MODUL AJAR IPA — Kelas 8 (Fase D) Topik: Bab 2 — Struktur dan Fungsi Tubuh Makhluk Hidup (Bagian II): Sistem Pernapasan dan Ekskresi INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | IPA |
|---|
| Fase / Kelas | Fase D / Kelas 8 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Struktur dan Fungsi Tubuh Makhluk Hidup (Bagian II): Sistem Pernapasan dan Ekskresi |
|---|
| Alokasi Waktu | 18 JP (18 x 40 menit = 720 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 9 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 8.2.1 Menganalisis sistem organisasi kehidupan dan fungsi pada sistem organ pernapasan
- TP 8.2.2 Menganalisis kelainan atau gangguan yang muncul pada sistem organ pernapasan
- TP 8.2.3 Menganalisis sistem organisasi kehidupan dan fungsi pada sistem organ ekskresi
- TP 8.2.4 Menganalisis kelainan atau gangguan yang muncul pada sistem organ ekskresi
- TP 8.2.5 Mengolah data dalam bentuk tabel, grafik, dan model pada sistem organ pernapasan dan ekskresi
- TP 8.2.6 Menjelaskan hasil pengamatan dan pola atau hubungan pada data sistem organ pernapasan dan ekskresi
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | ✓ | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana udara yang kita hirup dari luar dapat sampai ke dalam paru-paru?
- Apa yang menyebabkan rongga dada kita membesar saat menarik napas dan mengecil saat mengembuskannya?
- Mengapa alveolus di dalam paru-paru memiliki bentuk menyerupai gelembung-gelembung kecil beranggrek dan diselimuti banyak kapiler darah?
- Bagaimana gas oksigen dari udara luar bisa berpindah ke dalam darah, sementara karbon dioksida keluar dari darah menuju alveolus?
- Mengapa orang yang tidak pernah merokok tetapi sering berada di dekat perokok (perokok pasif) juga berisiko mengalami kerusakan saluran pernapasan?
- Bagaimana partikel debu halus dan polusi udara dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma atau bronkitis?
- Mengapa frekuensi napas kita bertambah cepat saat setelah berlari dibandingkan ketika sedang duduk santai?
- Bagaimana cara kita menyajikan data perubahan napas tersebut ke dalam bentuk tabel dan grafik agar polanya mudah dipahami?
- Mengapa tubuh kita tetap harus membuang zat sisa metabolisme dalam bentuk urine setiap hari?
- Bagaimana bagian-bagian di dalam ginjal menyaring darah kotor hingga menghasilkan urine yang bersih dari sel darah dan protein?
- Mengapa saat kita berolahraga di cuaca panas tubuh mengeluarkan banyak keringat dan napas terasa hangat beruap?
- Selain ginjal, organ apa saja di dalam tubuh yang bertindak membuang sisa metabolisme beracun agar tubuh tetap seimbang?
- Mengapa seseorang yang kurang minum air putih atau sering menahan buang air kecil lebih rentan terkena gangguan pada saluran ekskresinya?
- Bagaimana kerusakan pada unit penyaring di ginjal dapat menyebabkan pembengkakan pada tubuh atau perubahan warna dan kandungan urine?
- Jika data hasil uji kandungan urine disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, bagaimana cara kita membaca pola perbedaan antara urine orang sehat dan orang dengan gangguan ekskresi?
- Bagaimana hubungan antara persentase komponen urine (seperti glukosa atau protein) dengan kondisi kesehatan organ ekskresi seseorang berdasarkan data?
- Bagaimana keterkaitan antara struktur alveolus dan nefron ginjal dalam menjaga homeostasis cairan dan gas di tubuh kita?
- Mengapa frekuensi pernapasan dan karakteristik ekskresi urine dapat berubah secara terukur ketika tubuh melakukan aktivitas fisik intensif?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menganalisis Struktur Organ Pernapasan Manusia dan Mekanisme Bernapas — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 8.2.1 Menganalisis sistem organisasi kehidupan dan fungsi pada sistem organ pernapasan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai struktur organ pernapasan serta mekanisme bernapas (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: meminta murid mengurutkan 5 organ pernapasan (Trakea, Alveolus, Hidung, Bronkus, Faring) dan menentukan arah gerakan diafragma saat menarik napas (acuan: urutan hidung -> faring -> trakea -> bronkus -> alveolus; diafragma bergerak ke bawah/mendatar) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati bagan saluran pernapasan manusia dan teks singkat tentang tingkatan organisasi kehidupan sistem pernapasan (sel epitel bersilia -> jaringan epitel -> organ trakea/paru-paru -> sistem pernapasan) serta fungsi masing-masing organ penyusunnya (15 menit).
- Murid dalam kelompok memainkan tantangan cepat kartu alur 'Jejak Udara': memasangkan 6 kartu organ pernapasan dengan fungsi spesifiknya (kartu: 1. Hidung -> menyaring debu dan menyesuaikan suhu/kelembapan udara; 2. Faring -> persimpangan jalur pernapasan dan pencernaan; 3. Laring -> saluran yang memiliki pita suara dan epiglotis; 4. Trakea -> saluran bercincin tulang rawan dengan epitel bersilia penghalau kotoran; 5. Bronkus -> cabang utama trakea menuju paru-paru kanan dan kiri; 6. Paru-paru/Alveolus -> tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida) (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mempraktikkan langsung mekanisme bernapas: meletakkan telapak tangan di dada dan perut saat menarik napas dalam (inspirasi) dan mengembuskan napas (ekspirasi) untuk mengamati pergerakan tulang rusuk dan diafragma secara berkesadaran (10 menit).
- Murid menganalisis lembar kerja perbandingan mekanisme bernapas dengan menganalisis 4 pernyataan sebab-akibat perubahan volume dan tekanan rongga dada: 1. Inspirasi pernapasan dada (otot antartulang rusuk berkontraksi -> tulang rusuk terangkat -> rongga dada membesar -> tekanan mengecil -> udara masuk); 2. Ekspirasi pernapasan dada (otot antartulang rusuk berelaksasi -> tulang rusuk turun -> rongga dada mengecil -> tekanan membesar -> udara keluar); 3. Inspirasi pernapasan perut (otot diafragma berkontraksi -> diafragma mendatar -> rongga dada membesar -> tekanan mengecil -> udara masuk); 4. Ekspirasi pernapasan perut (otot diafragma berelaksasi -> diafragma melengkung -> rongga dada mengecil -> tekanan membesar -> udara keluar) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompok mengecek kembali keakuratan analisis hubungan struktur jaringan/organ dengan efektivitas aliran udara serta mekanisme tekanan yang bekerja saat bernapas (5 menit).
Penutup:- Murid menyelesaikan cek pemahaman mandiri 2 butir soal terkait peran silia pada trakea dan peran diafragma saat inspirasi (3 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap kesimpulan materi pertemuan hari ini dan menginformasikan topik pertemuan berikutnya (fungsi alveolus dan pertukaran gas) tanpa menutup bab (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan bagan anatomi saluran pernapasan dengan keterangan tingkat sel/jaringan untuk murid yang siap menelaah lebih detail.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan panah alur tekanan-volume rongga dada, sedangkan murid yang mandiri langsung menganalisis hubungan sebab-akibat.
- Produk: Analisis dituangkan dalam lembar kerja tabel keterkaitan organ, jaringan, dan dinamika mekanisme pernapasan dada serta perut.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik singkat tertulis berupa pengurutan 5 organ pernapasan (Hidung, Faring, Trakea, Bronkus, Alveolus) dan penentuan arah gerak diafragma saat inspirasi (acuan: urutan tepat hidung -> faring -> trakea -> bronkus -> alveolus; diafragma mendatar/bergerak ke bawah).
Proses:- Observasi pengerjaan tantangan kartu 'Jejak Udara' (6 pasangan organ-fungsi: 1. Hidung -> menyaring debu/menyesuaikan suhu; 2. Faring -> persimpangan jalur napas/cerna; 3. Laring -> pita suara/epiglotis; 4. Trakea -> silia penyaring kotoran; 5. Bronkus -> percabangan utama paru-paru; 6. Paru-paru/Alveolus -> pertukaran gas O2 dan CO2) dan lembar analisis 4 tahapan tekanan-volume pernapasan dada dan perut.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman mandiri di akhir sesi (2 butir): (1) Jelaskan fungsi silia pada jaringan epitel trakea! (acuan: menyapu dan mengeluarkan debu/lendir dari saluran napas); (2) Bagaimana perubahan posisi diafragma dan tekanan rongga dada saat menarik napas? (acuan: diafragma berkontraksi/mendatar, rongga dada membesar, tekanan menurun sehingga udara masuk).
Formatif:- Penilaian proses keaktifan dan ketepatan analisis lembar kerja kelompok pada pencocokan alur organ dan analisis mekanisme tekanan bernapas
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis sistem organisasi kehidupan dan struktur-fungsi organ pernapasan | Menganalisis kurang dari 3 pasangan struktur organ dan fungsinya secara tepat dari 6 acuan organ pernapasan. | Menganalisis 3 sampai 4 pasangan struktur organ dan fungsinya secara tepat dari 6 acuan organ pernapasan. | Menganalisis 5 pasangan struktur organ dan fungsinya secara tepat sesuai acuan (hidung, faring, laring, trakea, bronkus, paru-paru/alveolus). | Menganalisis seluruh 6 pasangan struktur organ beserta tingkatan jaringannya dan fungsinya secara tepat dan lengkap sesuai acuan secara mandiri. | | Menganalisis mekanisme bernapas (inspirasi dan ekspirasi dada dan perut) | Menganalisis kurang dari 2 tahapan mekanisme perubahan tekanan dan volume rongga dada secara tepat dari 4 acuan tahapan. | Menganalisis 2 tahapan mekanisme perubahan tekanan dan volume rongga dada secara tepat dari 4 acuan tahapan. | Menganalisis 3 tahapan mekanisme perubahan tekanan dan volume rongga dada secara tepat dari 4 acuan tahapan. | Menganalisis seluruh 4 tahapan mekanisme perubahan volume, tekanan, dan pergerakan otot (otot antartulang rusuk dan diafragma) pada inspirasi serta ekspirasi secara tepat dan runtut sesuai acuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur kegiatan Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi terlaksana sesuai pembagian alokasi waktu 80 menit?
- Bagian manakah dari penjelasan struktur jaringan organ atau mekanisme perubahan tekanan rongga dada yang masih memerlukan perancah (scaffolding) tambahan bagi murid?
Murid:- Hal baru apa yang saya pelajari tentang cara tubuh mengalirkan dan menyaring udara hingga sampai ke paru-paru?
- Bagian mana dari mekanisme pernapasan dada dan perut yang paling mudah atau paling menantang untuk saya pahami?
Pertemuan 2 — Menganalisis Fungsi Alveolus dan Pertukaran Gas pada Sistem Organ Pernapasan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 8.2.1 Menganalisis sistem organisasi kehidupan dan fungsi pada sistem organ pernapasan
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar kondusif (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menganalisis struktur dan fungsi alveolus serta proses pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui dua pertanyaan tertulis singkat: (1) Di manakah organ tempat terjadinya pertukaran gas O2 dan CO2? (acuan: alveolus/paru-paru); (2) Melalui pembuluh apakah darah mengalir membawa gas di sekitar kantung udara tersebut? (acuan: pembuluh kapiler) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak gambar diagram alveolus dan kapiler darah serta membaca penjelasan tentang difusi gas pada Buku Siswa (10 menit).
- Dalam kelompok berpasangan, murid memainkan permainan tantangan tebak peran 'Kurir Gas' menggunakan 4 kartu pertanyaan cepat untuk memastikan pemahaman konsep dasar pertukaran gas: Kartu 1: 'Gas apa yang masuk dari alveolus ke kapiler?' (Kunci: Oksigen/O2); Kartu 2: 'Gas apa yang berpindah dari kapiler ke alveolus?' (Kunci: Karbon dioksida/CO2); Kartu 3: 'Apa peran dinding alveolus yang tipis dan lembap?' (Kunci: Mempermudah/mempercepat proses difusi gas); Kartu 4: 'Apa fungsi banyaknya jumlah alveolus menyerupai anggur?' (Kunci: Memperluas bidang permukaan pertukaran gas) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Secara kolaboratif dalam kelompok berpasangan, murid menganalisis lembar analisis pertukaran gas yang memuat diagram aliran darah kapiler dan rongga alveolus (15 menit).
- Murid memecahkan 3 masalah analisis pada lembar kerja: Butir 1: Menganalisis perbedaan konsentrasi O2 dan CO2 antara darah yang baru tiba dari jantung menuju kapiler alveolus dengan udara di dalam rongga alveolus (Kunci: Udara di rongga alveolus memiliki konsentrasi O2 lebih tinggi dan CO2 lebih rendah daripada darah di kapiler); Butir 2: Menganalisis mekanisme perpindahan gas berdasarkan perbedaan konsentrasi tersebut (Kunci: O2 berdifusi dari rongga alveolus ke dalam eritrosit di kapiler darah, sedangkan CO2 berdifusi dari plasma/kapiler darah ke dalam rongga alveolus); Butir 3: Menganalisis kaitan antara struktur dinding kapiler dan alveolus yang tersusun atas selapis sel epitel pipih dengan efisiensi fungsi difusi gas (Kunci: Dinding yang hanya setebal satu lapis sel memperpendek jarak difusi sehingga pertukaran O2 dan CO2 berlangsung sangat cepat dan efisien) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali hasil analisis bersama guru dan menyimpulkan hubungan keterpaduan struktur alveolus dengan fungsi pertukaran gas (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru merangkum konsep kunci tentang fungsi alveolus dan mekanisme difusi gas (5 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir singkat (cek pemahaman mandiri) dan menyampaikan agenda pertemuan berikutnya tentang gangguan pernapasan akibat rokok dan polusi (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan diagram pertukaran gas berlabel panah warna (merah untuk O2, biru untuk CO2) bagi murid yang membutuhkan bantuan visual konkrit.
- Proses: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru mendampingi penentuan arah difusi gas berdasarkan perbandingan tinggi-rendah konsentrasi; bagi murid yang sudah cepat memahami, diberikan lembar analisis dengan penelaahan dampak jika dinding alveolus menebal akibat iritasi terhadap laju difusi gas.
- Produk: Analisis dituangkan pada lembar kerja terstruktur baik berupa bagan alur difusi maupun uraian penjelasan tertulis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik tertulis singkat sebelum pembelajaran: (1) Di manakah organ tempat terjadinya pertukaran gas O2 dan CO2? (acuan kunci: alveolus/paru-paru); (2) Melalui pembuluh apakah darah mengalir membawa gas di sekitar kantung udara tersebut? (acuan kunci: pembuluh kapiler darah).
Proses:- Penilaian unjuk kerja saat murid memecahkan 3 butir analisis pada tahap Mengaplikasi: Butir 1 (Perbedaan konsentrasi O2 dan CO2 antara udara alveolus dan darah kapiler), Butir 2 (Arah difusi gas O2 dan CO2), dan Butir 3 (Hubungan struktur dinding tipis alveolus-kapiler terhadap efisiensi difusi gas).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis mandiri di akhir sesi (2 butir): Butir 1: Mengapa kadar oksigen dalam darah yang meninggalkan alveolus menjadi lebih tinggi dibandingkan saat baru tiba di alveolus? (Acuan kunci: Karena oksigen dari rongga alveolus yang berkonsentrasi tinggi berpindah secara difusi menembus dinding alveolus dan kapiler ke dalam darah); Butir 2: Sebutkan 2 ciri struktur alveolus yang mendukung fungsinya dalam pertukaran gas! (Acuan kunci: Dindingnya tipis/setebal satu lapis sel, diselimuti banyak kapiler darah, permukaannya lembap, atau jumlahnya banyak menyerupai anggur/memperluas bidang permukaan — minimal 2 tepat).
Formatif:- Pemeriksaan lembar kerja analisis keterkaitan struktur alveolus dan mekanisme difusi gas
- Pengamatan keterlibatan diskusi dan ketepatan menjawab kartu tantangan 'Kurir Gas'
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis fungsi alveolus dan mekanisme pertukaran gas (difusi O2 dan CO2) | Belum mampu menganalisis arah perpindahan gas maupun hubungan struktur dinding alveolus dengan fungsinya (0 butir benar dari 3 butir analisis). | Mampu menganalisis 1 dari 3 butir analisis (hanya mengidentifikasi arah difusi salah satu gas tanpa mampu mengaitkan dengan konsentrasi atau struktur dinding alveolus). | Mampu menganalisis 2 dari 3 butir analisis secara tepat (misalnya tepat menentukan arah difusi gas O2 dan CO2 serta konsentrasinya, namun belum tepat menganalisis pengaruh struktur dinding selapis terhadap efisiensi difusi). | Mampu menganalisis seluruh 3 butir analisis secara tepat dan lengkap (arah difusi O2 dan CO2 berdasarkan gradien konsentrasi serta hubungan struktur tipis dinding kapiler-alveolus terhadap efisiensi difusi gas). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan permainan kartu tantangan dan diagram visual membantu murid memahami konsep difusi gas yang bersifat mikroskopis?
- Bagian analisis mana yang paling banyak membutuhkan bimbingan tambahan bagi murid?
Murid:- Bagian mana dari proses pertukaran gas di alveolus yang paling mudah atau paling menantang untuk saya pahami?
- Apakah saya sudah dapat menjelaskan bagaimana oksigen berpindah dari paru-paru ke dalam darah?
Pertemuan 3 — Menganalisis Kelainan atau Gangguan pada Sistem Organ Pernapasan Akibat Rokok dan Polusi — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 8.2.2 Menganalisis kelainan atau gangguan yang muncul pada sistem organ pernapasan
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus pembelajaran hari ini yaitu menganalisis kelainan atau gangguan pada organ sistem pernapasan akibat paparan asap rokok dan polusi udara (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan/tulis: 'Sebutkan 1 zat berbahaya dalam asap rokok dan sebutkan 1 contoh penyakit pernapasan yang kalian ketahui!' (acuan: zat = nikotin/tar/karbon monoksida; penyakit = asma/bronkitis/emfisema/kanker paru-paru) untuk memetakan kesiapan murid (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid mencermati bahan ajar berupa data infografis dan teks visual mengenai zat berbahaya dalam asap rokok (nikotin, tar, karbon monoksida) dan polusi (PM2.5) serta pengaruhnya terhadap organ pernapasan (silia trakea, bronkus, dan alveolus) (15 menit).
- Guru memberikan penguatan konsep mengenai mekanisme kerusakan organ: bagaimana tar merusak silia trakea dan alveolus (menyebabkan bronkitis kronis dan emfisema), serta bagaimana karbon monoksida mengikat hemoglobin dan mengganggu suplai oksigen (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti tantangan berpasangan interaktif 'Detektif Gangguan Paru' untuk memasangkan 4 kartu kasus dengan gangguan pernapasan dan organ yang terdampak secara tepat (15 menit).
- Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Analisis Kasus Gangguan Pernapasan yang memuat 3 studi kasus klinis untuk dianalisis organ yang diserang dan penyebab gangguannya (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengevaluasi dan memeriksa silang jawaban lembar analisis kasus bersama guru berdasarkan acuan kunci jawaban ilmiah (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan hubungan sebab-akibat antara paparan zat toksik (asap rokok/polusi) dengan terjadinya kelainan pada struktur dan fungsi organ pernapasan (3 menit).
- Guru memberikan cek pemahaman akhir singkat secara tertulis dan menyampaikan topik pertemuan berikutnya (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan berisi ringkasan nama organ dan zat perusak; murid mahir menganalisis studi kasus dengan komplikasi ganda (kombinasi polusi PM2.5 dan riwayat perokok pasif).
- Proses: Murid dengan kesiapan belajar awal rendah didampingi guru secara bertahap dalam menganalisis kasus nomor 1 sebelum melanjutkan ke kasus berikutnya; murid mandiri menyelesaikan analisis kasus secara mandiri.
- Produk: Analisis kasus disajikan dalam format tabel keterkaitan organ-zat-gangguan dengan tingkat kedalaman telaah sesuai kesiapan murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik singkat: 'Sebutkan 1 zat berbahaya dalam asap rokok dan sebutkan 1 contoh penyakit pernapasan yang kalian ketahui!' (Acuan jawaban: Zat berbahaya = nikotin, tar, atau karbon monoksida (CO); Penyakit pernapasan = asma, bronkitis, emfisema, atau kanker paru-paru).
Proses:- Tantangan 'Detektif Gangguan Paru': Memasangkan 4 kartu kasus berikut ke nama gangguan dan organ sasaran: (1) Kartu A: 'Kerusakan dinding alveolus membuat kantung udara kehilangan elastisitas' -> Gangguan: Emfisema, Organ: Alveolus; (2) Kartu B: 'Peradangan dan penumpukan lendir pada percabangan saluran udara utama' -> Gangguan: Bronkitis, Organ: Bronkus; (3) Kartu C: 'Pertumbuhan sel abnormal tak terkendali di jaringan paru akibat karsinogen tar' -> Gangguan: Kanker Paru-Paru, Organ: Jaringan epitel paru-paru; (4) Kartu D: 'Penyempitan dan hipersensitivitas saluran napas akibat alergen dan asap' -> Gangguan: Asma, Organ: Bronkiolus. (Acuan: Murid tepat mencocokkan keempat kartu).
- Lembar Analisis 3 Kasus Klinis: Murid menganalisis 3 kasus: Kasus 1: Seseorang yang bekerja di jalan raya terpapar asap kendaraan bermotor mengeluh batuk berdahak terus menerus selama 3 bulan (Acuan analisis: Gangguan Bronkitis kronis, organ bronkus mengalami iritasi dan hipersekresi mukus akibat partikel polusi); Kasus 2: Perokok berat selama 20 tahun mengalami napas pendek karena pertukaran gas menurun drastis dan dinding kantung udara pecah (Acuan analisis: Gangguan Emfisema, organ alveolus rusak dan kehilangan luas permukaan difusi akibat zat tar); Kasus 3: Anak yang tinggal bersama perokok aktif mengalami batuk dan sesak karena mengikat gas yang bersaing dengan oksigen (Acuan analisis: Gangguan hipoksia jaringan/keracunan gas CO dari asap sampingan rokok, hemoglobin mengikat CO sehingga transportasi oksigen ke organ pernapasan dan tubuh terganggu). (Acuan penskoran: tepat menganalisis minimal 2 dari 3 kasus secara runtut).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman 2 butir: (1) Mengapa zat tar dalam asap rokok menyebabkan batuk berkepanjangan pada saluran napas trakea? (Acuan jawaban: Karena tar melumpuhkan silia pada dinding trakea sehingga silia gagal menyapu lendir dan kotoran keluar, memicu batuk refleks); (2) Jelaskan mengapa emfisema mengurangi kadar oksigen yang diserap darah! (Acuan jawaban: Karena emfisema merusak dan memecah dinding alveolus sehingga luas permukaan bidang difusi pertukaran gas oksigen menyusut drastis).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran
- Kuis berpasangan interaktif 'Detektif Gangguan Paru'
- Lembar Analisis Kasus Gangguan Pernapasan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis kelainan atau gangguan pada sistem organ pernapasan | Mampu mengidentifikasi kurang dari 2 kelainan organ pernapasan tanpa mampu menghubungkan penyebab zat rokok/polusi dengan organ yang terdampak. | Mampu menganalisis 2 dari 4 kelainan organ pernapasan beserta organ yang terdampak, namun analisis mekanisme hubungan penyebab zat toksik masih belum tepat. | Mampu menganalisis 3 dari 4 kelainan organ pernapasan (emfisema, bronkitis, kanker paru-paru, asma) beserta organ terdampak dan mekanisme kerusakan akibat rokok/polusi secara tepat. | Mampu menganalisis seluruh 4 kelainan organ pernapasan (emfisema pada alveolus, bronkitis pada bronkus, kanker paru-paru pada jaringan paru, asma pada bronkiolus) beserta mekanisme keterkaitan zat berbahaya (tar, CO, PM2.5) secara tepat dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu pada setiap tahap kegiatan inti terlaksana sesuai rencana?
- Bagaimana respons murid terhadap studi kasus gangguan organ pernapasan dan apakah seluruh murid mampu mengaitkan zat berbahaya dengan kerusakan organ terkait?
Murid:- Kelainan atau gangguan pernapasan apa yang paling jelas mekanismenya setelah pembelajaran hari ini?
- Bagaimana informasi mengenai dampak rokok dan polusi ini mengubah cara pandangmu dalam menjaga kesehatan organ pernapasanmu sendiri dan orang lain?
Pertemuan 4 — Mengolah Data Frekuensi Pernapasan dalam Bentuk Tabel, Grafik, dan Model serta Menjelaskan Pola Datanya — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 8.2.5 Mengolah data dalam bentuk tabel, grafik, dan model pada sistem organ pernapasan dan ekskresi
- TP 8.2.6 Menjelaskan hasil pengamatan dan pola atau hubungan pada data sistem organ pernapasan dan ekskresi
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa pembuka untuk menumbuhkan suasana kelas yang berkesadaran (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengolah data frekuensi pernapasan ke dalam tabel dan grafik garis serta menjelaskan pola hubungannya terhadap intensitas aktivitas tubuh (3 menit).
- Guru memberikan asesmen awal diagnostik singkat secara tertulis/lisan mengenai pembacaan data: 'Jika seseorang bernapas 16 kali saat duduk dan 32 kali setelah berlari selama 1 menit, apa yang terjadi pada frekuensi napasnya?' (Acuan jawaban: frekuensi pernapasan meningkat/bertambah banyak dua kali lipat akibat aktivitas fisik) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Menggembirakan, Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara berpasangan melakukan pengamatan mandiri melalui tantangan 'Hitung Napas Sahabat' selama 1 menit pada 3 kondisi aktivitas: duduk tenang, berjalan santai, dan lari di tempat (prinsip: Menggembirakan) (10 menit).
- Murid mencatat data mentah hasil penghitungan frekuensi pernapasan (jumlah tarikan napas per menit) diri sendiri dan pasangannya pada lembar catatan sementara (prinsip: Berkesadaran) (5 menit).
- Murid mengamati panduan teknis pengorganisasian data ke dalam format tabel (kolom jenis aktivitas dan kolom frekuensi napas per menit) serta ketentuan pembuatan grafik garis dengan sumbu horizontal (X) sebagai jenis aktivitas dan sumbu vertikal (Y) sebagai frekuensi napas per menit (prinsip: Bermakna) (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid secara mandiri/berpasangan mengolah data hasil pengukuran frekuensi napas ke dalam tabel data terstruktur yang memuat 3 baris aktivitas: duduk, jalan santai, dan lari di tempat (10 menit).
- Murid memplot titik koordinat data frekuensi pernapasan ke dalam grafik garis berpetak dengan skala sumbu Y yang tepat dan menghubungkan titik-titik tersebut membentuk garis tren (10 menit).
- Murid menuliskan penjelasan tertulis mengenai pola hubungan data pada lembar kerja: menjelaskan arah tren garis grafik dan hubungan langsung antara peningkatan intensitas aktivitas tubuh dengan frekuensi pernapasan (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid memeriksa kembali ketepatan pemetaan titik pada grafik dan memastikan kalimat penjelasan pola data sudah sesuai dengan bukti data tabel yang mereka hasilkan (prinsip: Berkesadaran) (5 menit).
- Dua perwakilan murid menunjukkan lembar kerja olahan tabel dan grafiknya untuk dibandingkan bersama teman sekelas guna memverifikasi kesamaan pola data (prinsip: Bermakna) (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap pola data: semakin berat intensitas aktivitas fisik, semakin tinggi frekuensi pernapasan karena kebutuhan oksigen tubuh meningkat (4 menit).
- Guru memandu murid melakukan asesmen akhir/cek pemahaman singkat secara tertulis pada lembar kerja terkait interpretasi pola data grafik (4 menit).
- Guru memandu refleksi singkat pembelajaran, menyampaikan topik pertemuan berikutnya (sistem ekskresi ginjal), dan menutup pelajaran dengan doa (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar kerja dengan bidang grafik berpetak bantu (milimeter blok) bagi murid yang membutuhkan panduan skala, dan bidang grafik kosong bagi yang telah mahir.
- Proses: Memberikan bimbingan terarah dalam penentuan skala sumbu Y bagi murid yang kesulitan memplot angka, serta memberikan keleluasaan mandiri bagi murid yang cepat.
- Produk: Murid yang mahir mengolah dan memplot perbandingan data frekuensi napas 2 orang sekaligus dalam satu grafik garis ganda.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan/singkat di pendahuluan: 'Jika saat duduk frekuensi napas seseorang 16 kali/menit dan saat lari menjadi 32 kali/menit, apa yang terjadi pada frekuensi napasnya?' (Acuan jawaban: frekuensi pernapasan meningkat/naik seiring peningkatan intensitas aktivitas).
Proses:- Observasi keterlibatan murid saat menghitung napas berpasangan.
- Pemeriksaan ketepatan pengisian tabel frekuensi pernapasan (kolom aktivitas: duduk, jalan, lari; kolom frekuensi napas/menit).
- Pemeriksaan ketepatan grafik garis (penempatan sumbu X aktivitas, sumbu Y frekuensi napas, skala angka urut konsisten, ketepatan titik koordinat).
- Pemeriksaan ketepatan penjelasan pola data: merumuskan hubungan 'semakin tinggi intensitas aktivitas, semakin cepat/tinggi frekuensi pernapasan'.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis 2 butir pada penutup: (1) Berdasarkan grafik yang kalian buat, aktivitas manakah yang menghasilkan frekuensi napas terendah dan tertinggi? (Acuan kunci: Terendah = duduk tenang; Tertinggi = lari di tempat); (2) Bagaimana pola hubungan antara intensitas aktivitas fisik dengan frekuensi pernapasan? (Acuan kunci: Hubungan berbanding lurus / semakin berat atau meningkat intensitas aktivitas fisik, frekuensi napas semakin meningkat/bertambah cepat).
Formatif:- Penilaian kinerja pengolahan data tabel dan grafik garis frekuensi pernapasan
- Penilaian tertulis penjelasan pola hubungan data frekuensi pernapasan terhadap aktivitas
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengolah data frekuensi pernapasan ke dalam bentuk tabel dan grafik (TP 8.2.5) | Belum mampu menyusun tabel aktivitas dan keliru memplot seluruh titik koordinat data frekuensi pernapasan pada grafik garis. | Mampu menyusun tabel aktivitas secara lengkap, namun memplot 1-2 titik data pada grafik garis secara keliru atau skala sumbu tidak konsisten. | Mampu mengolah seluruh data frekuensi napas ke dalam tabel serta memplot seluruh 3 titik data (duduk, jalan, lari) pada grafik garis secara tepat dan berurutan dengan sedikit bantuan. | Mampu mengolah seluruh data frekuensi napas ke dalam tabel secara lengkap, rapi, dan memplot grafik garis dengan skala sumbu yang tepat, presisi, serta mandiri. | | Menjelaskan pola atau hubungan pada data frekuensi pernapasan (TP 8.2.6) | Belum mampu menjelaskan pola data atau hubungan antara jenis aktivitas dan frekuensi napas berdasarkan grafik yang dibuat. | Menjelaskan pola data hanya sebatas menyebutkan angka frekuensi tertinggi/terendah tanpa menjelaskan hubungan antara aktivitas dan frekuensi napas. | Mampu menjelaskan pola data bahwa semakin berat intensitas aktivitas fisik maka frekuensi napas semakin meningkat sesuai data tabel dan grafik. | Mampu menjelaskan pola hubungan data secara lengkap, runtut, dan tepat mengaitkan peningkatan frekuensi napas dengan bertambahnya intensitas aktivitas fisik berdasarkan data grafik. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 15 menit untuk memplot grafik garis mencukupi bagi seluruh murid?
- Apakah scaffolding pembuatan skala sumbu grafik efektif membantu murid yang mengalami kendala numerasi?
Murid:- Bagian mana yang menurutmu paling menantang: menghitung napas, membuat grafik, atau menjelaskan pola datanya?
- Apakah kamu dapat melihat keterkaitan antara bentuk garis pada grafik dengan perubahan ritme napasmu saat beraktivitas?
Pertemuan 5 — Menganalisis Sistem Organisasi Kehidupan dan Fungsi pada Organ Ginjal dalam Pembentukan Urine — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 8.2.3 Menganalisis sistem organisasi kehidupan dan fungsi pada sistem organ ekskresi
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa sejenak, dan memeriksa kehadiran di kelas (3 menit).
- Guru mengaitkan materi dengan menanyakan: 'Apa yang terjadi jika sampah di rumah tidak pernah dibuang berhari-hari?' lalu mengaitkannya dengan sistem ekskresi pembuangan zat sisa metabolisme oleh ginjal (4 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui 2 butir pertanyaan singkat tertulis/lisan: (1) Sebutkan organ utama pembentuk urine pada manusia! (acuan jawaban: ginjal); (2) Sebutkan satu zat sisa yang dibuang lewat urine! (acuan jawaban: urea / air / garam mineral) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menganalisis sistem organisasi kehidupan pada ginjal (organ hingga nefron) dan fungsi tahapan pembentukan urine (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati bagan penampang ginjal dan nefron pada buku siswa yang memperlihatkan hierarki organisasi kehidupan: sistem organ ekskresi -> organ ginjal -> jaringan pembuluh/nefron -> unit fungsional nefron (terdiri atas glomerulus, kapsul Bowman, tubulus proksimal, lengkung Henle, tubulus distal, tubulus kolektivus) (10 menit).
- Guru memandu murid menelaah 3 tahapan pembentukan urine beserta tempat dan hasilnya menggunakan bagan alur: Tahap 1 Filtrasi (penyaringan darah di glomerulus menghasilkan urine primer berisi air, glukosa, asam amino, garam, urea; sel darah dan protein tertahan); Tahap 2 Reabsorpsi (penyerapan kembali zat yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino di tubulus kontortus proksimal menghasilkan urine sekunder); Tahap 3 Augmentasi (penambahan zat sisa seperti sisa obat dan kelebihan ion di tubulus kontortus distal menghasilkan urine sebenarnya yang dialirkan ke tubulus kolektivus) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid berpasangan memainkan game tantangan 'Kartu Alur Nefron': setiap pasangan menerima amplop berisi 6 kartu tahapan acak untuk disusun berurutan sesuai alur pembentukan urine yang benar: Kartu 1: Glomerulus (Filtrasi darah menghasilkan urine primer) -> Kartu 2: Kapsul Bowman (Menampung filtrat glomerulus) -> Kartu 3: Tubulus Kontortus Proksimal (Reabsorpsi zat berguna menghasilkan urine sekunder) -> Kartu 4: Lengkung Henle (Penyerapan air dan garam untuk mengatur konsentrasi filtrat) -> Kartu 5: Tubulus Kontortus Distal (Augmentasi zat sisa menghasilkan urine sebenarnya) -> Kartu 6: Tubulus Kolektivus (Pengumpulan urine sebenarnya menuju pelvis renalis) (10 menit).
- Setiap murid secara kolaboratif menganalisis 3 butir kasus analisis fungsi nefron pada lembar kerja: Kasus 1: Mengapa pada orang sehat tidak ditemukan sel darah merah di dalam urine primer? (Acuan jawaban: karena sel darah merah berukuran besar sehingga tertahan saat filtrasi di pori-pori glomerulus); Kasus 2: Pada bagian nefron mana glukosa diserap kembali seluruhnya dan apa nama cairannya setelah tahap tersebut? (Acuan jawaban: diserap di tubulus kontortus proksimal dalam proses reabsorpsi, cairannya menjadi urine sekunder); Kasus 3: Jika seseorang minum air sangat sedikit, jelaskan bagaimana fungsi lengkung Henle dan tubulus nefron memengaruhi kepekatan urine! (Acuan jawaban: lengkung Henle dan tubulus nefron menyerap kembali air dalam jumlah lebih banyak sehingga urine yang dihasilkan lebih sedikit dan lebih pekat) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Perwakilan pasangan memverifikasi hasil susunan kartu alur dan jawaban analisis kasus dengan panduan kunci guru di papan tulis, memeriksa ketepatan analisis struktur nefron dan fungsi pembentukan urine (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa ginjal tersusun atas jutaan nefron yang menjalankan 3 fungsi utama pembentukan urine (filtrasi di glomerulus, reabsorpsi di tubulus proksimal, dan augmentasi di tubulus distal) (5 menit).
- Guru memberikan cek pemahaman akhir melalui 1 soal ringkas: 'Sebutkan nama tahap, tempat terjadinya, dan hasil cairan pada proses penyerapan kembali zat yang masih dibutuhkan tubuh!' (acuan jawaban: tahap reabsorpsi, tempat di tubulus kontortus proksimal, hasil urine sekunder) (3 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan apresiasi atas keterlibatan aktif murid dan berdoa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu alur dengan bantuan kata kunci penanda tempat, sedangkan murid mahir menganalisis diagram nefron tanpa petunjuk visual tambahan.
- Proses: Pada diskusi kasus, murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dengan analogi saringan teh, sementara murid mahir bekerja mandiri menganalisis 3 kasus secara mendalam.
- Produk: Seluruh murid melengkapi lembar analisis struktur dan fungsi nefron dengan kedalaman penjelasan ilmiah sesuai tingkat kesiapan belajarnya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat di pendahuluan: Butir 1: Sebutkan organ utama pembentuk urine pada manusia! (acuan jawaban: ginjal); Butir 2: Sebutkan satu zat sisa metabolisme yang dikeluarkan melalui urine! (acuan jawaban: urea / kelebihan air / garam mineral).
Proses:- Observasi keterlibatan murid dan verifikasi lembar kerja analisis struktur serta fungsi nefron dalam pembentukan urine: Kasus 1: Mengapa sel darah tidak tembus ke urine primer? (acuan: filtrasi glomerulus menahan sel berukuran besar); Kasus 2: Tempat dan hasil reabsorpsi glukosa (acuan: tubulus kontortus proksimal, menghasilkan urine sekunder); Kasus 3: Pengaruh reabsorpsi air di nefron saat kurang minum (acuan: penyerapan air meningkat di lengkung Henle/tubulus sehingga urine sedikit dan pekat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi penutup: 'Sebutkan nama tahap, tempat terjadinya, dan hasil cairan pada proses penyerapan kembali zat yang masih dibutuhkan tubuh!' (acuan jawaban: tahap reabsorpsi, tempat tubulus kontortus proksimal, hasil urine sekunder).
Formatif:- Pemeriksaan ketepatan susunan Kartu Alur Nefron (6 kartu)
- Penilaian lembar kerja analisis struktur dan tahapan pembentukan urine (3 butir kasus)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis sistem organisasi kehidupan ginjal (struktur nefron) | Belum tepat mengurutkan struktur hierarki nefron pada kartu alur (benar kurang dari 3 dari 6 kartu acuan: Glomerulus -> Kapsul Bowman -> Tubulus Proksimal -> Lengkung Henle -> Tubulus Distal -> Tubulus Kolektivus). | Mengurutkan 3 sampai 4 dari 6 kartu hierarki struktur nefron dengan tepat sesuai acuan alur. | Mengurutkan 5 dari 6 kartu hierarki struktur nefron dengan tepat sesuai acuan alur secara mandiri. | Mengurutkan seluruh 6 kartu hierarki struktur nefron dengan tepat sesuai acuan alur tanpa kekeliruan. | | Menganalisis fungsi tahapan pembentukan urine pada organ ginjal | Menganalisis fungsi tahapan pembentukan urine dengan tepat hanya pada 0 atau 1 dari 3 kasus yang diberikan. | Menganalisis fungsi tahapan pembentukan urine dengan tepat pada 2 dari 3 kasus yang diberikan (sesuai acuan Kasus 1, 2, atau 3). | Menganalisis fungsi tahapan pembentukan urine dengan tepat pada seluruh 3 kasus yang diberikan sesuai acuan jawaban. | Menganalisis fungsi tahapan pembentukan urine dengan tepat pada seluruh 3 kasus disertai penjelasan hubungan sebab-akibat struktur dan proses biologi secara mendalam dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah permainan Kartu Alur Nefron efektif membantu murid memahami hierarki struktur nefron dan urutan pembentukan urine?
- Bagian tahapan pembentukan urine mana yang masih sering tertukar oleh murid (antara filtrasi, reabsorpsi, atau augmentasi)?
Murid:- Bagian mana dari struktur ginjal atau proses penyaringan darah yang paling mudah dan paling menantang untuk saya pahami hari ini?
- Bagaimana pemahaman tentang fungsi ginjal ini membuat saya lebih sadar pentingnya mencukupi kebutuhan minum air setiap hari?
Pertemuan 6 — Menganalisis Struktur dan Fungsi Organ Ekskresi Kulit, Paru-Paru, dan Hati — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 8.2.3 Menganalisis sistem organisasi kehidupan dan fungsi pada sistem organ ekskresi
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, serta memfasilitasi murid menyadari kondisi tubuh mereka saat ini (kondisi suhu tubuh dan tarikan napas) (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: menganalisis struktur dan fungsi organ ekskresi selain ginjal, yaitu kulit, paru-paru, dan hati dalam sistem ekskresi manusia (2 menit).
- Guru memberikan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan/tulis menggunakan 3 pertanyaan pemetaan: (1) Zat sisa apa yang dikeluarkan kulit? (2) Gas apa yang dihembuskan paru-paru sebagai sisa metabolisme? (3) Zat sisa apakah yang dihasilkan dari perombakan sel darah merah rusak di hati? [Acuan jawaban: (1) Keringat berisi air, garam mineral, sedikit urea; (2) Karbon dioksida / CO2 dan uap air / H2O; (3) Bilirubin / zat warna empedu dan urea hasil pemecahan protein] (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mengamati infografik/diagram organ yang menampilkan struktur jaringan kulit (epidermis, dermis berisi kelenjar keringat), jaringan paru-paru (alveolus dan kapiler darah), serta jaringan hati (sel hepatosit dan perombakan hemoglobin) melalui panduan buku siswa (10 menit).
- Dalam kelompok berpasangan, murid memainkan tantangan kuis cepat menggembirakan 'Tebak Organ & Zat Buangan': guru membacakan 3 petunjuk karakteristik sisa ekskresi dan murid saling beradu cepat menunjukkan kartu organ yang sesuai: (a) 'Saya menghasilkan cairan pendingin tubuh yang mengandung garam dan sedikit urea' -> kartu Kulit; (b) 'Saya mengeluarkan gas sisa pembakaran glukosa dan uap air' -> kartu Paru-Paru; (c) 'Saya merombak sel darah merah tua dan menghasilkan zat warna empedu serta urea' -> kartu Hati [Acuan jawaban: kartu pasangan tepat sesuai deskripsi di atas] (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Setiap kelompok mengerjakan LKPD 'Analisis Struktur dan Fungsi Ekskresi Kulit, Paru-Paru, dan Hati' yang berisi tabel analisis hubungan jaringan/struktur penyusun dengan fungsi pengeluaran zat sisa metabolisme (20 menit).
- Murid menganalisis 3 kasus fisiologis pada LKPD: Kasus 1 (mengapa kelenjar keringat di lapisan dermis mengeluarkan lebih banyak air saat suhu lingkungan tinggi); Kasus 2 (bagaimana alveolus paru-paru menyaring CO2 dari darah untuk dikeluarkan saat ekspirasi); Kasus 3 (peran sel hati dalam mengubah amonia beracun dari metabolisme protein menjadi urea yang aman diangkut darah) [Acuan jawaban: Kasus 1 = homeostasis suhu melalui penguapan air keringat oleh kelenjar keringat dermis; Kasus 2 = difusi gas CO2 menembus membran alveolus-kapiler karena perbedaan tekanan parsial; Kasus 3 = siklus ornitin di hati mengubah amonia toksik menjadi urea sebelum dibuang] (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid melakukan verifikasi mandiri bersama guru terhadap hasil analisis ketiga organ ekskresi untuk mengidentifikasi bagian konsep yang sudah tepat dipahami dan bagian yang masih keliru (5 menit).
- Murid dengan penuh kesadaran menuliskan 1 kesimpulan bermakna tentang bagaimana keterpaduan kulit, paru-paru, dan hati menjaga kondisi lingkungan internal tubuh tetap stabil (homeostasis) (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali struktur khusus dan zat sisa yang diekskresikan oleh kulit (keringat via kelenjar keringat), paru-paru (CO2 dan uap air via alveolus), serta hati (urea dan bilirubin via sel hati) (3 menit).
- Guru memberikan penguatan cek pemahaman akhir dan menginformasikan topik pertemuan berikutnya (analisis gangguan/kelainan pada sistem organ ekskresi) lalu menutup sesi dengan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan diagram struktur organ berlabel penuntun; murid yang mahir diberikan diagram jalur biokimia sederhana perombakan protein menjadi urea di hati.
- Proses: Murid yang masih kesulitan menganalisis dibimbing langsung oleh guru pada keterkaitan antara jaringan kulit dan pengeluaran keringat; murid yang mahir menganalisis ketiga organ secara mandiri dan menguraikan keterkaitan antarsistem organ ekskresi.
- Produk: Analisis dituangkan pada tabel terstruktur standar; bagi kelompok mahir ditambahkan bagan alur keterkaitan fungsi hati mengubah zat racun sebelum dibuang melalui ginjal dan empedu.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik 3 butir terkait konsep dasar zat sisa ekskresi: (1) Sebutkan zat sisa yang dikeluarkan oleh kulit! (Acuan: keringat yang mengandung air, garam mineral/NaCl, dan sedikit urea); (2) Sebutkan zat sisa yang dikeluarkan oleh paru-paru! (Acuan: karbon dioksida / CO2 dan uap air / H2O); (3) Sebutkan zat sisa hasil perombakan sel darah merah di hati! (Acuan: zat warna empedu / bilirubin dan urea)
Proses:- Pemeriksaan LKPD analisis struktur-fungsi organ kulit, paru-paru, dan hati dengan 3 kriteria: ketepatan identifikasi struktur jaringan spesifik, ketepatan analisis mekanisme pengeluaran zat buangan, dan ketepatan analisis keterkaitan fungsi homeostasis pada 3 kasus fisiologis.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (exit ticket) 3 butir: (1) Di lapisan kulit manakah kelenjar keringat berada dan apa fungsinya? [Acuan: Di lapisan dermis, berfungsi menyerap air dan garam dari darah untuk dikeluarkan sebagai keringat guna mendinginkan tubuh]; (2) Mengapa paru-paru digolongkan juga sebagai organ ekskresi selain organ pernapasan? [Acuan: Karena mengeluarkan zat sisa metabolisme seluler berupa CO2 dan H2O]; (3) Bagaimana hati memproses senyawa beracun hasil pemecahan protein sebelum dibuang tubuh? [Acuan: Mengubah amonia yang sangat beracun menjadi urea yang kurang beracun].
Formatif:- Penilaian proses lembar kerja analisis struktur dan fungsi organ ekskresi (kulit, paru-paru, hati)
- Observasi unjuk kerja analisis dan penalaran kritis selama diskusi kelompok
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis sistem organisasi kehidupan dan fungsi pada organ ekskresi kulit, paru-paru, dan hati | Menganalisis struktur jaringan dan zat ekskresi yang dikeluarkan dengan tepat pada 1 organ saja dari 3 organ target (kulit, paru-paru, hati). | Menganalisis struktur jaringan dan zat ekskresi yang dikeluarkan dengan tepat pada 2 organ dari 3 organ target (kulit, paru-paru, hati) dengan bantuan petunjuk guru. | Menganalisis struktur jaringan dan zat ekskresi yang dikeluarkan dengan tepat pada seluruh 3 organ target (kulit: kelenjar keringat di dermis mengeluarkan air/garam/urea; paru-paru: alveolus mengeluarkan CO2/uap air; hati: sel hati merombak sel darah merah menjadi bilirubin dan amonia menjadi urea) secara mandiri. | Menganalisis struktur jaringan dan zat ekskresi yang dikeluarkan pada seluruh 3 organ target secara tepat dan mandiri, serta mampu menganalisis mekanisme keterpaduan ketiganya dalam menjaga keseimbangan cairan dan penetralan racun tubuh (homeostasis). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur pembelajaran berhasil membimbing murid memahami bahwa paru-paru dan kulit bukan sekadar organ pernapasan atau penutup tubuh, melainkan organ ekskresi aktif?
- Apakah diferensiasi proses yang diberikan cukup memfasilitasi murid yang masih bingung membedakan fungsi sekresi dan ekskresi pada hati?
Murid:- Bagian mana dari cara kerja kulit, paru-paru, atau hati dalam membuang zat sisa yang paling menarik dan baru saya ketahui hari ini?
- Bagaimana pemahaman tentang fungsi ekskresi hati dan kulit ini memotivasi saya untuk menjaga asupan air putih dan kesehatan tubuh?
Pertemuan 7 — Menganalisis Kelainan atau Gangguan yang Muncul pada Sistem Organ Ekskresi — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 8.2.4 Menganalisis kelainan atau gangguan yang muncul pada sistem organ ekskresi
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan menyampaikan topik pembelajaran yaitu menganalisis kelainan atau gangguan pada sistem ekskresi manusia (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 3 kartu kasus gejala pada slide/papan tulis: Kasus A (nyeri saat buang air kecil dan urine keruh berbau menyengat), Kasus B (terbentuk kristal mineral di ginjal akibat kurang minum), dan Kasus C (pembengkakan pada kaki dan wajah serta penumpukan urea dalam darah); murid diminta memilih nama kelainan dari daftar acuan (Infeksi Saluran Kemih, Batu Ginjal, Gagal Ginjal) untuk memetakan kesiapan awal murid (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid mencermati pemaparan dan membaca teks informasi tentang mekanisme munculnya 3 kelainan utama sistem ekskresi: (1) Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang disebabkan infeksi bakteri Escherichia coli pada organ saluran kemih, (2) Batu Ginjal yang disebabkan pengendapan garam kalsium/oksalat akibat kurang cairan dan diet tinggi garam, serta (3) Gagal Ginjal yang disebabkan kerusakan nefron/filtrasi darah akibat hipertensi, diabetes, atau infeksi sehingga urea menumpuk (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Dalam aktivitas tantangan 'Detektif Medis Ekskresi' berpasangan yang menggembirakan, murid menerima lembar analisis yang memuat 3 studi kasus rekam medis fiktif dan menganalisis organ terdampak, penyebab utama, mekanisme terjadinya kelainan, serta upaya pencegahannya: Kasus 1 (Pak Budi: nyeri hebat pinggang belakang dan ditemukan endapan kalsium oksalat), Kasus 2 (Siti: demam, sensasi terbakar saat buang air kecil, infeksi E. coli), dan Kasus 3 (Pak Joko: kedua tungkai bengkak, kadar kreatinin dan urea darah sangat tinggi akibat komplikasi hipertensi kronis) (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis kasus dengan kunci analisis sistem organ ekskresi, lalu murid mengevaluasi sejauh mana mereka dapat menghubungkan pola gaya hidup (seperti konsumsi air dan pola makan) dengan risiko gangguan organ ekskresi (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan poin kunci mengenai 3 jenis kelainan sistem ekskresi (batu ginjal, ISK, dan gagal ginjal), penyebab, serta cara memelihara kesehatan organ ekskresi (5 menit).
- Guru memberikan penguatan, memberikan lembar cek pemahaman akhir berisi 1 soal analisis singkat, dan menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya akan membahas pengolahan data uji kandungan urine (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan visual berisi bagan alur terbentuknya kelainan ginjal bagi murid yang membutuhkan bantuan pemahaman bertahap.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan terarah berupa daftar pertanyaan pemandu organ dan penyebab, sedangkan murid yang berpencapaian tinggi menganalisis variasi komplikasi antarorgan ekskresi (misalnya pengaruh penurunan fungsi ginjal terhadap ekskresi kulit/keringat).
- Produk: Lembar kerja analisis kasus dapat diselesaikan dalam bentuk tabel analisis terstruktur maupun diagram alur sebab-akibat gangguan ekskresi.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik menjodohkan 3 kartu gejala dengan nama gangguan: (1) 'Rasa perih/terbakar saat buang air kecil, urine keruh' -> Infeksi Saluran Kemih; (2) 'Nyeri pinggang akibat endapan garam mineral mengkristal' -> Batu Ginjal; (3) 'Penurunan drastis fungsi filtrasi darah, kaki bengkak, penumpukan urea' -> Gagal Ginjal. (Acuan: 1-ISK, 2-Batu Ginjal, 3-Gagal Ginjal; kriteria: murid siap jika minimal 2 tepat).
Proses:- Penilaian lembar analisis 3 studi kasus kelainan ekskresi. Acuan analisis: Kasus 1 = Batu Ginjal (organ: ginjal/ureter, penyebab: presipitasi/kristalisasi kalsium/oksalat akibat kurang minum dan diet tinggi garam, pencegahan: cukup minum air putih minimal 2 liter/hari dan kurangi konsumsi garam berlebih); Kasus 2 = Infeksi Saluran Kemih (organ: uretra/kandung kemih/ureter, penyebab: infeksi bakteri Escherichia coli, pencegahan: menjaga higienitas dan tidak menahan buang air kecil); Kasus 3 = Gagal Ginjal (organ: nefron/ginjal, penyebab: kerusakan unit penyaring darah/filtrasi akibat hipertensi/diabetes lama, penanganan: cuci darah/hemodialisis atau transplantasi).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: 1 soal analisis terbuka: 'Mengapa penderita gagal ginjal mengalami pembengkakan pada bagian tubuh tertentu seperti kaki dan wajah?' (Acuan jawaban benar: karena ginjal gagal menyaring darah dan membuang kelebihan cairan serta limbah sisa metabolisme/urea dari tubuh, sehingga cairan menumpuk di jaringan tubuh/edema).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi nama kelainan dari 3 kartu gejala singkat.
- Asesmen proses: lembar analisis studi kasus 'Detektif Medis Ekskresi' yang memuat organ terdampak, penyebab, dan mekanisme 3 kelainan ekskresi.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Kelainan atau Gangguan pada Sistem Ekskresi | Menganalisis kurang dari 2 kelainan ekskresi secara tepat pada organ, penyebab, dan mekanismenya dari 3 kasus yang diberikan. | Menganalisis 2 dari 3 kelainan sistem ekskresi secara tepat pada organ dan penyebabnya, namun analisis mekanisme terjadinya kelainan masih belum lengkap. | Menganalisis seluruh 3 kelainan sistem ekskresi (batu ginjal, infeksi saluran kemih, dan gagal ginjal) secara tepat mencakup organ terdampak, faktor penyebab, dan mekanismenya sesuai acuan. | Menganalisis seluruh 3 kelainan sistem ekskresi secara tepat dan lengkap (organ, penyebab, mekanisme), serta mampu menganalisis hubungan logis antara kebiasaan gaya hidup spesifik dengan upaya pencegahan gangguannya secara mandiri tanpa kekeliruan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah konteks studi kasus medis yang diberikan mampu memantik penalaran kritis murid dalam menganalisis kelainan sistem ekskresi?
- Bagian analisis manakah (menentukan penyebab atau menguraikan mekanisme gangguan) yang masih paling banyak memerlukan bimbingan guru?
Murid:- Apa hal baru yang saya pahami mengenai bahaya kurang minum air putih dan kebiasaan menahan buang air kecil bagi kesehatan ginjal?
- Bagaimana pemahaman tentang kelainan sistem ekskresi ini memengaruhi kebiasaan sehari-hari saya dalam menjaga kesehatan tubuh?
Pertemuan 8 — Mengolah Data Uji Kandungan Urine dalam Tabel dan Grafik serta Menjelaskan Pola Hubungan Hasil Pengamatannya — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 8.2.5 Mengolah data dalam bentuk tabel, grafik, dan model pada sistem organ pernapasan dan ekskresi
- TP 8.2.6 Menjelaskan hasil pengamatan dan pola atau hubungan pada data sistem organ pernapasan dan ekskresi
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi murid menyadari fokus belajar melalui latihan pernapasan sejenak (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengolah data hasil uji kandungan urine ke dalam tabel dan grafik, serta menjelaskan pola hubungan datanya (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mengecek kesiapan murid dalam membaca tabel data uji urine (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid secara berpasangan mengamati data mentah uji kandungan 4 sampel urine (Sampel A, B, C, D) yang diuji dengan reagen Biuret dan Benedict: Sampel A (Biuret: biru, Benedict: biru), Sampel B (Biuret: ungu, Benedict: biru), Sampel C (Biuret: biru, Benedict: merah bata), Sampel D (Biuret: biru, Benedict: biru pekat) (10 menit).
- Murid mencermati panduan cara menyusun data mentah tersebut ke dalam tabel frekuensi dan persentase keberadaan zat, serta cara merancang grafik batang yang membandingkan persentase zat abnormal pada sampel (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid bekerja berpasangan dalam aktivitas 'Tantangan Detektif Data Urine': murid mengolah data mentah menjadi tabel terstruktur (berisi kolom Nama Sampel, Perubahan Biuret, Perubahan Benedict, Kandungan Zat Terdeteksi) dan menggambar grafik batang persentase kandungan protein dan glukosa dari data yang tersedia (15 menit).
- Murid menganalisis dan menjelaskan pola hubungan data hasil uji kandungan urine secara tertulis pada LKPD: menjelaskan korelasi antara perubahan warna reagen dengan indikasi adanya zat yang tidak normal (protein pada sampel B menandakan gangguan filtrasi; glukosa pada sampel C menandakan gangguan reabsorpsi) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid saling menukarkan hasil tabel, grafik, dan penjelasan pola data dengan pasangan sebelah untuk melakukan evaluasi sejawat berdasarkan kunci kelengkapan komponen data (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan cara mengolah data hasil uji urine ke dalam tabel dan grafik batang serta pola hubungan data dengan kondisi zat dalam urine (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap keterampilan mengolah dan menjelaskan pola data, lalu menutup pertemuan dengan arahan persiapan asesmen sumatif bab pada pertemuan berikutnya (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan format tabel dan kerangka sumbu grafik (X dan Y) yang sudah terlabeli; murid yang mahir diberikan dataset tambahan berupa data volume urine harian dalam berbagai suhu untuk diolah sekaligus.
- Proses: Murid yang masih kesulitan membaca data dibimbing langsung secara bertahap dalam menetapkan skala grafik; murid mahir bekerja mandiri merumuskan inferensi pola data multivariabel.
- Produk: Penyajian olahan data dapat berupa tabel dan grafik manual pada kertas milimeter blok atau lembar kerja terstruktur.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik membaca data: Guru menampilkan data singkat hasil uji urine 2 orang (Orang 1: Biuret tetap biru; Orang 2: Biuret berubah ungu). Pertanyaan: 'Berdasarkan data tersebut, sampel urine siapakah yang mengandung protein?' (Acuan jawaban benar: Orang 2, karena perubahan warna ungu pada uji Biuret menunjukkan adanya kandungan protein/albumin).
Proses:- Observasi sistematis terhadap keterampilan murid mengolah 4 data sampel urine ke dalam tabel lengkap dan menggambar grafik batang yang tepat skala dan labelnya.
- Pemeriksaan lembar kerja mengenai ketepatan penjelasan pola hubungan data: (1) Hubungan warna ungu Biuret dengan protein pada Sampel B; (2) Hubungan endapan merah bata Benedict dengan glukosa pada Sampel C; (3) Sampel A dan D menunjukkan kondisi urine normal tanpa protein dan glukosa.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman singkat (exit ticket): Murid menjawab 1 pertanyaan interpretasi data: 'Diberikan data uji Benedict menghasilkan endapan merah bata pada sampel urine X, jelaskan pola kesimpulan apa yang diperoleh mengenai kandungan urine tersebut dan hubungannya dengan fungsi penyerapan di ginjal!' (Acuan jawaban: Sampel X mengandung glukosa, yang menunjukkan pola adanya kegagalan pada proses reabsorpsi zat gula di tubulus proksimal ginjal).
Formatif:- Penilaian kinerja pengolahan data uji kandungan urine ke dalam tabel dan grafik pada LKPD
- Penilaian tertulis penjelasan hasil pengamatan dan pola hubungan data uji kandungan urine
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengolah data uji kandungan urine ke dalam tabel dan grafik (TP 8.2.5) | Mengolah data ke dalam tabel dan grafik dengan banyak kekeliruan (hanya memuat 1 dari 4 sampel dengan benar dan grafik tanpa skala/label). | Mengolah data ke dalam tabel dengan 2-3 sampel benar, namun grafik batang belum memiliki label sumbu atau skala yang tepat. | Mengolah seluruh 4 data sampel urine ke dalam tabel terstruktur dengan tepat dan menyajikan grafik batang dengan label sumbu serta skala yang tepat. | Mengolah seluruh 4 data sampel urine ke dalam tabel terstruktur dan grafik batang secara sangat rapi, tepat skala, tepat label, serta menambahkan persentase komponen secara mandiri tanpa bantuan. | | Menjelaskan pola atau hubungan pada data hasil uji kandungan urine (TP 8.2.6) | Belum mampu menjelaskan pola hubungan data hasil uji reagen dengan kandungan zat pada urine (penjelasan keliru atau tidak sesuai data). | Menjelaskan pola data hanya pada 1 sampel (misal hanya menyebutkan sampel B mengandung protein) tanpa mengaitkan hubungan warna reagen dengan kandungan zat secara utuh. | Menjelaskan pola hubungan data secara tepat untuk seluruh sampel (korelasi Biuret ungu dengan protein pada sampel B, Benedict merah bata dengan glukosa pada sampel C, serta sampel A dan D sebagai urine normal). | Menjelaskan pola hubungan data secara komprehensif dan tepat untuk seluruh sampel serta mengaitkan pola tersebut dengan tahapan proses pembentukan urine di ginjal secara logis dan runtut. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 80 menit mencukupi bagi seluruh murid untuk mengolah data menjadi tabel, menggambar grafik, dan menuliskan penjelasan pola datanya?
- Bagian mana dari langkah bimbingan pengolahan data grafik yang memerlukan scaffolding lebih intensif bagi murid yang belum berkembang?
Murid:- Langkah apa yang paling menantang saat mengubah data mentah hasil uji urine ke dalam bentuk tabel dan grafik batang?
- Bagaimana caramu mengenali pola perbedaan urine normal dan abnormal berdasarkan data yang telah kamu olah hari ini?
Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 8.2.1 Menganalisis sistem organisasi kehidupan dan fungsi pada sistem organ pernapasan
- TP 8.2.2 Menganalisis kelainan atau gangguan yang muncul pada sistem organ pernapasan
- TP 8.2.3 Menganalisis sistem organisasi kehidupan dan fungsi pada sistem organ ekskresi
- TP 8.2.4 Menganalisis kelainan atau gangguan yang muncul pada sistem organ ekskresi
- TP 8.2.5 Mengolah data dalam bentuk tabel, grafik, dan model pada sistem organ pernapasan dan ekskresi
- TP 8.2.6 Menjelaskan hasil pengamatan dan pola atau hubungan pada data sistem organ pernapasan dan ekskresi
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas dalam suasana tertib, memimpin doa bersama, memeriksa presensi, serta menyampaikan tujuan pelaksanaan asesmen sumatif bab sistem pernapasan dan ekskresi (3 menit).
- Guru membagikan lembar asesmen sumatif yang memuat dua bagian tugas serta menjelaskan tata tertib asesmen individual tanpa membuka catatan (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid mencermati petunjuk teknis Bagian 1 (Tes Tertulis Uraian Terstruktur dan Studi Kasus) dan Bagian 2 (Tugas Pengolahan dan Interpretasi Data Tertulis), mengecek kejelasan cetakan soal, dan menyiapkan alat tulis secara mandiri (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid mengerjakan Tugas Bagian 1 secara individual selama 40 menit pada lembar jawaban yang tersedia, meliputi: Soal 1 menganalisis hubungan struktur dinding tipis alveolus berlapis sel epitel pipih selapis dan kapiler darah dengan efisiensi difusi O2-CO2; Soal 2 menganalisis mekanisme kerusakan silia dan penumpukan tar pada perokok yang memicu bronkitis/emfisema; Soal 3 menganalisis bagan nefron ginjal untuk tiga tahap pembentukan urine (filtrasi di glomerulus menghasilkan urine primer, reabsorpsi di tubulus kontortus proksimal menghasilkan urine sekunder, augmentasi di tubulus kontortus distal menghasilkan urine sesungguhnya); Soal 4 menganalisis data uji urine pasien X yang mengandung glukosa positif dan protein positif untuk menyimpulkan kerusakan pada glomerulus dan tubulus proksimal (40 menit).
- Murid mengerjakan Tugas Bagian 2 secara individual selama 25 menit, yaitu menyajikan data mentah hasil uji aktivitas fisik (istirahat: 16 napas/menit, urine 150 mL jernih; jalan santai: 22 napas/menit, urine 100 mL kuning muda; lari cepat: 36 napas/menit, urine 40 mL kuning pekat) ke dalam tabel frekuensi dan grafik garis yang tepat, serta menuliskan penjelasan pola hubungan kenaikan intensitas aktivitas terhadap peningkatan frekuensi pernapasan dan penurunan volume serta kepekatan warna urine (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa ulang seluruh kelengkapan jawaban, kesesuaian sumbu grafik, dan penarikan kesimpulan pada lembar kerja masing-masing secara teliti dan berkesadaran (4 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan lembar jawaban asesmen sumatif dari seluruh murid secara tertib di meja guru (2 menit).
- Guru bersama murid melakukan refleksi singkat mengenai ketuntasan pengerjaan asesmen sumatif Bab 2 dan menutup sesi pembelajaran dengan doa penutup (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi aksesibilitas tata letak soal dengan ukuran teks yang terbaca jelas bagi murid yang membutuhkan tanpa mengubah indikator maupun tingkat kesulitan materi.
- Proses: Pemberian penegasan petunjuk pengerjaan dan manajemen waktu per tugas bagi murid yang membutuhkan fokus tambahan tanpa memberikan bantuan substansi jawaban.
- Produk: Format penyajian jawaban tetap standar (uraian tertulis, tabel, dan grafik garis) sesuai kriteria rubrik ketercapaian sumatif.
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- Tes tertulis terpadu berbasis analisis kasus dan interpretasi data fisiologis: Lembar kerja asesmen sumatif berisi analisis struktur dan gangguan sistem pernapasan dan ekskresi, sajian tabel/grafik hasil pengolahan data pengamatan, serta uraian penjelasan pola keterkaitan aktivitas dengan data fisiologis
- Tes tertulis uraian terstruktur dan studi kasus: Lembar jawaban tertulis yang mencakup analisis hubungan struktur dan fungsi organ pernapasan (alveolus/pertukaran gas), mekanisme gangguan pernapasan akibat asap rokok, bagan alur proses ekskresi ginjal, serta analisis gangguan organ ekskresi berdasarkan interpretasi data kelainan urine (45 menit; individual; instrumen: Kunci jawaban dan rubrik penskoran analitis)
- Tugas pengolahan dan interpretasi data tertulis: Lembar kerja penyajian data mentah ke dalam format tabel dan grafik hubungan intensitas aktivitas fisik terhadap frekuensi pernapasan serta volume/warna ekskresi urine, disertai uraian penjelasan pola korelasi dan penarikan kesimpulan ilmiah (35 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian keterampilan pengolahan data dan interpretasi pola)
Sumatif:- Tes tertulis terpadu berbasis analisis kasus dan interpretasi data fisiologis: Lembar kerja asesmen sumatif berisi analisis struktur dan gangguan sistem pernapasan dan ekskresi, sajian tabel/grafik hasil pengolahan data pengamatan, serta uraian penjelasan pola keterkaitan aktivitas dengan data fisiologis
- Tes tertulis uraian terstruktur dan studi kasus: Lembar jawaban tertulis yang mencakup analisis hubungan struktur dan fungsi organ pernapasan (alveolus/pertukaran gas), mekanisme gangguan pernapasan akibat asap rokok, bagan alur proses ekskresi ginjal, serta analisis gangguan organ ekskresi berdasarkan interpretasi data kelainan urine (45 menit; individual; instrumen: Kunci jawaban dan rubrik penskoran analitis)
- Tugas pengolahan dan interpretasi data tertulis: Lembar kerja penyajian data mentah ke dalam format tabel dan grafik hubungan intensitas aktivitas fisik terhadap frekuensi pernapasan serta volume/warna ekskresi urine, disertai uraian penjelasan pola korelasi dan penarikan kesimpulan ilmiah (35 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian keterampilan pengolahan data dan interpretasi pola)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Analisis Struktur dan Fungsi Organ Pernapasan (TP 8.2.1) [Acuan Soal 1: Hubungan epitel pipih selapis alveolus dan kapiler darah memudahkan difusi cepat O2 dari alveolus ke darah dan CO2 dari darah ke alveolus] | Belum mampu mengaitkan struktur tipis alveolus dengan proses pertukaran gas O2 dan CO2. | Menyebutkan fungsi alveolus untuk pertukaran gas namun belum menganalisis keterkaitan spesifik struktur dinding selapis dan kapiler darah terhadap efisiensi difusi. | Menganalisis hubungan struktur dinding tipis alveolus dan kapiler dengan mekanisme difusi gas O2 dan CO2 secara tepat dengan sedikit kekurangan detail penjelasan. | Menganalisis secara komprehensif, tepat, dan rinci hubungan struktur epitel pipih selapis alveolus serta kerapatan jaringan kapiler darah dengan laju difusi O2 dan CO2 menembus membran respirasi. | | Analisis Gangguan Sistem Pernapasan Akibat Asap Rokok (TP 8.2.2) [Acuan Soal 2: Tar dan zat toksik asap rokok merusak silia saluran napas sehingga lendir menumpuk, memicu peradangan bronkus (bronkitis) dan kerusakan dinding elastis alveolus (emfisema)] | Belum mampu menjelaskan mekanisme kerusakan organ akibat kandungan asap rokok. | Menyebutkan asap rokok menyebabkan penyakit seperti batuk atau sesak napas tanpa menguraikan mekanisme kerusakan silia dan dinding alveolus. | Menganalisis mekanisme paparan asap rokok yang melumpuhkan silia dan merusak dinding alveolus yang memicu gangguan bronkitis atau emfisema dengan tepat. | Menganalisis secara runtut dan mendalam mekanisme kerusakan silia, penumpukan mukus kotor, iritasi saluran bronkus, serta destruksi dinding septa alveolus akibat tar dan zat toksik rokok. | | Analisis Sistem Organisasi dan Fungsi Ekskresi Ginjal (TP 8.2.3) [Acuan Soal 3: (1) Filtrasi di glomerulus menghasilkan urine primer; (2) Reabsorpsi di tubulus kontortus proksimal menghasilkan urine sekunder; (3) Augmentasi di tubulus kontortus distal menghasilkan urine sesungguhnya] | Hanya menyebutkan kurang dari 2 tahapan nefron ginjal secara tepat. | Menyebutkan 2 dari 3 tahapan (filtrasi, reabsorpsi, augmentasi) beserta lokasi nefronnya secara tepat namun penjelasan zat hasilnya belum lengkap. | Menganalisis ketiga tahapan pembentukan urine (filtrasi di glomerulus, reabsorpsi di tubulus proksimal, augmentasi di tubulus distal) beserta hasilnya secara tepat. | Menganalisis secara tepat dan sempurna ketiga tahapan nefron ginjal (tempat berlangsung, mekanisme penyerapan/pembuangan zat spesifik, dan hasil urine primer, sekunder, serta sesungguhnya). | | Analisis Gangguan Sistem Organ Ekskresi Berdasarkan Data (TP 8.2.4) [Acuan Soal 4: Keberadaan glukosa menunjukkan kegagalan reabsorpsi pada tubulus kontortus proksimal (gejala diabetes mellitus), keberadaan protein menunjukkan kerusakan membran filtrasi glomerulus (gejala albuminuria/nefritis)] | Keliru menganalisis bagian organ ginjal yang mengalami kerusakan berdasarkan data uji urine. | Menganalisis salah satu kaitan kelainan kandungan urine dengan kerusakan nefron (hanya glukosa atau hanya protein) secara tepat. | Menganalisis kaitan keberadaan glukosa dengan kegagalan tubulus proksimal dan keberadaan protein dengan kerusakan glomerulus secara tepat. | Menganalisis secara tepat dan rinci hubungan keberadaan glukosa dan protein dalam urine dengan disfungsi spesifik pada glomerulus dan tubulus kontortus proksimal beserta identifikasi gangguannya. | | Pengolahan Data ke Tabel dan Grafik (TP 8.2.5) [Acuan Tugas 2: Tabel memuat 3 kolom/baris kondisi aktivitas, frekuensi pernapasan, dan volume urine; grafik garis memuat sumbu X (aktivitas fisik), sumbu Y1 (frekuensi napas), sumbu Y2/garis kedua (volume urine) dengan skala proporsional] | Belum mampu menyajikan data mentah ke dalam format tabel maupun grafik secara benar. | Menyajikan data ke dalam bentuk tabel secara tepat, namun grafik garis yang dibuat belum memiliki skala atau label sumbu yang tepat. | Menyajikan data mentah ke dalam tabel lengkap dan membuat grafik garis dengan sumbu serta titik plotting yang sesuai data pengamatan. | Menyajikan data secara sangat rapi, akurat, dan sistematis dalam tabel terstruktur serta grafik garis dengan skala proporsional, penamaan sumbu lengkap, dan pembedaan garis data yang jelas. | | Penjelasan Pola Hubungan Data Fisiologis (TP 8.2.6) [Acuan Tugas 2: Kenaikan intensitas aktivitas fisik berbanding lurus dengan frekuensi pernapasan (kebutuhan pasokan O2 dan pembuangan CO2 meningkat), dan berbanding terbalik dengan volume urine (cairan tubuh lebih banyak dikeluarkan melalui keringat oleh kulit untuk termoregulasi)] | Belum mampu mengidentifikasi pola hubungan antara intensitas aktivitas dengan perubahan frekuensi pernapasan atau volume urine. | Menjelaskan pola peningkatan frekuensi pernapasan saja atau pola penurunan volume urine saja tanpa menghubungkan keduanya dengan kondisi fisiologis tubuh. | Menjelaskan pola korelasi positif aktivitas terhadap frekuensi pernapasan dan korelasi negatif terhadap volume urine serta kepekatan warnanya secara logis. | Menjelaskan secara komprehensif pola korelasi kedua parameter fisiologis berdasarkan kebutuhan energi seluler, pembentukan CO2, serta kompensasi pengeluaran cairan via keringat dan urine untuk menjaga homeostasis tubuh. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 40 menit untuk analisis uraian dan 25 menit untuk pengolahan data grafik mencukupi bagi murid dalam menyelesaikan asesmen secara optimal?
- Bagian soal manakah yang paling banyak menunjukkan miskonsepsi murid pada konsep sistem pernapasan dan ekskresi?
Murid:- Materi manakah pada bab sistem pernapasan dan ekskresi yang paling saya kuasai dengan baik saat menjawab soal tadi?
- Langkah apa yang perlu saya lakukan untuk meningkatkan ketelitian saya dalam mengolah data pengamatan menjadi grafik ilmiah?
SUMBER BELAJAR- Buku Siswa IPA SMP Kelas VIII (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2024, Bab II
- Buku Panduan Guru IPA SMP Kelas VIII (Edisi Revisi), Kemendikbudristek 2024
- Bagan anatomi sistem pernapasan manusia dan kartu alur 'Jejak Udara'
- Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi 2024)
- Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi 2024) Bab 2
- Diagram penampang mikroskopis alveolus dan kapiler darah
- Set kartu tantangan tebak peran 'Kurir Gas' dan Lembar Kerja Analisis Pertukaran Gas
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. 2024. Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi). Jakarta: Kemendikbudristek.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. 2024. Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi). Jakarta: Kemendikbudristek.
- Kartu Kasus 'Detektif Gangguan Paru' dan Lembar Kerja Analisis Kasus Gangguan Sistem Organ Pernapasan.
- Buku Siswa IPA SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi 2024), Bab II: Struktur dan Fungsi Tubuh Makhluk Hidup
- Buku Panduan Guru IPA SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi 2024)
- Lembar Kerja Murid: Pengolahan Data Frekuensi Pernapasan (Tabel, Lembar Kertas Berpetak Grafik, dan Pertanyaan Pola Data)
- Stopwatch/pengukur waktu di ponsel atau jam dinding kelas
- Buku Siswa IPA Kelas VIII Kemendikbudristek (Edisi Revisi 2024), Bab 2 Sistem Pernapasan dan Ekskresi (Aktivitas 2.4 & Aktivitas 2.5)
- Buku Panduan Guru IPA Kelas VIII Kemendikbudristek (Edisi Revisi 2024)
- Bagan penampang ginjal dan struktur nefron
- Set Kartu Alur Nefron (6 kartu per kelompok)
- Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam SMP Kelas VIII (Kemendikbudristek 2024), Bab 2 Halaman 66-68
- Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam SMP Kelas VIII (Kemendikbudristek 2024), Bab 2 Halaman 67-70
- Diagram/Bagan Struktur Kulit Manusia, Alveolus Paru-paru, dan Anatomi Hati
- Buku Panduan Guru IPA Kelas VIII Kemendikbudristek Revisi 2024 (Bab II: Sistem Pernapasan dan Ekskresi)
- Buku Siswa IPA Kelas VIII Kemendikbudristek Revisi 2024 (Aktivitas dan Subbab Gangguan pada Sistem Ekskresi)
- Lembar Aktivitas Murid 'Detektif Medis Ekskresi' (3 Studi Kasus Gangguan Ginjal dan Saluran Kemih)
- Model/Bagan Gambar Sistem Ekskresi Manusia
- Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam SMP Kelas VIII (Kemendikbudristek 2024)
- Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam SMP Kelas VIII Bab 2 Subbab Sistem Ekskresi (Kemendikbudristek 2024)
- Lembar Kerja Murid (LKPD) 'Tantangan Detektif Data Urine' berisi dataset uji Biuret dan Benedict
- Kertas milimeter blok / penggaris untuk pembuatan grafik
- Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam SMP Kelas VIII Revisi 2024
- Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam SMP Kelas VIII Revisi 2024 Bab 2
- Lembar Asesmen Sumatif Bab 2 Sistem Pernapasan dan Ekskresi (Soal Studi Kasus Fisiologi dan Lembar Data Pengamatan Fisiologis)
|