Modul AjarBab 6Fase CSemester 2

Modul Ajar IPAS Kelas 5 Bab 6: Perubahan pada Diriku

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian IPAS kelas 5 untuk Bab 6 "Perubahan pada Diriku", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar IPAS Kelas 5 Bab 6: Perubahan pada Diriku

IPAS - Kelas 5

Bab 6

MODUL AJAR

IPAS — Kelas 5 (Fase C)

Topik: Bab 6 — Perubahan pada Diriku

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranIPAS
Fase / KelasFase C / Kelas 5
TopikBab 6 — Perubahan pada Diriku
Alokasi Waktu22 JP (22 x 35 menit = 770 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 5.6.1 Merefleksikan sistem organ tubuh manusia pada fase pubertas
  2. TP 5.6.2 Merefleksikan cara menjaga kesehatan tubuhnya pada fase pubertas
  3. TP 5.6.3 Mengamati fenomena perubahan pada tubuh secara sederhana dan mencatat hasil pengamatannya
  4. TP 5.6.4 Mengomunikasikan hasil penyelidikan tentang upaya menjaga kesehatan diri secara utuh dalam media visual

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Perubahan fisik apa saja yang mulai terlihat jelas saat seseorang beranjak dari masa anak-anak menuju pubertas?
  2. Bagaimana cara kita mengamati dan mencatat tanda-tanda perubahan fisik dan fisiologis pada tubuh secara runtut dan teliti?
  3. Pernahkah kamu tiba-tiba merasa mudah tersinggung atau ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman sebaya?
  4. Bagaimana caramu mengenali dan mencatat perubahan perasaan atau pergaulan yang sedang terjadi pada dirimu saat memasuki usia remaja?
  5. Apa organ penting yang mulai berfungsi aktif pada tubuh anak laki-laki saat memasuki masa pubertas?
  6. Mengapa perubahan pada organ reproduksi seperti peristiwa mimpi basah merupakan tanda alami kedewasaan tubuh dan bukan hal yang memalukan?
  7. Apa tanda utama yang menunjukkan bahwa sistem organ reproduksi pada perempuan mulai aktif bekerja saat pubertas?
  8. Mengapa tubuh perempuan mengalami peristiwa menstruasi saat memasuki fase pubertas?
  9. Mengapa saat memasuki fase pubertas tubuh kita menjadi lebih mudah berkeringat dan memicu bau badan maupun jerawat?
  10. Kebiasaan merawat kebersihan organ tubuh apa saja yang sudah kamu lakukan setiap hari, dan apa yang masih perlu diperbaiki?
  11. Mengapa menjaga privasi bagian tubuh yang tertutup pakaian dalam merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan diri saat pubertas?
  12. Apa yang harus kita lakukan bila ada orang lain yang berusaha menyentuh bagian tubuh pribadi kita tanpa izin?
  13. Bagaimana cara kita menyusun pesan visual agar orang lain memahami pentingnya menjaga kebersihan diri saat pubertas?
  14. Unsur apa saja yang harus ada dalam media visual agar hasil penyelidikan kita tentang kesehatan diri mudah dipahami pembaca?
  15. Bagaimana cara kita menyampaikan pesan menjaga kesehatan diri di masa pubertas secara jelas dan menarik lewat gambar?
  16. Mengapa pesan kesehatan diri pada media visual harus mencakup kesehatan fisik dan mental secara utuh?
  17. Bagaimana pemahaman tentang perubahan sistem organ dan emosi saat pubertas membantumu merawat tubuh secara bertanggung jawab?
  18. Mengapa penting menuangkan langkah menjaga kesehatan diri masa puber ke dalam media visual yang jelas dan utuh?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengamati Perubahan Fisik dan Fisiologis pada Tubuh saat Pubertas — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.6.3 Mengamati fenomena perubahan pada tubuh secara sederhana dan mencatat hasil pengamatannya

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru memeriksa kehadiran murid dan menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan terbuka untuk membicarakan topik masa pubertas (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid menjawab 2 pertanyaan pemantik singkat secara lisan untuk memetakan kesiapan murid dalam mengenali perubahan fisik masa pubertas: (1) Sebutkan 2 contoh perubahan fisik yang tampak saat pubertas! (Acuan: tinggi badan bertambah, tumbuh rambut halus/kumis/ketiak, suara membesar, payudara membesar, pinggul melebar, timbul jerawat); (2) Apa perbedaan fisik antara anak-anak dan remaja puber? (Acuan: anak-anak belum memiliki ciri kelamin sekunder/tubuh belum berkembang pesat, sedangkan remaja mulai menunjukkan pertumbuhan pesat dan tanda sekunder) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengamati fenomena perubahan fisik dan fisiologis pada tubuh saat masa pubertas dan mencatat hasil pengamatan ke dalam tabel pengamatan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan pengantar dan mencermati 4 kartu fenomena perubahan tubuh yang dibagikan guru: Kartu 1 (Tinggi badan bertambah pesat dan mulai tumbuh jerawat pada wajah), Kartu 2 (Suara menjadi lebih berat dan membesar), Kartu 3 (Mulai diproduksinya keringat lebih banyak dan timbul bau badan), Kartu 4 (Tumbuhnya rambut halus di area ketiak) (10 menit).
  • Murid berkesadaran mengidentifikasi bagian-bagian tubuh dan fenomena yang mengalami perubahan berdasarkan keempat kartu tersebut (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Secara berpasangan, murid mengikuti tantangan menggembirakan 'Detektif Ciri Tubuh': murid membaca lembar profil tokoh ilustrasi remaja 'Rian' dan 'Siti' yang memuat 6 fenomena perubahan tubuh: (1) Rian bertambah tinggi 8 cm dalam setahun, (2) Suara Rian terdengar lebih berat dan parau, (3) Siti mulai mengalami perubahan bentuk pinggul yang melebar, (4) Timbul jerawat di dahi Rian, (5) Keringat Siti lebih banyak setelah berolahraga, (6) Tumbuh rambut halus di ketiak Siti (15 menit).
  • Murid mengamati dan mencatat setiap fenomena perubahan fisik dan fisiologis dari lembar profil tersebut ke dalam tabel pengamatan di buku tulis masing-masing, yang terdiri dari kolom: [Nama Fenomena], [Bagian Tubuh], dan [Jenis Perubahan: Fisik Luar / Fisiologis Tubuh]. (Acuan pencatatan tepat: (1) Tinggi bertambah - seluruh tubuh - fisik luar; (2) Suara memberat - pita suara/tenggorokan - fisiologis/fisik; (3) Pinggul melebar - pinggul - fisik luar; (4) Jerawat - kulit wajah - fisiologis/fisik luar; (5) Keringat bertambah - kelenjar keringat kulit - fisiologis tubuh; (6) Rambut ketiak - area ketiak - fisik luar) (20 menit).
  • Guru berkeliling mengamati proses pencatatan murid dan memberikan bimbingan langsung kepada murid yang masih bingung mengelompokkan hasil pengamatan (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memeriksa kembali kelengkapan catatan tabel hasil pengamatannya untuk memastikan tidak ada fenomena dari profil yang terlewat dicatat (10 menit).
  • Murid menyimpulkan fenomena perubahan fisik dan fisiologis apa saja yang paling sering terjadi pada tubuh saat memasuki masa pubertas berdasarkan catatan yang telah dibuat (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap catatan pengamatan murid dan meluruskan apabila ada pengelompokan organ/fenomena yang keliru (3 menit).
  • Murid bersama guru melakukan refleksi singkat mengenai ketelitian dalam mencatat pengamatan (2 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam, mengingatkan untuk membawa kembali catatan pada pertemuan berikutnya untuk mendalami perubahan emosi dan sosial (0 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang membutuhkan scaffolding, guru memberikan lembar kerja yang telah memiliki format tabel bergaris dengan contoh 1 baris terisi; bagi murid yang mandiri, tabel dibuat mandiri di buku tugas.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dalam membaca teks profil kalimat demi kalimat; murid yang cepat mencatat dapat menambahkan 2 fenomena perubahan fisik lain yang mereka ketahui secara mandiri.
  • Produk: Tabel catatan hasil pengamatan dapat diisi dengan tulisan ringkas atau poin-poin terstruktur sesuai kesiapan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan: menyebutkan fenomena perubahan fisik saat pubertas. (Acuan: murid dapat menyebutkan minimal 2 perubahan fisik seperti bertambah tinggi, tumbuh jerawat, suara membesar, tumbuh rambut halus ketiak/kumis, payudara membesar, pinggul melebar).

Proses:

  • Observasi formatif saat murid mencatat 6 butir fenomena perubahan tubuh dari lembar profil ke dalam tabel pengamatan (Acuan: (1) Tinggi bertambah 8 cm -> tubuh -> fisik; (2) Suara berat -> pita suara -> fisik/fisiologis; (3) Pinggul melebar -> pinggul -> fisik; (4) Timbul jerawat -> kulit wajah -> fisik/fisiologis; (5) Keringat berlebih -> kelenjar keringat -> fisiologis; (6) Tumbuh rambut ketiak -> ketiak -> fisik).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: pemeriksaan tabel pengamatan murid dengan kriteria minimal 4 dari 6 butir fenomena tercatat lengkap dan tepat pada kolom bagian tubuh dan jenis perubahan sesuai acuan.

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar/tabel catatan hasil pengamatan fenomena perubahan fisik dan fisiologis tubuh pada masa pubertas berdasarkan ketepatan dan kelengkapan butir pengamatan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengamati dan mencatat fenomena perubahan fisik dan fisiologis pada tubuhMencatat 1-2 dari 6 fenomena perubahan tubuh dari bahan amatan secara tepat ke dalam tabel pengamatan dengan bantuan penuh guru.Mencatat 3-4 dari 6 fenomena perubahan tubuh dari bahan amatan secara tepat ke dalam tabel pengamatan dengan sedikit arahan guru.Mencatat 5 dari 6 fenomena perubahan tubuh dari bahan amatan secara tepat dan runtut ke dalam tabel pengamatan secara mandiri.Mencatat seluruh (6 dari 6) fenomena perubahan tubuh dari bahan amatan secara lengkap, tepat, dan runtut ke dalam tabel pengamatan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat mengamati dan mencatat fenomena perubahan fisik dan fisiologis tubuh tanpa merasa canggung atau malu?
  • Apakah lembar profil ilustrasi tokoh memudahkan murid menemukan bukti-bukti perubahan tubuh secara konkret?

Murid:

  • Perubahan fisik dan fisiologis apa saja yang berhasil saya temukan dan catat hari ini?
  • Bagian mana dari kegiatan mengamati dan mencatat tadi yang paling menantang bagi saya?

Pertemuan 2 — Mencatat Hasil Pengamatan Fenomena Perubahan Emosi dan Sosial — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.6.3 Mengamati fenomena perubahan pada tubuh secara sederhana dan mencatat hasil pengamatannya

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melakukan diagnostik awal dengan meminta murid mengangkat kartu kode warna (Biru = Emosi, Hijau = Sosial) untuk mengelompokkan 2 pernyataan fenomena pubertas: (1) 'Tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab yang jelas' (acuan: Emosi); (2) 'Lebih senang bermain dan berdiskusi dengan teman sebaya dibandingkan keluarga' (acuan: Sosial) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengamati fenomena perubahan emosi dan sosial pada masa pubertas melalui studi kasus serta mencatat hasil pengamatannya pada lembar tabel pengamatan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru membagikan Lembar Kasus berisi 4 narasi fenomena masa puber: Kasus A (Dono merasa gampang marah saat kalah bermain game), Kasus B (Siti lebih suka mencurahkan rahasia kepada sahabat dekatnya daripada adiknya), Kasus C (Rani merasa cemas berlebihan ketika harus tampil di depan kelas), Kasus D (Budi membentuk kelompok belajar khusus bersama teman-teman sebayanya) (10 menit).
  • Murid menyimak penjelasan guru tentang cara mengamati tanda-tanda perubahan emosi (gejolak perasaan, suasana hati) dan sosial (interaksi dengan lingkungan/teman) dari teks narasi tersebut (10 menit).
  • Dalam suasana kelas yang menggembirakan, guru mengadakan kuis tebak kilat 'Emosi atau Sosial?': guru membacakan 2 fenomena pemanasan yaitu 'Mudah tersinggung saat diejek' (acuan: Emosi) dan 'Memilih bergaul hanya dengan geng satu hobi' (acuan: Sosial), lalu murid berlomba berdiri jika tergolong perubahan sosial dan tetap duduk bersedekap jika perubahan emosi (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri mencermati kembali 4 narasi Kasus A, B, C, dan D yang telah dibagikan (15 menit).
  • Murid mencatat hasil pengamatan dari keempat kasus tersebut ke dalam Tabel Hasil Pengamatan pada buku tugas dengan mengelompokkan bentuk perubahannya: Kasus A (kategori: Emosi; bukti teks: gampang marah), Kasus B (kategori: Sosial; bukti teks: curhat rahasia ke sahabat), Kasus C (kategori: Emosi; bukti teks: cemas berlebihan), dan Kasus D (kategori: Sosial; bukti teks: membentuk kelompok belajar bersama teman sebaya) (5 menit).
  • Guru berkeliling memberikan bimbingan formatif, memastikan murid mencatat bukti konkret dari teks secara tepat sesuai kolom emosi atau sosial (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan pencocokan mandiri terhadap hasil catatan tabel pengamatannya dengan acuan kunci kategori yang dibacakan guru: Kasus A (Emosi), Kasus B (Sosial), Kasus C (Emosi), dan Kasus D (Sosial) (10 menit).
  • Murid menandai sendiri berapa jumlah kasus yang berhasil dicatat dan diklasifikasikan dengan benar serta menuliskan refleksi kesadaran diri terkait fenomena emosi atau sosial yang pernah mereka alami sendiri (10 menit).

Penutup:

  • Guru memandu simpulan pembelajaran mengenai pentingnya mengenali dan mencatat perubahan emosi dan sosial sebagai bagian alami dari pertumbuhan masa pubertas (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap proses kerja murid serta menginformasikan materi pertemuan berikutnya tentang perubahan sistem reproduksi pada laki-laki, lalu menutup sesi dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks kasus dengan frasa kunci yang ditebalkan (bold), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan 2 narasi kasus tambahan (Kasus E: emosi labil; Kasus F: mencari penerimaan kelompok).
  • Proses: Murid berpencapaian tinggi bekerja mandiri mengamati dan mencatat bukti teks lengkap, sedangkan murid yang masih berkembang mendapatkan panduan terarah dari guru dalam membedakan kata kunci emosi dan sosial.
  • Produk: Seluruh murid mencatat hasil pengamatan pada tabel yang sama dengan target pengelompokan 4 kasus utama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik respon cepat mengelompokkan 2 pernyataan fenomena pubertas: (1) 'Tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab yang jelas' (acuan: fenomena emosi); (2) 'Lebih senang bermain dan berdiskusi dengan teman sebaya dibandingkan keluarga' (acuan: fenomena sosial).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan catatan hasil pengamatan pada Lembar Tabel terhadap 4 teks narasi: Kasus A (acuan: Emosi, bukti: gampang marah), Kasus B (acuan: Sosial, bukti: mencurahkan rahasia ke sahabat), Kasus C (acuan: Emosi, bukti: cemas berlebihan), Kasus D (acuan: Sosial, bukti: membentuk kelompok belajar bersama teman sebaya).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri di lembar refleksi: memeriksa ketepatan identifikasi kategori dan catatan bukti dari 4 kasus yang disajikan (target: minimal 3 dari 4 kasus dicatat dengan kategori dan bukti yang sesuai acuan).

Formatif:

  • Penilaian Kinerja/Observasi Lembar Tabel Catatan Pengamatan 4 Kasus Fenomena Emosi dan Sosial

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mencatat Pengamatan Fenomena Emosi dan SosialMencatat hasil pengamatan dengan benar pada 1 dari 4 kasus sesuai acuan kategori (A: Emosi, B: Sosial, C: Emosi, D: Sosial) dengan bimbingan penuh.Mencatat hasil pengamatan dengan benar pada 2 dari 4 kasus sesuai acuan kategori (A: Emosi, B: Sosial, C: Emosi, D: Sosial) dengan sedikit bimbingan.Mencatat hasil pengamatan dengan benar beserta buktinya pada 3 dari 4 kasus sesuai acuan kategori (A: Emosi, B: Sosial, C: Emosi, D: Sosial) secara mandiri.Mencatat seluruh hasil pengamatan (4 kasus) secara tepat dan lengkap beserta bukti narasinya sesuai acuan kategori (A: Emosi, B: Sosial, C: Emosi, D: Sosial) secara mandiri dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid aktif dan mampu membedakan fenomena perubahan emosi dan perubahan sosial dari kasus yang diamati?
  • Bagian langkah manakah yang membutuhkan alokasi bimbingan lebih intensif bagi murid yang masih kesulitan mencatat bukti pengamatan?

Murid:

  • Apakah aku sudah bisa membedakan fenomena perubahan emosi dan perubahan sosial pada masa pubertas?
  • Perubahan emosi atau sosial apa yang paling sering aku rasakan dalam kehidupan sehari-hari?

Pertemuan 3 — Merefleksikan Perubahan Sistem Organ Reproduksi pada Laki-Laki — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.6.1 Merefleksikan sistem organ tubuh manusia pada fase pubertas

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan membangun suasana kelas yang nyaman, aman, dan saling menghargai untuk membahas perubahan biologis tubuh (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu merefleksikan perubahan sistem organ reproduksi pada laki-laki saat fase pubertas (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal berupa kuis cepat 3 pernyataan benar/salah secara lisan untuk memetakan kesiapan murid terkait sistem organ reproduksi laki-laki (acuan: 1. Organ reproduksi menghasilkan sel untuk keturunan = Benar; 2. Testis menghasilkan sel sperma pada masa puber = Benar; 3. Suara membesar adalah ciri primer pubertas = Salah/ciri sekunder) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membaca dan menyimak paparan infografis mengenai sistem organ reproduksi laki-laki pada masa puber yang mencakup fungsi testis dalam menghasilkan sel sperma serta tanda kematangan biologis primer (peristiwa mimpi basah) dan tanda sekunder (tumbuh jakun, dada membidang, suara memberat) (15 menit).
  • Murid secara mandiri mencocokkan 4 kartu konsep organ dan fungsinya: (1) Testis -> Organ penghasil sel sperma dan hormon; (2) Sel sperma -> Sel reproduksi laki-laki yang mulai diproduksi saat puber; (3) Mimpi basah -> Peristiwa alami keluarnya cairan sperma saat tidur sebagai tanda kematangan organ reproduksi primer; (4) Penis -> Organ reproduksi luar untuk menyalurkan sperma dan urin (acuan: pencocokan tepat 4 kartu sesuai pasangan di atas) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti kuis tantangan berpasangan 'Tebak Tanda Puber Laki-Laki' secara seru dan sportif untuk memilah 4 pernyataan tanda pubertas laki-laki ke dalam kategori Ciri Primer atau Ciri Sekunder: (1) Peristiwa mimpi basah (Primer); (2) Tumbuh rambut halus di sekitar kemaluan dan ketiak (Sekunder); (3) Testis mulai aktif menghasilkan sel sperma (Primer); (4) Suara menjadi lebih berat dan dada bertambah bidang (Sekunder) (acuan: pengelompokan tepat 4 pernyataan sesuai kategori) (15 menit).
  • Murid menganalisis lembar telaah mandiri yang memuat kasus pemahaman Ian: 'Ian merasa cemas dan takut karena mengalami mimpi basah untuk pertama kali. Apakah kondisi Ian berbahaya atau wajar?'. Murid mengidentifikasi status fisiologis perubahan organ tersebut (acuan: kondisi wajar dan alami karena sistem reproduksi testis telah aktif memproduksi sperma pada masa pubertas) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menuliskan lembar refleksi pribadi tentang perubahan sistem organ reproduksi laki-laki dengan menjawab 2 pertanyaan panduan: (1) Mengapa perubahan organ reproduksi pada laki-laki saat pubertas merupakan proses biologis yang wajar dan patut disyukuri?; (2) Bagaimana kesiapan diriku menyikapi perubahan alami pada organ reproduksi ini dengan tenang dan bertanggung jawab? (15 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai fungsi organ reproduksi laki-laki (testis penghasil sperma) dan tanda primer alami pada masa pubertas (10 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap refleksi murid bahwa perubahan organ reproduksi adalah anugerah pertumbuhan yang normal menuju dewasa, serta menutup pertemuan dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan bergambar dengan keterangan istilah biologis yang lebih sederhana; murid cepat diberikan kartu telaah hubungan hormon dan pematangan sel sperma.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dalam membaca alur fungsi testis dan proses mimpi basah; murid mandiri menyelesaikan analisis kasus secara individual.
  • Produk: Refleksi dituangkan dalam bentuk tulisan paragraf reflektif atau peta alur pemikiran reflektif sesuai preferensi murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis lisan 3 butir benar/salah pada awal pembelajaran: (1) 'Organ reproduksi laki-laki berfungsi menghasilkan keturunan' (Acuan: Benar); (2) 'Testis mulai memproduksi sel sperma saat masa pubertas' (Acuan: Benar); (3) 'Suara menjadi berat dan membesar adalah tanda primer berfungsinya organ reproduksi' (Acuan: Salah, suara membesar adalah tanda sekunder, tanda primer adalah mimpi basah/produksi sperma).

Proses:

  • Pengecekan pengerjaan kartu konsep: murid memasangkan 4 istilah organ/proses reproduksi laki-laki dengan fungsinya secara tepat (acuan: Testis -> organ penghasil sperma; Sperma -> sel reproduksi; Mimpi basah -> pengeluaran sperma alami tanda kematangan primer; Penis -> organ penyalur luar).
  • Pengecekan lembar telaah kasus Ian: ketepatan penjelasan bahwa mimpi basah adalah tanda normal berfungsinya testis dalam menghasilkan sel sperma pada fase puber.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi tertulis murid mengenai sistem organ reproduksi laki-laki saat pubertas (Kriteria penerimaan: murid mampu menguraikan bahwa perubahan organ testis memproduksi sperma/mimpi basah adalah proses biologis normal masa puber dan menunjukkan sikap penerimaan diri yang tenang serta tidak cemas).

Formatif:

  • Pemeriksaan ketepatan pencocokan 4 kartu konsep organ reproduksi laki-laki
  • Penilaian lembar refleksi pemahaman sistem organ reproduksi pada masa pubertas laki-laki

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan sistem organ reproduksi laki-laki pada fase pubertasBelum mampu mengaitkan perubahan biologis organ reproduksi laki-laki (testis dan produksi sperma) dengan kewajaran proses pubertas.Mampu menyebutkan organ reproduksi laki-laki yang aktif pada pubertas, namun belum mampu merefleksikan bahwa peristiwa mimpi basah/produksi sperma adalah tanda biologis yang wajar dan normal.Mampu merefleksikan perubahan sistem organ reproduksi laki-laki (fungsi testis menghasilkan sperma dan mimpi basah sebagai tanda primer) sebagai proses alami pubertas secara tepat.Mampu merefleksikan secara mendalam dan mandiri mengenai perubahan sistem organ reproduksi laki-laki (organ primer dan sekunder) serta kesiapan diri menyikapi kedewasaan biologis secara bertanggung jawab dan tenang.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah suasana kelas cukup kondusif, nyaman, dan terbuka saat membahas topik organ reproduksi laki-laki?
  • Apakah seluruh murid sudah memahami bahwa perubahan fungsi organ reproduksi saat puber adalah peristiwa biologis yang normal?

Murid:

  • Apa hal baru yang aku pahami tentang cara kerja organ reproduksi laki-laki saat pubertas?
  • Bagaimana perasaanku sekarang setelah mengetahui bahwa perubahan organ reproduksi pada masa puber adalah hal yang wajar dialami setiap orang?

Pertemuan 4 — Merefleksikan Perubahan Sistem Organ Reproduksi pada Perempuan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.6.1 Merefleksikan sistem organ tubuh manusia pada fase pubertas

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid, mengondisikan kelas yang aman, nyaman, dan saling menghormati untuk membahas perkembangan tubuh (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu merefleksikan perubahan sistem organ reproduksi pada perempuan saat masa pubertas (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan meminta murid menjawab 2 pertanyaan pemetaan pada lembar kertas: (1) Organ penghasil sel telur pada perempuan, (2) Tanda utama berfungsinya sistem organ reproduksi perempuan; acuan jawaban: (1) Ovarium/indung telur, (2) Menstruasi/haid (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak paparan dan bagan infografis sistem organ reproduksi perempuan (ovarium, saluran telur/tuba falopi, rahim/uterus, vagina) serta penjelasan proses menstruasi sebagai tanda primer pubertas perempuan (15 menit).
  • Murid secara mandiri mencermati teks ringkas mengenai ciri primer (menstruasi/pelepasan sel telur) dan sekunder (payudara membesar, pinggul melebar, tumbuh rambut halus pada ketiak dan kemaluan) pada organ tubuh perempuan di masa puber (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan kuis tantangan berpasangan 'Tebak Fakta Puber Perempuan' menggunakan 4 kartu pernyataan untuk membedakan perubahan primer dan sekunder: Kartu 1: 'Menstruasi pertama kali dialami' -> Primer; Kartu 2: 'Pinggul membesar dan melebar' -> Sekunder; Kartu 3: 'Ovarium mulai melepaskan sel telur (ovulasi)' -> Primer; Kartu 4: 'Tumbuhnya rambut halus di area ketiak' -> Sekunder (acuan jawaban: 1-Primer, 2-Sekunder, 3-Primer, 4-Sekunder) (15 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Analisis Perubahan Sistem Organ Reproduksi Perempuan dengan menguraikan fungsi ovarium dan rahim dalam siklus menstruasi berdasarkan 3 butir terstruktur: Butir 1: Organ tempat diproduksinya sel telur (acuan: ovarium); Butir 2: Lapisan dinding yang meluruh saat tidak terjadi pembuahan sehingga menyebabkan menstruasi (acuan: dinding rahim/uterus); Butir 3: Mengapa menstruasi wajar dialami perempuan puber (acuan: tanda alami bahwa organ reproduksi mulai aktif dan menghasilkan sel telur) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menuliskan jurnal refleksi pribadi yang menghubungkan perubahan sistem organ reproduksi perempuan dengan kesiapan diri menghadapi kedewasaan secara biologis menggunakan panduan: 'Setelah memahami bahwa menstruasi adalah tanda aktifnya organ reproduksi, sikap yang saya ambil terhadap perubahan fisik ini adalah...' (kriteria penerimaan: menunjukkan pemahaman bahwa perubahan organ reproduksi perempuan bersifat alami, sehat, dan merupakan fase tumbuh kembang yang wajar) (15 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menarik kesimpulan mengenai sistem organ reproduksi perempuan dan perubahan yang menyertai fase pubertas (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil refleksi murid serta menutup pertemuan dengan doa dan pesan positif untuk menghargai tubuh sendiri (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu visual alur menstruasi bergambar sederhana; murid yang mahir diberikan bacaan tambahan siklus ovulasi bulanan.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan diberikan bimbingan langsung saat mengidentifikasi fungsi organ pada infografis, sedangkan murid yang siap bekerja secara mandiri penuh.
  • Produk: Pada jurnal refleksi, murid dapat memilih menuliskan refleksi dalam 2-3 kalimat terstruktur dengan kalimat pemantik atau menulis narasi refleksi mandiri secara utuh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik tertulis singkat di awal pertemuan untuk mengecek pengetahuan awal organ dan tanda pubertas perempuan: (1) Apa nama organ tempat sel telur diproduksi? (acuan: ovarium/indung telur), (2) Apa tanda biologis utama yang menandakan sistem reproduksi perempuan telah aktif? (acuan: menstruasi/haid).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan jawaban kuis berpasangan 'Tebak Fakta Puber Perempuan' (4 butir kartu: 1-Primer, 2-Sekunder, 3-Primer, 4-Sekunder).
  • Pemeriksaan ketepatan Lembar Analisis Perubahan Sistem Organ Reproduksi Perempuan (3 butir: 1. Ovarium; 2. Dinding rahim/uterus; 3. Menstruasi adalah tanda alami aktifnya organ reproduksi/pelepasan sel telur).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi melalui telaah tulisan jurnal refleksi: murid menuliskan kesimpulan pemaknaan atas perubahan sistem organ reproduksi perempuan (kriteria penerimaan: merefleksikan perubahan biologis menstruasi dan organ reproduksi sebagai peristiwa pertumbuhan normal tanpa rasa cemas berlebih).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pengerjaan kuis 'Tebak Fakta Puber Perempuan'
  • Penilaian Lembar Analisis Perubahan Sistem Organ Reproduksi Perempuan
  • Penilaian catatan jurnal refleksi sistem organ reproduksi perempuan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan sistem organ reproduksi perempuan pada fase pubertasBelum mampu mengidentifikasi perubahan organ reproduksi perempuan (hanya 0-1 jawaban analisis tepat dari 3 acuan butir) dan belum menuangkan refleksi makna pubertas bagi dirinya.Mampu mengidentifikasi perubahan organ reproduksi perempuan secara sebagian (tepat menjawab 2 dari 3 acuan butir), tetapi refleksi yang ditulis belum mengaitkan perubahan organ dengan fungsi biologis pubertas secara jelas.Mampu mengidentifikasi perubahan organ reproduksi perempuan secara tepat (menjawab seluruh 3 acuan butir analisis: ovarium, dinding rahim, dan fungsi menstruasi) serta menuliskan refleksi bahwa perubahan organ reproduksi perempuan adalah proses biologis yang alami.Mampu mengidentifikasi seluruh perubahan organ reproduksi perempuan secara tepat dan mandiri, serta merefleksikan secara mendalam keterkaitan antara berfungsinya organ reproduksi dengan kesiapan diri merawat kesehatan tubuh saat pubertas.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah suasana kelas sudah cukup aman, nyaman, dan bebas dari rasa canggung bagi murid saat membahas sistem organ reproduksi perempuan?
  • Apakah penjelasan proses biologis menstruasi sudah tersampaikan secara ilmiah, santun, dan mudah dipahami oleh murid kelas 5?

Murid:

  • Bagian mana dari cara kerja organ reproduksi perempuan yang paling jelas saya pahami hari ini?
  • Bagaimana perasaan saya setelah mengetahui bahwa perubahan pada organ tubuh perempuan saat puber adalah hal yang wajar dan sehat?

Pertemuan 5 — Merefleksikan Pembiasaan Menjaga Kebersihan Organ Tubuh pada Fase Pubertas — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.6.2 Merefleksikan cara menjaga kesehatan tubuhnya pada fase pubertas

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama untuk menumbuhkan suasana kelas yang berkesadaran serta aman (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merefleksikan cara menjaga kebersihan organ tubuh pada fase pubertas (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik cepat dengan menampilkan 3 pernyataan di papan tulis: (1) Mengganti pakaian dalam minimal 2 kali sehari; (2) Membiarkan wajah berminyak tanpa mencuci muka dengan sabun; (3) Mengeringkan area lipatan tubuh dan organ reproduksi dengan handuk bersih setelah buang air/mandi. Murid diminta mengangkat jempol ke atas jika merupakan pembiasaan benar atau jempol ke bawah jika keliru (acuan: 1=benar, 2=keliru, 3=benar) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati pemaparan guru tentang peningkatan aktivitas kelenjar keringat dan kelenjar minyak pada masa pubertas serta pentingnya menjaga kebersihan organ tubuh (kulit wajah, ketiak, dan organ reproduksi luar) agar terhindar dari kuman dan bau (10 menit).
  • Guru mengadakan kuis interaktif cepat 'Benar atau Perlu Diperbaiki' menggunakan 4 kartu situasi kebersihan: (1) Situasi A: Memakai pakaian dalam yang lembap seharian; (2) Situasi B: Membasuh organ reproduksi dari arah depan ke belakang dan mengeringkannya; (3) Situasi C: Mencuci muka dengan air bersih dan sabun lembut saat berjerawat; (4) Situasi D: Menyemprot parfum berlebihan pada pakaian kotor tanpa mandi. Murid secara serentak merespons dengan kartu warna hijau (Benar) atau merah (Perlu Diperbaiki) (acuan: A=Perlu Diperbaiki, B=Benar, C=Benar, D=Perlu Diperbaiki) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Refleksi Pembiasaan Diri yang memuat 4 aspek kebersihan organ tubuh fase pubertas: (1) Frekuensi mandi dan mencuci rambut, (2) Kebiasaan mengganti pakaian dalam bersih, (3) Cara membersihkan dan mengeringkan organ reproduksi luar setelah buang air, serta (4) Perawatan kebersihan wajah berminyak/berjerawat (5 menit).
  • Murid menganalisis dan mengisi lembar tersebut secara mandiri dengan menandai kebiasaan yang saat ini sudah dijalankan secara teratur beserta alasan pentingnya tindakan tersebut bagi kesehatan tubuh pada fase pubertas (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menuliskan satu komitmen perbaikan pribadi yang konkret untuk memperbaiki kebiasaan menjaga kebersihan organ tubuh yang dirasa masih kurang optimal (misalnya: 'Saya berkomitmen langsung mengganti pakaian dalam setelah berolahraga agar area organ reproduksi tidak lembap') (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali 4 prinsip pembiasaan menjaga kebersihan organ tubuh pada fase pubertas (mandi teratur, ganti pakaian dalam, keringkan area lipatan/reproduksi, rawat kebersihan wajah) (3 menit).
  • Murid melakukan cek pemahaman akhir melalui tiket keluar (exit ticket) menjawab pertanyaan reflektif tertulis: 'Sebutkan 2 pembiasaan menjaga kebersihan tubuh saat puber yang sudah kamu lakukan dan 1 yang ingin kamu tingkatkan mulai hari ini!' (acuan keterterimaan: menyebutkan tindakan kebersihan konkret yang sesuai materi) (5 menit).
  • Guru mengapresiasi kejujuran murid dalam berefleksi, mengingatkan untuk menerapkan komitmen di rumah, serta menutup pembelajaran dengan doa (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar refleksi dengan panduan pemicu visual (ikon aktivitas kebersihan) bagi murid yang membutuhkan bantuan pemahaman konkret.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan panduan terstruktur per butir kebiasaan, sedangkan murid yang mandiri langsung menuliskan refleksi dampak jangka panjang terhadap kesehatan organ.
  • Produk: Refleksi komitmen dituliskan dalam bentuk kalimat komitmen harian sederhana atau daftar ceklis pembiasaan pribadi mingguan pada kompetensi yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman awal melalui 3 butir pernyataan kebersihan pubertas: (1) Mengganti pakaian dalam minimal 2 kali sehari (acuan: benar); (2) Membiarkan wajah berminyak tanpa mencuci muka dengan sabun (acuan: keliru); (3) Mengeringkan area lipatan tubuh dan organ reproduksi dengan handuk bersih setelah buang air/mandi (acuan: benar). Dinilai dari ketepatan respon murid.

Proses:

  • Formatif proses melalui Lembar Refleksi Pembiasaan Diri: Murid merefleksikan 4 aspek kebersihan organ tubuh pada fase pubertas (kebersihan badan/rambut, pakaian dalam, organ reproduksi luar, kebersihan wajah). Kriteria: ketepatan mengidentifikasi kebiasaan yang sehat vs tidak sehat serta kejujuran dalam mencatat kebiasaan diri.

Akhir Pertemuan:

  • Tiket keluar (exit ticket): Menuliskan 2 kebiasaan menjaga kebersihan tubuh saat pubertas yang sudah dijalankan dan 1 kebiasaan yang berkomitmen untuk ditingkatkan (Kriteria penerimaan: menyebutkan pembiasaan nyata yang relevan dengan kebersihan organ tubuh pubertas, seperti mengganti pakaian dalam saat berkeringat, membasuh dan mengeringkan organ reproduksi dengan benar, atau mencuci muka secara teratur).

Formatif:

  • Asesmen awal berupa respons jempol atas/bawah terhadap 3 pernyataan kebiasaan kebersihan pubertas
  • Pengamatan keterlibatan saat permainan kartu situasi kebersihan
  • Penilaian Lembar Refleksi Pembiasaan Diri menjaga kebersihan organ tubuh pada fase pubertas

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Refleksi pembiasaan menjaga kebersihan organ tubuh pada fase pubertasBelum mampu mengidentifikasi kebiasaan menjaga kebersihan organ tubuh pada fase pubertas atau hanya menuliskan 1 aspek tanpa kaitan yang tepat dengan kesehatan tubuh.Mampu merefleksikan 2 aspek pembiasaan menjaga kebersihan organ tubuh pada fase pubertas secara tepat dengan bimbingan guru.Mampu merefleksikan 3 sampai 4 aspek pembiasaan menjaga kebersihan organ tubuh pada fase pubertas (kebersihan badan, pakaian dalam, organ reproduksi luar, wajah) secara mandiri dan tepat.Mampu merefleksikan seluruh 4 aspek pembiasaan menjaga kebersihan organ tubuh pada fase pubertas secara mandiri, tepat, serta merumuskan komitmen perbaikan diri yang konkret dan realistis.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah suasana kelas sudah cukup aman dan nyaman sehingga murid tidak merasa malu saat membicarakan kebersihan organ tubuh pubertas?
  • Apakah seluruh murid mampu mengidentifikasi kebiasaan kebersihan diri yang masih perlu ditingkatkan?

Murid:

  • Bagian mana dari kebiasaan menjaga kebersihan tubuh pubertas yang paling menantang untuk saya lakukan secara rutin?
  • Apa langkah pertama yang akan saya lakukan hari ini di rumah untuk merawat kebersihan tubuh saya dengan lebih baik?

Pertemuan 6 — Merefleksikan Penjagaan Kesehatan Diri dan Privasi Tubuh pada Fase Pubertas — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.6.2 Merefleksikan cara menjaga kesehatan tubuhnya pada fase pubertas

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa singkat, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik: murid menjawab secara lisan 2 pertanyaan guru mengenai area tubuh pribadi yang harus dijaga: (1) Sebutkan 4 area tubuh pribadi yang tidak boleh dilihat atau disentuh sembarangan orang (acuan: mulut, dada, kemaluan/alat kelamin, dan bokong); (2) Tindakan apa yang dilakukan bila seseorang mencoba menyentuh area pribadi tersebut? (acuan: berkata tidak/menolak dengan tegas, lari/menghindar, dan melapor kepada orang tua atau guru) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu merefleksikan cara menjaga kesehatan diri melalui perlindungan privasi tubuh dan batasan ruang pribadi pada fase pubertas (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan guru tentang konsep ruang pribadi (personal space) dan 4 batasan sentuhan aman serta tidak aman pada tubuh saat fase pubertas: (1) Sentuhan aman (acuan: jabat tangan, tos teman, pelukan orang tua yang menenangkan); (2) Sentuhan tidak aman (acuan: sentuhan di area privasi mulut, dada, kemaluan, atau bokong); (3) Sentuhan tidak nyaman (acuan: sentuhan yang membuat risih, terpaksa, atau takut); (4) Aturan 'Katakan Tidak, Menjauh, dan Lapor' jika privasi dilanggar (8 menit).
  • Guru memandu murid mencermati ilustrasi lingkaran privasi di papan tulis yang membedakan area tubuh publik dan area tertutup pakaian dalam sebagai bagian menjaga kesehatan organ diri (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid memainkan permainan interaktif 'Kartu Zona Privasi' secara berpasangan. Guru membagikan 4 kartu situasi: Kartu 1: 'Teman meminjam handuk dan pakaian dalam setelah olahraga'; Kartu 2: 'Orang asing di jalan meminta menyentuh bagian dada atau meraba paha'; Kartu 3: 'Dokter memeriksa area dada didampingi orang tua saat sakit batuk parah'; Kartu 4: 'Seseorang meminta kamu mengirimkan foto diri tanpa busana lewat gawai'. Murid mengklasifikasikan tiap kartu ke dalam kolom 'Pelanggaran Privasi/Bahaya' atau 'Aman Sesuai Aturan Kesehatan' (acuan jawaban: Kartu 1 = Pelanggaran Privasi/Bahaya; Kartu 2 = Pelanggaran Privasi/Bahaya; Kartu 3 = Aman Sesuai Aturan Kesehatan; Kartu 4 = Pelanggaran Privasi/Bahaya) (15 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan keputusan tindakan perlindungan diri pada lembar kerja berdasarkan klasifikasi 4 kartu situasi tersebut (10 menit).

Merefleksi (Bermakna):

  • Murid mengisi lembar 'Refleksi Perlindungan Diri dan Privasi Tubuh' dengan menjawab 3 pertanyaan reflektif: (1) Mengapa menjaga privasi tubuh sangat penting bagi kesehatan fisik dan psikismu di masa puber? (kriteria penerimaan: murid menjelaskan bahwa privasi mencegah penyakit menular/kuman akibat berbagi barang pribadi dan melindungi diri dari pelecehan); (2) Bagaimana kebiasaanmu dalam menjaga privasi tubuh sejauh ini? (kriteria penerimaan: murid mengevaluasi kebiasaan berpakaian sopan dan menjaga batas fisik); (3) Tuliskan 1 janji komitmen tindakan perlindungan diri yang akan kamu lakukan mulai hari ini (kriteria penerimaan: komitmen konkret berani menolak sentuhan tidak aman atau segera melapor orang dewasa terpercaya) (12 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap hasil refleksi murid mengenai pentingnya menjaga kehormatan dan batas privasi tubuh demi kesehatan diri seutuhnya (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan 3 langkah utama menjaga privasi diri (Katakan Tidak, Lari/Menjauh, Lapor ke Orang Tua/Guru), kemudian menutup pembelajaran dengan doa bersama (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu situasi dengan ilustrasi visual berwarna yang lebih eksplisit tentang sentuhan boleh dan tidak boleh, sedangkan murid yang mahir diberikan kartu skenario situasi digital (privasi di media sosial).
  • Proses: Murid yang belum lancar mengidentifikasi bahaya privasi didampingi secara langsung oleh guru saat analisis kartu, sedangkan murid mahir menganalisis konsekuensi jangka panjangnya secara mandiri.
  • Produk: Murid dapat menuangkan refleksi dalam bentuk tulisan paragraf terpandu kalimat rumpang atau tulisan reflektif bebas berstruktur sesuai kriteria penerimaan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: (1) Sebutkan 4 bagian tubuh pribadi yang tidak boleh dilihat/disentuh sembarangan! (acuan jawaban: mulut, dada, kemaluan, bokong); (2) Apa tindakanmu jika ada orang yang memaksa menyentuh bagian tersebut? (acuan jawaban: menolak tegas/berteriak tidak, lari/menghindar, melapor kepada orang tua atau guru).

Proses:

  • Observasi ketepatan mengklasifikasi 4 kartu skenario situasi privasi saat tahap Mengaplikasi (acuan: Kartu 1 = Pelanggaran Privasi/Bahaya; Kartu 2 = Pelanggaran Privasi/Bahaya; Kartu 3 = Aman Sesuai Aturan Kesehatan; Kartu 4 = Pelanggaran Privasi/Bahaya).
  • Pemeriksaan lembar refleksi individu murid pada tahap Merefleksi yang mencakup pemaknaan pentingnya privasi, evaluasi kebiasaan diri, dan rumusan komitmen perlindungan diri.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup melalui lembar tiket keluar (exit ticket): murid menyebutkan 3 langkah proteksi diri jika ada orang yang melanggar privasi tubuhnya (acuan jawaban: (1) Katakan 'Tidak' dengan tegas; (2) Lari/menjauh dari tempat kejadian; (3) Laporkan kepada orang tua atau guru terpercaya).

Formatif:

  • Tes lisan diagnostik di awal pembelajaran tentang 4 area tubuh pribadi dan tindakan penolakan
  • Penilaian kinerja pengelompokan 4 kartu situasi privasi pada tahap Mengaplikasi
  • Penilaian lembar refleksi penjagaan kesehatan diri dan privasi tubuh pada tahap Merefleksi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merefleksikan cara menjaga kesehatan diri melalui perlindungan privasi tubuhBelum mampu menjelaskan kaitan privasi tubuh dengan kesehatan diri dan belum mampu merumuskan komitmen perlindungan diri.Mampu menjelaskan kaitan privasi tubuh dengan kesehatan diri secara parsial dengan bantuan guru, serta merumuskan komitmen perlindungan diri namun belum spesifik.Mampu menjelaskan kaitan privasi tubuh dengan kesehatan diri secara tepat sesuai kriteria (mencegah penularan kuman dan pelecehan), mengevaluasi kebiasaan diri, serta merumuskan komitmen tindakan perlindungan diri yang spesifik secara mandiri.Mampu menjelaskan kaitan privasi tubuh dengan kesehatan fisik dan emosional secara komprehensif, mengevaluasi kebiasaan diri secara kritis, serta merumuskan komitmen tindakan perlindungan diri nyata yang disertai langkah antisipasi risiko secara mandiri dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah suasana kelas sudah cukup aman, nyaman, dan terbuka bagi seluruh murid saat mendiskusikan topik privasi tubuh?
  • Apakah seluruh murid sudah memahami batasan tegas antara sentuhan aman dan sentuhan tidak aman dalam menjaga kesehatan diri?

Murid:

  • Bagian mana dari tubuhku yang merupakan ruang privasi mutlak yang harus selalu kujaga?
  • Siapakah orang dewasa terpercaya yang akan segera kuhubungi jika ada orang yang melanggar privasi tubuhku?

Pertemuan 7 — Mengomunikasikan Penyelidikan Kebersihan Diri Masa Puber dalam Rancangan Media Visual — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.6.4 Mengomunikasikan hasil penyelidikan tentang upaya menjaga kesehatan diri secara utuh dalam media visual

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar kondusif (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merancang media visual untuk mengomunikasikan hasil penyelidikan tentang upaya menjaga kebersihan diri pada masa puber (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis singkat menjodohkan 3 tujuan pesan visual dengan format sajian yang sesuai: (1) Langkah mencuci muka yang benar -> Urutan bagan gambar berurutan; (2) Pengingat mengganti pakaian dalam -> Slogan visual/poster ringkas; (3) Cara merawat kebersihan ketiak berbau -> Infografik komparasi do and don't (acuan jawaban: ketiga pasangan tersebut tepat) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid mencermati contoh draf media visual 'Pojok Mading Kebersihan Diri' yang berisi hasil penyelidikan kebersihan tubuh (mandi teratur, membersihkan lipatan kulit/ketiak, dan mengganti pakaian dalam) serta mengidentifikasi 3 elemen utama pesan visual: judul yang jelas, pesan tindakan konkret, dan ilustrasi pendukung (10 menit).
  • Murid secara mandiri memilih salah satu fokus hasil penyelidikan kebersihan diri masa puber yang akan dikomunikasikan: (A) Perawatan kebersihan kulit wajah dan jerawat, (B) Pengendalian bau badan dan kebersihan ketiak, atau (C) Kebersihan organ reproduksi dan penggantian pakaian dalam (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti tantangan menggembirakan 'Sketsa Cepat 5 Menit': murid membuat tata letak visual kasar (layout thumbnail) secara ekspresif menggunakan kertas buram sebelum dituangkan ke kertas gambar final (5 menit).
  • Murid merancang media visual (poster edukasi atau infografik mading) pada lembar kerja berukuran A4 yang mengomunikasikan secara visual minimal 3 upaya menjaga kebersihan diri masa puber sesuai fokus yang dipilih, dilengkapi teks pesan ringkas dan ilustrasi visual pendukung (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menempelkan rancangan media visualnya di meja masing-masing, lalu saling mengamati karya teman sebangku untuk memeriksa apakah pesan visual upaya kebersihan diri sudah tersampaikan dengan jelas dan terbaca (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan kriteria media visual yang efektif dalam menyampaikan pesan kebersihan diri masa puber (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap rancangan visual yang sudah dibuat dan menyampaikan bahwa rancangan ini akan disempurnakan dan diselesaikan pada pertemuan berikutnya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan templat tata letak (layout) visual bergaris bantu dengan panduan 3 kotak pesan, sedangkan murid yang mahir dibebaskan merancang variasi format infografik atau buklet lipat mandiri.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan merangkai teks visual didampingi dengan daftar kata kunci aksi (misal: 'keringkan', 'ganti 2x sehari', 'gunakan sabun lembut'), sedangkan murid yang cepat langsung melengkapi detail visual tanpa scaffolding.
  • Produk: Media visual dapat berupa poster infografik selembar, komik strip 3 panel kebersihan diri, atau kolom mading visual sesuai minat murid dalam mengomunikasikan hasil penyelidikan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis menjodohkan diagnostik di awal pembelajaran: Murid memasangkan 3 tujuan pesan kebersihan dengan format visual yang sesuai: (1) Langkah mencuci muka -> Urutan bagan gambar berurutan; (2) Pengingat ganti pakaian dalam -> Slogan/poster ringkas; (3) Perawatan ketiak berbau -> Infografik komparasi do and don't (acuan: pasangan 1, 2, dan 3 tepat sesuai kunci).

Proses:

  • Observasi pengerjaan draf media visual: Guru memeriksa apakah rancangan memuat minimal 3 pesan tindakan konkret kebersihan diri masa puber (acuan: mandi/membersihkan tubuh, mengganti pakaian/pakaian dalam, merawat bagian tubuh khusus seperti wajah/ketiak) yang dipadukan dengan ilustrasi visual yang relevan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Murid menuliskan satu kalimat refleksi diri di bagian bawah lembar rancangan visual tentang 'Apakah pesan visual saya sudah cukup jelas menyampaikan cara menjaga kebersihan diri kepada teman sebaya?' (kriteria penerimaan: menyebutkan tindakan kebersihan spesifik yang diangkat dan elemen visual yang memperjelasnya).

Formatif:

  • Penilaian proses merancang media visual menggunakan lembar observasi ketercapaian unsur komunikasi visual hasil penyelidikan kebersihan diri
  • Pemeriksaan kesesuaian antara pesan visual dengan data hasil penyelidikan upaya kebersihan diri masa puber

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Komunikasi Pesan Upaya Kebersihan Diri dalam Media VisualRancangan visual hanya memuat 1 upaya menjaga kebersihan diri masa puber secara visual dan teks.Rancangan visual memuat 2 upaya menjaga kebersihan diri masa puber secara visual dan teks dengan bantuan panduan guru.Rancangan visual memuat 3 upaya menjaga kebersihan diri masa puber secara utuh dan terpadu antara teks dan gambar secara mandiri.Rancangan visual memuat lebih dari 3 upaya menjaga kebersihan diri masa puber secara utuh, terstruktur, dan sangat jelas keterbacaannya secara mandiri.
Keterpaduan Unsur Visual (Gambar dan Teks) dalam Mengomunikasikan Hasil PenyelidikanUnsur visual dan teks belum selaras atau gambar tidak mencerminkan upaya menjaga kebersihan diri masa puber.Unsur visual mulai selaras dengan teks pesan kebersihan diri namun masih membutuhkan bimbingan untuk memperjelas maknanya.Unsur visual dan teks selaras serta secara jelas menyampaikan hasil penyelidikan kebersihan diri tanpa menimbulkan salah tafsir.Unsur visual dan teks sangat harmonis, informatif, dan komunikatif dalam memperjelas seluruh hasil penyelidikan kebersihan diri secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 20 menit pada tahap mengaplikasi cukup bagi murid untuk menuangkan ide visualnya?
  • Apakah scaffolding templat tata letak membantu murid yang kesulitan merancang media visual?

Murid:

  • Bagian mana dari rancangan media visualmu yang paling jelas menyampaikan pesan kebersihan diri?
  • Apa kesulitan yang kamu temui saat mengubah hasil penyelidikan menjadi gambar dan pesan singkat?

Pertemuan 8 — Mengomunikasikan Upaya Menjaga Kesehatan Diri secara Utuh dalam Media Visual — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.6.4 Mengomunikasikan hasil penyelidikan tentang upaya menjaga kesehatan diri secara utuh dalam media visual

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama untuk mengawali kegiatan (3 menit).
  • Guru mengecek kesiapan belajar dengan asesmen awal diagnostik singkat: murid diminta memilih 1 dari 2 contoh draf visual di papan tulis mana yang memuat pesan kesehatan diri secara utuh (fisik dan mental) beserta alasannya (acuan jawaban tepat: Memilih Draf B karena memuat upaya fisik seperti mandi/olahraga dan mental seperti berpikir positif/mengelola stres, sedangkan Draf A hanya memuat fisik saja) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati panduan penyusunan media visual infografik/poster mini yang memuat hasil penyelidikan 4 pilar kesehatan diri utuh: (1) kebersihan dan fisik (mandi teratur, makan bergizi, tidur cukup), (2) mental/emosi (mengelola stres, hobi positif), (3) pergaulan sehat (berteman positif, berani menolak hal negatif), dan (4) privasi diri (menjaga batasan tubuh dan pakaian bersih) (10 menit).
  • Murid secara berpasangan memainkan kuis kilat 'Tebak Simbol Pesan': murid memasangkan kartu pesan teks dengan kartu simbol visual yang relevan untuk memastikan keselarasan gambar dan pesan teks penyelidikan (acuan pasangan tepat: 'Tidur 8-9 jam' dipasangkan dengan simbol bulan/tempat tidur; 'Olahraga 30 menit' dipasangkan dengan simbol sepatu lari; 'Kelola stres' dipasangkan dengan simbol tersenyum/mendengarkan musik; 'Jaga privasi' dipasangkan dengan simbol gembok/tanda batas) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid menyusun dan memfinalkan media visual (poster atau infografik mini) secara mandiri untuk mengomunikasikan hasil penyelidikan upaya menjaga kesehatan diri secara utuh yang mencakup teks panduan ringkas dan ilustrasi pendukung sesuai 4 aspek kesehatan yang dipelajari (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid menempelkan karya media visualnya di dinding kelas untuk sesi 'Galeri Visual' dan berkeliling memberikan stiker bintang pada karya teman yang pesan visualnya jelas dan mencakup upaya kesehatan fisik serta mental secara utuh (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya media visual yang jelas dan padu dalam mengomunikasikan upaya menjaga kesehatan diri secara utuh di masa pubertas (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kreativitas murid dalam menyusun media visual serta menyampaikan agenda belajar pada pertemuan selanjutnya (asesmen sumatif) sebelum menutup sesi dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan templat tata letak bagan 4 kuadran visual, sedangkan murid yang mahir membuat tata letak visual infografik bebas sesuai kreativitasnya.
  • Proses: Pemberian pendampingan berfokus pada murid yang kesulitan memadukan simbol ilustrasi dengan teks pesan kesehatan diri.
  • Produk: Media visual dapat berwujud poster ajakan, selebaran informasi, atau komik strip ringkas yang memuat informasi penyelidikan upaya kesehatan utuh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pemahaman media visual utuh: Murid memilih mana dari dua contoh draf visual sederhana yang menyajikan pesan upaya menjaga kesehatan diri secara utuh (acuan: Draf A memuat 2 poin fisik saja; Draf B memuat poin fisik berupa mandi teratur/olahraga dan mental/sosial berupa kelola stres/pergaulan sehat. Jawaban tepat adalah Draf B karena mencakup kesehatan secara menyeluruh).

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid saat memadankan simbol visual dan menyusun informasi hasil penyelidikan kesehatan diri pada draf media visual masing-masing.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman visual: Pemeriksaan lembar produk media visual murid berdasarkan kriteria pemenuhan 4 aspek kesehatan diri secara utuh (kebersihan/fisik, mental/emosi, pergaulan sehat, privasi tubuh) dan kejelasan visual (ilustrasi mendukung teks panduan).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pembuatan media visual menggunakan rubrik penilaian produk visual upaya menjaga kesehatan diri secara utuh.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Informasi Upaya Kesehatan Diri secara UtuhMedia visual hanya memuat 1 dari 4 aspek upaya menjaga kesehatan diri (acuan 4 aspek: fisik/kebersihan, mental/emosi, pergaulan sehat, dan privasi tubuh).Media visual memuat 2 dari 4 aspek upaya menjaga kesehatan diri secara tepat sesuai acuan.Media visual memuat 3 dari 4 aspek upaya menjaga kesehatan diri secara tepat sesuai acuan.Media visual memuat seluruh 4 aspek upaya menjaga kesehatan diri (fisik/kebersihan, mental/emosi, pergaulan sehat, dan privasi tubuh) secara lengkap dan tepat sesuai acuan.
Kesesuaian Media Visual dalam Mengomunikasikan PesanIlustrasi atau simbol visual tidak selaras dengan teks pesan upaya menjaga kesehatan diri.Sebagian kecil ilustrasi atau simbol visual (1-2 simbol) selaras dengan teks pesan upaya menjaga kesehatan diri.Sebagian besar ilustrasi atau simbol visual (3 simbol) selaras dan memperjelas teks pesan upaya menjaga kesehatan diri.Seluruh ilustrasi dan simbol visual (minimal 4 simbol) selaras, memperjelas, dan mendukung keterbacaan pesan upaya menjaga kesehatan diri secara utuh.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi perancangan media visual dapat dipahami dengan jelas oleh seluruh murid?
  • Bagaimana variasi visual yang dihasilkan murid dalam mengomunikasikan pesan kesehatan fisik dan mental secara utuh?

Murid:

  • Bagian pesan kesehatan mana dalam media visualku yang paling mudah dipahami orang lain?
  • Apa hal menarik yang aku pelajari saat merancang gambar dan teks untuk mengajak menjaga kesehatan diri?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 5.6.1 Merefleksikan sistem organ tubuh manusia pada fase pubertas
  • TP 5.6.2 Merefleksikan cara menjaga kesehatan tubuhnya pada fase pubertas
  • TP 5.6.3 Mengamati fenomena perubahan pada tubuh secara sederhana dan mencatat hasil pengamatannya
  • TP 5.6.4 Mengomunikasikan hasil penyelidikan tentang upaya menjaga kesehatan diri secara utuh dalam media visual

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif bab dengan salam, berdoa bersama, mengecek kehadiran, dan mengondisikan tempat duduk murid secara mandiri dan berjarak (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pertemuan untuk asesmen sumatif bab melalui dua tugas mandiri: Lembar Refleksi Terstruktur (30 menit) dan Pembuatan Media Visual (35 menit) (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak pembagian lembar asesmen tertulis dan arahan tata cara pengerjaan tugas tertulis reflektif individual secara tenang dan teliti (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara individual mengerjakan Tugas 1: Lembar Refleksi Terstruktur berisi 3 bagian: (a) mendeskripsikan perubahan sistem organ reproduksi saat pubertas [Acuan: Laki-laki memproduksi sel sperma/mimpi basah, tumbuh rambut di area tertentu, suara membesar, jakun; Perempuan memproduksi sel telur/ovulasi, menstruasi, payudara membesar, pinggul melebar]; (b) mencatat hasil pengamatan fenomena pubertas fisik, emosi, dan sosial [Acuan: perubahan fisik seperti keringat berlebih/jerawat/perubahan bentuk tubuh, emosi mudah berubah/sensitif, dorongan berteman]; (c) mengisi lembar ceklis rencana pembiasaan kebersihan dan kesehatan tubuh [Acuan: mandi 2x sehari, mengganti pakaian dalam minimal 2x sehari/saat lembap, membersihkan organ reproduksi dengan air bersih dan mengeringkannya, makan bergizi seimbang, tidur cukup] (27 menit).
  • Murid secara individual mengerjakan Tugas 2: Unjuk kerja pembuatan media visual berupa poster/infografis ukuran A4 yang memuat sajian visual utuh tentang upaya menjaga kesehatan diri masa puber [Acuan aspek produk visual: (1) kelengkapan upaya: langkah konkret kebersihan organ reproduksi, kebersihan tubuh umum, dan pola hidup sehat; (2) kejelasan pesan teks dan keterpaduan visual yang mudah dipahami] (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kelengkapan identitas serta jawaban pada kedua artefak tugas sebelum mengumpulkannya kepada guru secara tertib (2 menit).

Penutup:

  • Murid mengumpulkan seluruh artefak Lembar Refleksi Terstruktur dan produk media visual ke meja guru (1 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kedisiplinan, kemandirian, dan kejujuran murid selama pelaksanaan asesmen sumatif bab serta menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Proses: Akomodasi akses: pembacaan instruksi soal secara lisan bagi murid yang memiliki hambatan membaca tanpa mengubah konten, tingkat kesulitan, atau kriteria penilaian.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Tes tertulis reflektif dan unjuk kerja pembuatan media visual secara serentak: Lembar refleksi terstruktur berisi uraian perubahan sistem organ, catatan pengamatan fenomena pubertas, dan ceklis rencana pembiasaan hidup sehat, serta karya infografis/poster visual tentang upaya menjaga kesehatan diri pada masa pubertas
  • tes tertulis serentak: Lembar kerja refleksi terstruktur berisi deskripsi perubahan sistem organ saat pubertas, pencatatan hasil pengamatan fenomena pubertas pada diri/lingkungan, dan lembar ceklis rencana pembiasaan menjaga kebersihan serta kesehatan tubuh yang dikerjakan seluruh kelas bersamaan (30 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran dan kunci rubrik refleksi)
  • unjuk kerja serentak: Karya visual berupa infografis atau poster kertas ukuran A4 yang memuat sajian visual utuh mengenai langkah-langkah konkret menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi/tubuh di masa pubertas (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk visual (keterpaduan pesan, kejelasan informasi, dan kelengkapan upaya))

Sumatif:

  • Tes tertulis reflektif dan unjuk kerja pembuatan media visual secara serentak: Lembar refleksi terstruktur berisi uraian perubahan sistem organ, catatan pengamatan fenomena pubertas, dan ceklis rencana pembiasaan hidup sehat, serta karya infografis/poster visual tentang upaya menjaga kesehatan diri pada masa pubertas
  • tes tertulis serentak: Lembar kerja refleksi terstruktur berisi deskripsi perubahan sistem organ saat pubertas, pencatatan hasil pengamatan fenomena pubertas pada diri/lingkungan, dan lembar ceklis rencana pembiasaan menjaga kebersihan serta kesehatan tubuh yang dikerjakan seluruh kelas bersamaan (30 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran dan kunci rubrik refleksi)
  • unjuk kerja serentak: Karya visual berupa infografis atau poster kertas ukuran A4 yang memuat sajian visual utuh mengenai langkah-langkah konkret menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi/tubuh di masa pubertas (40 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk visual (keterpaduan pesan, kejelasan informasi, dan kelengkapan upaya))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Refleksi Sistem Organ dan Fenomena Pubertas (TP 5.6.1 & TP 5.6.3)Belum mampu mendeskripsikan perubahan sistem organ reproduksi laki-laki dan perempuan atau belum mampu mencatat fenomena perubahan fisik, emosi, dan sosial (tepat 0 indikator acuan).Mendeskripsikan sebagian kecil perubahan organ atau mencatat sebagian kecil fenomena pubertas (tepat 1-2 indikator acuan: organ laki-laki [sperma/mimpi basah/suara], organ perempuan [ovulasi/menstruasi/payudara], fenomena fisik [keringat/jerawat], fenomena emosi/sosial).Mendeskripsikan sebagian besar perubahan organ reproduksi laki-laki dan perempuan serta mencatat sebagian besar fenomena fisik, emosi, dan sosial secara tepat (tepat 3-4 indikator acuan).Mendeskripsikan seluruh perubahan sistem organ reproduksi laki-laki dan perempuan serta mencatat seluruh fenomena fisik, emosi, dan sosial dengan lengkap dan tepat (memenuhi seluruh 5 indikator acuan).
Refleksi Pembiasaan Menjaga Kesehatan Diri (TP 5.6.2)Belum mampu menuliskan rencana pembiasaan menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi/tubuh (memenuhi 0 indikator acuan).Menuliskan 1 langkah pembiasaan kebersihan atau kesehatan tubuh yang tepat sesuai acuan (kebersihan pakaian dalam, mencuci/mengeringkan organ reproduksi, mandi rutin, atau pola hidup sehat).Menuliskan 2-3 langkah pembiasaan kebersihan dan kesehatan tubuh yang tepat sesuai acuan.Menuliskan 4 atau lebih langkah konkret pembiasaan kebersihan organ reproduksi dan kesehatan tubuh secara mandiri dan tepat sesuai seluruh acuan.
Komunikasi Upaya Kesehatan Diri dalam Media Visual (TP 5.6.4)Media visual belum memuat informasi upaya menjaga kesehatan diri secara utuh atau pesan visual tidak terbaca/tidak terpadu.Media visual memuat 1 upaya kesehatan diri, namun pesan teks belum sepenuhnya terpadu dengan unsur visual pendukung.Media visual memuat 2-3 upaya menjaga kesehatan diri masa pubertas secara utuh dengan pesan teks yang jelas dan sajian visual terpadu.Media visual memuat secara lengkap seluruh upaya menjaga kebersihan organ reproduksi, kebersihan tubuh umum, serta pola hidup sehat secara utuh, dengan tata letak visual yang sangat terpadu, jelas, dan mudah dipahami.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk tes tertulis reflektif (30 menit) dan pembuatan karya visual (35-40 menit) berjalan efektif dan tertib?
  • Bagaimana capaian ketercapaian murid pada keempat TP Bab 6 berdasarkan hasil asesmen sumatif tertulis dan produk visual ini?

Murid:

  • Bagian mana dari tugas asesmen sumatif bab ini yang paling menunjukkan pemahamanku tentang pubertas?
  • Langkah hidup sehat apa yang paling siap aku laksanakan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru IPAS untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
  2. Buku Siswa IPAS untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Bab 6 Topik A: Bersiap Menghadapi Masa Puber.
  3. Kartu Fenomena Perubahan Tubuh dan Lembar Profil Tokoh Ilustrasi Remaja (Rian dan Siti).
  4. Buku Panduan Guru IPAS Kelas V SD (Kemendikbudristek, 2024)
  5. Buku Siswa IPAS Kelas V SD (Kemendikbudristek, 2024)
  6. Lembar Kasus Fenomena Pubertas (Kasus A, B, C, D)
  7. Lembar Kerja Tabel Catatan Pengamatan
  8. Buku Panduan Guru IPAS Kelas V SD Kemendikbudristek 2024 Bab 6
  9. Buku Siswa IPAS Kelas V SD Kemendikbudristek 2024 Bab 6
  10. Bagan/kartu gambar sistem organ reproduksi laki-laki dan kartu konsep pubertas
  11. Buku Panduan Guru IPAS untuk SD/MI Kelas V Edisi Revisi 2024, Bab 6 'Perubahan pada Diriku'
  12. Buku Siswa IPAS untuk SD/MI Kelas V Edisi Revisi 2024, Bab 6 Halaman 112-115
  13. Bagan/Infografis Anatomi Sistem Reproduksi Perempuan dan Siklus Menstruasi
  14. Kartu Kuis 'Tebak Fakta Puber Perempuan'
  15. Buku Panduan Guru IPAS Kelas V SD (Kemendikbudristek 2021/Edisi Revisi)
  16. Buku Siswa IPAS Kelas V SD Bab 6: Perubahan pada Diriku
  17. Kartu situasi kebersihan tubuh pubertas (4 kartu)
  18. Lembar Refleksi Pembiasaan Diri Murid
  19. Buku Panduan Guru IPAS SD Kelas V, Bab 6: Perubahan pada Diriku, Topik C 'Aku Punya Privasi', Kemendikbudristek 2021
  20. Buku Siswa IPAS SD Kelas V, Bab 6: Perubahan pada Diriku, Halaman 122–126, Kemendikbudristek 2021
  21. Set 4 Kartu Permainan Zona Privasi Tubuh
  22. Lembar Kerja dan Refleksi Perlindungan Diri dan Privasi Tubuh
  23. Buku Panduan Guru IPAS Kelas V SD/MI Kemendikbudristek
  24. Buku Siswa IPAS Kelas V SD/MI Kemendikbudristek Bab 6 Topik A
  25. Kertas gambar A4, spidol/pensil warna, dan contoh lembar mading visual edukasi kesehatan
  26. Buku Panduan Guru IPAS SD Kelas V
  27. Buku Siswa IPAS SD Kelas V Bab 6
  28. Kertas gambar/karton, spidol warna, pensil warna
  29. Set kartu pasangan 'Simbol dan Pesan Kesehatan Diri'
  30. Buku Panduan Guru IPAS SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024.
  31. Buku Siswa IPAS SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Bab 6, Kemendikbudristek 2024.
  32. Lembar Refleksi Terstruktur Sumatif Bab 6.
  33. Kertas gambar A4 dan pensil warna/krayon.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.