Modul AjarBab 3Fase ASemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 2 Bab 3: Bersikap Hormat dan Menjaga Ucapan

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 2 untuk Bab 3 "Bersikap Hormat dan Menjaga Ucapan", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 2 Bab 3: Bersikap Hormat dan Menjaga Ucapan

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 2

Bab 3

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 2 (Fase A)

Topik: Bab 3 — Bersikap Hormat dan Menjaga Ucapan

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase A / Kelas 2
TopikBab 3 — Bersikap Hormat dan Menjaga Ucapan
Alokasi Waktu11 JP (11 x 35 menit = 385 menit)
Jumlah Pertemuan4
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 2.3.1 Menemukan budaya komunikasi yang hormat di lingkungannya berdasarkan kisah jataka
  2. TP 2.3.2 Menemukan budaya komunikasi yang bijaksana di lingkungannya berdasarkan kisah jataka
  3. TP 2.3.3 Memadukan praktik aturan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah
  4. TP 2.3.4 Memadukan praktik aturan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan rumah

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana cara kerbau Nandivisala berbicara kepada tuannya dalam kisah Jataka?
  2. Kata-kata sapaan hormat apa saja yang kita gunakan saat menyapa orang tua atau bapak/ibu guru?
  3. Bagaimana cara pedagang yang jujur berbicara kepada nenek dalam kisah Serivanija Jataka?
  4. Mengapa kita harus berkata jujur dan benar saat berbicara dengan orang lain di sekitar kita?
  5. Bagaimana aturan sopan santun membuat hubungan kita dengan teman sekelas menjadi rukun dan harmonis?
  6. Apa aturan sopan santun di rumah yang membuat suasana bersama orang tua dan saudara menjadi damai?
  7. Bagaimana caramu menunjukkan sikap hormat dan sopan santun saat bertemu guru dan teman di sekolah?
  8. Kata-kata baik apa yang kamu ucapkan kepada orang tua di rumah agar suasana selalu rukun dan harmonis?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menemukan Budaya Komunikasi yang Hormat Berdasarkan Kisah Jataka — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.3.1 Menemukan budaya komunikasi yang hormat di lingkungannya berdasarkan kisah jataka

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam buddhis 'Namo Buddhaya', mengajak murid hening sejenak untuk memusatkan perhatian, dan memeriksa kesiapan belajar (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya-jawab lisan singkat dengan mengajukan 2 pertanyaan: (1) 'Mana ucapan yang lebih hormat: menyapa guru dengan 'Halo kawan' atau 'Selamat pagi Ibu Guru'?' (acuan: 'Selamat pagi Ibu Guru') dan (2) 'Mengapa kita perlu berbicara dengan sopan kepada orang tua?' (acuan: untuk menghormati orang yang lebih tua/berjasa) untuk memetakan kesiapan murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak cerita bergambar Kisah Jataka 'Nandivisala Jataka' yang dibacakan guru, di mana sapi Nandivisala mau menarik beban berat ketika disapa dengan kata-kata manis dan hormat oleh pedagang, tetapi enggan berjalan ketika dimaki dengan kata-kata kasar (10 menit).
  • Murid bersama guru mencermati 4 contoh ungkapan komunikasi hormat dalam kisah dan lingkungan sekitar: (1) Sapaan ramah 'Sahabat yang baik/Tuan', (2) Kata tolong saat meminta bantuan, (3) Kata terima kasih setelah dibantu, dan (4) Kata permisi/maaf saat melewati orang lain (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid bermain tantangan berpasangan 'Pilah Kata Hormat Nandivisala', yaitu memilih dan mengelompokkan 4 kartu kata ucapan ke dalam kotak 'Budaya Hormat' atau kotak 'Bukan Budaya Hormat'. Daftar 4 kartu: (1) 'Permisi' -> Budaya Hormat; (2) 'Hei kamu, cepat!' -> Bukan Budaya Hormat; (3) 'Tolong bantu saya' -> Budaya Hormat; (4) 'Minggir sana!' -> Bukan Budaya Hormat (acuan: kartu 1 dan 3 masuk kotak Budaya Hormat, kartu 2 dan 4 masuk kotak Bukan Budaya Hormat) (15 menit).
  • Murid secara individu menandai lembar kerja bergambar untuk menemukan 3 budaya komunikasi hormat yang sesuai dengan ajaran kisah Jataka di lingkungan rumah dan sekolah dari 3 pasangan pilihan: Butir 1 (Menyapa orang tua: [A] 'Selamat pagi Ayah' vs [B] 'Woi bangun' -> acuan: A); Butir 2 (Meminta pinjam pensil ke teman: [A] 'Boleh aku pinjam pensilmu?' vs [B] 'Sini pensilmu!' -> acuan: A); Butir 3 (Masuk ruang guru: [A] Mengucap 'Permisi' sambil membungkuk vs [B] Nyelonong berteriak -> acuan: A) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menghubungkan kembali pengalaman latihan dengan pesan kisah Nandivisala: menyadari bahwa kata-kata yang lembut dan hormat membuat orang lain senang membantu dan menciptakan kerukunan (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa budaya komunikasi hormat dari kisah Jataka Nandivisala dicontohkan lewat sapaan sopan, ucapan tolong, dan terima kasih di lingkungan sehari-hari (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas lembar kerja murid dan menutup pelajaran dengan doa serta salam Buddhis 'Sadhu, Sadhu, Sadhu' (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu kata berukuran besar dengan simbol visual senyum untuk kata hormat dan cemberut untuk kata kasar; murid yang lebih cepat diberikan kartu teks kalimat utuh.
  • Proses: Murid yang belum lancar membaca dibacakan teks kartu oleh guru atau teman sebangku; murid yang mahir langsung memilah kartu secara mandiri.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan pilihan budaya komunikasi hormat dengan melingkari gambar, memberi tanda centang, atau menunjuk kartu pilihan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan: (1) Memilih ucapan hormat kepada guru: 'Halo kawan' atau 'Selamat pagi Ibu Guru' (acuan kunci: 'Selamat pagi Ibu Guru'); (2) Mengidentifikasi alasan berbicara sopan kepada orang tua (acuan kunci: bentuk hormat/membalas budi orang tua).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan dan ketepatan murid saat memilah 4 kartu ucapan (acuan: kartu 1 'Permisi' dan kartu 3 'Tolong bantu saya' masuk kategori Budaya Hormat; kartu 2 'Hei kamu, cepat!' dan kartu 4 'Minggir sana!' masuk kategori Bukan Budaya Hormat).
  • Pemeriksaan ketepatan pengerjaan lembar kerja 3 butir skenario lingkungan rumah dan sekolah (acuan kunci butir 1: pilihan A; butir 2: pilihan A; butir 3: pilihan A).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir kegiatan: Murid menyebutkan kembali 1 kata komunikasi hormat yang dipelajari dari kisah Nandivisala untuk dipakai di rumah (kriteria penerimaan: menyebutkan salah satu dari: tolong, terima kasih, permisi, maaf, atau sapaan santun seperti selamat pagi/Namo Buddhaya).

Formatif:

  • Tes lisan diagnostik di awal pembelajaran tentang sapaan hormat
  • Observasi unjuk kerja permainan pilah kartu ucapan hormat
  • Pemeriksaan lembar kerja pilihan budaya komunikasi hormat (3 butir)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menemukan budaya komunikasi hormat berdasarkan kisah JatakaBelum mampu menemukan contoh budaya komunikasi hormat (0-1 butir tepat pada lembar kerja dan aktivitas pilah kartu).Mampu menemukan sebagian kecil contoh budaya komunikasi hormat dengan bantuan penuh guru (2 butir tepat dari seluruh tugas).Mampu menemukan budaya komunikasi hormat di lingkungannya berdasarkan kisah Jataka secara tepat (3 butir lembar kerja tepat dan mampu memilah kartu hormat secara benar).Mampu menemukan seluruh budaya komunikasi hormat secara tepat, konsisten, dan mandiri tanpa bimbingan guru pada semua tugas latihan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penyampaian kisah Nandivisala Jataka dapat dipahami dengan jelas oleh murid kelas 2?
  • Apakah aktivitas permainan pilah kartu efektif membantu murid membedakan ucapan hormat dan tidak hormat?

Murid:

  • Cerita tentang hewan apa yang kita dengar hari ini?
  • Kata hormat apa yang akan kamu ucapkan kepada orang tuamu hari ini?

Pertemuan 2 — Menemukan Budaya Komunikasi yang Bijaksana Berdasarkan Kisah Jataka — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.3.2 Menemukan budaya komunikasi yang bijaksana di lingkungannya berdasarkan kisah jataka

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid duduk hening sejenak menyadari napas, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui pertanyaan lisan terbimbing untuk memetakan kesiapan murid mengenai komunikasi yang bijaksana: 'Manakah ucapan yang jujur dan benar: (A) Berkata apa adanya tanpa menipu, atau (B) Berbohong agar mendapat keuntungan?' Acuan jawaban benar: A (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menemukan contoh budaya komunikasi yang bijaksana (jujur, benar, dan bermanfaat) berdasarkan kisah Serivanija Jataka dan penerapannya di lingkungan murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penuturan ringkasan kisah Serivanija Jataka yang dibacakan guru tentang dua pedagang keliling: Seriva yang serakah serta berkata bohong dan kasar bahwa mangkuk emas tidak berharga, dan Bodhisatta (Kachavara) yang jujur serta bijaksana mengatakan bahwa mangkuk itu adalah emas murni bernilai tinggi (15 menit).
  • Murid bersama guru mengidentifikasi ciri-ciri ucapan bijaksana dari Bodhisatta (jujur, tidak menipu, kata-kata benar) dan membandingkannya dengan ucapan tidak bijaksana dari pedagang Seriva (berbohong, meremehkan, kasar) melalui tanya jawab terbimbing (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan menggembirakan 'Pohon Ucapan Benar': setiap murid menerima 4 kartu pernyataan ucapan di lingkungan sehari-hari dan bertugas menempelkan kartu tersebut ke pohon yang tepat ('Pohon Ucapan Bijaksana' atau 'Kotak Ucapan Tidak Bijaksana'). Kartu 1: 'Ibu, maaf saya tidak sengaja menjatuhkan pensil' (Acuan: Bijaksana/jujur); Kartu 2: 'Bukan aku yang memecahkan, padahal aku yang menyenggolnya' (Acuan: Tidak bijaksana/bohong); Kartu 3: 'Mangkuk ini terbuat dari emas murni dan sangat berharga' (Acuan: Bijaksana/benar); Kartu 4: 'Mangkuk kotor ini tidak ada harganya sama sekali' (Acuan: Tidak bijaksana/menipu) (20 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Kerja 'Menemukan Komunikasi Bijaksana' secara mandiri dengan menandai centang (V) pada 4 butir situasi komunikasi di lingkungan sehari-hari: Butir 1: Mengakui kesalahan saat terlambat mengembalikan buku (Kunci: Bijaksana); Butir 2: Menyembunyikan mainan teman dan pura-pura tidak tahu (Kunci: Tidak bijaksana); Butir 3: Mengatakan harga barang sebenarnya tanpa menipu pembeli (Kunci: Bijaksana); Butir 4: Mengejek teman yang membawa bekal sederhana (Kunci: Tidak bijaksana) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil lembar kerja dengan kunci acuan dan mendiskusikan manfaat berbicara jujur dan bijaksana seperti tokoh Bodhisatta dalam kisah Serivanija Jataka (10 menit).
  • Murid mengungkapkan satu komitmen lisan sederhana mengenai ucapan bijaksana yang akan dipraktikkan hari ini di kelas atau di rumah, misalnya 'Saya akan selalu berkata jujur kepada guru dan orang tua' (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran tentang komunikasi yang bijaksana berdasarkan kisah Serivanija Jataka (berkata jujur, tidak menipu, dan berkata benar) (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung atas hasil kerja murid, mengajak murid mengakhiri pelajaran dengan melafalkan doa/ungkapan syukur Buddhis, dan salam penutup Namo Buddhaya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja berpiktogram/simbol visual (ikon senyum untuk bijaksana, ikon sedih untuk tidak bijaksana), sedangkan murid yang cepat diberikan 2 skenario tambahan komunikasi jujur di lingkungan sekitar.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru secara terarah saat membaca kartu ucapan; murid mandiri langsung menempelkan kartu pada pohon ucapan secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menyelesaikan lembar kerja klasifikasi komunikasi bijaksana dengan jumlah minimal 3 dari 4 butir tepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan di awal pertemuan: 'Dalam kehidupan sehari-hari, manakah contoh ucapan yang bijaksana: (1) Berkata jujur mengakui kesalahan, atau (2) Berbohong agar tidak dimarahi?' (Acuan jawaban benar: nomor 1).

Proses:

  • Observasi keaktifan dan ketepatan murid saat memilah 4 kartu pada permainan 'Pohon Ucapan Benar' (Acuan: Kartu 1 dan 3 = Pohon Ucapan Bijaksana; Kartu 2 dan 4 = Kotak Ucapan Tidak Bijaksana).
  • Pemeriksaan Lembar Kerja 'Menemukan Komunikasi Bijaksana' yang memuat 4 butir pernyataan klasifikasi (Acuan kunci: Butir 1 = Bijaksana; Butir 2 = Tidak bijaksana; Butir 3 = Bijaksana; Butir 4 = Tidak bijaksana).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: 'Sebutkan 1 contoh ucapan bijaksana Bodhisatta dalam kisah Serivanija Jataka dan 1 contoh ucapan bijaksana yang kamu lakukan di sekolah!' (Acuan: Kisah Jataka = berkata jujur bahwa mangkuk itu emas murni berharga; Di sekolah = berkata jujur meminjam barang/mengakui kesalahan/berkata benar apa adanya).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran untuk mengecek pemahaman konsep jujur/bohong.
  • Observasi unjuk kerja saat permainan Pohon Ucapan Benar.
  • Penilaian lembar kerja klasifikasi komunikasi bijaksana di lingkungan berdasarkan kisah Jataka.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menemukan budaya komunikasi yang bijaksana di lingkungannya berdasarkan kisah JatakaBelum mampu menemukan contoh komunikasi yang bijaksana pada lembar kerja dan aktivitas (0-1 butir tepat dari 4 butir acuan).Mulai mampu menemukan contoh komunikasi yang bijaksana dengan bantuan dan arahan guru (2 butir tepat dari 4 butir acuan).Mampu menemukan contoh komunikasi yang bijaksana di lingkungannya berdasarkan kisah Jataka secara tepat (3-4 butir tepat dari 4 butir acuan).Mampu menemukan seluruh contoh komunikasi yang bijaksana (4 butir tepat dari 4 butir acuan) secara mandiri dan cepat serta mampu menunjukkan contoh ucapan bijaksana tambahan di lingkungannya.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan kisah Serivanija Jataka melalui permainan Pohon Ucapan Benar efektif membantu murid Fase A memahami makna komunikasi bijaksana?
  • Bagaimana keterlibatan aktif setiap murid dalam mengidentifikasi kata-kata jujur dan tidak menipu selama kegiatan inti?

Murid:

  • Bagian cerita Serivanija Jataka mana yang paling kamu ingat hari ini?
  • Apa kata-kata jujur yang ingin kamu ucapkan kepada orang tua atau teman hari ini?

Pertemuan 3 — Memadukan Praktik Aturan Sopan Santun dengan Pergaulan Harmonis di Lingkungan Sekolah dan Rumah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.3.3 Memadukan praktik aturan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah
  • TP 2.3.4 Memadukan praktik aturan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan rumah

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya) dan mengajak murid duduk hening sejenak untuk menenangkan pikiran (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memadukan praktik aturan sopan santun dengan pergaulan harmonis di lingkungan sekolah dan di lingkungan rumah (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 gambar kartu situasi aturan: (1) Murid mendengarkan teman yang sedang berbicara di kelas; (2) Anak berpamitan menyapa orang tua sebelum bepergian. Guru menanyakan apakah perilaku pada kartu tersebut menciptakan kerukunan atau pertengkaran (acuan jawaban: kartu 1 = rukun/harmonis di sekolah; kartu 2 = damai/harmonis di rumah) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mengamati dan mencermati 4 kartu contoh aturan sopan santun yang dibagikan guru: (1) Menyapa bapak/ibu guru dan teman saat berpapasan di sekolah; (2) Menunggu giliran berbicara saat belajar bersama teman di kelas; (3) Berbicara lembut dan tidak memotong pembicaraan orang tua di rumah; (4) Meminta izin saat meminjam mainan milik adik/kakak di rumah (10 menit).
  • Secara interaktif, murid menghubungkan tiap kartu aturan sopan santun dengan dampak pergaulan harmonis yang dihasilkannya: aturan 1 menghasilkan hubungan sekolah yang akrab dan saling menghargai; aturan 2 mencegah pertengkaran saat kerja bersama di kelas; aturan 3 menciptakan suasana keluarga yang damai dan tenteram; aturan 4 menjaga kerukunan dan rasa aman antar-saudara di rumah (acuan: keterkaitan antara perilaku sopan dengan terciptanya keharmonisan) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Secara berpasangan, murid memainkan permainan tantangan kartu 'Pasangan Harmonis': setiap pasangan menerima 4 kartu aturan sopan santun dan 4 kartu situasi pergaulan harmonis untuk dipadukan dengan tepat (15 menit).
  • Murid memadukan pasangan kartu berikut: Kartu A1 'Merapikan kembali buku perpustakaan sekolah bersama teman' dipadukan dengan Situasi H1 'Teman merasa dihargai dan ruang kelas/sekolah tetap tertib'; Kartu A2 'Mengucapkan terima kasih saat dipinjami pensil oleh teman sekelas' dipadukan dengan Situasi H2 'Pergaulan dengan teman menjadi akrab tanpa permusuhan'; Kartu A3 'Membantu ibu menyiapkan meja makan tanpa mengeluh' dipadukan dengan Situasi H3 'Keluarga merasa bahagia dan saling tolong di rumah'; Kartu A4 'Mengetuk pintu dan mengucap salam sebelum masuk kamar orang tua' dipadukan dengan Situasi H4 'Hak privasi keluarga terjaga dan suasana rumah tenang' (acuan kunci: A1-H1, A2-H2, A3-H3, A4-H4) (20 menit).
  • Setiap pasangan murid bersama bimbingan guru saling memverifikasi hasil pemaduan kartu aturan dan situasi keharmonisan tersebut pada lembar kerja pergaulan sekolah dan rumah yang dibagikan (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid diajak merenungkan secara hening sejenak mengenai bagaimana mematuhi aturan sopan santun setiap hari secara nyata membawa kedamaian batin dan kerukunan bersama teman serta keluarga (5 menit).
  • Murid menyebutkan satu contoh perpaduan aturan sopan santun di sekolah dan satu contoh di rumah yang paling siap diterapkan setiap hari agar pergaulan selalu rukun (acuan: contoh memuat perilaku sopan konkret dan dampaknya terhadap kerukunan pergaulan) (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa aturan sopan santun di sekolah dan rumah adalah kunci utama menciptakan pergaulan yang rukun dan harmonis (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas keterlibatan aktif semua pasangan murid selama memadukan kartu aturan sopan santun (3 menit).
  • Pembelajaran diakhiri dengan doa penutup dan salam Namo Buddhaya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu yang dilengkapi simbol warna pendukung pergaulan (hijau untuk sekolah, kuning untuk rumah), sedangkan murid yang mandiri memadukan kartu teks situasi tanpa bantuan warna.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan dipandu guru membaca teks kartu secara bertahap, sedangkan murid yang cepat memadukan kartu secara mandiri bersama pasangannya.
  • Produk: Murid yang memerlukan bimbingan memadukan minimal 2 dari 4 pasangan kartu dengan tepat, sedangkan murid yang cepat memadukan seluruh 4 pasangan kartu dan memberikan satu contoh situasi pergaulan harmonis tambahan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik klasikal menggunakan 2 kartu situasi: (1) Murid mendengarkan teman berbicara di kelas; (2) Anak berpamitan pada orang tua. Murid menentukan dampak perilaku pada kartu terhadap kerukunan (acuan jawaban: kartu 1 = rukun/harmonis di sekolah; kartu 2 = damai/harmonis di rumah).

Proses:

  • Observasi formatif saat pengerjaan tantangan 'Pasangan Harmonis' berpasangan memadukan 4 kartu aturan (A1, A2, A3, A4) dengan 4 situasi harmonis (H1, H2, H3, H4) sesuai kunci acuan: A1-H1 (merapikan buku perpustakaan -> teman dihargai dan sekolah tertib), A2-H2 (ucapan terima kasih -> pergaulan akrab tanpa permusuhan), A3-H3 (membantu ibu -> keluarga bahagia saling tolong), A4-H4 (mengetuk pintu mengucap salam -> privasi terjaga rumah tenang).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan pemahaman akhir: Murid melengkapi ceklis pemaduan aturan dan keharmonisan pada 2 pernyataan ringkas: (1) Aturan sopan santun di sekolah: 'Mendengarkan teman yang berpendapat' berpasangan dengan dampak harmonis: 'Belajar kelompok rukun tanpa pertengkaran'; (2) Aturan sopan santun di rumah: 'Makan bersama dengan tenang tanpa bersuara keras' berpasangan dengan dampak harmonis: 'Suasana makan keluarga damai dan menyenangkan' (acuan: tepat memasangkan kedua pernyataan dengan dampak keharmonisannya).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja memadukan kartu aturan sopan santun dengan situasi pergaulan harmonis di lingkungan sekolah dan rumah menggunakan lembar observasi/rubrik ketercapaian.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memadukan aturan sopan santun dengan pergaulan harmonis di lingkungan sekolahBelum mampu memasangkan aturan sopan santun dengan situasi pergaulan harmonis di lingkungan sekolah (0 pasangan kartu sekolah tepat dari 2 kartu A1, A2).Memadukan 1 dari 2 aturan sopan santun dengan situasi pergaulan harmonis di lingkungan sekolah secara tepat dengan bimbingan (tepat pada A1-H1 atau A2-H2).Memadukan 2 aturan sopan santun dengan situasi pergaulan harmonis di lingkungan sekolah secara tepat secara mandiri (tepat pada A1-H1 dan A2-H2).Memadukan 2 aturan sopan santun dengan situasi pergaulan harmonis di lingkungan sekolah secara tepat mandiri serta mampu memadukan 1 contoh situasi tambahan di lingkungan sekolah secara tepat.
Memadukan aturan sopan santun dengan pergaulan harmonis di lingkungan rumahBelum mampu memasangkan aturan sopan santun dengan situasi pergaulan harmonis di lingkungan rumah (0 pasangan kartu rumah tepat dari 2 kartu A3, A4).Memadukan 1 dari 2 aturan sopan santun dengan situasi pergaulan harmonis di lingkungan rumah secara tepat dengan bimbingan (tepat pada A3-H3 atau A4-H4).Memadukan 2 aturan sopan santun dengan situasi pergaulan harmonis di lingkungan rumah secara tepat secara mandiri (tepat pada A3-H3 dan A4-H4).Memadukan 2 aturan sopan santun dengan situasi pergaulan harmonis di lingkungan rumah secara tepat mandiri serta mampu memadukan 1 contoh situasi tambahan di lingkungan rumah secara tepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan memasangkan kartu berhasil memfasilitasi murid memahami kaitan antara aturan sopan santun dan terciptanya pergaulan harmonis di sekolah dan rumah?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam bekerja sama berpasangan memadukan praktik sopan santun?

Murid:

  • Aturan sopan santun apa di sekolah yang paling sering kamu lakukan agar berteman dengan rukun?
  • Aturan sopan santun apa di rumah yang paling membantu membuat suasana keluargamu terasa damai?

Pertemuan 4 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.3.1 Menemukan budaya komunikasi yang hormat di lingkungannya berdasarkan kisah jataka
  • TP 2.3.2 Menemukan budaya komunikasi yang bijaksana di lingkungannya berdasarkan kisah jataka
  • TP 2.3.3 Memadukan praktik aturan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah
  • TP 2.3.4 Memadukan praktik aturan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan rumah

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya), mengajak murid duduk tenang dengan kesadaran penuh (mindful sitting) sejenak, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan dan alur Asesmen Sumatif Bab 3 yang mencakup 3 bagian: demonstrasi peragaan sopan santun di sekolah secara berpasangan, tes lisan kata hormat dan bijaksana kisah Jataka di meja guru, serta pengumpulan lembar ceklis pembiasaan sopan santun di rumah (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru menjelaskan tata cara dan kriteria demonstrasi sopan santun berpasangan serta tes lisan, memastikan seluruh murid memahami instruksi tanpa rasa cemas (4 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1: Murid melaksanakan demonstrasi peragaan sopan santun dan pergaulan harmonis di sekolah secara berpasangan per meja (14 pasang bergantian), merangkapkan kedua tangan di dada (anjali), sedikit membungkukkan badan, serta menyapa teman/guru dengan salam 'Namo Buddhaya' atau 'Selamat pagi' sementara guru mencatat pada lembar observasi (31 menit).
  • Tugas 2: Murid maju secara bergantian ke meja guru (2 menit per murid x 28 murid) untuk tes lisan memilih dan mengucapkan kata yang hormat serta bijaksana berdasarkan 2 kartu gambar situasi kisah Jataka yang disajikan guru. Kartu A (Kisah Sapi Nandivisala): Gambar sapi dicaci maki vs disapa ramah oleh pemiliknya; murid memilih dan mengucapkan kalimat yang benar (acuan jawaban benar: memilih ucapan ramah/lemah lembut 'Wahai Nandivisala yang baik/kuat, tariklah pedati ini' dan menolak kata makian kasar). Kartu B (Kisah Burung Dara yang Bijaksana): Gambar burung berbicara jujur dan sopan kepada sesama vs berbohong/menghasut; murid memilih dan mengucapkan kalimat yang benar (acuan jawaban benar: memilih kata jujur, santun, dan menyejukkan hati tanpa menghasut) (56 menit).
  • Tugas 3: Murid menyerahkan lembar ceklis harian pembiasaan bersikap hormat dan bertutur kata santun kepada orang tua di rumah yang telah diisi selama satu pekan dan telah divalidasi dengan tanda tangan orang tua (5 butir pembiasaan: mencium tangan/anjali saat berangkat dan pulang sekolah, berbicara lembut tanpa membentak, meminta izin saat meminjam barang keluarga, mengucapkan terima kasih saat dibantu, meminta maaf saat berbuat salah) untuk diverifikasi kelengkapan bukti dan tanda tangannya oleh guru (4 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru duduk hening sejenak merenungkan pengalaman melaksanakan sikap hormat dan menjaga ucapan yang telah dipraktikkan selama penilaian sumatif (2 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi kepada seluruh murid atas ketertiban dan kejujuran selama pelaksanaan asesmen sumatif Bab 3 (2 menit).
  • Guru merangkum pentingnya terus melestarikan sikap hormat dan ucapan benar dalam pergaulan sehari-hari di rumah maupun sekolah, lalu menutup kelas dengan salam Namo Buddhaya (1 menit).

Diferensiasi:

  • Proses: Akomodasi akses: Bagi murid yang pemalu atau mengalami hambatan artikulasi dalam tes lisan, guru memberikan waktu jeda tenang tanpa tekanan dan memperbolehkan menunjuk pilihan kartu sebelum melafalkan kata kunci hormat/bijaksana secara bertahap, tanpa mengubah kriteria ketepatan isi ucapan.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • kombinasi demonstrasi peragaan sopan santun kelas, tes lisan rotasi meja guru, dan verifikasi lembar ceklis pembiasaan rumah: peragaan sikap anjali dan salam hormat di kelas, jawaban lisan atas pilihan kata hormat dan bijaksana dari kisah jataka, serta lembar ceklis perilaku santun kepada orang tua di rumah yang terisi dan ditandatangani
  • demonstrasi berpasangan serentak: peragaan praktik bersikap hormat (merangkapkan kedua tangan/anjali dan membungkuk santun) serta menyapa guru dan teman yang diamati guru pada 14 pasang murid bergantian per meja (35 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi peragaan sopan santun dengan skala 3 tingkat)
  • tes dan unjuk kerja lisan terarah: respons lisan memilih dan mengucapkan kata yang hormat dan bijaksana berdasarkan ilustrasi kisah jataka yang disajikan kartu gambar secara individual selama 2 menit per murid ke meja guru (56 menit / 2 menit = 28 murid, muat satu kelas penuh) (56 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lisan berbasis kartu gambar situasi jataka)
  • penilaian diri dan konfirmasi pembiasaan rumah: lembar ceklis harian pembiasaan bersikap hormat dan bertutur kata santun kepada orang tua yang telah diisi murid dan divalidasi tanda tangan orang tua (14 menit; individual; instrumen: lembar ceklis pembiasaan sopan santun di rumah disertai tanda tangan orang tua)

Sumatif:

  • kombinasi demonstrasi peragaan sopan santun kelas, tes lisan rotasi meja guru, dan verifikasi lembar ceklis pembiasaan rumah: peragaan sikap anjali dan salam hormat di kelas, jawaban lisan atas pilihan kata hormat dan bijaksana dari kisah jataka, serta lembar ceklis perilaku santun kepada orang tua di rumah yang terisi dan ditandatangani
  • demonstrasi berpasangan serentak: peragaan praktik bersikap hormat (merangkapkan kedua tangan/anjali dan membungkuk santun) serta menyapa guru dan teman yang diamati guru pada 14 pasang murid bergantian per meja (35 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi peragaan sopan santun dengan skala 3 tingkat)
  • tes dan unjuk kerja lisan terarah: respons lisan memilih dan mengucapkan kata yang hormat dan bijaksana berdasarkan ilustrasi kisah jataka yang disajikan kartu gambar secara individual selama 2 menit per murid ke meja guru (56 menit / 2 menit = 28 murid, muat satu kelas penuh) (56 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lisan berbasis kartu gambar situasi jataka)
  • penilaian diri dan konfirmasi pembiasaan rumah: lembar ceklis harian pembiasaan bersikap hormat dan bertutur kata santun kepada orang tua yang telah diisi murid dan divalidasi tanda tangan orang tua (14 menit; individual; instrumen: lembar ceklis pembiasaan sopan santun di rumah disertai tanda tangan orang tua)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Sopan Santun di Sekolah (TP 2.3.3)Belum mampu memperagakan sikap anjali dan menyapa teman/guru dengan santun meskipun diarahkan.Memperagakan sikap anjali dan sapaan santun kepada teman/guru dengan bimbingan dan arahan guru.Memperagakan sikap anjali (tangan merangkap di dada dan membungkuk santun) serta mengucapkan salam sapaan dengan tepat secara mandiri.Memperagakan sikap anjali dan salam sapaan santun secara luwes, tepat, konsisten, dan menunjukkan ketenangan penuh.
Budaya Komunikasi Hormat dan Bijaksana Kisah Jataka (TP 2.3.1, TP 2.3.2)Belum mampu memilih maupun mengucapkan kata yang hormat dan bijaksana pada kedua kartu situasi Jataka (Kartu A: Nandivisala; Kartu B: Burung Dara).Mampu memilih dan mengucapkan kata yang hormat atau bijaksana secara tepat pada 1 dari 2 kartu situasi Jataka (acuan: Kartu A ucapan ramah/lemah lembut, Kartu B ucapan jujur/tidak menghasut).Mampu memilih dan mengucapkan kata yang hormat dan bijaksana secara tepat pada kedua kartu situasi Jataka (Kartu A dan Kartu B) sesuai acuan jawaban.Mampu memilih dan mengucapkan kata yang hormat dan bijaksana secara tepat pada kedua kartu situasi Jataka dengan lafal yang jelas, lancar, dan penuh keyakinan.
Praktik Sopan Santun di Rumah (TP 2.3.4)Lembar ceklis terisi kurang dari 3 butir atau belum ditandatangani orang tua.Lembar ceklis terisi 3-4 butir pembiasaan sopan santun dan telah ditandatangani orang tua.Lembar ceklis terisi lengkap 5 butir pembiasaan sopan santun di rumah dan telah divalidasi tanda tangan orang tua.Lembar ceklis terisi lengkap 5 butir pembiasaan sopan santun disertai catatan positif dari orang tua mengenai konsistensi sikap hormat anak di rumah.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 2 menit per murid pada tes lisan berjalan efektif mencakup seluruh murid dalam 56 menit?
  • Bagaimana tingkat keterlibatan orang tua dalam mengamati dan menandatangani lembar pembiasaan sopan santun murid di rumah?

Murid:

  • Bagian mana dari penilaian tadi yang paling mudah kamu lakukan: bersikap anjali, menjawab cerita Jataka, atau mempraktikkan sopan santun di rumah?
  • Apa tekadmu untuk terus bersikap hormat dan berkata baik kepada orang tua dan teman setiap hari?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek, 2021)
  2. Buku Teks Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek, 2021)
  3. Kisah Nandivisala Jataka (Jataka Pali No. 28)
  4. Set kartu ucapan kata hormat dan gambar situasi komunikasi lingkungan sekolah/rumah
  5. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek 2021).
  6. Buku Teks Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas II Bab III.
  7. Naskah kisah Serivanija Jataka (ringkasan ramah anak).
  8. Media kartu ucapan dan papan visual 'Pohon Ucapan Benar'.
  9. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II.
  10. Set kartu berpasangan aturan sopan santun dan situasi keharmonisan di sekolah serta rumah.
  11. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II, Kemendikbudristek 2021
  12. Buku Teks Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas II Bab 3
  13. Kartu gambar situasi kisah Jataka (Kartu A: Nandivisala Jataka, Kartu B: Burung Dara yang Bijaksana)
  14. Lembar observasi peragaan sopan santun kelas dan lembar ceklis pembiasaan sopan santun di rumah

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.