Modul AjarBab 2Fase DSemester 1

Modul Ajar IPS Kelas 7 Bab 2: Keberagaman Lingkungan Sekitar

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian IPS kelas 7 untuk Bab 2 "Keberagaman Lingkungan Sekitar", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar IPS Kelas 7 Bab 2: Keberagaman Lingkungan Sekitar

IPS - Kelas 7

Bab 2

MODUL AJAR

IPS — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Bab 2 — Keberagaman Lingkungan Sekitar

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranIPS
Fase / KelasFase D / Kelas 7
TopikBab 2 — Keberagaman Lingkungan Sekitar
Alokasi Waktu27 JP (27 x 40 menit = 1080 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 7.2.1 Menjelaskan dinamika sosial dan perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat yang majemuk untuk mewujudkan integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan
  2. TP 7.2.2 Menganalisis keterhubungan antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang terkait asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia
  3. TP 7.2.3 Merefleksikan pola adaptasi terhadap perubahan iklim dan upaya mitigasi bencana untuk menunjang sustainable development goals (SDGs) dalam konteks lokal
  4. TP 7.2.4 Mengamati fenomena dan peristiwa lingkungan sekitar secara sistematis dengan menggunakan pancaindra
  5. TP 7.2.5 Menemukan persamaan dan perbedaan fenomena dan peristiwa lingkungan sekitar hasil pengamatan
  6. TP 7.2.6 Mengomunikasikan hasil penyelidikan tentang upaya menunjang sustainable development goals (SDGs) dengan menggunakan media informasi yang tepat

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana cara kita membuktikan suatu peristiwa di lingkungan sekolah benar-benar terjadi hanya dengan mengandalkan pancaindra kita?
  2. Mengapa dalam mencatat hasil pengamatan lingkungan, kita perlu memisahkan antara apa yang ditangkap oleh mata/telinga dengan apa yang hanya kita duga?
  3. Ketika mengamati dua tempat yang berbeda di sekitar kita (misalnya area taman sekolah dan area tempat parkir), hal apa saja yang tampak sama di kedua tempat tersebut?
  4. Apa perbedaan paling mencolok dari kondisi fisik maupun aktivitas di kedua lingkungan sekitar tersebut yang dapat kita temukan?
  5. Mengapa kehidupan masyarakat selalu mengalami perubahan dan tidak pernah benar-benar berhenti?
  6. Bagaimana keberagaman latar belakang suku, agama, dan budaya di sekitar kita tetap dapat bersatu dan tidak terpecah belah ketika terjadi perubahan sosial?
  7. Mengapa cara hidup, busana, atau bahasa pergaulan masyarakat di sekitar kita terus berganti seiring berjalannya waktu?
  8. Bagaimana masyarakat yang majemuk tetap bersatu ketika budaya luar atau kebiasaan baru masuk dalam kehidupan kita?
  9. Mengapa masyarakat di berbagai pulau Indonesia memiliki kesamaan tradisi maritim, bentuk perahu, dan motif gerabah?
  10. Bagaimana kehidupan migrasi penutur Austronesia di masa lampau memengaruhi keragaman bahasa dan budaya kita pada masa kini?
  11. Bagaimana jejak budaya dan fisik nenek moyang bangsa Indonesia yang beragam masih tampak jelas dalam kehidupan kita masa kini?
  12. Jika keragaman asal-usul nenek moyang tidak dijaga dan disikapi dengan bijak, apa dampaknya bagi keutuhan bangsa Indonesia di masa mendatang?
  13. Apa perbedaan mendasar antara cara kita menyesuaikan diri saat musim berubah (adaptasi) dengan tindakan mencegah agar bencana alam tidak bertambah parah (mitigasi)?
  14. Bagaimana tindakan warga di sekitar tempat tinggal kita dalam menghadapi banjir atau kekeringan mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs)?
  15. Bagaimana cara kita menyampaikan ide aksi nyata penyelamatan lingkungan agar masyarakat sekitar mudah paham dan tergerak?
  16. Pilihan media informasi apa yang paling tepat untuk mengomunikasikan hasil penyelidikan SDGs kepada warga sekolah?
  17. Bagaimana pengamatan langsung terhadap lingkungan membantu kita memahami keterkaitan kondisi alam, sejarah leluhur, dan dinamika sosial masyarakat?
  18. Mengapa penyelidikan dan komunikasi aksi nyata terkait SDGs sangat penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan lokal kita?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengamati Fenomena dan Peristiwa Lingkungan Sekitar secara Sistematis dengan Pancaindra — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.4 Mengamati fenomena dan peristiwa lingkungan sekitar secara sistematis dengan menggunakan pancaindra

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu melatih keterampilan mengamati fenomena dan peristiwa lingkungan sekitar secara sistematis dengan menggunakan pancaindra (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid membaca 4 pernyataan hasil pengamatan pada papan tulis lalu menentukan pancaindra yang digunakan untuk memverifikasi pernyataan tersebut: (1) Asap pembakaran sampah berwarna putih keabu-abuan mengepul di halaman; (2) Suara gemercik air selokan terdengar deras setelah hujan; (3) Daun tanaman lidah buaya terasa berlendir dan licin saat dipegang; (4) Bau menyengat tercium dari tumpukan sampah basah (acuan jawaban: 1 = penglihatan/mata, 2 = pendengaran/telinga, 3 = peraba/kulit, 4 = penciuman/hidung) (10 menit).
  • Guru menyampaikan pentingnya melakukan pengamatan secara sistematis dan objektif menggunakan pancaindra sebelum membuat kesimpulan atau opini terhadap fenomena lingkungan sekitar (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai format tabel observasi sistematis pancaindra yang mencakup 4 aspek: objek fenomena/peristiwa yang diamati, lokasi/waktu, rincian fakta pancaindra (apa yang dilihat, didengar, diraba, dan/atau dibaui), serta pemisahan fakta indrawi dari opini/asumsi pribadi (15 menit).
  • Murid mengikuti permainan cepat 'Detektif Indrawi' di dalam kelas: guru membunyikan ketukan meja, memperlihatkan sekilas wadah berembun dingin, menyemprotkan aroma daun jeruk, dan menunjukkan foto halaman sekolah yang berdebu; murid secara berpasangan menebak fakta indrawi yang dirasakan secara tepat tanpa mencampurkan opini (15 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Observasi Lapangan Sistematis dan mendengarkan instruksi alur observasi lingkungan sekolah (area kantin, selokan, dan taman sekolah) untuk mencatat fenomena atau peristiwa lingkungan secara nyata (10 menit).
  • Murid melakukan pengamatan langsung di area lingkungan sekolah secara tertib dan mandiri, mengisi lembar observasi dengan mencatat minimal 3 fenomena/peristiwa lingkungan nyata berdasarkan pancaindra (penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perabaan) secara sistematis (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid kembali ke kelas, membaca ulang lembar observasi masing-masing, lalu memeriksa secara cermat apakah setiap catatan pengamatan yang ditulis benar-benar merupakan fakta yang ditangkap pancaindra atau masih memuat dugaan/opini pribadi (15 menit).
  • Dua orang murid membacakan catatan data fakta pancaindra mereka secara langsung, sementara murid lain mengonfirmasi apakah catatan tersebut murni hasil observasi pancaindra yang sistematis (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap keterampilan observasi sistematis menggunakan pancaindra dan meminta murid mengumpulkan lembar observasi sebagai bukti belajar (10 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan menyampaikan bahwa data hasil pengamatan hari ini akan digunakan pada pertemuan berikutnya untuk membandingkan persamaan dan perbedaannya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa daftar periksa kata sifat indrawi konkret (misal: warna, bentuk, volume suara, jenis aroma), sedangkan murid yang cepat diberikan lembar observasi terbuka dengan kolom pencatatan yang lebih rinci mencakup variasi waktu jeda fenomena.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan melakukan observasi dengan jarak pantau guru di area taman utama, sedangkan murid yang mandiri mengamati fenomena di area selokan dan kantin sekolah secara mandiri.
  • Produk: Seluruh murid mengumpulkan lembar observasi dengan format tabel yang sama, di mana ketercapaian dinilai dari kelengkapan dan ketepatan pemisahan fakta pancaindra dari opini.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji kesiapan mengidentifikasi pancaindra terhadap 4 data fenomena lingkungan sekitar: (1) Asap pembakaran sampah berwarna putih keabu-abuan mengepul di halaman; (2) Suara gemercik air selokan terdengar deras setelah hujan; (3) Daun tanaman lidah buaya terasa berlendir dan licin saat dipegang; (4) Bau menyengat tercium dari tumpukan sampah basah (kunci acuan: butir 1 = indra penglihatan/mata; butir 2 = indra pendengaran/telinga; butir 3 = indra peraba/kulit; butir 4 = indra penciuman/hidung). Kriteria: murid yang menjawab benar minimal 3 butir siap melakukan observasi mandiri; murid dengan jawaban benar di bawah 3 butir diberikan penguatan awal oleh guru.

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja observasi murid saat melakukan pengamatan di lingkungan sekolah dengan kriteria: (1) Mencatat minimal 3 fenomena/peristiwa konkret di lingkungan sekolah (taman, kantin, atau selokan); (2) Memuat minimal 3 saluran pancaindra berbeda (penglihatan, pendengaran, penciuman, dan/atau perabaan); (3) Seluruh catatan berisi fakta konkret hasil tangkapan indra tanpa memuat interpretasi/opini subjektif (acuan contoh fakta diterima: 'permukaan daun berdebu kasar', 'terdengar bunyi dengung kipas angin kantin', 'tercium aroma sisa makanan basi'; acuan ditolak/opini: 'lingkungan sekolah kotor sekali', 'penjual kantin malas membersihkan').

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir melalui pemilahan 3 catatan hasil observasi: murid menentukan apakah catatan merupakan fakta pancaindra atau opini: (1) 'Air selokan berwarna hitam pekat dan mengeluarkan gelembung'; (2) 'Sampah plastik di bawah pohon membuat sekolah tampak tidak berbudaya'; (3) 'Kulit pohon trembesi terasa kasar dan kering saat disentuh' (acuan jawaban: butir 1 = fakta indrawi; butir 2 = opini/asumsi; butir 3 = fakta indrawi). Kriteria ketercapaian: murid tepat menentukan minimal 2 dari 3 butir.

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengamatan lingkungan menggunakan rubrik observasi sistematis pancaindra pada lembar kerja observasi murid.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Sistematika dan Kelengkapan Pengamatan PancaindraMencatat kurang dari 2 fenomena lingkungan dan hanya menggunakan 1 saluran pancaindra dalam pencatatan.Mencatat 2 fenomena lingkungan dengan menggunakan 2 saluran pancaindra yang sesuai.Mencatat minimal 3 fenomena lingkungan sekitar secara terstruktur menggunakan minimal 3 saluran pancaindra berbeda.Mencatat minimal 3 fenomena lingkungan sekitar secara runtut dan terstruktur mencakup 4 saluran pancaindra (penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman) secara mandiri.
Ketepatan Pemisahan Fakta Indrawi dari OpiniCatatan pengamatan masih didominasi oleh opini/asumsi pribadi (lebih dari separuh catatan bukan data indrawi).Sebagian catatan (1-2 butir) masih memuat opini/asumsi pribadi yang bercampur dengan data indrawi.Seluruh catatan hasil pengamatan memuat data fakta konkret yang ditangkap pancaindra tanpa memuat opini subjektif.Seluruh catatan hasil pengamatan memuat deskripsi fakta konkret pancaindra yang sangat presisi, bebas dari opini, dan dapat diverifikasi ulang secara konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 35 menit untuk observasi langsung di area sekolah mencukupi bagi murid untuk menemukan fenomena secara sistematis?
  • Apakah murid sudah mampu secara mandiri membedakan antara fakta hasil tangkapan pancaindra murni dengan dugaan/opini pribadi saat mengamati lingkungan?

Murid:

  • Bagian mana dari pengamatan pancaindra hari ini yang paling menantang bagimu, apakah menangkap suara, aroma, tekstur, atau bentuk visual?
  • Apakah kamu masih tergoda untuk menuliskan penilaian pribadi (seperti 'bagus' atau 'kotor') alih-alih mencatat fakta yang kamu lihat atau raba secara langsung?

Pertemuan 2 — Menemukan Persamaan dan Perbedaan Fenomena dan Peristiwa Lingkungan Sekitar — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.5 Menemukan persamaan dan perbedaan fenomena dan peristiwa lingkungan sekitar hasil pengamatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menemukan persamaan dan perbedaan dari fenomena serta peristiwa lingkungan sekitar hasil pengamatan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid diminta menjawab secara lisan perbandingan cepat antara dua fenomena di kelas: 'Buku tulis dan lembaran kertas folio: sebutkan 1 persamaannya dan 1 perbedaannya!' (Acuan jawaban: Persamaan: sama-sama media dari kertas untuk menulis; Perbedaan: buku tulis dijilid/bersampul, kertas folio berupa lembaran lepas bergaris) untuk memetakan kesiapan murid dalam membandingkan objek (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menyajikan dua teks deskripsi hasil pengamatan lingkungan: Teks A (Kondisi drainase/saluran air di halaman depan sekolah yang mengalir lancar dengan sedikit endapan daun) dan Teks B (Kondisi saluran air di belakang kantin sekolah yang tersumbat limbah plastik dan airnya menggenang keruh) (10 menit).
  • Guru mendemonstrasikan cara menemukan persamaan dan perbedaan menggunakan Diagram Venn sederhana pada papan tulis, fokus pada aspek wujud fenomena, material yang tampak, dan kondisi aliran air (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok berpasangan untuk memainkan tantangan detektif lingkungan 'Cari Samanya, Temukan Bedanya' (permainan membandingkan kartu fenomena lingkungan) (10 menit).
  • Setiap pasangan menerima Lembar Kerja yang memuat data hasil pengamatan dua fenomena lingkungan nyata: Fenomena 1 (Kondisi Taman Terbuka Hijau Sekolah: berumput, tanah gembur, banyak serangga, sejuk saat terik) dan Fenomena 2 (Kondisi Lapangan Semen/Aspal Sekolah: berlantai keras, tidak ada tanaman, suhu panas menyengat, air langsung melimpas saat hujan) (25 menit).
  • Secara berkolaborasi, murid menemukan dan mencatatkan minimal 2 persamaan dan 3 perbedaan dari kedua fenomena tersebut ke dalam tabel perbandingan yang tersedia pada Lembar Kerja (acuan persamaan: sama-sama area terbuka di lingkungan sekolah, sama-sama terpapar langsung sinar matahari dan air hujan; acuan perbedaan: jenis penutup permukaan tanah bertanaman vs semen, suhu permukaan sejuk vs panas menyengat, penyerapan air meresap ke tanah vs melimpas di permukaan) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara berpasangan saling menukarkan hasil lembar kerjanya dengan pasangan di sebelahnya untuk saling mencocokkan kelengkapan persamaan dan perbedaan yang ditemukan berdasarkan lembar panduan cek (15 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali cara sistematis menemukan persamaan dan perbedaan fenomena lingkungan sekitar dengan melihat aspek fisik, fungsi, dan peristiwa yang terjadi (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan dan menutup pertemuan dengan doa serta salam tanpa memberikan tugas rumah atau menutup materi bab (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks deskripsi fenomena yang memuat penanda kata kunci (misal dicetak tebal untuk kata 'tanah gembur', 'semen keras'). Murid yang berpencapaian tinggi diberikan teks pengamatan fenomena lingkungan yang lebih kompleks dengan variasi peristiwa interaksi manusia di dalamnya.
  • Proses: Guru memberikan perancah (scaffolding) berupa pertanyaan penuntun (misal: 'Bagaimana penutup permukaannya? Bagaimana suhunya?') bagi pasangan yang kesulitan memisahkan persamaan dan perbedaan. Murid yang mahir bekerja secara mandiri menemukan persamaan dan perbedaan secara menyeluruh.
  • Produk: Format penyajian temuan persamaan dan perbedaan dapat dipilih antara menggunakan diagram Venn atau tabel perbandingan dua kolom.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan membandingkan dua benda di sekitar: 'Buku tulis dan lembaran kertas folio: sebutkan 1 persamaannya dan 1 perbedaannya!' (Acuan jawaban: Persamaan: sama-sama media dari kertas untuk menulis; Perbedaan: buku tulis dijilid/bersampul, kertas folio berupa lembaran lepas bergaris). Kriteria: Murid siap jika mampu menyebutkan 1 persamaan dan 1 perbedaan secara tepat.

Proses:

  • Pemeriksaan pengisian tabel Lembar Kerja berpasangan: Menemukan persamaan dan perbedaan Fenomena 1 (Taman Hijau) dan Fenomena 2 (Lapangan Semen). Acuan target: (a) Minimal 2 persamaan tepat: sama-sama ruang terbuka di sekolah; sama-sama terpapar langsung cuaca/sinar matahari/hujan; (b) Minimal 3 perbedaan tepat: permukaan bertanaman vs berlantai keras semen; suhu sejuk vs panas menyengat; air menyerap ke tanah vs melimpas di permukaan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat di akhir sesi melalui 1 butir pertanyaan tertulis singkat: Diberikan dua fenomena: (A) Sampah daun kering di bawah pohon dan (B) Sampah kantong kresek di selokan. Tuliskan 1 persamaan dan 1 perbedaan dari kedua fenomena tersebut! (Acuan: Persamaan: sama-sama benda sisa/buangan yang berada di lingkungan; Perbedaan: sampah daun adalah bahan organik yang mudah terurai, sedangkan kresek adalah sampah anorganik/plastik yang sulit terurai).

Formatif:

  • Penilaian kinerja berupa pemeriksaan Lembar Kerja 'Menemukan Persamaan dan Perbedaan Fenomena Lingkungan Sekitar' berdasarkan daftar acuan persamaan dan perbedaan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menemukan Persamaan Fenomena Lingkungan SekitarBelum mampu menemukan persamaan fenomena lingkungan sekitar hasil pengamatan sesuai acuan.Menemukan 1 persamaan fenomena lingkungan sekitar hasil pengamatan sesuai daftar acuan dengan bimbingan guru.Menemukan 2 persamaan fenomena lingkungan sekitar hasil pengamatan sesuai daftar acuan secara tepat.Menemukan lebih dari 2 persamaan fenomena lingkungan sekitar hasil pengamatan sesuai daftar acuan secara mandiri dan rinci.
Menemukan Perbedaan Fenomena Lingkungan SekitarBelum mampu menemukan perbedaan fenomena lingkungan sekitar hasil pengamatan sesuai acuan.Menemukan 1-2 perbedaan fenomena lingkungan sekitar hasil pengamatan sesuai daftar acuan dengan bimbingan guru.Menemukan 3 perbedaan fenomena lingkungan sekitar hasil pengamatan sesuai daftar acuan secara tepat.Menemukan lebih dari 3 perbedaan fenomena lingkungan sekitar hasil pengamatan sesuai daftar acuan secara mandiri dan rinci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah strategi perbandingan berpasangan dan diagram Venn membantu murid menemukan persamaan dan perbedaan fenomena lingkungan secara konkret?
  • Apakah data deskripsi fenomena lingkungan yang disediakan sudah cukup mudah dipahami dan diamati karakteristiknya oleh seluruh murid?

Murid:

  • Bagian mana yang terasa paling mudah: menemukan persamaannya atau menemukan perbedaannya dari dua fenomena yang diamati?
  • Langkah apa yang paling membantuku dalam mengenali perbedaan kondisi fisik di lingkungan sekitar?

Pertemuan 3 — Menjelaskan Dinamika Sosial dalam Masyarakat Majemuk untuk Mewujudkan Integrasi Bangsa — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.1 Menjelaskan dinamika sosial dan perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat yang majemuk untuk mewujudkan integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan dinamika sosial dalam masyarakat majemuk untuk mewujudkan integrasi bangsa berdasarkan prinsip kebhinekaan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk memetakan kesiapan murid terkait konsep dinamika sosial dengan mengajukan dua pertanyaan diagnostik: (1) 'Apa arti kata dinamis dalam kehidupan bermasyarakat?' (acuan jawaban: selalu bergerak/berubah dan berkembang, tidak diam/statis); (2) 'Sebutkan 1 contoh perubahan sosial di lingkungan sekitar!' (acuan kriteria jawaban: murid menyebutkan contoh konkret perubahan perilaku, kebiasaan, pekerjaan, atau teknologi dalam masyarakat seperti migrasi desa-kota atau penggunaan gawai) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati pemaparan guru dan membaca teks pada Buku Siswa halaman 74-75 mengenai pengertian dinamika sosial (perubahan dalam masyarakat yang bersifat dinamis), faktor pendorong internal (pertambahan/pengurangan penduduk, konflik, penemuan baru) dan eksternal (bencana alam, interaksi dengan kebudayaan lain), serta bentuk interaksi antarkelompok majemuk (difusi, akulturasi, dan asimilasi) (15 menit).
  • Guru mengadakan aktivitas interaktif 'Tantangan Tebak Faktor Dinamika' secara berpasangan: setiap pasangan diberikan 4 kartu kasus dan diminta menentukan faktor penyebabnya: Kartu 1: 'Warga desa pindah ke kota mencari kerja di pabrik' (kunci: faktor internal - dinamika kependudukan/mata pencarian); Kartu 2: 'Masyarakat membangun kembali permukiman setelah terdampak gempa bumi' (kunci: faktor eksternal - bencana alam); Kartu 3: 'Masuknya musik luar yang dipadukan dengan alat musik tradisional' (kunci: faktor eksternal - interaksi kebudayaan lain/akulturasi); Kartu 4: 'Perubahan status ibu rumah tangga yang mulai bekerja menjadi pegawai kantor' (kunci: faktor internal - dinamika peran sosial) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (4-5 orang) menggunakan metode undian roda putar (spin wheel) atau berhitung agar tercipta suasana ceria dan dinamis (5 menit).
  • Setiap kelompok menerima lembar kasus dinamika sosial masyarakat majemuk berikut: 'Sebuah wilayah perkotaan menerima perpindahan penduduk dari berbagai suku dan latar belakang budaya yang berbeda. Penduduk lama dan penduduk pendatang saling berinteraksi di pasar, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal.' Setiap kelompok menelaah 3 tugas telaah terstruktur pada lembar kerja: (1) Menjelaskan faktor dinamika sosial pada kasus tersebut (kunci: faktor internal kependudukan/migrasi dan faktor interaksi kebudayaan); (2) Menjelaskan bentuk dinamika yang dapat terjadi (kunci: akulturasi/kerjasama/difusi kebiasaan); (3) Menjelaskan peran prinsip kebhinekaan dalam mencegah konflik antarkelompok majemuk demi menjaga integrasi bangsa (kunci: saling menghormati perbedaan suku/budaya, mengutamakan toleransi, musyawarah bersama, dan menerima keberagaman sebagai kekayaan bangsa) (15 menit).
  • Masing-masing kelompok secara bergantian menyampaikan penjelasan hasil diskusinya di meja kelompok (metode gallery walk / kunjung karya sederhana), di mana kelompok lain memberikan tanda centang pada lembar verifikasi bila ketiga unsur penjelasan telah terpenuhi (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara mandiri menyusun paragraf kesimpulan reflektif singkat di buku catatan untuk menjelaskan mengapa penerimaan terhadap keragaman suku dan budaya (kebhinekaan) mutlak dibutuhkan agar dinamika sosial tidak menimbulkan perpecahan melainkan memperkokoh integrasi bangsa (15 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap penjelasan murid mengenai hubungan dinamika sosial, kemajemukan masyarakat, dan prinsip kebhinekaan dalam mewujudkan persatuan bangsa (10 menit).
  • Guru memfasilitasi pelaksanaan asesmen akhir (cek pemahaman mandiri) dan menutup pertemuan dengan doa bersama serta salam (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu kata kunci konsep (faktor internal, eksternal, akulturasi, integrasi) beserta definisinya, sedangkan murid yang mandiri/mahir diberikan variasi kasus kemajemukan yang lebih kompleks (misalnya kasus akulturasi kuliner atau tradisi gotong royong warga lintas agama).
  • Proses: Pada tahap diskusi kelompok, kelompok yang masih kesulitan diberikan panduan perancah berupa pertanyaan pembimbing langkah demi langkah oleh guru, sedangkan kelompok mahir langsung mengelaborasi hubungan sebab-akibat dinamika sosial secara mandiri.
  • Produk: Penjelasan dinamika sosial pada lembar kerja dapat dituangkan dalam bentuk bagan alur sebab-akibat atau paragraf penjelasan tertulis sesuai kenyamanan kerja kelompok, dengan muatan indikator penjelasan yang setara.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Apa yang dimaksud dengan kondisi dinamis dalam masyarakat?' (Kunci/acuan: masyarakat yang selalu bergerak, berkembang, dan berubah; tidak tetap/statis).
  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Sebutkan 1 contoh nyata perubahan sosial di lingkungan sekitar tempat tinggalmu!' (Kriteria penerimaan: murid mampu menyebutkan satu peristiwa perubahan pola hidup, pekerjaan, atau teknologi yang mengubah kebiasaan masyarakat, seperti peralihan berbelanja ke toko daring atau perpindahan warga antardaerah).

Proses:

  • Observasi ketepatan murid dalam mencocokkan 4 kartu kasus dengan faktor pendorong dinamika sosial pada aktivitas tebak kartu berpasangan.
  • Pemeriksaan lembar telaah kelompok dengan kriteria penilaian: (1) ketepatan menjelaskan faktor pendorong dinamika sosial (skor maksimal 30), (2) ketepatan menjelaskan bentuk interaksi/perubahan dalam kemajemukan (skor maksimal 30), dan (3) ketepatan menjelaskan cara prinsip kebhinekaan mewujudkan integrasi bangsa (skor maksimal 40).

Akhir Pertemuan:

  • Tugas cek pemahaman mandiri tertulis: Murid menjawab 2 butir soal: Soal 1: 'Jelaskan 2 faktor penyebab terjadinya dinamika sosial dalam masyarakat!' (Acuan kunci: Faktor internal seperti penambahan/pengurangan penduduk atau konflik sosial; Faktor eksternal seperti bencana alam atau interaksi dengan budaya luar). Soal 2: 'Jelaskan mengapa prinsip kebhinekaan penting dalam menjaga integrasi bangsa saat terjadi dinamika sosial di masyarakat yang majemuk!' (Acuan kunci: Prinsip kebhinekaan menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghargai perbedaan latar belakang suku, agama, dan budaya, sehingga perubahan dan dinamika sosial antarkelompok majemuk tidak menimbulkan konflik disintegrasi melainkan memperkuat persatuan).

Formatif:

  • Asesmen awal berupa tanya jawab diagnostik pemahaman kata dinamis dan contoh perubahan sosial
  • Observasi formatif selama aktivitas tebak kartu faktor dinamika sosial
  • Penilaian lembar kerja kelompok telaah dinamika sosial masyarakat majemuk
  • Cek pemahaman tertulis di akhir pembelajaran

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan dinamika sosial dalam masyarakat majemukBelum mampu menjelaskan pengertian dan faktor pendorong dinamika sosial dalam masyarakat majemuk.Mampu menjelaskan pengertian dinamika sosial namun belum tepat menjelaskan faktor pendorong terjadinya dinamika dalam masyarakat majemuk.Mampu menjelaskan pengertian dinamika sosial dan menyebutkan faktor internal maupun eksternal pendorong dinamika dalam masyarakat majemuk secara tepat.Mampu menjelaskan pengertian, faktor internal dan eksternal, serta menguraikan bentuk-bentuk proses interaksi dinamika sosial (seperti difusi dan akulturasi) dalam masyarakat majemuk secara komprehensif dan tepat.
Penjelasan peran prinsip kebhinekaan dalam mewujudkan integrasi bangsaBelum mampu menjelaskan hubungan antara prinsip kebhinekaan dengan perwujudan integrasi bangsa.Mampu menjelaskan arti kebhinekaan namun belum mampu mengaitkannya dengan upaya mewujudkan integrasi bangsa di tengah dinamika sosial.Mampu menjelaskan peran prinsip kebhinekaan (toleransi dan penghargaan atas perbedaan) dalam menjaga integrasi bangsa di tengah masyarakat majemuk secara tepat.Mampu menjelaskan secara mendalam peran prinsip kebhinekaan dalam meredam potensi konflik dinamika sosial serta memberikan penjelasan konkret keterkaitannya dengan integrasi bangsa secara terperinci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemilihan media kartu kasus dan lembar telaah kasus berhasil memfasilitasi murid memahami konsep dinamika sosial secara konkret?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam menjelaskan keterkaitan kebhinekaan dengan integrasi bangsa selama kegiatan inti berlangsung?
  • Bagian penjelasan mana yang masih membutuhkan perancah (scaffolding) tambahan bagi murid yang belum berkembang?

Murid:

  • Apa hal baru yang saya pahami tentang alasan masyarakat selalu berubah dan mengalami dinamika sosial?
  • Mengapa penting bagi saya dan masyarakat untuk memegang prinsip kebhinekaan saat menghadapi perbedaan di lingkungan sekitar?
  • Langkah apa yang dapat saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mendukung integrasi di lingkungan yang majemuk?

Pertemuan 4 — Menjelaskan Perubahan Sistem Sosial Budaya dalam Prinsip Kebhinekaan — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.1 Menjelaskan dinamika sosial dan perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat yang majemuk untuk mewujudkan integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai perubahan sistem sosial budaya dalam bingkai kebhinekaan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat melalui kuis lisan 3 butir cepat terkait pemahaman konsep perubahan sosial dan keberagaman masyarakat (acuan: butir 1 perubahan sosial adalah pergeseran cara hidup/nilai/perilaku masyarakat; butir 2 masyarakat majemuk adalah masyarakat dengan keragaman suku/budaya/agama; butir 3 sikap menghadapi perubahan adalah saling menghargai/toleransi) (10 menit).
  • Guru mengaitkan jawaban murid dengan prinsip kebhinekaan serta menjelaskan alur aktivitas yang akan dilakukan hari ini (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati tayangan/teks studi kasus mengenai fenomena modernisasi musik dan busana pop global yang berinteraksi dengan seni tradisi lokal dalam masyarakat majemuk (15 menit).
  • Murid menjawab 3 pertanyaan panduan guru secara terstruktur: (1) Bentuk perubahan apa yang terjadi? (2) Mengapa kebhinekaan menjadi pedoman penting dalam menyaring perubahan tersebut? (3) Bagaimana perubahan itu dapat memperkuat atau justru mengancam integrasi bangsa? (acuan: jawaban mengaitkan masuknya unsur baru dengan penerimaan yang selektif tanpa menghilangkan jati diri budaya lokal demi integrasi sosial) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagikan Lembar Kerja 'Teka-Teki Perubahan Budaya' sebagai aktivitas berpasangan yang menantang dan menyenangkan, di mana murid memasangkan 4 kartu skenario perubahan sosial budaya dengan prinsip kebhinekaan yang tepat: Skenario 1 (Festival kuliner tradisional modifikasi kue lupis keju), Skenario 2 (Penggunaan bahasa daerah dipadu bahasa nasional di medsos), Skenario 3 (Tari kreasi nusantara bernuansa modern pada perayaan kemerdekaan), Skenario 4 (Gotong royong berbasis aplikasi warga di perumahan multietnis) (acuan kunci pasangan: Skenario 1 -> Akulturasi kuliner menjaga kebhinekaan; Skenario 2 -> Integrasi komunikasi tanpa diskriminasi; Skenario 3 -> Harmonisasi seni majemuk; Skenario 4 -> Adaptasi teknologi dalam kohesi sosial) (20 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan penjelasan tertulis berisi analisis 1 contoh perubahan sosial budaya di lingkungan sekitar tempat tinggal dan menjelaskan bagaimana penerapan prinsip kebhinekaan dapat menjaga kerukunan serta integrasi bangsa terhadap perubahan tersebut (kriteria penerimaan: penjelasan memuat wujud perubahan nyata, dampak pada keragaman sosial, serta cara mempertahankan persatuan dengan sikap menghargai perbedaan) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membandingkan hasil analisis tertulisnya bersama rekan sebangku untuk memeriksa kelengkapan penjelasan terkait konsep perubahan dan prinsip kebhinekaan (15 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan inti materi bahwa perubahan sistem sosial budaya adalah keniscayaan, dan prinsip kebhinekaan berfungsi sebagai perekat integrasi bangsa dalam masyarakat majemuk (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian belajar hari ini serta menginformasikan pokok bahasan untuk pertemuan berikutnya tanpa menutup bab (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar bantu pemandu kata kunci (difusi, akulturasi, asimilasi, kebhinekaan) bagi murid yang memerlukan bimbingan, serta menyediakan artikel kasus perubahan sosial budaya yang lebih kompleks bagi murid cepat.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan terstruktur langkah demi langkah saat mengidentifikasi wujud perubahan, sedangkan murid yang cepat diarahkan menganalisis dampak jangka panjang perubahan terhadap kerukunan multikultural.
  • Produk: Murid dapat memilih menyajikan penjelasan tertulis dalam bentuk uraian paragraf analisis atau format tabel pemetaan konsep yang memuat unsur perubahan sosial budaya dan integrasi kebhinekaan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 1. Apa yang dimaksud dengan perubahan sosial budaya? (acuan: pergeseran norma, pola perilaku, teknologi, atau kebiasaan dalam masyarakat); 2. Mengapa masyarakat Indonesia disebut masyarakat majemuk? (acuan: terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan adat istiadat); 3. Apa yang harus kita lakukan jika ada budaya baru masuk ke lingkungan kita? (acuan: bersikap terbuka dan selektif dengan tetap menghormati nilai luhur serta perbedaan)

Proses:

  • Lembar Kerja Teka-Teki Skenario Perubahan Sosial Budaya (4 butir kartu skenario: Skenario 1 kue lupis keju, Skenario 2 bahasa daerah dipadu bahasa nasional, Skenario 3 tari kreasi modern nusantara, Skenario 4 gotong royong via aplikasi warga; acuan: ketepatan memasangkan keempat skenario dengan prinsip integrasi kebhinekaan)
  • Tugas analisis tertulis: Menjelaskan 1 contoh konkret perubahan sistem sosial budaya di lingkungan sekitar serta menjelaskan bagaimana prinsip kebhinekaan menjaga integrasi bangsa (kriteria penerimaan: penjelasan memuat wujud perubahan konkret, identifikasi kondisi kemajemukan masyarakat yang terdampak, serta langkah penerapan prinsip kebhinekaan dalam mempertahankan kerukunan/integrasi)

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman 1 butir tertulis di akhir sesi: 'Jelaskan mengapa perubahan sosial budaya tidak boleh merusak persatuan dalam masyarakat majemuk!' (acuan: karena jika perubahan dihadapi dengan eksklusivisme atau penolakan membabi buta terhadap kelompok lain, dapat timbul konflik horizontal, sehingga prinsip kebhinekaan diperlukan untuk menerima keragaman dan mempererat integrasi bangsa)

Formatif:

  • Kuis lisan diagnostik di awal pembelajaran
  • Observasi pengerjaan teka-teki berpasangan skenario perubahan sosial budaya
  • Penilaian tugas tertulis penjelasan perubahan sosial budaya dan prinsip kebhinekaan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat majemukBelum mampu menjelaskan wujud perubahan sistem sosial budaya atau hanya menyebutkan kata perubahan tanpa contoh konkret.Mampu menyebutkan wujud perubahan sistem sosial budaya di lingkungan sekitar, namun penjelasannya belum mengaitkan dengan kondisi masyarakat majemuk.Mampu menjelaskan wujud perubahan sistem sosial budaya di lingkungan sekitar serta mengaitkannya secara tepat dengan kondisi masyarakat majemuk.Mampu menjelaskan wujud perubahan sistem sosial budaya secara runtut, mendalam, dan kontekstual pada masyarakat majemuk secara mandiri.
Menjelaskan peran prinsip kebhinekaan dalam mewujudkan integrasi bangsaBelum mampu menjelaskan keterkaitan prinsip kebhinekaan dengan upaya mewujudkan integrasi bangsa di tengah perubahan sosial.Menjelaskan prinsip kebhinekaan sebatas saling menghormati, namun belum menguraikan perannya dalam menjaga integrasi bangsa saat menghadapi perubahan.Mampu menjelaskan peran prinsip kebhinekaan dalam menjaga keharmonisan dan integrasi bangsa di tengah dinamika perubahan sosial budaya secara tepat.Mampu menjelaskan secara komprehensif bagaimana prinsip kebhinekaan menjadi pedoman integrasi bangsa dalam menghadapi perubahan sosial budaya beserta contoh tindakan nyata.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur kegiatan pembelajaran berhasil membantu murid memahami keterkaitan antara perubahan sosial budaya dan integrasi bangsa?
  • Bagaimana keterlibatan murid saat melaksanakan aktivitas berpasangan teka-teki skenario perubahan sosial?
  • Apakah diferensiasi yang disediakan mampu memfasilitasi kebutuhan belajar murid yang membutuhkan bimbingan maupun yang cepat?

Murid:

  • Apa contoh perubahan sosial budaya di sekitarmu yang paling mudah kamu pahami hari ini?
  • Mengapa penting bagi kita untuk berpegang pada prinsip kebhinekaan saat menghadapi hal-hal baru di masyarakat?
  • Bagian mana dari kegiatan hari ini yang paling menarik dan membantumu belajar?

Pertemuan 5 — Menganalisis Keterhubungan Masa Lampau dan Masa Kini terkait Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.2 Menganalisis keterhubungan antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang terkait asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi kesiapan belajar murid (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan tertulis: (1) 'Apakah nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari satu daerah asal atau terjadi migrasi bergelombang?'; (2) 'Sebutkan 1 bukti budaya masa lampau yang masih bisa kita jumpai pada masa kini!' Murid menuliskan jawaban singkat pada lembar catatan (acuan jawaban: 1 = terjadi migrasi bertahap/bergelombang dari rumpun Austronesia dan Austroasiatik/teori Out of Taiwan atau Yunnan; 2 = tradisi maritim/perahu bercadik, tradisi bercocok tanam padi, tenun, atau gerabah) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yakni menganalisis keterhubungan antara masa lampau (migrasi dan budaya nenek moyang bangsa Indonesia) dan masa kini (keragaman budaya, bahasa, serta teknologi maritim masyarakat Nusantara) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara berpasangan mengamati lembar info grafis kronologi 3 jalur migrasi nenek moyang (Jalur Austronesia/Out of Taiwan, Austroasiatik, dan Papua-Melanesoid) serta 4 peninggalan budaya materiil (perahu bercadik, kapak persegi/beliung, tradisi menenun, dan gerabah) dengan panduan pertanyaan terarah untuk mengenali corak kehidupan masa lampau (15 menit).
  • Guru memberikan penguatan konsep mengenai hubungan kausalitas sejarah: bahwa teknologi navigasi kelautan, persebaran bahasa daerah rumpun Austronesia, serta tradisi pertanian masa lampau menjadi fondasi langsung identitas kebudayaan bangsa Indonesia masa kini (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan berpasangan 'Tantangan Detektif Asal-Usul': tiap pasangan menerima amplop berisi 4 kartu jejak masa lampau: (1) Kartu Tradisi Perahu Bercadik, (2) Kartu Bahasa Austronesia, (3) Kartu Budaya Bertani Padi & Gerabah, (4) Kartu Seni Lukis Cadas/Kapak Lonjong. Pasangan murid berlomba memasangkan kartu tersebut ke kolom fenomena masa kini yang tepat pada papan aktivitas (acuan pasangan: Kartu 1 -> Fenomena nelayan modern dan kapal Pinisi Nusantara; Kartu 2 -> Fenomena kesamaan kosakata dasar ratusan bahasa daerah di Indonesia; Kartu 3 -> Fenomena sistem persawahan/irigasi dan perabot dapur tradisional; Kartu 4 -> Fenomena sebaran komunitas etnis Melanesoid di Indonesia timur dan tradisi seni hias) (15 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Analisis Keterhubungan Kausalitas Masa Lampau dan Masa Kini yang memuat 3 studi kasus keterhubungan: (1) Hubungan migrasi penutur Austronesia dengan keragaman bahasa lokal Indonesia saat ini; (2) Hubungan budaya maritim neolitikum dengan kehebatan tradisi bahari Nusantara masa kini; (3) Hubungan percampuran genetika masa lampau dengan kemajemukan fisik penduduk Indonesia masa kini. Murid menganalisis keterhubungan sebab-akibat ketiga kasus tersebut (acuan: kasus 1 = persebaran bertahap melalui laut menghasilkan variasi kosakata daerah serumpun; kasus 2 = penemuan perahu bercadik masa lampau menjadi akar teknologi kapal tradisional seperti Pinisi dan etos maritim; kasus 3 = gelombang migrasi bergantian menghasilkan pembauran fisik dan budaya masyarakat majemuk Indonesia) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bertukar lembar analisis dengan teman sebangku untuk memeriksa kelengkapan identifikasi sebab-akibat keterhubungan masa lampau dan masa kini berdasarkan panduan acuan verifikasi guru (15 menit).
  • Murid menuliskan refleksi personal berkesadaran: 'Satu hal baru yang saya sadari tentang kaitan asal-usul nenek moyang dengan identitas diri saya sebagai bangsa Indonesia hari ini' pada buku catatan (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari analisis: bahwa keberagaman budaya, bahasa, dan kemaritiman Indonesia masa kini adalah mata rantai langsung dari perjalanan sejarah nenek moyang bangsa di masa lampau (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas ketercapaian analisis murid dan menginformasikan bahwa pada pertemuan berikutnya pembelajaran akan melangkah menganalisis keterhubungan masa kini dengan masa mendatang (konektivitas masa depan dan pelestarian identitas) (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar alur kronologi bergambar dengan kata kunci penghubung (misal: 'migrasi perahu' -> 'nelayan modern'), sedangkan murid berpencapaian tinggi diberikan teks analisis komparasi tambahan mengenai persebaran rumpun bahasa Austronesia dan implikasinya.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan menganalisis dibimbing dalam kelompok terbimbing guru menggunakan scaffold 'Pemicu Masa Lampau -> Wujud Masa Kini', sedangkan murid mandiri langsung menganalisis ketiga kasus secara komparatif.
  • Produk: Analisis disajikan dalam bentuk lembar kerja isian tabel sebab-akibat terstruktur bagi sebagian besar murid, atau narasi hubungan kausalitas bagi murid yang berkemampuan lebih cepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik tertulis sebelum kegiatan: (1) 'Apakah nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari satu daerah asal atau terjadi migrasi bergelombang?' (acuan: migrasi bergelombang/bertahap dari rumpun Austronesia dan Austroasiatik/teori Out of Taiwan atau Yunnan); (2) 'Sebutkan 1 bukti budaya masa lampau yang masih bisa kita jumpai pada masa kini!' (acuan: perahu bercadik/tradisi bahari, tenun, persawahan/padi, gerabah, atau kapak batu yang disimpan sebagai pusaka).

Proses:

  • Observasi ketepatan pemasangan 4 kartu tantangan detektif asal-usul: (1) Kartu Tradisi Perahu Bercadik berpasangan dengan fenomena nelayan modern dan perahu Pinisi; (2) Kartu Bahasa Austronesia berpasangan dengan fenomena kesamaan kosakata ratusan bahasa daerah; (3) Kartu Budaya Bertani Padi & Gerabah berpasangan dengan fenomena persawahan dan perabot tanah liat; (4) Kartu Seni Lukis Cadas/Kapak Lonjong berpasangan dengan fenomena sebaran masyarakat Indonesia timur dan tradisi seni hias.
  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri analisis keterhubungan masa lampau dan masa kini pada 3 studi kasus (keterhubungan bahasa, maritim, dan keragaman fisik/budaya).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir melalui 1 soal uraian analisis singkat: 'Jelaskan keterhubungan antara penemuan perahu bercadik oleh nenek moyang di masa lampau dengan kehidupan masyarakat Indonesia masa kini!' (acuan jawaban: Penemuan perahu bercadik di masa lampau memungkinkan nenek moyang mengarungi lautan Nusantara dan antarpulau, yang pada masa kini menjadi dasar peradaban maritim Indonesia, teknologi perahu tradisional seperti Pinisi, serta mata pencaharian nelayan di pesisir Nusantara).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: 2 pertanyaan pemetaan pengetahuan dasar asal-usul nenek moyang
  • Penilaian unjuk kerja pencocokan kartu 'Tantangan Detektif Asal-Usul'
  • Penilaian lembar analisis tertulis keterhubungan masa lampau dan masa kini

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Keterhubungan Masa Lampau dan Masa Kini Asal-Usul Nenek MoyangMenganalisis keterhubungan sebab-akibat dengan tepat pada kurang dari 2 studi kasus dari 3 studi kasus yang disediakan (Kasus 1: bahasa Austronesia-bahasa daerah; Kasus 2: perahu bercadik-tradisi bahari; Kasus 3: pembauran migrasi-keragaman fisik/budaya) dengan bimbingan penuh guru.Menganalisis keterhubungan sebab-akibat dengan tepat pada 2 dari 3 studi kasus yang disediakan (Kasus 1: bahasa Austronesia-bahasa daerah; Kasus 2: perahu bercadik-tradisi bahari; Kasus 3: pembauran migrasi-keragaman fisik/budaya) secara mandiri.Menganalisis keterhubungan sebab-akibat dengan tepat pada seluruh 3 studi kasus yang disediakan (Kasus 1: bahasa Austronesia-bahasa daerah; Kasus 2: perahu bercadik-tradisi bahari; Kasus 3: pembauran migrasi-keragaman fisik/budaya) secara tepat dan mandiri.Menganalisis keterhubungan sebab-akibat dengan tepat pada seluruh 3 studi kasus yang disediakan (Kasus 1: bahasa Austronesia-bahasa daerah; Kasus 2: perahu bercadik-tradisi bahari; Kasus 3: pembauran migrasi-keragaman fisik/budaya) disertai elaborasi bukti keterhubungan konkret pada konteks lokal tempat tinggalnya.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan kartu detektif berhasil membangkitkan minat murid dalam mengaitkan peninggalan masa lampau dengan fenomena masa kini?
  • Bagian mana dari analisis kausalitas keterhubungan masa lampau-masa kini yang masih sulit dipahami murid, dan bagaimana penguatan yang dibutuhkan untuk pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Apa bukti nyata peninggalan nenek moyang yang paling membuat saya takjub karena masih bertahan dalam kehidupan masyarakat kita hari ini?
  • Bagaimana perasaan saya setelah menyadari bahwa keragaman masyarakat Indonesia masa kini berakar dari perjalanan migrasi masa lampau?

Pertemuan 6 — Menganalisis Keterhubungan Masa Kini dan Masa Mendatang terkait Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.2 Menganalisis keterhubungan antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang terkait asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6, yaitu menganalisis keterhubungan kondisi masa kini dan masa mendatang terkait asal-usul keberagaman nenek moyang bangsa Indonesia (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menanyakan keterhubungan artefak/tradisi masa lampau dengan kehidupan masa kini kepada murid: 'Sebutkan 1 tradisi bahari atau teknologi perahu yang diwariskan nenek moyang Austronesia yang masih digunakan masyarakat nelayan saat ini, serta fungsinya!' (acuan jawaban: perahu bercadik/teknologi pelayaran tradisional untuk menangkap ikan atau sarana transportasi antarpulau) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak ulasan guru mengenai konsep kesinambungan sejarah: bagaimana asal-usul nenek moyang (migrasi rumpun Proto-Melayu, Deutero-Melayu, Melanesoid, dan Austronesia) membentuk keberagaman suku, fisik, bahasa, dan kebudayaan masa kini (15 menit).
  • Murid secara berpasangan berpartisipasi dalam aktivitas tantangan cepat 'Cocok Jejak Leluhur' untuk menghubungkan warisan nenek moyang dengan wujudnya di masa kini berdasarkan 3 kartu studi: (1) Kartu Tradisi Bahari -> Budaya pembuatan pinisi di Sulawesi Selatan; (2) Kartu Bahasa Austronesia -> Kemiripan kosakata bahasa daerah di Nusantara; (3) Kartu Bauran Genetika/Fisik -> Keberagaman ciri fisik suku-suku dari barat hingga timur Indonesia (acuan: pasangan 1-pinisi, 2-kosakata daerah, 3-ciri fisik suku Nusantara) (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4 orang dan menerima Lembar Analisis Keterhubungan 'Masa Kini ke Masa Mendatang' yang memuat 3 fokus analisis: (1) Pelestarian teknologi dan budaya maritim nenek moyang; (2) Penguatan toleransi keberagaman ras/etnis warisan migrasi leluhur; (3) Pemanfaatan kearifan lokal nenek moyang dalam konservasi lingkungan (10 menit).
  • Kelompok mendiskusikan dan menganalisis keterhubungan kondisi masa kini (fakta empiris keragaman budaya/sosial) dengan proyeksi kondisi bangsa di masa mendatang, meliputi peluang jika dirawat (persatuan, kedaulatan maritim, kekayaan budaya) dan ancaman jika diabaikan (konflik horizontal, punahnya identitas maritim) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Perwakilan kelompok bertukar hasil lembar analisis dengan kelompok sebelah untuk saling memeriksa ketepatan analisis hubungan sebab-akibat dari masa kini ke masa depan berdasarkan panduan rubrik guru (15 menit).
  • Murid secara individu menuliskan refleksi kesadaran diri: bagaimana pemahaman tentang asal-usul leluhur yang majemuk membentuk sikap menghargai perbedaan teman di sekolah saat ini demi persatuan Indonesia di masa depan (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan inti analisis: bahwa keberagaman fisik dan budaya masa kini adalah warisan langsung proses migrasi nenek moyang, dan menjaga kerukunan tersebut menjadi kunci keberlanjutan bangsa Indonesia di masa mendatang (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan materi, menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya (Pertemuan 7) akan membahas pola adaptasi terhadap perubahan iklim dan mitigasi bencana, lalu menutup sesi dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja dengan panduan alur berpikir terstruktur (kondisi masa kini -> faktor pemicu -> proyeksi masa depan); murid cepat diberikan studi kasus tambahan mengenai tantangan globalisasi terhadap kearifan maritim warisan leluhur.
  • Proses: Pada diskusi kelompok, guru mendampingi kelompok yang membutuhkan scaffolding dalam merumuskan keterhubungan kausalitas masa kini ke masa depan, sementara kelompok mandiri mengeksplorasi keterhubungan multiperspektif (sosial, budaya, geopolitik maritim).
  • Produk: Analisis dituangkan dalam lembar kerja tabel keterhubungan kausalitas masa kini-masa depan, dengan fleksibilitas menggunakan peta konsep atau deskripsi analitis.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Sebutkan 1 tradisi bahari atau teknologi perahu yang diwariskan nenek moyang Austronesia yang masih digunakan masyarakat nelayan saat ini, serta fungsinya!' (acuan jawaban: perahu bercadik/teknologi pelayaran tradisional untuk menangkap ikan atau sarana transportasi antarpulau)

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja analisis kelompok mengenai keterhubungan masa kini dan masa mendatang terkait 3 fokus warisan nenek moyang (acuan keterhubungan: (1) Budaya maritim masa kini jika dirawat -> ketahanan pangan laut dan identitas poros maritim masa depan; (2) Keberagaman etnis masa kini jika dikelola dengan toleransi -> integrasi nasional kokoh di masa depan tanpa konflik SARA; (3) Kearifan lokal masa kini jika diterapkan -> kelestarian lingkungan dan ketahanan bencana masa depan)

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan kesimpulan analitis tertulis murid pada lembar refleksi: Menjelaskan keterhubungan antara sikap menghargai keberagaman warisan nenek moyang saat ini dengan terwujudnya keutuhan bangsa Indonesia di masa mendatang (kriteria penerimaan: jawaban secara logis mengaitkan toleransi atas kemajemukan etnis/budaya saat ini sebagai prasyarat pencegahan perpecahan bangsa di masa depan)

Formatif:

  • Penilaian performa lembar analisis keterhubungan masa kini dan masa mendatang terkait asal-usul nenek moyang
  • Cek pemahaman lisan dan observasi keterlibatan diskusi kelompok

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis keterhubungan masa kini dan masa mendatang terkait asal-usul nenek moyangBelum mampu menghubungkan kondisi keragaman masa kini dengan proyeksi masa mendatang terkait asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia (analisis tidak logis atau tidak relevan).Mampu menganalisis keterhubungan masa kini dan masa mendatang hanya pada 1 fokus warisan nenek moyang secara tepat sesuai acuan.Mampu menganalisis keterhubungan masa kini dan masa mendatang pada 2 dari 3 fokus warisan nenek moyang (budaya maritim, keberagaman etnis, kearifan lokal) secara logis dan tepat sesuai acuan.Mampu menganalisis keterhubungan masa kini dan masa mendatang secara komprehensif, tepat, dan mendalam pada seluruh 3 fokus warisan nenek moyang (budaya maritim, keberagaman etnis, kearifan lokal) sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid mampu menangkap logika kesinambungan waktu (masa lampau - masa kini - masa depan) dalam topik asal-usul nenek moyang?
  • Bagaimana efektivitas tantangan berpasangan 'Cocok Jejak Leluhur' dalam memantik minat dan pemahaman murid terhadap materi?

Murid:

  • Apa hal baru yang saya sadari mengenai kaitan antara asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia dengan kehidupan saya sehari-hari?
  • Sikap apa yang harus saya kembangkan mulai hari ini agar keberagaman warisan leluhur tetap menjadi kekuatan bangsa di masa depan?

Pertemuan 7 — Merefleksikan Pola Adaptasi terhadap Perubahan Iklim dan Upaya Mitigasi Bencana Penunjang SDGs Lokal — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.3 Merefleksikan pola adaptasi terhadap perubahan iklim dan upaya mitigasi bencana untuk menunjang sustainable development goals (SDGs) dalam konteks lokal

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu merefleksikan pola adaptasi terhadap perubahan iklim serta mitigasi bencana penunjang SDGs lokal (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik awal dengan meminta murid menjawab secara lisan pengelompokan 2 tindakan: (1) 'Petani menyesuaikan jadwal tanam karena musim hujan bergeser' [acuan: bentuk adaptasi] dan (2) 'Warga menanam pohon bakau di pesisir untuk menahan abrasi' [acuan: bentuk mitigasi bencana] (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati paparan perbandingan konsep antara pola adaptasi perubahan iklim (tindakan menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan cuaca/iklim) dan mitigasi bencana (tindakan mengurangi risiko atau penyebab keparahan bencana) dalam kerangka SDGs Desa/Lokal (SDGs nomor 13: Penanganan Perubahan Iklim) (15 menit).
  • Murid secara berpasangan memainkan kuis cepat 'Adaptasi atau Mitigasi?' dengan menelaah 3 pernyataan kartu: Kartu 1: 'Peninggian pondasi rumah panggung di bantaran sungai' (acuan: adaptasi); Kartu 2: 'Larangan membuang sampah ke saluran air dan pengerukan sedimentasi got' (acuan: mitigasi); Kartu 3: 'Penggunaan varietas padi tahan kekeringan saat kemarau panjang' (acuan: adaptasi) untuk memastikan penguasaan konsep dasar secara menggembirakan (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid membaca lembar kasus lokal tentang 2 fenomena di lingkungan sekitar: Kasus A (Daerah langganan genangan air saat hujan deras akibat saluran air menyempit dan warga meninggikan teras rumah) serta Kasus B (Area perkebunan warga yang mengalami gagal panen akibat kemarau panjang berkepanjangan) (20 menit).
  • Murid menganalisis dan mengidentifikasi: pada Kasus A, tindakan meninggikan teras adalah pola adaptasi dan normalisasi saluran air adalah upaya mitigasi; pada Kasus B, pemanfaatan sumur resapan/irigasi hemat air adalah adaptasi dan pelestarian hutan tutupan air adalah mitigasi (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara mandiri menuliskan lembar refleksi kritis: mengevaluasi sejauh mana pola adaptasi warga di sekitar tempat tinggalnya sudah efektif atau masih sebatas reaktif, serta mengidentifikasi upaya mitigasi bencana yang paling mendesak dilakukan guna menunjang SDGs pilar lingkungan di tingkat lokal (15 menit).

Penutup:

  • Guru memfasilitasi penarikan simpulan bersama mengenai keterkaitan adaptasi, mitigasi, dan kontribusinya terhadap pencapaian target SDGs di tingkat komunitas lokal (10 menit).
  • Murid menyelesaikan asesmen akhir berupa cek pemahaman 2 butir reflektif singkat di lembar penilaian sebelum mengakhiri sesi pembelajaran (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar kasus dengan tabel pemandu perbandingan adaptasi-mitigasi untuk murid yang membutuhkan scaffolding, serta menyajikan teks kasus yang memuat variabel dampak sosial-ekonomi kompleks bagi murid yang berpencapaian tinggi.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang masih rancu membedakan adaptasi dan mitigasi melalui analogi langsung payung (adaptasi hujan) vs menanam pohon penyerap air (mitigasi banjir).
  • Produk: Refleksi dituangkan dalam bentuk lembar isian terstruktur dengan rubrik acuan yang sama bagi seluruh murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan awal berupa klasifikasi 2 contoh situasi lingkungan: Butir 1: 'Petani mengatur ulang pola masa tanam karena musim kemarau mundur' (kunci acuan: Adaptasi); Butir 2: 'Warga serentak membersihkan dan memperdalam tanggul sungai sebelum musim hujan tiba' (kunci acuan: Mitigasi bencana).

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid dalam kuis klasifikasi kartu adaptasi vs mitigasi: Kartu 1 (peninggian lantai rumah = adaptasi), Kartu 2 (larangan buang sampah & pengerukan saluran = mitigasi), Kartu 3 (benih padi tahan kering = adaptasi).
  • Pemeriksaan ketepatan analisis lembar kasus lokal Kasus A dan Kasus B berdasarkan ketepatan klasifikasi komponen adaptasi dan mitigasi.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis reflektif akhir (2 butir): Butir 1: Sebutkan 1 contoh pola adaptasi dan 1 upaya mitigasi bencana yang nyata dilakukan warga lingkungan tempat tinggalmu! (Kriteria acuan penerimaan: contoh adaptasi harus mencerminkan penyesuaian diri terhadap dampak perubahan cuaca/iklim seperti penampungan air mandiri/ventilasi rumah; contoh mitigasi harus mencerminkan pengurangan risiko/penyebab bahaya seperti larangan bakar sampah lahan/penghijauan selokan). Butir 2: Bagaimana kedua tindakan tersebut menunjang pencapaian SDGs lokal? (Kriteria acuan penerimaan: mengaitkan langsung dengan terjaganya kelestarian lingkungan atau pengurangan kerugian fisik/ekonomi masyarakat).

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar kerja telaah kasus lokal (kemampuan membedakan pola adaptasi dan mitigasi bencana secara tepat)
  • Penilaian lembar refleksi pola adaptasi dan mitigasi penunjang SDGs lokal

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan Pola Adaptasi Perubahan Iklim dan Upaya Mitigasi Bencana Penunjang SDGs LokalBelum mampu membedakan pola adaptasi dan mitigasi bencana, serta belum dapat mengidentifikasi keterkaitannya dengan upaya penunjang SDGs lokal pada lembar refleksi.Mampu mengidentifikasi 1 contoh pola adaptasi atau 1 upaya mitigasi bencana di tingkat lokal secara tepat sesuai acuan, namun belum mampu merefleksikan keterhubungannya dengan penunjang SDGs lokal.Mampu merefleksikan 1 pola adaptasi dan 1 upaya mitigasi bencana lingkungan sekitar secara tepat, serta menguraikan keterhubungannya dengan penunjang SDGs lokal (penanganan perubahan iklim) sesuai kriteria penerimaan.Mampu merefleksikan lebih dari 1 pola adaptasi dan upaya mitigasi bencana lingkungan sekitar secara tepat, mendalam, dan mengevaluasi efektivitasnya secara kritis dalam menunjang pencapaian SDGs lokal secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 120 menit memadai untuk memfasilitasi murid memahami perbedaan konseptual antara adaptasi dan mitigasi sebelum melakukan refleksi?
  • Apakah analogi dan kasus lokal yang disajikan cukup relevan dan mudah diidentifikasi oleh seluruh murid di lingkungan tempat tinggalnya?

Murid:

  • Tindakan adaptasi atau mitigasi apa yang paling sering kamu amati dilakukan oleh keluargamu saat menghadapi perubahan cuaca ekstrem di lingkungan rumah?
  • Bagian mana dari konsep mitigasi bencana dan SDGs lingkungan yang menurutmu paling menantang untuk dipahami?

Pertemuan 8 — Mengomunikasikan Hasil Penyelidikan Upaya Menunjang SDGs dengan Media Informasi — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.6 Mengomunikasikan hasil penyelidikan tentang upaya menunjang sustainable development goals (SDGs) dengan menggunakan media informasi yang tepat

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru mengaitkan pembelajaran dengan materi penyelidikan adaptasi iklim/SDGs sebelumnya dan menjelaskan bahwa fokus hari ini adalah mengomunikasikan hasil penyelidikan tersebut melalui media informasi (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: Murid diminta memilih 1 pasangan yang tepat antara jenis data penyelidikan dan media informasi penyampaian dari 2 pilihan kartu yang disediakan di papan tulis: Kartu A ('Data langkah aksi pemilahan sampah' -> poster infografik bergambar) dan Kartu B ('Data langkah aksi pemilahan sampah' -> rekaman audio musik instrumen tanpa kata) (acuan tepat: Kartu A, karena visual infografik memuat panduan visual langkah aksi nyata) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid dalam kelompok mengamati contoh lembar rancangan media informasi (infografik/poster dinding/selebaran digital) untuk membedakan elemen kunci yang harus ada: (1) Judul/Tujuan SDGs yang disasar, (2) Temuan masalah lokal, (3) Aksi nyata penunjang SDGs yang diusulkan (15 menit).
  • Secara bergembira, kelompok mengikuti 'Tantangan Cepat Memilih Format': guru membacakan skenario target audiens (misal: 'Warga mading sekolah yang suka visual ringkas') dan tiap kelompok mengangkat tanda format media informasi yang paling tepat (infografik/poster ringkas) beserta alasannya (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Setiap kelompok menyusun draf pesan komunikasi hasil penyelidikan upaya menunjang SDGs lingkungan ke dalam media informasi pilihan mereka (infografik kertas plano atau lembar digital sederhana) dengan memuat ketiga elemen: isu lokal, target SDGs, dan pesan aksi nyata (25 menit).
  • Kelompok memajang media informasi karyanya dalam sesi 'Galeri Informasi SDGs' di dinding kelas, lalu perwakilan kelompok bergantian menyampaikan dan menjelaskan pesan penyelidikan di medianya kepada kelompok pengunjung yang berkeliling (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompoknya duduk melingkar dengan tenang (berkesadaran) untuk meninjau efektivitas media yang telah dibuat: apakah pesan aksi penyelidikan SDGs sudah tersampaikan dengan jelas atau masih ada informasi yang membingungkan pengunjung (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan dan apresiasi terhadap kejelasan pesan aksi SDGs pada media informasi yang telah dipamerkan setiap kelompok (5 menit).
  • Murid melakukan cek pemahaman akhir dan menyimpulkan pentingnya memilih media informasi yang tepat dalam menyebarkan hasil penyelidikan (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam tanpa menyebut bab selesai (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan format rancangan media terstruktur yang memuat panduan tata letak 3 elemen komunikasi SDGs; kelompok yang mahir diberikan keleluasaan merancang media informasi dengan variasi penyajian visual dan teks mandiri.
  • Proses: Guru memberikan pendampingan langsung pada kelompok yang kesulitan merangkai teks pesan aksi, sementara kelompok mahir bekerja mandiri mengeksplorasi tata letak media.
  • Produk: Media informasi yang dihasilkan dapat berbentuk poster dinding kertas plano, buklet ringkas, atau infografik digital sesuai kesiapan fasilitas murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid memilih 1 pasangan media yang tepat dari 2 pilihan yang ditampilkan: Kartu A ('Data langkah aksi pemilahan sampah' -> poster infografik bergambar) atau Kartu B ('Data langkah aksi pemilahan sampah' -> rekaman audio musik instrumen tanpa kata) (acuan tepat: Kartu A, karena media infografik memuat teks dan visual yang tepat untuk menyampaikan panduan aksi nyata penyelidikan).

Proses:

  • Penilaian formatif saat Galeri Informasi SDGs berlangsung menggunakan lembar cek ketercapaian 3 elemen komunikasi pesan (isu penyelidikan, SDGs yang dituju, aksi nyata yang diusulkan) pada media informasi yang dibuat kelompok.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan 1 alasan operasional mengapa media informasi yang kelompoknya pilih (misal: infografik dinding) tepat untuk mengomunikasikan hasil penyelidikan SDGs di lingkungan sekolah (kriteria penerimaan: jawaban mengaitkan kemudahan keterbacaan visual/teks media dengan kejelasan penyampaian pesan aksi penyelidikan SDGs kepada audiens sekolah).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja penyusunan dan penyampaian media informasi hasil penyelidikan SDGs
  • Lembar cek kesesuaian pesan media informasi hasil penyelidikan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Elemen Pesan Penyelidikan SDGs dalam Media InformasiMedia informasi hanya memuat 1 dari 3 elemen komunikasi (isu lokal, target SDGs, aksi nyata yang diusulkan).Media informasi memuat 2 dari 3 elemen komunikasi (isu lokal, target SDGs, aksi nyata yang diusulkan).Media informasi memuat lengkap seluruh 3 elemen komunikasi (isu lokal, target SDGs, dan aksi nyata yang diusulkan) secara jelas.Media informasi memuat lengkap seluruh 3 elemen komunikasi secara mandiri, runtut, dan sangat jelas keterhubungannya.
Ketepatan Pemilihan dan Penggunaan Media InformasiFormat media informasi yang dipilih tidak sesuai untuk menyajikan hasil penyelidikan upaya SDGs dan pesan sulit dipahami.Format media informasi yang dipilih cukup sesuai, namun sebagian informasi teks atau ilustrasi aksi SDGs kurang mendukung kejelasan pesan.Format media informasi yang dipilih tepat, teks dan ilustrasi selaras sehingga pesan hasil penyelidikan upaya SDGs tersampaikan dengan baik kepada pembaca.Format media informasi sangat tepat dan efektif, penyajian pesan penyelidikan sangat komunikatif, memikat, dan mudah dipahami oleh seluruh pengunjung galeri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid terlibat aktif dalam mengomunikasikan gagasan penyelidikan melalui media informasi?
  • Apakah pemilihan bentuk media informasi memfasilitasi murid dalam mengekspresikan pemahaman aksi penunjang SDGs secara optimal?

Murid:

  • Apakah pesan aksi nyata penunjang SDGs yang saya sampaikan lewat media informasi mudah dimengerti oleh teman lain?
  • Bagian mana dari pembuatan media informasi ini yang paling menyenangkan bagi saya dan kelompok?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.1 Menjelaskan dinamika sosial dan perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat yang majemuk untuk mewujudkan integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan
  • TP 7.2.2 Menganalisis keterhubungan antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang terkait asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia
  • TP 7.2.3 Merefleksikan pola adaptasi terhadap perubahan iklim dan upaya mitigasi bencana untuk menunjang sustainable development goals (SDGs) dalam konteks lokal
  • TP 7.2.4 Mengamati fenomena dan peristiwa lingkungan sekitar secara sistematis dengan menggunakan pancaindra
  • TP 7.2.5 Menemukan persamaan dan perbedaan fenomena dan peristiwa lingkungan sekitar hasil pengamatan
  • TP 7.2.6 Mengomunikasikan hasil penyelidikan tentang upaya menunjang sustainable development goals (SDGs) dengan menggunakan media informasi yang tepat

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa pembuka, dan memeriksa kehadiran 28 murid secara tertib (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pertemuan ke-9 sebagai sesi asesmen sumatif terpadu Bab 2, menjelaskan tiga rangkaian asesmen (tes tertulis pemahaman konsep 45 menit, observasi lapangan dan komparasi fenomena kelompok 35 menit, serta presentasi media SDGs kelompok 35 menit), membagikan lembar tes tertulis individu, serta menegaskan aturan integritas pengerjaan mandiri (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak dan membaca petunjuk teknis pada Lembar Asesmen Sumatif Tertulis yang memuat 3 butir analisis konsep terstruktur: (Soal 1) Menjelaskan 1 contoh dinamika sosial dan 1 bentuk perubahan sistem sosial budaya di masyarakat majemuk beserta fungsinya mewujudkan integrasi bangsa berdasarkan prinsip kebhinekaan; (Soal 2) Menganalisis keterhubungan asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia antara masa lampau [migrasi ras Proto/Deutro Melayu atau rumpun Austronesia/Austroasiatik], masa kini [keragaman suku, bahasa daerah, tradisi bahari], dan masa mendatang [komitmen menjaga kerukunan dan persatuan identitas nasional]; (Soal 3) Merefleksikan 1 pola adaptasi terhadap perubahan iklim dan 1 upaya mitigasi bencana alam lokal dalam menunjang pencapaian target SDGs (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1 (Tes Tertulis Mandiri, TP 7.2.1, TP 7.2.2, TP 7.2.3): Seluruh 28 murid secara serentak mengerjakan 3 butir soal uraian pada lembar jawaban masing-masing dengan tenang dan mandiri. Butir soal dan acuan kunci: (1) Menjelaskan dinamika interaksi antaretnis dan akulturasi budaya tanpa menghilangkan identitas untuk integrasi bangsa; (2) Menganalisis garis waktu leluhur maritim dari masa praaksara nusantara, bukti keragaman etnolinguistik hari ini, hingga warisan jati diri bangsa masa depan; (3) Merefleksikan adaptasi penyesuaian musim tanam/tata kelola air serta mitigasi penanaman vegetasi/jalur evakuasi demi menunjang SDGs 13 penanganan perubahan iklim. Guru berkeliling mengawasi kepatuhan pengerjaan tanpa memberikan kunci jawaban (35 menit).
  • Tugas 2 (Penugasan Kerja Lapangan & Komparasi Tertulis Kelompok, TP 7.2.4, TP 7.2.5): Guru memandu 7 kelompok (masing-masing 4 murid) menuju dua zona lingkungan sekolah (Zona A: Taman/Halaman Terbuka Sekolah; Zona B: Area Kantin & Pengelolaan Sampah). Setiap kelompok mencatat secara sistematis hasil tangkapan pancaindra (penglihatan: kondisi vegetasi & timbulan sampah; pendengaran: kebisingan suara; perabaan: kelembapan/suhu udara tanah; penciuman: aroma tanah basah/bau limbah) pada lembar observasi, lalu menyusun tabel komparasi tertulis yang merinci minimal 2 persamaan (misal: kedua area terpapar sinar matahari dan memiliki aktivitas warga sekolah) dan minimal 2 perbedaan konkret (misal: tutupan permukaan tanah vs paving/semen; dominasi serasah organik vs sampah plastik kantin) (35 menit).
  • Tugas 3 (Unjuk Kerja Presentasi Media SDGs Kelompok, TP 7.2.6): Seluruh 7 kelompok secara bergantian mempresentasikan artefak media informasi (infografik cetak atau salindia ringkas) hasil penyelidikan aksi penunjang SDGs lokal di hadapan kelas dan guru. Setiap kelompok tampil tepat 5 menit (3 menit paparan inti penyelidikan SDGs lokal dan media informasi, 2 menit tanya jawab terpandu), sehingga 7 kelompok x 5 menit tuntas mengevaluasi kemampuan mengomunikasikan informasi seluruh 28 murid (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara individu mengisi lembar refleksi proses asesmen sumatif, menuliskan evaluasi terhadap pengelolaan waktu mandiri pada tes tertulis, ketelitian penggunaan pancaindra saat observasi lingkungan, serta kejelasan dalam mengomunikasikan gagasan media SDGs (5 menit).

Penutup:

  • Semua lembar jawaban tes tertulis individu, lembar kerja observasi dan tabel komparasi kelompok, serta lembar media infografik dikumpulkan ke meja guru secara tertib (3 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas dedikasi dan kejujuran seluruh murid selama menyelesaikan asesmen sumatif Bab 2, merangkum pencapaian belajar keberagaman lingkungan sekitar, dan menutup sesi dengan doa penutup serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: teks soal tes tertulis dicetak dengan format huruf berkontras jelas dan spasi longgar bagi murid dengan hambatan penglihatan ringan tanpa mengubah substansi indikator soal.
  • Proses: Akomodasi akses tata letak: posisi meja pengerjaan observasi kelompok diatur ramah mobilitas dan kelompok presentasi diberikan penunjuk giliran visual tanpa mengubah durasi 5 menit per kelompok.
  • Produk: Akomodasi format: penyajian media informasi unjuk kerja diperkenankan berupa salindia digital maupun lembar infografik plano fisik berstandar kriteria konten SDGs yang setara.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Asesmen kombinasi yang terdiri atas tes tertulis terpadu serta unjuk kerja presentasi kelompok dengan media informasi: Lembar jawaban tes tertulis analisis dan refleksi terpadu, lembar kerja komparasi hasil observasi lingkungan, serta media infografik/salindia yang dipresentasikan secara berkelompok
  • tes tertulis serentak: Lembar jawaban uraian dan analisis terstruktur yang mencakup penjelasan dinamika sosial budaya untuk integrasi bangsa, analisis keterhubungan masa lampau-kini-mendatang asal-usul nenek moyang, serta refleksi adaptasi perubahan iklim dan mitigasi bencana penunjang SDGs lokal yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (45 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran dan rubrik analitik pemahaman konsep)
  • penugasan kerja lapangan dan komparasi tertulis: Lembar kerja observasi dan tabel komparasi berisi catatan sistematis penggunaan pancaindra terhadap fenomena lingkungan sekitar sekolah beserta daftar analisis persamaan dan perbedaannya yang diselesaikan serentak dalam kelompok (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian lembar observasi dan tabel komparasi fenomena)
  • unjuk kerja presentasi kelompok: Penyajian media infografik atau salindia ringkas tentang penyelidikan upaya penunjang SDGs lokal yang dipaparkan secara bergantian oleh 7 kelompok (masing-masing 4 murid; alokasi 5 menit per kelompok termasuk tanya jawab terpandu sehingga total 35 menit mencakup seluruh 28 murid) (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi dan media informasi)

Sumatif:

  • Asesmen kombinasi yang terdiri atas tes tertulis terpadu serta unjuk kerja presentasi kelompok dengan media informasi: Lembar jawaban tes tertulis analisis dan refleksi terpadu, lembar kerja komparasi hasil observasi lingkungan, serta media infografik/salindia yang dipresentasikan secara berkelompok
  • tes tertulis serentak: Lembar jawaban uraian dan analisis terstruktur yang mencakup penjelasan dinamika sosial budaya untuk integrasi bangsa, analisis keterhubungan masa lampau-kini-mendatang asal-usul nenek moyang, serta refleksi adaptasi perubahan iklim dan mitigasi bencana penunjang SDGs lokal yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (45 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran dan rubrik analitik pemahaman konsep)
  • penugasan kerja lapangan dan komparasi tertulis: Lembar kerja observasi dan tabel komparasi berisi catatan sistematis penggunaan pancaindra terhadap fenomena lingkungan sekitar sekolah beserta daftar analisis persamaan dan perbedaannya yang diselesaikan serentak dalam kelompok (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian lembar observasi dan tabel komparasi fenomena)
  • unjuk kerja presentasi kelompok: Penyajian media infografik atau salindia ringkas tentang penyelidikan upaya penunjang SDGs lokal yang dipaparkan secara bergantian oleh 7 kelompok (masing-masing 4 murid; alokasi 5 menit per kelompok termasuk tanya jawab terpandu sehingga total 35 menit mencakup seluruh 28 murid) (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja presentasi dan media informasi)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan Dinamika Sosial & Perubahan Sosial Budaya (TP 7.2.1 - Tes Tertulis Butir 1)Hanya menyebutkan istilah tanpa menjelaskan contoh dinamika sosial, perubahan sosial budaya, maupun kaitannya dengan integrasi bangsa.Menjelaskan 1 contoh dinamika sosial atau 1 perubahan sistem sosial budaya, namun belum menghubungkannya dengan integrasi bangsa berprinsip kebhinekaan.Menjelaskan 1 contoh dinamika sosial dan 1 perubahan sosial budaya dalam masyarakat majemuk secara tepat, serta mengaitkannya dengan integrasi bangsa berprinsip kebhinekaan dengan 1 kekeliruan kecil konseptual.Menjelaskan secara utuh dan tepat 1 contoh dinamika sosial dan 1 perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat majemuk serta argumentasi keterkaitannya dalam mewujudkan integrasi bangsa berprinsip kebhinekaan tanpa kekeliruan (Acuan kunci: interaksi harmonis antaretnis, akulturasi budaya lokal tanpa menghilangkan identitas, penguatan toleransi sosial).
Analisis Keterhubungan Masa Lampau, Kini, dan Mendatang Asal-Usul Nenek Moyang (TP 7.2.2 - Tes Tertulis Butir 2)Hanya menyebutkan masa lampau asal-usul nenek moyang tanpa menghubungkannya dengan masa kini dan masa mendatang.Menganalisis keterhubungan asal-usul nenek moyang antara masa lampau dan masa kini saja, atau terdapat kekeliruan dalam menempatkan kronologi fakta sejarah migrasi/budaya.Menganalisis keterhubungan asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia yang merangkai masa lampau, masa kini, dan masa mendatang, meski elaborasi proyeksi masa depan masih bersifat umum.Menganalisis secara logis, runtut, dan tepat keterhubungan asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia mencakup: (1) masa lampau (migrasi leluhur/budaya maritim Austronesia/Papuan), (2) masa kini (realitas keragaman suku, bahasa, dan kearifan lokal bahari), dan (3) masa mendatang (komitmen persatuan identitas kebangsaan Indonesia) tanpa kekeliruan faktual.
Refleksi Pola Adaptasi Iklim & Mitigasi Bencana Penunjang SDGs (TP 7.2.3 - Tes Tertulis Butir 3)Hanya menuliskan definisi perubahan iklim atau bencana tanpa merefleksikan tindakan adaptasi maupun mitigasi lokal.Menuliskan 1 contoh adaptasi iklim atau 1 mitigasi bencana, namun belum merefleksikan fungsinya dalam konteks lingkungan lokal atau keterkaitannya dengan tujuan SDGs.Merefleksikan 1 pola adaptasi perubahan iklim dan 1 upaya mitigasi bencana konteks lokal yang menunjang SDGs, namun penjelasan dampak keberlanjutannya masih terbatas.Merefleksikan secara mendalam dan tepat 1 pola adaptasi perubahan iklim (misal: penyesuaian masa tanam/resapan air sumur) dan 1 mitigasi bencana lokal (misal: pembuatan tanggul/reboisasi lereng) yang secara terukur menunjang pencapaian SDGs lokal (khususnya SDGs 13 penanganan perubahan iklim / SDGs 11 kota pemukiman berkelanjutan).
Pengamatan Sistematis Fenomena Lingkungan dengan Pancaindra (TP 7.2.4 - Tugas Lapangan)Catatan pengamatan tidak sistematis dan hanya mencakup 1 data pancaindra pada satu zona saja.Catatan pengamatan mencakup data dari 2 indra secara sistematis pada 2 zona pengamatan, namun data indra lainnya tidak teridentifikasi.Catatan pengamatan mencakup data faktual dari 3 jenis pancaindra secara sistematis pada kedua zona (Zona A dan Zona B) lingkungan sekitar sekolah.Catatan pengamatan lapangan mencakup deskripsi faktual yang lengkap dan sistematis dari 4 jenis pancaindra (penglihatan: kondisi fisik/sampah; pendengaran: kebisingan; penciuman: aroma/bau; perabaan: suhu/tekstur tanah) pada Zona A dan Zona B tanpa mencampuradukkan opini non-indra.
Penemuan Persamaan dan Perbedaan Fenomena Lingkungan (TP 7.2.5 - Tabel Komparasi)Tabel komparasi hanya memuat 1 persamaan atau 1 perbedaan tanpa didukung data hasil observasi.Menemukan 1 persamaan dan 1 perbedaan fenomena lingkungan antara kedua zona yang teridentifikasi sesuai hasil observasi.Menemukan 2 persamaan dan 1 perbedaan (atau sebaliknya) fenomena lingkungan antarzona berdasarkan data pengamatan nyata.Menemukan secara tepat minimal 2 persamaan faktual (Acuan: kedua zona berada di ruang terbuka sekolah dan dipengaruhi sinar matahari) dan minimal 2 perbedaan faktual (Acuan: vegetasi tanah alami vs lantai keras/semen, jenis timbulan sampah organik daun vs anorganik plastik kemasan) hasil pengamatan lapangan tanpa distorsi data.
Komunikasi Hasil Penyelidikan Upaya SDGs dengan Media Informasi (TP 7.2.6 - Presentasi Kelompok)Penyajian lisan tidak didukung media informasi, atau media yang dibawa tidak memuat data penyelidikan upaya SDGs lokal.Mengomunikasikan hasil penyelidikan dengan media informasi (salindia/infografik), namun isi media hanya berupa teks umum tanpa data konkret upaya SDGs lokal.Mengomunikasikan hasil penyelidikan dengan media informasi yang jelas, memuat masalah dan usulan aksi SDGs lokal, serta menjawab pertanyaan guru dalam batas waktu 5 menit.Mengomunikasikan hasil penyelidikan secara terstruktur, percaya diri, dan tepat waktu (maksimal 5 menit) menggunakan media informasi visual (infografik/salindia) yang menyajikan: isu lokal, bukti penyelidikan, dan usulan aksi nyata penunjang SDGs lokal, serta merespons pertanyaan terpandu dengan argumentasi jelas.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 45 menit untuk tes tertulis, 35 menit kerja lapangan, dan 35 menit unjuk kerja presentasi berjalan efektif dan tepat waktu bagi seluruh 28 murid?
  • Bagaimana capaian murid pada elemen pemahaman konsep dibandingkan dengan keterampilan proses dalam asesmen sumatif Bab 2 ini?

Murid:

  • Bagian mana dari asesmen sumatif hari ini yang paling menantang bagiku: tes tertulis analisis konsep, pengamatan lapangan, atau presentasi kelompok?
  • Pembelajaran penting apa yang aku dapatkan mengenai peran diriku dalam merawat keragaman lingkungan sekitar dan mendukung tujuan SDGs?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Kemendikbudristek, 2023.
  2. Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Kemendikbudristek, 2023.
  3. Lingkungan fisik SMP/MTs sekitar (taman sekolah, selokan, dan area kantin).
  4. Lembar Kerja Observasi Sistematis Pancaindra.
  5. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Kemendikbudristek, 2023.
  6. Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Kemendikbudristek, 2023.
  7. Lembar Kerja Murid 'Cari Samanya, Temukan Bedanya' (berisi teks deskripsi data fenomena taman vs lapangan semen sekolah).
  8. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
  9. Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Bab 2: Keberagaman Lingkungan Sekitar, Halaman 74-76.
  10. Kartu Kasus Dinamika Sosial dan Lembar Kerja Telaah Kasus Integrasi Kebhinekaan buatan guru.
  11. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek
  12. Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII, Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek
  13. Set Kartu Skenario Perubahan Sosial Budaya dan Lembar Kerja Siswa
  14. Artikel kontekstual tentang keberagaman dan dinamika sosial budaya di Indonesia
  15. Buku Panduan Guru IPS SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023
  16. Buku Siswa IPS SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Tema II: Keberagaman Lingkungan Sekitar, Kemendikbudristek 2023
  17. Set kartu berpasangan 'Tantangan Detektif Asal-Usul' (4 kartu masa lampau dan 4 kartu masa kini)
  18. Peta rute migrasi rumpun Austronesia dan Austroasiatik di Kepulauan Nusantara
  19. Buku Panduan Guru IPS Kelas VII Kemendikbudristek 2023
  20. Buku Siswa IPS Kelas VII Kemendikbudristek 2023 Bab 2 Keberagaman Lingkungan Sekitar
  21. Kartu Studi 'Cocok Jejak Leluhur' dan Lembar Analisis Keterhubungan Waktu
  22. Buku Panduan Guru IPS Kelas VII Edisi Revisi (Kemendikbudristek, 2023), Tema II: Keberagaman Lingkungan Sekitar
  23. Buku Siswa IPS Kelas VII Edisi Revisi (Kemendikbudristek, 2023), Bab 2: Keberagaman Lingkungan Sekitar (Aktivitas Pembangunan Berkelanjutan/SDGs dan Perubahan Iklim)
  24. Lembar Kerja Kasus Lingkungan Sekitar (Studi Kasus Genangan Air dan Kekeringan Lahan Pertanian)
  25. Buku Panduan Guru IPS Kelas VII Kemendikbudristek
  26. Buku Siswa IPS Kelas VII Kemendikbudristek Tema 2
  27. Kertas plano, spidol warna, lembar contoh infografik SDGs
  28. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VII (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2023
  29. Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VII (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2023, Tema II Keberagaman Lingkungan Sekitar
  30. Lembar Soal Asesmen Sumatif Tertulis IPS Kelas 7 Bab 2
  31. Lembar Kerja Observasi Pancaindra dan Tabel Komparasi Lingkungan
  32. Media Infografik / Salindia Penyelidikan SDGs Lokal karya murid
  33. Area lingkungan terbuka sekolah (taman dan area kantin/kelola sampah)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.