Modul AjarBab 1Fase ESemester 1

Modul Ajar Koding dan Kecerdasan Artifisial Kelas 10 Bab 1: Berpikir Komputasional

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Koding dan Kecerdasan Artifisial kelas 10 untuk Bab 1 "Berpikir Komputasional", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Koding dan Kecerdasan Artifisial Kelas 10 Bab 1: Berpikir Komputasional

Koding dan Kecerdasan Artifisial - Kelas 10

Bab 1

MODUL AJAR

Koding dan Kecerdasan Artifisial — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Bab 1 — Berpikir Komputasional

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranKoding dan Kecerdasan Artifisial
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikBab 1 — Berpikir Komputasional
Alokasi Waktu12 JP (12 x 45 menit = 540 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 10.1.1 Menganalisis permasalahan sehari-hari yang kompleks dengan pendekatan berpikir komputasional
  2. TP 10.1.2 Merumuskan solusi berpikir komputasional untuk memecahkan permasalahan sehari-hari yang kompleks
  3. TP 10.1.3 Menerapkan berpikir komputasional untuk memecahkan permasalahan sehari-hari yang kompleks melalui simulasi langkah terstruktur
  4. TP 10.1.4 Mengevaluasi hasil pemecahan permasalahan sehari-hari yang kompleks berdasarkan penerapan berpikir komputasional

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Mengapa antrean di kantin sekolah bisa sangat panjang saat jam istirahat, dan bagaimana cara kita membedah penyebabnya?
  2. Bagaimana kita bisa mengenali kesamaan pola antara masalah penumpukan sampah di kelas dengan antrean di kantin?
  3. Ketika menghadapi situasi penumpukan antrean yang semrawut di kantin, detail mana yang penting dicatat dan detail apa yang sebenarnya bisa kita abaikan?
  4. Bagaimana proses menyaring informasi (abstraksi) membantu kita merumuskan akar masalah serta fokus solusi secara tepat?
  5. Mengapa sebuah solusi atas masalah kompleks harus disusun dalam urutan langkah yang jelas dan tidak ambigu?
  6. Bagaimana memastikan rancangan algoritma kita dapat dijalankan secara runtut untuk menyelesaikan masalah antrean di kantin sekolah?
  7. Ketika kamu harus memilih antara jalan protokol yang lebar namun macet dengan jalan pintas gang sempit yang berliku, bagaimana kamu menyimulasikan rute tercepat secara langkah demi langkah?
  8. Bagaimana urutan instruksi navigasi yang terstruktur dapat membuktikan bahwa suatu rute perjalanan benar-benar paling efisien?
  9. Bagaimana kita membuktikan bahwa alur solusi komputasional yang telah dirancang benar-benar optimal dan bebas dari kesalahan logika?
  10. Faktor apa saja yang menentukan apakah hasil simulasi penyelesaian masalah sehari-hari sudah efisien dan dapat diterapkan secara andal?
  11. Bagaimana urutan langkah berpikir komputasional membantu kita membuktikan bahwa suatu solusi masalah kompleks benar-benar bekerja secara terstruktur?
  12. Mengapa penelusuran (tracing) dan evaluasi kritis terhadap batasan solusi sangat penting dilakukan sebelum sebuah alur algoritma diterapkan secara nyata?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menganalisis Komponen Dekomposisi dan Pengenalan Pola Masalah Sehari-hari yang Kompleks — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.1 Menganalisis permasalahan sehari-hari yang kompleks dengan pendekatan berpikir komputasional

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menganalisis permasalahan kompleks sehari-hari melalui pemecahan komponen (dekomposisi) dan penemuan kesamaan pola (pengenalan pola) (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan sebuah kasus: 'Kantin sekolah selalu menumpuk saat istirahat pertama 15 menit', lalu meminta murid mengidentifikasi 2 submasalah dan 1 pola berulang yang terjadi (acuan: submasalah mencakup pemesanan/pembayaran/penyajian; pola berupa lonjakan waktu serentak di 5 menit awal) (9 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru melalui pemodelan kasus 'Penumpukan Antrean Kantin Sekolah' tentang cara melakukan dekomposisi (memecah masalah besar menjadi sub-komponen: alur antre, sistem pembayaran, kesiapan menu) dan pengenalan pola (keteraturan waktu ramai, menu favorit yang memperlambat transaksi) (10 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil (berpasangan) berpartisipasi dalam tantangan kuis pencocokan cepat: murid memasangkan 3 kartu pernyataan situasi masalah dengan label analisis yang tepat. Kartu 1: 'Memilah kendala kantin menjadi kasir lambat, stok makanan habis, dan meja kurang' -> pasangannya: 'Dekomposisi'; Kartu 2: 'Menemukan bahwa antrean selalu memuncak pada pukul 09.45 dan hari Senin' -> pasangannya: 'Pengenalan Pola'; Kartu 3: 'Melihat kesamaan keterlambatan pesanan pada stan mi instan dan minuman racik' -> pasangannya: 'Pengenalan Pola' (acuan: pasangan kartu 1 = Dekomposisi; kartu 2 = Pengenalan Pola; kartu 3 = Pengenalan Pola) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid secara berkelompok menganalisis studi kasus kompleks baru pada Lembar Kerja BK-K10-01: 'Penurunan Performa Belajar dan Kehilangan Fokus pada Siswa SMA' (Kasus Dela: nilai anjlok, sering mengantuk, waktu belajar berbenturan dengan gawai dan kegiatan ekstrakurikuler) (15 menit).
  • Murid menguraikan masalah kasus Dela ke dalam minimal 3 komponen dekomposisi konkret (acuan: 1. Manajemen waktu antara belajar dan gawai; 2. Pola tidur dan kelelahan fisik; 3. Metode belajar mata pelajaran sulit yang tidak sesuai) (15 menit).
  • Murid mengidentifikasi minimal 2 pola berulang penyebab masalah dari riwayat kasus tersebut (acuan: 1. Pola bermain gawai hingga larut malam sebelum hari ujian matematika/bahasa Inggris; 2. Pola menunda belajar materi sulit hingga malam sebelum ujian) (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membandingkan hasil analisis dekomposisi dan pengenalan pola kelompoknya dengan kelompok sebelah untuk memeriksa kelengkapan uraian dan ketepatan identifikasi akar masalah (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan bagaimana dekomposisi dan pengenalan pola mempermudah analisis masalah kompleks tanpa terburu-buru melompat ke solusi (3 menit).
  • Murid mengerjakan asesmen akhir berupa 2 butir cek pemahaman analisis kasus kemacetan gerbang sekolah (acuan tercantum pada instrumen asesmen akhir) (5 menit).
  • Guru menginformasikan fokus pembelajaran pertemuan berikutnya (Abstraksi masalah sehari-hari) dan menutup kelas dengan doa (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan teks studi kasus dengan penandaan warna (stabilo) pada kata kunci pemicu masalah, sedangkan murid yang siap diberikan teks narasi kasus Dela secara utuh tanpa panduan penanda.
  • Proses: Kelompok yang memerlukan bantuan didampingi guru dengan pertanyaan penuntun dekomposisi langkah demi langkah, sementara kelompok mahir menganalisis secara mandiri.
  • Produk: Uraian analisis dapat disajikan dalam bentuk diagram alur pohon masalah atau tabel rincian dekomposisi dan pola berulang.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik: Tuliskan 2 sub-komponen masalah utama dan 1 pola keteraturan yang tampak pada kasus antrean kantin sekolah! (Acuan: sub-komponen: 1. Proses transaksi kasir lambat, 2. Penyiapan makanan lama; Pola: lonjakan pembeli menumpuk pada 5 menit pertama jam istirahat).

Proses:

  • Penilaian LK BK-K10-01: Menganalisis studi kasus Dela dengan mengisi tabel dekomposisi (memuat minimal 3 submasalah terpisah) dan pengenalan pola (memuat minimal 2 pola berulang). Dinilai berdasarkan ketepatan pemilahan komponen dan keteraturan pola sesuai acuan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat di akhir pertemuan: Diberikan kasus 'Penumpukan kendaraan di gerbang sekolah setiap pagi'. Tuliskan: (1) 2 komponen hasil dekomposisi masalah, dan (2) 1 pola berulang yang teridentifikasi. (Acuan: Komponen: [a] kendaraan roda empat berhenti terlalu lama menurunkan penumpang, [b] antrean pemeriksaan kartu pelajar di pintu masuk; Pola: kepadatan selalu memuncak pada rentang pukul 06.40-06.55 WIB menjelang bel masuk).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: analisis cepat komponen dan pola kasus kantin di awal sesi
  • Asesmen proses: pengamatan kerja kelompok dan penilaian Lembar Kerja Analisis BK-K10-01 (dekomposisi dan pola)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Komponen Dekomposisi Masalah KompleksBelum mampu memecah masalah kompleks menjadi sub-komponen, atau komponen yang dituliskan masih berupa masalah utuh yang belum terurai.Mampu mengidentifikasi 1-2 sub-komponen masalah kompleks secara tepat namun uraiannya belum lengkap memetakan situasi.Mampu memecah masalah kompleks menjadi minimal 3 sub-komponen secara tepat dan relevan sesuai acuan kasus.Mampu memecah masalah kompleks menjadi lebih dari 3 sub-komponen secara mendalam, tepat, dan terperinci hingga ke akar bagian masalah secara mandiri.
Menganalisis Pengenalan Pola Masalah KompleksBelum mampu menemukan pola atau keteraturan berulang dari peristiwa dalam permasalahan kompleks.Mampu mengidentifikasi 1 pola keteraturan/kejadian berulang namun belum sepenuhnya relevan dengan penyebab masalah utama.Mampu mengidentifikasi minimal 2 pola berulang yang relevan dengan penyebab masalah kompleks sesuai acuan kasus.Mampu mengidentifikasi minimal 2 pola berulang secara tepat serta menjelaskan keterkaitan sebab-akibat antar-pola tersebut secara kritis dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah konteks masalah sehari-hari yang disajikan (kantin dan kasus Dela) cukup dekat dan efektif memantik kemampuan analisis murid?
  • Bagian mana dari konsep dekomposisi dan pengenalan pola yang masih membingungkan bagi sebagian besar murid?

Murid:

  • Apakah kamu dapat membedakan dengan jelas antara memecah masalah (dekomposisi) dan mencari keteraturan kejadian (pengenalan pola)?
  • Bagaimana keterampilan memecah masalah ini membantumu memahami kesulitan belajarmu sendiri?

Pertemuan 2 — Merumuskan Solusi Berpikir Komputasional Melalui Abstraksi Masalah Sehari-hari yang Kompleks — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.2 Merumuskan solusi berpikir komputasional untuk memecahkan permasalahan sehari-hari yang kompleks

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa singkat pembuka pembelajaran (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merumuskan solusi berpikir komputasional melalui proses abstraksi (menyaring informasi esensial dan mengeliminasi detail tidak relevan) dari permasalahan sehari-hari yang kompleks (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta menjawab secara lisan/cepat memilih 2 informasi tidak relevan dari daftar 4 item kasus antrean kantin: (1) Durasi waktu transaksi kasir, (2) Warna taplak meja stan makanan, (3) Jumlah stan kasir yang aktif, (4) Model potongan rambut petugas kasir. (Acuan jawaban benar: item 2 dan 4 adalah informasi tidak relevan yang harus diabstraksi/dieliminasi) (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak pemaparan guru tentang konsep pilar abstraksi dalam berpikir komputasional: teknik menyaring data esensial, menyederhanakan masalah kompleks, serta mengabaikan detail periferal yang tidak memengaruhi rumusan solusi (10 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil 4-5 orang mencermati studi kasus komprehensif 'Kemacetan Alur Pelayanan Kantin Sekolah pada Jam Istirahat Pertama' yang memuat 6 butir fakta lapangan: (1) Waktu istirahat serentak 30 menit untuk 800 murid, (2) Stan makanan belum memisahkan antrean pemesanan dan pembayaran, (3) Warna piring dan sendok beragam, (4) Petugas mencatat pesanan manual di kertas tanpa nomor antrean, (5) Merek kipas angin di dinding kantin, (6) Menu makanan favorit tidak diinformasikan di depan stan sehingga pembeli lama memilih (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Tantangan Berkelompok 'Filter Detektif Masalah': Setiap kelompok berdiskusi mengklasifikasikan 6 butir fakta kasus kantin ke dalam Lembar Abstraksi: memilah 4 faktor esensial pembentuk masalah dan 2 detail tidak relevan yang harus dibuang (Acuan: faktor esensial = butir 1, 2, 4, 6; detail tidak relevan = butir 3 dan 5) (15 menit).
  • Murid merumuskan 1 kalimat inti masalah kantin berdasarkan hasil abstraksi (Acuan kriteria: memuat esensi hambatan transaksi/alur pemesanan tanpa menyebut warna peralatan atau merek kipas) (10 menit).
  • Murid secara mandiri merumuskan 3 butir solusi berbasis pilar abstraksi pada lembar kerja masing-masing (Acuan solusi: (1) Pemisahan loket pemesanan dan pembayaran, (2) Penerapan nomor antrean pesanan, (3) Pemasangan daftar menu utama di depan antrean) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan asesmen silang berpasangan (peer-assessment) untuk memeriksa apakah rumusan solusi milik teman sudah murni fokus pada variabel esensial dan bebas dari variabel tidak relevan menggunakan panduan checklist guru (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran: perumusan solusi berpikir komputasional diawali dengan ketepatan abstraksi agar fokus penanganan tidak bias oleh informasi yang tidak esensial (3 menit).
  • Guru memberikan konfirmasi capaian, mengingatkan keterkaitan topik ini dengan langkah algoritmik di pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa kata kunci pembeda antara variabel esensial vs non-esensial; murid berkemampuan cepat diberikan skenario tambahan dengan 8 variabel data yang lebih kompleks.
  • Proses: Scaffolding bertahap: kelompok yang masih ragu didampingi langsung oleh guru dalam membedah 2 variabel pertama, sedangkan kelompok mandiri langsung menyelesaikan rumusan solusi secara penuh.
  • Produk: Format penulisan rumusan solusi dapat disajikan dalam bentuk poin-poin terstruktur atau tabel pemetaan variabel masalah vs solusi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik di awal pembelajaran: menentukan 2 variabel tidak relevan dari 4 daftar kondisi antrean kantin. Acuan jawaban: (1) Durasi waktu transaksi kasir (esensial), (2) Warna taplak meja stan makanan (tidak relevan), (3) Jumlah stan kasir yang aktif (esensial), (4) Model potongan rambut petugas kasir (tidak relevan). Kunci: item 2 dan 4.

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pengelompokan 6 variabel kasus kantin pada Lembar Abstraksi: esensial (butir 1, 2, 4, 6) dan non-esensial (butir 3 dan 5).
  • Pemeriksaan ketepatan rumusan kalimat inti masalah yang memuat akar persoalan penumpukan transaksi tanpa memuat elemen non-esensial.
  • Pemeriksaan rumusan 3 butir solusi berpikir komputasional yang operasional dan secara tepat menyasar variabel esensial yang telah diabstraksi.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir melalui reviu checklist lembar kerja berpasangan: memastikan seluruhnya berhasil menyaring minimal 3 solusi yang terbebas dari bias data periferal.

Formatif:

  • Penilaian proses diskusi pemilahan variabel esensial dan pengamatan keterlibatan perumusan solusi pada Lembar Kerja Abstraksi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Abstraksi Data (Memilah Esensial vs Non-esensial)Memilah kurang dari 3 dari 6 variabel kasus dengan tepat (masih mencampurkan detail tidak relevan ke dalam masalah utama).Memilah 3-4 dari 6 variabel kasus dengan tepat, masih memerlukan arahan untuk menyaring detail non-esensial.Memilah 5-6 variabel kasus dengan tepat secara mandiri (tepat memisahkan 4 variabel esensial dan 2 variabel non-esensial sesuai acuan).Memilah seluruh 6 variabel kasus dengan tepat dan konsisten serta mampu memberikan kriteria objektif penentuan variabel esensial pada kasus kompleks tambahan.
Perumusan Solusi Berpikir KomputasionalRumusan solusi belum operasional atau masih fokus menangani variabel non-esensial.Merumuskan 1-2 solusi yang menyasar variabel esensial namun penjabarannya masih belum terstruktur.Merumuskan 3 butir solusi berpikir komputasional yang operasional dan tepat menyasar variabel esensial hasil abstraksi.Merumuskan 3 butir solusi yang operasional, tepat menyasar variabel esensial, serta dilengkapi dengan pemetaan dampak penyelesaian masalah secara komprehensif.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mampu membedakan variabel esensial dan non-esensial saat menyaring informasi studi kasus?
  • Bagian mana dari perancangan perumusan solusi yang paling banyak membutuhkan scaffolding guru?

Murid:

  • Apa kesulitan terbesarmu saat harus mengabaikan informasi yang tampaknya menarik tetapi sebenarnya tidak relevan dengan solusi masalah?
  • Bagaimana keterampilan abstraksi ini membantumu memandang persoalan rumit sehari-hari secara lebih jernih dan terarah?

Pertemuan 3 — Merumuskan Solusi Berpikir Komputasional Melalui Perancangan Langkah Algoritmik Masalah Kompleks — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.2 Merumuskan solusi berpikir komputasional untuk memecahkan permasalahan sehari-hari yang kompleks

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan suasana belajar yang kondusif (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-3, yaitu merumuskan solusi berpikir komputasional melalui perancangan langkah algoritmik untuk memecahkan masalah sehari-hari yang kompleks (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid diminta mengurutkan 4 kartu langkah acak prosedur 'Pemesanan dan Pembayaran Makanan di Kantin' yang ditampilkan di papan tulis: Kartu A: 'Mengambil makanan yang dipesan', Kartu B: 'Menuju loket kasir dan membayar', Kartu C: 'Melihat menu dan memesan ke penjual', Kartu D: 'Membawa struk ke loket pengambilan makanan' (acuan urutan logis: C -> B -> D -> A) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru tentang konsep perancangan langkah algoritmik dalam berpikir komputasional, mencakup syarat algoritma yang baik: memiliki urutan terstruktur (sekuensial), kejelasan instruksi (tidak ambigu), adanya kondisi/percabangan, dan berakhir pada solusi (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti permainan cepat 'Tantangan Detektif Bug Algoritma', di mana mereka mengidentifikasi 1 langkah keliru/terbalik dari skenario 'Memilah Sampah Berdasarkan Jenis': (1) Membawa kantong sampah ke tempat pemilahan, (2) Membuang semua sampah ke tong organik tanpa diperiksa, (3) Memeriksa jenis sampah, (4) Menutup tong sampah (acuan: kesalahan ada pada langkah 2, yang seharusnya dilakukan setelah langkah 3) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Kerja Perancangan Algoritma berisi masalah kompleks: 'Pengelolaan Alur Antrean Kantin Sekolah yang Padat saat Jam Istirahat' (5 menit).
  • Murid merumuskan solusi berpikir komputasional secara mandiri dengan menuliskan rancangan langkah algoritmik terstruktur yang terdiri atas minimal 5 langkah terurut logis dan memuat setidaknya 1 kondisi percabangan (IF-THEN / JIKA-MAKA) (acuan perumusan: (1) Murid tiba di area kantin dan melihat nomor antrean; (2) JIKA antrean kasir > 10 orang, MAKA murid menuju jalur antrean mandiri/pre-order, JIKA TIDAK murid masuk antrean reguler; (3) Memilih menu dan melakukan pembayaran non-tunai di mesin/kasir; (4) Menunggu panggilan nomor pesanan di ruang tunggu yang ditentukan; (5) Mengambil makanan setelah nomor pesanan ditampilkan) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali rancangan langkah algoritmik masing-masing (dry-run mandiri) untuk memastikan seluruh instruksi tidak ambigu dan langsung menyelesaikan masalah antrean (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan pentingnya merumuskan urutan langkah algoritmik yang jelas dan terstruktur dalam memecahkan masalah sehari-hari (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja murid, menginformasikan bahwa rancangan algoritma ini akan disimulasikan alurnya pada pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan contoh templat algoritma dengan kata bantu sekuensial (Mulai, Langkah 1, Langkah 2, Selesai) bagi murid yang membutuhkan perancah (scaffolding), serta studi kasus antrean dengan parameter tambahan bagi murid yang cepat.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan penyusunan kalimat perintah langsung, sementara murid yang mahir diarahkan merumuskan algoritma dengan 2 kondisi percabangan logis.
  • Produk: Format penulisan solusi algoritmik dapat berupa daftar langkah bernomor (numbered list) terstruktur maupun bagan teks pseudocode terstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tugas mengurutkan 4 kartu langkah acak prosedur 'Pemesanan dan Pembayaran Makanan di Kantin': Kartu A ('Mengambil makanan yang dipesan'), Kartu B ('Menuju loket kasir dan membayar'), Kartu C ('Melihat menu dan memesan ke penjual'), Kartu D ('Membawa struk ke loket pengambilan makanan'). Acuan jawaban benar: C -> B -> D -> A. Kriteria: Murid siap jika mampu menyusun urutan logis dengan tepat.

Proses:

  • Penilaian Lembar Kerja Perancangan Langkah Algoritmik Masalah Antrean Kantin. Kriteria keberhasilan: Rumusan solusi memuat minimal 5 langkah berurutan logis, tidak ambigu, dan menyertakan minimal 1 struktur kondisi percabangan (JIKA-MAKA) yang relevan menyelesaikan masalah antrean.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: Murid menjawab 1 pertanyaan reflektif tertulis pada lembar kerja: 'Tuliskan kondisi percabangan (JIKA-MAKA) yang kamu gunakan dalam algoritmamu dan jelaskan fungsinya dalam mengurai antrean!' (Kriteria penerimaan: Kondisi memuat variabel pemicu yang jelas, misalnya jumlah antrean atau ketersediaan menu, dan menghasilkan tindakan alternatif yang logis mengurangi penumpukan).

Formatif:

  • Asesmen Awal: Mengurutkan 4 kartu langkah acak prosedur pemesanan kantin secara logis
  • Asesmen Proses: Observasi dan pemeriksaan Lembar Kerja Perancangan Langkah Algoritmik Solusi Masalah Antrean Kantin

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Perumusan Langkah Algoritmik Solusi MasalahMerumuskan langkah solusi kurang dari 3 langkah, alur acak atau melompat, dan belum memuat kondisi percabangan.Merumuskan 3-4 langkah solusi terurut, namun masih terdapat langkah yang ambigu dan belum memuat kondisi percabangan yang tepat.Merumuskan minimal 5 langkah solusi terstruktur secara runtut logis, instruksi jelas/tidak ambigu, dan memuat 1 kondisi percabangan yang relevan.Merumuskan lebih dari 5 langkah solusi terstruktur secara runtut logis tanpa ambiguitas, serta memuat lebih dari 1 kondisi percabangan yang efektif mengantisipasi masalah secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 25 menit cukup bagi murid untuk merumuskan langkah algoritmik secara mandiri?
  • Bagian mana dari perumusan langkah algoritmik (sekuensial atau percabangan) yang paling banyak memerlukan bimbingan guru?

Murid:

  • Apakah langkah-langkah algoritma yang saya rancang sudah cukup jelas dan runtut sehingga dapat dijalankan oleh orang lain tanpa kebingungan?
  • Tantangan apa yang saya hadapi ketika menyisipkan logika kondisi percabangan (JIKA-MAKA) ke dalam urutan langkah penyelesaian masalah?

Pertemuan 4 — Menerapkan Berpikir Komputasional Melalui Simulasi Penelusuran Langkah Terstruktur Rute Perjalanan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.3 Menerapkan berpikir komputasional untuk memecahkan permasalahan sehari-hari yang kompleks melalui simulasi langkah terstruktur

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai penerapan berpikir komputasional melalui simulasi penelusuran langkah terstruktur rute perjalanan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta menjawab 1 studi kasus tertulis di papan tulis: 'Jika dari titik Titik A ke Titik B ada Rute 1 (jarak 6 km, kecepatan rata-rata 30 km/jam, waktu tempuh = 12 menit) dan Rute 2 (jarak 4 km, ada perbaikan jalan kecepatan 10 km/jam, waktu tempuh = 24 menit), tentukan rute tercepat beserta alasannya' (acuan: Rute 1 karena waktu tempuh 12 menit lebih singkat daripada Rute 2 yang memakan waktu 24 menit) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak panduan aktivitas penelusuran graf rute berbobot pada peta simulasi perjalanan rumah ke sekolah yang memuat 4 simpul (Rumah, Simpang X, Simpang Y, Sekolah) dengan ruas: Jalan A (Rumah-X: 4 km, 10 menit), Jalan B (Rumah-Y: 6 km, 8 menit), Jalan C (X-Sekolah: 5 km, 15 menit), Jalan D (Y-Sekolah: 3 km, 7 menit), dan Jalan Penghubung E (X-Y: 2 km, 5 menit) (15 menit).
  • Murid membedah model penelusuran langkah terstruktur melalui tabel simulasi penelusuran (menghitung akumulasi waktu tempuh dan urutan persimpangan demi persimpangan secara runtut tanpa melewatkan percabangan) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpartisipasi dalam 'Tantangan Simulasi Navigasi Kilat' (joyful challenge): secara mandiri murid menguji coba 3 kemungkinan opsi jalur (Jalur 1: Rumah -> X -> Sekolah; Jalur 2: Rumah -> Y -> Sekolah; Jalur 3: Rumah -> X -> Y -> Sekolah) untuk menemukan penelusuran rute paling optimal dalam waktu terbatas (15 menit).
  • Murid mengerjakan Aktivitas BK-K10-05 pada Lembar Kerja Simulasi Rute: menuliskan instruksi navigasi langkah demi langkah (langkah 1: pilih simpul awal, langkah 2: catat percabangan, langkah 3: hitung durasi, langkah 4: pilih cabang dengan akumulasi waktu terendah), menghitung total waktu tiap jalur, dan menetapkan rute terpilih beserta bukti penelusurannya (acuan target: Jalur 1 = 10+15 = 25 menit; Jalur 2 = 8+7 = 15 menit; Jalur 3 = 10+5+7 = 22 menit; rute tercepat adalah Jalur 2 dengan instruksi penelusuran: dari Rumah ambil Jalan B menuju Simpang Y [8 menit], lalu dari Simpang Y ambil Jalan D menuju Sekolah [7 menit], total 15 menit) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menelaah kembali langkah simulasi penelusuran yang telah dibuat, memeriksa apakah ada langkah percabangan yang terlewat atau kesalahan dalam penjumlahan durasi antar-ruas rute (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil penerapan simulasi langkah terstruktur penelusuran rute dan melakukan cek pemahaman akhir melalui 1 soal ringkas (acuan: instruksi navigasi harus runtut dan memuat kondisi waktu tempuh) (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang memerlukan scaffolding, disediakan lembar kerja dengan tabel alur terstruktur yang sudah memiliki kolom isian simpul asal, simpul tujuan, dan bobot waktu; bagi murid mahir, disediakan penambahan 1 simpul kendala (Simpang Z) dengan waktu tunggu lampu lalu lintas 4 menit.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan penelusuran langkah per langkah secara terarah oleh guru, sementara murid yang sudah mahir mengerjakan penelusuran secara mandiri penuh.
  • Produk: Format penyajian visualisasi navigasi dapat berupa diagram alur teks berurutan maupun bagan graf lintasan berbobot terstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman awal rute perjalanan di awal pembelajaran: 'Jika dari Titik A ke Titik B ada Rute 1 (jarak 6 km, kecepatan rata-rata 30 km/jam, waktu tempuh = 12 menit) dan Rute 2 (jarak 4 km, perbaikan jalan kecepatan 10 km/jam, waktu tempuh = 24 menit), tentukan rute mana yang tercepat dan tuliskan alasannya' (acuan kunci: Rute 1, karena waktu tempuh 12 menit lebih kecil/singkat dibandingkan Rute 2 yang memakan waktu 24 menit).

Proses:

  • Observasi formatif saat pengerjaan Lembar Kerja Aktivitas BK-K10-05: memeriksa kemampuan murid dalam (1) menyusun simulasi penelusuran 3 jalur perjalanan (Jalur 1: 25 menit, Jalur 2: 15 menit, Jalur 3: 22 menit), dan (2) menuliskan instruksi navigasi langkah terstruktur untuk rute terpilih (Rumah -> Jalan B ke Simpang Y -> Jalan D ke Sekolah = 15 menit).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: murid menjawab pertanyaan konseptual: 'Sebutkan 2 komponen utama yang wajib dicatat dalam setiap penelusuran langkah navigasi rute perjalanan terstruktur!' (acuan kunci: nama ruas/simpul yang dituju dan estimasi waktu tempuh/jarak tempuh pada ruas tersebut).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan simulasi penelusuran langkah terstruktur rute perjalanan pada Lembar Kerja Aktivitas BK-K10-05 menggunakan rubrik analitik.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan Berpikir Komputasional Melalui Simulasi Langkah Terstruktur Rute PerjalananHanya mampu menelusuri 1 opsi rute dan belum menuliskan urutan instruksi navigasi rute secara terstruktur (perhitungan durasi tidak lengkap atau salah).Mampu menelusuri 2 dari 3 opsi rute pada graf dengan perhitungan durasi yang tepat, namun instruksi navigasi langkah terstruktur rute terpilih belum runtut.Mampu menyimulasikan penelusuran seluruh 3 opsi rute dengan perhitungan waktu tepat (Jalur 1 = 25 menit, Jalur 2 = 15 menit, Jalur 3 = 22 menit) serta menuliskan instruksi navigasi terstruktur rute tercepat secara tepat (Rumah -> Simpang Y -> Sekolah = 15 menit) dengan sedikit bimbingan.Mampu menyimulasikan penelusuran seluruh 3 opsi rute dengan perhitungan waktu tepat secara mandiri penuh, serta menyusun instruksi navigasi langkah demi langkah yang sangat runtut, presisi, dan lengkap dengan pencatatan kondisi setiap simpul.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah desain graf simulasi rute perjalanan cukup menantang sekaligus dapat dipahami secara logis oleh seluruh murid?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama permainan tantangan simulasi navigasi kilat dalam menerapkan langkah-langkah berpikir komputasional?

Murid:

  • Apakah kamu dapat melihat bagaimana simulasi penelusuran langkah terstruktur membantu menentukan rute terbaik secara objektif?
  • Bagian mana dari langkah penelusuran graf rute yang menurutmu paling membutuhkan ketelitian?

Pertemuan 5 — Mengevaluasi Hasil Pemecahan Permasalahan Sehari-hari yang Kompleks Berdasarkan Hasil Simulasi Alur — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.4 Mengevaluasi hasil pemecahan permasalahan sehari-hari yang kompleks berdasarkan penerapan berpikir komputasional

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar fokus pada kegiatan evaluasi solusi (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan 5, yaitu mengevaluasi efisiensi, kebenaran logika, dan kelayakan solusi pemecahan masalah sehari-hari yang kompleks berdasarkan hasil simulasi alur komputasional (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 1 kasus alur rute pengangkutan sampah yang memiliki langkah berulang dan meminta murid mendeteksi ketidakefisienan alur tersebut (acuan: langkah melewati jalan yang sama dua kali tanpa menambah muatan) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mencermati panduan kriteria evaluasi solusi berpikir komputasional yang mencakup tiga parameter utama: (1) kebenaran logika alur (tidak ada loop tak berhingga atau langkah buntu), (2) efisiensi sumber daya/waktu tempuh, dan (3) kelayakan eksekusi pada kondisi nyata (10 menit).
  • Murid menyimak satu contoh kasus simulasi alur distribusi bantuan logistik bencana dan mengidentifikasi bagian alur yang mengandung galat logika atau pemborosan langkah berdasarkan 3 kriteria evaluasi (acuan: alur melewatkan titik periksa keamanan sehingga tidak layak, dan memutar rute 5 km lebih jauh sehingga tidak efisien) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti tantangan 'Uji Kritis Alur Solusi' berupa permainan menganalisis 2 berkas simulasi alur pemecahan masalah kompleks: Kasus A (Jadwal Pengurangan Kemacetan Bus Sekolah dengan 6 langkah alur) dan Kasus B (Sistem Penjadwalan Pengolahan Sampah Pasar dengan 6 langkah alur) untuk menemukan titik kegagalan alur secara cepat dan tepat (15 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Kerja Evaluasi untuk menilai hasil simulasi kedua kasus tersebut dengan mengisi tabel evaluasi yang memuat: (a) status kebenaran logika langkah, (b) analisis efisiensi langkah, dan (c) rumusan perbaikan alur [acuan jawaban: Kasus A tidak efisien pada langkah 3 karena rute bus bertabrakan di simpul jalan utama pada pukul 07.00, perbaikan: ubah urutan titik penjemputan zona timur lebih awal 15 menit; Kasus B mengandung galat logika pada langkah 4 karena mesin pemilah dijalankan sebelum sampah organik dipisahkan dari anorganik, perbaikan: tukar urutan langkah pemilahan manual sebelum pencacahan] (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil evaluasi solusinya secara mandiri menggunakan daftar periksa kriteria evaluasi untuk memastikan seluruh galat logika dan pemborosan langkah telah terdeteksi secara objektif (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan prinsip evaluasi hasil pemecahan masalah komputasional berdasarkan hasil simulasi langkah (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik terhadap hasil evaluasi murid, mengingatkan bahwa pada pertemuan berikutnya akan dilaksanakan asesmen sumatif bab, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar kasus evaluasi dengan tingkat kompleksitas variabel berbeda: murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kasus dengan visualisasi diagram alur berwarna dan penanda simpul galat, sedangkan murid mahir diberikan teks deskripsi alur teknis multi-kendala tanpa bantuan penanda visual.
  • Proses: Memberikan scaffolding bertahap berupa panduan daftar pertanyaan kritis (checklist deteksi galat) bagi murid yang belum mandiri dalam mengevaluasi efisiensi alur, sementara murid berkemampuan tinggi langsung melakukan audit efisiensi alur secara mandiri penuh.
  • Produk: Format pelaporan evaluasi dapat disajikan berupa tabel analisis matriks evaluasi standar atau diagram perbandingan alur sebelum vs sesudah evaluasi, selama memenuhi seluruh kriteria evaluasi kebenaran logika dan efisiensi yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik: Perhatikan alur sederhana pembersihan ruang kelas berikut: (1) Menyapu lantai, (2) Menata meja dan kursi, (3) Mengepel lantai, (4) Mengelap debu papan tulis dan jendela ke lantai. Sebutkan 1 kesalahan urutan logika dan jelaskan mengapa alur tersebut tidak efisien! (Acuan: Langkah 4 menyebabkan debu jatuh ke lantai yang sudah disapu dan dipel pada langkah 1 dan 3, sehingga lantai kotor kembali dan harus dipel ulang; urutan yang benar adalah langkah 4 dilakukan sebelum langkah 1).

Proses:

  • Observasi formatif saat murid menganalisis Lembar Kerja Evaluasi Kasus A (Pengurangan Kemacetan Bus Sekolah) dan Kasus B (Pengolahan Sampah Pasar). Kriteria pemeriksaan: (1) mendeteksi ketidakefisienan rute di titik temu pada Kasus A, (2) mendeteksi galat urutan mesin pemilah pada Kasus B, dan (3) menuliskan perbaikan logis untuk kedua kasus sesuai acuan materi.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat di akhir pembelajaran: Diberikan satu cuplikan alur pengiriman paket kurir: 'Kurir mendatangi alamat A (jarak 10 km), lalu kembali ke kantor pusat (10 km) untuk mengambil satu tanda tangan, lalu pergi ke alamat B (jarak 2 km dari alamat A)'. Tuliskan hasil evaluasimu terhadap efisiensi alur tersebut beserta saran perbaikannya! (Acuan: Alur tidak efisien karena menempuh jarak bolak-balik 20 km yang tidak perlu; evaluasi yang tepat menyatakan kurir seharusnya menyelesaikan pengantaran alamat A dan alamat B terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor pusat, atau meminta tanda tangan digital sehingga menghemat 20 km perjalanan).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Kerja Evaluasi Hasil Simulasi Pemecahan Masalah Kompleks (menilai ketepatan mendeteksi galat logika, efisiensi alur, dan rekomendasi perbaikan).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Evaluasi kebenaran logika dan efisiensi alur pemecahan masalahBelum mampu menemukan galat logika maupun ketidakefisienan alur simulasi pada Kasus A dan Kasus B walau dengan bimbingan guru.Mampu menemukan 1 dari 2 indikator evaluasi (hanya mendeteksi galat logika pada Kasus B atau hanya mendeteksi ketidakefisienan pada Kasus A) dengan bantuan panduan guru.Mampu mengevaluasi kebenaran logika dan ketidakefisienan alur secara tepat pada kedua kasus (Kasus A dan Kasus B) serta merumuskan perbaikan alur secara mandiri sesuai acuan kriteria.Mampu mengevaluasi seluruh kebenaran logika, ketidakefisienan alur, dan batasan kelayakan eksekusi secara komprehensif pada kedua kasus serta merumuskan perbaikan alur yang paling optimal secara mandiri dan sistematis.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instrumen kasus simulasi yang disajikan mampu memicu daya evaluasi kritis murid secara optimal?
  • Bagian mana dari kriteria evaluasi berpikir komputasional yang paling menantang untuk dipahami murid dan memerlukan penguatan?

Murid:

  • Apakah saya dapat secara kritis menemukan kelemahan atau galat logika pada suatu alur solusi komputasional?
  • Bagian mana dari proses evaluasi alur simulasi tadi yang paling menarik atau menantang bagi saya?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 10.1.1 Menganalisis permasalahan sehari-hari yang kompleks dengan pendekatan berpikir komputasional
  • TP 10.1.2 Merumuskan solusi berpikir komputasional untuk memecahkan permasalahan sehari-hari yang kompleks
  • TP 10.1.3 Menerapkan berpikir komputasional untuk memecahkan permasalahan sehari-hari yang kompleks melalui simulasi langkah terstruktur
  • TP 10.1.4 Mengevaluasi hasil pemecahan permasalahan sehari-hari yang kompleks berdasarkan penerapan berpikir komputasional

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif, memeriksa kehadiran murid, dan menegaskan prinsip kejujuran serta kemandirian selama pengerjaan asesmen sumatif individual bab berpikir komputasional (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab yang mencakup empat pilar berpikir komputasional (analisis dekomposisi, perumusan abstraksi/algoritma, simulasi tracing langkah terstruktur, serta evaluasi kritis hasil pemecahan masalah) beserta pembagian dua paket tugas berdurasi masing-masing 40 menit (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mencermati petunjuk teknis pada Lembar Asesmen Sumatif Tugas 1: Skenario Studi Kasus 'Antrean dan Penumpukan Pesanan Kantin Sekolah yang Kompleks'. Murid memahami instruksi dekomposisi masalah menjadi 3 sub-masalah dan perancangan 1 alur algoritma terstruktur 5 langkah pemecahan (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara individual dan serentak mengerjakan Tugas 1 (durasi pengerjaan: 40 menit): menganalisis permasalahan sehari-hari yang kompleks melalui dekomposisi komponen (identifikasi minimal 3 sub-masalah: pemesanan, pembayaran, dan pengambilan makanan) serta merumuskan alur solusi algoritmik 5 langkah terstruktur menggunakan notasi langkah logis (acuan kunci Tugas 1: Dekomposisi memuat: [1] Alur pemesanan tidak tercatat rapi, [2] Transaksi pembayaran tunai memperlambat antrean, [3] Penumpukan murid saat menunggu makanan jadi; Solusi algoritma memuat alur sekuensial: Langkah 1 Input data pesanan di loket digital/nomor antrean, Langkah 2 Pemrosesan verifikasi pembayaran non-tunai/kupon, Langkah 3 Penerusan tiket pesanan ke dapur stan, Langkah 4 Penyiapan makanan berdasarkan urutan nomor antrean (FIFO), Langkah 5 Pemanggilan nomor dan penyerahan pesanan di loket terpisah) (37 menit).
  • Guru mengumpulkan berkas Tugas 1, membagikan lembar Tugas 2, dan murid langsung mengerjakan Tugas 2 secara individual (durasi pengerjaan: 37 menit): menerapkan simulasi penelusuran (dry-run tracing) alur langkah terstruktur terhadap 3 data uji kasus antrean pada tabel tracing serta menuliskan telaah evaluasi kritis yang memuat 2 poin efektivitas dan 2 poin batasan solusi (acuan kunci Tugas 2: Tabel simulasi tracing menguji 3 kasus: Kasus A antrean normal 1 menu -> output waktu tunggu 2 menit; Kasus B antrean jam puncak 3 menu berbeda -> output waktu tunggu 5 menit alur tetap tertib FIFO; Kasus C pembatalan pesanan -> alur validasi status pembatalan dan refund tiket; Laporan evaluasi memuat 2 efektivitas: [1] mengeliminasi penumpukan fisik di loket stan, [2] menjamin keadilan pemrosesan berbasis antrean terurut FIFO; serta 2 batasan solusi: [1] sangat bergantung pada keandalan daya/perangkat loket antrean, [2] memerlukan kepatuhan pengguna untuk menunggu di zona tunggu terpisah) (37 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengheningkan cipta sejenak dan meninjau kembali kelengkapan seluruh artefak portofolio kerja individual (Tugas 1 dan Tugas 2) yang telah diselesaikan untuk memastikan seluruh tabel analisis, bagan langkah, tracing simulasi, dan telaah kritis telah terisi lengkap dan objektif (3 menit).

Penutup:

  • Murid mengumpulkan seluruh berkas portofolio lembar asesmen sumatif individual kepada guru di meja pengumpulan secara tertib (1 menit).
  • Guru mengonfirmasi kelengkapan pengumpulan seluruh berkas artefak portofolio murid, menyampaikan apresiasi atas integritas dan kemandirian murid selama asesmen berlangsung, serta memberikan ringkasan penutup bab berpikir komputasional (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar soal dengan ukuran huruf lebih besar atau kontras tinggi bagi murid yang membutuhkan akomodasi visual tanpa mengubah skenario kasus, butir tugas, maupun kriteria penilaian.
  • Proses: Pemberian tempat duduk di barisan depan dengan pencahayaan optimal bagi murid berkebutuhan khusus sensorik tanpa mengubah durasi pengerjaan individual dan tanpa pemberian bantuan jawaban.
  • Produk: Format penyusunan bagan alur algoritma diperbolehkan menggunakan bentuk daftar langkah bernomor terstruktur teks ataupun bagan alir (flowchart) standar selama memuat 5 langkah logika yang setara sesuai acuan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan teknis pelaksanaan asesmen sumatif mandiri: murid memastikan kelengkapan alat tulis dan meja bersih dari catatan materi berpikir komputasional.

Proses:

  • Observasi kepatuhan prosedur dan ketertiban kerja mandiri murid selama sesi pengerjaan asesmen sumatif berlangsung tanpa intervensi instruksional materi.

Sumatif Bab:

  • penugasan pemecahan masalah komprehensif (analisis, perancangan, simulasi langkah, dan telaah evaluatif): portofolio kerja individual serentak berisi lembar dekonstruksi masalah, bagan rancangan langkah terstruktur, lembar pencatatan hasil simulasi uji coba alur, serta laporan telaah kritis efektivitas solusi
  • penugasan analisis dan perancangan tertulis serentak: lembar kerja tertulis yang memuat identifikasi dekomposisi komponen masalah sehari-hari yang kompleks serta dokumen rancangan alur langkah penyelesaian berbasis berpikir komputasional (45 menit; individual; instrumen: rubrik analitik analisis masalah dan perancangan solusi)
  • kinerja simulasi terstruktur dan evaluasi tertulis serentak: lembar kerja simulasi berisikan tabel pencatatan data hasil penelusuran (tracing) langkah solusi beserta teks laporan evaluasi kritis terhadap efektivitas dan batas solusi yang diterapkan (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian kinerja simulasi dan telaah kritis)

Sumatif:

  • penugasan pemecahan masalah komprehensif (analisis, perancangan, simulasi langkah, dan telaah evaluatif): portofolio kerja individual serentak berisi lembar dekonstruksi masalah, bagan rancangan langkah terstruktur, lembar pencatatan hasil simulasi uji coba alur, serta laporan telaah kritis efektivitas solusi
  • penugasan analisis dan perancangan tertulis serentak: lembar kerja tertulis yang memuat identifikasi dekomposisi komponen masalah sehari-hari yang kompleks serta dokumen rancangan alur langkah penyelesaian berbasis berpikir komputasional (45 menit; individual; instrumen: rubrik analitik analisis masalah dan perancangan solusi)
  • kinerja simulasi terstruktur dan evaluasi tertulis serentak: lembar kerja simulasi berisikan tabel pencatatan data hasil penelusuran (tracing) langkah solusi beserta teks laporan evaluasi kritis terhadap efektivitas dan batas solusi yang diterapkan (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian kinerja simulasi dan telaah kritis)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Permasalahan Sehari-hari yang Kompleks (TP 10.1.1)Mengidentifikasi kurang dari 2 sub-masalah dekomposisi atau uraian tidak relevan dengan konteks masalah antrean kantin.Mengidentifikasi tepat 2 dari 3 sub-masalah dekomposisi sesuai acuan: (1) Alur pemesanan tidak tercatat rapi, (2) Transaksi pembayaran tunai memperlambat antrean, (3) Penumpukan murid saat menunggu makanan jadi.Menganalisis dan mengidentifikasi secara tepat seluruh 3 sub-masalah dekomposisi sesuai acuan: (1) Alur pemesanan tidak tercatat rapi, (2) Transaksi pembayaran tunai memperlambat antrean, (3) Penumpukan murid saat menunggu makanan jadi.Menganalisis dan mengidentifikasi secara tepat seluruh 3 sub-masalah dekomposisi sesuai acuan disertai rincian akar penyebab mendalam pada setiap komponen secara mandiri dan komprehensif.
Merumuskan Solusi Berpikir Komputasional (TP 10.1.2)Merumuskan alur algoritma kurang dari 3 langkah atau urutan logika penyelesaian tidak terstruktur.Merumuskan alur langkah penyelesaian sebanyak 3-4 langkah sesuai urutan logika namun belum mencakup seluruh 5 langkah acuan kunci.Merumuskan solusi berpikir komputasional secara terstruktur memuat tepat seluruh 5 langkah logika sesuai acuan: Langkah 1 Input data pesanan di loket digital/nomor antrean, Langkah 2 Pemrosesan verifikasi pembayaran non-tunai/kupon, Langkah 3 Penerusan tiket pesanan ke dapur stan, Langkah 4 Penyiapan makanan berdasarkan urutan nomor antrean (FIFO), Langkah 5 Pemanggilan nomor dan penyerahan pesanan di loket terpisah.Merumuskan solusi berpikir komputasional secara mandiri mencakup seluruh 5 langkah logika acuan secara runtut dan presisi disertai penetapan kondisi percabangan logis yang jelas.
Menerapkan Melalui Simulasi Langkah Terstruktur (TP 10.1.3)Tabel penelusuran (tracing) hanya memuat 1 data uji kasus atau hasil luaran tracing keliru.Melakukan penelusuran simulasi alur langkah terstruktur pada 2 dari 3 data uji kasus sesuai acuan (Kasus A antrean normal 1 menu, Kasus B antrean jam puncak 3 menu berbeda, Kasus C pembatalan pesanan).Menerapkan simulasi alur langkah terstruktur secara tepat pada seluruh 3 data uji kasus pada tabel tracing sesuai acuan: Kasus A menghasilkan waktu tunggu 2 menit, Kasus B menghasilkan waktu tunggu 5 menit dengan alur terurut FIFO, Kasus C menghasilkan status validasi pembatalan dan refund tiket.Menerapkan simulasi alur langkah terstruktur pada seluruh 3 data uji kasus tracing secara tepat, presisi, tanpa kesalahan penelusuran data langkah demi langkah secara mandiri.
Mengevaluasi Hasil Pemecahan Masalah (TP 10.1.4)Laporan telaah kritis hanya menyebutkan 1 poin efektivitas atau batasan secara umum tanpa analisis berbasis hasil alur simulasi.Menuliskan laporan evaluasi yang memuat 1 poin efektivitas dan 1 poin batasan solusi sesuai acuan.Mengevaluasi hasil pemecahan masalah dengan menuliskan laporan telaah kritis yang memuat lengkap 2 poin efektivitas: (1) mengeliminasi penumpukan fisik di loket stan, (2) menjamin keadilan pemrosesan berbasis antrean terurut FIFO; serta 2 poin batasan solusi: (1) sangat bergantung pada keandalan daya/perangkat loket antrean, (2) memerlukan kepatuhan pengguna untuk menunggu di zona tunggu terpisah.Mengevaluasi hasil pemecahan masalah secara mendalam memuat seluruh 2 poin efektivitas dan 2 poin batasan solusi acuan disertai rekomendasi mitigasi risiko operasional yang logis dan objektif.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 40 menit untuk perancangan dan 37 menit untuk simulasi/evaluasi mencukupi bagi seluruh murid untuk menunjukkan performa optimalnya secara mandiri?
  • Bagian mana dari empat pilar berpikir komputasional yang paling dikuasai murid dan bagian mana yang paling banyak menunjukkan miskonsepsi pada asesmen sumatif ini?

Murid:

  • Sejauh mana saya mampu merumuskan langkah solusi yang benar-benar logis dan menguji kebenarannya melalui simulasi langkah demi langkah?
  • Apa tantangan terbesar yang saya hadapi saat mengevaluasi kelemahan dan batasan dari solusi yang saya rancang sendiri?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X, Kemendikbudristek 2024
  2. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X (Aktivitas BK-K10-01 dan BK-K10-04), Kemendikbudristek 2024
  3. Lembar Kerja Murid (Studi Kasus Analisis Dela dan Masalah Kantin Sekolah)
  4. Papan tulis, spidol, dan kartu permainan pasangan berpikir komputasional
  5. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X, Kemendikdasmen 2025
  6. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X, Kemendikdasmen 2025 (Aktivitas BK-K10-02)
  7. Lembar Kerja Siswa: Kasus Alur Antrean Kantin Sekolah dan Format Abstraksi Data
  8. Buku Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X, Kemendikdasmen RI 2025, Bab 1
  9. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X, Kemendikdasmen RI 2025, Bab 1 (Aktivitas Perancangan Algoritma Solusi)
  10. Lembar Kerja Perancangan Algoritma Masalah Antrean Kantin
  11. Kartu Alur Logika Algoritma
  12. Buku Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025)
  13. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X, Bab 1 Aktivitas BK-K10-05
  14. Lembar Kerja Murid: Peta Graf Berbobot Simulasi Rute Perjalanan Rumah ke Sekolah
  15. Papan tulis / Spidol / Perangkat LCD Proyektor
  16. Buku Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025.
  17. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025, Bab 1 'Berpikir Komputasional'.
  18. Lembar Kasus Analisis Alur Simulasi (Kasus A dan Kasus B).
  19. Buku Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X (Kemendikbudristek 2025)
  20. Buku Siswa Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SMA/MA Kelas X Bab 1: Berpikir Komputasional (Kemendikbudristek 2025)
  21. Lembar Asesmen Sumatif Individual Bab 1 (Tugas 1: Dekomposisi & Algoritma; Tugas 2: Tabel Tracing & Laporan Evaluasi Kritis)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.