Modul AjarPertemuan 6Bab 2Fase DSemester 1

Modul Ajar IPA Kelas 8: Proses Pembentukan Urine dan Simulasi Penyaringan Darah oleh Ginjal

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran IPA kelas 8 dengan topik "Proses Pembentukan Urine dan Simulasi Penyaringan Darah oleh Ginjal". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar IPA Kelas 8: Proses Pembentukan Urine dan Simulasi Penyaringan Darah oleh Ginjal

IPA - Kelas 8

Bab 2 - Pertemuan 6

MODUL AJAR

IPA — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Proses Pembentukan Urine dan Simulasi Penyaringan Darah oleh Ginjal

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranIPA
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikProses Pembentukan Urine dan Simulasi Penyaringan Darah oleh Ginjal
Alokasi Waktu2x40 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat menjelaskan tiga tahapan pembentukan urine (filtrasi, reabsorpsi, augmentasi) beserta lokasi dan zat yang terlibat pada setiap tahapan.
  2. Murid dapat merancang dan melakukan simulasi sederhana proses penyaringan darah oleh ginjal, lalu mengomunikasikan hasil simulasi secara sistematis.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa warna urine bisa berbeda-beda setiap hari? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam ginjal kita?
  2. Jika ginjal bekerja seperti saringan, zat apa saja yang disaring dan zat apa yang dikembalikan ke darah?
  3. Bagaimana kita bisa membuat model sederhana untuk memahami cara ginjal menyaring darah?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam dan mengecek kehadiran murid.
  • Guru menampilkan gambar segelas urine berwarna kuning pekat dan kuning pucat, lalu bertanya: 'Mengapa warna urine bisa berbeda?' sebagai asesmen awal diagnostik.
  • Guru meminta 2-3 murid menyampaikan pendapatnya, lalu mencatat jawaban di papan tulis untuk memetakan pemahaman awal.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini dan menjelaskan alur kegiatan: memahami proses pembentukan urine, melakukan simulasi penyaringan, dan merefleksi hasil.
  • Guru menayangkan pertanyaan pemantik untuk memicu rasa ingin tahu murid.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menayangkan diagram nefron (glomerulus, kapsula Bowman, tubulus proksimal, lengkung Henle, tubulus distal, tubulus kolektivus) dan menjelaskan secara singkat struktur ginjal.
  • Guru menjelaskan tiga tahapan pembentukan urine: (1) Filtrasi — darah disaring di glomerulus menuju kapsula Bowman, menghasilkan filtrat berupa air, garam, glukosa, asam amino, urea; (2) Reabsorpsi — zat yang masih berguna (glukosa, asam amino, sebagian air dan garam) diserap kembali di tubulus proksimal; (3) Augmentasi — zat sisa tambahan (ion H⁺, K⁺, kreatinin) disekresikan ke tubulus distal membentuk urine akhir.
  • Murid mencatat tabel berisi kolom: Tahapan, Lokasi, Zat yang Terlibat, dan Hasil pada buku catatan mereka.
  • Guru memberikan pertanyaan cek pemahaman: 'Jika glukosa ditemukan dalam urine seseorang, tahapan mana yang kemungkinan mengalami gangguan?' Murid berdiskusi singkat berpasangan selama 2 menit.
  • Guru mengonfirmasi jawaban dan menghubungkan dengan kondisi diabetes sebagai konteks nyata.

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi murid ke dalam kelompok beranggotakan 4-5 orang dan membagikan lembar kerja simulasi.
  • Guru menjelaskan alat dan bahan simulasi: gelas beker 250 ml, labu erlenmeyer 500 ml, tepung (mewakili protein/sel darah), pewarna makanan merah (mewakili zat sisa/urea), air (mewakili plasma darah), corong, kain kasa/filter kopi, dan stopwatch.
  • Setiap kelompok merancang langkah percobaan berdasarkan petunjuk di lembar kerja: (1) campurkan 1-2 sendok tepung + 10 sendok air + 2-3 tetes pewarna merah; (2) pasang corong berlapis kain kasa di atas labu erlenmeyer; (3) tuang campuran ke corong; (4) catat waktu penyaringan dan amati warna serta kejernihan filtrat.
  • Murid melakukan simulasi, mengamati hasil filtrasi: tepung tertahan di kain kasa (mewakili sel darah/protein yang tidak lolos filtrasi), sementara air berwarna merah muda melewati saringan (mewakili filtrat glomerulus).
  • Setiap kelompok mencatat hasil pengamatan dalam tabel: warna filtrat, zat yang tertahan, waktu penyaringan, dan analogi dengan proses di ginjal.
  • Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil simulasi secara singkat (2-3 menit per kelompok) di depan kelas, menjelaskan hubungan antara simulasi dengan proses filtrasi di ginjal.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memfasilitasi diskusi kelas: 'Apa kesamaan dan perbedaan antara simulasi kita dengan proses filtrasi sesungguhnya di ginjal?'
  • Murid mengidentifikasi keterbatasan simulasi (misalnya: simulasi hanya menunjukkan filtrasi, belum reabsorpsi dan augmentasi; kain kasa tidak sehalus membran glomerulus).
  • Murid menuliskan refleksi singkat di lembar kerja: (1) Apa yang sudah saya pahami hari ini? (2) Bagian mana yang masih membingungkan? (3) Apa yang ingin saya pelajari lebih lanjut?
  • Guru memberikan umpan balik terhadap presentasi kelompok dan meluruskan miskonsepsi jika ada.

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan tiga tahapan pembentukan urine dan kaitannya dengan simulasi yang telah dilakukan.
  • Guru memberikan kuis singkat (3 soal) sebagai asesmen akhir: (1) Sebutkan urutan tahapan pembentukan urine; (2) Di bagian mana reabsorpsi terjadi dan zat apa yang diserap kembali?; (3) Apa fungsi augmentasi?
  • Guru menyampaikan rencana pembelajaran pertemuan berikutnya dan memberikan penugasan: murid membuat infografis sederhana tentang proses pembentukan urine.
  • Guru menutup pelajaran dengan salam.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan dukungan lebih mendapat diagram nefron yang sudah dilabeli sebagian dan hanya perlu melengkapi. Murid yang cepat memahami diberikan studi kasus tambahan: menganalisis mengapa penderita gagal ginjal membutuhkan cuci darah (dialisis).
  • Proses: Murid yang membutuhkan dukungan lebih dipasangkan dengan teman yang sudah memahami materi (peer tutoring) saat simulasi. Murid yang cepat berperan sebagai pemimpin kelompok yang memandu langkah percobaan.
  • Produk: Murid yang membutuhkan dukungan lebih cukup mengisi tabel pengamatan dengan bimbingan guru. Murid yang cepat diminta menambahkan analisis tertulis yang menghubungkan setiap bagian simulasi dengan tahapan pembentukan urine secara lengkap.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan gambar urine berwarna berbeda dan bertanya: 'Mengapa warna urine bisa berbeda? Apa yang dilakukan ginjal terhadap darah?' Jawaban murid dicatat untuk memetakan pemahaman awal tentang fungsi ginjal dan proses ekskresi.

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid dalam diskusi berpasangan tentang gangguan tahapan pembentukan urine (saat tahap Memahami).
  • Pemantauan proses simulasi: apakah kelompok mengikuti prosedur, mencatat data dengan benar, dan mampu menghubungkan hasil simulasi dengan konsep filtrasi ginjal.
  • Penilaian presentasi hasil simulasi berdasarkan rubrik: sistematika penyampaian, ketepatan konsep, dan kemampuan komunikasi.

Akhir:

  • Kuis uraian singkat 3 soal: (1) Jelaskan urutan tiga tahapan pembentukan urine beserta lokasinya; (2) Sebutkan zat yang diserap kembali pada tahap reabsorpsi dan alasannya; (3) Jelaskan fungsi tahap augmentasi dan contoh zat yang disekresikan.
  • Penugasan membuat infografis proses pembentukan urine (dikumpulkan pertemuan berikutnya) untuk menilai pemahaman konseptual secara menyeluruh.

Formatif:

  • Observasi diskusi berpasangan saat tahap Memahami untuk mengecek pemahaman awal tentang tahapan filtrasi, reabsorpsi, dan augmentasi.
  • Penilaian lembar kerja simulasi: kelengkapan data pengamatan, ketepatan analogi simulasi dengan proses di ginjal.
  • Penilaian presentasi kelompok: kejelasan penyampaian, ketepatan konsep, dan kemampuan menjawab pertanyaan.

Sumatif:

  • Kuis tertulis singkat (3 soal uraian) tentang tahapan pembentukan urine, lokasi, dan zat yang terlibat.
  • Penugasan infografis proses pembentukan urine sebagai penilaian produk (dikumpulkan pertemuan berikutnya).

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pemahaman Tahapan Pembentukan Urine (TP 8.2.6.1)Murid belum dapat menyebutkan tahapan pembentukan urine atau menyebutkan dengan banyak kesalahan.Murid dapat menyebutkan tiga tahapan tetapi belum tepat dalam menjelaskan lokasi atau zat yang terlibat.Murid dapat menjelaskan tiga tahapan pembentukan urine beserta lokasi dengan benar, namun penjelasan zat yang terlibat belum lengkap.Murid dapat menjelaskan tiga tahapan pembentukan urine secara rinci, tepat menyebutkan lokasi dan semua zat yang terlibat, serta mampu menghubungkan dengan kondisi kesehatan.
Keterampilan Simulasi dan Penyelidikan (TP 8.2.6.2)Murid belum dapat melakukan simulasi sesuai prosedur dan tidak mencatat hasil pengamatan.Murid melakukan simulasi dengan bimbingan penuh, mencatat sebagian hasil pengamatan tetapi belum mampu menghubungkan dengan konsep filtrasi ginjal.Murid melakukan simulasi sesuai prosedur, mencatat hasil pengamatan dengan lengkap, dan mampu menjelaskan hubungan simulasi dengan filtrasi ginjal secara umum.Murid merancang dan melakukan simulasi secara mandiri, mencatat data dengan sistematis, menganalisis keterbatasan simulasi, dan mengomunikasikan hubungan simulasi dengan seluruh proses pembentukan urine secara kritis.
Komunikasi Hasil Simulasi (TP 8.2.6.2)Murid belum mampu menyampaikan hasil simulasi di depan kelas atau penyampaian sangat tidak terstruktur.Murid menyampaikan hasil simulasi tetapi belum sistematis, informasi yang disampaikan kurang lengkap.Murid menyampaikan hasil simulasi secara sistematis dengan data yang lengkap, namun kurang mampu menjawab pertanyaan dari audiens.Murid menyampaikan hasil simulasi secara sistematis, data lengkap dan akurat, mampu menjawab pertanyaan dengan tepat, serta memberikan analisis kritis terhadap hasil percobaan.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat memahami tiga tahapan pembentukan urine? Bagian mana yang paling sulit dipahami murid?
  • Apakah simulasi penyaringan darah berjalan efektif dalam membantu murid memahami konsep filtrasi? Apa yang perlu diperbaiki?
  • Apakah alokasi waktu cukup untuk semua kegiatan? Bagian mana yang perlu penyesuaian waktu?
  • Apakah diferensiasi yang diberikan sudah membantu murid dengan kecepatan belajar berbeda?

Refleksi Murid:

  • Apa yang paling menarik dari pembelajaran hari ini dan mengapa?
  • Tahapan pembentukan urine mana yang paling sulit saya pahami? Apa yang akan saya lakukan untuk memahaminya lebih baik?
  • Apa hubungan antara simulasi penyaringan yang kita lakukan dengan kerja ginjal sesungguhnya?
  • Apa satu hal baru yang saya pelajari hari ini yang bisa saya ceritakan kepada keluarga di rumah?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa IPA SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi) — Bab II: Struktur dan Fungsi Tubuh Makhluk Hidup (Bagian II): Sistem Pernapasan dan Ekskresi, halaman 66-70.
  2. Buku Guru IPA SMP/MTs Kelas VIII — Panduan Khusus Bab II.
  3. Alat dan bahan simulasi: gelas beker 250 ml, labu erlenmeyer 500 ml, tepung, pewarna makanan merah, air, corong, kain kasa/filter kopi, stopwatch.
  4. Diagram nefron (poster atau tayangan digital).
  5. Lembar Kerja Murid (LKPD) Simulasi Penyaringan Darah oleh Ginjal.
  6. Video pendukung: animasi proses pembentukan urine (opsional, jika tersedia LCD proyektor dan akses internet).

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.