Modul AjarBab 4Fase DSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 7 Bab 4: Menyayangi Diri Sendiri dan Sesama

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 7 untuk Bab 4 "Menyayangi Diri Sendiri dan Sesama", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 7 Bab 4: Menyayangi Diri Sendiri dan Sesama

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 7

Bab 4

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Bab 4 — Menyayangi Diri Sendiri dan Sesama

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase D / Kelas 7
TopikBab 4 — Menyayangi Diri Sendiri dan Sesama
Alokasi Waktu10 JP (10 x 40 menit = 400 menit)
Jumlah Pertemuan5
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 7.4.1 Merefleksikan sifat-sifat Buddha Sakyamuni dalam berperilaku terhadap diri sendiri
  2. TP 7.4.2 Merefleksikan meditasi hidup berkesadaran untuk menumbuhkan cinta kasih dalam menyayangi diri sendiri dan sesama
  3. TP 7.4.3 Merefleksikan hak dan kewajiban moral terhadap sesama dalam pergaulan remaja
  4. TP 7.4.4 Merefleksikan keteladanan tokoh Buddhis inspiratif dalam berperilaku terhadap sesama manusia

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana Buddha Sakyamuni memperlakukan dan menjaga diri-Nya sendiri sebelum dan sesudah mencapai Pencerahan Sempurna?
  2. Mengapa menyayangi dan mendisiplinkan diri sendiri merupakan cerminan dari meneladani sifat luhur Buddha?
  3. Apa yang kalian rasakan saat bernapas dengan tenang dan menyadari setiap tarikan napas?
  4. Mengapa sebelum membagikan cinta kasih kepada orang lain, kita perlu memancarkannya kepada diri sendiri terlebih dahulu?
  5. Mengapa dalam pergaulan sehari-hari bersama teman sebaya, kita tidak boleh hanya menuntut hak didengarkan tanpa mau mendengarkan orang lain?
  6. Bagaimana ajaran moral Buddhis menuntun kita untuk menyeimbangkan hak dan kewajiban moral agar tercipta kerukunan pertemanan?
  7. Siapakah tokoh Buddhis masa kini yang tindakannya menolong sesama paling menginspirasi kalian?
  8. Mengapa Master Cheng Yen dan Y.M. Dalai Lama XIV rela mendedikasikan hidupnya untuk melayani orang lain tanpa membedakan latar belakang?
  9. Nilai keteladanan apa dari tokoh Buddhis tersebut yang dapat kita renungkan dan terapkan saat memperlakukan teman di sekolah?
  10. Bagaimana keteladanan sifat Buddha Sakyamuni dan latihan meditasi hidup berkesadaran membimbing kita dalam menyayangi diri sendiri dan sesama?
  11. Mengapa pelaksanaan hak dan kewajiban moral serta meneladani tokoh Buddhis inspiratif sangat penting dalam pergaulan remaja sehari-hari?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Merefleksikan Sifat-Sifat Buddha Sakyamuni dalam Berperilaku terhadap Diri Sendiri — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.1 Merefleksikan sifat-sifat Buddha Sakyamuni dalam berperilaku terhadap diri sendiri

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid melantunkan doa pembuka serta duduk hening berkesadaran selama 2 menit untuk menenangkan batin (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berupa 2 pertanyaan: (1) 'Sebutkan 1 contoh sifat luhur Buddha Sakyamuni yang berhubungan dengan pengendalian diri!' (acuan jawaban: kebijaksanaan/panna, kemurnian batin/visuddhi, atau pengendalian diri/kesabaran/khanti); (2) 'Mengapa menyiksa diri sendiri bertentangan dengan ajaran Buddha?' (acuan jawaban: karena Buddha menolak tapa menyiksa diri/attakilamathanuyoga dan mengajarkan Jalan Tengah/Majjhima Patipada) (5 menit).
  • Guru mengaitkan jawaban murid dengan topik pembelajaran serta menyampaikan tujuan belajar pertemuan ini, yaitu merefleksikan sifat-sifat luhur Buddha Sakyamuni dalam memperlakukan dan menyayangi diri sendiri (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati bahan bacaan ringkas mengenai kisah penolakan Buddha terhadap penyiksaan diri ekstrem (attakilamathanuyoga) serta penemuan Jalan Tengah (Majjhima Patipada) sebagai wujud nyata kebijaksanaan (panna) dan cinta kasih (metta) kepada diri sendiri (10 menit).
  • Dalam aktivitas interaktif 'Tebak Sifat Luhur', murid secara berpasangan mencocokkan 3 narasi perilaku Buddha dengan sifat luhur yang sesuai: Narasi 1: Menolak berpuasa ekstrem dan menerima bubur beras Sujata -> Sifat Panna (kebijaksanaan menjaga kesehatan jasmani); Narasi 2: Menjaga kemurnian ucapan dan pikiran dari kekotoran batin -> Sifat Visuddhi (kemurnian diri); Narasi 3: Bertekad pantang menyerah bermeditasi di bawah pohon Bodhi tanpa menyakiti raga -> Sifat Viriya (semangat benar). Kunci acuan: Narasi 1 = Panna, Narasi 2 = Visuddhi, Narasi 3 = Viriya (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Kerja Refleksi Perilaku Diri yang memuat 3 studi kasus perilaku remaja sehari-hari terhadap diri sendiri: Kasus A: Begadang semalaman bermain game hingga sakit kepala; Kasus B: Berhenti mengonsumsi makanan tidak sehat dan mulai beristirahat teratur; Kasus C: Mengurung diri dan merasa putus asa saat gagal ujian (10 menit).
  • Murid menghubungkan dan mengkaji ketiga kasus tersebut dengan sifat luhur Buddha (Panna, Visuddhi, Viriya) serta menuliskan tindakan konkret yang selaras dengan teladan Buddha dalam memperlakukan diri sendiri. Kunci acuan penilaian: Kasus A bertentangan dengan sifat Panna/kebijaksanaan (solusi: mengatur waktu tidur secara disiplin); Kasus B selaras dengan sifat Panna/menyayangi raga (solusi: melanjutkan pola hidup seimbang); Kasus C bertentangan dengan sifat Viriya/semangat dan Metta pada diri (solusi: memaafkan diri sendiri, bangkit, dan belajar kembali) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Secara hening dan mandiri, murid menuliskan 1 komitmen reflektif pribadi di buku jurnal tentang bagaimana mereka akan meneladani sifat luhur Buddha (khususnya kebijaksanaan dan pengendalian diri) dalam menyayangi dan memperlakukan diri sendiri mulai hari ini (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran bahwa menyayangi diri sendiri menurut teladan Buddha bukanlah memanjakan hawa nafsu, melainkan menjaga jasmani dan batin dengan kebijaksanaan serta pengendalian diri (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap komitmen murid dan menutup sesi dengan doa penutup serta pelimpahan jasa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu bantuan berisi definisi singkat 3 sifat luhur Buddha (Panna, Visuddhi, Viriya); murid yang lebih cepat diberikan studi kasus tambahan mengenai kebiasaan self-harm emosional.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dalam menghubungkan narasi studi kasus dengan sifat luhur Buddha; murid yang mandiri langsung menganalisis dan merumuskan refleksi secara independen.
  • Produk: Refleksi tertulis dapat berupa poin-poin sederhana terstruktur bagi murid yang butuh bantuan, atau paragraf reflektif mendalam berlandaskan syair Mallika Sutta bagi murid yang telah mahir.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik singkat: (1) Sebutkan 1 contoh sifat luhur Buddha Sakyamuni terkait pengendalian diri (acuan: Panna/kebijaksanaan, Visuddhi/kemurnian, atau Khanti/kesabaran); (2) Mengapa menyiksa diri sendiri tidak dibenarkan oleh Buddha? (acuan: karena bertentangan dengan Jalan Tengah/Majjhima Patipada yang menjaga keseimbangan jasmani dan batin).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja analisis 3 kasus perilaku remaja terhadap diri sendiri: (1) Kasus A (begadang main game) dinilai ketepatan murid mengidentifikasi pertentangannya dengan sifat Panna dan merumuskan solusi disiplin waktu; (2) Kasus B (pola hidup teratur) dinilai ketepatan menghubungkan dengan sifat Panna; (3) Kasus C (putus asa saat gagal) dinilai ketepatan mengidentifikasi solusinya melalui sifat Viriya dan Metta pada diri sendiri (acuan lengkap sesuai kunci pada langkah aplikasi).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi personal di akhir pertemuan: Murid menuliskan satu kalimat refleksi diri yang memuat minimal 1 sifat luhur Buddha (Panna, Visuddhi, atau Viriya) yang dijadikan pedoman memperlakukan diri sendiri dalam aktivitas harian (kriteria: memuat nama sifat luhur dan contoh perilaku nyata terhadap diri sendiri).

Formatif:

  • Asesmen Awal: Tanya jawab lisan diagnostik tentang sifat luhur Buddha dan Jalan Tengah.
  • Asesmen Proses: Penilaian pengerjaan Lembar Kerja Refleksi Perilaku Diri (analisis 3 kasus perilaku terhadap diri sendiri berdasarkan sifat luhur Buddha Sakyamuni).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan sifat-sifat Buddha Sakyamuni dalam berperilaku terhadap diri sendiriBelum mampu menghubungkan sifat-sifat Buddha Sakyamuni (Panna, Visuddhi, Viriya) dengan perilaku terhadap diri sendiri pada ketiga studi kasus yang disajikan.Mampu menghubungkan 1 dari 3 studi kasus perilaku terhadap diri sendiri dengan sifat luhur Buddha Sakyamuni secara tepat sesuai acuan kunci jawaban.Mampu menghubungkan 2 dari 3 studi kasus perilaku terhadap diri sendiri dengan sifat luhur Buddha Sakyamuni secara tepat sesuai acuan kunci jawaban.Mampu menghubungkan seluruh (3 dari 3) studi kasus perilaku terhadap diri sendiri dengan sifat luhur Buddha Sakyamuni secara tepat sesuai acuan kunci jawaban serta merumuskan komitmen reflektif pribadi secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pada tiap tahap pembelajaran berkesadaran berjalan sesuai perencanaan?
  • Bagaimana keterlibatan murid saat merefleksikan perilaku pribadinya dikaitkan dengan keteladanan Buddha Sakyamuni?

Murid:

  • Sifat luhur Buddha manakah yang paling menyentuh hatiku untuk mulai diterapkan dalam menjaga diri sendiri?
  • Perilaku buruk terhadap diriku sendiri apa yang ingin segera kuubah setelah mempelajari teladan Jalan Tengah Buddha?

Pertemuan 2 — Merefleksikan Meditasi Hidup Berkesadaran untuk Menumbuhkan Cinta Kasih — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.2 Merefleksikan meditasi hidup berkesadaran untuk menumbuhkan cinta kasih dalam menyayangi diri sendiri dan sesama

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Namo Buddhaya, mengajak murid berdoa bersama, dan membimbing duduk hening singkat (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan terarah mengenai meditasi cinta kasih: (1) 'Siapakah objek pertama pemancaran cinta kasih dalam meditasi?' (acuan jawaban: diri sendiri) dan (2) 'Sebutkan 3 objek lanjutan pemancaran cinta kasih setelah diri sendiri!' (acuan jawaban: orang yang dihormati/dicintai, orang netral, dan musuh/orang yang tidak disukai) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, materi pokok mengenai meditasi hidup berkesadaran untuk menumbuhkan cinta kasih, serta langkah-langkah kegiatan yang akan dilaksanakan (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati tayangan visual/gambar orang yang sedang berlatih meditasi hidup berkesadaran serta membaca teks kutipan Mallika Sutta yang menjelaskan bahwa tiada yang lebih disayangi selain diri sendiri (10 menit).
  • Murid secara individu mengidentifikasi 4 urutan objek pemancaran cinta kasih (metta bhavana) dalam lembar telaah: (1) Diri sendiri, (2) Orang yang dicintai/dihormati, (3) Orang netral, dan (4) Musuh/orang yang dibenci; serta memahami makna pentingnya menyayangi diri sendiri sebagai fondasi menyayangi sesama (acuan: urutan 1-4 harus tepat sesuai ajaran cinta kasih universal) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid melaksanakan latihan praktik meditasi hidup berkesadaran dan pemancaran cinta kasih (metta bhavana) secara terpandu dengan posisi duduk rileks, menyadari keluar-masuknya napas, serta memancarkan doa dalam batin: 'Semoga saya berbahagia, bebas dari penderitaan', dilanjutkan secara berurutan kepada orang tua/guru, teman, orang netral, hingga semua makhluk (15 menit).
  • Dalam suasana yang menggembirakan, murid mengikuti aktivitas interaktif berpasangan 'Gema Cinta Kasih' (tebak kata batin/frasa cinta kasih berkesadaran) untuk menyegarkan konsentrasi dan meneguhkan sikap saling memuliakan (5 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengisi lembar refleksi pengalaman meditasi berkesadaran yang memuat 3 butir: (1) Perubahan kondisi pikiran sebelum dan sesudah meditasi, (2) Hambatan batin yang dirasakan saat memancarkan cinta kasih kepada diri sendiri vs sesama, dan (3) Makna meditasi berkesadaran dalam membentuk perilaku menyayangi diri sendiri dan sesama di kehidupan nyata (acuan: refleksi dinilai dari kejujuran penghayatan dan keterkaitan antara latihan meditasi dengan sikap hidup berkesadaran) (20 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran bahwa meditasi hidup berkesadaran merupakan sarana menumbuhkan cinta kasih murni yang berawal dari diri sendiri lalu meluas kepada sesama makhluk (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan dan umpan balik singkat atas lembar refleksi yang telah diisi murid, mengingatkan latihan berkesadaran harian di rumah, dan menutup pertemuan dengan doa penutup serta pelimpahan jasa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks panduan meditasi cinta kasih dengan kalimat doa yang lebih ringkas dan terstruktur, sedangkan murid yang cepat diberikan teks tambahan mengenai manfaat metta bhavana.
  • Proses: Pada tahap meditasi, murid yang kesulitan duduk bersila diperbolehkan duduk di kursi dengan posisi tegak dan nyaman; pendampingan khusus diberikan saat pengisian lembar refleksi.
  • Produk: Refleksi dituangkan dalam lembar refleksi tertulis; murid yang membutuhkan bimbingan dapat mengisi dengan kalimat panduan rumpang terarah, sedangkan murid yang cepat menuliskan narasi reflektif secara mandiri dan mendalam.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan di kegiatan pendahuluan: (1) Siapakah objek pertama dalam pemancaran cinta kasih saat meditasi? (Kunci/acuan: Diri sendiri). (2) Sebutkan 3 objek lanjutan pemancaran cinta kasih setelah diri sendiri! (Kunci/acuan: Orang yang dicintai/dihormati, orang netral, musuh/orang yang tidak disukai).

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid selama latihan meditasi hidup berkesadaran (mengamati ketenangan sikap tubuh dan keteraturan napas berkesadaran).
  • Pemeriksaan lembar pemahaman urutan objek metta bhavana (acuan urutan: 1. Diri sendiri, 2. Orang yang dihormati/dicintai, 3. Orang netral, 4. Musuh/semua makhluk).

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan lembar refleksi meditasi hidup berkesadaran yang mengukur 3 komponen: (1) Identifikasi perubahan kondisi batin sebelum-sesudah meditasi (kriteria: memuat perbandingan rasa gelisah/tenang), (2) Refleksi hambatan batin saat memancarkan cinta kasih (kriteria: mengenali kesulitan memaafkan atau menyayangi diri/orang lain), (3) Pemaknaan penerapan cinta kasih dalam tindakan nyata (kriteria: memuat minimal 1 wujud menyayangi diri sendiri dan 1 wujud menyayangi sesama).

Formatif:

  • Penilaian lisan diagnostik kesiapan belajar mengenai urutan objek cinta kasih pada awal pembelajaran.
  • Observasi keterlibatan dan sikap kesadaran saat praktik meditasi metta bhavana.
  • Penilaian lembar refleksi meditasi hidup berkesadaran untuk menumbuhkan cinta kasih terhadap diri sendiri dan sesama.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan meditasi hidup berkesadaran untuk menumbuhkan cinta kasih pada diri sendiri dan sesamaBelum mampu merefleksikan pengalaman meditasi; tulisan refleksi belum memuat perubahan kondisi batin maupun keterkaitannya dengan cinta kasih terhadap diri sendiri atau sesama meski dibimbing guru.Mulai mampu merefleksikan meditasi berkesadaran secara sederhana dengan memuat 1 dari 3 komponen refleksi (perubahan batin, hambatan, atau pemaknaan cinta kasih) dengan bantuan arahan guru.Mampu merefleksikan meditasi berkesadaran secara runtut dengan memuat 2 dari 3 komponen refleksi (perubahan batin, hambatan batin, atau penerapan cinta kasih pada diri sendiri dan sesama) secara mandiri.Sangat mendalam dan runtut dalam merefleksikan meditasi berkesadaran dengan memuat seluruh 3 komponen refleksi (perubahan kondisi batin, kesadaran atas hambatan batin, serta komitmen penerapan cinta kasih pada diri sendiri dan sesama) secara utuh dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 15 menit praktik meditasi terpandu cukup memberikan pengalaman hening dan berkesadaran bagi murid kelas 7?
  • Bagaimana respons murid saat diminta memancarkan cinta kasih kepada diri sendiri dan orang yang tidak disukai?
  • Langkah perbaikan apa yang perlu disiapkan untuk membantu murid yang masih sulit memusatkan perhatian dalam keheningan?

Murid:

  • Bagaimana perasaan pikiran dan tubuhmu setelah mengikuti latihan meditasi hidup berkesadaran tadi?
  • Apakah kamu merasa mudah atau sulit saat mendoakan kebahagiaan untuk dirimu sendiri? Mengapa?
  • Satu kebaikan apa yang ingin kamu lakukan hari ini sebagai wujud cinta kasih kepada sesama teman?

Pertemuan 3 — Merefleksikan Hak dan Kewajiban Moral terhadap Sesama dalam Pergaulan Remaja — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.3 Merefleksikan hak dan kewajiban moral terhadap sesama dalam pergaulan remaja

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), memimpin doa pembuka, dan mengajak murid melakukan hening sejenak berkesadaran napas selama 3 menit untuk menyiapkan fokus belajar (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang pemilahan hak dan kewajiban moral berdasarkan 4 butir pernyataan: (1) 'Mendapatkan rasa aman dari ejekan di sekolah' (acuan: Hak moral); (2) 'Menjaga rahasia pribadi teman yang diceritakan secara percaya' (acuan: Kewajiban moral); (3) 'Mendengarkan saat teman menyampaikan pendapat' (acuan: Kewajiban moral); (4) 'Dihargai hasil karya dan usahanya oleh teman' (acuan: Hak moral) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yakni merefleksikan hak dan kewajiban moral terhadap sesama dalam pergaulan remaja, serta mengaitkannya dengan pentingnya menciptakan pertemanan yang harmonis (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati materi ringkas mengenai konsep hak moral (sesuatu yang layak diterima secara adil) dan kewajiban moral (tanggung jawab etis untuk menghargai sesama) dalam etika pergaulan Buddhis (Sigalovada Sutta) (10 menit).
  • Murid mengikuti permainan cepat 'Kartu Benar-Keliru Hak & Kewajiban' secara berpasangan untuk mengidentifikasi 4 pasangan timbal balik: (1) Hak didengar pendapatnya berpasangan dengan kewajiban menyimak tanpa memotong pembicaraan; (2) Hak dihormati batasan pribadinya berpasangan dengan kewajiban tidak menyebarkan aib kawan; (3) Hak mendapatkan bantuan saat kesulitan berpasangan dengan kewajiban menolong teman yang kesusahan; (4) Hak diperlakukan setara berpasangan dengan kewajiban tidak merundung/mengucilkan teman (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri menganalisis Lembar Studi Kasus Moral Remaja yang memuat 2 situasi: Kasus A (Siswa yang menuntut selalu ditemani saat sedih, namun enggan mendengarkan keluh kesah temannya; acuan analisis: ketidakseimbangan menuntut hak empati tanpa menjalankan kewajiban peduli) dan Kasus B (Kelompok pertemanan yang mengunggah foto konyol teman tanpa izin demi lelucon media sosial; acuan analisis: pelanggaran kewajiban moral menjaga martabat orang lain dan melanggar hak privasi teman) (10 menit).
  • Murid menuliskan penilaian moral atas kedua kasus tersebut pada lembar kerja, mencakup identifikasi hak yang dilanggar dan kewajiban moral yang seharusnya dijalankan sesuai etika pergaulan remaja (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid duduk dengan tenang, kemudian menuliskan lembar refleksi diri personal tentang pengalamannya sendiri dalam bergaul: 'Apakah selama ini saya sudah seimbang antara menuntut hak diperlakukan baik dan menjalankan kewajiban memperlakukan teman dengan hormat?' serta merumuskan 1 tekad perbaikan sikap moral nyata (15 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil refleksi murid bahwa hak dan kewajiban moral harus berjalan selaras agar terwujud pergaulan yang ramah dan penuh welas asih (5 menit).
  • Guru bersama murid menutup pertemuan dengan doa penutup dan pelimpahan jasa (Sabbe satta bhavantu sukhitatta) (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar kasus dengan panduan pertanyaan pemandu bagi murid yang membutuhkan bantuan, serta lembar studi kasus tanpa pertanyaan pemandu dengan tingkat analisis lebih mendalam bagi murid cepat.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan pendampingan langsung oleh guru dalam mengenali sisi timbal-balik hak dan kewajiban, sedangkan murid cepat diminta merumuskan contoh konkret alternatif penyelesaian konflik etis pergaulan secara mandiri.
  • Produk: Refleksi diri dapat dituliskan dalam bentuk poin-poin terstruktur atau narasi paragraf reflektif sesuai kenyamanan murid mengekspresikan pemikirannya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran berupa klasifikasi 4 pernyataan hak vs kewajiban moral: (1) 'Mendapatkan rasa aman dari ejekan di sekolah' (acuan: Hak moral); (2) 'Menjaga rahasia pribadi teman yang diceritakan secara percaya' (acuan: Kewajiban moral); (3) 'Mendengarkan saat teman menyampaikan pendapat' (acuan: Kewajiban moral); (4) 'Dihargai hasil karya dan usahanya oleh teman' (acuan: Hak moral).

Proses:

  • Observasi ketepatan analisis lembar studi kasus 2 situasi moral: Kasus A (menuntut hak empati tanpa menjalankan kewajiban peduli) dan Kasus B (pelanggaran kewajiban menjaga kehormatan dan hak privasi teman), dengan kriteria minimal tepat mengidentifikasi hak yang dilanggar serta kewajiban moral yang harus ditegakkan pada kedua kasus tersebut.

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan jurnal refleksi diri murid dengan kriteria penerimaan: (1) memuat evaluasi kritis minimal 1 tindakan pribadi masa lalu terkait pemenuhan hak/kewajiban moral teman, dan (2) memuat minimal 1 rumusan tekad konkret perbaikan perilaku moral terhadap sesama dalam pergaulan remaja.

Formatif:

  • Penilaian analisis lembar studi kasus hak dan kewajiban moral remaja
  • Penilaian jurnal refleksi diri pergaulan remaja berdasarkan rubrik refleksi moral

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan hak dan kewajiban moral terhadap sesama dalam pergaulan remajaBelum mampu mengidentifikasi hak dan kewajiban moral dalam kasus pergaulan remaja serta belum mampu menuliskan refleksi diri pribadi secara mandiri.Mampu mengidentifikasi hak dan kewajiban moral pada 1 dari 2 kasus yang disajikan, dan refleksi diri pribadi baru sebatas menyebutkan kewajiban secara umum tanpa contoh pengalaman diri.Mampu mengidentifikasi hak dan kewajiban moral secara tepat pada kedua kasus (Kasus A dan Kasus B) serta menuliskan refleksi diri pergaulan remaja yang memuat minimal 1 evaluasi diri dan 1 tekad perbaikan moral nyata.Mampu mengidentifikasi hak dan kewajiban moral pada kedua kasus secara komprehensif serta menuliskan refleksi diri mendalam yang menganalisis dampak timbal-balik pemenuhan hak dan kewajiban moral terhadap keharmonisan pergaulan remaja disertai tekad konkret yang terukur.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas studi kasus dan refleksi terbimbing efektif membantu murid menyadari pentingnya kewajiban moral terhadap teman, bukan hanya menuntut hak?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama proses penulisan refleksi diri, apakah suasana berkesadaran (mindful) tercipta dengan baik?

Murid:

  • Apakah selama ini aku lebih sering menuntut hak diperlakukan baik oleh teman, atau sudah seimbang dengan menjalankan kewajiban memperlakukan mereka secara adil?
  • Satu tindakan nyata apa yang akan aku ubah mulai besok agar pergaulan dengan teman-temanku menjadi lebih saling menghargai?

Pertemuan 4 — Merefleksikan Keteladanan Tokoh Buddhis Inspiratif dalam Berperilaku terhadap Sesama Manusia — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.4 Merefleksikan keteladanan tokoh Buddhis inspiratif dalam berperilaku terhadap sesama manusia

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis, doa bersama, dan mengajak murid duduk hening berkesadaran selama 3 menit untuk menenangkan batin (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merefleksikan keteladanan tokoh Buddhis inspiratif dalam berperilaku terhadap sesama manusia (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan mengenai contoh tokoh Buddhis inspiratif beserta wujud perbuatannya terhadap sesama: 'Sebutkan 1 tokoh Buddhis inspiratif yang kalian ketahui dan apa tindakan welas asihnya terhadap sesama?' (acuan: Master Cheng Yen mendirikan Yayasan Tzu Chi untuk kemanusiaan/bantuan bencana/kesehatan; Y.M. Dalai Lama XIV menyebarkan pesan perdamaian dunia dan welas asih tanpa kekerasan; Ashoka Wardhana mendirikan rumah sakit dan panti sosial bagi rakyat) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid membaca teks narasi biografi singkat dua tokoh Buddhis inspiratif: (1) Master Cheng Yen (pendiri Yayasan Kemanusiaan Tzu Chi yang melayani fakir miskin, korban bencana, dan orang sakit dengan welas asih universal tanpa membeda-bedakan suku/agama) dan (2) Y.M. Dalai Lama XIV (tokoh perdamaian dunia yang konsisten memperjuangkan harmoni, antikekerasan, dan cinta kasih universal) (10 menit).
  • Murid mengikuti kuis berpasangan cepat 'Cocok Figur Welas Asih': murid memasangkan 4 kartu tindakan nyata dengan nama tokoh yang tepat: (a) 'Mendirikan misi medis dan bantuan bencana Tzu Chi' -> Master Cheng Yen, (b) 'Menyebarkan pesan dialog damai antarbangsa tanpa kebencian' -> Dalai Lama XIV, (c) 'Mengajak relawan mendaur ulang sampah demi kesejahteraan sesama makhluk' -> Master Cheng Yen, (d) 'Menerima Nobel Perdamaian atas keteladanan antikekerasan' -> Dalai Lama XIV (acuan: a-Master Cheng Yen, b-Dalai Lama XIV, c-Master Cheng Yen, d-Dalai Lama XIV) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid mengkaji 2 lembar skenario pergaulan nyata: Skenario 1 (seorang teman sekelas dijauhi karena miskin dan penampilannya lusuh) dan Skenario 2 (teman sedang tertimpa musibah sakit tetapi tidak ada yang menjenguk) (10 menit).
  • Murid merumuskan secara mandiri tindakan nyata berperilaku terhadap sesama yang meneladani Master Cheng Yen atau Y.M. Dalai Lama XIV pada Lembar Refleksi Keteladanan: (1) Menuliskan tindakan apa yang akan dilakukan pada Skenario 1 dengan meneladani cinta kasih Master Cheng Yen (kriteria penerimaan: menawarkan bantuan tulus/berteman tanpa diskriminasi sesuai prinsip welas asih tanpa batas), (2) Menuliskan tindakan apa yang akan dilakukan pada Skenario 2 dengan meneladani kepedulian tokoh (kriteria penerimaan: menjenguk/memberi perhatian moral dan materiil bersama teman) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menuliskan perenungan pribadi pada jurnal belajar: 'Satu sifat luhur tokoh Buddhis yang paling mengetuk hatiku dalam menyayangi sesama, dan niat perbaikan sikapku terhadap teman yang pernah tidak kusukai' (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari nilai keteladanan tokoh Buddhis inspiratif (Master Cheng Yen dan Dalai Lama XIV) bahwa menyayangi sesama manusia harus diwujudkan dalam tindakan nyata tanpa pamrih dan tanpa diskriminasi (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik pembelajaran serta menyampaikan bahwa pertemuan berikutnya adalah asesmen sumatif untuk keseluruhan Bab 4, lalu menutup sesi dengan pelimpahan jasa dan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks biografi yang dilengkapi poin visual kata kunci (Tzu Chi, welas asih, damai), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan bahan tambahan mengenai kisah pelayanan Master Cheng Yen saat mendirikan rumah sakit.
  • Proses: Bagi murid yang belum lancar mengaitkan nilai keteladanan, guru memberikan panduan berupa kalimat pemantik refleksi terstruktur.
  • Produk: Murid dapat menuliskan rumusan tindakan reflektif dalam bentuk paragraf deskriptif singkat atau bagan tabel aksi keteladanan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Sebutkan 1 tokoh Buddhis inspiratif beserta wujud perbuatannya dalam menyayangi sesama manusia!' (Acuan: (1) Master Cheng Yen mendirikan yayasan kemanusiaan Tzu Chi untuk orang sakit/miskin/bencana; atau (2) Y.M. Dalai Lama XIV memperjuangkan perdamaian dan kerukunan umat manusia antikekerasan; atau (3) Raja Ashoka membangun fasilitas umum/rumah sakit demi kesejahteraan rakyat).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pemasangan 4 kartu figur pada aktivitas 'Cocok Figur Welas Asih' (acuan kunci: kartu a dan c = Master Cheng Yen; kartu b dan d = Dalai Lama XIV).
  • Penilaian Lembar Refleksi Keteladanan Tokoh Buddhis: murid merefleksikan nilai welas asih Master Cheng Yen dan Y.M. Dalai Lama XIV ke dalam 2 skenario pergaulan terhadap sesama manusia sesuai kriteria penerimaan (Skenario 1: menyertakan tindakan berteman/membantu tanpa diskriminasi status; Skenario 2: menyertakan tindakan peduli/menolong teman yang sakit secara konkret).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi personal di penutup: Murid menuliskan 1 komitmen tindakan nyata memperlakukan sesama manusia di lingkungan sekolah yang terinspirasi dari keteladanan Master Cheng Yen atau Dalai Lama XIV (Kriteria penerimaan: memuat tindakan konkrit kepedulian/menolong teman tanpa pamrih atau tanpa membeda-bedakan latar belakang).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran mengenai pengenalan tokoh Buddhis inspiratif dan tindakan welas asihnya
  • Kuis berpasangan 'Cocok Figur Welas Asih' (4 butir kartu)
  • Lembar Refleksi Keteladanan Tokoh Buddhis terhadap 2 skenario pergaulan sesama manusia

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Refleksi Keteladanan Tokoh Buddhis Inspiratif terhadap Sesama ManusiaBelum mampu mengidentifikasi tindakan keteladanan tokoh Buddhis inspiratif dan belum mampu merumuskan tindakan nyata terhadap sesama pada skenario yang diberikan.Mampu mengidentifikasi tindakan tokoh Buddhis inspiratif, tetapi rumusan refleksi tindakan terhadap sesama pada skenario masih belum mencerminkan nilai keteladanan secara jelas (hanya tepat pada 1 skenario).Mampu merefleksikan nilai keteladanan tokoh Buddhis inspiratif dengan merumuskan tindakan nyata terhadap sesama manusia secara tepat sesuai acuan kriteria pada kedua skenario pergaulan.Mampu merefleksikan nilai keteladanan tokoh Buddhis inspiratif secara mendalam dan mandiri pada kedua skenario pergaulan, serta menyertakan komitmen perbaikan sikap diri terhadap sesama tanpa pamrih.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemilihan kisah figur Master Cheng Yen dan Dalai Lama XIV berhasil memantik penghayatan murid tentang cinta kasih universal terhadap sesama?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama kuis berpasangan dan perumusan refleksi skenario kehidupan nyata?
  • Apakah ada murid yang masih kesulitan menghubungkan nilai keteladanan tokoh sejarah/tokoh masa kini dengan perilaku pergaulannya sehari-hari?

Murid:

  • Keteladanan apa dari Master Cheng Yen atau Dalai Lama XIV yang paling menyentuh perasaanku hari ini?
  • Sikap apa yang ingin kuubah saat memperlakukan sesama teman setelah mempelajari keteladanan tokoh Buddhis ini?

Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.1 Merefleksikan sifat-sifat Buddha Sakyamuni dalam berperilaku terhadap diri sendiri
  • TP 7.4.2 Merefleksikan meditasi hidup berkesadaran untuk menumbuhkan cinta kasih dalam menyayangi diri sendiri dan sesama
  • TP 7.4.3 Merefleksikan hak dan kewajiban moral terhadap sesama dalam pergaulan remaja
  • TP 7.4.4 Merefleksikan keteladanan tokoh Buddhis inspiratif dalam berperilaku terhadap sesama manusia

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid duduk hening sejenak untuk menenangkan pikiran, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan dan alur pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 4 yang terdiri atas dua bagian tugas tertulis individual portofolio refleksi dan analisis komprehensif (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan Bundel Lembar Asesmen Sumatif Bab 4 dan menjelaskan petunjuk pengerjaan Bagian 1 (refleksi penerapan sifat Buddha Sakyamuni dan meditasi hidup berkesadaran) serta Bagian 2 (analisis studi kasus hak-kewajiban moral dan esai reflektif tokoh Buddhis inspiratif) secara cermat (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid mengerjakan Tugas Bagian 1 secara mandiri dan serentak di kelas: (1) Menuliskan refleksi penerapan sifat Buddha Sakyamuni, yaitu kejujuran (sacca/jujur mengakui kekurangan diri tanpa menyalahkan orang lain) dan menjaga kesehatan fisik diri sendiri (menjaga pola makan, istirahat cukup, dan tidak merusak tubuh); (2) Menguraikan refleksi tujuan serta pengalaman batin melatih meditasi hidup berkesadaran (mindfulness) untuk memancarkan cinta kasih (metta) tanpa batas kepada diri sendiri dan sesama (35 menit).
  • Murid melanjutkan pengerjaan Tugas Bagian 2 secara mandiri dan serentak di kelas: (1) Menyelesaikan analisis studi kasus pergaulan remaja 'Kasus Diskriminasi Tugas Kelompok' dengan merumuskan solusi moral berbasis pemenuhan hak (didengarkan dan dihargai) dan kewajiban moral (bertanggung jawab, saling menolong tanpa membeda-bedakan latar belakang); (2) Menulis esai reflektif mengenai rencana aksi nyata meneladani tokoh Buddhis inspiratif (seperti Y.M. Dalai Lama XIV atau Maha Ghosananda) dalam menebarkan perdamaian dan menolong sesama tanpa diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali kelengkapan seluruh jawaban pada bundel portofolio reflektif dan menyerahkan berkas tugas kepada guru secara tertib (4 menit).

Penutup:

  • Guru mengapresiasi integritas, ketenangan, dan kesungguhan murid dalam menuntaskan asesmen sumatif bab (2 menit).
  • Guru merangkum esensi Bab 4 tentang pentingnya menyelaraskan kasih sayang pada diri sendiri dan sesama, serta menutup pembelajaran dengan doa pelimpahan jasa/kebajikan (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi format teks: murid dengan hambatan penglihatan diberikan lembar soal dengan ukuran font yang diperbesar (large print) tanpa mengubah isi tugas.
  • Proses: Akomodasi posisi tempat duduk: murid yang memerlukan ketenangan ekstra atau konsentrasi khusus diperkenankan duduk di barisan depan dekat guru tanpa mengubah batas waktu atau prosedur pengerjaan.
  • Produk: Standar kompetensi dan kriteria penilaian tugas tertulis seragam untuk seluruh murid sesuai acuan rubrik.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Portofolio Tertulis dan Lembar Analisis Reflektif Komprehensif: Bundel lembar refleksi tertulis dan lembar analisis kasus yang memuat identifikasi penerapan sifat Buddha pada diri sendiri, uraian reflektif tujuan dan pengalaman meditasi hidup berkesadaran, penyelesaian studi kasus hak dan kewajiban moral remaja, serta esai reflektif keteladanan tokoh Buddhis inspiratif dalam menolong sesama
  • penugasan tertulis serentak: lembar refleksi tertulis individual yang dikerjakan serentak di kelas, berisi analisis penerapan sifat-sifat Buddha Sakyamuni (kejujuran dan menjaga kesehatan fisik diri sendiri) serta uraian reflektif tujuan dan pengalaman batin melatih meditasi hidup berkesadaran untuk menumbuhkan cinta kasih pada diri sendiri dan sesama (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian tertulis reflektif)
  • penugasan tertulis serentak: lembar analisis studi kasus dan esai reflektif individual yang dikerjakan serentak di kelas, berisi rumusan solusi pemenuhan hak dan kewajiban moral dalam pergaulan remaja secara adil serta tulisan rencana aksi nyata meneladani tokoh Buddhis inspiratif dalam menolong sesama tanpa diskriminasi (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian analisis kasus dan esai reflektif)

Sumatif:

  • Portofolio Tertulis dan Lembar Analisis Reflektif Komprehensif: Bundel lembar refleksi tertulis dan lembar analisis kasus yang memuat identifikasi penerapan sifat Buddha pada diri sendiri, uraian reflektif tujuan dan pengalaman meditasi hidup berkesadaran, penyelesaian studi kasus hak dan kewajiban moral remaja, serta esai reflektif keteladanan tokoh Buddhis inspiratif dalam menolong sesama
  • penugasan tertulis serentak: lembar refleksi tertulis individual yang dikerjakan serentak di kelas, berisi analisis penerapan sifat-sifat Buddha Sakyamuni (kejujuran dan menjaga kesehatan fisik diri sendiri) serta uraian reflektif tujuan dan pengalaman batin melatih meditasi hidup berkesadaran untuk menumbuhkan cinta kasih pada diri sendiri dan sesama (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian tertulis reflektif)
  • penugasan tertulis serentak: lembar analisis studi kasus dan esai reflektif individual yang dikerjakan serentak di kelas, berisi rumusan solusi pemenuhan hak dan kewajiban moral dalam pergaulan remaja secara adil serta tulisan rencana aksi nyata meneladani tokoh Buddhis inspiratif dalam menolong sesama tanpa diskriminasi (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian analisis kasus dan esai reflektif)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Refleksi Sifat Buddha Sakyamuni terhadap Diri Sendiri (TP 7.4.1)Belum mampu mengidentifikasi dan merefleksikan penerapan sifat kejujuran maupun menjaga kesehatan fisik diri sendiri.Merefleksikan penerapan 1 dari 2 sifat Buddha Sakyamuni (hanya kejujuran atau hanya menjaga kesehatan fisik diri) secara sederhana.Merefleksikan penerapan 2 sifat Buddha Sakyamuni (kejujuran dalam bersikap dan menjaga kesehatan fisik diri sendiri) secara tepat dan kontekstual.Merefleksikan penerapan kedua sifat Buddha Sakyamuni (kejujuran dan menjaga kesehatan fisik diri sendiri) secara mendalam, kritis, dan menyertakan evaluasi kebiasaan diri secara mandiri.
Refleksi Meditasi Hidup Berkesadaran untuk Cinta Kasih (TP 7.4.2)Belum mampu menguraikan tujuan maupun pengalaman batin melatih meditasi hidup berkesadaran dalam menumbuhkan cinta kasih.Menguraikan tujuan meditasi hidup berkesadaran secara umum, namun belum mengaitkannya dengan pengalaman batin menumbuhkan cinta kasih pada diri dan sesama.Menguraikan tujuan dan pengalaman batin melatih meditasi hidup berkesadaran secara runtut dalam menumbuhkan cinta kasih kepada diri sendiri dan sesama.Menguraikan refleksi tujuan dan pengalaman batin melatih meditasi berkesadaran secara mendalam serta menghubungkan ketenangan batin dengan komitmen welas asih dalam kehidupan nyata.
Refleksi Hak dan Kewajiban Moral dalam Pergaulan Remaja (TP 7.4.3)Belum mampu merumuskan solusi pemenuhan hak dan kewajiban moral dalam menyelesaikan studi kasus pergaulan remaja.Merumuskan solusi kasus yang hanya memuat salah satu aspek (hanya hak atau hanya kewajiban moral remaja) secara terbatas.Merumuskan solusi pemenuhan hak (dihargai dan didengarkan) dan kewajiban moral (tanggung jawab, saling menolong) dalam pergaulan remaja secara adil dan tepat.Merumuskan solusi pemenuhan hak dan kewajiban moral remaja secara komprehensif, adil, berlandaskan prinsip moral Buddhis, serta mengantisipasi dampak pergaulan secara bijaksana.
Refleksi Keteladanan Tokoh Buddhis Inspiratif (TP 7.4.4)Belum mampu menuliskan rencana aksi nyata meneladani tokoh Buddhis inspiratif dalam menolong sesama.Menuliskan nilai keteladanan tokoh Buddhis inspiratif secara normatif tanpa rencana aksi nyata perilaku menolong sesama.Menuliskan esai reflektif berisi nilai keteladanan tokoh Buddhis inspiratif dan rencana aksi nyata menolong sesama manusia tanpa diskriminasi.Menuliskan esai reflektif yang mendalam dengan rencana aksi nyata meneladani tokoh Buddhis inspiratif yang sangat terukur, aplikatif, dan berjiwa cinta kasih universal.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pengerjaan 80 menit memadai bagi seluruh murid untuk menyelesaikan bundel portofolio refleksi dan analisis kasus secara optimal?
  • Bagaimanakah tingkat ketercapaian murid pada keempat Tujuan Pembelajaran Bab 4 berdasarkan analisis hasil asesmen sumatif ini?

Murid:

  • Apakah saya telah mengerjakan seluruh lembar refleksi dan analisis kasus ini secara jujur dan sungguh-sungguh?
  • Pelajaran terpenting apa dari Bab 4 yang paling berharga untuk saya praktikkan dalam mencintai diri sendiri dan menolong teman sehari-hari?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek, 2021).
  2. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek, 2021).
  3. Kitab Suci Khuddaka Nikaya: Dhammapada & Samyutta Nikaya (Mallikā Sutta).
  4. Lembar Kerja Refleksi Perilaku Diri.
  5. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Puskurbuk Kemendikbudristek 2021, Bab IV)
  6. Buku Panduan Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek 2021, Hal. 70-76)
  7. Kutipan teks Mallika Sutta (Samyutta Nikaya 3.8)
  8. Genta/singing bowl atau audio pemandu hening berkesadaran
  9. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
  10. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (Bab 4 / Bab VII Konteks)
  11. Lembar Kerja Siswa: Kartu Studi Kasus Etika Pergaulan Remaja
  12. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek, 2021)
  13. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek, 2021)
  14. Lembar cerita biografi Master Cheng Yen dan Y.M. Dalai Lama XIV
  15. Kartu aktivitas kuis figur welas asih dan Lembar Refleksi Skenario
  16. Buku Panduan Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
  17. Bundel Lembar Asesmen Sumatif Bab 4: Lembar Refleksi Tertulis dan Lembar Analisis Kasus
  18. Kitab Suci Dhammapada / Mallika Sutta (Samyutta Nikaya)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.