Modul AjarBab 1Fase DSemester 1

Modul Ajar IPS Kelas 8 Bab 1: Lingkungan dan Masyarakat Indonesia

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian IPS kelas 8 untuk Bab 1 "Lingkungan dan Masyarakat Indonesia", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar IPS Kelas 8 Bab 1: Lingkungan dan Masyarakat Indonesia

IPS - Kelas 8

Bab 1

MODUL AJAR

IPS — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Bab 1 — Lingkungan dan Masyarakat Indonesia

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranIPS
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikBab 1 — Lingkungan dan Masyarakat Indonesia
Alokasi Waktu28 JP (28 x 40 menit = 1120 menit)
Jumlah Pertemuan10
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 8.1.1 Menjelaskan keberagaman kondisi geografis Indonesia dan konektivitas antarruang terhadap upaya pemanfaatan potensi sumber daya alam
  2. TP 8.1.2 Menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap perubahan iklim dan potensi bencana alam
  3. TP 8.1.3 Memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat
  4. TP 8.1.4 Merefleksikan pola adaptasi terhadap perubahan iklim dan upaya mitigasi bencana untuk menunjang sustainable development goals (SDGs)
  5. TP 8.1.5 Mengumpulkan informasi secara berkolaborasi melalui penyelidikan mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam dan mendokumentasikannya

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana letak geografis dan bentang alam Indonesia memengaruhi ragam potensi sumber daya alam hutan dan tambang di berbagai pulau?
  2. Mengapa daerah yang kaya hasil tambang seperti batu bara atau nikel membutuhkan konektivitas antarwilayah agar potensinya dapat dimanfaatkan secara optimal?
  3. Bagaimana bentuk wilayah kepulauan Indonesia menghubungkan daerah penghasil ikan dengan daerah perkotaan yang padat penduduk?
  4. Mengapa pelabuhan dan jalur laut sangat menentukan keberhasilan pemanfaatan potensi sumber daya alam kemaritiman di Indonesia?
  5. Sumber daya alam apa saja yang paling banyak dimanfaatkan di sekitar tempat tinggal kita?
  6. Bagaimana cara kita mencari dan mengumpulkan data yang akurat tentang bagaimana masyarakat memanfaatkan potensi sumber daya alam tersebut secara bersama-sama?
  7. Bagaimana cara kita menyusun catatan hasil penyelidikan sumber daya alam agar datanya lengkap dan mudah dipahami?
  8. Mengapa bukti fisik atau catatan lapangan dari penyelidikan perlu didokumentasikan secara rapi bersama kelompok?
  9. Mengapa suhu bumi terasa semakin panas dan pola musim sering tidak menentu akhir-akhir ini?
  10. Aktivitas manusia apa saja yang paling banyak menghasilkan gas rumah kaca pemicu perubahan iklim?
  11. Mengapa banjir bandang atau tanah longsor sering terjadi setelah adanya pembukaan lahan atau penebangan pohon di lereng bukit?
  12. Apakah semua bencana alam murni disebabkan oleh alam, atau adakah peran aktivitas manusia yang memperbesar potensinya?
  13. Apa yang kira-kira terjadi pada harga beras di pasar ketika musim kemarau berlangsung jauh lebih panjang akibat perubahan iklim?
  14. Jika kenaikan suhu laut menyebabkan ikan bermigrasi ke perairan dingin yang lebih jauh, bagaimana kondisi penghasilan nelayan tradisional di pesisir?
  15. Jika kenaikan permukaan air laut menenggelamkan permukiman pesisir, bagaimana nasib hubungan kekerabatan dan interaksi sosial warga setempat?
  16. Mengapa pergeseran musim dan cuaca ekstrem dapat mengubah tradisi atau upacara adat turun-temurun para petani dan nelayan?
  17. Apa perbedaan mendasar antara menyesuaikan diri (adaptasi) dengan mencegah/mengurangi risiko bahaya (mitigasi) saat menghadapi perubahan iklim?
  18. Bagaimana tindakan nyata adaptasi dan mitigasi di sekitar kita berkontribusi terhadap pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs)?
  19. Bagaimana pemahaman kita tentang kondisi geografis dan iklim Indonesia dapat membantu kita menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan?
  20. Bukti apa saja yang menunjukkan bahwa kita telah memahami keterkaitan antara aktivitas manusia, bencana lingkungan, dan upaya adaptasi berkelanjutan?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menjelaskan Keberagaman Kondisi Geografis Indonesia dan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Alam Hutan dan Tambang — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.1 Menjelaskan keberagaman kondisi geografis Indonesia dan konektivitas antarruang terhadap upaya pemanfaatan potensi sumber daya alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memandu doa pembuka (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: menjelaskan keberagaman kondisi geografis Indonesia serta pengaruhnya terhadap potensi dan pemanfaatan SDA hutan dan tambang melalui konektivitas antarruang (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mengecek pemahaman prasyarat kondisi geografis dan SDA Indonesia melalui 3 pertanyaan diagnostik tertulis cepat (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mengamati peta fisik persebaran potensi hutan (hutan hujan tropis di Kalimantan/Papua, hutan musim di Jawa) dan tambang (minyak bumi di Sumatra, nikel di Sulawesi, batu bara di Kalimantan) di Indonesia yang ditampilkan guru (7 menit).
  • Guru memberikan penjelasan terpadu mengenai hubungan antara kondisi geografis (iklim tropis, curah hujan, struktur geologis jalur lempeng) dengan keberagaman sebaran potensi hutan dan tambang di Indonesia (8 menit).
  • Melalui kuis tantangan berpasangan 'Tebak Lokasi Potensi' yang interaktif dan menyenangkan, setiap pasangan murid menjodohkan 3 kartu daerah dengan komoditas utamanya: (1) Kalimantan Timur dengan Batu bara/Kayu hutan tropis, (2) Sorowako Sulawesi Selatan dengan Nikel, (3) Riau dengan Minyak bumi (acuan: pasangan daerah dan komoditas tersebut tepat) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid bekerja dalam kelompok kecil (3-4 orang) menerima Lembar Analisis Spasial yang memuat studi kasus konektivitas: Pulau Jawa membutuhkan pasokan batu bara dari Kalimantan untuk pembangkit listrik, dan industri luar pulau memerlukan hasil olahan hutan rotan/kayu dari Kalimantan/Sumatra (5 menit).
  • Kelompok mendiskusikan dan menuliskan penjelasan tertulis mengenai 2 hal: (1) faktor geografis yang membentuk potensi hutan dan tambang di wilayah tersebut, serta (2) bentuk konektivitas antarruang (jalur transportasi laut, perdagangan antarpulau) yang memungkinkan pemanfaatan komoditas tersebut antarwilayah (acuan: penjelasan mencakup letak/geologis dan jalur logistik laut/perdagangan antarpulau) (17 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Perwakilan kelompok membacakan ringkasan penjelasan mereka, sementara kelompok lain menyimak dan guru memberikan konfirmasi terhadap ketepatan penjelasan spasial dan konektivitasnya (12 menit).
  • Murid secara sadar (mindful) merenungkan bagaimana ketergantungan antarwilayah di Indonesia membuktikan bahwa keragaman kondisi geografis merupakan berkah kebangsaan yang memerlukan pengelolaan bertanggung jawab (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan konsep utama bahwa letak geografis dan geologis menciptakan keberagaman SDA hutan dan tambang, sementara konektivitas antarruang menjadi kunci pemanfaatannya (4 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil asesmen formatif pertemuan 1 dan menginformasikan topik pertemuan berikutnya (konektivitas kemaritiman) tanpa mengakhiri bab (4 menit Various/Tutup), kemudian menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja berpeta bantu dengan ikon komoditas yang sudah terpetakan, sedangkan murid mahir diberikan peta tematik geologi tanpa penanda komoditas langsung.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu guru dalam mengidentifikasi kaitan jalur laut dengan distribusi hasil tambang, sedangkan murid yang mandiri membedah kompleksitas pemanfaatan ganda antara hutan lindung dan tambang.
  • Produk: Format penyajian penjelasan dapat berupa peta alur hubungan spasial sederhana atau paragraf deskriptif terstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid menjawab 3 pertanyaan tertulis singkat: (1) Mengapa wilayah hutan hujan lebat banyak terdapat di Kalimantan dan Papua? (acuan: dipengaruhi iklim tropis dengan curah hujan tinggi dan suhu hangat); (2) Sebutkan 2 barang tambang utama Indonesia dan salah satu pulau penghasilnya! (acuan: batu bara/minyak bumi di Kalimantan/Sumatra, nikel di Sulawesi, atau emas di Papua); (3) Apa yang dimaksud konektivitas antarruang dalam pemanfaatan sumber daya alam? (acuan: keterhubungan atau pertukaran barang/jasa antarwilayah yang berbeda potensi untuk saling melengkapi kebutuhan).

Proses:

  • Penilaian Lembar Analisis Spasial kelompok: Mengukur ketepatan penjelasan tertulis tentang (1) faktor geografis pembentuk potensi hutan dan tambang (iklim/curah hujan untuk hutan dan proses endogen/lempeng bumi untuk tambang), dan (2) peran konektivitas jalur laut/perdagangan antarpulau dalam menyalurkan hasil tambang/hutan ke wilayah yang membutuhkan (acuan: kedua komponen dijelaskan dengan hubungan sebab-akibat yang logis).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman individu di akhir sesi (tiket keluar): Murid menuliskan satu kalimat penjelasan tentang bagaimana jalur transportasi antarpulau membantu pemanfaatan batu bara Kalimantan untuk industri di Pulau Jawa (kriteria penerimaan operasional: kalimat memuat keterkaitan antara pasokan daerah asal, sarana transportasi laut/konektivitas, dan pemenuhan kebutuhan di daerah tujuan).

Formatif:

  • Asesmen awal diagnostik pemahaman kondisi geografis dan komoditas dasar.
  • Observasi diskusi kelompok dan verifikasi penjelasan tertulis konektivitas pemanfaatan SDA hutan dan tambang pada Lembar Analisis Spasial.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan Keberagaman Kondisi Geografis terhadap Potensi SDA Hutan dan TambangMenjelaskan faktor geografis pembentuk potensi SDA hutan atau tambang secara keliru atau tidak menyebutkan faktor iklim maupun geologis sama sekali.Menjelaskan faktor kondisi geografis pembentuk potensi salah satu SDA saja (hanya hutan atau hanya tambang) dengan bantuan panduan guru.Menjelaskan faktor kondisi geografis (iklim/curah hujan dan letak geologis) pembentuk keberagaman potensi SDA hutan dan tambang secara tepat dan mandiri.Menjelaskan faktor kondisi geografis pembentuk keberagaman potensi SDA hutan dan tambang secara komprehensif, tepat, mendalam, dan mampu membandingkan karakteristik kedua jenis SDA tersebut.
Penjelasan Konektivitas Antarruang dalam Upaya Pemanfaatan SDABelum mampu menjelaskan keterkaitan aliran komoditas SDA hutan atau tambang antarwilayah melalui jalur konektivitas.Menjelaskan kebutuhan perpindahan komoditas SDA antarwilayah namun belum mengaitkannya dengan jalur konektivitas atau sarana penghubungnya secara tepat.Menjelaskan konektivitas antarruang (jalur perdagangan/transportasi laut antarpulau) dalam mendukung pemanfaatan potensi SDA hutan dan tambang secara tepat.Menjelaskan konektivitas antarruang secara runtut, logis, dan detail mengenai mekanisme saling ketergantungan antarwilayah surplus dan minus potensi SDA.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah perancangan aktivitas spasial dan tantangan berpasangan efektif memicu pemahaman konsep keberagaman geografis dan konektivitas antarruang?
  • Apakah alokasi waktu 80 menit memadai bagi seluruh kelompok untuk menyelesaikan lembar analisis hingga tahap refleksi bersama?

Murid:

  • Bagian mana dari kaitan kondisi alam dan kekayaan hutan serta tambang Indonesia yang paling menarik untukmu?
  • Apakah kamu sudah memahami mengapa daerahmu membutuhkan kerja sama dan konektivitas dengan pulau lain untuk memenuhi kebutuhan sumber daya alam?

Pertemuan 2 — Menjelaskan Konektivitas Antarruang terhadap Upaya Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Alam Kemaritiman — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.1 Menjelaskan keberagaman kondisi geografis Indonesia dan konektivitas antarruang terhadap upaya pemanfaatan potensi sumber daya alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan meminta satu perwakilan memimpin doa (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan konektivitas antarruang terhadap pemanfaatan potensi sumber daya alam kemaritiman (perikanan, jalur pelayaran, dan wisata bahari) (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mendiagnosis pemahaman awal konektivitas antarruang maritim dengan meminta murid menjawab 2 pertanyaan pemantik secara lisan/cepat pada lembar respon: (1) Sebutkan 2 contoh potensi maritim Indonesia (acuan: perikanan tangkap/budidaya, wisata bahari, garam, mangrove, transportasi laut, terumbu karang); (2) Jelaskan apa fungsi kapal pengangkut ikan dari pulau kecil ke kota besar (acuan: menghubungkan ruang/wilayah surplus ikan ke wilayah yang defisit/membutuhkan agar potensi laut bernilai ekonomi) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati peta tematik jalur pelayaran tol laut dan infografis sebaran potensi maritim Indonesia (perikanan tangkap di Laut Arafura/Maluku, wisata bahari di Raja Ampat/Labuan Bajo, dan rute pelabuhan utama Tanjung Priok-Tanjung Perak-Makassar) secara berkesadaran (mindful) (15 menit).
  • Guru memberikan penjelasan konsep mengenai makna konektivitas antarruang maritim, yaitu keterhubungan sarana transportasi laut dan pelabuhan yang memperlancar distribusi hasil kekayaan laut dari wilayah perairan kepulauan menuju pusat kegiatan penduduk/industri (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam aktivitas tantangan berpasangan 'Jelajah Arus Maritim' yang menggembirakan (joyful), setiap pasang murid menerima Lembar Kerja Studi Kasus Konektivitas Maritim yang memuat 3 skenario nyata: (Skenario 1) Nelayan Maluku memiliki surplus tangkapan tuna tetapi harga rendah di pasar lokal; bagaimana jalur tol laut dan kontainer berpendingin menghubungkannya ke sentra industri Surabaya/Jakarta? (Skenario 2) Gugusan terumbu karang di Kepulauan Banda sangat kaya wisata bawah laut; bagaimana pembangunan dermaga feri dan bandara perintis meningkatkan potensi wisata bahari tanpa merusak lingkungan? (Skenario 3) Wilayah pedalaman Papua membutuhkan pasokan garam dan ikan laut dari pesisir; bagaimana konektivitas antarpelabuhan laut dan sungai memfasilitasi pertukaran potensi tersebut? (15 menit).
  • Setiap pasangan menuliskan uraian penjelasan untuk ketiga skenario tersebut dengan acuan: (1) Menyebutkan jenis potensi SDA kemaritiman yang dimanfaatkan (Skenario 1: perikanan laut/tuna; Skenario 2: wisata bahari terumbu karang; Skenario 3: garam dan perikanan laut); (2) Menjelaskan bentuk konektivitas antarruangnya (jalur kapal kargo berpendingin, dermaga penyeberangan feri, dan rute logistik pelabuhan pesisir-sungai pedalaman); (3) Menjelaskan dampak konektivitas terhadap pemanfaatan nilai ekonomi/keberlanjutan potensi maritim tersebut (15 menit).

Merefleksi (Bermakna):

  • Dua perwakilan pasangan membacakan penjelasan yang disusun, dan murid lain saling memeriksa kecocokan penjelasan dengan acuan skenario secara kritis dan bermakna (15 menit).
  • Murid bersama guru menyimpulkan inti materi: konektivitas antarruang (sarana transportasi laut, pelabuhan, jaringan logistik) adalah kunci utama agar potensi sumber daya maritim Indonesia yang melimpah dapat dimanfaatkan secara merata antarwilayah (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik terhadap hasil kerja murid dan menegaskan pentingnya menjaga kelestarian laut saat memanfaatkan konektivitas perdagangan laut (10 menit).
  • Guru menginformasikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 3 mengenai perencanaan penyelidikan potensi SDA lokal) dan menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan diagram alur konektivitas (Produsen laut -> Sarana kapal/dermaga -> Konsumen kota); murid cepat menganalisis skenario tambahan mengenai rute ekspor tuna via hub logistik internasional.
  • Proses: Pasangan murid lambat difasilitasi guru dengan pertanyaan penuntun pada Skenario 1; murid cepat bekerja mandiri menyelesaikan seluruh skenario secara mendalam.
  • Produk: Penjelasan dituliskan dalam bentuk tabel relasi atau narasi berstruktur 3 poin lengkap sesuai instruksi kerja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pemeriksaan kesiapan konsep maritim awal melalui 2 butir: (1) Sebutkan 2 potensi maritim Indonesia (acuan kunci: perikanan, wisata bahari, mangrove, garam, pelayaran); (2) Mengapa kapal penting bagi pulau kecil penghasil ikan? (acuan kunci: untuk mendistribusikan ikan ke kota besar/daerah yang tidak punya laut agar potensi bernilai ekonomi).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan diskusi pasangan dan pengecekan ketepatan jawaban 3 skenario pada lembar kerja: Skenario 1 (tuna-tol laut-Surabaya/Jakarta), Skenario 2 (terumbu karang-dermaga feri-wisatawan), Skenario 3 (garam/ikan-transportasi pesisir sungai-konsumen pedalaman).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (tiket keluar) berisi 1 soal: 'Jelaskan bagaimana jalur perkapalan tol laut membantu nelayan di pulau terluar memanfaatkan potensi ikan tangkapnya!' (Kriteria penerimaan operasional: murid mampu menjelaskan bahwa kapal tol laut menjadi sarana pengangkut berpendingin yang menghubungkan wilayah perikanan di pulau terluar ke pasar konsumsi perkotaan sehingga ikan tetap segar dan harga terjaga stabil).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran (2 pertanyaan kesiapan)
  • Penilaian proses lembar kerja berpasangan 'Jelajah Arus Maritim' (ketepatan penjelasan potensi maritim, bentuk sarana konektivitas antarruang, dan dampak pemanfaatannya)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan Pengaruh Konektivitas Antarruang terhadap Pemanfaatan Potensi SDA KemaritimanBelum mampu menjelaskan kaitan konektivitas sarana laut dengan pemanfaatan potensi maritim pada 3 skenario atau jawaban keliru.Mampu menjelaskan kaitan konektivitas antarruang dengan pemanfaatan potensi maritim secara tepat pada 1 dari 3 skenario sesuai acuan.Mampu menjelaskan kaitan konektivitas antarruang dengan pemanfaatan potensi maritim secara tepat pada 2 dari 3 skenario sesuai acuan.Mampu menjelaskan kaitan konektivitas antarruang dengan pemanfaatan potensi maritim secara tepat dan lengkap pada seluruh 3 skenario sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat memahami konsep konektivitas antarruang sebagai penghubung wilayah kepulauan maritim?
  • Apakah aktivitas tantangan berpasangan efektif memicu nalar kritis dan antusiasme belajar murid?

Murid:

  • Bagian mana dari konektivitas maritim Indonesia yang paling menarik atau baru saya pahami hari ini?
  • Bagaimana perasaan saya setelah menyelesaikan studi kasus konektivitas laut bersama teman pasangan saya?

Pertemuan 3 — Mengumpulkan Informasi Kolaboratif Mengenai Rencana Penyelidikan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Alam Lokal — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.5 Mengumpulkan informasi secara berkolaborasi melalui penyelidikan mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam dan mendokumentasikannya

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan pertemuan ini yaitu merencanakan dan mengumpulkan informasi secara berkolaborasi mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis klasifikasi cepat: murid diminta mencocokkan 3 contoh sumber data dengan teknik pengumpulan informasi yang tepat: (1) Buku statistik daerah/artikel berita cetak, (2) Wawancara langsung pelaku usaha perkebunan/tambang/nelayan lokal, (3) Observasi langsung ke tempat penampungan hasil alam (acuan: (1) studi dokumen/pustaka, (2) wawancara narasumber, (3) observasi lapangan) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran khusus pertemuan 3, langkah kerja kelompok penyelidikan, serta pembagian kelompok kerja yang terdiri dari 4-5 murid per kelompok (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid dalam kelompok mengamati lembar panduan rencana penyelidikan yang memuat 4 instrumen pengumpulan informasi: (1) tema potensi SDA (kehutanan, pertanian/perkebunan, kelautan/perikanan, atau tambang pasir/batu lokal), (2) rumusan pertanyaan penyelidikan tentang cara pemanfaatan SDA, (3) sumber informasi primer/sekunder yang dituju, dan (4) instrumen pencatat informasi (daftar pertanyaan wawancara atau lembar observasi) (15 menit).
  • Setiap kelompok berdiskusi menentukan fokus penyelidikan SDA lokal dan menyepakati pembagian peran anggota (pencatat data, penyusun daftar pertanyaan wawancara, dan penelaah data pustaka/dokumen) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid secara berkolaborasi dalam kelompok menyusun daftar 5 pertanyaan penyelidikan mengenai pemanfaatan SDA lokal yang dipilih (mencakup: jenis potensi SDA, lokasi pemanfaatan, cara masyarakat mengolah/memanfaatkan, manfaat ekonomi bagi warga, serta kendala ketersediaan SDA) menggunakan lembar kerja pengumpulan informasi (20 menit).
  • Melalui simulasi permainan peran menyenangkan 'Pojok Narasumber', perwakilan kelompok berlatih mengumpulkan informasi dengan mempraktikkan wawancara kepada guru atau rekan kelompok lain yang berperan memegang lembar profil pelaku pemanfaatan potensi SDA lokal (studi kasus: petani kopi lereng gunung, nelayan tambak pesisir, dan pengelola kayu rakyat) serta mencatat poin-poin informasi penting yang diperoleh (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Kelompok memeriksa kelengkapan draf tabel informasi penyelidikan yang telah dikumpulkan dan membandingkannya dengan kriteria ketercukupan data penyelidikan SDA (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan alur kerja pengumpulan informasi kolaboratif mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam (5 menit).
  • Murid mengisi lembar cek pemahaman singkat mengenai kelengkapan komponen rencana penyelidikan informasi SDA (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap kerja sama kelompok, mengingatkan rencana pengarsipan data untuk dokumentasi di pertemuan berikutnya, dan menutup kelas dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar profil narasumber SDA lokal dengan tingkat kompleksitas data sederhana (data langsung faktual) untuk kelompok yang memerlukan bimbingan dan data komparatif lintas sektor untuk kelompok yang sudah mahir.
  • Proses: Guru memberikan panduan berupa templat susunan kalimat pertanyaan penyelidikan bagi kelompok yang membutuhkan bimbingan bertahap, sementara kelompok yang mandiri merumuskan pertanyaan penyelidikan secara eksploratif.
  • Produk: Kelompok menyusun lembar rencana pengumpulan informasi dalam bentuk tabel isian terstruktur atau diagram alur penyelidikan kolaboratif.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemetaan teknik pengumpulan informasi: Murid menjodohkan 3 sumber informasi dengan teknik pengumpulan yang sesuai: (1) Buku statistik daerah/artikel berita cetak, (2) Wawancara langsung pelaku usaha pemanfaatan SDA, (3) Observasi langsung lokasi pemanfaatan SDA. (Acuan kunci: (1) Studi pustaka/dokumen, (2) Wawancara, (3) Observasi langsung).

Proses:

  • Penilaian lembar kerja kelompok: Memeriksa kelengkapan 5 butir pertanyaan penyelidikan pemanfaatan SDA lokal (kriteria: memuat aspek jenis SDA, lokasi pemanfaatan, cara pengolahan/pemanfaatan, manfaat ekonomi warga, dan kendala/keberlanjutan ketersediaan SDA).
  • Lembar observasi kolaborasi kelompok dalam membagi tugas pengumpulan data dan mencatat hasil informasi narasumber.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan 3 komponen utama yang wajib ada dalam rencana penyelidikan SDA sebelum turun mengumpulkan data (acuan: topik/fokus SDA yang diselidiki, teknik/instrumen pengumpulan informasi seperti daftar pertanyaan, dan sumber data/narasumber yang dituju).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja rencana penyelidikan pemanfaatan potensi SDA lokal
  • Observasi unjuk kerja kolaborasi saat menyusun instrumen dan mengumpulkan informasi dalam simulasi wawancara

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keterampilan mengumpulkan informasi rencana penyelidikan pemanfaatan SDA secara kolaborasiMengumpulkan informasi belum terarah; daftar pertanyaan penyelidikan memuat kurang dari 3 aspek pemanfaatan SDA dan pembagian peran dalam kelompok belum tampak.Mengumpulkan informasi dengan menyusun 3 dari 5 aspek pertanyaan penyelidikan pemanfaatan SDA lokal dengan pembagian peran dalam kelompok yang masih memerlukan bimbingan guru.Mengumpulkan informasi secara terstruktur dengan menyusun 4-5 aspek pertanyaan penyelidikan pemanfaatan SDA lokal (jenis, lokasi, cara pengolahan, manfaat ekonomi, kendala) serta membagi tugas anggota kelompok dengan tertib.Mengumpulkan informasi secara komprehensif dengan menyusun 5 aspek pertanyaan penyelidikan pemanfaatan SDA lokal secara rinci dan mendalam, serta membagi peran seluruh anggota kelompok secara mandiri, efektif, dan seimbang.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu simulasi pengumpulan data melalui teknik wawancara dan telaah profil narasumber mencukupi bagi seluruh kelompok?
  • Bagaimana keterlibatan aktif setiap anggota kelompok dalam proses perumusan instrumen pengumpulan informasi pemanfaatan SDA?

Murid:

  • Bagian mana dari penyusunan rencana pengumpulan data SDA lokal yang paling menantang bagi kelompokku?
  • Apa peran utama yang saya jalankan dalam kelompok hari ini untuk memastikan informasi yang dibutuhkan berhasil terkumpul?

Pertemuan 4 — Mendokumentasikan Hasil Penyelidikan Kolaboratif Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Alam — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.5 Mengumpulkan informasi secara berkolaborasi melalui penyelidikan mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam dan mendokumentasikannya

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan memfasilitasi doa singkat (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mendokumentasikan hasil pengumpulan informasi penyelidikan potensi sumber daya alam secara kolaboratif ke dalam format lembar dokumentasi terstruktur (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mengecek kesiapan murid mengelompokkan catatan data mentah hasil penyelidikan (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid dalam kelompok mengamati lembar panduan dokumentasi penyelidikan yang memuat 4 komponen wajib: (1) Identitas Potensi SDA dan Lokasi Temuan, (2) Bentuk Pemanfaatan Eksisting, (3) Data Pihak Terkait/Narasumber Lapangan, dan (4) Bukti Catatan Lapangan/Kutipan Pengamatan (10 menit).
  • Murid berpartisipasi dalam 'Tantangan Sortir Data' cepat berkelompok: mencocokkan 4 potongan catatan mentah ke dalam label komponen dokumentasi yang tepat dengan ceria dan kompak (prinsip Menggembirakan: potongan 'Kayu jati gelondongan diangkut truk' -> Bentuk Pemanfaatan; 'Bapak Rahmad ketua kelompok tani hutan' -> Data Pihak Terkait; 'Hutan produksi petak 3 RPH Sambiroto' -> Lokasi Temuan; 'Catatan pengamatan tanggal 12 Agustus: terdapat 15 tunggak sisa tebangan berstempel resmi' -> Bukti Catatan Lapangan) (15 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara berkolaborasi membuka dan menyandingkan seluruh catatan mentah hasil penyelidikan kelompok (dari Pertemuan 3) mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal (hutan, tambang, atau perairan) (15 menit).
  • Murid secara kolaboratif menyalin, memilah, dan menginput data mentah tersebut ke dalam Format Portofolio Dokumentasi Resmi yang mencakup 4 bagian: Identitas Potensi & Lokasi, Bentuk Pemanfaatan, Data Pihak/Narasumber, dan Bukti Catatan Lapangan/Fakta Teramati (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap kelompok saling menukarkan draf dokumen laporannya dengan kelompok sebelah untuk melakukan pemeriksaan silang (cross-check) kelengkapan data dokumentasi penyelidikan berdasarkan 4 komponen wajib (15 menit).
  • Murid bersama kelompok memperbaiki catatan dokumen berdasarkan umpan balik rekan sejawat dan menyimpulkan kelengkapan dokumentasi penyelidikan kelompoknya secara berkesadaran (15 menit).

Penutup:

  • Guru memfasilitasi konfirmasi kelengkapan dokumen yang telah dikumpulkan dan dirapikan oleh tiap kelompok (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan atas kerja sama kelompok dalam mendokumentasikan data penyelidikan dan menutup pembelajaran dengan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan format lembar dokumentasi berstruktur rumpang terarah, sedangkan kelompok mandiri mengorganisasikan format dokumentasi mandiri berbasis 4 komponen.
  • Proses: Guru memberikan pendampingan intensif bagi kelompok yang kesulitan memilah catatan wawancara/fakta lapangan ke dalam kategori komponen dokumentasi.
  • Produk: Dokumentasi dapat disajikan dalam bentuk berkas portofolio fisik lembar kerja tertulis rapi atau dokumen lembar kerja digital kelompok.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan/tulis singkat di awal: 'Sebutkan 4 bagian informasi penting yang wajib dicatat saat mendokumentasikan hasil penyelidikan potensi SDA!' (Acuan jawaban benar: memuat minimal 3 dari 4 unsur berikut: jenis/lokasi SDA, bentuk pemanfaatan, pelaku/pihak terkait atau narasumber, dan bukti/catatan fakta hasil pengamatan lapangan).

Proses:

  • Observasi formatif saat pengerjaan kolaboratif: Guru memeriksa keterisian lembar dokumentasi kelompok pada 4 komponen wajib: (1) Identitas Potensi SDA dan Lokasi Temuan, (2) Bentuk Pemanfaatan Eksisting, (3) Data Pihak Terkait/Narasumber Lapangan, dan (4) Bukti Catatan Lapangan/Kutipan Pengamatan (Acuan: kelompok mengisi seluruh 4 komponen dengan data konkret hasil penyelidikan tanpa ada kolom yang kosong).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup melalui lembar verifikasi dokumen: Setiap kelompok menyerahkan lembar hasil dokumentasi akhir penyelidikan potensi SDA yang telah diverifikasi kelengkapannya (Acuan penerimaan: dokumen memuat minimal 4 data terverifikasi yang mencakup identitas potensi SDA dan lokasi, bentuk pemanfaatannya, narasumber/pelaku pemanfaatan, serta bukti catatan temuan lapangan).

Formatif:

  • Penilaian kinerja kolaboratif pengisian lembar format dokumentasi penyelidikan potensi SDA
  • Pemeriksaan silang (peer checklist) kelengkapan 4 komponen dokumentasi hasil penyelidikan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Dokumentasi Hasil Penyelidikan Potensi SDAMendokumentasikan data penyelidikan hanya mencakup 1 dari 4 komponen wajib (Identitas SDA & Lokasi, Bentuk Pemanfaatan, Data Pihak/Narasumber, Bukti Catatan Lapangan) dan memerlukan bantuan penuh guru.Mendokumentasikan data penyelidikan dengan mencakup 2 dari 4 komponen wajib secara tepat dengan arahan guru.Mendokumentasikan data penyelidikan dengan mencakup 3 dari 4 komponen wajib secara tepat dan terstruktur secara kolaboratif.Mendokumentasikan data penyelidikan secara lengkap mencakup seluruh 4 komponen wajib (Identitas SDA & Lokasi, Bentuk Pemanfaatan, Data Pihak/Narasumber, Bukti Catatan Lapangan) secara tepat, sistematis, dan mandiri bersama kelompok.
Kolaborasi Pengumpulan dan Pengorganisasian InformasiKurang terlibat dalam pembagian tugas kelompok untuk mengumpulkan dan memilah catatan informasi hasil penyelidikan.Terlibat dalam mengumpulkan catatan informasi hasil penyelidikan hanya jika diarahkan oleh teman kelompok atau guru.Aktif berkolaborasi memilah dan memasukkan informasi penyelidikan ke dalam format dokumen bersama kelompok secara konsisten.Aktif memimpin pembagian kerja, memverifikasi kesesuaian data catatan lapangan kelompok, dan menuntaskan dokumentasi secara harmonis tanpa kendala.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh kelompok dapat mengorganisasikan data mentah hasil penyelidikan ke dalam lembar dokumentasi terstruktur dengan baik?
  • Bagian mana dari format dokumentasi penyelidikan yang paling membutuhkan bimbingan tambahan bagi murid?

Murid:

  • Apakah data penyelidikan potensi sumber daya alam kelompok kami sudah tercatat lengkap dan rapi di lembar dokumentasi?
  • Apa kendala utama yang kami hadapi saat merapikan catatan hasil penyelidikan bersama teman sekelompok?

Pertemuan 5 — Menjelaskan Faktor Aktivitas Manusia terhadap Perubahan Iklim — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.2 Menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap perubahan iklim dan potensi bencana alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan memimpin doa singkat (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap perubahan iklim dan kaitannya dengan efek gas rumah kaca (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan pemantik konsep pada kartu tanya: (1) 'Apa perbedaan pokok antara cuaca dan iklim?' (acuan: cuaca adalah keadaan udara pada waktu singkat dan wilayah sempit, iklim adalah rata-rata cuaca dalam periode waktu lama dan wilayah luas); (2) 'Sebutkan 1 contoh gas rumah kaca yang kamu ketahui!' (acuan: karbon dioksida/CO2, metana/CH4, dinitrogen oksida/N2O, atau CFC) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak paparan guru dan infografik mengenai mekanisme efek rumah kaca serta 4 faktor aktivitas manusia pemicu perubahan iklim: (1) Pembakaran bahan bakar fosil pada transportasi dan industri (menghasilkan CO2); (2) Penebangan dan pembakaran hutan (mengurangi penyerap karbon dan melepas CO2); (3) Sektor pertanian dan peternakan skala besar (penggunaan pupuk kimia menghasilkan N2O dan sendawa/kotoran ternak menghasilkan CH4); (4) Penggunaan pendingin ruangan/lemari es dan aerosol yang menggunakan CFC (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mencatat hubungan sebab-akibat antara jenis aktivitas manusia dengan jenis gas rumah kaca yang dihasilkan berdasarkan penjelasan materi (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Dalam format permainan berpasangan 'Tantangan Kartu Cepat Emisi', murid secara serentak mencocokkan 4 kartu aktivitas manusia dengan 4 kartu gas rumah kaca/mekanisme emisi berikut: Kartu Aktivitas (A) Penebangan liar dan konversi hutan, (B) Penggunaan kendaraan bermotor dan cerobong pabrik batu bara, (C) Penggunaan pendingin ruangan/AC tua dan spray aerosol, (D) Peternakan sapi skala besar dan pemupukan kimia dosis tinggi; dipasangkan dengan Kartu Emisi: (1) Melepas gas karbon dioksida (CO2) akibat pembakaran bahan bakar fosil, (2) Berkurangnya pohon penyerap karbon dan pelepasan CO2 dari biomassa, (3) Menghasilkan gas metana (CH4) dari fermentasi pencernaan dan dinitrogen oksida (N2O) dari tanah, (4) Melepas senyawa klorofluorokarbon (CFC) perusak ozon dan pemerangkap panas. Acuan pasangan tepat: A-2, B-1, C-4, D-3 (20 menit).
  • Setiap murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Penjelasan Kausalitas: menjelaskan bagaimana masing-masing dari ke-4 faktor aktivitas manusia di atas menyebabkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer sehingga memicu pemanasan global dan perubahan iklim (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling menukar lembar kerja dengan teman sebangku untuk memeriksa ketepatan penjelasan kausalitas aktivitas manusia terhadap perubahan iklim berdasarkan acuan materi yang dikonfirmasi guru (15 menit).
  • Murid menyimpulkan bahwa perubahan iklim saat ini bukan semata fenomena alami, melainkan sangat dipercepat oleh pola aktivitas dan konsumsi energi manusia (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap penjelasan faktor aktivitas manusia terhadap perubahan iklim dan memberikan apresiasi atas partisipasi murid (5 menit).
  • Guru menginformasikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 6), yaitu menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam, lalu menutup pertemuan dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan infografik bagan alur sederhana bagi murid yang membutuhkan bantuan visual, dan artikel data emisi sektoral bagi murid yang siap mempelajari data lebih mendalam.
  • Proses: Memberikan scaffolding bertahap dengan kalimat pemandu rumpang bagi murid yang kesulitan menyusun kalimat kausalitas, sementara murid yang telah mahir langsung menyusun uraian penjelasan secara mandiri.
  • Produk: Uraian penjelasan kausalitas dapat disajikan dalam format bagan alur sebab-akibat berpenjelasan atau paragraf uraian analitis tertulis.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan di awal sesi: (1) 'Apa perbedaan pokok antara cuaca dan iklim?' (acuan jawaban: cuaca berjangka pendek dan lokal; iklim adalah rata-rata kondisi cuaca jangka panjang pada cakupan luas); (2) 'Sebutkan 1 contoh gas rumah kaca yang kamu ketahui!' (acuan jawaban: karbon dioksida/CO2, metana/CH4, dinitrogen oksida/N2O, atau CFC)

Proses:

  • Observasi keterlibatan dan ketepatan murid saat permainan memasangkan 4 kartu aktivitas dengan kartu emisi gas rumah kaca (acuan: A-2, B-1, C-4, D-3)
  • Pemeriksaan uraian Lembar Kerja Penjelasan Kausalitas untuk 4 aktivitas manusia: (1) Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan CO2; (2) Penebangan hutan menghilangkan penyerap karbon alami; (3) Peternakan dan pemupukan berlebih melepas gas CH4 dan N2O; (4) Penggunaan alat berpendingin melepas gas CFC

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan pemahaman mandiri di akhir tahap inti melalui penulisan 1 simpulan penjelasan sebab-akibat: menyebutkan 1 aktivitas manusia di lingkungan terdekat beserta gas rumah kaca yang dihasilkan dan dampaknya terhadap perubahan iklim (acuan kriteria: menyebutkan aktivitas manusia konkret, menyebutkan gas rumah kaca yang relevan secara tepat, dan menjelaskan bagaimana gas tersebut memerangkap panas di atmosfer)

Formatif:

  • Pemeriksaan ketepatan pencocokan 4 pasangan Kartu Cepat Emisi pada tahap Mengaplikasi
  • Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Kerja Penjelasan Kausalitas Faktor Aktivitas Manusia terhadap Perubahan Iklim menggunakan rubrik

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan Faktor Aktivitas Manusia terhadap Perubahan IklimMenjelaskan kurang dari 2 faktor aktivitas manusia terhadap timbulnya gas rumah kaca dan perubahan iklim dengan tepat.Menjelaskan tepat 2 dari 4 faktor aktivitas manusia (pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, peternakan/pertanian kimia, penggunaan CFC) terhadap timbulnya gas rumah kaca dan perubahan iklim.Menjelaskan tepat 3 dari 4 faktor aktivitas manusia (pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, peternakan/pertanian kimia, penggunaan CFC) terhadap timbulnya gas rumah kaca dan perubahan iklim secara runtut.Menjelaskan seluruh 4 faktor aktivitas manusia (pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, peternakan/pertanian kimia, penggunaan CFC) beserta mekanisme emisi gas rumah kaca pemicu perubahan iklim secara tepat, runtut, dan mendalam.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah permainan kartu berpasangan efektif membantu murid memahami hubungan aktivitas manusia dengan jenis gas rumah kaca?
  • Bagian penjelasan mana yang masih membuat murid keliru dalam memahami mekanisme efek rumah kaca?

Murid:

  • Aktivitas manusia apa yang paling sering saya jumpai sehari-hari yang ternyata berkontribusi terhadap perubahan iklim?
  • Apakah saya sudah dapat menjelaskan bagaimana gas rumah kaca dapat menyebabkan kenaikan suhu bumi?

Pertemuan 6 — Menjelaskan Faktor Aktivitas Manusia terhadap Potensi Bencana Alam — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.2 Menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap perubahan iklim dan potensi bencana alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6 mengenai penjelasan faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berupa 2 pertanyaan pemantik konsep sebab-akibat bencana alam: (1) 'Apa penyebab fisik tanah lereng mudah longsor ketika pohon ditebang?' (acuan: hilangnya akar pohon sebagai pengikat tanah dan penahan air); (2) 'Mengapa penyumbatan sampah di sungai memicu banjir?' (acuan: kapasitas tampung aliran air menyusut sehingga air meluap ke daratan) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak paparan materi dan mengamati 3 gambar fenomena aktivitas manusia yang memicu potensi bencana alam yang ditampilkan guru: Gambar A (alih fungsi lereng perbukitan menjadi permukiman tanpa terasering memicu tanah longsor), Gambar B (pembuangan sampah sembarangan dan penyempitan bantaran sungai memicu banjir), dan Gambar C (pembukaan lahan gambut dengan cara dibakar memicu kebakaran hutan dan kabut asap) (15 menit).
  • Dalam kelompok berpasangan, murid mengkaji teks studi kasus mengenai 3 aktivitas manusia pemicu bencana dan menghubungkan mekanisme sebab-akibatnya secara terpandu menggunakan panduan lembar telaah (20 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan kartu tantangan berpasangan 'Hubungkan Sebab & Bencana': setiap pasangan mencocokkan 4 kartu aktivitas manusia dengan 4 kartu potensi bencana alam yang tepat: (1) Kartu 'Penebangan hutan secara liar di hulu sungai' cocok dengan 'Potensi banjir bandang dan erosi tanah'; (2) Kartu 'Pembangunan vila dan pengurukan resapan air di lereng curam' cocok dengan 'Potensi tanah longsor'; (3) Kartu 'Pengambilan air tanah berlebihan di daerah pesisir' cocok dengan 'Potensi banjir rob dan penurunan muka tanah'; (4) Kartu 'Pengeringan dan pembakaran lahan gambut saat musim kemarau' cocok dengan 'Potensi kebakaran hutan dan lahan' (25 menit).
  • Secara mandiri pada lembar kerja, setiap murid menuliskan penjelasan terstruktur mengenai mekanisme bagaimana minimal 2 faktor aktivitas manusia memperbesar potensi bencana alam sesuai acuan sebab-akibat materi (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling bertukar lembar kerja untuk memeriksa kelengkapan alur penjelasan sebab-akibat bencana menggunakan panduan kunci verifikasi guru (10 menit).
  • Murid mengidentifikasi pemahaman dirinya dengan menjawab pertanyaan refleksi singkat mengenai faktor aktivitas manusia mana yang paling sering dijumpai di lingkungan sekitarnya dan bagaimana hal tersebut memicu risiko bencana (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran bahwa aktivitas manusia yang merusak daya dukung lingkungan secara langsung melipatgandakan kerentanan wilayah terhadap bencana alam (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap hasil kerja murid, menyampaikan gambaran topik pertemuan berikutnya (Pertemuan 7 mengenai prediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan ekonomi), dan menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan teks kasus yang dilengkapi diagram alur panah sebab-akibat visual untuk murid yang membutuhkan bantuan pemahaman, serta teks analisis kasus multi-faktor untuk murid yang berpikiran cepat.
  • Proses: Memberikan pendampingan terbimbing (scaffolding) pada perumusan hubungan sebab-akibat bagi kelompok yang kesulitan, serta memberikan tantangan menjelaskan 4 hubungan faktor bencana secara mandiri bagi kelompok yang cepat.
  • Produk: Penjelasan hubungan faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana dapat disajikan dalam bentuk diagram alur tertulis atau paragraf eksplanasi terstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: (1) Mengapa penggundulan hutan di wilayah hulu dapat memicu banjir di hilir? (Acuan jawaban: Hutan berfungsi menyerap air hujan; tanpa tutupan pohon, air hujan langsung menjadi limpasan permukaan yang mengalir deras ke hilir tanpa terinfiltrasi ke tanah); (2) Bagaimana sampah di saluran air dapat menimbulkan banjir? (Acuan jawaban: Timbunan sampah menghambat laju aliran dan memperkecil volume tampung sungai/drainase sehingga meluap ke permukiman).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan dan ketepatan saat aktivitas permainan kartu 'Hubungkan Sebab & Bencana' (4 pasangan kartu acuan: penebangan hulu -> banjir bandang; pembangunan lereng curam -> tanah longsor; penyedotan air tanah pesisir -> banjir rob/amblesan tanah; pembakaran gambut -> kebakaran hutan)
  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri: Menjelaskan mekanisme bagaimana aktivitas manusia memicu bencana (Kriteria: menyebutkan nama aktivitas manusia, proses fisik perubahan daya dukung lingkungan, dan potensi bencana yang dihasilkan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan jawaban atas 1 soal ringkas: 'Jelaskan bagaimana alih fungsi hutan mangrove di pesisir menjadi tambak dapat memperbesar potensi bencana abrasi dan intrusi air laut!' (Acuan jawaban: Hilangnya vegetasi mangrove meniadakan pemecah ombak alami sehingga gelombang laut langsung mengikis daratan [abrasi], serta menghilangkan zona penyaring yang menyebabkan air asin merembes ke air tanah tawar [intrusi]).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pencocokan kartu sebab-akibat aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam
  • Penilaian tes tertulis uraian terstruktur lembar kerja penjelasan faktor aktivitas manusia pemicu bencana alam

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan Hubungan Faktor Aktivitas Manusia terhadap Potensi Bencana AlamHanya menyebutkan nama bencana alam tanpa mampu menjelaskan faktor aktivitas manusia yang memicunya (kurang dari 1 penjelasan mekanisme yang tepat).Menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap 1 potensi bencana alam dengan alur sebab-akibat yang tepat sesuai acuan materi.Menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap minimal 2 hingga 3 potensi bencana alam dengan alur sebab-akibat yang runtut dan tepat sesuai acuan materi.Menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap seluruh 4 potensi bencana alam (banjir bandang, longsor lereng, banjir rob pesisir, dan kebakaran lahan gambut) dengan alur sebab-akibat yang lengkap, runtut, dan tepat secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan permainan kartu tantangan efektif dalam membantu murid memahami alur sebab-akibat aktivitas manusia terhadap bencana?
  • Bagian penjelasan mana yang masih membuat murid keliru membedakan antara fenomena alam murni dan bencana yang diperparah aktivitas manusia?

Murid:

  • Aktivitas manusia apa yang paling jelas menurut saya dapat memicu terjadinya bencana di sekitar kita?
  • Bagian mana dari penjelasan mekanisme sebab-akibat bencana alam tadi yang paling mudah atau paling menantang untuk saya pahami?

Pertemuan 7 — Memprediksi Dampak Perubahan Iklim terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.3 Memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan membangun suasana belajar yang positif (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yakni memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan ekonomi masyarakat, khususnya sektor pertanian, perikanan tangkap, dan stabilitas harga kebutuhan pokok (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat mengenai 2 rantai sebab-akibat fenomena cuaca terhadap kegiatan ekonomi: (1) 'Kemarau ekstrem melanda sentra padi' -> prediksi dampak: gagal panen/produksi turun dan harga beras naik; (2) 'Gelombang tinggi ekstrem di laut' -> prediksi dampak: nelayan tidak bisa melaut sehingga pasokan ikan berkurang dan penghasilan nelayan menurun (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membaca dan menelaah lembar telaah singkat mengenai fenomena perubahan iklim dan kaitannya dengan sektor ekonomi: penurunan produktivitas pertanian akibat anomali cuaca, penurunan hasil tangkapan nelayan akibat kenaikan suhu muka laut, serta kenaikan harga pangan pokok (inflasi pangan) (15 menit).
  • Guru memfasilitasi tanya jawab terarah untuk memastikan pemahaman alur sebab-akibat: perubahan iklim (faktor pemicu) -> gangguan produksi/distribusi (proses) -> perubahan pendapatan masyarakat dan harga barang (dampak ekonomi) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpasangan memainkan game kartu prediksi berhadiah poin 'Prediksi Cepat Ekonomi Iklim': setiap pasangan menerima 3 kartu skenario perubahan iklim untuk memprediksi dampak ekonominya secara bergiliran dalam waktu cepat (15 menit).
  • Tiga kartu skenario dan acuan prediksi dampaknya adalah: Kartu 1: 'Peningkatan intensitas hujan ekstrem memicu banjir berkepanjangan di area sentra sayuran dataran tinggi' (acuan dampak ekonomi: tanaman sayur membusuk/gagal panen, pasokan sayur ke pasar berkurang, harga sayuran melonjak tajam, pendapatan petani sayur merosot); Kartu 2: 'Kenaikan suhu air laut dan pemutihan terumbu karang di perairan dangkal pesisir' (acuan dampak ekonomi: ikan karang berpindah menjauh ke laut dalam, biaya bahan bakar perahu nelayan tradisional meningkat, volume tangkapan ikan menurun, pendapatan nelayan anjlok); Kartu 3: 'Kekeringan panjang dan intrusi air laut ke lahan persawahan pesisir' (acuan dampak ekonomi: sawah mengalami salinisasi sehingga tidak dapat ditanami padi, biaya produksi petani membengkak untuk mencari sumber air tawar, pasokan gabah lokal berkurang, beban pengeluaran pangan rumah tangga meningkat) (15 menit).
  • Setiap pasangan menuliskan hasil rumusan prediksinya pada Lembar Prediksi Dampak Ekonomi berdasarkan ketiga kartu skenario tersebut (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama pasangannya saling memeriksa ketepatan rumusan prediksi dampak ekonomi dengan membandingkan terhadap lembar kunci acuan guru yang ditampilkan di layar/papan tulis (10 menit).
  • Murid mengidentifikasi sektor ekonomi mana yang paling rentan terhadap perubahan iklim di lingkungan sekitar mereka dan menyadari pentingnya kemampuan memprediksi dampak untuk kesiapan ekonomi keluarga (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap alur prediksi dampak ekonomi perubahan iklim pada sektor primer (pertanian dan perikanan) serta stabilitas harga konsumen (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan mengingatkan topik berikutnya pada Pertemuan 8 yaitu memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu skenario dengan bagan alur bantu rumpang (Sebab Cuaca -> Gangguan Produksi -> Dampak Harga/Pendapatan). Murid mahir diberikan kartu skenario tambahan berupa dampak perubahan iklim terhadap sektor logistik distribusi bahan pokok antarpulau.
  • Proses: Pada murid yang memerlukan bimbingan, guru memberikan pertanyaan pemandu langkah demi langkah saat merumuskan dampak pendapatan dan harga. Murid mahir merumuskan prediksi dampak ekonomi secara mandiri bersama pasangannya.
  • Produk: Seluruh murid menyusun Lembar Prediksi Dampak Ekonomi dengan kriteria penilaian yang sama; murid mahir memuat penjelasan rantai sebab-akibat ekonomi secara lebih mendalam pada ketiga skenario.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Jika musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya di daerah penghasil padi, apa yang diperkirakan terjadi pada hasil panen petani dan harga beras di pasar?' (Kriteria penerimaan: murid memprediksi hasil panen/produksi menurun atau gagal panen, serta harga beras menjadi naik/mahal).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pengisian Lembar Prediksi Dampak Ekonomi pada 3 skenario: Skenario 1 banjir kebun sayur dataran tinggi (kunci: pasokan sayur turun, harga naik, pendapatan petani sayur turun); Skenario 2 kenaikan suhu air laut perairan dangkal (kunci: biaya operasional/solar perahu nelayan naik, tangkapan turun, pendapatan nelayan turun); Skenario 3 kekeringan dan intrusi air laut di sawah pesisir (kunci: gagal panen padi/lahan rusak, produksi gabah berkurang, beban pengeluaran pangan masyarakat naik).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup (exit ticket 1 butir lisan/tulisan singkat): 'Prediksikan dampak ekonomi bagi pedagang ikan di pasar jika badai laut akibat perubahan iklim menghalangi nelayan melaut selama 2 pekan!' (Acuan jawaban benar: pasokan ikan yang dijual pedagang berkurang/kosong, harga jual ikan per kg melonjak, dan omzet atau keuntungan harian pedagang menurun).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan alur sebab-akibat ekonomi di awal sesi
  • Penilaian Lembar Prediksi Dampak Ekonomi berdasarkan 3 skenario perubahan iklim

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kemampuan memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan ekonomi masyarakat (sektor pertanian, perikanan, dan harga pangan)Belum mampu merumuskan prediksi dampak ekonomi, atau hanya mampu memprediksi dampak secara tepat pada 1 dari 3 skenario yang diberikan.Mampu memprediksi dampak ekonomi secara tepat pada 2 dari 3 skenario yang diberikan dengan bantuan pertanyaan pemandu dari guru.Mampu memprediksi dampak ekonomi secara tepat dan runtut (mencakup aspek produksi/pasokan, harga barang, atau pendapatan masyarakat) pada seluruh 3 skenario yang diberikan secara mandiri.Mampu memprediksi dampak ekonomi secara tepat, mendalam, dan komprehensif pada seluruh 3 skenario yang diberikan serta mampu menjelaskan rantai keterkaitan antara kegagalan produksi bahan pangan dengan inflasi harga konsumen secara runtut tanpa kekeliruan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur skenario kartu prediksi dampak ekonomi cukup kontekstual dan mudah dipahami oleh murid?
  • Bagian mana dari rantai dampak ekonomi (produksi, distribusi, harga, pendapatan) yang paling banyak mengalami miskonsepsi pada murid?

Murid:

  • Bagaimana perubahan cuaca ekstrem di sekitar tempat tinggalku mempengaruhi pengeluaran belanja harian keluargaku?
  • Kegiatan ekonomi masyarakat mana (petani atau nelayan) yang menurutku paling cepat merasakan kerugian saat terjadi perubahan iklim?

Pertemuan 8 — Memprediksi Dampak Perubahan Iklim terhadap Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.3 Memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan suasana belajar yang tertib dan nyaman (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu melatih kemampuan memprediksi dampak perubahan iklim terhadap aspek kehidupan sosial dan budaya masyarakat (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat mengenai perbedaan ranah sosial (interaksi, konflik, pengungsian/migrasi) dan ranah budaya (tradisi, kearifan lokal, ritual adat) dengan pertanyaan: 'Sebutkan 1 contoh aspek sosial dan 1 contoh aspek budaya dalam kehidupan masyarakat!' (acuan: aspek sosial mencakup interaksi warga, gotong royong, relokasi/pengungsian permukiman; aspek budaya mencakup upacara adat bertani/melaut, sistem kalender pranata mangsa, tradisi lokal) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemaparan guru dan bahan bacaan kontekstual mengenai fenomena kenaikan air laut (banjir rob) di pesisir Demak/Semarang yang memaksa warga berpindah tempat tinggal serta perubahan musim yang mengacaukan penanggalan adat bertani pranata mangsa (15 menit).
  • Murid berpasangan memainkan kuis pemantik ceria 'Tebak Ranah Perubahan' menggunakan kartu fenomena untuk mengelompokkan dampak ke dalam ranah sosial atau budaya: (1) 'Warga satu kampung terpaksa pindah dan terpisah dari tetangga lama' -> ranah sosial; (2) 'Petani tidak lagi menggelar sedekah bumi pada bulan yang biasa karena masa tanam mundur drastis' -> ranah budaya; (3) 'Terjadinya perebutan sumber mata air bersih antarwarga desa saat kemarau panjang' -> ranah sosial; (4) 'Hilangnya kosakata lokal dan pengetahuan adat tentang tanda-tanda alam bintang timur oleh nelayan' -> ranah budaya (acuan pengelompokan sesuai kunci tersebut) (15 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bekerja dalam kelompok kecil (3-4 orang) menerima Lembar Prediksi Sosial-Budaya yang memuat 2 skenario perubahan iklim konkret untuk dirumuskan prediksinya: Skenario 1 'Kenaikan permukaan laut menenggelamkan daratan desa nelayan pesisir hingga 2 km ke darat'; Skenario 2 'Kemarau ekstrem dan kekeringan berkepanjangan melanda wilayah pertanian tadah hujan' (10 menit).
  • Setiap kelompok menyusun prediksi berantai sebab-akibat logis pada lembar kerja: Skenario 1 memprediksi dampak sosial (evakuasi permukiman, hilangnya ikatan kekerabatan kampung pesisir, potensi perselisihan ruang tinggal di tempat penampungan baru) dan dampak budaya (punahnya tradisi petik laut di pantai setempat, hilangnya pengetahuan lokal pembuatan garam tradisional); Skenario 2 memprediksi dampak sosial (urbanisasi besar-besaran pemuda ke kota, terganggunya harmoni sosial akibat perebutan air irigasi) dan dampak budaya (pergeseran ritual adat sedekah bumi, hilangnya kepatuhan pada sistem pranata mangsa) (15 menit).
  • Setiap perwakilan kelompok menempelkan lembar hasil prediksinya di dinding kelas dan melakukan saling silang tinjau (gallery walk) untuk membandingkan ketajaman alur prediksi antar-kelompok tanpa penilaian presentasi lisan (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara individu membaca kembali rumusan prediksi kelompoknya dan menandai apakah alur sebab-akibat yang dirumuskan sudah menghubungkan pemicu iklim dengan kondisi nyata hubungan antarmanusia (sosial) dan sistem nilai/kebiasaan (budaya) (10 menit).
  • Murid bersama guru menyimpulkan inti pemahaman bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada fisik lingkungan atau ekonomi, tetapi mendisrupsi tatanan bermasyarakat, tradisi luhur, dan identitas budaya lokal (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap ketepatan prediksi rantai sebab-akibat dampak sosial dan budaya yang dirumuskan murid (5 menit).
  • Murid mengerjakan cek pemahaman akhir mandiri tertulis singkat berupa 2 butir isian singkat prediksi (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar alur bantu rumpang dengan panduan kata kunci relasi sebab-akibat; murid yang mahir diberikan skenario tambahan yang lebih kompleks yaitu fenomena kebakaran hutan gambut berulang terhadap kehidupan sosial suku pedalaman.
  • Proses: Pada tahap mengaplikasi, kelompok murid yang berkembang dipandu langsung oleh guru dengan pertanyaan scaffolding tahap demi tahap, sedangkan kelompok mandiri mengelaborasi dampak hingga tingkat pergeseran nilai generasi muda.
  • Produk: Format penulisan alur prediksi dapat berupa diagram alur sebab-akibat, matriks tabel perbandingan, atau narasi singkat terstruktur sesuai kenyamanan kelompok asalkan memuat hubungan kausalitas sosial dan budaya yang tepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran: (1) Sebutkan 1 contoh fenomena hubungan sosial antarmanusia! (acuan jawaban: gotong royong, interaksi tetangga, kerja bakti, konflik perebutan lahan, relokasi/perpindahan tempat tinggal bersama); (2) Sebutkan 1 contoh fenomena budaya masyarakat! (acuan jawaban: upacara adat bertani/nelayan, ritual sedekah laut/bumi, sistem penanggalan tanam tradisional/pranata mangsa, kebiasaan turun-temurun).

Proses:

  • Observasi formatif saat pengerjaan Lembar Prediksi Sosial-Budaya kelompok, memeriksa kelengkapan dua skenario: Skenario 1 (Kenaikan air laut): prediksi sosial memuat evakuasi permukiman/kehilangan ruang sosial dan budaya memuat terhentinya ritual pesisir/kearifan bahari; Skenario 2 (Kemarau ekstrem): prediksi sosial memuat konflik air/urbanisasi dan budaya memuat pergeseran ritual tani/sistem pranata mangsa.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis individu berisi 2 butir soal: (1) 'Jika banjir rob merendam seluruh permukiman di desa pesisir secara permanen, prediksikan 1 dampak sosial yang akan dihadapi warganya!' (kriteria penerimaan: jawaban memuat relokasi warga, terputusnya jalinan ketetanggaan, kepadatan hunian baru, atau konflik pemukiman kembali); (2) 'Jika musim hujan dan kemarau tidak lagi teratur akibat perubahan iklim, prediksikan 1 dampak budaya pada masyarakat agraris!' (kriteria penerimaan: jawaban memuat ketidakberlakuan kalender adat pranata mangsa, perubahan/kehilangan waktu pelaksanaan ritual adat musim tanam, atau pergeseran kearifan lokal pertanian).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja kelompok: ketepatan dan kelogisan alur prediksi dampak sosial dan budaya berdasarkan skenario perubahan iklim yang diberikan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kemampuan memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan sosial masyarakatBelum mampu memprediksi dampak sosial dari skenario perubahan iklim yang diberikan atau prediksi tidak menunjukkan keterkaitan kausalitas.Mampu merumuskan 1 prediksi dampak sosial secara logis dari salah satu skenario, namun skenario lainnya belum tepat.Mampu memprediksi dampak sosial secara logis dan runtut dari kedua skenario yang diberikan (evakuasi/relokasi warga dan konflik air/urbanisasi).Mampu memprediksi dampak sosial secara komprehensif dari kedua skenario serta merinci rantai kausalitas lanjutan hingga perubahan relasi antarwarga secara mandiri.
Kemampuan memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan budaya masyarakatBelum mampu memprediksi dampak budaya dari skenario perubahan iklim yang diberikan atau tertukar dengan dampak ekonomi murni.Mampu merumuskan 1 prediksi dampak budaya secara logis dari salah satu skenario (misalnya hilangnya upacara petik laut atau disrupsi pranata mangsa).Mampu memprediksi dampak budaya secara logis dan runtut dari kedua skenario (terancamnya tradisi bahari/sedekah laut dan disrupsi kearifan kalender adat bertani).Mampu memprediksi dampak budaya secara mendalam pada kedua skenario serta mengaitkannya dengan potensi punahnya transmisi kearifan lokal antargenerasi secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur skenario fenomena yang disajikan berhasil memantik penalaran logis murid dalam membedakan dampak sosial dan budaya dari dampak ekonomi?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas kelompok saat merumuskan rantai sebab-akibat dampak perubahan iklim?

Murid:

  • Bagian mana dari rantai dampak sosial atau budaya perubahan iklim yang paling mengejutkan atau membuka pemahaman barumu?
  • Apakah kamu sudah dapat membedakan dengan jelas antara dampak perubahan iklim pada tatanan interaksi sosial dengan dampak pada tradisi/kebudayaan masyarakat?

Pertemuan 9 — Merefleksikan Pola Adaptasi terhadap Perubahan Iklim dan Upaya Mitigasi Bencana untuk Menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.4 Merefleksikan pola adaptasi terhadap perubahan iklim dan upaya mitigasi bencana untuk menunjang sustainable development goals (SDGs)

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan suasana kelas yang berkesadaran lingkungan (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: merefleksikan pola adaptasi terhadap perubahan iklim dan upaya mitigasi bencana untuk menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan/papan tulis cepat berupa pembedaan 2 aksi nyata: (1) Petani mengganti varietas padi tahan kekeringan; (2) Penanaman 1.000 pohon bakau di pesisir. Murid menentukan mana tindakan adaptasi dan mana mitigasi (acuan: nomor 1 adalah adaptasi; nomor 2 adalah mitigasi bencana/penyerapan karbon) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati bagan perbandingan konsep adaptasi (upaya penyesuaian diri menghadapi dampak iklim agar bertahan) dan mitigasi (upaya mengurangi penyebab dan mereduksi risiko bencana iklim) yang dihubungkan dengan target SDGs, khususnya SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14/15 (Ekosistem Lautan/Daratan) (10 menit).
  • Murid berpasangan memainkan kuis cepat 'Adaptasi atau Mitigasi' untuk mengidentifikasi 4 kartu skenario: Kartu A 'Meninggikan pondasi rumah panggung di daerah pasang rob' (adaptasi); Kartu B 'Memasang sistem peringatan dini (early warning system) tsunami/banjir' (mitigasi risiko bencana); Kartu C 'Beralih ke panel surya untuk memangkas emisi karbon pembangkit' (mitigasi); Kartu D 'Mengubah kalender masa tanam menyesuaikan pola hujan ekstrem' (adaptasi) (acuan ketepatan: A=adaptasi, B=mitigasi, C=mitigasi, D=adaptasi) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Kerja Refleksi yang memuat 2 kasus nyata wilayah Indonesia: Kasus 1 'Peninggian tanggul laut dan penanaman sabuk hijau mangrove di pesisir Jawa Tengah'; Kasus 2 'Pembuatan embung dan sumur resapan desa tadah hujan di Nusa Tenggara Timur' (5 menit).
  • Secara mandiri, murid menguraikan elemen adaptasi dan mitigasi pada kedua kasus tersebut serta menghubungkannya dengan ketercapaian target SDGs nomor 13 (Penanganan Perubahan Iklim) secara tepat (acuan analisis: Kasus 1 memuat adaptasi fisik tanggul dan mitigasi abrasi/karbon melalui mangrove menunjang SDG 13 & 14; Kasus 2 memuat adaptasi kekeringan melalui embung dan mitigasi krisis air menunjang SDG 13 & 6) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan perenungan mendalam terbimbing untuk mengevaluasi efektivitas pola adaptasi dan upaya mitigasi bencana yang pernah mereka amati di lingkungan tempat tinggal atau daerah rawan bencana di Indonesia (12 menit).
  • Murid menuliskan 1 paragraf refleksi diri pada lembar kerja mengenai evaluasi kelebihan, kelemahan, serta kontribusi nyata tindakan manusia terhadap keberlanjutan bumi sesuai prinsip SDGs (8 menit).

Penutup:

  • Guru memandu konfirmasi pemahaman bersama murid dan memberikan umpan balik langsung terhadap poin-poin refleksi yang telah dituliskan (6 menit).
  • Guru dan murid menutup kegiatan pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks kasus dengan kata kunci bertanda tebal (scaffolding pembeda adaptasi vs mitigasi), sedangkan murid yang cepat diberikan kasus tambahan mengenai transisi energi terbarukan komunitas adat.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dengan pertanyaan penuntun dalam mengaitkan tindakan dengan nomor SDG, sementara murid yang mahir merefleksikan hubungan multidimensi secara mandiri.
  • Produk: Refleksi dituangkan dalam lembar kerja tertulis terstruktur atau bagan refleksi alur berpikir logis sesuai preferensi murid tanpa mengurangi kedalaman isi refleksi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan di pendahuluan dengan 2 butir pernyataan: (1) Petani mengganti varietas padi tahan kekeringan; (2) Penanaman 1.000 pohon bakau di pesisir. Acuan jawaban benar: Butir 1 adalah tindakan adaptasi; Butir 2 adalah tindakan mitigasi bencana pesisir/emisi.

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan saat kuis pasangan 4 kartu skenario (Kartu A: adaptasi, Kartu B: mitigasi, Kartu C: mitigasi, Kartu D: adaptasi).
  • Pemeriksaan Lembar Kerja Kasus: Ketepatan mengidentifikasi bentuk adaptasi dan mitigasi pada Kasus 1 (tanggul = adaptasi; mangrove = mitigasi abrasi/karbon untuk SDG 13 & 14) dan Kasus 2 (embung = adaptasi kekeringan; resapan air = mitigasi krisis air untuk SDG 13 & 6).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman/refleksi akhir: Murid menuliskan refleksi kritis 1 paragraf yang mengevaluasi pola adaptasi dan mitigasi bencana di lingkungan sekitar/Indonesia dalam menunjang SDGs. Kriteria penerimaan operasional: Paragraf memuat secara eksplisit minimal 1 contoh pola adaptasi, 1 contoh mitigasi bencana, serta telaah evaluatif kontribusinya terhadap pencapaian tujuan penanganan iklim (SDG 13).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: Menentukan klasifikasi 2 contoh aksi nyata lingkungan sebagai adaptasi atau mitigasi
  • Penilaian proses lembar kerja analisis kasus dan jurnal refleksi tertulis pola adaptasi, mitigasi, dan keterkaitannya dengan SDGs

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan pola adaptasi dan upaya mitigasi bencana terhadap SDGsMurid belum mampu membedakan bentuk adaptasi dan mitigasi, serta belum dapat mengaitkan tindakan lingkungan dengan tujuan SDGs.Murid mampu membedakan pola adaptasi dan mitigasi bencana secara tepat pada contoh kasus sederhana, namun belum mampu merefleksikan kaitannya dengan tujuan SDGs secara logis.Murid mampu menguraikan pola adaptasi dan upaya mitigasi bencana pada kasus nyata secara tepat serta merefleksikan kontribusinya terhadap pencapaian target SDGs (khususnya SDG 13) dengan evaluasi yang cukup mendalam.Murid secara mendalam dan kritis mampu merefleksikan pola adaptasi dan upaya mitigasi bencana, mengevaluasi kelebihan serta kelemahannya, dan menghubungkan kontribusinya secara komprehensif terhadap berbagai target pembangunan berkelanjutan (SDGs) secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur kegiatan pembelajaran berhasil memfasilitasi murid memahami perbedaan mendasar serta merefleksikan penerapan adaptasi dan mitigasi bencana secara bermakna?
  • Apakah durasi waktu pada setiap tahap kegiatan inti terlaksana sesuai alokasi dan seluruh murid terlibat aktif dalam proses perenungan reflektif?

Murid:

  • Apa hal baru dan paling bermakna yang saya pelajari hari ini tentang perbedaan cara manusia beradaptasi versus melakukan mitigasi bencana iklim?
  • Bagaimana pemahaman tentang target SDGs (khususnya penanganan perubahan iklim) mengubah cara pandang saya terhadap tindakan pelestarian lingkungan di sekitar saya?

Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.1 Menjelaskan keberagaman kondisi geografis Indonesia dan konektivitas antarruang terhadap upaya pemanfaatan potensi sumber daya alam
  • TP 8.1.2 Menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap perubahan iklim dan potensi bencana alam
  • TP 8.1.3 Memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat
  • TP 8.1.4 Merefleksikan pola adaptasi terhadap perubahan iklim dan upaya mitigasi bencana untuk menunjang sustainable development goals (SDGs)
  • TP 8.1.5 Mengumpulkan informasi secara berkolaborasi melalui penyelidikan mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam dan mendokumentasikannya

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi dengan salam, memeriksa kesiapan fisik serta perlengkapan murid, dan menyampaikan agenda pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 1 (5 menit).
  • Guru menjelaskan tata tertib asesmen sumatif yang terdiri dari 2 bagian: penyerahan dan peninjauan berkas portofolio penyelidikan kelompok (Tugas 1) serta pengerjaan tes tertulis uraian integratif secara individual (Tugas 2) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru memberikan penjelasan teknis pemeriksaan portofolio kelompok dan membagikan Lembar Soal Tes Tertulis Uraian Lingkungan Terpadu kepada seluruh 28 murid untuk dibaca secara hening tanpa diskusi (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1: Perwakilan 5-6 kelompok menyerahkan berkas portofolio laporan dokumentasi hasil penyelidikan pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal, kemudian guru bersama kelompok melakukan verifikasi kelengkapan komponen artefak penyelidikan sesuai rubrik portofolio (35 menit).
  • Tugas 2: Seluruh murid secara individual mengerjakan tes tertulis uraian integratif yang memuat 4 butir soal: Soal 1 (TP 8.1.1): Jelaskan pengaruh kondisi geografis kepulauan dan konektivitas antarpulau terhadap pemanfaatan potensi sumber daya alam tambang/hutan (Acuan kunci: menyebutkan karakteristik wilayah kepulauan/pegunungan, rute/transportasi penghubung distribusi, serta contoh pemanfaatan sumber daya alam); Soal 2 (TP 8.1.2): Analisis faktor aktivitas manusia pemicu perubahan iklim dan potensi bencana hidrometeorologi (Acuan kunci: deforestasi/pembakaran lahan, emisi industri/kendaraan bahan bakar fosil, dan pemicu banjir/longsor); Soal 3 (TP 8.1.3): Prediksikan masing-masing 1 dampak perubahan iklim terhadap kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat pesisir atau agraris (Acuan kunci: ekonomi berupa penurunan hasil panen/tangkapan ikan, sosial berupa migrasi/konflik sumber daya air, budaya berupa pergeseran kearifan pranata mangsa/musim melaut); Soal 4 (TP 8.1.4): Refleksikan 1 pola adaptasi dan 1 upaya mitigasi bencana di lingkungan sekitar yang mendukung SDGs poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim) (Acuan kunci: adaptasi berupa peninggian rumah/penyesuaian varietas bibit tahan kekeringan, mitigasi berupa penanaman mangrove/penghijauan untuk mengurangi risiko emisi dan abrasi) (60 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara hening menuliskan refleksi jujur pada bagian akhir lembar tes tertulis mengenai proses belajar, tingkat pemahaman materi Bab 1, serta komitmen pribadi dalam menjaga kelestarian lingkungan (5 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar jawaban tes tertulis uraian integratif dan berkas portofolio kelompok secara tertib (3 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kerja keras, integritas, dan ketuntasan murid dalam menempuh rangkaian pembelajaran serta asesmen Bab 1 'Lingkungan dan Masyarakat Indonesia' (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses penyediaan naskah soal dengan ukuran teks lebih besar bagi murid yang membutuhkan hambatan penglihatan tanpa mengubah substansi soal.
  • Proses: Pemberian tempat duduk terpisah di barisan depan bagi murid yang memerlukan konsentrasi tinggi tanpa mengubah batas waktu pengerjaan.
  • Produk: Format penulisan portofolio dapat berupa laporan cetak terjilid atau booklet infografis terstruktur dengan kriteria rubrik yang setara.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan teknis pelaksanaan asesmen dan kelengkapan berkas fisik artefak portofolio kelompok sebelum sesi pengerjaan dimulai.

Proses:

  • Pemantauan kemandirian, ketertiban, dan kepatuhan terhadap instruksi selama pengerjaan tes tertulis individual berlangsung.

Sumatif Bab:

  • Asesmen kombinasi unjuk kerja portofolio penyelidikan kelompok dan tes tertulis pemecahan masalah lingkungan terpadu: Dokumen portofolio hasil penyelidikan kolaboratif mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam serta lembar jawaban tes uraian integratif yang memuat penjelasan kondisi geografis, analisis aktivitas pemicu perubahan iklim/bencana, prediksi dampaknya pada sosial-budaya-ekonomi, dan refleksi adaptasi-mitigasi SDGs
  • penilaian portofolio laporan penyelidikan kelompok: berkas laporan dokumentasi hasil pengumpulan informasi kolaboratif mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal yang dikumpulkan dan ditinjau serentak per kelompok (5-6 kelompok per kelas) (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian portofolio penyelidikan kelompok)
  • tes tertulis uraian integratif: lembar jawaban tertulis yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (28 murid) berisi uraian kondisi geografis dan konektivitas SDA, analisis studi kasus aktivitas pemicu perubahan iklim dan potensi bencana, esai prediksi dampak sosial-ekonomi-budaya, serta jurnal refleksi tertulis tindakan adaptasi-mitigasi untuk SDGs (80 menit; individual; instrumen: rubrik analitik penskoran tes uraian dan refleksi tertulis)

Sumatif:

  • Asesmen kombinasi unjuk kerja portofolio penyelidikan kelompok dan tes tertulis pemecahan masalah lingkungan terpadu: Dokumen portofolio hasil penyelidikan kolaboratif mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam serta lembar jawaban tes uraian integratif yang memuat penjelasan kondisi geografis, analisis aktivitas pemicu perubahan iklim/bencana, prediksi dampaknya pada sosial-budaya-ekonomi, dan refleksi adaptasi-mitigasi SDGs
  • penilaian portofolio laporan penyelidikan kelompok: berkas laporan dokumentasi hasil pengumpulan informasi kolaboratif mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal yang dikumpulkan dan ditinjau serentak per kelompok (5-6 kelompok per kelas) (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian portofolio penyelidikan kelompok)
  • tes tertulis uraian integratif: lembar jawaban tertulis yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (28 murid) berisi uraian kondisi geografis dan konektivitas SDA, analisis studi kasus aktivitas pemicu perubahan iklim dan potensi bencana, esai prediksi dampak sosial-ekonomi-budaya, serta jurnal refleksi tertulis tindakan adaptasi-mitigasi untuk SDGs (80 menit; individual; instrumen: rubrik analitik penskoran tes uraian dan refleksi tertulis)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Portofolio Penyelidikan Pemanfaatan SDA Lokal (TP 8.1.5)Laporan kelompok memuat data penyelidikan yang tidak lengkap (kurang dari 2 sumber informasi) dan tidak mendokumentasikan pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal secara sistematis.Laporan kelompok memuat data penyelidikan dari 2 sumber informasi mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal, namun pendokumentasian bukti pengumpulan data belum terstruktur.Laporan kelompok memuat pengumpulan informasi yang runtut dari 3 sumber informasi relevan mengenai pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal serta mendokumentasikannya dalam berkas terstruktur sesuai panduan.Laporan kelompok memuat pengumpulan informasi komprehensif lebih dari 3 sumber informasi relevan, mendokumentasikan data pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal secara sangat sistematis, akurat, dan disertai bukti verifikasi lapangan yang lengkap.
Penjelasan Kondisi Geografis dan Konektivitas Pemanfaatan SDA (TP 8.1.1 — Soal 1)Belum mampu menjelaskan pengaruh kondisi geografis kepulauan dan konektivitas antarpulau terhadap pemanfaatan potensi SDA (hanya menyebutkan 1 unsur tanpa penjelasan keterkaitan).Mampu menjelaskan kondisi geografis kepulauan, namun belum mengaitkan peran konektivitas antarruang (jalur transportasi/distribusi) terhadap pemanfaatan potensi SDA hutan/tambang secara tepat.Mampu menjelaskan hubungan antara kondisi geografis kepulauan dan konektivitas antarpulau terhadap pemanfaatan potensi SDA hutan/tambang secara tepat mencakup 2 unsur keterkaitan sesuai acuan kunci.Mampu menjelaskan secara mendalam dan terperinci keterkaitan utuh antara keberagaman kondisi geografis kepulauan, jaringan konektivitas transportasi antarruang, dan optimalisasi pemanfaatan potensi SDA hutan/tambang sesuai acuan kunci.
Penjelasan Aktivitas Manusia terhadap Iklim dan Bencana (TP 8.1.2 — Soal 2)Hanya menyebutkan 1 aktivitas manusia tanpa menjelaskan hubungannya dengan mekanisme perubahan iklim maupun potensi bencana alam.Menjelaskan faktor aktivitas manusia (misalnya emisi atau alih fungsi lahan), namun hubungan sebab-akibat terhadap perubahan iklim atau bencana alam masih kurang tepat.Menjelaskan secara tepat 2 faktor aktivitas manusia (pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi) yang memicu perubahan iklim dan memicu potensi bencana alam (banjir/longsor) sesuai acuan kunci.Menjelaskan secara komprehensif dan runtut rantai sebab-akibat dari beragam faktor aktivitas manusia terhadap kenaikan emisi gas rumah kaca, perubahan iklim, serta kerentanan potensi bencana alam di Indonesia.
Prediksi Dampak Perubahan Iklim terhadap Ekonomi, Sosial, dan Budaya (TP 8.1.3 — Soal 3)Hanya memprediksi dampak perubahan iklim pada 1 bidang kehidupan dengan argumen yang belum tepat atau keliru.Memprediksi dampak perubahan iklim secara tepat pada 2 dari 3 bidang (ekonomi, sosial, atau budaya) masyarakat.Memprediksi dampak perubahan iklim secara logis dan tepat pada ketiga bidang kehidupan masyarakat (ekonomi: gagal panen/ikan berkurang; sosial: migrasi/konflik air; budaya: perubahan pranata mangsa/kalender melaut) sesuai acuan kunci.Memprediksi dampak perubahan iklim secara mendalam, kritis, dan kontekstual pada ketiga bidang kehidupan masyarakat disertai ilustrasi relasi nyata antara aspek ekonomi, dinamika sosial, dan tradisi budaya lokal.
Refleksi Pola Adaptasi dan Mitigasi Bencana SDGs (TP 8.1.4 — Soal 4)Menuliskan tindakan lingkungan yang umum tanpa membedakan konsep pola adaptasi dan mitigasi bencana, serta tidak dikaitkan dengan SDGs.Menuliskan 1 pola adaptasi atau 1 tindakan mitigasi bencana, namun keterkaitannya dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs poin 13) belum terurai jelas.Merefleksikan secara tepat 1 pola adaptasi nyata (misal penyesuaian hunian/pola tanam) dan 1 upaya mitigasi bencana (misal penghijauan/penanaman mangrove) yang menunjang pencapaian SDGs poin 13 sesuai acuan kunci.Merefleksikan secara kritis dan personal pola adaptasi adaptif dan mitigasi bencana terstruktur di lingkungan lokal serta mengaitkan dampaknya secara sistematis terhadap pencapaian target SDGs berkelanjutan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 40 menit peninjauan portofolio dan 80 menit tes tertulis uraian integratif mencukupi bagi seluruh murid untuk menunjukkan kompetensinya secara optimal?
  • Bagaimana ketercapaian murid kelas 8 secara klasikal pada masing-masing Tujuan Pembelajaran di Bab 1 berdasarkan hasil asesmen sumatif ini?
  • Langkah tindak lanjut pembelajaran remedial atau pengayaan apa yang perlu dirancang berdasarkan pola kesalahan jawaban murid?

Murid:

  • Bagian mana dari soal tes uraian dan penyelidikan portofolio Bab 1 yang paling menantang untuk saya selesaikan?
  • Bagaimana pemahaman saya tentang kondisi alam dan perubahan iklim di Indonesia ini memengaruhi tindakan saya sehari-hari dalam melestarikan lingkungan?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial SMP Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2024)
  2. Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial SMP Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2024), Bab 1 Halaman 3-24
  3. Peta Tematik Fisik dan Persebaran Sumber Daya Alam Indonesia
  4. Lembar Analisis Spasial Konektivitas Antarruang
  5. Buku Siswa IPS Kelas VIII Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek 2024) Bab 1 Subbab Perbedaan Kondisi Wilayah dan Konektivitas Antarruang
  6. Peta Jalur Konektivitas Laut dan Distribusi Sumber Daya Maritim Indonesia
  7. Lembar Kerja Siswa 'Jelajah Arus Maritim' (3 skenario konektivitas potensi laut)
  8. Buku Panduan Guru IPS Kelas VIII Kemendikbudristek 2021
  9. Buku Teks Siswa IPS Kelas VIII Kemendikbudristek 2021 (Bab 1: Kondisi Geografis dan Pelestarian Sumber Daya Alam)
  10. Lembar Kerja Murid (LKPD) Rencana Penyelidikan Potensi SDA Lokal
  11. Kartu Profil Narasumber Simulasi Penyelidikan SDA (Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan)
  12. Buku Siswa IPS Kelas VIII Kemendikbudristek 2021 (Bab 1: Lingkungan dan Masyarakat Indonesia)
  13. Catatan dan lembar draf data mentah hasil penyelidikan lapangan dari Pertemuan 3
  14. Format Lembar Dokumentasi Penyelidikan Potensi Sumber Daya Alam Lokal
  15. Buku Siswa IPS Kelas VIII Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek 2021, Bab 2: Aktivitas Manusia Beradaptasi dengan Dampak Perubahan Iklim, hal. 88-95)
  16. Buku Panduan Guru IPS Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021, Bab 2, hal. 99-106)
  17. Set 4 Kartu Aktivitas dan 4 Kartu Emisi Gas Rumah Kaca
  18. Lembar Kerja Penjelasan Kausalitas Perubahan Iklim
  19. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VIII, Kemendikbudristek RI, 2021
  20. Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VIII, Kemendikbudristek RI, 2021 (Bab 1 / Subbab Bencana dan Perubahan Iklim)
  21. Set Kartu Sebab-Akibat 'Aktivitas Manusia & Potensi Bencana Alam'
  22. Lembar Kerja Murid (LKPD) Telaah Bencana dan Aktivitas Manusia
  23. Buku Siswa IPS Kelas VIII Kemendikbudristek 2021
  24. Set Kartu Skenario Prediksi Ekonomi Iklim (Banjir Kebun Sayur Dataran Tinggi, Suhu Laut Naik di Pesisir, Intrusi Air Laut Sawah Pesisir)
  25. Lembar Kerja Prediksi Dampak Ekonomi Masyarakat
  26. Buku Siswa IPS Kelas VIII Kemendikbudristek 2021, Bab 1 & Bab 2 (halaman 94: Kemiskinan dan Evakuasi Kawasan Permukiman)
  27. Artikel kontekstual dan lembar kasus fenomena rob pesisir Jawa Tengah dan kekeringan pertanian tadah hujan
  28. Set kartu fenomena 'Tebak Ranah Perubahan' dan Lembar Prediksi Sosial-Budaya
  29. Buku Panduan Guru IPS Kelas VIII Kemendikbudristek
  30. Buku Siswa IPS Kelas VIII Kemendikbudristek
  31. Lembar Kerja Studi Kasus Adaptasi, Mitigasi, dan SDGs
  32. Kartu Skenario Tantangan Iklim
  33. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2024
  34. Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2024
  35. Lembar Soal Asesmen Sumatif Bab 1 dan Lembar Portofolio Penyelidikan Murid
  36. Peta Tematik Indonesia (Sumber Daya Alam dan Kerentanan Iklim)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.