Modul AjarBab 1Fase BSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 4 Bab 1: Terbuka Terhadap Keberagaman

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 4 untuk Bab 1 "Terbuka Terhadap Keberagaman", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 4 Bab 1: Terbuka Terhadap Keberagaman

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 4

Bab 1

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Bab 1 — Terbuka Terhadap Keberagaman

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikBab 1 — Terbuka Terhadap Keberagaman
Alokasi Waktu13 JP (13 x 35 menit = 455 menit)
Jumlah Pertemuan5
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 4.1.1 Mengevaluasi dengan membandingkan secara hormat perbedaan identitas dan budaya orang lain di lingkungan tempat tinggalnya pada konteks keberagaman dalam keluarga
  2. TP 4.1.2 Menunjukkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan identitas orang lain di lingkungan tempat tinggalnya dalam pergaulan di sekolah
  3. TP 4.1.3 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan sekolah
  4. TP 4.1.4 Mengkreasi strategi inovatif dalam menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekatnya dan lingkungan sekolah

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Perbedaan apa saja yang dapat kita temukan di antara anggota keluarga di rumah?
  2. Bagaimana cara kita membandingkan kebiasaan atau budaya keluarga sendiri dengan keluarga tetangga secara penuh rasa hormat?
  3. Bagaimana perasaanmu ketika teman di sekolah memiliki suku, bahasa daerah, atau ciri fisik yang berbeda denganmu?
  4. Sikap apa yang perlu kita tunjukkan saat teman di sekolah melakukan kebiasaan adat atau cara berpakaian yang berbeda dari kita?
  5. Bagaimana sikap Buddha Sakyamuni ketika bertemu dengan orang yang berasal dari latar belakang atau kasta yang berbeda?
  6. Bagaimana kita dapat meniru sikap menghargai sesama yang diajarkan Buddha Sakyamuni saat menghadapi teman yang diejek atau dijauhi di sekolah?
  7. Jika ada teman yang dijauhi saat bermain hanya karena logat bicaranya berbeda, gagasan baru apa yang bisa kita ciptakan agar semua anak mau bermain bersama?
  8. Bagaimana kita membuat cara seru dan damai untuk menyelesaikan perselisihan perbedaan di sekolah maupun di sekitar rumah?
  9. Bagaimana kita menunjukkan rasa hormat ketika anggota keluarga atau tetangga memiliki tradisi dan kebiasaan yang berbeda?
  10. Bagaimana keteladanan Buddha Sakyamuni yang welas asih dapat membantu kita menyelesaikan perselisihan akibat perbedaan di sekolah?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengevaluasi dan Membandingkan secara Hormat Perbedaan Identitas dan Budaya dalam Keluarga — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.1 Mengevaluasi dengan membandingkan secara hormat perbedaan identitas dan budaya orang lain di lingkungan tempat tinggalnya pada konteks keberagaman dalam keluarga

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid duduk tenang dengan kesadaran penuh (mindful breathing) selama 1 menit, dan memeriksa kehadiran murid (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengevaluasi dan membandingkan secara hormat perbedaan identitas dan budaya dalam keluarga di lingkungan tempat tinggal (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab terpimpin: murid diminta mengidentifikasi status 2 pernyataan tertulis tentang keberagaman keluarga di papan tulis: Pernyataan A: 'Setiap keluarga memiliki kebiasaan makan bersama dan tradisi leluhur yang berbeda-beda' (acuan: Benar/Tepat); Pernyataan B: 'Keluarga yang memiliki tradisi daerah berbeda tidak boleh saling berkunjung' (acuan: Salah/Tidak Tepat) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati teks singkat dan gambar keberagaman 'Keluarga Wirya dan Keluarga Tetangga' pada Buku Siswa, mengamati identitas asal daerah, bahasa sehari-hari di rumah, makanan khas, dan tradisi perayaan keluarga (10 menit).
  • Guru memberikan penjelasan terbimbing tentang cara mengevaluasi keberagaman: mengidentifikasi unsur perbedaan budaya dalam keluarga tanpa mencela, melainkan melihatnya sebagai kekayaan hidup bersama sesuai ajaran Buddha dalam petuah Raja Asoka tentang saling menghormati (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid mengikuti aktivitas tantangan berpasangan 'Tebak Kartu Budaya Keluarga' secara menggembirakan: murid mengambil kartu profil keluarga (Keluarga A: asal Jawa, tradisi sungkeman, masakan gudeg; Keluarga B: asal Tionghoa, tradisi makan bersama kue keranjang; Keluarga C: asal Batak, tradisi mangulosi) dan mencocokkan unsur perbedaannya secara tepat (10 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Kerja Evaluasi Keberagaman: membandingkan 3 aspek perbedaan identitas dan budaya (bahasa percakapan rumah, tradisi perayaan keluarga, makanan khas) antara keluarganya sendiri dengan keluarga lain di lingkungan tempat tinggalnya dengan kriteria perbandingan yang santun dan menghargai (15 menit).

Merefleksi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid bersama guru meninjau hasil evaluasi perbandingan budaya keluarga, menyimpulkan bahwa perbedaan identitas dan budaya dalam keluarga bukan alasan perselisihan, melainkan sarana mempraktikkan rasa hormat dan cinta kasih (metta) (8 menit).

Penutup:

  • Murid menjawab 2 butir kuis cek pemahaman tertulis singkat di lembar refleksi: (1) Sebutkan 2 aspek budaya yang bisa berbeda antar-keluarga! (kriteria acuan: murid menyebutkan 2 dari: bahasa daerah, makanan khas, tradisi adat/perayaan, pakaian adat); (2) Tuliskan 1 contoh sikap hormat saat membandingkan tradisi keluarga teman yang berbeda! (kriteria acuan: tidak mengejek, menghargai keunikan, mau mencicipi/mengenal dengan sopan) (4 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung, menegaskan tindak lanjut untuk selalu menghormati perbedaan di rumah masing-masing, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam Namo Buddhaya (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu profil budaya keluarga bergambar konkret bagi murid yang membutuhkan bantuan visual dan teks perbandingan analitis bagi murid yang siap.
  • Proses: Memberikan bimbingan bergradasi (scaffolding): murid yang memerlukan bimbingan membandingkan 2 aspek dengan tabel berpanduan; murid mahir membandingkan 3 aspek secara mandiri dan menyertakan evaluasi nilai penghormatan pada tiap aspek.
  • Produk: Hasil evaluasi perbandingan dapat dituangkan dalam bentuk diagram perbandingan sederhana atau tabel matriks kesantunan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid mengidentifikasi ketepatan 2 pernyataan keberagaman keluarga: Pernyataan 1: 'Setiap keluarga memiliki kebiasaan makan bersama dan tradisi leluhur yang berbeda-beda' (Acuan jawaban: Benar); Pernyataan 2: 'Keluarga yang memiliki tradisi daerah berbeda tidak boleh saling berkunjung' (Acuan jawaban: Salah).

Proses:

  • Penilaian unjuk kerja pada Lembar Kerja Evaluasi Keberagaman: ketepatan membandingkan 3 aspek (bahasa, tradisi, makanan khas) antara keluarga sendiri dan keluarga lain di lingkungan tempat tinggal secara hormat tanpa mencela.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir pembelajaran (2 butir): Butir 1: Menyebutkan 2 aspek budaya yang berbeda antar-keluarga (Acuan jawaban: menyebutkan minimal 2 di antara: bahasa rumah, tradisi upacara/kebiasaan keluarga, makanan khas, asal daerah); Butir 2: Memberikan 1 contoh sikap hormat ketika melihat perbedaan kebiasaan keluarga tetangga (Acuan jawaban: tidak mencela/mengejek, menghargai kebiasaan tersebut, bertutur kata sopan saat membicarakannya).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal melalui identifikasi kebenaran pernyataan keberagaman keluarga.
  • Asesmen formatif proses menggunakan Lembar Kerja Evaluasi Keberagaman Keluarga dan observasi aktivitas memasangkan kartu budaya.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi dan membandingkan perbedaan identitas dan budaya dalam keluarga secara hormatMampu membandingkan 1 aspek perbedaan budaya keluarga tetapi belum menunjukkan sikap hormat (masih terdapat komentar yang membandingkan lebih unggul/rendah).Mampu membandingkan 1 sampai 2 aspek perbedaan identitas dan budaya keluarga secara hormat dengan bimbingan guru.Mampu mengevaluasi dengan membandingkan 3 aspek perbedaan identitas dan budaya keluarga (bahasa, tradisi, makanan) secara hormat tanpa mencela secara mandiri.Mampu mengevaluasi dengan membandingkan lebih dari 3 aspek perbedaan identitas dan budaya keluarga secara hormat, mendalam, objektif, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas bermain kartu budaya keluarga mampu memotivasi murid memahami keberagaman keluarga secara menggembirakan?
  • Apakah murid sudah mampu mengevaluasi perbedaan budaya dengan bahasa yang santun dan penuh rasa hormat tanpa meremehkan tradisi keluarga lain?

Murid:

  • Perbedaan apa saja yang baru kamu ketahui tentang kebiasaan atau tradisi keluarga temanmu?
  • Bagaimana perasaanmu ketika dapat menghargai dan menghormati kebiasaan keluarga lain yang berbeda dengan keluargamu?

Pertemuan 2 — Menunjukkan Keterbukaan Menghargai Perbedaan Identitas Orang Lain dalam Pergaulan di Sekolah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.2 Menunjukkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan identitas orang lain di lingkungan tempat tinggalnya dalam pergaulan di sekolah

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', mengajak murid hening sejenak (mindful breathing) untuk memusatkan perhatian, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menunjukkan keterbukaan menghargai perbedaan identitas orang lain dalam pergaulan di sekolah (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui lembar respon cepat berisikan 2 pernyataan sikap pergaulan: (1) 'Saya mau duduk sebangku dan bermain bersama teman yang berbeda suku, agama, atau bahasa daerah' (Kunci respon terbuka: Setuju); (2) 'Saya hanya mau bekerja kelompok dengan teman yang berasal dari lingkungan tempat tinggal yang sama' (Kunci respon terbuka: Tidak Setuju) untuk memetakan keterbukaan awal murid (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mengamati gambar keberagaman murid sekolah (Wirya, Edo, Putu, Mudita, Dini, dan Rita) yang memiliki keberagaman suku (Jawa, Papua, Bali, Tionghoa), ciri fisik, dan busana daerah khas tempat tinggal masing-masing dari Buku Siswa (10 menit).
  • Guru memberikan penjelasan konsep tentang bentuk nyata sikap keterbukaan menghargai perbedaan identitas dalam pergaulan sekolah: menyapa dengan ramah, tidak mengejek latar belakang/logat bicara, dan bersedia berbagi ruang belajar bersama (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi menjadi kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang untuk melakukan permainan tantangan berpasangan 'Kartu Pilihan Sikap Ramah' di mana setiap kelompok menerima 4 kartu skenario situasi pergaulan di sekolah: (1) Skenario A: Ada murid baru dari daerah lain yang logat bicaranya berbeda saat bertanya di kelas; (2) Skenario B: Teman membawa bekal makanan tradisional khas sukunya yang aromanya asing; (3) Skenario C: Teman memakai pakaian adat yang berbeda saat peringatan hari kebudayaan sekolah; (4) Skenario D: Pemilihan anggota kelompok piket kebersihan tanpa memandang latar belakang asal daerah. Kelompok memilih kartu sikap terbuka yang tepat untuk masing-masing skenario (acuan respon benar: Skenario A dipasangkan dengan 'Mendengarkan dengan ramah dan tidak menertawakan logatnya'; Skenario B dipasangkan dengan 'Menghargai makanan teman tanpa mencela baunya'; Skenario C dipasangkan dengan 'Memuji keunikan pakaian adat teman'; Skenario D dipasangkan dengan 'Menerima siapa saja menjadi rekan kerja piket bersama') (25 menit).
  • Setiap murid secara individu mengisi lembar unjuk kerja 'Jejak Pergaulanku yang Terbuka' berisi 4 butir ceklis tindakan nyata keterbukaan di sekolah: (1) Menunjukkan senyum dan menyapa teman beda latar belakang; (2) Mengajak teman dari suku lain bermain bersama saat istirahat; (3) Menghormati cara bicara teman tanpa menirukan secara mengejek; (4) Duduk berdampingan dengan teman yang berbeda identitas tempat tinggal asal (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru mengajak murid duduk tenang dengan kesadaran penuh (berkesadaran) untuk merenungkan pengalaman bergaul di sekolah: apakah selama ini sudah memperlakukan setiap teman secara adil dan terbuka tanpa membedakan identitas asal mereka (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa menghargai keberagaman identitas teman di sekolah menciptakan suasana belajar yang damai dan harmonis sesuai semangat cinta kasih (Metta) (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap hasil lembar unjuk kerja keterbukaan pergaulan murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan topik pertemuan berikutnya mengenai keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama dan menutup sesi pembelajaran dengan doa penutup serta salam penutup Buddhis 'Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta' (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang memerlukan bimbingan, disediakan kartu skenario bergambar visual konkret. Untuk murid yang cepat paham, skenario mencakup situasi pergaulan sekolah yang lebih variatif.
  • Proses: Murid yang membutuhkan pendampingan diarahkan berpasangan dengan bimbingan guru, sedangkan murid yang mandiri langsung mendiskusikan kartu skenario secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menunjukkan keterbukaan dengan mencocokkan respon sikap, dengan bantuan visual gambar bagi murid yang membutuhkan scaffolding.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik respon cepat 2 butir pernyataan sikap pergaulan di sekolah: (1) 'Saya mau duduk sebangku dan bermain bersama teman yang berbeda suku, agama, atau bahasa daerah' (acuan jawaban: Setuju); (2) 'Saya hanya mau bekerja kelompok dengan teman yang berasal dari lingkungan tempat tinggal yang sama' (acuan jawaban: Tidak Setuju).

Proses:

  • Observasi formatif saat pengerjaan 4 kartu skenario keterbukaan dalam pergaulan sekolah: (1) Skenario A: Respon 'Mendengarkan dengan ramah dan tidak menertawakan logatnya'; (2) Skenario B: Respon 'Menghargai makanan teman tanpa mencela baunya'; (3) Skenario C: Respon 'Memuji keunikan pakaian adat teman'; (4) Skenario D: Respon 'Menerima siapa saja menjadi rekan kerja piket bersama'. Kriteria keberhasilan: minimal 3 dari 4 skenario dipasangkan dengan respon sikap terbuka yang tepat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman formatif lembar unjuk kerja mandiri 4 butir tindakan pergaulan terbuka di sekolah: (1) Menyapa ramah teman beda latar belakang, (2) Mengajak teman beda suku bermain, (3) Menghormati cara bicara tanpa mengejek, (4) Bersedia duduk berdampingan tanpa membedakan. Kriteria penerimaan: murid menandai kesediaan pada minimal 3 dari 4 tindakan nyata tersebut.

Formatif:

  • Penilaian kinerja kelompok pada permainan pencocokan kartu skenario keterbukaan sikap
  • Lembar ceklis unjuk kerja individu 'Jejak Pergaulanku yang Terbuka'

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keterbukaan Menghargai Perbedaan Identitas Teman di SekolahMenunjukkan keterbukaan dengan memilih respon sikap yang tepat hanya pada 1 dari 4 kartu skenario pergaulan di sekolah dan masih membutuhkan bimbingan penuh guru.Menunjukkan keterbukaan dengan memilih respon sikap yang tepat pada 2 dari 4 kartu skenario pergaulan di sekolah dengan sesekali diarahkan guru.Menunjukkan keterbukaan dengan memilih respon sikap yang tepat pada 3 dari 4 kartu skenario pergaulan di sekolah secara mandiri.Menunjukkan keterbukaan dengan memilih respon sikap yang tepat pada seluruh 4 kartu skenario pergaulan di sekolah secara konsisten dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan kartu skenario efektif melatih murid menunjukkan sikap keterbukaan dalam pergaulan nyata?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam menerima perbedaan identitas teman selama kegiatan kelompok berlangsung?

Murid:

  • Apakah kamu merasa senang berteman dan belajar bersama teman yang memiliki perbedaan suku, bahasa, atau ciri fisik di kelas?
  • Tindakan ramah apa yang paling mudah kamu tunjukkan kepada teman yang berbeda identitas mulai hari ini?

Pertemuan 3 — Mengadaptasi Keteladanan Buddha Sakyamuni dalam Menghargai Sesama untuk Menyelesaikan Masalah Pergaulan di Sekolah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.3 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan sekolah

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid hening sejenak (mindful breathing) untuk memusatkan kesadaran, serta mengecek kehadiran (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan 2 pertanyaan diagnostik terkait keteladanan Buddha menghargai sesama: (1) 'Siapa nama pelayan dari kasta rendah yang diterima dan dihargai oleh Buddha menjadi anggota Sangha?' (acuan: Sunita); (2) 'Sifat luhur apa yang ditunjukkan Buddha saat merawat murid yang sakit tanpa membedakan?' (acuan: cinta kasih/metta/karuna dan tidak membeda-bedakan) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di sekolah (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid menyimak ulasan guru mengenai kisah keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai harkat sesama manusia tanpa membedakan kasta, asal-usul, maupun status sosial (antara lain kisah penerimaan Sunita si pembersih sampah dan Upali si tukang cukur ke dalam Sangha dengan penuh penghormatan dan kasih sayang) (15 menit).
  • Murid bermain kuis interaktif cepat 'Kartu Teladan Buddha': secara berpasangan, murid mencocokkan 3 kartu situasi perlakuan Buddha dengan 3 nilai keteladanan menghargai sesama. Tiga pasangan kartu: (1) Menerima Sunita pembersih kotoran -> Menghargai martabat sesama tanpa memandang derajat/kasta; (2) Merawat Bhikkhu Tissa yang sakit parah -> Kasih sayang nyata tanpa rasa jijik atau membeda-bedakan; (3) Menerima persembahan dari siapa pun tanpa cela -> Memperlakukan setiap orang dengan hormat dan setara (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Guru membagikan lembar kerja studi kasus yang memuat 3 skenario masalah pergaulan di sekolah: Kasus 1: Seorang murid baru diejek logat bicaranya oleh teman sekelas saat jam istirahat; Kasus 2: Seorang anak tidak diajak bermain kelompok di lapangan karena pakaian olahraganya lusuh; Kasus 3: Terjadi pertengkaran antarsiswa saat kerja kelompok karena salah satu siswa lambat memahami tugas (10 menit).
  • Murid secara mandiri menyelesaikan Lembar Adaptasi Solusi, dengan mengadaptasi prinsip keteladanan Buddha Sakyamuni (cinta kasih tanpa membedakan kasta/kondisi fisik, mendengarkan dengan sabar, dan memperlakukan sesama dengan setara) untuk merumuskan tindakan nyata penyelesaian pada ketiga kasus tersebut. Kunci acuan adaptasi solusi: Kasus 1 -> Meneladani sikap Buddha kepada Sunita dengan menegur pengejek secara santun, merangkul dan menemani murid baru tanpa memedulikan perbedaan logat; Kasus 2 -> Meneladani sikap Buddha yang tidak membedakan kaya/miskin dengan mengajak anak tersebut masuk ke dalam tim permainan dan bersikap adil; Kasus 3 -> Meneladani kesabaran dan cinta kasih Buddha dengan membantu menjelaskan tugas dengan ramah tanpa mencela (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama guru mengevaluasi solusi yang telah dirumuskan, memeriksa apakah tindakan yang dipilih benar-benar bersumber dari keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran hari ini bahwa keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai semua manusia menjadi pedoman utama untuk bersikap adil, menolong, dan mendamaikan masalah pergaulan di lingkungan sekolah (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap hasil kerja murid dan menutup pembelajaran dengan doa penutup serta salam Buddhis (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks kisah keteladanan Buddha dengan panduan kata kunci nilai luhur (kasih sayang, kesetaraan, tidak membedakan), sedangkan murid yang cepat diberikan teks pengayaan konteks penerapan nilai sosial pada zaman Buddha.
  • Proses: Murid dengan kesiapan belajar bertahap dibimbing guru dengan pertanyaan penuntun untuk menghubungkan kisah Sunita dengan Kasus 1, sedangkan murid yang mandiri merumuskan solusi ketiga kasus secara langsung dan terperinci.
  • Produk: Format penulisan adaptasi solusi disesuaikan: murid dapat menuliskan tindakan solusi dalam bentuk poin-poin sederhana terstruktur atau paragraf uraian penjelasan langkah penyelesaian masalah.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik kesiapan konsep mengenai keteladanan Buddha Sakyamuni: (1) Menyebutkan tokoh kasta rendah yang diterima Buddha dalam Sangha (acuan jawaban: Sunita sang pembersih sampah); (2) Menyebutkan nilai luhur keteladanan Buddha dalam menghargai sesama (acuan jawaban: cinta kasih / tidak membeda-bedakan / kesetaraan martabat manusia).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Adaptasi Solusi pada tahap Mengaplikasi, menilai ketepatan murid dalam mengadaptasi prinsip keteladanan Buddha Sakyamuni untuk menyelesaikan 3 kasus pergaulan di sekolah (Kasus 1: ejekan logat; Kasus 2: penolakan bermain karena pakaian lusuh; Kasus 3: celaan saat kerja kelompok) sesuai acuan: tindakan memuat penghentian diskriminasi, perlakuan setara, dan pertolongan penuh cinta kasih.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta murid merangkum 1 prinsip utama keteladanan Buddha yang paling relevan diterapkan saat melihat teman dikucilkan di sekolah (Kriteria penerimaan: murid menyebutkan prinsip tidak membedakan kasta/derajat sesama atau memperlakukan teman dengan cinta kasih dan rasa hormat yang setara).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja adaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menyelesaikan 3 masalah pergaulan di sekolah
  • Observasi diagnostik tanya jawab awal pembelajaran mengenai kisah teladan Buddha

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan sekolahBelum mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni; solusi yang dirumuskan untuk ketiga kasus pergaulan tidak mencerminkan nilai menghargai sesama manusia (0 kasus tepat dari 3 kasus acuan).Mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk merumuskan solusi pada 1 dari 3 kasus pergaulan di sekolah secara tepat sesuai acuan dengan bimbingan penuh guru.Mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk merumuskan solusi pada 2 dari 3 kasus pergaulan di sekolah secara tepat sesuai acuan secara mandiri.Mampu mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk merumuskan solusi pada seluruh (3 dari 3) kasus pergaulan di sekolah secara tepat dan menyeluruh sesuai acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah pembelajaran kontekstual berhasil membantu murid menghubungkan kisah keteladanan Buddha dengan realitas pergaulan sehari-hari di sekolah?
  • Bagian mana dari tahap adaptasi solusi masalah yang paling memerlukan bimbingan tambahan bagi murid?

Murid:

  • Sikap teladan apa dari Buddha Sakyamuni yang paling menginspirasiku untuk menghargai teman-teman di sekolah?
  • Apa yang akan aku lakukan jika melihat teman di kelas diperlakukan tidak adil karena suatu perbedaan?

Pertemuan 4 — Mengkreasi Strategi Inovatif Penyelesaian Masalah Pergaulan Akibat Perbedaan di Lingkungan Terdekat dan Sekolah — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.4 Mengkreasi strategi inovatif dalam menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekatnya dan lingkungan sekolah

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi dengan salam Buddhis, mengajak murid duduk hening sejenak untuk memusatkan perhatian, dan memeriksa kehadiran murid (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk memetakan kesiapan murid dalam merumuskan solusi atas masalah pergaulan akibat perbedaan suku/budaya di lingkungan sekitar (6 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati 2 teks skenario masalah pergaulan akibat perbedaan yang disajikan guru: Skenario 1 (di lingkungan terdekat/rumah: Doni diejek saat bermain bola di lapangan kampung karena warna kulitnya berbeda) dan Skenario 2 (di lingkungan sekolah: Sinta tidak diajak dalam kelompok belajar karena membawa bekal makanan khas daerah asalnya yang dinilai asing oleh teman sekelas) (8 menit).
  • Murid bersama guru membedah akar penyebab masalah pada kedua skenario dan mengidentifikasi unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah jalan keluar yang adil dan damai (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid mengikuti tantangan menggembirakan 'Kotak Gagasan Cemerlang', di mana setiap murid memilih salah satu skenario (lingkungan terdekat atau sekolah) lalu mengkreasi 1 strategi inovatif orisinal berupa 'Kartu Rencana Aksi Damai' yang memuat: (1) Nama strategi yang unik, (2) Langkah aksi konkret penyelesaian masalah, dan (3) Cara mengajak teman-teman yang berbeda agar rukun kembali (20 menit).
  • Murid saling bertukar kartu rencana aksi secara berpasangan untuk saling membaca gagasan inovatif yang dibuat dan memastikan langkah penyelesaiannya dapat diterapkan nyata tanpa kekerasan (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menuliskan satu kalimat refleksi pada buku catatan mengenai manfaat menciptakan cara-cara baru yang damai saat menghadapi perselisihan perbedaan dalam pergaulan sehari-hari (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik konstruktif terhadap variasi strategi inovatif yang berhasil dirancang murid serta mengonfirmasi ketercapaian tujuan belajar hari ini (6 menit).
  • Guru dan murid menutup pembelajaran dengan doa penutup dan pelimpahan jasa bersama (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang memerlukan bimbingan, disediakan panduan pemantik berupa 3 kalimat rumpang penyusunan langkah solusi; bagi murid yang cepat, diberikan tantangan merancang strategi inovatif terpadu yang dapat diterapkan sekaligus pada lingkungan rumah dan sekolah.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu secara individual oleh guru dalam memecah gagasan menjadi langkah nyata, sedangkan murid yang mandiri merumuskan seluruh ide dan mekanisme strateginya sendiri.
  • Produk: Format penyajian strategi inovatif pada Kartu Rencana Aksi Damai dapat berupa bagan alur bergambar atau tulisan daftar langkah solutif berurutan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik: 'Jika kamu melihat teman di lingkungan rumahmu diejek karena logat daerahnya saat bermain, apa tindakan langsung dan jalan keluar terbaik yang bisa kamu tawarkan agar pertengkaran berhenti?' (Kriteria penerimaan operasional: Murid mampu menyebutkan minimal 1 tindakan penengah tanpa kekerasan dan 1 ajakan bermain bersama yang menghargai logat daerah teman).

Proses:

  • Pengamatan proses penyusunan Kartu Rencana Aksi Damai pada tahap Mengaplikasi dengan memeriksa kelengkapan: (1) nama gagasan orisinal, (2) kejelasan tahapan aksi penyelesaian masalah pergaulan akibat perbedaan, dan (3) cara mengajak pihak yang berselisih untuk bersatu kembali.

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan hasil karya Kartu Rencana Aksi Damai murid berdasarkan kriteria: strategi bersifat aplikatif di lingkungan sekolah/terdekat, menawarkan solusi yang mencegah perundungan/pengucilan karena perbedaan, dan memuat alur penyelesaian yang damai.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal berupa respon lisan/tulisan singkat terhadap skenario pertengkaran karena perbedaan pergaulan
  • Penilaian unjuk kerja perancangan Kartu Rencana Aksi Damai menggunakan rubrik kreasi strategi inovatif

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengkreasi strategi inovatif penyelesaian masalah pergaulan akibat perbedaan di lingkungan terdekat atau sekolahBelum mampu menyusun gagasan penyelesaian masalah, atau gagasan yang diajukan masih bersifat membalas perlakuan buruk/melibatkan kekerasan.Mampu merumuskan ide penyelesaian masalah pergaulan yang damai tetapi langkah aksinya belum terstruktur atau meniru contoh umum tanpa unsur gagasan baru.Mampu mengkreasi strategi inovatif penyelesaian masalah pergaulan akibat perbedaan dengan langkah aksi yang runtut, damai, dan dapat diterapkan di lingkungan sekolah atau terdekat.Mampu mengkreasi strategi inovatif penyelesaian masalah pergaulan akibat perbedaan yang sangat orisinal, terperinci tahap demi tahap, serta mencakup langkah pencegahan agar masalah serupa tidak terulang kembali secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah skenario konflik pergaulan yang disajikan cukup kontekstual dan dekat dengan keseharian murid di sekolah maupun tempat tinggal?
  • Bagaimana variasi kreativitas strategi yang dihasilkan murid dalam menjawab masalah diskriminasi/perbedaan?

Murid:

  • Gagasan kreatif apa yang paling kamu sukai dari rencanamu hari ini untuk mendamaikan teman yang berselisih?
  • Apakah kamu merasa berani mempraktikkan ide damaimu jika melihat teman dikucilkan di sekolah atau sekitar rumah?

Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.1 Mengevaluasi dengan membandingkan secara hormat perbedaan identitas dan budaya orang lain di lingkungan tempat tinggalnya pada konteks keberagaman dalam keluarga
  • TP 4.1.2 Menunjukkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan identitas orang lain di lingkungan tempat tinggalnya dalam pergaulan di sekolah
  • TP 4.1.3 Mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni dalam menghargai sesama manusia untuk menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan sekolah
  • TP 4.1.4 Mengkreasi strategi inovatif dalam menyelesaikan masalah pergaulan di lingkungan terdekatnya dan lingkungan sekolah

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas dalam suasana hening dan tenang, mengajak murid bermeditasi pernapasan singkat untuk menumbuhkan kesadaran diri (mindfulness) sebelum asesmen sumatif (5 menit).
  • Guru menjelaskan tujuan, alur waktu, serta petunjuk pelaksanaan Asesmen Sumatif Terpadu yang terdiri atas dua bagian: pengerjaan serentak tugas tertulis studi kasus beserta produk kartu solusi, dan giliran unjuk kerja lisan rotasi ke meja guru (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mencermati teks lembar kerja studi kasus pergaulan di sekolah dan memahami instruksi pembuatan produk kartu solusi pergaulan (teks studi kasus: 'Di jam istirahat, Doni mengejek bekal makanan khas daerah milik Joko yang beraroma rempah unik. Joko merasa sedih dan berniat membalas menyembunyikan kotak pensil Doni. Murid diminta menganalisis penyebab perselisihan, mengadaptasi teladan Buddha Sakyamuni yang memandang setara dan welas asih kepada semua orang tanpa kasta, serta merumuskan tindakan damai') (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja analisis studi kasus pergaulan di sekolah (mencakup: mengidentifikasi masalah perbedaan, menautkan keteladanan Buddha Sakyamuni seperti kisah memperlakukan Sunita si pembersih sampah dengan kasih sayang tanpa membeda-bedakan, dan merumuskan solusi damai) serta mengkreasi produk Kartu Solusi yang memuat 3 langkah konkret pencegahan perselisihan akibat perbedaan (Acuan isi kartu solusi: 1. Berkata ramah dan tidak mengejek perbedaan fisik/makanan/budaya, 2. Mau mendengarkan dan menghargai ciri khas teman, 3. Mengajak musyawarah jika terjadi salah paham) (45 menit).
  • Secara bergantian dan rotasi, setiap murid maju ke meja guru selama 1,5 menit untuk menyampaikan secara lisan perbandingan perbedaan identitas dan budaya di lingkungan tempat tinggal/keluarga secara hormat (Acuan lisan: membandingkan minimal 2 aspek perbedaan misal bahasa daerah/tradisi hari raya/kebiasaan makan antar-anggota keluarga tanpa merendahkan salah satunya), sementara guru melakukan observasi keterbukaan interaksi murid terhadap teman di ruang kelas saat asesmen berlangsung (40 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali kelengkapan lembar kerja studi kasus dan kartu solusi yang telah dibuat sebelum dikumpulkan secara tertib ke meja guru (3 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi atas kejujuran, ketertiban, dan kemandirian seluruh murid selama pelaksanaan asesmen sumatif bab (1 menit).
  • Guru merangkum pesan pembelajaran bab tentang indahnya hidup harmonis dalam keberagaman sesuai ajaran Buddha Sakyamuni dan menutup sesi dengan pelimpahan jasa serta salam penutup (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: teks lembar studi kasus disediakan dengan ukuran huruf lebih besar bagi murid yang membutuhkan bantuan penglihatan tanpa mengubah substansi kasus.
  • Proses: Penyampaian lisan dilakukan secara individual di meja guru untuk memberikan kenyamanan psikologis tanpa distraksi suara dari murid lain.
  • Produk: Produk kartu solusi dapat disajikan dalam bentuk teks berbingkai rapi atau disertai ilustrasi visual sederhana sesuai gaya ekspresi murid tanpa mengubah isi langkah solusi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan alat tulis dan lembar tugas mandiri sebelum asesmen dimulai guna memastikan murid siap melaksanakan evaluasi sumatif secara tertib

Proses:

  • Observasi guru terhadap ketertiban, kemandirian pengerjaan tugas tertulis studi kasus, serta keterbukaan sikap murid dalam menghargai perbedaan suasana kelas selama sesi sumatif

Sumatif Bab:

  • penilaian kinerja terpadu berbasis tugas tertulis studi kasus dan pembuatan kartu solusi pergaulan yang dikerjakan serentak di kelas, disertai observasi sikap keterbukaan interaksi dan wawancara lisan singkat secara rotasi: lembar kerja studi kasus penyelesaian masalah pergaulan berdasarkan keteladanan Buddha Sakyamuni, kartu solusi bergambar/tertulis untuk menghindari perselisihan, lembar catatan perbandingan perbedaan dalam keluarga yang dipaparkan secara lisan singkat, serta lembar observasi keterbukaan berinteraksi dengan teman sebaya
  • penugasan tertulis dan produk gagasan serentak: lembar kerja analisis studi kasus pergaulan di sekolah berbasis teladan Buddha Sakyamuni disertai produk kartu solusi konkret berisi langkah menghindari perselisihan akibat perbedaan yang dikerjakan mandiri oleh seluruh murid secara serentak (60 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lembar kerja studi kasus dan rubrik produk kartu solusi)
  • unjuk kerja lisan rotasi dan observasi perilaku: kinerja penyampaian lisan 1,5 menit per murid secara rotasi ke meja guru mengenai perbandingan identitas/keberagaman dalam keluarga secara hormat (45 menit / 1,5 menit = 30 murid, muat 28 murid kelas 4) sementara murid lain menuntaskan tugas tertulis/kartu solusi, dipadukan dengan observasi sikap keterbukaan dan saling menghargai saat berinteraksi di ruang kelas (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian unjuk kerja lisan dan lembar observasi keterbukaan pergaulan)

Sumatif:

  • penilaian kinerja terpadu berbasis tugas tertulis studi kasus dan pembuatan kartu solusi pergaulan yang dikerjakan serentak di kelas, disertai observasi sikap keterbukaan interaksi dan wawancara lisan singkat secara rotasi: lembar kerja studi kasus penyelesaian masalah pergaulan berdasarkan keteladanan Buddha Sakyamuni, kartu solusi bergambar/tertulis untuk menghindari perselisihan, lembar catatan perbandingan perbedaan dalam keluarga yang dipaparkan secara lisan singkat, serta lembar observasi keterbukaan berinteraksi dengan teman sebaya
  • penugasan tertulis dan produk gagasan serentak: lembar kerja analisis studi kasus pergaulan di sekolah berbasis teladan Buddha Sakyamuni disertai produk kartu solusi konkret berisi langkah menghindari perselisihan akibat perbedaan yang dikerjakan mandiri oleh seluruh murid secara serentak (60 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lembar kerja studi kasus dan rubrik produk kartu solusi)
  • unjuk kerja lisan rotasi dan observasi perilaku: kinerja penyampaian lisan 1,5 menit per murid secara rotasi ke meja guru mengenai perbandingan identitas/keberagaman dalam keluarga secara hormat (45 menit / 1,5 menit = 30 murid, muat 28 murid kelas 4) sementara murid lain menuntaskan tugas tertulis/kartu solusi, dipadukan dengan observasi sikap keterbukaan dan saling menghargai saat berinteraksi di ruang kelas (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian unjuk kerja lisan dan lembar observasi keterbukaan pergaulan)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi Perbedaan Keberagaman Keluarga secara Lisan (TP 4.1.1)Belum mampu membandingkan perbedaan identitas/budaya dalam keluarga, atau menyampaikannya dengan nada mengejek/merendahkan.Membandingkan 1 aspek perbedaan identitas/budaya dalam keluarga namun masih ragu atau belum menunjukkan sikap hormat secara konsisten.Membandingkan 2 aspek perbedaan identitas/budaya dalam keluarga (misal: tradisi hari raya dan bahasa ibu) secara hormat tanpa merendahkan.Membandingkan 3 aspek atau lebih perbedaan identitas/budaya dalam keluarga (bahasa, tradisi, kebiasaan) secara sangat hormat, mendalam, dan santun.
Menunjukkan Keterbukaan Menghargai Perbedaan di Sekolah (TP 4.1.2)Menunjukkan sikap menolak, memilih-milih teman berdasarkan identitas, atau bersikap pasif-eksklusif selama berinteraksi di kelas.Menunjukkan keterbukaan berinteraksi hanya kepada teman yang memiliki kesamaan latar belakang tertentu dan enggan pada yang berbeda.Menunjukkan keterbukaan berinteraksi, ramah, dan menghargai teman sebaya di kelas tanpa membeda-bedakan identitas suku, agama, atau budaya.Menunjukkan keterbukaan berinteraksi yang konsisten, aktif merangkul semua teman yang berbeda identitas, serta menciptakan suasana kelas yang inklusif.
Mengadaptasi Keteladanan Buddha Sakyamuni pada Studi Kasus (TP 4.1.3)Belum mampu mengaitkan keteladanan Buddha Sakyamuni (cinta kasih/persamaan harkat tanpa kasta) dalam menyelesaikan masalah pada studi kasus Doni dan Joko.Mengaitkan ajaran Buddha Sakyamuni secara umum namun belum tepat diterapkan pada konteks penyelesaian konflik perselisihan bekal makanan.Tepat mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni (memandang setara tanpa kasta dan berwelas asih) untuk menyelesaikan perselisihan antara Doni dan Joko secara damai.Tepat dan mendalam mengadaptasi keteladanan Buddha Sakyamuni (menganalogikan ajaran Dharma bagai air yang membasuh semua orang setara) dalam menyelesaikan perselisihan secara bijaksana.
Mengkreasi Strategi Inovatif pada Kartu Solusi (TP 4.1.4)Belum mampu merumuskan langkah solusi konkret pada kartu solusi (kurang dari 1 langkah atau tidak relevan dengan pencegahan perselisihan akibat perbedaan).Merumuskan 1-2 langkah solusi pada kartu, namun masih berupa imbauan umum yang belum operasional.Mengkreasi produk Kartu Solusi yang memuat tepat 3 langkah inovatif dan konkret untuk menghindari perselisihan akibat perbedaan (Acuan: 1. Berkata ramah/tidak mengejek, 2. Mendengarkan dan menghargai ciri khas, 3. Musyawarah mufakat saat salah paham).Mengkreasi produk Kartu Solusi yang memuat lebih dari 3 langkah inovatif, sangat aplikatif dalam keseharian sekolah, serta disajikan dengan kerapian visual yang menarik.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 1,5 menit per murid untuk unjuk kerja lisan rotasi terlaksana secara efektif dan tidak mengganggu ketenangan murid lain yang sedang mengerjakan tugas tertulis?
  • Bagaimana ketercapaian murid kelas 4 secara umum dalam mengadaptasi nilai-nilai keteladanan Buddha Sakyamuni ke dalam solusi pergaulan nyata?

Murid:

  • Bagian mana dari tugas hari ini yang paling menyadarkan saya tentang pentingnya menghargai teman yang berbeda?
  • Langkah damai apa dalam Kartu Solusi yang akan paling sering saya praktikkan setiap hari di sekolah?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV, Kemendikbudristek 2021.
  2. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV, Kemendikbudristek 2021.
  3. Set kartu profil budaya keluarga (Keluarga A, B, dan C) dan Lembar Kerja Evaluasi Keberagaman Keluarga.
  4. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021)
  5. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek 2021)
  6. Set Kartu Skenario Sikap Pergaulan Sekolah dan Lembar Kerja Siswa 'Jejak Pergaulanku yang Terbuka'
  7. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021)
  8. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021)
  9. Kartu Aktivitas 'Kartu Teladan Buddha' dan Lembar Kerja Siswa Kasus Pergaulan Sekolah
  10. Kartu Rencana Aksi Damai (kertas manila/HVS warna)
  11. Lembar lembar teks skenario masalah pergaulan di sekolah dan lingkungan terdekat
  12. Lembar Kerja Asesmen Sumatif Studi Kasus Doni dan Joko
  13. Kertas Kartu Solusi dan lembar format unjuk kerja lisan

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.