Modul AjarPertemuan 4Bab 7Fase ESemester 2

Modul Ajar Matematika Kelas 10: Kejadian Tidak Saling Lepas dan Modifikasi Aturan Penjumlahan

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Matematika kelas 10 dengan topik "Kejadian Tidak Saling Lepas dan Modifikasi Aturan Penjumlahan". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Matematika Kelas 10: Kejadian Tidak Saling Lepas dan Modifikasi Aturan Penjumlahan

Matematika - Kelas 10

Bab 7 - Pertemuan 4

MODUL AJAR

Matematika — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Kejadian Tidak Saling Lepas dan Modifikasi Aturan Penjumlahan

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranMatematika
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikKejadian Tidak Saling Lepas dan Modifikasi Aturan Penjumlahan
Alokasi Waktu2x45 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat memodifikasi aturan penjumlahan menjadi P(A ∪ B) = P(A) + P(B) − P(A ∩ B) untuk menentukan peluang dua kejadian tidak saling lepas.
  2. Murid dapat menyelesaikan masalah kontekstual yang melibatkan peluang dua kejadian tidak saling lepas menggunakan aturan penjumlahan yang dimodifikasi.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Jika kalian melempar dua buah dadu, apakah mungkin kalian mendapatkan dua angka yang sama sekaligus jumlah kedua angkanya adalah 5?
  2. Bagaimana cara kita menghitung peluang dari dua kejadian yang ternyata bisa terjadi secara bersamaan (memiliki irisan)?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, doa, dan mengecek kehadiran murid.
  • Guru melakukan asesmen awal (diagnostik) dengan memberikan pertanyaan lisan: 'Pada pertemuan sebelumnya kita belajar kejadian saling lepas. Apa ciri utamanya?'.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini sesuai ATP [10.7.4.1] dan [10.7.4.2].
  • Guru memberikan pertanyaan pemantik untuk memancing rasa ingin tahu murid tentang kejadian yang bisa terjadi bersamaan.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid mengamati dua buah Diagram Venn yang disajikan guru: satu diagram saling lepas dan satu diagram yang memiliki irisan (tidak saling lepas).
  • Guru mengajak murid menyadari (mindful) perbedaan kedua diagram tersebut, khususnya pada area irisan di mana kejadian A dan B terjadi pada hasil yang sama (P(A ∩ B)).
  • Melalui diskusi interaktif, murid dibimbing untuk memodifikasi aturan penjumlahan sebelumnya menjadi P(A ∪ B) = P(A) + P(B) − P(A ∩ B) agar tidak terjadi penghitungan ganda pada area irisan.

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (3-4 orang) untuk mengerjakan Lembar Kerja Murid (LKPD).
  • Murid menggunakan alat peraga konkret (seperti sepasang dadu atau 1 set kartu bridge) untuk menyimulasikan masalah kontekstual.
  • Murid menyelesaikan masalah kontekstual, misalnya: 'Tentukan peluang mendapatkan dua angka sama atau berjumlah 5 dari pelemparan dua dadu!' dengan menerapkan rumus yang telah dimodifikasi.
  • Guru berkeliling memberikan scaffolding bagi kelompok yang membutuhkan bantuan (diferensiasi proses).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil temuan mereka di depan kelas.
  • Murid dari kelompok lain memberikan tanggapan, membandingkan hasil, dan mengonfirmasi pemahaman mereka tentang mengapa area irisan harus dikurangkan.
  • Guru memfasilitasi diskusi kelas untuk menarik kesimpulan bersama mengenai perbedaan mendasar cara menghitung peluang kejadian saling lepas dan tidak saling lepas.

Penutup:

  • Guru dan murid merangkum materi yang telah dipelajari tentang modifikasi aturan penjumlahan.
  • Murid mengerjakan soal asesmen akhir (sumatif singkat) secara individu untuk mengukur ketercapaian TP.
  • Guru mengajak murid melakukan refleksi pembelajaran hari ini.
  • Guru menyampaikan rencana materi untuk pertemuan berikutnya dan menutup dengan doa serta salam.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid dengan gaya belajar visual diberikan Diagram Venn berwarna, sedangkan murid kinestetik disediakan alat peraga fisik (dadu/kartu) untuk mengeksplorasi irisan kejadian.
  • Proses: Murid yang sudah paham (fast learners) diberikan masalah kontekstual yang lebih kompleks (misal: data survei populasi), sedangkan murid yang masih kesulitan dibimbing secara intensif oleh guru langkah demi langkah.
  • Produk: Laporan hasil diskusi kelompok dapat disajikan dalam bentuk tulisan matematis formal, poster Diagram Venn, atau penjelasan lisan.

ASESMEN

Awal:

  • Pertanyaan lisan: 'Sebutkan contoh dua kejadian yang tidak mungkin terjadi bersamaan saat melempar satu buah dadu!' (Mengecek pemahaman prasyarat kejadian saling lepas).

Proses:

  • Lembar observasi guru untuk memantau keaktifan murid dalam kelompok dan ketepatan mereka dalam mengidentifikasi irisan P(A ∩ B) pada LKPD.

Akhir:

  • Soal evaluasi individu: 'Dari 1 set kartu bridge, berapakah peluang terambilnya kartu berwarna merah atau kartu As? Selesaikan dengan aturan penjumlahan yang dimodifikasi!'

Formatif:

  • Tanya jawab lisan saat apersepsi (asesmen awal).
  • Observasi kinerja dan kolaborasi murid saat diskusi kelompok mengerjakan LKPD.

Sumatif:

  • Kuis tertulis di akhir pertemuan berupa penyelesaian 2 soal cerita kontekstual tentang peluang kejadian tidak saling lepas.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memodifikasi Aturan Penjumlahan (TP 10.7.4.1)Belum mampu membedakan kejadian saling lepas dan tidak saling lepas, serta belum mengetahui rumus penjumlahan.Mampu membedakan kejadian tidak saling lepas, namun belum tepat dalam memodifikasi rumus (lupa mengurangkan irisan).Mampu memodifikasi aturan penjumlahan menjadi P(A ∪ B) = P(A) + P(B) − P(A ∩ B) dengan tepat dan memahami fungsinya.Mampu memodifikasi aturan penjumlahan dengan sangat tepat dan dapat menjelaskan konsep pengurangan irisan menggunakan Diagram Venn kepada teman.
Menyelesaikan Masalah Kontekstual (TP 10.7.4.2)Belum mampu mengidentifikasi nilai P(A), P(B), dan P(A ∩ B) dari sebuah masalah kontekstual.Mampu mengidentifikasi nilai peluang tunggal, namun salah dalam menentukan nilai irisan P(A ∩ B) pada masalah kontekstual.Mampu menyelesaikan masalah kontekstual peluang kejadian tidak saling lepas dengan hasil akhir yang benar menggunakan rumus modifikasi.Mampu menyelesaikan masalah kontekstual yang kompleks dengan langkah sistematis, akurat, dan mampu memvalidasi jawabannya sendiri.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah penggunaan alat peraga (dadu/kartu) dan Diagram Venn efektif membantu murid memahami konsep irisan (tidak saling lepas)?
  • Apakah alokasi waktu untuk tahap 'Mengaplikasi' cukup bagi murid untuk mengeksplorasi masalah kontekstual?
  • Bagaimana saya bisa memperbaiki pendampingan bagi murid yang masih kesulitan membedakan kejadian saling lepas dan tidak saling lepas?

Refleksi Murid:

  • Bagian mana dari pelajaran hari ini yang paling mudah dan paling menantang bagiku?
  • Apakah aku sudah mengerti mengapa kita harus mengurangkan P(A ∩ B) pada rumus penjumlahan peluang?
  • Bagaimana perasaanku saat berdiskusi dan memecahkan masalah bersama teman kelompok?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Matematika untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Bab 7 Peluang.
  2. Buku Siswa Matematika untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X (Edisi Revisi), Bab 7 Peluang.
  3. Alat peraga: 2 buah dadu dan 1 set kartu bridge.
  4. Lembar Kerja Murid (LKPD) tentang Kejadian Tidak Saling Lepas.
  5. Proyektor dan salindia (slide) Diagram Venn.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.