Modul AjarPertemuan 5Bab 4Fase ASemester 2

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 1: Tata Cara Sembahyang: Sikap-Sikap dalam Persembahyangan

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas 1 dengan topik "Tata Cara Sembahyang: Sikap-Sikap dalam Persembahyangan". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 1: Tata Cara Sembahyang: Sikap-Sikap dalam Persembahyangan

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti - Kelas 1

Bab 4 - Pertemuan 5

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti — Kelas 1 (Fase A)

Topik: Tata Cara Sembahyang: Sikap-Sikap dalam Persembahyangan

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase A / Kelas 1
TopikTata Cara Sembahyang: Sikap-Sikap dalam Persembahyangan
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat mempraktikkan sikap-sikap dalam persembahyangan (amustikarana, asana, padasana, padmasana, bajrasana) dengan urutan yang benar
  2. Murid dapat menjelaskan bahwa melaksanakan tata cara sembahyang dengan benar merupakan perbuatan baik (Subha Karma) sebagai bentuk bhakti kepada Hyang Widhi Wasa

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Siapa yang pernah melihat orang sembahyang di pura? Bagaimana sikap duduknya?
  2. Mengapa kita harus duduk dengan sikap yang benar saat sembahyang?
  3. Apa yang kalian rasakan saat duduk dengan tenang?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama
  • Guru melakukan asesmen awal dengan menanyakan pengalaman murid tentang sembahyang: 'Siapa yang pernah sembahyang bersama keluarga? Bagaimana sikap kalian saat sembahyang?'
  • Guru menunjukkan gambar orang sembahyang dengan berbagai sikap dan bertanya 'Apa perbedaan sikap-sikap ini?'
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: hari ini kita akan belajar sikap-sikap yang benar saat sembahyang dan mengapa kita harus melakukannya dengan baik

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menjelaskan bahwa sikap yang benar saat sembahyang adalah bentuk hormat kita kepada Hyang Widhi Wasa, dan ini disebut Subha Karma (perbuatan baik)
  • Guru menunjukkan gambar urutan sikap sembahyang: amustikarana (sikap tangan), padasana (berdiri), padmasana (bersila untuk laki-laki), bajrasana (bertimpuh untuk perempuan)
  • Murid mengamati setiap gambar dengan saksama dan guru menjelaskan nama serta fungsi setiap sikap
  • Guru menjelaskan perbedaan sikap untuk laki-laki dan perempuan, serta sikap sawasana khusus untuk orang sakit
  • Murid mendengarkan penjelasan bahwa sikap yang benar menunjukkan bhakti kita kepada Hyang Widhi

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru mengatur ruang kelas agar murid dapat duduk dengan nyaman dan leluasa
  • Guru mendemonstrasikan sikap amustikarana: kedua telapak tangan disatukan di depan dada dengan jari-jari rapat
  • Murid mempraktikkan sikap amustikarana sambil guru berkeliling memeriksa dan membetulkan posisi tangan
  • Guru mendemonstrasikan sikap padasana (berdiri tegak) lalu murid mempraktikkan bersama-sama
  • Guru mendemonstrasikan sikap padmasana (bersila) untuk murid laki-laki dan sikap bajrasana (bertimpuh) untuk murid perempuan
  • Murid mempraktikkan sikap sesuai jenis kelamin masing-masing dengan bimbingan guru
  • Guru mengajak murid mempraktikkan urutan lengkap: amustikarana → padasana → padmasana/bajrasana sambil melafalkan mantram sederhana
  • Murid berlatih berulang-ulang hingga gerakan menjadi lancar dan benar

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid duduk tenang dan bertanya: 'Bagaimana perasaan kalian setelah mempraktikkan sikap sembahyang yang benar?'
  • Murid berbagi pengalaman: sikap mana yang paling mudah, mana yang masih sulit
  • Guru mengajak murid merefleksi: 'Mengapa kita harus bersikap benar saat sembahyang? Apa artinya bagi Hyang Widhi?'
  • Murid menyampaikan pemahaman bahwa sikap benar adalah Subha Karma dan menunjukkan rasa hormat kepada Hyang Widhi
  • Guru membimbing murid menyimpulkan: melakukan sembahyang dengan sikap benar adalah bhakti kita kepada Hyang Widhi Wasa

Penutup:

  • Guru melakukan asesmen akhir dengan meminta 3-4 murid mempraktikkan kembali urutan sikap sembahyang secara individual
  • Guru memberikan apresiasi kepada semua murid atas usaha mereka belajar hari ini
  • Guru memberikan tugas rumah: berlatih sikap sembahyang bersama orang tua di rumah
  • Guru menutup pembelajaran dengan doa bersama dan salam 'Om Santih Santih Santih Om'

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang cepat memahami, guru menambahkan penjelasan tentang makna filosofis setiap sikap. Untuk murid yang lambat, guru fokus pada penguasaan 3 sikap utama: amustikarana, padasana, dan padmasana/bajrasana
  • Proses: Murid yang cepat dapat langsung mempraktikkan urutan lengkap dengan mandiri. Murid yang lambat dibimbing satu per satu dengan bantuan teman sebaya (peer tutoring) atau pendampingan intensif guru
  • Produk: Murid yang cepat diminta mendemonstrasikan di depan kelas dan menjelaskan setiap sikap. Murid yang lambat cukup mempraktikkan dengan bimbingan tanpa harus menjelaskan

ASESMEN

Awal:

  • Tanya jawab lisan tentang pengalaman murid sembahyang di rumah atau pura
  • Guru meminta murid menunjukkan sikap yang biasa mereka lakukan saat sembahyang

Proses:

  • Observasi selama murid mempraktikkan setiap sikap (amustikarana, padasana, padmasana, bajrasana)
  • Checklist: apakah posisi tangan, kaki, dan badan sudah benar
  • Penilaian diri: murid mengangkat tangan jika merasa sudah bisa melakukan sikap dengan benar

Akhir:

  • Praktik individu: 3-4 murid mempraktikkan urutan lengkap sikap sembahyang secara bergiliran
  • Tanya jawab: murid menjelaskan bahwa sikap benar adalah Subha Karma dan bentuk bhakti kepada Hyang Widhi
  • Pengamatan: guru mencatat murid yang sudah menguasai, mulai menguasai, atau masih perlu bimbingan

Formatif:

  • Observasi saat murid mempraktikkan setiap sikap sembahyang
  • Tanya jawab lisan tentang nama dan fungsi sikap
  • Penilaian sejawat saat berlatih berpasangan

Sumatif:

  • Praktik individu: murid mempraktikkan urutan lengkap sikap sembahyang
  • Lisan: murid menjelaskan mengapa melakukan sembahyang dengan benar adalah Subha Karma

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik sikap amustikaranaMurid belum bisa menyatukan kedua telapak tangan dengan benar, jari-jari tidak rapatMurid dapat menyatukan telapak tangan namun posisinya belum tepat di depan dada atau jari-jari belum rapatMurid dapat melakukan sikap amustikarana dengan benar: telapak tangan menyatu, jari rapat, di depan dada, namun masih perlu diingatkanMurid melakukan sikap amustikarana dengan sempurna secara mandiri tanpa bantuan
Praktik sikap asana (padasana, padmasana, bajrasana)Murid belum bisa melakukan sikap duduk dengan benar, posisi kaki dan badan tidak stabilMurid dapat melakukan sikap duduk namun posisi masih belum sempurna, perlu banyak bantuan guruMurid dapat melakukan sikap duduk sesuai jenis kelamin dengan benar, kadang masih perlu diingatkanMurid melakukan sikap duduk dengan sempurna, posisi stabil, dan mandiri
Urutan sikap sembahyangMurid belum dapat mengikuti urutan sikap dengan benar, sering tertukarMurid dapat mengikuti urutan dengan bantuan guru, kadang masih lupa urutannyaMurid dapat melakukan urutan dengan benar namun masih perlu konfirmasi guruMurid melakukan urutan lengkap dengan benar dan lancar secara mandiri
Pemahaman Subha KarmaMurid belum bisa menjelaskan mengapa harus melakukan sembahyang dengan benarMurid dapat menyebutkan bahwa sembahyang yang benar adalah perbuatan baik, namun belum bisa menjelaskan kaitannya dengan Hyang WidhiMurid dapat menjelaskan bahwa sembahyang dengan benar adalah Subha Karma dan bentuk hormat kepada Hyang WidhiMurid dapat menjelaskan dengan lengkap bahwa melakukan tata cara sembahyang dengan benar adalah Subha Karma sebagai wujud bhakti kepada Hyang Widhi Wasa

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid dapat mengikuti demonstrasi dengan baik?
  • Sikap mana yang paling sulit dipahami murid dan bagaimana cara memperbaiki strategi mengajarnya?
  • Apakah alokasi waktu cukup untuk praktik berulang-ulang?
  • Bagaimana cara meningkatkan keterlibatan murid yang masih pasif?
  • Apakah diferensiasi yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan murid?

Refleksi Murid:

  • Sikap mana yang paling mudah kamu lakukan? Mengapa?
  • Sikap mana yang masih sulit? Apa yang akan kamu lakukan agar bisa?
  • Bagaimana perasaanmu saat mempraktikkan sikap sembahyang yang benar?
  • Mengapa kita harus melakukan sembahyang dengan sikap yang benar?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas I
  2. Buku Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas I
  3. Gambar cetak atau digital urutan sikap sembahyang (amustikarana, padasana, padmasana, bajrasana, sawasana)
  4. Ruang kelas yang cukup luas untuk praktik
  5. Matras atau alas duduk (jika tersedia)
  6. Lingkungan sekitar: pura atau tempat ibadah (untuk konteks nyata, jika memungkinkan)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.