Modul AjarBab 4Fase ASemester 1

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 1 Bab 4: Menghargai Sesama

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 1 untuk Bab 4 "Menghargai Sesama", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 1 Bab 4: Menghargai Sesama

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 1

Bab 4

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 1 (Fase A)

Topik: Bab 4 — Menghargai Sesama

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase A / Kelas 1
TopikBab 4 — Menghargai Sesama
Alokasi Waktu11 JP (11 x 35 menit = 385 menit)
Jumlah Pertemuan4
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 1.4.1 Menemukan budaya komunikasi yang hormat di lingkungannya berdasarkan kisah jataka Burung Gagak dan Burung Hantu
  2. TP 1.4.2 Menemukan budaya komunikasi yang bijaksana di lingkungannya berdasarkan kisah jataka Burung Gagak dan Burung Hantu
  3. TP 1.4.3 Memadukan praktik aturan dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah
  4. TP 1.4.4 Memadukan praktik sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa✓
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana perasaan kita jika ada teman yang berbicara dengan suara mengejek atau membentak?
  2. Apa kata-kata santun yang membuat teman merasa dihargai saat berbicara dengan kita?
  3. Bagaimana ucapan burung gagak dalam cerita ketika ia tidak setuju?
  4. Apa yang terjadi jika kita berbicara kasar saat berbeda pendapat dengan teman?
  5. Bagaimana cara kita berbicara yang bijaksana ketika menyampaikan pendapat di kelas atau di rumah?
  6. Aturan apa saja yang harus kita patuhi saat belajar dan bermain bersama teman di sekolah?
  7. Bagaimana sikap sopan santun kita kepada teman agar suasana di kelas tetap rukun dan harmonis?
  8. Bagaimana cara kita memberi salam anjali yang sopan dan tertib saat bertemu guru dan teman di sekolah?
  9. Kata-kata baik apa yang dapat kita ucapkan agar teman tidak bertengkar seperti kisah Burung Gagak dan Burung Hantu?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menemukan Budaya Komunikasi yang Hormat Berdasarkan Kisah Jataka Burung Gagak dan Burung Hantu — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.4.1 Menemukan budaya komunikasi yang hormat di lingkungannya berdasarkan kisah jataka Burung Gagak dan Burung Hantu

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Namo Buddhaya, menyapa murid dengan ramah, dan mengajak murid duduk hening sejenak menyadari napas masuk dan keluar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu menemukan budaya komunikasi yang hormat di lingkungan sekitar berdasarkan kisah Jataka Burung Gagak dan Burung Hantu (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal lisan dengan menampilkan 2 gambar contoh ucapan untuk mengecek pemahaman dasar cara bicara yang hormat: (1) Gambar anak menyapa 'Selamat pagi, Bu Guru' dan (2) Gambar anak berteriak 'Hei, cepat ke sini!' lalu meminta murid memilih mana ucapan yang hormat (acuan jawaban: gambar 1 adalah ucapan yang hormat karena menggunakan sapaan santun) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Guru membacakan kisah Jataka Burung Gagak dan Burung Hantu menggunakan boneka tangan burung gagak dan burung hantu, dengan penekanan pada peristiwa burung gagak yang berteriak kasar menolak burung hantu sehingga memicu permusuhan di antara mereka (3 menit).
  • Murid bersama guru mengidentifikasi cara bicara burung gagak dalam cerita: nada membentak, kalimat menghina, dan tidak menghargai sesama burung saat pemilihan pemimpin (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Guru memandu permainan interaktif 'Kartu Kata Santun', di mana murid dibagi menjadi kelompok kecil dan menerima 4 kartu berisi kalimat ucapan: (1) 'Boleh aku pinjam pensilmu?', (2) 'Kamu jelek sekali!', (3) 'Terima kasih sudah membantuku', dan (4) 'Minggir sana, jangan halangi jalanku!' (12 menit).
  • Setiap kelompok berdiskusi menempelkan kartu-kartu tersebut ke dalam dua kotak di papan tulis: Kotak Komunikasi Hormat dan Kotak Komunikasi Tidak Hormat (acuan kunci: Kotak Hormat berisi kalimat 1 dan 3; Kotak Tidak Hormat berisi kalimat 2 dan 4) (15 menit).
  • Murid menghubungkan kalimat hormat dari permainan tadi dengan budaya komunikasi di lingkungan kelas sehari-hari melalui latihan lisan memilih tanggapan yang hormat ketika diajak bicara oleh teman (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid diajak merenungkan akibat dari perkataan kasar burung gagak yang menyebabkan permusuhan, dibandingkan dengan ketenangan yang muncul saat menggunakan kata-kata yang hormat di kelas (10 menit).
  • Murid menyebutkan 1 ucapan hormat yang akan dipraktikkan saat berbicara dengan teman di sekolah hari ini (acuan: ucapan maaf, tolong, terima kasih, atau sapaan ramah) (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa kisah Burung Gagak dan Burung Hantu mengajarkan agar kita menjauhi kata-kata kasar dan selalu membiasakan komunikasi yang hormat kepada sesama (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan positif atas partisipasi murid dan menutup pembelajaran dengan pelimpahan jasa serta salam Namo Buddhaya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu dengan simbol warna hijau (hormat) dan merah (tidak hormat) bergambar ekspresi wajah ramah/marah bagi murid yang masih tahap awal membaca.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung kepada murid yang membutuhkan panduan mengeja kalimat pada kartu, sedangkan murid yang sudah lancar membaca dapat langsung mengelompokkan secara mandiri.
  • Produk: Murid dapat menyampaikan hasil penemuannya secara lisan menyebutkan kalimat hormat atau menempelkan kartu pada bagan kotak.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik lisan memilih 1 dari 2 contoh ucapan yang merupakan cara bicara hormat. Pertanyaan: 'Manakah ucapan yang hormat: (A) Selamat pagi Bu Guru, atau (B) Hei cepat ke sini?' (acuan: pilihan A adalah komunikasi hormat, pilihan B tidak hormat).

Proses:

  • Formatif mengelompokkan 4 kartu ucapan ke kategori Komunikasi Hormat vs Tidak Hormat. Butir: (1) 'Boleh aku pinjam pensilmu?', (2) 'Kamu jelek sekali!', (3) 'Terima kasih sudah membantuku', (4) 'Minggir sana, jangan halangi jalanku!' (Acuan: kartu 1 dan 3 = Komunikasi Hormat; kartu 2 dan 4 = Komunikasi Tidak Hormat; minimal 3 kartu dikelompokkan secara tepat).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir pembelajaran: Murid diminta menyebutkan contoh kata hormat di lingkungan sekolah berdasarkan refleksi kisah Jataka (kriteria penerimaan: menyebutkan kata 'terima kasih', 'tolong', 'maaf', atau kalimat sapaan ramah).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja mengelompokkan 4 kartu ucapan ke kotak Komunikasi Hormat dan Kotak Komunikasi Tidak Hormat
  • Tanya jawab lisan penemuan bentuk komunikasi hormat di kelas

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menemukan budaya komunikasi yang hormat di lingkungannyaBelum mampu menemukan contoh kalimat komunikasi hormat dari 4 kartu yang disediakan walau dibimbing guru.Menemukan 1-2 kartu kalimat komunikasi hormat dengan bimbingan guru (acuan: kartu 1 'Boleh aku pinjam pensilmu?' dan kartu 3 'Terima kasih sudah membantuku').Menemukan 3-4 kartu kalimat komunikasi hormat secara tepat dengan bantuan minimal.Menemukan seluruh 4 kartu kalimat komunikasi hormat secara tepat dan mandiri, serta mampu memberikan 1 contoh tambahan komunikasi hormat di kelas secara tepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah media cerita boneka tangan berhasil membantu murid Fase A memahami perbedaan komunikasi hormat dan tidak hormat?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas permainan Kartu Kata Santun?

Murid:

  • Apakah kamu senang mendengar kisah Burung Gagak dan Burung Hantu?
  • Kata hormat apa yang paling ingin kamu ucapkan kepada temanmu hari ini?

Pertemuan 2 — Menemukan Budaya Komunikasi yang Bijaksana Berdasarkan Kisah Jataka Burung Gagak dan Burung Hantu — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.4.2 Menemukan budaya komunikasi yang bijaksana di lingkungannya berdasarkan kisah jataka Burung Gagak dan Burung Hantu

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam Buddhis 'Namo Buddhaya', mengajak murid berdoa bersama secara hening, dan memeriksa kehadiran murid (3 menit).
  • Guru mengaitkan materi sebelumnya tentang kisah Jataka Burung Gagak dan Burung Hantu serta menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menemukan cara berbicara/berkomunikasi yang bijaksana di lingkungan sekitar (4 menit).
  • Guru melakukan asesmen diagnostik lisan dengan menanyakan 2 situasi sederhana: (1) 'Saat Gagak marah dan berteriak menolak Burung Hantu, apakah cara bicaranya membawa perdamaian atau permusuhan?' (acuan: permusuhan/pertengkaran); (2) 'Jika kita tidak setuju dengan teman, apakah berbicara bijaksana itu dengan berteriak mengejek atau menyampaikan alasan secara tenang?' (acuan: menyampaikan alasan secara tenang) (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru membacakan kembali penggalan kisah Jataka Burung Gagak dan Burung Hantu menggunakan boneka tangan burung, menyoroti perbedaan cara komunikasi burung gagak yang kasar/mengejek lawan bicaranya dengan Bodhisattva (Angsa Emas) yang membawa kedamaian (8 menit).
  • Murid bersama guru mengidentifikasi ciri-ciri ucapan bijaksana vs tidak bijaksana berdasarkan kisah melalui peragaan mini: ucapan bijaksana membawa kerukunan dan tidak melukai orang lain, sedangkan ucapan kasar memicu pertengkaran (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid bermain tantangan berpasangan 'Tebak Kartu Komunikasi Bijaksana' di mana guru membacakan 4 pernyataan situasi di lingkungan sekolah/rumah lalu murid mengangkat kartu 'Wajah Senyum' untuk komunikasi bijaksana atau 'Wajah Sedih' untuk komunikasi tidak bijaksana. Daftar 4 pernyataan: (1) Menyela dan mengejek teman yang sedang berbicara; (2) Menyampaikan ketidaksetujuan secara tenang dengan berkata 'Permisi, saya punya usul lain'; (3) Membentak teman yang tidak sengaja menjatuhkan pensil; (4) Mengingatkan teman dengan lembut 'Hati-hati, nanti jatuh' (acuan jawaban: (1) Wajah Sedih / Tidak Bijaksana; (2) Wajah Senyum / Bijaksana; (3) Wajah Sedih / Tidak Bijaksana; (4) Wajah Senyum / Bijaksana) (12 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja bergambar yang memuat 4 situasi komunikasi sehari-hari, memberi tanda centang pada gambar yang menunjukkan budaya komunikasi bijaksana: Gambar A (anak berbisik mengejek teman saat diskusi); Gambar B (anak mengangkat tangan dan berbicara sopan saat berbeda pendapat); Gambar C (anak berteriak marah karena kalah bermain); Gambar D (anak berkata jujur dan menenangkan teman) (acuan kunci centang: Gambar B dan Gambar D) (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk hening sejenak sambil menarik dan menghembuskan napas sadar penuh, merenungkan ucapan apa yang mereka pilih saat berbicara dengan keluarga atau teman hari ini (5 menit).
  • Guru memfasilitasi 2-3 murid untuk menemukan dan menyebutkan satu contoh kalimat bijaksana yang akan mereka gunakan di kelas ketika tidak sependapat dengan kawan (acuan kriteria: menyebutkan ucapan yang tenang, tidak mengejek, dan bermaksud mendamaikan/menghargai) (8 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pelajaran bahwa meneladani kisah Jataka mengajarkan kita untuk selalu menggunakan komunikasi yang bijaksana demi mencegah permusuhan (Dhammapada bait 6) (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aktif murid, dan menutup pembelajaran dengan pelimpahan jasa serta salam penutup 'Namo Buddhaya' (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan visualisasi konkret berupa kartu gambar ekspresi tokoh burung dan kartu situasi bergambar bagi murid yang membutuhkan dukungan visual.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru melalui pembacaan teks situasi berulang secara perlahan, sedangkan murid yang cepat diminta menentukan alasan mengapa situasi tersebut tergolong komunikasi bijaksana.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan temuan komunikasi bijaksana baik dengan memberi tanda centang pada lembar gambar maupun menunjuk langsung kartu gambar situasi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan pada pendahuluan: (1) 'Saat Gagak marah dan berteriak menolak Burung Hantu, apakah cara bicaranya membawa perdamaian atau permusuhan?' (acuan: permusuhan/pertengkaran); (2) 'Jika kita tidak setuju dengan teman, apakah berbicara bijaksana itu dengan berteriak mengejek atau menyampaikan alasan secara tenang?' (acuan: menyampaikan alasan secara tenang).

Proses:

  • Penilaian ketepatan respon murid pada 4 butir kartu situasi komunikasi bijaksana vs tidak bijaksana: (1) Menyela dan mengejek teman yang sedang berbicara (acuan: Tidak Bijaksana); (2) Menyampaikan ketidaksetujuan secara tenang dengan berkata 'Permisi, saya punya usul lain' (acuan: Bijaksana); (3) Membentak teman yang tidak sengaja menjatuhkan pensil (acuan: Tidak Bijaksana); (4) Mengingatkan teman dengan lembut 'Hati-hati, nanti jatuh' (acuan: Bijaksana). Target tuntas: minimal 3 dari 4 butir tepat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri lembar kerja bergambar: memberi tanda centang pada komunikasi bijaksana dari 4 gambar yang disajikan: Gambar A (mengejek teman), Gambar B (mengangkat tangan & bicara sopan saat beda pendapat), Gambar C (berteriak marah), Gambar D (menenangkan teman) (acuan kunci: Gambar B dan Gambar D). Target tuntas: kedua gambar tepat dipilih.

Formatif:

  • Observasi unjuk respon murid saat permainan kartu respon 'Tebak Kartu Komunikasi Bijaksana'
  • Pemeriksaan ketepatan hasil kerja murid pada lembar kerja 4 gambar situasi komunikasi sehari-hari

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menemukan budaya komunikasi yang bijaksana berdasarkan kisah JatakaBelum mampu menemukan contoh komunikasi bijaksana pada situasi yang disajikan (0-1 dari 4 butir acuan situasi tepat).Mulai mampu menemukan contoh komunikasi bijaksana pada situasi yang disajikan dengan bimbingan intensif guru (2 dari 4 butir acuan situasi tepat).Mampu menemukan contoh komunikasi bijaksana pada situasi di lingkungannya secara tepat dan mandiri (minimal 3 dari 4 butir acuan situasi tepat).Mampu menemukan seluruh contoh komunikasi bijaksana pada situasi di lingkungannya secara konsisten, tepat, dan mandiri (4 dari 4 butir acuan situasi tepat).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan kisah Jataka Burung Gagak dan Burung Hantu berhasil memfasilitasi murid kelas 1 memahami konsep komunikasi yang bijaksana?
  • Bagaimana keterlibatan murid saat kegiatan interaktif permainan kartu situasi berlangsung?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu setelah belajar membedakan kata-kata yang kasar dan kata-kata yang bijaksana?
  • Kalimat baik apa yang ingin kamu ucapkan kepada temanmu hari ini?

Pertemuan 3 — Memadukan Praktik Aturan dan Sopan Santun dengan Prinsip Pergaulan yang Harmonis di Sekolah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.4.3 Memadukan praktik aturan dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah
  • TP 1.4.4 Memadukan praktik sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam Buddhis (Namo Buddhaya) dan mengajak murid duduk hening melatih kesadaran napas sederhana (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memadukan praktik aturan dan sopan santun dengan pergaulan yang harmonis di sekolah (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen diagnostik awal dengan menunjukkan 2 gambar situasi: (A) Murid mengantre mencuci tangan dengan tertib, (B) Murid menyerobot antrean; lalu menanyakan gambar mana yang mencerminkan aturan demi kerukunan (acuan: gambar A tertib mengantre membuat pergaulan damai/harmonis) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membimbing murid mengamati 4 kartu situasi sekolah di papan tulis: Kartu 1 (Bergantian memakai mainan/alat tulis), Kartu 2 (Menyapa teman dan tersenyum saat bertemu), Kartu 3 (Mendengarkan teman yang sedang berbicara tanpa memotong), Kartu 4 (Merapikan kembali kursi dan meja kelas bersama) (10 menit).
  • Secara interaktif dengan penuh kesadaran dan pemaknaan, guru membimbing murid mengenali keterkaitan kartu: Kartu 1 dan 4 merupakan praktik aturan sekolah demi keharmonisan kelas, sedangkan Kartu 2 dan 3 merupakan praktik sopan santun demi pergaulan yang harmonis (3 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan berpasangan 'Jodoh Harmonis': Setiap pasangan murid menerima 4 kartu tindakan dan papan klasifikasi dengan 2 kolom: 'Praktik Aturan untuk Harmonis' dan 'Praktik Sopan Santun untuk Harmonis' (10 menit).
  • Empat kartu tindakan yang dipasangkan oleh murid meliputi: Tindakan 1 ('Mengembalikan krayon ke tempatnya setelah dipakai bersama'), Tindakan 2 ('Mengucapkan terima kasih saat dipinjamkan penghapus'), Tindakan 3 ('Berbaris rapi sebelum masuk kelas'), Tindakan 4 ('Mengatupkan tangan bersikap anjali dan tersenyum saat bertegur sapa') (acuan penempatan: Tindakan 1 dan 3 masuk kolom 'Praktik Aturan untuk Harmonis'; Tindakan 2 dan 4 masuk kolom 'Praktik Sopan Santun untuk Harmonis') (12 menit).
  • Setiap pasangan secara bergantian memadukan kartu tindakan dengan prinsip pergaulan harmonis: menempelkan kartu pada kolom yang tepat dan menyebutkan satu akibat baiknya bagi teman (misal: kelas tidak berantakan, teman merasa dihargai dan tidak bertengkar) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid duduk melingkar dan hening sejenak merenungkan sabda Buddha tentang pentingnya hidup harmonis dan tidak bertengkar karena perbedaan (10 menit).
  • Murid secara bergantian menyampaikan satu komitmen perilaku aturan atau sopan santun yang akan dipadukan dalam pergaulan di sekolah hari ini (misal: 'Saya akan antre saat cuci tangan agar rukun dengan teman') (15 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa mematuhi aturan dan bersikap sopan santun menciptakan pergaulan sekolah yang harmonis, rukun, dan damai sesuai ajaran Buddha (10 menit).
  • Guru memberikan apresiasi kepada seluruh murid atas keaktifan belajar bersama, mengingatkan untuk terus mempraktikkannya saat istirahat, dan menutup kelas dengan doa serta salam Buddhis (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu tindakan yang dilengkapi simbol gambar visual yang jelas bagi murid yang masih dalam tahap awal membaca lancar.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru dengan memadukan 2 kartu tindakan terlebih dahulu, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan tantangan memadukan 4 kartu tindakan secara mandiri bersama pasangannya.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan perpaduan aturan dan sopan santun melalui penempelan kartu tindakan pada bagan klasifikasi atau dengan memilih langsung kartu bergambar.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik menggunakan 2 gambar situasi sekolah: (1) Gambar antre cuci tangan dengan tertib vs (2) Gambar berebut kran air. Acuan jawaban benar: Gambar antre tertib mencerminkan praktik aturan yang menjaga kerukunan antar-teman di sekolah.

Proses:

  • Pengamatan formatif keterlibatan murid dalam memasangkan 4 kartu tindakan ke papan klasifikasi: Tindakan 1 ('Mengembalikan krayon ke tempatnya') -> Aturan; Tindakan 2 ('Mengucapkan terima kasih saat dipinjamkan') -> Sopan santun; Tindakan 3 ('Berbaris rapi sebelum masuk kelas') -> Aturan; Tindakan 4 ('Bersikap anjali dan tersenyum saat bertegur sapa') -> Sopan santun. Guru mencatat ketepatan klasifikasi dan penjelasan sederhana akibat baiknya bagi kerukunan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Murid memilih 1 kartu praktik aturan dan 1 kartu praktik sopan santun lalu menyebutkan manfaatnya bagi terciptanya pergaulan yang rukun di kelas (acuan: aturan/sopan santun mencegah pertengkaran dan membuat suasana belajar nyaman bersama teman).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat permainan berpasangan memadukan kartu tindakan aturan dan sopan santun dengan prinsip pergaulan harmonis
  • Lembar ceklis klasifikasi 4 kartu tindakan ke dalam kolom aturan dan sopan santun demi keharmonisan sekolah

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memadukan praktik aturan dengan prinsip pergaulan yang harmonis di sekolah (TP 1.4.3)Belum mampu memadukan kartu praktik aturan ke dalam prinsip pergaulan harmonis di sekolah walaupun telah diberi bimbingan penuh.Mampu memadukan 1 dari 2 kartu praktik aturan ke dalam prinsip pergaulan harmonis di sekolah dengan bantuan/arahan guru (acuan kartu: Tindakan 1 'Mengembalikan krayon ke tempatnya' dan Tindakan 3 'Berbaris rapi sebelum masuk kelas').Mampu memadukan seluruhnya (2 dari 2) kartu praktik aturan ke dalam prinsip pergaulan harmonis di sekolah secara tepat dengan arahan minimal.Mampu memadukan seluruhnya (2 dari 2) kartu praktik aturan ke dalam prinsip pergaulan harmonis di sekolah secara tepat dan mandiri serta konsisten.
Memadukan praktik sopan santun dengan prinsip pergaulan yang harmonis di sekolah (TP 1.4.4)Belum mampu memadukan kartu praktik sopan santun ke dalam prinsip pergaulan harmonis di sekolah walaupun telah diberi bimbingan penuh.Mampu memadukan 1 dari 2 kartu praktik sopan santun ke dalam prinsip pergaulan harmonis di sekolah dengan bantuan/arahan guru (acuan kartu: Tindakan 2 'Mengucapkan terima kasih' dan Tindakan 4 'Bersikap anjali dan tersenyum').Mampu memadukan seluruhnya (2 dari 2) kartu praktik sopan santun ke dalam prinsip pergaulan harmonis di sekolah secara tepat dengan arahan minimal.Mampu memadukan seluruhnya (2 dari 2) kartu praktik sopan santun ke dalam prinsip pergaulan harmonis di sekolah secara tepat dan mandiri serta konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid aktif dan gembira saat memadukan kartu aturan dan sopan santun dalam permainan berpasangan?
  • Bagaimana respons murid terhadap pesan moral Buddha tentang pentingnya hidup harmonis di lingkungan sekolah?

Murid:

  • Aturan atau sopan santun apa yang paling kamu sukai saat bermain bersama teman di sekolah?
  • Bagaimana perasaanmu setelah belajar cara bersikap rukun dan ramah kepada teman hari ini?

Pertemuan 4 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.4.1 Menemukan budaya komunikasi yang hormat di lingkungannya berdasarkan kisah jataka Burung Gagak dan Burung Hantu
  • TP 1.4.2 Menemukan budaya komunikasi yang bijaksana di lingkungannya berdasarkan kisah jataka Burung Gagak dan Burung Hantu
  • TP 1.4.3 Memadukan praktik aturan dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah
  • TP 1.4.4 Memadukan praktik sopan santun dengan prinsip-prinsip pergaulan yang harmonis di lingkungan sekolah

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi sumatif dengan doa, salam Buddhis, dan menyapa seluruh murid dengan ramah (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pertemuan ke-4, yaitu melaksanakan asesmen sumatif bab melalui unjuk kerja peragaan sopan santun serta wawancara lisan berdasarkan kisah Jataka (3 menit).
  • Guru menjelaskan tata tertib dan prosedur asesmen sumatif secara tenang agar murid merasa nyaman dan siap menunjukkan capaian terbaiknya (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru memberikan penjelasan alur pelaksanaan dua tugas asesmen sumatif: Tugas 1 berupa peragaan sopan santun dan aturan kelas secara berkelompok/serentak, dilanjutkan Tugas 2 berupa wawancara lisan individual di meja guru menggunakan kartu gambar situasi kisah Burung Gagak dan Burung Hantu (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Pelaksanaan Tugas 1 (Unjuk Kerja Simulasi Pergaulan Harmonis Serentak): Seluruh murid secara bergantian dalam kelompok mempraktikkan simulasi pergaulan harmonis di kelas, yaitu memperagakan salam Buddhis (kedua telapak tangan beranjali di depan dada, kepala sedikit menunduk hormat, mengucapkan salam ramah 'Namo Buddhaya' atau 'Selamat pagi') kepada guru/teman, serta mematuhi aturan antre berjalan tertib dan menunggu giliran tanpa saling mendorong saat kegiatan simulasi bersama, sementara guru mencatat pengamatan pada lembar observasi (40 menit).
  • Pelaksanaan Tugas 2 (Wawancara Lisan Terstruktur Individual Berbasis Kartu Gambar): Tiap murid secara bergiliran maju ke meja guru (durasi 2 menit per murid untuk 28 murid) memilih salah satu dari 2 kartu situasi kisah Burung Gagak dan Burung Hantu: Kartu A (Situasi Burung Gagak mencela rupa Burung Hantu saat pemilihan raja unggas) atau Kartu B (Situasi Burung Gagak dan Burung Hantu saling marah dan hendak berkelahi). Murid menyebutkan 1 contoh perkataan hormat (acuan: ucapan menyapa ramah 'Selamat pagi kawan', 'Terima kasih', atau 'Maafkan saya' tanpa kata mencela/mengejek) dan 1 kalimat bijaksana yang menenangkan suasana perselisihan (acuan: 'Mari kita bicara baik-baik', 'Jangan bertengkar kawan', atau 'Ayo kita berdamai dan saling menghargai'), sementara murid lain yang menunggu giliran duduk tenang menggambar ekspresi persahabatan di mejanya (50 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru mengajak seluruh murid mengheningkan cipta sejenak dan merefleksikan perasaan mereka setelah menyelesaikan peragaan sopan santun serta wawancara lisan dengan tertib dan jujur (0 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi atas ketertiban, kejujuran, dan usaha seluruh murid selama pelaksanaan asesmen sumatif berlangsung (0 menit).
  • Guru mengajak murid bersama-sama merangkum pesan pokok Bab 4: menjauhi permusuhan, saling menghargai sesama dengan tutur kata hormat dan bijaksana, serta mematuhi aturan sopan santun di sekolah (0 menit).
  • Guru menutup seluruh rangkaian Bab 4 dengan doa penutup dan salam penutup 'Namo Buddhaya' (0 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: Kartu situasi dilengkapi ilustrasi visual gambar hewan yang jelas dan guru membacakan deskripsi situasi secara lisan bagi murid yang memerlukan dukungan membaca.
  • Proses: Akomodasi akses: Memberikan jeda waktu tenang beberapa detik sebelum murid menjawab secara lisan tanpa mengubah indikator penilaian.
  • Produk: Standar bukti kinerja seragam sesuai acuan ATP: peragaan salam anjali dan aturan antre, serta jawaban lisan 1 contoh ucapan hormat dan 1 kalimat bijaksana penenang perselisihan.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • unjuk kerja peragaan sopan santun dan wawancara lisan terstruktur berbasis kartu gambar kisah jataka: rekaman lembar observasi peragaan salam Buddhis dan kepatuhan aturan antre di kelas, serta rekaman rubrik respons lisan tentang perkataan hormat dan bijaksana berdasarkan kisah Burung Gagak dan Burung Hantu
  • unjuk kerja simulasi pergaulan harmonis serentak di kelas: peragaan salam Buddhis (anjali sambil mengucapkan salam santun) kepada guru/teman dan kepatuhan mengikuti aturan antre serta menghargai giliran saat kegiatan simulasi bersama yang diamati pada seluruh murid (45 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi peragaan sopan santun dan aturan kelas dengan checklist indikator perilaku konkret (tangan beranjali di depan dada, kepala menunduk hormat, bersuara ramah, tertib menunggu giliran))
  • wawancara lisan terstruktur individual berbasis kartu gambar: kinerja tiap murid dinilai 2 menit secara bergiliran di meja guru (60 menit / 2 menit = 30 kapasitas murid, mencukupi 28 murid) saat memilih kartu situasi kisah Gagak-Burung Hantu lalu menyebutkan 1 contoh perkataan hormat dan 1 kalimat bijaksana yang menenangkan teman saat berselisih (60 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lisan terstruktur dengan kriteria: kesesuaian ucapan hormat (menyapa/berterima kasih tanpa mencela) dan ketepatan pilihan kata bijaksana yang menenangkan suasana perselisihan)

Sumatif:

  • unjuk kerja peragaan sopan santun dan wawancara lisan terstruktur berbasis kartu gambar kisah jataka: rekaman lembar observasi peragaan salam Buddhis dan kepatuhan aturan antre di kelas, serta rekaman rubrik respons lisan tentang perkataan hormat dan bijaksana berdasarkan kisah Burung Gagak dan Burung Hantu
  • unjuk kerja simulasi pergaulan harmonis serentak di kelas: peragaan salam Buddhis (anjali sambil mengucapkan salam santun) kepada guru/teman dan kepatuhan mengikuti aturan antre serta menghargai giliran saat kegiatan simulasi bersama yang diamati pada seluruh murid (45 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi peragaan sopan santun dan aturan kelas dengan checklist indikator perilaku konkret (tangan beranjali di depan dada, kepala menunduk hormat, bersuara ramah, tertib menunggu giliran))
  • wawancara lisan terstruktur individual berbasis kartu gambar: kinerja tiap murid dinilai 2 menit secara bergiliran di meja guru (60 menit / 2 menit = 30 kapasitas murid, mencukupi 28 murid) saat memilih kartu situasi kisah Gagak-Burung Hantu lalu menyebutkan 1 contoh perkataan hormat dan 1 kalimat bijaksana yang menenangkan teman saat berselisih (60 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lisan terstruktur dengan kriteria: kesesuaian ucapan hormat (menyapa/berterima kasih tanpa mencela) dan ketepatan pilihan kata bijaksana yang menenangkan suasana perselisihan)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Sopan Santun dan Aturan Sekolah (TP 1.4.3 & TP 1.4.4)Belum memperagakan salam anjali dan belum mematuhi aturan antre/bergiliran.Memperagakan salam anjali atau mematuhi aturan antre/bergiliran namun masih perlu bimbingan penuh/diingatkan guru.Memperagakan salam Buddhis (tangan beranjali di depan dada, kepala menunduk hormat, bersuara ramah) dan mematuhi aturan antre menunggu giliran secara mandiri sesuai indikator.Memperagakan salam Buddhis dengan sangat santun dan mematuhi aturan antre secara tertib, konsisten, serta mandiri sepanjang kegiatan simulasi.
Budaya Komunikasi Hormat dan Bijaksana (TP 1.4.1 & TP 1.4.2)Belum dapat menyebutkan contoh perkataan hormat maupun kalimat bijaksana berdasarkan situasi kartu kisah Jataka.Menyebutkan 1 contoh perkataan hormat (acuan: sapaan ramah/terima kasih) ATAU 1 kalimat bijaksana (acuan: ajakan damai/tidak bertengkar) dengan bimbingan guru.Menyebutkan dengan tepat 1 contoh perkataan hormat (acuan: sapaan ramah/terima kasih tanpa mencela) DAN 1 kalimat bijaksana penenang perselisihan (acuan: ajakan berbicara baik-baik/berdamai) sesuai situasi kartu kisah Jataka secara mandiri.Menyebutkan dengan sangat tepat lebih dari 1 contoh perkataan hormat dan kalimat bijaksana penenang perselisihan yang relevan dengan situasi kisah Jataka secara mandiri dan meyakinkan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 2 menit per murid pada wawancara lisan mencukupi untuk menilai seluruh murid secara efektif?
  • Bagaimana tingkat kemandirian murid kelas 1 dalam memadukan peragaan salam anjali dan kepatuhan mengantre secara tertib?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu saat mempraktikkan salam anjali dan mengantre giliran bersama teman-teman?
  • Apakah kamu merasa senang dapat menyebutkan kata-kata baik dan ramah untuk mendamaikan teman?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I (Kemendikbudristek 2021)
  2. Buku Teks Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I (Kemendikbudristek 2021)
  3. Media boneka tangan/gambar tokoh burung gagak dan burung hantu
  4. Set Kartu Kata Santun (4 kartu ucapan)
  5. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I, Kemendikbudristek 2021
  6. Buku Teks Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I, Kemendikbudristek 2021 (Bab 4 Pembelajaran 11 & 12)
  7. Boneka tangan/gambar Burung Gagak, Burung Hantu, dan Angsa Emas
  8. Set kartu gambar respon senyum/sedih dan lembar aktivitas bergambar murid
  9. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I (Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2021)
  10. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I (Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2021)
  11. Set kartu bergambar situasi aturan dan sopan santun di lingkungan sekolah
  12. Papan klasifikasi dua kolom 'Harmonis dengan Aturan' dan 'Harmonis dengan Sopan Santun'
  13. Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I
  14. Buku Siswa Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti untuk SD Kelas I (Bab 4 Menghargai Sesama)
  15. Kartu gambar situasi kisah Jataka Burung Gagak dan Burung Hantu (Kartu A dan Kartu B)
  16. Lembar observasi unjuk kerja sopan santun dan aturan pergaulan
  17. Lembar format penilaian wawancara lisan terstruktur

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.