Modul AjarBab 1Fase BSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 4 Bab 1: Nilai-Nilai Dalam Ramayana

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas 4 untuk Bab 1 "Nilai-Nilai Dalam Ramayana", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 4 Bab 1: Nilai-Nilai Dalam Ramayana

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti - Kelas 4

Bab 1

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Bab 1 — Nilai-Nilai Dalam Ramayana

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikBab 1 — Nilai-Nilai Dalam Ramayana
Alokasi Waktu18 JP (18 x 35 menit = 630 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 4.1.1 Menunjukkan contoh penerapan ajaran Tri Parartha melalui nilai kasih sayang dan penghormatan dalam kisah Ramayana
  2. TP 4.1.2 Menunjukkan sikap penerapan ajaran Catur Paramitha berdasarkan keteladanan kejujuran dan ketulusan tokoh Ramayana
  3. TP 4.1.3 Mempraktikkan ajaran Tri Parartha dalam kehidupan sehari-hari berlandaskan nilai persaudaraan kisah Ramayana
  4. TP 4.1.4 Mempraktikkan ajaran Catur Paramitha berupa perilaku rela berkorban dan saling menolong berlandaskan nilai yajña Ramayana

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana Prabu Dasaratha menunjukkan rasa sayang kepada keempat putranya dalam kisah Ramayana?
  2. Mengapa kasih sayang dalam keluarga menjadi wujud nyata dari ajaran Tri Parartha (khususnya Asih)?
  3. Bagaimana sikap Rama ketika diminta oleh ayahnya, Prabu Dasaratha, untuk pergi ke hutan Dandaka?
  4. Apa contoh perilaku menghormati orang tua di rumah yang mencerminkan keteladanan tokoh Rama?
  5. Bagaimana keteladanan Rama dan Dewi Sita dalam bersikap jujur dan tulus?
  6. Sikap apa saja dalam ajaran Catur Paramitha yang mencerminkan kejujuran dan ketulusan para tokoh Ramayana?
  7. Bagaimana wujud kesetiaan dan kasih sayang Laksmana saat mendampingi Rama di hutan?
  8. Tindakan nyata apa yang dapat kita lakukan kepada saudara atau teman di sekolah agar mencerminkan ajaran Tri Parartha?
  9. Apa yang dilakukan Burung Jatayu ketika melihat Dewi Sita diculik oleh Ravana dalam kisah Ramayana?
  10. Bagaimana caramu mempraktikkan perilaku saling menolong dan rela berkorban demi kebaikan teman di sekolah sesuai ajaran Catur Paramitha?
  11. Bagaimana wujud tindakan tolong-menolong dan kerukunan di sekolah yang meneladani kisah Ramayana?
  12. Mengapa kejujuran dan ketulusan tokoh seperti Rama dan Laksamana patut kita terapkan saat bergaul dengan teman?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menunjukkan Contoh Penerapan Ajaran Tri Parartha melalui Kasih Sayang dalam Keluarga pada Kisah Ramayana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.1 Menunjukkan contoh penerapan ajaran Tri Parartha melalui nilai kasih sayang dan penghormatan dalam kisah Ramayana

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', berdoa bersama, memeriksa kehadiran murid, dan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan contoh penerapan ajaran Tri Parartha melalui nilai kasih sayang dalam keluarga pada kisah Ramayana (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 gambar tokoh/peristiwa Ramayana dan menanyakan wujud kasih sayang yang tampak pada gambar keluarga Prabu Dasaratha (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati teks kisah keluarga Prabu Dasaratha di Ayodhya (Buku Siswa Bab 1 Subbab 1) mengenai hubungan kasih sayang antara Prabu Dasaratha, permaisuri (Kosalya, Kekayi, Sumitra), serta keempat putranya (Rama, Bharata, Laksmana, Satrugna) (15 menit).
  • Murid bersama guru menghubungkan konsep Tri Parartha, khususnya bagian 'Asih' (cinta kasih yang tulus), dengan perilaku saling mengasihi dalam keluarga Prabu Dasaratha (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 3-4 anak dan mengikuti aktivitas permainan kartu 'Pilah Kartu Asih Ramayana', di mana setiap kelompok menerima 4 kartu pernyataan situasi untuk dipilah mana yang menunjukkan penerapan Tri Parartha (Asih/kasih sayang keluarga) dan mana yang bukan: Kartu 1 'Prabu Dasaratha merawat dan mendidik keempat putranya dengan penuh kehangatan', Kartu 2 'Kakak beradik Rama, Bharata, Laksmana, dan Satrugna saling mendukung dan rukun', Kartu 3 'Rahwana menculik Dewi Sita secara paksa ke Alengka', Kartu 4 'Membantu adik belajar membaca di rumah dengan sabar' (acuan pemilahan: Kartu 1, 2, 4 = contoh kasih sayang; Kartu 3 = bukan contoh kasih sayang/pengalih) (15 menit).
  • Setiap murid secara berpasangan mengerjakan Lembar Kerja Menunjukkan Contoh Kasih Sayang dengan memilih dan menandai 3 contoh perilaku kasih sayang keluarga dalam Ramayana dan kehidupan sehari-hari dari 4 opsi yang disediakan pada lembar tugas (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompoknya memeriksa kembali hasil kartu pilah dan menyatakan kembali alasan mengapa tindakan Prabu Dasaratha dan putra-putranya merupakan teladan kasih sayang (Tri Parartha) (15 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa kasih sayang dalam keluarga Prabu Dasaratha adalah wujud nyata bagian 'Asih' dalam ajaran Tri Parartha (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen akhir berupa kuis lisan/tertulis singkat 2 butir untuk mengecek kemampuan murid menunjukkan contoh kasih sayang (5 menit).
  • Pembelajaran ditutup dengan doa bersama dan parama santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks bergambar keluarga Prabu Dasaratha dengan kalimat panduan sederhana, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan kartu narasi situasi tambahan mengenai kerukunan Rama dan Laksmana.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing langsung oleh guru secara bertahap dalam memilah kartu kasih sayang, sedangkan kelompok yang mandiri langsung mendiskusikan pemilahan kartu secara kolaboratif.
  • Produk: Semua murid menunjukkan minimal 2 hingga 3 contoh penerapan kasih sayang keluarga (Tri Parartha) melalui penandaan kartu/lembar kerja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran menggunakan 2 gambar: (1) Gambar keluarga Prabu Dasaratha berkumpul bersama permaisuri dan putranya; (2) Gambar Rahwana marah di istana Alengka. Guru bertanya: 'Gambar manakah yang menunjukkan kasih sayang dalam keluarga?' (acuan jawaban: Gambar 1; ciri kasih sayang: berkumpul rukun, mendidik, saling menyayangi).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan dan ketepatan murid saat memilah 4 kartu pernyataan situasi kasih sayang Ramayana pada tahap Mengaplikasi (acuan: memisahkan dengan benar kartu 1, 2, dan 4 sebagai wujud kasih sayang/Asih, serta mengeluarkan kartu 3 sebagai pengalih perbuatan tidak berkasih sayang).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir berupa 2 butir soal pilihan ganda terbimbing: Butir 1: 'Contoh penerapan kasih sayang (Asih) Prabu Dasaratha kepada para putranya dalam Ramayana adalah ...' (acuan kunci: mendidik dan menyayangi keempat putranya dengan adil; pengalih: mengabaikan Rama, memusuhi Bharata). Butir 2: 'Contoh kasih sayang dalam keluarga yang sesuai ajaran Tri Parartha adalah ...' (acuan kunci: membantu saudara dan berbicara sopan; pengalih: bertengkar berebut mainan).

Formatif:

  • Penilaian kinerja kelompok saat memilah kartu contoh kasih sayang keluarga (Tri Parartha)
  • Cek pemahaman individu pada Lembar Kerja Menunjukkan Contoh Kasih Sayang

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan contoh penerapan ajaran Tri Parartha melalui kasih sayang dalam keluarga pada kisah RamayanaBelum mampu menunjukkan contoh penerapan kasih sayang keluarga dalam kisah Ramayana meski dengan bimbingan penuh guru (keliru memilah seluruh kartu contoh dan pengalih).Mampu menunjukkan 1 contoh penerapan kasih sayang keluarga dalam kisah Ramayana dengan bimbingan guru (hanya tepat memilah 1 dari 3 kartu contoh benar).Mampu menunjukkan 2 sampai 3 contoh penerapan kasih sayang keluarga dalam kisah Ramayana secara tepat (tepat memilah 2-3 kartu contoh benar dan menyisihkan kartu pengalih).Mampu menunjukkan seluruh 3 contoh penerapan kasih sayang keluarga dalam kisah Ramayana secara tepat, mandiri, tanpa keraguan, serta mampu membedakannya secara konsisten dari perilaku pengalih.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan kartu memilah contoh kasih sayang berhasil membuat murid antusias dan memahami wujud Asih dalam keluarga Ramayana?
  • Bagian mana dari bimbingan yang perlu disesuaikan untuk murid yang masih kesulitan mengidentifikasi contoh perilaku kasih sayang?

Murid:

  • Apa contoh kasih sayang dalam keluarga Prabu Dasaratha yang paling kamu ingat?
  • Bagaimana perasaanmu setelah belajar tentang kasih sayang keluarga dalam kisah Ramayana hari ini?

Pertemuan 2 — Menunjukkan Contoh Penerapan Ajaran Tri Parartha melalui Penghormatan kepada Orang Tua Berdasarkan Kisah Ramayana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.1 Menunjukkan contoh penerapan ajaran Tri Parartha melalui nilai kasih sayang dan penghormatan dalam kisah Ramayana

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama melantunkan Gayatri Mantram (5 menit).
  • Guru mengecek kehadiran dan kesiapan belajar murid di kelas (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 gambar: Gambar A (anak mencium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah) dan Gambar B (anak membantah nasihat orang tua), lalu meminta murid menunjuk gambar yang mencerminkan nilai penghormatan kepada orang tua (acuan: Gambar A adalah sikap hormat/benar; Gambar B adalah sikap tidak hormat/salah) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan cuplikan kisah Ramayana pada Buku Siswa saat Prabu Dasaratha terikat janji kepada Dewi Kekayi, sehingga Rama dengan tulus dan patuh menerima titah untuk menjalani pengasingan di hutan Dandaka selama 14 tahun demi menjunjung kehormatan sang ayah (15 menit).
  • Murid menyimak penjelasan guru yang mengaitkan keteladanan Rama dengan ajaran Tri Parartha, khususnya bagian Asih dan Bhakti (penghormatan tulus kepada orang tua sebagai wujud anak Suputra) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid secara berpasangan memainkan kuis kartu bergambar 'Tepat Memilih Teladan Rama' yang menyenangkan: murid memilah 4 kartu pernyataan tindakan menjadi kelompok 'Contoh Penghormatan kepada Orang Tua' atau 'Bukan Contoh Penghormatan' (15 menit). Daftar 4 kartu: (1) 'Mendengarkan dan mematuhi nasihat ayah dan ibu saat belajar di rumah' (Kunci: Contoh Penghormatan); (2) 'Berpamitan dan mencium tangan orang tua sebelum berangkat ke pasraman/sekolah' (Kunci: Contoh Penghormatan); (3) 'Marah dan membantah saat diminta membantu ibu merapikan tempat tidur' (Kunci: Bukan Contoh Penghormatan); (4) 'Membantu orang tua dengan rasa tulus tanpa bersungut-sungut' (Kunci: Contoh Penghormatan).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja 'Menunjukkan Contoh Nyata Penghormatan Orang Tua' dengan menandai (centang) 4 contoh sikap bakti/penghormatan kepada orang tua sehari-hari dari 5 pilihan yang tersedia (15 menit). Daftar 5 butir pilihan: (1) Menyapa orang tua dengan santun (Benar); (2) Berpamitan saat keluar rumah (Benar); (3) Mengabaikan panggilan orang tua saat bermain gawai (Pengalih/Salah); (4) Mentaati perintah orang tua untuk bersembahyang (Benar); (5) Bersikap rendah hati dan tidak membantah orang tua (Benar). Kunci jawaban: pilihan 1, 2, 4, dan 5 dicentang; pilihan 3 tidak dicentang.

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil pemilahan kartu dan lembar kerja untuk memastikan ketepatan pemahaman nilai penghormatan berlandaskan kisah Rama (15 menit).
  • Murid mengheningkan cipta sejenak dan merenungkan perbuatannya terhadap orang tua di rumah, kemudian mengungkapkan satu contoh tindakan penghormatan yang ingin ia tunjukkan kepada orang tuanya hari ini (acuan: tindakan operasional seperti berpamitan, membantu orang tua, mendengarkan nasihat, atau berkata santun) (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik atas ketepatan murid dalam menunjukkan contoh-contoh penghormatan kepada orang tua berdasarkan keteladanan Rama (3 menit).
  • Guru menyampaikan topik yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya, yaitu menunjukkan sikap keteladanan kejujuran dan ketulusan tokoh Ramayana dalam ajaran Catur Paramitha (1 menit).
  • Pembelajaran diakhiri dengan doa penutup dan mengucapkan Parama Santhi 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu situasi bergambar konkret untuk mempermudah identifikasi, sedangkan murid yang sudah lancar membaca diberikan teks narasi situasi pendek.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru dengan bimbingan terfokus saat memilah kartu, sedangkan murid yang telah mahir bekerja mandiri menyelesaikan pemilahan.
  • Produk: Murid bebas menunjukkan contoh penghormatan melalui penandaan centang pada lembar kartu bergambar atau menuliskan ulang nomor pilihan jawaban yang tepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik visual di pendahuluan: Guru menampilkan 2 gambar (Gambar A: anak mencium tangan orang tua; Gambar B: anak membantah orang tua). Murid diminta menunjuk gambar yang merupakan contoh sikap penghormatan. Acuan jawaban benar: Gambar A (mencium tangan orang tua).

Proses:

  • Formatif pemilahan kartu saat kegiatan inti: Guru mengamati hasil kerja pasangan memilah 4 kartu pernyataan tindakan. Acuan kunci: Kartu 1 (Contoh Penghormatan), Kartu 2 (Contoh Penghormatan), Kartu 3 (Bukan Contoh Penghormatan), Kartu 4 (Contoh Penghormatan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman pada Lembar Kerja Mandiri: Murid menandai 4 contoh penerapan penghormatan kepada orang tua dari daftar 5 butir. Daftar butir: (1) Menyapa dengan santun; (2) Berpamitan saat keluar rumah; (3) Mengabaikan panggilan orang tua saat main gawai; (4) Mentaati perintah orang tua untuk bersembahyang; (5) Bersikap rendah hati dan tidak membantah orang tua. Kunci jawaban: nomor 1, 2, 4, dan 5 ditandai; nomor 3 tidak ditandai sebagai pengalih.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi gambar sikap menghormati vs membantah orang tua.
  • Asesmen proses: observasi ketepatan pemilahan 4 kartu tindakan saat aktivitas kuis berpasangan.
  • Cek pemahaman mandiri: lembar kerja penandaan 4 contoh sikap bakti/penghormatan kepada orang tua dari 5 pilihan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan menunjukkan contoh penerapan ajaran Tri Parartha melalui nilai penghormatan kepada orang tua berdasarkan kisah RamayanaMenunjukkan 1 contoh atau belum tepat memilih contoh penghormatan kepada orang tua dari daftar 5 butir acuan (masih memilih opsi pengalih nomor 3, atau hanya benar 1 butir).Menunjukkan 2 dari 4 contoh penghormatan kepada orang tua dengan tepat dari daftar acuan (masih menyertakan opsi pengalih nomor 3, atau benar 2 butir).Menunjukkan 3 dari 4 contoh penghormatan kepada orang tua dengan tepat dari daftar acuan tanpa memilih opsi pengalih nomor 3.Menunjukkan seluruh 4 contoh penghormatan kepada orang tua dengan tepat (nomor 1, 2, 4, dan 5) secara mandiri serta tidak memilih opsi pengalih nomor 3.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan kisah pengasingan Rama di hutan Dandaka efektif membantu murid memahami konsep penghormatan kepada orang tua?
  • Apakah murid aktif dan bergembira saat melakukan aktivitas pemilahan kartu berpasangan?

Murid:

  • Apa sikap terpuji dari tokoh Rama kepada ayahnya yang paling kamu ingat?
  • Sikap hormat apa yang akan kamu tunjukkan kepada ayah dan ibu di rumah hari ini?

Pertemuan 3 — Menunjukkan Sikap Penerapan Ajaran Catur Paramitha Berdasarkan Keteladanan Kejujuran dan Ketulusan Tokoh Ramayana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.2 Menunjukkan sikap penerapan ajaran Catur Paramitha berdasarkan keteladanan kejujuran dan ketulusan tokoh Ramayana

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama untuk menumbuhkan kesadaran diri (5 menit).
  • Guru mengecek kehadiran dan memberikan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: (1) Sebutkan 4 bagian Catur Paramitha! (acuan: Maitri, Karuna, Mudita, Upeksa); (2) Siapakah tokoh Ramayana yang tetap jujur dan setia menjaga kesucian dirinya saat diculik Rahwana? (acuan: Dewi Sita) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menunjukkan sikap penerapan ajaran Catur Paramitha berdasarkan keteladanan kejujuran dan ketulusan tokoh Ramayana (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan guru tentang nilai kejujuran dan ketulusan dari keteladanan tokoh Rama (teguh memegang janji kebenaran) dan Dewi Sita (tulus membuktikan kesucian diri) dikaitkan dengan bagian Catur Paramitha: Maitri (cinta kasih yang tulus), Karuna (kasih sayang dan kejujuran menolong sesama), Mudita (ketulusan ikut bergembira atas kebaikan orang lain), dan Upeksa (keteguhan sikap jujur/tidak goyah oleh pengaruh buruk) (15 menit).
  • Murid mengidentifikasi contoh sikap penerapan ajaran Catur Paramitha yang bersumber dari keteladanan tokoh Rama dan Dewi Sita melalui lembar telaah ringkas (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Guru mengadakan permainan tantangan kartu berseri 'Pasangan Kebajikan': murid secara berpasangan mencocokkan 4 kartu skenario sikap tokoh Ramayana dengan bagian Catur Paramitha yang tepat (kartu 1: 'Rama tulus menepati janji ayahnya pergi ke hutan tanpa mengeluh' -> Mudita/tulus; kartu 2: 'Dewi Sita jujur menjaga kesetiaan dan kesucian diri di Alengka tanpa goyah bujukan Rahwana' -> Upeksa/teguh jujur; kartu 3: 'Rama menunjukkan rasa welas asih tulus membantu kaum yang menderita' -> Karuna/kasih peduli; kartu 4: 'Dewi Sita ramah dan bersahabat dengan tulus kepada Trijata' -> Maitri/sahabat tulus) (20 menit).
  • Murid secara individu mengerjakan Lembar Kerja Sikap untuk menunjukkan dan memilih sikap penerapan Catur Paramitha berdasarkan 4 butir pernyataan keteladanan tokoh Ramayana (butir 1: 'Bersikap tulus menerima keberhasilan teman meniru ketulusan Rama' -> Mudita; butir 2: 'Berkata jujur apa adanya walau dalam keadaan sulit seperti Dewi Sita' -> Upeksa; butir 3: 'Membantu teman yang kesusahan tanpa pamrih seperti ketulusan Rama membela kebenaran' -> Karuna; butir 4: 'Bertutur kata manis dan bersahabat tulus meniru kelembutan Dewi Sita' -> Maitri) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru memeriksa kebenaran hasil pengelompokan sikap penerapan Catur Paramitha dan menyadari pentingnya meneladani kejujuran serta ketulusan tokoh Ramayana dalam perilaku nyata (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan konfirmasi dan umpan balik terhadap hasil pengerjaan murid mengenai ketepatan menunjukkan sikap Catur Paramitha (3 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan kegiatan hari ini bahwa kejujuran dan ketulusan tokoh Rama dan Dewi Sita merupakan wujud nyata ajaran Catur Paramitha (1 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama Parama Santhi 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar bantu visual berisi ikon dan nama 4 bagian Catur Paramitha untuk murid yang membutuhkan bantuan pemahaman.
  • Proses: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru mendampingi pemasangan kartu contoh; bagi murid yang lebih cepat, diberikan tantangan tambahan mengklasifikasikan 2 skenario sikap ketulusan tokoh Laksmana dan Wibisana.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan pilihan sikap Catur Paramitha melalui cara menarik garis pasangan atau melingkari kode pilihan bagian Catur Paramitha.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: (1) 'Sebutkan 4 bagian Catur Paramitha!' (acuan jawaban: Maitri, Karuna, Mudita, Upeksa); (2) 'Siapakah tokoh Ramayana yang tetap jujur dan setia menjaga kesucian dirinya saat diculik Rahwana?' (acuan jawaban: Dewi Sita).

Proses:

  • Observasi pengerjaan Lembar Kerja Sikap: Murid menunjukkan sikap penerapan Catur Paramitha dengan memilih/menjodohkan 4 pernyataan sikap keteladanan Rama dan Dewi Sita dengan bagian Catur Paramitha yang sesuai. Butir dan acuan jawaban: Butir 1: 'Bersikap tulus menerima keberhasilan teman meniru ketulusan Rama' -> Mudita; Butir 2: 'Berkata jujur apa adanya walau dalam keadaan sulit seperti Dewi Sita' -> Upeksa; Butir 3: 'Membantu teman yang kesusahan tanpa pamrih seperti ketulusan Rama membela kebenaran' -> Karuna; Butir 4: 'Bertutur kata manis dan bersahabat tulus meniru kelembutan Dewi Sita' -> Maitri.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat lisan di akhir sesi: Menyebutkan pasangan sikap kejujuran Dewi Sita dengan bagian Catur Paramitha yang sesuai (acuan jawaban: Dewi Sita yang jujur dan teguh berpegang pada kebenaran meneladankan ajaran Upeksa).

Formatif:

  • Penilaian tes lisan diagnostik pada kegiatan awal
  • Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Kerja Sikap pada kegiatan inti

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan menunjukkan sikap penerapan Catur Paramitha berdasarkan keteladanan kejujuran dan ketulusan tokoh RamayanaHanya mampu menunjukkan 1 dari 4 sikap penerapan Catur Paramitha sesuai acuan (acuan 4 butir: Butir 1 -> Mudita; Butir 2 -> Upeksa; Butir 3 -> Karuna; Butir 4 -> Maitri) dengan bimbingan penuh guru.Mampu menunjukkan 2 dari 4 sikap penerapan Catur Paramitha sesuai acuan (acuan 4 butir: Butir 1 -> Mudita; Butir 2 -> Upeksa; Butir 3 -> Karuna; Butir 4 -> Maitri) secara terbimbing.Mampu menunjukkan 3 dari 4 sikap penerapan Catur Paramitha sesuai acuan (acuan 4 butir: Butir 1 -> Mudita; Butir 2 -> Upeksa; Butir 3 -> Karuna; Butir 4 -> Maitri) secara tepat.Mampu menunjukkan seluruh 4 dari 4 sikap penerapan Catur Paramitha sesuai acuan (acuan 4 butir: Butir 1 -> Mudita; Butir 2 -> Upeksa; Butir 3 -> Karuna; Butir 4 -> Maitri) secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas berpasangan kartu 'Pasangan Kebajikan' efektif membantu murid menghubungkan nilai tokoh dengan bagian Catur Paramitha?
  • Apakah seluruh murid sudah mampu menunjukkan sikap penerapan Catur Paramitha berlandaskan nilai kejujuran dan ketulusan tokoh Ramayana?

Murid:

  • Keteladanan kejujuran atau ketulusan tokoh Ramayana mana yang paling kamu kagumi hari ini?
  • Bagian mana dari ajaran Catur Paramitha yang paling mudah kamu tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari?

Pertemuan 4 — Mempraktikkan Ajaran Tri Parartha dalam Kehidupan Sehari-hari Berlandaskan Nilai Persaudaraan Kisah Ramayana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.3 Mempraktikkan ajaran Tri Parartha dalam kehidupan sehari-hari berlandaskan nilai persaudaraan kisah Ramayana

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu', doa bersama Gayatri Mantram, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mempraktikkan ajaran Tri Parartha (khususnya Asih/kasih sayang dan Punia/saling menolong) berlandaskan keteladanan persaudaraan Rama dan Laksmana dalam kisah Ramayana (5 menit).
  • Asesmen Awal: Guru memberikan kuis diagnostik singkat berupa 2 pertanyaan lisan kepada murid: (1) 'Siapakah saudara Rama yang dengan setia menemaninya saat diasingkan ke hutan?' (acuan: Laksmana); (2) 'Sebutkan 1 bagian dari Tri Parartha yang berarti saling mengasihi atau menyayangi sesama!' (acuan: Asih). Guru mencatat kesiapan awal murid (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak ulasan singkat guru berlandaskan Buku Siswa tentang keteladanan persaudaraan Rama dan Laksmana serta kaitannya dengan ajaran Tri Parartha (Asih: ketulusan menyayangi saudara; Punia: kerelaan membantu dan berbagi dengan saudara; Bhakti: rasa hormat dan bakti kepada saudara yang lebih tua) (10 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil (beranggotakan 3-4 anak) mencermati Lembar Panduan Praktik yang memuat 3 skenario situasi persaudaraan di lingkungan sehari-hari: (1) Skenario A: Saudara/teman sekelas lupa membawa alat tulis saat akan menggambar; (2) Skenario B: Saudara di rumah merasa lelah dan kesulitan merapikan mainan/buku setelah belajar bersama; (3) Skenario C: Saudara/teman tampak bersedih karena tidak memiliki teman bermain saat jam istirahat (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Aktivitas Menggembirakan 'Estafet Aksi Sahabat': Setiap kelompok memilih 2 dari 3 skenario situasi yang disediakan, kemudian secara bergantian memainkan peran (role play simulasi langsung) mempraktikkan tindakan nyata ajaran Tri Parartha (tindakan Asih dan Punia) berlandaskan persaudaraan Rama-Laksmana (20 menit).
  • Praktik simulasi kelompok dinilai langsung oleh guru dengan fokus tindakan nyata: pada Skenario A, murid mempraktikkan meminjamkan alat tulis dengan tutur kata ramah (Punia & Asih); pada Skenario B, murid mempraktikkan bersama-sama merapikan buku tanpa mengeluh (Punia & Asih); pada Skenario C, murid mempraktikkan menyapa dan mengajak bermain bersama dengan hangat (Asih) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap kelompok mengungkapkan satu perasaan berkesadaran setelah mempraktikkan tindakan peduli kepada sesama saudara/teman di kelas (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap tindakan nyata Tri Parartha yang telah diperagakan dan mengaitkannya kembali dengan keluhuran persaudaraan Rama dan Laksmana (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan praktik ajaran Tri Parartha (Asih, Punia, Bhakti) yang telah dilakukan berlandaskan nilai persaudaraan kisah Ramayana (5 menit).
  • Guru memberikan lembar cek pemahaman singkat akhir sesi dan menutup pertemuan dengan doa parama santi 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan berisi contoh kalimat ajakan dan tindakan langsung untuk skenario; murid yang sudah mahir diberikan tantangan memperagakan 3 skenario sekaligus secara mandiri.
  • Proses: Pada kegiatan simulasi, murid yang ragu didampingi guru dengan peragaan bersama teman sebangku, sedangkan kelompok yang mandiri langsung bermain peran secara terstruktur.
  • Produk: Unjuk kerja praktik tindakan Tri Parartha dapat diperagakan secara lisan-tindakan (role-play) langsung di depan kelompok sebaya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: (1) Siapakah saudara Rama yang setia mendampingi saat diasingkan ke hutan? (acuan: Laksmana); (2) Sebutkan bagian Tri Parartha yang berarti mengasihi atau menyayangi sesama! (acuan: Asih).

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja praktik simulasi tindakan Tri Parartha (Asih dan Punia) pada 3 skenario situasi persaudaraan: Skenario A (meminjamkan alat tulis secara sukarela dan ramah), Skenario B (membantu merapikan barang/buku bersama saudara tanpa mengeluh), Skenario C (mengajak teman/saudara yang menyendiri untuk beraktivitas bersama secara tulus).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat akhir sesi: Murid menyebutkan 1 tindakan nyata Tri Parartha yang baru saja dipraktikkannya terhadap teman/saudara (kriteria penerimaan: tindakan mencakup unsur Asih seperti bertutur ramah/menghibur, atau Punia seperti berbagi/menolong alat belajar).

Formatif:

  • Unjuk kerja pengamatan praktik simulasi tindakan Tri Parartha berlandaskan persaudaraan Ramayana (skenario A, B, atau C)
  • Tanya jawab diagnostik awal kesiapan pengetahuan tokoh Ramayana dan Tri Parartha

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Ajaran Tri Parartha Berlandaskan Nilai Persaudaraan RamayanaBelum mampu mempraktikkan tindakan Asih maupun Punia dalam skenario simulasi persaudaraan meskipun telah diberi bimbingan langsung.Mampu mempraktikkan 1 tindakan Asih atau Punia dalam skenario simulasi persaudaraan dengan arahan dan bimbingan guru.Mampu mempraktikkan 2 tindakan nyata Tri Parartha (Asih dan Punia) secara tepat sesuai skenario simulasi persaudaraan secara berpasangan/kelompok.Mampu mempraktikkan seluruh tindakan Tri Parartha (Asih, Punia, dan Bhakti) secara tepat, konsisten, dan mandiri pada 3 skenario simulasi persaudaraan tanpa perlu diarahkan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas role play simulasi konkret memudahkan murid mempraktikkan ajaran Tri Parartha?
  • Bagaimana keterlibatan setiap murid dalam kelompok saat memeragakan nilai persaudaraan Rama-Laksmana?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu saat mempraktikkan sikap menolong dan mengasihi teman/saudara hari ini?
  • Tindakan kasih sayang apa yang ingin segera kamu lakukan kepada saudaramu di rumah hari ini?

Pertemuan 5 — Mempraktikkan Ajaran Catur Paramitha Berupa Perilaku Rela Berkorban dan Saling Menolong Berlandaskan Nilai Yajña Ramayana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.4 Mempraktikkan ajaran Catur Paramitha berupa perilaku rela berkorban dan saling menolong berlandaskan nilai yajña Ramayana

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa Gayatri bersama dengan sikap tenang dan hening (5 menit).
  • Guru mengecek kehadiran serta kesiapan belajar murid di kelas (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan 2 pertanyaan lisan: (1) 'Dalam kisah Ramayana, siapakah tokoh yang rela terluka demi menolong Dewi Sita?' (Acuan: Burung Jatayu); (2) 'Ajaran Catur Paramitha apa yang mengajarkan kita belas kasih untuk menolong sesama?' (Acuan: Karuna). Guru mencatat kesiapan murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mempraktikkan ajaran Catur Paramitha berupa perilaku rela berkorban dan saling menolong berlandaskan nilai yajña dalam kisah Ramayana (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan guru tentang keteladanan tokoh Burung Jatayu yang berkorban jiwa raga tanpa pamrih (nilai yajña) demi menyelamatkan Dewi Sita, yang merupakan perwujudan ajaran Catur Paramitha (khususnya Karuna/belas kasih dan Maitri/persahabatan) (10 menit).
  • Murid mencermati 4 kartu skenario situasi nyata di lingkungan sekolah: (1) Skenario A: 'Teman sebangku terjatuh saat lari di halaman dan lututnya terluka'; (2) Skenario B: 'Teman tidak membawa pensil tulis saat jam pelajaran dimulai'; (3) Skenario C: 'Buku perpustakaan yang dibawa teman terjatuh dan berantakan di lantai koridor'; (4) Skenario D: 'Seorang teman merasa sedih dan sendirian karena bekal makannya tumpah' (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibimbing membentuk kelompok berpasangan untuk memainkan 'Tantangan Aksi Satya Berkorban' (permainan simulasi peran cepat dan menggembirakan), di mana setiap pasangan mengambil satu dari 4 kartu skenario (15 menit).
  • Setiap pasangan murid mempraktikkan secara langsung perilaku rela berkorban dan saling menolong di depan kelas sesuai skenario yang didapat dengan tindakan nyata: Skenario A dipraktikkan dengan membantu memapah teman ke UKS/membersihkan luka; Skenario B dipraktikkan dengan rela meminjamkan pensil cadangannya secara tulus; Skenario C dipraktikkan dengan berjongkok memungut dan merapikan tumpukan buku bersama teman; Skenario D dipraktikkan dengan membagikan sebagian bekal makanan yang dibawa kepada teman (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya duduk melingkar dan merefleksikan perasaan mereka saat mempraktikkan pengorbanan dan pertolongan tanpa mengharapkan imbalan sebagaimana teladan yajña Jatayu (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung dan apresiasi atas ketulusan praktik pertolongan yang telah diperagakan oleh murid (10 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan pentingnya mempraktikkan nilai yajña melalui saling menolong dalam kehidupan sehari-hari, kemudian menutup pertemuan dengan doa parama santi 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu skenario bergambar visual sederhana (Skenario B atau C), sedangkan murid yang mandiri diberikan kartu skenario teks yang membutuhkan aksi pertolongan ganda (Skenario A atau D).
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru dengan petunjuk langkah aksi pertolongan per bagian; murid yang mahir langsung mempraktikkan tindakan pertolongan secara mandiri bersama pasangannya.
  • Produk: Semua murid mendemonstrasikan tindakan fisik pertolongan dan pengorbanan sesuai skenario, baik dalam 1 aksi langsung maupun rangkaian aksi terpadu.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik kesiapan materi: (1) Pertanyaan: 'Siapakah tokoh Ramayana yang rela berkorban demi menolong Dewi Sita?' (Acuan jawaban: Burung Jatayu); (2) Pertanyaan: 'Sebutkan bagian Catur Paramitha yang artinya belas kasihan suka menolong!' (Acuan jawaban: Karuna).

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja simulasi peran: Murid mempraktikkan aksi saling menolong dan rela berkorban sesuai salah satu dari 4 skenario. Kriteria penerimaan tindakan: (1) Skenario A: tindakan memapah/mengobati teman jatuh; (2) Skenario B: tindakan meminjamkan alat tulis miliknya sendiri tanpa pamrih; (3) Skenario C: tindakan ikut berjongkok dan merapikan buku yang jatuh; (4) Skenario D: tindakan membagi makanan bekal secara tulus.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi lisan akhir pertemuan: Murid menyebutkan 1 wujud tindakan rela berkorban atau menolong teman yang telah berhasil ia praktikkan di kelas hari ini (Kriteria penerimaan: tindakan berupa meminjamkan barang, merapikan barang teman, membagi makanan, atau memapah teman tanpa meminta imbalan).

Formatif:

  • Unjuk kerja praktik simulasi perilaku rela berkorban dan saling menolong berlandaskan nilai yajña Ramayana sesuai kartu skenario situasi nyata.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Perilaku Saling Menolong dan Rela Berkorban (Catur Paramitha & Nilai Yajña)Belum mampu mempraktikkan tindakan saling menolong atau rela berkorban sesuai skenario situasi meskipun telah diarahkan oleh guru.Mampu mempraktikkan sebagian kecil tindakan saling menolong sesuai skenario (misal: hanya menunjuk barang yang jatuh atau sekadar mendekati teman), namun belum menunjukkan tindakan rela berkorban secara nyata tanpa bantuan penuh guru.Mampu mempraktikkan tindakan saling menolong dan rela berkorban secara tepat sesuai salah satu dari 4 skenario (memapah teman/meminjamkan pensil/merapikan buku/membagi bekal) dengan arahan minimal.Mampu mempraktikkan tindakan saling menolong dan rela berkorban secara tepat, cekatan, dan tulus tanpa ragu sesuai skenario (memapah teman/meminjamkan pensil/merapikan buku/membagi bekal) secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan simulasi peran berhasil mengondisikan murid untuk merasakan langsung makna berkorban dan saling menolong?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang pemalu dalam memeragakan praktik pertolongan di depan kelas?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu setelah menolong temanmu dalam simulasi tadi tanpa meminta balasan?
  • Tindakan pertolongan apa yang ingin kamu lakukan untuk temanmu di kelas besok pagi?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.1 Menunjukkan contoh penerapan ajaran Tri Parartha melalui nilai kasih sayang dan penghormatan dalam kisah Ramayana
  • TP 4.1.2 Menunjukkan sikap penerapan ajaran Catur Paramitha berdasarkan keteladanan kejujuran dan ketulusan tokoh Ramayana
  • TP 4.1.3 Mempraktikkan ajaran Tri Parartha dalam kehidupan sehari-hari berlandaskan nilai persaudaraan kisah Ramayana
  • TP 4.1.4 Mempraktikkan ajaran Catur Paramitha berupa perilaku rela berkorban dan saling menolong berlandaskan nilai yajña Ramayana

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam panganjali 'Om Swastyastu' dan doa bersama untuk menumbuhkan ketenangan batin sebelum asesmen (3 menit).
  • Guru menyampaikan tata tertib asesmen sumatif unjuk kerja simulasi dan mekanisme tes lisan rotasi meja guru secara tertib dan jelas (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid dalam 7 kelompok (masing-masing 4 murid) mencermati skenario tugas simulasi peragaan dan instruksi giliran tes lisan meja guru: (Kelompok 1) Membantu teman yang terjatuh di halaman sekolah (wujud karuna/saling menolong dan asih); (Kelompok 2) Berbagi bekal makanan kepada teman yang lupa membawa makan siang tanpa pamrih (wujud punia/rela berkorban dan ketulusan); (Kelompok 3) Menyapa dan memberi salam panganjali penuh hormat kepada guru dan orang tua di sekolah (wujud bhakti/penghormatan); (Kelompok 4) Bekerja bakti merapikan ruang kelas secara rukun dan damai tanpa berselisih (wujud maitri/persaudaraan); (Kelompok 5) Mengembalikan pensil milik teman yang tertinggal di laci meja dengan jujur (wujud satya/kejujuran); (Kelompok 6) Membimbing teman yang kesulitan membaca sloka dengan sabar dan penuh kasih (wujud mudita dan asih); (Kelompok 7) Menjaga ketertiban dan tidak mengejek teman yang sedang bersembahyang (wujud upeksa dan kerukunan persaudaraan) (7 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Sebanyak 7 kelompok secara bergantian menampilkan simulasi unjuk kerja peragaan perilaku tolong-menolong, kerukunan, kasih sayang, dan penghormatan sesuai skenario masing-masing dengan alokasi 7 menit per kelompok (total 7 kelompok x 7 menit = 49 menit) (49 menit).
  • Secara paralel saat jeda dan rotasi antar-kelompok, guru memanggil murid satu per satu ke meja guru untuk tes lisan rotasi selama 2 menit per murid (total 28 murid x 2 menit = 56 menit) dengan panduan pertanyaan lisan: 'Sebutkan 1 contoh sikap jujur tokoh Rama atau Laksamana dalam Ramayana dan bagaimana kamu menerapkannya pada teman?' (Acuan jawaban benar: Tokoh Rama selalu jujur dan menepati janji ayahnya/Dasaratha pergi ke hutan, penerapannya murid berbicara jujur tidak berbohong kepada teman; atau tokoh Laksamana setia dan tulus mendampingi kakaknya tanpa mengharap imbalan tahta, penerapannya murid tulus meminjamkan alat tulis/membantu teman tanpa pamrih) (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru menyimpulkan keseluruhan pelaksanaan praktik nilai Ramayana dan merefleksikan rasa kebersamaan serta ketulusan yang dirasakan selama menyelesaikan tugas sumatif unjuk kerja dan tes lisan (4 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi kepada seluruh kelompok dan individu atas kedisiplinan serta penghayatan nilai dharma selama asesmen sumatif berlangsung (2 menit).
  • Guru menutup seluruh rangkaian pembelajaran Bab 1 dengan doa bersama dan parama santi 'Om Santih, Santih, Santih Om' (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses penyampaian panduan tugas unjuk kerja dan pertanyaan lisan secara visual melalui kartu skenario bagi murid yang membutuhkan kejelasan instruksi tanpa mengubah kompetensi yang dinilai.
  • Proses: Pemberian jeda waktu beberapa detik bagi murid yang membutuhkan waktu untuk menyusun kalimat respons saat tes lisan rotasi di meja guru.
  • Produk: Standar bukti kinerja simulasi kelompok dan respons tes lisan individu tetap seragam mengacu pada rubrik sumatif yang ditetapkan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Cek kesiapan awal pelaksanaan asesmen sumatif: pemeriksaan kehadiran murid dan verifikasi kesiapan 7 kelompok simulasi serta kelengkapan meja guru untuk sesi tes lisan (acuan kesiapan: seluruh 28 murid terbagi dalam 7 kelompok @ 4 orang dan tertib menempati area simulasi).

Proses:

  • Observasi keterlibatan dan kepatuhan murid terhadap alokasi waktu giliran tampil unjuk kerja dan rotasi tes lisan meja guru.

Sumatif Bab:

  • penilaian unjuk kerja kelompok dan tes lisan rotasi meja guru: rubrik observasi unjuk kerja simulasi perilaku rukun dan tolong-menolong berbasis Tri Parartha dan Catur Paramitha serta catatan respons tanya jawab lisan tentang keteladanan tokoh Ramayana
  • unjuk kerja simulasi kelompok: kinerja peragaan terstruktur dalam 7 kelompok (masing-masing 4 murid) yang mendemonstrasikan tindakan tolong-menolong, kerukunan, serta kasih sayang dan penghormatan sesama sesuai nilai Ramayana (masing-masing kelompok tampil 7 menit: 7 x 7 = 49 menit) (49 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pengamalan Tri Parartha dan Catur Paramitha)
  • tes lisan terstruktur rotasi: tanya jawab lisan singkat 2 menit per murid secara bergiliran di meja guru mengenai keteladanan sifat jujur dan tulus tokoh Ramayana dalam pergaulan sehari-hari sementara murid lain mempersiapkan atau menyimak peragaan (56 menit / 2 menit = 28 murid, muat satu kelas penuh) (56 menit; individual; instrumen: panduan pertanyaan lisan dan pedoman penskoran)

Sumatif:

  • penilaian unjuk kerja kelompok dan tes lisan rotasi meja guru: rubrik observasi unjuk kerja simulasi perilaku rukun dan tolong-menolong berbasis Tri Parartha dan Catur Paramitha serta catatan respons tanya jawab lisan tentang keteladanan tokoh Ramayana
  • unjuk kerja simulasi kelompok: kinerja peragaan terstruktur dalam 7 kelompok (masing-masing 4 murid) yang mendemonstrasikan tindakan tolong-menolong, kerukunan, serta kasih sayang dan penghormatan sesama sesuai nilai Ramayana (masing-masing kelompok tampil 7 menit: 7 x 7 = 49 menit) (49 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pengamalan Tri Parartha dan Catur Paramitha)
  • tes lisan terstruktur rotasi: tanya jawab lisan singkat 2 menit per murid secara bergiliran di meja guru mengenai keteladanan sifat jujur dan tulus tokoh Ramayana dalam pergaulan sehari-hari sementara murid lain mempersiapkan atau menyimak peragaan (56 menit / 2 menit = 28 murid, muat satu kelas penuh) (56 menit; individual; instrumen: panduan pertanyaan lisan dan pedoman penskoran)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Unjuk Kerja Simulasi Tolong-Menolong dan Kerukunan (Tri Parartha & Catur Paramitha)Belum mampu memperagakan tindakan tolong-menolong, kerukunan, maupun kasih sayang dan penghormatan sesuai skenario tugas kelompok yang ditentukan.Memperagakan sebagian kecil tindakan tolong-menolong atau kerukunan sesuai skenario tugas kelompok, namun belum konsisten dan masih membutuhkan banyak arahan guru.Mampu memperagakan tindakan tolong-menolong, kerukunan, serta kasih sayang dan penghormatan secara terstruktur sesuai skenario tugas kelompok yang ditentukan dengan mandiri.Mampu memperagakan tindakan tolong-menolong, kerukunan, serta kasih sayang dan penghormatan secara terstruktur, luwes, dan sepenuhnya konsisten menghayati peran sesuai skenario tugas kelompok tanpa arahan guru.
Ketepatan Respons Tes Lisan Keteladanan Jujur dan Tulus Tokoh RamayanaBelum mampu menyebutkan contoh keteladanan sikap jujur atau tulus tokoh Ramayana dan penerapannya dalam pergaulan sehari-hari.Menyebutkan 1 contoh tokoh Ramayana (Rama atau Laksamana) namun belum tepat mengaitkan sikap jujur atau tulusnya dengan tindakan nyata dalam pergaulan sehari-hari.Tepat menyebutkan 1 keteladanan sikap jujur tokoh Rama (setia menepati janji/satya) atau ketulusan tokoh Laksamana (ikhlas berkorban mendampingi Rama) beserta 1 contoh penerapannya dalam pergaulan dengan teman (berkata jujur tidak bohong / tulus membantu meminjamkan alat tulis tanpa pamrih).Tepat menyebutkan keteladanan sikap jujur tokoh Rama (setia menepati janji) DAN ketulusan tokoh Laksamana (tulus berkorban mendampingi) secara lengkap beserta contoh penerapannya yang nyata dan jelas dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 49 menit unjuk kerja kelompok dan 56 menit rotasi tes lisan meja guru terlaksana secara efisien dan objektif untuk 28 murid?
  • Bagaimana ketercapaian seluruh murid kelas 4 pada TP 4.1.1 sampai 4.1.4 berdasarkan hasil asesmen sumatif hari ini?

Murid:

  • Bagian mana dari peragaan simulasi tolong-menolong dan rukun bersama teman yang paling berkesan bagiku?
  • Apakah aku sudah mampu meneladani kejujuran Rama dan ketulusan Laksamana saat berbicara dan membantu teman di sekolah?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021)
  2. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021, Bab 1 Subbab 1)
  3. Set kartu pernyataan situasi kasih sayang keluarga kisah Ramayana
  4. Gambar ilustrasi keluarga Prabu Dasaratha (Kosalya, Kekayi, Sumitra, Rama, Bharata, Laksmana, Satrugna)
  5. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Bab 1 Subbab 4.
  6. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV.
  7. Kartu bergambar cerita Ramayana (Rama mematuhi perintah Prabu Dasaratha) dan set kartu pernyataan tindakan sehari-hari.
  8. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021)
  9. Kartu skenario keteladanan tokoh Ramayana dan kartu Catur Paramitha
  10. Lembar Kerja Murid: Menunjukkan Sikap Penerapan Catur Paramitha
  11. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021, Bab 1 Subbab 4)
  12. Kartu skenario situasi praktik persaudaraan Rama-Laksmana
  13. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, 2021
  14. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, 2021
  15. 4 Kartu Skenario Situasi Tolong-Menolong Sekolah
  16. Properti simulasi sederhana (pensil cadangan, buku cerita, kotak bekal)
  17. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SD Kelas IV (Bab 1 Nilai-Nilai Dalam Ramayana).
  18. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SD Kelas IV.
  19. Lembar Instrumen Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Simulasi dan Panduan Pertanyaan Tes Lisan.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.