Modul AjarBab 2Fase FSemester 1

Modul Ajar Koding dan Kecerdasan Artifisial Kelas 11 Bab 2: Dampak Kecerdasan Artifisial (KA) terhadap Ketenagakerjaan

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Koding dan Kecerdasan Artifisial kelas 11 untuk Bab 2 "Dampak Kecerdasan Artifisial (KA) terhadap Ketenagakerjaan", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Koding dan Kecerdasan Artifisial Kelas 11 Bab 2: Dampak Kecerdasan Artifisial (KA) terhadap Ketenagakerjaan

Koding dan Kecerdasan Artifisial - Kelas 11

Bab 2

MODUL AJAR

Koding dan Kecerdasan Artifisial — Kelas 11 (Fase F)

Topik: Bab 2 — Dampak Kecerdasan Artifisial (KA) terhadap Ketenagakerjaan

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranKoding dan Kecerdasan Artifisial
Fase / KelasFase F / Kelas 11
TopikBab 2 — Dampak Kecerdasan Artifisial (KA) terhadap Ketenagakerjaan
Alokasi Waktu23 JP (23 x 45 menit = 1035 menit)
Jumlah Pertemuan10
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 11.2.1 Menganalisis dampak KA terhadap ketenagakerjaan pada pergeseran dan transformasi pekerjaan di berbagai sektor
  2. TP 11.2.2 Mengevaluasi prinsip human-centered yang harus dipatuhi oleh pengembang KA dalam lingkungan kerja
  3. TP 11.2.3 Menelaah bentuk tanggung jawab pengembang KA dalam mengatasi tantangan etika yang ada di dunia kerja
  4. TP 11.2.4 Melakukan prediksi tren pekerjaan masa depan sebagai dampak KA terhadap ketenagakerjaan melalui penerapan berpikir komputasional

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana jadinya jika tugas-tugas rutin yang biasa dikerjakan manusia di kantor atau pabrik sepenuhnya diambil alih oleh sistem Kecerdasan Artifisial?
  2. Apakah otomatisasi KA selalu menghilangkan lapangan pekerjaan secara keseluruhan, atau justru menggeser jenis tugas yang dikerjakan manusia?
  3. Ketika kecerdasan artifisial mampu mengotomatisasi pekerjaan rutin, profesi baru apa saja yang justru tumbuh dan membutuhkan sentuhan manusia?
  4. Keterampilan masa depan apa yang perlu dipersiapkan agar seorang tenaga kerja mampu beradaptasi dan berkembang di era kecerdasan artifisial?
  5. Jika sebuah sistem KA di tempat kerja membuat keputusan pemutusan hubungan kerja tanpa penjelasan dan tanpa opsi banding oleh manusia, apakah sistem tersebut sudah berpusat pada manusia?
  6. Bagaimana kita memastikan bahwa integrasi KA di tempat kerja dirancang untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menyingkirkan kendali manusia?
  7. Jika sebuah sistem KA di tempat kerja dirancang tanpa melibatkan pekerja yang menggunakannya setiap hari, apa dampak yang paling mungkin terjadi terhadap keselamatan dan keadilan kerja?
  8. Bagaimana memastikan sistem otomatisasi KA di lingkungan kerja tetap inklusif bagi seluruh pekerja, termasuk penyandang disabilitas dan pekerja senior?
  9. Bagaimana jika sistem KA penyortir lamaran kerja secara otomatis menolak kandidat hanya karena riwayat data masa lalu bias terhadap gender tertentu?
  10. Apa tanggung jawab utama tim pengembang ketika data pribadi dan rekam kinerja pekerja diakses serta diproses oleh algoritma KA?
  11. Bagaimana sistem pemantauan berbasis KA di tempat kerja dapat memicu pelanggaran privasi dan tekanan mental bagi pekerja?
  12. Apa bentuk tanggung jawab etis yang harus diambil pengembang KA agar teknologi otomatisasi tidak memperlebar jurang ketimpangan sosial di masyarakat?
  13. Bagaimana cara kita memecah suatu pekerjaan menjadi tugas-tugas kecil untuk mengetahui bagian mana yang paling mudah diotomatisasi oleh KA?
  14. Pola apa yang membedakan pekerjaan yang cenderung bertahan/berkembang dengan pekerjaan yang berisiko menurun di era kecerdasan artifisial?
  15. Bagaimana kita menyaring data dampak otomatisasi KA yang sangat banyak agar dapat melihat inti kompetensi kerja yang paling dibutuhkan?
  16. Mengapa proses abstraksi dalam berpikir komputasional penting untuk memprediksi kebutuhan kompetensi kerja baru di era kecerdasan artifisial?
  17. Bagaimana urutan langkah logis yang harus diambil seseorang jika bidang pekerjaannya mulai diotomatisasi oleh kecerdasan artifisial?
  18. Mengapa perancangan tahapan kesiapan kerja membutuhkan struktur logika percabangan (if-else) dan perulangan dalam menghadapi perubahan tren teknologi?
  19. Bagaimana integrasi sistem kecerdasan artifisial dapat mengubah peran manusia di lingkungan kerja tanpa mengabaikan prinsip kemanusiaan?
  20. Bagaimana kita memanfaatkan 4 pilar berpikir komputasional untuk merancang peta jalan adaptasi karier dalam menghadapi disrupsi otomatisasi?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menganalisis Pergeseran Pekerjaan dan Otomatisasi Tugas di Berbagai Sektor — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.2.1 Menganalisis dampak KA terhadap ketenagakerjaan pada pergeseran dan transformasi pekerjaan di berbagai sektor

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini yaitu menganalisis pergeseran pekerjaan dan otomatisasi tugas akibat KA di berbagai sektor (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis cepat klasifikasi tugas kerja rutin dan non-rutin guna memetakan kesiapan awal murid (10 menit).
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik dan mengaitkan konsep otomatisasi KA dengan fenomena nyata seperti mesin kasir mandiri dan chatbot layanan pelanggan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak pemaparan guru dan membaca teks modul mengenai konsep otomatisasi tugas serta 5 skenario studi kasus sektor ketenagakerjaan: (1) Sektor Ritel: Kasir toko fisik beralih ke sistem self-checkout berbasis computer vision; (2) Sektor Layanan Pelanggan: Resepsionis penjawab telepon beralih ke chatbot KA pemroses bahasa alami (NLP); (3) Sektor Manufaktur: Pekerja perakitan manual beralih ke lengan robotik berbasis visi cerdas; (4) Sektor Administrasi/Keuangan: Staf entri data pembukuan beralih ke software Robotic Process Automation (RPA) berbasis KA; (5) Sektor Kesehatan: Staf transkripsi rekam medis manual beralih ke sistem speech-to-text cerdas (15 menit).
  • Dalam suasana menggembirakan, murid memainkan tantangan interaktif berpasangan 'Sortir Tugas Cerdas' untuk mengelompokkan tugas kerja ke dalam 3 kategori: (A) Tugas yang sepenuhnya tergantikan otomatisasi KA, (B) Tugas yang dapat dibantu atau dikolaborasikan dengan KA, dan (C) Tugas yang tetap membutuhkan kemampuan manusia sepenuhnya, dengan bahan 5 kartu tugas: (1) Menjawab pertanyaan FAQ pelanggan berulang, (2) Memasang sekrup pada komponen mesin pabrik secara repetitif, (3) Menganalisis pola tren penjualan data besar, (4) Menghibur dan menenangkan pasien anak sebelum operasi, (5) Memutuskan kebijakan etis pemecatan karyawan (acuan: tugas 1 dan 2 masuk kategori A; tugas 3 masuk kategori B; tugas 4 dan 5 masuk kategori C) (15 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid berkolaborasi dalam kelompok kecil (3-4 orang) mengerjakan Lembar Analisis Pergeseran Pekerjaan untuk menganalisis 5 skenario sektor yang telah dipelajari dengan mengidentifikasi dua komponen utama: (a) jenis tugas rutin yang terotomatisasi oleh KA dan (b) pergeseran peran/tugas baru manusia yang muncul di sektor tersebut (acuan analisis: Skenario 1 Sektor Ritel: tugas rutin terotomatisasi = pemindaian barcode barang dan penerimaan pembayaran tunai, pergeseran peran manusia = pengawas sistem kasir mandiri dan pemelihara pengalaman belanja pelanggan; Skenario 2 Layanan Pelanggan: tugas rutin terotomatisasi = menjawab pertanyaan operasional dan keluhan dasar, pergeseran peran manusia = penanganan eskalasi komplain kompleks dan pelatih dataset respons bot; Skenario 3 Manufaktur: tugas rutin terotomatisasi = pengelasan dan penyortiran barang cacat visual, pergeseran peran manusia = teknisi pengendali/pemrograman robot dan pengawas keselamatan kerja; Skenario 4 Administrasi/Keuangan: tugas rutin terotomatisasi = entri angka kuitansi ke lembar sebar, pergeseran peran manusia = analis validasi integritas data finansial dan konsultan strategi anggaran; Skenario 5 Kesehatan: tugas rutin terotomatisasi = pengetikan rekaman suara dokter ke dokumen digital, pergeseran peran manusia = verifikator akurasi data diagnosis medis dan pendamping interaksi langsung pasien) (50 menit).
  • Setiap kelompok memeriksa silang hasil analisis lembar kerja dengan kelompok pasangannya menggunakan daftar acuan analisis untuk memverifikasi ketepatan identifikasi pergeseran tugas pada kelima sektor (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara berkesadaran menuliskan refleksi individu mengenai makna pergeseran pekerjaan: bahwa otomatisasi KA mentransformasi tugas kerja spesifik (rutin-repetitif) dan bukan langsung melenyapkan seluruh profesi manusia tanpa sisa (15 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari hasil analisis pergeseran pekerjaan di berbagai sektor akibat otomatisasi KA (5 min)
  • Guru memberikan penguatan umpan balik terhadap hasil analisis kelompok serta menginformasikan materi pertemuan berikutnya mengenai transformasi lapangan kerja baru dan keterampilan kerja masa depan tanpa menutup materi bab (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan lembar panduan analisis yang telah dilengkapi pemantik kata kunci untuk membedakan tugas repetitif dan tugas analitis, sedangkan murid yang berpikiran cepat diberikan bahan analisis tambahan berupa sektor transportasi logistik otonom.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi secara bertahap saat menganalisis 2 skenario pertama sebelum mandiri pada skenario berikutnya, sedangkan murid cepat diminta membandingkan tingkat kerentanan otomatisasi antar-sektor secara mandiri.
  • Produk: Analisis disajikan pada format lembar kerja matriks pergeseran tugas terstruktur dengan kedalaman rincian komponen tugas disesuaikan dengan kesiapan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis diagnostik tertulis berupa klasifikasi 4 tugas pekerjaan: (1) Menginput data formulir identitas, (2) Melakukan konseling psikologi, (3) Memilah apel berdasarkan ukuran pada ban berjalan, (4) Mengajar empati anak usia dini. Kriteria kesiapan: Murid tepat mengelompokkan minimal 3 dari 4 tugas tersebut ke dalam jenis 'tugas rutin repetitif' atau 'tugas non-rutin kognitif/sosial' (acuan kunci: tugas 1 dan 3 = tugas rutin repetitif; tugas 2 dan 4 = tugas non-rutin kognitif/sosial).

Proses:

  • Observasi formatif saat murid melakukan analisis 5 skenario sektor pada Lembar Analisis Pergeseran Pekerjaan, dinilai berdasarkan ketepatan membedakan tugas rutin yang terotomatisasi KA dan pergeseran peran tugas baru manusia (acuan kelima sektor: Ritel, Layanan Pelanggan, Manufaktur, Administrasi/Keuangan, dan Kesehatan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat di akhir pembelajaran berisi 2 pertanyaan: (1) Sebutkan 1 contoh tugas rutin yang terotomatisasi KA di sektor manufaktur! (acuan kunci: pengelasan/penyortiran barang cacat secara berulang/perakitan manual); (2) Jelaskan pergeseran peran manusia yang terjadi ketika tugas rutin kasir digantikan mesin otomatis! (kriteria penerimaan: jawaban memuat peralihan peran manusia dari juru hitung/terima uang manual menjadi pengawas mesin, asistensi pelanggan, atau pemelihara layanan).

Formatif:

  • Penilaian proses unjuk kerja analisis kelompok melalui lembar observasi keterlibatan nalar kritis
  • Pemeriksaan ketepatan Lembar Analisis Pergeseran Pekerjaan dan Otomatisasi Tugas

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis dampak pergeseran pekerjaan dan otomatisasi tugas KA di berbagai sektorMenganalisis kurang dari 3 sektor secara tepat dalam mengidentifikasi tugas rutin yang terotomatisasi KA dan pergeseran peran manusia berdasarkan 5 skenario acuan (Ritel, Layanan Pelanggan, Manufaktur, Keuangan, Kesehatan) dengan bimbingan penuh guru.Menganalisis 3 dari 5 sektor secara tepat dalam mengidentifikasi tugas rutin yang terotomatisasi KA dan pergeseran peran manusia berdasarkan skenario acuan dengan sedikit bimbingan guru.Menganalisis 4 dari 5 sektor secara tepat dalam mengidentifikasi tugas rutin yang terotomatisasi KA dan pergeseran peran manusia berdasarkan skenario acuan secara mandiri.Menganalisis seluruh 5 sektor secara tepat dan lengkap dalam mengidentifikasi tugas rutin yang terotomatisasi KA dan pergeseran peran manusia berdasarkan skenario acuan secara mandiri dan komprehensif.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah analisis skenario konkret berhasil membantu murid memahami bahwa KA mengotomatisasi tugas tertentu dan bukan serta-merta menghilangkan seluruh profesi?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas interaktif penyortiran tugas dan diskusi analisis kelompok?

Murid:

  • Apakah saya sudah dapat menganalisis perbedaan antara tugas kerja yang mudah diotomatisasi oleh KA dan tugas yang masih membutuhkan kemampuan manusia?
  • Sektor pekerjaan apa yang menurut saya mengalami pergeseran paling besar akibat otomatisasi KA, dan mengapa?

Pertemuan 2 — Menganalisis Transformasi Lapangan Kerja Baru dan Kebutuhan Keterampilan Kerja Masa Depan — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.2.1 Menganalisis dampak KA terhadap ketenagakerjaan pada pergeseran dan transformasi pekerjaan di berbagai sektor

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan menyampaikan fokus pertemuan yaitu menganalisis transformasi lapangan kerja baru serta kebutuhan keterampilan kerja masa depan akibat dampak KA (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis klasifikasi cepat 4 profesi baru vs tradisional menggunakan kartu tanya-jawab: (1) Prompt Engineer, (2) Pengarsip Dokumen Kertas Manual, (3) AI Ethicist/Auditor Algoritma, (4) Operator Entri Data Teks Manual, dengan acuan kunci: (1 & 3 = Profesi Baru KA; 2 & 4 = Profesi Tradisional) untuk mengukur kesiapan pengetahuan awal murid (10 menit).
  • Guru menghubungkan hasil diagnostik dengan tujuan pembelajaran mengenai pentingnya kesiapan upskilling dan reskilling keterampilan teknis maupun nonteknis dalam menghadapi dampak KA terhadap ketenagakerjaan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri mencermati lembar materi studi kasus tentang 3 profil profesi baru di era KA: (1) AI Solutions Specialist pada sektor kesehatan, (2) Data Annotator & Quality Controller pada industri manufaktur pintar, dan (3) Digital Transformation Consultant pada sektor perbankan (15 menit).
  • Murid membedah elemen keterampilan kerja masa depan yang esensial pada lembar panduan analisis, mencakup 2 domain utama: keterampilan teknis (literasi data, prompt craft, integrasi perkakas KA) dan keterampilan manusiawi nonteknis (pemecahan masalah kompleks, penalaran kritis, adaptabilitas belajar) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan kartu peran tantangan cepat 'Skill Navigator': tiap meja berpasangan mencocokkan secara kompetitif 4 tantangan disrupsi pekerjaan dengan kombinasi keterampilan masa depan yang tepat untuk membangkitkan antusiasme belajar (15 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Kerja Analisis Lapangan Kerja Baru dan Kebutuhan Keterampilan Masa Depan yang berisi 4 skenario transformasi kerja: (1) Transformasi Customer Care Konvensional menjadi Manajer Orkestrasi Chatbot KA pada Sektor E-Commerce; (2) Transformasi Tenaga Analis Laporan Keuangan Manual menjadi AI Financial Modeling Specialist pada Sektor Fintech; (3) Transformasi Perancang Pola Pakaian Manual menjadi Digital Fashion Prompt Designer pada Industri Kreatif Tekstil; (4) Transformasi Operator Sortir Gudang Manual menjadi Spesialis Pemeliharaan Robotika Sortir KA pada Sektor Logistik (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memeriksa keselarasan hasil analisisnya berdasarkan rubrik kunci analisis yang disajikan guru di papan peraga (15 menit).
  • Murid menuliskan jurnal refleksi berkesadaran terkait pemetaan diri: keterampilan mana yang saat ini telah mereka miliki dan keterampilan mana yang perlu mereka kembangkan agar siap menghadapi transformasi ketenagakerjaan masa depan (15 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan konsep inti mengenai pergeseran tuntutan keterampilan masa depan dan apresiasi atas kedalaman analisis yang dilakukan murid (10 menit).
  • Guru menyampaikan tindak lanjut materi untuk pertemuan berikutnya mengenai evaluasi prinsip human-centered dalam sistem kerja berbasis KA serta menutup pertemuan dengan salam (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berisi glosarium istilah dan contoh uraian keterampilan teknis vs nonteknis, sedangkan murid yang mahir diberikan skenario industri 4.0 multidisiplin yang memuat variasi disrupsi lebih kompleks.
  • Proses: Murid dengan pemahaman awal sedang/kurang diberikan scaffolding penahapan analisis per kolom pada skenario 1 dan 2, sedangkan murid yang cepat langsung menganalisis seluruh 4 skenario secara mandiri.
  • Produk: Analisis dituangkan ke dalam matriks lembar kerja; kedalaman rincian justifikasi disesuaikan dengan tingkat kesiapan belajar murid pada kompetensi yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemetaan pengetahuan awal murid berupa klasifikasi 4 profesi ke dalam kategori 'Profesi Baru Era KA' atau 'Profesi Tradisional': (1) Prompt Engineer -> acuan: Profesi Baru Era KA; (2) Pengarsip Dokumen Kertas Manual -> acuan: Profesi Tradisional; (3) AI Ethicist/Auditor Algoritma -> acuan: Profesi Baru Era KA; (4) Operator Entri Data Teks Manual -> acuan: Profesi Tradisional. Kriteria ketercapaian: mengklasifikasikan secara tepat minimal 3 dari 4 butir.

Proses:

  • Formatif analisis melalui Lembar Kerja Analisis Lapangan Kerja Baru dan Kebutuhan Keterampilan Kerja Masa Depan terhadap 4 skenario: (1) Skenario E-Commerce: Manajer Orkestrasi Chatbot KA (acuan analisis pergeseran: tugas menjawab FAQ berulang dialihkan ke chatbot cerdas; acuan keterampilan: teknis = konfigurasi intent bot & NLP tool dasar, nonteknis = penanganan komplain kompleks & empati); (2) Skenario Fintech: AI Financial Modeling Specialist (acuan pergeseran: rekapitulasi angka manual diganti otomatisasi algoritma prediktif; acuan keterampilan: teknis = pemodelan data & validasi output KA, nonteknis = penalaran kritis mendeteksi anomali finansial); (3) Skenario Industri Kreatif: Digital Fashion Prompt Designer (acuan pergeseran: pembuatan draf pola manual digantikan asistensi generatif KA; acuan keterampilan: teknis = perumusan prompt visual & kurasi desain digital, nonteknis = orisinalitas estetika & kepekaan tren budaya); (4) Skenario Logistik: Spesialis Pemeliharaan Robotika Sortir KA (acuan pergeseran: pemindahan paket manual dialihkan ke automated guided vehicles; acuan keterampilan: teknis = kalibrasi sensor cerdas & troubleshooting sistem, nonteknis = ketelitian analitis mitigasi kegagalan operasional).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi melalui penelaahan mandiri lembar kerja: murid mencocokkan uraian analisis pada 4 skenario dengan daftar acuan keterampilan teknis dan nonteknis yang benar, dengan target pencapaian minimal 3 dari 4 skenario dianalisis secara lengkap dan tepat sesuai kriteria operasional.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal melalui kuis klasifikasi profesi baru era KA
  • Asesmen proses melalui pengerjaan lembar analisis 4 skenario transformasi lapangan kerja baru dan kebutuhan keterampilan kerja masa depan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Transformasi Lapangan Kerja Baru dan Dampak KA terhadap KetenagakerjaanMenganalisis transformasi lapangan kerja baru secara tepat hanya pada 1 dari 4 skenario sesuai acuan.Menganalisis transformasi lapangan kerja baru secara tepat pada 2 dari 4 skenario sesuai acuan.Menganalisis transformasi lapangan kerja baru secara tepat pada 3 dari 4 skenario sesuai acuan.Menganalisis transformasi lapangan kerja baru secara tepat pada seluruh 4 skenario sesuai acuan secara mandiri.
Analisis Kebutuhan Keterampilan Masa Depan (Teknis dan Nonteknis) Akibat Dampak KAMengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan keterampilan teknis dan nonteknis secara tepat hanya pada 1 dari 4 skenario sesuai acuan.Mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan keterampilan teknis dan nonteknis secara tepat pada 2 dari 4 skenario sesuai acuan.Mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan keterampilan teknis dan nonteknis secara tepat pada 3 dari 4 skenario sesuai acuan.Mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan keterampilan teknis dan nonteknis secara tepat pada seluruh 4 skenario sesuai acuan secara terperinci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah desain studi kasus transformasi pekerjaan mampu mengarahkan murid menganalisis pergeseran dan keterampilan masa depan secara kritis dan realistis?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas permainan pemetaan keterampilan, dan apakah tingkat scaffolding yang diberikan sudah memadai bagi murid yang mengalami hambatan?

Murid:

  • Keterampilan masa depan apa yang paling menantang untuk saya kuasai dalam menghadapi otomatisasi KA di bidang cita-cita saya?
  • Langkah nyata apa yang dapat mulai saya lakukan sekarang untuk meningkatkan kesiapan keterampilan diri saya?

Pertemuan 3 — Mengevaluasi Kepatuhan Prinsip Human-Centered dalam Kolaborasi Manusia dan Sistem KA di Dunia Kerja — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.2.2 Mengevaluasi prinsip human-centered yang harus dipatuhi oleh pengembang KA dalam lingkungan kerja

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus belajar, yaitu mengevaluasi kepatuhan prinsip human-centered (berpusat pada manusia) dalam kolaborasi manusia dan sistem KA di dunia kerja (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan: 'Dalam kerangka kerja human-centered KA (Shneiderman, 2020), manakah yang ideal dalam kolaborasi kerja: (A) Otomatisasi komputer tinggi dengan kendali manusia rendah, atau (B) Otomatisasi komputer tinggi yang dipadukan dengan kendali manusia yang tetap tinggi?'. Murid menjawab serentak atau mengangkat tangan (acuan jawaban: Opsi B, karena human-centered menekankan teknologi yang andal, aman, dan dapat dipercaya dengan kendali manusia tetap tinggi) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memaparkan konsep dasar prinsip human-centered KA di tempat kerja berdasarkan Framework Shneiderman (2020), yang mencakup 3 pilar evaluasi: (1) Human Control (manusia memegang kendali akhir dan dapat membatalkan/override keputusan sistem), (2) Reliable & Safe (sistem andal, transparan, dan tidak membahayakan pekerja), serta (3) Augmentative Collaboration (KA memperluas kapabilitas pekerja, bukan semata-mata mengisolasi pekerja dari proses kerja) (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mencermati lembar ringkasan 3 pilar evaluasi tersebut dan mengidentifikasi indikator kepatuhan versus pelanggaran pada setiap pilar melalui contoh ilustrasi singkat (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagikan Lembar Kerja Evaluasi Kepatuhan yang memuat 3 skenario nyata implementasi KA di tempat kerja: Skenario 1 (Sistem KA Penjadwalan Shift Pabrik: otomatis memotong jam istirahat tanpa opsi komplain pekerja), Skenario 2 (Sistem KA Diagnosis Radiologi Rumah Sakit: mendeteksi anomali rontgen sebagai rekomendasi sekunder sementara dokter berhak menyetujui, menolak, atau mengoreksi hasil), dan Skenario 3 (Sistem KA Pengawasan Gudang Logistik: otomatis memutus kontrak kerja buruh yang bergerak di bawah batas kecepatan standar tanpa konfirmasi verifikasi supervisor) (10 menit).
  • Dalam kelompok beranggotakan 3-4 orang, murid melakukan simulasi permainan audit kepatuhan bertajuk 'Audit Patroli Human-Centered'. Setiap kelompok berperan sebagai komite audit independen yang bertugas mengevaluasi kepatuhan prinsip human-centered pada ketiga skenario tersebut menggunakan format audit (Kepatuhan: Patuh/Tidak Patuh, Pilar yang Dilanggar/Dipenuhi, serta Bukti Evaluasi) (35 menit).
  • Perwakilan kelompok menempelkan hasil tabel audit pada papan pajang kelas. Guru memimpin verifikasi bersama dengan mengacu pada acuan audit resmi: Skenario 1 = Tidak Patuh (melanggar Human Control dan Safe, karena pekerja tidak punya kendali banding atas keputusan sistem); Skenario 2 = Patuh (memenuhi Human Control dan Augmentative Collaboration, karena dokter memegang kendali penuh dan KA hanya sebagai augmentasi/asisten); Skenario 3 = Tidak Patuh (melanggar Human Control dan Reliable & Safe, karena keputusan PHK fatal dilakukan tanpa kendali verifikasi manusia) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara individu menuliskan refleksi kritis 2-3 kalimat pada kartu keluar (exit ticket): mengevaluasi mengapa sistem KA yang tidak memberikan kendali koreksi (override) kepada pekerja melanggar hakikat prinsip human-centered (acuan: sistem menempatkan algoritma di atas manusia sehingga menghilangkan tanggung jawab etis dan kendali keselamatan pekerja) (15 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap kesimpulan hasil evaluasi kelas: kolaborasi manusia dan KA yang sehat wajib menempatkan manusia sebagai pengendali utama (human-in-the-loop) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya (Pertemuan 4 yang akan mendalami keterlibatan pengguna dan inklusivitas) serta menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan berisi daftar ceklis pertanyaan evaluasi untuk tiap pilar (mis. 'Apakah manusia bisa membatalkan keputusan KA? Ya/Tidak'). Murid berkemampuan cepat diberikan tambahan evaluasi skenario ke-4 yang lebih kompleks: Sistem Rekrutmen Otomatis KA dengan fitur penyaringan awal CV bersyarat bobot adaptif.
  • Proses: Pada saat kerja kelompok, kelompok murid yang membutuhkan bimbingan mendapat fasilitasi langsung dari guru saat menganalisis skenario 1, sedangkan murid yang mandiri langsung melakukan evaluasi ketiga skenario secara mandiri.
  • Produk: Format penulisan evaluasi dapat menggunakan format tabel audit ringkas atau format laporan poin deskriptif terstruktur asalkan memuat putusan kepatuhan, pilar terkait, dan alasan evaluasi yang tepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik: 'Dalam kerangka kerja human-centered KA (Shneiderman, 2020), manakah yang ideal dalam kolaborasi kerja: (A) Otomatisasi komputer tinggi dengan kendali manusia rendah, atau (B) Otomatisasi komputer tinggi yang dipadukan dengan kendali manusia yang tetap tinggi?' (Acuan jawaban benar: Opsi B, karena human-centered menempatkan kendali manusia tetap tinggi agar sistem tetap aman dan dapat dipercaya).

Proses:

  • Lembar Kerja Evaluasi 'Audit Patroli Human-Centered' terhadap 3 skenario implementasi KA: Skenario 1 (Sistem Shift Pabrik), Skenario 2 (Sistem KA Radiologi), Skenario 3 (Sistem Pengawasan Gudang). Kriteria penilaian: ketepatan menentukan status patuh/tidak patuh dan ketepatan pilar human-centered yang dievaluasi (Acuan: Skenario 1 = Tidak Patuh, melanggar pilar kendali manusia; Skenario 2 = Patuh, memenuhi pilar kendali manusia dan kolaborasi pendukung; Skenario 3 = Tidak Patuh, melanggar pilar kendali manusia dan keandalan/keamanan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman individu via exit ticket: Murid menuliskan evaluasi mengapa sistem otomatisasi yang mencabut hak koreksi manusia melanggar prinsip human-centered di lingkungan kerja. (Kriteria penerimaan: Jawaban menyebutkan secara tepat bahwa pencabutan hak koreksi menghilangkan kendali manusia (human control) dan membahayakan keselamatan atau kesejahteraan pekerja).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal melalui pertanyaan lisan/pilihan terpandu mengenai konsep kendali manusia dalam human-centered KA
  • Penilaian performa diskusi kelompok dalam mengisi lembar kerja 'Audit Patroli Human-Centered' (menilai ketepatan evaluasi 3 skenario)
  • Asesmen refleksi akhir individu melalui kartu keluar (exit ticket)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi Kepatuhan Prinsip Human-CenteredBelum mampu mengevaluasi status kepatuhan prinsip human-centered pada ketiga skenario implementasi KA di lingkungan kerja dengan tepat (hanya 0-1 skenario tepat dan tanpa alasan pilar yang sesuai).Mampu mengevaluasi status kepatuhan prinsip human-centered pada 2 dari 3 skenario dengan tepat, namun belum dapat mengidentifikasi pilar human-centered yang dilanggar/dipenuhi secara tepat.Mampu mengevaluasi status kepatuhan prinsip human-centered pada seluruh (3) skenario dengan tepat (Skenario 1: Tidak Patuh, Skenario 2: Patuh, Skenario 3: Tidak Patuh) disertai identifikasi pilar human-centered yang relevan dengan sedikit bimbingan.Mampu mengevaluasi status kepatuhan prinsip human-centered pada seluruh (3) skenario secara tepat dan mandiri, serta memberikan argumen evaluasi berbasis pilar human-centered (human control, reliability/safety, augmentative collaboration) secara komprehensif.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas audit skenario kolaborasi KA berhasil memandu murid memahami batasan kendali manusia dalam prinsip human-centered?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam kerja kelompok saat melakukan evaluasi studi kasus nyata di lingkungan kerja?

Murid:

  • Bagian mana dari evaluasi sistem KA di tempat kerja yang menurutmu paling krusial untuk memastikan manusia tetap memegang kendali?
  • Apakah kamu kini dapat membedakan antara sistem KA yang memperdayakan manusia dengan sistem KA yang mengeksploitasi/mengabaikan manusia?

Pertemuan 4 — Mengevaluasi Keterlibatan Pengguna dan Inklusivitas Prinsip Human-Centered pada Otomatisasi Kerja — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.2.2 Mengevaluasi prinsip human-centered yang harus dipatuhi oleh pengembang KA dalam lingkungan kerja

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus pertemuan yaitu mengevaluasi prinsip human-centered (khususnya aspek keterlibatan pengguna dan inklusivitas) yang wajib dipatuhi pengembang KA dalam lingkungan kerja (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mendiagnosis pemahaman murid mengenai dua pilar human-centered (keterlibatan pengguna dan inklusivitas) melalui pertanyaan tertulis singkat: (1) Mengapa pengembang KA wajib melibatkan pengguna akhir dalam tahap perancangan otomatisasi kerja? (acuan kriteria: memastikan sistem sesuai alur kerja nyata, mencegah beban kerja berlebih, dan memberi kendali pada manusia); (2) Sebutkan 1 contoh pelanggaran inklusivitas pada sistem otomatisasi kerja! (acuan kriteria: antarmuka tidak ramah pembaca layar/disabilitas, sistem pengenalan wajah gagal mendeteksi warna kulit tertentu, atau sistem berbasis suara tanpa opsi teks) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemaparan guru tentang dua prinsip operasional human-centered bagi pengembang KA di lingkungan kerja: (1) Keterlibatan Pengguna (User Involvement) yaitu memastikan pekerja akhir dilibatkan dalam desain antarmuka, pengujian alur, dan memiliki mekanisme kendali/umpan balik; (2) Inklusivitas dan Aksesibilitas (Inclusivity) yaitu memastikan sistem dapat diakses setara oleh ragam profil pekerja tanpa diskriminasi fisik, usia, atau latar belakang (15 menit).
  • Murid secara berpasangan memainkan kuis cepat 'Patuh atau Langgar' (Joyful Quick Check) menggunakan 2 kartu kasus: Kasus A: 'Pengembang merilis aplikasi absensi berbasis pemindaian wajah tanpa alternatif bagi pekerja dengan disabilitas fisik dan tanpa melibatkan perwakilan staf'; Kasus B: 'Pengembang mengadakan uji coba langsung bersama staf gudang untuk menyetel tombol pembatalan darurat pada sistem pemilah barang otomatis'. Murid mengangkat label 'Patuh' atau 'Langgar' beserta argumen keselarasan prinsip human-centered (acuan: Kasus A = Langgar prinsip inklusivitas dan keterlibatan pengguna; Kasus B = Patuh terhadap keterlibatan pengguna dan kendali manusia) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menerima lembar evaluasi berisi 2 skenario konkret sistem KA di dunia kerja: Skenario 1: 'Sistem Penjadwalan Kerja Cerdas di Rumah Sakit yang disusun pengembang tanpa meminta masukan dari perawat jaga dan tidak memiliki fitur penyesuaian beban kerja bagi perawat yang sedang hamil'; Skenario 2: 'Perangkat Lunak Transkripsi Rapat KA di Kantor Layanan Publik yang tidak menyediakan fitur teks otomatis bagi pekerja tunarungu dan dirancang tertutup tanpa uji coba pengguna'. (5 menit).
  • Murid secara mandiri mengevaluasi kedua skenario berdasarkan kepatuhan prinsip human-centered, mencakup: (a) bukti pelanggaran keterlibatan pengguna, (b) bukti pelanggaran inklusivitas, serta (c) rekomendasi tindakan kepatuhan yang wajib dilakukan pengembang KA (acuan evaluasi: Skenario 1 melanggar keterlibatan pengguna karena perawat tidak dilibatkan dan melanggar inklusivitas karena abai pada kondisi perawat hamil, solusinya pengembang wajib melibatkan perwakilan perawat serta memasukkan parameter penyesuaian kondisi fisik; Skenario 2 melanggar inklusivitas karena tidak aksesibel bagi tunarungu dan melanggar keterlibatan pengguna karena tidak ada uji coba pengguna, solusinya pengembang menambahkan fitur aksesibilitas WCAG/closed-captions dan menggelar usability testing langsung) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling menukarkan lembar evaluasi dengan teman sebangku untuk memeriksa kesesuaian evaluasi terhadap acuan kriteria kepatuhan human-centered (keterlibatan pengguna dan inklusivitas) (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari evaluasi: pengembang KA memikul kewajiban etis memastikan sistem otomatisasi menempatkan martabat, suara, dan aksesibilitas seluruh pekerja sebagai prioritas utama (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas hasil evaluasi murid dan mengingatkan topik pertemuan berikutnya mengenai tanggung jawab pengembang dalam mitigasi bias algoritma dan keamanan data pekerja, kemudian menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan pendampingan diberikan panduan daftar periksa (checklist) kepatuhan human-centered berisi indikator keterlibatan pengguna dan inklusivitas; murid yang siap diberikan skenario tambahan dengan variabel sistem KA multimodal.
  • Proses: Murid dengan pemahaman awal bertahap dibimbing guru dalam menguraikan variabel skenario, sementara murid mahir mengevaluasi secara mandiri.
  • Produk: Format hasil evaluasi dapat berupa tabel analisis kepatuhan atau esai evaluasi terstruktur dengan kriteria penilaian yang setara.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik tertulis singkat: (1) Mengapa pengembang KA wajib melibatkan pengguna akhir dalam perancangan sistem kerja? (acuan kriteria: memastikan sistem sesuai kebutuhan nyata, mengurangi beban kognitif/fisik, dan memberi kendali operasional kepada pekerja); (2) Berikan 1 contoh konkret pelanggaran aspek inklusivitas sistem KA di tempat kerja! (acuan kriteria: sistem penilaian kinerja/absensi yang tidak menyediakan opsi aksesibilitas bagi disabilitas atau meminggirkan pekerja usia rentan)

Proses:

  • Lembar evaluasi 2 skenario kerja: Murid mengevaluasi pemenuhan prinsip keterlibatan pengguna dan inklusivitas pada Skenario 1 (Sistem Jadwal RS) dan Skenario 2 (Sistem Notula Rapat) dengan kriteria: (1) ketepatan mengidentifikasi bukti pelanggaran keterlibatan pengguna pada kedua skenario; (2) ketepatan mengidentifikasi bukti pelanggaran aspek inklusivitas pada kedua skenario; (3) ketepatan merumuskan tindakan perbaikan etis bagi pengembang KA (acuan jawaban: Skenario 1 = tidak ada masukan perawat & tidak ramah perawat hamil -> solusi: perancangan partisipatif dan penyesuaian beban kerja; Skenario 2 = tidak ada uji coba staf & tidak ramah tunarungu -> solusi: uji coba pengguna dan integrasi teks visual/aksesibilitas).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Murid menuliskan 1 prinsip human-centered yang paling krusial diterapkan pada otomatisasi kerja beserta 1 alasan evaluatif mengapa pengembang tidak boleh mengabaikannya (acuan kriteria: keterlibatan pengguna menjamin sistem tidak merebut kendali manusia; inklusivitas menjamin tidak adanya pekerja yang terdiskriminasi oleh otomatisasi).

Formatif:

  • Kuis cepat diagnostik awal terkait prinsip keterlibatan pengguna dan inklusivitas
  • Penilaian lembar kerja evaluasi kasus kepatuhan human-centered pada otomatisasi kerja (Skenario 1 dan 2)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengevaluasi Prinsip Keterlibatan Pengguna oleh Pengembang KABelum mampu mengidentifikasi pelanggaran prinsip keterlibatan pengguna pada skenario yang disajikan.Mampu mengidentifikasi pelanggaran prinsip keterlibatan pengguna pada 1 skenario, namun belum mampu merumuskan tindakan kepatuhan yang harus dilakukan pengembang.Mampu mengidentifikasi pelanggaran prinsip keterlibatan pengguna pada kedua skenario dan merumuskan tindakan kepatuhan pengembang secara tepat.Mampu mengidentifikasi seluruh pelanggaran prinsip keterlibatan pengguna pada kedua skenario secara tepat serta merumuskan tindakan kepatuhan pengembang yang komprehensif dan mandiri.
Mengevaluasi Prinsip Inklusivitas Lingkungan Kerja oleh Pengembang KABelum mampu mengidentifikasi hambatan inklusivitas dan aksesibilitas kerja pada skenario sistem KA.Mampu mengidentifikasi pelanggaran prinsip inklusivitas pada 1 skenario secara tepat dengan bantuan guru.Mampu mengidentifikasi pelanggaran prinsip inklusivitas pada kedua skenario (aspek kondisi fisik pekerja dan disabilitas sensorik) serta merumuskan rekomendasi aksesibilitas bagi pengembang.Mampu mengidentifikasi seluruh pelanggaran prinsip inklusivitas pada kedua skenario secara mendalam dan merumuskan rekomendasi aksesibilitas operasional bagi pengembang secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah skenario yang disajikan mampu memfasilitasi murid mengevaluasi pilar keterlibatan pengguna dan inklusivitas secara kritis?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas kuis berpasangan dan evaluasi mandiri?

Murid:

  • Bagian mana dari evaluasi prinsip keterlibatan pengguna dan inklusivitas yang paling menantang untuk dianalisis?
  • Mengapa menurutmu pengembang KA sering kali tergoda mengabaikan inklusivitas dalam otomatisasi, dan apa yang harus diubah?

Pertemuan 5 — Menelaah Tanggung Jawab Pengembang KA dalam Mitigasi Bias Algoritma dan Keamanan Data Pekerja — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.2.3 Menelaah bentuk tanggung jawab pengembang KA dalam mengatasi tantangan etika yang ada di dunia kerja

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas, mengecek kehadiran, dan menyampaikan fokus pembelajaran tentang tanggung jawab pengembang KA dalam memitigasi bias algoritma dan menjaga keamanan data pekerja (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: (1) 'Mengapa data latih rekrutmen masa lalu bisa menghasilkan keputusan algoritma yang diskriminatif?' (acuan jawaban: data historis mencerminkan dominasi kelompok tertentu di masa lalu sehingga model mempelajarinya sebagai standar kebenaran); (2) 'Sebutkan 1 tindakan teknis pengembang untuk melindungi privasi data pekerja!' (acuan jawaban: enkripsi data atau anonimisasi data) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak dan membedah 2 studi kasus ketenagakerjaan: Kasus A (Sistem seleksi CV berbasis KA mendiskriminasi kandidat perempuan karena dataset latih historis didominasi pria) dan Kasus B (Aplikasi pemantau produktivitas kantor membocorkan riwayat medis dan percakapan pribadi pekerja) (15 menit).
  • Guru memfasilitasi sesi interaktif berbasis kartu analisis, di mana murid menelaah sumber bias algoritma pada dataset dan celah keamanan data pekerja sesuai konsep etika KA (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mengerjakan Lembar Telaah Tanggung Jawab Etis Pengembang KA yang memuat 2 skenario konkret: (Skenario 1) Sistem promosi jabatan berbasis KA memberi skor rendah bagi pekerja disabilitas; murid menelaah akar bias dan menetapkan bentuk tanggung jawab pengembang (acuan telaah: melakukan audit representasi dataset latih dan menerapkan de-biasing algorithm). (Skenario 2) Sistem absensi pengenal wajah pekerja menyimpan data biometrik tanpa enkripsi di peladen terbuka; murid menelaah risiko pelanggaran data dan menetapkan bentuk tanggung jawab pengembang (acuan telaah: menerapkan protokol enkripsi end-to-end, prinsip minimisasi data, dan pembatasan hak akses) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengidentifikasi peran pengembang KA bukan sekadar pembuat kode yang berfungsi, melainkan agen etis yang memegang akuntabilitas terhadap keadilan dan kerahasiaan data di lingkungan kerja (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan 2 pilar tanggung jawab etis pengembang KA di dunia kerja: mitigasi bias data (representasi adil dan audit berkala) serta pelindungan data pekerja (enkripsi, anonimisasi, dan kepatuhan privasi) (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas hasil lembar telaah dan menutup pembelajaran tanpa tugas sumatif karena bab masih berlanjut ke pertemuan berikutnya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar bantu definisi audit bias dan enkripsi bagi murid yang memerlukan perancah pemahaman konsep dasar.
  • Proses: Murid cepat menelaah tantangan etika tambahan berupa dilema 'transparansi model vs rahasia dagang vendor', sedangkan murid yang membutuhkan bimbingan fokus pada perbaikan dataset Skenario 1 dan pengamanan data Skenario 2.
  • Produk: Format penyampaian telaah dapat berupa diagram alur tindakan mitigasi pengembang atau tabel rincian solusi etis dengan standar capaian kompetensi yang setara.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: (1) Mengapa sistem KA bisa menghasilkan keputusan rekrutmen yang diskriminatif? (acuan: dataset latih mencerminkan bias historis manusia); (2) Bagaimana pengembang mencegah kebocoran data privasi pekerja? (acuan: menerapkan enkripsi, anonimisasi data, atau pembatasan akses data).

Proses:

  • Penilaian lembar kerja telaah Skenario 1 (mitigasi bias seleksi/promosi) dan Skenario 2 (pengamanan data biometrik/pekerja) dengan kriteria: ketepatan identifikasi akar tantangan etika dan ketepatan penetapan bentuk tanggung jawab teknis/kebijakan pengembang.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri tertulis: Murid menuliskan masing-masing 1 bentuk tanggung jawab teknis pengembang untuk: (a) mengatasi bias algoritma (acuan: kurasi ulang/balancing dataset latih atau audit algoritma berkala), dan (b) menjamin keamanan data pekerja (acuan: enkripsi data atau penerapan protokol kontrol akses ketat).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik awal terkait akar bias data historis dan proteksi data pekerja
  • Pemeriksaan Lembar Telaah Tanggung Jawab Etis Pengembang KA (studi kasus mitigasi bias seleksi dan pelindungan data biometrik)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menelaah tanggung jawab pengembang dalam mitigasi bias algoritma ketenagakerjaanBelum mampu mengidentifikasi akar bias data dan belum dapat merumuskan tanggung jawab pengembang dalam memitigasi bias algoritma.Mampu mengidentifikasi adanya bias pada sistem namun bentuk tanggung jawab pengembang yang dirumuskan masih bersifat umum tanpa tindakan teknis mitigasi (misal: hanya menyebut 'harus adil').Mampu menelaah akar bias pada dataset latih dan merumuskan tanggung jawab mitigasi pengembang secara tepat (audit dataset latih atau algoritma de-biasing) dengan sedikit arahan guru.Mampu menelaah akar bias secara mendalam serta merumuskan tanggung jawab mitigasi pengembang secara komprehensif (audit representasi dataset, pengujian metrik disparitas, dan evaluasi berkala pascainstalasi) secara mandiri.
Menelaah tanggung jawab pengembang dalam keamanan dan privasi data pekerjaBelum mampu menelaah celah risiko keamanan data pekerja dan belum dapat merumuskan tanggung jawab pengembang.Mampu mengenali adanya risiko kebocoran data namun bentuk tanggung jawab pengembang yang diajukan belum menyentuh standar proteksi teknis.Mampu menelaah risiko pelanggaran privasi dan merumuskan bentuk tanggung jawab pengembang secara tepat (penerapan enkripsi data atau prinsip minimisasi data) sesuai acuan.Mampu menelaah risiko privasi secara komprehensif dan merumuskan langkah perlindungan multi-lapis (enkripsi end-to-end, anonimisasi data biometrik, dan audit aksesibilitas berkala) secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah konteks studi kasus bias rekrutmen dan keamanan data biometrik mampu memfasilitasi murid memahami kompleksitas etika pengembang KA secara konkret?
  • Bagian mana dari langkah penelaahan yang paling menantang bagi murid dalam merumuskan tindakan mitigasi pengembang?

Murid:

  • Setelah menelaah kasus tadi, mengapa pengembang KA tidak boleh hanya mementingkan akurasi program semata?
  • Apa tanggung jawab etis terpenting yang harus saya pegang jika suatu saat menjadi pengembang teknologi KA di tempat kerja?

Pertemuan 6 — Menelaah Tanggung Jawab Etis Pengembang KA terhadap Ketimpangan Sosial dan Pengawasan Ketenagakerjaan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.2.3 Menelaah bentuk tanggung jawab pengembang KA dalam mengatasi tantangan etika yang ada di dunia kerja

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas, mengecek kehadiran, dan menyampaikan fokus pembelajaran Pertemuan 6 mengenai telaah tanggung jawab etis pengembang KA terhadap ketimpangan sosial dan pengawasan ketenagakerjaan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid menjawab kuis diagnostik lisan mengenai konsep dasar tantangan etika ketimpangan sosial dan pengawasan kerja (acuan: ketimpangan sosial terjadi akibat kesenjangan akses teknologi/disparitas upah, sedangkan pengawasan kerja berlebih melanggar batas privasi dan otonomi pekerja) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak paparan materi dari Buku Guru/Siswa mengenai dua tantangan etika KA di dunia kerja: (1) Ketimpangan sosial akibat otomatisasi yang tidak merata dan polarisasi upah; (2) Pengawasan ketenagakerjaan berlebih (algorithmic workplace surveillance) yang mengancam privasi dan otonomi pekerja (15 menit).
  • Murid menelaah penjelasan tentang bentuk tanggung jawab pengembang KA, yaitu menyediakan audit dampak sosial dan batasan pengawasan otomatis (acuan: transparansi pelacakan, perlindungan privasi data aktivitas, serta perancangan fitur redistribusi atau pendampingan pelatihan agar tidak menciptakan ketimpangan) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Dalam aktivitas 'Tantangan Kartu Dilema Etis', murid secara berpasangan menerima 2 lembar skenario dilema etis ketenagakerjaan: Skenario 1 (Perusahaan logistik memasang kamera KA pemantau kedipan mata dan gerak buruh gudang secara nonstop untuk menentukan penalti upah) dan Skenario 2 (Aplikasi algoritma rekrutmen regional memprioritaskan kandidat dari kota besar berfasilitas internet cepat sehingga memperlebar jurang ketimpangan bagi pekerja daerah pelosok) (10 menit).
  • Murid menelaah dan menuliskan bentuk tanggung jawab konkret pengembang KA pada Lembar Telaah Etis untuk kedua skenario (acuan Skenario 1: pengembang membatasi pengawasan hanya pada jam kerja berisiko keselamatan fisik, mematikan pemantauan mikro yang invasif, serta menyediakan mekanisme sanggahan manual bagi buruh; acuan Skenario 2: pengembang menyeimbangkan bobot fitur geografis/konektivitas, menyediakan opsi asesmen offline/bandwidth rendah, serta mengaudit dampak kesenjangan akses kerja secara berkala) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara mandiri memeriksa hasil telaahnya terhadap lembar acuan tanggung jawab etis pengembang KA dan menandai poin tanggung jawab yang berhasil diidentifikasi (5 menit).
  • Murid menuliskan refleksi singkat pada lembar catatan mengenai kesadaran moral sebagai calon pengembang teknologi agar tidak menciptakan produk yang menindas pekerja atau memperparah kesenjangan sosial (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik terarah atas hasil telaah tanggung jawab etis pengembang KA pada kedua skenario tantangan etika (5 menit).
  • Guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai pentingnya etika pengembang KA dalam mengatasi ketimpangan sosial dan pengawasan kerja, lalu menutup sesi pembelajaran (tanpa menutup bab) (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan ringkas berisi daftar kata kunci prinsip tanggung jawab pengembang (mis. transparansi, pembatasan privasi, keadilan akses) bagi murid yang memerlukan dukungan pemahaman konsep.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan panduan bertahap saat membedah Skenario 1 terlebih dahulu, sedangkan murid yang mahir langsung menelaah kedua skenario secara mandiri dengan elaborasi dampak sistemik.
  • Produk: Murid menuangkan hasil telaah tanggung jawab etis ke dalam tabel analisis berstruktur standar atau format uraian deskriptif terperinci sesuai tingkat kesiapannya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pelajaran: 'Apa yang dimaksud dengan tantangan etika ketimpangan sosial dan pengawasan kerja dalam konteks penerapan KA?' (Kriteria ketercapaian: murid tepat menyebutkan minimal 1 karakteristik ketimpangan sosial seperti kesenjangan akses modal/keterampilan digital dan 1 karakteristik pengawasan kerja seperti pemantauan aktivitas pekerja secara berlebihan tanpa privasi).

Proses:

  • Penilaian pengerjaan Lembar Telaah Etis pada tahap Mengaplikasi: guru mengamati ketepatan murid menelaah bentuk tanggung jawab etis pengembang KA pada Skenario 1 (pengawasan kerja berlebih) dan Skenario 2 (ketimpangan sosial rekrutmen) berdasarkan acuan ketepatan teknis etika.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir berupa penelaahan mandiri 1 pernyataan etis penutup: 'Jika pengembang diminta membuat fitur KA pemeringkat produktivitas yang otomatis memotong gaji pekerja setiap menit tidak aktif di depan layar, apa bentuk tanggung jawab penolakan atau modifikasi yang wajib diajukan pengembang?' (Acuan jawaban benar: pengembang wajib menolak otomasi sanksi tanpa verifikasi manusia dan mengusulkan pembatasan pengawasan agar tidak melanggar hak privasi serta kesejahteraan mental pekerja).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran untuk mengecek pemahaman dasar tantangan etika ketimpangan sosial dan pengawasan kerja
  • Lembar Telaah Etis Ketenagakerjaan untuk menelaah bentuk tanggung jawab etis pengembang KA pada 2 skenario ketenagakerjaan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menelaah bentuk tanggung jawab pengembang KA terhadap pengawasan ketenagakerjaan berlebih (Skenario 1)Belum mampu mengidentifikasi bentuk tanggung jawab etis pengembang KA dalam skenario pengawasan kerja berlebih sesuai acuan.Mampu menelaah 1 bentuk tanggung jawab etis pengembang KA terkait pembatasan pengawasan kerja berlebih sesuai acuan namun masih memerlukan bantuan.Mampu menelaah 2 bentuk tanggung jawab etis pengembang KA (pembatasan pengawasan invasif dan penyediaan mekanisme sanggahan manual pekerja) secara mandiri dan tepat sesuai acuan.Mampu menelaah seluruh bentuk tanggung jawab etis pengembang KA (pembatasan pengawasan invasif, perlindungan privasi data pekerja, dan mekanisme intervensi/sanggahan manual) secara mandiri, lengkap, dan mendalam sesuai acuan.
Menelaah bentuk tanggung jawab pengembang KA terhadap ketimpangan sosial (Skenario 2)Belum mampu mengidentifikasi bentuk tanggung jawab etis pengembang KA dalam mengatasi ketimpangan sosial akibat algoritma seleksi kerja sesuai acuan.Mampu menelaah 1 bentuk tanggung jawab etis pengembang KA terkait keadilan algoritma rekrutmen sesuai acuan.Mampu menelaah 2 bentuk tanggung jawab etis pengembang KA (penyesuaian bobot parameter geografis/konektivitas dan penyediaan akses alternatif ramah bandwidth rendah) secara mandiri dan tepat sesuai acuan.Mampu menelaah seluruh bentuk tanggung jawab etis pengembang KA (penyesuaian bobot parameter geografis, audit berkala disparitas daerah, dan perancangan akses inklusif) secara mandiri, lengkap, dan mendalam sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah skenario dilema etis yang disajikan mampu memfasilitasi murid menelaah tanggung jawab pengembang KA secara kritis?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam membedah isu ketimpangan sosial dan pengawasan kerja yang nyata di masyarakat?

Murid:

  • Tanggung jawab etis apa yang menurutmu paling mendesak untuk diterapkan oleh seorang pengembang KA agar tidak merugikan pekerja?
  • Bagaimana pemahaman tentang etika ini memengaruhi caramu memandang teknologi KA di tempat kerja?

Pertemuan 7 — Melakukan Prediksi Tren Pekerjaan Masa Depan Melalui Dekomposisi dan Pengenalan Pola Ketenagakerjaan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.2.4 Melakukan prediksi tren pekerjaan masa depan sebagai dampak KA terhadap ketenagakerjaan melalui penerapan berpikir komputasional

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai prediksi tren pekerjaan masa depan menggunakan dekomposisi dan pengenalan pola (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan mengenai konsep dasar dekomposisi dan pengenalan pola dalam konteks tugas pekerjaan: (1) Apa yang dimaksud dekomposisi pekerjaan? (acuan: memecah suatu profesi menjadi komponen unit tugas/aktivitas kerja spesifik); (2) Bagaimana pola pekerjaan yang rentan digantikan KA? (acuan: tugas yang bersifat rutin, berulang, berbasis aturan terstruktur) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai penerapan pilar berpikir komputasional yaitu dekomposisi (membedah pekerjaan menjadi sub-tugas: rutin vs non-rutin, kognitif manual vs analitis) dan pengenalan pola (mengidentifikasi karakteristik tugas yang terotomatisasi KA vs membutuhkan kecerdasan manusiawi) melalui 1 contoh kasus profesi 'Staf Administrasi Dokumen' (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mencermati lembar studi data 4 profesi: (1) Kasir Ritel, (2) Pengembang Perangkat Lunak, (3) Operator Entri Data, (4) Konselor Psikologi, lalu mengidentifikasi pola sifat tugas masing-masing profesi (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid memainkan permainan tantangan cepat 'Pola Kerja KA': guru membacakan 4 jenis tugas kerja: (1) Rekonsiliasi data transaksi harian, (2) Negosiasi konflik antar-divisi, (3) Pengarsipan formulir pajak, (4) Perancangan empati layanan pelanggan, lalu murid mengangkat kartu hijau jika berpola 'rentan otomatisasi' dan kartu kuning jika 'tahan otomatisasi' (acuan kunci: 1=rentan, 2=tahan, 3=rentan, 4=tahan) (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Prediksi Komputasional untuk melakukan dekomposisi tugas dan mengenali pola pada 3 profesi target: Profesi A (Petugas Teller Bank), Profesi B (Spesialis Keamanan Siber), dan Profesi C (Jurnalis Investigasi) guna memprediksi tren status ketenagakerjaannya (Menurun/Meningkat/Bertransformasi) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil prediksi dekomposisi dan pola kerjanya menggunakan kunci verifikasi acuan yang ditampilkan guru, lalu menuliskan satu kesimpulan reflektif tentang bagaimana dekomposisi membantunya melihat masa depan karier secara terukur (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan pentingnya keterampilan berpikir komputasional dalam memprediksi arah tren pekerjaan tanpa rasa cemas yang tidak berdasar (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan arah belajar untuk pertemuan berikutnya mengenai teknik abstraksi data dampak otomatisasi KA, lalu menutup pertemuan dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan panduan dekomposisi dengan tabel klasifikasi tugas terstruktur (rutin/non-rutin); murid yang mahir diberikan dataset profesi dengan variasi tugas gabungan yang lebih kompleks.
  • Proses: Murid yang memerlukan scaffolding didampingi guru pada tahap pengenalan pola ciri algoritma tugas; murid yang cepat bekerja secara mandiri penuh.
  • Produk: Seluruh murid menghasilkan lembar prediksi tren pekerjaan yang sama dengan tingkat kedalaman rincian dekomposisi sub-tugas yang disesuaikan kesiapan belajarnya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: (1) 'Apa arti melakukan dekomposisi pada suatu profesi?' (Acuan jawaban benar: memecah atau menguraikan suatu profesi menjadi komponen sub-tugas/aktivitas kerja yang lebih rinci); (2) 'Pola tugas seperti apa yang paling rentan digantikan oleh otomatisasi sistem KA?' (Acuan jawaban benar: tugas yang bersifat rutin, berulang, memiliki aturan baku/deterministik, dan berbasis pemrosesan data terstruktur).

Proses:

  • Tantangan cepat 4 butir kartu: Murid menentukan pola kerentanan tugas KA pada 4 butir: (1) Rekonsiliasi data transaksi harian (Acuan: Rentan otomatisasi/kartu hijau); (2) Negosiasi konflik antar-divisi (Acuan: Tahan otomatisasi/kartu kuning); (3) Pengarsipan formulir pajak (Acuan: Rentan otomatisasi/kartu hijau); (4) Perancangan empati layanan pelanggan (Acuan: Tahan otomatisasi/kartu kuning).
  • Lembar Kerja Prediksi Komputasional 3 Profesi Target: (1) Profesi A (Petugas Teller Bank) -> Dekomposisi: hitung uang tunai, verifikasi slip setoran, layani komplain nasabah; Pola: mayoritas tugas pemrosesan transaksi rutin; Prediksi tren: Menurun/Otomatisasi tinggi; (2) Profesi B (Spesialis Keamanan Siber) -> Dekomposisi: analisis log anomali, penanganan insiden kebocoran, perancangan arsitektur pertahanan; Pola: pemecahan masalah kompleks dan dinamis; Prediksi tren: Meningkat pesat; (3) Profesi C (Jurnalis Investigasi) -> Dekomposisi: transkrip wawancara, peliputan lapangan berisiko, penelusuran fakta mendalam; Pola: tugas mekanis terbantu KA namun validasi kontekstual butuh nalar kritis; Prediksi tren: Bertransformasi (hibrida).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri di akhir kegiatan: Murid menuliskan hasil verifikasi pencocokan dekomposisi dan prediksi terhadap 3 profesi target dengan kriteria: minimal 3 sub-tugas per profesi terurai tepat dan penetapan status tren (Menurun, Meningkat, Bertransformasi) sesuai dengan acuan lembar kerja proses.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal lisan terkait konsep dekomposisi dan pengenalan pola kerja
  • Kuis tantangan cepat 'Pola Kerja KA' berbasis kartu respons
  • Lembar Kerja Dekomposisi dan Prediksi Tren Pekerjaan Masa Depan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Dekomposisi Tugas PekerjaanBelum mampu memecah profesi menjadi sub-tugas spesifik (hanya menyebutkan nama pekerjaan tanpa rincian tugas).Mampu memecah profesi menjadi 1-2 sub-tugas namun belum memisahkan sifat tugas rutin dan non-rutin.Mampu memecah 3 profesi target masing-masing menjadi minimal 3 sub-tugas spesifik sesuai kategori tugasnya secara tepat.Mampu memecah 3 profesi target menjadi lebih dari 3 sub-tugas spesifik secara mendalam dan terperinci secara mandiri.
Pengenalan Pola KetenagakerjaanBelum mengenali kesesuaian pola antara karakteristik tugas kerja dengan kemampuan otomatisasi KA.Mampu mengenali pola otomatisasi hanya pada tugas rutin sederhana (1 dari 3 profesi).Mampu mengenali pola karakteristik tugas rutin vs kompleks pada seluruh 3 profesi target sesuai acuan.Mampu mengenali dan menjelaskan pola karakteristik tugas secara komprehensif pada seluruh profesi target dengan konsisten tanpa bantuan.
Prediksi Tren Pekerjaan Masa DepanGagal menentukan prediksi tren status pekerjaan atau penetapan status tidak logis tanpa dasar berpikir komputasional.Mampu memprediksi status tren pekerjaan secara tepat hanya pada 1 dari 3 profesi target.Mampu memprediksi status tren masa depan secara tepat (Menurun, Meningkat, Bertransformasi) pada seluruh 3 profesi target berdasarkan hasil analisis dekomposisi dan pola.Mampu memprediksi status tren seluruh profesi target secara tepat dan memberikan argumen komputasional yang logis dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 90 menit mencukupi bagi murid untuk mempraktikkan dekomposisi dan pengenalan pola secara mandiri?
  • Bagian mana dari pilar berpikir komputasional (dekomposisi atau pengenalan pola) yang masih membutuhkan penjelasan tambahan pada pertemuan mendatang?

Murid:

  • Apakah saya sudah dapat membedakan tugas pekerjaan yang berpola rutin (rentan otomatisasi KA) dan non-rutin?
  • Bagaimana keterampilan dekomposisi dan pengenalan pola ini membantu saya merencanakan cita-cita karier di masa depan?

Pertemuan 8 — Melakukan Prediksi Kebutuhan Kompetensi Kerja Baru Melalui Abstraksi Data Dampak Otomatisasi KA — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.2.4 Melakukan prediksi tren pekerjaan masa depan sebagai dampak KA terhadap ketenagakerjaan melalui penerapan berpikir komputasional

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan ruang lingkup aktivitas pertemuan ke-8 yaitu melakukan prediksi kebutuhan kompetensi kerja baru menggunakan pilar berpikir komputasional: abstraksi (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mendeteksi kesiapan murid membedakan rincian teknis/spesifik (informasi pendukung) dengan kompetensi inti (informasi esensial/abstraksi) berdasarkan 2 cuplikan deskripsi tugas otomatisasi KA (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati materi mengenai konsep abstraksi dalam berpikir komputasional untuk menyaring sekumpulan data dampak otomatisasi KA, yakni membuang detail operasional mesin/sistem dan mempertahankan pola kebutuhan kompetensi esensial manusia (15 menit).
  • Murid secara berpasangan memainkan kuis interaktif cepat 'Filter Esensial' di mana murid membaca 3 contoh deskripsi otomatisasi pekerjaan dan secara tepat menentukan mana detail tugas rutin yang terotomatisasi serta mana inti kompetensi manusia yang harus diekstraksi (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri menganalisis tabel data dampak otomatisasi KA pada 3 sektor pekerjaan (Layanan Pelanggan, Analisis Keuangan, dan Diagnostik Kesehatan Awal), melakukan penyaringan detail tugas berulang, dan menyarikan (mengabstraksi) data tersebut ke dalam rumusan prediksi kebutuhan kompetensi kerja baru (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa ketepatan hasil abstraksi dan prediksinya terhadap kriteria ketepatan data esensial, mencatat kendala dalam memilah informasi yang relevan dan tidak relevan, serta menyimpulkan signifikansi kompetensi baru hasil prediksinya (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan hasil prediksi kebutuhan kompetensi kerja baru yang diperoleh melalui metode abstraksi data dampak otomatisasi KA (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap capaian murid, menyampaikan pengantar topik pertemuan ke-9 mengenai perancangan algoritma kesiapan kerja, dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang membutuhkan bimbingan, disediakan tabel data dampak otomatisasi dengan penanda warna visual pada bagian detail rutin vs esensial; untuk murid mahir, disajikan dataset teks profil jabatan industri yang lebih kompleks dan padat informasi.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa pertanyaan penuntun abstraksi; murid mahir melakukan abstraksi mandiri langsung ke formulasi kompetensi spesifik masa depan.
  • Produk: Format luaran hasil prediksi tetap sama berupa lembar kerja ekstraksi abstraksi dan tabel prediksi 3 kompetensi esensial baru.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemilahan informasi esensial (abstraksi): Murid membaca 2 cuplikan kasus: (1) Kasus Chatbot Perbankan: 'Chatbot menangani 1.000 FAQ saldo dan pemindahan buku secara otomatis tiap detik menggunakan NLP, sedangkan keluhan nasabah yang marah dan rumit dialihkan ke staf.' Soal: Tentukan detail operasional yang diabaikan dan kompetensi inti manusia yang diekstraksi! (Acuan benar: Detail diabaikan = teknis pemindahan buku/kecepatan pemrosesan bot per detik; Kompetensi inti diekstraksi = penanganan empati/resolusi konflik nasabah kompleks). (2) Kasus KA Radiologi: 'Sistem vision KA mendeteksi anomali fraktur tulang dari 500 citra rontgen dalam 3 menit, dokter mengonfirmasi dan mendiskusikan rencana terapi dengan pasien.' Soal: Tentukan detail operasional yang diabaikan dan kompetensi inti manusia yang diekstraksi! (Acuan benar: Detail diabaikan = kecepatan pemindaian 500 citra/deteksi fraktur otomatis; Kompetensi inti diekstraksi = pengambilan keputusan klinis terintegrasi dan komunikasi terapeutik).

Proses:

  • Pengerjaan Lembar Kerja Abstraksi Data Dampak Otomatisasi KA pada 3 sektor: (1) Sektor Layanan Pelanggan (Data: KA menggantikan pengetikan tiket kendala, pengecekan resi, dan penjawab otomatis 24 jam; manusia menangani eskalasi kasus penipuan siber dan konsultasi personal). Acuan abstraksi: Mengeliminasi tugas administratif/rutin; Prediksi kompetensi baru: Manajemen krisis pelanggan dan investigasi penipuan transaksi. (2) Sektor Analisis Keuangan (Data: Algoritma machine learning menghitung risiko kredit, merekap transaksi harian, dan menyortir portofolio dalam hitungan mikrodetik; perencana keuangan menjelaskan rekomendasi investasi etis berkelanjutan). Acuan abstraksi: Mengeliminasi komputasi numerik rutin; Prediksi kompetensi baru: Konsultasi strategi investasi etis (ESG) dan literasi data prediktif. (3) Sektor Diagnostik Kesehatan Awal (Data: Algoritma KA memindai rekam medis digital, menghitung probabilitas penyakit berdasarkan gejala dasar; dokter berkolaborasi merumuskan tindakan paliatif holistik). Acuan abstraksi: Mengeliminasi pencocokan pola data mentah; Prediksi kompetensi baru: Kolaborasi diagnosis berbantuan KA dan tata kelola empati medis. Kriteria ketepatan: Berhasil mengeliminasi minimal 1 detail tugas rutin dan memprediksi minimal 1 kompetensi kerja baru yang relevan untuk setiap sektor (total 3 sektor lengkap).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan rumusan akhir hasil abstraksi prediksi: 'Berdasarkan abstraksi data dampak otomatisasi KA, sebutkan 2 kelompok kompetensi esensial manusia yang paling kebal terhadap otomatisasi dan justru semakin dicari!' (Kriteria penerimaan: Jawaban memuat rumpun kompetensi penalaran tingkat tinggi/pengambilan keputusan kompleks dan rumpun kecerdasan sosio-emosional/komunikasi empati mendalam).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja abstraksi data dampak otomatisasi KA dan prediksi kebutuhan kompetensi kerja baru dengan rubrik analitis.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Abstraksi Data Tugas Rutin TerotomatisasiBelum mampu memilah atau mengeliminasi detail tugas rutin dari 3 sektor data dampak otomatisasi KA yang disajikan.Mampu memilah dan mengeliminasi detail tugas rutin hanya pada 1 dari 3 sektor data dampak otomatisasi KA secara tepat sesuai acuan.Mampu memilah dan mengeliminasi detail tugas rutin pada 2 dari 3 sektor data dampak otomatisasi KA secara tepat sesuai acuan.Mampu memilah dan mengeliminasi detail tugas rutin pada seluruh (3 dari 3) sektor data dampak otomatisasi KA secara tepat dan mandiri sesuai acuan.
Prediksi Kebutuhan Kompetensi Kerja BaruBelum mampu merumuskan prediksi kebutuhan kompetensi kerja baru yang relevan berdasarkan hasil abstraksi data.Mampu merumuskan prediksi kebutuhan kompetensi kerja baru yang tepat dan relevan pada 1 dari 3 sektor data sesuai acuan.Mampu merumuskan prediksi kebutuhan kompetensi kerja baru yang tepat dan relevan pada 2 dari 3 sektor data sesuai acuan.Mampu merumuskan prediksi kebutuhan kompetensi kerja baru yang tepat dan relevan pada seluruh (3 dari 3) sektor data secara mendalam sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 90 menit efektif memfasilitasi murid berlatih menerapkan pilar abstraksi data secara bertahap?
  • Apakah murid dapat membedakan dengan tegas antara detail tugas teknis mesin dan esensi keterampilan manusia dalam analisis dampak otomatisasi?

Murid:

  • Bagian mana dari langkah menyaring data otomatisasi yang paling menantang bagi saya?
  • Bagaimana keterampilan abstraksi berpikir komputasional ini membantu saya mengidentifikasi keahlian yang harus saya latih demi masa depan?

Pertemuan 9 — Melakukan Prediksi Strategi Adaptasi Karier Melalui Perancangan Algoritma Tahapan Kesiapan Kerja — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.2.4 Melakukan prediksi tren pekerjaan masa depan sebagai dampak KA terhadap ketenagakerjaan melalui penerapan berpikir komputasional

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu merancang algoritma tahapan kesiapan kerja sebagai strategi adaptasi karier menghadapi dampak KA (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan menampilkan 2 alur sederhana di papan tulis: Alur A (Mencari kerja baru langsung tanpa pelatihan) dan Alur B (Evaluasi dampak otomatisasi tugas -> Jika rutinitas tinggi, ambil sertifikasi kecerdasan artifisial -> Lamar posisi baru), lalu meminta murid memilih alur logis yang adaptif (acuan: Alur B karena menggunakan logika kondisi dan peningkatan kompetensi bertahap) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak pemaparan guru tentang pilar berpikir komputasional keempat yaitu perancangan algoritma (langkah terurut, percabangan/decision, dan perulangan/looping) untuk menyusun strategi adaptasi karier yang diprediksi terdampak otomatisasi KA (15 menit).
  • Murid secara berpasangan memainkan kuis logika cepat 'Tebak Cabang Karier' di mana guru memberikan kondisi: 'IF pekerjaan memiliki tugas rutin tinggi (>70%) THEN tindakan apa yang diambil?' (kunci jawaban: ambil pelatihan reskilling/upskilling teknologi KA; ELSE: perkuat kemampuan analitis dan interaksi manusia), guna melatih pembentukan logika percabangan adaptasi secara interaktif (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menerima Lembar Kerja Algoritma Adaptasi Karier yang memuat skenario seorang staf administrasi entri data (sektor rentan otomatisasi KA) dan diminta merancang diagram alir (flowchart) atau pseudocode berisi minimal 4 langkah berurutan dengan minimal 1 kondisi percabangan logika (25 menit).
  • Murid secara mandiri menyelesaikan rancangan algoritma tahapan kesiapan kerja tersebut berdasarkan prediksi dampak KA pada sektor yang dipilih (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid meninjau ulang kelogisan algoritma yang telah dirancang menggunakan rubrik penilaian diri: memeriksa apakah runtutan langkah tidak memiliki jalan buntu (deadlock) dan kondisi percabangan adaptif dapat dieksekusi secara nyata (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa adaptasi karier menghadapi KA membutuhkan perencanaan terstruktur dan langkah logis algoritmik (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil kerja murid dan menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya adalah asesmen sumatif bab (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan templat pseudocode rumpang dengan struktur percabangan yang telah disiapkan; murid yang mahir diberikan skenario industri yang lebih kompleks (misalnya sektor medis atau keuangan multidivisi).
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dalam menentukan urutan kondisi (IF-THEN-ELSE), sedangkan murid yang mandiri merancang diagram alir secara penuh secara individual.
  • Produk: Format luaran algoritma dapat dipilih antara diagram alir (flowchart) standar ANSI atau teks pseudocode terstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman logika algoritmik: Diberikan dua opsi alur adaptasi menghadapi otomasi entri data: Opsi 1 (Bekerja seperti biasa -> Mengeluh saat sistem KA masuk -> Menganggur) dan Opsi 2 (Identifikasi tugas rutin -> Ikuti kursus prompt engineering/analisis data -> Validasi sertifikasi -> Beralih peran kerja). Murid menentukan alur terstruktur yang benar (acuan jawaban: Opsi 2, karena memiliki langkah evaluasi dan peningkatan kompetensi terencana).

Proses:

  • Pengamatan dan penilaian penugasan Lembar Kerja Algoritma Adaptasi Karier. Kriteria keberhasilan: Algoritma memuat minimal 4 tahapan berurutan (misal: 1. Asesmen kerentanan kerja, 2. Pemilihan kompetensi baru, 3. Pelaksanaan pembelajaran, 4. Evaluasi kemahiran) dan 1 struktur kondisi logika (IF kompetensi baru lulus THEN melamar posisi spesialis KA ELSE mengulang modul pelatihan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Menjawab pertanyaan singkat 'Mengapa struktur kondisi percabangan (IF-THEN-ELSE) mutlak diperlukan dalam algoritma kesiapan karier masa depan?' (Kriteria penerimaan: Jawaban memuat konsep bahwa masa depan memiliki ketidakpastian tren teknologi sehingga perlu ada rute alternatif jika suatu rencana peningkatan keahlian belum memenuhi syarat industri).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik pemilihan alur logika adaptif di awal sesi
  • Penilaian proses penyusunan algoritma adaptasi karier (pseudocode/flowchart) pada lembar kerja

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Perancangan Algoritma Tahapan Kesiapan KarierMerancang kurang dari 3 langkah adaptasi karier dan tidak memuat struktur logika percabangan.Merancang minimal 3 langkah adaptasi karier yang berurutan namun belum menyertakan struktur kondisi percabangan alternatif.Merancang minimal 4 langkah adaptasi karier yang terurut runtut dengan menyertakan minimal 1 struktur logika percabangan yang tepat sesuai kondisi dampak otomatisasi KA.Merancang lebih dari 4 langkah terurut yang lengkap, memuat struktur percabangan bertingkat dan perulangan (looping) evaluasi kompetensi tanpa adanya kebuntuan alur logis.
Ketepatan Logika Adaptasi terhadap Prediksi Otomatisasi KALangkah yang disusun tidak relevan dengan upaya mitigasi dampak otomatisasi tugas pekerjaan.Langkah yang disusun relevan namun tindakan adaptasi yang dipilih tidak realistis mengatasi otomatisasi.Langkah yang dirancang secara tepat menargetkan peningkatan kompetensi kerja masa depan sesuai prediksi dampak KA.Langkah yang dirancang sangat komprehensif memitigasi risiko otomatisasi, mencakup reskilling teknologi dan penguatan kompetensi unik manusia secara terperinci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur kegiatan perancangan algoritma membantu murid memahami keterkaitan berpikir komputasional dengan perencanaan karier nyata?
  • Bagian mana dari konsep percabangan logika yang paling banyak memerlukan bimbingan tambahan bagi murid?

Murid:

  • Apakah saya dapat melihat bagaimana berpikir komputasional membantu merencanakan masa depan karier saya di era kecerdasan artifisial?
  • Langkah kesiapan kerja apa dalam algoritma yang saya buat yang paling menantang untuk saya wujudkan secara nyata?

Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 11.2.1 Menganalisis dampak KA terhadap ketenagakerjaan pada pergeseran dan transformasi pekerjaan di berbagai sektor
  • TP 11.2.2 Mengevaluasi prinsip human-centered yang harus dipatuhi oleh pengembang KA dalam lingkungan kerja
  • TP 11.2.3 Menelaah bentuk tanggung jawab pengembang KA dalam mengatasi tantangan etika yang ada di dunia kerja
  • TP 11.2.4 Melakukan prediksi tren pekerjaan masa depan sebagai dampak KA terhadap ketenagakerjaan melalui penerapan berpikir komputasional

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, mengecek presensi, dan mengondisikan ruang kelas agar tertib dan kondusif untuk pengerjaan tes mandiri (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif Bab 2 untuk mengukur penguasaan analisis dampak KA, evaluasi human-centered, telaah tanggung jawab etis, dan prediksi karier berbasis berpikir komputasional (3 menit).
  • Guru membagikan naskah Asesmen Sumatif (Bagian 1: Analisis Kasus Tertulis; Bagian 2: Dokumen Prediksi Karier Komputasional) dan lembar jawaban kepada setiap murid (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mencermati petunjuk teknis pengerjaan instrumen sumatif, membaca teks studi kasus 'Otomatisasi Sistem Seleksi dan Pengawasan Kerja di PT Digital Logistik Nusantara', serta memahami alokasi pengerjaan 40 menit untuk Bagian 1 dan 40 menit untuk Bagian 2 secara mandiri (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid mengerjakan Tugas Bagian 1 secara serentak dan mandiri: menganalisis pergeseran pekerjaan pergudangan dan seleksi kerja akibat KA, mengevaluasi pelanggaran prinsip human-centered (kurangnya kendali manusia dan transparansi), serta merumuskan rekomendasi tanggung jawab etis pengembang KA (mitigasi bias algoritma rekrutmen dan perlindungan privasi data pengawasan kerja) pada lembar kerja (30 menit).
  • Murid mengerjakan Tugas Bagian 2 secara serentak dan mandiri: menyusun dokumen prediksi karier masa depan dengan menerapkan 4 pilar berpikir komputasional: (1) Dekomposisi: mengurai 3 tugas kerja yang rentan diotomatisasi versus peran bernilai tambah tinggi; (2) Pengenalan Pola: mengidentifikasi pergeseran pola kebutuhan pasar dari operator manual menuju pengawas/analis sistem cerdas; (3) Abstraksi: menyaring 3 kompetensi inti yang harus dikuasai (literasi data KA, pemecahan masalah kompleks, etika digital); serta (4) Algoritma: merancang alur 4 langkah logis dan terurut untuk kesiapan karier pribadi menghadapi disrupsi KA (40 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengheningkan cipta sejenak dan memeriksa kembali kelengkapan seluruh jawaban pada lembar kerja sumatif sebelum dokumen dikumpulkan (2 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh berkas lembar kerja asesmen sumatif Bagian 1 dan Bagian 2 dari seluruh murid secara tertib (3 menit).
  • Guru memfasilitasi refleksi singkat pelaksanaan asesmen sumatif, menyampaikan apresiasi atas integritas pengerjaan mandiri murid, dan menutup pembelajaran Bab 2 dengan doa penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses berupa format teks naskah soal dengan ukuran huruf yang diperbesar bagi murid dengan hambatan visual tanpa mengubah narasi studi kasus maupun kompleksitas pertanyaan.
  • Proses: Akomodasi akses berupa penyesuaian posisi meja kerja di baris depan untuk memastikan murid dengan hambatan penglihatan/pendengaran dapat membaca instruksi dengan jelas tanpa mengubah batas waktu pengerjaan.
  • Produk: Format lembar jawaban terstruktur dengan kolom panduan yang jelas untuk memudahkan alur penulisan tanpa mengubah standar dan rubrik penilaian yang diukur.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Portofolio analisis terpadu dan lembar kerja prediksi karier berbasis studi kasus komputasional: Dokumen tertulis individu yang memuat analisis transformasi ketenagakerjaan, evaluasi prinsip human-centered dan etika pengembang KA, serta rancangan prediksi tren karier masa depan menggunakan kerangka berpikir komputasional
  • Analisis kasus dan evaluasi etis tertulis serentak: Lembar kerja analisis tertulis berisi telaah pergeseran pekerjaan di sektor industri, evaluasi kepatuhan prinsip human-centered pada otomatisasi alur kerja, serta rekomendasi tanggung jawab mitigasi bias/keadilan oleh pengembang KA yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (45 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian analitik (kriteria: ketajaman analisis disrupsi kerja, kedalaman evaluasi human-centered, dan ketepatan solusi etika pengembang))
  • Penyusunan dokumen prediksi tren pekerjaan dan adaptasi berbasis berpikir komputasional serentak: Dokumen rencana adaptasi karier yang menguraikan dekomposisi tantangan pekerjaan masa depan, pengenalan pola kebutuhan keahlian baru, abstraksi kompetensi kunci, serta rancangan algoritma/tahapan pengembangan kompetensi diri secara sistematis yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (45 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian penalaran komputasional (kriteria: penerapan 4 pilar berpikir komputasional dalam memprediksi tren dan memetakan rencana adaptasi))

Sumatif:

  • Portofolio analisis terpadu dan lembar kerja prediksi karier berbasis studi kasus komputasional: Dokumen tertulis individu yang memuat analisis transformasi ketenagakerjaan, evaluasi prinsip human-centered dan etika pengembang KA, serta rancangan prediksi tren karier masa depan menggunakan kerangka berpikir komputasional
  • Analisis kasus dan evaluasi etis tertulis serentak: Lembar kerja analisis tertulis berisi telaah pergeseran pekerjaan di sektor industri, evaluasi kepatuhan prinsip human-centered pada otomatisasi alur kerja, serta rekomendasi tanggung jawab mitigasi bias/keadilan oleh pengembang KA yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (45 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian analitik (kriteria: ketajaman analisis disrupsi kerja, kedalaman evaluasi human-centered, dan ketepatan solusi etika pengembang))
  • Penyusunan dokumen prediksi tren pekerjaan dan adaptasi berbasis berpikir komputasional serentak: Dokumen rencana adaptasi karier yang menguraikan dekomposisi tantangan pekerjaan masa depan, pengenalan pola kebutuhan keahlian baru, abstraksi kompetensi kunci, serta rancangan algoritma/tahapan pengembangan kompetensi diri secara sistematis yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (45 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian penalaran komputasional (kriteria: penerapan 4 pilar berpikir komputasional dalam memprediksi tren dan memetakan rencana adaptasi))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketajaman Analisis Disrupsi dan Transformasi Kerja (TP 11.2.1)Belum mampu mengidentifikasi pergeseran pekerjaan dan perubahan kebutuhan keterampilan kerja pada studi kasus secara tepat.Mampu mengidentifikasi pekerjaan yang bergeser atau tergantikan otomatisasi KA, namun belum mampu menganalisis transformasi keterampilan kerja baru yang dibutuhkan sektor terkait.Mampu menganalisis pergeseran pekerjaan rutin menjadi otomatisasi KA serta menganalisis transformasi kebutuhan keterampilan kerja baru di sektor industri pada studi kasus secara tepat.Mampu menganalisis pergeseran pekerjaan, otomatisasi tugas, dan transformasi struktur ketenagakerjaan baru secara mendalam, kritis, dan komprehensif berdasarkan bukti studi kasus.
Kedalaman Evaluasi Prinsip Human-Centered (TP 11.2.2)Belum mampu mengevaluasi kepatuhan prinsip human-centered dalam sistem kerja berbasis KA.Mampu menyebutkan aspek human-centered namun belum mampu mengevaluasi aspek kendali manusia, keterlibatan pengguna, atau inklusivitas secara tepat pada konteks lingkungan kerja.Mampu mengevaluasi kepatuhan prinsip human-centered dengan menelaah batasan kendali manusia (human-in-the-loop), transparansi proses, dan perlakuan adil terhadap pekerja sesuai acuan kasus.Mampu mengevaluasi kepatuhan prinsip human-centered secara tajam dan kritis serta memberikan argumentasi logis mengenai pentingnya menempatkan manusia sebagai fokus utama otomatisasi kerja.
Ketepatan Rekomendasi Tanggung Jawab Etis Pengembang KA (TP 11.2.3)Belum mampu merumuskan bentuk tanggung jawab pengembang KA terhadap tantangan etika dunia kerja.Mampu menyebutkan tanggung jawab pengembang KA tetapi belum menghubungkannya secara tepat dengan masalah bias algoritma rekrutmen atau perlindungan data pekerja.Mampu merumuskan solusi tanggung jawab pengembang KA secara tepat dalam mengatasi bias algoritma pemeringkatan pelamar dan menjaga keamanan data pribadi/pengawasan pekerja sesuai acuan etis.Mampu menelaah dan merekomendasikan mekanisme tanggung jawab pengembang KA yang sistematis, mencakup audit bias, transparansi model, serta kebijakan perlindungan privasi yang akuntabel.
Penerapan Berpikir Komputasional dalam Prediksi Tren Karier (TP 11.2.4)Belum mampu menerapkan pilar berpikir komputasional dalam memprediksi tren pekerjaan dan rencana adaptasi karier.Menerapkan 1-2 pilar berpikir komputasional secara terbatas dalam memprediksi tren pekerjaan atau rencana karier.Menerapkan seluruh 4 pilar berpikir komputasional secara runtut (Dekomposisi tugas kerja, Pengenalan Pola tren industri, Abstraksi 3 kompetensi esensial, dan Algoritma 4 langkah kesiapan karier) sesuai acuan tugas.Menerapkan seluruh 4 pilar berpikir komputasional secara tepat, logis, terpadu, dan visioner dalam memetakan prediksi tren pekerjaan serta menghasilkan algoritma langkah adaptasi karier yang sangat aplikatif.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 40 menit per bagian tugas sumatif mencukupi bagi murid untuk menuangkan analisis kritis dan pemikiran komputasionalnya?
  • Bagaimana capaian ketercapaian murid pada aspek evaluasi etika human-centered dibandingkan dengan penerapan berpikir komputasional untuk prediksi karier?
  • Tindak lanjut intervensi atau pengayaan apa yang diperlukan berdasarkan peta ketercapaian seluruh TP Bab 2 ini?

Murid:

  • Bagian mana dari studi kasus analisis dampak ketenagakerjaan dan etika KA yang paling menantang untuk dievaluasi secara mandiri?
  • Bagaimana penerapan 4 pilar berpikir komputasional membantumu memahami dan merancang kesiapan masa depan menghadapi perkembangan teknologi KA?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikdasmen, 2025)
  2. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikdasmen, 2025)
  3. Lembar Kerja Analisis Pergeseran Pekerjaan dan Otomatisasi Tugas KA
  4. Set Kartu Aktivitas 'Sortir Tugas Cerdas'
  5. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, 2025, Bab 2 (Dampak Kecerdasan Artifisial terhadap Ketenagakerjaan)
  6. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, 2025, Bab 2
  7. Lembar Kerja Siswa: Matriks Analisis Transformasi Profesi Baru dan Kebutuhan Keterampilan Masa Depan
  8. Perangkat kartu pemantik: Kartu Peran Tantangan Disrupsi Kerja dan Kartu Solusi Keterampilan Masa Depan
  9. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025, Bab 2
  10. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI, Bab 2 Subbab Prinsip Human-Centered KA (Kerangka Kerja Shneiderman)
  11. Lembar Kerja Evaluasi Studi Kasus Penerapan Human-Centered KA di Lingkungan Kerja
  12. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI Bab 2 (Kemendikdasmen, 2025)
  13. Lembar Analisis Studi Kasus Human-Centered AI: Keterlibatan Pengguna dan Inklusivitas
  14. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikdasmen, 2025)
  15. Lembar Telaah Kasus Etika Pengembang KA (Skenario Bias Rekrutmen dan Keamanan Data Pekerja)
  16. Lembar Telaah Etis Ketenagakerjaan (Kartu Skenario 1 dan Skenario 2)
  17. Buku Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikdasmen 2025, Bab 2)
  18. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikdasmen 2025, Bab 2)
  19. Kartu Respons Permainan 'Pola Kerja KA' (warna hijau dan kuning)
  20. Lembar Kerja Murid: Penerapan Berpikir Komputasional untuk Prediksi Ketenagakerjaan
  21. Lembar Kerja Siswa: Matriks Abstraksi Data Dampak Otomatisasi KA dan Prediksi Kompetensi Masa Depan
  22. Dataset Studi Kasus Otomatisasi Sektor Layanan, Keuangan, dan Kesehatan
  23. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025)
  24. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas XI Bab 2
  25. Lembar Kerja Siswa: Perancangan Algoritma Tahapan Kesiapan Karier
  26. Papan tulis dan spidol untuk simulasi flowchart alur adaptasi kerja
  27. Naskah Lembar Asesmen Sumatif Bab 2: Studi Kasus PT Digital Logistik Nusantara dan Format Lembar Kerja Prediksi Komputasional

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.