Modul AjarPertemuan 4Bab 5Fase BSemester 2

Modul Ajar IPAS Kelas 3: Nilai Guna Barang dan Skala Prioritas Belanja

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran IPAS kelas 3 dengan topik "Nilai Guna Barang dan Skala Prioritas Belanja". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar IPAS Kelas 3: Nilai Guna Barang dan Skala Prioritas Belanja

IPAS - Kelas 3

Bab 5 - Pertemuan 4

MODUL AJAR

IPAS — Kelas 3 (Fase B)

Topik: Nilai Guna Barang dan Skala Prioritas Belanja

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranIPAS
Fase / KelasFase B / Kelas 3
TopikNilai Guna Barang dan Skala Prioritas Belanja
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat menjelaskan nilai guna suatu barang dan menggunakannya sebagai dasar dalam menentukan prioritas pembelian.
  2. Murid dapat menyusun urutan prioritas daftar belanja dari yang paling penting hingga kurang penting dengan memberikan alasan yang sesuai.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kamu punya uang terbatas tetapi ingin membeli banyak barang? Apa yang kamu lakukan?
  2. Menurutmu, apa bedanya barang yang kamu butuhkan setiap hari dengan barang yang hanya kamu inginkan?
  3. Kalau kamu hanya boleh membeli tiga barang untuk masuk sekolah baru, barang apa saja yang akan kamu pilih pertama? Kenapa?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru menyapa murid dan meminta satu murid memimpin doa bersama (2 menit).
  • Guru melakukan presensi singkat dan memastikan kondisi kelas siap belajar (1 menit).
  • Asesmen awal — Guru menampilkan dua gambar di papan tulis: gambar pensil dan gambar mainan. Guru bertanya, 'Jika kamu hanya bisa membeli satu barang untuk sekolah hari ini, mana yang kamu pilih? Tunjuk gambarnya!' Murid menjawab secara serentak. Guru mencatat pola jawaban kelas sebagai diagnostik awal pemahaman konsep kebutuhan vs. keinginan (3 menit).
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik satu per satu, memberi waktu murid berpikir sebentar sebelum beberapa murid berbagi jawaban singkat (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini dengan bahasa sederhana: 'Hari ini kita akan belajar apa itu nilai guna barang dan bagaimana cara mengurutkan barang belanjaan dari yang paling penting sampai yang bisa ditunda.' (1 menit).
  • Guru menjelaskan alur kegiatan secara singkat: menyimak penjelasan, bekerja dalam kelompok sebagai 'Pengatur Belanja', lalu mempresentasikan hasil (1 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menunjukkan tiga benda nyata atau gambar benda (misalnya beras/nasi kotak, sepatu sekolah, dan es krim) satu per satu kepada murid (2 menit).
  • Guru mengajak murid mengamati setiap benda dan bertanya: 'Untuk apa benda ini digunakan? Kapan kita memakainya?' Murid menjawab secara lisan bergantian (2 menit).
  • Guru memperkenalkan konsep nilai guna: 'Nilai guna adalah manfaat atau kegunaan suatu barang bagi kita. Beras berguna untuk memberi kita energi agar bisa beraktivitas. Itu disebut nilai guna barang.' Guru menuliskan istilah 'Nilai Guna' di papan tulis (2 menit).
  • Guru menjelaskan empat jenis nilai guna secara singkat dan kontekstual menggunakan contoh sehari-hari murid: nilai guna bentuk (kayu dibuat kursi), nilai guna tempat (ikan lebih berguna di pasar daripada di laut), nilai guna waktu (jas hujan lebih berguna saat hujan), nilai guna dasar (padi sebagai bahan dasar nasi). Guru menggunakan ilustrasi sederhana di papan tulis (4 menit).
  • Guru mengajak murid berpikir bersama: 'Kalau nilai gunanya tinggi untuk kehidupan sehari-hari kita, apakah barang itu perlu dibeli lebih dahulu?' Murid merespons dengan acungan tangan atau jawaban singkat. Guru menegaskan kaitan antara nilai guna dan prioritas belanja (2 menit).
  • Guru memperkenalkan konsep skala prioritas: 'Skala prioritas belanja adalah urutan barang dari yang paling penting (harus dibeli dulu) sampai yang paling tidak mendesak (bisa ditunda).' Guru menuliskan di papan tulis: Kebutuhan Pokok → Kebutuhan Sekunder → Keinginan (2 menit).
  • Guru memberikan satu contoh tabel skala prioritas di papan tulis dengan dua baris (beras dan permen) lengkap dengan kolom Nama Barang, Nilai Guna, Skala Prioritas, dan Alasan. Guru membacakan dan menjelaskan isinya bersama murid (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru membagi murid menjadi kelompok kecil (4–5 orang). Setiap kelompok mendapat Lembar Kerja Kelompok (LKK) berisi daftar 8–10 barang (misalnya: buku tulis, pensil, penghapus, tas sekolah, mainan, permen, seragam, sepatu, penggaris, stiker) beserta tabel kosong berkolom Nama Barang, Nilai Guna, Skala Prioritas, dan Alasan (1 menit).
  • Guru menyampaikan skenario bermain peran: 'Kalian adalah tim Pengatur Belanja yang akan masuk kelas baru. Uang kalian terbatas. Diskusikan nilai guna setiap barang, lalu susun urutannya dari nomor 1 (paling penting) sampai nomor 8/10 (paling bisa ditunda). Tulis alasannya!' (1 menit).
  • Murid berdiskusi dalam kelompok, mengisi tabel LKK. Guru berkeliling memantau, memberi pertanyaan pancingan seperti: 'Kenapa kalian menaruh mainan di urutan akhir? Apa nilai guna pensil untuk kalian di sekolah?' Guru memberikan umpan balik lisan langsung ke kelompok sebagai asesmen proses (10 menit).
  • Setiap kelompok menyiapkan satu produk sederhana: tabel yang sudah diisi atau boleh digambar dalam bentuk diagram/infografik sederhana di kertas poster kecil untuk dipresentasikan (3 menit).
  • Setiap kelompok mempresentasikan urutan prioritas dan alasannya secara singkat (masing-masing ±1,5 menit). Kelompok lain menyimak dan boleh mengajukan satu pertanyaan atau komentar (8 menit).
  • Guru memandu diskusi kelas setelah semua kelompok presentasi dengan pertanyaan pemandu: 'Apakah semua kelompok meletakkan barang yang sama di urutan teratas? Mengapa bisa berbeda? Apakah semua barang yang kita inginkan harus dibeli sekarang?' (3 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid duduk tenang sejenak dan meminta mereka berpikir secara pribadi: 'Dari semua barang yang tadi kalian diskusikan, barang mana yang paling berguna untukmu? Apakah kamu sudah bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan?' (1 menit).
  • Murid mengisi kartu refleksi individu (ukuran setengah folio atau sticky note) dengan tiga pertanyaan: (1) Apa itu nilai guna barang? (2) Sebutkan satu contoh barang kebutuhanmu dan jelaskan nilai gunanya. (3) Apakah menurutmu membuat skala prioritas belanja itu penting? Kenapa? (5 menit).
  • Guru meminta 2–3 murid secara sukarela membacakan jawaban kartu refleksi mereka. Guru merespons singkat dan mengaitkan dengan pelajaran hari ini (2 menit).
  • Guru menyimpulkan pembelajaran bersama murid: 'Kita sudah belajar bahwa setiap barang punya nilai guna. Dengan mengetahui nilai guna barang, kita bisa menentukan mana yang harus dibeli dulu dan mana yang bisa ditunda. Inilah yang disebut skala prioritas belanja.' (1 menit).

Penutup:

  • Guru mengajukan pertanyaan penutup secara lisan sebagai asesmen akhir singkat: 'Coba sebutkan satu barang dan jelaskan nilai gunanya!' Beberapa murid menjawab secara bergantian (2 menit).
  • Guru memberikan apresiasi kepada seluruh kelompok atas diskusi dan presentasi yang sudah dilakukan hari ini (1 menit).
  • Guru menyampaikan pesan karakter: 'Dengan belajar mengatur belanja, kalian sedang berlatih menjadi orang yang bijak dalam mengelola uang. Itu adalah kemampuan penting untuk kehidupan kalian.' (1 menit).
  • Guru menginformasikan topik pembelajaran berikutnya secara singkat (1 menit).
  • Salah satu murid memimpin doa penutup, kemudian salam (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang belum memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan diberikan kartu bantu bergambar yang sudah mengelompokkan contoh barang ke dalam dua kategori (kebutuhan dan keinginan) sebagai scaffolding sebelum mengisi LKK.
  • Proses: Murid yang membutuhkan dukungan lebih dapat mengerjakan LKK dengan daftar barang yang lebih sedikit (5 barang) dan kolom alasan sudah tersedia pilihan kalimat awal. Murid yang sudah cepat memahami diminta menambahkan kolom 'Jenis Nilai Guna' pada tabel mereka dan mengidentifikasi apakah nilai guna setiap barang termasuk nilai guna bentuk, tempat, waktu, atau dasar.
  • Produk: Murid dibebaskan menyajikan hasil diskusi kelompok dalam bentuk tabel tertulis, diagram gambar, atau infografik sederhana sesuai kemampuan dan kreativitas kelompok masing-masing.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan dua gambar (pensil dan mainan) dan meminta murid memilih secara serentak mana yang lebih diperlukan untuk sekolah. Guru mencatat proporsi jawaban kelas untuk mengetahui pemahaman awal murid tentang kebutuhan vs. keinginan sebelum masuk ke konsep nilai guna.
  • Guru mengajukan pertanyaan pemantik lisan dan menyimak respons murid sebagai gambaran pengetahuan awal tentang pengambilan keputusan belanja.

Proses:

  • Observasi aktif guru saat murid berdiskusi mengisi LKK: guru berkeliling dan mencatat apakah setiap kelompok mampu menuliskan nilai guna dengan tepat dan memberikan alasan prioritas yang logis.
  • Pertanyaan pancingan lisan kepada kelompok selama diskusi ('Apa nilai guna barang ini bagi kalian?' / 'Kenapa ini lebih penting dari itu?') untuk memantau pemahaman dan memberikan umpan balik langsung.
  • Pengamatan proses presentasi kelompok: guru menilai kejelasan penyampaian urutan prioritas dan kesesuaian alasan dengan konsep nilai guna.

Akhir:

  • Kartu refleksi individu: murid menuliskan pengertian nilai guna, satu contoh barang dengan nilai gunanya, dan alasan pentingnya skala prioritas belanja. Dinilai menggunakan rubrik empat level.
  • LKK tabel skala prioritas kelompok dikumpulkan: guru menilai ketepatan kolom nilai guna, kesesuaian urutan prioritas, dan kualitas alasan menggunakan rubrik.

Formatif:

  • Observasi guru saat murid berdiskusi kelompok: guru mencatat apakah murid dapat menyebutkan nilai guna barang dan memberikan alasan prioritas yang logis.
  • Pertanyaan lisan pancingan selama kelompok bekerja: 'Mengapa barang ini lebih penting dari yang itu?'
  • Pengamatan presentasi kelompok: guru menilai kemampuan murid mengomunikasikan urutan prioritas dan alasannya.

Sumatif:

  • Kartu refleksi individu yang diisi murid di akhir tahap Merefleksi: memuat definisi nilai guna, satu contoh konkret, dan pendapat murid tentang pentingnya skala prioritas.
  • Lembar Kerja Kelompok (LKK) tabel skala prioritas yang dikumpulkan sebagai bukti hasil belajar kelompok.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan Nilai Guna BarangTidak dapat menyebutkan nilai guna barang atau jawaban tidak relevan sama sekali.Menyebutkan nilai guna barang tetapi hanya satu kata atau sangat umum (misalnya 'untuk dipakai') tanpa penjelasan manfaatnya.Menjelaskan nilai guna barang dengan kalimat lengkap dan cukup tepat, tetapi belum mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari secara spesifik.Menjelaskan nilai guna barang dengan kalimat jelas, tepat, dan mengaitkannya secara spesifik dengan kebutuhan atau aktivitas sehari-hari (contoh: 'Pensil berguna untuk menulis tugas di sekolah setiap hari').
Menyusun Urutan Skala Prioritas BelanjaTidak menyusun urutan atau urutan disusun secara acak tanpa pertimbangan apapun.Menyusun urutan tetapi sebagian besar barang keinginan ditempatkan di urutan atas (lebih penting dari kebutuhan pokok).Menyusun urutan dengan sebagian besar barang kebutuhan di urutan atas dan barang keinginan di urutan bawah, meskipun masih ada satu dua yang kurang tepat.Menyusun urutan dengan tepat: barang kebutuhan pokok berada di urutan teratas dan barang keinginan di urutan terbawah, dengan urutan yang konsisten dan logis secara keseluruhan.
Memberikan Alasan Prioritas BelanjaTidak memberikan alasan atau alasan tidak berhubungan dengan nilai guna maupun kebutuhan.Memberikan alasan tetapi tidak logis atau hanya karena ikut-ikutan teman / karena suka (contoh: 'karena lucu' atau 'karena mau').Memberikan alasan yang cukup logis dan mengacu pada kegunaan barang, meskipun belum sepenuhnya menggunakan istilah nilai guna secara eksplisit.Memberikan alasan yang logis, spesifik, dan mengaitkan secara eksplisit dengan nilai guna barang serta relevansi terhadap kebutuhan sehari-hari (contoh: 'Buku tulis harus dibeli dulu karena nilainya lebih guna untuk belajar di sekolah setiap hari dibanding mainan yang hanya untuk hiburan').
Kolaborasi dan Komunikasi dalam KelompokTidak berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan tidak menyampaikan pendapat apapun.Hadir dalam kelompok tetapi hanya mengikuti pendapat orang lain tanpa menyumbangkan ide sendiri.Aktif berdiskusi dan menyampaikan pendapat sendiri, meskipun belum sepenuhnya mendengarkan atau merespons pendapat teman.Aktif menyampaikan pendapat, mendengarkan teman, merespons pendapat orang lain dengan sopan, dan membantu kelompok mencapai keputusan bersama yang disertai alasan.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid dapat memahami konsep nilai guna barang melalui contoh-contoh yang saya gunakan hari ini? Bagian mana yang perlu dijelaskan ulang dengan cara berbeda?
  • Apakah skenario 'Pengatur Belanja' cukup memotivasi murid untuk terlibat aktif dalam diskusi kelompok? Apa yang perlu saya perbaiki pada aktivitas ini?
  • Apakah diferensiasi yang saya terapkan (kartu bantu bergambar dan penambahan kolom untuk murid cepat) sudah cukup menjangkau semua murid sesuai kebutuhannya?
  • Apakah alokasi waktu pada setiap tahap (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi) sudah berjalan sesuai rencana? Bagian mana yang perlu disesuaikan?

Refleksi Murid:

  • Apa yang kamu pelajari hari ini tentang nilai guna barang? Bisakah kamu jelaskan dengan kata-katamu sendiri?
  • Apakah kamu sudah bisa membedakan barang yang kamu butuhkan dan barang yang hanya kamu inginkan? Berikan satu contoh masing-masing!
  • Bagian mana dari kegiatan hari ini yang paling kamu sukai? Bagian mana yang menurutmu masih sulit?
  • Setelah belajar tentang skala prioritas, apakah kamu ingin menerapkannya saat kamu akan membeli sesuatu? Apa yang akan kamu lakukan berbeda mulai sekarang?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa IPAS untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 5 'Bijak Berbelanja Kebutuhan', halaman 110–112.
  2. Panduan Guru IPAS untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), halaman 158–162.
  3. Lembar Kerja Kelompok (LKK) tabel skala prioritas — disiapkan guru (berisi daftar 8–10 barang dan tabel kosong: Nama Barang, Nilai Guna, Skala Prioritas, Alasan).
  4. Kartu refleksi individu — disiapkan guru (ukuran setengah folio atau sticky note berisi 3 pertanyaan refleksi).
  5. Benda nyata atau gambar/foto benda (beras/nasi kotak, sepatu sekolah, es krim, pensil, mainan) untuk media demonstrasi pada tahap Memahami.
  6. Kartu bantu bergambar (scaffold) untuk murid yang membutuhkan dukungan — disiapkan guru (gambar barang sudah dikelompokkan menjadi kebutuhan dan keinginan).
  7. Kertas poster kecil / karton warna dan spidol untuk kelompok yang ingin membuat diagram atau infografik.
  8. Papan tulis dan alat tulis guru.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.