MODUL AJAR Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 1 (Fase A) Topik: Bab 7 — Bersikap Sopan INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti |
|---|
| Fase / Kelas | Fase A / Kelas 1 |
|---|
| Topik | Bab 7 — Bersikap Sopan |
|---|
| Alokasi Waktu | 13 JP (13 x 35 menit = 455 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 5 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 1.7.1 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan rumah
- TP 1.7.2 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah
- TP 1.7.3 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di tempat ibadah
- TP 1.7.4 Menemukan budaya komunikasi yang hormat dan bijaksana di lingkungannya berdasarkan kebijaksanaan dari kisah jataka
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana caramu menyapa atau berpamitan kepada orang tua saat hendak bepergian dari rumah?
- Mengapa kita perlu bertutur kata lembut dan bersikap hormat kepada anggota keluarga di rumah?
- Bagaimana caramu bersikap sopan saat guru masuk ke dalam ruang kelas?
- Apa yang kamu lakukan jika melihat temanmu tidak sengaja menjatuhkan pensilnya?
- Bagaimana sikap tubuh kita saat memasuki tempat ibadah/vihara?
- Mengapa kita harus tenang dan tidak berisik saat berada di ruang kebaktian (Dhammasala)?
- Bagaimana perasaanmu ketika seseorang berbicara dengan kata-kata yang kasar dan berteriak?
- Mengapa kita harus memilih kata-kata yang lembut dan bijaksana saat berbicara kepada orang lain seperti pesan dalam kisah Jataka?
- Bagaimanakah sikap tubuh dan ucapan kita saat menghormat di wihara dan menyapa bapak/ibu guru di sekolah?
- Kata santun apa yang kalian ingat dari kisah Jataka yang membuat orang lain merasa dihargai?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Praktik Aturan dan Sopan Santun di Lingkungan Rumah — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.7.1 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan rumah
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', mengajak murid duduk hening sejenak (mindful breathing) untuk menyadari napas masuk dan keluar, serta memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid memilih 1 dari 2 kartu perilaku rumah: Kartu A ('Bicara berteriak saat minta makan') atau Kartu B ('Mengucapkan tolong dengan lembut saat minta makan') mana yang merupakan sopan santun demi kerukunan rumah (acuan: Kartu B) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru membacakan teks bergambar tentang Wirya yang berpamitan dengan anjali kepada ibu ('Namo Buddhaya, Wirya berangkat ya, Bu') dan murid menyimak serta menirukan pesan bertata susila dan berucap lembut di rumah (10 menit).
- Guru memodelkan 3 perpaduan aturan sopan santun rumah dengan prinsip kerukunan: (1) Berpamitan dengan anjali/bersalaman agar orang tua tenang, (2) Berbicara lembut saat meminta bantuan agar suasana damai, (3) Mengetuk pintu dan mengucapkan salam sebelum masuk kamar agar saling menghargai (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Permainan 'Tepuk Anak Sopan di Rumah': Murid melakukan tepuk bergembira ('Prok prok prok, berpamitan santun; Prok prok prok, berucap lembut; Prok prok prok, rumah pun rukun!') untuk membangkitkan suasana riang (5 menit).
- Simulasi Berpasangan Memadukan Sopan Santun di Rumah: Setiap pasangan murid mempraktikkan 3 situasi aturan sopan santun keluarga: Situasi 1: Meminta tolong diambilkan air kepada kakak dengan kata santun 'Tolong ya, Kak' (tujuan rukun: kakak senang membantu); Situasi 2: Berpamitan kepada orang tua dengan sikap anjali/salam 'Namo Buddhaya, Ibu/Ayah' (tujuan rukun: orang tua merasa dihormati); Situasi 3: Meminta maaf saat tidak sengaja menyenggol adik 'Maafkan aku ya, Adik' (tujuan rukun: mencegah pertengkaran) (acuan ketepatan: memadukan ucapan/gerak sopan santun spesifik dengan tujuan menciptakan keharmonisan keluarga) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengisi Lembar Centang Refleksi Sikap Sopan di Rumah yang memuat 3 butir: (1) Menghormati orang tua dengan salam/anjali, (2) Berbicara lembut kepada saudara/keluarga, (3) Mengucapkan terima kasih/maaf (acuan: murid menandai tindakan yang telah dipadukan dengan kesadaran menjaga kerukunan rumah) (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik dan penguatan bahwa sopan santun di rumah adalah pelaksanaan sila yang mendatangkan berkah utama dan keharmonisan keluarga (5 menit).
- Guru bersama murid menutup pelajaran dengan pelimpahan jasa singkat dan salam penutup 'Namo Buddhaya' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Disediakan kartu bergambar situasi interaksi keluarga bagi murid yang membutuhkan bantuan visual konkret dalam mengenali aturan sopan santun di rumah.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan bimbingan langsung (scaffolding) berupa contoh kata sopan bertahap; bagi murid yang sudah cepat memadukan, diberikan tantangan mempraktikkan situasi tambahan (misalnya menyambut orang tua pulang kerja).
- Produk: Murid dapat menunjukkan pemaduan sopan santun secara lisan langsung atau melalui peragaan gestur tubuh (anjali/salam santun).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pilihan kartu perilaku: Murid diminta menentukan mana tindakan sopan yang menjaga keharmonisan rumah antara Kartu A ('Bicara berteriak saat minta makan') atau Kartu B ('Mengucapkan tolong dengan lembut saat minta makan') (acuan: Kartu B benar karena mencerminkan tata krama bertutur lembut yang mencegah ketegangan dalam keluarga).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja simulasi berpasangan memadukan praktik sopan santun di rumah pada 3 situasi: (1) Berpamitan santun (kata salam + anjali/salaman), (2) Meminta tolong/berbicara lembut (kata tolong/terima kasih), (3) Meminta maaf atas kekeliruan (kata maaf). Kriteria ketepatan: memadukan tindakan sopan santun tersebut dengan alasan pergaulan harmonis di rumah (acuan: seluruh 3 situasi diperagakan dengan ungkapan sopan dan mengarah pada kerukunan anggota keluarga).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan/tindakan singkat di akhir kegiatan: Guru menyebutkan situasi 'Ibu sedang sibuk menyiapkan makan malam, bagaimana caramu menyapa dan meminta izin mengambil minum?' (acuan jawaban: mendekat dengan tenang, berucap lembut 'Ibu, permisi bolehkah saya mengambil air minum?' yang menunjukkan perpaduan sopan santun demi pergaulan harmonis di rumah).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: memilih kartu perilaku sopan santun di rumah.
- Asesmen unjuk kerja proses: observasi simulasi memadukan praktik aturan dan sopan santun di rumah pada 3 situasi berpasangan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memadukan praktik aturan dan sopan santun di rumah | Belum mampu memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip pergaulan harmonis pada ketiga situasi di lingkungan rumah meski telah diarahkan guru. | Mampu memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip pergaulan harmonis di rumah pada 1 situasi secara tepat dengan bimbingan guru. | Mampu memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip pergaulan harmonis di rumah pada 2-3 situasi secara tepat secara mandiri. | Mampu memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip pergaulan harmonis di rumah pada seluruh 3 situasi secara konsisten dan tepat, serta lancar memperagakannya secara mandiri tanpa keraguan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah kegiatan simulasi bermain peran berpasangan efektif membantu murid kelas 1 memahami pentingnya sopan santun demi kerukunan di rumah?
- Bagian mana dari langkah pembelajaran yang paling membantu murid menumbuhkan kesadaran bertutur kata lembut kepada anggota keluarga?
Murid:- Bagaimana perasaanmu setelah belajar mengucapkan kata tolong dan berpamitan dengan sopan kepada orang tua?
- Sikap sopan apa yang akan kamu lakukan setibanya di rumah hari ini?
Pertemuan 2 — Praktik Aturan dan Sopan Santun di Lingkungan Sekolah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.7.2 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas dengan mengajak murid duduk hening sejenak, melatih kesadaran napas, dan mengucapkan salam Buddhis 'Namo Buddhaya' (5 menit).
- Guru mengajak murid melakukan 'Tepuk Anak Sopan' (Prok prok prok, bertata susila / Prok prok prok, bertutur kata baik / Prok prok prok, aku anak sopaaaan) untuk menciptakan suasana menggembirakan dan memusatkan konsentrasi (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan menunjukkan 2 kartu gambar: Gambar A (anak merapikan bangku bersama teman) dan Gambar B (anak berebut tempat duduk sambil berteriak), lalu meminta murid menunjuk gambar yang mencerminkan aturan sopan santun di sekolah (acuan: Gambar A adalah tindakan sopan yang menjaga keharmonisan kelas, Gambar B adalah tindakan tidak sopan) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak gambar dan cerita keteladanan tokoh Wirya di sekolah dari Buku Siswa yang dibacakan guru: berdiri menyambut guru, mendengarkan saat guru mengajar, membantu guru menghapus papan tulis, dan berterima kasih kepada guru (10 menit).
- Murid mengidentifikasi 4 perpaduan aturan sopan santun dan pergaulan harmonis di sekolah melalui bimbingan tanya jawab guru: (1) Salam anjali dan menyapa saat berpapasan dengan guru menciptakan rasa hormat; (2) Mendengarkan saat guru/teman berbicara menciptakan suasana tertib; (3) Meminjamkan alat tulis saat teman membutuhkan menciptakan kerukunan; (4) Berjalan tenang dan tidak berteriak di lorong kelas menciptakan kenyamanan bersama (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Secara berpasangan, murid memainkan 'Permainan Peran Gerak Cepat Sopan Santun' dengan memilih dan mempraktikkan 1 dari 3 skenario situasi sekolah: Skenario 1 (Berpapasan dengan guru di depan kelas -> mempraktikkan sikap salam anjali dan membungkukkan badan sedikit); Skenario 2 (Teman menjatuhkan kotak pensil -> mempraktikkan tindakan membantu memungutkan dan mengucapkan kata tolong/terima kasih); Skenario 3 (Ingin meminjam penghapus teman -> mempraktikkan meminta izin dengan tutur kata santun sebelum mengambil) (25 menit).
- Murid secara mandiri menyelesaikan lembar aktivitas menjodohkan 4 gambar situasi sekolah dengan teks praktik sopan santun yang sesuai: (1) Gambar anak beranjali di depan guru -> dipasangkan dengan 'Memberi salam anjali kepada guru'; (2) Gambar anak menyodorkan pensil -> dipasangkan dengan 'Meminjamkan pensil kepada teman'; (3) Gambar anak menghapus papan tulis -> dipasangkan dengan 'Membantu guru merapikan kelas'; (4) Gambar anak duduk tertib memperhatikan guru -> dipasangkan dengan 'Memperhatikan penjelasan guru' (acuan: keempat pasangan gambar-teks tersebut benar) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan perasaan setelah mempraktikkan aturan sopan santun di kelas, menyadari bahwa bersikap sopan santun dan mematuhi aturan membuat suasana belajar menjadi tenang, harmonis, dan membahagiakan (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap praktik memadukan aturan dan sopan santun di lingkungan sekolah yang telah dikerjakan murid (5 menit).
- Murid melakukan cek pemahaman akhir melalui tanya jawab singkat mengenai aturan sopan santun saat guru menerangkan di kelas, lalu menutup pembelajaran dengan salam penutup Buddhis 'Namo Buddhaya' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu gambar situasi dengan kode warna pemandu; murid yang mahir diberikan lembar gambar tanpa petunjuk teks bantuan.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan mempraktikkan gerakan sopan santun dengan dipandu langsung oleh guru; murid yang mahir mempraktikkan skenario simulasi secara mandiri bersama pasangannya.
- Produk: Murid yang belum lancar membaca menyelesaikan lembar kerja dengan menghubungkan garis warna antar-gambar situasi dan lambang tindakan sopan; murid yang sudah lancar membaca menghubungkan teks kalimat dengan gambar situasi.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik visual: Murid diminta menunjuk gambar yang mencerminkan aturan sopan santun di lingkungan sekolah dari 2 kartu gambar yang diperlihatkan (Gambar A: merapikan bangku bersama teman; Gambar B: berebut tempat duduk sambil berteriak). Kunci acuan: Gambar A adalah tindakan sopan yang menjaga keharmonisan kelas, Gambar B adalah tindakan tidak sopan.
Proses:- Observasi unjuk kerja simulasi berpasangan: Memeriksa kemampuan memadukan aturan dan sopan santun pada 3 skenario situasi sekolah (Skenario 1: salam anjali dan membungkuk saat bertemu guru; Skenario 2: membantu memungutkan pensil teman yang jatuh dengan ramah; Skenario 3: meminta izin secara santun saat meminjam penghapus). Kriteria: ketepatan gestur/sikap tubuh dan tutur kata santun sesuai skenario.
- Pemeriksaan lembar kerja menjodohkan 4 butir: (1) Gambar anak beranjali di depan guru -> dipasangkan dengan teks 'Memberi salam anjali kepada guru'; (2) Gambar anak menyodorkan pensil -> dipasangkan dengan teks 'Meminjamkan pensil kepada teman'; (3) Gambar anak menghapus papan tulis -> dipasangkan dengan teks 'Membantu guru merapikan kelas'; (4) Gambar anak duduk tertib -> dipasangkan dengan teks 'Memperhatikan penjelasan guru'. Kunci acuan: keempat pasangan harus tepat sesuai deskripsi gambar.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan 'Apa yang sebaiknya kita lakukan saat guru sedang menerangkan pelajaran agar kelas tetap harmonis?' Kunci acuan: murid menjawab mendengarkan/memperhatikan dengan tenang dan tertib tanpa membuat gaduh.
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja simulasi peran praktik aturan dan sopan santun di lingkungan sekolah secara berpasangan
- Pemeriksaan lembar kerja menjodohkan 4 gambar situasi sekolah dengan teks praktik aturan dan sopan santun
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memadukan praktik aturan dan sopan santun di lingkungan sekolah | Belum mampu memadukan praktik aturan dan sopan santun di lingkungan sekolah; belum tepat dalam simulasi peran maupun lembar kerja (0-1 pasangan tepat) meskipun dibimbing guru. | Mampu memadukan praktik aturan dan sopan santun di lingkungan sekolah pada simulasi peran atau menjodohkan 2 dari 4 butir gambar situasi dengan tepat dengan bimbingan guru. | Mampu memadukan praktik aturan dan sopan santun di lingkungan sekolah melalui simulasi peran secara mandiri dan menjodohkan 3 dari 4 butir gambar situasi dengan tepat sesuai acuan. | Mampu memadukan praktik aturan dan sopan santun di lingkungan sekolah secara konsisten, luwes pada seluruh simulasi peran, serta menjodohkan seluruh (4 dari 4) butir gambar situasi secara tepat dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas simulasi peran berpasangan efektif membantu murid kelas 1 memadukan aturan dan sikap sopan santun di sekolah?
- Bagaimana keterlibatan murid yang pemalu saat diajak mempraktikkan salam anjali dan bertegur sapa dengan teman?
Murid:- Bagaimana perasaanmu setelah belajar mempraktikkan sikap sopan kepada guru dan teman hari ini?
- Sikap sopan apa yang akan kamu lakukan di kelas besok pagi saat guru masuk?
Pertemuan 3 — Praktik Aturan dan Sopan Santun di Tempat Ibadah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.7.3 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di tempat ibadah
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam Namo Buddhaya dan mengajak murid melakukan gerak sadar hening (mindful breathing) selama 1 menit untuk menenangkan pikiran (5 menit).
- Guru bersama murid menyanyikan lagu 'Sekolah Minggu' dengan tepukan riang untuk membangkitkan suasana gembira (5 menit).
- Guru melakukan asesmen diagnostik singkat dengan memperlihatkan 3 kartu gambar perilaku: (A) Murid melepas sepatu dan menyusunnya di rak; (B) Murid berlari-lari di dalam Dhammasala; (C) Murid merangkapkan tangan bersikap anjali saat berpapasan dengan Bhante/Pandita. Murid diminta mengacungkan jempol ke atas jika gambar sopan atau jempol ke bawah jika tidak sopan (acuan jawaban: A = jempol ke atas/sopan; B = jempol ke bawah/tidak sopan; C = jempol ke atas/sopan) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mengamati gambar situasi pergaulan di vihara pada Buku Siswa (melepas alas kaki, sikap anjali saat menyapa Bhante/umat lain, duduk bertumpu/bersila hening saat kebaktian, dan menjaga kebersihan) (10 menit).
- Guru membimbing murid membacakan dan menirukan pesan kesopanan di vihara secara berkesadaran: 'Di vihara kita menjaga ketenangan, bersikap anjali dengan hormat, dan saling menyapa dengan damai' (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru menyiapkan simulasi mini 'Berkunjung ke Vihara' di dalam kelas, di mana terdapat pos pintu masuk (rak sepatu), pos berpapasan dengan rohaniwan/teman, dan area hening/Dhammasala (10 menit).
- Murid secara berkelompok (3-4 orang) memainkan 'Tantangan Anak Sopan di Vihara': memadukan aturan melepas dan merapikan alas kaki, berjalan tenang tanpa gaduh, serta mempraktikkan sikap anjali seraya mengucapkan 'Namo Buddhaya' saat berjumpa teman atau guru (20 menit).
- Secara bergantian setiap kelompok mempraktikkan sikap duduk bertumpu atau bersila dengan tertib dan tenang saat mendengarkan pembacaan paritta/pesan dhamma di area simulasi vihara (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru duduk melingkar dan merefleksikan perasaan setelah mempraktikkan sopan santun: 'Mengapa suasana di vihara terasa tenang dan damai bila semua umat mematuhi aturan dan saling bersikap sopan?' (10 menit).
- Murid menandai lembar komitmen pembiasaan diri dengan mewarnai gambar bintang pada 3 aturan utama di vihara: (1) Menata alas kaki dengan rapi, (2) Bersikap anjali dengan ramah, (3) Menjaga ketenangan di dalam Dhammasala (acuan: mewarnai ketiga gambar sebagai tanda bersedia memadukan aturan tersebut) (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap praktik memadukan aturan dan sikap sopan santun di tempat ibadah agar tercipta pergaulan yang harmonis antarumat (3 menit).
- Guru dan murid menutup pembelajaran dengan mengulang 'Tepuk Anak Sopan' bersama-sama dan mengucap salam penutup buddhis Namo Buddhaya (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan visual bergambar langkah sopan di vihara untuk murid yang membutuhkan bantuan visual konkret.
- Proses: Memberikan pendampingan fisik langsung bagi murid yang belum terbiasa merangkapkan anjali atau duduk tertib; memberi peran memimpin antrean bagi murid yang sudah mandiri.
- Produk: Murid dapat menunjukkan perpaduan sopan santun di tempat ibadah melalui demonstrasi langsung simulasi langkah masuk vihara atau melalui penyelesaian kartu pilihan bergambar urutan perilaku sopan di tempat ibadah.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan kompetensi awal melalui 3 kartu situasi di tempat ibadah: (1) Murid melepas sepatu dan menyusun di rak -> acuan: Sopan (jempol atas); (2) Murid berteriak dan berlari di Dhammasala -> acuan: Tidak sopan (jempol bawah); (3) Murid merangkapkan tangan bersikap anjali saat berjumpa Bhante -> acuan: Sopan (jempol atas). Target: murid membedakan ketiga situasi secara tepat.
Proses:- Lembar observasi praktik simulasi 'Tantangan Anak Sopan di Vihara'. Kriteria yang diamati: (1) Melepas dan menata sepatu di rak dengan rapi; (2) Berjalan tenang dan menjaga kesunyian di Dhammasala; (3) Mempraktikkan anjali (merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada) disertai salam hormat saat berpapasan. Penskoran: Memenuhi 3 indikator = Sangat Baik; 2 indikator = Cukup; 1 indikator = Perlu Bimbingan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan komitmen: Murid mengidentifikasi 3 tindakan benar saat di vihara pada lembar refleksi bergambar: (1) Merapikan sepatu di rak (Benar), (2) Bersikap anjali dengan hormat (Benar), (3) Tenang tidak bersuara keras di Dhammasala (Benar). Acuan: Murid menandai ketiga tindakan tersebut sebagai aturan yang wajib dipadukan saat berada di tempat ibadah.
Formatif:- Observasi unjuk kerja simulasi memadukan aturan dan sopan santun di tempat ibadah (melepas alas kaki, bersikap anjali, dan menjaga ketenangan)
- Cek diagnostik respon visual jempol terhadap gambar sopan dan tidak sopan di tempat ibadah
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memadukan praktik aturan dan sopan santun di tempat ibadah | Belum mampu mempraktikkan aturan merapikan alas kaki, sikap anjali, maupun menjaga ketenangan di tempat ibadah walau telah diberi bimbingan langsung. | Mampu mempraktikkan 1 dari 3 aturan sopan santun di tempat ibadah (merapikan alas kaki, anjali, atau menjaga ketenangan) dengan bantuan dan arahan guru. | Mampu memadukan minimal 2 dari 3 aturan sopan santun di tempat ibadah (merapikan alas kaki, bersikap anjali, menjaga ketenangan) secara mandiri dan tepat. | Mampu memadukan seluruh (3 dari 3) aturan dan sopan santun di tempat ibadah (merapikan alas kaki di rak, bersikap anjali dengan hormat, serta menjaga ketenangan suasana) secara konsisten dan mandiri tanpa diingatkan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur simulasi mini vihara di dalam kelas efektif memfasilitasi murid mempraktikkan perpaduan aturan dan sopan santun secara kontekstual?
- Bagian praktik mana yang paling menantang bagi murid kelas 1 (misalnya: konsistensi menahan diri agar tidak berlari/berisik di ruang kebaktian)?
Murid:- Apa yang kamu lakukan dengan sepatumu saat tiba di tempat ibadah/vihara?
- Bagaimana sikap tangan dan tubuhmu saat berpapasan dengan Bhante, guru, atau teman di vihara?
Pertemuan 4 — Menemukan Budaya Komunikasi yang Hormat dan Bijaksana dari Kisah Jataka — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.7.4 Menemukan budaya komunikasi yang hormat dan bijaksana di lingkungannya berdasarkan kebijaksanaan dari kisah jataka
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', mengajak murid duduk hening melatih kesadaran napas penuh selama satu menit, dan memeriksa kehadiran murid (4 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan membacakan 2 contoh ucapan singkat: (1) 'Ambilkan bukuku sekarang!' dan (2) 'Tolong bantu ambilkan bukuku, ya'. Murid diminta mengacungkan jempol ke atas jika ucapan itu sopan/hormat dan jempol ke bawah jika tidak sopan (acuan jawaban: ucapan 1 = jempol ke bawah/tidak sopan, ucapan 2 = jempol ke atas/sopan) (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyimak kisah Jataka untuk menemukan bentuk budaya komunikasi yang hormat dan bijaksana di lingkungan sekitar (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid menyimak guru membacakan kisah Jataka 'Kisah Nandivisala' (lembu yang menarik 100 gerobak karena diajak bicara dengan kata-kata manis dan hormat oleh tuannya, setelah sebelumnya mogok karena dibentak dengan sebutan 'si bodoh pemalas') berbantukan media gambar cerita (12 menit).
- Murid bersama guru mengidentifikasi kata-kata yang digunakan tokoh dalam kisah: ucapan kasar ('si bodoh pemalas') yang menimbulkan rasa sedih/marah, serta ucapan hormat dan bijaksana ('anakku yang kuat dan baik') yang membuat lembu bersemangat dan bahagia (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan tantangan interaktif 'Memilih Kata Bijak Nandivisala': guru memperlihatkan 4 kartu situasi bergambar ucapan di lingkungan sekitar, yaitu: (1) Meminta pensil yang jatuh: Kartu A 'He, kasih pensil itu!' vs Kartu B 'Tolong ambilkan pensilku'; (2) Saat diberi kue oleh teman: Kartu A 'Terima kasih' vs Kartu B 'Cuma ini saja?'; (3) Berjalan di depan guru/orang tua: Kartu A 'Permisi, lewat sebentar' vs Kartu B (menerobos diam-diam); (4) Tidak sengaja menabrak teman: Kartu A 'Kamu sih salah!' vs Kartu B 'Maaf, saya tidak sengaja'. Murid berlomba mengangkat kartu huruf kata bijak yang hormat (acuan kunci pilihan tepat: situasi 1 = Kartu B; situasi 2 = Kartu A; situasi 3 = Kartu A; situasi 4 = Kartu B) (12 menit).
- Murid secara mandiri menyelesaikan lembar kerja bergambar untuk menemukan dan melingkari 3 contoh budaya komunikasi yang hormat di lingkungan sekitar berdasarkan hikmah kisah Jataka dari 4 pilihan yang disajikan: Pilihan 1: Menyapa dengan ucapan 'Namo Buddhaya/Selamat pagi'; Pilihan 2: Mengucapkan 'Tolong' saat butuh bantuan; Pilihan 3: Mengejek nama teman; Pilihan 4: Mengucapkan 'Terima kasih' saat dibantu (acuan jawaban benar: melingkari Pilihan 1, 2, dan 4; tidak melingkari Pilihan 3) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid diajak merenungkan secara sadar perasaan mereka saat mendengar kata-kata yang lembut dibandingkan kata-kata kasar, lalu mengungkapkan satu kata bijak yang akan selalu mereka biasakan saat berbicara kepada orang tua, guru, dan teman (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa berbicara hormat, santun, dan bijaksana membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi semua makhluk sebagaimana teladan Bodhisattva dalam kisah Jataka (5 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas partisipasi murid, mengingatkan persiapan unjuk kerja untuk asesmen sumatif pertemuan berikutnya, dan menutup kelas dengan doa bersama serta salam Buddhis 'Namo Buddhaya' (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang memerlukan bantuan visual, cerita Jataka disajikan dengan gambar tokoh berwarna berukuran besar; bagi murid yang sudah lancar membaca, disediakan kutipan teks dialog tokoh.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan peraga visual simbol jempol dan senyuman saat menemukan kata hormat, sedangkan murid yang cepat diarahkan langsung menemukan bentuk kalimat santun alternatif pada situasi lingkungan rumah.
- Produk: Murid dapat menunjukkan bentuk komunikasi hormat dan bijaksana secara lisan langsung, menunjuk gambar pilihan, atau melingkari lembar pilihan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan diagnostik respons jempol terhadap 2 contoh ucapan yang dibacakan guru: (1) 'Ambilkan bukuku sekarang!' (acuan: jempol bawah/tidak sopan); (2) 'Tolong bantu ambilkan bukuku, ya' (acuan: jempol atas/sopan hormat).
Proses:- Pengamatan keterlibatan murid pada permainan 'Memilih Kata Bijak Nandivisala' dengan 4 kartu situasi (acuan ketepatan: kartu 1 = B 'Tolong ambilkan...', kartu 2 = A 'Terima kasih', kartu 3 = A 'Permisi...', kartu 4 = B 'Maaf, saya tidak sengaja').
- Pemeriksaan lembar kerja penemuan 3 budaya komunikasi hormat dan bijaksana di lingkungan sekitar dari 4 opsi bergambar (acuan: murid tepat memilih dan melingkari opsi 1 Menyapa sopan, opsi 2 Mengucapkan tolong, dan opsi 4 Mengucapkan terima kasih, serta tidak melingkari opsi 3 Mengejek).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi melalui pertanyaan reflektif: 'Sebutkan 1 kata bijak yang kamu pilih dari kisah Jataka hari ini untuk kamu ucapkan kepada temanmu!' (Kriteria penerimaan: murid menyebutkan salah satu dari kata komunikasi hormat: 'tolong', 'terima kasih', 'maaf', atau salam 'Namo Buddhaya/Selamat pagi').
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan respons jempol atas/bawah pada 2 contoh ucapan di awal pertemuan
- Observasi partisipasi dan lembar ceklis penemuan komunikasi hormat dan bijaksana pada lembar kerja bergambar
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menemukan budaya komunikasi yang hormat dan bijaksana berdasarkan kisah Jataka | Belum mampu menemukan contoh budaya komunikasi yang hormat dan bijaksana dari pilihan yang diberikan (0 dari 3 acuan tepat: salam sopan, tolong, terima kasih). | Menemukan 1 dari 3 contoh budaya komunikasi yang hormat dan bijaksana sesuai acuan kisah Jataka dengan bimbingan penuh guru. | Menemukan 2 hingga 3 contoh budaya komunikasi yang hormat dan bijaksana sesuai acuan (salam sopan, tolong, terima kasih) secara mandiri. | Menemukan seluruh 3 contoh budaya komunikasi yang hormat dan bijaksana sesuai acuan secara konsisten, cepat, dan mandiri tanpa kesalahan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah kisah Jataka Nandivisala yang disajikan berhasil memantik pemahaman murid tentang dampak nyata ucapan kasar versus ucapan hormat?
- Bagaimana keterlibatan aktif murid kelas 1 saat melakukan tantangan memilih kartu komunikasi bijaksana?
Murid:- Bagian cerita mana dari kisah lembu Nandivisala yang paling kamu sukai?
- Kata hormat apa yang paling sering ingin kamu gunakan saat berbicara dengan teman dan keluargamu?
Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.7.1 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan rumah
- TP 1.7.2 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah
- TP 1.7.3 Memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di tempat ibadah
- TP 1.7.4 Menemukan budaya komunikasi yang hormat dan bijaksana di lingkungannya berdasarkan kebijaksanaan dari kisah jataka
Pendahuluan:- Guru membuka sesi dengan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', mengajak murid duduk hening sejenak menyadari napas selama 1 menit untuk menumbuhkan ketenangan, serta memeriksa kehadiran murid (3 menit).
- Guru menjelaskan agenda kegiatan hari ini, yaitu pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 7 berupa unjuk kerja demonstrasi sopan santun secara bergiliran serta pengumpulan lembar portofolio pembiasaan rumah (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru memberikan penjelasan alur asesmen unjuk kerja: setiap murid bergiliran maju ke meja guru selama 3 menit untuk memperagakan sikap sopan di wihara dan sekolah serta merespons pertanyaan lisan kisah Jataka, sedangkan murid yang menunggu giliran duduk tertib mewarnai gambar etika Buddhis (anak sedang bersikap anjali di depan altar) (3 menit).
- Guru membagikan lembar aktivitas mewarnai gambar etika Buddhis kepada seluruh murid sebagai kegiatan penyerta yang hening dan tertib selama proses rotasi unjuk kerja berlangsung (2 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas 1: Guru mengumpulkan dan memeriksa kelengkapan Lembar Ceklis Portofolio Pembiasaan Sopan Santun di Rumah yang telah diisi oleh orang tua murid selama 1 pekan penuh (mencakup 3 butir: (1) mengucapkan salam/pamit, (2) patuh pada aturan keluarga, (3) bertutur kata lemah lembut/santun kepada orang tua dan keluarga) (15 menit).
- Tugas 2: Pelaksanaan unjuk kerja demonstrasi mandiri dan tanya jawab lisan secara bergiliran di meja guru dengan durasi 3 menit per murid untuk 28 murid kelas 1 (total 84 menit) ditambah waktu transisi rotasi (6 menit), meliputi 3 stasiun tugas: (a) Peragaan di tempat ibadah: memperagakan sikap anjali (kedua telapak tangan merapat di depan dada setinggi ulu hati/dada dengan ujung jari mengarah ke atas) dan namaskara (bersujud lima titik bertumpu: dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari kaki menyentuh lantai); (b) Simulasi di lingkungan sekolah: mempraktikkan menyapa guru dengan salam santun ('Selamat pagi/siang Ibu/Bapak Guru, Namo Buddhaya') atau mempraktikkan tutur kata santun meminjam pensil teman ('Bolehkah saya meminjam pensilmu? Terima kasih'); (c) Respon lisan kisah Jataka: menyebutkan 1 contoh kata/tutur kata santun yang dipelajari dari kisah Jataka (pilihan jawaban yang diterima: kata 'tolong', kata 'terima kasih', kata 'maaf', atau ucapan lemah lembut yang tidak menyakiti hati) (70 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan jalannya asesmen sumatif yang telah dilaksanakan secara mandiri, jujur, dan berkesadaran penuh dalam menunjukkan sopan santun (3 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi dan umpan balik umum kepada seluruh murid atas ketertiban, kemandirian, dan kesungguhan dalam menyelesaikan seluruh rangkaian unjuk kerja dan tugas portofolio Bab 7 (3 menit).
- Guru menutup seluruh rangkaian pembelajaran Bab 7 dengan doa bersama dan salam penutup 'Namo Buddhaya' (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi format penyampaian instruksi secara visual dan lisan sederhana bagi murid yang memerlukan penegasan langkah peragaan tanpa mengubah indikator ketercapaian kompetensi.
- Proses: Pemberian waktu jeda tarik napas hening bagi murid yang menunjukkan kecemasan saat dipanggil maju ke meja guru agar dapat memperagakan gerak dan tutur kata secara tenang.
- Produk: Standar bukti unjuk kerja dan lembar ceklis portofolio bersifat seragam sesuai acuan ATP tanpa penurunan maupun penambahan kriteria kompetensi.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Guru memeriksa kesiapan fisik dan ketenangan batin murid secara visual saat hening awal serta memeriksa ketersediaan lembar portofolio rumah yang dibawa murid sebelum asesmen dimulai (kriteria kesiapan: membawa lembar portofolio dan mampu duduk hening siap menyimak instruksi).
Proses:- Pemantauan ketertiban dan kemandirian murid saat menyelesaikan lembar mewarnai etika Buddhis di meja masing-masing sembari menunggu giliran maju demonstrasi ke meja guru.
Sumatif Bab:- Unjuk kerja demonstrasi terpadu dan portofolio pembiasaan rumah: Peragaan sikap sopan santun (anjali/namaskara, menyapa guru, tutur kata santun kisah Jataka) di sekolah serta lembar ceklis pembiasaan sopan santun di rumah
- Penilaian portofolio pembiasaan: Lembar ceklis harian pembiasaan salam, kepatuhan aturan keluarga, dan tutur kata santun anak di rumah yang diisi orang tua selama 1 pekan lalu dikumpulkan (15 menit; individual; instrumen: Lembar observasi dan ceklis pembiasaan sopan santun di rumah)
- Unjuk kerja dan tanya jawab lisan bergiliran: Kinerja tiap murid dinilai 3 menit per murid secara rotasi ke meja guru (memperagakan anjali/namaskara di tempat ibadah, simulasi menyapa guru/meminjam barang di sekolah, serta menyebutkan 1 contoh kata santun dari kisah Jataka) sementara murid lain mewarnai gambar etika Buddhis (90 menit / 3 menit = 30 murid, muat 28 murid satu kelas) (90 menit; individual; instrumen: Rubrik unjuk kerja demonstrasi sopan santun dan respon lisan kisah Jataka)
Sumatif:- Unjuk kerja demonstrasi terpadu dan portofolio pembiasaan rumah: Peragaan sikap sopan santun (anjali/namaskara, menyapa guru, tutur kata santun kisah Jataka) di sekolah serta lembar ceklis pembiasaan sopan santun di rumah
- Penilaian portofolio pembiasaan: Lembar ceklis harian pembiasaan salam, kepatuhan aturan keluarga, dan tutur kata santun anak di rumah yang diisi orang tua selama 1 pekan lalu dikumpulkan (15 menit; individual; instrumen: Lembar observasi dan ceklis pembiasaan sopan santun di rumah)
- Unjuk kerja dan tanya jawab lisan bergiliran: Kinerja tiap murid dinilai 3 menit per murid secara rotasi ke meja guru (memperagakan anjali/namaskara di tempat ibadah, simulasi menyapa guru/meminjam barang di sekolah, serta menyebutkan 1 contoh kata santun dari kisah Jataka) sementara murid lain mewarnai gambar etika Buddhis (90 menit / 3 menit = 30 murid, muat 28 murid satu kelas) (90 menit; individual; instrumen: Rubrik unjuk kerja demonstrasi sopan santun dan respon lisan kisah Jataka)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Praktik Sopan Santun di Rumah (Portofolio TP 1.7.1) | Hanya 1 butir pembiasaan di rumah (dari 3 butir: salam, patuh aturan, tutur kata santun) yang terlaksana berdasarkan lembar ceklis orang tua. | Terlaksana 2 butir pembiasaan di rumah (dari 3 butir: salam, patuh aturan, tutur kata santun) berdasarkan lembar ceklis orang tua. | Terlaksana seluruh 3 butir pembiasaan di rumah (salam/pamit, patuh aturan keluarga, tutur kata santun) secara konsisten berdasarkan lembar ceklis orang tua. | Terlaksana seluruh 3 butir pembiasaan di rumah (salam/pamit, patuh aturan keluarga, tutur kata santun) secara konsisten disertai catatan mandiri inisiatif murid dari orang tua. | | Praktik Sopan Santun di Sekolah (Unjuk Kerja TP 1.7.2) | Belum mampu mempraktikkan sapaan hormat kepada guru atau tutur kata santun meminjam barang di sekolah meskipun telah dibimbing. | Mampu mempraktikkan sapaan kepada guru ('Selamat pagi/Namo Buddhaya') atau tutur kata santun meminjam pensil ('Boleh pinjam/tolong/terima kasih') namun masih terbata-bata dan dengan bantuan pengingat guru. | Mampu mempraktikkan sapaan kepada guru ('Selamat pagi/Namo Buddhaya') dan tutur kata santun meminjam barang ('Bolehkah saya pinjam, tolong, terima kasih') secara mandiri dan tepat. | Mampu mempraktikkan sapaan kepada guru dan tutur kata santun meminjam barang secara mandiri, lancar, dan bersikap santun sempurna. | | Praktik Sopan Santun di Tempat Ibadah (Unjuk Kerja TP 1.7.3) | Belum mampu memperagakan sikap anjali maupun posisi namaskara dengan tepat di tempat ibadah. | Mampu memperagakan sikap anjali (kedua telapak merapat di dada), tetapi posisi namaskara belum memenuhi 5 titik sentuh lantai (dahi, telapak tangan, lutut, ujung kaki). | Mampu memperagakan kedua gerakan dengan tepat: sikap anjali (kedua telapak merapat di depan dada) dan namaskara (bersujud tepat dengan 5 titik sentuh: dahi, kedua telapak, lutut, dan ujung jari kaki). | Mampu memperagakan kedua gerakan anjali dan namaskara 5 titik sentuh secara tepat, tertib, tenang, dan berkesadaran penuh tanpa ragu. | | Budaya Komunikasi Hormat Kisah Jataka (Respon Lisan TP 1.7.4) | Belum mampu menyebutkan contoh kata/tutur kata santun yang dipelajari dari kisah Jataka meskipun telah diberi pilihan. | Mampu menyebutkan 1 contoh kata santun berdasarkan kisah Jataka setelah diberikan petunjuk/stimulus oleh guru (acuan pilihan: kata 'tolong', 'terima kasih', 'maaf', atau 'berbicara lemah lembut'). | Mampu menyebutkan secara mandiri dan tepat 1 contoh kata santun dari kisah Jataka (acuan: kata 'tolong', 'terima kasih', 'maaf', atau 'berbicara lemah lembut'). | Mampu menyebutkan secara mandiri lebih dari 1 contoh kata santun dari kisah Jataka (acuan: menyebutkan kombinasi kata 'tolong', 'terima kasih', 'maaf', atau 'tutur kata lemah lembut') secara spontan dan tepat. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pengelolaan waktu rotasi 3 menit per murid pada unjuk kerja individu berjalan efektif dan tertib?
- Bagaimanakah ketercapaian murid kelas 1 dalam memadukan sopan santun di ketiga lingkungan (rumah, sekolah, tempat ibadah) dan mengadopsi tutur kata santun kisah Jataka?
Murid:- Sikap sopan mana yang paling mudah dan senang kalian lakukan hari ini?
- Apakah kalian berjanji untuk selalu bersikap sopan dan bertutur kata lemah lembut setiap hari?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I (Kemendikbudristek 2021), Bab 7: Bersikap Sopan
- Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I (Kemendikbudristek 2021), Bab 7: Bersikap Sopan
- Kartu bergambar aktivitas sopan santun di rumah (berpamitan, berucap lembut, meminta tolong, memaafkan)
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I, Kemendikbudristek 2021
- Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I, Kemendikbudristek 2021 (Bab 7)
- Kartu bergambar contoh perbuatan sopan dan tertib di lingkungan sekolah
- Lembar kerja menjodohkan gambar aturan sopan santun di sekolah
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021
- Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021 (Bab 7)
- Gambar/foto situasi di vihara (rak sepatu, altar, Dhammasala, umat bersikap anjali)
- Set simulasi kelas: penanda pintu masuk vihara, rak sepatu, dan matras duduk hening
- Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Kitab Cerita Jataka (Kisah Lembu Nandivisala / Nandivisāla Jātaka).
- Kartu bergambar situasi komunikasi hormat dan santun.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I (Kemendikbudristek, 2021)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I (Kemendikbudristek, 2021) Bab 7 'Bersikap Sopan'
- Lembar Ceklis Portofolio Pembiasaan Sopan Santun di Rumah
- Lembar Kerja Mewarnai Gambar Etika Buddhis (Sikap Anjali)
- Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Demonstrasi dan Respon Lisan
|