Modul AjarBab 9Fase ASemester 2

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 2 Bab 9: Senang Membantu Sesama

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 2 untuk Bab 9 "Senang Membantu Sesama", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 2 Bab 9: Senang Membantu Sesama

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 2

Bab 9

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 2 (Fase A)

Topik: Bab 9 — Senang Membantu Sesama

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase A / Kelas 2
TopikBab 9 — Senang Membantu Sesama
Alokasi Waktu14 JP (14 x 35 menit = 490 menit)
Jumlah Pertemuan5
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 2.9.1 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan rumah dalam kegiatan saling membantu sesama
  2. TP 2.9.2 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah melalui kegiatan gotong royong
  3. TP 2.9.3 Merefleksikan proses musyawarah sederhana untuk mufakat di lingkungan sekolah dengan nilai-nilai empat sifat luhur dalam berbagi sukacita kepada sesama
  4. TP 2.9.4 Merefleksikan perilaku moderat yang mendukung kehidupan bersama melalui kepedulian meringankan beban sesama yang menderita di lingkungan sekolah

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Apa aturan atau kebiasaan baik di rumahmu ketika melihat ayah atau ibu sedang sibuk merapikan rumah?
  2. Bagaimana caramu berbicara dengan sopan saat menawarkan bantuan kepada anggota keluarga di rumah?
  3. Apa kata sopan yang kamu ucapkan saat meminta bantuan teman ketika membersihkan kelas bersama?
  4. Mengapa kita perlu mematuhi aturan pembagian tugas saat bergotong royong di sekolah agar pergaulan tetap rukun dan harmonis?
  5. Apa yang kita rasakan saat bersama teman sekelas bersepakat menentukan kegiatan berbagi hadiah atau makanan kepada teman lain?
  6. Bagaimana perasaan kita jika pendapat kita atau teman kita didengarkan dengan penuh cinta kasih dan tanpa rasa iri saat bermusyawarah?
  7. Apa yang kamu rasakan saat melihat teman di sekolah sedang tertimpa musibah atau kesusahan?
  8. Mengapa saat menolong teman yang menderita kita perlu bersikap wajar, tidak berlebihan, dan tidak membeda-bedakan?
  9. Bagaimana caramu berbicara dengan sopan saat mengajak teman bekerja sama membersihkan kelas?
  10. Apa yang kamu lakukan jika melihat teman satu kelompokmu tampak lelah atau kesulitan membawa benda saat gotong royong?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Praktik Aturan dan Sopan Santun Saling Membantu di Rumah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.9.1 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan rumah dalam kegiatan saling membantu sesama

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Namo Buddhaya, mengajak murid duduk hening sejenak (mindfulness) untuk memusatkan perhatian, dan berdoa bersama (5 menit).
  • Guru mengecek kehadiran dan kesiapan belajar murid, lalu menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu memadukan aturan dan sopan santun dengan pergaulan harmonis saat saling membantu di rumah (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab terarah tentang 3 situasi membantu di rumah: (1) Menyapu lantai kamar sendiri tanpa disuruh orang tua, (2) Mengucapkan kata permisi/izin saat menawarkan bantuan mencuci piring, dan (3) Merapikan mainan bersama adik dengan ramah tanpa bertengkar (acuan kesiapan: murid mampu membedakan perilaku yang memadukan aturan rumah dan ucapan/sikap sopan santun) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati 3 gambar situasi di rumah yang ditampilkan guru: Gambar 1 (anak menyapu kamar sesuai aturan kebersihan keluarga), Gambar 2 (anak menawarkan bantuan membawa belanjaan ibu dengan tutur kata santun 'Bolehkah saya bantu, Ibu?'), dan Gambar 3 (kakak dan adik merapikan meja makan secara rukun) (10 menit).
  • Murid dengan bimbingan guru mengidentifikasi unsur aturan (apa yang harus dilakukan demi ketertiban rumah), unsur sopan santun (ucapan permisi, tolong, terima kasih, dan sikap ramah), serta prinsip pergaulan harmonis (tidak membentak, rela membantu, menciptakan suasana damai) dari ketiga gambar tersebut (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid memainkan permainan berpasangan 'Pasang Kartu Harmonis': setiap pasangan menerima 4 kartu situasi membantu di rumah dan memasangkannya dengan kartu sikap sopan santun serta aturan yang sesuai (20 menit). Rincian 4 kartu situasi dan kartu pasangan benarnya: (1) Situasi: 'Ibu sedang menjemur pakaian yang banyak' -> Pasangan: 'Menawarkan bantuan dengan kalimat "Bolehkah saya bantu menjemur, Bu?" lalu membantu menjepit baju dengan tertib'; (2) Situasi: 'Lantai ruang tamu kotor setelah bermain bersama adik' -> Pasangan: 'Mengajak adik merapikan mainan dengan lembut dan menyapu lantai bersama sesuai aturan kebersihan rumah'; (3) Situasi: 'Ayah sedang mencuci sepeda motor di halaman' -> Pasangan: 'Menyapa ayah dengan sopan, meminta izin membawakan ember air, dan berhati-hati agar lantai tidak becek'; (4) Situasi: 'Meja makan berantakan setelah sarapan bersama' -> Pasangan: 'Mengucapkan terima kasih atas makanannya lalu membawa piring kotor ke wastafel dengan hati-hati'.
  • Murid secara berpasangan melakukan simulasi langsung memadukan aturan dan sopan santun: satu murid menjadi anggota keluarga (orang tua/kakak/adik) dan satu murid mempraktikkan tindakan membantu yang memenuhi aturan rumah sekaligus menggunakan tutur kata dan sikap sopan santun (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid duduk melingkar dengan tenang, mengingat kembali perasaan mereka saat memadukan aturan dan sopan santun ketika membantu sesama di rumah, serta menyadari bahwa perbuatan membantu yang disertai sopan santun menciptakan keharmonisan keluarga sesuai ajaran kebajikan (15 menit).

Penutup:

  • Guru memandu murid menyimpulkan bahwa membantu di rumah menjadi sangat baik jika dipadukan dengan kepatuhan pada aturan keluarga dan tutur kata sopan santun (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas latihan simulasi dan menyelesaikan cek pemahaman akhir melalui 2 pertanyaan lisan terarah (acuan tercantum pada asesmen akhir) (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa penutup dan salam Namo Buddhaya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu situasi dengan gambar ilustrasi pendukung konkret; murid yang sudah mahir diberikan kartu teks situasi yang menuntut perpaduan 2 aturan sekaligus (misalnya aturan kebersihan dan aturan waktu belajar di rumah).
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru dengan contoh frasa sopan santun terarah saat simulasi; murid yang mahir mempraktikkan simulasi secara mandiri dengan variasi situasi yang lebih kompleks bersama pasangannya.
  • Produk: Hasil unjuk kerja simulasi dinilai berdasarkan ketepatan memadukan tindakan aturan rumah dan ucapan sopan santun, baik dalam bentuk ucapan terbimbing maupun peragaan mandiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan pada 3 situasi awal untuk memetakan kesiapan murid dalam memadukan aturan dan sopan santun di rumah: (1) 'Bila melihat lantai kamarmu berantakan dengan mainan, apa aturan rumah yang harus kamu lakukan dan bagaimana sikapmu?' (Acuan: Murid menjawab merapikan mainan sendiri dengan tertib/tidak mengeluh); (2) 'Bagaimana caramu menawarkan bantuan kepada Ibu yang sedang sibuk di dapur?' (Acuan: Menawarkan dengan ucapan sopan seperti 'Bolehkah saya bantu, Bu?' tanpa berteriak); (3) 'Jika adik menumpahkan air minum, apa yang kamu lakukan agar suasana tetap rukun?' (Acuan: Menolong mengelap tumpahan air bersama adik dengan sabar tanpa memarahi).

Proses:

  • Observasi formatif saat murid memasangkan 4 kartu dalam aktivitas 'Pasang Kartu Harmonis' (Acuan ketepatan: pasangan kartu 1, 2, 3, dan 4 benar sesuai kunci yang tertulis pada langkah kegiatan inti).
  • Lembar observasi unjuk kerja simulasi berpasangan: Mengamati apakah murid mampu memadukan (1) tindakan nyata membantu sesuai aturan rumah dan (2) penggunaan tutur kata sopan santun (kata tolong/permisi/terima kasih serta nada bicara santun) yang menciptakan pergaulan harmonis.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir sesi pembelajaran melalui 2 pertanyaan penutup: (1) 'Mengapa saat membantu ayah atau ibu di rumah kita tetap harus mematuhi aturan dan bersikap sopan santun?' (Kriteria penerimaan: Murid menyebutkan agar pekerjaan selesai dengan baik, tidak membahayakan, dan orang tua merasa senang/suasana rumah menjadi damai dan harmonis); (2) 'Sebutkan 2 contoh kata sopan yang kamu ucapkan saat membantu anggota keluarga di rumah!' (Kriteria penerimaan: Menyebutkan minimal 2 kata dari: tolong, permisi/bolehkah saya bantu, terima kasih, atau maaf).

Formatif:

  • Asesmen awal berupa tanya jawab lisan pemetaan kesiapan mengenai aturan dan sopan santun di rumah
  • Observasi unjuk kerja permainan 'Pasang Kartu Harmonis' dan simulasi memadukan aturan serta sopan santun saling membantu di rumah

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memadukan aturan dan sopan santun dalam saling membantu di rumahBelum mampu memadukan tindakan membantu dengan aturan rumah maupun sopan santun (hanya melakukan tindakan fisik tanpa sopan santun atau masih memerlukan bantuan penuh untuk memahami aturan).Mampu mempraktikkan tindakan membantu sesuai aturan rumah, namun ungkapan sopan santun (kata tolong, terima kasih, atau izin santun) masih sering terlewat dan perlu diingatkan guru.Mampu memadukan praktik aturan rumah dan sopan santun secara tepat dalam kegiatan saling membantu pada 4 situasi yang diberikan dengan bimbingan minimal.Mampu memadukan praktik aturan rumah dan sopan santun secara tepat, konsisten, dan mandiri pada seluruh situasi serta menunjukkan sikap pergaulan yang harmonis tanpa perlu diarahkan kembali.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas bermain kartu dan simulasi berpasangan efektif memfasilitasi murid memahami perpaduan aturan dan sopan santun di rumah?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang masih pemalu dalam mempraktikkan tutur kata sopan saat kegiatan simulasi?

Murid:

  • Bagian mana dari kegiatan bermain peran saling membantu di rumah yang paling kamu sukai hari ini?
  • Tindakan membantu apa yang akan langsung kamu praktikkan di rumah hari ini dengan sopan dan tertib?

Pertemuan 2 — Praktik Aturan dan Sopan Santun dalam Gotong Royong Sekolah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.9.2 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah melalui kegiatan gotong royong

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', menyapa murid, dan mengajak duduk hening penuh kesadaran selama 2 menit untuk menenangkan pikiran (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab terpimpin tentang 3 tindakan santun dalam gotong royong sekolah: (1) Menyapa dengan kata santun 'tolong'/'terima kasih', (2) Membagi alat kebersihan secara adil tanpa berebut, (3) Merapikan kembali alat kebersihan bersama-sama (acuan jawaban: murid dapat menyebutkan minimal 2 dari 3 tindakan santun tersebut) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan kegiatan pembelajaran hari ini, yaitu memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip pergaulan harmonis saat bergotong royong membersihkan kelas dan lingkungan sekolah (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru melalui kartu bergambar tentang 4 contoh situasi gotong royong di sekolah: Situasi 1: Meminta bantuan teman mengangkat ember dengan kata 'Tolong bantu aku ya'; Situasi 2: Meminjam sapu bergantian sesuai antrean tanpa merebut; Situasi 3: Mengucapkan 'Terima kasih' setelah dibantu mengelap meja; Situasi 4: Menghargai teman yang sedang menyapu dengan tidak mengotori lantai kembali (15 menit).
  • Dalam kelompok kecil berpasangan, murid menelaah 4 kartu skenario perilaku sopan dan aturan gotong royong: Skenario A: Mengambil kemoceng dari tangan teman tanpa izin; Skenario B: Mengantre mengambil lap pel dan berkata sopan; Skenario C: Duduk santai meninggalkan teman piket sendiri; Skenario D: Bekerja sama merapikan buku perpustakaan kelas sambil saling menyapa ramah. Murid memilah skenario yang mencerminkan pergaulan harmonis (acuan kunci: Skenario B dan D benar/harmonis; Skenario A dan C tidak harmonis) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid secara berkelompok (3-4 murid) mempraktikkan simulasi gotong royong membersihkan area kelas (merapikan meja kursi, menyapu, menata pojok baca) dengan memadukan aturan (berbagi tugas, menjaga ketertiban) dan sopan santun (mengucap 'tolong', 'permisi', dan 'terima kasih') demi menjaga keharmonisan pergaulan (20 menit).
  • Melalui permainan ceria 'Estafet Kebajikan Piket', setiap regu berlomba secara tertib memindahkan dan merapikan buku ke rak dengan aturan wajib: mengoper dengan dua tangan serta mengucapkan satu ungkapan santun per giliran (misal: 'Silakan', 'Terima kasih teman') tanpa bersuara kasar atau berebut (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid duduk melingkar dalam suasana tenang, merenungkan perasaan batin saat bekerja sama dan saling memperlakukan teman dengan sopan santun, dipandu guru dengan pertanyaan: 'Bagaimana perasaanmu ketika teman meminta tolong dan berterima kasih dengan ramah saat gotong royong?' (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan praktik aturan dan sopan santun yang telah dilakukan dalam gotong royong sekolah untuk menciptakan pergaulan yang rukun dan harmonis (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap praktik baik hari ini, melaksanakan asesmen akhir lisan singkat, menginformasikan kegiatan musyawarah sederhana pada pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan pelimpahan jasa serta salam Buddhis 'Namo Buddhaya' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu visual bergambar panduan kata santun (tolong, maaf, terima kasih), sedangkan murid yang lebih mahir mempraktikkan skenario gotong royong dengan tantangan pembagian 3 jenis tugas sekaligus.
  • Proses: Pada simulasi gotong royong, murid yang belum percaya diri dipasangkan dengan rekan sebaya yang suportif di bawah pendampingan langsung guru, sementara murid yang mahir mempraktikkan aturan secara mandiri dalam kelompoknya.
  • Produk: Ketercapaian unjuk kerja dipantau melalui keterpaduan aturan dan ucapan sopan santun yang dipraktikkan secara langsung selama simulasi gotong royong.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran: Sebutkan tindakan sopan saat gotong royong di sekolah! (Daftar acuan jawaban yang dinilai: [1] Mengucapkan kata santun 'tolong'/'terima kasih', [2] Bergantian memakai alat piket tanpa berebut, [3] Mengembalikan alat piket bersama-sama ke tempatnya. Kriteria: murid minimal menyebutkan 2 dari 3 tindakan dengan tepat).

Proses:

  • Formatif pemilahan skenario: Memeriksa lembar kerja pasangan murid dalam memilih kartu gotong royong harmonis (Acuan kunci jawaban tepat: Memilih Skenario B [mengantre lap pel dengan santun] dan Skenario D [bekerja sama menata buku dengan ramah]; serta menolak Skenario A [merebut kemoceng] dan Skenario C [santai meninggalkan piket]).
  • Formatif unjuk kerja simulasi: Lembar ceklis observasi keterpaduan aturan gotong royong (mematuhi pembagian tugas piket) dan sopan santun (mengucapkan kata tolong/terima kasih/permisi saat berinteraksi) di sekolah.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di penutup: Murid menyebutkan 2 aturan gotong royong sekolah dan 2 kata sopan yang wajib dipadukan saat bekerja bersama teman (Acuan kunci: aturan gotong royong = membagi tugas secara adil, bergantian memakai alat piket/tidak berebut; kata sopan = 'tolong', 'terima kasih', atau 'permisi').

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat simulasi gotong royong dan permainan estafet menggunakan lembar amatan keterpaduan aturan dan sopan santun
  • Pemeriksaan ketepatan pemilahan 4 kartu skenario gotong royong harmonis

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memadukan praktik aturan gotong royong dengan sopan santun di sekolahBelum mampu memadukan aturan gotong royong maupun sopan santun, masih berebut alat atau meninggalkan tugas walau telah dibimbing guru.Mampu mematuhi aturan gotong royong atau mengucapkan kata sopan santun secara terpisah hanya jika terus diingatkan oleh guru.Mampu memadukan praktik mematuhi aturan gotong royong (menjalankan tugas piket, antre alat) dan sopan santun (mengucapkan tolong/terima kasih) di lingkungan sekolah dengan arahan minimal.Mampu memadukan praktik aturan gotong royong dan sopan santun secara konsisten, mandiri, dan penuh kesadaran tanpa perlu diingatkan guru sepanjang kegiatan gotong royong sekolah.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah desain simulasi gotong royong mampu memberikan pengalaman nyata bagi murid dalam memadukan aturan dan sopan santun di sekolah?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang pemalu dalam mengekspresikan ucapan sopan santun saat bekerja sama dalam kelompok?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu saat kamu dan teman-teman saling mengucapkan kata santun ketika membersihkan kelas bersama?
  • Aturan gotong royong apa yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu patuhi hari ini?

Pertemuan 3 — Refleksi Musyawarah Mufakat Berlandaskan Empat Sifat Luhur untuk Berbagi Sukacita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.9.3 Merefleksikan proses musyawarah sederhana untuk mufakat di lingkungan sekolah dengan nilai-nilai empat sifat luhur dalam berbagi sukacita kepada sesama

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Namo Buddhaya, mengajak murid berdoa dan melakukan duduk hening selama 3 menit untuk memusatkan kesadaran batin (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini mengenai refleksi musyawarah sederhana untuk mufakat di sekolah dengan nilai-nilai empat sifat luhur dalam berbagi sukacita kepada sesama (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat berpasangan mengenai arti bermusyawarah/mufakat dan nilai empat sifat luhur (metta/cinta kasih, karuna/welas asih, mudita/turut bahagia, upekkha/keseimbangan batin) dalam suasana berbagi (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak cerita bergambar tentang musyawarah kelas untuk merencanakan 'Pojok Berbagi Sukacita' (membagikan alat tulis dan makanan ringan kepada teman yang membutuhkan), di mana murid mengamati bagaimana peserta musyawarah saling mendengarkan dengan cinta kasih (metta) dan turut bahagia atas kesepakatan bersama (mudita) tanpa memaksakan kehendak (3 menit).
  • Guru membimbing murid mengidentifikasi 4 nilai sifat luhur dalam proses musyawarah mufakat: (1) Cinta kasih/Metta: berbicara ramah dan berniat membahagiakan semua teman; (2) Welas asih/Karuna: peduli pada teman yang kesulitan; (3) Turut berbahagia/Mudita: bergembira saat usulan terbaik disepakati bersama; (4) Tenang/Upekkha: menerima hasil keputusan mufakat dengan lapang dada walau usulan pribadi tidak terpilih (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Secara berkelompok (4 orang), murid memainkan 'Permainan Kartu Sepakat Bahagia', yaitu simulasi musyawarah sederhana memilih satu bentuk aksi berbagi sukacita di kelas dari 3 pilihan kartu skenario: (A) Berbagi pensil warna bersama, (B) Berbagi buku cerita bergambar, (C) Menyiapkan kartu ucapan semangat untuk teman; setiap kelompok bersepakat mencapai mufakat dengan menerapkan sikap saling menghargai (12 menit).
  • Masing-masing kelompok menyampaikan hasil mufakat yang disepakati serta menyebutkan sifat luhur yang mereka terapkan saat mendengarkan dan memilih usulan bersama tanpa bertengkar (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara individu mengisi Lembar Refleksi Pengalaman Musyawarah yang memuat 4 pernyataan sikap musyawarah berlandaskan empat sifat luhur: (1) 'Saya mau mendengarkan usulan teman dengan ramah (Metta)'; (2) 'Saya memilih kegiatan yang membantu teman yang membutuhkan (Karuna)'; (3) 'Saya merasa gembira ketika usulan teman terpilih demi kebaikan bersama (Mudita)'; (4) 'Saya menerima hasil mufakat kelas dengan hati tenang dan tidak marah (Upekkha)' (15 menit).
  • Guru memandu murid memaknai pengalaman batin mereka: menyadari bahwa musyawarah mufakat yang dilandasi empat sifat luhur menciptakan kedamaian dan melipatgandakan sukacita saat berbagi kepada sesama (15 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran bahwa musyawarah mufakat yang diiringi cinta kasih, peduli, turut bahagia, dan ketenangan batin akan mewujudkan kerukunan serta sukacita bersama di sekolah (10 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap refleksi murid, mengingatkan pembiasaan sikap saling menghargai saat bermusyawarah, lalu menutup pembelajaran dengan doa penutup dan salam Namo Buddhaya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar refleksi dengan simbol visual (ikon hati untuk cinta kasih, ikon senyum untuk turut bahagia, ikon timbangan untuk ketenangan/menerima), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan kolom terbuka untuk menuliskan contoh konkret ucapan ramah saat bermusyawarah.
  • Proses: Pada simulasi kelompok, murid yang pendiam didampingi guru atau teman sebaya agar nyaman mengungkapkan pilihannya, sedangkan murid yang dominan diarahkan untuk mempraktikkan sikap mendengarkan usulan temannya terlebih dahulu.
  • Produk: Refleksi dituangkan dalam bentuk centang pilihan sikap disertai gambar emotikon perasaan atau kalimat refleksi sederhana sesuai kesiapan menulis murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran dengan 2 butir pertanyaan lisan: (1) 'Apa arti bermusyawarah bersama teman?' (Acuan jawaban: berbicara bersama untuk mencari kesepakatan/mufakat); (2) 'Bagaimana perasaan kita jika teman kita mendapat giliran bicara dan kita mendengarkannya dengan baik?' (Acuan jawaban: merasa tenang, saling menghargai, menunjukkan cinta kasih/kebaikan).

Proses:

  • Observasi formatif saat murid melakukan simulasi musyawarah mufakat 'Permainan Kartu Sepakat Bahagia' menggunakan lembar ceklis pengamatan: mengamati keterlibatan murid dalam mendengarkan pendapat teman tanpa memotong (Metta/Upekkha) dan menunjukkan ekspresi senang atas keputusan bersama (Mudita).

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan Lembar Refleksi Diri 4 Butir Pernyataan: (1) Saya mendengarkan usulan teman dengan ramah [Metta], (2) Saya memilih kegiatan untuk meringankan/membantu teman [Karuna], (3) Saya merasa bahagia saat teman lain senang atas keputusan bersama [Mudita], (4) Saya menerima keputusan musyawarah dengan lapang dada walau usul saya tidak dipilih [Upekkha]. Acuan penerimaan: Murid mampu mengidentifikasi dan menandai respon sikap reflektif pada minimal 3 dari 4 butir pernyataan secara jujur dan tepat sesuai pengalaman simulasi.

Formatif:

  • Asesmen Awal Diagnostik: Tanya jawab kesiapan mengenai konsep musyawarah dan empat sifat luhur.
  • Asesmen Proses: Observasi penerapan empat sifat luhur saat simulasi musyawarah kelompok 'Permainan Kartu Sepakat Bahagia'.
  • Asesmen Akhir Proses (Refleksi): Penilaian lembar refleksi musyawarah mufakat berlandaskan empat sifat luhur untuk berbagi sukacita.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Refleksi proses musyawarah sederhana untuk mufakat dengan nilai empat sifat luhur dalam berbagi sukacitaMurid belum mampu merefleksikan proses musyawarah mufakat dengan nilai empat sifat luhur; hanya mengisi 0-1 butir refleksi tanpa keterkaitan makna.Murid mampu merefleksikan proses musyawarah mufakat dengan mengaitkan 2 butir nilai sifat luhur (seperti cinta kasih atau turut bahagia) dengan bantuan bimbingan guru.Murid mampu merefleksikan proses musyawarah mufakat sederhana dengan mengaitkan minimal 3 butir nilai sifat luhur (cinta kasih, welas asih, turut berbahagia, atau tenang menerima mufakat) secara tepat dan mandiri.Murid mampu merefleksikan seluruh (4 butir) proses musyawarah mufakat dengan nilai-nilai empat sifat luhur secara utuh, mandiri, serta mampu menjelaskan alasan sikap batinnya yang tenang dan berbahagia atas hasil mufakat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur simulasi musyawarah sederhana dan lembar refleksi empat sifat luhur berhasil dipahami dan dimaknai dengan mudah oleh murid kelas 2?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang biasanya pasif saat proses bersepakat dan merefleksikan perasaan berbagi sukacita?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu ketika mendengarkan pendapat teman dalam musyawarah tadi?
  • Apakah kamu merasa senang ketika kelas kita berhasil sepakat untuk berbagi sukacita bersama teman-teman?

Pertemuan 4 — Refleksi Perilaku Moderat dalam Meringankan Beban Sesama yang Menderita di Sekolah — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.9.4 Merefleksikan perilaku moderat yang mendukung kehidupan bersama melalui kepedulian meringankan beban sesama yang menderita di lingkungan sekolah

Pendahuluan:

  • Guru menyapa murid, memandu doa pembuka, dan mengajak duduk hening penuh kesadaran selama 3 menit untuk menumbuhkan batin yang tenang dan penuh kasih (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat tentang 2 situasi menolong teman di sekolah: (1) Teman jatuh tersandung saat lari, (2) Teman pensilnya patah dan tidak punya cadangan. Murid memilih respons yang tepat dan wajar untuk meringankan beban teman (acuan jawaban benar: situasi 1 direspons dengan membantu memapah/mengantar ke UKS secara tenang; situasi 2 direspons dengan meminjamkan pensil cadangan tanpa pamrih) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan gambar ilustrasi cerita tentang 3 wujud perilaku moderat (tengah-tengah, tidak berlebihan, tulus, dan adil) dalam meringankan beban teman yang menderita di sekolah: Situasi A (menghibur teman yang sedih karena nilainya kurang baik tanpa mengejek), Situasi B (membantu mengumpulkan sumbangan sukarela untuk teman yang sakit tanpa memaksa), Situasi C (membantu merapikan buku teman yang terjatuh tanpa mengharap imbalan) (10 menit).
  • Murid bersama guru mendiskusikan makna perilaku moderat dalam menolong: menolong sesuai kemampuan, tidak membeda-bedakan suku/agama teman, dan tidak berlebihan sehingga tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan kartu cepat 'Pilihan Bijak Moderat' secara berpasangan; setiap pasangan menerima 3 kartu skenario dan menentukan apakah tindakan tersebut 'Perilaku Moderat yang Tepat' atau 'Perilaku Tidak Tepat/Berlebihan': Skenario 1 = 'Meminjamkan 1 pensil cadangan kepada teman yang pensilnya patah' (Acuan: Tepat), Skenario 2 = 'Memberikan seluruh bekal makan siang sendiri sampai diri sendiri kelaparan dan lemas' (Acuan: Tidak Tepat/Berlebihan), Skenario 3 = 'Menemani dan mendengarkan teman yang menangis terjatuh lalu memanggil bapak/ibu guru' (Acuan: Tepat) (15 menit).
  • Murid secara mandiri menyelesaikan Lembar Refleksi Perilaku Menolong dengan mencentang pilihan tindakan moderat pada 3 kasus sekolah yang disediakan: Kasus 1: Teman tidak membawa penghapus -> Murid memilih: meminjamkan penghapus dengan ramah; Kasus 2: Teman tertinggal catatan karena sakit -> Murid memilih: memperbolehkan menyalin catatan secara bergantian; Kasus 3: Teman kesulitan membawa tumpukan buku piket -> Murid memilih: membawakan sebagian tumpukan buku bersama-sama (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan refleksi diri terbimbing dengan melingkari simbol emotikon (Sangat Tulus / Cukup Tulus / Masih Perlu Belajar) dan mengungkapkan satu hal yang telah dilakukan atau akan dilakukan untuk meringankan beban teman yang sedang kesusahan di kelas dengan cara yang wajar dan moderat (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil refleksi murid bahwa meringankan beban sesama dengan perilaku moderat (seimbang, penuh empati, tanpa pamrih) menciptakan kedamaian dan keharmonisan hidup bersama di sekolah (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Disediakan kartu cerita bergambar konkret bagi murid yang membutuhkan bantuan visual dan teks kalimat ringkas bagi murid yang sudah membaca lancar.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru membaca pernyataan skenario; murid yang sudah mahir merefleksikan alasan mengapa menolong tidak boleh berlebihan sampai merugikan diri sendiri pada 3 kasus yang ada.
  • Produk: Refleksi dapat disajikan berupa tanda centang/lingkar emotikon pada lembar refleksi atau penyampaian lisan langsung saat ditanya guru.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran tentang 2 situasi menolong sesama di sekolah secara wajar. Butir pertanyaan: (1) 'Jika teman tersandung dan lututnya sakit, apa yang kamu lakukan?', (2) 'Jika temanmu lupa membawa pensil sedangkan kamu punya dua pensil, apa yang sebaiknya kamu lakukan?' (Acuan: situasi 1 menolong/memapah ke UKS secara tenang; situasi 2 meminjamkan satu pensil cadangan tanpa pamrih).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan murid dalam memilah 3 kartu skenario 'Pilihan Bijak Moderat' (Acuan: Skenario 1 = Tepat; Skenario 2 = Tidak Tepat/Berlebihan; Skenario 3 = Tepat).
  • Pemeriksaan ketepatan pilihan murid pada Lembar Refleksi Perilaku Menolong 3 kasus (Acuan: Kasus 1 = meminjamkan penghapus; Kasus 2 = meminjamkan catatan bergantian; Kasus 3 = membawakan sebagian tumpukan buku).

Akhir Pertemuan:

  • Cek refleksi mandiri di akhir kegiatan: Murid menentukan sikap moderat dalam 1 pernyataan penutup: 'Saat ada teman di kelas yang menangis karena pensil warnanya hilang, sikap moderat terbaikku adalah: (a) Ikut menangis dan menyalahkan teman lain, (b) Membantu mencari bersama dengan tenang dan menghiburnya, (c) Membiarkannya karena bukan urusanku' (Acuan jawaban benar: b).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja identifikasi kartu skenario perilaku moderat
  • Pemeriksaan Lembar Refleksi Perilaku Menolong pada 3 kasus sekolah

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan perilaku moderat dalam meringankan beban sesama yang menderita di sekolahBelum mampu menentukan perilaku moderat yang tepat pada 3 skenario situasi meringankan beban teman yang menderita di sekolah walau telah dibimbing.Mampu menentukan dan merefleksikan perilaku moderat yang tepat pada 1 dari 3 skenario situasi meringankan beban teman di sekolah dengan bimbingan guru.Mampu menentukan dan merefleksikan perilaku moderat yang tepat pada minimal 2 dari 3 skenario situasi meringankan beban teman di sekolah secara tepat dan mandiri.Mampu menentukan dan merefleksikan perilaku moderat yang tepat pada seluruh (3 dari 3) skenario situasi meringankan beban teman di sekolah secara tepat, konsisten, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas bermain kartu skenario dan lembar refleksi berhasil memfasilitasi murid memahami batasan perilaku moderat dalam menolong sesama?
  • Bagaimana respons murid yang masih kesulitan membedakan antara tindakan menolong yang wajar dan tindakan yang berlebihan?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu setelah belajar cara menolong teman yang sedang sedih atau kesusahan?
  • Tindakan baik apa yang ingin segera kamu lakukan secara wajar jika melihat teman sekelasmu membutuhkan pertolongan?

Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.9.1 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan rumah dalam kegiatan saling membantu sesama
  • TP 2.9.2 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah melalui kegiatan gotong royong
  • TP 2.9.3 Merefleksikan proses musyawarah sederhana untuk mufakat di lingkungan sekolah dengan nilai-nilai empat sifat luhur dalam berbagi sukacita kepada sesama
  • TP 2.9.4 Merefleksikan perilaku moderat yang mendukung kehidupan bersama melalui kepedulian meringankan beban sesama yang menderita di lingkungan sekolah

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam Buddhis, doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan dan alur kegiatan asesmen sumatif unjuk kerja gotong royong serta pengumpulan lembar cek amatan orang tua dari rumah (4 menit).
  • Guru membagi kelas ke dalam 6 kelompok kecil (masing-masing 4-5 murid) dan mengondisikan area simulasi gotong royong di dalam kelas (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan guru tentang petunjuk pengumpulan lembar pembiasaan rumah dan 4 kriteria unjuk kerja sekolah: pembagian tugas musyawarah, ucapan sopan santun, empati meringankan beban teman, dan gotong royong merapikan kelas (5 menit).
  • Murid menyerahkan lembar cek amatan orang tua mengenai praktik kepatuhan aturan dan sopan santun membantu anggota keluarga di rumah kepada guru untuk diverifikasi (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tiap kelompok secara serentak bermusyawarah selama 15 menit menentukan pembagian tugas (merapikan rak buku, menata meja-kursi, mengelap papan tulis, merapikan sudut baca) dengan menerapkan sikap saling menghargai dan mendengarkan (15 menit).
  • Seluruh 6 kelompok secara serentak melaksanakan unjuk kerja gotong royong merapikan kelas selama 40 menit dengan memadukan sopan santun (menggunakan kata tolong, terima kasih, permisi), menunjukkan empati moderat meringankan beban teman yang kesulitan mengangkat atau menjangkau barang, sementara guru mengobservasi menggunakan lembar rubrik (40 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap kelompok duduk melingkar merapikan kembali peralatan dan merefleksikan proses kerja sama: apakah musyawarah berjalan mufakat, apakah nilai cinta kasih (metta) dan simpati (mudita) terwujud saat membantu teman yang terbebani (20 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan umum dan apresiasi atas kerja sama, sopan santun, dan ketertiban seluruh kelompok selama simulasi sumatif (3 menit).
  • Guru menutup kegiatan pembelajaran Bab 9 dengan doa penutup bersama dan salam penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: teks instruksi musyawarah dibacakan perlahan bagi murid yang membutuhkan bantuan membaca tanpa mengubah kriteria penilaian.
  • Proses: Akomodasi akses: murid dengan keterbatasan fisik ringan diberikan peran penataan yang tidak memerlukan beban angkat berat dalam simulasi gotong royong tanpa mengurangi keterlibatan.
  • Produk: Standar unjuk kerja dan lembar cek amatan tetap sama untuk seluruh murid sesuai acuan sumatif ATP.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • penilaian unjuk kerja kolaboratif dan lembar catatan amatan pembiasaan: performa murid saat bermusyawarah dan bergotong royong membantu teman di sekolah dengan sopan santun serta lembar verifikasi amatan orang tua tentang praktik membantu keluarga di rumah
  • penilaian pembiasaan rumah: lembar cek amatan orang tua berisi tanda centang dan catatan singkat mengenai penerapan sopan santun serta aturan saat murid membantu anggota keluarga di rumah (15 menit; individual; instrumen: lembar cek kepatuhan aturan dan sopan santun keluarga)
  • unjuk kerja simulasi kelompok serentak: kinerja kelompok (4-5 murid per kelompok, 6 kelompok dinilai serentak di kelas) dalam bermusyawarah membagi tugas, menunjukkan empati meringankan beban teman yang kesulitan, serta bergotong royong merapikan ruang kelas dengan sopan (90 menit; kelompok; instrumen: rubrik observasi kinerja gotong royong dan musyawarah 4 kriteria)

Sumatif:

  • penilaian unjuk kerja kolaboratif dan lembar catatan amatan pembiasaan: performa murid saat bermusyawarah dan bergotong royong membantu teman di sekolah dengan sopan santun serta lembar verifikasi amatan orang tua tentang praktik membantu keluarga di rumah
  • penilaian pembiasaan rumah: lembar cek amatan orang tua berisi tanda centang dan catatan singkat mengenai penerapan sopan santun serta aturan saat murid membantu anggota keluarga di rumah (15 menit; individual; instrumen: lembar cek kepatuhan aturan dan sopan santun keluarga)
  • unjuk kerja simulasi kelompok serentak: kinerja kelompok (4-5 murid per kelompok, 6 kelompok dinilai serentak di kelas) dalam bermusyawarah membagi tugas, menunjukkan empati meringankan beban teman yang kesulitan, serta bergotong royong merapikan ruang kelas dengan sopan (90 menit; kelompok; instrumen: rubrik observasi kinerja gotong royong dan musyawarah 4 kriteria)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik aturan dan sopan santun membantu di rumah (TP 2.9.1 - Lembar Pembiasaan Rumah)Belum menunjukkan pemenuhan butir amatan sopan santun dan aturan di rumah (0 butir tercentang pada lembar orang tua).Memenuhi 1 butir amatan sopan santun atau aturan saat membantu di rumah berdasarkan catatan orang tua.Memenuhi minimal 2 dari 3 butir amatan aturan dan sopan santun saat membantu anggota keluarga di rumah secara konsisten.Memenuhi seluruh 3 butir amatan aturan dan sopan santun saat membantu di rumah disertai catatan pembiasaan mandiri dari orang tua.
Praktik sopan santun dalam gotong royong sekolah (TP 2.9.2 - Unjuk Kerja)Belum memadukan sopan santun; bersikap pasif atau menggunakan kata-kata kurang pantas saat bekerja sama merapikan kelas.Mengikuti gotong royong namun masih perlu diingatkan guru untuk menggunakan kata tolong/terima kasih saat berinteraksi.Memadukan sopan santun secara mandiri (mengucapkan tolong, terima kasih, permisi) serta memelihara pergaulan harmonis selama gotong royong.Konsisten memadukan sopan santun dan memelihara pergaulan harmonis tanpa sekalipun memerlukan teguran/arahan guru sepanjang kegiatan.
Musyawarah mufakat berlandaskan empat sifat luhur untuk berbagi sukacita (TP 2.9.3 - Unjuk Kerja)Memaksakan kehendak sendiri dalam pembagian tugas dan menolak hasil keputusan kelompok.Mengikuti musyawarah pembagian tugas tetapi menunjukkan rasa enggan atau kurang rela saat menerima pembagian tugas kelompok.Mengikuti musyawarah sederhana hingga mufakat, menerima pembagian tugas dengan lapang dada, dan berbagi sukacita (mudita) bersama kelompok.Merefleksikan musyawarah mufakat secara matang dengan mendengarkan pendapat teman secara santun dan menunjukkan sukacita penuh saat pembagian tugas disepakati.
Perilaku moderat meringankan beban sesama di sekolah (TP 2.9.4 - Unjuk Kerja)Acuh tak acuh ketika melihat teman sekelompok kesulitan atau terbebani tugas berat.Mau membantu teman yang kesulitan hanya setelah diminta langsung oleh teman atau diinstruksikan oleh guru.Tanggap dan berinisiatif secara mandiri meringankan beban teman yang kerepotan/kesulitan membawa atau merapikan perlengkapan kelas.Secara konsisten dan tanggap meringankan beban teman yang kesulitan serta membagi beban kerja secara seimbang dan penuh kepedulian.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh kelompok dapat melaksanakan musyawarah dan gotong royong secara serentak dengan tertib?
  • Bagaimana ketercapaian murid pada TP 1 sampai TP 4 berdasarkan bukti lembar amatan rumah dan unjuk kerja kelas?

Murid:

  • Apakah kamu merasa senang dan puas setelah bermusyawarah dan merapikan kelas bersama teman-temanmu hari ini?
  • Bagian mana dari kegiatan membantu teman atau keluarga yang paling membuat hatimu bahagia?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas II SD, Kemendikbudristek 2021
  2. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas II SD, Kemendikbudristek 2021 (Pembelajaran 25: Saling Membantu)
  3. Set kartu bergambar situasi membantu di rumah dan kartu respons aturan serta sopan santun
  4. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek, 2021)
  5. Buku Teks Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas II
  6. Kartu bergambar situasi gotong royong di sekolah dan kartu skenario sopan santun
  7. Peralatan kebersihan kelas (sapu mini, lap meja, kemoceng, rak buku pojok baca)
  8. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek, 2021, Bab IX: Senang Membantu Sesama)
  9. Buku Teks Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II
  10. Set Kartu Skenario Pilihan Berbagi Sukacita (Kartu A: Pensil Warna, Kartu B: Buku Cerita, Kartu C: Kartu Ucapan)
  11. Lembar Refleksi Diri Musyawarah Empat Sifat Luhur
  12. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek 2021)
  13. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek 2021)
  14. Set kartu skenario 'Pilihan Bijak Moderat'
  15. Lembar Refleksi Perilaku Menolong Bergambar
  16. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II
  17. Lembar Cek Amatan Orang Tua (Pembiasaan Rumah)
  18. Peralatan kebersihan kelas (kemoceng, lap meja, sapu, penata buku)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.