Modul AjarBab 3Fase DSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 7 Bab 3: Etika dan Moralitas

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 7 untuk Bab 3 "Etika dan Moralitas", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 7 Bab 3: Etika dan Moralitas

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 7

Bab 3

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Bab 3 — Etika dan Moralitas

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase D / Kelas 7
TopikBab 3 — Etika dan Moralitas
Alokasi Waktu10 JP (10 x 40 menit = 400 menit)
Jumlah Pertemuan5
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 7.3.1 Merefleksikan nilai-nilai ajaran moralitas sebagai dasar etika dalam pergaulan remaja di lingkungan sekitar
  2. TP 7.3.2 Merefleksikan nilai-nilai ajaran moralitas untuk menentukan sikap terhadap permasalahan remaja di lingkungan sekitar
  3. TP 7.3.3 Merefleksikan sifat-sifat Buddha Sakyamuni pada masa riwayat Petapa Gotama untuk diteladan dalam berperilaku terhadap diri sendiri
  4. TP 7.3.4 Merefleksikan moralitas tokoh Buddhis inspiratif untuk diteladan dalam berperilaku terhadap masyarakat

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Mengapa nilai moralitas (sila) dibutuhkan saat kita bergaul dengan teman sebaya di lingkungan sekitar?
  2. Apa yang terjadi dalam pergaulan remaja jika nilai kejujuran dan saling menghargai diabaikan?
  3. Apa saja godaan atau permasalahan yang paling sering dihadapi remaja saat bergaul di lingkungan sekitar?
  4. Bagaimana nilai moralitas Pancasila Buddhis dapat memandu kita bersikap tegas menolak pengaruh buruk teman sebaya?
  5. Sifat luhur apa yang paling menonjol saat Petapa Gotama berjuang mencari pencerahan sejati?
  6. Bagaimana keteguhan dan semangat pantang menyerah Petapa Gotama dapat menjadi cermin bagi caramu memperlakukan dan mendisiplinkan diri sendiri setiap hari?
  7. Siapa tokoh Buddhis yang perilakunya terhadap masyarakat paling membuat kalian kagum?
  8. Nilai moralitas apa dari tokoh Buddhis inspiratif yang dapat kita terapkan secara nyata saat berinteraksi di lingkungan masyarakat sekitar kita?
  9. Bagaimana ajaran moralitas Buddhis (seperti Pancasila Buddhis) memandu kita dalam menjaga pergaulan dan menghadapi masalah remaja saat ini?
  10. Keteladanan apa dari perjuangan Petapa Gotama dan tokoh Buddhis inspiratif yang dapat kita wujudkan secara nyata dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Merefleksikan Nilai-Nilai Ajaran Moralitas dalam Pergaulan Remaja di Lingkungan Sekitar — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.1 Merefleksikan nilai-nilai ajaran moralitas sebagai dasar etika dalam pergaulan remaja di lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid duduk hening bermeditasi pernapasan sadar selama beberapa saat untuk memusatkan perhatian, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru memberikan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan dengan meminta murid mengidentifikasi makna sila/moralitas dan fungsinya dalam pergaulan melalui pertanyaan: 'Sebutkan apa arti sila dalam ajaran Buddha dan berikan 1 contoh perbuatan moral dalam pertemanan!' (acuan jawaban benar: sila berarti moralitas/kemoralan/perilaku bajik; contoh perbuatan: berkata jujur kepada teman, tidak menyakiti/merundung, atau tidak mengambil barang teman) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merefleksikan nilai-nilai ajaran moralitas (khususnya Pancasila Buddhis) sebagai dasar etika dalam pergaulan remaja di lingkungan sekitar (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak ulasan guru mengenai 5 nilai moralitas dalam Pancasila Buddhis yang menjadi dasar pergaulan remaja: (1) Menghargai kehidupan (cinta kasih/tidak melakukan kekerasan/merundung), (2) Menghargai hak milik orang lain (kejujuran/tidak mencuri), (3) Menjaga kesusilaan (menghormati privasi dan batasan teman), (4) Berkata benar (jujur, tidak menyebarkan gosip/hoaks), dan (5) Kesadaran diri (menghindari zat terlarang/minuman keras yang merusak kendali diri) (10 menit).
  • Murid memainkan kuis tantangan berpasangan 'Tebak Nilai Sila Remaja' yang menggembirakan: salah satu murid membacakan 1 dari 4 contoh perilaku pergaulan remaja dan pasangannya menebak nilai sila Buddhis yang mendasarinya (Daftar perilaku: A. Menolak menyebarkan rahasia buruk teman di media sosial -> Sila ke-4/Musavada Veramani; B. Mengembalikan helm teman yang dipinjam utuh -> Sila ke-2/Adinnadana Veramani; C. Menghentikan teman yang saling mengejek secara fisik -> Sila ke-1/Panatipata Veramani; D. Menolak ajakan teman mencoba rokok dan minuman beralkohol -> Sila ke-5/Suramerayamajja Veramani) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru membagikan Lembar Kasus Pergaulan Remaja yang memuat 3 skenario situasi nyata di lingkungan sekitar: Skenario 1: 'Edo diajak teman satu kelompoknya membolos bimbingan belajar dan berbohong kepada orang tua'; Skenario 2: 'Sinta melihat teman sekelasnya diejek di media sosial karena nilai ulangannya rendah'; Skenario 3: 'Budi dibujuk temannya untuk mengambil uang kas kelompok tanpa izin' (5 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan analisis dan penerapan nilai moralitas Buddhis untuk menanggapi ketiga skenario tersebut pada lembar kerja (acuan analisis: Skenario 1 menerapkan Sila ke-4 berkata jujur dengan menolak ajakan dan memberi tahu alasan yang benar; Skenario 2 menerapkan Sila ke-1 cinta kasih dengan tidak ikut mengejek dan membela/menghibur teman; Skenario 3 menerapkan Sila ke-2 tidak mengambil milik orang lain dengan menolak tegas ajakan mengambil uang kas) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan perenungan mendalam (mindful reflection) secara hening, lalu menuliskan satu komitmen reflektif pribadi di buku tulis: 'Dari 5 nilai moralitas Pancasila Buddhis, nilai apa yang paling menantang bagiku saat bergaul dengan teman sebaya di lingkungan sekitar, dan tindakan nyata apa yang akan aku lakukan mulai hari ini untuk melatihnya?' (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai pentingnya nilai ajaran moralitas sebagai fondasi terciptanya pergaulan remaja yang harmonis dan bebas dari penderitaan (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik umum, menyampaikan rencana topik pertemuan berikutnya (menentukan sikap terhadap permasalahan remaja), dan menutup pembelajaran dengan pelimpahan jasa serta salam penutup Namo Buddhaya (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan kata kunci lima sila Buddhis bagi murid yang membutuhkan bantuan pemahaman konsep dasar moralitas.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang kesulitan menghubungkan skenario pergaulan dengan sila yang relevan; memberikan skenario tambahan yang lebih kompleks bagi murid yang menyelesaikan analisis lebih cepat.
  • Produk: Murid dapat menuliskan refleksi pergaulan berupa narasi paragraf reflektif atau bagan komitmen pribadi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Murid diminta menjawab makna moralitas/sila dan menyebutkan 1 contoh perbuatan moral dalam pergaulan remaja (Acuan jawaban: moralitas/sila adalah pedoman kemoralan/perilaku luhur; contoh: berkata jujur, tidak merundung, tidak mencuri barang teman).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan analisis lembar kerja 3 skenario pergaulan remaja (Acuan: Skenario 1 mencocokkan dengan sila ke-4 berkata benar/kejujuran; Skenario 2 mencocokkan dengan sila ke-1 cinta kasih/tidak merugikan; Skenario 3 mencocokkan dengan sila ke-2 kejujuran/tidak mengambil milik orang lain).
  • Pengamatan keterlibatan dan ketepatan murid saat kuis berpasangan 'Tebak Nilai Sila Remaja' untuk 4 butir perilaku pergaulan.

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan lembar komitmen refleksi: Murid dinilai berdasarkan kelengkapan merefleksikan 1 nilai moralitas yang menantang dalam pergaulan pertemanannya disertai 1 rencana aksi nyata yang operasional (Kriteria: mencantumkan nama sila spesifik dan tindakan nyata konkret dalam pergaulan sehari-hari).

Formatif:

  • Penilaian lisan pada diagnostik awal pergaulan remaja
  • Penilaian performa pada kuis tantangan berpasangan
  • Penilaian tugas tertulis pada Lembar Kasus Pergaulan Remaja (analisis 3 skenario)
  • Penilaian jurnal refleksi diri mengenai komitmen moralitas pergaulan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan nilai ajaran moralitas dalam pergaulan remajaMurid belum mampu mengaitkan skenario pergaulan remaja dengan nilai ajaran moralitas (Pancasila Buddhis) atau hanya 1 skenario tepat dengan bimbingan penuh.Murid mampu mengaitkan 2 dari 3 skenario pergaulan remaja dengan nilai ajaran moralitas yang relevan secara tepat.Murid mampu mengaitkan ketiga skenario pergaulan remaja dengan nilai ajaran moralitas secara tepat dan menuliskan refleksi diri.Murid mampu mengaitkan seluruh 3 skenario pergaulan remaja dengan nilai ajaran moralitas secara tepat, memberikan alasan mendalam sesuai sila Buddhis, serta menyusun komitmen refleksi diri yang operasional secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah pembelajaran kontekstual berbasis skenario kasus berhasil membantu murid memahami fungsi nilai moralitas dalam pertemanan mereka?
  • Bagian mana dari kegiatan yang paling efektif membangkitkan kesadaran moral murid, dan apa yang perlu ditingkatkan pada pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Nilai moralitas apa yang sudah berhasil aku terapkan dengan baik saat berinteraksi bersama teman sebaya?
  • Tindakan apa yang akan kuperbaiki jika suatu saat temanku mengajakku melakukan perbuatan yang melanggar nilai sila?

Pertemuan 2 — Merefleksikan Nilai-Nilai Ajaran Moralitas dalam Menentukan Sikap terhadap Permasalahan Remaja — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.2 Merefleksikan nilai-nilai ajaran moralitas untuk menentukan sikap terhadap permasalahan remaja di lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid mengheningkan cipta sejenak untuk memusatkan perhatian, serta memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid menjawab kuis lisan dengan memilih salah satu dari 3 sila Pancasila Buddhis yang relevan untuk situasi remaja: 'Jika diajak teman menyontek saat ujian, sila ke berapa yang dilanggar?' (acuan jawaban: Sila ke-4 Musavada veramani / menolak ketidakjujuran) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merefleksikan nilai-nilai ajaran moralitas (khususnya Pancasila Buddhis) dalam menentukan sikap bijaksana terhadap permasalahan remaja di lingkungan sekitar (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati paparan materi tentang hubungan nilai moralitas Pancasila Buddhis dengan penyelesaian masalah remaja seperti perundungan (bullying), merokok/minuman keras, ketidakjujuran/berbohong, dan mengambil milik orang lain (10 menit).
  • Murid mengikuti permainan cepat 'Pilah Kartu Sila': secara berpasangan, murid mengelompokkan 4 kartu studi kasus masalah remaja ke dalam sila yang dilanggar: Kasus 1: Mengolok-olok kekurangan fisik teman di media sosial (sila ke-4 / ke-1); Kasus 2: Merokok dan mencoba minuman keras karena ajakan kelompok (sila ke-5); Kasus 3: Mengambil uang kas kelas tanpa izin (sila ke-2); Kasus 4: Membolos dan berbohong kepada orang tua (sila ke-4) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membaca 2 skenario studi kasus permasalahan remaja: Kasus A: 'Dino diajak teman kelompoknya untuk ikut merokok di warung belakang sekolah sepulang sekolah agar dianggap jantan dan setia kawan'; Kasus B: 'Rani melihat teman dekatnya menyebarkan foto aib teman sekelas di grup obrolan dan diminta ikut menertawakannya' (10 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan penentuan sikap reflektif pada Lembar Kerja Refleksi: menentukan pilihan sikap konkret yang harus diambil pada Kasus A dan B, serta menyebutkan nilai moralitas Buddhis (sila Pancasila Buddhis) yang mendasari penolakan terhadap tindakan tersebut (acuan Kasus A: menolak ajakan merokok berlandaskan sila ke-5 Sura-meraya-majja-pamadatthana veramani; acuan Kasus B: menolak ikut menertawakan dan menegur/tidak meneruskan pesan berlandaskan sila ke-4 Musavada / prinsip cinta kasih/metta dan tidak menyakiti) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi respons yang telah ditulisnya dengan menghubungkannya pada pengalaman pribadi: mengidentifikasi satu situasi permasalahan remaja yang pernah dihadapi atau diamati di lingkungan sekitarnya, lalu menuliskan refleksi tentang bagaimana nilai moralitas dapat membimbingnya menentukan sikap yang benar ke depan (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran bahwa moralitas Buddhis berfungsi sebagai pelindung diri dalam menentukan sikap menghadapi berbagai godaan dan permasalahan remaja (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik singkat atas lembar refleksi yang dikerjakan murid, menyampaikan topik pertemuan berikutnya mengenai riwayat Petapa Gotama, dan menutup pelajaran dengan doa penutup/kebajikan (Pattidana) (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan visual berisi daftar 5 Sila Pancasila Buddhis beserta contoh permasalahan remaja yang relevan; murid yang cepat diberikan 1 skenario tambahan yang memuat dilema moral remaja yang lebih kompleks (misalnya ajakan bolos untuk bermain game online saat tugas belum selesai).
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan arahan langsung melalui pertanyaan pemandu guru saat mengisi lembar refleksi sikap; murid mahir menganalisis alasan dampak moral karma dari keputusan sikap yang dipilih secara mandiri.
  • Produk: Refleksi sikap dituangkan dalam lembar kerja tertulis terstruktur atau peta pikiran (mind map) penentuan sikap moral berlandaskan Pancasila Buddhis.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: 'Jika seorang remaja diajak temannya untuk berbohong kepada guru mengenai alasan terlambat sekolah, ajaran moralitas sila ke berapa dalam Pancasila Buddhis yang dilanggar?' (Acuan jawaban benar: Sila ke-4, Musavada veramani / melatih diri menghindari ucapan bohong/tidak benar).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pengelompokan 4 kartu studi kasus masalah remaja pada kegiatan 'Pilah Kartu Sila' (Kasus 1: Sila 4/1; Kasus 2: Sila 5; Kasus 3: Sila 2; Kasus 4: Sila 4).
  • Penilaian lembar kerja refleksi mandiri: ketepatan menentukan sikap menolak ajakan negatif dan keselarasan alasan moralitas Buddhis (sila ke-5 untuk Kasus A ajakan merokok; sila ke-4/prinsip kejujuran dan tanpa menyakiti untuk Kasus B perundungan siber).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan isian jurnal refleksi pribadi murid: murid menuliskan 1 sikap tegas berlandaskan moralitas Buddhis yang akan diambil jika menghadapi permasalahan/tekanan teman sebaya di lingkungan sekitar (Kriteria penerimaan: sikap mencerminkan penolakan terhadap tindakan melanggar sila dan menyebutkan minimal 1 nilai sila Pancasila Buddhis yang melandasinya).

Formatif:

  • Penilaian proses melalui Lembar Kerja Refleksi Penentuan Sikap terhadap Permasalahan Remaja berlandaskan nilai moralitas Buddhis (Kasus A dan B)
  • Observasi unjuk pemahaman saat aktivitas 'Pilah Kartu Sila'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan nilai moralitas dalam menentukan sikap terhadap masalah remajaBelum mampu menentukan sikap penolakan terhadap ajakan negatif pada skenario masalah remaja dan belum mengaitkan dengan nilai sila moralitas Buddhis.Mampu menentukan sikap penolakan terhadap ajakan negatif pada skenario namun belum tepat atau belum lengkap mengaitkan dengan nilai sila Pancasila Buddhis yang mendasarinya.Mampu menentukan sikap penolakan secara tegas terhadap kedua skenario masalah remaja (Kasus A dan Kasus B) serta tepat mengaitkannya dengan nilai sila Pancasila Buddhis yang relevan (Sila ke-5 untuk Kasus A dan Sila ke-4 untuk Kasus B).Mampu menentukan sikap penolakan secara tegas terhadap kedua skenario masalah remaja, tepat mengaitkannya dengan nilai Pancasila Buddhis (Sila ke-5 dan Sila ke-4), serta secara mandiri merefleksikan penerapannya pada situasi nyata di lingkungan pergaulan sekitarnya.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid mampu mengidentifikasi kaitan antara pelanggaran sila Pancasila Buddhis dengan permasalahan remaja sehari-hari?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama proses refleksi penentuan sikap, apakah langkah kontekstual yang disajikan cukup relevan dengan kehidupan remaja mereka?

Murid:

  • Permasalahan remaja apa yang menurutmu paling menantang untuk dihindari di lingkungan sekitarmu?
  • Bagaimana nilai moralitas ajaran Buddha membantumu untuk berani mengatakan 'tidak' pada pengaruh buruk teman sebaya?

Pertemuan 3 — Merefleksikan Sifat-Sifat Buddha Sakyamuni pada Masa Riwayat Petapa Gotama terhadap Diri Sendiri — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.3 Merefleksikan sifat-sifat Buddha Sakyamuni pada masa riwayat Petapa Gotama untuk diteladan dalam berperilaku terhadap diri sendiri

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid hening sejenak untuk melatih kesadaran diri, dan memeriksa kesiapan belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merefleksikan sifat-sifat Buddha Sakyamuni pada masa riwayat Petapa Gotama untuk diteladan dalam berperilaku terhadap diri sendiri (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat melalui kuis lisan cepat tentang riwayat perjuangan Petapa Gotama (misalnya tentang tekad di bawah pohon Bodhi dan latihan pengendalian diri) untuk mengidentifikasi pengetahuan awal murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan ringkas dan membaca teks materi mengenai riwayat perjuangan Petapa Gotama, berfokus pada 3 sifat utama: (1) Semangat pantang menyerah (Viriya) dalam mengatasi cobaan nafsu/Mara, (2) Kejujuran mengakui ketidakefektifan penyiksaan diri yang ekstrem, dan (3) Tekad bulat (Adhitthana) bermeditasi hingga mencapai Penerangan Sempurna (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Secara berpasangan, murid mengikuti aktivitas interaktif berupa tantangan kartu tebak peran 'Teladan Diri': murid mencocokkan kartu sifat Petapa Gotama dengan kartu tindakan nyata terhadap diri sendiri (Kartu 1: Semangat pantang menyerah -> belajar sungguh-sungguh meski materi sulit; Kartu 2: Pengendalian diri -> menolak godaan bermain gawai berlebihan saat jam tidur; Kartu 3: Tekad bulat -> konsisten menyelesaikan tugas sekolah hingga tuntas) (15 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan analisis perbandingan pada Lembar Refleksi Diri mengenai bagaimana 3 sifat Petapa Gotama tersebut dapat langsung diterapkan untuk mengatasi kebiasaan buruk diri sendiri (misal: rasa malas, mudah putus asa, dan kurang disiplin) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid merumuskan satu ikrar komitmen pribadi tertulis: 'Sifat Petapa Gotama yang Aku Teladani untuk Membimbing Diriku Sendiri', yang berisi rencana tindakan nyata menjaga disiplin dan kesabaran diri selama satu pekan ke depan (15 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai peneladanan sifat-sifat Petapa Gotama dalam mengelola dan mendisiplinkan diri sendiri (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik formatif terhadap lembar refleksi murid, mengingatkan rencana pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan pelimpahan jasa serta salam penutup Namo Buddhaya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar ringkasan dengan infografik alur perjuangan Petapa Gotama bagi murid yang memerlukan dukungan visual.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang kesulitan menghubungkan riwayat pertapaan Gotama dengan perilaku sehari-hari terhadap diri sendiri, serta memberikan kesempatan elaborasi mandiri bagi murid yang sudah cepat memahami.
  • Produk: Format refleksi diri dapat disajikan berupa tabel komitmen terstruktur atau paragraf narasi reflektif pribadi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Guru mengajukan 2 pertanyaan diagnostik lisan: (1) 'Apa yang dilakukan Petapa Gotama ketika cara pertapaan menyiksa diri tidak membawa pembebasan?' (kunci acuan: Beliau berani mengubah cara dan memilih Jalan Tengah/menolak cara ekstrem); (2) 'Sebutkan sifat utama Petapa Gotama saat duduk di bawah pohon Bodhi menghadapi godaan Mara!' (kunci acuan: Tekad yang teguh/pantang menyerah/Adhitthana/Viriya).

Proses:

  • Penilaian ketepatan pengerjaan 3 pasangan kartu sifat dan tindakan diri (Acuan pasangan: Semangat pantang menyerah -> belajar sungguh-sungguh meski sulit; Pengendalian diri -> membatasi gawai saat jam tidur; Tekad bulat -> menyelesaikan tugas hingga tuntas).
  • Pemeriksaan draf refleksi tertulis murid untuk melihat kesesuaian antara sifat Petapa Gotama yang dipilih dengan tindakan nyata terhadap diri sendiri (kriteria: memuat sifat Petapa Gotama, identifikasi kelemahan diri, dan tindakan perbaikan diri yang relevan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup pada lembar ikrar komitmen: murid menuliskan minimal 2 sifat Petapa Gotama (dari pilihan: tekad bulat, pantang menyerah, pengendalian diri) beserta 2 contoh tindakan konkrit disiplin diri dalam seminggu ke depan (kriteria penerimaan: tindakan realistis, terfokus pada perilaku diri sendiri, dan bersesuaian dengan makna sifat yang dipilih).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal pemahaman riwayat Petapa Gotama
  • Observasi ketepatan menghubungkan sifat Petapa Gotama dengan perilaku diri sendiri pada aktivitas kartu interaktif
  • Pemeriksaan Lembar Refleksi Diri dan ikrar komitmen tindakan terhadap diri sendiri

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan sifat Petapa Gotama terhadap perilaku diri sendiriBelum mampu mengidentifikasi sifat Petapa Gotama yang relevan dan belum menghubungkannya dengan perilaku terhadap diri sendiri.Mampu menyebutkan 1 sifat Petapa Gotama, namun tindakan refleksi terhadap perilaku diri sendiri masih bersifat umum atau dibantu arahan guru.Mampu merefleksikan minimal 2 sifat Petapa Gotama (misalnya tekad bulat dan pantang menyerah) dengan menghubungkannya secara tepat pada tindakan nyata pengelolaan diri sendiri secara mandiri.Mampu merefleksikan 3 sifat Petapa Gotama (tekad bulat, pantang menyerah, dan pengendalian diri) secara mendalam, tepat, serta merumuskan komitmen tindakan disiplin diri yang rinci dan realistis secara konsisten dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid mampu menangkap esensi perjuangan Petapa Gotama sebagai teladan pembinaan diri sendiri, bukan sekadar cerita sejarah?
  • Bagian mana dari aktivitas pembelajaran yang paling membantu murid menyadari pentingnya disiplin diri?

Murid:

  • Sifat Petapa Gotama mana yang paling menyentuh hatiku untuk segera kuikuti?
  • Apa satu kebiasaan buruk pada diriku yang bertekad kuubah mulai hari ini dengan meneladan Petapa Gotama?

Pertemuan 4 — Merefleksikan Moralitas Tokoh Buddhis Inspiratif dalam Berperilaku terhadap Masyarakat — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.4 Merefleksikan moralitas tokoh Buddhis inspiratif untuk diteladan dalam berperilaku terhadap masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid melantunkan doa pembuka, dan melakukan duduk hening berkesadaran selama 3 menit untuk memusatkan perhatian (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4, yaitu merefleksikan nilai moralitas tokoh Buddhis inspiratif dalam berperilaku terhadap masyarakat (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan dengan meminta murid menjodohkan 3 tokoh Buddhis inspiratif dengan teladan moralnya terhadap masyarakat berdasarkan kartu pemantik: (1) Raja Asoka -> Pelayanan sosial dan fasilitas umum bagi rakyat tanpa membeda-bedakan; (2) Anathapindika -> Kedermawanan luar biasa bagi fakir miskin dan masyarakat; (3) Mahapajapati Gotami -> Perjuangan kesetaraan hak dan perlindungan moral kaum perempuan di masyarakat (acuan: pasangan teladan moral yang tepat) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membaca teks narasi ringkas pada buku teks mengenai nilai moralitas tokoh Buddhis inspiratif (Raja Asoka yang membangun rumah sakit dan sumur bagi masyarakat luas, serta Anathapindika yang mendistribusikan makanan kepada masyarakat yang lapar) secara hening dan berkesadaran (10 menit).
  • Murid mencatat 2 nilai moralitas utama dari narasi tokoh tersebut (kemurahan hati/dana dan kepedulian sosial/karuna) yang langsung berdampak positif pada kehidupan masyarakat (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid mengikuti permainan tantangan interaktif 'Kartu Teladan Tokoh': secara berpasangan murid mencocokkan 4 kartu skenario tindakan nyata di masyarakat dengan nilai moral tokoh Buddhis yang sesuai: (1) Kartu 'Membagikan makanan kepada tetangga yang kekurangan' -> cocok dengan nilai kedermawanan Anathapindika; (2) Kartu 'Merawat fasilitas umum di taman warga tanpa merusaknya' -> cocok dengan nilai kepedulian publik Raja Asoka; (3) Kartu 'Menolong warga korban bencana banjir tanpa melihat agamanya' -> cocok dengan toleransi dan belas kasih Raja Asoka; (4) Kartu 'Menghargai hak teman perempuan dalam memimpin regu kebersihan lingkungan' -> cocok dengan teladan kesetaraan Mahapajapati Gotami (acuan: pasangan kartu 1-Anathapindika, 2-Asoka, 3-Asoka, 4-Mahapajapati) (15 menit).
  • Murid menuliskan satu contoh tindakan konkret yang pernah atau dapat dilakukan dirinya sendiri di lingkungan rukun tetangga/sekolah yang meneladan moralitas tokoh Buddhis tersebut (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menuliskan lembar refleksi pribadi berisi: (a) tokoh Buddhis inspiratif yang dipilih, (b) nilai moralitas tokoh tersebut, (c) komitmen perilaku nyata yang akan diterapkan terhadap masyarakat sekitar, dan (d) manfaat tindakan tersebut bagi kerukunan warga (15 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil refleksi murid mengenai pentingnya meneladan moralitas tokoh Buddhis dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari (5 menit).
  • Guru memandu murid melakukan asesmen akhir berupa cek pemahaman reflektif singkat (3 butir) dan menutup pembelajaran dengan doa penutup serta pelimpahan jasa (Pattidana) (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks ringkas dengan penandaan visual (highlight) pada nilai moral tokoh (Asoka dan Anathapindika), sedangkan murid yang cepat diberikan teks tambahan mengenai tokoh Buddhis inspiratif Indonesia (seperti Ashin Jinarakkhita dalam membina kerukunan masyarakat).
  • Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu secara terbimbing melalui pertanyaan penuntun dalam menentukan tindakan nyata di masyarakat, sedangkan murid yang cepat menuliskan refleksi dampak moralitas tokoh dalam skala sosial yang lebih luas secara mandiri.
  • Produk: Refleksi tindakan nyata dapat disajikan dalam bentuk lembar tulisan paragraf refleksi terstruktur atau peta gagasan reflektif 4 kolom (Tokoh - Nilai Moral - Tindakan Nyata di Masyarakat - Manfaat bagi Masyarakat).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik singkat: menjodohkan 3 tokoh Buddhis dengan teladan moralnya terhadap masyarakat (acuan: Raja Asoka = pelayanan fasilitas umum; Anathapindika = kedermawanan bagi fakir miskin; Mahapajapati Gotami = penegakan kesetaraan dan perlindungan kaum perempuan di masyarakat).

Proses:

  • Observasi ketepatan menghubungkan 4 kartu skenario tindakan di masyarakat dengan tokoh Buddhis inspiratif pada aktivitas permainan 'Kartu Teladan Tokoh' (acuan kunci: kartu 1-Anathapindika, kartu 2-Asoka, kartu 3-Asoka, kartu 4-Mahapajapati Gotami).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis reflektif pada penutup: (1) Sebutkan 1 nilai moralitas Raja Asoka atau Anathapindika terhadap masyarakat; (2) Sebutkan 1 rencana tindakan nyata dirimu di lingkungan masyarakat yang mencerminkan nilai moral tokoh tersebut; (3) Jelaskan manfaat tindakan tersebut bagi masyarakat (kriteria penerimaan: nilai moral relevan dengan teks [kedermawanan/pelayanan umum/belas kasih], rencana tindakan logis dan dapat diamati di lingkungan tempat tinggal/sekolah, serta manfaat rasional bagi keharmonisan sosial).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan tantangan 'Kartu Teladan Tokoh'
  • Lembar Refleksi Pribadi Nilai Moralitas Tokoh Buddhis terhadap Masyarakat

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan moralitas tokoh Buddhis inspiratif dalam berperilaku terhadap masyarakatBelum mampu menyebutkan nilai moralitas tokoh Buddhis inspiratif dan belum mampu merumuskan contoh tindakan nyata dalam berperilaku terhadap masyarakat.Mampu menyebutkan nilai moralitas tokoh Buddhis inspiratif (misalnya kedermawanan Anathapindika atau kepedulian sosial Raja Asoka) namun contoh tindakan terhadap masyarakat masih berupa konsep umum dan belum kontekstual dengan diri sendiri.Mampu merefleksikan nilai moralitas tokoh Buddhis inspiratif secara tepat dengan merumuskan rencana tindakan nyata yang dapat dilakukan diri sendiri dalam berperilaku terhadap masyarakat serta menyebutkan manfaatnya.Mampu merefleksikan secara mendalam nilai moralitas tokoh Buddhis inspiratif dengan merumuskan rencana tindakan nyata diri sendiri yang spesifik, relevan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat sekitar, serta menguraikan manfaatnya bagi kerukunan sosial secara utuh dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah pembelajaran kontekstual berhasil membantu murid menghubungkan keteladanan tokoh sejarah Buddhis dengan tindakan konkret di masyarakat saat ini?
  • Bagian mana dari aktivitas 'Kartu Teladan Tokoh' yang paling efektif meningkatkan pemahaman reflektif murid?

Murid:

  • Nilai moral apa dari tokoh Buddhis inspiratif yang paling menyentuh hatiku untuk dipraktikkan kepada tetangga atau teman di lingkungan sekitarku?
  • Tindakan baik apa yang akan langsung aku lakukan hari ini di lingkungan masyarakat sebagai wujud meneladan tokoh Buddhis?

Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.3.1 Merefleksikan nilai-nilai ajaran moralitas sebagai dasar etika dalam pergaulan remaja di lingkungan sekitar
  • TP 7.3.2 Merefleksikan nilai-nilai ajaran moralitas untuk menentukan sikap terhadap permasalahan remaja di lingkungan sekitar
  • TP 7.3.3 Merefleksikan sifat-sifat Buddha Sakyamuni pada masa riwayat Petapa Gotama untuk diteladan dalam berperilaku terhadap diri sendiri
  • TP 7.3.4 Merefleksikan moralitas tokoh Buddhis inspiratif untuk diteladan dalam berperilaku terhadap masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', mengajak murid melakukan hening sejenak (meditasi kesadaran napas) selama 2 menit, serta mempresensi kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan sesi sumatif bab 3, menjelaskan tata tertib dan dua bentuk asesmen yang akan dijalani: tes tertulis reflektif (40 menit) dan presentasi lisan singkat bergiliran 1 menit per murid (32 menit), serta membagikan lembar tes tertulis (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mencermati petunjuk pengerjaan dan 3 butir soal pada Lembar Kerja Asesmen Tertulis Reflektif (Bagian 1: Analisis nilai moralitas dalam pergaulan remaja sebaya; Bagian 2: Perumusan sikap etis atas studi kasus perundungan siber/cyberbullying di kalangan remaja; Bagian 3: Refleksi keteladanan sifat keuletan dan pengendalian diri Petapa Gotama terhadap diri sendiri) dengan bimbingan guru secara hening (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara mandiri dan serentak mengerjakan Lembar Asesmen Tertulis Reflektif selama 40 menit. Rincian tugas tertulis dan kriteria acuan jawaban: Soal 1 menguji TP 7.3.1 (analisis pergaulan sebaya berdasarkan Pancasila Buddhis; acuan: sila ke-2 kejujuran/tidak mengambil hak orang lain, sila ke-3 saling menghormati batas pribadi, sila ke-4 ucapan benar/musavada veramani); Soal 2 menguji TP 7.3.2 (kasus: seorang teman menyebarkan foto aib teman lain di media sosial hingga korban dikucilkan; acuan tindakan etis: menolak menyebarkan ulang, menegur pelaku secara bijak, mendampingi korban, berlandaskan prinsip cinta kasih/metta dan ucapan benar); Soal 3 menguji TP 7.3.3 (refleksi sifat keuletan, semangat pantang menyerah/viriya, dan pengendalian diri Petapa Gotama selama bertapa untuk diterapkan dalam mendisiplinkan diri sendiri saat belajar dan mengendalikan amarah) (37 menit).
  • Setelah 40 menit, seluruh lembar tertulis dikumpulkan. Guru langsung memulai sesi Tugas 2 (unjuk kerja lisan individual, TP 7.3.4): setiap murid secara bergiliran maju ke meja guru dan menyampaikan presentasi lisan singkat selama 1 menit mengenai satu tindakan nyata meneladani moralitas tokoh Buddhis inspiratif (pilihan tokoh: Ashoka, Maha Ghosananda, Master Cheng Yen, B.R. Ambedkar, atau Sujin Borihanketvaniket) dalam kehidupan bermasyarakat (acuan: identifikasi nilai welas asih/karuna, perdamaian, atau kerelawanan tokoh, serta contoh tindakan nyata di masyarakat seperti bakti sosial, menjaga kerukunan antartetangga, atau tidak mendiskriminasi teman). Sementara seorang murid tampil di hadapan guru, murid lain duduk tenang membaca hening materi pengayaan (32 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setelah seluruh giliran unjuk kerja lisan selesai, guru memfasilitasi murid melakukan hening sejenak untuk mengendapkan pengalaman dan merefleksikan kejujuran, ketenangan, serta keteguhan batin yang telah mereka latih selama proses asesmen berlangsung (0 menit - diintegrasikan dalam penutup/alokasi ringkas).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi atas kedisiplinan dan integritas seluruh murid dalam menyelesaikan asesmen sumatif bab 3, serta merangkum benang merah pembelajaran etika dan moralitas (sila) sebagai fondasi hidup damai (2 menit).
  • Guru bersama murid menutup pertemuan dengan membacakan paritta penutup/ungkapan syukur Buddhis 'Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta' dan salam penutup 'Sadhu, Sadhu, Sadhu' (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan lembar soal tertulis dengan format ukuran huruf yang lebih besar bagi murid dengan hambatan penglihatan ringan tanpa mengubah isi butir soal.
  • Proses: Memberikan kesempatan giliran awal presentasi lisan bagi murid yang memiliki kecemasan berbicara tinggi di depan meja guru agar fokus terarah dengan tenang.
  • Produk: Standar bukti tetap sama (esai reflektif tertulis dan tuturan lisan 1 menit); bagi murid dengan disgrafia diperkenankan menuliskan poin refleksi menggunakan bantuan laptop/alat ketik sekolah.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • kombinasi tes tertulis reflektif dan presentasi lisan singkat bergiliran: lembar kerja tertulis berisi analisis reflektif moralitas pergaulan, penyelesaian kasus permasalahan remaja, dan keteladanan sifat Petapa Gotama terhadap diri sendiri, serta rekaman/catatan performa presentasi lisan singkat mengenai teladan moral tokoh Buddhis dalam masyarakat
  • tes tertulis serentak: lembar asesmen tertulis reflektif yang diselesaikan serentak oleh seluruh murid (analisis nilai moralitas dalam pergaulan sebaya, perumusan sikap etis atas studi kasus remaja, dan refleksi keteladanan sifat teguh/ulet Petapa Gotama dalam mengendalikan diri sendiri) (45 menit; individual; instrumen: rubrik analitik penilaian lembar refleksi tertulis (kriteria: kedalaman analisis moralitas, ketepatan solusi etis kasus remaja, relevansi teladan sifat Petapa Gotama pada diri sendiri))
  • unjuk kerja bergiliran: presentasi lisan individual 1 menit per murid di hadapan guru secara bergiliran mengenai satu tindakan nyata meneladani moralitas tokoh Buddhis inspiratif dalam hidup bermasyarakat (35 menit / 1 menit = 35 slot murid, muat melayani 28 murid kelas) (35 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja penyampaian lisan (kriteria: ketepatan identifikasi nilai moral tokoh, kejelasan contoh tindakan di masyarakat, kelancaran bertutur))

Sumatif:

  • kombinasi tes tertulis reflektif dan presentasi lisan singkat bergiliran: lembar kerja tertulis berisi analisis reflektif moralitas pergaulan, penyelesaian kasus permasalahan remaja, dan keteladanan sifat Petapa Gotama terhadap diri sendiri, serta rekaman/catatan performa presentasi lisan singkat mengenai teladan moral tokoh Buddhis dalam masyarakat
  • tes tertulis serentak: lembar asesmen tertulis reflektif yang diselesaikan serentak oleh seluruh murid (analisis nilai moralitas dalam pergaulan sebaya, perumusan sikap etis atas studi kasus remaja, dan refleksi keteladanan sifat teguh/ulet Petapa Gotama dalam mengendalikan diri sendiri) (45 menit; individual; instrumen: rubrik analitik penilaian lembar refleksi tertulis (kriteria: kedalaman analisis moralitas, ketepatan solusi etis kasus remaja, relevansi teladan sifat Petapa Gotama pada diri sendiri))
  • unjuk kerja bergiliran: presentasi lisan individual 1 menit per murid di hadapan guru secara bergiliran mengenai satu tindakan nyata meneladani moralitas tokoh Buddhis inspiratif dalam hidup bermasyarakat (35 menit / 1 menit = 35 slot murid, muat melayani 28 murid kelas) (35 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja penyampaian lisan (kriteria: ketepatan identifikasi nilai moral tokoh, kejelasan contoh tindakan di masyarakat, kelancaran bertutur))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kedalaman Analisis Nilai Moralitas Pergaulan Remaja (TP 7.3.1)Belum mampu mengaitkan ajaran moralitas (Pancasila Buddhis) dengan etika pergaulan remaja sebaya.Mengaitkan 1 nilai ajaran moralitas (misal: menghindari dusta) dalam pergaulan remaja tetapi penjelasannya masih sangat dangkal/umum.Menganalisis minimal 2 nilai ajaran moralitas (misal: kejujuran/musavada veramani dan saling menghormati/kamesu micchacara veramani) dalam pergaulan remaja di lingkungan sekitar dengan tepat.Menganalisis secara mendalam 3 nilai ajaran moralitas (menghargai hak milik teman, menjaga kehormatan diri/teman, dan bertutur kata benar) dalam dinamika pergaulan remaja secara runtut dan kontekstual.
Penentuan Sikap Etis terhadap Permasalahan Remaja (TP 7.3.2)Belum mampu menentukan sikap atau memberikan alternatif penyelesaian yang etis atas studi kasus permasalahan remaja.Menentukan sikap yang normatif namun belum merujuk pada prinsip etika moralitas Buddhis dalam menyelesaikan kasus perundungan siber.Menentukan sikap etis yang tepat dalam menghadapi kasus perundungan siber berlandaskan nilai cinta kasih (metta) dan ucapan benar (samma vaca) tanpa membalas keburukan.Menentukan sikap etis yang komprehensif (pencegahan, peneguran bijak, dan pendampingan empati bagi korban) berlandaskan nilai moralitas Buddhis secara kritis dan bertanggung jawab.
Relevansi Refleksi Sifat Petapa Gotama terhadap Diri Sendiri (TP 7.3.3)Belum mampu menghubungkan sifat-sifat Petapa Gotama dengan perilaku pengendalian terhadap diri sendiri.Menyebutkan sifat Petapa Gotama (pantang menyerah) namun contoh penerapannya pada diri sendiri masih belum spesifik.Merefleksikan sifat keteguhan batin (adhitthana) dan keuletan (viriya) Petapa Gotama serta mengaitkannya dengan 1 contoh disiplin belajar dan pengendalian emosi diri.Merefleksikan secara mendalam sifat keuletan, kesabaran (khanti), dan penguasaan diri Petapa Gotama disertai komitmen tindakan nyata perbaikan perilaku diri sehari-hari.
Keteladanan Moralitas Tokoh Buddhis dalam Bermasyarakat (TP 7.3.4)Belum mampu memaparkan nilai moralitas tokoh Buddhis inspiratif maupun tindakannya di masyarakat.Menyebutkan nama tokoh Buddhis inspiratif tetapi nilai moralitas dan contoh tindakannya bagi masyarakat masih keliru atau tidak relevan.Menjelaskan 1 nilai moralitas tokoh Buddhis inspiratif (misal: cinta kasih universal Master Cheng Yen atau perdamaian Maha Ghosananda) dan menyebutkan 1 contoh tindakan nyata dalam hidup bermasyarakat secara lancar.Menjelaskan secara terperinci nilai moralitas tokoh Buddhis inspiratif dan memberikan contoh tindakan nyata yang relevan bagi masyarakat sekitar dengan tutur lisan yang jelas, runtut, dan meyakinkan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 40 menit untuk tes tertulis dan 32 menit untuk presentasi lisan bergiliran terlaksana secara efektif dan kondusif bagi seluruh murid?
  • Bagaimana capaian pemahaman murid secara keseluruhan terhadap nilai etika moralitas, sejarah Petapa Gotama, dan keteladanan tokoh Buddhis pada Bab 3 ini?

Murid:

  • Bagian mana dari asesmen sumatif tadi yang paling menantang untuk saya refleksikan ke dalam perilaku hidup saya sendiri?
  • Nilai moral Buddhis apa yang paling berkesan dan ingin terus saya praktikkan dalam pergaulan serta kehidupan bermasyarakat?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
  2. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
  3. Lembar Kerja Kasus Pergaulan Remaja (berisi 3 skenario kontekstual)
  4. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. 2021. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII.
  5. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. 2021. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Bab 3: Etika dan Moralitas).
  6. Kartu skenario studi kasus permasalahan remaja dan lembar kerja refleksi sikap.
  7. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021 (Bab 3 Subbab 3: Nilai-nilai Moralitas dalam Riwayat Petapa Gotama)
  8. Set Kartu Tantangan Pasangan Sifat Petapa Gotama dan Tindakan Diri
  9. Lembar Refleksi dan Ikrar Komitmen Diri
  10. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek 2021), Bab III Subbab 4
  11. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII (Kemendikbudristek 2021), Bab III Subbab 4
  12. Kartu Aktivitas 'Kartu Teladan Tokoh'
  13. Lembar Refleksi Diri Murid
  14. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, 2021
  15. Buku Panduan Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII, Kemendikbudristek RI, 2021
  16. Lembar Soal Asesmen Tertulis Reflektif Bab 3
  17. Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Asesmen Sumatif Bab 3

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.