Modul AjarBab 4Fase BSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 4 Bab 4: Pergaulanku

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 4 untuk Bab 4 "Pergaulanku", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 4 Bab 4: Pergaulanku

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 4

Bab 4

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Bab 4 — Pergaulanku

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikBab 4 — Pergaulanku
Alokasi Waktu14 JP (14 x 35 menit = 490 menit)
Jumlah Pertemuan5
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 4.4.1 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekatnya
  2. TP 4.4.2 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan sekolah
  3. TP 4.4.3 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan rumah ibadah
  4. TP 4.4.4 Mengkreasi strategi inovatif dalam menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekatnya, lingkungan sekolah, dan rumah ibadah berdasarkan keteladanan Buddha Sakyamuni

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana sikap Buddha Sakyamuni ketika bertemu dengan orang yang sedang kesusahan atau memiliki latar belakang berbeda?
  2. Bagaimana kita meniru keteladanan Buddha Sakyamuni saat menghadapi teman di sekitar rumah yang berselisih atau mengejek orang lain?
  3. Bagaimana sikap Buddha Sakyamuni saat memperlakukan orang lain tanpa membeda-bedakan kedudukan atau keadaannya?
  4. Bagaimana cara kita meniru sikap Buddha tersebut ketika melihat teman di sekolah yang diejek atau dijauhi saat bermain?
  5. Pernahkah kalian melihat teman yang bercanda terlalu keras atau berebut tempat duduk di vihara/rumah ibadah?
  6. Bagaimana teladan Buddha Sakyamuni yang penuh welas asih dan menghargai semua orang dapat kita tiru untuk menyelesaikan masalah pergaulan saat berada di rumah ibadah?
  7. Bagaimana cara Buddha Sakyamuni menyelesaikan perselisihan atau masalah pergaulan tanpa menggunakan kemarahan?
  8. Ide kreatif apa yang dapat kita ciptakan agar masalah pergaulan di rumah, sekolah, dan vihara/rumah ibadah bisa diselesaikan dengan damai?
  9. Bagaimana teladan cinta kasih dan kesabaran Buddha Sakyamuni dapat menuntun kita menyelesaikan perselisihan dengan teman secara damai?
  10. Apa strategi inovatif terbaik yang dapat kamu rancang untuk menjaga keharmonisan pergaulan di rumah, sekolah, dan rumah ibadah?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengadaptasi Keteladanan Buddha Sakyamuni dalam Menghargai Sesama Manusia untuk Menyelesaikan Masalah Pergaulan di Lingkungan Terdekat — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.1 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekatnya

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Namo Buddhaya, mengajak murid duduk hening bermeditasi pernapasan sadar selama beberapa saat, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekat (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang keteladanan Buddha Sakyamuni: (1) 'Siapakah bhikkhu yang sedang sakit parah dan dirawat langsung oleh Buddha tanpa membedakan kondisinya?' (Acuan: Bhikkhu Putigatta Tissa); (2) 'Siapakah kusir setia Pangeran Siddharta yang tetap dihargai dan disayangi tanpa memandang kasta atau status pekerjaannya?' (Acuan: Channa) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati narasi dan gambar keteladanan Buddha Sakyamuni: kisah Buddha merawat Bhikkhu Putigatta Tissa yang sakit parah dan kisah Pangeran Siddharta memperlakukan kusir Channa dengan penuh hormat dan kasih tanpa membeda-bedakan latar belakang (15 menit).
  • Murid berpasangan menjawab 2 pertanyaan pemahaman pada lembar kerja: (1) Apa wujud keteladanan Buddha dalam kisah Bhikkhu Putigatta Tissa? (Acuan jawaban: merawat dan menghargai orang yang sakit/lemah dengan kasih sayang tanpa rasa jijik/membeda-bedakan); (2) Apa wujud keteladanan Pangeran Siddharta kepada Channa? (Acuan jawaban: menghargai sesama manusia tanpa memandang status sosial atau kasta) (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru mengadakan permainan tantangan berpasangan 'Kotak Keteladanan', di mana murid mengambil 1 dari 3 kartu masalah pergaulan di lingkungan terdekat secara bergantian dalam suasana yang menggembirakan (10 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan solusi adaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni pada lembar kerja untuk 3 skenario masalah pergaulan di lingkungan terdekat: Skenario 1: 'Tetangga sebaya di dekat rumah dijauhi saat bermain karena pakaiannya lusuh'; Skenario 2: 'Seorang teman di lingkungan rumah diejek karena bicaranya gagap'; Skenario 3: 'Terjadi pertengkaran antarteman di lapangan dekat rumah karena berebut giliran bermain sepeda' (Acuan solusi: Skenario 1 meneladan Buddha menghargai Channa dengan mengajak berteman tanpa memandang status/pakaian; Skenario 2 meneladan Buddha merawat Bhikkhu Putigatta Tissa dengan merangkul, menghibur, dan menghentikan ejekan; Skenario 3 meneladan Buddha yang cinta damai dengan menengahi secara adil dan membagi giliran bermain secara rukun) (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali ketepatan solusi yang telah dirumuskannya dengan mencocokkan prinsip cinta kasih dan penghargaan tanpa membeda-bedakan sesama manusia sesuai keteladanan Buddha Sakyamuni (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketercapaian adaptasi keteladanan yang dirumuskan murid pada ketiga skenario pergaulan di lingkungan terdekat (5 minit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai pentingnya mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama tanpa membeda-bedakan teman di lingkungan terdekat, lalu menutup sesi dengan doa penutup dan Namo Buddhaya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci keteladanan ('kasih sayang', 'tidak membeda-bedakan kasta/kondisi fisik', 'cinta damai'), sedangkan murid mahir langsung menelaah skenario tanpa bantuan kata kunci.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dalam menghubungkan tokoh teladan (Buddha merawat Tissa atau Siddharta menghargai Channa) ke masalah lingkungan sekitar, sedangkan murid mandiri menganalisis ketiga skenario secara individual.
  • Produk: Murid menuangkan bentuk adaptasi keteladanan dalam tabel solusi pergaulan terdekat sesuai tingkat kemandirian berpikir kritisnya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan kesiapan materi prasyarat keteladanan Buddha Sakyamuni: Butir 1: Menjawab nama bhikkhu sakit yang dirawat Buddha (Acuan: Bhikkhu Putigatta Tissa); Butir 2: Menjawab nama kusir setia yang dihargai Pangeran Siddharta (Acuan: Channa).

Proses:

  • Observasi dan pemeriksaan lembar kerja murid dalam merumuskan adaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni pada 3 skenario masalah pergaulan di lingkungan terdekat (skenario tetangga berpakaian lusuh, teman diejek gagap, pertengkaran giliran sepeda) sesuai acuan solusi berbasis cinta kasih dan penghargaan tanpa diskriminasi.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (exit ticket) berupa 1 pertanyaan: 'Sebutkan 1 contoh tindakan nyata meneladan Buddha menghargai sesama jika ada teman bermain di lingkungan rumahmu yang sedang sedih karena dijauhi!' (Kriteria penerimaan operasional: jawaban memuat tindakan merangkul/mengajak bermain/menghibur yang didasari sikap tidak membeda-bedakan kondisi teman).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan lembar analisis adaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menyelesaikan 3 masalah pergaulan di lingkungan terdekat.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Adaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekatBelum mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni untuk menyelesaikan ketiga skenario masalah pergaulan di lingkungan terdekat (0 skenario tepat).Mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni untuk menyelesaikan 1 dari 3 skenario masalah pergaulan di lingkungan terdekat secara tepat sesuai acuan.Mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni untuk menyelesaikan 2 dari 3 skenario masalah pergaulan di lingkungan terdekat secara tepat sesuai acuan.Mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni untuk menyelesaikan seluruh 3 skenario masalah pergaulan di lingkungan terdekat secara tepat sesuai acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan Kotak Keteladanan dan lembar skenario berhasil memfasilitasi murid memahami cara meneladan Buddha dalam bergaul di lingkungan terdekat?
  • Bagian mana dari langkah pembelajaran yang membutuhkan penyesuaian alokasi waktu atau bimbingan tambahan bagi murid yang masih kesulitan mengaitkan nilai keteladanan?

Murid:

  • Keteladanan apa dari Buddha Sakyamuni yang paling berkesan bagimu saat menghadapi teman di sekitar tempat tinggalmu?
  • Sikap apa yang akan kamu lakukan mulai hari ini jika melihat teman bermain di dekat rumahmu diejek atau dijauhi?

Pertemuan 2 — Mengadaptasi Keteladanan Buddha Sakyamuni dalam Menghargai Sesama Manusia untuk Menyelesaikan Masalah Pergaulan di Lingkungan Sekolah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.2 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan sekolah

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis, mengajak murid duduk hening sejenak untuk melatih kesadaran penuh (mindfulness), dan memeriksa kehadiran (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid menyimak 2 kasus singkat pergaulan sekolah dan memilih tindakan adaptasi keteladanan Buddha yang tepat pada lembar ceklist (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan guru mengenai kisah keteladanan Buddha Sakyamuni yang merawat Bhikkhu Putigatta Tissa yang sakit dan menerima Sunita si pembersih sampah ke dalam Sangha tanpa membeda-bedakan latar belakangnya (15 menit).
  • Murid mengidentifikasi 2 nilai utama keteladanan Buddha dalam kisah tersebut: (1) kasih sayang tanpa membeda-bedakan kondisi fisik/sosial, dan (2) kesediaan menolong sesama yang sedang kesusahan atau terasing (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpasangan mengikuti aktivitas ceria 'Tantangan Detektif Sahabat': setiap pasangan menerima 3 kartu studi kasus masalah pergaulan di sekolah dan mencocokkan tindakan adaptasi keteladanan Buddha yang tepat. Rincian 3 kartu kasus: Kasus A (Siswa baru dari luar daerah merasa malu dan tidak diajak bermain saat istirahat); Kasus B (Seorang teman diejek karena sepatunya rusak dan nilainya jelek); Kasus C (Dua anak bertengkar memperebutkan bola saat jam olahraga). Kunci tindakan adaptasi: Kasus A diadaptasi dengan mencontoh keteladanan Buddha menerima Sunita, yaitu menyapa ramah dan mengajaknya bergabung bermain bersama tanpa membedakan asal-usul; Kasus B diadaptasi dengan mencontoh keteladanan Buddha menolong Bhikkhu Putigatta Tissa, yaitu menghibur, menghentikan ejekan, dan menghargai martabatnya; Kasus C diadaptasi dengan mencontoh keteladanan Buddha sebagai pendamai, yaitu mengajak bermusyawarah dan berbagi giliran secara adil (25 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Kerja 'Solusi Keteladanan di Sekolahku' untuk mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menyelesaikan 1 masalah nyata pergaulan di sekolah: murid menuliskan nama masalah sekolah yang dipilih, keteladanan Buddha yang diadaptasi (kasih sayang tanpa diskriminasi atau menolong yang menderita), serta langkah tindakan nyata penyelesaiannya (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membaca kembali hasil lembar kerjanya secara hening, merenungkan sejauh mana tindakan yang dirumuskannya benar-benar menghargai martabat sesama teman sekolah sesuai teladan Buddha (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan bersama cara mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan sekolah (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap ketepatan adaptasi keteladanan yang telah dirumuskan murid, menyampaikan rencana belajar pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa/salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan visual berupa kartu bergambar kisah Buddha merawat Bhikkhu Putigatta Tissa dan Sunita bagi murid yang membutuhkan bantuan visual konseptual.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan format kalimat pemandu rumpang (scaffolding) saat merumuskan tindakan adaptasi; murid yang telah mahir merumuskan adaptasi pada 2 variasi masalah sekolah sekaligus (masalah penolakan teman dan masalah saling mengejek) beserta alasan keteladanannya.
  • Produk: Tindakan adaptasi dapat dituangkan dalam bentuk bagan alur solusi 3 langkah atau narasi deskriptif singkat sesuai kenyamanan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid menjawab 2 butir soal diagnostik kesiapan mengadaptasi keteladanan Buddha di sekolah: (1) 'Budi melihat teman baru duduk sendiri saat jam istirahat sekolah. Tindakan yang mencerminkan teladan Buddha menerima Sunita adalah... Pilihan A: Menjauhinya; Pilihan B: Mengajaknya berkenalan dan bermain bersama.' (Acuan benar: Pilihan B); (2) 'Dina melihat temannya menangis karena diejek badannya pendek. Tindakan yang mencerminkan teladan Buddha merawat Bhikkhu Putigatta Tissa adalah... Pilihan A: Ikut menertawakan; Pilihan B: Menghibur dan membela haknya agar tidak diejek.' (Acuan benar: Pilihan B).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan murid dalam 'Tantangan Detektif Sahabat' dan pemeriksaan Lembar Kerja 'Solusi Keteladanan di Sekolahku' dengan kriteria: (1) ketepatan mengaitkan masalah pergaulan sekolah dengan kisah/sikap keteladanan Buddha Sakyamuni, dan (2) ketepatan tindakan adaptasi yang menghargai sesama teman sekolah tanpa diskriminasi.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: murid menuliskan 1 komitmen tindakan adaptasi keteladanan Buddha dalam selembar tiket keluar (Exit Ticket) dengan kriteria penerimaan operasional: tindakan harus menyebutkan bentuk sikap menghargai teman sekolah (misalnya tidak mengejek, mengajak bermain bersama teman yang menyendiri, atau membela teman yang ditindas) yang dihubungkan dengan teladan cinta kasih Buddha Sakyamuni.

Formatif:

  • Penilaian asesmen awal berupa tes diagnostik singkat lembar ceklist pilihan tindakan penyelesaian masalah
  • Penilaian kinerja unjuk kerja pada Lembar Kerja 'Solusi Keteladanan di Sekolahku' menggunakan rubrik ketepatan adaptasi keteladanan Buddha

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Adaptasi Keteladanan Buddha Sakyamuni untuk Masalah Pergaulan SekolahBelum mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni; tindakan penyelesaian masalah sekolah yang dirumuskan belum mencerminkan nilai menghargai sesama teman atau salah mengaitkan keteladanan.Mampu merumuskan tindakan penyelesaian masalah pergaulan di sekolah, namun keterkaitan adaptasi dengan nilai keteladanan Buddha Sakyamuni (kasih sayang tanpa diskriminasi/menolong teman menderita) masih kurang tepat atau membutuhkan bimbingan penuh guru.Mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni secara tepat ke dalam 1 tindakan penyelesaian masalah pergaulan di sekolah yang menghargai martabat sesama teman secara mandiri.Mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni secara tepat, rinci, dan konsisten ke dalam lebih dari 1 tindakan penyelesaian masalah pergaulan di sekolah yang menghargai martabat sesama teman secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas 'Tantangan Detektif Sahabat' efektif memfasilitasi murid memahami cara mengadaptasi keteladanan Buddha ke situasi nyata sekolah?
  • Apakah bimbingan (scaffolding) yang diberikan sudah membantu murid yang kesulitan merumuskan tindakan adaptasi secara mandiri?

Murid:

  • Sikap keteladanan Buddha apa yang paling berkesan bagiku hari ini?
  • Bagaimana caraku memperlakukan teman di sekolah agar mencerminkan teladan kasih sayang Buddha Sakyamuni?

Pertemuan 3 — Mengadaptasi Keteladanan Buddha Sakyamuni dalam Menghargai Sesama Manusia untuk Menyelesaikan Masalah Pergaulan di Lingkungan Rumah Ibadah — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.3 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan rumah ibadah

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', memimpin doa pembuka, dan mengajak murid duduk hening bermeditasi pernapasan selama 3 menit untuk melatih kesadaran diri (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan rumah ibadah (vihara/cetiya/sekolah minggu Buddha) (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: Guru mengajukan 2 pertanyaan diagnostik lisan mengenai masalah pergaulan di vihara dan kisah teladan Buddha: (1) 'Sebutkan 1 contoh masalah pergaulan yang sering terjadi antarteman saat di vihara!' (acuan jawaban: bercanda/berisik saat kebaktian, mengejek teman yang belum hafal paritta, atau berebut tempat duduk/buku paritta); (2) 'Bagaimana sikap Buddha ketika merawat Bhikkhu Tissa yang sakit parah tanpa membedakan?' (acuan jawaban: Buddha merawatnya dengan penuh cinta kasih/karuna, membersihkan lukanya, dan menghargai harkat martabatnya) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati gambar dan teks singkat kisah Buddha Sakyamuni merawat Bhikkhu Putigatta Tissa dan sikap Pangeran Siddharta terhadap Channa dari Buku Siswa, lalu mengidentifikasi nilai keteladanan Buddha dalam menghargai sesama tanpa membeda-bedakan (8 menit).
  • Guru membagikan lembar bacaan berisi 3 masalah pergaulan nyata di rumah ibadah (vihara/sekolah minggu): Masalah A (Mengolok teman yang salah saat melafalkan paritta), Masalah B (Berebut bantal duduk kebaktian di barisan depan), dan Masalah C (Menjauhi teman baru yang mengenakan pakaian sederhana). Murid bersama kelompok mendiskusikan inti masalah dan nilai keteladanan Buddha yang relevan (7 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru mengadakan permainan kartu tantangan solutif 'Adaptasi Karuna': Tiap kelompok menerima 3 kartu skenario masalah pergaulan di vihara dan 3 kartu keteladanan Buddha, lalu murid memasangkan kartu masalah dengan tindakan adaptasi keteladanan Buddha secara tepat (10 menit).
  • Rincian 3 skenario kartu dan pasangan tindakan adaptasinya: (1) Skenario 1: 'Sujata menertawakan Khemaka yang terbata-bata membaca paritta Vandana di vihara' -> Tindakan Adaptasi: 'Meneladan kasih sayang Buddha kepada Bhikkhu Tissa dengan mendampingi dan menyemangati Khemaka belajar paritta tanpa mengejeknya'; (2) Skenario 2: 'Dhammika menyerobot bantal duduk milik teman saat Dhammasala penuh' -> Tindakan Adaptasi: 'Meneladan sikap Buddha yang tidak mementingkan diri sendiri dengan mempersilakan teman duduk dan berbagi ruang secara tertib dan rela mengalah'; (3) Skenario 3: 'Ananda tidak mau mengajak duduk bersama teman baru yang bajunya lusuh di ruang kebaktian' -> Tindakan Adaptasi: 'Meneladan sikap Buddha yang merangkul semua orang tanpa memandang kasta/status dengan menyapa ramah dan mengajaknya duduk berdampingan' (acuan pasangan: Skenario 1-Tindakan 1, Skenario 2-Tindakan 2, Skenario 3-Tindakan 3) (15 menit).
  • Setiap perwakilan kelompok menempelkan hasil adaptasi solusinya pada bagan dinding kelas dan menjelaskan alasan adaptasi nilai keteladanan Buddha yang dipilih (8 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara individu mengisi Lembar Refleksi 'Cermin Keteladanan di Vihara' untuk menilai sejauh mana tindakan dirinya selama bergaul di vihara sudah meneladan sikap Buddha Sakyamuni dalam menghargai teman (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran hari ini bahwa keteladanan Buddha Sakyamuni (cinta kasih, welas asih, dan tidak membeda-bedakan) adalah pedoman utama dalam menyelesaikan perselisihan dan menjaga kerukunan pergaulan di rumah ibadah (3 menit).
  • Guru memberikan tindak lanjut untuk membiasakan sikap santun dan menghargai teman saat mengikuti Sekolah Minggu Buddhis di vihara masing-masing, lalu menutup sesi dengan doa penutup dan salam 'Sadhu, Sadhu, Sadhu' (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu skenario dengan teks yang dilengkapi gambar ilustrasi konkret; murid yang lebih cepat diberikan kartu skenario dengan situasi pergaulan yang lebih mendalam di vihara.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing langsung oleh guru dalam mencocokkan nilai keteladanan Buddha dengan tindakan solusinya; murid yang mahir secara mandiri merumuskan kalimat adaptasi tindakan dengan bahasanya sendiri.
  • Produk: Format penyajian solusi dapat berupa penempelan kartu berpasangan atau menuliskan kalimat adaptasi solusi langsung pada bagan LKPD kelompok.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan di awal pembelajaran: (1) Menyebutkan masalah pergaulan di lingkungan vihara/rumah ibadah (acuan: mengejek teman paritta, rebutan tempat duduk, berisik saat kebaktian); (2) Menyebutkan teladan Buddha dalam merawat Bhikkhu Putigatta Tissa (acuan: merawat penuh kasih sayang tanpa membeda-bedakan kondisi fisik/latar belakang).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pemasangan 3 kartu skenario masalah pergaulan di vihara dengan kartu tindakan adaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni pada lembar kerja kelompok (Acuan kunci: Skenario 1 - Sujata mengejek paritta berpasangan dengan Tindakan teladan merawat dengan kasih sayang/membimbing; Skenario 2 - Menyerobot bantal berpasangan dengan Tindakan teladan kerendahan hati/tidak egois; Skenario 3 - Diskriminasi baju berpasangan dengan Tindakan teladan merangkul semua orang tanpa memandang status).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman individu melalui 1 butir respons tertulis pada lembar refleksi: 'Jika kamu melihat temanmu diejek karena tidak bisa membacakan paritta saat kebaktian di vihara, tindakan adaptasi keteladanan Buddha apa yang akan kamu lakukan?' (Acuan penerimaan: Murid menuliskan tindakan konkret menolong/menemani belajar paritta atau menegur dengan halus tanpa mengejek, berlandaskan cinta kasih/keteladanan Buddha Sakyamuni).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja mencocokkan skenario masalah pergaulan di vihara dengan tindakan adaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni (LKPD kelompok)
  • Observasi partisipasi dan penalaran kritis saat merumuskan solusi masalah pergaulan berdasarkan nilai keteladanan Buddha

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengadaptasi Keteladanan Buddha Sakyamuni untuk Menyelesaikan Masalah Pergaulan di Rumah IbadahBelum mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni; memasangkan 0-1 dari 3 skenario masalah pergaulan di rumah ibadah dengan tindakan adaptasi yang tepat.Mulai mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni; memasangkan tepat 2 dari 3 skenario masalah pergaulan di rumah ibadah dengan tindakan adaptasi yang tepat dengan bantuan guru.Mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni; memasangkan seluruh 3 skenario masalah pergaulan di rumah ibadah dengan tindakan adaptasi yang tepat secara mandiri sesuai acuan (Skenario 1, 2, dan 3 tepat).Sangat mahir mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni; memasangkan seluruh 3 skenario masalah pergaulan di rumah ibadah dengan tindakan adaptasi yang tepat, serta mampu memberikan alasan keterkaitan nilai kasih sayang Buddha dengan tindakan tersebut secara rinci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan kartu skenario masalah pergaulan di vihara efektif memfasilitasi pemahaman murid tentang adaptasi keteladanan Buddha?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang pasif saat mendiskusikan solusi berbasis welas asih di rumah ibadah?

Murid:

  • Keteladanan Buddha apa yang paling berkesan bagimu untuk diterapkan saat bergaul dengan teman di vihara/sekolah minggu?
  • Apa yang akan kamu lakukan mulai minggu ini agar suasana pergaulan di vihara menjadi rukun dan damai?

Pertemuan 4 — Mengkreasi Strategi Inovatif dalam Menyelesaikan Masalah Pergaulan di Lingkungan Terdekat, Sekolah, dan Rumah Ibadah Berdasarkan Keteladanan Buddha Sakyamuni — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.4 Mengkreasi strategi inovatif dalam menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekatnya, lingkungan sekolah, dan rumah ibadah berdasarkan keteladanan Buddha Sakyamuni

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', memimpin doa pembuka, dan mengajak murid duduk hening selama 3 menit untuk memusatkan perhatian dan kejernihan pikiran (5 menit).
  • Guru mengecek kehadiran murid dan mengaitkan pembelajaran hari ini dengan pembelajaran sebelumnya mengenai keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menyelesaikan masalah pergaulan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan mengenai cara mengatasi masalah pergaulan berdasarkan nilai keteladanan Buddha Sakyamuni (cinta kasih/metta, kerelaan mengalah demi kebaikan bersama, dan pikiran tenang tanpa kebencian) dengan acuan penerimaan: menyebutkan minimal 1 nilai keteladanan Buddha dan penerapannya secara logis untuk meredakan pertengkaran (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak ulasan pengantar guru dan mencermati 3 kartu kasus masalah pergaulan di tiga lingkungan berbeda: (1) Lingkungan terdekat: Dua anak bertetangga berebut giliran bermain sepeda hingga saling mendiamkan; (2) Lingkungan sekolah: Seorang murid diejek oleh teman sekelas karena lambat memahami pelajaran saat kerja kelompok; (3) Lingkungan rumah ibadah: Dua anak saling dorong dan berdebat keras memperebutkan tempat duduk terdepan saat kebaktian di vihara (10 menit).
  • Murid bersama guru menganalisis akar masalah dari ketiga kasus tersebut menggunakan prinsip keteladanan Buddha Sakyamuni ibarat seorang dokter: mengenali akar persoalan tanpa kebencian dan menentukan solusi berlandaskan cinta kasih (metta), kerelaan berkorban/mengalah demi harmoni, serta kejernihan pikiran (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid berpasangan memainkan permainan interaktif 'Tantangan Kotak Solusi Damai': setiap pasangan mengambil kartu masalah dan secara cepat merumuskan ide pemecahan masalah yang menggembirakan tanpa kekerasan (15 menit).
  • Secara berpasangan, murid mengkreasi strategi inovatif penyelesaian masalah pergaulan untuk 3 lingkungan (lingkungan terdekat, lingkungan sekolah, dan lingkungan rumah ibadah) ke dalam Lembar Kerja Strategi Inovatif. Kriteria kreasi strategi: (1) Lingkungan terdekat: strategi 'Jadwal Roda Persahabatan' atau bentuk kesepakatan giliran bermain berbasis kerelaan berbagi; (2) Lingkungan sekolah: strategi 'Sahabat Belajar Penuh Kasih' berupa kesepakatan saling mendampingi tanpa mengejek berbasis cinta kasih (metta); (3) Lingkungan rumah ibadah: strategi 'Tiket Barisan Tertib Vihara' berupa penataan giliran duduk dengan kerelaan saling menghormati di ruang kebaktian (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menempelkan draf Lembar Kerja Strategi Inovatif di meja masing-masing, saling membaca karya pasangan lain, dan memeriksa apakah strategi yang dirancang telah mencakup ketiga lingkungan serta berakar pada keteladanan Buddha Sakyamuni (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik konstruktif terhadap variasi strategi inovatif yang telah dikreasi murid dan menegaskan pentingnya menyelesaikan masalah dengan pikiran tenang tanpa amarah (8 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa penutup dan pelimpahan jasa serta salam penutup (7 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan visual berisi contoh ikon/bagan alur penyelesaian masalah bagi murid yang membutuhkan inspirasi rancangan.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi pasangan murid yang kesulitan merumuskan solusi konkret, sementara pasangan yang cepat diarahkan merinci tahapan langkah penerapannya secara mandiri.
  • Produk: Murid bebas menyajikan format strategi inovatif dalam bentuk bagan skema, kartu solusi bergambar, atau tabel alur aksi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Jika temanmu marah dan mengajak bertengkar karena salah paham, bagaimana keteladanan Buddha Sakyamuni mengajarkan kita untuk menyelesaikannya?' (Kriteria penerimaan: Murid menjawab dengan prinsip tidak membalas dengan kebencian, menenangkan diri terlebih dahulu, atau menggunakan kerelaan/cinta kasih untuk berdamai).

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid dalam merumuskan dan mengkreasi strategi inovatif penyelesaian masalah pergaulan untuk lingkungan terdekat, sekolah, dan rumah ibadah pada Lembar Kerja Strategi Inovatif.

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan hasil kreasi Lembar Kerja Strategi Inovatif penyelesaian masalah pergaulan di 3 lingkungan (Acuan ketepatan: memuat strategi inovatif untuk lingkungan terdekat yang mengadaptasi kerelaan/berbagi; lingkungan sekolah yang mengadaptasi cinta kasih tanpa mengejek; dan lingkungan rumah ibadah yang mengadaptasi ketenangan/saling menghormati).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal terkait nilai keteladanan Buddha dalam menyelesaikan perselisihan
  • Penilaian unjuk kerja kreasi strategi inovatif menyelesaikan masalah pergaulan pada 3 lingkungan (terdekat, sekolah, rumah ibadah) melalui Lembar Kerja Berpasangan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengkreasi strategi inovatif penyelesaian masalah pergaulan di lingkungan terdekat, sekolah, dan rumah ibadah berdasarkan keteladanan Buddha SakyamuniBelum mampu mengkreasi strategi inovatif untuk ketiga lingkungan (lingkungan terdekat, sekolah, dan rumah ibadah) atau strategi yang dibuat belum mencerminkan nilai keteladanan Buddha Sakyamuni meskipun telah dibimbing guru.Mampu mengkreasi strategi inovatif yang mencerminkan nilai keteladanan Buddha Sakyamuni hanya pada 1 dari 3 lingkungan target (misalnya hanya lingkungan sekolah) dengan bantuan bimbingan guru.Mampu mengkreasi strategi inovatif yang mencerminkan nilai keteladanan Buddha Sakyamuni secara tepat pada 2 dari 3 lingkungan target (lingkungan terdekat, sekolah, atau rumah ibadah) secara mandiri.Mampu mengkreasi strategi inovatif yang mencerminkan nilai keteladanan Buddha Sakyamuni secara tepat dan runtut pada seluruh (3 dari 3) lingkungan (lingkungan terdekat, sekolah, dan rumah ibadah) secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas tantangan kotak solusi damai efektif memotivasi murid mengkreasi ide penyelesaian masalah?
  • Bagian mana dari perumusan strategi inovatif di tiga lingkungan yang paling menantang bagi murid dan perlu pendampingan lebih lanjut?

Murid:

  • Strategi pergaulan di lingkungan mana yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu ciptakan solusinya hari ini?
  • Nilai keteladanan Buddha apa yang paling membantumu menemukan ide damai saat menyelesaikan masalah pergaulan?

Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.1 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekatnya
  • TP 4.4.2 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan sekolah
  • TP 4.4.3 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan rumah ibadah
  • TP 4.4.4 Mengkreasi strategi inovatif dalam menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekatnya, lingkungan sekolah, dan rumah ibadah berdasarkan keteladanan Buddha Sakyamuni

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam Buddhis, doa bersama, dan pembacaan hening singkat untuk memusatkan pikiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, tata tertib pengerjaan bagan mandiri, serta alur unjuk kerja bermain peran kelompok (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mencermati petunjuk lembar kerja Bagan Rencana Strategi Pergaulan Inovatif (individual) yang memuat analisis masalah dan adaptasi teladan Buddha di lingkungan terdekat/rumah dan vihara (3 menit).
  • Murid bersama kelompoknya (7 kelompok @ 4 murid) menyimak lembar rubrik dan giliran tampil bermain peran bertema penyelesaian konflik antarteman di sekolah tanpa kekerasan (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid mengerjakan Tugas 1 secara individual dan serentak: mengisi bagan rencana strategi pergaulan inovatif visual-tertulis sederhana untuk lingkungan terdekat/rumah (masalah: berebut mainan/gawai dengan saudara; teladan: kesabaran (khanti) Buddha saat dicaci-maki namun tetap tenang; langkah solusi: mengalah, membagi waktu giliran dengan tenang, tidak membalas amarah) dan lingkungan rumah ibadah/vihara (masalah: teman berbicara keras saat puja bakti; teladan: cinta kasih (metta) Buddha yang menegur penuh kelembutan tanpa mempermalukan; langkah solusi: memberi isyarat ramah, mengajak fokus bersama, mengingatkan tata tertib dengan tutur kata sopan) (40 menit).
  • Murid melaksanakan Tugas 2 unjuk kerja bermain peran kolaboratif secara bergiliran: 7 kelompok @ 4 murid menampilkan simulasi pemecahan perselisihan di sekolah (skenario konflik antarteman: kesalahpahaman saat bermain kelereng/alat tulis yang memicu pertengkaran; adaptasi teladan: mengadaptasi teladan Buddha mendamaikan perselisihan suku Sakya dan Koliya mengenai perebutan air Rohini dengan dialog damai dan tanpa kekerasan; langkah penyelesaian: mendengarkan kedua pihak, meminta maaf, berdamai tanpa dendam) dengan durasi tampil dan transisi 7-8 menit per kelompok (7 kelompok x 8 menit = 56 menit) sementara guru melakukan observasi penilaian langsung (50 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid merefleksikan proses unjuk kerja dan pengerjaan bagan dengan menuliskan satu kalimat komitmen pergaulan berbasis keteladanan Buddha yang akan dipraktikkan nyata dalam kehidupan sehari-hari (3 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar produk bagan rencana strategi inovatif murid dan mengapresiasi kerja sama seluruh kelompok saat bermain peran (1 menit).
  • Guru merangkum pembelajaran Bab 4 'Pergaulanku', menegaskan pentingnya meneladan cinta kasih Buddha dalam pergaulan, dan menutup dengan doa pelimpahan jasa (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan format bagan dengan garis bantu penulisan yang lebih besar dan jelas bagi murid yang membutuhkan akomodasi motorik halus tanpa mengubah kriteria penilaian.
  • Proses: Memberikan kesempatan membaca petunjuk naskah peran secara visual atau didiktekan oleh guru sebelum tampil bagi kelompok yang membutuhkan penegasan peran tanpa mengubah kriteria rubrik.
  • Produk: Format bukti sumatif seragam: bagan rencana strategi visual-tertulis individual dan unjuk kerja bermain peran kolaboratif sesuai acuan asesmen ATP.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • penilaian produk bagan terpadu dan unjuk kerja bermain peran kolaboratif: bagan rencana strategi pergaulan inovatif yang memuat adaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni di tiga lingkungan serta rekaman observasi peragaan pemecahan masalah pergaulan
  • penilaian produk bagan rencana reflektif: bagan rencana strategi inovatif visual-tertulis sederhana yang dikerjakan serentak oleh tiap murid, berisi analisis masalah dan langkah nyata penyelesaian konflik pergaulan di lingkungan terdekat/rumah serta rumah ibadah berdasarkan teladan cinta kasih dan kesabaran Buddha Sakyamuni (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk bagan rencana (kriteria: identifikasi masalah pergaulan, ketepatan adaptasi teladan Buddha, kejelasan langkah strategi solusi))
  • penilaian unjuk kerja bermain peran kolaboratif: peragaan pemecahan masalah pergaulan antarteman di sekolah secara berkelompok (7 kelompok @ 4 murid, durasi tampil dan transisi 8 menit per kelompok; 7 x 8 menit = 56 menit, muat 28 murid) yang menampilkan keteladanan Buddha Sakyamuni dalam mendamaikan perselisihan tanpa kekerasan (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja bermain peran (kriteria: penjiwaan pesan keteladanan Buddha, penyelesaian masalah yang rukun, kerja sama kelompok))

Sumatif:

  • penilaian produk bagan terpadu dan unjuk kerja bermain peran kolaboratif: bagan rencana strategi pergaulan inovatif yang memuat adaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni di tiga lingkungan serta rekaman observasi peragaan pemecahan masalah pergaulan
  • penilaian produk bagan rencana reflektif: bagan rencana strategi inovatif visual-tertulis sederhana yang dikerjakan serentak oleh tiap murid, berisi analisis masalah dan langkah nyata penyelesaian konflik pergaulan di lingkungan terdekat/rumah serta rumah ibadah berdasarkan teladan cinta kasih dan kesabaran Buddha Sakyamuni (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk bagan rencana (kriteria: identifikasi masalah pergaulan, ketepatan adaptasi teladan Buddha, kejelasan langkah strategi solusi))
  • penilaian unjuk kerja bermain peran kolaboratif: peragaan pemecahan masalah pergaulan antarteman di sekolah secara berkelompok (7 kelompok @ 4 murid, durasi tampil dan transisi 8 menit per kelompok; 7 x 8 menit = 56 menit, muat 28 murid) yang menampilkan keteladanan Buddha Sakyamuni dalam mendamaikan perselisihan tanpa kekerasan (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja bermain peran (kriteria: penjiwaan pesan keteladanan Buddha, penyelesaian masalah yang rukun, kerja sama kelompok))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Masalah & Adaptasi Teladan Buddha pada Bagan Rencana (Lingkungan Terdekat & Rumah Ibadah - TP 4.4.1, TP 4.4.3)Mengidentifikasi masalah kurang tepat atau belum mampu mengaitkan teladan Buddha Sakyamuni pada kedua lingkungan (rumah dan rumah ibadah).Tepat mengidentifikasi masalah dan mengadaptasi teladan Buddha Sakyamuni (kesabaran dan cinta kasih) hanya pada 1 lingkungan (rumah atau rumah ibadah saja).Tepat mengidentifikasi masalah nyata dan mengadaptasi teladan Buddha Sakyamuni (kesabaran saat menghadapi kemarahan untuk lingkungan rumah; cinta kasih dan ketertiban untuk lingkungan rumah ibadah) pada kedua lingkungan secara lengkap.Tepat mengidentifikasi masalah nyata dan mengadaptasi teladan Buddha Sakyamuni pada kedua lingkungan secara lengkap, mandiri, serta mendalam tanpa keraguan.
Kejelasan Langkah Strategi Solusi Inovatif pada Bagan Rencana (TP 4.4.4)Langkah strategi solusi pergaulan tidak operasional atau memuat tindakan kekerasan/pemaksaan pada kedua lingkungan.Merumuskan langkah strategi solusi damai yang jelas dan operasional hanya untuk 1 lingkungan (rumah atau rumah ibadah saja).Merumuskan langkah strategi solusi damai yang jelas, logis, dan operasional (mengatur giliran, tutur kata sopan, menjaga ketenangan ibadah) untuk kedua lingkungan (rumah dan rumah ibadah).Merumuskan langkah strategi solusi damai yang sangat runtut, jelas, dan inovatif untuk kedua lingkungan secara mandiri serta disertai rincian tindakan nyata yang santun.
Penjiwaan Pesan Keteladanan Buddha dalam Bermain Peran di Sekolah (TP 4.4.2)Peragaan belum memuat pesan keteladanan Buddha atau perselisihan diselesaikan dengan cara memaksa/kekerasan.Peragaan memuat pesan keteladanan Buddha namun dialog penyelesaian konflik masih canggung atau penyelesaian rukun belum tuntas.Peragaan dengan jelas menjiwai teladan Buddha Sakyamuni (cinta kasih dan dialog damai seperti kisah mendamaikan suku Sakya dan Koliya) dan menghasilkan penyelesaian konflik antarteman di sekolah secara rukun tanpa kekerasan.Peragaan sangat meyakinkan dalam menjiwai teladan Buddha Sakyamuni, dialog mengalir lancar, dan pesan penyelesaian konflik tanpa kekerasan tersampaikan secara mendalam dan utuh.
Kerja Sama Kelompok dalam Unjuk Kerja Bermain Peran (TP 4.4.2, TP 4.4.4)Hanya 1 murid yang dominan tampil dan anggota kelompok lainnya pasif atau tidak menjalankan peran.Sebagian anggota (2 dari 4 murid) berperan aktif, namun koordinasi antartokoh dalam kelompok masih terputus-putus.Seluruh anggota kelompok (4 murid) terlibat aktif menjalankan perannya masing-masing secara terpadu dari awal konflik hingga tercapai rekonsiliasi damai.Seluruh anggota kelompok (4 murid) sangat kompak, transisi adegan berjalan lancar, dan saling mendukung peran secara harmonis.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pengerjaan bagan mandiri (40 menit) dan giliran tampil unjuk kerja (50 menit) berjalan tepat sesuai rencana?
  • Bagaimana ketercapaian murid dalam mengadaptasi nilai cinta kasih dan kesabaran Buddha Sakyamuni ke dalam solusi nyata pergaulan sehari-hari?

Murid:

  • Bagaimana perasaanku saat berhasil memeragakan penyelesaian masalah pergaulan secara damai bersama teman kelompok?
  • Teladan Buddha Sakyamuni apa yang paling ingin kupraktikkan saat menghadapi teman atau saudara yang sedang marah?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021)
  2. Buku Panduan Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021) Halaman 106-107
  3. Kartu Masalah Pergaulan Lingkungan Terdekat
  4. Lembar Kerja Murid (LKPD) 'Meneladan Buddha dalam Pergaulanku'
  5. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021) Halaman 106-107
  6. Kartu Studi Kasus 'Tantangan Detektif Sahabat' dan Lembar Kerja 'Solusi Keteladanan di Sekolahku'
  7. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021), Bab IV Halaman 103-107
  8. Set Kartu Tantangan 'Adaptasi Karuna' (berisi 3 kartu skenario masalah di vihara dan 3 kartu tindakan adaptasi keteladanan Buddha)
  9. Gambar kisah Pangeran Siddharta dan Channa serta Buddha merawat Bhikkhu Putigatta Tissa
  10. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021)
  11. Set 3 Kartu Kasus Masalah Pergaulan (lingkungan terdekat, sekolah, rumah ibadah)
  12. Lembar Kerja Kreasi Strategi Inovatif Pergaulan
  13. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV Bab IV 'Pergaulanku' (Kemendikbudristek, 2021)
  14. Lembar Kerja Bagan Rencana Strategi Pergaulan Inovatif
  15. Lembar Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Bermain Peran dan Produk Bagan
  16. Perlengkapan panggung/properti sederhana kelas untuk simulasi sekolah

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.