Modul AjarBab 3Fase BSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 4 Bab 3: Subha Asubha Karma

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas 4 untuk Bab 3 "Subha Asubha Karma", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 4 Bab 3: Subha Asubha Karma

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti - Kelas 4

Bab 3

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Bab 3 — Subha Asubha Karma

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikBab 3 — Subha Asubha Karma
Alokasi Waktu18 JP (18 x 35 menit = 630 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 4.3.1 Menerapkan ajaran Tri Parartha dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan subha karma
  2. TP 4.3.2 Menerapkan ajaran Catur Paramitha dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan subha karma
  3. TP 4.3.3 Menunjukkan contoh perbuatan yang mencerminkan ajaran Tri Parartha untuk menghindari asubha karma
  4. TP 4.3.4 Menunjukkan contoh perbuatan yang mencerminkan ajaran Catur Paramitha untuk menghindari asubha karma

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana caramu menunjukkan rasa sayang kepada sesama teman dan makhluk hidup di sekitarmu?
  2. Ketika melihat teman yang kekurangan alat tulis atau membutuhkan bantuan, perbuatan baik apa yang dapat kamu lakukan?
  3. Jika kita melihat teman terjatuh lalu ada yang menertawakan dan tidak menolong, perbuatan apakah yang sedang terjadi dan bagaimana ajaran Tri Parartha menuntun kita?
  4. Bagaimana bagian-bagian Tri Parartha (Asih, Punia, Bhakti) dapat menjadi perisai bagi kita untuk menolak perbuatan buruk (asubha karma) di sekolah?
  5. Apa yang kalian rasakan dan lakukan ketika melihat seorang teman terjatuh saat bermain?
  6. Bagaimana caramu bersikap agar teman di kelas merasa aman dan senang berteman denganmu?
  7. Bagaimana perasaan dan tindakanmu ketika melihat teman sekelasmu berhasil meraih juara lomba atau mendapat nilai bagus?
  8. Apa yang sebaiknya kamu lakukan saat teman sedang bermain tetapi terjadi perbedaan pendapat tentang aturan permainan?
  9. Apa yang sebaiknya kita lakukan saat melihat teman diejek agar kita tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak baik?
  10. Bagaimana bagian-bagian Catur Paramitha membantu kita membentengi diri dari perbuatan asubha karma?
  11. Bagaimana kita membuktikan bahwa kita telah mempraktikkan perbuatan subha karma berdasarkan Tri Parartha dan Catur Paramitha di sekolah?
  12. Mengapa kita perlu membedakan dengan tepat contoh perbuatan yang mencerminkan ajaran kebajikan agar terhindar dari perbuatan asubha karma?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menerapkan Ajaran Tri Parartha dalam Kehidupan Sehari-hari melalui Perbuatan Subha Karma — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.1 Menerapkan ajaran Tri Parartha dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan subha karma

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menerapkan ajaran Tri Parartha (Asih, Punia, Bhakti) dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan subha karma (kebaikan) (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab lisan singkat untuk mengecek kesiapan murid mengenai arti bagian-bagian Tri Parartha: Asih (cinta kasih), Punia (pemberian/sedekah tulus), dan Bhakti (hormat/sujud bakti) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati teks/gambar di Buku Siswa mengenai tiga bagian Tri Parartha sebagai landasan subha karma: Asih (cinta kasih kepada sesama makhluk), Punia (rela berkorban dan memberi secara ikhlas), serta Bhakti (rasa hormat dan sujud kepada Hyang Widhi, orang tua, dan guru) (3 menit).
  • Secara berpasangan, murid mengidentifikasi makna dari masing-masing bagian Tri Parartha berdasarkan contoh sederhana perbuatan baik yang disajikan guru (12 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam kelompok kecil, murid melakukan permainan kartu peran aksi 'Subha Karma Tri Parartha' di mana setiap kelompok menerima 3 skenario situasi kehidupan nyata: (1) Situasi A: 'Melihat kucing terlantar yang kelaparan di halaman sekolah', (2) Situasi B: 'Seorang teman sekelas tidak membawa pensil saat ulangan', dan (3) Situasi C: 'Bertemu guru di depan gerbang sekolah pada pagi hari' (15 menit).
  • Setiap kelompok berdiskusi dan menuliskan penerapan tindakan subha karma yang tepat untuk masing-masing skenario: Situasi A menerapkan Asih (memberi makan/merawat hewan), Situasi B menerapkan Punia (meminjamkan pensil secara ikhlas), dan Situasi C menerapkan Bhakti (mengucapkan salam panganjali dan menyapa dengan hormat) (15 menit).
  • Setiap kelompok secara bergiliran membacakan hasil rancangan penerapan tindakan mereka di depan kelas, dan murid lain memberikan konfirmasi ketepatan bagian Tri Parartha yang diterapkan (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid dipandu guru menghubungkan tindakan-tindakan subha karma tersebut dengan pengalaman mereka sendiri di rumah maupun sekolah, menyadari pentingnya mempraktikkan Asih, Punia, dan Bhakti setiap hari (15 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran bahwa Tri Parartha adalah tiga perbuatan mulia untuk mencapai kebahagiaan melalui Asih, Punia, dan Bhakti (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan, menginformasikan materi pertemuan berikutnya tentang contoh perbuatan Tri Parartha untuk menghindari asubha karma, serta menutup pembelajaran dengan doa dan Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan bergambar dengan keterangan jelas (simbol Asih, Punia, Bhakti), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan skenario tambahan berupa situasi di lingkungan masyarakat.
  • Proses: Pada tahap Mengaplikasi, murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru dalam mencocokkan skenario dengan jenis Tri Parartha, sementara murid yang mahir diarahkan langsung merumuskan tindakan penerapan secara mandiri.
  • Produk: Hasil penerapan dapat dituliskan dalam tabel skenario sederhana atau dipaparkan dalam bentuk cerita singkat penerapan tindakan subha karma.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran mengenai konsep dasar Tri Parartha. Pertanyaan: 'Sebutkan arti dari Asih, Punia, dan Bhakti!' (Acuan jawaban: Asih = cinta kasih; Punia = pemberian tulus ikhlas/membantu; Bhakti = rasa hormat/sujud kepada Tuhan, guru, orang tua).

Proses:

  • Penilaian lembar kerja kelompok penyelesaian 3 skenario situasi: Skenario 1 (Kucing terlantar kelaparan) -> Penerapan: Asih (menyayangi dan memberi makan); Skenario 2 (Teman tidak membawa pensil) -> Penerapan: Punia (rela meminjamkan alat tulis tanpa pamrih); Skenario 3 (Bertemu guru di gerbang) -> Penerapan: Bhakti (mengucapkan salam/panganjali dengan santun).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman individu di akhir sesi berupa lembar refleksi penerapan mandiri: Murid menentukan 3 tindakan subha karma nyata yang akan mereka lakukan hari ini sesuai bagian Tri Parartha (1 tindakan Asih, 1 tindakan Punia, 1 tindakan Bhakti). Kriteria penerimaan: Tindakan yang dituliskan logis, konkret, dan tepat mencerminkan masing-masing bagian Tri Parartha (Asih = wujud cinta kasih makhluk hidup; Punia = kerelaan memberi bantuan; Bhakti = wujud hormat kepada Hyang Widhi/orang tua/guru).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik pemahaman awal istilah Tri Parartha
  • Lembar Kerja Diskusi Kelompok: Penerapan Tindakan Subha Karma berdasarkan 3 Skenario Tri Parartha
  • Observasi unjuk kerja ketepatan penerapan ajaran Tri Parartha selama sesi kerja kelompok

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menerapkan ajaran Tri Parartha (Asih, Punia, Bhakti) dalam skenario kehidupan sehari-hari melalui perbuatan subha karmaBelum mampu menentukan tindakan subha karma yang tepat untuk ketiga skenario Tri Parartha (0 skenario tepat).Mampu menentukan tindakan subha karma yang tepat hanya pada 1 dari 3 skenario Tri Parartha dengan bimbingan guru.Mampu menentukan tindakan subha karma yang tepat pada 2 dari 3 skenario Tri Parartha secara mandiri.Mampu menentukan tindakan subha karma yang tepat pada seluruh (3 dari 3) skenario Tri Parartha (Asih, Punia, Bhakti) secara mandiri dan tepat sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid aktif terlibat dalam permainan skenario penerapan Tri Parartha?
  • Bagian mana dari konsep Tri Parartha yang paling mudah dan paling sulit diterapkan oleh murid dalam skenario nyata?
  • Langkah perbaikan apa yang perlu dilakukan untuk memperdalam pemahaman nilai budi pekerti murid pada pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Apa hal baru yang kamu pelajari hari ini tentang berbuat baik kepada sesama?
  • Perbuatan subha karma apa (Asih, Punia, atau Bhakti) yang paling sering sudah kamu lakukan di rumah dan di sekolah?
  • Tindakan baik apa yang ingin kamu mulai lakukan besok kepada teman atau keluargamu?

Pertemuan 2 — Menunjukkan Contoh Perbuatan yang Mencerminkan Ajaran Tri Parartha untuk Menghindari Asubha Karma — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.3 Menunjukkan contoh perbuatan yang mencerminkan ajaran Tri Parartha untuk menghindari asubha karma

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', doa bersama, dan memeriksa kesiapan murid (5 menit).
  • Guru memberikan apersepsi dan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan 2 situasi singkat: 'Jika teman mengejek teman lain, ajaran apa dalam Tri Parartha yang dilanggar?' (Acuan: Asih) dan 'Jika ada teman lapar lalu kita menyembunyikan bekalnya, perbuatan apa yang seharusnya ditunjukkan?' (Acuan: Punia) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menunjukkan contoh perbuatan yang mencerminkan ajaran Tri Parartha (Asih, Punia, Bhakti) guna menghindari perilaku tidak baik (asubha karma) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan kontekstual mengenai tiga bagian Tri Parartha (Asih = cinta kasih, Punia = rela berkorban/berderma, Bhakti = hormat/bakti) serta contoh-contoh asubha karma yang bertentangan dengannya (15 menit).
  • Murid mengamati 3 contoh skenario perilaku di papan tulis: Skenario 1 (Menghibur teman yang sedih dan tidak mencelanya), Skenario 2 (Membagi pensil kepada teman yang lupa membawa alat tulis daripada membiarkannya kesusahan), Skenario 3 (Tertib saat sembahyang di pura sekolah dan tidak bercanda). Murid mencocokkan skenario dengan bagian Tri Parartha penangkal asubha karma (Acuan: Skenario 1 = Asih menghindari kekerasan/ejekan; Skenario 2 = Punia menghindari sifat kikir/egois; Skenario 3 = Bhakti menghindari sikap tidak hormat) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid mengikuti aktivitas interaktif menyenangkan 'Tantangan Kartu Tri Parartha'. Setiap murid menerima lembar aktivitas berisi 6 situasi perbuatan untuk dipilah: (1) Menyiram tanaman yang layu agar tidak mati; (2) Mengejek teman yang terpeleset; (3) Berbagi makanan kepada teman yang tidak membawa bekal; (4) Mengambil penghapus teman tanpa izin; (5) Melakukan doa Gayatri Mantram dengan sungguh-sungguh; (6) Berbicara kasar kepada orang tua. Murid memberi tanda centang pada contoh perbuatan Tri Parartha yang menangkal asubha karma dan tanda silang pada asubha karma (Acuan kunci: No 1, 3, 5 = centang/Tri Parartha berturut-turut Asih, Punia, Bhakti; No 2, 4, 6 = silang/asubha karma) (20 menit).
  • Murid secara mandiri memasangkan 3 kartu situasi asubha karma dengan 1 tindakan perbaikan berdasar Tri Parartha: Situasi A (Melihat kucing dilempari batu) dipasangkan dengan Tindakan 1 (Asih: Menyayangi dan melindungi hewan); Situasi B (Melihat kotak dana punia di pura lalu enggan berderma karena ingin jajan berlebihan) dipasangkan dengan Tindakan 2 (Punia: Mengikhlaskan sebagian uang saku untuk punia); Situasi C (Bermain gawai saat guru memberi pengarahan doa) dipasangkan dengan Tindakan 3 (Bhakti: Mendengarkan guru dan fokus berdoa). (Kunci pasangan: A-1, B-2, C-3) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru memeriksa hasil lembar aktivitas dan mendiskusikan mengapa perbuatan asubha karma harus dihindari dengan mengamalkan Asih, Punia, dan Bhakti (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa menerapkan Tri Parartha secara nyata akan membentengi diri dari perilaku asubha karma dalam keseharian (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik pencapaian, menyampaikan rencana pembelajaran minggu berikutnya tentang Catur Paramitha, dan menutup pertemuan dengan Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu situasi bergambar bagi murid yang membutuhkan bantuan visual dan teks situasi naratif deskriptif bagi murid yang membaca cepat.
  • Proses: Memberikan bimbingan terfokus pada murid yang masih ragu membedakan Asih dan Punia; memberikan tantangan tambahan berupa menghubungkan situasi dengan aspek pikiran, perkataan, atau perbuatan kepada murid yang selesai lebih awal.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan contoh dengan cara menarik garis panah penjodohan atau memberi tanda centang/kode huruf pada lembar aktivitas.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pelajaran mengenai 2 situasi: (1) Menyikapi teman yang diejek (acuan: Asih/tidak mengejek); (2) Menyikapi teman yang lapar (acuan: Punia/berbagi makanan). Kriteria siap: murid dapat mengaitkan minimal 1 situasi dengan perbuatan baik penangkalnya.

Proses:

  • Penilaian unjuk kerja pada Lembar Aktivitas 6 Butir: (1) Menyiram tanaman layu (Tri Parartha/Asih); (2) Mengejek teman (Asubha karma); (3) Berbagi makanan (Tri Parartha/Punia); (4) Mengambil penghapus tanpa izin (Asubha karma); (5) Melakukan Gayatri Mantram sungguh-sungguh (Tri Parartha/Bhakti); (6) Berbicara kasar kepada orang tua (Asubha karma). (Acuan: Butir 1, 3, 5 benar Tri Parartha; Butir 2, 4, 6 dihindari/Asubha karma).
  • Penilaian tugas menjodohkan 3 situasi: A (Melihat kucing dilempari batu) -> 1 (Asih: Menyayangi dan melindungi hewan); B (Enggan berdana punia karena egois) -> 2 (Punia: Ikhlas berderma); C (Bermain gawai saat doa) -> 3 (Bhakti: Mendengarkan guru dan fokus berdoa). (Kunci pasangan: A-1, B-2, C-3).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan 1 butir sebelum penutup: Murid diminta menunjukkan 1 contoh perbuatan Asih di kelas yang dapat menghindari pertengkaran (Acuan kriteria: menyebutkan perbuatan menyayangi/berkata ramah/memaafkan teman agar tidak terjadi permusuhan/asubha karma).

Formatif:

  • Pemeriksaan ketepatan pemilahan 6 butir perbuatan pada aktivitas pemilahan kartu Tri Parartha vs asubha karma
  • Pemeriksaan ketepatan penjodohan 3 kartu situasi asubha karma dengan perbuatan perbaikan Tri Parartha

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan contoh perbuatan Tri Parartha untuk menghindari asubha karmaMurid menunjukkan 0 hingga 2 contoh perbuatan Tri Parartha secara tepat dari total 6 butir tugas pemilahan dan belum tepat memasangkan situasi perbaikan.Murid menunjukkan 3 hingga 4 contoh perbuatan Tri Parartha secara tepat dari total 6 butir tugas pemilahan, serta memasangkan minimal 1 dari 3 pasangan situasi perbaikan dengan tepat.Murid menunjukkan 5 contoh perbuatan Tri Parartha secara tepat dari total 6 butir tugas pemilahan, serta memasangkan minimal 2 dari 3 pasangan situasi perbaikan dengan tepat (Acuan: A-1, B-2, C-3).Murid menunjukkan seluruh 6 contoh perbuatan Tri Parartha secara tepat dari total 6 butir tugas pemilahan (Butir 1, 3, 5 sebagai Tri Parartha dan 2, 4, 6 sebagai asubha karma), serta memasangkan seluruh 3 pasangan situasi perbaikan dengan tepat (A-1, B-2, C-3) secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah skenario dan kartu perbuatan yang disajikan membantu murid membedakan perbuatan Tri Parartha dan asubha karma secara konkret?
  • Bagian mana dari aktivitas pembelajaran yang paling berhasil membangun pemahaman bermakna murid tentang pengamalan Asih, Punia, dan Bhakti?

Murid:

  • Perbuatan Tri Parartha mana (Asih, Punia, atau Bhakti) yang paling sering kamu lakukan untuk menghindari perilaku buruk di sekolah?
  • Apa yang akan kamu lakukan jika melihat temanmu melakukan perbuatan asubha karma seperti mengejek teman?

Pertemuan 3 — Menerapkan Ajaran Catur Paramitha dalam Kehidupan Sehari-hari melalui Perbuatan Subha Karma Bagian Maitri dan Karuna — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.2 Menerapkan ajaran Catur Paramitha dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan subha karma

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam panganjali 'Om Swastyastu', doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang konsep Maitri (sikap persahabatan/cinta kasih) dan Karuna (sikap belas kasih/menolong sesama) untuk memetakan kesiapan belajar (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan membaca kutipan cerita tentang persahabatan di sekolah mengenai makna ajaran Catur Paramitha bagian Maitri (sikap persahabatan) dan Karuna (belas kasih menolong sesama yang menderita) sebagai wujud perbuatan subha karma (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mencermati 4 kartu situasi perbuatan sehari-hari: (1) Menyapa dan tersenyum ramah saat berpapasan dengan teman di gerbang sekolah, (2) Membalut luka dan mengantar teman yang terjatuh ke ruang UKS, (3) Berbagi makanan bekal kepada kawan yang tidak membawa bekal, (4) Mengajak teman baru untuk bermain bersama saat jam istirahat, lalu mengidentifikasi mana yang mencerminkan Maitri dan Karuna (acuan kunci: situasi 1 dan 4 = Maitri; situasi 2 dan 3 = Karuna) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam permainan simulasi peran berpasangan 'Sahabat Welas Asih', setiap pasangan memilih satu skenario penerapan nyata: Skenario A (Menerapkan Maitri: meredakan perselisihan kecil saat bermain kelereng/tali dengan saling memaafkan dan menyapa ramah) atau Skenario B (Menerapkan Karuna: membantu menata buku teman yang terjatuh berantakan dan menghibur hatinya) (20 menit).
  • Setiap kelompok beranggotakan 4 orang mempraktikkan tindakan subha karma berdasarkan LKPD berisi 4 tabel rencana aksi penerapan Maitri dan Karuna di lingkungan sekolah: (1) Menyapa teman dengan santun, (2) Tidak memilih-milih teman bermain, (3) Meminjamkan pensil cadangan kepada kawan yang membutuhkan, (4) Membantu membawakan barang guru atau teman yang keberatan (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk tenang (hening sejenak) dan merefleksikan perasaan mereka saat berhasil mempraktikkan kasih sayang (Maitri) dan pertolongan nyata (Karuna) kepada sesama di kelas (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran bahwa mengasihi teman (Maitri) dan menolong yang kesusahan (Karuna) adalah jalan utama menjalankan subha karma (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja penerapan murid serta menutup pembelajaran dengan doa parama santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan visual berisi contoh gambar konkret perilaku Maitri dan Karuna, sedangkan murid yang mandiri langsung membaca teks skenario naratif.
  • Proses: Murid yang belum lancar mengidentifikasi didampingi secara langsung oleh guru dalam simulasi terpandu, sedangkan murid yang sudah mahir mempraktikkan simulasi secara mandiri.
  • Produk: Penerapan tindakan dalam LKPD dapat disajikan dalam bentuk daftar ceklis perbuatan langsung atau simulasi dialog tindakan perbuatan subha karma sesuai kenyamanan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik kesiapan: Guru menanyakan arti kata 'mitra' dan meminta murid menyebutkan tindakan saat kawan terjatuh (Acuan: 'mitra' artinya teman/sahabat [Maitri], dan tindakan menolong teman terjatuh adalah wujud belas kasih [Karuna]).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja simulasi peran berpasangan dan ketepatan melengkapi 4 rencana aksi subha karma dalam LKPD (Acuan: Aksi 1 & 2 mencerminkan Maitri [sikap bersahabat/rukun], Aksi 3 & 4 mencerminkan Karuna [menolong/meringankan beban]).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup berupa penentuan klasifikasi 2 contoh tindakan: (1) Menyapa teman saat berpapasan di jalan (Acuan: Maitri), (2) Menghibur dan membantu teman yang menangis karena pensilnya patah (Acuan: Karuna).

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja simulasi peran penerapan Maitri dan Karuna
  • Penilaian lembar kerja penerapan subha karma bagian Maitri dan Karuna

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menerapkan ajaran Catur Paramitha bagian Maitri dalam perbuatan subha karmaBelum mampu menunjukkan tindakan ramah atau persahabatan (Maitri) dalam simulasi dan lembar aksi walau telah dibimbing penuh.Menunjukkan 1 tindakan ramah atau persahabatan (Maitri) yang relevan dalam simulasi atau lembar aksi dengan arahan berulang dari guru.Menunjukkan 2 tindakan perbuatan ramah, rukun, dan persahabatan (Maitri) sesuai konteks kehidupan sehari-hari secara tepat dan mandiri.Menunjukkan seluruh tindakan Maitri secara konsisten, tepat, dan mampu memandu pasangannya dalam mempraktikkan sikap persahabatan sejati tanpa ragu.
Menerapkan ajaran Catur Paramitha bagian Karuna dalam perbuatan subha karmaBelum mampu menunjukkan perbuatan belas kasih atau menolong teman (Karuna) dalam tugas simulasi dan lembar aksi.Menunjukkan 1 tindakan belas kasih atau membantu sesama (Karuna) dengan bimbingan guru.Menunjukkan 2 tindakan belas kasih dan menolong orang lain yang kesusahan (Karuna) secara tepat dan mandiri.Menunjukkan seluruh tindakan Karuna secara konsisten, spontan menolong sesama, serta memberikan respon empati yang tepat sesuai situasi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas bermain peran dan simulasi konkret membantu murid menghayati makna kasih sayang (Maitri) dan welas asih (Karuna)?
  • Bagian mana dari langkah pembelajaran yang membutuhkan alokasi waktu lebih banyak untuk memfasilitasi murid yang masih pasif?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu setelah belajar menolong dan bersikap ramah kepada teman hari ini?
  • Perbuatan baik apa dari ajaran Maitri dan Karuna yang akan langsung kamu lakukan kepada teman sebangkumu hari ini?

Pertemuan 4 — Menerapkan Ajaran Catur Paramitha dalam Kehidupan Sehari-hari melalui Perbuatan Subha Karma Bagian Mudita dan Upeksa — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.2 Menerapkan ajaran Catur Paramitha dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan subha karma

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', doa bersama, dan memeriksa kesiapan belajar murid (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab lisan tentang pemahaman konsep dasar Mudita (turut gembira/berempati) dan Upeksa (mengalah demi kebaikan/toleran) (acuan: Mudita = merasa gembira/simpati atas keberhasilan orang lain dan tidak iri; Upeksa = bersikap tenang, mengalah demi kedamaian bersama, serta tidak mencampuri urusan orang lain) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menerapkan perbuatan subha karma yang mencerminkan bagian Mudita dan Upeksa dari ajaran Catur Paramitha dalam situasi kehidupan sehari-hari (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemaparan guru dan teks bacaan mengenai makna penerapan Mudita (ikut bergembira atas kebahagiaan orang lain, bebas dari rasa iri) dan Upeksa (sikap toleran, mengalah untuk kebaikan bersama, tidak mencampuri hal pribadi orang lain) sebagai bagian dari subha karma dalam Catur Paramitha (15 menit).
  • Secara berpasangan, murid memainkan kuis pemantik cepat kartu tindakan 'Tebak Nilai Paramitha' di mana murid mengelompokkan 4 kartu perbuatan ke dalam kategori Mudita atau Upeksa: (1) 'Mengucapkan selamat kepada teman yang menang lomba puisi' -> Mudita; (2) 'Mengalah dan bergantian menggunakan ayunan saat jam istirahat agar tidak bertengkar' -> Upeksa; (3) 'Turut tersenyum dan merasa bahagia ketika melihat adik mendapat hadiah' -> Mudita; (4) 'Menahan diri untuk tidak ikut campur dan tidak mengejek saat teman ditegur guru secara pribadi' -> Upeksa (acuan: kartu 1 dan 3 = Mudita; kartu 2 dan 4 = Upeksa) (15 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Aktivitas Penerapan Perbuatan Subha Karma yang memuat 4 studi kasus nyata di lingkungan sekolah/rumah: Kasus 1: Teman sebangkumu mendapat nilai 100 pada ulangan matematika sementara nilaimu belum maksimal; Kasus 2: Kamu dan saudaramu sama-sama ingin menonton acara televisi yang berbeda di waktu bersamaan; Kasus 3: Sahabatmu terpilih menjadi ketua kelas mengalahkan pilihanmu; Kasus 4: Ada dua temanmu yang berselisih paham mengenai giliran piket kelas dan suasananya mulai memanas (10 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan tindakan konkret penerapan subha karma untuk masing-masing dari ke-4 kasus tersebut: Kasus 1 (Mudita) -> Memberikan ucapan selamat secara tulus dan ikut senang atas prestasinya tanpa rasa dengki; Kasus 2 (Upeksa) -> Mengalah demi kerukunan dengan membiarkan saudara menonton terlebih dahulu atau bermusyawarah membagi waktu; Kasus 3 (Mudita) -> Mendukung sahabat yang terpilih serta ikut berbahagia dan membantunya menjalankan tugas kelas; Kasus 4 (Upeksa) -> Bersikap tenang, mengajak mereka tidak bersitegang, dan mengalah/menengahi demi kebaikan bersama tanpa memihak secara emosional (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali tindakan yang telah dirumuskannya dengan panduan kesadaran diri: apakah perbuatan tersebut murni mencerminkan kebajikan (subha karma) tanpa pamrih atau rasa iri (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari penerapan ajaran Mudita dan Upeksa dalam perbuatan subha karma sehari-hari untuk menjaga keharmonisan pergaulan (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas lembar kerja penerapan murid dan menutup sesi dengan doa penutup Paramasanti 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci tindakan penerapan (misal: 'memberi selamat', 'ikut tersenyum', 'mengalah demi damai', 'tidak mencampuri'), sedangkan murid yang cepat langsung menelaah kasus tanpa bantuan kata kunci.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan didampingi guru dengan telaah kasus demi kasus terstruktur, sedangkan murid yang mandiri menyelesaikan seluruh 4 kasus secara langsung.
  • Produk: Murid menuliskan respon tindakan penerapan subha karma secara singkat dan jelas sesuai dengan 4 kasus yang diberikan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Apa arti bersikap Mudita dan Upeksa dalam kehidupan sehari-hari?' (Acuan jawaban: Mudita artinya ikut merasa gembira/bersyukur atas kebahagiaan atau keberhasilan orang lain serta tidak iri hati; Upeksa artinya bersikap tenang, toleran, mengalah demi kebaikan/kedamaian bersama, serta tidak suka mencampuri urusan pribadi orang lain).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pengelompokan 4 kartu simulasi 'Tebak Nilai Paramitha' pada tahap Memahami: Kartu 1 ('Mengucapkan selamat kepada teman yang menang lomba puisi') = Mudita; Kartu 2 ('Mengalah dan bergantian menggunakan ayunan saat jam istirahat agar tidak bertengkar') = Upeksa; Kartu 3 ('Turut tersenyum dan merasa bahagia ketika melihat adik mendapat hadiah') = Mudita; Kartu 4 ('Menahan diri untuk tidak ikut campur dan tidak mengejek saat teman ditegur guru secara pribadi') = Upeksa.
  • Pemeriksaan ketepatan tindakan penerapan subha karma pada Lembar Aktivitas (4 kasus) pada tahap Mengaplikasi sesuai kunci acuan: Kasus 1 = tindakan Mudita (ucapan selamat/ikut senang tanpa iri); Kasus 2 = tindakan Upeksa (mengalah demi kerukunan/tidak memaksakan kehendak); Kasus 3 = tindakan Mudita (mendukung tulus dan ikut gembira); Kasus 4 = tindakan Upeksa (tenang, mengutamakan damai, tidak memperkeruh suasana).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir lisan/tulis singkat: Murid menentukan tindakan subha karma yang tepat untuk 1 situasi baru: 'Ketika giliranmu meminjam buku di perpustakaan bertepatan dengan teman yang sangat mendesak membutuhkannya untuk tugas hari ini, apa tindakan Mudita atau Upeksa yang kamu terapkan?' (Acuan jawaban: Menerapkan ajaran Upeksa dengan mengalah memberikan kesempatan teman meminjam terlebih dahulu demi kebaikan bersama).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Aktivitas Penerapan Subha Karma (Mudita dan Upeksa) berdasarkan kesesuaian tindakan dengan 4 kasus kontekstual.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan ajaran Catur Paramitha bagian Mudita dan Upeksa dalam perbuatan subha karmaMenerapkan perbuatan subha karma yang mencerminkan Mudita dan Upeksa secara tepat pada paling banyak 1 dari 4 kasus yang disajikan (acuan kasus: Kasus 1 Mudita, Kasus 2 Upeksa, Kasus 3 Mudita, Kasus 4 Upeksa).Menerapkan perbuatan subha karma yang mencerminkan Mudita dan Upeksa secara tepat pada 2 dari 4 kasus yang disajikan (acuan kasus: Kasus 1 Mudita, Kasus 2 Upeksa, Kasus 3 Mudita, Kasus 4 Upeksa).Menerapkan perbuatan subha karma yang mencerminkan Mudita dan Upeksa secara tepat pada 3 dari 4 kasus yang disajikan (acuan kasus: Kasus 1 Mudita, Kasus 2 Upeksa, Kasus 3 Mudita, Kasus 4 Upeksa).Menerapkan perbuatan subha karma yang mencerminkan Mudita dan Upeksa secara tepat pada seluruh 4 kasus yang disajikan secara mandiri (acuan kasus: Kasus 1 Mudita, Kasus 2 Upeksa, Kasus 3 Mudita, Kasus 4 Upeksa).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas bermain kartu tebak nilai dan studi kasus kontekstual berhasil memfasilitasi murid memahami perbedaan penerapan Mudita dan Upeksa?
  • Bagian mana dari perbuatan subha karma (Mudita atau Upeksa) yang masih membutuhkan bimbingan contoh lebih konkret bagi murid?

Murid:

  • Apa tindakan penerapan ajaran Mudita atau Upeksa yang paling mudah kamu lakukan di rumah atau di sekolah?
  • Mengapa kita harus ikut gembira atas keberhasilan teman dan rela mengalah demi kebaikan bersama?

Pertemuan 5 — Menunjukkan Contoh Perbuatan yang Mencerminkan Ajaran Catur Paramitha untuk Menghindari Asubha Karma — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.4 Menunjukkan contoh perbuatan yang mencerminkan ajaran Catur Paramitha untuk menghindari asubha karma

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta memilih secara lisan respon yang benar untuk menghindari asubha karma saat melihat teman menangis karena terjatuh (pilihan: A. Menertawakan dan membiarkannya; B. Menolong dan menenangkannya dengan kasih sayang sesuai Karuna) — acuan jawaban tepat: B (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menunjukkan contoh-contoh perbuatan yang mencerminkan ajaran Catur Paramitha (Maitri, Karuna, Mudita, Upeksa) untuk menghindari perbuatan buruk/asubha karma dalam kehidupan sehari-hari (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan guru mengenai keterkaitan ajaran Catur Paramitha dengan upaya menghindari asubha karma (perilaku adharma/tercela) melalui tabel panduan: (1) Maitri (berteman/menyayangi semua makhluk) menghindari permusuhan/mengejek; (2) Karuna (belas kasihan) menghindari kekejaman/menyakiti; (3) Mudita (turut bergembira atas kebahagiaan orang lain) menghindari rasa iri/dengki; (4) Upeksa (ketenangan batin/toleran) menghindari amarah/dendam (15 menit).
  • Murid mencermati 4 skenario situasi yang disajikan guru di papan tulis untuk mengidentifikasi contoh perbuatan Catur Paramitha penangkal asubha karma: Skenario 1: Menghindari mengejek teman yang berbeda suku (Maitri); Skenario 2: Menghentikan perbuatan mencubit hewan peliharaan (Karuna); Skenario 3: Menghindari cemberut/dengki saat teman juara kelas (Mudita); Skenario 4: Tidak membalas dengan memukul saat disenggol tanpa sengaja (Upeksa) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan berpasangan 'Tangkis Asubha Karma dengan Catur Paramitha': Guru membagikan kartu situasi asubha karma dan murid secara cepat menunjuk kartu tindakan Catur Paramitha yang tepat sebagai penangkalnya secara bergantian dan menyenangkan (15 menit).
  • Murid mengerjakan lembar kerja klasifikasi mandiri berisi 4 butir pernyataan contoh perbuatan untuk dipasangkan ke bagian Catur Paramitha yang mencerminkannya guna menghindari asubha karma: (1) Menyapa dengan ramah teman baru di kelas untuk menghindari permusuhan -> Maitri; (2) Memberi makan kucing terlantar yang kelaparan agar tidak menyiksanya -> Karuna; (3) Memberi ucapan selamat dengan tulus kepada teman yang memenangkan lomba menggambar agar terhindar dari rasa iri -> Mudita; (4) Menahan diri untuk tidak membalas mengumpat saat diejek agar amarah tidak membakar diri -> Upeksa (acuan: pasangan sesuai daftar butir) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil lembar kerja dengan kunci acuan dan menghitung ketepatan jawaban masing-masing (10 menit).
  • Murid merenungkan satu contoh perbuatan Catur Paramitha yang paling ingin dibiasakan minggu ini agar terhindar dari perbuatan tercela di sekolah maupun rumah (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan kembali bagaimana ajaran Catur Paramitha (Maitri, Karuna, Mudita, Upeksa) menjadi pedoman utama untuk menjauhkan diri dari asubha karma (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas ketepatan murid dalam menunjukkan contoh-contoh perbuatan, menginformasikan agenda evaluasi sumatif pada pertemuan berikutnya, dan menutup kelas dengan Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar kerja dengan teks berhuruf besar disertai simbol ikonik untuk murid yang membutuhkan bantuan visual.
  • Proses: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru membacakan skenario dan memberikan pilihan terarah; bagi murid berkemampuan cepat, diberikan latihan tambahan 2 butir kasus sehari-hari untuk ditunjukkan bagian Catur Paramitha-nya.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan contoh perbuatan Catur Paramitha secara tertulis dengan tanda hubung/panah maupun secara lisan bagi murid dengan hambatan menulis.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik lisan (1 soal): 'Siswa melihat seekor anak burung jatuh dari sarang. Tindakan manakah yang mencerminkan ajaran kasih sayang (Karuna) untuk menghindari perbuatan asubha karma? Pilihan: (A) Membiarkannya kedinginan atau mempermainkannya; (B) Mengambilnya dengan hati-hati lalu menaruhnya kembali ke sarang.' (Acuan jawaban: B).

Proses:

  • Formatif lembar kerja memasangkan 4 contoh perbuatan Catur Paramitha untuk menghindari asubha karma. Butir soal: (1) Menyapa dengan ramah teman baru di kelas untuk menghindari permusuhan; (2) Memberi makan kucing terlantar yang kelaparan agar tidak menyiksanya; (3) Memberi ucapan selamat dengan tulus kepada teman yang memenangkan lomba menggambar agar terhindar dari rasa iri; (4) Menahan diri untuk tidak membalas mengumpat saat diejek agar amarah tidak membakar diri. (Acuan kunci: 1-Maitri, 2-Karuna, 3-Mudita, 4-Upeksa).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru menyebutkan satu tindakan 'Tidak menaruh rasa benci ketika ada teman yang mendapat hadiah lebih banyak' lalu murid menunjuk/menyebut bagian Catur Paramitha yang dicerminkan untuk menghindari asubha karma rasa benci/iri (Acuan: Mudita).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pertemuan untuk mengetahui pemahaman dasar tentang perbuatan baik penangkal perbuatan buruk
  • Observasi keaktifan dan ketepatan selama permainan memasangkan kartu penangkal asubha karma
  • Penilaian lembar kerja klasifikasi 4 butir contoh perbuatan Catur Paramitha untuk menghindari asubha karma

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan contoh perbuatan Catur Paramitha untuk menghindari asubha karmaBelum mampu menunjukkan contoh perbuatan Catur Paramitha untuk menghindari asubha karma secara tepat (0-1 dari 4 butir tepat pada LK: 1-Maitri, 2-Karuna, 3-Mudita, 4-Upeksa).Mampu menunjukkan 2 dari 4 contoh perbuatan Catur Paramitha untuk menghindari asubha karma secara tepat sesuai daftar acuan (1-Maitri, 2-Karuna, 3-Mudita, 4-Upeksa) dengan bantuan arahan guru.Mampu menunjukkan 3 dari 4 contoh perbuatan Catur Paramitha untuk menghindari asubha karma secara tepat sesuai daftar acuan (1-Maitri, 2-Karuna, 3-Mudita, 4-Upeksa) secara mandiri.Mampu menunjukkan seluruh 4 contoh perbuatan Catur Paramitha untuk menghindari asubha karma secara tepat sesuai daftar acuan (1-Maitri, 2-Karuna, 3-Mudita, 4-Upeksa) secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mampu membedakan contoh perbuatan dari keempat bagian Catur Paramitha sebagai pengendali asubha karma?
  • Apakah permainan kartu berpasangan efektif meningkatkan antusiasme dan pemahaman murid?

Murid:

  • Bagian mana dari ajaran Catur Paramitha yang paling mudah kamu tunjukkan contohnya dalam kehidupan sehari-hari?
  • Perbuatan asubha karma apa yang paling sering kamu hindari setelah mempelajari ajaran Catur Paramitha hari ini?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.1 Menerapkan ajaran Tri Parartha dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan subha karma
  • TP 4.3.2 Menerapkan ajaran Catur Paramitha dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan subha karma
  • TP 4.3.3 Menunjukkan contoh perbuatan yang mencerminkan ajaran Tri Parartha untuk menghindari asubha karma
  • TP 4.3.4 Menunjukkan contoh perbuatan yang mencerminkan ajaran Catur Paramitha untuk menghindari asubha karma

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi sumatif dengan mengucapkan salam panganjali 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama untuk memusatkan pikiran (3 menit).
  • Guru menjelaskan tujuan asesmen sumatif Bab 3 mengenai penerapan dan penunjukan contoh ajaran Tri Parartha dan Catur Paramitha dalam perbuatan subha karma untuk menghindari asubha karma (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan lembar tes tertulis serentak dan menjelaskan petunjuk pengelompokan 10 butir pernyataan perbuatan ke dalam kolom Subha Karma atau Asubha Karma serta mengidentifikasi bagian ajarannya (Tri Parartha: Asih, Punia, Bhakti; atau Catur Paramitha: Maitri, Karuna, Mudita, Upeksa) (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Seluruh murid secara serentak mengerjakan tes tertulis pengelompokan contoh perbuatan subha karma dan asubha karma pada lembar kerja yang memuat 10 butir pernyataan: (1) Savitri tekun sembahyang di pelangkiran kelas tepat waktu (kunci: Subha Karma - Tri Parartha/Bhakti); (2) Mengambil penghapus milik teman secara diam-diam tanpa izin (kunci: Asubha Karma - menghindari pelanggaran Tri Parartha/Asih); (3) Membagi bekal makanan secara tulus kepada teman yang kelaparan (kunci: Subha Karma - Tri Parartha/Punia); (4) Mengejek kawan yang terjatuh saat berolahraga (kunci: Asubha Karma - menghindari pelanggaran Catur Paramitha/Karuna); (5) Bersahabat dengan semua teman tanpa membeda-bedakan (kunci: Subha Karma - Catur Paramitha/Maitri); (6) Menolong anak kucing yang terjepit saluran air dengan penuh rasa iba (kunci: Subha Karma - Catur Paramitha/Karuna); (7) Merasa iri hati dan marah ketika teman sebangku mendapat nilai bagus (kunci: Asubha Karma - menghindari perbuatan bertentangan dengan Catur Paramitha/Mudita); (8) Tetap tenang dan tidak membalas ketika ada teman yang berbicara kasar (kunci: Subha Karma - Catur Paramitha/Upeksa); (9) Menyayangi sesama makhluk hidup dengan memberi makan hewan peliharaan (kunci: Subha Karma - Tri Parartha/Asih); (10) Ikut bergembira dan memberi selamat atas keberhasilan teman menjuarai lomba (kunci: Subha Karma - Catur Paramitha/Mudita) (40 menit).
  • Guru mengondisikan 7 kelompok kerja (masing-masing beranggotakan 4 murid) untuk melaksanakan penilaian unjuk kerja simulasi perilaku terstruktur di kelas, di mana setiap kelompok dinilai selama 8 menit dalam menunjukkan tindakan saling menolong dan kasih sayang yang mencerminkan ajaran Tri Parartha (Asih, Punia) dan Catur Paramitha (Maitri, Karuna) melalui skenario berbagi tugas membersihkan sarana altar kelas dan meminjamkan alat tulis saat teman membutuhkan tanpa pamrih (46 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memandu murid melakukan hening sejenak untuk merefleksikan pengalaman menjalankan tugas asesmen tertulis dan praktik interaksi perilaku subha karma secara jujur dan sungguh-sungguh (4 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar jawaban asesmen tertulis dan catatan observasi unjuk kerja perilaku subha karma (2 menit).
  • Guru merangkum ketercapaian bab dan menutup pembelajaran dengan doa penutup serta parama santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses berupa lembar tes tertulis dengan huruf berukuran lebih besar (font 16 pt) bagi murid yang memiliki hambatan penglihatan tanpa mengubah substansi 10 butir soal.
  • Proses: Akomodasi proses berupa pembacaan ulang petunjuk tugas secara lisan satu kali secara netral bagi murid dengan hambatan membaca lambat.
  • Produk: Standar bukti produk dan unjuk kerja tetap seragam sesuai rubrik dan kunci penilaian asesmen sumatif.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • penilaian gabungan unjuk kerja simulasi perilaku dan tes tertulis: catatan unjuk kerja penerapan Tri Parartha dan Catur Paramitha dalam interaksi terstruktur antarteman serta lembar jawaban pengelompokan contoh perbuatan subha karma untuk menghindari asubha karma
  • tes tertulis serentak: lembar kerja pengelompokan contoh perbuatan subha karma dan asubha karma berdasarkan ajaran Tri Parartha dan Catur Paramitha yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (45 menit; kelompok; instrumen: lembar tes tertulis objektif dan kunci penskoran)
  • penilaian unjuk kerja kelompok: praktik interaksi berpasangan/kelompok kecil (7 kelompok beranggotakan 4 murid, dinilai 8 menit per kelompok) dalam menerapkan sikap saling menolong dan kasih sayang mencerminkan Tri Parartha dan Catur Paramitha dalam situasi kelas (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik observasi unjuk kerja perilaku subha karma)

Sumatif:

  • penilaian gabungan unjuk kerja simulasi perilaku dan tes tertulis: catatan unjuk kerja penerapan Tri Parartha dan Catur Paramitha dalam interaksi terstruktur antarteman serta lembar jawaban pengelompokan contoh perbuatan subha karma untuk menghindari asubha karma
  • tes tertulis serentak: lembar kerja pengelompokan contoh perbuatan subha karma dan asubha karma berdasarkan ajaran Tri Parartha dan Catur Paramitha yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (45 menit; kelompok; instrumen: lembar tes tertulis objektif dan kunci penskoran)
  • penilaian unjuk kerja kelompok: praktik interaksi berpasangan/kelompok kecil (7 kelompok beranggotakan 4 murid, dinilai 8 menit per kelompok) dalam menerapkan sikap saling menolong dan kasih sayang mencerminkan Tri Parartha dan Catur Paramitha dalam situasi kelas (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik observasi unjuk kerja perilaku subha karma)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan contoh perbuatan mencerminkan Tri Parartha dan Catur Paramitha untuk menghindari asubha karma (Tes Tertulis 10 butir)Mengelompokkan 1 sampai 4 butir pernyataan contoh perbuatan secara tepat sesuai kunci acuan jawaban.Mengelompokkan 5 sampai 7 butir pernyataan contoh perbuatan secara tepat sesuai kunci acuan jawaban.Mengelompokkan 8 sampai 9 butir pernyataan contoh perbuatan secara tepat sesuai kunci acuan jawaban.Mengelompokkan seluruh 10 butir pernyataan contoh perbuatan secara tepat sesuai daftar kunci acuan: butir 1 (Subha-Bhakti), 2 (Asubha-Asih), 3 (Subha-Punia), 4 (Asubha-Karuna), 5 (Subha-Maitri), 6 (Subha-Karuna), 7 (Asubha-Mudita), 8 (Subha-Upeksa), 9 (Subha-Asih), dan 10 (Subha-Mudita).
Menerapkan ajaran Tri Parartha dan Catur Paramitha melalui perbuatan subha karma (Unjuk Kerja Simulasi Interaksi)Menerapkan 1 tindakan subha karma nyata selama simulasi interaksi kelompok dengan arahan penuh dari guru.Menerapkan 2 tindakan subha karma (mencerminkan Asih/Punia atau Maitri/Karuna) selama simulasi interaksi kelompok dengan sedikit pengingat guru.Menerapkan 3 tindakan subha karma secara mandiri dan tepat (mencakup Asih, Punia, serta Maitri/Karuna) dalam simulasi interaksi kelompok.Menerapkan seluruh 4 wujud tindakan subha karma secara konsisten dan mandiri (menunjukkan Asih saling menyayangi, Punia rela berbagi alat, Maitri bersahabat rukun, dan Karuna menolong teman) selama simulasi kelompok 8 menit.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 45 menit untuk tes tertulis dan 56 menit untuk unjuk kerja 7 kelompok berjalan efektif dan tertib sesuai target?
  • Bagaimana tingkat pemahaman dan penerapan murid terhadap ajaran Tri Parartha dan Catur Paramitha berdasarkan hasil asesmen sumatif bab ini?

Murid:

  • Bagian mana dari perbuatan subha karma berdasarkan Tri Parartha dan Catur Paramitha yang paling mudah dan paling menantang untuk saya praktikkan di kelas?
  • Bagaimana perasaan saya setelah menunjukkan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk selama pembelajaran bab ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek RI, 2021)
  2. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek RI, 2021)
  3. Kartu Skenario Situasi Tri Parartha (Situasi A, Situasi B, Situasi C)
  4. Gambar/foto ilustrasi perbuatan subha karma di lingkungan sekolah dan keluarga
  5. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021)
  6. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021)
  7. Kartu situasi dan lembar kerja bergambar perbuatan Subha-Asubha Karma
  8. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021)
  9. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021)
  10. Kartu Skenario dan Situasi Bergambar Penerapan Maitri dan Karuna
  11. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek, 2021)
  12. Buku Panduan Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek, 2021)
  13. Set kartu skenario perbuatan 'Tebak Nilai Paramitha' dan Lembar Aktivitas Kasus Subha Karma
  14. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV, Kemendikbudristek 2021
  15. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV, Kemendikbudristek 2021
  16. Set kartu berpasangan situasi asubha karma dan tindakan Catur Paramitha
  17. Lembar Kerja Murid (LKPD) Klasifikasi Catur Paramitha
  18. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek RI, 2021).
  19. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek RI, 2021).
  20. Lembar tes tertulis asesmen sumatif berisi 10 butir pengelompokan subha dan asubha karma.
  21. Lembar instrumen rubrik observasi unjuk kerja perilaku subha karma.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.