Modul AjarPertemuan 2Bab 1Fase CSemester 1

Modul Ajar Koding dan Kecerdasan Artifisial Kelas 5: Dekomposisi: Memecah Masalah Menjadi Bagian Kecil

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial kelas 5 dengan topik "Dekomposisi: Memecah Masalah Menjadi Bagian Kecil". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Koding dan Kecerdasan Artifisial Kelas 5: Dekomposisi: Memecah Masalah Menjadi Bagian Kecil

Koding dan Kecerdasan Artifisial - Kelas 5

Bab 1 - Pertemuan 2

MODUL AJAR

Koding dan Kecerdasan Artifisial — Kelas 5 (Fase C)

Topik: Dekomposisi: Memecah Masalah Menjadi Bagian Kecil

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranKoding dan Kecerdasan Artifisial
Fase / KelasFase C / Kelas 5
TopikDekomposisi: Memecah Masalah Menjadi Bagian Kecil
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat menjelaskan konsep dekomposisi sebagai cara memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah diselesaikan.
  2. Murid dapat menerapkan dekomposisi pada permasalahan sederhana sehari-hari, seperti merapikan kamar atau menyelesaikan tugas, dengan menyebutkan langkah-langkah bagiannya secara sistematis.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kamu merasa bingung atau kewalahan karena punya tugas atau pekerjaan yang terasa sangat besar dan sulit diselesaikan sekaligus? Apa yang kamu lakukan saat itu?
  2. Kalau kamu diminta merapikan kamar yang sangat berantakan, dari mana kamu akan mulai dan bagaimana caranya agar kamar bisa rapi?
  3. Menurutmu, mengapa memecah satu tugas besar menjadi tugas-tugas kecil bisa membuat pekerjaan terasa lebih mudah?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan mengajak murid berdoa bersama sebelum memulai pembelajaran.
  • Guru mengecek kehadiran murid dan mengondisikan suasana kelas agar siap belajar.
  • Asesmen awal (diagnostik): Guru menampilkan gambar kamar yang sangat berantakan di papan tulis atau layar proyektor, lalu mengajukan pertanyaan pemantik kepada murid: 'Pernahkah kalian merasa bingung karena punya tugas yang banyak?' dan 'Kalau disuruh membereskan kamar seperti ini, kalian akan mulai dari mana?' Guru menampung jawaban murid secara lisan tanpa menilai benar atau salah untuk memetakan pemahaman awal murid.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini: murid akan belajar mengenal konsep dekomposisi dan cara menerapkannya untuk memecah masalah sehari-hari menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikerjakan.
  • Guru membangun motivasi dengan menyampaikan bahwa cara berpikir yang akan dipelajari hari ini digunakan oleh para ahli teknologi dan programmer di seluruh dunia untuk menyelesaikan masalah yang rumit.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menampilkan dua ilustrasi di papan tulis: (1) seorang anak mencoba mengerjakan semua tugas sekaligus dan tampak kewalahan, (2) seorang anak yang memecah tugas yang sama menjadi daftar tugas-tugas kecil dan mengerjakan satu per satu dengan tenang. Guru mengajak murid mengamati dan membandingkan kedua gambar tersebut.
  • Guru bertanya kepada murid: 'Apa perbedaan yang kalian lihat dari dua gambar ini? Kira-kira siapa yang lebih mudah menyelesaikan tugasnya dan mengapa?' Guru menampung jawaban beberapa murid secara lisan.
  • Guru menjelaskan konsep dekomposisi secara eksplisit: 'Dekomposisi adalah cara memecah masalah atau tugas besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah untuk diselesaikan satu per satu. Ini adalah salah satu cara berpikir komputasional yang dipakai juga oleh komputer dan programmer.' Guru menuliskan kata kunci 'DEKOMPOSISI' di papan tulis beserta definisi singkatnya.
  • Guru memberikan contoh konkret dari kehidupan sehari-hari: 'Misalnya, tugas besar kita adalah merapikan kamar. Kalau kita pecah dengan dekomposisi, menjadi: (1) merapikan bantal dan selimut, (2) menyapu lantai, (3) menyusun buku di rak, (4) membuang sampah. Setiap bagian kecil ini lebih mudah dikerjakan satu per satu daripada memikirkan semuanya sekaligus.'
  • Guru meminta murid membuka buku siswa halaman 19 dan membaca bersama-sama teks tentang dekomposisi (kisah Rafi dan tugasnya). Guru membimbing murid memaknai isi teks dengan bertanya: 'Apa masalah besar yang dihadapi Rafi?' dan 'Bagaimana cara Rafi memecah masalah tersebut?'

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru mengarahkan murid membuka buku siswa halaman 20 untuk mengerjakan Aktivitas 6 (Petualangan Peta Labirin) secara mandiri. Guru menjelaskan cara kerja aktivitas: murid harus memilih jalur yang benar (dimulai dengan 'ambil sapu' dan berakhir dengan 'menyusun buku') untuk membantu Rafi membereskan kamarnya.
  • Murid mengerjakan peta labirin secara mandiri selama ±8 menit. Guru berkeliling memantau dan memberikan bimbingan kepada murid yang mengalami kesulitan tanpa langsung memberikan jawaban, melainkan memancing dengan pertanyaan: 'Kira-kira setelah mengambil sapu, apa langkah selanjutnya yang masuk akal?'
  • Setelah selesai, guru membahas hasil aktivitas bersama kelas. Guru mengajak 2–3 murid untuk mempresentasikan jalur yang mereka pilih dan menjelaskan alasannya.
  • Guru memberikan tantangan lanjutan (diferensiasi): murid diminta membuat daftar dekomposisi untuk salah satu kegiatan sehari-hari yang mereka pilih sendiri (misalnya: bersiap berangkat sekolah, memasak mie instan, atau mencuci piring). Murid menuliskan minimal 4 langkah kecil dari kegiatan tersebut di buku tulis mereka.
  • Guru meminta 2–3 murid secara sukarela untuk membacakan daftar langkah yang telah mereka buat di depan kelas. Kelas berdiskusi singkat: apakah urutan langkah-langkah tersebut sudah logis dan sistematis?
  • Guru menegaskan kembali: 'Ketika kalian memecah satu kegiatan besar menjadi langkah-langkah kecil yang urut seperti tadi, itulah yang disebut dekomposisi. Kalian sudah berpikir seperti seorang programmer!'

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid berhenti sejenak dan merenungkan pengalaman belajar mereka hari ini dengan pertanyaan refleksi: 'Tadi kalian sudah mencoba memecah satu kegiatan besar menjadi langkah kecil. Apa yang kalian rasakan saat mengerjakan itu? Apakah terasa lebih mudah atau lebih sulit?'
  • Murid menuliskan jawaban refleksi singkat di buku tulis mereka (3–4 kalimat): (1) Apa itu dekomposisi menurutmu dengan kata-katamu sendiri? (2) Kapan kamu bisa memakai dekomposisi dalam keseharianmu? Guru memberi waktu ±5 menit untuk menulis.
  • Guru meminta 2–3 murid berbagi refleksi mereka secara lisan. Guru merespons dengan hangat dan mengapresiasi setiap jawaban tanpa menghakimi.
  • Guru mengajak murid menyimpulkan pembelajaran hari ini bersama-sama: 'Jadi, dekomposisi adalah cara kita memecah masalah atau tugas besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah diselesaikan, satu per satu, secara urut dan sistematis.'

Penutup:

  • Guru bersama murid membuat rangkuman pembelajaran: 'Hari ini kita belajar bahwa dekomposisi adalah cara memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dikerjakan satu per satu.'
  • Asesmen akhir (sumatif lisan): Guru mengajukan 2 pertanyaan lisan secara acak kepada 3–4 murid: (1) 'Apa yang dimaksud dengan dekomposisi?' dan (2) 'Berikan satu contoh penerapan dekomposisi dalam kehidupan sehari-harimu.' Guru mencatat respon murid sebagai data asesmen.
  • Guru memberikan apresiasi kepada seluruh murid atas partisipasi dan kerja keras mereka hari ini.
  • Guru menyampaikan gambaran singkat materi pertemuan berikutnya: 'Di pertemuan selanjutnya, kita akan belajar tentang pengenalan pola — yaitu cara menemukan hal-hal yang berulang dalam suatu masalah. Kalian sudah siap?' untuk membangun antusiasme.
  • Guru menutup pembelajaran dengan salam dan doa bersama.

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang belum memahami konsep dekomposisi, guru menyediakan kartu bergambar berisi langkah-langkah merapikan kamar yang sudah dicetak dan dipotong-potong. Murid cukup menyusun urutan kartu-kartu tersebut daripada menulisnya dari nol. Untuk murid yang sudah cepat paham, guru menyediakan skenario masalah yang lebih kompleks, misalnya 'merencanakan acara ulang tahun' atau 'mengerjakan proyek sains sekolah', untuk didekomposisi.
  • Proses: Murid yang membutuhkan dukungan ekstra dapat mengerjakan Aktivitas 6 secara berpasangan dengan teman sebangku agar bisa saling berdiskusi. Murid yang sudah mandiri mengerjakan secara perorangan. Guru memberikan scaffolding berupa pertanyaan penuntun bagi murid yang kesulitan: 'Apa yang perlu dilakukan pertama kali? Lalu apa sesudahnya?'
  • Produk: Murid yang lebih cepat selesai diminta membuat minimal 6 langkah dekomposisi untuk skenario yang lebih kompleks dan mengurutkannya dalam bentuk diagram sederhana berbentuk kotak-kotak yang dihubungkan dengan panah. Murid yang membutuhkan lebih banyak waktu cukup menyelesaikan daftar minimal 4 langkah untuk satu kegiatan sederhana pilihan mereka secara tertulis.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan gambar kamar berantakan dan mengajukan pertanyaan pemantik secara lisan: 'Kalau kalian diminta membereskan kamar yang sangat berantakan ini, dari mana kalian akan mulai?' Guru menampung 3–5 jawaban murid tanpa menilai benar-salah, untuk memetakan apakah murid sudah memiliki intuisi tentang pemecahan masalah secara bertahap atau masih berpikir secara keseluruhan sekaligus.
  • Guru bertanya: 'Siapa yang pernah merasa bingung atau kewalahan karena tugas terasa terlalu banyak? Apa yang biasanya kalian lakukan?' — untuk mengidentifikasi strategi awal yang sudah dimiliki murid dalam menghadapi masalah kompleks.

Proses:

  • Saat tahap Memahami: guru mengajukan pertanyaan lisan 'Apa perbedaan yang kalian lihat dari dua gambar ini?' dan mencatat kemampuan murid mengidentifikasi perbedaan antara mengerjakan tugas sekaligus versus bertahap.
  • Saat tahap Mengaplikasi (Aktivitas 6): guru berkeliling dan mengamati apakah murid dapat memilih jalur labirin yang benar dan memberikan alasan logis atas pilihan mereka. Guru mencatat murid yang masih kesulitan untuk diberikan bimbingan segera.
  • Saat tahap Mengaplikasi (membuat daftar langkah): guru menilai hasil tulisan murid menggunakan ceklis sederhana — apakah murid berhasil mengidentifikasi lebih dari satu langkah kecil, apakah langkah-langkah tersebut logis dan berurutan, dan apakah relevan dengan kegiatan yang dipilih.
  • Saat tahap Merefleksi: guru membaca tulisan refleksi murid untuk mengecek apakah murid mampu mendefinisikan dekomposisi dengan bahasa sendiri dan mengidentifikasi konteks penerapannya.

Akhir:

  • Asesmen lisan: guru secara acak memilih 3–4 murid dan mengajukan dua pertanyaan — (1) 'Apa itu dekomposisi?' dan (2) 'Berikan satu contoh bagaimana kamu bisa memakai dekomposisi di rumah atau di sekolah.' Guru mencatat jawaban murid berdasarkan indikator TP 5.1.2.1 dan 5.1.2.2.
  • Penilaian produk tulisan: daftar langkah dekomposisi yang dibuat murid secara mandiri dinilai menggunakan rubrik 4 level berdasarkan aspek: (1) pemahaman konsep dekomposisi, dan (2) kemampuan menerapkan dekomposisi secara sistematis pada situasi nyata.

Formatif:

  • Observasi lisan saat guru mengajukan pertanyaan pemantik di awal pembelajaran untuk memetakan pemahaman awal murid tentang cara mengatasi tugas yang terasa besar.
  • Pemantauan langsung saat murid mengerjakan Aktivitas 6 (Peta Labirin): guru mengamati proses berpikir murid, kemampuan memilih jalur yang logis, dan kemampuan menjelaskan pilihan mereka.
  • Diskusi kelas saat murid membacakan daftar langkah dekomposisi kegiatan sehari-hari yang mereka buat: guru menilai apakah urutan langkah sudah sistematis dan logis.
  • Lembar refleksi tertulis murid sebagai bukti pemahaman dan kemampuan murid mengaitkan konsep dekomposisi dengan kehidupan nyata mereka.

Sumatif:

  • Asesmen lisan di akhir pembelajaran: murid diminta menjelaskan pengertian dekomposisi dengan kata-kata sendiri dan menyebutkan satu contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Hasil tulisan daftar langkah dekomposisi yang dibuat murid secara mandiri (minimal 4 langkah untuk satu kegiatan sehari-hari pilihan) dinilai menggunakan rubrik 4 level.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pemahaman Konsep Dekomposisi (TP 5.1.2.1)Murid belum dapat menjelaskan apa itu dekomposisi, atau penjelasannya tidak berkaitan dengan konsep memecah masalah besar menjadi bagian kecil.Murid dapat menyebutkan kata kunci 'dekomposisi' atau 'memecah masalah', namun penjelasannya masih terbatas atau kurang jelas dan perlu banyak bantuan dari guru.Murid dapat menjelaskan dekomposisi sebagai cara memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil dengan bahasa sendiri yang cukup jelas, meskipun contoh yang diberikan masih sederhana.Murid dapat menjelaskan konsep dekomposisi dengan jelas, runtut, dan menggunakan bahasa sendiri yang tepat, serta mampu mengaitkannya dengan konsep berpikir komputasional secara mandiri tanpa bantuan guru.
Penerapan Dekomposisi pada Permasalahan Sehari-hari (TP 5.1.2.2)Murid belum dapat menyebutkan langkah-langkah kecil dari suatu kegiatan, atau langkah yang disebutkan tidak relevan dan tidak berurutan.Murid dapat menyebutkan 1–2 langkah kecil dari suatu kegiatan sehari-hari, namun urutannya belum sistematis atau masih memerlukan bimbingan guru untuk melengkapinya.Murid dapat menyebutkan 3–4 langkah kecil dari suatu kegiatan sehari-hari dengan urutan yang cukup logis dan sistematis secara mandiri.Murid dapat menyebutkan 5 langkah atau lebih dari suatu kegiatan sehari-hari dengan urutan yang logis, sistematis, dan rinci secara mandiri, serta mampu menjelaskan mengapa urutan langkah-langkah tersebut penting.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid terlihat aktif terlibat dalam setiap tahap pembelajaran hari ini? Murid mana yang perlu perhatian lebih di pertemuan berikutnya?
  • Apakah pertanyaan pemantik yang saya gunakan berhasil memancing rasa ingin tahu dan diskusi yang bermakna dari murid?
  • Apakah alokasi waktu untuk setiap tahap (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi) sudah proporsional dan cukup? Tahap mana yang perlu disesuaikan?
  • Seberapa efektif diferensiasi yang saya terapkan hari ini dalam mengakomodasi murid dengan kemampuan berbeda?
  • Apa yang perlu saya perbaiki atau kembangkan dari strategi pembelajaran hari ini agar tujuan pembelajaran tercapai lebih baik di pertemuan berikutnya?

Refleksi Murid:

  • Dengan kata-katamu sendiri, apa itu dekomposisi? Coba tuliskan dalam 1–2 kalimat.
  • Sebutkan satu kegiatan sehari-harimu yang bisa kamu pecah dengan dekomposisi. Tuliskan langkah-langkah kecilnya!
  • Apa bagian dari pembelajaran hari ini yang paling menarik atau menyenangkan bagimu? Mengapa?
  • Adakah bagian yang masih terasa bingung atau sulit? Apa yang masih ingin kamu tanyakan?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa: Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SD/MI Kelas V — halaman 19–20 (teks dekomposisi dan Aktivitas 6 Petualangan Peta Labirin)
  2. Panduan Guru: Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SD/MI Kelas V — halaman 23, 42, 52 (panduan Bab 1, Aktivitas 6, dan catatan dekomposisi)
  3. Gambar ilustrasi dua skenario: (1) anak kewalahan mengerjakan semua tugas sekaligus, (2) anak mengerjakan tugas satu per satu — dicetak atau ditampilkan di proyektor
  4. Kartu bergambar langkah-langkah merapikan kamar yang sudah dicetak dan dipotong (untuk diferensiasi murid yang membutuhkan dukungan)
  5. Papan tulis atau whiteboard untuk menuliskan kata kunci dan contoh dekomposisi secara langsung
  6. Proyektor atau layar tampilan (opsional) untuk menampilkan gambar ilustrasi dan peta labirin
  7. Buku tulis dan alat tulis murid

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.