Modul AjarBab 3Fase BSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 4 Bab 3: BudayaKu IdentitasKu

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 4 untuk Bab 3 "BudayaKu IdentitasKu", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 4 Bab 3: BudayaKu IdentitasKu

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 4

Bab 3

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Bab 3 — BudayaKu IdentitasKu

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikBab 3 — BudayaKu IdentitasKu
Alokasi Waktu14 JP (14 x 35 menit = 490 menit)
Jumlah Pertemuan5
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 4.3.1 Mengevaluasi dengan membandingkan secara hormat budaya dalam agama Buddha di lingkungan tempat tinggalnya
  2. TP 4.3.2 Menunjukkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan identitas dan budaya orang lain di lingkungan tempat tinggalnya
  3. TP 4.3.3 Mengevaluasi identitas masing-masing aliran atau tradisi dalam agama Buddha dengan membandingkan keunikan dan persamaan nilai-nilainya
  4. TP 4.3.4 Mensintesis pemahaman satu kesatuan untuk mengkreasi model praktis bersatu dalam perbedaan yang dapat diimplementasikan dalam komunitas yang beragam

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Tradisi atau perayaan budaya Buddhis apa saja yang pernah kalian lihat di sekitar tempat tinggal kita?
  2. Mengapa cara umat Buddha di berbagai daerah atau suku merayakan tradisi bisa tampak berbeda namun tetap memiliki makna penghormatan yang sama?
  3. Bagaimana perasaanmu ketika teman di sekitar rumahmu mengenakan pakaian adat atau merayakan tradisi yang berbeda dengan keluargamu?
  4. Sikap apa yang menunjukkan bahwa kita menyambut baik dan menghargai teman yang berbeda suku, bahasa, maupun kebiasaan budaya?
  5. Pernahkah kamu melihat vihara atau kelenteng yang bentuk altarnya berbeda dari yang biasa kamu kunjungi?
  6. Meskipun tradisi dan tata cara ritualnya tampak berbeda, adakah nilai luhur yang sama-sama diajarkan oleh Sang Buddha di dalamnya?
  7. Mengapa perbedaan tradisi dan budaya di sekitar kita justru dapat dirangkai menjadi satu kekuatan yang indah?
  8. Bagaimana kita menggabungkan gagasan rukun dari berbagai teman menjadi satu rencana kegiatan bersama yang nyata di lingkungan kita?
  9. Bagaimana kita menunjukkan rasa hormat dan sikap terbuka saat melihat perbedaan tradisi Buddhis serta budaya di sekitar kita?
  10. Bagaimana cara kita menuangkan gagasan praktis agar keragaman budaya di sekitar kita menjadi kekuatan untuk hidup bersatu dan rukun?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengevaluasi dan Membandingkan secara Hormat Budaya dalam Agama Buddha di Lingkungan Tempat Tinggal — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.1 Mengevaluasi dengan membandingkan secara hormat budaya dalam agama Buddha di lingkungan tempat tinggalnya

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid hening sejenak membacakan doa pembuka belajar, dan mengecek kehadiran (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu mengevaluasi dan membandingkan secara hormat budaya dalam agama Buddha di lingkungan tempat tinggal (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menanyakan pengetahuan murid mengenai ragam budaya Buddhis di sekitar tempat tinggalnya menggunakan pertanyaan lisan terstruktur (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati lembar komparasi visual yang menampilkan 3 contoh tradisi/budaya umat Buddha di lingkungan nusantara: (1) Tradisi Sungkem dan Fang Sheng pada Tahun Baru Imlek warga Tionghoa Buddhis, (2) Tradisi Sadranan/Nyadran membersihkan makam leluhur oleh umat Buddha Jawa di pedesaan, dan (3) Tradisi Arak Jumenengan/Pawai Budaya Waisak lokal; lalu guru membimbing murid mengenali ciri khas perayaan serta makna penghormatan luhurnya (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mencermati tabel analisis untuk menemukan 1 persamaan nilai luhur (penghormatan kepada orang tua/leluhur dan cinta kasih kepada makhluk hidup) serta 1 perbedaan bentuk ekspresi lahiriah pada masing-masing tradisi tersebut (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan kuis tantangan 'Pilah Kartu Budaya Buddhis' secara berpasangan: murid menerima 4 kartu pernyataan budaya lalu memilahnya ke dalam kolom budaya yang tepat: Kartu A 'Melepaskan burung/ikan ke alam bebas sebagai lambang cinta kasih' -> Tradisi Fang Sheng; Kartu B 'Tradisi kenduri dan bersih makam leluhur desa' -> Tradisi Nyadran Jawa Buddhis; Kartu C 'Berlutut menyentuh tangan orang tua memohon maaf' -> Tradisi Sungkem; Kartu D 'Mengarak arca Buddha keliling desa dengan iringan gamelan' -> Pawai Budaya Buddhis Lokal (15 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Evaluasi Komparasi Budaya Buddhis berisi tugas membandingkan secara tertulis 2 tradisi budaya Buddhis di lingkungan tempat tinggal (Tradisi Sungkem/Fang Sheng dan Tradisi Nyadran Buddhis) meliputi: (a) bentuk kegiatan, (b) persamaan nilai kebajikan, serta (c) penilaian sikap hormat terhadap keberagaman bentuk tradisi tersebut (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan proses evaluasi komparasi budaya yang telah dilakukan: murid menyadari bahwa perbedaan bentuk tradisi budaya lahiriah umat Buddha di lingkungan sekitar memperkaya identitas tanpa mengurangi nilai inti ajaran Buddha (15 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap kesimpulan hasil evaluasi murid bahwa setiap budaya Buddhis lokal wajib dihormati kesetaraannya (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan mengajak murid melafalkan doa penutup belajar dan saling memberikan salam penghormatan Namo Buddhaya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, lembar komparasi dilengkapi gambar ilustrasi dan frasa kunci panduan; bagi murid berpencapaian tinggi, disediakan teks narasi deskriptif budaya Buddhis daerah yang lebih rinci.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi secara bertahap dalam mengidentifikasi nilai kebajikan; murid berpencapaian tinggi mengevaluasi perbandingan secara mandiri tanpa bantuan frasa kunci.
  • Produk: Murid yang memerlukan bimbingan dapat mengisi komparasi dengan memilih kata dalam kotak pilihan; murid berpencapaian tinggi menuliskan uraian evaluasi komparasi budaya lengkap dengan kalimat mandiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan kesiapan belajar mengenai budaya Buddhis di lingkungan tempat tinggal: Guru menanyakan (1) 'Sebutkan 1 tradisi umat Buddha yang ada di lingkungan tempat tinggalmu!' (acuan jawaban: murid menyebutkan salah satu tradisi Buddhis lokal yang nyata, misal Sungkem Imlek, Fang Sheng, Pattidana/Sadranan, atau Asadha/Waisak lokal), (2) 'Apakah cara merayakan tradisi Buddhis di semua tempat sama?' (acuan jawaban: murid menjawab tidak sama/berbeda bentuk budayanya namun tujuannya sama-sama baik/menghormati).

Proses:

  • Observasi ketepatan pemilahan 4 kartu budaya Buddhis: (1) Kartu A 'Melepaskan burung/ikan' -> Fang Sheng, (2) Kartu B 'Kenduri dan bersih makam' -> Nyadran Jawa Buddhis, (3) Kartu C 'Berlutut memohon maaf' -> Sungkem, (4) Kartu D 'Arak arca dengan gamelan' -> Pawai Budaya Lokal.
  • Pemeriksaan Lembar Evaluasi Komparasi Budaya Buddhis: menilai ketepatan murid membandingkan 2 tradisi (bentuk perayaan, persamaan nilai kebajikan luhur, dan pernyataan sikap hormat atas perbedaan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (3 butir evaluasi komparasi budaya): Butir 1: Apa perbedaan bentuk lahiriah perayaan Fang Sheng dan Sungkem? (acuan: Fang Sheng melepaskan hewan ke alam bebas, Sungkem berlutut sungkem kepada orang tua). Butir 2: Apa persamaan nilai kebajikan dari tradisi Nyadran dan tradisi Sungkem? (acuan: sama-sama wujud bakti dan penghormatan kepada leluhur/orang tua). Butir 3: Bagaimana sikap kita ketika melihat umat Buddha di daerah lain merayakan hari suci dengan tradisi adat yang berbeda dari tradisi keluarga kita? (acuan: menghormati, menghargai, tidak mencela karena esensi nilainya sama luhur).

Formatif:

  • Penilaian proses pemilahan 4 kartu budaya Buddhis pada kegiatan kuis berpasangan
  • Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Evaluasi Komparasi Budaya Buddhis di lingkungan tempat tinggal

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi dengan membandingkan budaya dalam agama Buddha di lingkungan tempat tinggalBelum mampu membandingkan budaya dalam agama Buddha (tidak menemukan persamaan nilai maupun perbedaan bentuk tradisi dengan tepat).Mampu membandingkan budaya dalam agama Buddha dengan menemukan 1 perbedaan bentuk tradisi, namun belum mampu menemukan persamaan nilai luhurnya dengan tepat.Mampu mengevaluasi dengan membandingkan budaya dalam agama Buddha secara tepat (menemukan perbedaan bentuk tradisi dan persamaan nilai kebajikan secara tepat).Mampu mengevaluasi dengan membandingkan budaya dalam agama Buddha secara mendalam dan mandiri (menemukan perbedaan bentuk tradisi, persamaan nilai kebajikan, serta menguraikan sikap hormat terhadap keragaman budaya Buddhis secara tepat).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur membandingkan budaya lokal Buddhis membantu murid memahami bahwa perbedaan bentuk tradisi tidak merusak nilai luhur ajaran Buddha?
  • Bagian kegiatan mana yang paling efektif melatih penalaran kritis murid dalam mengevaluasi keragaman budaya secara hormat?

Murid:

  • Apa hal baru yang kalian ketahui tentang keunikan budaya teman-teman Buddhis dari suku atau daerah lain?
  • Mengapa kita harus bersikap hormat saat melihat tradisi Buddhis yang bentuk perayaannya berbeda dengan tradisi di rumah kita?

Pertemuan 2 — Menunjukkan Keterbukaan untuk Menghargai Perbedaan Identitas dan Budaya Orang Lain di Lingkungan Tempat Tinggal — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.2 Menunjukkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan identitas dan budaya orang lain di lingkungan tempat tinggalnya

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', memandu doa bersama, dan melakukan hening sejenak (mindful breathing) untuk memusatkan perhatian murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan keterbukaan dalam menghargai perbedaan identitas dan budaya orang lain di lingkungan tempat tinggal (5 menit).
  • Asesmen Awal: Guru menampilkan 2 gambar situasi sikap bertetangga: (A) Murid tersenyum menyapa tetangga yang memakai busana daerah berbeda saat pawai lingkungan; (B) Murid menjauh dan menutup pintu saat tetangga lewat berbusana daerah. Murid diminta mengangkat kartu jempol hijau untuk situasi yang menunjukkan keterbukaan menghargai perbedaan identitas budaya, atau jempol merah jika tidak (acuan kunci: Gambar A = Benar/Terbuka; Gambar B = Tidak Terbuka) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak ulasan guru berdasarkan Buku Siswa halaman 106 mengenai keragaman pakaian adat, tradisi suku, serta pergaulan rukun dengan tetangga yang berbeda identitas dan latar belakang budaya tanpa membeda-bedakan (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mencermati Lembar Panduan 'Sikap Terbuka Buddhis' yang memuat prinsip cinta kasih (metta) dan welas asih (karuna) dalam menerima perbedaan teman bermain di lingkungan rumah (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Permainan Menggembirakan 'Pohon Sahabat Bhinneka': Guru membagikan 4 kartu skenario pergaulan lingkungan tempat tinggal kepada setiap kelompok kecil (4 murid per kelompok). Murid membaca skenario dan memilih kartu yang menunjukkan tindakan keterbukaan menghargai perbedaan identitas dan budaya untuk ditempelkan pada dahan pohon. Daftar 4 kartu skenario: (1) 'Menyapa dengan ramah dan mencicipi hidangan kue tradisional tetangga baru dari suku Minang' [Acuan: Sikap Terbuka/Tepat]; (2) 'Hanya mau bermain sepeda dengan teman yang satu suku saja' [Acuan: Pengalih/Tidak Terbuka]; (3) 'Menghormati teman yang berbicara bahasa daerah Jawa bersama keluarganya dengan mendengarkan secara sopan' [Acuan: Sikap Terbuka/Tepat]; (4) 'Mengejek logat bicara tetangga baru yang berbeda dialek' [Acuan: Pengalih/Tidak Terbuka] (20 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Respon 'Sikap Terbukaku', memilih tindakan keterbukaan pada 3 situasi pergaulan nyata: (Situasi 1) Tetangga mengadakan perayaan adat di depan rumah; (Situasi 2) Teman bermain di lingkungan rumah mengajak permainan tradisional daerahnya; (Situasi 3) Tetangga berbeda suku menyapa menggunakan ucapan salam daerahnya. (Acuan respons terbuka: Situasi 1 = bersikap tenang/tidak mengganggu/memberi ucapan selamat; Situasi 2 = ikut serta belajar bermain dengan riang/menghargai aturan mainnya; Situasi 3 = menjawab sapaan dengan ramah dan senyum bersahabat) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama bimbingan guru merefleksikan perasaan mereka saat berhasil menentukan sikap terbuka dan menyambut perbedaan identitas teman di lingkungan tempat tinggal (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap hasil kerja mandiri dan mengapresiasi keterbukaan sikap yang ditunjukkan oleh murid (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya menghargai identitas dan budaya tetangga demi kerukunan, kemudian menutup kelas dengan doa pelimpahan jasa dan salam penutup 'Namo Buddhaya' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu skenario berseri gambar visual pendukung bagi murid yang membutuhkan penguatan visual membaca teks.
  • Proses: Memberikan pendampingan terbimbing secara personal pada murid yang masih ragu membedakan sikap menghargai dan yang tidak, serta memberikan skenario studi kasus lingkungan yang lebih kompleks (misal: menyikapi perbedaan logat bahasa saat kerja bakti RT) bagi murid yang cepat paham.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan pilihan sikap keterbukaan melalui centang pilihan respon bergambar atau menuliskan kalimat tindakan singkat sesuai kenyamanan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Identifikasi awal sikap keterbukaan menghargai perbedaan melalui 2 kartu gambar: Gambar A (menyapa tetangga berbusana daerah berbeda) dan Gambar B (menghindar dan menutup pintu). Acuan: Gambar A adalah tindakan terbuka/menghargai, Gambar B adalah tindakan tidak terbuka.

Proses:

  • Formatif pemilahan 4 kartu skenario kelompok: Murid tepat menempelkan skenario 1 ('Menyapa ramah dan mencicipi kue suku Minang') dan skenario 3 ('Menghormati teman berbahasa Jawa'), serta memilah/tidak menempelkan kartu pengalih skenario 2 dan 4.
  • Formatif Lembar Respon 'Sikap Terbukaku' pada 3 situasi: Kriteria ketepatan terpenuhi jika murid memilih tindakan menerima/menghargai/bersahabat pada seluruh 3 situasi (Situasi 1: tidak mengganggu/memberi ucapan selamat; Situasi 2: ikut bermain riang/menghargai aturan; Situasi 3: membalas sapaan dengan ramah).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan singkat di penutup: Murid menyebutkan 1 contoh tindakan nyata yang akan dilakukannya ketika bertemu teman bermain yang berbeda suku atau budaya di lingkungan rumahnya (Kriteria penerimaan operasional: tindakan memuat perilaku ramah, mengajak bermain, menyapa, atau menghormati kebiasaan teman tanpa mengejek).

Formatif:

  • Pengamatan unjuk keterbukaan dalam permainan kelompok 'Pohon Sahabat Bhinneka'
  • Pemeriksaan Lembar Respon Mandiri 'Sikap Terbukaku' terhadap 3 situasi pergaulan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keterbukaan Menghargai Perbedaan Identitas dan Budaya Orang LainBelum mampu menunjukkan tindakan keterbukaan menghargai perbedaan identitas dan budaya orang lain (hanya tepat merespons 0-1 dari 3 situasi pada lembar kerja dan masih memilih kartu pengalih yang tidak menghargai perbedaan).Mulai mampu menunjukkan tindakan keterbukaan menghargai perbedaan identitas dan budaya orang lain dengan bimbingan guru (tepat merespons 2 dari 3 situasi pada lembar kerja dan memilah 1 kartu pengalih).Mampu menunjukkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan identitas dan budaya orang lain di lingkungan tempat tinggal secara mandiri (tepat merespons seluruh 3 situasi pada lembar kerja dan memilah seluruh kartu pengalih tanpa keliru).Sangat konsisten menunjukkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan identitas dan budaya orang lain di lingkungan tempat tinggal secara mandiri pada seluruh situasi serta memberikan contoh tindakan penerimaan yang bersahabat pada situasi lingkungan sekitar.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas bermain peran dan pemilahan kartu skenario membantu murid memahami cara bersikap terbuka terhadap perbedaan budaya di sekitarnya?
  • Bagaimana keterlibatan aktif murid saat diajak mengidentifikasi sikap ramah terhadap teman berbeda identitas?

Murid:

  • Apa tindakan menghargai teman berbeda budaya yang paling ingin kamu lakukan di sekitar rumahmu?
  • Bagaimana perasaanmu ketika kamu bisa bersikap ramah dan bermain bersama teman yang berbeda suku atau adat?

Pertemuan 3 — Mengevaluasi Identitas Aliran atau Tradisi dalam Agama Buddha dengan Membandingkan Keunikan dan Persamaan Nilai-nilainya — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.3 Mengevaluasi identitas masing-masing aliran atau tradisi dalam agama Buddha dengan membandingkan keunikan dan persamaan nilai-nilainya

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis, memimpin doa puja bakti pembuka, dan mengajak murid menenangkan batin sejenak (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengevaluasi keunikan ciri ritual serta persamaan nilai luhur dari tradisi/aliran dalam agama Buddha (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 2 pertanyaan kesiapan: (1) 'Sebutkan 1 tradisi/aliran dalam agama Buddha selain yang kamu anut!' (acuan jawaban: Theravada / Mahayana / Vajrayana / Maitreya / Buddhayana / Kasogatan / Tri Dharma); (2) 'Mengapa umat Buddha melakukan penghormatan di depan altar?' (acuan jawaban: untuk melatih bakti/hormat kepada Triratna, membersihkan batin, atau melatih kebajikan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati lembar gambar komparasi ritual dari tradisi Theravada (bacaan Paritta berbahasa Pali dan tradisi Patidana/pelimpahan jasa), Mahayana (pelafalan sutra/mantra berbahasa Sanskerta/Mandarin dan upacara Ulambana/Ceng Beng), serta tradisi Kasogatan/Tri Dharma (akulturasi budaya Nusantara dan tata cara persembahan dupa) (15 menit).
  • Guru memandu murid menelaah identitas masing-masing aliran dengan membedakan keunikan tata cara ritual lahiriah dan menemukan persamaan batiniahnya, yaitu penghormatan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha serta pengembangan cinta kasih (metta) dan pelimpahan kebajikan (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan kuis tantangan berpasangan 'Teka-Teki Kartu Tradisi' secara menggembirakan: mencocokkan 4 kartu identitas tradisi dengan keunikan ritualnya. Rincian 4 kartu: (1) Kartu Tradisi Theravada -> Keunikan: pelafalan paritta bahasa Pali dan tradisi pelimpahan jasa Patidana; (2) Kartu Tradisi Mahayana -> Keunikan: pembacaan sutra/mantra dengan lonceng/mukyu dan peringatan Ulambana; (3) Kartu Tradisi Vajrayana -> Keunikan: penggunaan sarana vajra, ghanta, dan pembacaan mantra dharani; (4) Kartu Tradisi Kasogatan/Tri Dharma -> Keunikan: akulturasi tata cara persembahan dupa dan penghormatan leluhur bernuansa lokal (15 menit).
  • Murid secara mandiri mengisi Lembar Evaluasi Komparasi Nilai Tradisi dengan menuliskan analisis 2 keunikan tradisi dan 2 persamaan nilai luhur antartradisi tersebut berdasarkan acuan: Persamaan Nilai: (a) semua tradisi berlandaskan keyakinan pada Triratna, (b) melatih batin membersihkan kekotoran batin melalui cinta kasih dan rasa hormat, (c) berbuat kebajikan melalui pelimpahan jasa kepada leluhur dan sesama makhluk (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memeriksa kembali hasil analisis komparasi nilainya dan merefleksikan bahwa perbedaan bentuk altar, bahasa doa, atau tata cara tradisi bukanlah pemisah, melainkan kekayaan ekspresi bakti Buddhis yang memiliki tujuan nilai luhur yang setara (15 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan inti materi bahwa setiap aliran/tradisi memiliki keunikan cara puja, tetapi memiliki persamaan nilai inti yaitu perlindungan pada Triratna dan pengembangan budi pekerti luhur (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap evaluasi murid dan menutup sesi pembelajaran dengan doa pelimpahan jasa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar gambar terstruktur dengan kata kunci identitas tradisi; murid mahir diberikan teks studi kasus komparasi tata cara puja bakti tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana.
  • Proses: Murid yang membutuhkan pendampingan dipandu guru dalam mengidentifikasi persamaan nilai; murid cepat menganalisis 3 tradisi sekaligus secara mandiri.
  • Produk: Murid menuangkan hasil evaluasi perbandingan keunikan dan persamaan nilai tradisi dalam bentuk bagan komparasi 2 kolom atau tabel komparasi analitis.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan pra-pembelajaran: (1) Menyebutkan nama aliran/tradisi Buddhis selain yang dianut (acuan: Theravada, Mahayana, Vajrayana, Kasogatan, Tri Dharma, Maitreya); (2) Menjelaskan tujuan penghormatan di depan altar (acuan: wujud bakti/hormat pada Triratna, melatih batin bersih, atau mempraktikkan ajaran kebajikan).

Proses:

  • Observasi ketepatan murid saat mencocokkan 4 pasangan kartu tradisi Buddhis pada kegiatan kuis berpasangan.
  • Penilaian Lembar Evaluasi Komparasi Nilai Tradisi dalam membandingkan keunikan ritual dan persamaan nilai antartradisi.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Menjawab 1 persamaan nilai mendasar antara tradisi Theravada dan Mahayana dalam penghormatan leluhur (acuan: keduanya bertujuan melatih bakti dan melimpahkan kebajikan/jasa kebajikan bagi leluhur).

Formatif:

  • Kuis berpasangan mencocokkan kartu identitas tradisi Buddhis
  • Pemeriksaan Lembar Evaluasi Komparasi Nilai Tradisi (keunikan dan persamaan nilai)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi keunikan identitas masing-masing aliran atau tradisi dalam agama BuddhaBelum mampu mengidentifikasi keunikan ritual tradisi (0-1 pasangan kartu/keunikan tradisi tepat dari 4 acuan: Theravada-paritta Pali/Patidana, Mahayana-sutra/Ulambana, Vajrayana-vajra/ghanta/dharani, Kasogatan/Tri Dharma-dupa/akulturasi lokal).Mampu mengidentifikasi sebagian keunikan tradisi secara tepat (2 dari 4 acuan tradisi tepat).Mampu mengevaluasi keunikan tradisi dengan tepat (3 dari 4 acuan tradisi tepat secara mandiri).Mampu mengevaluasi seluruh keunikan tradisi secara tepat dan lengkap (seluruh 4 acuan tradisi tepat tanpa kekeliruan secara mandiri).
Membandingkan persamaan nilai-nilai luhur antartradisi dalam agama BuddhaBelum mampu menemukan persamaan nilai antartradisi (0 poin persamaan sesuai acuan: Triratna, pembersihan batin/cinta kasih, pelimpahan kebajikan).Mampu menyebutkan 1 persamaan nilai luhur antartradisi sesuai acuan dengan bimbingan.Mampu membandingkan dan menjelaskan 2 persamaan nilai luhur antartradisi secara tepat sesuai acuan.Mampu membandingkan dan menjelaskan seluruh 3 persamaan nilai luhur antartradisi secara tepat, mendalam, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan kartu tradisi efektif membantu murid memahami perbedaan tata cara ritual tanpa memunculkan sikap merendahkan tradisi lain?
  • Apakah langkah perbandingan persamaan nilai berhasil membimbing murid melihat esensi kesatuan ajaran Buddha di balik keragaman tradisi?

Murid:

  • Apa keunikan tradisi Buddhis yang baru saja kamu pelajari hari ini yang paling membuatmu tertarik?
  • Mengapa kita harus tetap menghormati teman yang melakukan puja bakti dengan tradisi Buddhis yang berbeda dari tradisi keluarga kita?

Pertemuan 4 — Mensintesis Pemahaman Satu Kesatuan untuk Mengkreasi Model Praktis Bersatu dalam Perbedaan pada Komunitas yang Beragam — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.4 Mensintesis pemahaman satu kesatuan untuk mengkreasi model praktis bersatu dalam perbedaan yang dapat diimplementasikan dalam komunitas yang beragam

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis, doa bersama, dan hening sejenak untuk menumbuhkan kesadaran diri (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya-jawab lisan mengenai 2 unsur pemersatu dalam keberagaman (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak ulasan guru tentang kisah musyawarah damai Suku Sakya dan Suku Koliya di Sungai Rohini serta konsep satu kesatuan dalam perbedaan tradisi Buddhis (10 menit).
  • Murid berpasangan memainkan kuis tebak cepat 'Rangkai Makna' mencocokkan 3 kartu prinsip kesatuan: (1) Cinta Kasih (Metta) -> Membantu teman tanpa membedakan asal usul; (2) Musyawarah -> Menyelesaikan beda pendapat secara damai; (3) Gotong Royong -> Bekerja sama membersihkan vihara atau lingkungan bersama (acuan: pasangan kartu 1, 2, dan 3) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) mensintesis pemahaman satu kesatuan dengan merancang model praktis bersatu dalam perbedaan berupa 'Bagan Rencana Aksi Kerukunan Komunitas' yang memadukan 3 komponen terpadu: nama aksi bersama, peran anggota yang beragam, dan aturan saling menghargai (18 menit).
  • Setiap kelompok saling meninjau hasil bagan model praktis kelompok lain dengan menempelkan stiker bintang apresiasi pada komponen aksi yang paling realistis diimplementasikan (7 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama bimbingan guru merefleksikan bagaimana perpaduan ide yang berbeda justru melahirkan model aksi bersama yang utuh dan harmonis (8 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai sintesis pemahaman satu kesatuan dalam mengkreasi model bersatu di komunitas (4 menit).
  • Guru memberikan umpan balik pelaksanaan tugas kreasi, menyampaikan pengantar singkat bahwa pada pertemuan berikutnya akan dilaksanakan asesmen sumatif bab, lalu menutup kelas dengan doa penutup (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan format bagan terstruktur dengan panduan kolom isian jelas; murid mahir diberikan format bagan terbuka yang mencakup situasi komunitas yang lebih kompleks (sekolah multikultur dan lingkungan vihara lintas tradisi).
  • Proses: Guru memberikan pendampingan langsung pada kelompok yang masih kesulitan menyintesis perpaduan ide; kelompok yang cepat diberi kebebasan mandiri mengombinasikan ide.
  • Produk: Model praktis dapat disajikan dalam bentuk bagan alur bergambar atau tabel aksi kerukunan 3 komponen terpadu.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: Murid diminta menyebutkan 2 unsur dasar yang menyatukan perbedaan di lingkungan Buddhis/masyarakat (kriteria penerimaan: jawaban menyebutkan minimal 2 dari unsur cinta kasih/metta, saling menghormati, musyawarah, tolong-menolong, atau tujuan kedamaian bersama).

Proses:

  • Pengamatan formatif terhadap kerja kelompok saat menyintesis gagasan menjadi bagan model praktis: dinilai berdasarkan keterpaduan 3 komponen aksi praktis (1: nama/tujuan kegiatan bersama, 2: pembagian peran lintas keragaman, 3: aturan saling menghargai).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: Murid secara mandiri menuliskan 1 kesimpulan praktis tentang bagaimana memadukan perbedaan tradisi menjadi satu tindakan rukun yang dapat langsung diterapkan di kelas/lingkungan (kriteria penerimaan: memuat gagasan penggabungan perbedaan menjadi satu kerja sama nyata tanpa merendahkan pihak lain).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik pemahaman prinsip persatuan di pendahuluan
  • Lembar observasi unjuk kerja sintesis bagan model praktis bersatu dalam perbedaan selama kegiatan inti

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mensintesis pemahaman satu kesatuan dalam mengkreasi model praktis bersatu dalam perbedaanBelum mampu memadukan gagasan kesatuan; kreasi model praktis hanya memuat 1 komponen atau belum menunjukkan keterpaduan dalam perbedaan secara mandiri.Mampu memadukan gagasan kesatuan sebagian; kreasi model praktis memuat 2 dari 3 komponen (nama kegiatan bersama, pembagian peran beragam, aturan menghargai) dengan bimbingan guru.Mampu mensintesis pemahaman kesatuan dengan memadukan gagasan secara utuh; kreasi model praktis memuat lengkap 3 komponen (nama kegiatan bersama, pembagian peran beragam, aturan menghargai) yang dapat diterapkan dalam komunitas.Mampu mensintesis pemahaman kesatuan secara mendalam dan mandiri; kreasi model praktis memuat lengkap 3 komponen secara terpadu, terperinci, realistis, dan mencakup solusi antisipasi bila terjadi selisih paham dalam komunitas.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid mampu menghubungkan nilai persatuan Buddhis dengan tindakan kreasi model rukun yang konkret?
  • Bagian mana dari kegiatan merancang bagan yang membutuhkan fasilitasi lebih intensif dari guru?

Murid:

  • Apa hal baru yang saya pelajari tentang menyatukan berbagai ide yang berbeda?
  • Bagaimana perasaan saya ketika berhasil menyusun rencana bersama teman untuk hidup rukun?

Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.3.1 Mengevaluasi dengan membandingkan secara hormat budaya dalam agama Buddha di lingkungan tempat tinggalnya
  • TP 4.3.2 Menunjukkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan identitas dan budaya orang lain di lingkungan tempat tinggalnya
  • TP 4.3.3 Mengevaluasi identitas masing-masing aliran atau tradisi dalam agama Buddha dengan membandingkan keunikan dan persamaan nilai-nilainya
  • TP 4.3.4 Mensintesis pemahaman satu kesatuan untuk mengkreasi model praktis bersatu dalam perbedaan yang dapat diimplementasikan dalam komunitas yang beragam

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid hening sejenak untuk memusatkan perhatian, dan menyapa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, menjelaskan tata tertib pengerjaan mandiri, serta membagikan Lembar Asesmen Sumatif Bab 3 yang memuat Tugas 1 (Tabel Komparasi Tradisi dan Bagan Skema Aksi Kerukunan) dan jadwal giliran Tugas 2 (Unjuk Kerja Lisan Bergilir) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mencermati petunjuk pengisian Tugas 1: melengkapi tabel perbandingan 3 tradisi Buddhis (Theravada, Mahayana, Vajrayana) yang mencakup 1 keunikan khas masing-masing tradisi dan 1 persamaan nilai utama yang menyatukan ketiganya, serta merancang bagan skema model praktis hidup rukun bersatu dalam perbedaan berisi 3 langkah aksi nyata (5 menit).
  • Murid mencermati petunjuk Tugas 2: persiapan unjuk kerja lisan singkat (1,5 menit) saat dipanggil ke meja guru untuk membandingkan secara hormat 2 wujud budaya Buddhis di lingkungan tempat tinggal serta menyatakan sikap terbuka dalam menghargai perbedaan budaya teman/tetangga (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Seluruh murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Tugas 1: mengisi tabel komparasi tradisi Buddhis dan menggambar/menulis bagan skema model praktis hidup rukun dalam perbedaan pada lembar kerja yang disediakan (40 menit).
  • Secara bergantian dan paralel dengan penuntasan karya Tugas 1 di meja masing-masing, guru memanggil murid satu per satu ke meja guru (1,5 menit per anak untuk 28 murid) untuk melaksanakan asesmen unjuk kerja lisan Tugas 2: murid membandingkan secara hormat 2 wujud budaya Buddhis di lingkungan sekitar dan menyampaikan sikap terbuka terhadap perbedaan budaya orang lain (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengumpulkan seluruh berkas portofolio (Lembar Kerja Tabel Komparasi dan Bagan Skema Aksi Kerukunan) ke meja guru, lalu memeriksa kembali kelengkapan identitas diri (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi atas ketertiban, kejujuran, dan kesungguhan seluruh murid selama pelaksanaan asesmen sumatif bab (3 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran Bab 3 bahwa keragaman budaya dan tradisi adalah kekayaan identitas bersama yang mempererat persatuan, dilanjutkan dengan doa penutup belajar Buddhis (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan lembar panduan format tabel dan bagan dengan ukuran huruf yang lebih besar bagi murid dengan hambatan penglihatan ringan tanpa mengubah butir tugas.
  • Proses: Memberikan perpanjangan jeda bernapas atau fleksibilitas giliran maju lisan bagi murid yang mengalami kecemasan tanpa mengubah materi pertanyaan asesmen.
  • Produk: Murid boleh menyajikan bagan skema aksi kerukunan dalam bentuk diagram alir, peta pikiran, atau pohon aksi bergambar dengan teks penjelasan aksi yang setara.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan teknis asesmen: guru memastikan kesiapan alat tulis/pewarna murid dan menanyakan pemahaman petunjuk pengerjaan portofolio serta giliran unjuk kerja lisan bergilir (acuan: murid mengonfirmasi pemahaman alur asesmen dan tidak memiliki kendala sarana).

Proses:

  • Observasi keterlibatan mandiri murid dalam menuntaskan lembar komparasi tradisi dan bagan skema model kerukunan tanpa berdiskusi atau menyontek.

Sumatif Bab:

  • penilaian portofolio terpadu lembar kerja komparasi dan bagan aksi kerukunan disertai unjuk kerja lisan bergilir: tabel komparasi tradisi buddhis, karya visual bagan skema model hidup rukun dalam keberagaman budaya, serta rekaman paparan lisan singkat evaluasi budaya sekitar dengan sikap terbuka
  • penugasan lembar kerja komparasi dan karya visual serentak: lembar kerja murid berisi tabel perbandingan keunikan dan persamaan nilai tradisi/aliran Buddhis serta karya visual bagan skema model praktis hidup rukun bersatu dalam perbedaan (60 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk tabel perbandingan dan bagan skema aksi)
  • unjuk kerja lisan dan observasi sikap bergilir: kinerja tiap murid menyampaikan paparan perbandingan 2 wujud budaya Buddhis sekitar serta menunjukkan sikap terbuka menghargai perbedaan budaya, dinilai 1,5 menit per murid secara rotasi ke meja guru saat kelas menuntaskan/merapikan karya visual (45 menit / 1,5 menit = 30 murid, muat 28 murid) (45 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja lisan dan lembar observasi keterbukaan sikap)

Sumatif:

  • penilaian portofolio terpadu lembar kerja komparasi dan bagan aksi kerukunan disertai unjuk kerja lisan bergilir: tabel komparasi tradisi buddhis, karya visual bagan skema model hidup rukun dalam keberagaman budaya, serta rekaman paparan lisan singkat evaluasi budaya sekitar dengan sikap terbuka
  • penugasan lembar kerja komparasi dan karya visual serentak: lembar kerja murid berisi tabel perbandingan keunikan dan persamaan nilai tradisi/aliran Buddhis serta karya visual bagan skema model praktis hidup rukun bersatu dalam perbedaan (60 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk tabel perbandingan dan bagan skema aksi)
  • unjuk kerja lisan dan observasi sikap bergilir: kinerja tiap murid menyampaikan paparan perbandingan 2 wujud budaya Buddhis sekitar serta menunjukkan sikap terbuka menghargai perbedaan budaya, dinilai 1,5 menit per murid secara rotasi ke meja guru saat kelas menuntaskan/merapikan karya visual (45 menit / 1,5 menit = 30 murid, muat 28 murid) (45 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja lisan dan lembar observasi keterbukaan sikap)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi Budaya Agama Buddha di Lingkungan Tempat Tinggal (TP 4.3.1)Belum mampu membandingkan wujud budaya dalam agama Buddha di lingkungan tempat tinggalnya, atau perbandingan masih menunjukkan sikap mencela/merendahkan salah satu bentuk budaya.Membandingkan 2 wujud budaya Buddhis sekitar (mis. tradisi bahasa doa, busana ibadah, atau perayaan hari besar) namun analisis perbedaannya belum seimbang atau penyampaian sikap hormat masih membutuhkan bimbingan arahan guru.Mengevaluasi dengan membandingkan 2 wujud budaya dalam agama Buddha di sekitar tempat tinggalnya secara tepat, runtut, dan menunjukkan sikap hormat secara mandiri.Mengevaluasi dengan membandingkan 2 wujud budaya dalam agama Buddha di sekitar tempat tinggalnya secara komprehensif, mendalam, dan menunjukkan penghormatan tulus terhadap nilai luhur masing-masing budaya secara mandiri dan meyakinkan.
Menunjukkan Keterbukaan Menghargai Perbedaan Budaya (TP 4.3.2)Belum mampu menunjukkan pernyataan sikap terbuka atau menolak menerima teman/orang lain yang berbeda identitas dan budaya di lingkungan tempat tinggalnya.Menunjukkan keterbukaan menerima perbedaan budaya orang lain, namun contoh sikap menghargai yang disebutkan masih terbatas pada 1 contoh pasif (hanya membiarkan) setelah dipancing pertanyaan guru.Menunjukkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan identitas dan budaya orang lain secara mandiri dengan minimal 2 contoh sikap konkret (mis. mau berteman tanpa memilih latar budaya, mendengarkan cerita tradisi teman dengan ramah).Menunjukkan keterbukaan yang tinggi dan konsisten dalam menghargai perbedaan identitas dan budaya orang lain dengan memberikan 3 atau lebih contoh sikap inklusif dan ramah dalam kehidupan sehari-hari.
Mengevaluasi Identitas Aliran/Tradisi Buddhis (TP 4.3.3)Tabel komparasi memuat kurang dari 2 keunikan tradisi yang tepat dan tidak mampu mengidentifikasi persamaan nilai utama yang menyatukan ketiga tradisi.Mengisi tabel dengan tepat untuk 2 dari 3 keunikan tradisi (Theravada, Mahayana, atau Vajrayana) dan menuliskan persamaan nilai secara umum (hanya menyebut nama Triratna tanpa penjelasan nilai kebajikan).Mengisi tabel dengan tepat untuk seluruh 3 keunikan tradisi (Theravada: bahasa Pali/jubah jingga; Mahayana: bahasa Sanskerta-Mandarin/Bodhisattva; Vajrayana: mantra-mudra/vajra) serta 1 persamaan nilai utama yang benar (Triratna/Empat Kebenaran Mulia/cinta kasih).Mengisi tabel secara lengkap dan tepat untuk seluruh 3 keunikan tradisi disertai rincian penjelasan yang mendalam serta menguraikan lebih dari 1 persamaan nilai esensial yang mempersatukan ketiga tradisi secara utuh.
Mensintesis Model Praktis Bersatu dalam Perbedaan (TP 4.3.4)Bagan skema belum menyajikan model aksi kerukunan atau tindakan yang digambarkan tidak relevan dengan persatuan dalam keberagaman komunitas.Bagan skema menyajikan model hidup rukun namun hanya memuat 1 atau 2 tindakan yang masih bersifat umum/abstrak tanpa langkah implementasi konkret.Mensintesis pemahaman persatuan ke dalam karya bagan skema model praktis yang memuat tepat 3 aksi konkret hidup rukun dalam perbedaan yang dapat diterapkan di komunitas beragam.Mensintesis pemahaman persatuan ke dalam karya bagan skema yang sangat sistematis, kreatif, dan memuat 4 atau lebih aksi praktis terintegrasi yang mudah diterapkan di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 45 menit untuk Tugas 1 tertulis dan 35 menit untuk Tugas 2 lisan bergilir (1,5 menit per murid) berjalan efektif dan tertib di kelas?
  • Bagaimana ketercapaian murid kelas 4 secara keseluruhan dalam mengevaluasi keragaman tradisi Buddhis serta mensintesis model aksi persatuan berdasarkan hasil rubrik sumatif bab ini?
  • Langkah tindak lanjut apa yang perlu disiapkan bagi murid yang belum mencapai kriteria berkembang pada TP evaluasi tradisi atau unjuk kerja lisan?

Murid:

  • Bagian mana dari tugas asesmen hari ini yang paling menunjukkan pemahamanku tentang indahnya keragaman budaya Buddhis?
  • Apakah aksi hidup rukun yang aku gambar dan tuliskan pada bagan skema sudah siap aku praktikkan kepada teman dan tetanggaku setiap hari?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV, Kemendikbudristek 2021
  2. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV, Kemendikbudristek 2021
  3. Lembar Komparasi Visual Budaya Buddhis Nusantara
  4. Set Kartu Kuis 'Pilah Kartu Budaya Buddhis'
  5. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021)
  6. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021, Bab III)
  7. Set Kartu Skenario Pergaulan Lingkungan dan Gambar Bagan Pohon Sahabat Bhinneka
  8. Lembar Kerja Respon 'Sikap Terbukaku'
  9. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas IV SD (Kemendikbudristek 2021, Bab 3)
  10. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas IV SD (Kemendikbudristek 2021)
  11. Set Kartu Bergambar Tradisi Buddhis (Theravada, Mahayana, Vajrayana, Kasogatan/Tri Dharma)
  12. Lembar Kerja Evaluasi Komparasi Nilai Tradisi
  13. Buku Panduan Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021) Halaman 80-82
  14. Kertas manila/plano dan spidol warna untuk bagan rencana aksi kerukunan
  15. Kartu prinsip kesatuan dan stiker apresiasi
  16. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021).
  17. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV, Bab 3: BudayaKu IdentitasKu (Kemendikbudristek, 2021).
  18. Lembar Asesmen Sumatif Bab 3: Tabel Komparasi Tradisi Buddhis dan Bagan Skema Model Praktis Kerukunan.
  19. Lembar Rubrik Penilaian Portofolio Terpadu dan Lembar Catatan Pengamatan Lisan Guru.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.