Modul AjarBab 4Fase DSemester 2

Modul Ajar Koding dan Kecerdasan Artifisial Kelas 7 Bab 4: Mengembangkan Sistem Kecerdasan Artifisial

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Koding dan Kecerdasan Artifisial kelas 7 untuk Bab 4 "Mengembangkan Sistem Kecerdasan Artifisial", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Koding dan Kecerdasan Artifisial Kelas 7 Bab 4: Mengembangkan Sistem Kecerdasan Artifisial

Koding dan Kecerdasan Artifisial - Kelas 7

Bab 4

MODUL AJAR

Koding dan Kecerdasan Artifisial — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Bab 4 — Mengembangkan Sistem Kecerdasan Artifisial

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranKoding dan Kecerdasan Artifisial
Fase / KelasFase D / Kelas 7
TopikBab 4 — Mengembangkan Sistem Kecerdasan Artifisial
Alokasi Waktu18 JP (18 x 40 menit = 720 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 7.4.1 Menggunakan perangkat KA sederhana dengan kritis untuk pengenalan pola
  2. TP 7.4.2 Menuliskan input bermakna ke dalam sistem KA untuk menghasilkan respons yang relevan
  3. TP 7.4.3 Menerapkan pengelolaan data secara sistematis untuk melatih model klasifikasi pada sistem KA
  4. TP 7.4.4 Menerapkan pemecahan masalah sederhana dalam kehidupan masyarakat secara sistematis menggunakan sistem KA

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana kamera pada ponsel cerdas dapat membedakan wajah manusia dengan benda mati di sekitarnya?
  2. Apa yang terjadi jika kita menghadapkan benda yang mirip tetapi berbeda sudut ke depan kamera sistem pengenal pola?
  3. Bagaimana asisten virtual di gawai membedakan suara perintah kita dari suara bising di sekitar?
  4. Bagaimana kamera aplikasi mendeteksi apakah tubuh kita sedang berdiri tegak atau mengangkat tangan?
  5. Mengapa jika kita hanya mengetik 'fotosintesis' pada kecerdasan artifisial, jawabannya bisa sangat panjang dan sulit dipahami anak SMP?
  6. Bagaimana cara kita menyusun kalimat perintah agar sistem kecerdasan artifisial memberikan jawaban yang persis sesuai kebutuhan belajar kita?
  7. Mengapa sistem KA terkadang memberikan jawaban yang terlalu umum atau kurang sesuai dengan yang kita inginkan?
  8. Bagaimana cara kita menyesuaikan tulisan instruksi (input) agar respons sistem KA menjadi jauh lebih tepat dan relevan?
  9. Apa yang terjadi jika kita hanya melatih komputer dengan satu gambar saja untuk mengenali suatu benda?
  10. Mengapa pengambilan data gambar dari berbagai sudut dan pencahayaan sangat penting saat melatih model klasifikasi KA?
  11. Apa yang terjadi jika data latih sebuah model klasifikasi gambar berisi foto yang buram, salah label, atau sudut pandangnya selalu sama?
  12. Bagaimana cara kita mengelompokkan dan memeriksa kualitas sekumpulan data gambar agar model KA dapat mengenali objek baru secara akurat?
  13. Bagaimana tumpukan sampah yang tercampur di lingkungan sekolah dan masyarakat dapat dipilah secara otomatis menggunakan sistem Kecerdasan Artifisial?
  14. Apa tahapan sistematis yang harus kita lakukan agar sistem KA dapat mengenali perbedaan kategori sampah secara tepat?
  15. Pernahkah kamu menghubungi layanan pelanggan (customer service) dan langsung dijawab oleh bot otomatis?
  16. Bagaimana sebuah sistem KA dapat membantu warga desa atau kelurahan mendapatkan informasi layanan publik secara cepat dan tepat waktu?
  17. Bagaimana kualitas pengelompokan data memengaruhi ketepatan perangkat KA dalam mengenali suatu pola?
  18. Mengapa rumusan konteks dan instruksi yang spesifik sangat menentukan keberhasilan sistem KA dalam memecahkan masalah di masyarakat?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Penggunaan Perangkat KA Sederhana Berbasis Kamera untuk Pengenalan Pola Objek — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.1 Menggunakan perangkat KA sederhana dengan kritis untuk pengenalan pola

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta mengondisikan kesiapan perangkat komputer dan webcam (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menggunakan perangkat KA sederhana berbasis kamera untuk mengenali pola objek (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 3 gambar situasi input visual: (1) Foto pensil tegak berlatar putih polos, (2) Foto pensil miring tertutup sebagian oleh jari tangan, (3) Foto botol minum dengan pencahayaan gelap. Murid diminta memilih gambar mana yang paling mudah dikenali polanya oleh kamera KA dan menuliskan alasannya di lembar asesmen awal (acuan jawaban benar: Gambar 1, karena fitur bentuk pensil utuh terlihat jelas tanpa penghalang dan kontras dengan latar belakang) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak demonstrasi guru membuka platform web Teachable Machine (Image Project) pada peramban komputer (5 menit).
  • Murid mengamati penjelasan guru mengenai 3 tahapan penggunaan perangkat KA visual: pengumpulan sampel gambar objek (Class 1 dan Class 2), pelatihan model (Train Model), dan pengujian pengenalan pola objek secara langsung di depan webcam (Preview) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid secara berpasangan atau mandiri di komputer masing-masing membuka Teachable Machine Image Project dan menyiapkan 2 benda fisik di meja: 'Buku Tulis' (Kelas 1) dan 'Kotak Pensil' (Kelas 2) (5 menit).
  • Murid melakukan perekaman data latih visual melalui webcam dengan mengambil minimal 30 sampel gambar per kelas dari variasi sudut yang berbeda (10 menit).
  • Murid menekan tombol 'Train Model' dan menunggu proses pelatihan model KA lokal selesai tanpa menutup tab peramban (5 menit).
  • Murid melakukan uji coba tantangan menggembirakan 'Tebak Objek Cepat': murid mengarahkan benda secara bergantian ke arah kamera penguji (Preview) sebanyak 4 percobaan: (1) Buku Tulis menghadap lurus, (2) Kotak Pensil menghadap lurus, (3) Buku Tulis dimiringkan 45 derajat, (4) Kotak Pensil dipegang dengan setengah bagian tertutup telapak tangan, lalu mencatat persentase kepastian (confidence score) prediksi sistem KA pada lembar kerja (acuan: percobaan 1 dan 2 menghasilkan prediksi benar >80%, percobaan 3 dan 4 menguji kekritisan murid saat skor prediksi menurun atau keliru akibat perubahan pola visual) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil uji prediksi pada lembar kerja dan mengidentifikasi mengapa sistem KA dapat keliru mengenali pola ketika sudut atau pencahayaan benda diubah (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan cara kerja perangkat KA berbasis kamera dalam mengenali pola visual objek berdasarkan data latih yang diberikan (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap aspek kritis penggunaan KA: bahwa sistem KA hanya mengenali pola fitur visual yang pernah dilatihkan dan dapat menghasilkan prediksi bias bila sampel gambar terbatas (2 menit).
  • Guru menutup sesi dengan doa bersama dan mengingatkan persiapan untuk pertemuan berikutnya (pengenalan pola audio dan pose) (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan visual langkah demi langkah pengoperasian tombol Teachable Machine; murid yang mahir diberikan opsi menguji 3 kelas objek sekaligus (misalnya: Buku Tulis, Kotak Pensil, dan Penghapus).
  • Proses: Murid yang membutuhkan bantuan didampingi langsung oleh guru dalam pengambilan sampel webcam; murid yang mandiri langsung melakukan eksplorasi variasi sudut pengambilan gambar.
  • Produk: Catatan pengujian prediksi objek pada lembar kerja: murid reguler mencatat 4 skenario uji; murid yang cepat mencatat hingga 6 variasi skenario uji visual.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik visual memilih 1 dari 3 gambar kondisi objek pensil (Gambar 1: pensil tegak latar putih; Gambar 2: pensil terhalang jari; Gambar 3: botol gelap) yang paling mudah dikenali sistem KA beserta alasannya (acuan jawaban: Gambar 1, karena fitur bentuk pensil utuh terlihat jelas tanpa penghalang dan kontras dengan latar belakang).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat murid mengumpulkan sampel gambar, melatih model, dan menguji pengenalan pola objek pada panel preview Teachable Machine.
  • Pemeriksaan lembar kerja pencatatan hasil uji 4 skenario visual: (1) Buku Tulis lurus, (2) Kotak Pensil lurus, (3) Buku Tulis miring 45 derajat, (4) Kotak Pensil tertutup sebagian (acuan ketercapaian: murid mencatat nilai prediksi persentase dari keempat skenario secara lengkap dan tepat mengidentifikasi skenario mana yang menghasilkan prediksi keliru/akurasi rendah).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (1 butir): 'Sebutkan 1 alasan mengapa model KA kamera yang kalian latih mengalami penurunan akurasi atau salah mengenali Buku Tulis saat dimiringkan!' (Kriteria penerimaan: jawaban menyebutkan faktor perubahan sudut/fitur visual yang belum ada pada data sampel latih kamera atau faktor pencahayaan/penghalang).

Formatif:

  • Penilaian kinerja unjuk kerja pengoperasian perangkat KA (Teachable Machine) untuk mengenali pola objek visual menggunakan rubrik pengamatan
  • Lembar kerja hasil uji prediksi 4 skenario visual

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penggunaan perangkat KA untuk pengenalan pola objek visualBelum mampu mengoperasikan perangkat KA (mengambil sampel gambar dan menjalankan pelatihan model) meski telah dibimbing.Mampu mengoperasikan perangkat KA untuk mengambil sampel dan melatih model 2 objek visual, namun belum mampu menguji prediksi pola dengan kritis saat diberikan variasi sudut objek.Mampu mengoperasikan perangkat KA untuk mengumpulkan sampel gambar, melatih model, dan menguji pengenalan pola 2 objek secara tepat pada 4 skenario pengujian.Mampu mengoperasikan perangkat KA secara mandiri, menguji pengenalan pola objek pada lebih dari 4 variasi skenario visual, serta mengidentifikasi dengan kritis faktor penyebab ketidakterbacaan pola visual.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid berhasil mengakses dan menjalankan perangkat Teachable Machine dengan kamera laptop/komputer tanpa kendala teknis?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam mengevaluasi secara kritis hasil prediksi sistem KA saat objek dihadapkan pada posisi berbeda?

Murid:

  • Bagian mana dari langkah melatih dan menguji kamera KA yang paling menarik untukmu?
  • Apa yang kamu pelajari tentang bagaimana komputer 'melihat' dan membedakan benda di depan kamera?

Pertemuan 2 — Penggunaan Perangkat KA Sederhana Berbasis Audio dan Pose untuk Pengenalan Pola — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.1 Menggunakan perangkat KA sederhana dengan kritis untuk pengenalan pola

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan komputer/mikrofon/webcam, dan menyampaikan alur belajar pengenalan pola audio dan pose pada perangkat KA sederhana (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan 2 pertanyaan berikut: (1) 'Apakah sensor mikrofon merekam gelombang suara atau gambar?' (acuan: gelombang suara/audio), (2) 'Dalam model pengenalan pose, data apa yang ditangkap oleh webcam?' (acuan: posisi sendi/titik kerangka tubuh manusia). Murid menjawab secara acungan tangan dan jawaban singkat terarah (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak demonstrasi guru membuka platform Teachable Machine pada modul Audio Project dan Pose Project, serta mencermati cara perangkat KA mengumpulkan sampel data suara (latar bising/background noise vs kata perintah) dan titik kerangka tubuh (keypoints) untuk pengenalan pola (10 menit).
  • Murid secara berpasangan mengecek 3 kartu karakteristik data KA berikut: Kartu 1: 'Suara latar bising yang terekam masuk ke kelas perintah ucapan' -> mengakibatkan KA salah memprediksi ucapan; Kartu 2: 'Pose tangan terpotong di luar tangkapan layar kamera' -> mengakibatkan titik sendi tidak terbaca utuh; Kartu 3: 'Sampel audio direkam dengan jarak mikrofon yang konsisten' -> menghasilkan pengenalan pola suara yang stabil. Murid mengidentifikasi kartu mana yang memicu kesalahan deteksi sistem (acuan: Kartu 1 dan Kartu 2 memicu kesalahan, Kartu 3 memicu stabilitas) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Melalui tantangan interaktif 'Deteksi Gerak Cepat', murid secara berpasangan membuka Teachable Machine Pose Project, mengumpulkan masing-masing 10 sampel data untuk 2 kelas pola pose fisik (Kelas 1: Pose Tangan Terangkat; Kelas 2: Pose Tangan di Pinggang), lalu menekan tombol latih model (15 menit).
  • Murid menguji model pose yang dilatih dengan melakukan uji coba langsung di depan kamera: 5 kali memperagakan Tangan Terangkat dan 5 kali Tangan di Pinggang, kemudian mencatat hasil persentase keyakinan (confidence score) pada lembar observasi perangkat (10 menit).
  • Murid beralih menguji fitur audio pada Teachable Machine Audio Project dengan merekam minimal 8 sampel kata 'Maju' dan 8 sampel kata 'Berhenti' serta 20 detik Background Noise, lalu menguji perangkat KA dengan mengucapkan kata uji untuk mengenali ketepatan prediksi pola suara (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara kritis memeriksa faktor kegagalan deteksi pada sistem KA yang diuji, mengidentifikasi apakah kekeliruan prediksi disebabkan oleh variasi intonasi suara, kebisingan ruangan, atau pencahayaan saat deteksi pose kerangka tubuh (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan dan umpan balik langsung terkait cara kerja kritis dalam melatih dan menguji model deteksi audio dan pose (5 menit).
  • Murid menyelesaikan asesmen akhir berupa cek pemahaman 2 butir teknis pengoperasian perangkat KA sederhana sebelum pembelajaran ditutup (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan visual tangkapan layar langkah perekaman sampel pose dan audio di Teachable Machine bagi murid yang membutuhkan scaffolding.
  • Proses: Bagi murid yang cepat selesai, diberikan tantangan menambah 1 kelas pengujian pose baru (misal: pose miring ke kanan) untuk menguji kepekaan deteksi perangkat KA pada kompetensi pengenalan pola yang sama.
  • Produk: Lembar pencatatan uji coba deteksi pola pose dan audio diisi sesuai jumlah sampel yang berhasil dihimpun dan diuji.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: (1) 'Apakah sensor mikrofon merekam gelombang suara atau gambar?' (acuan jawaban: gelombang suara/audio); (2) 'Dalam model pengenalan pose, data apa yang ditangkap oleh webcam?' (acuan jawaban: posisi sendi/titik kerangka tubuh manusia).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat murid melatih dan menguji perangkat KA Teachable Machine untuk 2 kelas pose (Tangan Terangkat dan Tangan di Pinggang) serta 2 kelas audio ('Maju' dan 'Berhenti'), dinilai berdasarkan keterlaksanaan perekaman sampel dan verifikasi hasil deteksi pola.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman 2 butir di akhir sesi: Butir 1: 'Sebutkan 1 penyebab sistem KA gagal mengenali pola suara kata Maju saat diuji!' (kriteria penerimaan: menyebutkan adanya suara bising/background noise yang dominan, intonasi/volume suara berbeda jauh dari sampel, atau jarak mikrofon terlalu jauh); Butir 2: 'Sebutkan 1 penyebab sistem KA salah memprediksi pose tubuh!' (kriteria penerimaan: menyebutkan bagian tubuh/sendi keluar dari frame kamera, posisi berdiri terlalu dekat sehingga kerangka tidak terdeteksi, atau pencahayaan gelap).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja pengoperasian perangkat KA Teachable Machine (pengumpulan data sampel, pelatihan, dan pengujian pola pose/audio)
  • Cek pemahaman tertulis singkat pada lembar pengamatan pengenalan pola

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penggunaan perangkat KA sederhana untuk pengenalan pola pose dan audioBelum mampu mengoperasikan perangkat KA untuk merekam sampel data pose maupun audio tanpa bimbingan penuh guru.Mampu mengoperasikan perangkat KA untuk merekam sampel data namun keliru dalam memisahkan kelas pose/audio sehingga deteksi pola tidak berfungsi tepat.Mampu mengoperasikan perangkat KA sederhana untuk mengumpulkan sampel, melatih model, dan menguji pengenalan pola pose (2 kelas) dan audio (2 kelas) sesuai petunjuk teknis.Mampu mengoperasikan perangkat KA sederhana secara mandiri dan kritis menguji pengenalan pola pose dan audio serta tepat mengidentifikasi faktor kesalahan deteksi pola pada model yang dilatih.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah perangkat keras (kamera dan mikrofon) pada komputer murid berfungsi optimal selama pengujian model audio dan pose?
  • Bagian mana dari langkah pengoperasian perangkat KA yang paling menyita waktu murid dan perlu penyederhanaan instruksi?

Murid:

  • Apa hal paling menantang saat merekam suara dan pose agar perangkat KA dapat mengenali polanya dengan benar?
  • Mengapa posisi tubuh di depan kamera dan kejelasan suara sangat menentukan keberhasilan deteksi perangkat KA?

Pertemuan 3 — Penulisan Input Bermakna ke dalam Sistem KA Menggunakan Struktur Konteks dan Instruksi — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.2 Menuliskan input bermakna ke dalam sistem KA untuk menghasilkan respons yang relevan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai penulisan input bermakna dengan struktur konteks dan instruksi (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid membaca 2 contoh input pada kartu layar, yaitu Input A: 'Tulis tentang sampah' dan Input B: 'Saya murid kelas 7 sedang belajar IPA. Tuliskan 3 cara mengurangi sampah plastik di kantin sekolah dengan bahasa santai'. Murid diminta memilih input mana yang memuat latar belakang (konteks) dan perintah jelas (instruksi) (acuan: Input B memuat konteks 'murid kelas 7 belajar IPA' dan instruksi 'tuliskan 3 cara mengurangi sampah plastik di kantin sekolah dengan bahasa santai') (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memodelkan struktur input bermakna (prompt engineering dasar) yang terdiri atas dua komponen kunci: Konteks (latar belakang, peran, sasaran pembaca) dan Instruksi (perintah tugas spesifik, batasan jumlah/format respons) (10 menit).
  • Murid secara berpasangan menganalisis lembar bedah input yang memuat 2 prompt mentah untuk memisahkan unsur Konteks dan Instruksi. Butir 1: 'Sebagai pemandu wisata museum (konteks), sebutkan 3 aturan berkunjung untuk siswa SMP (instruksi)'. Butir 2: 'Untuk tugas mading sekolah tentang daur ulang (konteks), buatkan 2 slogan pendek penyemangat (instruksi)' (acuan: pembagian unsur tepat sesuai tanda kurung) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti tantangan 'Prompt Builder Game': murid mengambil 1 kartu skenario tugas sekolah secara acak dari 3 pilihan berikut: Skenario 1 (Tugas IPA: Menjelaskan siklus air untuk anak SD), Skenario 2 (Tugas Bahasa: Membuat pantun nasihat belajar untuk teman sekelas), atau Skenario 3 (Tugas Prakarya: Memberikan langkah mendaur ulang botol plastik menjadi pot gantung) (10 menit).
  • Murid menuliskan satu teks input bermakna utuh yang memuat Konteks dan Instruksi spesifik pada Lembar Latihan berdasarkan skenario yang dipilih (kriteria: memuat siapa penggunanya/tujuannya serta batasan format respons yang diminta) (15 menit).
  • Murid memasukkan input yang telah ditulis ke antarmuka sistem KA generatif yang disediakan, lalu membaca dan memeriksa apakah respons yang dihasilkan relevan dengan batasan konteks dan instruksi yang telah dituliskan (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membandingkan ketercapaian respons sistem KA terhadap teks input buatannya dengan mencentang lembar periksa mandiri: apakah teks memuat konteks yang jelas dan apakah instruksi menghasilkan respons yang sesuai harapan (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa respons sistem KA sangat ditentukan oleh kelengkapan konteks dan ketegasan instruksi yang ditulis oleh pengguna (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap hasil penulisan input murid serta menyampaikan topik pertemuan berikutnya mengenai penyesuaian input berdasarkan evaluasi hasil respons (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan rumpang dengan pola kalimat: 'Saya adalah [peran/konteks]. Tolong buatkan [tugas/instruksi] sebanyak [jumlah/format].', sedangkan murid yang mahir langsung merancang input tanpa pola rumpang.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru secara bertahap dalam merumuskan instruksi spesifik, sedangkan murid yang cepat menyusun input mandiri dan dapat mencoba variasi skenario kedua.
  • Produk: Semua murid menghasilkan bukti belajar yang sama yaitu satu rumusan teks input bermakna yang memuat unsur konteks dan instruksi spesifik pada lembar kerja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pembedaan input: Murid menentukan input yang memiliki konteks dan instruksi terstruktur dari 2 pilihan berikut: (1) Input A: 'Tulis tentang sampah'; (2) Input B: 'Saya murid kelas 7 sedang belajar IPA. Tuliskan 3 cara mengurangi sampah plastik di kantin sekolah dengan bahasa santai' (acuan jawaban: Input B tepat karena memuat konteks 'murid kelas 7 belajar IPA' dan instruksi spesifik 'tuliskan 3 cara mengurangi sampah plastik di kantin sekolah dengan bahasa santai').

Proses:

  • Observasi ketercapaian penulisan teks input murid pada lembar latihan berdasarkan 3 pilihan skenario: Skenario 1 (konteks: edukasi IPA untuk anak SD; instruksi: penjelasan siklus air sederhana), Skenario 2 (konteks: teman sekelas; instruksi: pantun nasihat belajar), atau Skenario 3 (konteks: tugas prakarya; instruksi: langkah daur ulang botol plastik menjadi pot) (kriteria keberhasilan: teks input wajib memuat unsur konteks peran/situasi dan instruksi tindakan spesifik yang dapat menghasilkan respons relevan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid melengkapi identifikasi rumpang pada lembar keluar (exit slip): 'Unsur yang menjelaskan siapa pengguna atau latar belakang tujuan disebut ... (acuan: Konteks), sedangkan unsur yang menyatakan tugas spesifik atau batasan format jawaban disebut ... (acuan: Instruksi)'.

Formatif:

  • Penilaian proses unjuk kerja penulisan input bermakna (konteks dan instruksi) pada lembar latihan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penulisan Struktur Konteks dalam InputBelum menuliskan konteks (latar belakang pengguna atau situasi) sama sekali di dalam input.Menuliskan konteks namun masih samar atau belum relevan dengan tugas yang diminta.Menuliskan konteks latar belakang pengguna atau situasi secara jelas dan relevan.Menuliskan konteks latar belakang, peran, dan sasaran pembaca secara rinci, tepat, dan mandiri.
Penulisan Struktur Instruksi dalam InputBelum menuliskan kalimat instruksi yang jelas (hanya kata kunci terputus).Menuliskan instruksi perintah tetapi belum memuat batasan tugas atau format yang spesifik.Menuliskan instruksi tugas secara spesifik beserta batasan format/jumlah yang jelas.Menuliskan instruksi tugas secara sangat spesifik, terstruktur rapi dengan batasan gaya bahasa dan format keluaran secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu praktik mandiri menuliskan teks input cukup bagi seluruh murid?
  • Apakah panduan struktur konteks dan instruksi mempermudah murid menghasilkan respons KA yang relevan?

Murid:

  • Bagian mana dari penulisan prompt (konteks atau instruksi) yang paling menantang bagimu?
  • Bagaimana perubahan jawaban KA ketika kamu menambahkan konteks yang lebih spesifik pada perintahmu?

Pertemuan 4 — Penulisan Input Bermakna ke dalam Sistem KA Berdasarkan Penyesuaian Hasil Respons — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.2 Menuliskan input bermakna ke dalam sistem KA untuk menghasilkan respons yang relevan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar murid (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 2 contoh respons KA yang kurang relevan dan menanyakan bagian input apa yang perlu disesuaikan (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menuliskan input bermakna yang disesuaikan berdasarkan hasil respons sistem KA (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati pemaparan guru tentang teknik penyesuaian input (refining prompt) ketika respons KA belum relevan, mencakup penambahan batasan, pengubahan gaya bahasa, dan penyempurnaan instruksi (10 menit).
  • Murid membandingkan 2 pasangan kasus input awal dan responsnya pada lembar kerja: Kasus A (Input: 'Jelaskan fotosintesis' -> Respons terlalu rumit tingkat perkuliahan) dan Kasus B (Input: 'Buat puisi' -> Respons terlalu panjang 10 bait), lalu mengidentifikasi kelemahan respons tersebut (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid memainkan aktivitas tantangan berpasangan 'Tantangan Dokter Prompt' secara menggembirakan: murid menerima 3 skenario masalah respons KA dan bertugas menuliskan revisi input bermakna untuk memperbaiki respons tersebut (20 menit).
  • Tiga skenario tantangan adalah: Skenario 1 (Respons awal: artikel 1000 kata; Target: ringkasan 3 poin untuk anak SD), Skenario 2 (Respons awal: penjelasan teknis rumus fisika; Target: analogi sederhana kehidupan sehari-hari), Skenario 3 (Respons awal: rekomendasi umum; Target: 3 langkah konkret pemilahan sampah kertas di sekolah) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali ketepatan revisi input yang ditulisnya berdasarkan kriteria kejelasan instruksi, batasan format, dan relevansi terhadap hasil respons yang diharapkan (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil penulisan input yang telah disesuaikan oleh murid (5 menit).
  • Murid dan guru menyimpulkan pembelajaran hari ini mengenai pentingnya menyesuaikan input berdasarkan hasil evaluasi respons KA, lalu menutup pertemuan (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan kata kunci penyesuaian (tambahkan batasan panjang, target pembaca, format keluaran) bagi murid yang membutuhkan bantuan.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan terstruktur dengan templat kalimat rumpang, sedangkan murid cepat langsung menuliskan variasi penyesuaian input secara mandiri pada 3 skenario.
  • Produk: Semua murid menghasilkan revisi penulisan input bermakna untuk 3 skenario target penyesuaian respons.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan/tulis di awal pelajaran: Murid diminta menentukan kekurangan dari input: 'Tulis cerita' yang menghasilkan respons cerita 5 halaman padahal hanya butuh fabel singkat 1 paragraf. (Acuan jawaban: input kekurangan batasan panjang cerita dan tema/tokoh spesifik, sehingga perlu ditambahkan instruksi 'fabel 1 paragraf dengan tokoh kancil').

Proses:

  • Observasi ketercapaian penulisan input bermakna pada Lembar Kerja Dokter Prompt dengan 3 skenario: Skenario 1 (Acuan input yang diterima: memuat instruksi ringkasan 3 poin dan target pembaca anak SD tentang topik terkait); Skenario 2 (Acuan input yang diterima: memuat instruksi penjelasan konsep menggunakan analogi kehidupan sehari-hari tanpa istilah teknis rumit); Skenario 3 (Acuan input yang diterima: memuat instruksi 3 langkah konkret pemilahan sampah kertas khusus di lingkungan sekolah).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: Murid menuliskan 1 revisi input untuk kasus respons KA yang menjawab di luar konteks bahasa Indonesia: Input awal: 'Tips belajar efektif' menghasilkan respons dalam bahasa Inggris. (Acuan jawaban: revisi input menambahkan instruksi bahasa secara eksplisit, misalnya: 'Tuliskan 3 tips belajar efektif dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami siswa SMP').

Formatif:

  • Penilaian proses penulisan revisi input bermakna pada 3 skenario lembar kerja Dokter Prompt
  • Tanya jawab diagnostik awal terkait perbaikan input KA

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penulisan input bermakna berdasarkan penyesuaian hasil responsBelum mampu menuliskan penyesuaian input yang relevan untuk memperbaiki respons sistem KA pada ketiga skenario.Mampu menuliskan penyesuaian input bermakna yang tepat pada 1 dari 3 skenario yang diberikan.Mampu menuliskan penyesuaian input bermakna yang tepat pada 2 dari 3 skenario yang diberikan.Mampu menuliskan penyesuaian input bermakna yang tepat secara mandiri pada seluruh (3 dari 3) skenario yang diberikan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas tantangan berpasangan berhasil membantu murid memahami cara menyesuaikan input berdasarkan respons KA?
  • Bagian mana dari langkah penulisan input yang masih sering terlewat oleh murid ketika menyesuaikan respons?

Murid:

  • Apa yang harus kamu lakukan jika jawaban atau respons yang diberikan oleh sistem KA belum sesuai dengan kebutuhanmu?
  • Hal baru apa yang kamu pelajari tentang cara memperbaiki kalimat perintah (input) ke dalam sistem KA?

Pertemuan 5 — Penerapan Pengelolaan Data secara Sistematis untuk Melatih Model Klasifikasi Gambar — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.3 Menerapkan pengelolaan data secara sistematis untuk melatih model klasifikasi pada sistem KA

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas, menyapa murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai penerapan pengelolaan data secara sistematis untuk melatih model klasifikasi gambar (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menampilkan 3 pernyataan konsep data latih di layar proyektor: (1) 'Model KA cukup dilatih dengan 1 foto saja agar akurat', (2) 'Data latih harus dikelompokkan ke dalam label kelas yang tepat dan seragam', (3) 'Variasi sudut pengambilan gambar membantu model mengenali objek dengan lebih baik'. Murid mengangkat jempol ke atas jika benar dan jempol ke bawah jika salah (acuan jawaban: 1 = Salah, 2 = Benar, 3 = Benar) (5 menit).
  • Guru mengaitkan hasil diagnostik singkat tersebut dengan alur tahapan pengelolaan data sistematis: pelabelan kelas, pengumpulan sampel gambar bervariasi, dan pelatihan model (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru mendemonstrasikan antarmuka Image Project pada Teachable Machine dan membedah 3 tahapan pengelolaan data klasifikasi gambar: pembuatan label kelas yang terpisah, perekaman sampel data gambar dengan variasi sudut/jarak, dan peninjauan keseimbangan jumlah data per kelas (10 menit).
  • Murid berpartisipasi dalam kuis interaktif cepat 'Pilah Data Tepat': guru menunjukkan 4 gambar (Gambar A: pensil tampak atas, Gambar B: pensil tampak miring, Gambar C: penghapus bersih, Gambar D: penghapus dengan bayangan) dan murid memasangkannya ke wadah label yang tepat yaitu Label 'Pensil' atau Label 'Penghapus' (acuan jawaban: Gambar A dan B masuk ke Label 'Pensil'; Gambar C dan D masuk ke Label 'Penghapus') (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid membuka peramban web pada perangkat masing-masing, mengakses Teachable Machine Image Project, lalu membuat 2 label kelas secara sistematis: Kelas 1 'Pensil' dan Kelas 2 'Penghapus' (10 menit).
  • Murid secara mandiri menerapkan pengelolaan data dengan merekam data gambar ke masing-masing kelas menggunakan webcam laptop/komputer, dengan ketentuan sistematis: minimal 20 sampel gambar per kelas, mencakup variasi jarak (dekat dan jauh) serta variasi sudut (tegak, miring, tampak atas) tanpa tercampur antar-kelas (20 menit).
  • Murid menjalankan proses 'Train Model' pada Teachable Machine dan menguji hasil klasifikasinya pada panel pengujian menggunakan objek pensil dan penghapus baru untuk memverifikasi apakah pembagian data latih telah berhasil dipelajari model (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali daftar periksa pengelolaan data latih miliknya pada Lembar Verifikasi Data: (1) kesesuaian penamaan 2 label kelas, (2) kecukupan jumlah data latih minimal 20 sampel per kelas, (3) keberadaan variasi sudut/jarak pengambilan data, serta mengidentifikasi apakah terdapat gambar yang salah masuk kelas (7 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap praktik pengelolaan data yang sistematis (kebersihan data, pelabelan tepat, variasi sudut, dan keseimbangan jumlah sampel) sebagai kunci keberhasilan pelatihan model klasifikasi KA (5 menit).
  • Guru dan murid menutup pembelajaran dengan berdoa bersama dan merapikan perangkat komputer (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan visual berisi 4 contoh sudut pengambilan data gambar standar, sedangkan murid yang mahir diberikan bahan tambahan untuk menambah 1 label kelas baru (misal: 'Buku Tulis') dengan variasi sudut yang sama.
  • Proses: Murid yang membutuhkan scaffolding didampingi guru saat proses pembagian label dan verifikasi kebersihan data per kelas, sementara murid mahir mengelola data 2 hingga 3 kelas secara mandiri penuh.
  • Produk: Seluruh murid menghasilkan model klasifikasi yang terlatih dari minimal 2 kelas data gambar dengan kuantitas minimal 20 sampel bervariasi per kelas.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan konsep pengelolaan data latih melalui 3 pernyataan: (1) 'Model KA cukup dilatih dengan 1 foto saja agar akurat', (2) 'Data latih harus dikelompokkan ke dalam label kelas yang tepat dan seragam', (3) 'Variasi sudut pengambilan gambar membantu model mengenali objek dengan lebih baik'. Murid merespons benar/salah (acuan jawaban: 1 = Salah, 2 = Benar, 3 = Benar).

Proses:

  • Penilaian unjuk kerja selama tahap Mengaplikasi menggunakan rubrik: memeriksa ketepatan pelabelan kelas (Pensil dan Penghapus), keteraturan perekaman data gambar bervariasi sudut dan jarak (minimal 20 sampel per kelas), serta ketiadaan data yang tertukar label sebelum tombol pelatihan ditekan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir melalui Lembar Verifikasi Data Latih: murid mencatat hasil verifikasi teknis sistem data latihnya dengan 3 indikator: (1) Ketepatan nama 2 label kelas ('Pensil' dan 'Penghapus'), (2) Keterpenuhan kuantitas data (minimal 20 sampel per kelas), dan (3) Keterpenuhan variasi sudut/jarak gambar (acuan: seluruh 3 indikator terisi centang terverifikasi).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja pengelolaan data gambar pada Teachable Machine
  • Lembar Verifikasi Data Latih Klasifikasi Gambar

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan Pengelolaan Data Latih Klasifikasi GambarBelum mampu membagi label kelas dengan tepat dan data gambar yang dikumpulkan di bawah 10 sampel per kelas tanpa variasi sudut atau tercampur antar-kelas.Mampu membuat 2 label kelas dengan tepat, namun pengumpulan data gambar masih kurang dari 20 sampel per kelas dan belum memuat variasi sudut/jarak secara teratur.Mampu mengelola data secara sistematis dengan membuat 2 label kelas tepat, mengumpulkan data gambar minimal 20 sampel per kelas dengan variasi sudut/jarak tanpa tercampur label, dan berhasil melatih model klasifikasi.Mampu mengelola data secara sistematis dan mandiri penuh dengan membuat 2 label kelas tepat, mengumpulkan lebih dari 30 sampel bervariasi terstruktur per kelas tanpa ada data yang salah label, serta memverifikasi data sebelum pelatihan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 20 menit untuk pengambilan data gambar webcam mencukupi bagi seluruh murid?
  • Bagian mana dari pengelolaan data sistematis (pelabelan, variasi sudut, atau kuantitas sampel) yang paling sering diabaikan murid?

Murid:

  • Apa kesulitan yang saya temui saat mengumpulkan variasi data gambar pensil dan penghapus?
  • Mengapa model klasifikasi saya bisa salah menebak jika data gambar yang saya masukkan tidak bervariasi?

Pertemuan 6 — Penerapan Pengelolaan Data secara Sistematis Melalui Pengelompokan dan Uji Kualitas Data Latih — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.3 Menerapkan pengelolaan data secara sistematis untuk melatih model klasifikasi pada sistem KA

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kesiapan belajar murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6, yaitu menerapkan pengelolaan data secara sistematis melalui pengelompokan label dan pengujian kualitas data latih gambar (3 menit).
  • Murid mengerjakan asesmen awal diagnostik cepat dengan mengidentifikasi kecukupan 3 contoh sampel gambar (1 jelas, 1 buram, 1 salah label) untuk kategori 'Botol Plastik' (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid menyimak panduan sistematis pengelolaan data gambar: pengelompokan berbasis label yang konsisten, keberagaman sudut pandang, serta eliminasi data rusak (buram, gelap gulita, salah kelas) (8 menit).
  • Murid berpasangan mengikuti tantangan interaktif 'Detektif Kualitas Data': memeriksa 4 berkas contoh kartu data latih gambar: (1) Foto botol jelas tegak, (2) Foto botol sangat buram/blur, (3) Foto botol tertutup tangan 90%, (4) Foto daun kering yang dilabeli 'botol', lalu menentukan kartu mana yang layak simpan atau harus disaring keluar (acuan: kartu 1 layak; kartu 2, 3, dan 4 tidak layak) (12 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid dalam kelompok kecil mengelola 12 kartu dataset gambar fisik/digital yang terbagi ke dalam 2 kategori target ('Organik' dan 'Anorganik'), melakukan pemilahan label, dan membuang 4 data pengganggu berkualitas rendah (acuan 12 data: 4 organik layak [daun segar, sisa apel, kulit pisang, ranting], 4 anorganik layak [gelas plastik, kaleng soda, botol kaca, kantong kresek], 2 gambar buram tak terbaca, 2 gambar salah label [baterai dilabeli organik, sisa nasi dilabeli anorganik]) (25 menit).
  • Murid mendata hasil penyeleksian ke dalam tabel pengelolaan data latih: mencatat jumlah data valid per kelas (masing-masing 4 data) dan mencatat daftar 4 data yang dieliminasi beserta alasan teknis kualitasnya (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompok mengecek kembali kesesuaian hasil pengelolaan data kelompoknya dengan kunci verifikasi data latih yang dipaparkan guru (5 menit).
  • Murid menuliskan satu kesimpulan reflektif pribadi pada lembar kendali tentang pengaruh langsung kualitas pemilahan data terhadap keandalan model klasifikasi (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan atas ketercapaian murid dalam mengelompokkan dan menguji kualitas data latih secara sistematis (3 menit).
  • Guru menginformasikan bahwa dataset berkualitas yang telah dikurasi hari ini akan digunakan pada penerapan pemecahan masalah di pertemuan berikutnya, kemudian menutup pembelajaran dengan doa (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar panduan visual kriteria kualitas data (kontras, fokus, ketepatan label) bagi murid yang membutuhkan bantuan identifikasi.
  • Proses: Memberikan scaffolding terstruktur berupa checklist uji kualitas langkah demi langkah untuk kelompok yang masih ragu memilah data.
  • Produk: Kelompok yang selesai lebih cepat dapat mengelola 6 data gambar tambahan dengan variasi sudut pandang dan pencahayaan yang lebih kompleks pada kategori yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik cepat: Murid memeriksa 3 sampel gambar untuk kelas 'Botol Plastik': Gambar A (foto botol tajam dan terang), Gambar B (foto botol goyang/buram ekstrem), Gambar C (foto bungkus roti berlabel botol plastik). Murid menentukan kelayakannya (acuan jawaban: Gambar A = Layak; Gambar B = Tidak Layak karena buram; Gambar C = Tidak Layak karena salah label).

Proses:

  • Formatif praktik: Lembar kerja pengelolaan 12 data latih kategori Organik dan Anorganik. Guru memeriksa ketercapaian sistematis murid: (1) Mengelompokkan tepat 4 data organik valid [daun segar, sisa apel, kulit pisang, ranting], (2) Mengelompokkan tepat 4 data anorganik valid [gelas plastik, kaleng soda, botol kaca, kantong kresek], (3) Mengeliminasi tepat 4 data cacat [2 data buram, 2 data salah label].

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid melengkapi 2 butir pernyataan penutup: (1) Sebutkan 2 ciri data latih gambar yang harus dieliminasi (acuan jawaban: gambar buram/tidak fokus, terlalu gelap/tidak terlihat, atau labelnya salah); (2) Mengapa data latih harus dikelompokkan secara seimbang dan berlabel benar? (kriteria penerimaan: jawaban menjelaskan agar model KA tidak keliru mengenali kelas objek atau tidak bias).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja pengelompokan data gambar dan pencatatan tabel uji kualitas data latih

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengelompokan dan Uji Kualitas Data LatihMengelompokkan data tanpa menyaring data berkualitas buruk sehingga data buram dan salah label masih masuk ke dalam data latih.Mengelompokkan data latih namun hanya mampu menyaring 1–2 data berkualitas buruk dari total 4 data cacat yang disediakan secara tepat.Menerapkan pengelolaan data secara sistematis dengan mengelompokkan data valid dan mengeliminasi 3–4 data berkualitas buruk sesuai acuan verifikasi.Menerapkan pengelolaan data secara sistematis dengan tepat sempurna pada seluruh data, mengidentifikasi alasan teknis setiap data cacat secara mandiri tanpa arahan guru.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pada aktivitas pengelolaan 12 dataset gambar mencukupi bagi seluruh kelompok murid?
  • Apakah murid sudah memahami alasan logis di balik pentingnya menyaring data latih sebelum model klasifikasi dilatih?

Murid:

  • Bagian mana dari proses pengujian kualitas data gambar yang paling menantang untuk diputuskan?
  • Apa hal terpenting yang saya pelajari hari ini tentang peran kualitas data bagi sistem KA?

Pertemuan 7 — Penerapan Pemecahan Masalah Sederhana Berbasis KA pada Konteks Pemilahan Sampah Lingkungan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.4 Menerapkan pemecahan masalah sederhana dalam kehidupan masyarakat secara sistematis menggunakan sistem KA

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yaitu menerapkan tahapan sistematis pemecahan masalah pemilahan sampah lingkungan (organik, anorganik plastik, dan kertas) menggunakan sistem KA (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 3 contoh sampah nyata/gambar (daun kering, botol plastik mineral, kardus bekas) dan meminta murid menyebutkan kategori wadah pemilahan yang benar (acuan: daun kering = organik, botol plastik = plastik/anorganik, kardus = kertas) serta menyebutkan peran sensor kamera KA dalam mengenali bentuk fisik sampah tersebut (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mengamati diagram 4 alur sistematis pemecahan masalah berbasis KA untuk pemilahan sampah lingkungan: (1) Perumusan masalah sampah tercampur di tempat pembuangan, (2) Pengumpulan data gambar sampah sesuai 3 kategori (organik, plastik, kertas), (3) Pelatihan model klasifikasi pada platform KA (Teachable Machine), dan (4) Pengujian akurasi prediksi model terhadap sampah baru (8 menit).
  • Secara berpasangan, murid menelaah lembar skenario masalah sampah di kantin sekolah dan mengidentifikasi input data gambar yang diperlukan untuk melatih sistem KA agar mampu memilah sampah secara tepat (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan tantangan tim ceria 'Tebak & Label Sampah Cepat', di mana setiap kelompok menerima 6 kartu gambar sampah dan harus berlari menempelkannya pada kotak kelas KA yang tepat (acuan: Kartu 1 kulit pisang -> Organik; Kartu 2 sisa sayur -> Organik; Kartu 3 gelas plastik -> Plastik; Kartu 4 sedotan -> Plastik; Kartu 5 buku tulis rusak -> Kertas; Kartu 6 karton susu kemasan -> Kertas) untuk membiasakan penyiapan dataset sebelum pelatihan model (10 menit).
  • Murid bekerja dalam kelompok menerapkan pemecahan masalah dengan mengoperasikan sistem KA (Teachable Machine Image Project): mengambil dataset gambar minimal 10 sampel per kelas melalui webcam untuk 3 kelas (Organik, Plastik, Kertas) yang telah disiapkan di meja praktikum (12 menit).
  • Murid melatih model KA (klik 'Train Model') dan menguji prediksi sistem secara langsung menggunakan 3 benda uji baru yang belum pernah dilatih: satu lembar daun hijau, satu kantong kresek, dan selembar brosur kertas, lalu mencatat persentase hasil prediksi model pada lembar kerja (13 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompok mengevaluasi kegagalan atau keberhasilan deteksi sistem KA mereka: menganalisis mengapa sistem salah memprediksi (misalnya pencahayaan kurang atau sudut pengambilan gambar berbeda) dan mencatat langkah sistematis perbaikannya (7 menit).
  • Perwakilan kelompok membacakan catatan simpulan perbaikan alur data KA dan dampaknya terhadap penanganan sampah lingkungan secara langsung di hadapan kelas (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan bersama alur sistematis pemecahan masalah berbasis KA: identifikasi masalah -> pengumpulan data -> pelatihan model -> pengujian akurasi prediksi (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap kerja sama kelompok dan menginformasikan bahwa pada pertemuan berikutnya penerapan pemecahan masalah KA akan berlanjut pada konteks layanan interaktif masyarakat, kemudian menutup kelas dengan doa bersama (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan alur tahapan KA bergambar langkah demi langkah; murid yang cepat diberikan data variasi sampah dengan bentuk mirip (misal: kertas laminasi atau plastik bening).
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan dibimbing langsung oleh guru pada saat pengambilan sampel dataset; murid yang cepat bekerja secara mandiri menguji model dengan 5 objek uji tambahan.
  • Produk: Lembar kerja pemecahan masalah diisi sesuai tingkat pemahaman kelompok dengan minimal 3 kelas sampah teruji dan catatan akurasi persentase prediksi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan cepat dengan menunjukkan 3 sampel nyata: (1) Daun kering, (2) Botol plastik mineral, (3) Kardus bekas. Murid diminta menentukan kategori sampah dan menjelaskan bagaimana kamera KA dapat membedakan ketiganya (acuan jawaban: Daun kering = Organik; Botol plastik = Plastik/Anorganik; Kardus bekas = Kertas; kamera KA mengenali pola warna, bentuk, dan tekstur objek).

Proses:

  • Observasi keterlaksanaan tahapan sistematis saat murid mengumpulkan dataset, melatih model Teachable Machine, dan menguji 3 objek baru (daun hijau, kantong kresek, brosur kertas) dengan lembar ceklis ketercapaian pemecahan masalah KA.

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan hasil lembar kerja pemecahan masalah berbasis KA: kelompok mencantumkan hasil pengujian 3 objek baru (daun hijau -> terdeteksi Organik; kantong kresek -> terdeteksi Plastik; brosur kertas -> terdeteksi Kertas) beserta analisis jika terjadi salah prediksi (acuan kriteria: mencakup persentase confidence score minimal di atas 70% dan solusi perbaikan data latih jika prediksi meleset).

Formatif:

  • Penilaian kinerja unjuk kerja kelompok dalam menerapkan 4 tahapan sistematis (perumusan masalah, pengumpulan data gambar, pelatihan model KA, pengujian prediksi) menggunakan lembar observasi dan lembar kerja praktikum pemilahan sampah.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan Tahapan Sistematis Pemecahan Masalah Berbasis KAHanya menerapkan 1 dari 4 tahapan sistematis pemecahan masalah (perumusan masalah, pengumpulan data, pelatihan model, pengujian) dengan bantuan penuh guru.Menerapkan 2 dari 4 tahapan sistematis pemecahan masalah pemilahan sampah menggunakan sistem KA dengan arahan guru.Menerapkan 3 hingga 4 tahapan sistematis pemecahan masalah pemilahan sampah menggunakan sistem KA secara runtut dan mandiri dalam kelompok.Menerapkan seluruh 4 tahapan sistematis pemecahan masalah pemilahan sampah secara runtut, mandiri, serta mampu mengevaluasi penyebab ketidaksesuaian prediksi model dan memperbaiki data latih secara tepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk pengambilan dataset sampah dan pelatihan model di Teachable Machine mencukupi bagi semua kelompok?
  • Bagaimana keterlibatan setiap murid dalam menerapkan langkah sistematis pemecahan masalah menggunakan sistem KA?
  • Kendala teknis apa saja yang dihadapi murid saat melatih dan menguji model deteksi sampah, dan bagaimana solusinya untuk pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Bagian mana dari tahapan melatih model KA pemilah sampah yang paling menantang bagi kelompokmu?
  • Mengapa komputer/sistem KA bisa salah menebak jenis sampah saat diuji dengan benda baru?
  • Apa yang akan kamu perbaiki pada data latih agar sistem KA buatan kelompokmu menjadi lebih pintar dan akurat?

Pertemuan 8 — Penerapan Pemecahan Masalah Sederhana Berbasis KA pada Konteks Layanan Interaktif Masyarakat — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.4 Menerapkan pemecahan masalah sederhana dalam kehidupan masyarakat secara sistematis menggunakan sistem KA

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan suasana belajar yang kondusif (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menerapkan pemecahan masalah sederhana dalam konteks layanan interaktif masyarakat secara sistematis menggunakan sistem KA (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid diminta menjawab secara lisan/catatan singkat 1 pertanyaan: 'Sebutkan 3 komponen alur sistematis ketika sistem KA digunakan untuk menjawab keluhan warga!' (acuan jawaban benar: komponen mencakup [1] input keluhan/pertanyaan warga, [2] proses pemilahan/klasifikasi oleh sistem KA, dan [3] output jawaban solusi/arahan layanan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan dan studi kasus layanan interaktif masyarakat: antrean panjang warga di kantor kelurahan saat menanyakan jadwal pelayanan KTP, surat domisili, dan bantuan sosial (5 menit).
  • Murid secara berkelompok menganalisis 4 contoh kartu interaksi pertanyaan warga berikut: (1) 'Kapan jadwal rekam e-KTP keliling?' -> Kategori Informasi Kependudukan; (2) 'Bagaimana syarat bikin surat domisili usaha?' -> Kategori Layanan Perizinan; (3) 'Kapan bansos sembako cair?' -> Kategori Bantuan Sosial; (4) 'Lampu jalan di RT 03 mati' -> Kategori Pengaduan Fasilitas (acuan: kategori pemilahan tepat sesuai 4 pasangan di atas) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan simulasi tantangan berpasangan 'Bot Layanan Cerdas Kelurahan': murid A berperan sebagai warga yang memberikan 4 skenario pertanyaan masyarakat secara acak dan murid B menerapkan alur pemecahan masalah sistematis (memasukkan input -> mengelompokkan jenis layanan berbasis KA -> memberikan respon solusi terverifikasi) (15 menit).
  • Setiap kelompok menerapkan pemecahan masalah sederhana layanan interaktif warga dengan melengkapi tabel rancangan sistematis pada Lembar Kerja: (1) Identifikasi masalah masyarakat, (2) Jenis data input pertanyaan/suara warga, (3) Aturan/pola kerja sistem KA dalam mengenali maksud warga, dan (4) Bentuk output respons bantuan langsung masyarakat (acuan kriteria: seluruh 4 tahapan alur terisi runtut, logis, dan relevan dengan kasus layanan publik) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara berpasangan saling memeriksa hasil rancangan alur sistematis pemecahan masalah layanan interaktif masyarakat menggunakan rubrik teman sejawat (7 menit).
  • Murid menuliskan satu kesadaran penting tentang bagaimana sistem KA mempermudah kehidupan masyarakat luas dan batasan apa yang tetap memerlukan bantuan petugas manusia (3 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan alur penerapan pemecahan masalah sederhana berbasis sistem KA dalam konteks layanan interaktif masyarakat (2 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas penerapan alur pemecahan masalah kelompok dan mengingatkan persiapan untuk pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 4 pada pertemuan berikutnya (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar bantu visual alur sistematis (Input-Proses-Output) bagi kelompok yang membutuhkan bimbingan bertahap.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan fokus memetakan 2 skenario layanan pokok, sedangkan murid yang lebih cepat memetakan hingga 4 skenario layanan lengkap beserta penanganan pertanyaan di luar sistem (fallback).
  • Produk: Rancangan pemecahan masalah disajikan dalam bentuk tabel alur sistematis atau bagan diagram alir layanan KA.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman komponen pemecahan masalah berbasis KA: murid menyebutkan 3 tahapan alur sistematis penanganan pesan warga oleh sistem KA (acuan: [1] input pertanyaan/pesan warga, [2] pemrosesan/klasifikasi otomatis oleh model KA, [3] output respons informasi/solusi layanan)

Proses:

  • Observasi kerja kelompok saat menyelesaikan 4 pasangan kartu interaksi warga dan penyusunan tabel 4 tahapan alur sistematis pemecahan masalah layanan publik (acuan: tepat menghubungkan 4 pertanyaan warga ke kategori layanan dan menyusun alur input-proses-output secara logis)

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: murid menjawab secara tertulis penentuan alur sistematis pada 1 kasus baru: 'Warga melapor via chat: Jalan berlubang di depan pasar'. Murid menuliskan input, proses pemilahan KA, dan output respon (acuan: input = teks/foto jalan rusak, proses KA = pengenalan kategori pengaduan infrastruktur, output = tiket aduan dan informasi estimasi perbaikan dinas terkait)

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja pemecahan masalah sistematis pada lembar kerja skenario layanan interaktif masyarakat

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan pemecahan masalah sistematis menggunakan sistem KABelum mampu menyusun alur pemecahan masalah layanan masyarakat secara sistematis (hanya mengisi 1 tahap atau belum relevan).Mampu menyusun sebagian alur pemecahan masalah layanan masyarakat secara sistematis (2 tahap tepat: input dan output saja).Mampu menerapkan pemecahan masalah layanan masyarakat secara sistematis mencakup seluruh 4 tahapan (masalah, input data, proses klasifikasi KA, dan output solusi) dengan tepat sesuai acuan skenario.Mampu menerapkan pemecahan masalah layanan masyarakat secara sistematis mencakup seluruh 4 tahapan secara tepat, mandiri tanpa bantuan guru, dan menyertakan penanganan kondisi input ambigu (fallback).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur pemecahan masalah layanan masyarakat yang dirancang murid sudah menunjukkan cara berpikir komputasional yang logis dan sistematis?
  • Bagaimana keterlibatan aktif murid saat simulasi berpasangan bot layanan cerdas?

Murid:

  • Bagian alur pemecahan masalah mana yang paling menantang saat merancang sistem KA untuk layanan warga?
  • Mengapa sistem KA membutuhkan data input yang jelas agar dapat menyelesaikan masalah masyarakat secara tepat?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.4.1 Menggunakan perangkat KA sederhana dengan kritis untuk pengenalan pola
  • TP 7.4.2 Menuliskan input bermakna ke dalam sistem KA untuk menghasilkan respons yang relevan
  • TP 7.4.3 Menerapkan pengelolaan data secara sistematis untuk melatih model klasifikasi pada sistem KA
  • TP 7.4.4 Menerapkan pemecahan masalah sederhana dalam kehidupan masyarakat secara sistematis menggunakan sistem KA

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif, memeriksa kehadiran murid di laboratorium komputer, dan menyampaikan tujuan asesmen sumatif Bab 4 (3 menit).
  • Guru membagikan Lembar Kerja Asesmen Sumatif Terintegrasi dan menjelaskan tata tertib penugasan praktik serta proyek tertulis (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid membaca dan mencermati instruksi Bagian 1 (praktik pengelolaan data dan pengoperasian perangkat KA berbasis web) serta Bagian 2 (perumusan input bermakna dan perancangan solusi KA masyarakat) pada lembar kerja (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid dalam kelompok melaksanakan Tugas 1: menyusun tabel dataset pelatihan terstruktur minimal 2 kategori (masing-masing 15 sampel data gambar/pose/audio), melatih model pada platform KA sederhana (Teachable Machine), dan menguji ketepatan pengenalan pola dengan mencatat hasil persentase keyakinan model pada lembar pengamatan (35 menit).
  • Murid dalam kelompok melaksanakan Tugas 2: menyusun laporan tertulis yang memuat rumusan input bermakna (komponen peran, konteks, instruksi spesifik, dan format luaran) serta merancang dokumen pemecahan masalah sederhana di masyarakat (konteks pemilahan sampah atau layanan publik) berbasis sistem KA (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara berkelompok memeriksa kelengkapan artefak portofolio (tabel dataset, lembar observasi pengenalan pola, rumusan input bermakna, dan dokumen rancangan solusi masyarakat) sebelum dikumpulkan (5 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh artefak portofolio hasil asesmen sumatif dari setiap kelompok (2 menit).
  • Guru menyampaikan apresiasi atas integritas dan kerja keras murid selama menyelesaikan pembelajaran Bab 4 dan menutup pertemuan dengan doa bersama (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses berupa lembar kerja tercetak dengan panduan format tabel yang jelas tanpa mengubah indikator penilaian.
  • Proses: Akomodasi waktu berupa pendampingan akses pembacaan teks instruksi bagi kelompok yang memerlukan bantuan tanpa memberikan jawaban teknis.
  • Produk: Format penyusunan portofolio dapat diserahkan dalam bentuk dokumen cetak terstruktur atau dokumen digital sesuai ketersediaan perangkat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan teknis mandiri sebelum asesmen dimulai: murid memeriksa kesiapan perangkat keras (kamera/mikrofon/komputer) dan akses platform KA berbasis web (acuan: perangkat menyala, peramban terbuka, sensor kamera/audio aktif).

Proses:

  • Observasi keterlibatan aktif dan kepatuhan prosedur pengerjaan tugas praktik di laboratorium komputer selama asesmen berlangsung menggunakan lembar observasi unjuk kerja.

Sumatif Bab:

  • penugasan praktik dan projek terintegrasi: portofolio kerja berupa tabel dataset terstruktur, lembar rumusan input bermakna dan hasil respons, catatan pengoperasian perangkat KA untuk pengenalan pola, serta laporan rancangan solusi KA untuk pemecahan masalah sederhana di masyarakat
  • praktik pengelolaan data dan unjuk kerja pengoperasian perangkat KA serentak: tabel dataset pelatihan yang dikelompokkan secara terstruktur dan lembar kerja pengamatan hasil pengenalan pola sistem KA yang dikerjakan serentak di laboratorium komputer (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian pengelolaan data dan lembar observasi unjuk kerja)
  • penugasan tertulis dan perancangan projek solusi sistem KA: laporan tertulis kelompok yang memuat rumusan input bermakna dan respons yang diperoleh, serta dokumen rancangan solusi sistem KA untuk pemecahan masalah sederhana di masyarakat (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian perancangan solusi dan ketepatan input KA)

Sumatif:

  • penugasan praktik dan projek terintegrasi: portofolio kerja berupa tabel dataset terstruktur, lembar rumusan input bermakna dan hasil respons, catatan pengoperasian perangkat KA untuk pengenalan pola, serta laporan rancangan solusi KA untuk pemecahan masalah sederhana di masyarakat
  • praktik pengelolaan data dan unjuk kerja pengoperasian perangkat KA serentak: tabel dataset pelatihan yang dikelompokkan secara terstruktur dan lembar kerja pengamatan hasil pengenalan pola sistem KA yang dikerjakan serentak di laboratorium komputer (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian pengelolaan data dan lembar observasi unjuk kerja)
  • penugasan tertulis dan perancangan projek solusi sistem KA: laporan tertulis kelompok yang memuat rumusan input bermakna dan respons yang diperoleh, serta dokumen rancangan solusi sistem KA untuk pemecahan masalah sederhana di masyarakat (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian perancangan solusi dan ketepatan input KA)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengelolaan Data Sistematis untuk Model Klasifikasi KA (TP 7.4.3)Dataset tidak dikelompokkan dalam kategori yang jelas dan jumlah data latih kurang dari 5 sampel per kategori.Dataset dikelompokkan ke dalam kategori tetapi pelabelan belum terstruktur rapi atau data latih hanya berjumlah 5-9 sampel per kategori.Dataset dikelompokkan secara terstruktur ke dalam minimal 2 label kategori yang jelas dengan data latih 10-14 sampel per kategori secara rapi.Dataset dikelompokkan secara sangat terstruktur ke dalam minimal 2 label kategori yang jelas, seimbang, dan memenuhi minimal 15 sampel berkualitas per kategori.
Pengoperasian Perangkat KA Sederhana untuk Pengenalan Pola (TP 7.4.1)Tidak mampu menjalankan proses pelatihan model dan pengujian pengenalan pola pada perangkat KA.Mampu melatih model KA namun belum mencatat hasil pengujian pengenalan pola secara runtut pada lembar observasi.Mampu melatih model dan menguji pengenalan pola pada perangkat KA dengan mencatat hasil pengamatan dan persentase keyakinan model secara tepat.Mampu melatih model, menguji pengenalan pola secara mandiri dan kritis, serta mendokumentasikan analisis pengenalan pola dan variasi respons perangkat secara komprehensif.
Penulisan Input Bermakna ke Sistem KA (TP 7.4.2)Rumusan input hanya memuat 1 komponen (hanya instruksi umum) tanpa konteks dan menghasilkan respons yang kurang relevan.Rumusan input memuat 2 komponen (konteks dan instruksi sederhana) dan menghasilkan respons yang cukup relevan.Rumusan input memuat 3 komponen lengkap (peran, konteks masalah, dan instruksi spesifik) yang menghasilkan respons terarah dan relevan.Rumusan input memuat 4 komponen lengkap (peran, konteks masalah terperinci, instruksi spesifik bertingkat, dan batasan format luaran) yang menghasilkan respons yang sangat akurat dan relevan.
Perancangan Solusi Sederhana Berbasis KA di Masyarakat (TP 7.4.4)Rancangan solusi tidak mengidentifikasi masalah masyarakat yang jelas dan tidak melibatkan pemanfaatan sistem KA.Rancangan solusi mengidentifikasi masalah di masyarakat (misal sampah atau layanan), namun mekanisme sistem KA yang diajukan belum sistematis.Rancangan solusi memuat identifikasi masalah nyata di masyarakat, alur kerja sistem KA yang sistematis, dan peran teknologi dalam mengatasi masalah tersebut.Rancangan solusi memuat analisis kebutuhan masalah masyarakat secara runtut, diagram/tahapan kerja sistem KA yang sangat sistematis, realistis, dan beretika.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 80 menit memadai bagi seluruh kelompok untuk menyelesaikan tugas praktik dan penugasan perancangan solusi tertulis?
  • Bagaimana tingkat pemahaman konseptual dan keterampilan operasional murid dalam memanfaatkan sistem KA berdasarkan portofolio yang dikumpulkan?

Murid:

  • Bagian tugas mana yang paling menantang bagi kelompokmu: mengelola data latih, menguji model KA, atau merumuskan prompt solusi?
  • Pembelajaran berharga apa yang kamu dapatkan mengenai pemanfaatan sistem kecerdasan artifisial untuk membantu kehidupan masyarakat?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII (Kemendikdasmen, 2025)
  2. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII (Kemendikdasmen, 2025)
  3. Platform web Teachable Machine with Google (https://teachablemachine.withgoogle.com/)
  4. Perangkat komputer/laptop dengan webcam dan koneksi internet
  5. Benda konkret: buku tulis dan kotak pensil
  6. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII, Bab 4
  7. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII, Bab 4
  8. Komputer/laptop dengan peramban web, webcam, mikrofon, dan akses internet
  9. Platform daring Teachable Machine with Google (Pose Project & Audio Project)
  10. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMP/MTs Kelas VII
  11. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMP/MTs Kelas VII
  12. Platform Sistem KA berbasis teks (Chatbot AI edukatif)
  13. Lembar Kerja Siswa dan Kartu Skenario Prompt Builder
  14. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII
  15. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII Bab 4
  16. Lembar Kerja Murid: Tantangan Dokter Prompt (Analisis & Revisi Input KA)
  17. Perangkat komputer/laptop/gawai dengan simulasi antarmuka teks sistem KA
  18. Platform berbasis web Teachable Machine (Google)
  19. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek)
  20. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek)
  21. Perangkat komputer/laptop dengan peramban web dan webcam aktif
  22. Objek fisik berupa pensil dan penghapus untuk pengambilan data latih gambar
  23. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikdasmen, 2025)
  24. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikdasmen, 2025)
  25. Paket Kartu Data Gambar Sampah Organik dan Anorganik untuk Pelatihan Klasifikasi
  26. Komputer/Laptop/Perangkat peramban web (opsional untuk verifikasi visual)
  27. Buku Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek
  28. Komputer/Laptop dengan koneksi internet dan peramban web
  29. Platform Teachable Machine by Google (Modul Image Project)
  30. Sampel sampah nyata/gambar (daun, ranting, botol plastik, kantong kresek, kardus, kertas bekas)
  31. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek
  32. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII, Kemendikbudristek
  33. Kartu Skenario Pengaduan Warga dan Lembar Kerja Alur Pemecahan Masalah KA
  34. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII, Kemendikdasmen 2025
  35. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial SMP/MTs Kelas VII, Kemendikdasmen 2025 (Bab 4)
  36. Platform Web Teachable Machine (Google)
  37. Komputer/Laptop dengan koneksi internet dan sensor kamera/audio
  38. Lembar Kerja Asesmen Sumatif Bab 4

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.