Modul AjarBab 3Fase CSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 6 Bab 3: Menyelesaikan Masalah dengan Musyawarah

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 6 untuk Bab 3 "Menyelesaikan Masalah dengan Musyawarah", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 6 Bab 3: Menyelesaikan Masalah dengan Musyawarah

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 6

Bab 3

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Bab 3 — Menyelesaikan Masalah dengan Musyawarah

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikBab 3 — Menyelesaikan Masalah dengan Musyawarah
Alokasi Waktu11 JP (11 x 35 menit = 385 menit)
Jumlah Pertemuan4
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 6.3.1 Mengintegrasikan konsep dasar musyawarah mufakat dalam kehidupan Buddha Sakyamuni saat menyelesaikan masalah perbedaan pendapat
  2. TP 6.3.2 Mensintesis prinsip musyawarah mufakat kehidupan Buddha Sakyamuni dalam praktik pengambilan keputusan demokratis di lingkungan keluarga
  3. TP 6.3.3 Mensintesis prinsip musyawarah mufakat kehidupan Buddha Sakyamuni dalam praktik pengambilan keputusan demokratis di lingkungan sekolah
  4. TP 6.3.4 Mensintesis prinsip musyawarah mufakat kehidupan Buddha Sakyamuni dalam praktik pengambilan keputusan demokratis di lingkungan masyarakat

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Apa yang dilakukan Buddha Sakyamuni ketika melihat Suku Sakya dan Suku Koliya berselisih memperebutkan air Sungai Rohini?
  2. Mengapa musyawarah mufakat lebih dipilih Buddha daripada membiarkan pihak yang berselisih bertengkar?
  3. Bagaimana cara mengintegrasikan konsep dasar musyawarah mufakat dari kisah Buddha tersebut ke dalam pemecahan masalah perbedaan pendapat?
  4. Bagaimana cara Buddha mendamaikan pihak yang berselisih tanpa kekerasan ketika terjadi perbedaan kepentingan?
  5. Bagaimana prinsip damai dan kebijaksanaan Buddha tersebut dapat kita satukan untuk menyelesaikan perbedaan pendapat saat menentukan keputusan bersama di dalam keluarga?
  6. Bagaimana keteladanan Buddha saat mendamaikan Suku Sakya dan Koliya dapat kita terapkan ketika teman sekelas berebut memakai fasilitas sekolah?
  7. Mengapa pengambilan keputusan bersama di lingkungan sekolah dan warga masyarakat harus mengutamakan kedamaian dan keadilan daripada memaksakan kehendak?
  8. Bagaimana teladan Buddha Sakyamuni saat mendamaikan perselisihan Sungai Rohini dapat memandu kita menyelesaikan perbedaan pendapat sehari-hari?
  9. Mengapa keputusan bersama di keluarga, sekolah, dan masyarakat harus dicapai melalui musyawarah mufakat yang demokratis?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengintegrasikan Konsep Dasar Musyawarah Mufakat dalam Kehidupan Buddha Sakyamuni saat Mengatasi Perbedaan Pendapat — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.3.1 Mengintegrasikan konsep dasar musyawarah mufakat dalam kehidupan Buddha Sakyamuni saat menyelesaikan masalah perbedaan pendapat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Namo Buddhaya, mengajak murid melakukan doa pembuka dan Duduk Hening (mindful breathing) memancarkan cinta kasih selama 3 menit untuk memusatkan kesadaran (4 menit).
  • Guru bersama murid membaca Pesan Kitab Suci Dhammapada syair 77: 'Sebaiknya orang selalu menjaga ucapan, sebaiknya dia bisa mengendalikan ucapannya...' serta mengaitkannya dengan pentingnya menjaga ucapan saat menghadapi perbedaan pendapat (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab lisan singkat untuk mengecek kesiapan murid mengenai konsep dasar musyawarah: 'Disebut apakah cara menyelesaikan perbedaan pendapat secara bersama-sama untuk mencapai kata sepakat tanpa kekerasan?' (acuan: musyawarah / musyawarah mufakat) dan 'Siapa dua suku yang pernah berselisih memperebutkan air lalu didamaikan oleh Buddha?' (acuan: Suku Sakya dan Suku Koliya) (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati Gambar 3.3 dan teks kisah sejarah 'Buddha Mendamaikan Suku Sakya dan Koliya yang Memperebutkan Air Sungai Rohini' pada Buku Siswa halaman 72-73, lalu mengidentifikasi masalah utama perselisihan dan tindakan Buddha mengajak kedua belah pihak bermusyawarah alih-alih berperang (12 menit).
  • Secara berpasangan, murid menguraikan 3 konsep dasar musyawarah mufakat yang diteladankan Buddha Sakyamuni: (1) Menahan diri dari kekerasan/ucapan kasar demi kebersamaan, (2) Menghargai nilai kehidupan di atas materi air waduk, (3) Membagi hak pemanfaatan air secara adil dan disepakati bersama (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam aktivitas ceria 'Permainan Kartu Hubung Konsep Musyawarah' (Joyful Learning), murid bekerja dalam kelompok kecil menjodohkan 4 kartu situasi perbedaan pendapat dengan 4 kartu konsep tindakan musyawarah Buddha Sakyamuni: Kartu A (Dua pihak berebut hak fasilitas) dipasangkan dengan Kartu 1 (Mendudukkan kedua pihak untuk mendengar alasan masing-masing seperti Buddha mendengarkan Sakya dan Koliya); Kartu B (Saling mencela dan memaksakan kehendak) dipasangkan dengan Kartu 2 (Menjaga ucapan benar/Samma Vaca sesuai Dhammapada 77); Kartu C (Merasa diri paling benar) dipasangkan dengan Kartu 3 (Mengutamakan kerukunan dan kedamaian bersama daripada menang sendiri); Kartu D (Keputusan sepihak yang merugikan salah satu pihak) dipasangkan dengan Kartu 4 (Mencapai kesepakatan pembagian yang adil dan ditaati kedua belah pihak) (12 menit).
  • Setiap kelompok mengintegrasikan konsep dasar musyawarah mufakat Buddha ke dalam Lembar Analisis Masalah Perbedaan Pendapat, dengan mengisi tabel penyesuaian: masalah perselisihan Suku Sakya-Koliya, prinsip musyawarah yang digunakan Buddha, dan integrasi solusinya terhadap penyelesaian perbedaan pendapat (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membandingkan hasil pengintegrasian konsep kelompoknya dengan kelompok lain secara terbimbing, menyimpulkan bahwa musyawarah ala Buddha bukan untuk mencari menang sendiri, melainkan mencapai mufakat demi kedamaian dan keadilan bersama (8 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan konsep dasar musyawarah mufakat dalam peristiwa sejarah Buddha mendamaikan Suku Sakya dan Koliya (3 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman 2 butir soal tertulis singkat di selembar kertas mengenai konsep musyawarah Buddha Sakyamuni dan menyampaikan rencana pertemuan berikutnya tentang penerapan musyawarah di lingkungan keluarga, lalu ditutup dengan doa penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks kisah Suku Sakya dan Koliya berpenanda garis bawah pada kalimat tindakan musyawarah Buddha; murid yang berpencapaian tinggi diberikan teks lengkap beserta rujukan syair Dhammapada 77 secara utuh.
  • Proses: Murid yang kesulitan dibimbing guru dalam mencocokkan pasangan kartu konsep musyawarah; murid mahir menuntaskan pemasangan secara mandiri dan menambahkan analisis sebab-akibat bila musyawarah tidak dilakukan.
  • Produk: Tabel integrasi konsep musyawarah: murid reguler melengkapi 3 pasangan konsep dan solusi; murid cepat mengintegrasikan keempat konsep situasi secara terperinci beserta alasannya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: (1) 'Disebut apakah cara menyelesaikan perbedaan pendapat secara bersama-sama untuk mencapai kata sepakat tanpa perselisihan?' (acuan: musyawarah / musyawarah mufakat); (2) 'Siapa dua suku yang pernah berselisih memperebutkan air Sungai Rohini lalu didamaikan oleh Buddha Sakyamuni?' (acuan: Suku Sakya dan Suku Koliya).

Proses:

  • Observasi ketepatan murid saat menjodohkan 4 pasangan kartu konsep musyawarah Buddha Sakyamuni pada tahap Mengaplikasi (acuan kunci pasangan: A-1, B-2, C-3, D-4).
  • Pemeriksaan Lembar Analisis: Menilai ketepatan murid dalam mengintegrasikan 3 konsep musyawarah Buddha Sakyamuni (acuan: [1] mendudukkan kedua pihak tanpa kekerasan, [2] menjaga ucapan benar/menghindari celaan, [3] membuat kesepakatan pembagian adil yang ditaati bersama).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis akhir sesi (2 butir): (1) 'Berdasarkan kisah Sungai Rohini, sebutkan 2 konsep musyawarah yang diterapkan Buddha Sakyamuni untuk mengatasi perbedaan pendapat!' (kriteria penerimaan operasional: menyebutkan minimal 2 dari: mendamaikan tanpa kekerasan, menasihati untuk mengendalikan ucapan, mengutamakan keselamatan jiwa/persatuan di atas air waduk, atau membagi air secara adil bersama); (2) 'Apa tujuan utama musyawarah mufakat yang diajarkan Buddha bukan untuk mencari siapa yang menang sendiri?' (kriteria penerimaan operasional: untuk mencapai kesepakatan damai/keadilan yang ditaati dan membahagiakan semua pihak).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan 'Permainan Kartu Hubung Konsep Musyawarah' dan pengisian Lembar Analisis Integrasi Konsep Musyawarah Buddha Sakyamuni.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengintegrasikan konsep dasar musyawarah mufakat dalam kehidupan Buddha Sakyamuni saat menyelesaikan masalah perbedaan pendapatBelum mampu mengintegrasikan konsep dasar musyawarah mufakat dalam kehidupan Buddha Sakyamuni saat menyelesaikan masalah perbedaan pendapat (menjodohkan kartu konsep benar kurang dari 2 pasang dan belum mampu mengisi lembar analisis secara tepat tanpa panduan penuh).Mampu mengintegrasikan sebagian kecil konsep dasar musyawarah mufakat dalam kehidupan Buddha Sakyamuni (menjodohkan tepat 2 dari 4 kartu konsep [kunci: A-1, B-2, C-3, D-4] dan menuliskan 1 integrasi konsep musyawarah dengan bantuan bimbingan guru).Mampu mengintegrasikan konsep dasar musyawarah mufakat dalam kehidupan Buddha Sakyamuni secara tepat (menjodohkan tepat 3-4 dari 4 kartu konsep [kunci: A-1, B-2, C-3, D-4] dan menuliskan minimal 2 konsep musyawarah Buddha Sakyamuni ke dalam lembar analisis secara mandiri).Mampu mengintegrasikan seluruh konsep dasar musyawarah mufakat dalam kehidupan Buddha Sakyamuni secara lengkap dan mendalam (menjodohkan seluruh 4 kartu konsep secara sempurna [kunci: A-1, B-2, C-3, D-4] serta merumuskan integrasi 3 konsep musyawarah Buddha secara tepat, terperinci, dan konsisten tanpa kekeliruan).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan kartu konsep membantu murid memahami cara Buddha Sakyamuni mengintegrasikan musyawarah dalam mengatasi perselisihan?
  • Bagian langkah manakah yang membutuhkan alokasi bimbingan lebih intensif bagi murid yang belum memahami konsep dasar musyawarah mufakat?

Murid:

  • Hal penting apa yang saya pelajari tentang cara Buddha menyelesaikan pertengkaran Suku Sakya dan Koliya hari ini?
  • Sikap bijaksana apa dari Buddha saat bermusyawarah yang paling ingin saya teladani ketika ada teman yang berbeda pendapat?

Pertemuan 2 — Mensintesis Prinsip Musyawarah Mufakat Kehidupan Buddha Sakyamuni dalam Pengambilan Keputusan Demokratis di Lingkungan Keluarga — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.3.2 Mensintesis prinsip musyawarah mufakat kehidupan Buddha Sakyamuni dalam praktik pengambilan keputusan demokratis di lingkungan keluarga

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', memimpin doa pembuka, dan mengajak murid melakukan duduk hening dengan penuh kesadaran memancarkan cinta kasih (metta) kepada keluarga dan semua makhluk (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik kesiapan mensintesis dengan menampilkan 2 pernyataan singkat terkait cara Buddha menyelesaikan perselisihan air Sungai Rohini antara Suku Sakya dan Koliya: Pernyataan A: 'Mengutamakan nilai kehidupan, mendengarkan alasan kedua belah pihak secara adil, dan mencari kesepakatan damai', Pernyataan B: 'Membiarkan pihak yang lebih berkuasa memenangkan pembagian air'. Murid diminta memilih pernyataan yang benar (acuan jawaban benar: Pernyataan A) dan menyebutkan 1 contoh keputusan di keluarga yang perlu dimusyawarahkan (acuan kriteria: contoh berupa peristiwa keluarga seperti pembagian tugas rumah tangga, rencana liburan, atau menu makan bersama) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mensintesis (memadukan) prinsip musyawarah Buddha Sakyamuni ke dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan demokratis di lingkungan keluarga (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid menyimak ulasan mendalam mengenai 3 prinsip utama musyawarah Buddha Sakyamuni dalam kisah mendamaikan Suku Sakya dan Koliya: (1) Saling menghargai nilai kehidupan di atas ego (cinta kasih/metta), (2) Memberi kesempatan semua pihak berpendapat tanpa memotong pembicaraan (komunikasi benar/samma vaca), dan (3) Mengutamakan keadilan mufakat bersama di atas kepentingan sepihak (kebijaksanaan/panna) (15 menit).
  • Dalam aktivitas permainan kelompok berpasangan 'Tebak Pasangan Prinsip' yang menggembirakan, murid secara berpasangan mencocokkan kartu 3 prinsip musyawarah Buddha dengan situasi awal di keluarga: Kartu 1: 'Saling menghargai' dipasangkan dengan 'Menghargai usulan adik walau masih kecil'; Kartu 2: 'Komunikasi benar/mendengarkan' dipasangkan dengan 'Tidak menyela saat ayah/ibu menjelaskan pandangannya'; Kartu 3: 'Mufakat adil' dipasangkan dengan 'Membuat jadwal membersihkan rumah bersama tanpa memberatkan satu orang saja' (acuan kunci pasangan: 1-menghargai usulan adik; 2-tidak menyela; 3-jadwal adil) (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid bekerja dalam kelompok kecil (3-4 orang) menganalisis Lembar Sintesis Musyawarah Keluarga yang memuat 3 studi kasus nyata pengambilan keputusan di keluarga: Skenario 1: 'Perselisihan memilih tempat liburan akhir tahun antara kakak yang ingin ke pantai dan adik yang ingin ke pegunungan'; Skenario 2: 'Perdebatan pembagian waktu menonton televisi dan waktu belajar bersama'; Skenario 3: 'Perbedaan pendapat mengenai pembagian tugas mencuci piring dan menyapu lantai antara anggota keluarga' (15 menit).
  • Setiap kelompok mensintesis prinsip musyawarah Buddha ke dalam langkah solusi demokratis konkret untuk ketiga skenario tersebut dengan mengisi tabel sintesis: memadukan nilai metta, samma vaca, dan keadilan mufakat menjadi rencana musyawarah keluarga yang tertib (acuan pemecahan: Skenario 1 diselesaikan dengan musyawarah mufakat mencari opsi rotasi/alternatif yang disetujui bersama tanpa amarah; Skenario 2 diselesaikan dengan jadwal teratur yang disepakati bersama; Skenario 3 diselesaikan dengan pembagian tugas berkeadilan sesuai kemampuan) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Perwakilan kelompok membacakan sintesis langkah musyawarah keluarga yang telah dirumuskan dan kelompok lain saling memverifikasi keselarasan solusi tersebut dengan prinsip musyawarah Buddha Sakyamuni (15 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid bersama-sama menarik kesimpulan tentang pentingnya menyatukan prinsip musyawarah Buddha Sakyamuni (cinta kasih, saling mendengar, dan mufakat adil) ke dalam kehidupan keluarga agar terhindar dari pertengkaran (5 menit).
  • Murid melakukan cek pemahaman akhir melalui 1 soal reflektif tertulis: 'Tuliskan 1 sintesis tindakan nyata yang akan kamu lakukan di rumah jika terjadi silang pendapat dengan saudaramu berdasarkan prinsip musyawarah Buddha' (acuan kriteria: jawaban memuat penghentian amarah/bicara sopan dan mengajak duduk bersama mencari kesepakatan damai), kemudian pembelajaran ditutup dengan doa penutup dan pelimpahan jasa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan teks narasi sederhana kisah Sungai Rohini bergambar untuk murid yang membutuhkan scaffolding dan teks studi kasus keluarga dengan konflik yang lebih kompleks bagi murid yang berkemampuan cepat.
  • Proses: Memberikan panduan pertanyaan penuntun bertahap dalam tabel sintesis bagi kelompok yang memerlukan bantuan, sementara kelompok cepat diberikan tantangan merumuskan sintesis 3 skenario secara mandiri tanpa bantuan format rintisan.
  • Produk: Murid bebas menyajikan sintesis prinsip musyawarah keluarga dalam bentuk tabel matriks tertulis, bagan alur keputusan musyawarah keluarga, atau poin-poin kesepakatan keluarga.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman awal: Murid menjawab 2 butir diagnostik: (1) Memilih prinsip musyawarah Buddha dari 2 opsi (Pernyataan A: 'Mengutamakan nilai kehidupan, mendengarkan alasan kedua belah pihak secara adil, dan mencari kesepakatan damai'; Pernyataan B: 'Membiarkan pihak yang lebih berkuasa memenangkan pembagian air' — acuan benar: Pernyataan A); (2) Menyebutkan 1 contoh keputusan di keluarga yang perlu dimusyawarahkan (kriteria penerimaan operasional: menyebutkan situasi pengambilan keputusan bersama di rumah, seperti pembagian tugas harian, rencana liburan, atau alokasi jam belajar/bermain).

Proses:

  • Observasi formatif saat pengerjaan tugas kelompok memadukan prinsip musyawarah Buddha ke dalam 3 skenario pengambilan keputusan keluarga (Skenario 1: perselisihan liburan; Skenario 2: jadwal televisi/belajar; Skenario 3: pembagian tugas rumah tangga) sesuai acuan keterpaduan prinsip metta, samma vaca, dan keadilan mufakat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir sesi pembelajaran: Murid menuliskan 1 rumusan tindakan konkrit pengambilan keputusan di keluarga saat berselisih pendapat dengan saudara/orang tua yang memadukan prinsip musyawarah Buddha Sakyamuni (kriteria operasional: memadukan unsur menahan amarah/ucapan benar dengan inisiatif berdialog mencapai kesepakatan adil bersama).

Formatif:

  • Penilaian proses keterlibatan murid dalam memasangkan kartu prinsip musyawarah Buddha dengan situasi keluarga
  • Penilaian lembar kerja kelompok dalam mensintesis 3 skenario pengambilan keputusan demokratis di lingkungan keluarga berdasarkan prinsip musyawarah Buddha Sakyamuni

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Sintesis Prinsip Musyawarah Buddha dalam Pengambilan Keputusan KeluargaBelum mampu memadukan prinsip musyawarah Buddha Sakyamuni ke dalam solusi skenario keluarga; solusi yang diajukan masih bersifat pemaksaan kehendak atau sepihak pada seluruh 3 skenario.Mampu memadukan prinsip musyawarah Buddha Sakyamuni ke dalam solusi pengambilan keputusan keluarga secara tepat pada 1 dari 3 skenario yang disediakan dengan bimbingan penuh guru.Mampu memadukan prinsip musyawarah Buddha Sakyamuni (cinta kasih, komunikasi benar, mufakat adil) ke dalam solusi pengambilan keputusan demokratis keluarga secara tepat pada 2 dari 3 skenario secara mandiri.Mampu memadukan seluruh prinsip musyawarah Buddha Sakyamuni (cinta kasih, komunikasi benar, mufakat adil) ke dalam solusi pengambilan keputusan demokratis keluarga secara tepat dan utuh pada seluruh 3 skenario secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan kartu pasangan dan analisis skenario keluarga efektif membantu murid memahami cara mensintesis prinsip musyawarah Buddha?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama proses diskusi kelompok dalam merumuskan solusi demokratis berbasis nilai-nilai moral Buddha?

Murid:

  • Prinsip musyawarah Buddha apa yang paling berkesan dan ingin kamu terapkan saat berdiskusi di rumah bersama orang tua atau saudara?
  • Apakah kamu merasa lebih mudah menyelesaikan perbedaan pendapat di rumah setelah mempelajari cara musyawarah yang dicontohkan oleh Buddha?

Pertemuan 3 — Mensintesis Prinsip Musyawarah Mufakat Kehidupan Buddha Sakyamuni dalam Pengambilan Keputusan Demokratis di Lingkungan Sekolah dan Masyarakat — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.3.3 Mensintesis prinsip musyawarah mufakat kehidupan Buddha Sakyamuni dalam praktik pengambilan keputusan demokratis di lingkungan sekolah
  • TP 6.3.4 Mensintesis prinsip musyawarah mufakat kehidupan Buddha Sakyamuni dalam praktik pengambilan keputusan demokratis di lingkungan masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru mengawali sesi dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), doa pembuka, dan membimbing murid melakukan latihan Duduk Hening memancarkan cinta kasih (Metta Bhavana) (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan membagikan 2 pertanyaan pemetaan tertulis mengenai prinsip musyawarah Buddha dan penerapannya di sekolah/masyarakat (7 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, cakupan kegiatan mensintesis prinsip musyawarah di lingkungan sekolah dan masyarakat, serta alur kegiatan (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati kembali intisari kisah Buddha mendamaikan Suku Sakya dan Koliya (Sungai Rohini) serta membaca Dhammapada bait 77 tentang pengendalian ucapan, lalu mengkaji 4 prinsip musyawarah Buddha: (1) Mengendalikan ucapan dan menghindari kekerasan verbal; (2) Mendengarkan secara adil tanpa memihak demi kebaikan bersama; (3) Mengutamakan keharmonisan/kerukunan di atas kepentingan kelompok; (4) Mencapai mufakat dengan pembagian yang adil tanpa rasa benci (15 menit).
  • Murid bersama teman sebangku berdiskusi menghubungkan masing-masing dari 4 prinsip musyawarah Buddha tersebut dengan contoh masalah pengambilan keputusan di lingkungan sekolah dan masyarakat (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpartisipasi dalam permainan 'Kartu Solusi Musyawarah Rohini': setiap kelompok menerima kartu situasi konkret masalah di sekolah dan masyarakat, lalu merumuskan langkah musyawarah dengan memadukan prinsip Buddha ke dalam lembar kerja sintesis (15 menit).
  • Murid secara berkelompok mengerjakan LKPD Sintesis Musyawarah untuk 2 skenario konkret: Skenario Sekolah (perselisihan jadwal giliran memakai lapangan olahraga antar-kelas) dan Skenario Masyarakat (perbedaan pendapat warga terkait jadwal ronda malam dan kerja bakti kebersihan saluran air). Murid memadukan prinsip musyawarah Buddha untuk menghasilkan 3 langkah keputusan mufakat pada masing-masing skenario (20 menit).
  • Perwakilan kelompok menempelkan lembar sintesis pada dinding kelas dan saling meninjau rumusan sintesis kelompok lain untuk memeriksa keselarasan langkah solusi dengan 4 prinsip musyawarah Buddha (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengkaji kembali ketepatan perumusan solusi kelompoknya: apakah rancangan keputusan telah mencerminkan ucapan benar, keadilan tanpa kebencian, dan keharmonisan bersama (10 menit).

Penutup:

  • Murid mengerjakan asesmen akhir berupa cek pemahaman sintesis prinsip musyawarah sekolah dan masyarakat secara tertulis (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap hasil kerja sintesis murid dan mengarahkan persiapan menghadapi Asesmen Sumatif pada pertemuan berikutnya (1 menit).
  • Pembelajaran ditutup dengan pelimpahan jasa, doa penutup, dan salam penutup Buddhis (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja berpemandu yang telah memuat rincian 4 prinsip Buddha secara eksplisit; murid berpencapaian tinggi diberikan lembar kasus dengan konflik kepentingan yang lebih majemuk.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru secara terarah saat membedah skenario; murid mahir menganalisis konsekuensi jangka panjang dari keputusan mufakat yang dirumuskan.
  • Produk: Format perumusan sintesis mufakat dapat dituangkan dalam bentuk bagan alur keputusan berurutan atau tabel analisis masalah-prinsip-keputusan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Dua butir tes diagnostik awal: (1) Sebutkan 2 prinsip musyawarah yang dicontohkan Buddha saat mendamaikan Suku Sakya dan Suku Koliya! (Acuan: mengendalikan ucapan/tidak memicu amarah; mendengarkan kedua pihak secara adil; mendamaikan tanpa menumpahkan darah/tanpa kekerasan; membagi air dengan adil demi kerukunan bersama); (2) Tuliskan 1 contoh keputusan di sekolah atau masyarakat yang harus diputuskan melalui musyawarah mufakat! (Acuan kriteria penerimaan: contoh relevan seperti pemilihan ketua kelas, pembagian jadwal piket/lapangan olahraga di sekolah, atau jadwal kerja bakti/ronda malam di masyarakat).

Proses:

  • Observasi keterlibatan kelompok dan penilaian ketepatan hasil analisis LKPD Sintesis Musyawarah dalam merumuskan langkah keputusan mufakat berdasarkan 4 prinsip Buddha (mengendalikan ucapan, adil tanpa memihak, menjaga keharmonisan, mufakat adil tanpa kebencian) untuk skenario sekolah (jadwal lapangan) dan masyarakat (kerja bakti/ronda malam).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis akhir: 'Bagaimana memadukan prinsip musyawarah Buddha saat warga RT berselisih tentang jam kerja bakti?' (Kriteria penerimaan: jawaban memadukan minimal 2 prinsip musyawarah Buddha, yaitu berbicara dengan santun tanpa menyalahkan [Dhammapada 77] dan mencari waktu kesepakatan bersama yang adil bagi semua pihak demi menjaga kerukunan warga tanpa kekerasan).

Formatif:

  • Penilaian diagnostik awal tes tertulis singkat pemahaman prinsip musyawarah
  • Penilaian unjuk kerja LKPD sintesis prinsip musyawarah Buddha dalam skenario sekolah dan masyarakat
  • Cek pemahaman akhir pembelajaran

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mensintesis prinsip musyawarah mufakat Buddha dalam pengambilan keputusan di sekolah (TP 6.3.3)Belum mampu merumuskan langkah keputusan di lingkungan sekolah yang memadukan prinsip musyawarah Buddha (0 langkah tepat).Mampu merumuskan 1 langkah keputusan di lingkungan sekolah yang memadukan minimal 1 prinsip musyawarah Buddha.Mampu merumuskan 2 langkah keputusan di lingkungan sekolah yang memadukan minimal 2 prinsip musyawarah Buddha secara tepat.Mampu merumuskan 3 langkah keputusan di lingkungan sekolah yang memadukan 4 prinsip musyawarah Buddha secara utuh dan tepat tanpa bantuan guru.
Mensintesis prinsip musyawarah mufakat Buddha dalam pengambilan keputusan di masyarakat (TP 6.3.4)Belum mampu merumuskan langkah keputusan di lingkungan masyarakat yang memadukan prinsip musyawarah Buddha (0 langkah tepat).Mampu merumuskan 1 langkah keputusan di lingkungan masyarakat yang memadukan minimal 1 prinsip musyawarah Buddha.Mampu merumuskan 2 langkah keputusan di lingkungan masyarakat yang memadukan minimal 2 prinsip musyawarah Buddha secara tepat.Mampu merumuskan 3 langkah keputusan di lingkungan masyarakat yang memadukan 4 prinsip musyawarah Buddha secara utuh dan tepat tanpa bantuan guru.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah perpaduan antara kisah Buddha di Sungai Rohini dengan skenario nyata sekolah dan masyarakat mempermudah murid mensintesis keputusan mufakat?
  • Bagian mana dari aktivitas kelompok yang memerlukan bimbingan lebih intensif bagi murid berkemampuan lambat?

Murid:

  • Prinsip musyawarah Buddha manakah yang paling penting kamu terapkan saat terjadi beda pendapat di kelasmu?
  • Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menyusun kesepakatan damai bersama teman dalam menyelesaikan masalah masyarakat?

Pertemuan 4 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.3.1 Mengintegrasikan konsep dasar musyawarah mufakat dalam kehidupan Buddha Sakyamuni saat menyelesaikan masalah perbedaan pendapat
  • TP 6.3.2 Mensintesis prinsip musyawarah mufakat kehidupan Buddha Sakyamuni dalam praktik pengambilan keputusan demokratis di lingkungan keluarga
  • TP 6.3.3 Mensintesis prinsip musyawarah mufakat kehidupan Buddha Sakyamuni dalam praktik pengambilan keputusan demokratis di lingkungan sekolah
  • TP 6.3.4 Mensintesis prinsip musyawarah mufakat kehidupan Buddha Sakyamuni dalam praktik pengambilan keputusan demokratis di lingkungan masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis, mengajak murid melakukan duduk hening dengan kesadaran penuh memancarkan cinta kasih (metta bhavana), serta memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, menjelaskan prosedur pelaksanaan portofolio analisis terpadu dan unjuk kerja simulasi musyawarah, serta kriteria penilaian yang akan digunakan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak pembacaan petunjuk teknis pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 3 yang terdiri atas dua bagian: Bagian 1 (Tugas Tertulis Terpadu Individual untuk TP 1, 2, 4) dan Bagian 2 (Unjuk Kerja Simulasi Musyawarah Kelompok untuk TP 3) serta memeriksa kelengkapan lembar kerja yang dibagikan (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara mandiri dan hening mengerjakan Bagian 1 (Tugas Tertulis Portofolio Analisis Terpadu) yang mencakup 3 bagian soal: (1) Uraian integrasi konsep musyawarah Buddha Sakyamuni pada kisah perselisihan air Sungai Rohini antara Suku Sakya dan Koliya [acuan: Buddha mengutamakan nilai darah persaudaraan di atas air, mengumpulkan kedua pihak bermusyawarah, mendengarkan alasan kedua raja, dan menasihati dengan ucapan benar hingga mufakat]; (2) Rencana simulasi musyawarah keluarga untuk pembagian tugas rumah tangga atau penentuan liburan [acuan: mencantumkan masalah, aturan saling menghargai pendapat, perumusan kesepakatan adil tanpa memaksakan kehendak]; dan (3) Analisis pemecahan studi kasus masyarakat tentang perselisihan jadwal ronda/kebersihan lingkungan [acuan: mengidentifikasi akar beda pendapat, merumuskan musyawarah warga dengan kepala dingin, menghasilkan mufakat yang ditaati bersama] (45 menit).
  • Murid berkumpul dalam kelompok (5-6 kelompok, masing-masing 4-5 murid) untuk melaksanakan Bagian 2 (Unjuk Kerja Simulasi Musyawarah Kelompok di Lingkungan Sekolah) tentang pemecahan masalah 'Penataan Jadwal Piket Kebersihan Kelas dan Pembagian Tanggung Jawab Sudut Baca yang Kerap Memicu Perbedaan Pendapat', di mana guru mengobservasi proses musyawarah serta kelompok mencatat lembar hasil musyawarah yang memuat: masalah, usulan-usulan anggota, serta sintesis mufakat demokratis yang disepakati (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menyerahkan lembar kerja portofolio individual dan lembar catatan hasil musyawarah kelompok kepada guru, lalu secara jujur menilai kebiasaan diri dalam menerapkan prinsip musyawarah mufakat Buddha Sakyamuni saat menghadapi perbedaan pendapat di kehidupan nyata (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian belajar Bab 3 bahwa musyawarah mufakat bukan sekadar prosedur, melainkan perwujudan kebijaksanaan dan budi pekerti luhur sebagaimana dicontohkan Buddha Sakyamuni (3 menit).
  • Guru mengajak murid menutup pembelajaran dengan doa syukur bersama dan pelimpahan jasa (pattidana) (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan format lembar kerja dengan panduan kolom isian terstruktur bagi murid yang membutuhkan bantuan visual tanpa mengurangi kompetensi dan isi tugas analisis.
  • Proses: Guru memberikan pendampingan teknis membaca petunjuk tugas bagi murid berkebutuhan khusus tanpa memberikan bantuan substansi jawaban.
  • Produk: Standar bukti portofolio tertulis dan lembar catatan simulasi tetap sama untuk seluruh murid sesuai acuan rubrik sumatif.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Portofolio analisis terpadu dan unjuk kerja simulasi musyawarah: Lembar kerja analisis tertulis berisi konsep musyawarah Buddha Sakyamuni, rancangan musyawarah keluarga, analisis kasus masyarakat, serta lembar catatan hasil musyawarah kelompok simulasi sekolah
  • tes tertulis penugasan terpadu serentak: Lembar kerja tertulis individual berisi: (1) uraian konsep musyawarah mufakat Buddha Sakyamuni saat mengatasi perbedaan pendapat, (2) lembar rencana simulasi musyawarah keluarga untuk pengambilan keputusan demokratis, dan (3) analisis solusi studi kasus pemecahan masalah musyawarah warga masyarakat yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (60 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian tertulis dan pedoman penskoran analitis)
  • unjuk kerja diskusi kelompok: Catatan hasil musyawarah kelompok (5-6 kelompok berisi 4-5 murid dinilai secara paralel di kelas) tentang pemecahan masalah perbedaan pendapat di lingkungan sekolah yang mencerminkan prinsip musyawarah mufakat dan pengambilan keputusan demokratis (45 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi unjuk kerja diskusi dan rubrik keterlibatan musyawarah kelompok)

Sumatif:

  • Portofolio analisis terpadu dan unjuk kerja simulasi musyawarah: Lembar kerja analisis tertulis berisi konsep musyawarah Buddha Sakyamuni, rancangan musyawarah keluarga, analisis kasus masyarakat, serta lembar catatan hasil musyawarah kelompok simulasi sekolah
  • tes tertulis penugasan terpadu serentak: Lembar kerja tertulis individual berisi: (1) uraian konsep musyawarah mufakat Buddha Sakyamuni saat mengatasi perbedaan pendapat, (2) lembar rencana simulasi musyawarah keluarga untuk pengambilan keputusan demokratis, dan (3) analisis solusi studi kasus pemecahan masalah musyawarah warga masyarakat yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (60 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian tertulis dan pedoman penskoran analitis)
  • unjuk kerja diskusi kelompok: Catatan hasil musyawarah kelompok (5-6 kelompok berisi 4-5 murid dinilai secara paralel di kelas) tentang pemecahan masalah perbedaan pendapat di lingkungan sekolah yang mencerminkan prinsip musyawarah mufakat dan pengambilan keputusan demokratis (45 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi unjuk kerja diskusi dan rubrik keterlibatan musyawarah kelompok)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Integrasi Konsep Musyawarah Buddha Sakyamuni (TP 6.3.1)Belum mampu menguraikan konsep musyawarah Buddha Sakyamuni pada peristiwa Sungai Rohini atau uraian tidak memuat prinsip perdamaian dan keadilan.Menguraikan konsep musyawarah Buddha Sakyamuni pada kisah Sungai Rohini namun hanya memuat 1 dari 3 unsur acuan (1: mendengarkan kedua pihak, 2: mengutamakan nilai persaudaraan di atas materi, 3: nasihat bijaksana menuju mufakat).Mengintegrasikan konsep musyawarah Buddha Sakyamuni pada kisah Sungai Rohini dengan memuat 2 dari 3 unsur acuan secara tepat.Mengintegrasikan konsep musyawarah Buddha Sakyamuni pada kisah Sungai Rohini secara lengkap dan tepat memuat ketiga unsur acuan (mendengarkan kedua pihak, mengutamakan persaudaraan di atas materi, dan nasihat bijaksana menuju mufakat).
Sintesis Musyawarah Demokratis Keluarga (TP 6.3.2)Belum mampu merancang rencana musyawarah keluarga atau rancangan keputusan bersifat sepihak/memaksakan kehendak.Merancang musyawarah keluarga dengan memuat 1 dari 3 unsur acuan (1: perumusan masalah bersama, 2: aturan penyampaian pendapat tanpa paksaan, 3: kesepakatan adil yang ditaati bersama).Mensintesis prinsip musyawarah keluarga dengan memuat 2 dari 3 unsur acuan secara tepat dan logis.Mensintesis prinsip musyawarah keluarga secara utuh dan terpadu memuat ketiga unsur acuan (masalah bersama, aturan saling mendengar tanpa paksaan, dan mufakat adil).
Sintesis Musyawarah Demokratis Sekolah (TP 6.3.3)Belum menunjukkan partisipasi dalam pengambilan keputusan demokratis kelompok dan lembar catatan mufakat tidak terisi.Berpartisipasi dalam musyawarah kelompok namun lembar catatan hanya memuat 1 dari 3 unsur acuan simulasi sekolah (1: inventarisasi masalah/usulan anggota, 2: proses mufakat demokratis, 3: rumusan pembagian peran yang disepakati).Mensintesis prinsip musyawarah dalam simulasi sekolah secara aktif dan lembar catatan kelompok memuat 2 dari 3 unsur acuan dengan tepat.Mensintesis prinsip musyawarah dalam simulasi sekolah secara aktif, menghargai pandangan rekan, serta lembar catatan kelompok memuat ketiga unsur acuan secara lengkap dan adil.
Sintesis Musyawarah Demokratis Masyarakat (TP 6.3.4)Belum mampu menganalisis solusi kasus perbedaan pendapat warga masyarakat secara damai.Menganalisis solusi studi kasus warga dengan memuat 1 dari 3 unsur acuan (1: identifikasi akar perbedaan pendapat, 2: musyawarah berlandaskan kepala dingin/ucapan benar, 3: perumusan mufakat untuk kepentingan umum).Mensintesis prinsip musyawarah masyarakat dengan memuat 2 dari 3 unsur acuan pemecahan kasus secara tepat.Mensintesis prinsip musyawarah masyarakat secara utuh dengan memuat ketiga unsur acuan (akar masalah, musyawarah berucap benar, mufakat demi kepentingan bersama) secara komprehensif.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Bagaimana capaian murid secara keseluruhan dalam mengintegrasikan dan mensintesis prinsip musyawarah Buddha Sakyamuni ke dalam berbagai konteks kehidupan?
  • Apakah alokasi waktu dan pengelolaan paralel diskusi kelompok pada asesmen unjuk kerja berjalan efektif dan adil bagi seluruh murid?

Murid:

  • Bagian mana dari tugas analisis musyawarah ini yang paling membantuku memahami pentingnya bermusyawarah daripada bertengkar?
  • Bagaimana caraku meneladani sikap Buddha Sakyamuni ketika menemui teman atau anggota keluarga yang berbeda pendapat denganku?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek 2021 (Bab 3 halaman 71-74).
  2. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek 2021 (Bab 3 halaman 78-83).
  3. Kitab Suci Dhammapada syair 77.
  4. Buku Riwayat Hidup Buddha Gotama (Kisah Pendamaian Suku Sakya dan Koliya di Sungai Rohini).
  5. Set kartu berpasangan skenario perbedaan pendapat dan konsep musyawarah Buddha Sakyamuni.
  6. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek RI 2021
  7. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI, Kemendikbudristek RI 2021
  8. Kitab Suci Dhammapada syair 77
  9. Kartu Pasangan Prinsip Musyawarah Buddha dan Lembar Skenario Keputusan Keluarga
  10. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek, 2021)
  11. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek, 2021, Bab III)
  12. Lembar Kasus Skenario Musyawarah Lingkungan Sekolah dan Lingkungan Masyarakat
  13. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek 2021, Bab III)
  14. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas VI (Kemendikbudristek 2021, Bab III)
  15. Kisah perdamaian Suku Sakya dan Suku Koliya di Sungai Rohini (Dhammapada Atthakatha)
  16. Lembar Portofolio Analisis Terpadu Individual dan Lembar Observasi Simulasi Musyawarah Kelompok

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.