindakan Tepat; Kartu A dan C = Tindakan Tidak Tepat) (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (4-5 murid) untuk mengerjakan lembar diskusi berisi 4 skenario upaya pelestarian: (1) Skenario Candi Cagar Budaya: Bagaimana cara merawat candi yang berstatus cagar budaya?; (2) Skenario Wisatawan Usil: Apa yang harus dilakukan jika melihat pengunjung mencoret prasasti?; (3) Skenario Kunjungan Belajar: Bagaimana adab saat berkunjung atau Tirta Yatra di pura kuno peninggalan sejarah?; (4) Skenario Pemugaran: Mengapa pemugaran candi tidak boleh mengubah bentuk aslinya? (20 menit).
  • Secara bergiliran perwakilan kelompok menceritakan kembali di depan kelas hasil telaah upaya melestarikan peninggalan sejarah Hindu sesuai skenario yang dibahas, mencakup minimal 3 upaya nyata berdasarkan teks (acuan: merawat intensif sebagai cagar budaya, menjaga kebersihan dan tidak mencoret/merusak, menaati aturan saat berkunjung/Tirta Yatra, serta menjaga keaslian bentuk saat pemugaran) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan makna pelestarian peninggalan sejarah Hindu sebagai wujud kebanggaan dan tanggung jawab moral menjaga warisan luhur Nusantara (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan 4 poin utama upaya pelestarian peninggalan sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan atas partisipasi belajar murid, mengingatkan murid untuk mempersiapkan diri menghadapi Asesmen Sumatif pada pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa serta Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan teks bacaan berilustrasi visual untuk kelompok yang memerlukan scaffolding dan teks analitis skenario studi kasus bagi kelompok yang siap tantangan lebih.
  • Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa kata kunci tindakan pelestarian, sedangkan kelompok mahir diminta menguraikan dampak jangka panjang jika upaya pelestarian diabaikan.
  • Produk: Penyampaian cerita upaya pelestarian dapat didukung dengan bagan alur tindakan atau kartu skenario.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan: 'Sebutkan 2 contoh tindakan yang merusak peninggalan sejarah dan alasan mengapa tindakan itu salah!' (Acuan jawaban: contoh merusak = vandalisme/mencoret dinding peninggalan, memindahkan/mengambil batu candi; alasan salah = merusak keaslian bukti sejarah leluhur bangsa).

Proses:

  • Formatif 1 (Kuis Kartu Pasangan): Memilah 4 kartu situasi ke dalam kategori Tepat atau Tidak Tepat. Kunci jawaban: Kartu A ('Menempel stiker di dinding candi') = Tidak Tepat; Kartu B ('Tirta Yatra tertib menjaga kebersihan pura bersejarah') = Tepat; Kartu C ('Menjual serpihan batu prasasti') = Tidak Tepat; Kartu D ('Melaporkan kerusakan dinding candi ke petugas cagar budaya') = Tepat.
  • Formatif 2 (Menceritakan Hasil Diskusi Kelompok): Murid menceritakan minimal 3 upaya melestarikan peninggalan sejarah Hindu berdasarkan 4 opsi acuan materi (1. Merawat intensif sebagai cagar budaya; 2. Menjaga dari perusakan/vandalisme; 3. Berkunjung dan Tirta Yatra secara tertib; 4. Memugar tanpa mengubah bentuk asli).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta 2 orang murid secara acak menyebutkan masing-masing 2 upaya konkret yang dapat dilakukan seorang pelajar ketika mengunjungi candi atau pura bersejarah agar tetap lestari (Acuan: membuang sampah pada tempatnya, tidak menyentuh relief rapuh/tidak mencoret dinding, menaati peraturan tata tertib kunjungan).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja berpasangan pada kuis kartu kilat klasifikasi tindakan pelestarian
  • Penilaian kinerja menceritakan upaya melestarikan peninggalan sejarah perkembangan agama Hindu di depan kelas

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan upaya melestarikan peninggalan sejarah perkembangan agama Hindu di IndonesiaBelum mampu menceritakan upaya pelestarian, atau hanya menyebutkan 1 upaya pelestarian dengan bimbingan penuh guru.Menceritakan 1 hingga 2 upaya melestarikan peninggalan sejarah Hindu sesuai acuan materi (merawat cagar budaya, mencegah vandalisme, Tirta Yatra/kunjungan tertib, pemugaran menjaga keaslian) dengan sedikit arahan guru.Menceritakan 3 upaya melestarikan peninggalan sejarah Hindu sesuai acuan materi secara mandiri dan runtut.Menceritakan seluruh 4 upaya melestarikan peninggalan sejarah Hindu sesuai acuan materi secara lengkap, runtut, dan mengaitkannya dengan contoh perilaku nyata pelajar secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas kuis kartu situasi dan diskusi studi kasus efektif memotivasi murid memahami pentingnya pelestarian sejarah Hindu?
  • Apakah murid telah mampu menceritakan upaya-upaya pelestarian warisan sejarah secara runtut dan mandiri?

Murid:

  • Upaya pelestarian peninggalan sejarah Hindu apa saja yang sudah pernah atau paling ingin kalian lakukan?
  • Bagaimana perasaan kalian setelah mengetahui pentingnya menjaga kelestarian candi, prasasti, dan pura peninggalan leluhur bangsa?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.5.1 Menceritakan sejarah awal perkembangan agama Hindu di Indonesia secara runtut
  • TP 5.5.2 Menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa kerajaan Hindu di Kalimantan Timur dan Jawa Barat
  • TP 5.5.3 Menceritakan sejarah perkembangan agama Hindu pada masa kerajaan Hindu di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali
  • TP 5.5.4 Menceritakan bukti peninggalan dan upaya melestarikan sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam panganjali 'Om Swastyastu', memimpin doa bersama, serta mengecek kehadiran seluruh murid (2 menit).
  • Guru menjelaskan tujuan dan tata tertib Asesmen Sumatif Bab 5 yang terdiri dari 2 bagian: Tugas 1 berupa tes tertulis uraian/narasi individual (40 menit) dan Tugas 2 berupa presentasi unjuk kerja lisan kelompok (56 menit) (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan lembar tes tertulis uraian dan menjelaskan 2 butir tugas narasi sejarah yang harus dikerjakan secara mandiri tanpa membuka buku: Butir 1 (Menceritakan perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Kutai dan Tarumanegara: nama raja terkenal, lokasi wilayah, dan bukti peninggalan prasasti); Butir 2 (Menceritakan perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno, Majapahit, dan kerajaan di Bali: nama raja/dinasti, peninggalan candi/tempat suci, dan masa kejayaannya) (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Seluruh murid secara individual mengerjakan tes tertulis uraian narasi sejarah secara mandiri dan hening, mencakup narasi Kerajaan Kutai (Raja Mulawarman, Kalimantan Timur, 7 Prasasti Yupa), Tarumanegara (Raja Purnawarman, Jawa Barat, Prasasti Ciaruteum/Tugu/Kebon Kopi), Mataram Kuno (Raja Sanjaya/Dyah Balitung, Jawa Tengah, Candi Prambanan/Candi Canggal), Majapahit (Raja Hayam Wuruk & Mahapatih Gajah Mada, Jawa Timur, Candi Penataran/Trowulan), serta Kerajaan Bali (Dinasti Warmadewa/Raja Udayana, Bali, Candi Tebing Gunung Kawi/Prasasti Blanjong), kemudian mengumpulkan lembar jawaban ke meja guru tepat waktu (40 menit).
  • Pelaksanaan asesmen unjuk kerja presentasi lisan kelompok oleh 7 kelompok (tiap kelompok beranggotakan 4 murid, durasi tampil dan konfirmasi guru 8 menit per kelompok: 7 x 8 menit = 56 menit), di mana setiap kelompok menceritakan secara lisan di depan kelas: (1) Kronologi awal dan jalur/teori masuknya agama Hindu ke Nusantara (teori Brahmana/Ksatria/Waisya/Sudra/Arus Balik), (2) Ragam bukti peninggalan sejarah yang ditemukan, serta (3) Gagasan nyata tindakan pelestarian peninggalan sejarah Hindu di Indonesia (53 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memberikan rekapitulasi umum atas kelancaran proses asesmen tertulis dan presentasi unjuk kerja, serta mengajak murid menyadari pentingnya kejujuran dan rasa bangga terhadap warisan luhur sejarah Hindu di Indonesia (2 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh artefak lembar jawaban tertulis dan lembar observasi penilaian presentasi unjuk kerja, menyampaikan apresiasi atas integritas seluruh murid dalam menyelesaikan seluruh rangkaian evaluasi Bab 5 (2 menit).
  • Sesi pembelajaran ditutup dengan doa bersama Parama Santih: 'Om Santih, Santih, Santih Om' (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: teks soal uraian dicetak dengan ukuran huruf yang jelas dan dapat dibacakan ulang instruksinya bagi murid dengan hambatan membaca visual tanpa mengubah bobot pertanyaan maupun indikator penilaian.
  • Proses: Akomodasi akses pengerjaan: murid dengan hambatan motorik halus diberikan kelonggaran teknis menggunakan media pencatatan digital atau dibantu penyalinan langsung tanpa pengurangan kriteria isi.
  • Produk: Standar bukti tetap setara sesuai acuan ATP: lembar jawaban tertulis uraian mandiri serta rekaman catatan observasi lisan kelompok tanpa modifikasi rubrik penguasaan materi.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Asesmen kombinasi: tes tertulis uraian/narasi sejarah secara serentak dan presentasi unjuk kerja lisan kelompok: Lembar jawaban uraian-narasi sejarah kerajaan Hindu di Indonesia serta rekaman/catatan performa presentasi kelompok mengenai kronologi awal peninggalan dan upaya pelestariannya
  • tes tertulis uraian dan narasi terstruktur: lembar jawaban uraian dan tulisan narasi murid yang menguraikan perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Mataram Kuno, Majapahit, dan kerajaan-kerajaan di Bali secara serentak seluruh kelas (45 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penilaian penulisan narasi sejarah)
  • presentasi unjuk kerja lisan kelompok: penyajian lisan oleh 7 kelompok (masing-masing 4 murid, durasi 8 menit per kelompok termasuk tanya jawab guru: 7 kelompok x 8 menit = 56 menit, muat satu kelas 28 murid) yang menceritakan secara runtut sejarah awal masuknya agama Hindu beserta bukti peninggalan dan langkah nyata pelestariannya (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja penyampaian lisan (kriteria: keruntutan kronologi awal, kejelasan ragam peninggalan, dan gagasan nyata pelestarian))

Sumatif:

  • Asesmen kombinasi: tes tertulis uraian/narasi sejarah secara serentak dan presentasi unjuk kerja lisan kelompok: Lembar jawaban uraian-narasi sejarah kerajaan Hindu di Indonesia serta rekaman/catatan performa presentasi kelompok mengenai kronologi awal peninggalan dan upaya pelestariannya
  • tes tertulis uraian dan narasi terstruktur: lembar jawaban uraian dan tulisan narasi murid yang menguraikan perkembangan agama Hindu pada masa Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Mataram Kuno, Majapahit, dan kerajaan-kerajaan di Bali secara serentak seluruh kelas (45 menit; individual; instrumen: kunci jawaban dan rubrik penilaian penulisan narasi sejarah)
  • presentasi unjuk kerja lisan kelompok: penyajian lisan oleh 7 kelompok (masing-masing 4 murid, durasi 8 menit per kelompok termasuk tanya jawab guru: 7 kelompok x 8 menit = 56 menit, muat satu kelas 28 murid) yang menceritakan secara runtut sejarah awal masuknya agama Hindu beserta bukti peninggalan dan langkah nyata pelestariannya (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja penyampaian lisan (kriteria: keruntutan kronologi awal, kejelasan ragam peninggalan, dan gagasan nyata pelestarian))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Narasi Kerajaan Hindu di Kalimantan Timur dan Jawa Barat (Kutai dan Tarumanegara) - Tes Tertulis [TP 5.5.2]Menceritakan kurang dari 2 elemen acuan (Daftar acuan 4 elemen: Raja Mulawarman, peninggalan 7 Prasasti Yupa di Kaltim, Raja Purnawarman, peninggalan Prasasti Ciaruteum/Tugu/Kebon Kopi di Jabar).Menceritakan 2 dari 4 elemen acuan Kerajaan Kutai dan Tarumanegara secara tepat.Menceritakan 3 dari 4 elemen acuan Kerajaan Kutai dan Tarumanegara secara tepat.Menceritakan seluruh 4 elemen acuan Kerajaan Kutai dan Tarumanegara secara lengkap dan tepat.
Narasi Kerajaan Hindu di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali - Tes Tertulis [TP 5.5.3]Menceritakan kurang dari 3 elemen acuan (Daftar acuan 6 elemen: Mataram Kuno masa Sanjaya/Dyah Balitung, peninggalan Candi Prambanan/Canggal, Majapahit masa Hayam Wuruk/Gajah Mada, peninggalan Candi Penataran, Kerajaan Bali masa Dinasti Warmadewa/Raja Udayana, peninggalan Candi Tebing Gunung Kawi/Prasasti Blanjong).Menceritakan 3 sampai 4 dari 6 elemen acuan Kerajaan Mataram Kuno, Majapahit, dan Bali secara tepat.Menceritakan 5 dari 6 elemen acuan Kerajaan Mataram Kuno, Majapahit, dan Bali secara tepat.Menceritakan seluruh 6 elemen acuan Kerajaan Mataram Kuno, Majapahit, dan Bali secara lengkap dan tepat.
Keruntutan Kronologi Awal Masuknya Hindu ke Indonesia - Presentasi Lisan [TP 5.5.1]Menceritakan alur awal masuknya Hindu tanpa menyebutkan teori masuknya atau menyebutkan kurang dari 2 teori (Daftar acuan 5 teori: Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra, Arus Balik) dan alur kronologi tertukar.Menceritakan sejarah awal masuknya Hindu dengan menyebutkan 2 dari 5 teori masuknya secara tepat namun keruntutan alur kronologinya sebagian belum teratur.Menceritakan sejarah awal masuknya Hindu secara runtut dan menyebutkan 3 sampai 4 dari 5 teori masuknya agama Hindu ke Nusantara secara tepat.Menceritakan sejarah awal masuknya Hindu secara runtut dan lengkap mencakup seluruh 5 teori/jalur masuknya agama Hindu ke Nusantara secara tepat.
Bukti Peninggalan dan Gagasan Pelestarian Sejarah Hindu - Presentasi Lisan [TP 5.5.4]Menceritakan peninggalan dan upaya pelestarian kurang dari 2 elemen acuan (Daftar acuan: 2 jenis bukti fisik [candi/prasasti/arca/karya sastra] dan 2 bentuk nyata pelestarian [menjaga kebersihan cagar budaya, tidak mencoret dinding peninggalan/vandalisme, mempelajari sejarahnya, mematuhi aturan kesucian tempat ibadah bersejarah]).Menceritakan 2 dari 4 elemen acuan bukti fisik dan bentuk nyata pelestarian peninggalan sejarah Hindu.Menceritakan 3 dari 4 elemen acuan bukti fisik dan bentuk nyata pelestarian peninggalan sejarah Hindu secara tepat.Menceritakan seluruh 4 elemen acuan (minimal 2 bukti fisik dan 2 bentuk nyata pelestarian sejarah) secara lengkap dan tepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 40 menit untuk tes tertulis individual dan 56 menit untuk 7 kelompok presentasi lisan terlaksana secara efektif dan kondusif?
  • Bagaimanakah tingkat penguasaan murid secara menyeluruh terhadap 4 TP Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia yang telah diujikan?

Murid:

  • Bagian mana dari sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia yang paling aku kuasai dan ceritakan dengan lancar?
  • Tindakan nyata apa yang akan aku lakukan secara konsisten untuk merawat dan melestarikan peninggalan bersejarah Hindu di lingkungan sekitarku?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V
  2. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V
  3. Peta rute jalur perdagangan kuno India - Indonesia
  4. Kartu Pasangan Teori dan Jalur Masuk Hindu
  5. Bagan linimasa dan kartu urutan sejarah awal perkembangan agama Hindu di Nusantara
  6. Buku Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V, Kemendikbudristek 2021 (Halaman 145-146, 154).
  7. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V, Kemendikbudristek 2021 (Halaman 110-112).
  8. Gambar/foto replika 7 prasasti Yupa Muarakaman Kalimantan Timur dan peta wilayah Sungai Mahakam.
  9. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V (Kemendikbudristek, 2021)
  10. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V (Kemendikbudristek, 2021) Halaman 113-114
  11. Gambar ilustrasi Raja Purnawarman dan foto peninggalan Saila Prasasti (Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Tugu)
  12. Peta letak Kerajaan Tarumanegara di wilayah Jawa Barat
  13. Kartu rumpang alur cerita sejarah Tarumanegara
  14. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V (Kemendikbudristek, 2021) Bab 5
  15. Gambar peninggalan sejarah Candi Prambanan dan Prasasti Canggal
  16. Kartu fakta alur sejarah Kerajaan Mataram Kuno
  17. Gambar peta persebaran kerajaan Hindu di Jawa Timur dan Bali serta gambar Candi Tebing Gunung Kawi
  18. Kartu panduan alur cerita sejarah Majapahit dan Bali
  19. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V, Kemendikbudristek 2021
  20. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V, Kemendikbudristek 2021
  21. Set kartu bergambar 'Jelajah Jejak Sejarah' (foto Candi Prambanan, Candi Penataran, Prasasti Yupa, Prasasti Ciaruteun)
  22. Peta persebaran peninggalan sejarah kerajaan Hindu di Indonesia
  23. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V (Kemendikbudristek RI, 2021)
  24. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V (Kemendikbudristek RI, 2021, Bab 5 hlm. 136-137)
  25. Kartu situasi tindakan pelestarian peninggalan sejarah
  26. Lembar studi kasus skenario pelestarian cagar budaya
  27. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  28. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas V, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  29. Lembar Soal Asesmen Tertulis Uraian Narasi Sejarah Bab 5.
  30. Format Instrumen Rubrik Observasi Penilaian Presentasi Lisan Kelompok.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.